Wednesday, 1 January 2014

Prince’s Tale Series 1: She is My Cinderella

#3

Cakka bersandar di tempat tidur Gabriel, Alvin mengikutinya, sementara Gabriel terlihat melamun sambil terlentang di tempat tidur yang sama.

“Kita kesini mau minta penjelasan kenapa loe bisa kecelakaan Gab. Bukan liatin loe ngelamun.”

Gabriel menghela nafas panjang, kemudian menegakkan dirinya dan bergantian menatap sahabatnya itu.

“Gue anggep kecelakaan ini berkah. Loe tau? Gue juga bingung kenapa gue bisa kecelakaan, mobil gue baru, udah di cek sama polisi rem-nya gak blong, jalanan gak ada masalah, guenya ngantuk enggak, maenin hape enggak, apalagi mabok, gak mungkinlah.”

Cakka menatap sahabatnya itu dengan heran. Kecelakaan kok berkah, yang ada kecelakaan itu musibah.


“Loe pasti udah mau nanya kenapa berkah Kka. Sebelum loe nanya gue jawab dulu. Sebelum gue pulang gue liat ada cewek yang koma, cantik banget...”
“Terus loe apain Gab?”

Gabriel mengalihkan pandangannya pada Rio yang baru saja memasuki kamarnya dengan tangan yang sibuk membawa minuman.

“Gue cium dia, akhirnya sadar deh. Dan kalian harus tau ya, ternyata cewek itu udah hampir satu bulan koma. Serasa di negeri dongeng tau gak.”

Gabriel terkekeh sendiri sementara Alvin dan Cakka menatapnya tak percaya. Masa iya di zaman modern gini cuma gara-gara dicium sadar. Mustahil!.

“Kabar loe gimana Kka?” Gabriel berujar mengalihkan perhatian sahabatnya.
“Kabar apa?.”
“Cewek itu.”

Cakka mendesah lelah. Ia menerawang mengingat kejadian kemarin dimana ia bertemu dengan wanita yang kemungkinan Ibu dari wanitanya. Ia menghela nafas lagi.

“Kemaren gue ketemu sama yang mungkin Mama-nya.”
“Kok mungkin?.”
“Gue pernah denger nama Tante-tante yang kemaren kenalan sama gue itu. dan gue yakin nama itu pernah disebutin sama cewek yang gue cari itu. menurut loe gimana Yo? Biasanya loe rajanya urusna beginian.”

Cakka mengalihkan pandangan pada Rio yang duduk di sofa, ia sadar pikiran sahabatnya itu tidak ada di tempat ini. karena pandangan matanya yang kosong.

“Yo...”
“Eh, kenapa Kka?.”
“Loe yang kenapa?.”

Rio terlihat tergagap kemudian berdiri.

“E-enggak. Gue-gue pulang duluan ya, bye...”
“Kemana loe ngedate?”

Rio terlihat berbalik dan meringis kecil.

“Tau aja loe Kka. Dah...”

Cakka bergantian menatap Alvin dan Gabriel yang kemudian mengedikkan bahunya tak faham. Mereka menyadari keanehan salah satu sahabatnya itu, tapi untuk mencari tau penyebabnya itu akan sulit. Karena Rio begitu abstrak. Sulit di baca pikirannya.

***

Cakka berjalan memasuki kediamannya dengan gontai. Ia baru saja tiba di rumah setelah pencarian keduanya di tempat-tempat yang sama, kecuali rumah sakit. Karena kemungkinan wanitanya ada di rumah sakit itu tidak mencapai 5%.

“Arkka...”

Cakka menghentikan langkahnya, kemudian menoleh malas ke arah sumber suara. Ayah... kenapa tumben udah pulang? Tanpa banyak bicara ia pun berjalan mendekati sang ayah tanpa menaruh curiga.

“Duduk.”

Cakka menurut. Ia duduk di samping Nirina yang juga ada disana, ia menyandarkan tubuhnya ke sanaran kursi lelah.

“Bagaimana menantu yang Ayah minta? Ketemu?.”

Cakka tidak menjawab. Ia masih berada dalam posisi, toh apapun yang ia katakan tidak akan berguna bukan?.

“Sudah satu bulan. Ayah anggap kamu gagal.”
“APA? Gagal? Gak Yah, Cakka udah ada... tapi...”
“Ada? Mana? Bawa sekarang juga.”

