Wednesday, 15 January 2014

Prince’s Tale Series 1: She is My Cinderella

#6

Cakka menatap lurus ke arah jalanan dari ketinggian apartemennya, sejak beberapa saat lalu apartemennya telah sepi kembali, semuanya telah pergi begitupun dengan Agni yang ia usir begitu saja.

“Kka...”
“Pulang.” Cakka berlalu sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Agni tanpa menatap Agni lagi. Pria mana yang tidak sakit hati melihat kekasihnya berciuman dengan pria lain? Padahal dengannya saja belum pernah. Kalau kalian berpikir Cakka menginginkannya juga maka jawabannya TIDAK. Ia hanya marah! Ia kecewa!. Ya setidaknya kalau dia saja bisa menghindar darinya kenapa dari pria lain tidak bisa?
“Maaf Kka...” itulah kata terakhir yang Cakka dengar sebelum ia memasuki kembali apartemennya. Memangnya kata maaf bisa membuat sebuah pecahan utuh kembali?

“CAKKAA...”


Cakka tak bergeming mendengar teriakan dari salah satu sahabatnya, mereka memang diundang untuk merayakan ulangtahun Agni, namun semuanya gagal!. Pestanya berakhir tanpa ada acara make a wish, nyanyi-nyanyi dan tiup lilin. Bahkan kue-nya saja masih utuh dengan angka 25 di atasnya yang belum sempat di bakar.

“Kka... loe baik-baik aja kan?.”

Rio menahan tangan Gabriel saat dia akan menepuk pundak Cakka. Sementara Alvin berdiri bersandar pada jendela kaca bersebelahan dengan Cakka. Ia menatap Cakka heran.
“Kenapa loe?.”

Cakka mengabaikan semuanya, ia berlalu begitu saja kemudian duduk di salah satu sofa yang tak jauh darinya. “Setelah putus dari loe, Agni pacaran sama siapa aja Yo?.”

“Eh?.” Rio menatap Cakka dengan kaget tiba-tiba ditanya seperti itu. ia berdehem kecil sebelum akhirnya menjawab. “Gue gak tau. Gue kan udah bilang gue gak pernah lagi ketemu dia.”

Cakka mengurut pelipisnya sambil mendesah lelah. Iya Cakka memang lelah, ia tak memungkiri bahwa ternyata berhubungan dengan Agni membutuhkan kesabaran yang ekstra, hingga ia merasa jatuh pada titik terjenuhnya, sekarang.

“Kka... kenapa Shilla kenal Harry Style? Parahnya dia nyamperin ke kantor, mana gue sengaja ngadain rapat dadakan cuma buat ketemu Shilla, eh dia malah dateng dan bawa Shilla pergi. Loe pasti tau kan? Yang kenal sama Shilla pasti kenal juga sama Agni.”

Wajah Cakka kembali mengeras. Kanapa sih ia harus mendengar nama itu lagi? Cakka mendengus. “Dia, MANTAN Agni juga.”

“WHAT?.”

Kali ini Rio yang paling histeris. Ia terlihat menampakan wajah kekagetannya begitu kentara daripada sahabatnya yang lain.

Cakka tersenyum kecut. “Hebat ya cewek gue? Pacaran aja jangkauannya mendunia.”
“Bukan gitu Kka.”
“Tapi?”
“Dia pernah ngomong sama gue, dia bakalan dapetin yang lebih dari gue pas waktu gue kepergok sama dia.”

Cakka menghela nafas, serba salah. Disisi lain Cakka memang sakit hati, tapi sisi lain juga ia tidak mau menyakiti Agni. Ia tidak mau kehilangan Agni, ia tidak mau Agni meninggalkannya, apalagi jika ancaman waktu itu sampai menjadi kenyataan. Tapi... apa yang harus ia lakukan?

“Dia juga pernah ngomong gitu sama gue.”
“Hati-hati Kka. Git- maksud gue Agni gak pernah main-main sama omongannya.”
“Iya Yo, gue tau.”

Cakka kembali beranjak ke arah jendela, memandangi hiruk-pikuk padatnya jalanan ibukota yang sepadat pikirannya dengan berbagai pertanyaan yang serasa akan pecah dalam otaknya.

***

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Shilla memasuki kamar Agni dengan cepat.
“AGNII...” Shilla terdiam saat melihat Agni yang menelungkupkan wajahnya pada bantal dengan posisi telungkup. Ia berjalan perlahan.
“Ni...” Shilla berkata lirih sambil duduk di dekat Agni.

