#3
Cakka bersandar di tempat tidur
Gabriel, Alvin mengikutinya, sementara Gabriel terlihat melamun sambil
terlentang di tempat tidur yang sama.
“Kita kesini mau minta penjelasan
kenapa loe bisa kecelakaan Gab. Bukan liatin loe ngelamun.”
Gabriel menghela nafas panjang,
kemudian menegakkan dirinya dan bergantian menatap sahabatnya itu.
“Gue anggep kecelakaan ini berkah.
Loe tau? Gue juga bingung kenapa gue bisa kecelakaan, mobil gue baru, udah di
cek sama polisi rem-nya gak blong, jalanan gak ada masalah, guenya ngantuk
enggak, maenin hape enggak, apalagi mabok, gak mungkinlah.”
Cakka menatap sahabatnya itu dengan
heran. Kecelakaan kok berkah, yang ada kecelakaan itu musibah.
“Loe pasti udah mau nanya kenapa
berkah Kka. Sebelum loe nanya gue jawab dulu. Sebelum gue pulang gue liat ada
cewek yang koma, cantik banget...”
“Terus loe apain Gab?”
Gabriel mengalihkan pandangannya
pada Rio yang baru saja memasuki kamarnya dengan tangan yang sibuk membawa
minuman.
“Gue cium dia, akhirnya sadar deh.
Dan kalian harus tau ya, ternyata cewek itu udah hampir satu bulan koma. Serasa
di negeri dongeng tau gak.”
Gabriel terkekeh sendiri sementara
Alvin dan Cakka menatapnya tak percaya. Masa iya di zaman modern gini cuma
gara-gara dicium sadar. Mustahil!.
“Kabar loe gimana Kka?” Gabriel
berujar mengalihkan perhatian sahabatnya.
“Kabar apa?.”
“Cewek itu.”
Cakka mendesah lelah. Ia menerawang
mengingat kejadian kemarin dimana ia bertemu dengan wanita yang kemungkinan Ibu
dari wanitanya. Ia menghela nafas lagi.
“Kemaren gue ketemu sama yang
mungkin Mama-nya.”
“Kok mungkin?.”
“Gue pernah denger nama Tante-tante
yang kemaren kenalan sama gue itu. dan gue yakin nama itu pernah disebutin sama
cewek yang gue cari itu. menurut loe gimana Yo? Biasanya loe rajanya urusna
beginian.”
Cakka mengalihkan pandangan pada
Rio yang duduk di sofa, ia sadar pikiran sahabatnya itu tidak ada di tempat
ini. karena pandangan matanya yang kosong.
“Yo...”
“Eh, kenapa Kka?.”
“Loe yang kenapa?.”
Rio terlihat tergagap kemudian
berdiri.
“E-enggak. Gue-gue pulang duluan
ya, bye...”
“Kemana loe ngedate?”
Rio terlihat berbalik dan meringis
kecil.
“Tau aja loe Kka. Dah...”
Cakka bergantian menatap Alvin dan
Gabriel yang kemudian mengedikkan bahunya tak faham. Mereka menyadari keanehan
salah satu sahabatnya itu, tapi untuk mencari tau penyebabnya itu akan sulit.
Karena Rio begitu abstrak. Sulit di baca pikirannya.
***
Cakka berjalan memasuki kediamannya
dengan gontai. Ia baru saja tiba di rumah setelah pencarian keduanya di
tempat-tempat yang sama, kecuali rumah sakit. Karena kemungkinan wanitanya ada
di rumah sakit itu tidak mencapai 5%.
“Arkka...”
Cakka menghentikan langkahnya,
kemudian menoleh malas ke arah sumber suara. Ayah... kenapa tumben udah pulang? Tanpa banyak bicara ia pun
berjalan mendekati sang ayah tanpa menaruh curiga.
“Duduk.”
Cakka menurut. Ia duduk di samping
Nirina yang juga ada disana, ia menyandarkan tubuhnya ke sanaran kursi lelah.
“Bagaimana menantu yang Ayah minta?
Ketemu?.”
Cakka tidak menjawab. Ia masih
berada dalam posisi, toh apapun yang ia katakan tidak akan berguna bukan?.
“Sudah satu bulan. Ayah anggap kamu
gagal.”
“APA? Gagal? Gak Yah, Cakka udah
ada... tapi...”
“Ada? Mana? Bawa sekarang juga.”
Cakka melirik Nirina meminta
bantuan.
