Monday, 3 February 2014

Prince’s Tale Series 1: She is My Cinderella

#8

Cakka sesekali melirik Agni yang duduk di sampingnya sambil menatap ke arah luar dari jendela kapal terbang itu. Saat ia menyadari bahwa kekasihnya itu ternyata tidur, ia menarik kepala kekasihnya itu hingga merebah di bahunya. Ia mengecup puncak kepala itu dengan sayang. Aku gak tau gimana cara naklukin kamu Ni, tapi... semoga apa yang aku lakuin gak ada yang salah dimata kamu. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.

***


Kapal terbang itu mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, tempat tujuan berlibur Cakka dan Agni. Mereka masing-masing hanya membawa sebuah ransel kecil di punggungnya. Tak ada kopor atau apapun yang lebih berat dari itu.

“Kita nginep dimana?.” Agni bertanya begitu mereka berdua memasuki sebuah taksi yang memang kebetulan berada disana.
“Di vila. Kebetulan Aku sama temen-temen beli vila disini.” Cakka berucap tanpa menoleh ke arah Agni sekalipun, karena Cakka sangatlah sibuk dengan gadget yang beberapa jam lalu ia tinggalkan.
Agni hanya membulatkan mulutnya, tak menghiraukan Cakka yang mengacuhkannya, ia juga malah mengecek ponselnya dan terlarut dalam beberapa urusan.

Cakka berdehem, “Sayang. Kamu bawa apa aja? Apa ada yang perlu di beli?.”
Agni tak mengalihkan pandangan dari ponselnya, “Enggak.”
Cakka menghela nafas, “Yaudah.” Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah jalanan  yang tak semacet ibukota.

***

Agni mengelilingkan pandangannya menelusuri vila yang sangat mewah itu, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa vila itu terletak di bibir pantai. Senyum Agni merekah, sungguh luar biasa. Inilah salah satu tempat yang sangat ia idamkan. Ia melirik Cakka yang ternyata sedang meenatapnya dengan senyuman yang menawan.

Cakka menggandeng lengan Agni memasuki sebuah kamar, ia menatap Agni dengan puas. Memangnya siapa yang tak senang melihat kekasihnya bahagia? Dengan tenang, ia mendudukan dirinya di tempat tidur.

Agni mendekati kaca yang menghadap langsung ke pantai, seluruh dinding yang menghadap pantai memang hanya kaca-kaca saja.

“Kamu suka?”

Agni hanya mengangguk menanggapinya, tak ada niat melewatkan moment indah itu.

“Ini kamar aku, disebelah ada kamar Alvin, di atas kamar Gabriel dan Rio.” Cakka tiba-tiba bangkit dari duduknya.
“Kamu istirahat aja dulu, kalo ada apa-apa aku dikamar sebelah.”

Agni mengerutkan keningnya, ia berjalan ke arah Cakka. “Gak disini aja?.”
Cakka mengerlingkan matanya nakal, “Jangan. Bahaya.”
Keduanya terkekeh bersama, kemudian Agni mendorong Cakka keluar dari kamar itu.

Agni memegang dadanya yang terasa aneh, kenapa ia berdebar? Debaran yang telah ia kubur jauh-jauh. Kenapa dia kembali? Kenapa debaran itu hadir lagi? Apakah ia jatuh cinta? Agni bergumam, jatuh cinta, sama Cakka? Ia tersenyum kemudian membanting tubuhnya kepembaringan. Semoga saja ini yang terakhir.

***

Cakka keluar dari kamar saat mencium bau masakan yang ia rasa akan sangat lezat jika dinikmati saat ini juga, begitu pas dengan suasana malam yang dihiasi rintikan hujan yang begitu dingin itu.

“Kka... duduk. Makan.”

Rasa laparnya menguap mendengarnya. Itu bukan ajakan. Tapi perintah!. Cakka tak mengindahkan ucapan Agni itu, kapan Agni bisa merubah kebiasaan memerintahnya itu? ia tak biasa di perintah dan ia tidak akan pernah mau diperintah. Memangnya ada pria yang mau di perintah oleh seorang wanita?.