Cakka melirik Nirina meminta bantuan.

“Masalahnya Cakka belum kenal Yah, Cakka...”
“Yasudah, kalau begitu kamu nanti malam ketemu sama calon kamu. Ayah gak mau kamu masih ngejomblo juga, padahal udah mau kepala tiga. Siap-siap gih.”
“Yah... Bunda... tolongin.”

Nirina menghela nafas panjang kemudian mengelus puncak kepala Cakka.

“Maaf sayang. Bunda gak bisa bantu banyak. Siap-siap ya. Nanti jam 7 kita berangkat.”

Cakka menghela nafas. Ibu-nya saja sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi apalagi dirinya? Pupus sudah harapannya untuk menikahi wanita impiannya.

***

Agni duduk bersila di tengah tempat tidurnya, sementara Shilla sibuk membongkar isi lemari Agni atas perintah Pervita.

“Pokoknya loe harus nurut. Kalo enggak bisa-bisa gue yang dimarahin Mom.”
“Gue gak mau Shilla. Loe aja gih yang dijodohin. Ogah gue.”
“Kan yang mau dijodohin anaknya keluarga Mahardika Ni.”
“Loe juga kan sekarang bagian dari kita.”
“Yaudah kalo loe maksa mendingan gue keluar aja dari rumah ini. Bodo amat deh gue mau tinggal dimana.”

Shilla terlihat bersiap untuk keluar kamar, namun Agni segera beranjak dan menarik tangan Shilla agar tidak meninggalkan kamarnya. Semenjak orang tua Shilla meninggal di kecelakaan yang sama bersama Shilla, Shilla memang diminta untuk tinggal di kediaman Mahardika. Karena bagaimanapun orang tua Shilla adalah sahabat orang tua Agni dan juga masih saudara jauh, lagipula Shilla juga masih sahabat Agni. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak menahan Shilla tetap berada di rumah itu.

“Oke. Gue mau deh nurutin loe.”

Shilla tersenyum, ia mengacak-acak rambut Agni kemudian kembali sibuk dengan lemari Agni.

“Gitu dong. Lagian loe bukannya udah janji mau nurutin apa kata Mom?.”

Agni mengangguk. Iya juga sih, guekan udah janji mau nurutin apa kata Mom, tapi guekan udah janji juga mau nurutin apa yang diminta sama yang nolong Mom. Gimana kalo dia pengen nikah sama gue? Duh... iya sih gue gak kenal. Tapi... justru dia sosok idaman gue... membuat gue jatuh cinta tanpa gue ketemu sama orangnya. Hhh... Agni menyunggingkan sedikit senyumannya.

“Ni kenapa sepatu ini cuma sebelah? Mana di lemari pekaian lagi.”
“Eeehhh...”

Agni segera berlari ke arah Shilla dan meraih sepatu itu. ia kemudian membuka lemari yang lain lalu kembali menyembunyikan sepatu yang tinggal sebelah itu.

“Sebelahnya lagi ilang. Jangan bilang-bilang Mom ya... please, gue pasti dimarahin kalo Mom tau sepatunya tinggal sebelah.”

Shilla hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menghela nafas panjang kemudian menarik sebuah gaun dari lemari Agni.

“Coba yang ini.”

Tanpa membantah Agni berlalu ke kamar ganti. Tak lama Agni pun keluar.

“Gimana?.”

Shilla tersenyum cerah. Pilihannya memang tidak pernah salah. Ia mengangguk sekaligus mengacungkan kedua jempolnya.

“Oke keren. Eh iya Ni, kapan loe mau bawa anak-anak One D’ lagi kesini?”

Agni memutar bola matanya kesal.

“One Direction lagi sibuk. Entar deh kapan-kapan. Mom mau ketemu dulu sama Smith Familly, gara-gara abis nonton film terbarunya tuh. Hh...”
“Yah... padahal gue udah pengen ketemu sama Harry.”

Agni melemparkan sebuah bantal ke arah Shilla dengan kesal. Apa coba maksud sahabatnya itu?

“Udah ah... mimpi aja sono ketemu Harry!. Gak bosen apa ketemu dia terus?.”

