Part 7: Back or Lost?
***
Agni menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tersenyum kecil
saat terbayang kejadian yang menurutnya bersejarah itu. Ia tak pernah bermimpi
akan di lamar dengan cara seperti itu. Benar-benar mengejutkannya. Agni melirik
ponselnya yang belum berdering sedikitpun. Patton
lagi ngapain ya? kok gak ngabarin sih...
Agni menghela nafas panjang. Memikirkan pria itu menjadi
terpikirkan pula dengan bagaimana cara bicara ada Oma-Opa dan
saudara-saudarannya. Bagaimana bisa ia menerima lamaran seorang pria tanpa
membicarakan hal itu terlebih dahulu pada pihak keluarga? Tapi, itu yang ada
dalam hatinya. Ia bahagia. Tak ia pungkiri juga bahwa ia memang ingin menikah
dengan Patton. Memang kalian pikir gadis mana yang akan menolak pria yang
memang idaman setiap wanita? Segalanya hampir sempurna.
Dengan ragu Agni meraih ponselnya, ia menimang-nimang ponsel
itu. hubungi... atau tidak. Hubungi...
Ponsel Agni berdering. Dengan segera Agni mengangkatnya.
“Pagi sayang.”
“Eh. Err... pagi juga.”
“Kamu lagi ngapain?”
“Diem aja. Kamu?”
“Lagi mikirin kamu.”
Semburat merah dengan cepat menguasai wajah itu. Agni
memegang dada sebelah kirinya yang terasa melompat-lompat itu. ia tersenyum
kecil.
“Ngapain senyum-senyum? Seneng ya...”
“Ihh seneng apa? Geer kamu. Emang
darimana kamu tau aku senyum-senyum?”
“Separuh aku itu kan kamu. Apapun yang kamu rasain aku juga rasain.”
Lagi-lagi Agni tersipu dengan ucapan itu. entah sejak kapan
ia tak merasakan hal seperti ini lagi. Yang jelas, sekarang ia sangat bahagia.
Sangat amat bahagia, hingga tak bisa ia lukiskan seberapa berwarna hatinya saat
ini.
“Bisa aja kamu. Kamu udah mandi?”
“Belum.”
“Jorok.”
“Biarin. Lagian kamu gak bangunin aku sih.”
“Kan biasanya juga enggak. Emang
kenapa bangunnya jam segini? Semalem tidur jam berapa?”
“Hampir tengah malam.”
“Kenapa?”
“Sibuk.”
“Sibuk apa?”
“Mikirin kamu.”
Oh God... Patton...
lagi-lagi Agni memegang dada bagian kirinya. kenapa pria itu menjadi senang
menggodanya? Jika seperti ini terus, apa tidak akan berakibat buruk pada
kesehatan jantungnya?
Agni menghela nafas panjang.
“Sayang...”
“Iya.”
“Kangen...”
“Ihh apaan sih kamu. Baru juga
kemaren ketemu. Udah ah... mandi sana. Dasar jorok.”
“Iya. Oiya, nanti malam aku ke rumahmu ya...”
“Ngapain?”
“Ya aku mau bicara sama Oma-Opa kamu tentang hubungan kita.”
“Err... emang harus hari ini ya?”
“Bukannya lebih cepat lebih baik?”
“Eh... iya.”
“Yaudah, bye.”
“Mau kemana?”
“Tadi katanya disuruh mandi.”
“I..iya. Bye.”
“Bye.”
“Tunggu.”
“Apa sayang?”
“Jangan lupa sarapan ya.”
“Iya... kamu juga”
Di arah sebrang Patton
tersenyum bahagia mendengar ucapan itu. ia senang, sekarang ada yang
mempedulikannya.
“Err... yaudah bye.”
“Bye.”
Setelah panggilan itu di akhiri Agni memeluk ponselnya dan
tersenyum begitu lebar yang sarat akan kebahagiaan yang begitu melimpah. Ya Tuhan... semoga dia terbaik untukku.
***
Ify, Sivia dan Shilla berkumpul di sebuah ruangan yang
berada tak jauh dari kamar ke empatnya. Mereka memang selalu berkumpul apalagi
disuasana weekend seperti ini. mereka tak akan melewatkannya sekalipun.
“Kayaknya kamu emang suka ya Fy
sama Rio?”
Ify membelalakan matanya, lalu dengan cepat menatap tajam ke
arah Shilla. Bagaimana bisa saudaranya ini bisa berkata seperti itu?.
“Enggak.”
“Tapi kok, aku perhatiin kamu
kayaknya gimana gitu. Apalagi waktu semalem gak sengaja ketemu di mall,
kayaknya salting gimana gitu.”
