#6
Cakka menatap
lurus ke arah jalanan dari ketinggian apartemennya, sejak beberapa saat lalu
apartemennya telah sepi kembali, semuanya telah pergi begitupun dengan Agni
yang ia usir begitu saja.
“Kka...”
“Pulang.” Cakka
berlalu sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Agni tanpa menatap Agni lagi.
Pria mana yang tidak sakit hati melihat kekasihnya berciuman dengan pria lain?
Padahal dengannya saja belum pernah. Kalau kalian berpikir Cakka menginginkannya
juga maka jawabannya TIDAK. Ia hanya marah! Ia kecewa!. Ya setidaknya kalau dia
saja bisa menghindar darinya kenapa dari pria lain tidak bisa?
“Maaf Kka...”
itulah kata terakhir yang Cakka dengar sebelum ia memasuki kembali
apartemennya. Memangnya kata maaf bisa membuat sebuah pecahan utuh kembali?
“CAKKAA...”
Cakka tak
bergeming mendengar teriakan dari salah satu sahabatnya, mereka memang diundang
untuk merayakan ulangtahun Agni, namun semuanya gagal!. Pestanya berakhir tanpa
ada acara make a wish, nyanyi-nyanyi dan tiup lilin. Bahkan kue-nya saja masih
utuh dengan angka 25 di atasnya yang belum sempat di bakar.
“Kka... loe
baik-baik aja kan?.”
Rio menahan
tangan Gabriel saat dia akan menepuk pundak Cakka. Sementara Alvin berdiri
bersandar pada jendela kaca bersebelahan dengan Cakka. Ia menatap Cakka heran.
“Kenapa loe?.”
Cakka
mengabaikan semuanya, ia berlalu begitu saja kemudian duduk di salah satu sofa
yang tak jauh darinya. “Setelah putus dari loe, Agni pacaran sama siapa aja
Yo?.”
“Eh?.” Rio menatap
Cakka dengan kaget tiba-tiba ditanya seperti itu. ia berdehem kecil sebelum
akhirnya menjawab. “Gue gak tau. Gue kan udah bilang gue gak pernah lagi ketemu
dia.”
Cakka mengurut
pelipisnya sambil mendesah lelah. Iya Cakka memang lelah, ia tak memungkiri
bahwa ternyata berhubungan dengan Agni membutuhkan kesabaran yang ekstra,
hingga ia merasa jatuh pada titik terjenuhnya, sekarang.
“Kka... kenapa
Shilla kenal Harry Style? Parahnya dia nyamperin ke kantor, mana gue sengaja
ngadain rapat dadakan cuma buat ketemu Shilla, eh dia malah dateng dan bawa
Shilla pergi. Loe pasti tau kan? Yang kenal sama Shilla pasti kenal juga sama
Agni.”
Wajah Cakka
kembali mengeras. Kanapa sih ia harus mendengar nama itu lagi? Cakka mendengus.
“Dia, MANTAN Agni juga.”
“WHAT?.”
Kali ini Rio
yang paling histeris. Ia terlihat menampakan wajah kekagetannya begitu kentara
daripada sahabatnya yang lain.
Cakka tersenyum
kecut. “Hebat ya cewek gue? Pacaran aja jangkauannya mendunia.”
“Bukan gitu
Kka.”
“Tapi?”
“Dia pernah ngomong
sama gue, dia bakalan dapetin yang lebih dari gue pas waktu gue kepergok sama
dia.”
Cakka menghela
nafas, serba salah. Disisi lain Cakka memang sakit hati, tapi sisi lain juga ia
tidak mau menyakiti Agni. Ia tidak mau kehilangan Agni, ia tidak mau Agni
meninggalkannya, apalagi jika ancaman waktu itu sampai menjadi kenyataan.
Tapi... apa yang harus ia lakukan?
“Dia juga pernah
ngomong gitu sama gue.”
“Hati-hati Kka.
