#11
4
Bulan Lalu.
“Thanks buat semuanya, gue pergi.”
Ray keluar dari kamar Agni dengan wajah yang muram,
selesai sudah penantiannya pada Agni. Akhirnya Agni akan segera mendapatkan
pasangan dan ia hanya akan menjaddi seorang pecundang.
Ray melajukan mobil merahnya ke arah sebuah hotel
yang ia ketahui memiliki tempat hiburan malam yang ternyata buka 24 jam.
Suasana ramai begitu memasuki ruangan itu begitu kentara, ternyata meskipun
pada siang hari ternyata banyak juga pengunjung datang ketempat itu. Ray duduk
di bar tepat disamping seorang gadis yang menggunakan gaun merah menyala. Entah
kenapa ia sangat tertarik dengan gadis itu, atau hanya karena gadis itu
mengenakan pakaian dengan warna kesukaannya? Ray tersenyum kecil sambil
menggeleng.
“Patah hati?.”
Ray melirik ke arah gadis itu yang menyapanya dengan
cara yang aneh. Ray tersenyum kecil. “Kamu juga kan?.”
Gadis itu terkekeh. “Enggak lah, aku malah seneng
putus. Ya tapi problemnya malah makin panjang.”
“Kenapa?.”
“Kakakku obsesi banget ngejodohin aku sama dia.”
Gadis itu melirik. “Minum?.”
Ray tersenyum kemudian ia mengacungkan gelas
miliknya. Gadis itu tersenyum kemudian menumbukkan gelasnya pada gelas Ray. Ray
hanya terkekeh melihatnya. “Udah biasa ya kesini?.”
“Baru pertama kali. Kamu?.”
“Sama.”
Ray dan gadis itu menghabiskan minumannya dalam
diam, kesadaran Ray mulai menipis begitu juga dengan gadis itu. gadis itu
melingkarkan tangannya pada leher Ray.
“Check in yuk!.”
***
Agni melambaikan
tangannya pada Harry yang berpamitan untuk pulang, setelah itu ia kembali ke
dalam apartemen.
“Agni.”
Agni berbalik ke
arah ruang tamu, mendapati Cakka yang sedari tadi diam disana entah karena apa.
“Ya.”
“Aku mau
bicara.”
Agni mengangguk kemudian
duduk di samping Cakka. Ia menghadap Cakka yang terlihat begitu putus asa.
“Apa?.”
Cakka menghela
nafas, “Mungkin ini terlambat. Sebelumnya aku minta maaf, tadi malam aku
mendengar percakapan kamu dengan Harry di dapur.”
Agni menatap
tajam ke arah Cakka, ia terlihat menegang, apa
Cakka denger semuanya?
“Aku denger
semuanya Ni, harusnya aku yang bilang seperti itu, aku akan bahagia sama kamu,
dengan atau tanpa anak. Mungkin ini terlamat. Tapi, aku juga akan mencintai
kamu apa adanya kamu Ni, aku sayang kamu. aku gak peduli apapun lagi. Yang
ngejalanin hidup itu kita bukan orang lain. kalaupun orang tua kita maksa cucu
kita masih bisa cari jalan lain. aku juga udah niat buat enggak tinggal di
Jakarta lagi, aku mau hidup kita cuma ada kita bukan orang lain lagi. Jadi,
Agni... aku mohon, pulanglah... dan kita menikah. Aku mohon.”
Air mata Agni
keluar begitu saja, “Kka...” Agni memeluk Cakka dengan cepat. “Aku mau... dan
kamu salah faham.”
“Maksud kamu?.”
Agni mencengkeram pinggiran kichenset, tubuhnya bergetar
hebat. Apa ia benar-benar sanggup melepas Cakka?. Seseorang menepuk pundak Agni
kemudian ia berbalik.
“Harry.”
“Kenapa?.”
“Aku gak bisa jauh dari Cakka.”
Harry mengelus puncak kepala Agni, kemudian mengelus
pipi Agni dengan penuh kasih sayang. “Kalau begitu jangan.”
“Tapi, dengan kondisi aku? aku salah, seharusnya aku
katakan itu dari dulu. Aku bodoh! mengenai diriku saja aku lupa.”
“Stt...” Harry menyeka air mata Agni.
