Wednesday, 11 September 2013

BIJI in Love. Part 6

~Part 6: Marry Me?

***

Agni memutar-mutar ponselnya di atas meja kerja. Ia menatap kesekeliling ruangan itu dengan pandangan kosong. Di tempat ini ia sepi, di tempat ini ia sendiri. Sepeninggal Alvin ia memang kembali sendiri, tanpa ada yang menemani. Salahkah ia jika kesepian? Tidak bukan? Karena setiap manusia memiliki nurani, memiliki perasaan. Tak ada seorangpun di dunia ini yang mau kesepian, termasuk Agni.

Agni melirik jam dinding, ia menghela nafas berat. Masih jam kerja. Agni mendesah lelah.
Ia mengambil ponsel dan mengotak-atiknya, ia membuka kontak dan menemukan sebuah nama. Patton.
Dengan ragu Agni mendial nya. Agni menghela nafas panjang. Tak ada jawaban sedikitpun.
Ia menyimpan ponselnya kembali dan mulai membuka beberapa file yang ada di mejanya.


Saat Agni tenggelam dalam membaca file nya, tiba-tiba ponselnya berdering tanda sebuah panggilan masuk.

“Ya Shil apa?”
“Entar malem BBQ yuk, di rumah kamu.”
“Atur aja.”
“Oke. Bye Agni...”

Agni menyimpan kembali ponselnya dengan malas-malasan. Namun, saat ia kembali memfokuskan diri pada filenya ponselnya berdering tanda sebuah pesan masuk. Agni tersenyum lalu membuka pesan itu.

Maaf aku baru selesai meriksa. :)
Ada apa?

Gak ada. Aku cuma bete aja.

Senyum Agni kembali merekah setelah sebuah pesan kembali masuk.

Kesini aja. Aku udah selesai kok. Gak ada jadwal lagi.

Tapi kerjaan aku masih banyak... :(
Entar malem ada acara?

Enggak. Kenapa?

Maen yuk.

Kemana?

Di rumah. Aku ajak yang lain kok.

Oke siap cantik...

Jemput aku ya di kantor ya, mobilku lagi di servis...

Iya... :)
Kalo aku udah selesai jam kerja nanti langsung kesana.

Agni tersenyum senang. Ia menarik nafasnya dalam menetralisir rasa senangnya itu. dengan penuh semangat Agni kembali tenggelam pada file nya. Ia bertekad untuk segera merampungkan tugasnya ini.

***

Jam enam sore Agni masih sibuk dengan file terakhir. Agni menarik nafas lelah sambil melirik jam yang berada di meja kerjanya. Patton mana sih?

Deringan telpon terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.

“Selamat sore Bu Agni.”
“Ya ada apa?”
“Ada tamu untuk Ibu.”
“Siapa?”
“Bapak Patton.”
“Suruh masuk.”
“Baik Bu.”

Agni menyimpan telponnya itu dengan kesal lalu memutar kursinya menghadap kaca yang begitu besar. Ia tau kalau Patton telat satu jam menjemputnya, karena ia tau betul jadwal Dokter itu. ia selalu disiplin dan setelah jam kerjanya selesai pasti langsung pulang. Ini? katanya janji mau menjemput pas pulang kerja. Tapi kenyataannya malah telat satu jam.

Terdengar pintu di buka dan derap langkah mendekat ke arahnya dengan santai. Disaat seperti ini orang itu masih bisa santai?! Menyebalkan!.

“Kamu marah ya?”

Agni melirik sebal ka arah ujung kaca dimana tempa berdirinya orang yang ia tunggu satu jam ini.
Patton menghela nafas lalu mendekat ke arah Agni.

“Aku tadi pulang dulu, masa jemput kamu masih kucel sih?”

Agni menghela nafas panjang lalu mengangguk kecil. Setelah itu ia menyambar ponsel dan tas nya.

“Yuk.”