“Mau makan gak? aku tau kok dari pagi kamu belum makan makanan yang berat.”

Apakah itu bentuk perhatian? Cakka mendengus. Tak ada yang perhatian dengan nada seperti diktator seperti itu.

“Terserah sih. Selamat makan.”

Cakka menghela nafas, menenangkan pikirannya yang kacau. Setiap wanita akan bersikap baik padanya, akan memujanya. Tetapi, kenapa Agni malah menjadi pengecualiannya? Apakah ini balasan dari Tuhan?. Cakka mendudukan dirinya di sofa, lalu ia meraih remote kemudian menghidupkan televisi.

“Sekalinya bener-bener cinta, bener-bener sayang eh malah di cuekin, diperintah.”

***

Agni mengunyah makanannya dengan lamban, keinginannya untuk makan seketika menguap melihat reaksi Cakka terhadapnya, apakah ia salah? Biasanya, Cakka akan dengan cepat mendekati dan memujinya dengan segala rayuan gombal yang entah sejak kapan ia suka dengan ucapan-ucapan naif itu. Tapi sekarang? Kenapa Cakka diam? Apa salahnya?.
Agni berjalan mendekati Cakka dengan satu porsi makanan di tangannya.

“Sekalinya bener-bener cinta, bener-bener sayang eh malah di cuekin, diperintah.”

Agni tertegun, memerintah? Ia tak pernah merasa sepperti itu, karena itu kata-kata biasa yang ia ucapkan, yang menurutnya bukan perintah, atau apakah itu hanya lampiasan rasa kesal saja? Entah di dorong oleh apa Agni berjalan semakin dekat ke arah Cakka kemudian duduk di pangkuan kekasihnya itu.

“Makan ya...” Agni menyendok makanan. “Aa... aku suapin.” Agni tersenyum saat Cakka mengikuti apakatanya. Cara ini emang selalu berhasil.

“Aku sayang sama kamu...”

Agni tersenyum mendengarnya, apakah ia harus menjawabnya? Mengatakan sesuatu yang belum pasti. Ia menghela nafas kemudian menyuapi Cakka kembali hingga seporsi makanan itu habis dimakan berdua.

***

Cakka dan Agni terlihat begitu bahagia dipagi itu, keduanya saling menyuapi satu sama lain dan terkadang saling menggoda.

“Cie yang ketagihan disuapin. Haha...” Cakka mencubit hidung Agni dengan gemas.
Agni memutar bola matanya kesal, “Dih siapa yang ketagihan? You wish!
“Tapi kok pipinya merah gitu sih. Cie yang malu-malu.” Cakka mencubit gemas hidung Agni.
Dengan refleks Agni memegang pipinya dan disambut dengan gelak tawa oleh Cakka. “Haha berarti kamu ngerasa ya ketagihan lagi... aihh Agni calon istrinya Cakka malu-malu lagi.”
Agni mencubit perut Cakka, cukup membuat pria itu meringis. “Aw sakit sayang.”
“Oh sakit ya?.” Agni memperlihatkan ekspresi kaget yang dibuat-biat. “Rasain. Makanya jangan godain terus.”
Cakka mengerlingkan matanya nakal, ia senang sekali menggoda kekasihnya itu. “Tapi suka kan?.”
“Ihh Cakka! Awas ya kamu.” Agni memukuli lengan Cakka dengan kesal segaligus malu, entah sejak kapan benteng datar dalam wajahnya itu menghilang. Yang jelas, semenjak ia mengenal Cakka, dan merasakan desiran halus dalam hatinya.

***

“Kita mau kemana sih? Aku gak suka kejutan.”
Cakka merangkul pundak Agni untuk mendekat ke arahnya. Sementara Agni melipat kedua tangannya didada, kesal. Kejutan terakhirnya ia dipertemukan dengan mantan-mantannya oleh Cakka. Sekarang apalagi?
“Sampai.”

