Sunday, 23 February 2014

Prince’s Tale Series 1 : She is My Cinderella

#11

4 Bulan Lalu.

“Thanks buat semuanya, gue pergi.”

Ray keluar dari kamar Agni dengan wajah yang muram, selesai sudah penantiannya pada Agni. Akhirnya Agni akan segera mendapatkan pasangan dan ia hanya akan menjaddi seorang pecundang.

Ray melajukan mobil merahnya ke arah sebuah hotel yang ia ketahui memiliki tempat hiburan malam yang ternyata buka 24 jam. Suasana ramai begitu memasuki ruangan itu begitu kentara, ternyata meskipun pada siang hari ternyata banyak juga pengunjung datang ketempat itu. Ray duduk di bar tepat disamping seorang gadis yang menggunakan gaun merah menyala. Entah kenapa ia sangat tertarik dengan gadis itu, atau hanya karena gadis itu mengenakan pakaian dengan warna kesukaannya? Ray tersenyum kecil sambil menggeleng.

“Patah hati?.”

Ray melirik ke arah gadis itu yang menyapanya dengan cara yang aneh. Ray tersenyum kecil. “Kamu juga kan?.”


Gadis itu terkekeh. “Enggak lah, aku malah seneng putus. Ya tapi problemnya malah makin panjang.”
“Kenapa?.”
“Kakakku obsesi banget ngejodohin aku sama dia.” Gadis itu melirik. “Minum?.”
Ray tersenyum kemudian ia mengacungkan gelas miliknya. Gadis itu tersenyum kemudian menumbukkan gelasnya pada gelas Ray. Ray hanya terkekeh melihatnya. “Udah biasa ya kesini?.”
“Baru pertama kali. Kamu?.”
“Sama.”

Ray dan gadis itu menghabiskan minumannya dalam diam, kesadaran Ray mulai menipis begitu juga dengan gadis itu. gadis itu melingkarkan tangannya pada leher Ray.
“Check in yuk!.”

***

Agni melambaikan tangannya pada Harry yang berpamitan untuk pulang, setelah itu ia kembali ke dalam apartemen.

“Agni.”

Agni berbalik ke arah ruang tamu, mendapati Cakka yang sedari tadi diam disana entah karena apa. “Ya.”
“Aku mau bicara.”
Agni mengangguk kemudian duduk di samping Cakka. Ia menghadap Cakka yang terlihat begitu putus asa. “Apa?.”

Cakka menghela nafas, “Mungkin ini terlambat. Sebelumnya aku minta maaf, tadi malam aku mendengar percakapan kamu dengan Harry di dapur.”
Agni menatap tajam ke arah Cakka, ia terlihat menegang, apa Cakka denger semuanya?
“Aku denger semuanya Ni, harusnya aku yang bilang seperti itu, aku akan bahagia sama kamu, dengan atau tanpa anak. Mungkin ini terlamat. Tapi, aku juga akan mencintai kamu apa adanya kamu Ni, aku sayang kamu. aku gak peduli apapun lagi. Yang ngejalanin hidup itu kita bukan orang lain. kalaupun orang tua kita maksa cucu kita masih bisa cari jalan lain. aku juga udah niat buat enggak tinggal di Jakarta lagi, aku mau hidup kita cuma ada kita bukan orang lain lagi. Jadi, Agni... aku mohon, pulanglah... dan kita menikah. Aku mohon.”
Air mata Agni keluar begitu saja, “Kka...” Agni memeluk Cakka dengan cepat. “Aku mau... dan kamu salah faham.”
“Maksud kamu?.”

