Wednesday, 12 February 2014

Prince’s Tale Series 1: She is My Cinderella

#10

Cakka menatap pantulan dirinya di dalam cermin dengan begitu malas. Hari ini tepat hari dimana ia harus menikahi Acha, pernikahan yang begitu buruk dan menyebalkan.

“Cakka ayo.”

Cakka menghela nafas, ia menatap Nirina yang berada di ambang pintu dengan kebaya yang begitu anggun.

“Balikin pasport Cakka baru Cakka pergi.” Cakka menghela nafas, “Cakka gak akan pergi sebelum pasport itu ada. Terserah Bunda mau marah atau apapun itu.”
“Jangan bilang kamu mau kabur Cakka!.”
“Kabur? Lucu sekali. Percaya dong Bun, kali ini aja sama Cakka.”

Nirina menghela nafas, kemudian kembali beranjak tak lama setelah itu ia kembali dengan pasport Cakka ditangannya. “Ini.”
Cakka tersenyum, setelah benda itu ada di tangannya seketika ide cemerlang bermunculan di kepalanya. “Makasih Bunda.”
Nirina mengangguk kemudian beranjak dengan Cakka yang merangkulnya.
“Bunda, Ayah pulang?.”
Nirina mengangguk, “Dia marah sekali, tapi untung dia mau ikut. Walaupun dari tadi gak buka suara.”
Cakka menghela nafas,  semuanya terasa begitu rumit. Kenapa ini bisa terjadi padanya?

***


Diluar sana angin terasa begitu dingin untuk Agni, hingga ia memutuskan mematuhi ucapan Ray untuk tidak beranjak sekalipun dari apartemen miliknya. Agni terlihat menerawang, pandangannya kosong sementara tangan kanannya mengelus perut entah apa sebabnya.
“Semuanya terlalu berat buat aku Kka, semoga kamu bahagia.”

Sebuah ketukan menyadarkan Agni dari lamunannya, kemudian ia membukakan pintu pada tamu yang sedari tadi ia tunggu itu.
“Maaf lama.”
Agni tersenyum, “Gapapa, aku  tahu kok kamu baru selesai dari live show.”
Orang itu, Harry. Dia mengelus lembut rambut Agni kemudian menariknya kedalam pelukan. “Kenapa mata kamu berkaca-kaca? Ada masalah apa kamu sebenarnya?.”
“Tidak ada. Duduk, mau teh hangat?.”
“Boleh.”

Kka... aku gak tau sekarang kamu lagi ngapain disana, tapi aku tahu ini yang terbaik buat kamu, aku gak yakin bisa membahagiakanmu lebih. Semoga dengan hadirnya anak itu kamu dan Acha bahagia.

“Hey! Lama sekali.”
“Aku lagi nungguin airnya panas dulu.” Agni berbalik ke arah Harry yang berdiri tepat dibelakangnya. “Kamu gak ada acara lain lagi?.”
Harry mendesah lelah, “Ada. Dua jam lagi.”
Agni menatap pria dihadapannya itu penuh rasa bersalah, “Maaf ya, aku malah suruh kamu dateng kesini. Kalau begitu, kamu istirahat aja dulu gih. Atau mau mandi?.”
“Aku istirahat aja.”
Agni mengangguk, kemudian kembali disibukkan dengan air dan teh nya. Apa kamu dan dia sudah sah Kka? Agni menatap ponselnya sejenak. Acha juga belum bilang apa-apa. Agni mengurut pelipisnya, dari semenjak Ray pergi tak ada sedikitpun makanan yang sampai di perutnya, tak ada nafsu makan, yang ada hanya keinginannya untuk diam dan melamun saja, tak ada yang lain karena tidurpun ia tak bisa.

***

Tak ada yang hadir lagi selain keluarga dalam acara pernikahan dadakan itu, dan itulah yang diinginkan oleh Cakka. Tak perlu ada yang tahu karena ini tidak akan lama, setelah semuanya benar-benar terbukti sandiwara ini akan segera usai.
Tak lama kemudian mempelai wanita datang di dampingi oleh Anya dan seorang lelaki.
“Baiklah bisa kita mulai?.”

Acha melirik ke arah Cakka yang menatapnya tajam, ia tersenyum kemudian berbisik. “Semuanya akan baik-baik saja.”
Cakka tersenyum masam, baik-baik saja? Tentu saja, karena ia tak akan pernah menganggap wanita disampingnya ini ada.

“Saudara Arkka Mahesa, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan saudara Raisya Ham Bin Ham dengan maskawin seperangkat perhiasan dibayar tinai.”
Cakka menarik nafas, “Saya terima nikah dan kawinnya Raisya Ham bin Ham dengan maskawin tersebut tunai.”
Acha menatap Cakka sekilas, ia memain-mainkan jarinya begitu panik. Entah kenapa perasaannya menjadi begitu tak karuan.
“Bagaimana sah?.”
“Sah...”