Patton tersenyum kecil melihatnya. Ia baru menyadari perbedaan Agni sekarang. Rambutnya yang di gerai dan agak bergelombang membuat dirinya semakin eksotis dimatanya. Begitu cantik, ia akan menyesal jika melewatkan hal ini.

“Patton... ayo!.”
“Eh...iya.”

Keduanya berjalan beriringan keluar dari kantor itu. beberapa staf yang akan melembur menatap keduanya dengan aneh. Selama ini mereka selalu melihat ke akraban saat Agni dan Patton keluar atau Agni yang di antar Patton. Tapi kali ini berbeda, Agni terlihat begitu tak mengindahkan keberadaan Patton.

Agni berdehem cukup keras tepat pada kerumunan wanita yang terdengar sedang membicarakannya.

“Saya menggaji kalian bukan untuk bergosip.”

Agni membalikkan badan ke arah Patton dan dengan cepat menarik pria itu untuk segera keluar dan memasuki mobil Patton.

Saat Patton berada di samping Agni, ia tak langsung menjalankan mobil itu. Patton melirik Agni.

“Udah ya... jangan marah.”

Agni menghela nafas panjang lalu membalas tatapan Patton.

“Aku gak marah kok. Cuma lagi bete aja.”

Patton mengangguk. Tanpa berucap lagi Patton segera menginjak gas dan tak berniat berucap kembali. Ia mengerti dengan  keadaan Agni yang seperti ini, tak ingin di ganggu dan di ajak bicara. Hingga sampailah mereka di garasi kediaman Agni yang telah penuh oleh beberapa mobil yang berplat hampir sama dengan mobi miliknya. B 1 KRN, B2 KRN dan B 3 KRN. Itu mobil saudara-saudaranya, mereka ternyata telah sampai duluan daripada sang pemilik rumah.

“Yuk turun.”

Agni hanya mengangguk lalu keluar dari mobil itu.

“Bu, Agni mau air putih. Anterin ke kamar ya... sekalian buatin buat Patton.”

Setelah mengatakan itu Agni menaiki tangga untuk mencapai kamarnya, sementara Patton hanya mengekori saja tanpa ada niat berucap.

Agni mengerutkan keningnya saat terdengar keributan di ruang keluarganya yang di lantai atas. Ia dengan cepat berjalan kesana, penasaran dengan orang yang berada di tempat itu.
Rahang Agni mengeras saat menyadari sesuatu.

“Ngapain kalian disini? TURUN!.”
“Hai Ag, kenapa sih sensi amat. Iya gak?”

Agni melirik Shilla yang sedang tertawa senang bersama dengan yang lainnya.

“GUE BILANG TURUN! Berani-beraninya ya kalian naik kesini!. Udah gue bilang kalian gak berhak naik kesini. TURUN!.”
“Kamu ngusir kita Ni?”
“Bukan Fy! Tapi mereka!.”

Agni melirik ke arah Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka.

Cakka menghentakkan kakinya lalu berdiri dan berjalan mendekati Agni.

“Loe udah buat gue marah!.”

Agni tersenyum masam lalu melirik Cakka yang berdiri di sampingnya dengan pandangan tak suka.

“Emang loe pikir gue peduli?”

Setelah mengatakan itu Agni berbalik dan berjalan ke arah kamarnya kembali.

“Non. Ini minumnya.”

Agni menerima air itu.

“Beresin ruangan itu Bu sampe kayak semula dan jangan biarin ornag asing kesana. Aku gak suka.”
“Baik Non.”

Saat Agni akan memasuki kamarnya sebuah tangan menarik pundaknya. Agni berbalik.
Patton tersenyum ke arah Agni yang terlihat begitu muram, ia sadar kemarahan Agni berawal darinya. Tapi harus bagaimana lagi?
Patton mengelus pipi kiri Agni dengan tangannya yang bebas karena tangan yang lain menggenggam gelas.

“Sabar ya... aku gak suka kamu bicara kasar kayak tadi.”