Shilla tergelak melihat Agni yang terlihat kesal itu. ia memang senang menggoda sahabatnya itu. ia tahu apa yang membuat Agni kesal saat mendengar nama Harry. Gue tau Ni, loe pasti belum bisa lupain dia. Gimanapun dia mantan loe juga... Shilla mengedikkan bahunya.

“Yaudah Yesung, Kyuhyun deh.”

Sebuah ketukan menghentikan percakapan mereka. membuat Shilla merengut karena Agni langsung teralihkan pada orang yang mengetuk pintu itu.

“Masuk aja.”

Agni berteriak kemudian seseorang memasuki kamarnya. Dia, Ray. Ray terlihat berwajah muram begitu memasuki kemar itu. Tanpa basa-basi kemudian ia menarik Agni untuk duduk di sofa berdampingan.

“Kenapa sih Ray? Sakit tau.”
“Jadi ini alesan kamu tolak aku Ni? Jujur sama aku, apa sih kurangnya aku? Aku bisa biayain semuanya, kenapa kamu malah milih di jodohin sih?.”

Agni diam mendengarkan ucapan Ray. Dia jadi bingung harus menjawab apa. Padahal alasan yang sebenarnya bukan itu. bukan perjodohan yang menjadikan alasan. Tapi Harry!. Pria yang masih berada dalam pikirannya. Agni menghela nafas lalu menatap Ray sendu.

“Maaf Ray. Tapi aku udah janji mau nurutin apa kata orang tua aku. Maaf, aku juga tau dia terbaik buat aku. Orang tua aku gak mungkin ngejerumusin aku kejalan yang salah. Maaf...”

Ray menghela nafas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

“Thanks buat semuanya, gue pergi.”

Ray berdiri lalu melirik Agni dan Shilla sekali lagi kemudian beranjak tanpa berpamitan terlebih dahulu.

“Jadi bener loe di tembak Ray? Soalnya waktu gue koma denger loe yang curhat itu.”

Agni mengangguk lemah. “Gue gak mau persahabatan kita itu hancur cuma gara-gara kita ada yang pacaran. Tapi...”
“Tapi akhirnya hancur juga kan?.” Shilla meraih ponsel Agni yang berada di tempat tidur karena terlihat ada sebuah pesan masuk kemudian membacanya.
“Dari Ray Ni. Katanya ‘Selamat tinggal, gue pergi Ni, gak ada gunanya juga gue disini, loe udah ada yang milikin. Sekali lagi selamat tinggal... gue mau pindah ke London. Kalo loe mau ketemu gue berangkat jam sepuluh malam ini. itupun kalo mau’ ini beneran Ni?.” Shilla melirik Agni dengan ragu. Ia memang baru mengenal Ray saat kuliah, itupun karena dikenalkan oleh Agni karena mereka bersahabat sejak lama. Shilla jadi mengenal Ray, akrab dan berteman sejak itu. Namun tetap saja, pertemanan ia bersama Ray tak lebih dari pertemanan Agni dan Ray yang terlihat begitu dekat, bahkan sangat dekat. Shilla menyadari itu dari dulu, dan mungkin inilah alasan kenapa Ray bisa lebih dekat dengan Agni selain karena alasan mereka berteman sejak lama.

Agni menghela nafas panjang. “Gue gak tau.”

***

Cakka memacu kendaraannya mengikuti kendaraan orang tuanya yang berjalan di depannya. Cakka tak henti-hentinya menarik nafas dan membuangnya lelah. Bagaimanapun ia masih memikirkan wanita yang belum ia kenal itu. Ia benar-benar terpukau dengan suara lembutnya, begitu tenang dan menyejukkan. Ia melirik ke arah sampingnya, semoga sepatu ini bisa aku kembalikan, walau pada akhirnya aku harus di jodohkan. Mungkin kali ini pangeran tidak akan pernah bisa menemui dan menjemput Cinderella-nya untuk tinggal di istana. Ia menghela nafas kembali.
Setelah membelah jalanan malam kota Jakarta akhirnya ia sampai di sebuah rumah yang begitu mewah, luas, namun terkesan santai dan damai.

“Kka... ayo.”

Cakka menghela nafas lagi lalu menghampiri Nirina yang terlihat begitu cerah di malam ini. Ia berjalan mengekor di belakang orang tuanya. Tak lama terdengar sebuah suara lembut menyapa. Cakka berusaha tidak peduli dan lebih memilih memainkan kunci mobilnya.

