(Cerpen
Spesial Hari Ibu yang penulis dedikasikan untuk Mama dan seluruh Ibu-Ibu di
dunia.
I
Love You, Ma...)
***
Bagas, memandang iri pada adiknya yang
sedang di peluk dengan begitu bangga oleh Ibu-nya. Ia menarik nafas panjang
kemudian berlalu. Ia memang tak pernah bisa jadi kebanggaan, ia hanya seorang
anak pembuat masalah, prestasinya pun tak pernah bisa di banggakan seperti
halnya sang adik yang selalu di bangga-banggakan, dari dia bukan pembuat
masalah, adiknya juga memiliki prestasi akademik yang baik, baik sekali malah.
“Bagas, hari minggu tanggal 22
Desember-kan hari Ibu, gimana dari kita anak-anak OSIS buat acara pertunjukkan
gitu, entar kita undang-undang orang tua siswa lainnya. Kebetulan hari inikan
seluruh wali murid pada dateng.”
Meskipun tak ada yang bisa di banggakan,
ternyata Bagas merupakan ketua OSIS. Menurutnya jabatan itu tidak bisa di
banggakan. Karena, tetap saja ia pembuat masalah yang hanya beruntung di
percaya sebagai ketua OSIS.
Bagas menarik nafas dalam, ia tak pernah
kepikiran mengenai hal itu karena ia benci hari ibu.
“Terserah.”
Chelsea merengut mendengar jawaban yang
tak memuaskan itu. tapi kemudian ia memberikan sebuah map.
“Apa ini?”
“Tanda tangan aja, katanya terserah.”
Tanpa banyak bicara Bagas menanda
tangani lembaran demi lembaran itu tanpa membaca isi dari bacaan tersebut.
“Oke karena kamu udah tanda tangan
semuanya, kamu harus sambutan sebagai ketua OSIS dan kamu perwakilan dari OSIS
buat memberikan persembahan buat acara nanti.”
Bagas mengerutkan keningnya tak
mengerti. Chelsea yang menyadari gelagat tak mengerti dari Bagas itu kemudian
mengacungkan lembaran terakhir yang ternyata merupakan pernyataan persetujuan
untuk melakukan hal tersebut.
“Kamu gak bisa ngelak lagi, sebenernya
aku gak ngerti kenapa kamu ngehindar banget dari hari ibu dan hari kartini,
tapi dengan cara kayak gini aku harap kamu menghargai tanda tangan kamu
sendiri.”
Setelah mengatakan hal itu Chelsea
berlalu tanpa mempedulikan Bagas yang menatapnya dengan marah. Ya, siapa yang
tidak marah jika di paksa seperti itu? kemudian ia menarik nafas dan
menghembuskannya dengan tenang. Ia bukan anak bandel yang tidak bertanggung
jawab, tapi... apa yang harus ia lakukan?
***
Bagas terdiam saat mendengarkan suara
yang begitu bagus dari kamar di sebelah, yang tentu saja kamar adiknya. Ia
menarik nafas lelah. Sepertinya adiknya juga akan tampil besok. Ia sudah dapat
merasakan bahwa ia memang tak akan pernah bisa di banggakan bila di bandingkan
adiknya yang memiliki segalanya.
“Bagas. Kamu udah pulang?”
Bagas berbalik dan mendapati Mama-nya
sedang tersenyum ke arahnya dengan celemek yang masih ia kenakan. Ia membalas
senyuman itu tanpa minat.
“Iya.”
Setelah mengatakan itu Bagas memasuki
kamar, kemudian membaringkan tubuhnya ke pembaringannya yang begitu rapih,
padahal tadi sebelum bernagkat sekolah untuk pembagian rapot, kamar itu begitu
berantakkan. Ia tahu yang membereskannya pasti Mama-nya karena mereka tak
memiliki pembantu satu pun.
Sebuah ketukan mengembalikan pikirannya
kedunia nyata.
“Bagas, makan dulu yuk.”
“Iya”
***
Nuansa makan malam terasa begitu
gembira, kecuali Bagas yang hanya diam tak pernah banyak bicara.
“Agni, Bagas kenapa?”
“Aku gak tau Kka, Bagas emang selalu
gini kalo pembagian rapot.”
Cakka, ayah dari Bagas hanya dapat
menarik nafas panjang. Anak sulungnya dulu tidak pernah seperti ini, dia selalu
ceria dan selalu bercerita seperti adiknya sekarang yang selalu cerita apapun
yang dia rasakan di sekolah, tapi sekarang? Bagas tidak seperti dulu lagi.
“Gimana rapot kamu Gas?”
Bagas tersenyum kecil tanpa minat
kemudian menatap Papa-nya. Ia tak tahu apakah ranking kedua dapat di banggakan
atau tidak.
“Biasa aja, Pa, Ma Bagas ke kamar dulu.”
