Part 8: I’m Back,
But...
***
Patton beberapa kali menarik nafas panjang. Sebagai Dokter
ia tau betul kemungkinan-kemungkinan keadaan pasca tersadar nanti. Semoga prasangkaku salah Tuhan...
Apakah ia siap jika
Agni lupa padanya? Ia tersenyum pada Agni yang mulai membuka matanya dengan
sempurna setelah mengerjap dan menutupkan matanya lama beberapa kali sampai ia
merasa putus asa memikirkan akankah kekasihnya itu sadar atau malah pergi,
namun Tuhan memang masih menyayangi Agni, saat ini Agni benar-benar membuka
matanya sementara Patton terus memeriksa keadaan Agni dengan teliti. Tak ingin
satupun terlewatkan.
“Argh... a.aku kenapa?”
Patton belum menanggapi ucapan Agni, ia malah menginstuksikan
pada suster yang menemaninya untuk keluar memanggil anggota keluarga Agni yang
setia menunggu di luar ruangan.
“Patton... k.kakiku...”
Patton mematung. Ia menatap Agni tak percaya. Apa ia tak
salah dengar? Atau ini hanya halusinasinya saja? Ia ersenyum lebar lalu
mendekap wajah Agni dengan kedua tangannya.
“Agni... kamu... inget aku?”
Agni mengerutkan dahinya heran.
“Memangnya kamu berharap aku lupa
kamu?”
Dengan cepat Patton memeluk Agni. Salahkah ia sangat bahagia
sekarang? Ternyata do’anya benar-benar terkabul. Dengan ragu Agni membalas
pelukan itu. Patton kenapa?
“Agni... kamu sadar sayang?”
Agni menoleh ke arah
pintu yang terbuka saat Oma-Opa saudara-saudaranya beserta Gabriel, Alvin, Rio
dan Cakka. Dengan refleks Patton melerai pelukannya. Wajahnya masih menyiratkan
kebahagiaan yang sangat sukar untuk di lukiskan membuat anggota keluarga
lainnya bernafas lega.
“Oma... Opa...”
Bergantian Riva dan Kiki memeluk cucu kesayangannya itu.
Riva mengelus kening Agni dengan sayang, wajahnya menyiratkan kelegaan yang
teramat dalam. ia tak ingin kehilangan cucunya secepat ini setelah harus
kehilangan seluruh puterinya.
“Agni...”
Shilla mendekat ke arah Agni di sisi yang lainnya. Ia meraih
tangan Agni dan menggenggamnya erat.
Agni mengerutkan keningnya, heran.
“Agni... aku tau kamu pasti masih
marah. Aku minta maaf... aku tau aku salah... maaf...”
Agni tersenyum tipis dan menatap Shilla dengan begitu teduh.
“Iya... tapi... kamu siapa?”
Shilla menegang. Ia melirik ke arah Patton yang juga
mengerutkan keningnya heran. Shilla kembali menatap Agni dengan pandangan yang
menyiratkan kekecewaan.
“Agni... aku Shilla, sepupu
kamu.”
Agni memejamkan matanya begitu erat. Berusaha mengingat
apapun yang bisa ia ingat. Tapi...
Agni mengerang. Ia tak sanggup untuk memikirkannya.
“Agni stop... sayang... jangan
maksa.”
Patton menggenggam tangan Agni yang mencengkram kepalanya
sendiri lalu memeluk Agni dengan erat.
“Stop Agni...”
“Kenapa? Kenapa aku gak inget
mereka?”
Seketika wajah Cakka memucat. Apa-apaan ini? kenapa semuanya
jadi semakin rumit?
Cakka menghela nafas panjang.
“Kamu gak inget kita?”
Agni mengangkat kepalanya lalu memandang keempat pemuda yang
berdiri agak jauh. Ia menyipitkan matanya saat pandangannya terjatuh pada
seorang pria yang sepertinya pernah ia temui, pernah ia kenal. Agni menghela
nafas panjang. Ia menggeleng.
“Patton... kenapa?”
“Sebagian memori kamu hilang
sayang. Sabar ya... aku janji akan bantu kamu mengingat semuanya.”