“Kenapa sih dia harus kembali?! Kenapa?! Kenapa disaat gue udah lupain dia kenapa dia malah kembali?! Apa salah gue? Apa?.” Agni merancau begitu keras sambil memukuli bantal yang ia tiduri.
“Kenapa dia datang dan hancurin semua ini? hancurin apa yang gue bangun susah payah. Hancurin semuanya! Semua!!!. Gue benci ini semua! Gue benci!!!.”

Shilla meremas pundak Agni, ia mengerti dengan perasaan Agni, ia faham semuanya. Ia pun jika menjadi Agni akan melakukan hal yang sama dan mungkin akan lebih parah dari ini. Please Ni loe jangan gini... gue tau loe gak selemah ini, mana Agni yang tegar? Galak dan cuek? Gue gak kenal loe Ni kalo loe kayak gini... Shilla menyeka air matanya yang menetes dengan begitu saja. Setelah itu ia beranjak keluar dari kamar Agni dan menghubungi seseorang.
“Kka... Agni butuh loe. Sekarang.”

***

Malam harinya Agni baru keluar dari kamar dengan penampilan yang telah fresh, kecuali matanya yang sengaja ia bingkai dengan kacamata kesayangannya. Menangis sepanjang hari dan melewatkan launch ternyata membuat cacing dalam perutnya meminta jatah untuk suplai makanan, dan akhirnya disinilah ia, di dapur utama rumahnya.
Saat ia mendekati kichenset ternyata ada seorang pria berdiri disana, entah untuk tujuan apa. Agni yang sempat berhenti sejenak akhirnya kembali melangkah.
“Siapa kamu?.”

“Eh.” Pria itu berbalik menghadap Agni dengan wajah canggungnya, lalu tersenyum kaku. “Aku Gabriel, cowoknya Shilla.”

“Ngawur!.” Shilla tiba-tiba datang dari arah depan. “Bohong Ni, dia temennya Cakka.”
Agni meneliti pria itu dari atas hingga kemudian membulatkan mulutnya, “Oh.” Setelah itu ia berlalu mengambil beberapa sayuran yang bisa ia masak.
Setelah beberapa saat Agni menghentikan kegiatannya karena merasa diperhatikan. Ia berbalik dan mendapati Shilla dan Gabriel yang masih berada disana. “Ngapain kalian disini? Pergi!.”
Tak lama kemudian mereka meninggalkan Agni sendiri, Agni menghela nafas kemudian kembali berkutat dengan makanannya. Cakka lagi ngapain ya? kenapa gak ada nelpon sama sekali? Apa dia gak mau maafin gue? Terus nasib gue gimana? Agni menghela nafas lagi. Yaudahlah biar nanti gue ngomong dulu sama Mom.

Agni mendengus lagi saat mendengar suara kaki mendekat dan kemungkinan berhenti di meja makan yang berada di dapur. “Ngapain lagi sih kalian kemari? Pergi!. Gak ada kerjaan banget sih.”
“Oke. Tega ya ngusir pacar sendiri.”
“Eh.” Agni berbalik dan mendapati Cakka yang siap beranjak. “Kka... mau kemana? A-aku gak ngusir kok.”
Cakka tersenyum kecil kemudian berbalik dan berjalan ke arah Agni. “Beneran gak ngusir nih?.”
Agni mengangguk kaku saat Cakka semakin dekat dengannya, dengan cepat ia kembali berbalik dan kembali berkutat dengan masakannya.

Cakka berdiri di samping Agni, bersandar ke kichenset. Pandangannya tak lepas dari Agni, ia melihat jelas bagaimana tubuh Agni bergetar karena tangis, bagaimana Agni menarik nafas berat, bagaimana tidak tenangnya tidur Agni, bagaimana mengigaunya Agni yang begitu menyiratkan rasa bersalah dan penyesalan. Itu cukup bagi Cakka untuk mengetahui keseriusan Agni untuk melupakan mantannya itu, meski tak ada kata maaf lagi dari Agni itu tak apa. Yang jelas Agni tak benar-benar sengaja melakukan itu.

“Kamu tadi siang enggak makan ya?.”
“Makan kok, kamu aja yang sok tahu.”
Cakka terkekeh. “Aku dari siang disini sayang.” Cakka mencubit hidung Agni dengan gemas. “Mom pergi tadi siang, katanya harus nemenin Dad ke singaphore.”
“Aku tau.” Dalam hati, Agni ingin sekali meminta maaf. Tapi, minta maaf untuk apa? Lagian gengsi, masa ia harus meminta maaf buat kedua kalinya? No way!.