“Masalahnya Cakka belum kenal Yah,
Cakka...”
“Yasudah, kalau begitu kamu nanti
malam ketemu sama calon kamu. Ayah gak mau kamu masih ngejomblo juga, padahal
udah mau kepala tiga. Siap-siap gih.”
“Yah... Bunda... tolongin.”
Nirina menghela nafas panjang
kemudian mengelus puncak kepala Cakka.
“Maaf sayang. Bunda gak bisa bantu
banyak. Siap-siap ya. Nanti jam 7 kita berangkat.”
Cakka menghela nafas. Ibu-nya saja
sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi apalagi dirinya? Pupus sudah harapannya
untuk menikahi wanita impiannya.
***
Agni duduk bersila di tengah tempat
tidurnya, sementara Shilla sibuk membongkar isi lemari Agni atas perintah
Pervita.
“Pokoknya loe harus nurut. Kalo
enggak bisa-bisa gue yang dimarahin Mom.”
“Gue gak mau Shilla. Loe aja gih
yang dijodohin. Ogah gue.”
“Kan yang mau dijodohin anaknya
keluarga Mahardika Ni.”
“Loe juga kan sekarang bagian dari
kita.”
“Yaudah kalo loe maksa mendingan
gue keluar aja dari rumah ini. Bodo amat deh gue mau tinggal dimana.”
Shilla terlihat bersiap untuk
keluar kamar, namun Agni segera beranjak dan menarik tangan Shilla agar tidak
meninggalkan kamarnya. Semenjak orang tua Shilla meninggal di kecelakaan yang
sama bersama Shilla, Shilla memang diminta untuk tinggal di kediaman Mahardika.
Karena bagaimanapun orang tua Shilla adalah sahabat orang tua Agni dan juga
masih saudara jauh, lagipula Shilla juga masih sahabat Agni. Jadi tidak ada
alasan lagi untuk tidak menahan Shilla tetap berada di rumah itu.
“Oke. Gue mau deh nurutin loe.”
Shilla tersenyum, ia mengacak-acak
rambut Agni kemudian kembali sibuk dengan lemari Agni.
“Gitu dong. Lagian loe bukannya
udah janji mau nurutin apa kata Mom?.”
Agni mengangguk. Iya juga sih, guekan udah janji mau nurutin
apa kata Mom, tapi guekan udah janji juga mau nurutin apa yang diminta sama
yang nolong Mom. Gimana kalo dia pengen nikah sama gue? Duh... iya sih gue gak
kenal. Tapi... justru dia sosok idaman gue... membuat gue jatuh cinta tanpa gue
ketemu sama orangnya. Hhh... Agni menyunggingkan sedikit senyumannya.
“Ni kenapa sepatu ini cuma sebelah?
Mana di lemari pekaian lagi.”
“Eeehhh...”
Agni segera berlari ke arah Shilla
dan meraih sepatu itu. ia kemudian membuka lemari yang lain lalu kembali
menyembunyikan sepatu yang tinggal sebelah itu.
“Sebelahnya lagi ilang. Jangan
bilang-bilang Mom ya... please, gue pasti dimarahin kalo Mom tau sepatunya
tinggal sebelah.”
Shilla hanya menggeleng-gelengkan
kepalanya, ia menghela nafas panjang kemudian menarik sebuah gaun dari lemari
Agni.
“Coba yang ini.”
Tanpa membantah Agni berlalu ke
kamar ganti. Tak lama Agni pun keluar.
“Gimana?.”
Shilla tersenyum cerah. Pilihannya
memang tidak pernah salah. Ia mengangguk sekaligus mengacungkan kedua
jempolnya.
“Oke keren. Eh iya Ni, kapan loe
mau bawa anak-anak One D’ lagi kesini?”
Agni memutar bola matanya kesal.
“One Direction lagi sibuk. Entar
deh kapan-kapan. Mom mau ketemu dulu sama Smith Familly, gara-gara abis nonton
film terbarunya tuh. Hh...”
“Yah... padahal gue udah pengen
ketemu sama Harry.”
Agni melemparkan sebuah bantal ke
arah Shilla dengan kesal. Apa coba maksud sahabatnya itu?
“Udah ah... mimpi aja sono ketemu
Harry!. Gak bosen apa ketemu dia terus?.”