Setelah mengatakan itu Bagas berlalu
begitu saja, ingin sekali ia larut dalam pembicaraan itu. Tapi ia tak bisa, itu
hanya akan menimbulkan rasa sakit hati saja. Ia tahu, ada atau tidak adanya dia
itu tak akan berpengaruh.
“Wah Difa besok tampil? Iya deh Mama
dateng. Papa jugakan Pa?”
Bagas menghela nafas mendengar nada
antusias dari Mama-nya. Apa dia akan sebangga itu jika mendengar ia juga akan
tampil?. Bagas menutup pintu kamar itu kemudian menguncinya.
***
“Bagas mana sih? Diakan udah janji mau
hadir”
Chelsea berjalan kesana kemari di
belakang panggung, kemudian ia putuskan untuk keparkiran, memastikan kedatangan
Bagas.
“Bagas.”
Bagas menengok ke arah sumbersuara
dengan malas. Setelah melihat Chelsea ia kembali menangkupkan kedua telapak
tangan pada wajahnya.
Tak berapa lama, ia merasakan seseorang
duduk di sampingnya dan memegang bahunya lembut.
“Aku gak tau kamu kenapa, aku juga gak
tau apa penyebab kamu kayak gini. Tapi Gas, aku harap kamu bisa melaksanakan
tugas kamu sebagai ketua OSIS. Kamu terpilih pasti bukan tanpa sebab. Aku juga
gak bakalan maksa tahu tentang kenapa kamu gak pernah mau sambutan di
acara-acara. Tapi please... untuk kali ini...”
Bagas merasakan tangan itu turun dan
terdengar desah nafa penuh keputus asaan. Selama ini Bagas memang tidak penah
mau jika berpidato untuk sedikit saja, pertama dan terakhir kalinya ia berucap
di depan audiens adalah saat dia terpilih jadi ketua OSIS, itu saja.
“Aku pergi dulu, aku bakalan gantiin
kamu lagi kalo kamu gak mau.”
Chelsea berjalan meninggalkan Bagas
dengan kecewa. Ia kira dengan cara kemarin ia bisa memaksa Bagas melaksanakan
tugasnya, tapi ternyata semuanya sia-sia.
Bagas masih terdiam, ia tidak sanggup
menghadapi orang banyak, apalagi ada orang tuanya. Ia lebih baik disini
daripada membuat malu orang tuanya.
“Gas, tapi aku masih berharap kamu yang
bicara, bukan aku.”
Apakah memang ada yang mau
mendengarkannya? Ia bukanlah seseorang yang bisa di banggakan. Ia hanya seorang
yang beruntung mendapatkan jabatan itu, Bagas mematri kata-kata itu dalam
hatinya.
***
“...Kepada ketua OSIS SMP Putera Bangsa
atau yang mewakilinya di persilahkan.”
Chelsea terlihat akan memasuki panggung,
tapi Bagas telah terlebih dahulu berada di atas panggung melalui tangga
belakang. Chelsea memang duduk di barisan terdepan bersama beberapa undangan
mewakili Bagas.
“Bagas.”
Chelsea menengok ke arah suara lembut
dibelakangnya. Apa ini Mama-nya Bagas?
Cantik sekali...
“Aku tidak menyangka.”
Chelsea kembali mengarahkan pandangannya
ke panggung, dan ternyata sambutan itu telah berakhir. Kenapa cepat sekali? Apa yang dia katakan?
“Aku gak ngerti, kenapa selama ini Bagas
tidak pernah mengatakan hal ini padaku, Kka. Aku gak nyangka. Difa juga, dia
tidak pernah mengatakan apa-apa. Padahal jelas, mereka satu sekolah.”
“Sudah yang penting ternyata selama ini
Bagas tidak seburuk itu.”
“Tapi Kka... kenapa enggak dari dulu?
Aku bangga sekali melihat dia...”
Chelsea tersenyum mendengarnya, ia
berbalik dna tersenyum ke arah orang tua Bagas.
“Bagas juga ranking kedua Om, Tant di
kelasnya. Terlepas dari bolosnya, dia pintar sekali. Dia juga patuh sama guru,
apalagi kalau ada temen yang kesusahan, pasti Bagas ada di jajaran depan buat
nolongin.”
“Apa?”
“Iya Tante, itulah Bagas di sekolah.”
“Ya Tuhan...”
Cakka merengkuh Agni dalam pelukannya.
Mereka tak menyangka putera sulungnya itu ternyata begitu baik. Mereka memang
menyadari itu, dari sejak kecil dia memang begitu baik, apalagi sama adiknya.
Tapi, mereka tidak menyangka Bagas sebaik ini.
***
“Aku persembahin lagu ini buat Mama aku
yang selama ini udah sayang sanget sama aku. I Love You, Ma... Difa sayang
Mama.”