Agni tertegun saat merasakan tangan lebar dan hangat melingkari pinggangnya, ia berbalik dan mendapati Cakka sedang menatapnya sambil tersenyum. Agni hanya bisa menghela nafas lalu kembali pada kesibukannya.

Cakka menumpukan dagunya pada bahu Agni, ia mengeratkan pelukannya. “Aku gak mau kehilangan kamu Ni, kamu cuma milik aku.”

Milik? Kenapa menggantung sekali? Apa arti kepemilikan itu? Apakah Cakka sayang padanya? Bahkan cinta? Atau hanya bentuk obsesi saja? Kenapa Cakka tidak mengatakan semuanya dengan tegas dan jelas saja? Kenapa harus membuat Agni menerka-nerka makna tersebut?

Selepas makan malam Agni kembali beranjak menuju kamarnya yang diikuti oleh Cakka. Tak ada pekercakapan lagi diantara mereka yang masih sangat kaku itu. Hanya ada senyuman dan kedipan mata maklum yang entah apa maknanya.

“Ni.”
“Hm?.” Agni duduk berdampingan dengan Cakka, ia menyibukkan dirinya dengan laptopnya dan beberapa pekerjaan yang entah kenapa ingin sekali segera ia selesaikan.
“Harry?.”
Agni menghela nafas mendengar nama itu. ia menatap Cakka dalam, “Dia mantan aku aja Kka. Aku gak pernah mau ketemu dia lagi, aku juga gak ada niat buat nyeleweng, karena itu menyakitkan. Aku sama dia cuma sebatas mantan pacar dan rekan kerja saja.”
Cakka menaikan satu alisnya, “Rekan kerja? Kerjaan kamu?.”
Agni memutar bola matanya sebal lalu kembali pada pekerjaannya dengan bergumam sebal, “Promotorlah, emang apa lagi?. Dih.”
Cakka tersenyum kecil kemudian mengacak-acak rambut Agni gemas. “Iya, maaf deh aku gak tau.”

Agni tak menepis tangan Cakka yang kini berada di pinggangnya memeluk dengan posesif. Sementara Agni sibuk dengan pekerjaannya Cakka malah sibuk dengan gadget-nya. Alvin mengajaknya jalan-jalan padahal jelas sekali dirinya bersama Gabriel pasti akan menolak. Mungkin dia berangkat bersama Rio, entahlah.

Agni terlihat mengurut keningnya.
“Kenapa Ni? Pusing? Kalo pusing mendingan istirahat ya.”
Agni menggeleng pelan. “Enggak kok Kka, cuma dikit aja. Lagian kerjaannya masih banyak, kasian Daddy kalo ngurus ini sendirian.”
“Tapi kamu juga jaga kondisi dong, kamu jangan sakit kalo mau bantu Daddy.” Cakka menarik Agni kedalam pelukannya, merengkuh kekasihnya itu selembut dan sehangat mungkin.
Agni mulai terlelap karena elusan Cakka pada kepala dan punggungnya, tak pernah ia merasakan kenyamanan ini dari oranglain. Saat kesadarannya mulai menipis ia merasakan sebuah kecupan mengenai puncak kepalanya kemudian berpindah ke pipi dan terdengar sebuah bisikan yang samar, nyaris tak terdengar.
“I lover you Agni... aku gak akan ninggalin kamu.”

***

Agni merasakan sebuah hembusan nafas yang terasa begitu hangat menerpa wajahnya, pinggangnyapun terasa begitu berat karena terjaga sesuatu. Perlahan ia membuka mata. Cakka... Agni terdiam menatapi wajah tenang kekasihnya itu, rambutnya yang urakan, alisnya yang hitam tebal, bulu matanya yang cantik, hidungnya yang pas dan juga bibirnya yang begitu menawan. Agni mengelus wajah itu, kemudian mengalungkan tangannya di leher itu lalu terlelap kembali.

