Monday, 30 December 2013

Prince’s Tale Series 1: She is My Cinderella

#2


Cakka menghempaskan tubuhnya pada sofa panjang di dalam sebuah butik. Ia diminta oleh orangtuanya untuk menjadi yang terbaik di pestanya sendiri. Mereka ingin Cakka terlihat menonjol dari siapapun yang akan hadir.

“Tuan, ini pesanan Nyonya Nirina.”

Cakka memutar bola matanya kesal, ia mendengus keras sambil menatap pegawai itu dengan sinis. Kalo udah di pesenin kenapa gak bilang dari tadi? Capek-capek gue pilih sana-sini.

“Thank’s.”

Cakka berlalu dengan malas penuju tempat pembayaran. Ia mendengus sekali lagi begitu melihat antrean yang lumayan panjang.

“Mbak pesanan Ibu Pervita.”


Cakka mengalihkan pandangan kesumbersuara. Mencari pemilik suara halus itu. Entah kenapa, hanya dengan suara saja hatinya mampu bergetar. Ia tak bisa membayangkan jika bertemu dengan orangnya secara langsung.
Cakka tersenyum kecil saat melihat seorang wanita bersuara halus itu. Rambutnya panjang agak bergelombang yang menutup bagian punggungnya. Pakaiannya pun cukup sederhana, hanya mengenakan mini dress motif abstrak. Tak lama setelah mendapatkan sebuah kantung pesanannya, wanita itu pun berlalu melewati Cakka yang tak henti memperhatikan dengan sudut matanya. Cantik. Andai aja gue bisa milikin dia. Cakka terdiam sejenak. Bego! Kenapa gak disamperin? Cakka mengerang jengkel merutuki kebodohannya. Tanpa berpikir lagi ia segera beranjak, ia yakin bisa menemukan wanita itu dengan cepat.

“Tuan... anda mau bayar sekarang? Atau nanti?”

Cakka mengerjabkan matanya. Ya Tuhan... apalagi ini? Cakka berdecak kemudian menyerahkan kartu kreditnya. Ada aja penghalangnya. Ck!

***

Agni memutar bola matanya begitu keluar dari batik langganan orang tuanya. Ia begitu kesal saat memergoki seorang pria yang mengamatinya seakan pria itu menelanjangi dirinya dengan tatapan tajam itu. awas aja loe kalo ketemu lagi. Gue bantai loe. Dikira gue cewek murahan apa diliatin kayak gitu? Untung aja gue lagi gak mood ngehajar orang. Kan gak lucu pake dress tapi berantem. Argh...

“Jalan Pak. Langsung pulang aja.”

Agni termenung didalam mobilnya, ia masih memikirkan pria itu. Dimana ya? bener deh gue emang udah pernah ketemu. Agni memandangi ke arah pinggir jalan dimana terdapat kompleks pertokoan. Saat ia melewati sebuah cafe ia teringat. Ya Tuhan... dia-kan yang ngedate sama...  Agni bergidik ngeri. Tapi... masa dia yang... Agni bergidik ngeri. iuhh... suka sama gue? Oh NO!!! Gue masih laku kali sama yang normal.

***

“Gue ketemu cewek. Cantik banget.”

Cakka dan Alvin langsung berpandangan penuh selidik saat tanpa sengaja mengucapkan kalimat yang sama. Cakka memicingkan matanya.

“Jangan bilang ceweknya sama.”

Alvin mengedikkan bahunya acuh. Cakka menatap sahabatnya itu dengan jengkel. Masa iya sih saat ia menemukan tambatan hatinya ia harus rebutan dulu sama sahabatnya? Gak lucu banget kalo sahabatan dari bayi hancur seketika cuma gara-gara perempuan. Itu tidak akan.

“Namanya Ify. Tapi dia gak mau tau nama gue. Kira-kira kenapa ya? Apa karena gue terlalu ganteng? Padahal ternyata dia suka sama gue dan takut gue gak balas perasaannya, makannya dia lebih baik gak kenal daripada patah hati.”