“Iya Fy, bener apa kata Shilla.
Ngaku aja deh...”
Ify menghela nafas panjang. Dalam hati ia membenarkan
perkataan itu. tapi entah kenapa ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia menatap
Shilla dan Sivia bergantian.
“Ya... mungkin.”
“Ciee...”
“Eh tapi kenapa Alvin kayaknya
sentimen banget ya sama kamu Fy. Juteknya itu lho... padahal sama aku gak gitu.
Sama Shilla juga.”
“Mungkin emang sukanya sama kamu
Via atau Shilla mungkin.”
“NO! Aku sukanya sama Gabriel.”
Shilla dengan cepat menutup mulutnya. Sedetik kemudian ia
memamerkan deretan giginya dengan kedua tangan yang seakan mengisyaratkan
menyerah.
“Aih... terang-terangan banget
Shill, tapi sorry nih ya Fy... bukan maksud apa-apa. Kayaknya kok malah Rio ya
yang justru merhatiin kamu. Dari mulai kamu lagi bicara... Rio itu mantengin
terus gak pernah lirik sana-sini.”
Shilla dengan cepat menepuk paha Sivia saat menyadari
perubahan raut wajah Ify. Ia melotot ke arah Sivia dengan gemas. Kok
bisa-bisanya sih Sivia bilang gitu?.
“Fy... jangan salah faham
dulu...”
Ify tersenyum tipis.
“Enggak kok. Aku biasa aja.” Ify
berdehem kecil.
“Kalo kamu suka gak sama Alvin?
Kayaknya Alvin merhatiin kamu banget tuh. Iya gak Shil?”
Sivia membulatkan matanya. Lalu mengalihkan pandangan ke
arah lain dengan tangan kanan yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Mungkin... aku tertarik
sepertinya.”
“CIE akhirnya Sivia mau juga
ngaku suka sama Alvin.”
“Sst... jangan keras-keras Fy,
nanti Agni tau.”
“Aku udah tau. Jadi kalian suka
sama anak kos itu hm?”
Dengan kompak Ify, Sivia dan Shilla mengalihkan pandangan ke
arah sumber suara yang terdengar begitu dingin dan sarat akan ketidak sukaan
itu. apa dia mendengarkan semuanya? Tentu jawabannya adalah iya. Mereka saja
yang tidak menyadari ke adaan sekitar mereka. apakah ini akan menimbulkan
masalah? Mereka masing-masing terdiam. Mereka sadar Agni marah karena berniat merahasiakan ini
pada Agni, walau ternyata Agni telah lebih dulu akan hal itu.
Gadis itu menatap tajam ketiganya yang duduk di atas sofa.
Gadis itu mulai mendekat dengan sesekali mengusap wajahnya frustasi.
“Shil, apa loe yakin dia gak akan
selingkuhin loe lagi?”
“Agni... dia itu...”
Gadis itu, Agni. Ia memutar bola matanya lalu menatap tajam ke arah gadis yang duduk dengan
tertunduk, tak lama Shilla menengadah menatap sayu ke arah Agni, melawan
tatapan tajam yang tak ingin terkalahkan itu.
“Apa? Dia itu baik? Perhatian?
Pengertian? Seperti loe bilang saat pertama kali loe kenal mantan brengsek loe
itu.”
Agni mengalihkan pandangan pada Sivia yang duduk di tengah.
Kali ini Agni menatap dengan sayu karena ia paling tak bisa membentak Sivia.
“Loe juga Via...”
Agni memelankan nada bicaranya.
“Emang loe yakin dia cowok tulen?
Atau ya... seenggaknya bukan cowok yang mau berubah jadi hetero seperti mantan
gue itu. Jangan tertipu lagi Via, kesalahan kita dulu jangan sampe terulang.”
“Tapi... dia itu bener-bener...”
Agni mengusap wajahnya, menenangkan dirinya agar lebih
tenang.
“Lembut? Ngerti sama mood loe
yang selalu berubah-ubah? Dan setelah itu loe tau kalau ternyata pacar loe itu
cowok jadi-jadian. Gitu? Apa loe mau nanggung malu lagi di bilang penyuka
sesama jenis?.”
Agni mengalihkan pandangan lagi pada Ify yang menutup
wajahnya dengan kedua tangannya. Agni menarik dan membuang nafas dengan tenang.
“Dan loe Fy! Loe itu paling tua
dari kita tapi kenapa loe malah bertekuk lutut sama cowok itu?.”
“Dia itu dewasa...”
Mata Agni berkilat, menjadi tajam kembali.
