#5
Agni kembali pada aktifitas
biasanya, melalui hari-hari dengan pekerjaan dan beberapa masalah yang sekarang
selalu di dampingi Cakka. Setiap hari Cakka akan menyempatkan datang ke rumah
Agni meski untuk bertemu beberapa menit saja karena dia juga sibuk dengan
pekerjaannya.
Cakka yang biasanya menjalin
hubungan tak kurang dari satu minggu kali ini sudah 1 minggu 2 hari. Ia merasa
tak terbebani dengan Agni, Agni begitu mengertinya, tidak pernah menuntut apapun.
“Ni.” Cakka masuk kedalam apartemen
Agni.
“Duduk Kka... kalo mau minum ambil
aja aku masak dulu.”
Cakka tersenyum. Aku bersyukur walaupun kamu sibuk kerja tapi
kamu masih bisa masak. Mentingin masak... aku beruntung dapetin kamu. Cakka
menutup matanya sejenak dengan senyuman yang tak pudar. Thanks Ayah, Bunda. Pilihan kalian emang gak pernah salah.
“Ngantuk Kka? Tidur aja di kamar.
Aku kebawah dulu mau nyari bahan makanan yang kurang.”
“Aku anter.”
“Gak usah. Aku bukan anak kecil.”
Cakka menghela nafas setelah Agni
pergi meninggalkan apartemennya, meskipun Agni berbaik hati padanya tapi sikap
cuek dan juteknya tak pernah hilang dari gaya ucapan Agni. Sebenarnya apa yang
dirasakan Agni padanya? Apa benar Agni belum bisa menerimanya?
Cakka memicingkan mata saat melihat
sebuah foto di meja di kamar Agni. Siapa
ini? kayaknya gue pernah liat. Ia mengambil frame itu dan memandanginya. Ini... oh iya, One Direction. Cakka
tersenyum, “Jadi Agni ngefans sama One Direction?.”
***
Agni memasukan beberapa keperluannya
kedalam troli yang ia dorong. Saat ia mengambil sebuah minuman yang hanya
tersisa satu, sebuah tangan lain mengambil minuman itu. ia berbalik melihat
orang itu.
“Gita...”
“Ri-Rio?.” Agni mengerjapkan
matanya. “Permisi.” Agni segera berjalan cepat meninggalkan pria itu. Ia tak
ingin melihat pria itu lagi, ia tak ingin mengenalnya lagi, ia tak ingin
pertahanan yang selama ini dia bangun kembali runtuh begitu saja. Kenapa? Sedang apa Rio disini? Tuhan...
kenapa engkau mempertemukan aku dengannya lagi? Saat Agni berbalik untuk
memastikan Rio tak mengejarnya ternyata ada seorang wanita yang bergelayut
begitu manja di lengan kanannya. Agni tersenyum masam, kamu emang gak pernah berubah!.
Agni memasuki apartemennya dengan
malas, hasrat ingin makannya telah menguap begitu saja bersamaan dengan
pertemuannya dengan pria itu. tapi kasian
Cakka, dia pasti belum makan malem. Agni menghela nafas.
“Kka... Cakka... Arkka Mahesa.”
Agni mendengus kesal. Kemana sih dia?. Ia memasuki kamarnya,
lalu tersenyum kecil saat melihat Cakka yang tengah tertidur. Ia berjalan
kemudian menarik selimut untuk Cakka. Ia memandangi wajah Cakka. Aku tau Kka kamu baik. Kamu juga gak
aneh-aneh lagi, kamu buat aku nyaman, kamu sabar banget ngadepin aku.
“Aku ganteng ya sayang? Aku tau kok,
kamu sampe belum ngedip.”
Agni memutar bola matanya, “Mandi
gih.”
Saat Agni hendak beranjak Cakka
menarik pinggang Agni hingga kekasihnya itu merebah didadanya. “Kamu mau kado
apa? Aku bingung gak pernah ngasih kado.”
Agni menumpukan tangannya di dada Cakka.
“Aku gak mau apa-apa. Lepas.”
Cakka tersenyum menggoda, bukannya
menuruti permintaan Agni ia malah mempererat pelukannya. “Kita jarang-jarang
deket kayak gini.”