Cakka tersenyum saat merasakan Agni memeluk lehernya, ia memang telah terjaga karena pergerakan kaki Agni, ditambah lagi sentuhan lembut tangan Agni. Ia tersenyum lagi sambil mengeratkan pelukan di pinggang Agni. Ia menatap kekasihnya dengan lembut, andai aja kamu membuka hati kamu sepenuhnya buat aku Ni. Cakka memiringkan kepalanya, kemudian mengecup bibir merah muda yang selama ini ia dambakan. Saat ia handak mengangkat wajahnya ia merasakan tekanan pada tengkuknya lalu balasan kecil di bibirnya. Agni? Ini... gak salah? Bagaimana Cakka tidak ragu, Agni tak sedikitpun membuka matanya. Cukup membuatnya terkaget-kaget saat ada respon untuknya.

Terdengar pintu dibuka dengan pelan tapi kemudian pitu itu di tutup dengan kencang. BRUK!. Cakka menjauhkan diri dari Agni, begitupun dengan Agni yang serta merta langsung duduk.

“KALO KALIAN MAU MESUM KIRA-KIRA KEK! KUNCI PINTU! GIMANA KALO YANG LIAT ITU MOMMY ATAU DADDY! GAK KIRA-KIRA BANGET SIH KALIAN.”

Cakka menghela nafas malas. Ganggu aja! “Temen kamu kok nyebelin? Gak sopan banget masuk kamar orang gak ngetuk pintu.”
Agni memutar bola matanya. “Kamu pikir ini kamar siapa? Dia emang biasa gitu kok.” Agni berdiri lalu menguncir asal rambutnya.
“Ya tapikan harusnya dia tau ada aku.”
“Bukannya kita yang gak seharusnya sekamar?.”
Cakka bergumam sambil berdiri merapihkan pakaiannya, “Iya sih.” Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Yasudahlah terlanjur ini, lagian ketahuan juga bukannya malah bagus? Semakin cepet nikah semakin cepet juga Agni gak bakalan bergi dari gue. Hahaha...

***

Agni mengerutkan keningnya saat melihat Shilla baru saja turun dari lantai atas dengan menggunakan mini dress kesukaannya yang memang jarang ia pakai.
“Mau kemana loe Shil?”
“Maen, daripada jadi obat nyamuk.”
“Sama siapa?.”
“Gabriel lah, siapa lagi coba? Iya gak Shil?”
Shilla membulatkan matanya mendengar jawaban Cakka yang memang tepat sasaran. “Sok tahu loe!. Udah ah gue pergi.”
“Tunggu.”
Shilla memutar bola matanya kesal kemudian menghadap Cakka malas. “Apa lagi sih Tuan Arkka Mahesa?.”
“Mulai saat ini kalo mau masuk kamar Agni ketuk pintu dulu.”
Shilla berdecak. “Itu doang? Gak penting banget sih. Lagian emang siapa yang mau liat lagi kegiatan mesum kalian?. Ogah!.”
“Bagus. Sana pergi.”
Shilla mendengus kesal. “Nyebelin banget sih cowok loe Ni.” Setelah mengatakan itu Shilla beranjak, karena ia tahu tak akan pernah ada tanggapan dari Agni yang sedang konsentrasi pada makanannya.
“Kka...” Agni meletakkan alat makannya. Ia menghadap Cakka dengan melipat kedua tangan di atas meja. “Aku gak mau temen kamu nyakitin Shilla, aku gak tau temen kamu kayak apa, tapi yang jelas aku gak mau temen kamu nyakitin Shilla, aku gak bakalan segan-segan buat perhitungan sama dia.”
Cakka berdehem, ia menatap Agni dengan tersenyum, “Iya sayang, Gabriel baik kok. Dia malah gak pernah pacaran.” Ia tersenyum. “Oiya, kamu gak kenal sama Gabriel? Kamu sama dia kan satu Universitas.”
Agni mengangkat bahu acuh, “Satu-satunya temen kamu yang aku kenal ya cuma Rio. lagian aku gak pernah kenal sama temen-temennya Rio.”
Rio Rio Rio dan Rio... kenapa sih harus Rio? kalo gak Rio ya Harry! Oh God!. Sebegitu susah move on nya cewek gue. “Oh. Yaudahlah gak usah dibahas.”
Lagi-lagi Agni hanya mengangkat bahu acuh, ia tidak menyadari aura perubahan dari Cakka setelah Agni entah dengan sengaja atau tidak telah menyebutkan nama mantannya itu. apakah memang saking cueknya Agni atau Agni memang tidak peduli? Entahlah yang tahu hanyalah dirinya dan Tuhan.