Agni menghela nafas panjang lalu tersenyum.

“Iya. Maaf ya... yaudah mau ikut masuk atau gimana?”
“Ikut aja.”

Keduanya memasuki kamar Agni yang ternyata tidak langsung memasuki kamar. Melainkan ruangan lagi. Lalu ada sebuah pintu menghubungkan ke kamar.

“Kamu tunggu aja disini aku mau mandi dulu.”

Patton mengangguk menanggapi ucapan Agni. Tak lama Agni terlihat telah menghilang di balik pintu berukiran mewah itu. Patton menghela nafas. Ia masih heran dengan sikap Agni. Dia itu begitu menantikannya hingga marah atau ada rasa lain? oh God... semoga...

***

Setelah menyelesaikan membersihkan badan Agni segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malannya bersama Patton. Ia memutuskan untuk tidak bergabung dengan saudara-saudaranya yang lain yang sedang sibuk dan begitu riuh di belakang rumahnya. Dari dapur Agni dapat melihat ke akraban mereka semua. Rio yang sedang menyiapkan makanan bersama Shilla, Sivia sedang duduk saja di kursi, begitu juga dengan Ify dan Alvin yang duduk saling membelakangi tanpa ada interaksi sedikitpun. Di ujung kolam ada Cakka yang sedang duduk bersila dengan tangan menyentuh air.

“Ag.”

Agni segera berbalik saat mendengar suara bariton itu. ia memandang tajam pada pria di hadapannya itu.

“Aku cuma mau minta maaf. Aku gak tau kamu bakal semarah ini. aku kira setelah ke akraban kita kamu bakalan ngijinin kita naik. Di tambah saudara kamu juga ngijinin. Aku bener-bener minta maaf tentang hal ini.”

Agni menghela nafas panjang, ia menatap pria di hadapannya ini –Gabriel- malas-malasan.

“Dimaafkan. Bu makanannya bawa ke kamar saya.”

Setelah mengucapkan itu Agni segera berlalu tanpa menghiraukan siapapun lagi. Ia benci pada orang pembangkang, benci pada orang yang melanggar aturan. Aturan di buat itu untuk di taati bukan untuk di langgar!.

Agni mendudukan dirinya dengan cepat di samping Patton, bertepatan dengan itu ponselnya berbunyi. Agni dan Patton kompak menoleh ke arah ponsel Agni.

Cakka’s Calling...

Agni memutar bola matanya lalu beralih pada makan malam yang baru saja sampai di hadapannya. Patton meraih ponsel itu.

“Aku angkat ya?”
“Terserah.”

Agni malah menyibukkan diri dengan menuangkan air untuknya dan Patton. Tak ingin peduli dengan percakapan pria itu.

***

Cakka masih duduk di pinggir kolam, satu tangannya menggenggam ponsel yang ia arahkan pada telinganya. Sementara matanya tak lepas dari kamar Agni yang berada di atas. Cakka menarik nafas panjang. Panggilannya tak kunjung di angkat.
Cakka mengerutkan kening saat mendengar sebuah suara deheman seseorang d seberang sana.

“Hallo.”

Cakka memejamkan matanya dengan dalam. menahan emosinya, juga menahan nada suaranya agar tidak terdengar dingin dan marah.

“Mana Agni?”
“Agni? Sibuk gak mau di ganggu.”

Dengan cepat Cakka mengakhiri panggilan itu. ia mendongak ke arah kamar. Gelap.
Apa yang sedang mereka lakukan di tempat gelap seperti itu? apa mereka... Stop! Agni gak mungkin kayak gitu. Gak!
Siapa yang tau kedalaman hati manusia Cakka... sisi tergelap Cakka menimpali akal sehatnya.
Gak Cakka... Agni gadis baik-baik.
Bodoh! jaman sekarang ada kesempatan berdua mana ada yang menyia-nyiakannya.
Gak! jangan dengarkan dia Cakka... kamu harus yakin Agni baik.