Agni mengerutkan keningnya kemudian mengelilingkan pandangannya, sepertinya ia pernah ketempat ini. saat ia melihat tebing yang begitu tinggi ia tersenyum dengan lebar. “Panjat tebing? Aku suka.”

Saat Agni berjalan mendahului Cakka untuk mendekat Cakka menarik sikut Agni dengan lembut. “No sayang. Kamu diem disini.” Cakka menyerahkan tas kecilnya pada Agni.
“Kka kita bisa lomba.”
Cakka berbalik kemudian menggeleng dan mengisyaratkan pada Agni untuk tetap diam ditempat. Agni merengut, kenapa sih kejutan Cakka selalu menyebalkan? Dulu gitu, eh sekarang... kirain berdua panjat tebingnya. Maunya apa sih?

Ponsel dalam tas Cakka berdering, Agni membuka tas itu. ia mengerutkan keningnya bingung dengan ponsel mana yang berdering, pasalnya tidak hanya satu yang berada didalam tas itu.
“Bunda?.”

“Hal...”
“Kenapa lama sekali? Jangan pernah macam-macam ya Cakka!.”
Agni mengerutkan keningnya, Bunda kenapa sih?. “Bunda ini Agni.”
“Lho... Agni, kamu gak kenapa-kenapa kan sayang? Cakka gak macem-macemin kamu?.”
Agni terkekeh kecil mendengar nada khawatir dari calon mertuanya itu, “Enggak Bun, Cakka gak ngapa-ngapain kok.”
“Oke. Bunda percaya sama kamu. sekarang Cakka mana? Bunda harus bicara.”
Agni menatap ke arah Cakka, “Gak bisa Bun, Cakka lagi panjat tebing. Tuh hampir aja nyampe puncak.”
“APA? Panjat tebing?”
“Iya Bun, emang kenapa?.”
“Cakka punya trauma ketinggian Agni. Jangan... jangan sampe dia beneran sampai.”
“Hah? Tapi... udah sampe Bun.”

***

Cakka memejamkan matanya sejenak kemudian menatap ke arah Agni yang ternyata sedang sibuk berbincang dengan entah siapa diseberang telpon itu. ia memegang kepalanya, pusing. Jangan sekarang!. Cakka menggelengkan sedikit kepalanya.

“CAKKA TURUN...”

Siapapun dan apapun yang Agni bicarakan pasti mengenai dirinya.

“CAKKA PLEASE... AKU MOHON... TURUN.”

Cakka tersenyum kemudian menurunkan sebuah banner yang memang sengaja telah dipersiapkan olehnya dari atas tebing.

***

Agni menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang Cakka lakukan untuknya, hanya untuk ini Cakka melawan traumanya? Agni mengerjapkan matanya beberapa kali. Ternyata banner bertuliskan I LOVE YOU AGNI itu benar-benar nyata dan ada disana.

“Cakka...” Agni masih menatap ke arah banner besar itu kemudian menatap ke arah Cakka yang tengah memegang kepalanya. “CAKKA!.”

Tak berapa lama Cakka menuruni tebing perlahan, kenapa sih maksain gitu? Iya aku suka panjat tebing tapi aku gak bakalan paksa kamu suka. Cakka! Kamu bodoh! gila!. Agni menatap Cakka khawatir, siapa yang tidak mengkhawatirkan kekasihnya sendiri jika sedang berjuang melawan trauma? Pasti semua orang juga akan mengkhawatirkan itu. setelah melihat Cakka menginjak tanah dengan segera Agni berlari ke arah Kekasihnya itu.

“Kamu apa-apaan sih Kka?. Kamu gila.” Agni memukuli dada Cakka kesal, kesal karena kebodohan dan kegilaan Cakka melakukan hal yang ditakutinya. Menyebalkan!