Agni menghela nafas, ia menatap
Cakka dengan malas. Sebenarnya apa sih
mau dia?. Cakka menarik leher Agni, menekannya untuk mendekat. “Kka aku
harus masak.” Dengan cepat Agni berdiri menghindar dengan sekuat tenaga. Ini salah. Ini gak boleh.
“Ni.”
Agni berhenti di ambang pintu. “Kamu
kenapa sih Ni?.”
“Aku gak bisa.”
Agni berjalan cepat ke arah dapur.
Ia tak ingin harinya bertambah buruk dengan marahan dengan Cakka.
***
PRANG!
Cakka terbangun saat mendengar
suara pecahan itu. ia beranjak dari sofa tempat ia tidur itu kemudian berlari
ke arah dapur. Setelah sampai, dilihatnya Agni sedang merapihkan pecahan yang
ia perkirakan pecahan sebuah gelas.
“Kamu kenapa?”
“Biar aku beresin, kamu duduk aja
sarapan udah siap.”
Cakka menghela nafas lalu menurut
untuk duduk di meja makan. Kamu kenapa
sih Ni? Kenapa kamu jadi ceroboh? Kapan kamu mau cerita sama aku?. Dari
malam mereka memang tidak terlibat percakapan sedikitpun, setelah makan malam
Agni lebih memilih langsung memasuki kamar daripada harus berbincang dengan
Cakka. Cakka menahan tangan Agni yang sedang menuangkan nasi ke atas piringnya.
“Aku minta maaf, aku tau aku salah,
gak seharusnya aku kayak gitu sama kamu. maaf... makasih juga buat selimutnya.”
Agni menarik tangannya kemudian
kembali pada aktifitasnya. “Gapapa.”
Mereka menikmati sarapannya dengan
diam, Agni sama sekali tak melirik ke arah Cakka. Sementara Cakka tak
henti-hentinya menatap Agni, dan berusaha mengidentifikasi apa yang kekasihnya
itu rasakan.
“Bunda mau ketemu sama kamu di
rumah.”
“Kapan?.”
“Pagi ini.”
Cakka menghela nafas panjang.
Persaannya menjadi tak tenang, sepertinya ada sesuatu yang akan memberatkannya,
tapi entah apa. Ia kembali teringat percakapan dengan Nirina tadi malam.
“Apa
yang kamu lakukan di apartemen Agni? Apa yang kalian lakukan? Cakka! Kalian
belum menikah!.”
“Cakka
gak ngapa-ngapain Bunda.”
“Tetep
aja. Kalian belum menikah. Kalian gak bisa tinggal satu atap. Pulang!.”
“Bunda.
Agni sendiri disini. Cakka gak bisa ninggalin Agni.”
“Terserah
kamu, besok bawa Agni kerumah.”
“I-ya.”
Agni menatap Cakka yang terlihat
melamun setelah percakapan singkat itu. saat ia akan buka suara ia kembali
mengurungkan, gue gak boleh ikut campur
tentang masalah pribadi dia. Gak!.
***
“Bunda.”
Agni tersenyum kemudian memeluk
calon mertuanya itu. Nirina membalas pelukan itu dengan suka cita.
“Sayang kamu baik-baikkan?.” Nirina
melirik Cakka dengan marah. “Kamu gak di apa-apainkan sama Cakka?.”
Agni terkekeh, ia melirik Cakka
sekilas. “Enggak Bunda, Cakka gak ngapa-ngapain kok. Cakka jagain Agni malah.”
Nirina menggiring Agni untuk duduk
di sofa ruang keluarganya, sementara Cakka beranjak ke kamarnya.
“Kamu gak bohongkan sayang sama
Bunda? Kalo Cakka berani macem-macem sama kamu, kamu cerita aja sama Bunda,
biar Bunda hukum dia.” Nirina mengelus rambut Agni dengan sayang.
“Siap Boss. Ayah kemana Bun? Pagi-pagi
gini udah berangkat kerja?.”
“Ayah lagi joging. Katanya biar
awet muda. Haha... padahal udah mau cucu masih aja pengen muda.”
Agni tersenyum sekilas lalu menatap
Nirina menggoda.“Biarin aja Bunda kan biar Bunda makin cinta.”
“Bisa aja kamu.”
Sementara di sudut lain Cakka
tersenyum melihat ke akraban Ibu-nya dengan Kekasih-nya itu. Telah lama ia
mendambakan suasana seperti ini dan akhirnya terkabul, walau belum sempurna.