Dengan terang-terangan Patton mengecup kening dan puncak
kepala Agni. Ia sungguh tak sanggup melihat ke adaan gadisnya yang menderita
seperti ini.
***
“Apa maksud loe tiba-tiba nyosor
di depan kita?”
Cakka berucap saat Patton baru saja memasuki ruangannya.
Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka memang sengaja menunggu Patton masuk ruangannya
untuk berbicara beberapa hal yang membuat mereka begitu bertanya-tanya.
Patton menghela nafas panjang. Dengan santai ia duduk di
kursi kerjanya sementara saudara-saudaranya di sofa yang tak jauh dari
tempatnya.
“Gue udah lamar Agni, dan dia
nerima gue...”
Cakka tersenyum masam sementara yang lainnya hanya diam
antara percaya dan tidak percaya.
“Gak usah ngarang deh. Gue yakin
loe emang sengaja racunin pikiran Agni di saat dia lupa ingatankan? Gak
bener-bener dia nerima loe.”
“Sayangnya tuduhan loe salah
KAK.”
“HEH!”
Dengan cepat Gabriel dan Rio menarik tangan Cakka yang
berdiri begitu cepat dan siap menyerang adik terbungsunya.
“Kka... tenang, semuanya bisa di
selesain secara dingin.”
Rio menepuk-nepuk pundak Cakka menenangkan. Cakka mendeengus
keras lalu melepaskan tangan-tangan yang menahan dirinya dan kembali duduk.
Gabriel dan Rio saling melirik dan menghela nafas panjang.
Sementara Alvin menenangkan Cakka dengan berbisik-bisik kecil yang kemudian
membuat Cakka menyeringai penuh kemenangan.
“Oke, gue akuin kalo gue kalah.”
Patton tersenyum lega. Namun sedetik kemudian ia mengubah
ekspresinya.
“Tapi dengan syarat gue mau
denger langsung Agni yang ngaku. Kalo dia bilang enggak inget loe pergi saat
itu juga!.”
Wajah Patton memucat. Kenapa ia merasa takut? Bukankah Agni
hanya mengingatnya? Dan itu berarti Agni ingat segalanya. Tapi...
“Gak bisa. Kasih gue kesempatan
buat ingetin dia dong kalo gitu. Atau ya seenggaknya lamaran ulang...”
“What ever yang jelas gue mau
secepatnya loe pergi dari kehidupan Agni.”
Cakka berucap kemudian beranjak tanpa peduli ekspresi Patton
yang memendam kesal, marah dan ragu. Ya... iya ragu Agni ingat semuanya, ia
ragu itu. karena mereka belum sempat membicarakan tentang hal itu.
***
Shilla menyuapi Agni dengan begitu hati-hati sementara di
sisi lainnya ada Rio yang setia menemani. Mereka telah membuat kesepakatan
bahwa akan menunggu Agni secara bergantian. Untuk hari ini baru Shilla dan Rio,
hari berikutnya Sivia dan Gabriel, lalu Ify dan Alvin terakhir Cakka dan
Patton.
“Bagaimana kalian kenal?”
Shilla dan Rio saling melirik kemudian kembali menatap Agni
yang menatap keduanya begitu intens. Rasa ingin tau yang begitu besar begitu
tersirat di wajahnya.
“Ya seperti yang aku bilang tadi,
aku ngontrak rumah kamu bersama tiga saudaraku yang kain. Ya aku mengenal
Shilla disana.”
Agni tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
kemudian terdengar sebuah ketukan di iringi dengan terbukanya pintu. Disana,
Patton dengan jas kebanggaannya berdiri dengan senyum yang begitu menawan. Agni
tersenyum ke arah Patton saat pria itu juga tersenyum padanya.
“Gimana keadaan kamu? Masih
pusing?”
Patton berucap seraya menghampiri Agni dan mulai mengeluskan
ibu jarinya di kening Agni dengan lembut. Tak lama setelah itu kemudian ia
mengecup kening Agni sekilas.
“Patton...”
Agni berucap dengan lirih seraya menahan dada Patton yang
mendekat ke arahnya. Ia melirik ke arah Rio dan Shilla yang memalingkan wajah
ke arah lain.
