Wednesday, 22 January 2014

Prince’s Tale Series 1: She is My Cinderella

#7

Agni membawa nampan berisi makanan 8 porsi kehadapan teman-temannya. Kemudian ia duduk di sebelah kanan Cakka dan tepat di sebelah kirinya adalah Rio. Selain para pria dan Shilla yang lainnya belum mengetahui status hubungan Agni dan Rio, dulu.

“Gak sia-sia loe Kka nyari Agni, ternyata enak juga masakannya.”
Agni melirik ke arah Alvin sekilas. “Ngegombal Vin?.”
“Enggak Ni, emang beneran enak kok. Ya gak Yo? Diem aja loe, nikmatin banget makanannya kayaknya.”


“Eh.” Rio mengalihkan pandangannya para Alvin dan mendengus kesal. “Dari dulu kali.”
“Ugh... sayangnya kau menyia-nyiakan gadis yang pinter masak nan cantik jelita ini Damian Alfario.” Agni berkata dengan gaya yang begitu dramatis.
Cakka menyikut lengan Agni kemudian berbisik. “St... gak usah di bahas lagi, kamu gak inget ada Sivia?.”
Agni melirik ke arah Cakka kemudian mendengus kesal, lagi senang-senang juga malah gak di bolehin, padahalkan seru. Cakka payah!. “Bilang aja cemburu.” Rutuk Agni.

“Selesai.”

Cakka, Agni dan yang lainnya melirik ke arah Gabriel kemudian mencibirnya.
“Setaon gak makan loe?”
“Bukan Vin, ini anak emang kelaparan kali.”
“Shilla kok malah ngeledekin sih? Bukannya belain. Aku kan cuma menikmati aja makanan yang ada.”

Cakka dan Agni saling melirik lalu menggelengkan kepalanya kompak. Agni menghela nafas, “Yaudah kalo udah beresin masing-masing gih, gue kan udah sukarela masakin ya giliran kalian lah yang beresin.” Agni meraih piring milik Cakka. “Sini Kka, biar sama aku.”
“Gak usah, aku aja. Kamu mendingan buatin minuman.”
“Gak... jangan, biar aku aja sekalian bikin minuman.”
“Gak usah sayang kasian kamunya.”
“Cakka... jangan... biar kamu aja yang beresin.”
“Iya kamu aja yang beresin.”
“Kamu Cakka...”

Shilla menutup kuping kemudian berdiri menengahi mereka, “HEH GILA ya loe pada, tadi biar gue biar gue, sekarang loe aja loe aja. Terus siapa yang mau beresin?.”

“YA ELO LAH.” Setelah mengatakan itu Cakka dan Agni beranjak pergi menuju arah yang berbeda.

Shilla mengerjapkan matanya, “Kok jadi gue?.”

***

Mereka semua duduk di ruang tamu kecuali Ify dan Sivia. Agni sedari tadi hanya duduk dengan melipat kedua tangannya di dada, begitupun dengan Shilla. Mereka berdua tidak bisa mengobrol karena terpisahkan beberapa orang. Alhasil mereka hanya bisa menjadi kambing congek saja mendengarkan para pria berbicara.

“Eh Yo, darimana loe kenal Sivia? Dan sejak kapan? Kok gak cerita-cerita sih?.”
“Itu... kenapa emang Vin?.”
“Ya gak biasa aja loe nyembunyiin ini.”
Cakka menghela nafas kemudian menepuk pundak Rio. “Yaudahlah kalo loe belum siap cerita.”

Ify dan Sivia kembali dari arah dapur kemudian menyimpan beberapa minuman ke atas meja, kemudian keduanya duduk pada bagian yang kosong.

“Silahkan dinikmati.”
“Thanks.” Agni mengambil menuman itu, bukannya diminum ia malah menimang-nimang gelas itu. “Bete banget, bosen.”

