Monday, 6 January 2014

Prince’s Tale Series 1: She is My Cinderella

#5

Agni kembali pada aktifitas biasanya, melalui hari-hari dengan pekerjaan dan beberapa masalah yang sekarang selalu di dampingi Cakka. Setiap hari Cakka akan menyempatkan datang ke rumah Agni meski untuk bertemu beberapa menit saja karena dia juga sibuk dengan pekerjaannya.
Cakka yang biasanya menjalin hubungan tak kurang dari satu minggu kali ini sudah 1 minggu 2 hari. Ia merasa tak terbebani dengan Agni, Agni begitu mengertinya, tidak pernah menuntut apapun.
“Ni.” Cakka masuk kedalam apartemen Agni.
“Duduk Kka... kalo mau minum ambil aja aku masak dulu.”

Cakka tersenyum. Aku bersyukur walaupun kamu sibuk kerja tapi kamu masih bisa masak. Mentingin masak... aku beruntung dapetin kamu. Cakka menutup matanya sejenak dengan senyuman yang tak pudar. Thanks Ayah, Bunda. Pilihan kalian emang gak pernah salah.


“Ngantuk Kka? Tidur aja di kamar. Aku kebawah dulu mau nyari bahan makanan yang kurang.”
“Aku anter.”
“Gak usah. Aku bukan anak kecil.”

Cakka menghela nafas setelah Agni pergi meninggalkan apartemennya, meskipun Agni berbaik hati padanya tapi sikap cuek dan juteknya tak pernah hilang dari gaya ucapan Agni. Sebenarnya apa yang dirasakan Agni padanya? Apa benar Agni belum bisa menerimanya?
Cakka memicingkan mata saat melihat sebuah foto di meja di kamar Agni. Siapa ini? kayaknya gue pernah liat. Ia mengambil frame itu dan memandanginya. Ini... oh iya, One Direction. Cakka tersenyum, “Jadi Agni ngefans sama One Direction?.”

***

Agni memasukan beberapa keperluannya kedalam troli yang ia dorong. Saat ia mengambil sebuah minuman yang hanya tersisa satu, sebuah tangan lain mengambil minuman itu. ia berbalik melihat orang itu.

“Gita...”
“Ri-Rio?.” Agni mengerjapkan matanya. “Permisi.” Agni segera berjalan cepat meninggalkan pria itu. Ia tak ingin melihat pria itu lagi, ia tak ingin mengenalnya lagi, ia tak ingin pertahanan yang selama ini dia bangun kembali runtuh begitu saja. Kenapa? Sedang apa Rio disini? Tuhan... kenapa engkau mempertemukan aku dengannya lagi? Saat Agni berbalik untuk memastikan Rio tak mengejarnya ternyata ada seorang wanita yang bergelayut begitu manja di lengan kanannya. Agni tersenyum masam, kamu emang gak pernah berubah!.

Agni memasuki apartemennya dengan malas, hasrat ingin makannya telah menguap begitu saja bersamaan dengan pertemuannya dengan pria itu. tapi kasian Cakka, dia pasti belum makan malem. Agni menghela nafas.
“Kka... Cakka... Arkka Mahesa.”

Agni mendengus kesal. Kemana sih dia?. Ia memasuki kamarnya, lalu tersenyum kecil saat melihat Cakka yang tengah tertidur. Ia berjalan kemudian menarik selimut untuk Cakka. Ia memandangi wajah Cakka. Aku tau Kka kamu baik. Kamu juga gak aneh-aneh lagi, kamu buat aku nyaman, kamu sabar banget ngadepin aku.

“Aku ganteng ya sayang? Aku tau kok, kamu sampe belum ngedip.”
Agni memutar bola matanya, “Mandi gih.”
Saat Agni hendak beranjak Cakka menarik pinggang Agni hingga kekasihnya itu merebah didadanya. “Kamu mau kado apa? Aku bingung gak pernah ngasih kado.”
Agni menumpukan tangannya di dada Cakka. “Aku gak mau apa-apa. Lepas.”

