~Part 6: Marry Me?
***
Agni memutar-mutar ponselnya di atas meja kerja. Ia menatap
kesekeliling ruangan itu dengan pandangan kosong. Di tempat ini ia sepi, di
tempat ini ia sendiri. Sepeninggal Alvin ia memang kembali sendiri, tanpa ada
yang menemani. Salahkah ia jika kesepian? Tidak bukan? Karena setiap manusia
memiliki nurani, memiliki perasaan. Tak ada seorangpun di dunia ini yang mau
kesepian, termasuk Agni.
Agni melirik jam dinding, ia menghela nafas berat. Masih jam kerja. Agni mendesah lelah.
Ia mengambil ponsel dan mengotak-atiknya, ia membuka kontak
dan menemukan sebuah nama. Patton.
Dengan ragu Agni mendial nya. Agni menghela nafas panjang.
Tak ada jawaban sedikitpun.
Ia menyimpan ponselnya kembali dan mulai membuka beberapa
file yang ada di mejanya.
Saat Agni tenggelam dalam membaca file nya, tiba-tiba
ponselnya berdering tanda sebuah panggilan masuk.
“Ya Shil apa?”
“Entar malem BBQ yuk, di rumah kamu.”
“Atur aja.”
“Oke. Bye Agni...”
Agni menyimpan kembali ponselnya dengan malas-malasan.
Namun, saat ia kembali memfokuskan diri pada filenya ponselnya berdering tanda
sebuah pesan masuk. Agni tersenyum lalu membuka pesan itu.
Maaf aku baru selesai
meriksa. :)
Ada apa?
Gak ada. Aku cuma bete
aja.
Senyum Agni kembali merekah setelah sebuah pesan kembali
masuk.
Kesini aja. Aku udah
selesai kok. Gak ada jadwal lagi.
Tapi kerjaan aku masih
banyak... :(
Entar malem ada acara?
Enggak. Kenapa?
Maen yuk.
Kemana?
Di rumah. Aku ajak
yang lain kok.
Oke siap cantik...
Jemput aku ya di
kantor ya, mobilku lagi di servis...
Iya... :)
Kalo aku udah selesai
jam kerja nanti langsung kesana.
Agni tersenyum senang. Ia menarik nafasnya dalam
menetralisir rasa senangnya itu. dengan penuh semangat Agni kembali tenggelam
pada file nya. Ia bertekad untuk segera merampungkan tugasnya ini.
***
Jam enam sore Agni masih sibuk dengan file terakhir. Agni
menarik nafas lelah sambil melirik jam yang berada di meja kerjanya. Patton mana sih?
Deringan telpon terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.
“Selamat sore Bu Agni.”
“Ya ada apa?”
“Ada tamu untuk Ibu.”
“Siapa?”
“Bapak Patton.”
“Suruh masuk.”
“Baik Bu.”
Agni menyimpan telponnya itu dengan kesal lalu memutar
kursinya menghadap kaca yang begitu besar. Ia tau kalau Patton telat satu jam
menjemputnya, karena ia tau betul jadwal Dokter itu. ia selalu disiplin dan
setelah jam kerjanya selesai pasti langsung pulang. Ini? katanya janji mau
menjemput pas pulang kerja. Tapi kenyataannya malah telat satu jam.
Terdengar pintu di buka dan derap langkah mendekat ke
arahnya dengan santai. Disaat seperti ini
orang itu masih bisa santai?! Menyebalkan!.
“Kamu marah ya?”
Agni melirik sebal ka arah ujung kaca dimana tempa
berdirinya orang yang ia tunggu satu jam ini.
Patton menghela nafas lalu mendekat ke arah Agni.
“Aku tadi pulang dulu, masa
jemput kamu masih kucel sih?”
Agni menghela nafas panjang lalu mengangguk kecil. Setelah
itu ia menyambar ponsel dan tas nya.
“Yuk.”