Shilla tergelak melihat Agni yang
terlihat kesal itu. ia memang senang menggoda sahabatnya itu. ia tahu apa yang
membuat Agni kesal saat mendengar nama Harry. Gue tau Ni, loe pasti belum bisa lupain dia. Gimanapun dia mantan loe
juga... Shilla mengedikkan bahunya.
“Yaudah Yesung, Kyuhyun deh.”
Sebuah ketukan menghentikan
percakapan mereka. membuat Shilla merengut karena Agni langsung teralihkan pada
orang yang mengetuk pintu itu.
“Masuk aja.”
Agni berteriak kemudian seseorang
memasuki kamarnya. Dia, Ray. Ray terlihat berwajah muram begitu memasuki kemar
itu. Tanpa basa-basi kemudian ia menarik Agni untuk duduk di sofa berdampingan.
“Kenapa sih Ray? Sakit tau.”
“Jadi ini alesan kamu tolak aku Ni?
Jujur sama aku, apa sih kurangnya aku? Aku bisa biayain semuanya, kenapa kamu
malah milih di jodohin sih?.”
Agni diam mendengarkan ucapan Ray.
Dia jadi bingung harus menjawab apa. Padahal alasan yang sebenarnya bukan itu.
bukan perjodohan yang menjadikan alasan. Tapi Harry!. Pria yang masih berada
dalam pikirannya. Agni menghela nafas lalu menatap Ray sendu.
“Maaf Ray. Tapi aku udah janji mau
nurutin apa kata orang tua aku. Maaf, aku juga tau dia terbaik buat aku. Orang
tua aku gak mungkin ngejerumusin aku kejalan yang salah. Maaf...”
Ray menghela nafas panjang. Ia
mengusap wajahnya dengan kasar.
“Thanks buat semuanya, gue pergi.”
Ray berdiri lalu melirik Agni dan
Shilla sekali lagi kemudian beranjak tanpa berpamitan terlebih dahulu.
“Jadi bener loe di tembak Ray?
Soalnya waktu gue koma denger loe yang curhat itu.”
Agni mengangguk lemah. “Gue gak mau
persahabatan kita itu hancur cuma gara-gara kita ada yang pacaran. Tapi...”
“Tapi akhirnya hancur juga kan?.”
Shilla meraih ponsel Agni yang berada di tempat tidur karena terlihat ada
sebuah pesan masuk kemudian membacanya.
“Dari Ray Ni. Katanya ‘Selamat
tinggal, gue pergi Ni, gak ada gunanya juga gue disini, loe udah ada yang
milikin. Sekali lagi selamat tinggal... gue mau pindah ke London. Kalo loe mau
ketemu gue berangkat jam sepuluh malam ini. itupun kalo mau’ ini beneran Ni?.”
Shilla melirik Agni dengan ragu. Ia memang baru mengenal Ray saat kuliah,
itupun karena dikenalkan oleh Agni karena mereka bersahabat sejak lama. Shilla
jadi mengenal Ray, akrab dan berteman sejak itu. Namun tetap saja, pertemanan
ia bersama Ray tak lebih dari pertemanan Agni dan Ray yang terlihat begitu
dekat, bahkan sangat dekat. Shilla menyadari itu dari dulu, dan mungkin inilah
alasan kenapa Ray bisa lebih dekat dengan Agni selain karena alasan mereka
berteman sejak lama.
Agni menghela nafas panjang. “Gue
gak tau.”
***
Cakka memacu kendaraannya mengikuti
kendaraan orang tuanya yang berjalan di depannya. Cakka tak henti-hentinya
menarik nafas dan membuangnya lelah. Bagaimanapun ia masih memikirkan wanita
yang belum ia kenal itu. Ia benar-benar terpukau dengan suara lembutnya, begitu
tenang dan menyejukkan. Ia melirik ke arah sampingnya, semoga sepatu ini bisa aku kembalikan, walau pada akhirnya aku harus di
jodohkan. Mungkin kali ini pangeran tidak akan pernah bisa menemui dan
menjemput Cinderella-nya untuk tinggal di istana. Ia menghela nafas
kembali.
Setelah membelah jalanan malam kota
Jakarta akhirnya ia sampai di sebuah rumah yang begitu mewah, luas, namun
terkesan santai dan damai.
“Kka... ayo.”
Cakka menghela nafas lagi lalu
menghampiri Nirina yang terlihat begitu cerah di malam ini. Ia berjalan
mengekor di belakang orang tuanya. Tak lama terdengar sebuah suara lembut
menyapa. Cakka berusaha tidak peduli dan lebih memilih memainkan kunci
mobilnya.