Git- maksud gue Agni gak pernah main-main sama omongannya.”
“Iya Yo, gue
tau.”
Cakka kembali
beranjak ke arah jendela, memandangi hiruk-pikuk padatnya jalanan ibukota yang
sepadat pikirannya dengan berbagai pertanyaan yang serasa akan pecah dalam
otaknya.
***
Tanpa mengetuk
pintu terlebih dahulu Shilla memasuki kamar Agni dengan cepat.
“AGNII...”
Shilla terdiam saat melihat Agni yang menelungkupkan wajahnya pada bantal
dengan posisi telungkup. Ia berjalan perlahan.
“Ni...” Shilla
berkata lirih sambil duduk di dekat Agni.
“Kenapa sih dia
harus kembali?! Kenapa?! Kenapa disaat gue udah lupain dia kenapa dia malah
kembali?! Apa salah gue? Apa?.” Agni merancau begitu keras sambil memukuli
bantal yang ia tiduri.
“Kenapa dia
datang dan hancurin semua ini? hancurin apa yang gue bangun susah payah.
Hancurin semuanya! Semua!!!. Gue benci ini semua! Gue benci!!!.”
Shilla meremas
pundak Agni, ia mengerti dengan perasaan Agni, ia faham semuanya. Ia pun jika
menjadi Agni akan melakukan hal yang sama dan mungkin akan lebih parah dari
ini. Please Ni loe jangan gini... gue tau loe gak selemah ini, mana Agni yang
tegar? Galak dan cuek? Gue gak kenal loe Ni kalo loe kayak gini... Shilla menyeka
air matanya yang menetes dengan begitu saja. Setelah itu ia beranjak keluar
dari kamar Agni dan menghubungi seseorang.
“Kka... Agni
butuh loe. Sekarang.”
***
Malam harinya
Agni baru keluar dari kamar dengan penampilan yang telah fresh, kecuali matanya
yang sengaja ia bingkai dengan kacamata kesayangannya. Menangis sepanjang hari
dan melewatkan launch ternyata membuat cacing dalam perutnya meminta jatah
untuk suplai makanan, dan akhirnya disinilah ia, di dapur utama rumahnya.
Saat ia
mendekati kichenset ternyata ada seorang pria berdiri disana, entah untuk
tujuan apa. Agni yang sempat berhenti sejenak akhirnya kembali melangkah.
“Siapa kamu?.”
“Eh.” Pria itu
berbalik menghadap Agni dengan wajah canggungnya, lalu tersenyum kaku. “Aku
Gabriel, cowoknya Shilla.”
“Ngawur!.”
Shilla tiba-tiba datang dari arah depan. “Bohong Ni, dia temennya Cakka.”
Agni meneliti
pria itu dari atas hingga kemudian membulatkan mulutnya, “Oh.” Setelah itu ia
berlalu mengambil beberapa sayuran yang bisa ia masak.
Setelah beberapa
saat Agni menghentikan kegiatannya karena merasa diperhatikan. Ia berbalik dan
mendapati Shilla dan Gabriel yang masih berada disana. “Ngapain kalian disini?
Pergi!.”
Tak lama
kemudian mereka meninggalkan Agni sendiri, Agni menghela nafas kemudian kembali
berkutat dengan makanannya. Cakka lagi ngapain ya? kenapa gak ada nelpon sama
sekali? Apa dia gak mau maafin gue? Terus nasib gue gimana? Agni menghela nafas
lagi. Yaudahlah biar nanti gue ngomong dulu sama Mom.
Agni mendengus
lagi saat mendengar suara kaki mendekat dan kemungkinan berhenti di meja makan
yang berada di dapur. “Ngapain lagi sih kalian kemari? Pergi!. Gak ada kerjaan
banget sih.”
“Oke. Tega ya
ngusir pacar sendiri.”
“Eh.” Agni
berbalik dan mendapati Cakka yang siap beranjak. “Kka... mau kemana? A-aku gak
ngusir kok.”