Cakka menarik Agni kedalam pelukannya, setelah segala alat keamanan yang tadi terpasang ditubuh Cakka dilepas, Cakka menarik Agni agak menjauh. “Kamu kenapa sih? Bukannya kamu juga suka panjat tebing? Kok kayak gini sih?.”

“Kamu gila Kka...” Agni memeluk leher Cakka dengan erat. “I love you too...”
Cakka tersenyum, ia membalas pelukan itu dengan wajah yang sengaja di tenggelamkan di lekukan leher Agni. “Kamu gak perlu ngelakuin kayak gini Kka... aku emang udah cinta sama kamu.”
Cakka mengeratkan pelukannya kemudian menghujani Agni dengan kecupan-kecupan kecil di puncak kepalanya. “Terimakasih...”

***

Cakka dan Agni berangkulan sambil menyusuri bibir pantai yang jauh dari keramaian, keduanya terlihat begitu serasi dan pasangan yang benar-benar cocok.

“Ini pertama kalinya aku bolos kerja, cuma demi kamu aku rela ninggalin kerjaan.”
Agni terkekeh kecil, “Ada-ada aja kamu. aku sih gak pernah dipaksa kerja. Toh nantinya yang bakalan ngurusin perusahaan itu suami aku.”
Cakka menepuk jidatnya, “Gawat. Ayah nyerahin semua perusahaannya sama aku, masa Daddy juga sih? Gimana cara ngurusin jadwal nantinya? Aku gak mau ngabisin hidup aku dengan kerjaan.”
Agni melirik jahil, “Pede banget. Emang aku bilang bakalan kamu yang urus? Akukan bilang diurus suami aku.”
“Sama aja. Suami kamu nantikan aku.” Cakka mengecup hidung Agni. Sementara Agni terkekeh menerimanya dan hanya bisa membatin, semoga. Ia menatap Cakka yang berlari menerjang ombak. Entah kenapa, setelah kebahagiaan ini ia merasa takut. Takut kehilangan kekasihnya itu, seperti dulu. Aku gak akan pernah siap jika itu terjadi Tuhan...

***

Agni merebahkan tubuhnya di atas tikar yang sengaja di gelar tepat di bibir pantai. Begitupun dengan Cakka, ia menyelimuti tubuh Agni dengan jaket yang ia bawa sementara sebelah tangannya di jadikan bantalan oleh Agni.

“Aku pernah merasakan tidur di atas gunung bersama Shilla dan Ray, aku juga pernah merasakan tidur di bibir pantai seperti ini bersama mereka. Rasanya begitu menyenangkan sekali. Tapi, entah kenapa sekarang rasanya berbeda.” Agni melirik Cakka yang tengah menantikan kelanjutan ucapannya. “Aku merasa ini hal yang paling luar biasa. Dibibir pantai dengan kekasih. Ini pertama kalinya untukku.”

Cakka mengecup pipi Agni lama, kemudian ia berucap menanggapi dengan sedikit berbisik. “Aku juga, ini pertama kalinya aku membawa seorang wanita ketempat ini, Bunda juga gak pernah aku ajak kesini. Aku bahagia Ni.” Ia melirik kekasihnya itu dengan tatapan penuh cinta. “Menikahlah denganku...”

Agni terkekeh, ia menepuk dada Cakka perlahan. “Gak secepat ini.”
“Tapi... aku.”
Agni mengelus dada Cakka, “Apa yang kamu mau cuma aku Kka? Maksudku... tubuhku. Kalau itu... kenapa kamu tidak melakukannya sekarang juga? Bukannya kita ditempat ini hanya berdua?.”
“Bukan. Bukan itu yang aku mau, bukan hanya itu.” Cakka menghela nafas, ia menatap langit yang begitu gelap dengan bintang-bintang yang bertaburan. “Aku baru merasakan cinta, dan cintaku itu kamu. aku gak mau kehilangan kamu. aku mau kamu selamanya ada disampingku, bukan hanya persoalan kebutuhan fisik saja. Tapi... aku membutuhkanmu disetiap detik hidupku, disetiap langkah kehidupanku. Untuk mendampingiku, ingat Agni... untuk mendampingiku.”