“Err... kayaknya kita mendingan
keluar dulu ya... yuk Yo.”
Shilla dengan cepat menarik tangan Rio agar meninggalkan
Agni dan Patton berdua. Sebagai sesama anak muda mereka juga faham apa
keinginan Patton dan Agni.
“Kita ada hubungan apa?”
Seakan tersambar petir di siang bolong jantung Patton
seketika berdetak cepat mendengar pertanyaan Agni tersebut. Ternyata, meski
Agni mengingatnya ternyata hubungan mereka dia tak ingat sama sekali. Apa Agni
terbebani dengan pertunangan mereka sebelum kecelakaan?
“Agni...”
Patton duduk di samping Agni, menggenggam jemari Agni dengan
erat. Lalu Ia mengecupnya lama seakan enggan untuk melepaskannya.
“Maaf...”
“Enggak Ni, kamu gak perlu minta
maaf...”
“Tapi... aku benar-benar lupa,
maaf...”
Patton menghela nafas panjang lalu mengelus pipi Agni dengan
tangan kanannya. Ia tersenyum tipis.
“Aku gak tau ternyata pertunangan
kita akan jadi beban buat kamu Ni, sampai kamu lupa. Sebagai Dokter pasti kamu
juga tau alasan orang amnesia itu salah satunya karena apa. Aku yang harusnya
minta maaf... maaf gara-gara hubungan kita kamu kayak gini.”
Agni meraih tangan Patton yang berada di pipinya, mencium
telapak tangan itu dengan lembut. Agni memejamkan matanya cukup lama mencoba
mencari serpihan-serpihan kenangan manis bersama Patton. Namun, ternyata
sia-sia. Tak ada sedikitpun yang dapat ia ingat.
“Aku mau inget semuanya... kita
bisa mulai semuanya lagi ya? karena aku yakin alasan aku kecelakaan seperti ini
bukan karena hubungan kita.”
Patton tersenyum ia memeluk pinggang Agni yang masih
terbaring dengan ia yang terduduk. Agni mengelus puncak kepala Patton yang
berada di atas perutnya.
“Aku yakin, aku benar-benar mencintaimu
Patton... sebelum ini. begitupun kamu, iyakan?”
Patton mengangguk pasti. Wajahnya terlihat begitu bahagia
meskipun masih terselip rasa kekhawatiran.
“Aku mencintai kamu melebihi
apapun yang aku punya sayang...”
Agni tersenyum pada Patton. Mencoba menenangkan pria itu dan
menguatkan dirinya sendiri.
“Aku mau tau gimana kamu ngelamar
aku...”
Patton menatap nanar ke arah Agni, sebegitu besarkah
keinginan Agni? Atau itu hanya rasa tak enak hati saja? Namun, tanpa berpikir
panjang lagi Patton mengangguk, ia bangkit dan memeluk Agni sambil berbisik
tepat di telinga kekasihnya itu.
“Setelah operasi besok ya... aku
gak sabar menunggu sampai kamu ingat lagi momen bersejarah itu”
Agni membalas pelukan itu, kali ini lebih nyaman lagi. Ia
mengeratkan pelukannya kemudian menghirup aroma tubuh pria ini dengan dalam. sepertinya... aku ingat sesuatu...
***
Rio duduk di samping Shilla, ia meneguk air yang telah
sebelumnya ia beli kemudian melirik Shilla yang tak henti menatap ke dalam
ruang rawat inap Agni. Shilla menghela nafas panjang.
“Aku ngerasa bersalah banget
Yo...”
Jika kalian berfikir Shilla dapat mendengar perbincangan
Agni dan Patton maka jawabannya adalah iya. Karena sedari tadi ia memang tak
beranjak dari bangku tepat di samping pintu.
Rio tak mengeluarkan sepatah katapun, karena ia tau bahwa
wanita ini tak perlu sahutan, melainkan memerlukan orang untuk mendengarkan
keluh kesahnya.
Shilla menceritakan semua kronologi kecelakaan yang menimpa
Agni kecuali pengakuan suka menyuka itu. sementara Rio dengan setia menyimak
dan sesekali mengelus dan meremas pundak Shilla untuk menguatkannya.