“Apa mau kamu sama aku dengan kondisi aku kayak
gini?.” Agni menatap Harry dengan air mata yang tak pernah pudar. “Gimana
Harry? Apa kamu mau nerima aku yang punya kekurangan yang sangat fatal?
Gimana?.”
“Agni dengar!. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, kamu
pikir dengan kamu tidak bisa melahirkan keturunan aku akan meninggalkan kamu
begitu saja? Tidak!. aku akan tetap bersama kamu, dengan atau tanpa anak
sekalipun. Karena kebahagiaan aku itu kamu, bukan dari anak atau hal apapun.
Anak masih bisa adopsi, masih banyak cara lain.”
Agni memeluk Harry, andai saja itu jawaban itu dari Cakka.
“Terimakasih Harry, kamu terbaik.”
“Iya... dan seharusnya Cakka akan mengatakan itu
padamu. Aku senang kalau dia berkata seperti itu. aku akan bahagia karena pada
akhirnya adikku yang cantik ini akan bahagia.”
Agni tersenyum, “Makasih ya... kamu udah pengertian
sama aku.”
“Dengan jadi Kakak yang baik buat kamu aja aku udah
bahagia.” Harry tersenyum lembut pada Agni. Agni memeluknya lagi semakin erat.
Ia senang, karena pada akhirnya Harry merelakannya, mengerti apa maunya.
“Gapapa, karena
gara-gara itu aku jadi sadar. Kalau kamu bukan untuk di tinggalkan.” Cakka
meraih Agni kembali dalam pelukannya, ia mengecup puncak kepala Agni lama. Akhirnya, kebahagiaan kembali. Terimakasih
Tuhan.
***
Cakka dan Agni
berjalan memasuki bandara untuk pulang. Setelah beberapa hari sebelumnya mereka
habiskan untuk berjalan-jalan dan foto prawedding. Cakka menjabat tangan Harry
yang mengantarnya hingga bandara.
“Terimakasih,
sudah menjaga Agni selama aku tidak ada.”
“Gak masalah.
Jaga Agni baik-baik. Jangan sakiti dia.”
Cakka melirik ke
arah Agni kemudian tersenyum. “Pasti.”
Agni menghampiri
Harry kemudian memeluknya, “Jangan lupa dateng ya... aku sayang kamu.”
“Iya, Aku juga
sayang kamu.”
***
Cakka melirik ke
arah Agni yang sedari tadi melihat hamparan awan dari ketinggian ini. Cakka
menghela nafas, “Kamu nyesel?.”
Agni berbalik
kemudian tersenyum, “Enggak!.”
“Lalu?.”
Agni menarik
nafas, “Aku berharap, Harry bisa mendapatkan yang terbaik. Dia baik sekali
Kka.”
Cakka menarik
Agni untuk mendekat, kemudian ia memeluknya. “Pasti.” Cakka mengecup puncak
kepala Agni sejenak.
“Ni, sejak kapan
kamu tau tentang kondisi rahim kamu?.”
“Beberapa tahun
lalu saat aku rajin cek kesehatan. aku benar-benar lupa memberi tahumu tentang
ini. maaf.”
“Stt...
sudahlah. Itu sudah terjadi. Kita hadapi saja semua yang udah kita mulai.”
Agni mengangguk
dalam pelukan Cakka, ia memejamkan matanya sejenak. Semoga kebahagiaan sebenarnya yang menghinggapiku, bukan hanya mimpi
yang akan berhenti saat aku terbangun.
***
Pervita dan
suami mendatangi kediaman calon besannya, mereka masing-masing membawa kantung
besar berisi buah tangan yang sengaja mereka berikan untuk keluarga Mahesa.
“Vita, Dika,
kalian datang? Kami merindukanmu.” Nirina memeluk mereka secara bergiliran,
begitupun suaminya.
“Ini, untuk
kalian?.”
Nirina menatap
takjup ke arah bawaan dari calon besannya. “Wah... repot-repot ya...
terimakasih.”
Pervita
tersenyum, “Oiya, anak-anak dimana? Aku gak liat Agni di rumah. Apa dia
disini?.”
Nirina menatap
suaminya, Mahesa menghela nafas. “Beberapa hari yang lalu ada sedikit masalah
dan keduanya sekarang dalam perjalanan pulang dari London. Katanya sekalian
foto prawedding.”
Orangtua Agni
mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
“Mom. Dad.
