Monday, 28 October 2013

BIJI in Love. Part 8

Part 8: I’m Back, But...

***

Patton beberapa kali menarik nafas panjang. Sebagai Dokter ia tau betul kemungkinan-kemungkinan keadaan pasca tersadar nanti. Semoga prasangkaku salah Tuhan...
 Apakah ia siap jika Agni lupa padanya? Ia tersenyum pada Agni yang mulai membuka matanya dengan sempurna setelah mengerjap dan menutupkan matanya lama beberapa kali sampai ia merasa putus asa memikirkan akankah kekasihnya itu sadar atau malah pergi, namun Tuhan memang masih menyayangi Agni, saat ini Agni benar-benar membuka matanya sementara Patton terus memeriksa keadaan Agni dengan teliti. Tak ingin satupun terlewatkan.

“Argh... a.aku kenapa?”

Patton belum menanggapi ucapan Agni, ia malah menginstuksikan pada suster yang menemaninya untuk keluar memanggil anggota keluarga Agni yang setia menunggu di luar ruangan.

“Patton... k.kakiku...”


Patton mematung. Ia menatap Agni tak percaya. Apa ia tak salah dengar? Atau ini hanya halusinasinya saja? Ia ersenyum lebar lalu mendekap wajah Agni dengan kedua tangannya.

“Agni... kamu... inget aku?”

Agni mengerutkan dahinya heran.

“Memangnya kamu berharap aku lupa kamu?”

Dengan cepat Patton memeluk Agni. Salahkah ia sangat bahagia sekarang? Ternyata do’anya benar-benar terkabul. Dengan ragu Agni membalas pelukan itu. Patton kenapa?

“Agni... kamu sadar sayang?”

Agni  menoleh ke arah pintu yang terbuka saat Oma-Opa saudara-saudaranya beserta Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka. Dengan refleks Patton melerai pelukannya. Wajahnya masih menyiratkan kebahagiaan yang sangat sukar untuk di lukiskan membuat anggota keluarga lainnya bernafas lega.

“Oma... Opa...”

Bergantian Riva dan Kiki memeluk cucu kesayangannya itu. Riva mengelus kening Agni dengan sayang, wajahnya menyiratkan kelegaan yang teramat dalam. ia tak ingin kehilangan cucunya secepat ini setelah harus kehilangan seluruh puterinya.

“Agni...”

Shilla mendekat ke arah Agni di sisi yang lainnya. Ia meraih tangan Agni dan menggenggamnya erat.
Agni mengerutkan keningnya, heran.

“Agni... aku tau kamu pasti masih marah. Aku minta maaf... aku tau aku salah... maaf...”

Agni tersenyum tipis dan menatap Shilla dengan begitu teduh.

“Iya... tapi... kamu siapa?”

Shilla menegang. Ia melirik ke arah Patton yang juga mengerutkan keningnya heran. Shilla kembali menatap Agni dengan pandangan yang menyiratkan kekecewaan.

“Agni... aku Shilla, sepupu kamu.”

Agni memejamkan matanya begitu erat. Berusaha mengingat apapun yang bisa ia ingat. Tapi...
Agni mengerang. Ia tak sanggup untuk memikirkannya.

“Agni stop... sayang... jangan maksa.”

Patton menggenggam tangan Agni yang mencengkram kepalanya sendiri lalu memeluk Agni dengan erat.

“Stop Agni...”
“Kenapa? Kenapa aku gak inget mereka?”

Seketika wajah Cakka memucat. Apa-apaan ini? kenapa semuanya jadi semakin rumit?
Cakka menghela nafas panjang.

“Kamu gak inget kita?”

Agni mengangkat kepalanya lalu memandang keempat pemuda yang berdiri agak jauh. Ia menyipitkan matanya saat pandangannya terjatuh pada seorang pria yang sepertinya pernah ia temui, pernah ia kenal. Agni menghela nafas panjang. Ia menggeleng.

“Patton... kenapa?”
“Sebagian memori kamu hilang sayang. Sabar ya... aku janji akan bantu kamu mengingat semuanya.”