Agni mencengkeram pinggiran kichenset, tubuhnya bergetar hebat. Apa ia benar-benar sanggup melepas Cakka?. Seseorang menepuk pundak Agni kemudian ia berbalik.
“Harry.”
“Kenapa?.”
“Aku gak bisa jauh dari Cakka.”
Harry mengelus puncak kepala Agni, kemudian mengelus pipi Agni dengan penuh kasih sayang. “Kalau begitu jangan.”
“Tapi, dengan kondisi aku? aku salah, seharusnya aku katakan itu dari dulu. Aku bodoh! mengenai diriku saja aku lupa.”
“Stt...” Harry menyeka air mata Agni.
“Apa mau kamu sama aku dengan kondisi aku kayak gini?.” Agni menatap Harry dengan air mata yang tak pernah pudar. “Gimana Harry? Apa kamu mau nerima aku yang punya kekurangan yang sangat fatal? Gimana?.”
“Agni dengar!. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, kamu pikir dengan kamu tidak bisa melahirkan keturunan aku akan meninggalkan kamu begitu saja? Tidak!. aku akan tetap bersama kamu, dengan atau tanpa anak sekalipun. Karena kebahagiaan aku itu kamu, bukan dari anak atau hal apapun. Anak masih bisa adopsi, masih banyak cara lain.”
Agni memeluk Harry, andai saja itu jawaban itu dari Cakka. “Terimakasih Harry, kamu terbaik.”
“Iya... dan seharusnya Cakka akan mengatakan itu padamu. Aku senang kalau dia berkata seperti itu. aku akan bahagia karena pada akhirnya adikku yang cantik ini akan bahagia.”
Agni tersenyum, “Makasih ya... kamu udah pengertian sama aku.”
“Dengan jadi Kakak yang baik buat kamu aja aku udah bahagia.” Harry tersenyum lembut pada Agni. Agni memeluknya lagi semakin erat. Ia senang, karena pada akhirnya Harry merelakannya, mengerti apa maunya.

“Gapapa, karena gara-gara itu aku jadi sadar. Kalau kamu bukan untuk di tinggalkan.” Cakka meraih Agni kembali dalam pelukannya, ia mengecup puncak kepala Agni lama. Akhirnya, kebahagiaan kembali. Terimakasih Tuhan.

***

Cakka dan Agni berjalan memasuki bandara untuk pulang. Setelah beberapa hari sebelumnya mereka habiskan untuk berjalan-jalan dan foto prawedding. Cakka menjabat tangan Harry yang mengantarnya hingga bandara.

“Terimakasih, sudah menjaga Agni selama aku tidak ada.”
“Gak masalah. Jaga Agni baik-baik. Jangan sakiti dia.”
Cakka melirik ke arah Agni kemudian tersenyum. “Pasti.”

Agni menghampiri Harry kemudian memeluknya, “Jangan lupa dateng ya... aku sayang kamu.”
“Iya, Aku juga sayang kamu.”

***

Cakka melirik ke arah Agni yang sedari tadi melihat hamparan awan dari ketinggian ini. Cakka menghela nafas, “Kamu nyesel?.”
Agni berbalik kemudian tersenyum, “Enggak!.”
“Lalu?.”
Agni menarik nafas, “Aku berharap, Harry bisa mendapatkan yang terbaik. Dia baik sekali Kka.”
Cakka menarik Agni untuk mendekat, kemudian ia memeluknya. “Pasti.” Cakka mengecup puncak kepala Agni sejenak.
“Ni, sejak kapan kamu tau tentang kondisi rahim kamu?.”
“Beberapa tahun lalu saat aku rajin cek kesehatan. aku benar-benar lupa memberi tahumu tentang ini. maaf.”
“Stt... sudahlah. Itu sudah terjadi. Kita hadapi saja semua yang udah kita mulai.”
Agni mengangguk dalam pelukan Cakka, ia memejamkan matanya sejenak. Semoga kebahagiaan sebenarnya yang menghinggapiku, bukan hanya mimpi yang akan berhenti saat aku terbangun.

***

Pervita dan suami mendatangi kediaman calon besannya, mereka masing-masing membawa kantung besar berisi buah tangan yang sengaja mereka berikan untuk keluarga Mahesa.

“Vita, Dika, kalian datang? Kami merindukanmu.” Nirina memeluk mereka secara bergiliran, begitupun suaminya.
“Ini, untuk kalian?.”
Nirina menatap takjup ke arah bawaan dari calon besannya. “Wah... repot-repot ya... terimakasih.”