Kalian pulang?.” Agni berseru begitu kencang begitu melihat orangtuanya. Ia
segera berlari dan memeluk orangtuanya satu persatu. “Miss you Mom... miss you
Dad.”
“Hai Kka. Anak
Mom ngerepotin?.” Pervita menatap ke arah Cakka yang sedang tersenyum melihat
tingkah Agni.
“Enggak Mom.
Maaf Mom Cakka istirahat dulu ya... masih sedikit pusing.” Setelah menyalami
orangtua Agni dan orangtuanya Cakka berlalu.
Agni merengut
karena terabaikan Cakka. “Tega banget ihh.”
Cakka terkekeh
kemudian berbalik, “Sayang kita masih belum sah, jadi aku gak mungkinkan ajak
kamu istirahat bareng?.”
Agni merona, ia
menundukan wajahnya malu. Cakka terkekeh melihatnya.
“Cakka emang
gitu sayang, dia harus langsung istirahat. Kalau enggak, dia bisa uring-uringan
seminggu.” Ujar Nirina sambil terkekeh.
Agni mengangguk.
“Tadinya aku mau nginep disini. Karena Mom sama Dad udah pulang. Lebih baik
Agni juga pulang. Yuk Mom... Dad...”
“Agni... kita
baru sampai.” Bisik Pervita.
“Ahh Mom. Kan
bisa besok lagi.”
Nirina terkekeh
melihat tingkah calon menantunya, andai saja anak perempuannya ada, pasti akan
semanis Agni, lucu dan menggemaskan. “Gapapa Vit, kasian Agni juga. Kan masih
bisa besok. Sekalian kita rampungin buat acara resepsi.”
“Oh. Ok!.
Yasudah kami pamit ya...”
“Iya,
hati-hati.”
Keluarga
Mahardika pun beranjak dari kediaman Keluarga Mahesa. Nirina menghela nafas, hampir saja semuanya hancur. Semoga Tuhan
melindungi semuanya. Amin...
***
Cakka dan Agni
bergandengan menyusuri jalan setapak yang berada di sebuah taman yang
berhadapan langsung dengan sebuah danau. Sapuan angin menerpa wajah mereka yang
tak hentinya saling menatap dan tersenyum penuh kebahagiaan.
“Bunda sama Mom
semangat banget ya?.”
Agni terkekeh,
“Iya, lagian ada-ada aja deh resepsinya mau outdoor. Padahal kita udah booking
gedung.”
“Itu biar buat
Ray aja. Sebagai hadiah dari kita.”
Agni tersenyum
kemudian mengangguk.
“Mama...
Mama...”
Cakka dan Agni
kompak menengok ke arah belakang, saat mendengar terikan yang di campur isak
tangis dari seorang anak kecil. dengan cepat Agni menghampirinya.
“Stt... kenapa
sayang?.” Agni berjongkok sambil memeluk anak itu.
“Tian di tinggal
Mama ate... Mama Tian ilang...”
Cakka berjalan
mendekati Agni kemudian mengangkat anak itu yang memanggil dirinya Tian. “Yuk
kita cari, sambil kita main...”
Tian mengangguk
ragu. Cakka terkekeh kemudian mengacak-acak rambut anak itu dengan gemas. “Tapi
jangan sedih ya...”
“Iya Oom...”
Cakka mencubit
hidung Tian, “Pinter.”
Sementara Cakka
terus bermain dengan anak itu, Agni hanya bisa melihatnya dengan tatapan penuh
haru dan senyuman yang terukir begitu saja. Semoga
Tuhan memberi kepercayaan padaku agar aku bisa memiliki seorang putera yang
tampan yang kuat dan penuh kasih sayang atau seorang puteri yang lembut yang
benar-benar lembut, agar bisa membahagiakan kami.
“Ni... ayo...”
Agni mengangguk
kemudian beranjak mensejajarkan dirinya bersama Cakka yang tak henti-hentinya
berbicara dengan anak itu.
“Oom ganteng,
mirip kayak Tian. Tian juga ganteng.”
“Iya kamu
ganteng banget. Oom kalah ganteng ah sama kamu.”
“Coba Papa-nya
Tian ada, pasti seganteng Oom...”
Cakka
mengerutkan keningnya. “Emangnya Papa tian gak ada?.”
