Monday, 30 December 2013

Prince’s Tale Series 1: She is My Cinderella

#1

Seorang wanita menatap pria yang tengah sibuk dengan pekerjaannya dengan kesal. Pasalnya, lebih dari 2 jam ia di anggurkan begitu saja oleh pria itu. Siapa sih yang mau menunggu selama itu? Ia rasa tak akan pernah ada.

“Aku mau kita putus.”

Pria itu menengadah dengan santai, lalu mengerutkan keningnya dengan heran. Memangnya siapa yang mendekati duluan?

“Tidak masalah. Silahkan keluar.”
“Cakka! Kamu keterlaluan!.”


Pria itu kembali pada kesibukannya, tak ada yang lebih penting dari pekerjaannya. Lagi pula, bukannya wanita di dunia ini masih banyak? Tak perlu takut untuk jomblo bukan? Apalagi untuk ukurannya yang terbilang memiliki segalanya.

“Pintunya ada di belakang anda.”
“Cakka!!!.”
“Sebelum saya panggilkan keamanan.”

Wanita itu menghentakkan kakinya kesal kemudian berlalu, bank berjalannya kini telah tiada. Kemudian wanita itu tersenyum miring. Aku yakin kamu pasti akan kembali ke sisiku Cakka.

***

Arkka Mahesa, seorang pria yang begitu banyak di puja oleh kaum hawa. Namun, untuk menjadikan seorang wanita kekasih, Cakka begitu pilih-pilih. Wanita tadi adalah salah satunya. Tapi yang di sesalkan, Cakka tak pernah mendapatkan wanita yang benar-benar mencintainya, itulah kenapa ia tak pernah membawa wanita manapun kerumahnya, apalagi untuk di kenalkan pada orang tuanya. Itu tidak mungkin!.

“Kka...”

Cakka menghentikan langkahnya sebelum menaiki tangga untuk menjangkau kamarnya yang memang berada di lantai kedua. Ia berbalik kemudian mendapati Ibu-nya yang masih sangat rupawan tersenyum padanya dan menepuk sofa agar Cakka mendekat. Tanpa banyak bantahan ia berjalan ke arah Ibu-nya kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Ibu-nya itu.

“Ada apa Bun?”

Nirina, Ibu dari Cakka. Ia mengelus rambut putera satu-satunya itu dengan penuh kasih sayang. Ia tersenyum kecil melihat puteranya itu menguap dan hendak terlelap.

“Bunda cuma kangen aja sama kamu, memangnya gak boleh kangen anak sendiri?”
“Bunda... ya boleh dong.”

Cakka mendudukan dirinya kemudian memeluk Ibu-nya dari samping. Ia membenamkan kepalanya di bahu Ibu-nya itu.

“Bunda entar Ayah cemburu lho...”
“Ada-ada aja kamu. Eh Kka...”
“Kenapa Bun?.”
“Apa kamu gak ada niat untuk segera menikah? Bunda sama Ayah udah semakin tua, Bunda juga pengen banget punya cucu. Kayak tetangga-tetangga. Apa kamu gak kasian sama Bunda? Bunda iri sekali melihat mereka.”

Cakka menghela nafas, ia menegakkan tubuhnya kemudian menghadapkan dirinya ke arah Ibu-nya. Ia mengelus kedua pipi Ibu-nya dengan lembut. Kalau sudah begini ia tidak bisa menolak. Tapi bagaimana cara mendapatkan pendamping yang cocok untuk dirinya dan mendapatkan menantu yang cocok juga untuk Orangtua-nya?. Jika memikirkan hingga ke arah sana tentu saja itu akan sangat sulit.

“Bunda... Cakka juga kalau udah ada yang cocok pasti nikah. Tapi perkaranya bukan cuma yang cocok sama Cakka, dia juga nantinya harus cocok sama Bunda, sama Ayah. Dia harus sayang sama Ayah sama Bunda, bukan cuma sama Cakka aja.”

Nirina tersenyum kecil. Ternyata Pangeran kecilnya kini telah tumbuh menjadi Pangeran tampan yang dewasa. Serasa baru beberapa hari yang lalu mendengar tangisnya yang pertama, tapi kini ia telah melihat perubahan yang begitu banyak dalam dirinya.

“Iya sayang, Bunda selalu tunggu saat-saat itu.”