Cakka tersenyum
kecil kemudian berbalik dan berjalan ke arah Agni. “Beneran gak ngusir nih?.”
Agni mengangguk
kaku saat Cakka semakin dekat dengannya, dengan cepat ia kembali berbalik dan
kembali berkutat dengan masakannya.
Cakka berdiri di
samping Agni, bersandar ke kichenset. Pandangannya tak lepas dari Agni, ia
melihat jelas bagaimana tubuh Agni bergetar karena tangis, bagaimana Agni
menarik nafas berat, bagaimana tidak tenangnya tidur Agni, bagaimana
mengigaunya Agni yang begitu menyiratkan rasa bersalah dan penyesalan. Itu
cukup bagi Cakka untuk mengetahui keseriusan Agni untuk melupakan mantannya itu,
meski tak ada kata maaf lagi dari Agni itu tak apa. Yang jelas Agni tak
benar-benar sengaja melakukan itu.
“Kamu tadi siang
enggak makan ya?.”
“Makan kok, kamu
aja yang sok tahu.”
Cakka terkekeh.
“Aku dari siang disini sayang.” Cakka mencubit hidung Agni dengan gemas. “Mom
pergi tadi siang, katanya harus nemenin Dad ke singaphore.”
“Aku tau.” Dalam
hati, Agni ingin sekali meminta maaf. Tapi, minta maaf untuk apa? Lagian
gengsi, masa ia harus meminta maaf buat kedua kalinya? No way!.
Agni tertegun
saat merasakan tangan lebar dan hangat melingkari pinggangnya, ia berbalik dan
mendapati Cakka sedang menatapnya sambil tersenyum. Agni hanya bisa menghela
nafas lalu kembali pada kesibukannya.
Cakka menumpukan
dagunya pada bahu Agni, ia mengeratkan pelukannya. “Aku gak mau kehilangan kamu
Ni, kamu cuma milik aku.”
Milik? Kenapa
menggantung sekali? Apa arti kepemilikan itu? Apakah Cakka sayang padanya?
Bahkan cinta? Atau hanya bentuk obsesi saja? Kenapa Cakka tidak mengatakan
semuanya dengan tegas dan jelas saja? Kenapa harus membuat Agni menerka-nerka
makna tersebut?
Selepas makan
malam Agni kembali beranjak menuju kamarnya yang diikuti oleh Cakka. Tak ada
pekercakapan lagi diantara mereka yang masih sangat kaku itu. Hanya ada
senyuman dan kedipan mata maklum yang entah apa maknanya.
“Ni.”
“Hm?.” Agni
duduk berdampingan dengan Cakka, ia menyibukkan dirinya dengan laptopnya dan beberapa
pekerjaan yang entah kenapa ingin sekali segera ia selesaikan.
“Harry?.”
Agni menghela
nafas mendengar nama itu. ia menatap Cakka dalam, “Dia mantan aku aja Kka. Aku
gak pernah mau ketemu dia lagi, aku juga gak ada niat buat nyeleweng, karena
itu menyakitkan. Aku sama dia cuma sebatas mantan pacar dan rekan kerja saja.”
Cakka menaikan
satu alisnya, “Rekan kerja? Kerjaan kamu?.”
Agni memutar
bola matanya sebal lalu kembali pada pekerjaannya dengan bergumam sebal,
“Promotorlah, emang apa lagi?. Dih.”
Cakka tersenyum
kecil kemudian mengacak-acak rambut Agni gemas. “Iya, maaf deh aku gak tau.”
Agni tak menepis
tangan Cakka yang kini berada di pinggangnya memeluk dengan posesif. Sementara
Agni sibuk dengan pekerjaannya Cakka malah sibuk dengan gadget-nya. Alvin
mengajaknya jalan-jalan padahal jelas sekali dirinya bersama Gabriel pasti akan
menolak. Mungkin dia berangkat bersama Rio, entahlah.