“Sebaiknya kamu cerita sama
Patton. Aku gak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya aku tidak terlibat sama
sekali dalam masalah ini. aku takut salah langkah, aku gak bisa bantu kamu
lebih.”
Rio menarik Shilla ke pundaknya. Ia mengelus rambut Shilla
dengan sayang. Rio menarik nafas panjang. Ia tak pernah bisa melihat seorang
wanita menangis dihadapannya seperti ini. wanita yang biasanya ceria dan begitu
tegas, kini terlihat begitu lemah dan rapuh, lebih rapuh dari sebuah kaca yang
telah lapuk.
***
Shilla menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya
sejenak kemudian ia menghembuskannya pelan-pelan.
“Patton.”
Patton yang masih menggenggam tangan Agni yang tengah
terlelap berbalik ke arah Shilla, mengerutkan keningnya heran.
“Ya, kenapa?”
“Bisa kita bicara sebentar...”
Shilla menahan nafas. “Diluar.”
Patton menaikan satu alisnya, tak biasanya Shilla setegang
ini. setelah lama menimang-nimang, ia pun melerai tangan Agni lalu mengecupnya
pelan.
“Oke. Jangan lama-lama.”
Shilla mengangguk kemudian berjalan terlebih dahulu
sementara Patton mengekor. Saat di ambang pintu Patton menghentikan langkahnya,
ia menengok ke arah bangku dimana terdapat kakak ketiganya.
“Kak.” “Tolong jaga Agni.”
Rio mengangguk samar, setelah Patton dan Shilla benar-benar
pergi ia memasuki ruangan itu. sebenarnya, tanpa ada intrupsipun ia dengan
senang hati akan menjaga Agni dengan sepenuh hatinya. Terlepas dari siapa yang
nantinya akan bersanding dengan Agni. Saat ini ia hanya akan terus menjaga Agni,
melindunginya dengan sekuat tenaganya.
***
Patton menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi berwarna
putih itu, pandangannya lurus kedepan dengan sesekali meminum air mineral yang
berada di tangannya.
Shilla dengan ragu menengok ke arah Patton, setiap kali ia
berusaha membuka mulut untuk berbicara dengan cepat ia bungkam kembali. Ia
menghela nafas panjang. Tuhan... apa yang
harus aku bicarakan? Aku harus mulai darimana?
“Gak udah tegang gitu kali Shill,
ada apa emang?”
Patton melirik sekilas ke arah Shilla, membuat wanita itu
menghadap sempurna ke arah Patton.
“Patton, maaf... aku bener-bener
minta maaf. Aku yang buat Agni kayak gini. Bukan hubungan kalian. Sebelumnya
aku minta maaf udah nguping pembicaraan kalian. Tapi Patton yang harus kamu tau
itu adalah Agni bener-bener sayang sama kamu.”
“Tunggu.”
Patton menatap Shilla tak mengerti.
“Tolong langsung ke inti.”
Shilla menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Ia
menatap penuh maaf pada Patton.
“Sebelum kecelakaan aku sama Agni
debat, Agni ngelarang aku buat ya menjalin hubungan dengan lelaki yang baru aku
kenal. Aku yang gak tau hubungan kalian langsung bawa nama kamu... dan Agni...”
Patton menghela nafas panjang.
“Udahlah Shil, lagian ini udah
kejadian juga.” Ia melirik ke arah Shilla. “Tapi, makasih ya udah cerita
semuanya, udah buat aku sedikit lega.”
Patto tersenyum menenangkan pada Shilla yang masih
menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Ia menepuk pundak Shilla lalu mengelus
puncak kepala wanita itu.
“Udah gak usah sedih gitu”
Shilla membalas senyuman itu. wajahnya merona mendapat
perlakuan selembut itu. pantas saja Agni
menerima Patton, bener-bener lembut...
Keduanya terdiam cukup lama. Sesekali Shilla mencuri-curi
pandang ke arah Patton yang sedang menatap kosong ke arah depannya. Shilla pun
melakukan hal yang sama. Ia menghela nafas panjang. Setidaknya hatinya telah
cukup lega karena satu masalah telah usai.