Cakka tersenyum menggoda, bukannya menuruti permintaan Agni ia malah mempererat pelukannya. “Kita jarang-jarang deket kayak gini.”
Agni menghela nafas, ia menatap Cakka dengan malas. Sebenarnya apa sih mau dia?. Cakka menarik leher Agni, menekannya untuk mendekat. “Kka aku harus masak.” Dengan cepat Agni berdiri menghindar dengan sekuat tenaga. Ini salah. Ini gak boleh.

“Ni.”
Agni berhenti di ambang pintu. “Kamu kenapa sih Ni?.”
“Aku gak bisa.”

Agni berjalan cepat ke arah dapur. Ia tak ingin harinya bertambah buruk dengan marahan dengan Cakka.

***

PRANG!
Cakka terbangun saat mendengar suara pecahan itu. ia beranjak dari sofa tempat ia tidur itu kemudian berlari ke arah dapur. Setelah sampai, dilihatnya Agni sedang merapihkan pecahan yang ia perkirakan pecahan sebuah gelas.
“Kamu kenapa?”
“Biar aku beresin, kamu duduk aja sarapan udah siap.”

Cakka menghela nafas lalu menurut untuk duduk di meja makan. Kamu kenapa sih Ni? Kenapa kamu jadi ceroboh? Kapan kamu mau cerita sama aku?. Dari malam mereka memang tidak terlibat percakapan sedikitpun, setelah makan malam Agni lebih memilih langsung memasuki kamar daripada harus berbincang dengan Cakka. Cakka menahan tangan Agni yang sedang menuangkan nasi ke atas piringnya.
“Aku minta maaf, aku tau aku salah, gak seharusnya aku kayak gitu sama kamu. maaf... makasih juga buat selimutnya.”

Agni menarik tangannya kemudian kembali pada aktifitasnya. “Gapapa.”

Mereka menikmati sarapannya dengan diam, Agni sama sekali tak melirik ke arah Cakka. Sementara Cakka tak henti-hentinya menatap Agni, dan berusaha mengidentifikasi apa yang kekasihnya itu rasakan.
“Bunda mau ketemu sama kamu di rumah.”
“Kapan?.”
“Pagi ini.”

Cakka menghela nafas panjang. Persaannya menjadi tak tenang, sepertinya ada sesuatu yang akan memberatkannya, tapi entah apa. Ia kembali teringat percakapan dengan Nirina tadi malam.

“Apa yang kamu lakukan di apartemen Agni? Apa yang kalian lakukan? Cakka! Kalian belum menikah!.”
“Cakka gak ngapa-ngapain Bunda.”
“Tetep aja. Kalian belum menikah. Kalian gak bisa tinggal satu atap. Pulang!.”
“Bunda. Agni sendiri disini. Cakka gak bisa ninggalin Agni.”
“Terserah kamu, besok bawa Agni kerumah.”
“I-ya.”

Agni menatap Cakka yang terlihat melamun setelah percakapan singkat itu. saat ia akan buka suara ia kembali mengurungkan, gue gak boleh ikut campur tentang masalah pribadi dia. Gak!.

***

“Bunda.”
Agni tersenyum kemudian memeluk calon mertuanya itu. Nirina membalas pelukan itu dengan suka cita.

“Sayang kamu baik-baikkan?.” Nirina melirik Cakka dengan marah. “Kamu gak di apa-apainkan sama Cakka?.”

Agni terkekeh, ia melirik Cakka sekilas. “Enggak Bunda, Cakka gak ngapa-ngapain kok. Cakka jagain Agni malah.”

Nirina menggiring Agni untuk duduk di sofa ruang keluarganya, sementara Cakka beranjak ke kamarnya.

“Kamu gak bohongkan sayang sama Bunda? Kalo Cakka berani macem-macem sama kamu, kamu cerita aja sama Bunda, biar Bunda hukum dia.” Nirina mengelus rambut Agni dengan sayang.

“Siap Boss. Ayah kemana Bun? Pagi-pagi gini udah berangkat kerja?.”
“Ayah lagi joging. Katanya biar awet muda. Haha... padahal udah mau cucu masih aja pengen muda.”
Agni tersenyum sekilas lalu menatap Nirina menggoda.“Biarin aja Bunda kan biar Bunda makin cinta.”
“Bisa aja kamu.”