Patton tersenyum kecil melihatnya. Ia baru menyadari
perbedaan Agni sekarang. Rambutnya yang di gerai dan agak bergelombang membuat
dirinya semakin eksotis dimatanya. Begitu cantik, ia akan menyesal jika
melewatkan hal ini.
“Patton... ayo!.”
“Eh...iya.”
Keduanya berjalan beriringan keluar dari kantor itu.
beberapa staf yang akan melembur menatap keduanya dengan aneh. Selama ini
mereka selalu melihat ke akraban saat Agni dan Patton keluar atau Agni yang di
antar Patton. Tapi kali ini berbeda, Agni terlihat begitu tak mengindahkan
keberadaan Patton.
Agni berdehem cukup keras tepat pada kerumunan wanita yang
terdengar sedang membicarakannya.
“Saya menggaji kalian bukan untuk
bergosip.”
Agni membalikkan badan ke arah Patton dan dengan cepat menarik
pria itu untuk segera keluar dan memasuki mobil Patton.
Saat Patton berada di samping Agni, ia tak langsung
menjalankan mobil itu. Patton melirik Agni.
“Udah ya... jangan marah.”
Agni menghela nafas panjang lalu membalas tatapan Patton.
“Aku gak marah kok. Cuma lagi
bete aja.”
Patton mengangguk. Tanpa berucap lagi Patton segera menginjak
gas dan tak berniat berucap kembali. Ia mengerti dengan keadaan Agni yang seperti ini, tak ingin di
ganggu dan di ajak bicara. Hingga sampailah mereka di garasi kediaman Agni yang
telah penuh oleh beberapa mobil yang berplat hampir sama dengan mobi miliknya.
B 1 KRN, B2 KRN dan B 3 KRN. Itu mobil saudara-saudaranya, mereka ternyata
telah sampai duluan daripada sang pemilik rumah.
“Yuk turun.”
Agni hanya mengangguk lalu keluar dari mobil itu.
“Bu, Agni mau air putih. Anterin
ke kamar ya... sekalian buatin buat Patton.”
Setelah mengatakan itu Agni menaiki tangga untuk mencapai
kamarnya, sementara Patton hanya mengekori saja tanpa ada niat berucap.
Agni mengerutkan keningnya saat terdengar keributan di ruang
keluarganya yang di lantai atas. Ia dengan cepat berjalan kesana, penasaran
dengan orang yang berada di tempat itu.
Rahang Agni mengeras saat menyadari sesuatu.
“Ngapain kalian disini? TURUN!.”
“Hai Ag, kenapa sih sensi amat.
Iya gak?”
Agni melirik Shilla yang sedang tertawa senang bersama
dengan yang lainnya.
“GUE BILANG TURUN!
Berani-beraninya ya kalian naik kesini!. Udah gue bilang kalian gak berhak naik
kesini. TURUN!.”
“Kamu ngusir kita Ni?”
“Bukan Fy! Tapi mereka!.”
Agni melirik ke arah Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka.
Cakka menghentakkan kakinya lalu berdiri dan berjalan
mendekati Agni.
“Loe udah buat gue marah!.”
Agni tersenyum masam lalu melirik Cakka yang berdiri di
sampingnya dengan pandangan tak suka.
“Emang loe pikir gue peduli?”
Setelah mengatakan itu Agni berbalik dan berjalan ke arah
kamarnya kembali.
“Non. Ini minumnya.”
Agni menerima air itu.
“Beresin ruangan itu Bu sampe
kayak semula dan jangan biarin ornag asing kesana. Aku gak suka.”
“Baik Non.”
Saat Agni akan memasuki kamarnya sebuah tangan menarik
pundaknya. Agni berbalik.
Patton tersenyum ke arah Agni yang terlihat begitu muram, ia
sadar kemarahan Agni berawal darinya. Tapi harus bagaimana lagi?
Patton mengelus pipi kiri Agni dengan tangannya yang bebas
karena tangan yang lain menggenggam gelas.
“Sabar ya... aku gak suka kamu
bicara kasar kayak tadi.”
Agni menghela nafas panjang lalu tersenyum.