Pervita tersenyum, “Oiya, anak-anak dimana? Aku gak liat Agni di rumah. Apa dia disini?.”
Nirina menatap suaminya, Mahesa menghela nafas. “Beberapa hari yang lalu ada sedikit masalah dan keduanya sekarang dalam perjalanan pulang dari London. Katanya sekalian foto prawedding.”
Orangtua Agni mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

“Mom. Dad. Kalian pulang?.” Agni berseru begitu kencang begitu melihat orangtuanya. Ia segera berlari dan memeluk orangtuanya satu persatu. “Miss you Mom... miss you Dad.”
“Hai Kka. Anak Mom ngerepotin?.” Pervita menatap ke arah Cakka yang sedang tersenyum melihat tingkah Agni.
“Enggak Mom. Maaf Mom Cakka istirahat dulu ya... masih sedikit pusing.” Setelah menyalami orangtua Agni dan orangtuanya Cakka berlalu.
Agni merengut karena terabaikan Cakka. “Tega banget ihh.”
Cakka terkekeh kemudian berbalik, “Sayang kita masih belum sah, jadi aku gak mungkinkan ajak kamu istirahat bareng?.”
Agni merona, ia menundukan wajahnya malu. Cakka terkekeh melihatnya.
“Cakka emang gitu sayang, dia harus langsung istirahat. Kalau enggak, dia bisa uring-uringan seminggu.” Ujar Nirina sambil terkekeh.
Agni mengangguk. “Tadinya aku mau nginep disini. Karena Mom sama Dad udah pulang. Lebih baik Agni juga pulang. Yuk Mom... Dad...”
“Agni... kita baru sampai.” Bisik Pervita.
“Ahh Mom. Kan bisa besok lagi.”

Nirina terkekeh melihat tingkah calon menantunya, andai saja anak perempuannya ada, pasti akan semanis Agni, lucu dan menggemaskan. “Gapapa Vit, kasian Agni juga. Kan masih bisa besok. Sekalian kita rampungin buat acara resepsi.”
“Oh. Ok!. Yasudah kami pamit ya...”
“Iya, hati-hati.”

Keluarga Mahardika pun beranjak dari kediaman Keluarga Mahesa. Nirina menghela nafas, hampir saja semuanya hancur. Semoga Tuhan melindungi semuanya. Amin...

***

Cakka dan Agni bergandengan menyusuri jalan setapak yang berada di sebuah taman yang berhadapan langsung dengan sebuah danau. Sapuan angin menerpa wajah mereka yang tak hentinya saling menatap dan tersenyum penuh kebahagiaan.
“Bunda sama Mom semangat banget ya?.”
Agni terkekeh, “Iya, lagian ada-ada aja deh resepsinya mau outdoor. Padahal kita udah booking gedung.”
“Itu biar buat Ray aja. Sebagai hadiah dari kita.”
Agni tersenyum kemudian mengangguk.

“Mama... Mama...”

Cakka dan Agni kompak menengok ke arah belakang, saat mendengar terikan yang di campur isak tangis dari seorang anak kecil. dengan cepat Agni menghampirinya.

“Stt... kenapa sayang?.” Agni berjongkok sambil memeluk anak itu.
“Tian di tinggal Mama ate... Mama Tian ilang...”

Cakka berjalan mendekati Agni kemudian mengangkat anak itu yang memanggil dirinya Tian. “Yuk kita cari, sambil kita main...”
Tian mengangguk ragu. Cakka terkekeh kemudian mengacak-acak rambut anak itu dengan gemas. “Tapi jangan sedih ya...”
“Iya Oom...”
Cakka mencubit hidung Tian, “Pinter.”

Sementara Cakka terus bermain dengan anak itu, Agni hanya bisa melihatnya dengan tatapan penuh haru dan senyuman yang terukir begitu saja. Semoga Tuhan memberi kepercayaan padaku agar aku bisa memiliki seorang putera yang tampan yang kuat dan penuh kasih sayang atau seorang puteri yang lembut yang benar-benar lembut, agar bisa membahagiakan kami.

“Ni... ayo...”
Agni mengangguk kemudian beranjak mensejajarkan dirinya bersama Cakka yang tak henti-hentinya berbicara dengan anak itu.
“Oom ganteng, mirip kayak Tian. Tian juga ganteng.”
“Iya kamu ganteng banget. Oom kalah ganteng ah sama kamu.”
“Coba Papa-nya Tian ada, pasti seganteng Oom...”
Cakka mengerutkan keningnya. “Emangnya Papa tian gak ada?.”
“Kata Mama, Papa lagi sibuk. Nyari uang buat biaya Tian nanti kalo udah gede.” Tak ada wajah sedih darinya., yang ada raut polos anak-anak pada umumnya yang tak tahu dan tak mengerti apa-apa.
“Oom balon.” Tian bersorak riang saat melihat seorang pedagang balon yang membawa beberapa buah balon warna-warni. Cakka mengerjap, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tujuan tatapan Tian, begitupun Agni.