Dengan terang-terangan Patton mengecup kening dan puncak kepala Agni. Ia sungguh tak sanggup melihat ke adaan gadisnya yang menderita seperti ini.

***

“Apa maksud loe tiba-tiba nyosor di depan kita?”


Cakka berucap saat Patton baru saja memasuki ruangannya. Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka memang sengaja menunggu Patton masuk ruangannya untuk berbicara beberapa hal yang membuat mereka begitu bertanya-tanya.

Patton menghela nafas panjang. Dengan santai ia duduk di kursi kerjanya sementara saudara-saudaranya di sofa yang tak jauh dari tempatnya.

“Gue udah lamar Agni, dan dia nerima gue...”

Cakka tersenyum masam sementara yang lainnya hanya diam antara percaya dan tidak percaya.

“Gak usah ngarang deh. Gue yakin loe emang sengaja racunin pikiran Agni di saat dia lupa ingatankan? Gak bener-bener dia nerima loe.”
“Sayangnya tuduhan loe salah KAK.”
“HEH!”

Dengan cepat Gabriel dan Rio menarik tangan Cakka yang berdiri begitu cepat dan siap menyerang adik terbungsunya.

“Kka... tenang, semuanya bisa di selesain secara dingin.”

Rio menepuk-nepuk pundak Cakka menenangkan. Cakka mendeengus keras lalu melepaskan tangan-tangan yang menahan dirinya dan kembali duduk.
Gabriel dan Rio saling melirik dan menghela nafas panjang. Sementara Alvin menenangkan Cakka dengan berbisik-bisik kecil yang kemudian membuat Cakka menyeringai penuh kemenangan.

“Oke, gue akuin kalo gue kalah.”

Patton tersenyum lega. Namun sedetik kemudian ia mengubah ekspresinya.

“Tapi dengan syarat gue mau denger langsung Agni yang ngaku. Kalo dia bilang enggak inget loe pergi saat itu juga!.”

Wajah Patton memucat. Kenapa ia merasa takut? Bukankah Agni hanya mengingatnya? Dan itu berarti Agni ingat segalanya. Tapi...

“Gak bisa. Kasih gue kesempatan buat ingetin dia dong kalo gitu. Atau ya seenggaknya lamaran ulang...”
“What ever yang jelas gue mau secepatnya loe pergi dari kehidupan Agni.”

Cakka berucap kemudian beranjak tanpa peduli ekspresi Patton yang memendam kesal, marah dan ragu. Ya... iya ragu Agni ingat semuanya, ia ragu itu. karena mereka belum sempat membicarakan tentang hal itu.

***

Shilla menyuapi Agni dengan begitu hati-hati sementara di sisi lainnya ada Rio yang setia menemani. Mereka telah membuat kesepakatan bahwa akan menunggu Agni secara bergantian. Untuk hari ini baru Shilla dan Rio, hari berikutnya Sivia dan Gabriel, lalu Ify dan Alvin terakhir Cakka dan Patton.

“Bagaimana kalian kenal?”

Shilla dan Rio saling melirik kemudian kembali menatap Agni yang menatap keduanya begitu intens. Rasa ingin tau yang begitu besar begitu tersirat di wajahnya.

“Ya seperti yang aku bilang tadi, aku ngontrak rumah kamu bersama tiga saudaraku yang kain. Ya aku mengenal Shilla disana.”

Agni tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. kemudian terdengar sebuah ketukan di iringi dengan terbukanya pintu. Disana, Patton dengan jas kebanggaannya berdiri dengan senyum yang begitu menawan. Agni tersenyum ke arah Patton saat pria itu juga tersenyum padanya.

“Gimana keadaan kamu? Masih pusing?”

Patton berucap seraya menghampiri Agni dan mulai mengeluskan ibu jarinya di kening Agni dengan lembut. Tak lama setelah itu kemudian ia mengecup kening Agni sekilas.

“Patton...”

Agni berucap dengan lirih seraya menahan dada Patton yang mendekat ke arahnya. Ia melirik ke arah Rio dan Shilla yang memalingkan wajah ke arah lain.