“Iya. Maaf ya... yaudah mau ikut
masuk atau gimana?”
“Ikut aja.”
Keduanya memasuki kamar Agni yang ternyata tidak langsung
memasuki kamar. Melainkan ruangan lagi. Lalu ada sebuah pintu menghubungkan ke
kamar.
“Kamu tunggu aja disini aku mau
mandi dulu.”
Patton mengangguk menanggapi ucapan Agni. Tak lama Agni
terlihat telah menghilang di balik pintu berukiran mewah itu. Patton menghela
nafas. Ia masih heran dengan sikap Agni. Dia itu begitu menantikannya hingga
marah atau ada rasa lain? oh God...
semoga...
***
Setelah menyelesaikan membersihkan badan Agni segera
bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malannya bersama Patton. Ia memutuskan
untuk tidak bergabung dengan saudara-saudaranya yang lain yang sedang sibuk dan
begitu riuh di belakang rumahnya. Dari dapur Agni dapat melihat ke akraban
mereka semua. Rio yang sedang menyiapkan makanan bersama Shilla, Sivia sedang
duduk saja di kursi, begitu juga dengan Ify dan Alvin yang duduk saling
membelakangi tanpa ada interaksi sedikitpun. Di ujung kolam ada Cakka yang
sedang duduk bersila dengan tangan menyentuh air.
“Ag.”
Agni segera berbalik saat mendengar suara bariton itu. ia
memandang tajam pada pria di hadapannya itu.
“Aku cuma mau minta maaf. Aku gak
tau kamu bakal semarah ini. aku kira setelah ke akraban kita kamu bakalan
ngijinin kita naik. Di tambah saudara kamu juga ngijinin. Aku bener-bener minta
maaf tentang hal ini.”
Agni menghela nafas panjang, ia menatap pria di hadapannya
ini –Gabriel- malas-malasan.
“Dimaafkan. Bu makanannya bawa ke
kamar saya.”
Setelah mengucapkan itu Agni segera berlalu tanpa
menghiraukan siapapun lagi. Ia benci pada orang pembangkang, benci pada orang
yang melanggar aturan. Aturan di buat itu untuk di taati bukan untuk di langgar!.
Agni mendudukan dirinya dengan cepat di samping Patton,
bertepatan dengan itu ponselnya berbunyi. Agni dan Patton kompak menoleh ke
arah ponsel Agni.
Cakka’s Calling...
Agni memutar bola matanya lalu beralih pada makan malam yang
baru saja sampai di hadapannya. Patton meraih ponsel itu.
“Aku angkat ya?”
“Terserah.”
Agni malah menyibukkan diri dengan menuangkan air untuknya
dan Patton. Tak ingin peduli dengan percakapan pria itu.
***
Cakka masih duduk di pinggir kolam, satu tangannya
menggenggam ponsel yang ia arahkan pada telinganya. Sementara matanya tak lepas
dari kamar Agni yang berada di atas. Cakka menarik nafas panjang. Panggilannya tak
kunjung di angkat.
Cakka mengerutkan kening saat mendengar sebuah suara deheman
seseorang d seberang sana.
“Hallo.”
Cakka memejamkan matanya dengan dalam. menahan emosinya,
juga menahan nada suaranya agar tidak terdengar dingin dan marah.
“Mana Agni?”
“Agni? Sibuk gak mau di ganggu.”
Dengan cepat Cakka mengakhiri panggilan itu. ia mendongak ke
arah kamar. Gelap.
Apa yang sedang mereka lakukan di tempat gelap seperti itu?
apa mereka... Stop! Agni gak mungkin
kayak gitu. Gak!
Siapa yang tau
kedalaman hati manusia Cakka... sisi tergelap Cakka menimpali akal sehatnya.
Gak Cakka... Agni gadis
baik-baik.
Bodoh! jaman sekarang
ada kesempatan berdua mana ada yang menyia-nyiakannya.
Gak! jangan dengarkan
dia Cakka... kamu harus yakin Agni baik.