Cakka kembali memeluk Ibu-nya. Ia benar-benar merasa bersalah dalam hal ini. Ia rasa sepanjang 28 tahun kehidupannya ia tak pernah memberikan kebahagiaan pada Ibu-nya ini. Bahkan untuk membawakan menantu untuknya saja ia belum mampu. Maafin Cakka Bunda...


***

Cakka menyesap aroma kopi itu sesaat. Kemudian mengalihkan pandangan pada 3 sahabatnya yang dengan setia mendengarkan keluhannya.

“Gue angkat tangan.” Rio mengangkat kedua tangannya seakan buronan yang tertangkap polisi. “Kasus loe rumit juga Kka, kalo masalah ini gue belum pengalaman. Loe tau sendirikan kita gak ada yang pernah menikah.”

“Iya Kka. Apalagi gue yang gak pernah berhadapan sama cewek? Gue gak tau cewek kayak gimana yang baik buat di jadiin menantu.” Gabriel menumpangkan kaki kanan ke kaki kirinya, dengan tangan yang ia simpan di sandaran kursi. “Menurut loe Vin?.”

Alvin menaikan bahunya. “Rio aja bingung apalagi gue.”

Cakka menghela nafas panjang, secerdas apapun 3 sahabatnya ini ternyata hanya memecahkan satu masalah saja tidak bisa. Payah sekali.

“Yaudah sekarang gini, apa kalian belum ada niat juga buat mengakhiri masa lajang?. Kaliankan udah bukan remaja lagi.” Cakka menatap satu persatu sahabatnya.

Ketiga pria itu saling berpandangan kemudian dengan kompak menghela nafas panajang.

“Jujur, Mom emang udah minta cucu juga. Minta menantu. Tapi ya kalian tahu kan gimana gue?” Alvin menjawab pertanyaan itu dengan lesu.
“Gue juga, walaupun kadang cuma nyindir-nyindir aja. Ibu juga udah minta menantu. Tapi gue masih belum ada keberanian buat cari pasangan sehidup semati gue. Gimanapun juga pernikahan itu bukan hal main-mainkan?”
“Bener apa kata Gabriel. Sebenernya gue juga udah pengen banget nikah. Di rumah ada yang nyambut, siapin sarapan, siapin makan malam, baju. Ya semuanya deh. Tapi reputasi gue yang di cap playboy yang buat gue susah cari yang ‘agak’ bener.”

Cakka terdiam, mereka bersahabat dari kecil bahkan mungkin semenjak dari kandungan. Pasalnya, Ibu-Ibu mereka itu memang telah sahabatan juga. Ketiganya juga malah ikut terdiam memikirkan nasib mereka masing-masing.
Cakka melirik sahabatnya satu persatu. Ini hanya perasaannya saja atau memang mereka juga sedang di landa ‘demam galau’?. Ia terkekeh kecil.

“Kenapa loe ketawa sendiri.” Alvin mendelik kesal pada Cakka.
“Kalian lagi galau lucu juga tau, mukanya pada melas kayak gak bakalan dapet jodoh aja.” Cakka memegangi perutnya karena tak bisa menghentikan tawanya.
Rio menimpuk Cakka dengan keripik kentang yang sedari tadi terabaikan. “Loe duluan kali. Kalo loe gak nularin, kita juga gak bakalan gini.”
“Udah.” Gabriel melerai. “Sekarang kita pikirin masa depan kita ajalah. Bagaimanapun orang tua kita harus jadi prioritas. Gitukan?”

Cakka tersenyum, bener apa kata Gabriel, walaupun susah tapi Tuhan pasti ngasih jalan terbaik buat gue. Cakka menghela nafas panjang.

Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sepasang pria dan wanita yang berada tepat di tengah cafe tersebut. Nampaknya pria itu sedang menyatakan perasaan pada wanita di hadapannya itu, tapi anehnya setelah itu wanita itu berlalu begitu saja. Kapan gue ngerasain nembak ala-ala ABG. Cakka terkekeh kecil saat membayangkannya. Gak akan mungkin.

***

Wanita itu bersorak saat ia sampai di puncak tertinggi tebing buatan itu. Saat ia menunduk seorang pria mengacungkan dua jempol ke arahnya membuat wanita itu tersenyum hingga mengeluarkan suara yang begitu renyah. Tak lama kemudian ia memutuskan untuk turun dan menemui pria yang dengan setia menunggunya itu.