“Err... kayaknya kita mendingan keluar dulu ya... yuk Yo.”

Shilla dengan cepat menarik tangan Rio agar meninggalkan Agni dan Patton berdua. Sebagai sesama anak muda mereka juga faham apa keinginan Patton dan Agni.

“Kita ada hubungan apa?”

Seakan tersambar petir di siang bolong jantung Patton seketika berdetak cepat mendengar pertanyaan Agni tersebut. Ternyata, meski Agni mengingatnya ternyata hubungan mereka dia tak ingat sama sekali. Apa Agni terbebani dengan pertunangan mereka sebelum kecelakaan?

“Agni...”

Patton duduk di samping Agni, menggenggam jemari Agni dengan erat. Lalu Ia mengecupnya lama seakan enggan untuk melepaskannya.

“Maaf...”
“Enggak Ni, kamu gak perlu minta maaf...”
“Tapi... aku benar-benar lupa, maaf...”

Patton menghela nafas panjang lalu mengelus pipi Agni dengan tangan kanannya. Ia tersenyum tipis.

“Aku gak tau ternyata pertunangan kita akan jadi beban buat kamu Ni, sampai kamu lupa. Sebagai Dokter pasti kamu juga tau alasan orang amnesia itu salah satunya karena apa. Aku yang harusnya minta maaf... maaf gara-gara hubungan kita kamu kayak gini.”

Agni meraih tangan Patton yang berada di pipinya, mencium telapak tangan itu dengan lembut. Agni memejamkan matanya cukup lama mencoba mencari serpihan-serpihan kenangan manis bersama Patton. Namun, ternyata sia-sia. Tak ada sedikitpun yang dapat ia ingat.

“Aku mau inget semuanya... kita bisa mulai semuanya lagi ya? karena aku yakin alasan aku kecelakaan seperti ini bukan karena hubungan kita.”

Patton tersenyum ia memeluk pinggang Agni yang masih terbaring dengan ia yang terduduk. Agni mengelus puncak kepala Patton yang berada di atas perutnya.

“Aku yakin, aku benar-benar mencintaimu Patton... sebelum ini. begitupun kamu, iyakan?”

Patton mengangguk pasti. Wajahnya terlihat begitu bahagia meskipun masih terselip rasa kekhawatiran.

“Aku mencintai kamu melebihi apapun yang aku punya sayang...”

Agni tersenyum pada Patton. Mencoba menenangkan pria itu dan menguatkan dirinya sendiri.

“Aku mau tau gimana kamu ngelamar aku...”

Patton menatap nanar ke arah Agni, sebegitu besarkah keinginan Agni? Atau itu hanya rasa tak enak hati saja? Namun, tanpa berpikir panjang lagi Patton mengangguk, ia bangkit dan memeluk Agni sambil berbisik tepat di telinga kekasihnya itu.

“Setelah operasi besok ya... aku gak sabar menunggu sampai kamu ingat lagi momen bersejarah itu”

Agni membalas pelukan itu, kali ini lebih nyaman lagi. Ia mengeratkan pelukannya kemudian menghirup aroma tubuh pria ini dengan dalam. sepertinya... aku ingat sesuatu...

***

Rio duduk di samping Shilla, ia meneguk air yang telah sebelumnya ia beli kemudian melirik Shilla yang tak henti menatap ke dalam ruang rawat inap Agni. Shilla menghela nafas panjang.

“Aku ngerasa bersalah banget Yo...”

Jika kalian berfikir Shilla dapat mendengar perbincangan Agni dan Patton maka jawabannya adalah iya. Karena sedari tadi ia memang tak beranjak dari bangku tepat di samping pintu.
Rio tak mengeluarkan sepatah katapun, karena ia tau bahwa wanita ini tak perlu sahutan, melainkan memerlukan orang untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Shilla menceritakan semua kronologi kecelakaan yang menimpa Agni kecuali pengakuan suka menyuka itu. sementara Rio dengan setia menyimak dan sesekali mengelus dan meremas pundak Shilla untuk menguatkannya.