***
Ify berjalan menyusuri koridor pagi itu. hari ini Agni akan
operasi, entah kenapa ia ingin sekali menjadi orang pertama yang memberi
dukungan pada Agni meskipun ia tahu bahwa ada Shilla dan Rio yang menunggu
Agni. Ify menarik nafas lelah, ia sangat mendambakan untuk menunggu Agni
bersama Rio, namun ternyata malah Shilla yang mendapat bagian itu. Kecewa?
Tentu saja! Tapi untuk kali ini rasa kecewa itu tak ada gunanya. Yang
terpenting adalah Agni, kesembuhan saudaranya itu.
Clek!
“Ag...”
Ify menutup mulutnya menahan teriakan. Untung saat ia masuk
tak berteriak dengan keras. Bagaimana bisa ini terjadi? Ify mengerjapkan
matanya beberapa kali. Agni... Rio...
Kedua tangan Rio dan Agni saling bertautan, satu tangan
menggenggam yang kanan dengan ibu jari yang berada tepat di atas selang infusan
dan sementara tangan kanannya menggenggam tangan kiri yang berada di sisi kiri
Agni membuatnya memeluk perut Agni.
Ify belum kembali dari keterkejutannya, hingga terdengar
suara Patton yang mulai mendekat ke arah kamar Agni. Dengan cepat ia berjalan
ke arah Rio, mengguncangkan pria itu agar cepat terbangun.
“Yo, bangun ada Patton. Yo...”
Rio membuka matanya, lalu mengerjapkannya perlahan.
“Fy... Shilla mana?”
“Tangan kamu... ada Patton.”
“Eh...”
Rio segera tersadar lalu mengurai genggamam Agni yang begitu
kuat itu. ia tak ingin saudaranya salah faham karena melihat hal ini. Rio
tersenyum samar kemudian berdiri.
“Semoga operasinya lancar.”
Rio bergumam seperti berbisik, tapi anehnya terdengar dengan
jelas oleh Ify yang berada tak jauh dari pria itu.
“Yo... makan eh Fy. Kapan dateng?
Tau kamu dateng aku beli makannya tiga porsi deh.”
Ify memaksakan senyumnya, dalam pandangan terdalamnya jelas
sekali bahwa ada raut kekecewaan, ketidak relaan dan sakit hati.
“Gak usah... lebih baik aku
keluar dulu sebentar.”
Shilla mengangguk tanpa sadar perubahan Ify. Ia malah
membuka sarapannya bersama Rio di sofa yang berada di ruangan itu.
“Hai Yo, Shill...”
Rio menaikan satu alisnya menanggapi sapaan Patton, dasar
adik kurang ajar.
Patton yang mengerti arti dari tatapan itu hanya mengedikan
bahunya dan tersenyum jahil kemudian berlalu ke arah Agni.
“Sayang...”
Patton berbisik tepat di telinga kanan Agni. Sebelah tangannya
mengusap kening Agni yang tak tertutup perban. Agni mulai menggerakan tangannya
gelisah.
“Udah siang sayang... sebentar
lagi kita operasi.”
“Hm...” Agni mengerjapkan
matanya, saat matanya telah menangkap sosok kekasihnya ia tersenyum. “Semalem
kenapa gak nginep?”
Agni berucap dengan suara sserak khas orang bangun tidur. Sementara
Patton tersenyum menjawab pertanyaan Agni, ia mengecup tangan kanan gadisnya
itu dengan lembut.
“Aku harus pulang. Kalo aku
disini aku takut gak bisa istirahat buat mulihin stamina aku buat hari ini. aku
harus maksimal buat kamu.”
Agni menaikan satu tangannya menggapai pipi Patton.
“Sebaiknya kamu lupain aku
sementara. Cuma saat di ruang operasi. Kalo status kita yang buat kamu berat.”
Patton meraih tangan Agni dan mengecupnya lagi. Ia mendekatkan
diri pada telinga kanan Agni dan berbisik dengan begitu mesra.
“Ingat janji aku. aku akan selalu
mendampingi kamu, selalu melindungi kamu. Apapun yang terjadi.”
***
Bersambung.
Part 9: Marry Me? (2)
No comments:
Post a Comment