Sementara di sudut lain Cakka tersenyum melihat ke akraban Ibu-nya dengan Kekasih-nya itu. Telah lama ia mendambakan suasana seperti ini dan akhirnya terkabul, walau belum sempurna. Ponselnya tiba-tiba berdering menandakan sebuah pesan masuk.

“Kka... turun sini, ngapain disana?.”

Cakka mengangguk dengan tangan yang mengotak-atik ponselnya. Membaca pesan tersebut.

Rio.

Di tunggu 15 menit lagi di cafe biasa.

“Sayang aku jalan dulu sama temen-temen. Kamu sama Bunda dulu ya.”
“Cakka! Kamu itu jalan sendiri kayak yang masih lajang aja.”
Agni tersenyum. “Gapapa Bunda, yaudah Kka hati-hati ya dijalannya.”

Cakka tersenyum kemudian mengecup pipi Nirina sekilas kemudian beralih pada Agni ia mengecup puncak kepala Agni lalu mengacak-acaknya. “Jangan nakal ya, nanti aku juga kesini lagi. Aku jalan gak lama.”
Agni mengangguk samar, “Kamu yang jangan nakal.”
“Gak akan. Yaudah aku pergi ya”
“Hati-hati.”

Agni tersenyum saat Cakka mengacungkan jempolnya. “Bunda...”
“Iya sayang, kenapa?.”
“Temennya Cakka cowok semua?.”
Nirina tersenyum, ia paham dengan hubungan seperti itu. ia juga merasakannya, dulu. Saat ia juga di jodohkan dengan suaminya. “Cakka gak punya temen perempuan. Dari kecil Cakka cuma punya temen 3 orang. SD sampai SMA mereka bareng, pas kuliah Cakka diluar negeri yang lainnya disini. Tapi ya dasarnya emang sahabat kecil, ya sekarang mereka bareng-bareng lagi. Jomblo semua lagi.”

Agni terdiam, berfikir. “Bunda, apa Cakka playboy?.”

Nirina mengelus rambut Agni. “Memangnya kenapa sayang? Kamu liat ya Cakka maen sama perempuan?.”

Agni menghela nafas lalu mengangguk. “Pagi setelah malam itu Agni liat Cakka pelukan sama perempuan.” Agni menghela nafas ia menatap Nirina. “Dikantornya Bunda.”

Nirina terlihat mengurut pelipisnya. Bisa-bisanya Cakka... “Maafin Cakka ya, baru juga kenal udah nyakitin kamu.”

Agni tersenyum, “Gapapa Bunda, jangan kasih tau Cakka ya? jangan marahin Cakka. Cakka udah janji gak gitu lagi kok. Ya Bunda ya...” Agni memasang wajah manisnya di depan Nirina yang sukses membuat Nirina tersenyum dan mengangguk, lalu ia memeluk calon menantunya itu.
Kamu emang perempuan baik. Kita gak salah milih kamu. “Bunda sayang banget sama kamu.”
Agni tersenyum saat merasakan elusan di punggungnya, “Agni juga sayang sama Bunda.”

***

“Woy bro.”
“Wih yang udah malem jumatan telat, ngapain aja loe semalem nyampe nginep di apartemennya?.”

Cakka tersenyum misterius, ia menatap Alvin yang menggodanya. “Emang loe kagak? Oh iya lupa, loe kan cuma nongkrongin di depan rumahnya.”
“Sialan loe.”

“Semalem gue ketemu sama mantan gue.”
“Yang mana Yo?”
“Gita Gab.”
“Kok gue baru tau loe punya mantan namanya Gita?”
Rio berbalik ke arah Cakka yang memang tak mengenal orang yang ia maksud. “Mantan gue pas kuliah. Gue ngerasa bersalah banget sama dia. Gue sia-siain dia, padahal dulu gue sakit dia yang rawat, gue ada masalah dia bantu nyelesain. Dia dewasa, dia pengertian banget, meskipun kenyataannya dia ternyata 4 tahun lebih muda dari gue.”
“Gini lho Kka. Cewek itu tadinya aksel jadi pas kuliahnya ya sekitaran 16 apa 17 tahun lah. Rio itu ketipu sama kedewasaannya, waktu dia tau kenyataannya, dia malah nyerong karena kecewa ceweknya ternyata masih kecil. Padahal saat itu Rio udah renca ngelamar dia setelah Rio wisuda, tapi ya gak mungkinkan ada yang mau nikah di usia sekecil itu. Tapi Rio juga salah, kenapa gak nanya dari awal.”
Cakka mengangguk-anggukan kepalanya mulai mengerti.
“Sekarang gue sadar, kalo ternyata cinta itu gak mandang umur. Gue nyesel kenapa gue gak tungguin dia aja, gue nyesel banget karena sampe sekarang gue belum pernah nemuin cewek kayak dia lagi.”

