#7
Agni membawa
nampan berisi makanan 8 porsi kehadapan teman-temannya. Kemudian ia duduk di
sebelah kanan Cakka dan tepat di sebelah kirinya adalah Rio. Selain para pria
dan Shilla yang lainnya belum mengetahui status hubungan Agni dan Rio, dulu.
“Gak sia-sia loe
Kka nyari Agni, ternyata enak juga masakannya.”
Agni melirik ke
arah Alvin sekilas. “Ngegombal Vin?.”
“Enggak Ni,
emang beneran enak kok. Ya gak Yo? Diem aja loe, nikmatin banget makanannya kayaknya.”
“Eh.” Rio
mengalihkan pandangannya para Alvin dan mendengus kesal. “Dari dulu kali.”
“Ugh...
sayangnya kau menyia-nyiakan gadis yang pinter masak nan cantik jelita ini
Damian Alfario.” Agni berkata dengan gaya yang begitu dramatis.
Cakka menyikut
lengan Agni kemudian berbisik. “St... gak usah di bahas lagi, kamu gak inget
ada Sivia?.”
Agni melirik ke
arah Cakka kemudian mendengus kesal, lagi senang-senang juga malah gak di
bolehin, padahalkan seru. Cakka payah!.
“Bilang aja cemburu.” Rutuk Agni.
“Selesai.”
Cakka, Agni dan
yang lainnya melirik ke arah Gabriel kemudian mencibirnya.
“Setaon gak
makan loe?”
“Bukan Vin, ini
anak emang kelaparan kali.”
“Shilla kok
malah ngeledekin sih? Bukannya belain. Aku kan cuma menikmati aja makanan yang
ada.”
Cakka dan Agni
saling melirik lalu menggelengkan kepalanya kompak. Agni menghela nafas,
“Yaudah kalo udah beresin masing-masing gih, gue kan udah sukarela masakin ya
giliran kalian lah yang beresin.” Agni meraih piring milik Cakka. “Sini Kka,
biar sama aku.”
“Gak usah, aku
aja. Kamu mendingan buatin minuman.”
“Gak... jangan,
biar aku aja sekalian bikin minuman.”
“Gak usah sayang
kasian kamunya.”
“Cakka...
jangan... biar kamu aja yang beresin.”
“Iya kamu aja
yang beresin.”
“Kamu Cakka...”
Shilla menutup kuping
kemudian berdiri menengahi mereka, “HEH GILA ya loe pada, tadi biar gue biar
gue, sekarang loe aja loe aja. Terus siapa yang mau beresin?.”
“YA ELO LAH.”
Setelah mengatakan itu Cakka dan Agni beranjak pergi menuju arah yang berbeda.
Shilla mengerjapkan
matanya, “Kok jadi gue?.”
***
Mereka semua
duduk di ruang tamu kecuali Ify dan Sivia. Agni sedari tadi hanya duduk dengan
melipat kedua tangannya di dada, begitupun dengan Shilla. Mereka berdua tidak
bisa mengobrol karena terpisahkan beberapa orang. Alhasil mereka hanya bisa
menjadi kambing congek saja mendengarkan para pria berbicara.
“Eh Yo, darimana
loe kenal Sivia? Dan sejak kapan? Kok gak cerita-cerita sih?.”
“Itu... kenapa
emang Vin?.”
“Ya gak biasa
aja loe nyembunyiin ini.”
Cakka menghela
nafas kemudian menepuk pundak Rio. “Yaudahlah kalo loe belum siap cerita.”
Ify dan Sivia
kembali dari arah dapur kemudian menyimpan beberapa minuman ke atas meja,
kemudian keduanya duduk pada bagian yang kosong.
“Silahkan
dinikmati.”
“Thanks.” Agni mengambil
menuman itu, bukannya diminum ia malah menimang-nimang gelas itu. “Bete banget,
bosen.”
“Iya, bener apa
kata Agni.” Gabriel nampak berpikir, kemudian menyeringai ketika mendapatkan
sebuah ide. “Gimana kita maen Truth or
Dare?”
Agni menaikan
bahunya, acuh. “Boleh aja.”
“Yang lainnya?.”
Cakka melirik
Agni terlebih dahulu. “Boleh, siapa takut.”
“Oke, kita
mainnya pake...” Gabriel mengelilingkan tandangannya keseluruh penjuru ruangan,
tak lama kemudian ia melihat sebuah botol lalu mengambilnya “Ini, nah yang kalah harus milih truth or dare, kalo milih truth semuanya boleh nanya kecuali
pasangan masing-masing kalo dare kita kasih 4 tantangan yang ini pasangannya
boleh ngasih tantangan. Gimana?.”