Cakka mengecak-acak rambutnya kesal. Perdebatan antara ego
dan hati nya benar-benar membuat gila!
Gabriel menepuk pundak Rio, lalu menyenggol lengan Alvin. Setelah
keduanya menoleh dengan isyarat Gabriel menunjuk Cakka seakan bertanya kenapa dia?. Keduanya hanya menaikan
bahunya seakan menjawab mana gue tau.
Sementara Ify, Sivia dan Shilla menatap ketiganya aneh. Mereka
bertiga tidak berbincang tapi seolah sedang berinteraksi satu sama lain.
“Mereka kok aneh gitu sih...”
Ify bertanya pada kedua saudaranya yang hanya menanggapinya
dengan angkatan bahu dan gelengan kepala
saja. Mereka benar-benar tak mengerti hal itu.
***
Esoknya Agni kembali ke rumah sakit. Mood-nya cukup membaik
setelah perbincangan malam tadi bersama Patton, pria itu benar-benar membuatnya
nyaman dan terasa aman. Pria itu benar-benar pria idaman.
“Dokter Agni.”
Agni segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi sibuk
dengan laptopnya. Ia tersenyum sambil melepaskan kacamatanya.
“Dok...”
Suara Agni tercekat. Hingga ia hanya mampu tersenyum kaku
saja.
Patton tersenyum kecil.
“Beberapa menit lagi proses bedah
akan di laksanakan. Mari...”
Agni lagi-lagi tersenyum. Pria di hadapannya ini benar-benar
profesional, malam tadi pria itu sayang-sayangan... dan sekarang kembali
formal. Agni menarik nafas dalam lalu mengambil perlengkapan yang akan ia
kenakan.
Di ruang bedah keduanya begitu kompak. Agni yang memang
hanya selalu mendampingi Patton turun dengan begitu kompaknya bersama Patton. Keduanya
benar-benar saling melengkapi satu sama lain. benar-benar cocok. Perfect
Couple...
Tanpa terasa proses bedah berakhir setelah satu jam. Keduanya
bersama beberpa suster menghela nafas lega dan saling melempar senyuman.
“Syukurlah...”
Patton melirik Agni yang bergumam cukup keras itu. keduanya
saling bertemu pandangan lalu melempar senyuman.
“Saya... permisi Dok.”
Agni segera berlalu keluar dari ruangan yang semakin
lama-semakin menegangkan itu. ia tak akan pernah sanggup dalam suasana seperti
itu. aura Patton begitu kuat seakan mengintimidasinya.
Sesampai di ruangannya Agni segera menenggak minumannya. Mencoba
menenangkan hati dan pikirannya. Semenjak malam tadi ia memang merasa jadi aneh.
Banyak perubahan yang ia rasakan padanya.
Agni melirik jam di dinding. Akhirnya jam kerja selesai... tapi kok Patton mana?.
Tak lama setelah itu terdengar sebuah ketukan yang sangat
cepat yang menandakan sebuah kepanikan. Agni segera beranjak membukanya.
“Dokter Agni...”
Seorang suster dihadapannya sedang mengatur nafas. Seperti orang
yang telah lomba lari dengan keringat bercucuran.
Agni mengeryitkan dahinya. Bukannya ini suster yang ikut bedah?
“Ada apa?”
“Itu Dokter... anu... Dokter Patton.”
Lagi-lagi Agni mengeryitkan dahinya.
“Kenapa Dokter Patton?”
“Pingsan.”
“APA?”
Tanpa berpikir panjang Agni segera berjalan cepat keluar
ruangan. Kamu bandel sih... aku bilang
harus makan siang. Gini kan jadinya... berbagai pikiran berkecamuk dalam
otak Agni. Ia begitu panik. Namun sebisa mungkin ia harus kuat tanpa terlihat
lemah di depan orang lain.
“Dimana sekarang?”
“ICU. Di tambah stok oksigen
habis karena yang terkahir itu di pakai pasien tadi Dok... saya bingung... dan...”