Cakka mengecak-acak rambutnya kesal. Perdebatan antara ego dan hati nya benar-benar membuat gila!

Gabriel menepuk pundak Rio, lalu menyenggol lengan Alvin. Setelah keduanya menoleh dengan isyarat Gabriel menunjuk Cakka seakan bertanya kenapa dia?. Keduanya hanya menaikan bahunya seakan menjawab mana gue tau.

Sementara Ify, Sivia dan Shilla menatap ketiganya aneh. Mereka bertiga tidak berbincang tapi seolah sedang berinteraksi satu sama lain.

“Mereka kok aneh gitu sih...”

Ify bertanya pada kedua saudaranya yang hanya menanggapinya dengan angkatan bahu  dan gelengan kepala saja. Mereka benar-benar tak mengerti hal itu.

***

Esoknya Agni kembali ke rumah sakit. Mood-nya cukup membaik setelah perbincangan malam tadi bersama Patton, pria itu benar-benar membuatnya nyaman dan terasa aman. Pria itu benar-benar pria idaman.

“Dokter Agni.”

Agni segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya. Ia tersenyum sambil melepaskan kacamatanya.

“Dok...”

Suara Agni tercekat. Hingga ia hanya mampu tersenyum kaku saja.
Patton tersenyum kecil.

“Beberapa menit lagi proses bedah akan di laksanakan. Mari...”

Agni lagi-lagi tersenyum. Pria di hadapannya ini benar-benar profesional, malam tadi pria itu sayang-sayangan... dan sekarang kembali formal. Agni menarik nafas dalam lalu mengambil perlengkapan yang akan ia kenakan.

Di ruang bedah keduanya begitu kompak. Agni yang memang hanya selalu mendampingi Patton turun dengan begitu kompaknya bersama Patton. Keduanya benar-benar saling melengkapi satu sama lain. benar-benar cocok. Perfect Couple...

Tanpa terasa proses bedah berakhir setelah satu jam. Keduanya bersama beberpa suster menghela nafas lega dan saling melempar senyuman.

“Syukurlah...”

Patton melirik Agni yang bergumam cukup keras itu. keduanya saling bertemu pandangan lalu melempar senyuman.

“Saya... permisi Dok.”

Agni segera berlalu keluar dari ruangan yang semakin lama-semakin menegangkan itu. ia tak akan pernah sanggup dalam suasana seperti itu. aura Patton begitu kuat seakan mengintimidasinya.
Sesampai di ruangannya Agni segera menenggak minumannya. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Semenjak malam tadi ia memang merasa jadi aneh. Banyak perubahan yang ia rasakan padanya.

Agni melirik jam di dinding. Akhirnya jam kerja selesai... tapi kok Patton mana?.

Tak lama setelah itu terdengar sebuah ketukan yang sangat cepat yang menandakan sebuah kepanikan. Agni segera beranjak membukanya.

“Dokter Agni...”

Seorang suster dihadapannya sedang mengatur nafas. Seperti orang yang telah lomba lari dengan keringat bercucuran.
Agni mengeryitkan dahinya. Bukannya ini suster yang ikut bedah?

“Ada apa?”
“Itu Dokter... anu... Dokter Patton.”

Lagi-lagi Agni mengeryitkan dahinya.

“Kenapa Dokter Patton?”
“Pingsan.”
“APA?”

Tanpa berpikir panjang Agni segera berjalan cepat keluar ruangan. Kamu bandel sih... aku bilang harus makan siang. Gini kan jadinya... berbagai pikiran berkecamuk dalam otak Agni. Ia begitu panik. Namun sebisa mungkin ia harus kuat tanpa terlihat lemah di depan orang lain.

“Dimana sekarang?”
“ICU. Di tambah stok oksigen habis karena yang terkahir itu di pakai pasien tadi Dok... saya bingung... dan...”
“Panggilkan karyawan penanggung jawab peralatan.”