Ponselnya tiba-tiba berdering menandakan sebuah pesan masuk.
“Kka... turun sini, ngapain
disana?.”
Cakka mengangguk dengan tangan yang
mengotak-atik ponselnya. Membaca pesan tersebut.
Rio.
Di
tunggu 15 menit lagi di cafe biasa.
“Sayang aku jalan dulu sama
temen-temen. Kamu sama Bunda dulu ya.”
“Cakka! Kamu itu jalan sendiri
kayak yang masih lajang aja.”
Agni tersenyum. “Gapapa Bunda,
yaudah Kka hati-hati ya dijalannya.”
Cakka tersenyum kemudian mengecup
pipi Nirina sekilas kemudian beralih pada Agni ia mengecup puncak kepala Agni
lalu mengacak-acaknya. “Jangan nakal ya, nanti aku juga kesini lagi. Aku jalan
gak lama.”
Agni mengangguk samar, “Kamu yang
jangan nakal.”
“Gak akan. Yaudah aku pergi ya”
“Hati-hati.”
Agni tersenyum saat Cakka
mengacungkan jempolnya. “Bunda...”
“Iya sayang, kenapa?.”
“Temennya Cakka cowok semua?.”
Nirina tersenyum, ia paham dengan
hubungan seperti itu. ia juga merasakannya, dulu. Saat ia juga di jodohkan
dengan suaminya. “Cakka gak punya temen perempuan. Dari kecil Cakka cuma punya
temen 3 orang. SD sampai SMA mereka bareng, pas kuliah Cakka diluar negeri yang
lainnya disini. Tapi ya dasarnya emang sahabat kecil, ya sekarang mereka
bareng-bareng lagi. Jomblo semua lagi.”
Agni terdiam, berfikir. “Bunda, apa
Cakka playboy?.”
Nirina mengelus rambut Agni.
“Memangnya kenapa sayang? Kamu liat ya Cakka maen sama perempuan?.”
Agni menghela nafas lalu
mengangguk. “Pagi setelah malam itu Agni liat Cakka pelukan sama perempuan.”
Agni menghela nafas ia menatap Nirina. “Dikantornya Bunda.”
Nirina terlihat mengurut
pelipisnya. Bisa-bisanya Cakka...
“Maafin Cakka ya, baru juga kenal udah nyakitin kamu.”
Agni tersenyum, “Gapapa Bunda,
jangan kasih tau Cakka ya? jangan marahin Cakka. Cakka udah janji gak gitu lagi
kok. Ya Bunda ya...” Agni memasang wajah manisnya di depan Nirina yang sukses
membuat Nirina tersenyum dan mengangguk, lalu ia memeluk calon menantunya itu.
Kamu
emang perempuan baik. Kita gak salah milih kamu. “Bunda sayang banget sama kamu.”
Agni tersenyum saat merasakan
elusan di punggungnya, “Agni juga sayang sama Bunda.”
***
“Woy bro.”
“Wih yang udah malem jumatan telat,
ngapain aja loe semalem nyampe nginep di apartemennya?.”
Cakka tersenyum misterius, ia
menatap Alvin yang menggodanya. “Emang loe kagak? Oh iya lupa, loe kan cuma
nongkrongin di depan rumahnya.”
“Sialan loe.”
“Semalem gue ketemu sama mantan
gue.”
“Yang mana Yo?”
“Gita Gab.”
“Kok gue baru tau loe punya mantan
namanya Gita?”
Rio berbalik ke arah Cakka yang
memang tak mengenal orang yang ia maksud. “Mantan gue pas kuliah. Gue ngerasa
bersalah banget sama dia. Gue sia-siain dia, padahal dulu gue sakit dia yang
rawat, gue ada masalah dia bantu nyelesain. Dia dewasa, dia pengertian banget, meskipun
kenyataannya dia ternyata 4 tahun lebih muda dari gue.”
“Gini lho Kka. Cewek itu tadinya
aksel jadi pas kuliahnya ya sekitaran 16 apa 17 tahun lah. Rio itu ketipu sama
kedewasaannya, waktu dia tau kenyataannya, dia malah nyerong karena kecewa
ceweknya ternyata masih kecil. Padahal saat itu Rio udah renca ngelamar dia
setelah Rio wisuda, tapi ya gak mungkinkan ada yang mau nikah di usia sekecil
itu. Tapi Rio juga salah, kenapa gak nanya dari awal.”