“Agni, tadi kamu hampir aja jatuh.”

Wanita itu mernagkul lengan pria yang begitu setia itu dengan manja. Sementara pria itu malah memukul bagian depan topi yang wanita itu kenakan.

“Ray... loe parno banget sih, itu biasa kali.”

Wanita itu sapa saja Agni berjalan menarik  Ray -pria tadi- ke arah tempat duduk yang tak jauh dari tempat itu.

“Thanks ya loe udah mau nemenin gue.”
“Iya, gue seneng kok nemenin loe. Oiya Ni...”
“Kenapa?.”
“Jalan yuk?”
“Oke.”

Keduanya berjalan bersama memasuki sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari tempat itu. Agni dan Ray duduk tepat di hadapan sebuah panggung kecil yang berada di cafe itu. Agni melirik kesekelilingnya saat Ray sibuk memesan minuman dan camilan, saat itu juga ia melihat 4 orang pria yang bercengkrama dengan begitu akrabnya. Hiihh jaman sekarang, cowok ganteng ngedate nya sama cowok juga. Kayak stok cewek udah abis aja.

“Hey! Liatin apa sih?”
“Eh Ray. Enggak, gue cuma ngerasa kok ada yang aneh aja gitu di cafe ini. berasa ada yang beda.”

Ray mengerutkan keningnya, kemudian ia memandang keseluruh penjuru cafe tersebut, dan tak ia dapat sedikitpun ke anehan yang gadis itu maksud.

“Perasaan biasa aja deh.”
“Oh gitu ya?”

Agni meringis malu sambil memamerkan deretan giginya, sementara tangan kirinya memainkan rambutnya salah tingkah. Kemudian ia menyantap camilan yang ada di depannya untuk mengalihkan perhatian dari Ray yang membuatnya begitu dongkol. Konyol banget sih loe Ag...

“Ni...”
“Ya...” Agni mengalihkan pandangannya dari camilan pada Ray.
“Mau gak loe jadi cewek gue?.”

Agni mengerjapkan matanya beberapa kali. Apakah ini mimpi? Ia tak pernah berharap sahabatnya ini memiliki perasaan lebih terhadapnya, semuanya yang ia lakukan juga cuma atas dasar mereka sahabatan bukan yang lain.

“Sorry Ray... gue gak bisa, kita udah cocok jadi sahabat. Maaf.”

Mood makan Agni seketika menghilang, tanpa ragu lagi ia memutuskan untuk meninggalkan cafe itu. Ia tak ingin melihat wajah kecewa sahabatnya itu, ia tak bisa. Jika ia melihatnya, pasti ia akan luluh dan menyerah. Kemudian pada akhirnya ia akan menjadi kekasih sahabatnya itu. Gak! gue gak mau...


***

Anggita Mahardika yang akrab disapa Agni, ia bukanlah wanita pekerja kantoran, bukan juga seorang yang shoppaholic. Ia hanya seorang wanita biasa yang terlahir dari keluarga yang berada. Apapun yang ia mau tinggal katakan dan beberapa jam kemudian akan segera terkabul, apapun kemauannya yang masuk akal.
Saat itu, Agni duduk berpangku tangan di hadapan sahabatnya yang lain yang tengah terbaring begitu lemah di atas bangsal rumah sakit. Pasca kecelakaan yang menimpa sahabatnya itu, dari minggu yang lalu dia belum memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia akan cepat sadar dalam waktu dekat.

“Shill ayolah bangun, gue gak ada temen jalan nih. Masa panjat tebing sendiri sih, gak seru tau.”

Agni menggoyang-goyangkan lengan Shilla, berharap sahabatnya itu akan segera terbangun dari tidur panjangnya. Ia merengut dan menggembungkan pipinya kesal.

“Loe tau gak Shill, Ray nembak gue.” Agni menghela nafas. “Gue akuin, dia emang ganteng, mapan, baik, perhatian, sabar. Dia perfect banget. Tapi gue tolak Shill, gue salah gak? Gue takut setelah ini dia bakalan berubah.”

Seorang dokter memasuki ruangan itu.

“Maaf, waktu besuk telah selesai.”

Agni mengangguk kemudian melirik Shilla untuk terakhir kalinya. Ia pun berjalan tanpa minat keluar dari ruangan itu. Sahabat yang paling dekat dan paling mengerti dengannya sakit, tapi ia sedang butuh sekali tempat curhat. Apa aku curhat sama Mama aja?