“Kata Mama, Papa
lagi sibuk. Nyari uang buat biaya Tian nanti kalo udah gede.” Tak ada wajah
sedih darinya., yang ada raut polos anak-anak pada umumnya yang tak tahu dan
tak mengerti apa-apa.
“Oom balon.”
Tian bersorak riang saat melihat seorang pedagang balon yang membawa beberapa
buah balon warna-warni. Cakka mengerjap, kemudian mengalihkan pandangannya ke
arah tujuan tatapan Tian, begitupun Agni.
Agni mengelus
kepala anak itu, “Kamu mau?.”
Tian tiba-tiba
murung, “Tian gak punya uang...”
“Nanti Tante
beliin. Mau?.”
“Beneran Ate?.”
Tian bertanya antusias.
“Iya dong.
Yuk...” Agni membawa Tian dari gendongan Cakka, ia membawa Tian menghampiri
pedagang balon tersebut kemudian membeli 5 balon dengan warna yang berbeda.
Setelah membeli
balon itu kemudian mereka beristirahat di sebuah bangku tepat dibawah pohon
yang begitu rindang.
“Tian seneng?.”
Tian tersenyum,
memamerkan deretan gigi susu-nya. “Seneng dong Ate... makasih...” Tian memeluk
Agni dengan erat.
“Tian!.”
Cakka dan Agni
beralih kesumber suara, dan terlihat seorang wanita yang begitu panik mencari
anak itu.
“Mama...” Tian
berlari ke arah wanita itu yang menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
“Kamu... Aren?.”
Cakka berjalan mendekati wanita itu dengan pandangan penuh tanya, begitupun
dengan Agni yang heran melihat tingkah Cakka. Ada apa lagi ini? “Jadi Tian...
anak kamu? kapan kamu nikah?.”
“Arkka?.” Wanita
bernama Aren itu terlihat bingung, kemudian berlalu begitu saja. Ia berjalan
sangat cepat menghindari Cakka yang terus mengejarnya. Aren terlihat tidak
mempedulikan Cakka dan Tian yang merengek ingin turun dan kembali pada Cakka.
“Kka... udah!.
Biarin aja!.”
Cakka menghela
nafas, kemudian berbalik ke arah Agni yang terlihat kesal. “Iya.”
“Siapa dia?.”
“Aren.”
“Maksud aku kamu
punya hubungan apa?.”
“Gak ada. Emangnya
kenapa sih?.”
“Jujur Arkka
Mahesa!.”
Cakka menatap
Agni dengan gemas, kemudian ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Agni. “Dia
mantan pacar Kakaknya Alvin.”
“Oh. Terus?
Kenapa kamu kepo gitu?.”
Cakka menghela
nafas, “Sayang kalo cemburu yang kerenan dikit napa sih? Dia cuma mantan pacar
Kakak nya Alvin, dari dulu kita emang lagi cari dia yang tiba-tiba ilang.”
“Oh.”
Cakka mengerlingkan
matanya menggoda Agni yang begitu acuh padanya. “Ciee yang cemburu... khm.”
Agni menatap
tajam ke arah Cakka, “Ih siapa coba yang cemburu?.”
Cakka mencolek
hidung Agni, “Bener nih?.”
“Cakkaaaaa...”
Agni mencubit pinggang Cakka begitu keras.
“Ampun sayang.
Ampun...” Cakka berlari menghindari Agni.
“Berhenti kau
Cakka! Dasar nyebeliiinnn...”
***
Cakka menuruni
tangga dengan tergesa, hari ini ia berencana untuk pergi lagi dengan Agni,
setelah memutuskan cuti 2 minggu sebelum menikah, Cakka memang ingin hari
mereka sebelum menikah tak kalah indahnya seperti setelah menikah nanti. Cakka
tersenyum tipis membayangkan rencananya hari ini.
“Mau kemana kamu
Kka?.”
Cakka tersenyum
pada Nirina yang tengah menyiapkan sarapan untuk semuanya. “Mau jalan Bunda,
sama Agni.”
“No! Gak
boleh!.”
Cakka
mengerutkan keningnya, “Kenapa Bunda?.”
“Kalian
dipingit. Gak boleh ketemu!.”
“Bunda...” Cakka
mendesah kesal, “Cakka kagen Agni Bunda... Bunda ngerti gak sih?.” Cakka
menggembungkan pipinya kesal.
Nirina terkekeh
kemudian mengecup pipi Cakka dengan gemas, “Kamu ini, kayak anak kecil aja.