“Ide bagus. Yuk
mulai.” Alvin yang paling pertama menurun-nurunkan minuman kebawah meja.
“Kalo yang
ketunjuk sama yang bagian depan itu yang kena.” Gabriel mulai memutarkan,
sasaran pertama... Agni.
Semuanya
tersenyum lega. Gabriel tersenyum jahil. “Truth or Dare?”
“Truth.”
“Kok truth sih
sayang?.”
Agni melirik Cakka acuh, “Gapapa, kalo truth
kan gak perlu ribet, kalo dare kan pasti tantangan ini itu yang ribet.”
“Oke, dari gue.”
Ucap Gabriel, ia kemudian nampak berpikir. “Kenapa loe mau aja jadian sama
Cakka?”
“Dijodohin.”
Cakka menyandarkan
punggungnya kesandaran kursi. Agni pasti jujur sejujurnya, dan apa boleh buat?
Shilla menghela
nafas, ini gilirannya. Tapi nanya apa? Orang ia tahu semua tentang Agni.
“Gimana perasaan loe saat ketemu dua mantan loe di dua hari berturut-turut?.”
Agni tersenyum
masam. “Kaget.” Ia melirik Cakka yang menatapnya dengan kening yang mengerut.
“Tapi gue akuin gak ada yang spesial.”
Ify yang tidak
tahu apapun hanya menyambung pertanyaan. “Ada berapa mantan kamu?.”
“Cukup 2.”
Alvin
mengerutkan keningnya. Ia melirik ke arah Cakka sekilas yang seperti tak ingin
mendengarkan tapi Alvin tahu, Cakka sangat ingin mengetahui ini. “2? Kenapa loe putus sama artis itu? bukannya
bagus loe bisa numpang tenar juga?.”
“Karena semuanya
beda. Beda budaya, beda adat istiadat.”
“Kok gitu?
Bukannya itu emang resiko dari awal?.” Alvin melanjutkan pertanyaannya.
“Pertanyaannya
cukup satu Alvin.”
Alvin berdecak,
padahal ia ingin sekali mengorek informasi itu. bukannya ia terlalu kepo tapi
ini juga supaya Cakka tau dan hubungan mereka –Cakka dan Agni- bertambah baik.
Sivia terlihat
gelisah, ia sangat ingin menanyakan ini. “Dari gue... hm... apa penyebab loe
putus yang pertama?.”
Agni melirik
tajam ke arah Rio kemudian tersenyum sinis, “Diselingkuhin.”
Sivia
membulatkan mulutnya sambil melirik ke arah Rio yang terlihat bingung.
Rio
menghembuskan nafas berat. “Apa kamu bisa maafin orang yang selingkuhin kamu
itu?.”
“Bisa, lagian
udah lagi. Gak ada gunanya juga benci sama orang lama-lama, lagian gue juga
udah punya Cakka yang sayang sama gue.” Ia melirik Cakka yang menatap lurus
dengan pandangan kosong. Seperti ada yang di pikirkan.
Agni sejenak
terdiam, kemudian menggoyangkan lengan Cakka. “Kka?.”
“Ni, apa kamu
masih sayang sama mantan terakhir kamu?.”
Agni mengalihkan
pandangannya dari Cakka kemudian menghela nafas. “Dalam aturan pasangan tidak
boleh bertanya.”
Cakka menatap
Agni yang kini duduk agak membelakanginya, tidak lagi duduk dengan sewajarnya.
Agni ini kenapa? Apa ia masih mencintai artis itu? kenapa harus seperti itu?
padahal kalau iya tinggal jawab begitupun dengan tidak. Apa susahnya coba? Maaf Agni... mungkin aku dari awal emang
salah, udah maksa kamu jadi pasangan aku, istri aku. Cakka menghela nafas
lelah kemudian kembali pada permainan yang kali ini mengarah pada Gabriel.
***
Sampai
teman-temannya telah mendapatkan masing-masing dua kali tunjukan dari botol
itu, Agni belum mendapatkan itu kedua kalinya dan Cakka yang belum mendapatkan
kesempatan itu sama sekali. Cukup membuat teman-temannya sangat jengkel.
“Ah pokok nya
gue gak mau tahu, sekarang loe harus milih antara truth atau dare Kka.”
Cakka menaikan
satu alisnya mendengar ucapan Gabriel. Memangnya ada peraturan seperti itu?