***

Keluarga Mahesa berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan bersama. Mereka memang jarang sekali melewatkan sarapan masing-masing. Mereka akan berusaha sarapan bersama atau makan malam bersama, kecuali jika ada kepentingan mendesak.
Tuan Mahesa berdehem setelah meneguk air minumnya, lalu menatap Cakka yang masih menyantap sarapannya.

“Kka...”
“Ya Yah? Kenapa?.”

Cakka menatap pada Ayah-nya yang terlihat tak seperti biasanya. Ia meneguk airnya sebelum berbincang lebih jauh kembali.

“Kapan kamu bawa calon menantu buat Ayah?”

Cakka menghela nafas. Ternyata itu lagi. Cakka terdiam sejenak lalu menatap Ayah-nya kembali. Ia merasa lebih baik di hadapkan dengan clien yang banyak tanya daripada ditanya masalah seperti ini oleh oleh Orangtuanya. Ia merasa, tak pernah menemukan jawaban yang memuaskan sampai detik ini.

“Cakka udah bicarain ini beberapa hari yang lalu sama Bunda. Cakka juga udah berusaha nyari. Tapi kalau memang belum bertemu mau bagaimana lagi? Yang jelas Cakka udah berusaha.”
“Ayah akan jodohkan kamu dengan anak kolega bisnis Ayah. Ayah harap kamu gak akan nolak.”

Cakka terdiam. Terima tidak terima tidak terima tidak.

“Cakka gak mau yah. Kasih Cakka pilihan yang lain.”

Tuan Mahesa tersenyum. Ia melirik istrinya yang nampak tidak setuju dengan keputusan suaminya itu.

“Kalau begitu, bawa wanita pilihan kamu kehadapan Ayah batas maksimalnya satu bulan dari sekarang.”
“APA?.”
“Ya, kenapa? Kamu gak mau? Kalau gak mau yaudah kamu...”
“Oke Cakka mau Yah.”

Tuan Mahesa tersenyum puas. Ia mengulurkan tangannya hendak menggapai kepala Cakka, namun dengan cepat ia menghindar.

“Cakka bukan anak kecil lagi Yah.”

Tuan Mahesa melirik istrinya yang terkekeh melihat kelakuan Ayah dan Anak yang terkadang jika berselisih malah akan menimbulkan kelucuan dimatanya

“Udah, sekarang kalian bernagkat gih. Udah siang juga.”

Cakka mengangguk, kemudian ia meraih jas dan ponselnya lalu ia berjalan ke arah sang Bunda untuk mengecup pipinya.

“Dah Bun.”
“Hati-hati.”

***

Cakka menghempaskan lagi file itu untuk kesekian kalinya. Seminggu ini adalah pertama kalinya ia merasa tidak konsentrasi pada pekerjaannya yang ia sibukkan hanya mencari data karyawwan wanitanya yang ya siapa tahu saja ada yang cocok dengannya. Dan kalian tau kenapa ini bisa terjadi? Apalagi kalau bukan gara-gara sang Ayah yang memaksanya cepat-cepat membawa menantu?
Cakka menarik nafas dalam, lalu melonggarkan dasi yang serasa mencekik itu, kemudian menarik rambutnya frustasi. Ia belum pernah sedikitpun terpikir untuk segera menikah. Baginya pernikahan bisa nanti jika memang ia sudah sangat tidak mampu mengurus dirinya sendiri yang sibuk akan pekerjaan. Tapi sekarang? Ia merasa belum puas dengan pencapaiannya saat ini. Ia masih ingin lebih meluaskan jaringannya. Bukan hanya di Asia saja.

“Masuk.” Cakka bergumam saat mendengar sebuah ketukan pintu.
Sekertarisnya masuk dengan sebuah map besar “Pak ini data staf dari bagian IT yang Bapak minta.”
“Iya, terimakasih.”
“Iya Pak sama-sama, mari pak saya permisi dulu.”