“Iya, bener apa kata Agni.” Gabriel nampak berpikir, kemudian menyeringai ketika mendapatkan sebuah ide. “Gimana kita maen Truth or Dare?”
Agni menaikan bahunya, acuh. “Boleh aja.”
“Yang lainnya?.”
Cakka melirik Agni terlebih dahulu. “Boleh, siapa takut.”
“Oke, kita mainnya pake...” Gabriel mengelilingkan tandangannya keseluruh penjuru ruangan, tak lama kemudian ia melihat sebuah botol lalu mengambilnya “Ini,  nah yang kalah harus milih truth or dare,  kalo milih truth semuanya boleh nanya kecuali pasangan masing-masing kalo dare kita kasih 4 tantangan yang ini pasangannya boleh ngasih tantangan. Gimana?.”
“Ide bagus. Yuk mulai.” Alvin yang paling pertama menurun-nurunkan minuman kebawah meja.
“Kalo yang ketunjuk sama yang bagian depan itu yang kena.” Gabriel mulai memutarkan, sasaran pertama... Agni.
Semuanya tersenyum lega. Gabriel tersenyum jahil. “Truth or Dare?”
“Truth.”
“Kok truth sih sayang?.”
 Agni melirik Cakka acuh, “Gapapa, kalo truth kan gak perlu ribet, kalo dare kan pasti tantangan ini itu yang ribet.”

“Oke, dari gue.” Ucap Gabriel, ia kemudian nampak berpikir. “Kenapa loe mau aja jadian sama Cakka?”
“Dijodohin.”
Cakka menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Agni pasti jujur sejujurnya, dan apa boleh buat?
Shilla menghela nafas, ini gilirannya. Tapi nanya apa? Orang ia tahu semua tentang Agni. “Gimana perasaan loe saat ketemu dua mantan loe di dua hari berturut-turut?.”
Agni tersenyum masam. “Kaget.” Ia melirik Cakka yang menatapnya dengan kening yang mengerut. “Tapi gue akuin gak ada yang spesial.”
Ify yang tidak tahu apapun hanya menyambung pertanyaan. “Ada berapa mantan kamu?.”
“Cukup 2.”
Alvin mengerutkan keningnya. Ia melirik ke arah Cakka sekilas yang seperti tak ingin mendengarkan tapi Alvin tahu, Cakka sangat ingin mengetahui ini.  “2? Kenapa loe putus sama artis itu? bukannya bagus loe bisa numpang tenar juga?.”
“Karena semuanya beda. Beda budaya, beda adat istiadat.”
“Kok gitu? Bukannya itu emang resiko dari awal?.” Alvin melanjutkan pertanyaannya.
“Pertanyaannya cukup satu Alvin.”
Alvin berdecak, padahal ia ingin sekali mengorek informasi itu. bukannya ia terlalu kepo tapi ini juga supaya Cakka tau dan hubungan mereka –Cakka dan Agni- bertambah baik.
Sivia terlihat gelisah, ia sangat ingin menanyakan ini. “Dari gue... hm... apa penyebab loe putus yang pertama?.”
Agni melirik tajam ke arah Rio kemudian tersenyum sinis, “Diselingkuhin.”
Sivia membulatkan mulutnya sambil melirik ke arah Rio yang terlihat bingung.
Rio menghembuskan nafas berat. “Apa kamu bisa maafin orang yang selingkuhin kamu itu?.”
“Bisa, lagian udah lagi. Gak ada gunanya juga benci sama orang lama-lama, lagian gue juga udah punya Cakka yang sayang sama gue.” Ia melirik Cakka yang menatap lurus dengan pandangan kosong. Seperti ada yang di pikirkan.
Agni sejenak terdiam, kemudian menggoyangkan lengan Cakka. “Kka?.”
“Ni, apa kamu masih sayang sama mantan terakhir kamu?.”
Agni mengalihkan pandangannya dari Cakka kemudian menghela nafas. “Dalam aturan pasangan tidak boleh bertanya.”

Cakka menatap Agni yang kini duduk agak membelakanginya, tidak lagi duduk dengan sewajarnya. Agni ini kenapa? Apa ia masih mencintai artis itu? kenapa harus seperti itu? padahal kalau iya tinggal jawab begitupun dengan tidak. Apa susahnya coba? Maaf Agni... mungkin aku dari awal emang salah, udah maksa kamu jadi pasangan aku, istri aku. Cakka menghela nafas lelah kemudian kembali pada permainan yang kali ini mengarah pada Gabriel.

***

Sampai teman-temannya telah mendapatkan masing-masing dua kali tunjukan dari botol itu, Agni belum mendapatkan itu kedua kalinya dan Cakka yang belum mendapatkan kesempatan itu sama sekali. Cukup membuat teman-temannya sangat jengkel.