Agni terlihat
mengurut keningnya.
“Kenapa Ni?
Pusing? Kalo pusing mendingan istirahat ya.”
Agni menggeleng pelan.
“Enggak kok Kka, cuma dikit aja. Lagian kerjaannya masih banyak, kasian Daddy
kalo ngurus ini sendirian.”
“Tapi kamu juga
jaga kondisi dong, kamu jangan sakit kalo mau bantu Daddy.” Cakka menarik Agni
kedalam pelukannya, merengkuh kekasihnya itu selembut dan sehangat mungkin.
Agni mulai
terlelap karena elusan Cakka pada kepala dan punggungnya, tak pernah ia
merasakan kenyamanan ini dari oranglain. Saat kesadarannya mulai menipis ia
merasakan sebuah kecupan mengenai puncak kepalanya kemudian berpindah ke pipi
dan terdengar sebuah bisikan yang samar, nyaris tak terdengar.
“I lover you
Agni... aku gak akan ninggalin kamu.”
***
Agni merasakan
sebuah hembusan nafas yang terasa begitu hangat menerpa wajahnya,
pinggangnyapun terasa begitu berat karena terjaga sesuatu. Perlahan ia membuka
mata. Cakka... Agni terdiam menatapi wajah tenang kekasihnya itu, rambutnya
yang urakan, alisnya yang hitam tebal, bulu matanya yang cantik, hidungnya yang
pas dan juga bibirnya yang begitu menawan. Agni mengelus wajah itu, kemudian
mengalungkan tangannya di leher itu lalu terlelap kembali.
Cakka tersenyum
saat merasakan Agni memeluk lehernya, ia memang telah terjaga karena pergerakan
kaki Agni, ditambah lagi sentuhan lembut tangan Agni. Ia tersenyum lagi sambil
mengeratkan pelukan di pinggang Agni. Ia menatap kekasihnya dengan lembut, andai
aja kamu membuka hati kamu sepenuhnya buat aku Ni. Cakka memiringkan kepalanya,
kemudian mengecup bibir merah muda yang selama ini ia dambakan. Saat ia handak
mengangkat wajahnya ia merasakan tekanan pada tengkuknya lalu balasan kecil di
bibirnya. Agni? Ini... gak salah? Bagaimana Cakka tidak ragu, Agni tak
sedikitpun membuka matanya. Cukup membuatnya terkaget-kaget saat ada respon
untuknya.
Terdengar pintu
dibuka dengan pelan tapi kemudian pitu itu di tutup dengan kencang. BRUK!.
Cakka menjauhkan diri dari Agni, begitupun dengan Agni yang serta merta
langsung duduk.
“KALO KALIAN MAU
MESUM KIRA-KIRA KEK! KUNCI PINTU! GIMANA KALO YANG LIAT ITU MOMMY ATAU DADDY! GAK
KIRA-KIRA BANGET SIH KALIAN.”
Cakka menghela
nafas malas. Ganggu aja! “Temen kamu kok nyebelin? Gak sopan banget masuk kamar
orang gak ngetuk pintu.”
Agni memutar
bola matanya. “Kamu pikir ini kamar siapa? Dia emang biasa gitu kok.” Agni
berdiri lalu menguncir asal rambutnya.
“Ya tapikan
harusnya dia tau ada aku.”
“Bukannya kita
yang gak seharusnya sekamar?.”
Cakka bergumam
sambil berdiri merapihkan pakaiannya, “Iya sih.” Ia menggaruk tengkuknya yang
tak gatal. Yasudahlah terlanjur ini, lagian ketahuan juga bukannya malah bagus?
Semakin cepet nikah semakin cepet juga Agni gak bakalan bergi dari gue.
Hahaha...
***
Agni mengerutkan
keningnya saat melihat Shilla baru saja turun dari lantai atas dengan
menggunakan mini dress kesukaannya yang memang jarang ia pakai.