“Sebaiknya kamu cerita sama Patton. Aku gak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya aku tidak terlibat sama sekali dalam masalah ini. aku takut salah langkah, aku gak bisa bantu kamu lebih.”

Rio menarik Shilla ke pundaknya. Ia mengelus rambut Shilla dengan sayang. Rio menarik nafas panjang. Ia tak pernah bisa melihat seorang wanita menangis dihadapannya seperti ini. wanita yang biasanya ceria dan begitu tegas, kini terlihat begitu lemah dan rapuh, lebih rapuh dari sebuah kaca yang telah lapuk.

***

Shilla menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya sejenak kemudian ia menghembuskannya pelan-pelan.

“Patton.”

Patton yang masih menggenggam tangan Agni yang tengah terlelap berbalik ke arah Shilla, mengerutkan keningnya heran.

“Ya, kenapa?”
“Bisa kita bicara sebentar...” Shilla menahan nafas. “Diluar.”

Patton menaikan satu alisnya, tak biasanya Shilla setegang ini. setelah lama menimang-nimang, ia pun melerai tangan Agni lalu mengecupnya pelan.

“Oke. Jangan lama-lama.”

Shilla mengangguk kemudian berjalan terlebih dahulu sementara Patton mengekor. Saat di ambang pintu Patton menghentikan langkahnya, ia menengok ke arah bangku dimana terdapat kakak ketiganya.

“Kak.” “Tolong jaga Agni.”

Rio mengangguk samar, setelah Patton dan Shilla benar-benar pergi ia memasuki ruangan itu. sebenarnya, tanpa ada intrupsipun ia dengan senang hati akan menjaga Agni dengan sepenuh hatinya. Terlepas dari siapa yang nantinya akan bersanding dengan Agni. Saat ini ia hanya akan terus menjaga Agni, melindunginya dengan sekuat tenaganya.

***

Patton menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi berwarna putih itu, pandangannya lurus kedepan dengan sesekali meminum air mineral yang berada di tangannya.
Shilla dengan ragu menengok ke arah Patton, setiap kali ia berusaha membuka mulut untuk berbicara dengan cepat ia bungkam kembali. Ia menghela nafas panjang. Tuhan... apa yang harus aku bicarakan? Aku harus mulai darimana?

“Gak udah tegang gitu kali Shill, ada apa emang?”

Patton melirik sekilas ke arah Shilla, membuat wanita itu menghadap sempurna ke arah Patton.

“Patton, maaf... aku bener-bener minta maaf. Aku yang buat Agni kayak gini. Bukan hubungan kalian. Sebelumnya aku minta maaf udah nguping pembicaraan kalian. Tapi Patton yang harus kamu tau itu adalah Agni bener-bener sayang sama kamu.”
“Tunggu.”

Patton menatap Shilla tak mengerti.

“Tolong langsung ke inti.”

Shilla menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Ia menatap penuh maaf pada Patton.

“Sebelum kecelakaan aku sama Agni debat, Agni ngelarang aku buat ya menjalin hubungan dengan lelaki yang baru aku kenal. Aku yang gak tau hubungan kalian langsung bawa nama kamu... dan Agni...”

Patton menghela nafas panjang.

“Udahlah Shil, lagian ini udah kejadian juga.” Ia melirik ke arah Shilla. “Tapi, makasih ya udah cerita semuanya, udah buat aku sedikit lega.”

Patto tersenyum menenangkan pada Shilla yang masih menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Ia menepuk pundak Shilla lalu mengelus puncak kepala wanita itu.

“Udah gak usah sedih gitu”

Shilla membalas senyuman itu. wajahnya merona mendapat perlakuan selembut itu. pantas saja Agni menerima Patton, bener-bener lembut...
Keduanya terdiam cukup lama. Sesekali Shilla mencuri-curi pandang ke arah Patton yang sedang menatap kosong ke arah depannya. Shilla pun melakukan hal yang sama. Ia menghela nafas panjang. Setidaknya hatinya telah cukup lega karena satu masalah telah usai.