“Lho Cakka?.”

Mendengar namanya disebut ia mengalihkan pandagan. Apakah ini mimpi? Ini...

“Tante... Jadi kamu anaknya Mahesa? Oh God, tante yakin anak tante pasti mau sama kamu sayang.”

Cakka tersenyum cerah. Cakka juga mau... kalo jodoh emang gak kemana. Semoga bener dia anaknya tante Pevita.

“Yuk masuk.” Pervita berjalan di depan. “Shilla turun sayang.”

Cakka tak henti mengulum senyumannya. Jadi Shilla? Akhirnya aku tau nama kamu.

“Iya Mom.”

Cakka mengerutkan keningnya, lalu memandang ke arah tangga, memastikan yang ia dengar itu salah. Masa iya sih suaranya berbeda? Setelah wanita yang di maksud turun Cakka menarik nafas, ternyata bukan wanitanta.  Apa Pervita yang berbeda? Oh God... selamat tinggal Cinderella... tapi tunggu. Bukannya dalam cerita Cinderella itu pembantu? Gue harus cari tau, siapa tau aja dia...

“Aku Shilla...”
“Eh... Cakka.”

Cakka menjabat tangan Shilla yang mengembangkan senyuman ke arah Cakka. Membuat orang tuanya tersenyum geli.

“Jangan salah tingkah gitu dong Kka. Bunda tau kok Shilla cantik.”

Cakka menautkan alisnya. Ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan orang tuanya. Ia melirik ke arah Shilla yang duduk di kursi samping dekat dengannya bersama Pervita. Cakka menghela nafas panjang. Tidak ada tempat lagi disini kecuali disampingnya. Mahardika duduk sendiri, orangtuanya berdua, Shilla dan Pervita. Sementara ia sendirian berhadapan langsung dengan Mahardika karena kebetulan kursinya melingkar.

“Kamu kerja apa Shilla?”
“Aku gak kerja Tante, dirumah aja sama Mom.”
“Iya kebetulan Shilla baru sadar dari koma beberapa hari yang lalu, jadi belum diijinin kerja.”
“Oh... kenapa? Kecelakaan atau apa?.”

Terdengar seseorang menuruni tangga dengan ponsel yang masih di telinganya. Ia terdengar sedang mengomeli seseorang yang entah siapa. Cukup membuat orang-orang yang berada disana mengalihkan pandangan ke arah sumbersuara.

“Iya nanti saya telpon lagi, saya ada acara... iya saya mengerti. Anda siapkan saja tempat yang bagus, saya yakin pasti bayak yang ingin bertemu langsung... terserah, oke bye.”

Cakka tersenyum cerah. Itu dia!. Dia yang sedari tadi ia tunggu-tunggu. Wanitanya... Cinderella-nya. Walau ternyata dugaannya mengenai pembantu itu salah ia tetap tersenyum begitu cerah namun tetap mencoba mengontrolnya.

“Ini siapa Per?.”
“Puteriku... Anggita Mahardika.”

Cakka terkesima melihat senyuman itu. Begitu cantik. Suara lembut yang begitu menambat hatinya, senyuman yang semakin membentengi hatinya untuk tidak mencari lagi yang lain. Saat dia berjalan ke arah Cakka dan mengulurkan tangannya, Cakka menjabat tangan itu dengan begitu elegan. Ia menyadari kekagetan darinya, namun dia pintar sekali mengontrol emosinya sehingga kini ia terlihat santai.

“Anggita.”
“Arkka.”

Setelah perkenalan itu Agni duduk di sampingnya. Cakka sesekali tersenyum dan melirik ke arah Agni tak henti. Salah ia begitu bahagia? Tidak bukan? Apalagi wanita di sampingnya ini adalah wanita impiannya itu.

“Kamu dateng ke pesta aku itukan?.”
“Pesta? Pesta apa ya? Aku gak pernah ke pesta-pesta. Iyakan Mom?.”
“Tunggu. Aku punya bukti. Sebentar.”

Cakka keluar dari ruangan itu, cukup membuat beberapa orang dihadapannya itu terlihat menatapnya aneh. Apalagi Nirina, ia tak pernah melihat kelakuan anaknya yang seperti ini. begitu aneh dimatanya.