Cakka melemparkan bantalan sofa ke arah wajah Alvin dengan jengkel. Ia memang sudah tak heran dengan kenarsisan sahabatnya ini. Tapi kali ini?

“Kedokter gih. Gue takut narsis loe udah kronis. Entar membahayakan lagi buat loe. Syukur sih buat loe aja, tapi gimana kalo nular?.”
“Sialan loe.”

Gelak tawa terdengar di dalam apartemen milik Rio itu. Apalagi setelah Alvin membalas lemparan Cakka dengan bantal yang sama.

“Gimana cewek itu?.”

Rio menghadap ke arah Alvin. Ia harus mencoba memastikan bahwa perempuan yang sedang mereka bicarakan itu berbeda. Bagaimanapun ia tak ingin persahabatan mereka hancur cuma gara-gara hal sepele seperti ini.

“Dia manis, wajahnya tirus, senyumnya itu lho...”
“Kalo loe Kka?.”

Kali ini Rio menatap ke arah Cakka. Sementara Cakka terlihat menerawang, membayangkan perempuan yang beberapa hari ini selalu bersemayam didalam ingatannya.

“Dia cantik, manis, dia gak tirus, gue juga belum liat senyumannya. Wajahnya itu dingin banget, dan gue yakin dia cuek juga.”
“Kok mirip sifat loe ya Kka?.”

Cakka mendelik ke arah Gabriel. Apa maksudnya coba?

“Ya... kan loe juga gitu Kka kalo sama cewek. Gak sadar loe? Ya seenggaknya kalo loe bener-bener bisa jadian atau bahkan sampe nikah sama dia kayaknya dia bakalan dengan mudah ngerti sifat loe. Loe juga pasti ingetkan beberapa cewek loe mutusin loe cuma gara-gara kesibukan loe itu dan sifat cuek loe juga. Yang terakhir aja mutusin loe gara-gara loe cuekin teruskan?”
“Bener Kka apa kata Gabriel. Ya seenggaknya walaupun dia belum pernah pacaran dia juga masalah gitu mungkin ngertilah.” Rio menghela nafas. “Kesimpulan dari gue cewek yang kalian maksud itu berbeda. Cukup sekian dan terimakasih.”

Cakka lagi-lagi hanya bisa terdiam. Menyerap kata-kata yang dikatakan sahabat-sahabatnya ini. Meskipun mereka terkadang cuma sok tahu. Tapi sering juga ucapan mereka memang benar. Cakka menghela nafas panjang. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Apakah hanya menunggu saat takdir mempertemukan mereka?

“Apa mungkin dia bakalan dateng ke pesta gue?”

3 sahabatnya yang lain saling berpandangan kemudian menghela nafas, tak bisa menjamin.

***

Parkiran sebuah hotel berbintang dipadati oleh mobil-mobil ternama, tak ada yang lebih murah dari mobil berharga 1 Milyar disana. Bisa di bayangkan bukan betapa kaya-nya orang-orang yang menghadiri acara tersebut?
Cakka duduk di salah satu sofa yang berada di sudut ruangan, meskipun begitu sofa itu sengaja di simpan di tempat yang strategis dimana sofa tersebut menghadap langsung ke pintu masuk. Membuatnya bisa langsung melihat siapa saja yang hadir di pestanya.

“Selamat berkurang umur.”

Cakka mendelik ke arah Rio dengan jengkel. Sementara yang di pandang malah tersenyum tanpa ada rasa bersalah.

“Gimana Kka? Ada gak dia?”
“Belum.”

Alvin tergelak mendengar keputus asaan Cakka. Ia tahu betul perasaan sahabatnya itu. yang pasti dia sekarang pasti sangat bingung.

“Kenapa loe? Seneng liat gue sengsara? Kayak loe bisa aja nemuin cewek yang loe mau.”

Alvin mendengus kesal. Bisa saja sahabatnya ini memutarkan posisi.

“Acara udah di mulai tuh dansa-nya.”