“Panggilkan karyawan penanggung
jawab peralatan.”
Agni berucap dengan datar sebelum memasuki ruang ICU itu. ia
tak ingin di ikuti oleh siapapun lagi. Di dalam sana ada beberapa suster yang
sedang panik melihat kondisi Patton.
Agni segera turun tangan, ia meraba sakunya. Shit! Kenapa ia
sampai lupa membawa stetoskop?
Agni mengeram keras. Ini adalah kali pertama Agni teledor,
untuk kali ini ia benar-benar terjepit. Ia tak mungkin kembali lagi
keruangannya dan meninggalkan Patton. Sementara alat yang sama yang biasa di
bawa Patton pun entah kemana.
“Dokter!.”
Ia menggerakkan tangannya hingga menggapai hidung Patton. Wajah
Agni memucat.
“Kenapa Dokter Patton bisa gini?”
“Kurang tau Dok. Sesaat setelah
Dokter Agni keluar ruangan bedah Dokter Patton pingsan.”
Seorang suster menjawab dengan paniknya, terlihat dari
sibuknya dia entah mencari apa di dalam laci.
“Dok... semua alat di pakai. Bagaimana
ini?”
“Bagaimana bisa?! Cari alat lain!
cepat.”
Setelah semua suster keluar, bukannya Agni melakukan
tindakan medis ia malah tertunduk dengan tubuh bergetar. Sesekali terdengar
siakan yang begitu pedih dan sarat akan rasa bersalah. Agni menutup mulutnya
menahan isakan. Ia menaikan rambutnya kesal pada diri sendiri.
“Bodoh! aku gak bisa obatin
kamu... aku gak kuat liat kamu gini.”
Agni menghapus air matanya dengan kasar lalu dengan tangan
yang bergetar Agni berusaha mencapai dada sebelah kiri pria yang tak kunjung
membuka matanya itu. kenapa? Kenapa tak terasa detakan sedikitpun?! Agni menundukan
kepalanya, bersandar pada dada itu. tubuhnya semakin bergetar dan air matapun
semakin mengalir membasahi wajah dan kemeja putih bersih milik Patton.
Setelah beberapa saat Agni bisa merasakan sesuatu yang
melingkari pinggangnya. Ia mengangkat wajahnya. Agni membelalakan matanya saat
pandangannya beradu dengan mata yang begitu ia khawatirkan tak akan terbuka
lagi. Dengan cepat Agni memeluk leher Patton.
“Kamu jahat...”
Agni masih bertahan pada posisinya sambil mengumpat-umpat
kesal sementara tangan kanannya turun dan membelai dada kiri Patton.
“Aku takut...”
“Lain kali kalo meriksa jangan
panik gitu. Jadi gak kerasakan detak jantung sama denyut nadinya?.”
Agni mengangguk samar.
Patton menghela nafas lalu memegang pundak Agni agar gadis
itu menjauh. Agni menatap Patton aneh.
Patton tersenyum menenangkan sementara sebelah tangannya
meraih sesuatu di saku celananya. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan ia
mendudukan dirinya dan membuka sebuah kotak berwarna merah darah yang ia dapat
dari sakunya tadi.
“Will you marry me?.”
Agni menutup mulutnya yang menganga. Ia menatap Patton tak
percaya. Matanya kembali berkaca-kaca dan berhasil membuat sungai di wajah
cantik itu.
“Aku...”
“Ya... kamu...”
“Aku mau.”
Agni dengan cepat memeluk Patton membuat Patton agak
terhuyun namun untung saja masih bisa ia tahan.
“Aku gak mau kehilangan kamu...
aku...”
“Aku cinta sama kamu Agni...”
Keduanya saling menatap sementara tangan mereka sibuk
menyelipkan sebuah benda bundar pada jari manis satu sama lain. Tanpa sebuah
komando keduanya saling menutup mata semakin merapatkan diri satu sama lain
hingga kedua alat ucap itu bersatu.
***
Bersambung.
Part 7: Back or Lost?
No comments:
Post a Comment