“Maunya kalian apa? Terserah.”
“Truth aja!
Pokoknya harus truth!.”
Gabriel melirik
ke arah Shilla jengkel. “Seneng banget. Naksir pacar sahabat sendiri?.”
Shilla hanya memutar
bola matanya tak peduli, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Cakka. “Loe
semalem ngapain aja sama Agni?.”
Agni mengerutkan
keningnya, kemudian ia menarik diri dari sandaran kursi. “Kok loe nanya itu
sih? Gak penting banget.”
“Diam Agni! Gue
cuma mau mastiin aja.”
Agni menatap
Shilla geram. “Mastiin Ap..?”
“Anggita
Mahardika diam!.”
Agni mendengus
kemudian kembali menyandarkan tubuhnya. “Oke fine!.”
Cakka tersenyum,
sementara sebelah tangannya menarik pinggang Agni agar mendekat ke arahnya. Ia menatap
Agni dalam, “Apapun yang kita lakukan, yang jelas Agni masih perawan.” Ia
mengecup puncak hidung Agni.
Shilla melirik
Sivia dan Ify keduanya mengangguk ke arah Shilla. “Pertanyaan Sivia sama Ify
gue yang wakilin.”
Cakka menaikan
bahunya, acuh. “Gak masalah.”
Shilla tersenyum
sinis, ia harus memastikan pria dihadapannya itu tidak berbahaya bagi Agni, ia
tak ingin melihat Agni terluka lagi.
“Berapa ratus
mantan loe? Dan...” Shilla menghela nafas. “Berapa kali loe tidur sama cewek?.”
Cakka terkekeh
begitupun dengan teman-temannya yang lain, meskipun yang lain hanya tersenyum
saja. “Mantan gue? Mmm.... berapa ya Vin? Gak pernah jelas.”
Ify menatap
Cakka takjup. “Wow... saking banyaknya ya itu mantan?.”
Alvin tersenyum kecil menanggapinya “Bukan Fy,
tapi karena gak ada satupun yang dia suka, jadi dia bingung pernah pacaran atau
enggak dan anggap mereka mantan atau bukan.”
Agni tersenyum
kecil, apakah ia harus percaya mengenai itu? ia melirik Cakka. Kekasinya itu
memang tampan, bahkan tampan sekali, tubuhnya benar-benar sempurna dimatanya,
apalagi jika mengingat kekayaan keluarganya. Oke. Agni menyimpulkan seperti ini
karena ia memang mungkin hanya mengurus perusahaan orang tuanya saja.
Agni melirik
Cakka yang tiba-tiba mengecup pipinya. “Gue cuma pernah tidur sama 2 wanita, 2
wanita yang gue sayang.”
DEG! Agni
membalas tatapan Cakka yang memang sedari tadi menatapnya. Kenapa Cakka tega
sekali mengakui ini didepannya? Tepat di belakang telinganya? Apa Cakka tidak
pernah memikirkan perasaannya?
“Mereka itu
Bunda sama Agni. Gak ada yang lain.”
Agni menarik
sedikit ujung bibirnya, kemudian sebuah sapuan halus mendarat di bibirnya itu,
cukup lama.
Rio memutar bola
mata sambil mengalihkan pandangannya “Ini Indonesia Cakka.”
Cakka terkekeh.
“Yeah, I know Rio.” ia beralih pada Agni kemudian kembali mendekat. “Kita harus
bicara.”
Agni tersenyum
menanggapinya.
Cakka berdiri,
“Sepertinya kita butuh tempat yang lebih privasi, iya kan sayang?.” Ia
mengulurkan tangannya pada Agni.
Agni menerima
uluran tangan itu kemudian berdiri. “Yeah... bye guys kita duluan.”
Keduanya
beranjak dari apartemen milik Rio itu, mereka memang membutuhkan waktu berdua,
menyelesaikan semuanya.
“Udah dateng
belakangan, pulang duluan lagi. Dasar!.”
Cakka dan Agni
saling berpandangan kemudian saling melempar senyum tipis mereka, tanpa
mengindahkan teman-temannya merekapun benar-benar berlalu.
***
Cakka membawa
Agni kerumahnya, Agni mengekor di belakang Cakka yang berjalan dengan langkah
lebarnya.
“Bunda...” Cakka
menengok ke arah halaman belakang. “Bunda kemana sih?. Bi...”
“Iya Den.”
“Bunda kemana?.”
“Nyonya dan Tuan
seperti biasa Den, jalan-jalan.”