Agni menyeka air mata yang hampir saja jatuh. Kata-kata itu... mengingatkannya pada seseorang. Agni menghela nafas. “Rio pernah mengatakan itu dan seminggu kemudian dia meninggalkanku bersama kekasih barunya.”

Cakka memutar badannya sehingga kini seluruh tubuhnya hampir melingkupi Agni. “Aku bukan dia, aku tidak akan pernah bermain dibelakangmu, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu, ataupun meninggalkanmu.”

“Ya...” Agni mengangguk, sekali lagi ia menyeka air matanya kemudian memeluk pinggang Cakka. “Aku percaya.” Agni memejamkan matanya, meyakinkan hatinya yang masih saja menyimpan rasa ragu. Kenapa aku seperti ini? kenapa aku tidak bisa sepenuhnya percaya?

“Err... sayang. Bisakah kamu menjauhkan tanganmu dari sana. Kalau tidak... aku rasa kamu tidak akan selamat malam ini.”

Agni tertawa mendengar suara serak Cakka, yang entah dibuat-buat atau tidak. Agni mengerlingkan matanya nakal. “Coba aja kalau berani.”

Cakka menggeram, “Nakal.” Tanpa basa-basi lagi ia mengangkat tubuh Agni memasuki kamarnya. Sementara Agni semakin tertawa karena digelitiki kecil oleh tangan Cakka yang berada di pinggangnya.

***

Tengah malam Agni terbangun karena mendengar gemerincik air dari kamar mandi yang begitu terasa dominan dalam pendengarannya. Ia melirik kesebelah kanannya yang kosong. Cakka kemana? Masa malem-malem gini mandi?
Agni bangkit kemudian berjalan ke arah pintu. Ia mengetuknya pelan. “Kka... kamu lagi ngapain?.” Agni mengetuknya sekali lagi, tak ada sahutan. “Kka...” masih tak ada sahutan. Ia menempelkan daun telinganya pada pintu. “Kka... Cakka jangan becanda. Buka! Kka...”

Pintu kamar mandi terbuka menampakkan Cakka yang memakai bathrobe dengan wajah yang begitu pucat.
“Kka...” betepatan dengan sahutan itu Cakka tumbang menimpa tubuh Agni. “Cakka bangun Kka...” Agni menepuk-nepuk pipi Cakka cukup keras, namun tak membuat Cakka membuka matanya.
Agni dengan tertatih membawa Cakka dan merebahkan kembali kekasihnya itu ketempat tidur, ia berbalik ke arah lemari untuk mengambil pakaian Cakka. “Kka please bangun... jangan buat aku takut.” Sekali lagi Agni menepuk-nepuk pipi Cakka kemudian ia membuka bathrobe itu. wajah Agni tiba-tiba merona saat menyadari Cakka hanya menggunakan boxer di balik bathrobe-nya. Agni menepuk kepalanya perlahan, mikir apa sih Agni... jangan gila. Kemudian ia memakaikan pakaian Cakka dengan hati-hati.
Agni menghela nafas, ia menatap Cakka yang belum membuka matanya. Kamu panas banget. Kamu kenapa sih? Ada apa-apa bilang dong. Jangan kayak gini.

***

“Bunda... tolong... Bunda Adek Bun... Bunda Adek jatoh...”
“Ya Tuhan... Ayah....” Nirina tak melihat sedikitpun ke arah Cakka, ia terus melihat ke arah jurang dan terus meraung-raung menangis menyaksikan puterinya yang entah masih bernyawa atau tidak. Cakka kecil juga menangis, hatinya sakit melihat Bunda yang selalu memanjakannya tak meliriknya sedikitpun. apa kesalahannya begitu fatal? Ia tak mengerti. belum mengerti apapun.