“Ah pokok nya gue gak mau tahu, sekarang loe harus milih antara truth atau dare Kka.”
Cakka menaikan satu alisnya mendengar ucapan Gabriel. Memangnya ada peraturan seperti itu? “Maunya kalian apa? Terserah.”
“Truth aja! Pokoknya harus truth!.”
Gabriel melirik ke arah Shilla jengkel. “Seneng banget. Naksir pacar sahabat sendiri?.”
Shilla hanya memutar bola matanya tak peduli, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Cakka. “Loe semalem ngapain aja sama Agni?.”

Agni mengerutkan keningnya, kemudian ia menarik diri dari sandaran kursi. “Kok loe nanya itu sih? Gak penting banget.”
“Diam Agni! Gue cuma mau mastiin aja.”
Agni menatap Shilla geram. “Mastiin Ap..?”
“Anggita Mahardika diam!.”
Agni mendengus kemudian kembali menyandarkan tubuhnya. “Oke fine!.”

Cakka tersenyum, sementara sebelah tangannya menarik pinggang Agni agar mendekat ke arahnya. Ia menatap Agni dalam, “Apapun yang kita lakukan, yang jelas Agni masih perawan.” Ia mengecup puncak hidung Agni.

Shilla melirik Sivia dan Ify keduanya mengangguk ke arah Shilla. “Pertanyaan Sivia sama Ify gue yang wakilin.”
Cakka menaikan bahunya, acuh. “Gak masalah.”
Shilla tersenyum sinis, ia harus memastikan pria dihadapannya itu tidak berbahaya bagi Agni, ia tak ingin melihat Agni terluka lagi.
“Berapa ratus mantan loe? Dan...” Shilla menghela nafas. “Berapa kali loe tidur sama cewek?.”
Cakka terkekeh begitupun dengan teman-temannya yang lain, meskipun yang lain hanya tersenyum saja. “Mantan gue? Mmm.... berapa ya Vin? Gak pernah jelas.”
Ify menatap Cakka takjup. “Wow... saking banyaknya ya itu mantan?.”
 Alvin tersenyum kecil menanggapinya “Bukan Fy, tapi karena gak ada satupun yang dia suka, jadi dia bingung pernah pacaran atau enggak dan anggap mereka mantan atau bukan.”

Agni tersenyum kecil, apakah ia harus percaya mengenai itu? ia melirik Cakka. Kekasinya itu memang tampan, bahkan tampan sekali, tubuhnya benar-benar sempurna dimatanya, apalagi jika mengingat kekayaan keluarganya. Oke. Agni menyimpulkan seperti ini karena ia memang mungkin hanya mengurus perusahaan orang tuanya saja.
Agni melirik Cakka yang tiba-tiba mengecup pipinya. “Gue cuma pernah tidur sama 2 wanita, 2 wanita yang gue sayang.”

DEG! Agni membalas tatapan Cakka yang memang sedari tadi menatapnya. Kenapa Cakka tega sekali mengakui ini didepannya? Tepat di belakang telinganya? Apa Cakka tidak pernah memikirkan perasaannya?

“Mereka itu Bunda sama Agni. Gak ada yang lain.”

Agni menarik sedikit ujung bibirnya, kemudian sebuah sapuan halus mendarat di bibirnya itu, cukup lama.

Rio memutar bola mata sambil mengalihkan pandangannya “Ini Indonesia Cakka.”
Cakka terkekeh. “Yeah, I know Rio.” ia beralih pada Agni kemudian kembali mendekat. “Kita harus bicara.”
Agni tersenyum menanggapinya.
Cakka berdiri, “Sepertinya kita butuh tempat yang lebih privasi, iya kan sayang?.” Ia mengulurkan tangannya pada Agni.
Agni menerima uluran tangan itu kemudian berdiri. “Yeah... bye guys kita duluan.”

Keduanya beranjak dari apartemen milik Rio itu, mereka memang membutuhkan waktu berdua, menyelesaikan semuanya.

“Udah dateng belakangan, pulang duluan lagi. Dasar!.”

Cakka dan Agni saling berpandangan kemudian saling melempar senyum tipis mereka, tanpa mengindahkan teman-temannya merekapun benar-benar berlalu.

***

Cakka membawa Agni kerumahnya, Agni mengekor di belakang Cakka yang berjalan dengan langkah lebarnya.

“Bunda...” Cakka menengok ke arah halaman belakang. “Bunda kemana sih?. Bi...”
“Iya Den.”
“Bunda kemana?.”
“Nyonya dan Tuan seperti biasa Den, jalan-jalan.”