Cakka mengangguk-anggukan kepalanya
mulai mengerti.
“Sekarang gue sadar, kalo ternyata
cinta itu gak mandang umur. Gue nyesel kenapa gue gak tungguin dia aja, gue
nyesel banget karena sampe sekarang gue belum pernah nemuin cewek kayak dia
lagi.”
Cakka menepuk pundak Rio. “Sabar
aja. Toh kalo emang jodoh gak kemanakan? Kayak gue, gue mau sama dia eh
ternyata yang dijodohin sama gue itu dia.”
“Oiya Kka... ngomong-ngomong, Siapa tunangan
loe?.”
Cakka beralih menatap Gabriel. “Agni.”
“Agni? Nama lengkapnya?”
“Anggita Mahardika.”
“WHAT?!”
Cakka menatap tiga sahabatnya yang
terlihat aneh itu. “Kenapa? Emangnya segitu aneh ya tunangan gue?”
Rio menghela nafas sambil
menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Sementara Gabriel dan Alvin hanya
saling berpandangan.
“Anggita Mahardika itu Gita, mantan
gue.”
Cakka terdiam sejenak. “Oh gitu?.”
“Tapi tenang aja, gue gak bakalan
rebut dia kok. Loe kan sahabat gue.”
Cakka terkekeh. “Gue tau itu.”
“Gue harap loe gak ngelakuin apa
yang gue lakuin kedia Kka. Loe bakalan nyesel banget kalo itu terjadi.”
Cakka menghela nafas. Ingatannya
kembali pada kebersamaan-kebersamaannya dengan Agni. Meskipun dia jutek, cuek
dan terkadang acuh tak acuh tapi dia memang care, perhatian, lebut, dan satu hal
yang membuat ia terkesan, yaitu rajin. “Gue gak akan lakuin itu. Gue gak mau
kehilangan dia. Dia milik gue. Cuma milik gue.”
“Gue juga punya gebetan lho.”
Gabriel berseru untuk memecah suasana kaku itu. Membuat teman-temannya
mengalihkan pandangan padanya.
***
“Sayang.”
“Hm.”
“Ni.”
“Ya Kka?.”
“Liat aku.”
Agni menghela nafas lalu menyimpan
ponselnya, ia memang ada pekerjaan dadakan yang harus segera diselesaikan. Tapi
entah kenapa sepulang dari hangout bareng temen-temennya Cakka menjadi manja
dan terus menganggunya, padahal biasanya tidak seperti itu.
“Kenapa sih?.”
Cakka menghela nafas, ia mengelus
pipi Agni sementara sebelah tangannya memeluk pinggang Agni. “Kamu punya mantan
namanya Rio?.”
Rio?
Jangan-jangan Cakka liat aku sama dia waktu aku berbelanja. Agni menetralkan air wajahnya. “Iya. Memangnya ada
apa?”
Cakka tersenyum, “Kalo dia mau
minta maaf sama kamu, apa yang mau kamu lakuin?”
“Aku gak tau. Kamu kenal gitu sama
dia?.”
Cakka tersenyum masam. “Dia sahabat
aku. dia nyesel banget nyakitin kamu.”
Agni terdiam. “Aku gak tau Kka...
aku...”
Cakka menempelkan dahinya di dahi
Agni. “Yaudah gak usah di pikirin, yang jelas aku gak akan pernah ngulangin
apapun yang di lakuin Rio ke kamu. kamu juga jangan ninggalin aku. kamu harus
ingat, kamu cuma milik aku dan aku cuma milik kamu. aku dan kamu selamanya akan
menjadi kita.”
Agni tersenyum, kemudian
mengalihkan pandangannya menghindari tatapan tajam Cakka. Sementara Cakka hanya
bisa menghela nafas, ia tak pernah sekalipun diberikan kesempatan oleh Agni.
Tapi itu tak masalah baginya. Cakka tersenyum misterius, tunggu kejutan dari aku sayang. Kamu pasti suka.
***
Sabtu ini tepat hari ulang tahun
Agni. Tak ada ucapan selamat dari Cakka di tengah malam, tak ada juga kado
spesial yang tiba-tiba ada di kamar atau di postkan. Sepertinya Agni tak bisa
berharap lebih dari pria itu. nyebelin!.