Cakka melirik arloji-nya. Jam 11. Ia melirik sahabatnya satu persatu yang telah menemukan pasangan yang entah darimana. Cakka mendengus. Sebenernya ini pesta siapa sih?

“Kka... turun yuk.”

Cakka melirik wanita yang duduk begitu saja di sampingnya. Dia, mantannya yang beberapa hari lalu memutuskannya. Cakka tersenyum miring. Ia pantang mengambil kembali barang yang sudah di buang, begitupun dengan wanita, ia pantang sekali dengan yang namanya cinta lama bersemi kembali yang ada dalam prinsip hidupnya itu cinta lama buang kelaut.

“Siapa ya?.”
“Kka... kamu kenapa? Amnesia?.”

Cakka mengacuhkannya, ia lebih memilih mengelilingkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Saat pandangannya tertuju pada sebuah bar ia akhirnya menemukan wanita yang sedari tadi ia tunggu.

“Sepertinya yang anda maksud bukan saya.”

Setelah mengatakan itu Cakka berlalu untuk menghampiri wanita yang mengenakan sebuah mini dress berwarna soft blue. Rambutnya ia angkat dan menyisakan beberapa helai jatuh di wajahnya, menambah kesan eksotis di wajah manis itu sementara kakinya di bingkai dengan sebuah Stilleto yang begitu unik yang menambah kesan glamour pada penampilannya.
Saat di radius 3 meter dari Cakka. Wanita itu pergi, melangkah dengan cepat. Entah wanita itu memang mau pergi atau karena ia menghindari Cakka, yang jelas wanita itu berlalu begitu saja tanpa bisa Cakka cegah.

“Hey. Kamu...”

Cakka berteriak cukup keras sesaat setelah keluar dari hotel tersebut. Wanita itu terlihat menunduk, kemudian dengan secepat kilat berbalik sambil melemparkan sepatunya.
Cakka meringis saat merasakan sepatu itu menghantam dadanya, namun dengan refleks tangan kirinya meraih sepatu itu. sadis juga tuh cewek.
Tak lama setelahnya wanita itu kemudian memasuki mobil sport mewah yang telah berada di belakangnya.
Tiba-tiba sebuah tangan tiba-tiba memeluk lengan kanan Cakka.

“Cakka... aku cari kamu dari tadi.”

Cakka menoleh ke arah sumbersuara.

“Lepaskan.”
“Kka... aku tuh bela-belain dateng kesini cuma buat kamu.”
“Atau saya panggil keamanan?.”
“Oke!. Aku lepas tapi kamu masuk lagi.”

Cakka mendengus kesal. Kemudian ia menghentakkan tangan itu dengan kasar. Sebenarnya ia tak pernah berlaku kasar, tapi wanita menyebalkan seperti itu apa masih layak di perlakukan baik-baik?

***

Agni mempercepat langkahnya membelah lautan manusia yang di dominasi oleh mahkluk yang di sebut wanita. Ck! Kenapa kolega bisnis Dad cowok itu sih? Nyebelin banget. Tanpa menoleh Agni terus melangkahkan kakinya hingga beberapa langkah lagi ia akan mencapai mobil kebanggaannya.

“Hey. Kamu...”

Agni menghentikan langkahnya. Ia mengatur nafasnya sejenak kemudian menunduk. Ini ganjarannya yang udah ganggu gue, mampus-mampus loe kena sepatu gue.

“Ashh...”
Agni tersenyum puas mendengar ringisan dari pria itu. tanpa ingin tau apapun lagi ia segera memasuki mobilnya. Mampus loe!!!
Saat Agni melirik ke arah pria itu kembali senyum rasa puas itu seketika sirna digantikan dengan senyuman yang tak pernah ia sunggingkan sebelumnya, senyum rasa kecewa. Dimana-mana cowok emang gitu. Sok ngejer satu cewek padahal dibelakang banyak cadangan.

“Ke Rumah Sakit dulu Pak.”
“Baik Non.”

***

Agni menuruni tangga dengan pakaian kasualnya. Ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil makanannya.

“Mom, kok tumben gak masak.”