Orang tua Cakka memang selalu meluangkan waktu untuk bersama jika di hari libur atau weekend seperti ini. rutinitas yang akan Cakka kembangkan saat ia telah bersama dengan Agni. Karena bagaimanapun keluarga lebih penting daripada apapun.
Cakka mengangguk kemudian menginstruksikan untuk kembali pada Pengurus rumahnya itu. lalu ia menghampiri Agni yang berdiri bersandar di bahu tangga.

“Kita keatas aja, Bunda juga gak ada.”

Tanpa basa-basi Agni menuruti apa keinginan kekasihnya itu, kemudian ia memasuki kamar Cakka yang entah sejak kapan jadi tempat favorite-nya jika berada di rumah itu. ia mendudukan diri dilantai tepat di ambang pintu yang menuju balkon kamar itu.

“Kita mau ngomongin apa?” Agni berujar begitu merasakan kehadiran Cakka di dekatnya.
Cakka menghela nafas kemudian duduk di sofa tepat di belakang Agni. “Kita.”
Agni berbalik dengan kening mengkerut. “Kita? Emangnya kita kenapa?.” Mereka tidak pernah ada masalah lagi, kecuali yang kemarin, apa Cakka akan membahas mengenai itu?.
“Aku mau kita saling jujur.”
Agni tersenyum masam, sepertinya ada yang tidak mempercayainya. “Gak masalah.”
Cakka turun dari kursi kemudian duduk dihadapan Agni, ia meraih tangan Agni kemudian menggenggamnya erat. “Aku gak mau kehilangan kamu. kalo kamu anggap ini rasa ketidak percayaannya aku sama kamu itu salah. Aku cuma mau mastiin hati kamu sekarang kosong, kalo pun kamu masih sayang sama orang lain aku mau kamu jujur. Aku bakalan terbuka sama kamu apapun yang kamu mau tahu, sebagaimana janji aku dulu...”
Agni menghela nafas, kenapa Cakka selalu bisa membaca pikirannya? Tak pernah ada yang bisa seperti Cakka selama ini. hanya Cakka dan cuma Cakka. “Aku emang selalu menjalin hubungan dengan serius, dalam arti aku bukan tipe cewek yang lirik lagi kesana-kemari kalo udah punya hubungan. Karena itulah aku selalu belebihan, aku selalu menyayangi pasanganku dengan berlebihan, tanpa tahu pasangan aku juga gitu apa enggak. Bagaimanapun juga dulu aku pernah punya pacar, pernah punya yang berarti dalam hidup aku, aku menyayangi mereka, aku emang mencintai mereka, tapi itu dulu. Setelah semua rasa sakit hati yang aku dapet, aku gak bakalan pernah mau balikan lagi sama orang itu. aku juga tipe cewek yang susah move on. Dari Rio aja aku perlu 4 tahun buat bener-bener lupain dia, lupain semua rasa sakit hati aku. kalo Harry, aku putus sama dia setahun yang lalu, tepat di ulang tahun ke 24.” Agni melirik Cakka yang mengeratkan genggamannya, entah karena apa.
Cakka tersenyum ke arah Agni. “Lanjutin aja.”
Agni mengangguk. “Dari sana aku udah bertekad gak pacaran lagi, sampai...” ia terkekeh kecil. “Mom takut aku gak nikah-nikah, jadilah dari saat itu Mom mulai jodoh-jodohin aku. Tapi dasar aku yang bandel, setiap aku harus ketemuan sama cowok yang dipilihin Mom, aku selalu bawa Ray, atau ngelakuin apa aja yang buat cowok itu ilfeel.”
“Termasuk waktu kamu pelukan sama dia di bandara?.”
Agni tersenyum, “Enggak. Itu murni... soalnya Ray emang mau pergi, salah satunya gara-gara aku nolak dia.” Agni menghela nafas. “Intinya aku udah mati rasa sama cowok. Aku gak sayang sama Rio, Harry atau siapapun.”
Cakka menunduk. “Termasuk aku?.”
Agni mengalihkan pandangan ke arah lain. “Aku gak tau.”
Cakka melepaskan tangan Agni dengan lembut, ia berjalan ke arah ranjangnya kemudian merebahkan diri. Apa yang harus aku lakuin sama  kamu Ni? Kalau kamu seperti itu, aku gak mungkin bisa tembus hati kamu. Cakka mengerut pelipisnya.