Cakka menepuk pundak Rio. “Sabar aja. Toh kalo emang jodoh gak kemanakan? Kayak gue, gue mau sama dia eh ternyata yang dijodohin sama gue itu dia.”

 “Oiya Kka... ngomong-ngomong, Siapa tunangan loe?.”
Cakka beralih menatap Gabriel. “Agni.”
“Agni? Nama lengkapnya?”
“Anggita Mahardika.”
“WHAT?!”

Cakka menatap tiga sahabatnya yang terlihat aneh itu. “Kenapa? Emangnya segitu aneh ya tunangan gue?”

Rio menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Sementara Gabriel dan Alvin hanya saling berpandangan.
“Anggita Mahardika itu Gita, mantan gue.”

Cakka terdiam sejenak. “Oh gitu?.”
“Tapi tenang aja, gue gak bakalan rebut dia kok. Loe kan sahabat gue.”
Cakka terkekeh. “Gue tau itu.”
“Gue harap loe gak ngelakuin apa yang gue lakuin kedia Kka. Loe bakalan nyesel banget kalo itu terjadi.”
Cakka menghela nafas. Ingatannya kembali pada kebersamaan-kebersamaannya dengan Agni. Meskipun dia jutek, cuek dan terkadang acuh tak acuh tapi dia memang care, perhatian, lebut, dan satu hal yang membuat ia terkesan, yaitu rajin. “Gue gak akan lakuin itu. Gue gak mau kehilangan dia. Dia milik gue. Cuma milik gue.”

“Gue juga punya gebetan lho.” Gabriel berseru untuk memecah suasana kaku itu. Membuat teman-temannya mengalihkan pandangan padanya.

***

“Sayang.”
“Hm.”
“Ni.”
“Ya Kka?.”
“Liat aku.”

Agni menghela nafas lalu menyimpan ponselnya, ia memang ada pekerjaan dadakan yang harus segera diselesaikan. Tapi entah kenapa sepulang dari hangout bareng temen-temennya Cakka menjadi manja dan terus menganggunya, padahal biasanya tidak seperti itu.

“Kenapa sih?.”

Cakka menghela nafas, ia mengelus pipi Agni sementara sebelah tangannya memeluk pinggang Agni. “Kamu punya mantan namanya Rio?.”
Rio? Jangan-jangan Cakka liat aku sama dia waktu aku berbelanja. Agni menetralkan air wajahnya. “Iya. Memangnya ada apa?”

Cakka tersenyum, “Kalo dia mau minta maaf sama kamu, apa yang mau kamu lakuin?”
“Aku gak tau. Kamu kenal gitu sama dia?.”
Cakka tersenyum masam. “Dia sahabat aku. dia nyesel banget nyakitin kamu.”
Agni terdiam. “Aku gak tau Kka... aku...”
Cakka menempelkan dahinya di dahi Agni. “Yaudah gak usah di pikirin, yang jelas aku gak akan pernah ngulangin apapun yang di lakuin Rio ke kamu. kamu juga jangan ninggalin aku. kamu harus ingat, kamu cuma milik aku dan aku cuma milik kamu. aku dan kamu selamanya akan menjadi kita.”

Agni tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya menghindari tatapan tajam Cakka. Sementara Cakka hanya bisa menghela nafas, ia tak pernah sekalipun diberikan kesempatan oleh Agni. Tapi itu tak masalah baginya. Cakka tersenyum misterius, tunggu kejutan dari aku sayang. Kamu pasti suka.

***

Sabtu ini tepat hari ulang tahun Agni. Tak ada ucapan selamat dari Cakka di tengah malam, tak ada juga kado spesial yang tiba-tiba ada di kamar atau di postkan. Sepertinya Agni tak bisa berharap lebih dari pria itu. nyebelin!.