“Lho Cakka?.”
Mendengar namanya disebut ia
mengalihkan pandagan. Apakah ini mimpi? Ini...
“Tante... Jadi kamu anaknya Mahesa?
Oh God, tante yakin anak tante pasti mau sama kamu sayang.”
Cakka tersenyum cerah. Cakka juga mau... kalo jodoh emang gak
kemana. Semoga bener dia anaknya tante Pevita.
“Yuk masuk.” Pervita berjalan di
depan. “Shilla turun sayang.”
Cakka tak henti mengulum
senyumannya. Jadi Shilla? Akhirnya aku
tau nama kamu.
“Iya Mom.”
Cakka mengerutkan keningnya, lalu
memandang ke arah tangga, memastikan yang ia dengar itu salah. Masa iya sih
suaranya berbeda? Setelah wanita yang di maksud turun Cakka menarik nafas,
ternyata bukan wanitanta. Apa Pervita yang berbeda? Oh God... selamat
tinggal Cinderella... tapi tunggu. Bukannya dalam cerita Cinderella itu
pembantu? Gue harus cari tau, siapa tau aja dia...
“Aku Shilla...”
“Eh... Cakka.”
Cakka menjabat tangan Shilla yang
mengembangkan senyuman ke arah Cakka. Membuat orang tuanya tersenyum geli.
“Jangan salah tingkah gitu dong
Kka. Bunda tau kok Shilla cantik.”
Cakka menautkan alisnya. Ia tidak
mengerti dengan arah pembicaraan orang tuanya. Ia melirik ke arah Shilla yang
duduk di kursi samping dekat dengannya bersama Pervita. Cakka menghela nafas
panjang. Tidak ada tempat lagi disini kecuali disampingnya. Mahardika duduk
sendiri, orangtuanya berdua, Shilla dan Pervita. Sementara ia sendirian
berhadapan langsung dengan Mahardika karena kebetulan kursinya melingkar.
“Kamu kerja apa Shilla?”
“Aku gak kerja Tante, dirumah aja
sama Mom.”
“Iya kebetulan Shilla baru sadar
dari koma beberapa hari yang lalu, jadi belum diijinin kerja.”
“Oh... kenapa? Kecelakaan atau
apa?.”
Terdengar seseorang menuruni tangga
dengan ponsel yang masih di telinganya. Ia terdengar sedang mengomeli seseorang
yang entah siapa. Cukup membuat orang-orang yang berada disana mengalihkan pandangan
ke arah sumbersuara.
“Iya nanti saya telpon lagi, saya
ada acara... iya saya mengerti. Anda siapkan saja tempat yang bagus, saya yakin
pasti bayak yang ingin bertemu langsung... terserah, oke bye.”
Cakka tersenyum cerah. Itu dia!.
Dia yang sedari tadi ia tunggu-tunggu. Wanitanya... Cinderella-nya. Walau ternyata dugaannya mengenai pembantu itu
salah ia tetap tersenyum begitu cerah namun tetap mencoba mengontrolnya.
“Ini siapa Per?.”
“Puteriku... Anggita Mahardika.”
Cakka terkesima melihat senyuman
itu. Begitu cantik. Suara lembut yang begitu menambat hatinya, senyuman yang
semakin membentengi hatinya untuk tidak mencari lagi yang lain. Saat dia
berjalan ke arah Cakka dan mengulurkan tangannya, Cakka menjabat tangan itu
dengan begitu elegan. Ia menyadari kekagetan darinya, namun dia pintar sekali
mengontrol emosinya sehingga kini ia terlihat santai.
“Anggita.”
“Arkka.”
Setelah perkenalan itu Agni duduk
di sampingnya. Cakka sesekali tersenyum dan melirik ke arah Agni tak henti.
Salah ia begitu bahagia? Tidak bukan? Apalagi wanita di sampingnya ini adalah
wanita impiannya itu.
“Kamu dateng ke pesta aku itukan?.”
“Pesta? Pesta apa ya? Aku gak
pernah ke pesta-pesta. Iyakan Mom?.”
“Tunggu. Aku punya bukti.
Sebentar.”
Cakka keluar dari ruangan itu,
cukup membuat beberapa orang dihadapannya itu terlihat menatapnya aneh. Apalagi
Nirina, ia tak pernah melihat kelakuan anaknya yang seperti ini. begitu aneh
dimatanya.