“Berhenti!.”

Penghulu yang akan berdo’apun menghentikan do’anya. Beberapa orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ray disana, dia terlihat mematung, berdiam diri sejenak saat melihat raut wajah Acha.

“Pernikahan ini tidak bisa di laksanakan!. Pernikahan ini tidak sah!.”
“HEH! Siapa loe? Pergi sana! Keamanan...”
“Gue Ray! Pernikahan ini tidak sah karena pengantin wanitanya yang sedang hamil, yang kedua bukan Cakka ayah dari janin itu. tapi saya!.”
“Heh jangan mengada-ada ya!.”

Ray berjalan ke arah Acha yang menatapnya dengan pandangan mata berkaca-kaca, tanpa menghiraukan Anya yang menatapnya sangat marah. Pria yang selama ini Acha cari ada di hadapannya, pria semalam yang sanggup merebut segala yang ia miliki dari dirinya.

“Benarkan?.”

Mendengar pertanyaan itu dengan cepat Acha mengangguk, kemudian ia memeluk pria dihadapannya itu penuh rasa rindu. “Jadi nama kamu Ray?.” Bisik Acha.

Cakka tersenyum puas, akhirnya ia bisa bebas. Ia melirik ke arah orangtuanya kemudian mendekati mereka. “Ayah, Bunda... ijinkan Cakka mencari Agni.”
Nirina mengangguk, “Lakukanlah, maafin Bunda sayang. Bunda cuma jalanin apa yang Agni mau.”
Sementara Mahesa hanya tersenyum dan menepuk pundak Cakka.
“Gapapa Bunda.” Cakka mengecup pipi Nirina. “Cakka pergi dulu. Yah... Cakka pamit.”

***

Agni sesekali terkekeh saat melihat tingkah Harry dan kawan-kawannya di atas panggung, apalagi Harry yang terang-terangan menggoda fans-nya yang dibawa ke atas panggung. Benar-benar lucu sekali tingkah mantan kekasihnya itu. beruntung sekali yang sekarang kekasihnya Harry, Harry itu baik, perhatian, andai aku bisa tahan sama sikap kamu Har, pasti aku akan sangat bahagia sama kamu.

“Cantik! Aku pehatiin kamu melamun terus. Ada apa?.”
“Kamu itu emang tukang rayu.” Agni menyenggol lengan Harry.
Harry tersenyum kemudian duduk disamping Agni sambil merangkul pundaknya. Ya, Harry memang sengaja mengajak Agni menghadiri acara musik itu, ia tak tega meninggalkan Agni sendirian, lagi pula ia masih sangat merindukan Agni.
 “Aku cuma gak mau jauh dari fans yang udah ngebesarin nama aku. maaf, aku selalu buat kamu salah faham karena ini.”
Agni terkekeh sambil menggeleng, “Enggak, aku yang berlebihan Harry. Kamu gak salah kok.”
“Agni.”
“Ya.” Agni mendongak menatap mata yang selalu menghanyutkannya itu. tak berselang lama ia merasakan sebuah sapuan yang begitu hangat di bibirnya.
Agni mendorong dada Harry perlahan, “Harry aku mau pulang.”
“Hey!.” Harry meraih tangan Agni, “Kamu marah?.”
“Enggak. Aku cuma mau pulang.”
Harry menghela nafas kemudian meraih jaketnya, “Yaudah, Yuk.”
“Emang udah selesai?.”
“Satu Segmen lagi. Itu bisa di atur. Yuk.”

Agni menatap lurus kedepan, ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Apakah yang ia lakukan terlah tepat? Ataukan ini hanya memaksakan saja? Lari dari masalah?.

“Kamu mau teh lagi?.” Tanya Agni begitu mereka sampai di apartemen.
Harry tersenyum, ia malah menarik Agni untuk duduk di sampingnya. “Aku cuma mau kamu. aku gak mau kehilangan kamu lagi.” Harry meraih Agni kedalam pelukannya.

Ponsel Agni tiba-tiba berdering. sebuah pesan dari Acha.

Kak pernikahannya batal, Cakka sekarang lagi perjalanan kesana. Semoga kalian bahagia...

Agni menarik nafas, kenapa? Apa Cakka melarikan diri?
“Kenapa?.”
Agni tergagap. “Eh. Enggak. Gapapa.” Ia tersenyum.