Orang tua Cakka
memang selalu meluangkan waktu untuk bersama jika di hari libur atau weekend
seperti ini. rutinitas yang akan Cakka kembangkan saat ia telah bersama dengan
Agni. Karena bagaimanapun keluarga lebih penting daripada apapun.
Cakka mengangguk
kemudian menginstruksikan untuk kembali pada Pengurus rumahnya itu. lalu ia
menghampiri Agni yang berdiri bersandar di bahu tangga.
“Kita keatas
aja, Bunda juga gak ada.”
Tanpa basa-basi
Agni menuruti apa keinginan kekasihnya itu, kemudian ia memasuki kamar Cakka
yang entah sejak kapan jadi tempat favorite-nya jika berada di rumah itu. ia
mendudukan diri dilantai tepat di ambang pintu yang menuju balkon kamar itu.
“Kita mau
ngomongin apa?” Agni berujar begitu merasakan kehadiran Cakka di dekatnya.
Cakka menghela
nafas kemudian duduk di sofa tepat di belakang Agni. “Kita.”
Agni berbalik
dengan kening mengkerut. “Kita? Emangnya kita kenapa?.” Mereka tidak pernah ada
masalah lagi, kecuali yang kemarin, apa Cakka akan membahas mengenai itu?.
“Aku mau kita
saling jujur.”
Agni tersenyum
masam, sepertinya ada yang tidak mempercayainya. “Gak masalah.”
Cakka turun dari
kursi kemudian duduk dihadapan Agni, ia meraih tangan Agni kemudian
menggenggamnya erat. “Aku gak mau kehilangan kamu. kalo kamu anggap ini rasa
ketidak percayaannya aku sama kamu itu salah. Aku cuma mau mastiin hati kamu
sekarang kosong, kalo pun kamu masih sayang sama orang lain aku mau kamu jujur.
Aku bakalan terbuka sama kamu apapun yang kamu mau tahu, sebagaimana janji aku
dulu...”
Agni menghela
nafas, kenapa Cakka selalu bisa membaca pikirannya? Tak pernah ada yang bisa
seperti Cakka selama ini. hanya Cakka dan cuma Cakka. “Aku emang selalu
menjalin hubungan dengan serius, dalam arti aku bukan tipe cewek yang lirik
lagi kesana-kemari kalo udah punya hubungan. Karena itulah aku selalu
belebihan, aku selalu menyayangi pasanganku dengan berlebihan, tanpa tahu
pasangan aku juga gitu apa enggak. Bagaimanapun juga dulu aku pernah punya
pacar, pernah punya yang berarti dalam hidup aku, aku menyayangi mereka, aku
emang mencintai mereka, tapi itu dulu. Setelah semua rasa sakit hati yang aku
dapet, aku gak bakalan pernah mau balikan lagi sama orang itu. aku juga tipe
cewek yang susah move on. Dari Rio aja aku perlu 4 tahun buat bener-bener lupain
dia, lupain semua rasa sakit hati aku. kalo Harry, aku putus sama dia setahun
yang lalu, tepat di ulang tahun ke 24.” Agni melirik Cakka yang mengeratkan
genggamannya, entah karena apa.
Cakka tersenyum
ke arah Agni. “Lanjutin aja.”
Agni mengangguk.
“Dari sana aku udah bertekad gak pacaran lagi, sampai...” ia terkekeh kecil.
“Mom takut aku gak nikah-nikah, jadilah dari saat itu Mom mulai jodoh-jodohin
aku. Tapi dasar aku yang bandel, setiap aku harus ketemuan sama cowok yang
dipilihin Mom, aku selalu bawa Ray, atau ngelakuin apa aja yang buat cowok itu
ilfeel.”
“Termasuk waktu
kamu pelukan sama dia di bandara?.”
Agni tersenyum,
“Enggak. Itu murni... soalnya Ray emang mau pergi, salah satunya gara-gara aku
nolak dia.” Agni menghela nafas. “Intinya aku udah mati rasa sama cowok. Aku
gak sayang sama Rio, Harry atau siapapun.”
Cakka menunduk.
“Termasuk aku?.”
Agni mengalihkan
pandangan ke arah lain. “Aku gak tau.”
Cakka melepaskan
tangan Agni dengan lembut, ia berjalan ke arah ranjangnya kemudian merebahkan
diri. Apa yang harus aku lakuin sama kamu Ni? Kalau kamu seperti itu, aku gak
mungkin bisa tembus hati kamu. Cakka mengerut pelipisnya.