Tak ada sahutan sama sekali. Agni berjalan ke arah belakang rumahnya. Mencari keberadaan Ibu-nya. Biasanya kalau semalaman ia telah ikut dalam sebuah party Ibu-nya itu akan heboh menanyakan acara-acara itu. tapi kali ini? apa Mom tau ya aku pulang lebih cepat? Huh... ini semua gara-gara cowok itu!.

“Non, Nyonya ke Rumah Sakit. Non Shilla tadi pagi sadar.”
“APA?.”
“Iya Non, Non Shilla sadar.”

Senyuman merekah di bibir Agni. Segera ia berlari ke arah garasi untuk mengambil mobilnya. Akhirnya... loe sadar juga Shill...
Selama perjalanan senyuman Agni tak pernah pudar, hingga tanpa terasa ia telah sampai di rumah sakit tersebut.

“Aw. Jalan liat-liat dong.”

Agni meringis sambil membersihkan pakaiannya yang terkena debu. Ia mengibaskan rambutnya dengan kesal.

“Kamu...”

Agni tersenyum masam mendengar pria dihadapannya bergumam. Tanpa ingin berbasa-basi lagi ia mendorong pria itu kemudian berlalu. Lebih lama melihatnya membuatnya lebih dari kesal. Kenapa sih dia itu nyebelin banget? Cuaca panas suasana panas, gerah gue. Kenapa lagi Tuhan biarin gue ketemu terus sama dia? God apa dosa gue sampe ketemu cowok itu lagi?

“Agni.”
“Ray.” Agni menghampiri Ray yang baru saja keluar dari sebuah kamar. “Gimana Shilla?”

Ray terlihat melirik ke arah dalam, membuat Agni mengikuti arah pandangnya. Tanpa disadarinya Agni tersenyum kecil saat melihat Ibu dan Sahabatnya yang sedang berpelukan.

“Kita pergi dulu yuk Ray.”
“Gak masuk dulu?”

Agni tersenyum kecil. “Gak usah, entar aja. Yuk.”

Agni memeluk lengan Ray membenamkan wajahnya di bahu bidang itu.

***

“Gue ketemu dia lagi.”

Cakka berseru begitu memasuki kamar tempat rawat inap Gabriel, kemudian ia bersandar di dekat jendela dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.

“Namanya?.”

Cakka menepuk dahinya. “Ya Tuhan... kenapa gue lupa nanyanya ya? Ck! Lagian gue ketemunya gak enak juga.”

Alvin mengerutkan keningnya. “Maksud loe?”

Cakka menghela nafas panjang. “Tadi gue nambrak dia, kayaknya ada sodaranya dia disini, keliatannya buru-buru.” Cakka mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela yang ternyata menghadap langsung ke arah parkiran. Ia terdiam sejenak kemudian memicingkan matanya. Dia... sama siapa? Apa mungkin... pacarnya? Atau bahkan... suami.

“Rio mana?.”
“Gue gak tau Gab.”
Alvin berujar kemudian meraih ponselnya yang baru saja berdering.

“Ya Yo?.”

Cakka menghela nafas panjang. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu sejenak. Apa yang ia lihat membuatnya benar-benar bingung. Siapa lelaki itu? Lalu apa yang harus ia lakukan? Apa sebaiknya ia menyerah saja dan menerima perjodohan itu? Gue capek nyari terus kalo pada akhirnya gue gak nemu juga. Toh pilihan Ayah pasti terbaik. Tapi... Cakka menghela nafas. Bagaimanapun juga gue gak boleh nyerah. Tapi... caranya?

***

Cakka duduk di ruang keluarga di kediamannya, memikirkan cara yang tepat untuk mempercepat perkenalannya dengan wanita itu. Sesekali ia menatap stilleto cantik yang ia pegang.

“Pangerannya Bunda kenapa? Cinderella-nya belum ketemu juga ya?.”
“Belum Baginda Ratu.”

Nirina terkekeh kemudian mengacak-acak rambut puteranya itu kemudian ia duduk di sampingnya. Ia menghela nafas panjang.