***

Ify berjalan menyusuri koridor pagi itu. hari ini Agni akan operasi, entah kenapa ia ingin sekali menjadi orang pertama yang memberi dukungan pada Agni meskipun ia tahu bahwa ada Shilla dan Rio yang menunggu Agni. Ify menarik nafas lelah, ia sangat mendambakan untuk menunggu Agni bersama Rio, namun ternyata malah Shilla yang mendapat bagian itu. Kecewa? Tentu saja! Tapi untuk kali ini rasa kecewa itu tak ada gunanya. Yang terpenting adalah Agni, kesembuhan saudaranya itu.

Clek!

“Ag...”

Ify menutup mulutnya menahan teriakan. Untung saat ia masuk tak berteriak dengan keras. Bagaimana bisa ini terjadi? Ify mengerjapkan matanya beberapa kali. Agni... Rio...
Kedua tangan Rio dan Agni saling bertautan, satu tangan menggenggam yang kanan dengan ibu jari yang berada tepat di atas selang infusan dan sementara tangan kanannya menggenggam tangan kiri yang berada di sisi kiri Agni membuatnya memeluk perut Agni.

Ify belum kembali dari keterkejutannya, hingga terdengar suara Patton yang mulai mendekat ke arah kamar Agni. Dengan cepat ia berjalan ke arah Rio, mengguncangkan pria itu agar cepat terbangun.

“Yo, bangun ada Patton. Yo...”

Rio membuka matanya, lalu mengerjapkannya perlahan.

“Fy... Shilla mana?”
“Tangan kamu... ada Patton.”
“Eh...”

Rio segera tersadar lalu mengurai genggamam Agni yang begitu kuat itu. ia tak ingin saudaranya salah faham karena melihat hal ini. Rio tersenyum samar kemudian berdiri.

“Semoga operasinya lancar.”

Rio bergumam seperti berbisik, tapi anehnya terdengar dengan jelas oleh Ify yang berada tak jauh dari pria itu.

“Yo... makan eh Fy. Kapan dateng? Tau kamu dateng aku beli makannya tiga porsi deh.”

Ify memaksakan senyumnya, dalam pandangan terdalamnya jelas sekali bahwa ada raut kekecewaan, ketidak relaan dan sakit hati.

“Gak usah... lebih baik aku keluar dulu sebentar.”

Shilla mengangguk tanpa sadar perubahan Ify. Ia malah membuka sarapannya bersama Rio di sofa yang berada di ruangan itu.

“Hai Yo, Shill...”

Rio menaikan satu alisnya menanggapi sapaan Patton, dasar adik kurang ajar.
Patton yang mengerti arti dari tatapan itu hanya mengedikan bahunya dan tersenyum jahil kemudian berlalu ke arah Agni.

“Sayang...”

Patton berbisik tepat di telinga kanan Agni. Sebelah tangannya mengusap kening Agni yang tak tertutup perban. Agni mulai menggerakan tangannya gelisah.

“Udah siang sayang... sebentar lagi kita operasi.”
“Hm...” Agni mengerjapkan matanya, saat matanya telah menangkap sosok kekasihnya ia tersenyum. “Semalem kenapa gak nginep?”

Agni berucap dengan suara sserak khas orang bangun tidur. Sementara Patton tersenyum menjawab pertanyaan Agni, ia mengecup tangan kanan gadisnya itu dengan lembut.

“Aku harus pulang. Kalo aku disini aku takut gak bisa istirahat buat mulihin stamina aku buat hari ini. aku harus maksimal buat kamu.”

Agni menaikan satu tangannya menggapai pipi Patton.

“Sebaiknya kamu lupain aku sementara. Cuma saat di ruang operasi. Kalo status kita yang buat kamu berat.”

Patton meraih tangan Agni dan mengecupnya lagi. Ia mendekatkan diri pada telinga kanan Agni dan berbisik dengan begitu mesra.

“Ingat janji aku. aku akan selalu mendampingi kamu, selalu melindungi kamu. Apapun yang terjadi.”

***

Bersambung.

Part 9: Marry Me? (2)

No comments:

Post a Comment