“Kka...” Agni ikut merebahkan diri di samping Cakka, meletakkan tangan kanannya di atas dada bidang Cakka. “Tapi, cuma kamu yang buat aku bisa senyaman ini.”

Cakka menghela nafas, kenapa ia tidak merasa bahagia Agni mengatakan ini? bukan hanya ini yang ia inginkan, ia menginginkan lebih. Lebih dari sekedar nyaman.
“Aku bukan pria baik-baik.” Ia memiringkan tubuhnya menghadap Agni. “Jujur... kalo liat bagian atas wanita aku pernah, aku... kamu juga pasti tau apa yang seorang pria normal lakukan, iya kan?. Tapi, aku bener-bener gak pernah lebih dari itu.”
Agni memejamkan matanya sejenak, kemudian dihadiahi sebuah kecupan oleh Cakka.
“Aku gak mau egois, aku juga mau istri aku perawan dan aku juga masih harus perjaka. Iya kan?.” Cakka mencubit hidung Agni dengan gemas.
Agni terkekeh lepas. “Dasar! Tetep aja kamu pernah hampir ngelakuin itu.”
Cakka mengerlingkan matanya menggoda, “Kamu mau coba?.” Cakka mendorong Agni hingga kekasihnya itu berada dalam kekuasaannya. Cakka mengecup leher bagian dalam Agni.
“Kka...” Agni mendorong dada Cakka untuk menjauh dari tubuhnya.
Cakka tersenyum kemudian menjauh dari Agni. Ia hanya memiringkan wajahnya, menatap wajah kaget Agni. “Aku gak bakalan ngelakuin itu sama kamu, aku mau semuanya terasa spesial saat kita udah sah.”
Agni tersenyum, tidak salah ia memilih Cakka. Meskipun dulu Cakka jauh dari kata baik tapi itu masalalu, gak akan pernah bisa di rubah. Yang penting Cakka berubah menjadi lebih baik untuknya.

***

Nirina beserta suaminya berjalan berdampingan memasuki kediamannya.
“Cakka tumben ada di rumah ya Yah? Padahalkan libur.”
“Tapi kok tumben gak keliatan? Biasanya lagi asik berenang.”
“Gak tau.” Nirina menaiki tangga rumahnya. Ia rindu sekali dengan pangerannya, kemarin seharian puteranya itu tidak pulang, karena lebih memilih diam di apartemennya.

“Kka...”
Nirina menghembuskan nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dasar anak jaman sekarang. Ia berjalan mendekati puteranya dan calon menantunya yang tidur sambil berpelukan.
“Cakka.” Ia menggoyangkan tubuh Cakka lembut, agar tidak mengganggu Agni yang nampak tertidur begitu lelap.
Cakka mengerang malas “Eh... Bunda.” Ia menurunkan tangan Agni yang memeluk pinggangnya. Kemudian mendudukan dirinya.

“Bunda mau bicara. Kamu gak perlu bangunin Agni.” Setelah mengatakan itu Nirina berlalu dari kamar Cakka.

Cakka melirik Agni yang masih terlelap, ia mengecup kening Agni. “Aku tinggal sebentar sayang. Tidur yang nyenyak.” Kemudian Cakka berlalu.

Orangtua Cakka menunggu Cakka di ruang keluarga. Mereka berdua tengah berselisih faham mengenai putera satu-satunya mereka itu. terlihat dari Nirina yang terus berbicara dan suaminya hanya diam saja, karena memang tak pernah banyak bicara.
“Aku cuma gak mau kejadian yang enggak-enggak Yah. Mereka udah berani tidur bareng.”
“Aku gak tau, kita gak bisa maksain mereka nikah cepet. Tapi aku juga memang khawatir.”
“Ada apa Yah, Bun? Kok ngomongin nikah-nikahan?.” Cakka duduk di hadapan orangtuanya dengan santai.
“Kamu Cakka. Bunda gak mau ya nama baik kita tercoreng kalo kalian MBA.” Nirina berkata dengan menggebu-gebu.
Cakka terkekeh. “MBA? Gak bakalan Bunda... Bunda gak percaya sama Cakka?.”
“Bukan gitu Kka... tapi gimanapun juga kalian belum sah, kalian gak bisa tidur bareng kayak tadi.”
“Bunda... Cakka gak ngelakuin apapun.”
“Bunda gak mau tau! Secepatnya kalian menikah.” Nirina berlalu.
Cakka melirik Ayahnya yang hanya bisa menghela nafas kemudian mengejar istrinya.
“Yah... Cakka cuma butuh waktu, meluluhkan Agni gak semudah berkedip. Tapi serumit struktur bagaimana cara kita bisa berkedip.” Cakka menghela nafas.
“Ayah tunggu kabar baiknya.”