Agni mengelus kepala anak itu, “Kamu mau?.”
Tian tiba-tiba murung, “Tian gak punya uang...”
“Nanti Tante beliin. Mau?.”
“Beneran Ate?.” Tian bertanya antusias.
“Iya dong. Yuk...” Agni membawa Tian dari gendongan Cakka, ia membawa Tian menghampiri pedagang balon tersebut kemudian membeli 5 balon dengan warna yang berbeda.
Setelah membeli balon itu kemudian mereka beristirahat di sebuah bangku tepat dibawah pohon yang begitu rindang.
“Tian seneng?.”
Tian tersenyum, memamerkan deretan gigi susu-nya. “Seneng dong Ate... makasih...” Tian memeluk Agni dengan erat.

“Tian!.”

Cakka dan Agni beralih kesumber suara, dan terlihat seorang wanita yang begitu panik mencari anak itu.

“Mama...” Tian berlari ke arah wanita itu yang menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.

“Kamu... Aren?.” Cakka berjalan mendekati wanita itu dengan pandangan penuh tanya, begitupun dengan Agni yang heran melihat tingkah Cakka. Ada apa lagi ini? “Jadi Tian... anak kamu? kapan kamu nikah?.”
“Arkka?.” Wanita bernama Aren itu terlihat bingung, kemudian berlalu begitu saja. Ia berjalan sangat cepat menghindari Cakka yang terus mengejarnya. Aren terlihat tidak mempedulikan Cakka dan Tian yang merengek ingin turun dan kembali pada Cakka.

“Kka... udah!. Biarin aja!.”
Cakka menghela nafas, kemudian berbalik ke arah Agni yang terlihat kesal. “Iya.”
“Siapa dia?.”
“Aren.”
“Maksud aku kamu punya hubungan apa?.”
“Gak ada. Emangnya kenapa sih?.”
“Jujur Arkka Mahesa!.”
Cakka menatap Agni dengan gemas, kemudian ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Agni. “Dia mantan pacar Kakaknya Alvin.”
“Oh. Terus? Kenapa kamu kepo gitu?.”
Cakka menghela nafas, “Sayang kalo cemburu yang kerenan dikit napa sih? Dia cuma mantan pacar Kakak nya Alvin, dari dulu kita emang lagi cari dia yang tiba-tiba ilang.”
“Oh.”
Cakka mengerlingkan matanya menggoda Agni yang begitu acuh padanya. “Ciee yang cemburu... khm.”
Agni menatap tajam ke arah Cakka, “Ih siapa coba yang cemburu?.”
Cakka mencolek hidung Agni, “Bener nih?.”
“Cakkaaaaa...” Agni mencubit pinggang Cakka begitu keras.
“Ampun sayang. Ampun...” Cakka berlari menghindari Agni.
“Berhenti kau Cakka! Dasar nyebeliiinnn...”

***

Cakka menuruni tangga dengan tergesa, hari ini ia berencana untuk pergi lagi dengan Agni, setelah memutuskan cuti 2 minggu sebelum menikah, Cakka memang ingin hari mereka sebelum menikah tak kalah indahnya seperti setelah menikah nanti. Cakka tersenyum tipis membayangkan rencananya hari ini.

“Mau kemana kamu Kka?.”
Cakka tersenyum pada Nirina yang tengah menyiapkan sarapan untuk semuanya. “Mau jalan Bunda, sama Agni.”
“No! Gak boleh!.”
Cakka mengerutkan keningnya, “Kenapa Bunda?.”
“Kalian dipingit. Gak boleh ketemu!.”
“Bunda...” Cakka mendesah kesal, “Cakka kagen Agni Bunda... Bunda ngerti gak sih?.” Cakka menggembungkan pipinya kesal.
Nirina terkekeh kemudian mengecup pipi Cakka dengan gemas, “Kamu ini, kayak anak kecil aja. Kemaren seminggu gak puas hm?.”
“Bunda... hari ini yaa... please. Sekali lagi.” Cakka menatap Nirina dengan wajah memelasnya.
“No!. Kamu tidak boleh keluar dari rumah.”
“Bahkan buat ketemu sama temen-temen?.”