“Dewasa, kebapak-an dan
pengertian!. Hello? Emang loe siap liat kenyataan lagi kalo ternyata dia udah
punya istri? Apa mata loe udah ketutup sampe semua cowok loe bilang gitu? Dan
kalian semua! Kalian itu kenapa sih? Kok bisa-bisanya langsung kepincut aja.
Dan pokoknya gue gak mau tau! Kalian... gak boleh lagi deket-deket sama
mereka!”
“Terus, hubungan apa yang pantes
ngedeskripsiin loe sama Dokter Patton? Hah?!”
Agni menggeram keras mendengar penuturan Shilla.
“Diam! Loe...”
Agni menunjuk wajah Shilla dengan sebal, kemudian ia
menggeram untuk kedua kalinya, lalu beranjak dari kediaman yang sangat mewah
itu.
Sivia berdecak. Ia menatap Shilla tajam.
“Kenapa sih ngomong gitu?
Ribetkan?!”
Dengan cepat Sivia mengejar Agni yang telah menghilang entah
kemana. Ia terus berjalan secepat mungkin.
“AGNI.”
Sivia berteriak memanggil Agni sebelum gadis itu mencapai
mobilnya. Agni berhenti di tempat tanpa ada niat menoleh. Sivia mendekati Agni.
“Aku gak maksud egois Vi, tapi
harusnya kalian sadar kalian belum lama kenal sama mereka. siapa sih yang bisa
nyelam di hati manusia? Gak ada. Gak akan pernah ada yang tau di dalam hati
manusia itu seperti apa. Dan asal kalian tau... aku kenal dengan Patton gak
bisa di bandingin dengan kenalnya kalian sama mereka. aku mengenal Patton
hampir dua belas tahun, setengah dari hidupku selama ini. Tapi kalian? Dua
minggu aja belum.” Agni menghela nafas.
“Belum tentu juga mereka suka
sama kalian. Bisa saja yang Rio suka malah Shilla, yang Gabriel suka malah
Sivia dan yang Alvin suka malah Ify. Kalo kejadiannya seperti itu. apa yang mau
kalian lakuin? Musuhan? Apa bisa kalian nyatu dalam kondisi gitu? Pikirlah
segalanya.”
Agni menghela nafas, ia berbalik dan menepuk pundak Sivia
lalu melirik ke arah pintu utama yang ternyata ada Ify yang menatap ke arah
Agni dan Sivia. Juga ada Shilla yang entah melihat ke arah mana dengan melipat
tangan di dada.
Agni menghela nafas kembali, ia lelah.
“Pikirin baik-baik. Aku pergi.
Bye.”
Dengan cepat Agni memasuki mobilnya. Ia memejamkan matanya
sejenak lalu menginjak gas dan memacu kendaraannya dengan cepat di jalanan
kompleks yang memang selalu sepi itu.
Sivia mendekat ke arah Shilla dan menatapnya.
“Bener apa kata Agni. Kita gak
kenal mereka.”
BRAK...
Ketiganya menegang. Suara itu kemudian di lanjutkan dengan
dentuman yang begitu keras. Mereka bertiga berpandangan.
“Agni...”
***
Patton keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di atas
kepalanya. Ia melirik ponselnya yang masuk beberapa pesan. Ia tak menghiraukan
itu, ia dengan santai meraih pakaian yang memang telah ia siapkan itu untuk
berkencan dengan kekasih hatinya itu.
Setelah selesai berpakaian ia berkaca untuk merapihkan
rambut dan meneliti penampilannya.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Ia meraih benda itu.
“Dokter Patton.”
“Iya ada apa?”
“Anda harus segera ke rumah sakit Dok. Sekarang juga.”
“Lho, ada apa? Hari ini saya
tidak ada jadwal. Bukannya ada dokter lain?”
“Iya, memang ada Dok. Tapi Dok ini...”
“Hari ini saya ada janji.
Sampaikan maaf saya...”
“Ini masalah Dokter Agni Dok. Dokter Agni kecelakaan.”
“APA?!”
“Iya Dok. Saya bukan maksud menganggu anda tapi setau saya Dokter Agni
itu...”
“Saya kesana sekarang.”
Setelah menyambar kunci mobilnya ia segera beranjak memasuki
mobil yang telah siap pakai itu. dalam pikirannya berkecamuk antara khawatir
dan rasa tak percaya. Bagaimana bisa? Kenapa Agni tidak memberi taunya jika
ingin pergi? Kenapa?!
“Agni... kenapa kamu gini sih?
Aku sayang banget sama kamu. Aku udah bilang kalo mau pergi bilang dulu...
kenapa sih kamu...”
Patton mengumpat kesal sambil memukul stirnya dengan kesal.