***
“Ayo Ni, Mom udah manggil.”
“Loe duluan aja gih.”
“Shilla turun sayang.”
“Tuh cepetan.” Shilla keluar
meninggalkan Agni yang masih sibuk dengan ponselnya. Agni memang tidak pernah
bisa diganggu jika urusan bisnis. Selalu sibuk sendiri.
“Saya tidak bisa datang sekarang
ketempat. Saya bilang ada acara.”
Agni diam menyimak ucapan lawan
bicaranya yang berkata begitu panjang. Ia menghela nafas dan sesekali mengecek
penampilannya di kaca besar dalam kamarnya. Ia merasa aneh jika dituntut tampil
cantik. Biasanya ia berdandan seenaknya aja, toh tidak pernah ada yang
menuntutnya tampil cantik.
“Iya besok saya kesana pagi-pagi.”
Agni berjalan keluar kamar, kalau
tidak disudahi secara sepihak pembicaraan itu tidak akan pernah selesai sampai
keinginan lawan bicaranya terpenuhi. Ia menghela nafas panjang lagi, kesal pada
orang yang terus ngomel diseberang sana.
“Iya nanti saya telpon lagi, saya
ada acara... iya saya mengerti. Anda siapkan saja tempat yang bagus, saya yakin
pasti bayak yang ingin bertemu langsung...”
“...”
“terserah, oke bye.”
Agni tersenyum sungkan, ia tak
menyangka ia menjadi pusat perhatian.
Dengan santai Agni berjalan menghampiri tamu orangtuanya itu.
“Ini siapa Per?.”
“Puteriku... Anggita Mahardika.”
Agni tersenyum kemudian mengulurkan
tangannya untuk berkenalan. Kemudian menyalami Mahesa dan Nirina bergantian.
“Anggita, panggil aja Agni Tante.”
“Anggita Om.”
Agni menaikan satu alisnya saat
berjalan kearah seorang pria yang kemungkinan adalah yang akan dijodohkan
dengannya. Pria itu menyambut uluran tangan Agni dan menengadah bersamaan. Dia...lagi? Agni tersenyum menggantikan
kekagetannya.
“Anggita.”
“Arkka.”
Agni menghela nafas panjang. Ia
sesekali melirik ke arah Shilla yang tersenyum geli melihat kelakuan Agni yang
terlihat enggan duduk berdampingan dengan Cakka. Ia mengalihkan pandangan pada
Cakka saat pria itu bertanya.
“Kamu dateng ke pesta aku itukan?.”
Mati!.
Kenapa ngebahas itu sih? Agni menatap
pria di sampingnya itu dengan santai. Ia tidak boleh terlihat bodoh dimata pria
ini. tidak akan!.
“Pesta? Pesta apa ya? Aku gak
pernah ke pesta-pesta. Iyakan Mom?.”
“Tunggu. Aku punya bukti.
Sebentar.”
Agni menautkan keningnya. Mau kemana dia? Ahh jangan-jangan....
sepatu!. Oh NO!!!.
“Tante baru denger lho Cakka
nyebutin nama aslinya waktu kenalan.”
Agni tersenyum santun. “Wah, begitu
ya Tant?.”
“Iya Agni. Waktu kenalan sama Mom
juga ngenalinnya Cakka.”
Agni mengalihkan pandangannya ke
arah Ibunya. “Mom kenalan? Kapan?.”
“Dia yang nolongin Mom sayang...”
APA?
Oh God... ia melirik Cakka yang sudah duduk disampingnya
dengan membawa sebelah sepatunya yang ia lembar itu.
“Ini sepatu kamukan?.”
“Bukan.”
“Jangan bohong Agni. Sepatu itu di
design sama Daddy. Cuma ada satu di dunia ini.”
Agni melirik ke arah Mahardika. Ia
merengut kesal. Kenapa ia bisa lupa sih itu pemberian Daddy-nya?
“Jadi dia yang selama ini kamu cari
Kka?.”
Cakka melirik ke arah Nirina dan
tersenyum. “Iya Bunda. Dia yang Cakka cari.”
Agni melirik Cakka jengkel. Emangnya gue teroris dicari-cari? Asal loe
tau, loe itu selain tukang ngedate sesama jenis loe juga brengsek. Gak akan gue
jatuh kepelukan loe.