“Happy Birtday sayang...”
“Semoga panjang umur ya...”

Agni tersenyum kemudian memeluk orangtuanya bergantian. “Makasih Mom, Dad.”

“Agni selamat ulang tahun... panjang umur ya semua do’a terbaik cuma buat loe.”
“Thanks Shill.” Agni dan Shilla berpelukan.

Tanpa ada niat berbicara lagi Agni langsung duduk di kursinya, ia malas sekali di hari jadinya ini. bagaimana tidak? Cakka yang selalu bertanya mau kado apa ternyata mengucapkan sekedar selamat ulang tahun saja tidak. Sebenernya apa coba yang dia rencanakan? Cuma mau PHP aja? Egh... Cakka nyebelin ihh!

“Agni, kenapa? Kok cemberut sih? Apa lagi ada masalah?.”

Ingin sekali Agni berteriak, gue kesel sama Cakka!!! Tapi sayangnya rasa gengsi dia lebih besar daripada rasa kesalnya. Agni tersenyum “Gapapa kok Mom.”

Ponsel Agni berdering sebuah pesan masuk.

Kka.

Aku jemput kamu jam 10, dandan yang cantik ya sayang :*

Tanpa sadar Agni menarik ujung bibirnya.

“Ciee Agni.”
Agni tersipu malu, “Apaan sih loe?”

Shilla terkekeh melihat tingkah Agni, begitupun dengan orangtua Agni.
“Udah ah mendingan tidur di kamar. Daripada di godain terus.” Agni berucap sambil beranjak dengan menahan malu karena tingkahnya sendiri.

“Mau tidur atau mau siap-siap buat ngedate.”
Agni berbalik kemudian menjulurkan lidahnya kesal, membuat Shilla semakin tergelak melihatnya.

***

Jam 10 tepat Cakka sudah berada di depan kamarnya. Agni mendengus kesal. Seenaknya aja! Kayak tuan rumah aja.

“Udah siap?.”
“Menurut kamu?.”

Agni merapihkan cardigannya, ia berkaca sekali lagi memastikan penampilannya tidak aneh. Emangnya siapa coba yang mau terlihat aneh di depan pacar? Ya... walaupun belum ada rasa apapun, gak salah bukan ingin berpenampilan perfect?.

Cakka terkekeh, “Udah deh gak usah marah gitu. Yuk jalan.”
“Idih siapa yang marah? Sok tau banget.” Cakka semakin terkekeh mendengar Agni yang ngedumel di belakangnya.

Cakka tersenyum melihat Agni yang duduk di sampingnya dengan wajah yang masih di tekuk. Agni melihat Cakka dengan sudut matanya, senyum-senyum lagi, gak sadar salah banget. Apa emang gak ngerasa salah? Salah banget gue nilai dia care sama gue.

Cakka mendekatkan diri pada Agni. Ia memegang pundak Agni agar tidak bersandar. Agni mengerjapkan matanya saat melihat Cakka mendekat, ia bersiap untuk keluar jika Cakka macam-macam.
“Happy Birtday sayang.” Agni meraba lehernya yang terasa aneh. Cakka menjauh kemudian tersenyum. “Kamu suka?.”

Dalam hati Agni tersenyum penuh, namun pada kenyataanya ia hanya tersenyum tipis. “Thanks ya.” Kalung yang bertuliskan inisial namanya dan Cakka terpatri dan dibuat begitu apik. Aku suka banget Kka... makasih banget. Kamu emang tau banget selera wanita...
“Kata Mommy katanya kamu tadi pagi bete banget, kenapa ayo...” Cakka tersenyum jahil pada Agni.
“Ih siapa coba yang bete? Mommy sok tau aja. Gak. Gue gak pernah bete tuh. Biasa aja.”
Cakka mengerlingkan matanya menggoda, “Kalo enggak, kenapa sewot banget?”
“Siapa yang sewot? Ih sok tau banget.”

Tawa Cakka akhirnya lepas. Membuat Agni semakin jengkel. Emang gue badut diketawain? Awas aja loe, gue cuekin baru tau rasa!.