Cakka memeluk Nirina dan menangis keras. “Bunda... Maafin Cakka... gara-gara Cakka adek jatuh. Maaf... Cakka gak liatin adek pas adek jalan-jalan. Maafin Cakka Bunda...”

Cakka terbangun, ia melihat kesebalah kirinya. Terlihat Agni tidur dengan begitu damai. Ia meraba keningnya yang terasa berat karena kompresan. Mimpi itu lagi. Ia menarik rambutnya  frustasi.

“Kka... kamu akhirnya sadar juga.”
Cakka menatap Agni dan tersenyum tipis pada kekasihnya itu. “Aku kenapa? Dan...” ia menatap aneh pada dirinya sendiri. “Siapa yang memakaikan baju?.” Ia melirik Agni.

Agni menatap Cakka ragu kemudian ia memamerkan deretan giginya ditambah dengan pipinya yang memerah. “Memangnya kamu pikir siapa lagi?.” Agni terlihat gugup. “Tenang aja, tadi kamu pake boxer kok. Gak perlu takut aku liat semuanya.”

Cakka terkekeh, ia menatap geli ke arah kekasihnya yang wajahnya bertambah merah. “Gapapa lagi kamu liat semuanya juga.” Ia mengerlingkan matanya nakal ke arah Agni. “Atau... kamu mau lihat sekarang?.”

Agni mencubit pipi Cakka, “Nyebelin banget sih kamu...”. Cakka memegang lengan Agni sambil meringis. “Sakit sayang... aduh... aku pusing lagi.” Cakka merebahkan kepalanya.

“Cakka? Pusing? Biasanya kamu minum obat apa? Dimana obatnya? Apa aku panggilin dokter aja? Mana nomor kontaknya?.”

Cakka tertawa lepas melihat kepanikan luar biasa dari Agni itu. “Kamu kenapa sih?. Aku gapapa lagi. Aku cuma becanda.”

Agni menggeram kesal, ia memukul dada Cakka kesal. “Aku gak bakalan percaya lagi sama kamu. terserah mau pusing kek, mau apa kek aku gak peduli. Aku bukan mainan Cakka. Kenapa kamu mainin terus perasaan aku?.”
“Hey! Hey!... kamu kenapa sayang?.” Cakka segera bangkit lalu meraih Agni kedalam pelukannya. “Maaf... aku sayang kamu, jangan tinggalin aku.”
Agni membalas pelukan Cakka. “Jangan gitu lagi.”
Cakka merasakan dadanya basah, ia merengkuh wajah Agni. “Kamu nangis?.”
“Aku khawatir sama kamu.” Agni mendorong tubuh Cakka hingga pria itu terjatuh di tempat tidur, kenapa sih pria itu sama sekali tidak menghargai perasaannya? Kenapa?. Agni merasakan sebuah tangan meraih sikutnya. Ia berbalik menatap mata tajam tak terbantahkan milik Cakka. Nafas Agni memburu karena kesal, ia berusaha melepaskan cengkeraman Cakka di tangannya.

“Agni.” Cakka memanggil Agni dengan lembut, membuat Agni tak kuasa untuk tidak menengok ke arah pria itu. Cakka menatapnya dengan lembut, penuh dengan kasih sayang. “Will you marry me?.”

***

“APA? Gila! Kamu hamil dan kamu putus dengan Cakka?.”
“Kak degerin aku.” wanita itu terlihat frustasi dengan ponsel yang ia arahkan ketelinganya.
“Kakak tidak mau tahu! Cakka harus bertanggung jawab!”
“KAK.”
“Kamu tunggu disana, secepatnya kakak pulang.”
“KAK. Tapi...”

Sambungannya terputus. Wanita itu meluruh terduduk di ambang tempat tidur dengan air mata yang bercucuran. Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Ia memeluk perutnya yang masih datar itu.

***

Bersambung.
Ditulis, Ciamis 03 Februari 2014


No comments:

Post a Comment