***

“Ayo Ni, Mom udah manggil.”
“Loe duluan aja gih.”

“Shilla turun sayang.”

“Tuh cepetan.” Shilla keluar meninggalkan Agni yang masih sibuk dengan ponselnya. Agni memang tidak pernah bisa diganggu jika urusan bisnis. Selalu sibuk sendiri.

“Saya tidak bisa datang sekarang ketempat. Saya bilang ada acara.”

Agni diam menyimak ucapan lawan bicaranya yang berkata begitu panjang. Ia menghela nafas dan sesekali mengecek penampilannya di kaca besar dalam kamarnya. Ia merasa aneh jika dituntut tampil cantik. Biasanya ia berdandan seenaknya aja, toh tidak pernah ada yang menuntutnya tampil cantik.

“Iya besok saya kesana pagi-pagi.”

Agni berjalan keluar kamar, kalau tidak disudahi secara sepihak pembicaraan itu tidak akan pernah selesai sampai keinginan lawan bicaranya terpenuhi. Ia menghela nafas panjang lagi, kesal pada orang yang terus ngomel diseberang sana.

“Iya nanti saya telpon lagi, saya ada acara... iya saya mengerti. Anda siapkan saja tempat yang bagus, saya yakin pasti bayak yang ingin bertemu langsung...”
“...”
“terserah, oke bye.”

Agni tersenyum sungkan, ia tak menyangka ia menjadi pusat perhatian.  Dengan santai Agni berjalan menghampiri tamu orangtuanya itu.

“Ini siapa Per?.”
“Puteriku... Anggita Mahardika.”

Agni tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Kemudian menyalami Mahesa dan Nirina bergantian.

“Anggita, panggil aja Agni Tante.”
“Anggita Om.”

Agni menaikan satu alisnya saat berjalan kearah seorang pria yang kemungkinan adalah yang akan dijodohkan dengannya. Pria itu menyambut uluran tangan Agni dan menengadah bersamaan. Dia...lagi? Agni tersenyum menggantikan kekagetannya.

“Anggita.”
“Arkka.”

Agni menghela nafas panjang. Ia sesekali melirik ke arah Shilla yang tersenyum geli melihat kelakuan Agni yang terlihat enggan duduk berdampingan dengan Cakka. Ia mengalihkan pandangan pada Cakka saat pria itu bertanya.

“Kamu dateng ke pesta aku itukan?.”

Mati!. Kenapa ngebahas itu sih? Agni menatap pria di sampingnya itu dengan santai. Ia tidak boleh terlihat bodoh dimata pria ini. tidak akan!.

“Pesta? Pesta apa ya? Aku gak pernah ke pesta-pesta. Iyakan Mom?.”
“Tunggu. Aku punya bukti. Sebentar.”

Agni menautkan keningnya. Mau kemana dia? Ahh jangan-jangan.... sepatu!. Oh NO!!!.

“Tante baru denger lho Cakka nyebutin nama aslinya waktu kenalan.”

Agni tersenyum santun. “Wah, begitu ya Tant?.”

“Iya Agni. Waktu kenalan sama Mom juga ngenalinnya Cakka.”
Agni mengalihkan pandangannya ke arah Ibunya. “Mom kenalan? Kapan?.”
“Dia yang nolongin Mom sayang...”

APA? Oh God...  ia melirik Cakka yang sudah duduk disampingnya dengan membawa sebelah sepatunya yang ia lembar itu.

“Ini sepatu kamukan?.”
“Bukan.”
“Jangan bohong Agni. Sepatu itu di design sama Daddy. Cuma ada satu di dunia ini.”

Agni melirik ke arah Mahardika. Ia merengut kesal. Kenapa ia bisa lupa sih itu pemberian Daddy-nya?

“Jadi dia yang selama ini kamu cari Kka?.”

Cakka melirik ke arah Nirina dan tersenyum. “Iya Bunda. Dia yang Cakka cari.”

Agni melirik Cakka jengkel. Emangnya gue teroris dicari-cari? Asal loe tau, loe itu selain tukang ngedate sesama jenis loe juga brengsek. Gak akan gue jatuh kepelukan loe.
Agni mengerutkan keningnya saat melihat Cakka mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“Sesuai tujuan awal orangtua aku dateng kesini. Sesuai janji aku juga sama Ayah. Marry me?.”

