Sunday, 22 December 2013

I Love You, Ma...

(Cerpen Spesial Hari Ibu yang penulis dedikasikan untuk Mama dan seluruh Ibu-Ibu di dunia.
I Love You, Ma...)

***

Bagas, memandang iri pada adiknya yang sedang di peluk dengan begitu bangga oleh Ibu-nya. Ia menarik nafas panjang kemudian berlalu. Ia memang tak pernah bisa jadi kebanggaan, ia hanya seorang anak pembuat masalah, prestasinya pun tak pernah bisa di banggakan seperti halnya sang adik yang selalu di bangga-banggakan, dari dia bukan pembuat masalah, adiknya juga memiliki prestasi akademik yang baik, baik sekali malah.

“Bagas, hari minggu tanggal 22 Desember-kan hari Ibu, gimana dari kita anak-anak OSIS buat acara pertunjukkan gitu, entar kita undang-undang orang tua siswa lainnya. Kebetulan hari inikan seluruh wali murid pada dateng.”

Meskipun tak ada yang bisa di banggakan, ternyata Bagas merupakan ketua OSIS. Menurutnya jabatan itu tidak bisa di banggakan. Karena, tetap saja ia pembuat masalah yang hanya beruntung di percaya sebagai ketua OSIS.
Bagas menarik nafas dalam, ia tak pernah kepikiran mengenai hal itu karena ia benci hari ibu.

“Terserah.”

Chelsea merengut mendengar jawaban yang tak memuaskan itu. tapi kemudian ia memberikan sebuah map.

“Apa ini?”
“Tanda tangan aja, katanya terserah.”

Tanpa banyak bicara Bagas menanda tangani lembaran demi lembaran itu tanpa membaca isi dari bacaan tersebut.

“Oke karena kamu udah tanda tangan semuanya, kamu harus sambutan sebagai ketua OSIS dan kamu perwakilan dari OSIS buat memberikan persembahan buat acara nanti.”

Bagas mengerutkan keningnya tak mengerti. Chelsea yang menyadari gelagat tak mengerti dari Bagas itu kemudian mengacungkan lembaran terakhir yang ternyata merupakan pernyataan persetujuan untuk melakukan hal tersebut.

“Kamu gak bisa ngelak lagi, sebenernya aku gak ngerti kenapa kamu ngehindar banget dari hari ibu dan hari kartini, tapi dengan cara kayak gini aku harap kamu menghargai tanda tangan kamu sendiri.”

Setelah mengatakan hal itu Chelsea berlalu tanpa mempedulikan Bagas yang menatapnya dengan marah. Ya, siapa yang tidak marah jika di paksa seperti itu? kemudian ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan tenang. Ia bukan anak bandel yang tidak bertanggung jawab, tapi... apa yang harus ia lakukan?

***

Bagas terdiam saat mendengarkan suara yang begitu bagus dari kamar di sebelah, yang tentu saja kamar adiknya. Ia menarik nafas lelah. Sepertinya adiknya juga akan tampil besok. Ia sudah dapat merasakan bahwa ia memang tak akan pernah bisa di banggakan bila di bandingkan adiknya yang memiliki segalanya.

“Bagas. Kamu udah pulang?”

Bagas berbalik dan mendapati Mama-nya sedang tersenyum ke arahnya dengan celemek yang masih ia kenakan. Ia membalas senyuman itu tanpa minat.

“Iya.”

Setelah mengatakan itu Bagas memasuki kamar, kemudian membaringkan tubuhnya ke pembaringannya yang begitu rapih, padahal tadi sebelum bernagkat sekolah untuk pembagian rapot, kamar itu begitu berantakkan. Ia tahu yang membereskannya pasti Mama-nya karena mereka tak memiliki pembantu satu pun.
Sebuah ketukan mengembalikan pikirannya kedunia nyata.

“Bagas, makan dulu yuk.”
“Iya”

***

Nuansa makan malam terasa begitu gembira, kecuali Bagas yang hanya diam tak pernah banyak bicara.

“Agni, Bagas kenapa?”
“Aku gak tau Kka, Bagas emang selalu gini kalo pembagian rapot.”

Cakka, ayah dari Bagas hanya dapat menarik nafas panjang. Anak sulungnya dulu tidak pernah seperti ini, dia selalu ceria dan selalu bercerita seperti adiknya sekarang yang selalu cerita apapun yang dia rasakan di sekolah, tapi sekarang? Bagas tidak seperti dulu lagi.

“Gimana rapot kamu Gas?”

Bagas tersenyum kecil tanpa minat kemudian menatap Papa-nya. Ia tak tahu apakah ranking kedua dapat di banggakan atau tidak.