Agni mengerutkan keningnya saat
melihat Cakka mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
“Sesuai tujuan awal orangtua aku
dateng kesini. Sesuai janji aku juga sama Ayah. Marry me?.”
Ini
gila!. Ia melirik Pervita yang
tersenyum ke arahnya. Ia memejamkan matanya sejenak. Ia memang sudah berjanji. Tapi...
“Maaf... tapi sepertinya ini
terlalu cepat. Saya tau saya tidak berhak menjawab. Tapi saya tau Agni. Mungkin
membutuhkan pendekatan dulu atau yang lainnya.”
“Shilla...”
“Maaf Mom, tapi kasian Agni kalo
harus di tuntut.”
Agni menghela nafas lega. Untungnya
ia masih memiliki pelindung.
“Aku juga gak maksain. Aku cuma mau
mastiin kalo Agni terikat sama aku. Aku gak bakalan ngajak nikah besok atau
waktu dekat. Tapi ini cuma memastikan saja. Kita masih bisa pacaran setelah
ini, pendekatan, saling mengenal lagi. Bukan begitu?.”
Agni menatap jengkel ke arah Cakka.
Maksa banget sih!. Ia menghela nafas
panjang ia melirik orangtuanya dan Shilla terlebih dahulu.
“Bener apa kata Shilla, mungkin apa
kata kamu juga bener. Tapi jujur aja...” Agni mengedarkan pandangannya kemudian
berhenti di Cakka. Ia menatap Cakka meminta pengertian. “Untuk komitmen secepat
ini aku gak bisa.”
Mahardika menghela nafas dan
berucap. “Gini Nak Cakka. Mungkin Agni gak bisa hubungan itu pertama karena
meskipun dia selalu dirumah tapi dirumahnya itu dia kerja, dia paling gak bisa
meninggalkan pekerjaannya. Kedua karena setiap menjalin hubungan, Agni selalu
kandas ditengah jalan penyebabnya karena kesibukan Agni dan kedekatan Agni
dengan para pria, Agni memang selalu berdekatan dengan pria yang tak jarang
membuat kekasih-kekasihnya dulu meninggalkan Agni karena cemburu. Ketiga...
mungkin Agni belum bisa melupakan...”
“Dad...” Agni segera menyela ucapan
ayahnya, membuat Cakka menatapnya. “Intinya aku gak mau sakit hati dan gak mau
nyakitin seseorang karena yang aku tau, di dunia ini cuma ada dua tipe cowok,
kalo gak penyuka sesama jenis pasti dia brengsek.” Agni menatap Cakka dengan
tatapan tajamnya.
Cakka menghela nafas. “Aku bukan
keduanya. Kalo kamu nilai aku gitu. Kamu bisa tau aku dengan menjalin hubungan
sama aku.”
“Begini sayang.” Agni mengalihkan
pandangan pada Nirina yang bersuara. “Cakka gak pernah bisa membuka dirinya
buat orang yang tidak menjalin komitmen dengannya, walaupun dia suka pada orang
itu. Kamu tidak akan pernah bisa mengenal Cakka tanpa menjalin hubungan. Tante
yakin, kalian pasti akan jalan di tempat kalo gak ada komitmen.”
Agni menarik nafas. Tidak ada jalan lain kecuali aku yang
mengalah. Yang nikah aja ada ceraikan? Apalagi cuma tunangan? Ia melirik ke
arah jam dinding.
“Agni butuh waktu berdua dulu. Kita
keluar... Agni pamit semuanya.”
Cakka melemparkan senyuman ke arah
orang tuanya saat tangannya di tarik oleh Agni. Sementara Nirina hanya bisa
berdo’a untuk kelancaran hubungan puteranya itu. ia sangat tau bagaimana
puteranya. Ia akan sangat serius dengan apa yang ia inginkan.
***
Agni duduk dengan santai, pandangannya
terus lurus ke arah jalan raya. Sudah hampir jam 9 dan ia harus segera mencapai
bandara.
“Kita mau kemana? Makan atau apa?”
“Bandara Soe-Tta.”
Cakka melirik Agni sekilas.
“Ngapain? Mau ngajakin kemana? Aku gak bawa paspor.”
Tak ada jawaban dari Agni. Cakka
menepika mobilnya dijalanan sepi. Ia butuh alasan, bukan sikap diam seperti
ini.
“Kamu kenapa? Aku tanya mau
ngapain?.”