“Kamu pernah ketemu sama dia sekali-sekali?.”

Cakka mengangguk membuat Nirina tersenyum geli. Pasalnya baru kali ini ia melihat putera kesayangannya putus asa dan begitu bingung, biasanya ia akan santai jika menghadapi masalah sebesar apapun.

“Kenapa kamu gak datengin aja tempat kalian ketemu, kali aja ketemu lagi. Iyakan?.”

Cakka terdiam sejenak namun beberapa detik kemudian bibirnya membentuk lengkungan layaknya x kuadrat, bukan lagi seperti ­–x kuadrat.

“Bunda jenius. Oke... Cakka pergi sekarang, dahh Bunda.”

Cakka mengecup pipi kanan Nirina dengan cepat kemudian ia beranjak pergi dari hadapan Ibunda-nya.
Nirina tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia jadi ingat saat pangerannya itu kecil dulu, ia akan melakukan hal yang sama jika di izinkan bermain di luar rumah dan di berikan permen.
Cakka kembali terlihat menyembul dari pintu.

“Do’ain Cakka ya Bun.”
“Iya sayang.”

Nirina kembali terkekeh melihat kelakuan puteranya itu. semoga kamu berhasil Kka... Bunda tau, kamu pasti udah tau mana yang baik buat kamu.

***

Hari itu Cakka benar-benar berkeliling untuk mencari Cinderella-nya. Pertama-tama ia datangi rumah sakit sekalian menjenguk Gabriel, namun yang di jenguk ternyata sudah tidak ada. Ia lupa kalau ia kemarin memang tidak sempat menanyakan kepulangannya, jadilah ia hanya berdiam diri sendiri di parkiran rumah sakit. Ia berharap, ia dapat bertemu lagi disini.
Cakka meneguk air mineralnya lalu melirik arlojinya, tanpa terasa ternyata ia telah 3 jam menunggu di tempat itu. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, tak ada siapapun yang ia kenal.
Cakka menghela nafas panjang. Mendingan gue kebutik aja dulu... ia melirik kekanan dan kekiri sekali lagi, memastikan bahwa tak ada dia di tempat itu. kemudian setelah itu ia memutuskan beranjak.
Beberapa menit berlalu, akhirnya ia telah mencapai butik tempat dimana ia bertemu dengan wanita itu. Ini adalah tempat terakhir harapan dia agar dapat bertemu dengan wanita yang merupakan Cinderella-nya itu. semoga kamu ada disini...
Cakka turun dari mobil-nya, saat ia memasuki butik itu ia di tabrak seseorang yang sedang di kejar.

“Itu copet... tolong dong... copeett...”

Cakka segera berlari mengejar copet itu, tak lama kemudian ia berhasil mendapatkan pencopet itu. kemudian menodongkan ponselnya ke punggung pencopet itu.

“Loe balikin tas itu sekarang atau gue panggil warga biar loe mati di keroyok atau loe mau milih gue bunuh?.” Cakka menekankan ponselnya ke punggung pencopet itu.
“I-iya... ini.”
“Bagus. Sekarang loe jangan nengok dan pergi!.”
“Ba-baik.”

Cakka tersenyum kecut kemudian memasukan kembali ponselnya kadalam saku celana.

“Pencopet payah. Gampang banget gue kibulin. Sama HP aja takut.”

Cakka berbalik arah kemudian kembali ke butik itu dengan menjinjing tas yang ia perkirakan berharga hampir setengah Milyar. Kenapa ia tahu? Karena ia pernah ingin membelikan tas ini untuk Ibu-nya tapi ternyata terdahului oleh orang lain.

“Ini tante...”
“Makasih ya... ini berharga banget barang-barangnya.”

Wanita yang ia perkirakan umurnya beberapa tahun dibawah Ibunya itu terlihat mengecek tasnya. Cakka terlihat mengerutkan keningnya saat yang di maksud barang berharga adalah obat-obatan. Padahal obatkan banyak di apotik. Parno banget sih...