“Cakka mas bro yang bentar lagi mau kawin.” Sahut Gabriel yang baru saja memasuki rumah Cakka.

“Tuh Bunda udah kasih tau temen-temen kamu buat selama seminggu ini mereka yang main kesini.” Nirina mengacuhkan Cakka yang mendengus kesal. Padahal rencananya ia mau bertemu Agni walau nyolong-nyolong waktu.

“Udah... nikmatin aja kali Kka. Seminggu lagi...” ucap Alvin sambil merangkul Cakka. “Setelah ini kalian bebas mau ngapain juga. Iya gak Bun?.” Sambung Alvin sambil mencomot gorengan yang baru saja Nirina taruh.
Nirina mengacak-acak rambut Alvin, yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu. “Dengerin tuh kata Alvin Kka... sabar dikit napa?.”
“Iya deh. Sekalian aja makanannya anterin ke kamar, biar Cakka dikamar aja selama seminggu! Jamuran-jamuran deh!.” Cakka berucap dengan kesal sambil berlalu meninggalkan sahabat-sahabatnya dan Bunda yang terkekeh geli melihat tingkah Cakka yang begitu kekanak-kanakan.

***

Cakka membanting tubuhnya ke atas pembaringan dengan perasaan kesal berkecamuk dalam dirinya. Apa-apaan masa pingitan? Kuno sekali!. Cakka meraih ponselnya kemudian mendial nomor Agni. Cakka mengetuk-ngetukan jarinya di dagu menunggu panggilannya yang tak kunjung Agni angkat. Apa pingitan gak boleh telponan juga? Hey! Memangnya ini zaman apa? Purba? Cakka mendengus.
“Sayang lama banget sih angkat telponnya? Lagi ngapain? Aku kangen banget sama kamu.” Cakka memberondong Agni dengan pertanyaan begitu kekasihnya itu menjawab telponnya.
“Sst! Kamu kenapa sih Kka? Ribut banget. Aku lagi enak-enak tidur juga.”
“Apa? Jam segini kamu masih tidur? Sayang ini udah jam 8. Bangun, mandi dan kita jalan.”
“Kita lagi dipingit sayang...”
“Jadi kamu tahu kalau kita lagi dipingit?.”
“Heem.”
“Kok gak ngasih tahu sih ada gini-ginian? Agni... aku itu kangen...” rengek Cakka manja.
“Aku kira kamu udah di kasih tahu sama Bunda. Udah ah aku mau liat Shilla dulu, kasian dari malem dia sakit.”
“Agni... sayang...”
Cakka memandangi ponselnya yang ternyata panggilan itu telah dimatikan Agni secara sepihak. Kenapa sih mau nikah aja repot-repot ada pingitan segala? Gak tau yang lagi kangen apa? Lagian memangnya di dongeng Cinderella ada pingitan? Perasaan enggak! Eugh!.