“Mau kemana loe Shil?”
“Maen, daripada
jadi obat nyamuk.”
“Sama siapa?.”
“Gabriel lah,
siapa lagi coba? Iya gak Shil?”
Shilla
membulatkan matanya mendengar jawaban Cakka yang memang tepat sasaran. “Sok
tahu loe!. Udah ah gue pergi.”
“Tunggu.”
Shilla memutar
bola matanya kesal kemudian menghadap Cakka malas. “Apa lagi sih Tuan Arkka
Mahesa?.”
“Mulai saat ini
kalo mau masuk kamar Agni ketuk pintu dulu.”
Shilla berdecak.
“Itu doang? Gak penting banget sih. Lagian emang siapa yang mau liat lagi
kegiatan mesum kalian?. Ogah!.”
“Bagus. Sana
pergi.”
Shilla mendengus
kesal. “Nyebelin banget sih cowok loe Ni.” Setelah mengatakan itu Shilla
beranjak, karena ia tahu tak akan pernah ada tanggapan dari Agni yang sedang
konsentrasi pada makanannya.
“Kka...” Agni meletakkan
alat makannya. Ia menghadap Cakka dengan melipat kedua tangan di atas meja. “Aku
gak mau temen kamu nyakitin Shilla, aku gak tau temen kamu kayak apa, tapi yang
jelas aku gak mau temen kamu nyakitin Shilla, aku gak bakalan segan-segan buat
perhitungan sama dia.”
Cakka berdehem,
ia menatap Agni dengan tersenyum, “Iya sayang, Gabriel baik kok. Dia malah gak
pernah pacaran.” Ia tersenyum. “Oiya, kamu gak kenal sama Gabriel? Kamu sama
dia kan satu Universitas.”
Agni mengangkat
bahu acuh, “Satu-satunya temen kamu yang aku kenal ya cuma Rio. lagian aku gak
pernah kenal sama temen-temennya Rio.”
Rio Rio Rio dan Rio...
kenapa sih harus Rio? kalo gak Rio ya Harry! Oh God!. Sebegitu susah move on
nya cewek gue. “Oh. Yaudahlah gak usah dibahas.”
Lagi-lagi Agni hanya
mengangkat bahu acuh, ia tidak menyadari aura perubahan dari Cakka setelah Agni
entah dengan sengaja atau tidak telah menyebutkan nama mantannya itu. apakah
memang saking cueknya Agni atau Agni memang tidak peduli? Entahlah yang tahu
hanyalah dirinya dan Tuhan.
“Anggita
Mahardika terpergok sebuah kamera keluar dari sebuah gedung yang sama dengan Harry
Style, apakah ini kebetulan ataukah memang mereka janjian? Tepat di hari itu
ternyata dikabarkan Promotor cantik yang akrab disapa Agni ini adalah hari
jadinya yang ke-25. Apakah Harry datang sengaja untuk menemui Agni? Dan apakah
rumor dahulu yang mengabarkan mereka memiliki hubungan khusus benar adanya?.”
Agni menghela
nafas lelah saat tanpa sengaja mendengar berita itu dari arah dapur tempat
dimana para pengurus rumah berdiam diri. Kenapa gue gak sadar ada wartawan sih?
Ck! Masalah lagi!.
“Berikut adalah
pengakuan langsung dari Harry Style sebelum keberangkatannya kembali kenegara
asalnya eksklusif hanya untuk anda.”
“Saya memang
pernah memiliki hubungan dengan dia tapi sekarang sudah berakhir karena dia
telah memiliki kekasih. Terimakasih.”
“Sukurlah kalo
dia sadar.” Cakka beranjak dari tempat itu. “Kehalaman belakang yuk.”
Agni menghela
nafas panjang. Untunglah Cakka gak marah lagi, hhh... “Iya.”