“Biasa aja, Pa, Ma Bagas ke kamar dulu.”

Setelah mengatakan itu Bagas berlalu begitu saja, ingin sekali ia larut dalam pembicaraan itu. Tapi ia tak bisa, itu hanya akan menimbulkan rasa sakit hati saja. Ia tahu, ada atau tidak adanya dia itu tak akan berpengaruh.

“Wah Difa besok tampil? Iya deh Mama dateng. Papa jugakan Pa?”

Bagas menghela nafas mendengar nada antusias dari Mama-nya. Apa dia akan sebangga itu jika mendengar ia juga akan tampil?. Bagas menutup pintu kamar itu kemudian menguncinya.

***

“Bagas mana sih? Diakan udah janji mau hadir”

Chelsea berjalan kesana kemari di belakang panggung, kemudian ia putuskan untuk keparkiran, memastikan kedatangan Bagas.

“Bagas.”

Bagas menengok ke arah sumbersuara dengan malas. Setelah melihat Chelsea ia kembali menangkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya.
Tak berapa lama, ia merasakan seseorang duduk di sampingnya dan memegang bahunya lembut.

“Aku gak tau kamu kenapa, aku juga gak tau apa penyebab kamu kayak gini. Tapi Gas, aku harap kamu bisa melaksanakan tugas kamu sebagai ketua OSIS. Kamu terpilih pasti bukan tanpa sebab. Aku juga gak bakalan maksa tahu tentang kenapa kamu gak pernah mau sambutan di acara-acara. Tapi please... untuk kali ini...”

Bagas merasakan tangan itu turun dan terdengar desah nafa penuh keputus asaan. Selama ini Bagas memang tidak penah mau jika berpidato untuk sedikit saja, pertama dan terakhir kalinya ia berucap di depan audiens adalah saat dia terpilih jadi ketua OSIS, itu saja.

“Aku pergi dulu, aku bakalan gantiin kamu lagi kalo kamu gak mau.”

Chelsea berjalan meninggalkan Bagas dengan kecewa. Ia kira dengan cara kemarin ia bisa memaksa Bagas melaksanakan tugasnya, tapi ternyata semuanya sia-sia.
Bagas masih terdiam, ia tidak sanggup menghadapi orang banyak, apalagi ada orang tuanya. Ia lebih baik disini daripada membuat malu orang tuanya.

“Gas, tapi aku masih berharap kamu yang bicara, bukan aku.”

Apakah memang ada yang mau mendengarkannya? Ia bukanlah seseorang yang bisa di banggakan. Ia hanya seorang yang beruntung mendapatkan jabatan itu, Bagas mematri kata-kata itu dalam hatinya.

***

“...Kepada ketua OSIS SMP Putera Bangsa atau yang mewakilinya di persilahkan.”

Chelsea terlihat akan memasuki panggung, tapi Bagas telah terlebih dahulu berada di atas panggung melalui tangga belakang. Chelsea memang duduk di barisan terdepan bersama beberapa undangan mewakili Bagas.

“Bagas.”

Chelsea menengok ke arah suara lembut dibelakangnya. Apa ini Mama-nya Bagas? Cantik sekali...

“Aku tidak menyangka.”

Chelsea kembali mengarahkan pandangannya ke panggung, dan ternyata sambutan itu telah berakhir. Kenapa cepat sekali? Apa yang dia katakan?

“Aku gak ngerti, kenapa selama ini Bagas tidak pernah mengatakan hal ini padaku, Kka. Aku gak nyangka. Difa juga, dia tidak pernah mengatakan apa-apa. Padahal jelas, mereka satu sekolah.”
“Sudah yang penting ternyata selama ini Bagas tidak seburuk itu.”
“Tapi Kka... kenapa enggak dari dulu? Aku bangga sekali melihat dia...”

Chelsea tersenyum mendengarnya, ia berbalik dna tersenyum ke arah orang tua Bagas.

“Bagas juga ranking kedua Om, Tant di kelasnya. Terlepas dari bolosnya, dia pintar sekali. Dia juga patuh sama guru, apalagi kalau ada temen yang kesusahan, pasti Bagas ada di jajaran depan buat nolongin.”
“Apa?”
“Iya Tante, itulah Bagas di sekolah.”
“Ya Tuhan...”

Cakka merengkuh Agni dalam pelukannya. Mereka tak menyangka putera sulungnya itu ternyata begitu baik. Mereka memang menyadari itu, dari sejak kecil dia memang begitu baik, apalagi sama adiknya. Tapi, mereka tidak menyangka Bagas sebaik ini.

***

“Aku persembahin lagu ini buat Mama aku yang selama ini udah sayang sanget sama aku. I Love You, Ma... Difa sayang Mama.”