“Anggita Mahardika terpergok sebuah kamera keluar dari sebuah gedung yang sama dengan Harry Style, apakah ini kebetulan ataukah memang mereka janjian? Tepat di hari itu ternyata dikabarkan Promotor cantik yang akrab disapa Agni ini adalah hari jadinya yang ke-25. Apakah Harry datang sengaja untuk menemui Agni? Dan apakah rumor dahulu yang mengabarkan mereka memiliki hubungan khusus benar adanya?.”

Agni menghela nafas lelah saat tanpa sengaja mendengar berita itu dari arah dapur tempat dimana para pengurus rumah berdiam diri. Kenapa gue gak sadar ada wartawan sih? Ck! Masalah lagi!.

“Berikut adalah pengakuan langsung dari Harry Style sebelum keberangkatannya kembali kenegara asalnya eksklusif hanya untuk anda.”
“Saya memang pernah memiliki hubungan dengan dia tapi sekarang sudah berakhir karena dia telah memiliki kekasih. Terimakasih.”

“Sukurlah kalo dia sadar.” Cakka beranjak dari tempat itu. “Kehalaman belakang yuk.”
Agni menghela nafas panjang. Untunglah Cakka gak marah lagi, hhh... “Iya.”

***

Agni dan Cakka duduk berdampingan dengan kesibukan masing-masing. Agni yang sibuk dengan gadget-nya karena ada beberapa kiriman yang memberikan kritikan-kritikan tentang dirinya yang pernah menjalin hubungan dengan Harry. Setali tiga uang dengan Agni, Cakka pun disibukan dengan ponselnya, bukannya sibuk tapi dia menyibukkan diri karena di acuhkan oleh Agni.

Cakka menatap Agni yang sesekali mendengus kesal, mengerutkan kening dan terkekeh kecil. “Ni.”
Agni tak bergeming.
“Ni.”
“Ya.”
“Agni.”
Agni menghela nafas kemudian menghadap ke arah Cakka. “Kenapa sih?.”
“Jalan yuk. Tapi gadget-nya simpen.”
Agni tersenyum kecil, ia mengerti kenapa Cakka memintanya seperti itu. Cakka Cakka... lucu banget deh, aku gak pernah nemu cowok kayak kamu. “Yaudah yuk.”

Cakka tersenyum senang kemudian ia menggamit lengan Agni dengan sayang. Sementara Agni hanya bisa menahan senyumannya, tidak mungkinkan ia ketawa? Gengsi sekali.

Keduanya bercengkerama dengan akrab seolah masalah dihari kemarin, Agni pun tak ada rasa gengsi lagi untuk tertawa lepas menanggapi candaan dari Cakka.

“Nih ya Ni, kalo manusia jaman sekarang hasil evolusi dari monyet, kera atau apalah itu, monyet sekarang kapan evolusinya? Kapan jadi manusianya?.”
Agni terkekeh. “Ih ada-ada aja kamu Kka. Tapi kenapa coba adda kemiripan antara manusia sama kera?.”
Cakka nampak berpikir. “Menurut kamu?.”
“Ya karena satu Familly tapi beda spesies.”
“Cie yang sekeluarga sama kera... Haha... hihh takut entar nyakar lagi.”
Agni menepuk pundak Cakka kesal. “Ih apaan sih kamu...”

Agni diam saat Cakka masih terkekeh, saat ia menyadari mobil yang dikendarakan Cakka memasuki kawasan apartemen mewah Agni mengerutkan keningnya.
“Mau ke apartemen siapa Kka?.”

Cakka mengerlingkan wajahnya menggoda ke arah Agni. “Kita check in sayang.”
Agni bergidik ngeri, ia menatap Cakka takut. “Ih apaan sih kamu. gak usah becanda deh.”
Cakka semakin tertawa melihat wajah Agni yang ketakutan. “Enggak sayang. Udahlah ikut aja dulu entar juga tahu.”
“Awas aja kalo macem-macem.”
Cakka tersenyum kecil mendengar ancaman dari Agni yang samar-samar terdengar olehnya.

Cakka merangkul pundak Agni sementara Agni merangkul pinggang Cakka, keduanya masih saja saling bergurau dan menggoda. Hingga sampailah mereka di depan sebuah pintu. Cakka mengetuk pintunya. Tak ada jawaban. Sekali lagi ia mengetuknya. Tak ada tanggapan. Tanpa basa-basi ia menekan rangkaian angka pembuka pintu itu.
Agni mengerutkan keningnya, heran. Apartemen siapa lagi ini? ia digiring memasuki apartemen itu oleh Cakka.
“Maen masuk aja loe Kka... Eh... Git-.”
Agni menarik ujung kaus Cakka. “Ri-Rio?.”