***
Agni dan Cakka duduk
berdampingan dengan kesibukan masing-masing. Agni yang sibuk dengan gadget-nya
karena ada beberapa kiriman yang memberikan kritikan-kritikan tentang dirinya
yang pernah menjalin hubungan dengan Harry. Setali tiga uang dengan Agni, Cakka
pun disibukan dengan ponselnya, bukannya sibuk tapi dia menyibukkan diri karena
di acuhkan oleh Agni.
Cakka menatap Agni
yang sesekali mendengus kesal, mengerutkan kening dan terkekeh kecil. “Ni.”
Agni tak
bergeming.
“Ni.”
“Ya.”
“Agni.”
Agni menghela
nafas kemudian menghadap ke arah Cakka. “Kenapa sih?.”
“Jalan yuk. Tapi
gadget-nya simpen.”
Agni tersenyum
kecil, ia mengerti kenapa Cakka memintanya seperti itu. Cakka Cakka... lucu
banget deh, aku gak pernah nemu cowok kayak kamu. “Yaudah yuk.”
Cakka tersenyum
senang kemudian ia menggamit lengan Agni dengan sayang. Sementara Agni hanya
bisa menahan senyumannya, tidak mungkinkan ia ketawa? Gengsi sekali.
Keduanya bercengkerama
dengan akrab seolah masalah dihari kemarin, Agni pun tak ada rasa gengsi lagi
untuk tertawa lepas menanggapi candaan dari Cakka.
“Nih ya Ni, kalo
manusia jaman sekarang hasil evolusi dari monyet, kera atau apalah itu, monyet
sekarang kapan evolusinya? Kapan jadi manusianya?.”
Agni terkekeh. “Ih
ada-ada aja kamu Kka. Tapi kenapa coba adda kemiripan antara manusia sama
kera?.”
Cakka nampak
berpikir. “Menurut kamu?.”
“Ya karena satu
Familly tapi beda spesies.”
“Cie yang
sekeluarga sama kera... Haha... hihh takut entar nyakar lagi.”
Agni menepuk
pundak Cakka kesal. “Ih apaan sih kamu...”
Agni diam saat Cakka
masih terkekeh, saat ia menyadari mobil yang dikendarakan Cakka memasuki
kawasan apartemen mewah Agni mengerutkan keningnya.
“Mau ke
apartemen siapa Kka?.”
Cakka mengerlingkan
wajahnya menggoda ke arah Agni. “Kita check in sayang.”
Agni bergidik
ngeri, ia menatap Cakka takut. “Ih apaan sih kamu. gak usah becanda deh.”
Cakka semakin
tertawa melihat wajah Agni yang ketakutan. “Enggak sayang. Udahlah ikut aja
dulu entar juga tahu.”
“Awas aja kalo
macem-macem.”
Cakka tersenyum
kecil mendengar ancaman dari Agni yang samar-samar terdengar olehnya.
Cakka merangkul
pundak Agni sementara Agni merangkul pinggang Cakka, keduanya masih saja saling
bergurau dan menggoda. Hingga sampailah mereka di depan sebuah pintu. Cakka mengetuk
pintunya. Tak ada jawaban. Sekali lagi ia mengetuknya. Tak ada tanggapan. Tanpa
basa-basi ia menekan rangkaian angka pembuka pintu itu.
Agni mengerutkan
keningnya, heran. Apartemen siapa lagi ini? ia digiring memasuki apartemen itu
oleh Cakka.
“Maen masuk aja
loe Kka... Eh... Git-.”
Agni menarik
ujung kaus Cakka. “Ri-Rio?.”
Rio tersenyum
kaku, ia menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Masuk deh. Ada yang lain kok di
dalem.” Rio berjalan di depan sementara Cakka dan Agni masih diam di tempat.
Agni mendelik ke
arah Cakka. “Kejutan kamu mantan aku semua ya... sengaja?. Ngebetein banget
sih.”
Cakka tersenyum
kemudian memeluk Agni dari belakang. “Yang kemaren aku gak tau, maaf. Dan yang
sekarang gapapakan? Lagian Rio temen aku juga, dan yang lain juga ada disini,
bukan cuma dia.”