Cakka menghela nafas, bagaimana mungkin ia bisa meluluhkan Agni dengan mudah? Agni terlalu membentengi dirinya untuk tidak suka kembali pada kaum sepertinya. Tuhan... Jika Agni jodohku, tolong mudahkanlah...

***

Agni duduk di sekeliling keluarga Mahesa, kebetulan orangtua Agni masih belum pulang dari Singapura.
Nirina menatap Cakka dan Agni bergantian. “Sepertinya kalian akan pergi. Mau kemana?.”
Agni tersenyum, “Iya Bun, Cakka ngajakin jalan.”
“Oiya Bun, sekalian Cakka mau ijin buat liburan, sama Agni.”
“Berdua?.”
Cakka mengangguk.
“Kok kayaknya Bunda gak ngijinin sih? Kenapa emangnya?.”
Nirina menghela nafas kemudian tersenyum kepada Agni. “Gapapa, yaudah terserah kalian.” Nirina melirik tajam ke arah Cakka yang menatapnya memohon.
Agni memang belum mengetahui prihal perdebatan Cakka dengan orangtuanya. Cukup Cakka yang tahu, karena yang paling penting adalah mereka cepat menikah. Bukan yang lain.

Cakka dan Agni kini telah berada di garasi di rumah Cakka. “Kita jalan pake motor?.”
“Iya, itulah kenapa aku suruh kamu pake celana panjang. Yuk naik.” Cakka mulai menstarter motor ninja-nya. Tanpa bertanya lagi Agni menaiki motor itu kemudian memeluk pinggang Cakka. Cakka menyeringai jahil “Ini nih enaknya bawa motor.”
Agni memutar bola matanya, “Kamu tuh ya.” Agni mencubit pinggang Cakka dengan keras.
“Aw... sakit sayang.”
“Jalan bang.”
Cakka terkekeh. “Oke nyonya Arkka.”

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Agni begitu menikmati pemandangan malam kota. Ini memang pertama kalinya ia naik motor, selama ini ia dimanjakan oleh fasilitas mobil mewah oleh orang tuanya, jangan pernah menanyakan apakah Agni pernah naik kendaraan umum atau belum. Pasti jawabannya belum, naik motor aja pertama kali. Bagaimana naik kendaraan umum coba?.
Cakka menghentikan kendaraannya di sebuah tempat yang sangat gaduh. Agni menatap Cakka ragu, ia belum pernah ketempat seperti ini, yang begitu gaduh oleh suara musik dan banyak orang berjoget disana.
“Ini tempat apa?”
Cakka tersenyum kemudian menarik Agni untuk duduk disebuah bangku yang tersedia. “Ini tempat komunitas pecinta musik Reggae.
Agni mengangguk-anggukan kepalanya, “Aku baru tahu ada tempat kayak gini. Kalo gak salah disini jugakan ada musium.”
“Pinter. Ya emang... kamu pernah kesini?.”
Agni mengangguk. “Tapi siang.”

Keduanya terdiam sambil sesekali menggoyangkan tangan atau kaki menikmati alunan musik. Cakka menatap Agni yang begitu fokus melihat ke arah kerumunan, sesekali dia tersenyum dan membuat Cakka juga tersenyum. Sepertinya Agni menyukai tempat ini. meskipun bukan tempat mewah, tetapi sangat nyaman didatangi.

Agni memeluk leher Cakka kemudian berbisik. “Kapan-kapan ajak aku kesini lagi ya.”
Cakka terkekeh sambil mengacak-acak rambut Agni. “Iya sayang.”
Keduanya saling melempar senyum, tanda kebahagiaan mereka. Biarlah, malam ini berlalu dengan penuh kebahagiaan untuk mereka. kebahagiaan yang akan menjadi kenangan untuk mereka.

***

Ditulis, Ciamis 22 Januari 2014

Penulis, Nenden Siti Sopiah

No comments:

Post a Comment