Bagas menarik nafas panjang, ia silih
berganti menatap Difa kemudian Mama-nya yang terlihat begitu bangga terhadap
Difa. Apakah ia juga akan membanggakan Mama-nya itu?
“Penampilan selanjutnya, dari Bagas.
Ketua OSIS kita...”
Untuk kesekian kalinya ia mendesah putus
asa. Apa ia bisa? Dengan langkah ragu ia memasuki panggung itu. yang pertama ia
lihat adalah Mama-nya yang ternyata tidak pindah tempat duduk dari sejak tadi.
Ia tak pernah bisa mengartikan tatapan Mama-nya itu. Apakah Mamanya itu bangga
terhadapnya?
“Selamat siang semuanya. Sebenarnya aku
gak tahu untuk apa aku berdiri disini. Aku tidak bisa seperti orang lain,
temen-temen yang lain yang memberikan nyanyian, puisi atau apapun pada
Mama-nya.” Bagas menghela nafas. “Aku bukan anak berbakti seperti yang lain,
aku tidak pernah memberikan sedikitpun rasa bangga pada beliau. Aku merasa, aku
tidak pernah membuatnya bangga. Aku hanya bisa membuat Mama sedih dan menangis.
Seperti sekarang ini, lihatlah... betapa jahatnya aku pada Mama.” Bagas terdiam
sejenak. “Aku tidak pernah menyukai hari ibu, malah... aku sangat membencinya,
karena aku tidak pernah bisa memberika sesuatu yang istimewa padanya, bahkan
mengatakan rasa sayang-pun aku tidak bisa. Aku benci hari ibu, aku membenci
diriku sendiri yang tak pernah bisa mengatakan rasa sayangku pada Mama.
Entahlah... mungkin aku memang anak yang paling bodoh. bahkan, hanya bisa
membuat Mama menangis di depan umum seperti ini. Ma... aku bukan anak Mama yang
bisa di banggakan, karena aku paling nakal bahkan di bandingkan dengan Difa,
aku tidak pernah bisa di bandingkan dengannya. Aku hanya bumi yang selalu di
injak dan Difa langit yang selalu di pandang. Tapi Ma, seberapa nakalpun aku,
Bagas Nuraga. Aku selalu mencintai Mama, menyayangi Mama, selalu dan selamanya.
Untuk teman-teman, berbaktilah pada orang tua kalian, buat orang tua kalian
bangga. Jangan seperti aku yang hanya bisa membuat orang tuaku sedih.
Terimakasih... dari Bagas untuk Mama... I Love You, Ma...”
Bagas segera menyeka air matanya yang
sedari tadi ia tahan dengan sekuat tenaga. Kemudian ia merasakan sebuah
pelukkan hangat di tubuhnya. Ia menengadah.
“Ma...”
“Mama bangga sama kamu, Mama juga sayang
sama kamu. Jangan pernah berpikir Mama tidak bangga sama kamu sayang... Papa
juga sayang kamu... kami semua sayang kamu, apalagi Mama...”
Bagas membalas pelukan itu. Ia tak
membohongi dirinya sendiri bahwa ia merindukan pelukan itu. ia merindukkan
Mama-nya. Sangat rindu.
“Makasih Ma...”
Suara tepukan perlahan terdengar
menyelimuti kehangatan itu. semua orang bahagia, semua orang merasakan hal itu.
ucapan yang begitu tulus dari seorang anak dan Ibu-nya.
***
Epilog.
Agni menatap Bagas yang menggembungkan
pipinya dengan geli. Ini pertama kalinya ia melihat putera sulungnya itu salah
tingkah.
“Tapi beneran lho dia cantik Gas, dia
itu tahu banget tentang kamu. Dia itu perhatian sama kamu. Emangnya kamu gak
ada rasa juga sama dia?”
“Ih Mama...”
“Agni, jangan godain Bagas terus dong
kasian. Wajar aja dong kalo Bagas udah saling suka-sukaan. Iyakan Gas?”
“Papa... Papa sama aja deh...”
“Cie... Kak Bagas salting terus ah...
tembak dong Kak. Kalo enggak di tembak buat Difa aja ya?”
“Heh! Gak boleh.”
“Haha... Kak Bagas cemburu niee...”
“Gak... ihh Difa awas ya...”
Agni dan Cakka saling melirik melihat
kedua puteranya saling mengejar. Inilah pertama kalinya ia merasakan
kebahagiaan yang utuh, lengkap dengan kedua puteranya. Semoga... ini akan terus
berlanjut. Akan menjadi kebahagiaan yang abadi.
Agni merasakan kecupan di pipi kanan dan
kirinya.
“I Love You, Ma...”
***
The End.
Write
: Ciamis, 22 Desember 2013
Author
: Nenden Siti Sopiah.
No comments:
Post a Comment