“Happy Birtday sayang...”
“Semoga panjang umur ya...”
Agni tersenyum kemudian memeluk orangtuanya
bergantian. “Makasih Mom, Dad.”
“Agni selamat ulang tahun...
panjang umur ya semua do’a terbaik cuma buat loe.”
“Thanks Shill.” Agni dan Shilla
berpelukan.
Tanpa ada niat berbicara lagi Agni
langsung duduk di kursinya, ia malas sekali di hari jadinya ini. bagaimana
tidak? Cakka yang selalu bertanya mau kado apa ternyata mengucapkan sekedar
selamat ulang tahun saja tidak. Sebenernya apa coba yang dia rencanakan? Cuma
mau PHP aja? Egh... Cakka nyebelin ihh!
“Agni, kenapa? Kok cemberut sih?
Apa lagi ada masalah?.”
Ingin sekali Agni berteriak, gue kesel sama Cakka!!! Tapi sayangnya
rasa gengsi dia lebih besar daripada rasa kesalnya. Agni tersenyum “Gapapa kok
Mom.”
Ponsel Agni berdering sebuah pesan
masuk.
Kka.
Aku
jemput kamu jam 10, dandan yang cantik ya sayang :*
Tanpa sadar Agni menarik ujung
bibirnya.
“Ciee Agni.”
Agni tersipu malu, “Apaan sih loe?”
Shilla terkekeh melihat tingkah
Agni, begitupun dengan orangtua Agni.
“Udah ah mendingan tidur di kamar.
Daripada di godain terus.” Agni berucap sambil beranjak dengan menahan malu
karena tingkahnya sendiri.
“Mau tidur atau mau siap-siap buat
ngedate.”
Agni berbalik kemudian menjulurkan
lidahnya kesal, membuat Shilla semakin tergelak melihatnya.
***
Jam 10 tepat Cakka sudah berada di
depan kamarnya. Agni mendengus kesal. Seenaknya aja! Kayak tuan rumah aja.
“Udah siap?.”
“Menurut kamu?.”
Agni merapihkan cardigannya, ia
berkaca sekali lagi memastikan penampilannya tidak aneh. Emangnya siapa coba
yang mau terlihat aneh di depan pacar? Ya... walaupun belum ada rasa apapun,
gak salah bukan ingin berpenampilan perfect?.
Cakka terkekeh, “Udah deh gak usah
marah gitu. Yuk jalan.”
“Idih siapa yang marah? Sok tau
banget.” Cakka semakin terkekeh mendengar Agni yang ngedumel di belakangnya.
Cakka tersenyum melihat Agni yang
duduk di sampingnya dengan wajah yang masih di tekuk. Agni melihat Cakka dengan
sudut matanya, senyum-senyum lagi, gak
sadar salah banget. Apa emang gak ngerasa salah? Salah banget gue nilai dia
care sama gue.
Cakka mendekatkan diri pada Agni.
Ia memegang pundak Agni agar tidak bersandar. Agni mengerjapkan matanya saat
melihat Cakka mendekat, ia bersiap untuk keluar jika Cakka macam-macam.
“Happy Birtday sayang.” Agni meraba
lehernya yang terasa aneh. Cakka menjauh kemudian tersenyum. “Kamu suka?.”
Dalam hati Agni tersenyum penuh,
namun pada kenyataanya ia hanya tersenyum tipis. “Thanks ya.” Kalung yang
bertuliskan inisial namanya dan Cakka terpatri dan dibuat begitu apik. Aku suka banget Kka... makasih banget. Kamu
emang tau banget selera wanita...
“Kata Mommy katanya kamu tadi pagi
bete banget, kenapa ayo...” Cakka tersenyum jahil pada Agni.
“Ih siapa coba yang bete? Mommy sok
tau aja. Gak. Gue gak pernah bete tuh. Biasa aja.”
Cakka mengerlingkan matanya
menggoda, “Kalo enggak, kenapa sewot banget?”
“Siapa yang sewot? Ih sok tau
banget.”
Tawa Cakka akhirnya lepas. Membuat
Agni semakin jengkel. Emang gue badut
diketawain? Awas aja loe, gue cuekin baru tau rasa!.