Kemaren seminggu gak puas hm?.”
“Bunda... hari
ini yaa... please. Sekali lagi.” Cakka menatap Nirina dengan wajah memelasnya.
“No!. Kamu tidak
boleh keluar dari rumah.”
“Bahkan buat ketemu
sama temen-temen?.”
“Cakka mas bro
yang bentar lagi mau kawin.” Sahut Gabriel yang baru saja memasuki rumah Cakka.
“Tuh Bunda udah
kasih tau temen-temen kamu buat selama seminggu ini mereka yang main kesini.”
Nirina mengacuhkan Cakka yang mendengus kesal. Padahal rencananya ia mau
bertemu Agni walau nyolong-nyolong waktu.
“Udah...
nikmatin aja kali Kka. Seminggu lagi...” ucap Alvin sambil merangkul Cakka.
“Setelah ini kalian bebas mau ngapain juga. Iya gak Bun?.” Sambung Alvin sambil
mencomot gorengan yang baru saja Nirina taruh.
Nirina
mengacak-acak rambut Alvin, yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu.
“Dengerin tuh kata Alvin Kka... sabar dikit napa?.”
“Iya deh.
Sekalian aja makanannya anterin ke kamar, biar Cakka dikamar aja selama seminggu!
Jamuran-jamuran deh!.” Cakka berucap dengan kesal sambil berlalu meninggalkan
sahabat-sahabatnya dan Bunda yang terkekeh geli melihat tingkah Cakka yang
begitu kekanak-kanakan.
***
Cakka membanting
tubuhnya ke atas pembaringan dengan perasaan kesal berkecamuk dalam dirinya. Apa-apaan masa pingitan? Kuno sekali!.
Cakka meraih ponselnya kemudian mendial nomor Agni. Cakka mengetuk-ngetukan
jarinya di dagu menunggu panggilannya yang tak kunjung Agni angkat. Apa
pingitan gak boleh telponan juga? Hey! Memangnya ini zaman apa? Purba? Cakka
mendengus.
“Sayang lama
banget sih angkat telponnya? Lagi ngapain? Aku kangen banget sama kamu.” Cakka
memberondong Agni dengan pertanyaan begitu kekasihnya itu menjawab telponnya.
“Sst! Kamu kenapa sih Kka? Ribut banget. Aku lagi
enak-enak tidur juga.”
“Apa? Jam segini
kamu masih tidur? Sayang ini udah jam 8. Bangun, mandi dan kita jalan.”
“Kita lagi dipingit sayang...”
“Jadi kamu tahu
kalau kita lagi dipingit?.”
“Heem.”
“Kok gak ngasih
tahu sih ada gini-ginian? Agni... aku itu kangen...” rengek Cakka manja.
“Aku kira kamu udah di kasih tahu sama Bunda. Udah
ah aku mau liat Shilla dulu, kasian dari malem dia sakit.”
“Agni...
sayang...”
Cakka memandangi
ponselnya yang ternyata panggilan itu telah dimatikan Agni secara sepihak.
Kenapa sih mau nikah aja repot-repot ada pingitan segala? Gak tau yang lagi
kangen apa? Lagian memangnya di dongeng Cinderella ada pingitan? Perasaan
enggak! Eugh!.
“Udahlah Kka
sabar aja, cuma seminggu inikan?.”
Cakka mendelik
ke arah Gabriel yang baru saja memasuki kamarnya beserta yang lain. “Loe enak
ngomongnya, gue yang jalanin.”
“Kayak gak ada
waktu lain aja Kka. Lagian cuma seminggu aja Kka... setelah ini kalian puas
bisa ketemu setiap saat.”
“Bener Kka yang
dibilang Alvin. Harusnya lebih sabar. Daripada kita yang belum jelas, ya
mendingan loe yang udah mau jelas seminggu lagi. Ya gak Gab?.” Rio mengalihkan
pandangannya pada Gabriel. “Makan aja loe!.”
Gabriel
memamerkan deretan giginya, “Lumayan, daripada gak ada yang makankan? Lagian
masakan Bunda gak ada duanya, enak banget!.”
“Emang dasarnya
loe rakus aja.” Ucap Cakka dengan nada kesal. Sahabat sedang dilanda rindu ini
malah sempet-sempetan makan jatah makanannya. Menyebalkan!. “Eh iya Gab. Shilla
sakit loe tahu gak?.”