Cakka hanya mengangguk untuk menanggapinya. Tanpa pikir panjang ia segera mengambil map itu dan membaca satu persatu biodata karyawan wanitanya.
Cakka membacanya dengan teliti, sesekali wajahnya terlihat biasa saja, lalu mengerutkan dahinya, kemudian menggeleng. Ia menghela nafas panjang, tak ada yang masuk dalam kriterianya. Ia tak mungkin meminta lagi data karyawan yang jabatannya lebih rendah daripada staf. Karena ia ingin mendapatkan wanita yang sama-sama suka pekerjaan, seperti dirinya. Ya, minimal dari sama-sama suka kerja itu akan saling memberi toleransi karena memang sama-sama kerja.

“Bagaimana Cakka? Kamu sudah dapat?”

Cakka mengangkat wajahnya malas, tanpa ia menengadahpun sebenarnya ia tau siapa yang memasuki ruangan itu. Tentu saja sang Ayahanda tercinta. Tak pernah ada yang tak mengetuk pintu untuk memasuki ruangannya selain Ayahnya ini.

“Ayah mau kasih saran.”
“Apa?” Cakka dengan malas menanyakan hal itu, siapa tau saja bagus bukan?
“Kamu rayain ulang tahun kamu gede-gedean dan kamu undang wanita yang umurnya 25-28 tahun dari seluruh penjuru Jakarta, atau kolega-kolega juga undang, atau seluruh wanita di negara ini sekalian. Gimana?.”

Cakka memutar bola matanya kesal. Ia menyandarkan tubuhnya dengan kesal. Apalagi yang akan di rasakan seseorang yang akan di jodohkan selain kesal? Senang? Mustahil!.

***

Agni menyandarkan tubuhnya pada kursi. Ia baru saja sampai dari acara jalan-jalan yang tidak mendapatkan hasil apapun itu.

“Agni...”

Agni menoleh kesumber suara dan mendapati seorang wanita anggun yang kerap ia panggil dengan Mommy. Ia tersenyum kemudian menegakkan tubuhnya.

“Mom liat pengeluarkan kamu cukup banyak sayang. Kamu abis shopping? Nyalon? Mana sayang belanjaannya? Mom seneng banget kamu udah mau shopping.”
“Enggak Mom, Agni kemaren abis dari panti.”

Mom Agni bernama Pervita. Ia duduk di samping Agni menatap puterinya itu dengan aneh.

“Sayang acara ke panti kitakan udah rutin setahun sekali. Kamu di suruh shopping aja kok susah banget sih sayang?.”

Agni memutar bola matanya kesal. Selalu saja itu yang dibahas. Tak pernah ada pembahasan yang lain yang mereka bahas tiap kali mereka bertemu.

“Oh iya Ni, kamu harus dateng ke pesta kolega bisnis Daddy ya? Di acara ini kamu harus perfect banget. Harus keliatan anak Mahardika-nya. Oke? Untuk itu Mom sama Dad udah siapin gaun, sepatu, aksesoris, mobil dan pastinya, salon.”
“Mom...”
“Itu buat make over kamu sayang. Masa sih kamu gak mau tampil perfect?.”
“Mom...”
“Iya sayang...”
“Agni belum jawab.”
“Kamu gak perlu jawab sayang, kamu emang harus dateng. Karena Mom tau kalo nanya dulu pasti kamu gak mau. Mana pernah sih kamu mau kepesta?.”
“Tapi Mom...”
“Sttt... gak boleh bantah.”
“Mommy...”

Ibu-nya malah berlalu begitu saja dengan senyuman penuh kemenangannya. Sementara Agni menatapnya dengan penuh kejengkelan. Selama ini ia yang selalu menang atas Ibu-nya itu. Tapi kali ini Ibu-nya bergerak jauh lebih cepat.

“Oke fine. Agni pergi... dengan syarat...”

Pervita berbalik menatap puterinya yang menggantungkan ucapan dengan rasa penasaran. Agni tersenyum menang. Akhirnya... ternyata ia tak pernah benar-benar kalah telak dari Ibu-nya itu.

“Agni akan pulang pas tengah malam.”
“Sayang undangannya aja dimulai jam 10.”
“Yaudah. Kalo gitu Agni...”
“Oke. Terserah kamu, yang penting kamu hadir.”

Agni tersenyum penuh kemenangan. Lagian ngapain sih Mom maksa gitu? Udah tau aku gak pernah mau ke tempat gituan. Haha... tapi ya... sekali-sekali boleh juga kali ya...

***

Bersambung.
Ditulis, Ciamis 26 Desember 2013

Penulis, Nenden Siti Sopiah

No comments:

Post a Comment