Rio tersenyum kaku, ia menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Masuk deh. Ada yang lain kok di dalem.” Rio berjalan di depan sementara Cakka dan Agni masih diam di tempat.

Agni mendelik ke arah Cakka. “Kejutan kamu mantan aku semua ya... sengaja?. Ngebetein banget sih.”
Cakka tersenyum kemudian memeluk Agni dari belakang. “Yang kemaren aku gak tau, maaf. Dan yang sekarang gapapakan? Lagian Rio temen aku juga, dan yang lain juga ada disini, bukan cuma dia.”
Agni menghela nafas. “Yaudah deh, Shilla juga ada kan?.”
Cakka tersenyum, “Ada. Yuk”

Cakka merengkuh pinggang Agni untuk menghadap teman-temannya. Apartemen milik Rio ini memang apartemen terluas dari apartemen-apartemen yang lain, pasalnya Rio jarang pulang ke rumahnya dan lebih betah di apartemen ini.
“Hai.”

Semua orang yang berada disana mengalihkan pandangan pada Cakka dan Agni yang seperti pasangan serasi pada umumnya.
“Bawa siapa nih? Kok jadi nambah gini?.” Tanya Cakka belaga tidak tahu.

Alvin memutar bola matanya sebal akan tingkah Cakka. “Ini Princess nya Alvin.”
Wanita disamping Alvin melambaikan tangan. “Hai salam kenal, aku Ify.”
“Hallo, aku Agni.”
“Ini Princess nya Gabriel.”
Wanita yang di samping Gabriel memutar bola matanya kesal. “Gak usah lebay deh, emang siapa yang mau jadi Princess nya Gabriel? Lagian kita udah kenal kok. Lebay banget ih.”

Cakka dan Agni terkekeh melihat Gabriel yang dimarahi oleh Shilla, apalagi melihat ekspresi nya yang menyiratkan rasa dongkol yang teramat sangat.

“Yang itu siapa Yo? Kok gak cerita-cerita sih punya gebetan baru?.”
“Gebetan tinggal serumah Kka. Coba aja tadi gue gak buru-buru kesini. Pasti udah ada kegiatan yang luar biasa ditempat ini.”
“Wah apaan Gab?.”
Agni tersenyum sinis. “Well biar gue tebak. Kalo gak lagi ciuman... ya tingkah mesum yang lainnya.”

Wajah Rio memucat. Ia mengalihkan pandangannya pada Agni yang menatapnya dengan pandangan begitu sinis namun sarat akan kesakitan masa lalunya. Maaf... kenapa sih kamu masih inget itu?

Agni menatap puas wajah Rio, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada wanita yang duduk di samping Ify dengan menundukan kepalanya.
“Hai gue Agni.” Mantannya Rio, lanjut Agni dalam hati. “Salam kenal ya...” ia tersenyum begitu bersahabat.
“Hai juga... gue Sivia. Salam kenal juga ya...”

Cakka merangkul pundak Agni dan berbisik dengan agak keras. “Sayang... kamu buat Rio sama Sivia takut.”
Agni melirik Cakka dengan manja, “Emang kamu gak takut sama aku?.”
“Hm-ya...” Cakka memamerkan giginya. Ia mengecup kilat pipi Agni. “Anda penasaran?.”
“Sama saya juga.” Seru Gabriel dan Alvin kemudian di iringi dengan gelak tawa.
“Cakka... ihh kamu malu-maluin.” Agni menghujani Cakka dengan cubitan-cubitannya, membuat Cakka berlari untuk menghindarinya.
“Berhenti Cakka!.”
“Ampun sayang. Udah dong udah...”
Agni meraih bagian belakang baju Cakka kemudian menariknya, “Kena ya... awas aja ya.”
Cakka berbalik kemudian dengan cepat memeluk Agni. “Aku emang takut... takut kehilangan kamu. takut kehilangan semuanya tentang kamu.” Cakka mengecup puncak kepala Agni.
Agni tersenyum tipis mendengar penuturan itu, kemudian membalas pelukan Cakka. Buat aku sayang sama kamu ya... aku yakin kamu bisa.

***

Bersambung.
Ditulis, Rabu 15 Januari 2014

Penulis, Nenden Siti Sopiah

No comments:

Post a Comment