“Sayang... kamu marah.” Cakka melirik Agni. “Marah ya Ni?.”
“Maaf maaf, aku gak ketawa lagi deh, beneran.”

Agni menghela nafas kemudian melipat kedua tangannya di dada. “Oke. Eh... kenapa ke apartemen kamu? Ngapain?”
Cakka tersenyum misterius, ia mengerlingkan matanya nakal. “Kejutan selanjutnya sayang.” Ia mengeluarkan sebuah kain hitam lalu menutup mata Agni.
“Cakka! Apa-apaan sih? Buka gak?.”
“Stt... ini kejutan sayang.”

Cakka menggandeng Agni berjalan, tak henti-hentinya Agni merengek ingin pulang, entah kenapa ia merasakan sebuah firasat buruk akan datang. Namun Cakka tak mengindahkannya hingga mereka sampai di dalam apartemen Cakka.
“Buka gak?.”

Agni mengerjapkan matanya yang buram. “Ada apa sih?.” Ia menatap Cakka jengkel.
Cakka hanya tersenyum kemudian membalikan badan Agni menghadap kursi. Agni diam.

“Agni? Kamu baik-baik saja?.”

Agni mengangguk kecil lalu menghela nafas sekali lagi kemudian melebarkan senyumannya. “Nial, Liam, Louis, Zayn... Ha-Harry?.” Wajah Agni seketika berubah menjadi tegang.

“Aku...” Agni menatap Cakka memohon. “Aku mau pulang.”
“Kamu gak suka? Bukannya...”
“Pulang Kka! Sekarang!.”

Agni emosi, ia menubruk tubuh Cakka kemudian berlari meninggalkan tempat itu. Kenapa sih? Kenapa ini kejutannya? Sebenernya apa sih yang dia pikirin? Argh...
Sebuah tangan menghentak tangan Agni hingga Agni terjatuh di pelukannya. Dia memeluk erat Agni, enggan melepaskannya lagi.

“Thanks kamu berhasi buat kejutan, aku sangat terkejut dan kalau aku punya penyakit jantung aku yakin saat ini aku sudah mati!.”
“Agni...”

Agni tersentak, ini bukan Cakka. Bukan Cakka yang memeluknya. “H-Harry?.”
“Agni. Please diam.”
“Lepas!!!.”
“Aku lepas kalau kamu mau diam.”
“OKE!!! Aku diam.”

Harry mengurai pelukannya. Ia menatap Agni yang menatapnya dengan mata yang sudah memerah.
“Kamu kenapa? Aku salah apa? Kenapa kamu putusin aku gitu aja tanpa sebab yang jelas? kenapa? Aku butuh kepastian kamu.”
Agni tersenyum pahit, “Kamu bilang kamu salah apa? Gak sadar hah? Kamu pikir aku gak tau kamu jauh disana ngapain aja? Kamu pikir aku bodoh? Siapa yang gak sakit hati liat kekasihnya ciuman di depan umum? Bahkan diliat jutaan orang! Kamu pikir aku batu yang gak bisa sakit hati? Aku tau! Aku orang biasa dan kamu superstar! Aku tau kehidupan disini dan disana berbeda!. Aku tau kalo kamu gak cinta sama aku! gak sayang sama aku! AKU TAU ITU SEMUA!.”
“Agni...” Harry merengkuh Agni kedalam pelukannya. “Maaf, maaf...”
Agni melepaskan dirinya dari pelukan itu. “Aku udah maafin.” Agni kembali ditarik mendekat. Harry memiringkan wajahnya menggapai bibir merah muda itu yang begitu ia rindukan.

Waktu terasa berhenti, Cakka mematung tak tau apa yang harus ia lakukan. Kini dihadapannya terlihat jelas sebuah kenyataan yang begitu menyayat hatinya. Haruskah ia pergi demi kebahagiaan kekasihnya itu? Cakka memejamkan matanya sejenak, berharap itu hanya ilusi. Saat ia membuka mata dihadapannya telah berdiri Agni dengan mata yang masih memerah. Kemudian ia menundukkan wajahnya dalam.
“Kka...”

***

 Bersambung.
Ditulis, 06 Januari 2014

Penulis, Nenden Siti Sopiah.

No comments:

Post a Comment