“Kedatengan aku jadi gosip ya? aku gak nyangka ada yang mergokin kita.”
Harry terkekeh, “Gapapa, gak usah di pikirin. Oiya, boleh aku tanya?.”
Agni menatap Harry dengan kening berkerut. “Nanya aja. Kok minta ijin dulu sih.”
“Kenapa kamu dateng kesini? Padahal waktu itu jelas sekali kamu benci sama aku. bukan aku gak seneng kamu dateng, tapi ini aneh. Kata asisten aku waktu angkat telpon kamu katanya kamu kedengeran lagi sakit, suara kamu berat dan serak.”
“Ada seorang wanita mengaku hamil anak Cakka.”
Harry mengerutkan keningnya, “Lalu?.”
“Gapapa, aku cuma... aku sebenernya ragu itu anak Cakka apa enggak, aku juga tadinya mau ngajuin tes DNA, tapi aku takut dia malah tersinggung.”
Harry mengacak rambut Agni kemudian mengecupnya, “Kamu itu gak pernah berubah, terlalu baik. Dulu waktu di bully kamu malah baikin mereka. dan sekarang kamu malah mikirin perasaan dia dibanding perasaan kamu sendiri. Kamu emang wanita baik.”
“Bukan, tapi memangnya lelaki mana yang mau pada wanita yang tidak bisa hamil?.” Agni menjatuhkan tubuhnya yang terasa limbung ke dada Harry. Ia benar-benar butuh sandaran, ia lelah, tak lama kemudian ia terlelap.

***



Setelah perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan akhirnya kini Cakka sedang berada di perjalanaan menuju apartemen Ray, ternyata Ray telah mempersiapkan segalanya untuknya, dari tiket sampai taksi. Beruntung sekali ia bisa kenal dengan Ray. Tunggu aku Agni, aku akan jemput kamu dan kembali pada pernikahan kita. Saat ia tengah memperhatikan taksi itu pandangannya tertuju pada sebuah majalan yang berada di dasbor.

“Bisa saya pinjam?.”

Sopir itu mengangguk kemudian Cakka mengambil majalan itu. ternyata perkiraannya benar, sampul majalan itu memang foto Agni dan Harry yang sedang berangkulan. Ia membaca majalah itu.

“Harry Style dikunjungi Kekasihnya dari Indonesia.” Begitulah terjemahan dari topik mengenai Harry.

Harry Style yang dulu digosipkan hubungannya dengan gadis Indonesia kandas ternyata justru ia didapati menjemput gadis Indonesia itu di Bandara beberapa waktu lalu, dan ternyata mulai hari itu ia tidak melepaskan sedikitpun gadis bernama Anggita itu dari pengawasannya. Bahkan Harry Style rela meninggalkan sebuah live show hanya karena gadis itu. Hal yang sama sekali tak pernah dilakukannya.
Kebahagiaan terlihat begitu kentara diantara mereka, apalagi melihat bagaimana Harry merangkul dan mencium gadis itu, sarat sekali kekuatan cinta di antara mereka. sebenarnya bagaimana hubungan mereka? apakah masih menjalin hubungan atau ini hanya akting?

Pandangan Cakka menjadi kosong. Secepat itukah Agni melupakannya? Segampang itukah ia melepaskannya? Atau Agni memang tidak menyayanginya dan tidak mencintainya? Apa Agni setega itu?.
Berbagai pertanyaan itu berkecamuk silih berganti di kepalanya, Cakka menarik nafas kemudian memejamkan matanya sejenak. Apa ia harus melepas Agni yang baru saja ia miliki?