“Udahlah Kka sabar aja, cuma seminggu inikan?.”
Cakka mendelik ke arah Gabriel yang baru saja memasuki kamarnya beserta yang lain. “Loe enak ngomongnya, gue yang jalanin.”
“Kayak gak ada waktu lain aja Kka. Lagian cuma seminggu aja Kka... setelah ini kalian puas bisa ketemu setiap saat.”
“Bener Kka yang dibilang Alvin. Harusnya lebih sabar. Daripada kita yang belum jelas, ya mendingan loe yang udah mau jelas seminggu lagi. Ya gak Gab?.” Rio mengalihkan pandangannya pada Gabriel. “Makan aja loe!.”
Gabriel memamerkan deretan giginya, “Lumayan, daripada gak ada yang makankan? Lagian masakan Bunda gak ada duanya, enak banget!.”
“Emang dasarnya loe rakus aja.” Ucap Cakka dengan nada kesal. Sahabat sedang dilanda rindu ini malah sempet-sempetan makan jatah makanannya. Menyebalkan!. “Eh iya Gab. Shilla sakit loe tahu gak?.”
Gabriel mengerutkan keningnya. “Sakit? Pantesan aja daripagi dia gak ada ngabarin gue.”
“Payah loe. Gimana mau jadi suami siaga kalo lagi pacaran aja loe gak tau cewek loe sakit.”
“Itukan cita-cita, udah dulu ya gue mau liat dulu Shilla. Berguna juga cewek loe temen cewek gue.”
Cakka mendengus, “Heh! Calon istri ya... bukan cewek gue lagi!.”
“Iya deh yang bentar lagi kawin.” Ucap Gabriel yang kemudian berlalu dari kamar Cakka.
Cakka menghela nafas, ia kembali teringat pada pingitan menyebalkan itu. “Kenapa sih jaman modern gini masih ada pingitan? Ini udah masa Reformasi juga.”
“Loe ngedumel udah kayak Ibu-ibu tahu Kka... bawel.”
Cakka melirik tajam ke arah Alvin yang sedang berkutat dengan ponselnya. “Bodo! Entar saat loe ngerasain gimana pingitan, gue bakalan ketawa ngakak liatnya!. Sekarang aja loe bisa tenang.” Cakka mendengus kesal.

Begitulah hari pingitan pertama Cakka, bertambah hari pingitanpun terasa begitu berat bagi Cakka. Ditanbah lagi Agni yang sibuk mengurus Shilla yang sakit. Kunci mobil disita, seluruh karyawan pengurus rumahnya juga sudah di bayar orangtuanya untuk tidak membuarkan Cakka keluar dengan ancaman jika Cakka lolos semuanya dipecat. Mau tidak mau itu yang membuatnya berada di rumah terus menerus. Mana tega ia membiarkan hampir 20 orang menjadi pengangguran?.

***

Akhirnya hari itupun tiba. Namun Agni tidak didatangkan ditempat itu karena Agni yang meminta agar mereka bertemu di tempat resepsi saja, alhasil membuat Cakka semakin uring-uringan dan membuat beberapa orang disana semakin tertawa geli melihatnya.
“Sabar Kka... yang penting sah dulu.” Itulah kata magic yang dikeluarkan oleh Nirina yang membuat Cakka tenang kembali.
 Saat berada di tempat resepsi, Cakka menatap takjup ke arah Agni yang sedang berdiri menyambutnya dengan beberapa pengiring bunga.
“Agni...”
Agni tersenyum, “Kka...”
Cakka mendekat ke arah Agni kemudian ia tarik Agni kedalam pelukannya, menghujani Agni dengan beberapa kecupan di keningnya. “Kamu cantik sekali.”
“Kamu juga keren, tampan.”
“Aku kangen banget sama kamu...”
Agni terkekeh mendengarnya, “Aku juga.” ia memeluk pinggang Cakka membuat sorak-sorai sahabatnya yang telah datang terdengar begitu ramai.
“Akhirnya Pangeran dan Cinderella hidup bersama dan bahagia untuk selamanya.” Bisik Cakka tepat di telinga Agni, yang di amini oleh Agni dan disambut haru olehnya.
“Semoga bersama, selalu bahagia...”

Akhirnya... tak ada lagi akhir sebuah cerita yang membahagiakan selain mereka hidup bersama dan bahagia untuk selamanya. Sebuah kisah klasik yang selalu berakhir bahagia dan selamanya bahagia.

***

Cakka mengerlingkan matanya jahil ke arah Agni yang sedang mengeringkan rambutnya. “Mau coba sekarang sayang membuat Cakka junior dan Agni junior?.”
Agni mendengus, ia melemparkan handuknya ke arah Cakka. “Diam dan cepatlah mandi!.”
Cakka terkekeh melihat wajah Agni yang merona. “Asik udah gak sabar nie udah nyuruh mandi aja.”
Agni mendelik ke arah Cakka. “Cakkaaaaaa..... cepet mandi atau...”
“Iya sayang iya... tapi jatah ya?.” Cakka mengedip-ngedipkan matanya pada Agni menggoda.
“Cakkaaaaaaa....”

***

THE END

Ditulis, Ciamis 23 Ferbuari 2014


No comments:

Post a Comment