Agni mendelik. “Jalan. Kalo gak mau
aku bisa naik taksi.” Agni membuka sabuk pengamannya namun segera di tahan oleh
Cakka.
“Oke. Kita jalan.”
“Kalo kamu berharap aku bisakamu
taklukin begitu aja jangan harap. Aku emang mau nerima kamu, oke itu mungkin
jawaban. Tapi, itu cuma sebatas rasa terimakasih aku karena kamu udah nolongin
Mom. Just it!.”
Cakka melirik ke arah Agni kemudian
tersenyum begitu menawan. “Gak masalah, apapun alesannya, aku terima.”
Satu jam perjalanan Agni diam
dengan tatapan dinginnya dan lengkungan bibir yang menunjukkan jatidirinya,
bahwa ia bukan wanita penurut, tapi ia wanita yang ingin dituruti. Cakka tak
menyangka bahwa ternyata ia menghadapi wanita yang begitu dingin. Ia tak pernah
dihadapkan dengan wanita sedingin ini, semua wanita akan tunduk takluk
dihadapannya tanpa ia minta sekalipun. Ia kira Cinderella-nya ini akan bersikap manis padanya setelah mereka
berdua, tapi ternyata. Cakka menghela nafas begitu ia sampai di parkiran
Bandara tempat keberangkatan.
“Agni...”
Agni yang hendak keluar dari mobil
itu kembali berbalik dan menatap Cakka dengan sebelah alis menaik, tanda ia
bertanya.
“Apapun tujuan kamu kesini. Pake
ini.” Cakka kembali mengeluarkan kotak tadi yang berisi dua cincin yang begitu
indah.
Agni mengangkat bahunya lalu
mengambil sebuah cincin yang kecil kemudian ia pakaikan pada jari manisnya. Ia
memperlihatkan jemarinya tepat di hadapan Cakka.
“Puas?.”
Cakka tersenyum, sabar Cakka. “Terimakasih.”
Setelah mengatakan itu Agni segera
keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat, sesekali ia menengok kanan kiri
dan berjalan lagi ke arah pilihannya. Sementara itu Cakka mengikuti dari arah
yang cukup jauh. Ia tau, ini mungkin akan menjadi privasi Agni yang harus ia
hormati.
“Agni.”
Agni menengok ke arah sumbersuara
lalu tersenyum kemudian memeluk orang yang ia cari itu. ia memeluknya erat.
“Ray... kamu tega ninggalin aku?.”
Ray membalas pelukan Agni dan
mengecup pundak Agni yang tidak tertutupi itu. ia mengeratkan pelukannya. “I
love you so much...” Ray kemudian mengecup pipi Agni cukup lama. “Terimakasih
kamu udah mau dateng. Maaf ya aku ninggalin kamu, tapi bukan berarti aku gak
ngawasin kamu. Kapanpun kamu mau ketemu sama aku, aku akan dateng. Jaga diri
baik-baik.”
Agni tersenyum, ia mengacak-acak
rambut Ray sambil terkekeh geli. “Iya, kamu juga.”
Ray lagi-lagi hanya bisa tersenyum,
ia melepas pelukannya. “Ada yang marah di belakang kamu.” Ia terkekeh kecil.
“Aku pergi, semoga kamu selalu bahagia.”
Agni tersenyum masam lalu
melambaikan tangannya pada Ray yang kini telah masuk ke pintu kaca yang artinya
dia akan benar-benar pergi.
Cakka berjalan mendekati Agni. Ia
berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. “Sahabat jadi cinta? Aku gak
heran standart jadi cowok kamu itu tinggi. Jadi sahabat aja harus sekeren itu?
ya... untuk kali ini aku akuin dia keren walau tetep aja kerenan aku.”
Agni menghadap ke arah Cakka dengan
tatapan malas. “Kamu pikir keren itu penting? Asal kamu tau, ini...” Agni
menunjuk kepalanya. “ Dan, ini...” lalu ia menunjuk ke arah dadanya. “Itu lebih
penting.” Setelah mengatakan itu Agni melangkah berbalik arah meninggalkan
tempat itu.
Cakka tersenyum tipis lalu berjalan
mengikuti Agni. Sepertinya memulai hubungan dengan wanita ini akan cukup sulit
dibandingkan dengan apa yang ia pikirkan.
***
Bersambung.
Ditulis, Ciamis
01 Januari 2014
Penulis, Nenden
Siti Sopiah.
No comments:
Post a Comment