Agni berucap dengan datar sebelum memasuki ruang ICU itu. ia tak ingin di ikuti oleh siapapun lagi. Di dalam sana ada beberapa suster yang sedang panik melihat kondisi Patton.
Agni segera turun tangan, ia meraba sakunya. Shit! Kenapa ia sampai lupa membawa stetoskop?
Agni mengeram keras. Ini adalah kali pertama Agni teledor, untuk kali ini ia benar-benar terjepit. Ia tak mungkin kembali lagi keruangannya dan meninggalkan Patton. Sementara alat yang sama yang biasa di bawa Patton pun entah kemana.

“Dokter!.”

Ia menggerakkan tangannya hingga menggapai hidung Patton. Wajah Agni memucat.

“Kenapa Dokter Patton bisa gini?”
“Kurang tau Dok. Sesaat setelah Dokter Agni keluar ruangan bedah Dokter Patton pingsan.”

Seorang suster menjawab dengan paniknya, terlihat dari sibuknya dia entah mencari apa di dalam laci.

“Dok... semua alat di pakai. Bagaimana ini?”
“Bagaimana bisa?! Cari alat lain! cepat.”

Setelah semua suster keluar, bukannya Agni melakukan tindakan medis ia malah tertunduk dengan tubuh bergetar. Sesekali terdengar siakan yang begitu pedih dan sarat akan rasa bersalah. Agni menutup mulutnya menahan isakan. Ia menaikan rambutnya kesal pada diri sendiri.

“Bodoh! aku gak bisa obatin kamu... aku gak kuat liat kamu gini.”

Agni menghapus air matanya dengan kasar lalu dengan tangan yang bergetar Agni berusaha mencapai dada sebelah kiri pria yang tak kunjung membuka matanya itu. kenapa? Kenapa tak terasa detakan sedikitpun?! Agni menundukan kepalanya, bersandar pada dada itu. tubuhnya semakin bergetar dan air matapun semakin mengalir membasahi wajah dan kemeja putih bersih milik Patton.

Setelah beberapa saat Agni bisa merasakan sesuatu yang melingkari pinggangnya. Ia mengangkat wajahnya. Agni membelalakan matanya saat pandangannya beradu dengan mata yang begitu ia khawatirkan tak akan terbuka lagi. Dengan cepat Agni memeluk leher Patton.

“Kamu jahat...”

Agni masih bertahan pada posisinya sambil mengumpat-umpat kesal sementara tangan kanannya turun dan membelai dada kiri Patton.

“Aku takut...”
“Lain kali kalo meriksa jangan panik gitu. Jadi gak kerasakan detak jantung sama denyut nadinya?.”

Agni mengangguk samar.
Patton menghela nafas lalu memegang pundak Agni agar gadis itu menjauh. Agni menatap Patton aneh.
Patton tersenyum menenangkan sementara sebelah tangannya meraih sesuatu di saku celananya. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan ia mendudukan dirinya dan membuka sebuah kotak berwarna merah darah yang ia dapat dari sakunya tadi.

“Will you marry me?.”

Agni menutup mulutnya yang menganga. Ia menatap Patton tak percaya. Matanya kembali berkaca-kaca dan berhasil membuat sungai di wajah cantik itu.

“Aku...”
“Ya... kamu...”
“Aku mau.”

Agni dengan cepat memeluk Patton membuat Patton agak terhuyun namun untung saja masih bisa ia tahan.

“Aku gak mau kehilangan kamu... aku...”
“Aku cinta sama kamu Agni...”

Keduanya saling menatap sementara tangan mereka sibuk menyelipkan sebuah benda bundar pada jari manis satu sama lain. Tanpa sebuah komando keduanya saling menutup mata semakin merapatkan diri satu sama lain hingga kedua alat ucap itu bersatu.

***

Bersambung.

Part 7: Back or Lost?

No comments:

Post a Comment