Gabriel
mengerutkan keningnya. “Sakit? Pantesan aja daripagi dia gak ada ngabarin gue.”
“Payah loe.
Gimana mau jadi suami siaga kalo lagi pacaran aja loe gak tau cewek loe sakit.”
“Itukan
cita-cita, udah dulu ya gue mau liat dulu Shilla. Berguna juga cewek loe temen
cewek gue.”
Cakka mendengus,
“Heh! Calon istri ya... bukan cewek gue lagi!.”
“Iya deh yang
bentar lagi kawin.” Ucap Gabriel yang kemudian berlalu dari kamar Cakka.
Cakka menghela
nafas, ia kembali teringat pada pingitan menyebalkan itu. “Kenapa sih jaman
modern gini masih ada pingitan? Ini udah masa Reformasi juga.”
“Loe ngedumel
udah kayak Ibu-ibu tahu Kka... bawel.”
Cakka melirik
tajam ke arah Alvin yang sedang berkutat dengan ponselnya. “Bodo! Entar saat
loe ngerasain gimana pingitan, gue bakalan ketawa ngakak liatnya!. Sekarang aja
loe bisa tenang.” Cakka mendengus kesal.
Begitulah hari
pingitan pertama Cakka, bertambah hari pingitanpun terasa begitu berat bagi
Cakka. Ditanbah lagi Agni yang sibuk mengurus Shilla yang sakit. Kunci mobil
disita, seluruh karyawan pengurus rumahnya juga sudah di bayar orangtuanya
untuk tidak membuarkan Cakka keluar dengan ancaman jika Cakka lolos semuanya
dipecat. Mau tidak mau itu yang membuatnya berada di rumah terus menerus. Mana
tega ia membiarkan hampir 20 orang menjadi pengangguran?.
***
Akhirnya hari
itupun tiba. Namun Agni tidak didatangkan ditempat itu karena Agni yang meminta
agar mereka bertemu di tempat resepsi saja, alhasil membuat Cakka semakin
uring-uringan dan membuat beberapa orang disana semakin tertawa geli
melihatnya.
“Sabar Kka...
yang penting sah dulu.” Itulah kata magic yang dikeluarkan oleh Nirina yang
membuat Cakka tenang kembali.
Saat berada di tempat resepsi, Cakka menatap
takjup ke arah Agni yang sedang berdiri menyambutnya dengan beberapa pengiring
bunga.
“Agni...”
Agni tersenyum,
“Kka...”
Cakka mendekat
ke arah Agni kemudian ia tarik Agni kedalam pelukannya, menghujani Agni dengan
beberapa kecupan di keningnya. “Kamu cantik sekali.”
“Kamu juga
keren, tampan.”
“Aku kangen
banget sama kamu...”
Agni terkekeh
mendengarnya, “Aku juga.” ia memeluk pinggang Cakka membuat sorak-sorai
sahabatnya yang telah datang terdengar begitu ramai.
“Akhirnya
Pangeran dan Cinderella hidup bersama dan bahagia untuk selamanya.” Bisik Cakka
tepat di telinga Agni, yang di amini oleh Agni dan disambut haru olehnya.
“Semoga bersama,
selalu bahagia...”
Akhirnya... tak
ada lagi akhir sebuah cerita yang membahagiakan selain mereka hidup bersama dan
bahagia untuk selamanya. Sebuah kisah klasik yang selalu berakhir bahagia dan
selamanya bahagia.
***
Cakka
mengerlingkan matanya jahil ke arah Agni yang sedang mengeringkan rambutnya. “Mau
coba sekarang sayang membuat Cakka junior dan Agni junior?.”
Agni mendengus,
ia melemparkan handuknya ke arah Cakka. “Diam dan cepatlah mandi!.”
Cakka terkekeh
melihat wajah Agni yang merona. “Asik udah gak sabar nie udah nyuruh mandi
aja.”
Agni mendelik ke
arah Cakka. “Cakkaaaaaa..... cepet mandi atau...”
“Iya sayang
iya... tapi jatah ya?.” Cakka mengedip-ngedipkan matanya pada Agni menggoda.
“Cakkaaaaaaa....”
***
THE END
Ditulis, Ciamis 23 Ferbuari 2014
No comments:
Post a Comment