“Sayang... kamu marah.” Cakka
melirik Agni. “Marah ya Ni?.”
“Maaf maaf, aku gak ketawa lagi
deh, beneran.”
Agni menghela nafas kemudian
melipat kedua tangannya di dada. “Oke. Eh... kenapa ke apartemen kamu?
Ngapain?”
Cakka tersenyum misterius, ia
mengerlingkan matanya nakal. “Kejutan selanjutnya sayang.” Ia mengeluarkan
sebuah kain hitam lalu menutup mata Agni.
“Cakka! Apa-apaan sih? Buka gak?.”
“Stt... ini kejutan sayang.”
Cakka menggandeng Agni berjalan,
tak henti-hentinya Agni merengek ingin pulang, entah kenapa ia merasakan sebuah
firasat buruk akan datang. Namun Cakka tak mengindahkannya hingga mereka sampai
di dalam apartemen Cakka.
“Buka gak?.”
Agni mengerjapkan matanya yang buram.
“Ada apa sih?.” Ia menatap Cakka jengkel.
Cakka hanya tersenyum kemudian
membalikan badan Agni menghadap kursi. Agni diam.
“Agni? Kamu baik-baik saja?.”
Agni mengangguk kecil lalu menghela
nafas sekali lagi kemudian melebarkan senyumannya. “Nial, Liam, Louis, Zayn...
Ha-Harry?.” Wajah Agni seketika berubah menjadi tegang.
“Aku...” Agni menatap Cakka
memohon. “Aku mau pulang.”
“Kamu gak suka? Bukannya...”
“Pulang Kka! Sekarang!.”
Agni emosi, ia menubruk tubuh Cakka
kemudian berlari meninggalkan tempat itu. Kenapa
sih? Kenapa ini kejutannya? Sebenernya apa sih yang dia pikirin? Argh...
Sebuah tangan menghentak tangan
Agni hingga Agni terjatuh di pelukannya. Dia memeluk erat Agni, enggan
melepaskannya lagi.
“Thanks kamu berhasi buat kejutan,
aku sangat terkejut dan kalau aku punya penyakit jantung aku yakin saat ini aku
sudah mati!.”
“Agni...”
Agni tersentak, ini bukan Cakka.
Bukan Cakka yang memeluknya. “H-Harry?.”
“Agni. Please diam.”
“Lepas!!!.”
“Aku lepas kalau kamu mau diam.”
“OKE!!! Aku diam.”
Harry mengurai pelukannya. Ia
menatap Agni yang menatapnya dengan mata yang sudah memerah.
“Kamu kenapa? Aku salah apa? Kenapa
kamu putusin aku gitu aja tanpa sebab yang jelas? kenapa? Aku butuh kepastian
kamu.”
Agni tersenyum pahit, “Kamu bilang
kamu salah apa? Gak sadar hah? Kamu pikir aku gak tau kamu jauh disana ngapain
aja? Kamu pikir aku bodoh? Siapa yang gak sakit hati liat kekasihnya ciuman di
depan umum? Bahkan diliat jutaan orang! Kamu pikir aku batu yang gak bisa sakit
hati? Aku tau! Aku orang biasa dan kamu superstar! Aku tau kehidupan disini dan
disana berbeda!. Aku tau kalo kamu gak cinta sama aku! gak sayang sama aku! AKU
TAU ITU SEMUA!.”
“Agni...” Harry merengkuh Agni
kedalam pelukannya. “Maaf, maaf...”
Agni melepaskan dirinya dari
pelukan itu. “Aku udah maafin.” Agni kembali ditarik mendekat. Harry
memiringkan wajahnya menggapai bibir merah muda itu yang begitu ia rindukan.
Waktu terasa berhenti, Cakka
mematung tak tau apa yang harus ia lakukan. Kini dihadapannya terlihat jelas
sebuah kenyataan yang begitu menyayat hatinya. Haruskah ia pergi demi
kebahagiaan kekasihnya itu? Cakka memejamkan matanya sejenak, berharap itu
hanya ilusi. Saat ia membuka mata dihadapannya telah berdiri Agni dengan mata
yang masih memerah. Kemudian ia menundukkan wajahnya dalam.
“Kka...”
***
Bersambung.
Ditulis,
06 Januari 2014
Penulis,
Nenden Siti Sopiah.
No comments:
Post a Comment