Disaat seperti ini jalanan masih bisa macet? Ya Tuhan... lindungi dia... amin.
***
Oma-Opa, Ify, Sivia dan Shilla duduk dengan tak tenang di
bangku tunggu. Sesekali Shilla berdiri dan mondar-mandir kesana kemari.
“Agni... loe kenapa sih kok bisa
gini?”
Shilla berdecak kesal. Disaat seperti ini Patton menghilang?
Ia tau kalau Patton itu salah satu dokter terbaik yang dimiliki rumah sakit
ini. tapi untuk pembedahan hanya dia yang bisa di andalkan. Tapi mana? Kenapa
batang hidungnya tak kunjung muncul juga?
“Shil... Oma, Opa... Fy, Via.
Agni?”
“Dari mana aja sih loe? Masuk
sana.”
Shilla mendorong tubuh Patton dengan gemas. Sementara Patton
melangkah dengan ragu ke dalam ruangan dimana Agni berada. Apa ia sanggup? Apa
ia bisa menyelamatkan Agni? Kenapa... kenapa ini terasa berat sekali? Bahkan...
ini bukan pertama kalinya Patton menghadapi kasus seperti ini. tapi... ini
Agni, kekasihnya, calon istrinya.
“Dokter.”
Patton tak menanggapi panggilan itu. ia berjalan ke arah
Agni membelai pipi yang penuh darah itu, darah yang terus keluar perlahan dari
dahi cantik itu. Patton memejamkan matanya. Tenang...
tenang... ia menghela nafas panjang lalu dengan mantap ia menatap Agni. Semoga Tuhan selalu melindungimu dan memberi
kemudahan untukku untuk mengobatimu...
Beberapa suster yang sedang menangani luka Agni terdiam
sejek. Dokter Dayat yang memang sedang menangani Agni terus bekerja dengan
begitu cekatan dengan sesekali melirik Patton.
Tanpa komando Patton mulai membersihkan luka-luka itu tanpa
ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.
“Kaki kanan patah dan beberapa
luka di tangan.”
“Segera siapkan untuk melakukan
operasi setelah ini.”
Dayat menatap Patton yang masih sibuk membersihkan luka di
wajah Agni.
“Jangan gegabah. Agni kekurangan
darah. Kita harus menunggu sampai kondisinya stabil.”
“Gak bisa.”
“Dokter Patton sebaiknya anda
keluar dari sini.”
Dayat berucap sambil merapihkan pakaiannya. Ia telah
menyelesaikan tugasnya. Patton menatap tajam ke arah Dokter Dayat. Dia tidak
mengerti keadaannya. Tidak mengerti perasaannya!.
“Agni harus cepat sembuh.”
“Tapi harus sesuai prosedur.
Kalau tetap memaksa bukannya Agni sembuh, tapi sebaliknya.” Dayat menghela
nafas. “Mungkin anda mengerti maksud saya. Dan akan lebih mengerti daripada
saya. Saya juga mengerti perasaan anda. Tapi, bagaimanapun juga keselamatan lebih
penting daripada ketergesa-gesahan.”
“Terimakasih.”
“Sama-sama, saya permisi.”
Patton mengaguk lemah. Sepeninggal Dayat, Patton terus
menatap Agni dengan tersenyum miris. Ia lalai menjaga Agni, baru satu hari ia
menjalin hubungan kenapa telah datang cobaan yang begitu besar? Ia mendekatkan
diri pada Agni lalu berbisik.
“Yang kuat sayang... aku
berjanji... aku akan merawatmu.”
Patton mengecup kedua mata Agni cukup lama, lalu beralih
pada hidung yang di kecupnya sekilas. Ia menatap Agni cukup lama berharap mata
itu segera terbuka. Ia membelai alat bantu pernafasan yang masuk ke dalam
hidungnya. Lagi-lagi ia tersenyum miris, kemudian menundukan kepalanya lalu ia
mengecup bibir pucat Agni cukup lama.
“Diem Shill mau ngapain?”
Patton segera menjauhkan diri dari Agni saat mendengar
bisikan yang tak jauh dari tempatnya itu. ia berbalik dan mendapati tiga
saudara Agni beserta Oma dan Opa nya. Ia tersenyum...
“Loe apa-apaan cium-cium Agni
hah?! Brengsek loe ya ternyata.”
Patton mengerutkan keningnya. Heran dengan ucapan Shilla.
“Brenngsek?”
“Iya. Loe tuh bukan
siapa-siapanya Agni. Loe gak perhak gituin dia.”
Patton tersenyum tipis. Ia melirik Agni dan menjatuhkan
pandangan pada jari-jari Agni.