“Kka...” Agni
ikut merebahkan diri di samping Cakka, meletakkan tangan kanannya di atas dada
bidang Cakka. “Tapi, cuma kamu yang buat aku bisa senyaman ini.”
Cakka menghela
nafas, kenapa ia tidak merasa bahagia Agni mengatakan ini? bukan hanya ini yang
ia inginkan, ia menginginkan lebih. Lebih dari sekedar nyaman.
“Aku bukan pria
baik-baik.” Ia memiringkan tubuhnya menghadap Agni. “Jujur... kalo liat bagian
atas wanita aku pernah, aku... kamu juga pasti tau apa yang seorang pria normal
lakukan, iya kan?. Tapi, aku bener-bener gak pernah lebih dari itu.”
Agni memejamkan
matanya sejenak, kemudian dihadiahi sebuah kecupan oleh Cakka.
“Aku gak mau
egois, aku juga mau istri aku perawan dan aku juga masih harus perjaka. Iya
kan?.” Cakka mencubit hidung Agni dengan gemas.
Agni terkekeh
lepas. “Dasar! Tetep aja kamu pernah hampir ngelakuin itu.”
Cakka mengerlingkan
matanya menggoda, “Kamu mau coba?.” Cakka mendorong Agni hingga kekasihnya itu
berada dalam kekuasaannya. Cakka mengecup leher bagian dalam Agni.
“Kka...” Agni
mendorong dada Cakka untuk menjauh dari tubuhnya.
Cakka tersenyum
kemudian menjauh dari Agni. Ia hanya memiringkan wajahnya, menatap wajah kaget
Agni. “Aku gak bakalan ngelakuin itu sama kamu, aku mau semuanya terasa spesial
saat kita udah sah.”
Agni tersenyum,
tidak salah ia memilih Cakka. Meskipun dulu Cakka jauh dari kata baik tapi itu
masalalu, gak akan pernah bisa di rubah. Yang penting Cakka berubah menjadi
lebih baik untuknya.
***
Nirina beserta
suaminya berjalan berdampingan memasuki kediamannya.
“Cakka tumben
ada di rumah ya Yah? Padahalkan libur.”
“Tapi kok tumben
gak keliatan? Biasanya lagi asik berenang.”
“Gak tau.”
Nirina menaiki tangga rumahnya. Ia rindu sekali dengan pangerannya, kemarin
seharian puteranya itu tidak pulang, karena lebih memilih diam di apartemennya.
“Kka...”
Nirina
menghembuskan nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dasar anak jaman sekarang. Ia berjalan mendekati puteranya dan
calon menantunya yang tidur sambil berpelukan.
“Cakka.” Ia
menggoyangkan tubuh Cakka lembut, agar tidak mengganggu Agni yang nampak
tertidur begitu lelap.
Cakka mengerang
malas “Eh... Bunda.” Ia menurunkan tangan Agni yang memeluk pinggangnya.
Kemudian mendudukan dirinya.
“Bunda mau
bicara. Kamu gak perlu bangunin Agni.” Setelah mengatakan itu Nirina berlalu
dari kamar Cakka.
Cakka melirik
Agni yang masih terlelap, ia mengecup kening Agni. “Aku tinggal sebentar
sayang. Tidur yang nyenyak.” Kemudian Cakka berlalu.
Orangtua Cakka
menunggu Cakka di ruang keluarga. Mereka berdua tengah berselisih faham
mengenai putera satu-satunya mereka itu. terlihat dari Nirina yang terus
berbicara dan suaminya hanya diam saja, karena memang tak pernah banyak bicara.
“Aku cuma gak
mau kejadian yang enggak-enggak Yah. Mereka udah berani tidur bareng.”
“Aku gak tau,
kita gak bisa maksain mereka nikah cepet. Tapi aku juga memang khawatir.”
“Ada apa Yah,
Bun? Kok ngomongin nikah-nikahan?.” Cakka duduk di hadapan orangtuanya dengan
santai.
“Kamu Cakka.
Bunda gak mau ya nama baik kita tercoreng kalo kalian MBA.” Nirina berkata
dengan menggebu-gebu.
Cakka terkekeh.
“MBA? Gak bakalan Bunda... Bunda gak percaya sama Cakka?.”
“Bukan gitu
Kka... tapi gimanapun juga kalian belum sah, kalian gak bisa tidur bareng kayak
tadi.”
“Bunda... Cakka
gak ngelakuin apapun.”