Agni menghela
nafas. “Yaudah deh, Shilla juga ada kan?.”
Cakka tersenyum,
“Ada. Yuk”
Cakka merengkuh
pinggang Agni untuk menghadap teman-temannya. Apartemen milik Rio ini memang
apartemen terluas dari apartemen-apartemen yang lain, pasalnya Rio jarang
pulang ke rumahnya dan lebih betah di apartemen ini.
“Hai.”
Semua orang yang
berada disana mengalihkan pandangan pada Cakka dan Agni yang seperti pasangan
serasi pada umumnya.
“Bawa siapa nih?
Kok jadi nambah gini?.” Tanya Cakka belaga tidak tahu.
Alvin memutar
bola matanya sebal akan tingkah Cakka. “Ini Princess nya Alvin.”
Wanita disamping
Alvin melambaikan tangan. “Hai salam kenal, aku Ify.”
“Hallo, aku Agni.”
“Ini Princess
nya Gabriel.”
Wanita yang di
samping Gabriel memutar bola matanya kesal. “Gak usah lebay deh, emang siapa
yang mau jadi Princess nya Gabriel? Lagian kita udah kenal kok. Lebay banget
ih.”
Cakka dan Agni terkekeh
melihat Gabriel yang dimarahi oleh Shilla, apalagi melihat ekspresi nya yang
menyiratkan rasa dongkol yang teramat sangat.
“Yang itu siapa
Yo? Kok gak cerita-cerita sih punya gebetan baru?.”
“Gebetan tinggal
serumah Kka. Coba aja tadi gue gak buru-buru kesini. Pasti udah ada kegiatan
yang luar biasa ditempat ini.”
“Wah apaan Gab?.”
Agni tersenyum
sinis. “Well biar gue tebak. Kalo gak lagi ciuman... ya tingkah mesum yang
lainnya.”
Wajah Rio memucat.
Ia mengalihkan pandangannya pada Agni yang menatapnya dengan pandangan begitu
sinis namun sarat akan kesakitan masa lalunya. Maaf... kenapa sih kamu masih inget
itu?
Agni menatap
puas wajah Rio, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada wanita yang duduk di
samping Ify dengan menundukan kepalanya.
“Hai gue Agni.” Mantannya
Rio, lanjut Agni dalam hati. “Salam kenal ya...” ia tersenyum begitu
bersahabat.
“Hai juga... gue
Sivia. Salam kenal juga ya...”
Cakka merangkul
pundak Agni dan berbisik dengan agak keras. “Sayang... kamu buat Rio sama Sivia
takut.”
Agni melirik Cakka
dengan manja, “Emang kamu gak takut sama aku?.”
“Hm-ya...” Cakka
memamerkan giginya. Ia mengecup kilat pipi Agni. “Anda penasaran?.”
“Sama saya juga.”
Seru Gabriel dan Alvin kemudian di iringi dengan gelak tawa.
“Cakka... ihh
kamu malu-maluin.” Agni menghujani Cakka dengan cubitan-cubitannya, membuat Cakka
berlari untuk menghindarinya.
“Berhenti Cakka!.”
“Ampun sayang. Udah
dong udah...”
Agni meraih
bagian belakang baju Cakka kemudian menariknya, “Kena ya... awas aja ya.”
Cakka berbalik
kemudian dengan cepat memeluk Agni. “Aku emang takut... takut kehilangan kamu.
takut kehilangan semuanya tentang kamu.” Cakka mengecup puncak kepala Agni.
Agni tersenyum
tipis mendengar penuturan itu, kemudian membalas pelukan Cakka. Buat aku sayang
sama kamu ya... aku yakin kamu bisa.
***
Bersambung.
Ditulis, Rabu 15 Januari 2014
Penulis, Nenden Siti Sopiah
No comments:
Post a Comment