“Maaf sebelumnya. Tapi, aku sama
Agni udah mutusin buat tunangan dan menikah.”
“What?!”
Patton tak menanggapi kekagetan saudara-saudara Agni. Ia malah
berjalan ke arah mereka, tepatnya ke arah Kiki dan Riva. Ia menghela nafas
panjang.
“Oma, Opa... sebelumnya Patton
minta maaf karena gak bisa jaga Agni. Juga... maaf Patton baru bilang hal ini.”
Kiki menghembuskan nafas. Sebelah tangannya menepuk nepuk
pundak Patton dengan senyuman tipis di bibirnya. Tak ia pungkiri bahwa ia juga
ikut senang akan kabar hal itu, bagaimanapun ini pilihan cucunya. Ia yakin Agni
tak akan salah pilih, di tambah lagi ia memang telah lama mengenal Patton. Tak pernah
ada kabar miring sedikitpun menerpa pilihan cucunya ini. Kiki menarik Patton kedalam
pelukannya.
“Opa ikut senang.”
Patton menghela nafas lega. Ia tersenyum sambil membalas
pelukan Kiki.
“Terimakasih Opa.”
Kiki menepuk-nepuk punggung Patton, meyakinkan pria itu
bahwa semuanya memang terbaik dan akan baik-baik saja.
Sementara itu Shilla duduk di samping Agni dengan kedua tangan
yang menutup wajahnya. Sekarang ia baru sadar akan kesalahannya. Ternyata caranya
menyinggung tentang Patton salah besar. Pantas saja Agni langsung beranjak saat
itu juga. God... kenapa semuanya terasa
sulit? Kalau sampe ada hal yang lebih buruk lagi aku akan menyalahkan diriku
sendiri. Aku benar-benar menyesal. Bagaimanapun Agni pergi karena aku.
“Sus, segera pindahkan Dokter Agni
ke kamar VIP dan jangan lupa katakan pada Dokter Dayat, percepat untuk
transfusi darah.”
Suster itu hanya mengangguk menanggapi ucapan Patton. Kini ia
berdiri di samping kiri Agni, sebelah tangannya mengelus dahi Agni dengan
lembut.
“Aku berjanji akan melakukan yang
terbaik untuk Agni.”
Sivia menepuk pundak Patton. Ia tersenyum pada Patton saat
pria itu menengok.
“Kita percaya.”
***
Perlahan Agni membuka matanya yang terasa begitu berat. Ia menyipitkan
matanya begitu melihat cahaya yang begitu terang menerpa wajahnya. Saat ia akan
mengangkat tangan, tangannya tak bisa terangkat karena begitu berat. Dengan perlahan
Agni menengok ke kanan dan kekiri. Ruangan putih ini kosong. Agni masih
bertanya-tanya dengan ruangan ini yang begitu asing di matanya, tempat tidur
berwarna putih ini begitu mewah namun dingin. Sebenarnya dimana aku?
“Agni...”
Suara lembut yang begitu ia rindukan menggema di ruangan
itu, Agni menengok kemudian tersenyum.
“Ibu, Ayah...”
Mereka tersenyum, kulitnya pucat dan semakin pucat dengan
pakaian yang putih bersih yang mereka kenakan.
“Agni...”
Agni menengok ke arah kanannya, seorang pria dengan pakaian
yang juga putih berdiri di sampingnya. Agni mengerutkan keningnya, sepertinya
ia mengenal pria ini. tapi... siapa?
“Kamu... siapa?”
“Dia adalah lelaki yang nantinya
akan menjadi suami kamu sayang. Dia ada di dekatmu sekarang. Pergilah dengannya
kami merestuimu.”
“Ibu... aku ingin bersama kalian.”
Ibunda Agni menggeleng lemah.
“Tidak sayang. Kamu harus
meneruskan hidupmu. Genggamlah tangannya dan kamu akan terbangun.”
“Ibu, Ayah...”
“Genggamlah... Ibu dan Ayah akan
selalu ada dalam hatimu.”
Agni menengok ke arah pria itu. pria itu mengulurkan tangan
kanannya dengan senyuman yang begitu menenangkannya. Ia menengok ke arah Ibu
dan Ayahnya yang ternyata sedang tersenyum dan mengangguk ke arahnya.
Agni menatap pria itu kembali dan dengan ragu meraih tangan
itu. tangan itu hangat, dan sebuah genggaman menguat di tangannya. Lalu tak
lama setelah itu terdengar riuh menyebutkan namanya dan menyerukan kata ‘Dokter’.
***
Bersambung.
Part 8: I’m Back.
But...
No comments:
Post a Comment