Ini gila!. Ia melirik Pervita yang tersenyum ke arahnya. Ia memejamkan matanya sejenak. Ia memang sudah berjanji. Tapi...

“Maaf... tapi sepertinya ini terlalu cepat. Saya tau saya tidak berhak menjawab. Tapi saya tau Agni. Mungkin membutuhkan pendekatan dulu atau yang lainnya.”
“Shilla...”
“Maaf Mom, tapi kasian Agni kalo harus di tuntut.”

Agni menghela nafas lega. Untungnya ia masih memiliki pelindung.

“Aku juga gak maksain. Aku cuma mau mastiin kalo Agni terikat sama aku. Aku gak bakalan ngajak nikah besok atau waktu dekat. Tapi ini cuma memastikan saja. Kita masih bisa pacaran setelah ini, pendekatan, saling mengenal lagi. Bukan begitu?.”

Agni menatap jengkel ke arah Cakka. Maksa banget sih!. Ia menghela nafas panjang ia melirik orangtuanya dan Shilla terlebih dahulu.

“Bener apa kata Shilla, mungkin apa kata kamu juga bener. Tapi jujur aja...” Agni mengedarkan pandangannya kemudian berhenti di Cakka. Ia menatap Cakka meminta pengertian. “Untuk komitmen secepat ini aku gak bisa.”

Mahardika menghela nafas dan berucap. “Gini Nak Cakka. Mungkin Agni gak bisa hubungan itu pertama karena meskipun dia selalu dirumah tapi dirumahnya itu dia kerja, dia paling gak bisa meninggalkan pekerjaannya. Kedua karena setiap menjalin hubungan, Agni selalu kandas ditengah jalan penyebabnya karena kesibukan Agni dan kedekatan Agni dengan para pria, Agni memang selalu berdekatan dengan pria yang tak jarang membuat kekasih-kekasihnya dulu meninggalkan Agni karena cemburu. Ketiga... mungkin Agni belum bisa melupakan...”

“Dad...” Agni segera menyela ucapan ayahnya, membuat Cakka menatapnya. “Intinya aku gak mau sakit hati dan gak mau nyakitin seseorang karena yang aku tau, di dunia ini cuma ada dua tipe cowok, kalo gak penyuka sesama jenis pasti dia brengsek.” Agni menatap Cakka dengan tatapan tajamnya.

Cakka menghela nafas. “Aku bukan keduanya. Kalo kamu nilai aku gitu. Kamu bisa tau aku dengan menjalin hubungan sama aku.”

“Begini sayang.” Agni mengalihkan pandangan pada Nirina yang bersuara. “Cakka gak pernah bisa membuka dirinya buat orang yang tidak menjalin komitmen dengannya, walaupun dia suka pada orang itu. Kamu tidak akan pernah bisa mengenal Cakka tanpa menjalin hubungan. Tante yakin, kalian pasti akan jalan di tempat kalo gak ada komitmen.”

Agni menarik nafas. Tidak ada jalan lain kecuali aku yang mengalah. Yang nikah aja ada ceraikan? Apalagi cuma tunangan? Ia melirik ke arah jam dinding.

“Agni butuh waktu berdua dulu. Kita keluar... Agni pamit semuanya.”

Cakka melemparkan senyuman ke arah orang tuanya saat tangannya di tarik oleh Agni. Sementara Nirina hanya bisa berdo’a untuk kelancaran hubungan puteranya itu. ia sangat tau bagaimana puteranya. Ia akan sangat serius dengan apa yang ia inginkan.

***

Agni duduk dengan santai, pandangannya terus lurus ke arah jalan raya. Sudah hampir jam 9 dan ia harus segera mencapai bandara.

“Kita mau kemana? Makan atau apa?”
“Bandara Soe-Tta.”

Cakka melirik Agni sekilas. “Ngapain? Mau ngajakin kemana? Aku gak bawa paspor.”

Tak ada jawaban dari Agni. Cakka menepika mobilnya dijalanan sepi. Ia butuh alasan, bukan sikap diam seperti ini.
“Kamu kenapa? Aku tanya mau ngapain?.”