“Eh iya, kenalin Saya Pervita. Kamu?”
“Saya Cakka.”
“Oke. Sebagai tanda terimakasihnya yuk saya teraktir makan di seberang.”

Cakka tersenyum kaku. Masa iya sih gue lakunya sama tante-tante?

“Oh gak usah tante. Saya ada kepentingan lain. tapi terimakasih tawarannya.”

Pervita tersenyum. “Ya sudah. sekali lagi terimakasih ya.”

Cakka mengangguk dan tersenyum, kemudian ia berjalan memasuki butik itu. ia duduk di tempatnya dulu duduk dan menatap wanita itu. tidak salah bukan berharap wanita itu akan datang? Saat ia melihat seorang gadis menanyakan pesanan ia teringat sesuatu.

“Mbak pesanan Ibu Pervita.”

Cakka meresapi kata-kata itu, Oh My God Pervita? Jadi tante itu.... Cakka segera berlari keluar dari butik itu, berharap wanita yang kemungkinan Ibu dari wanitanya itu masih ada. Ia menengok kenanan dan kekiri, lalu ia memutuskan untuk menyebrang memasuki restoran tepat di depan butik itu. Ia mencari sekeliling restoran itu.

“Ada yang bisa saya bantu?.”
“Tidak. Terimakasih.”

Nihil. Cakka menghela nafas panjang. Bego banget sih... hampir aja... hampiirrr... argh.... kenapa loe bego-bego banget sih? Kenapa loe jadi gak konsen. Cakka menepuk-nepuk kepalanya kesal. Arghh....

***

“Agni pengen ketemu sama yang nolongin Mom, apapun permintaannya bakalan Agni kasih. Sekalipun dia minta Agni, Agni rela. Karena dia juga udah dengan suka rela nolongin Mom. Itu sama aja dia nologin Agni juga. Nolongin hidup Agni.”

Pervita mengelus puncak kenapa puterinya itu yang menangis khawatir dalam pelukannya, Agni memang selalu sepanik ini jika menyangkut keselamatan Ibu-nya. Memang siapa yang mau Ibu-nya terluka? Tidak ada kan?

“Mom... Agni sayang banget sama Mom. Agni gak tau deh kayak gimana kalo Mom kenapa-kenapa, Agni pasti jadi yang paling bersalah karena gak mau ikut Mom. Agni durhaka banget biarin Mom ada dalam bahaya. Maafin Agni Mom... Apalagikan ada obatnya Shilla juga dalem tas Mom.”

Agni mengeratkan pelukan pada Ibu-nya itu. ia benar-benar merasa bersalah. Ia memang akan menjadi paling merasa bersalah. Karena tadi Ibu-nya itu mengajak dirinya mengambil obat di rumah sakit kemudian menemani kebutik memesan baju untuk Shilla. Tapi ia menolak, karena ada embel-embel kebutik yang membuat ia malas untuk pergi dan memilih untuk diam dirumah menjaga Shilla.
Pervita menepuk-nepuk punggung Agni. Entah kenapa, ia jadi menyesal menceritakan kejadian pencopetan itu pada puterinya. Ia tak tau kalau puterinya akan sepanik ini padahal cuma pencopetan kecil aja. Tadinya yang ia akan ceritakan Cakka. Orang yang menolongnya. Namun cerita belum sampai sana saja Agni telah panik terlebih dahulu dan tak mendengarkan akhir dari tragedi pencopetan itu. Pervita menghela nafas panjang

“Yang penting Mom gapapakan? Mom baik-baik aja kok.”
“Iya... Agni sayang banget sama Mom.”
“Mom juga...”

Pervita mengalihkan pandangan pada arah tangga yang ia rasa ada seseorang yang menatap keberadaan mereka, dan ternyata benar, itu Shilla. Ia tersenyum kemudian melambaikan tangan pada Shilla untuk mendekat.

***

Bersambung.

Ditulis, Ciamis 30 Desember 2013

Penulis, Nenden Siti Sopiah

No comments:

Post a Comment