“Bunda gak mau
tau! Secepatnya kalian menikah.” Nirina berlalu.
Cakka melirik
Ayahnya yang hanya bisa menghela nafas kemudian mengejar istrinya.
“Yah... Cakka
cuma butuh waktu, meluluhkan Agni gak semudah berkedip. Tapi serumit struktur
bagaimana cara kita bisa berkedip.” Cakka menghela nafas.
“Ayah tunggu
kabar baiknya.”
Cakka menghela
nafas, bagaimana mungkin ia bisa meluluhkan Agni dengan mudah? Agni terlalu
membentengi dirinya untuk tidak suka kembali pada kaum sepertinya. Tuhan... Jika Agni jodohku, tolong
mudahkanlah...
***
Agni duduk di
sekeliling keluarga Mahesa, kebetulan orangtua Agni masih belum pulang dari
Singapura.
Nirina menatap
Cakka dan Agni bergantian. “Sepertinya kalian akan pergi. Mau kemana?.”
Agni tersenyum,
“Iya Bun, Cakka ngajakin jalan.”
“Oiya Bun,
sekalian Cakka mau ijin buat liburan, sama Agni.”
“Berdua?.”
Cakka
mengangguk.
“Kok kayaknya
Bunda gak ngijinin sih? Kenapa emangnya?.”
Nirina menghela
nafas kemudian tersenyum kepada Agni. “Gapapa, yaudah terserah kalian.” Nirina
melirik tajam ke arah Cakka yang menatapnya memohon.
Agni memang
belum mengetahui prihal perdebatan Cakka dengan orangtuanya. Cukup Cakka yang
tahu, karena yang paling penting adalah mereka cepat menikah. Bukan yang lain.
Cakka dan Agni
kini telah berada di garasi di rumah Cakka. “Kita jalan pake motor?.”
“Iya, itulah
kenapa aku suruh kamu pake celana panjang. Yuk naik.” Cakka mulai menstarter
motor ninja-nya. Tanpa bertanya lagi
Agni menaiki motor itu kemudian memeluk pinggang Cakka. Cakka menyeringai jahil
“Ini nih enaknya bawa motor.”
Agni memutar
bola matanya, “Kamu tuh ya.” Agni mencubit pinggang Cakka dengan keras.
“Aw... sakit
sayang.”
“Jalan bang.”
Cakka terkekeh.
“Oke nyonya Arkka.”
Sepanjang
perjalanan mereka hanya diam. Agni begitu menikmati pemandangan malam kota. Ini
memang pertama kalinya ia naik motor, selama ini ia dimanjakan oleh fasilitas
mobil mewah oleh orang tuanya, jangan pernah menanyakan apakah Agni pernah naik
kendaraan umum atau belum. Pasti jawabannya belum, naik motor aja pertama kali.
Bagaimana naik kendaraan umum coba?.
Cakka
menghentikan kendaraannya di sebuah tempat yang sangat gaduh. Agni menatap
Cakka ragu, ia belum pernah ketempat seperti ini, yang begitu gaduh oleh suara
musik dan banyak orang berjoget disana.
“Ini tempat
apa?”
Cakka tersenyum
kemudian menarik Agni untuk duduk disebuah bangku yang tersedia. “Ini tempat
komunitas pecinta musik Reggae.”
Agni
mengangguk-anggukan kepalanya, “Aku baru tahu ada tempat kayak gini. Kalo gak
salah disini jugakan ada musium.”
“Pinter. Ya
emang... kamu pernah kesini?.”
Agni mengangguk.
“Tapi siang.”
Keduanya terdiam
sambil sesekali menggoyangkan tangan atau kaki menikmati alunan musik. Cakka
menatap Agni yang begitu fokus melihat ke arah kerumunan, sesekali dia
tersenyum dan membuat Cakka juga tersenyum. Sepertinya Agni menyukai tempat
ini. meskipun bukan tempat mewah, tetapi sangat nyaman didatangi.
Agni memeluk
leher Cakka kemudian berbisik. “Kapan-kapan ajak aku kesini lagi ya.”
Cakka terkekeh
sambil mengacak-acak rambut Agni. “Iya sayang.”
Keduanya saling melempar
senyum, tanda kebahagiaan mereka. Biarlah, malam ini berlalu dengan penuh
kebahagiaan untuk mereka. kebahagiaan yang akan menjadi kenangan untuk mereka.
***
Ditulis, Ciamis 22 Januari 2014
Penulis, Nenden Siti Sopiah
No comments:
Post a Comment