Agni mendelik. “Jalan. Kalo gak mau aku bisa naik taksi.” Agni membuka sabuk pengamannya namun segera di tahan oleh Cakka.
“Oke. Kita jalan.”

“Kalo kamu berharap aku bisakamu taklukin begitu aja jangan harap. Aku emang mau nerima kamu, oke itu mungkin jawaban. Tapi, itu cuma sebatas rasa terimakasih aku karena kamu udah nolongin Mom. Just it!.”

Cakka melirik ke arah Agni kemudian tersenyum begitu menawan. “Gak masalah, apapun alesannya, aku terima.”

Satu jam perjalanan Agni diam dengan tatapan dinginnya dan lengkungan bibir yang menunjukkan jatidirinya, bahwa ia bukan wanita penurut, tapi ia wanita yang ingin dituruti. Cakka tak menyangka bahwa ternyata ia menghadapi wanita yang begitu dingin. Ia tak pernah dihadapkan dengan wanita sedingin ini, semua wanita akan tunduk takluk dihadapannya tanpa ia minta sekalipun. Ia kira Cinderella-nya ini akan bersikap manis padanya setelah mereka berdua, tapi ternyata. Cakka menghela nafas begitu ia sampai di parkiran Bandara tempat keberangkatan.
“Agni...”

Agni yang hendak keluar dari mobil itu kembali berbalik dan menatap Cakka dengan sebelah alis menaik, tanda ia bertanya.

“Apapun tujuan kamu kesini. Pake ini.” Cakka kembali mengeluarkan kotak tadi yang berisi dua cincin yang begitu indah.

Agni mengangkat bahunya lalu mengambil sebuah cincin yang kecil kemudian ia pakaikan pada jari manisnya. Ia memperlihatkan jemarinya tepat di hadapan Cakka.
“Puas?.”

Cakka tersenyum, sabar Cakka. “Terimakasih.”

Setelah mengatakan itu Agni segera keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat, sesekali ia menengok kanan kiri dan berjalan lagi ke arah pilihannya. Sementara itu Cakka mengikuti dari arah yang cukup jauh. Ia tau, ini mungkin akan menjadi privasi Agni yang harus ia hormati.

“Agni.”

Agni menengok ke arah sumbersuara lalu tersenyum kemudian memeluk orang yang ia cari itu. ia memeluknya erat.
“Ray... kamu tega ninggalin aku?.”

Ray membalas pelukan Agni dan mengecup pundak Agni yang tidak tertutupi itu. ia mengeratkan pelukannya. “I love you so much...” Ray kemudian mengecup pipi Agni cukup lama. “Terimakasih kamu udah mau dateng. Maaf ya aku ninggalin kamu, tapi bukan berarti aku gak ngawasin kamu. Kapanpun kamu mau ketemu sama aku, aku akan dateng. Jaga diri baik-baik.”

Agni tersenyum, ia mengacak-acak rambut Ray sambil terkekeh geli. “Iya, kamu juga.”

Ray lagi-lagi hanya bisa tersenyum, ia melepas pelukannya. “Ada yang marah di belakang kamu.” Ia terkekeh kecil. “Aku pergi, semoga kamu selalu bahagia.”

Agni tersenyum masam lalu melambaikan tangannya pada Ray yang kini telah masuk ke pintu kaca yang artinya dia akan benar-benar pergi.

Cakka berjalan mendekati Agni. Ia berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. “Sahabat jadi cinta? Aku gak heran standart jadi cowok kamu itu tinggi. Jadi sahabat aja harus sekeren itu? ya... untuk kali ini aku akuin dia keren walau tetep aja kerenan aku.”

Agni menghadap ke arah Cakka dengan tatapan malas. “Kamu pikir keren itu penting? Asal kamu tau, ini...” Agni menunjuk kepalanya. “ Dan, ini...” lalu ia menunjuk ke arah dadanya. “Itu lebih penting.” Setelah mengatakan itu Agni melangkah berbalik arah meninggalkan tempat itu.
Cakka tersenyum tipis lalu berjalan mengikuti Agni. Sepertinya memulai hubungan dengan wanita ini akan cukup sulit dibandingkan dengan apa yang ia pikirkan.

***

Bersambung.
Ditulis, Ciamis 01 Januari 2014

Penulis, Nenden Siti Sopiah.

No comments:

Post a Comment