Bagas menarik nafas panjang, ia silih berganti menatap Difa kemudian Mama-nya yang terlihat begitu bangga terhadap Difa. Apakah ia juga akan membanggakan Mama-nya itu?

“Penampilan selanjutnya, dari Bagas. Ketua OSIS kita...”

Untuk kesekian kalinya ia mendesah putus asa. Apa ia bisa? Dengan langkah ragu ia memasuki panggung itu. yang pertama ia lihat adalah Mama-nya yang ternyata tidak pindah tempat duduk dari sejak tadi. Ia tak pernah bisa mengartikan tatapan Mama-nya itu. Apakah Mamanya itu bangga terhadapnya?

“Selamat siang semuanya. Sebenarnya aku gak tahu untuk apa aku berdiri disini. Aku tidak bisa seperti orang lain, temen-temen yang lain yang memberikan nyanyian, puisi atau apapun pada Mama-nya.” Bagas menghela nafas. “Aku bukan anak berbakti seperti yang lain, aku tidak pernah memberikan sedikitpun rasa bangga pada beliau. Aku merasa, aku tidak pernah membuatnya bangga. Aku hanya bisa membuat Mama sedih dan menangis. Seperti sekarang ini, lihatlah... betapa jahatnya aku pada Mama.” Bagas terdiam sejenak. “Aku tidak pernah menyukai hari ibu, malah... aku sangat membencinya, karena aku tidak pernah bisa memberika sesuatu yang istimewa padanya, bahkan mengatakan rasa sayang-pun aku tidak bisa. Aku benci hari ibu, aku membenci diriku sendiri yang tak pernah bisa mengatakan rasa sayangku pada Mama. Entahlah... mungkin aku memang anak yang paling bodoh. bahkan, hanya bisa membuat Mama menangis di depan umum seperti ini. Ma... aku bukan anak Mama yang bisa di banggakan, karena aku paling nakal bahkan di bandingkan dengan Difa, aku tidak pernah bisa di bandingkan dengannya. Aku hanya bumi yang selalu di injak dan Difa langit yang selalu di pandang. Tapi Ma, seberapa nakalpun aku, Bagas Nuraga. Aku selalu mencintai Mama, menyayangi Mama, selalu dan selamanya. Untuk teman-teman, berbaktilah pada orang tua kalian, buat orang tua kalian bangga. Jangan seperti aku yang hanya bisa membuat orang tuaku sedih. Terimakasih... dari Bagas untuk Mama... I Love You, Ma...”

Bagas segera menyeka air matanya yang sedari tadi ia tahan dengan sekuat tenaga. Kemudian ia merasakan sebuah pelukkan hangat di tubuhnya. Ia menengadah.

“Ma...”
“Mama bangga sama kamu, Mama juga sayang sama kamu. Jangan pernah berpikir Mama tidak bangga sama kamu sayang... Papa juga sayang kamu... kami semua sayang kamu, apalagi Mama...”

Bagas membalas pelukan itu. Ia tak membohongi dirinya sendiri bahwa ia merindukan pelukan itu. ia merindukkan Mama-nya. Sangat rindu.

“Makasih Ma...”

Suara tepukan perlahan terdengar menyelimuti kehangatan itu. semua orang bahagia, semua orang merasakan hal itu. ucapan yang begitu tulus dari seorang anak dan Ibu-nya.

***

Epilog.

Agni menatap Bagas yang menggembungkan pipinya dengan geli. Ini pertama kalinya ia melihat putera sulungnya itu salah tingkah.

“Tapi beneran lho dia cantik Gas, dia itu tahu banget tentang kamu. Dia itu perhatian sama kamu. Emangnya kamu gak ada rasa juga sama dia?”
“Ih Mama...”
“Agni, jangan godain Bagas terus dong kasian. Wajar aja dong kalo Bagas udah saling suka-sukaan. Iyakan Gas?”
“Papa... Papa sama aja deh...”
“Cie... Kak Bagas salting terus ah... tembak dong Kak. Kalo enggak di tembak buat Difa aja ya?”
“Heh! Gak boleh.”
“Haha... Kak Bagas cemburu niee...”
“Gak... ihh Difa awas ya...”

Agni dan Cakka saling melirik melihat kedua puteranya saling mengejar. Inilah pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan yang utuh, lengkap dengan kedua puteranya. Semoga... ini akan terus berlanjut. Akan menjadi kebahagiaan yang abadi.
Agni merasakan kecupan di pipi kanan dan kirinya.

“I Love You, Ma...”

***

The End.
Write : Ciamis, 22 Desember 2013

Author : Nenden Siti Sopiah.

No comments:

Post a Comment