***

Cakka berjalan gontai memasuki apartemen milik Ray itu. Cakka menghela nafas, kemudian memasukan password untuk bisa membuka pintu itu yang ia dapat dari Ray juga.
Begitu ia memasuki ruangan itu ia bisa melihat seseorang berambut ikal duduk di sebuah sofa yang membelakanginya, dan sudah dapat ia pastikan bahwa dia adalah Harry. Cakka menarik nafas, mencoba untuk tidak emosi disini. Ia berjalan mendekati orang itu. Agni... Cakka mengepalkan tangannya saat mendapati Agni tertidur dalam pelukan Harry yang juga tidur dalam posisi duduk. Harry begitu posesif memeluk Agni dan Agni terlihat begitu nyaman dalam pelukan Harry. Agni terlihat menyamankan posisinya, ia memeluk pinggang Harry dan kepalanya ia sandarkan di dada Harry. Agni... bangun.
Sesaat kemudian Agni terlihat bergerak kembali kemudian membuka matanya. Cakka berusaha menenangkan raut wajahnya yang ia rasa telah terlihat sekali bahwa ia cemburu.
“Kka...” Agni bangkit dari pelukan Harry dan perlarah melepaskan tangan Harry dari pinggangnya, agar pria disampingnya itu tak terganggu. “Sedang apa?.”
Merasa tak ada jawaban dari Cakka, Agni beranjak ke arah dapur kemudian Cakka mengikutinya. “Apa yang kalian lakukan?.”
“Memangnya kenapa?.”
“Agni, aku dateng kesini demi kamu. aku mau jemput kamu pulang, kita harus nikah. Pernikahan kita tidak bisa dibatalkan.”
Agni menatap mata Cakka yang terlihat frustasi, “Kita udah selesai Kka.”
“Enggak! Kamu masih calon istriku.”
“Aku gak bisa Kka, dia lebih butuh kamu daripada aku. dia istimewa, dia hamil dan sebentar lagi kalian akan punya anak. Apa itu gak cukup bahagia buat kamu Kka? Aku bahagia disini, aku bisa tanpa kamu. aku tenang Kka, aku gak bisa sama kamu.”
“Iya dia emang hamil tapi bukan anak aku.”
“Seenggaknya kalian masih bisa punya anak setelah anak itu lahir!.”
Cakka menatap Agni geram, sebenarnya apa mau Agni?. “Enggak!. Agni! Yang akan jadi istri aku itu kamu! dan yang akan jadi Ibu dari anak-anak kita itu kamu! bukan dia, ataupun orang lain.”
“Anak-anak kita?.” Agni tersenyum pilu. “Anak yang bahkan aku gak tau mereka akan ada atau enggak! Kalau kamu mau anak dari aku, itu mimpi Kka! Itu cuma mimpi kamu!”
Cakka menangkup wajah Agni dengan kedua tangannya, ia menatap mata Agni yang kini menghindarinya. “Kenapa? Kamu gak mau sama aku?.”
Agni terlihat ragu, namun kemudian ia menatap Cakka, “Karena aku gak bisa wujudin itu!.”
Cakka mengerjapkan matanya, “Ma-maksud kamu?.”
Agni tersenyum masam, “Itulah kenapa aku biarin kamu nikah sama Acha, seenggaknya dia bisa lahirin keturunan Mahesa, sudah pasti Kka. Setiap lelaki pasti mau punya keturunan, termasuk kamu.”
Cakka mengerutkan keningnya, “Kamu pikir aku gak bisa buat kamu hamil anak aku? kamu meragukanku hm?.”
Agni berdecak, “Aku yang gak bisa Kka.” Agni menghela nafas, ia meraih air yang tadi ia tuangkan untuknya. “Saluran penghubung antara Ovum dan rahimku bermasalah. Dokter memvonis kalau itu bisa mengakibatkan aku gak bisa memiliki ketururan.” Agni menghela nafas, “Sudahlah, kamu tidak perlu tau tentang itu. lebih baik kamu istirahat dan besok pulang. Maaf... kalau aku gak ngasih tau ini dari awal. Ini kesalahan.”

***

Cakka terbangun saat tenggorokannya terasa kering ia memutuskan untuk keluar dari kamar Ray, ia memang diberi ijin untuk beristirahat dikamar Ray, sejenak menjernihkan pikirannya untuk keputusan terbaik. Kalau Agni meragukan keturunan, mau tak mau ia harus berpikir menerima Agni dan tidak memiliki keturunan, atau meninggalkan Agni, mencari pengganti dan memiliki keturunan. Manakah yang harus ia pilih? Ini sangat tidak mudah baginya, karena masalah ini berimbas bukan hanya pada dirinya saja. Tapi mengenai orang tuanya juga yang  setiap orangtua pasti menginginkan cucu dari anaknya, apalagi Cakka anak tunggal.

Cakka menghentikan langkahnya kemudian bersembunyi saat mendengar seseorang yang sedang berbincang.

“Gimana Harry? Apa kamu mau nerima aku yang punya kekurangan yang sangat fatal? Gimana?.”
“Agni dengar!. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, kamu pikir dengan kamu tidak bisa melahirkan keturunan aku akan meninggalkan kamu begitu saja? Tidak!. aku akan tetap bersama kamu, dengan atau tanpa anak sekalipun. Karena kebahagiaan aku itu kamu, bukan dari anak atau hal apapun. Anak masih bisa adopsi, masih banyak cara lain.”

Cakka menengok ke arah dapur dan ternyata Agni memeluk Harry dengan begitu erat, sementara Harry hanya mengelus punggung dan kepala Agni yang nampak bergetar.

“Terimakasih Harry, kamu terbaik.”

Jadi kesimpulannya, manakah yang ia harus pilih? Tetap bersama atau meninggalkan? Semuanya begitu sulit untuknya.

***

Bersambung.
Ditulis, Ciamis, Selasa 11 Februari 2014


No comments:

Post a Comment