~Part 5: Caper? It’s
First Date.
***
“Maaf Tuan, Nyonya... di depan
ada yang jemput Non Agni.”
Semua orang yang berada di sana secara serempak mengalihkan
pandangannya pada Agni yang terlihat bingung. Namun, sedetik kemudian ia menepuk
jidatnya. Lalu dengan cepat menghabiskan susu putihnya.
“Oh iya... Oma, Opa Agni pamit
ya...”
Agni segera beranjak setelah mengecup kedua Pipi Oma dan Opa
nya.
Ify, Shilla, Sivia saling berpandangan kemudian secara
kompak menaikan kedua bahunya. Percakapan non-verbal yang hanya akan di
mengerti mereka saja itu membuat Kiki dan Riva saling pandang kebingungan.
Dengan komando dari pergerakan mata Ify ketiganya segera
beranjak untuk melihat orang yang menjemput Agni itu.
***
Agni menaikan satu alisnya heran melihat sebuah mobil sport
berwarna merah menyala itu. ia melirik plat nomornya D 4 CAA. Alfabet belakang
adalah inisial seseorang yang ia kenal.
“Ni...”
Agni tersenyum pada pria yang baru saja keluar dari mobil
itu.
“Yo, mobil kamu masih di bengkel
ya?”
“Begitulah... ini mobil Cakka,
yuk masuk.”
Rio berucap sambil membukakan pintu penumpang untuk Agni.
Agni segera berjalan ke arah pintu itu lalu masuk.
Saat Rio hendak memutar seseorang memanggilnya.
“Rio.”
Rio berbalik dan tersenyum sambil melambaikan tangannya.
“Hai Shill, aku pamit ya... bye.”
Setelah mengucapkan itu Rio segera beranjak tanpa
mengindahkan tatapan kagum dari seseorang. Tak lama mobil itupun meninggalkan
pekarangan rumah dan menghilang di balik pintu gerbang.
“Woy Fy!”
Shilla menepuk pundak Ify yang sedari tadi hanya diam saja
memandangi kepergian Agni, err... mungkin Rio.
“Eh... Apa?”
Shilla dan Sivia terkekeh, kemudian keduanya merangkul Ify
dari sisi berlawanan.
“Suka ya Fy sama Rio?”
“Hah?! Rio? siapa Rio?”
Shilla dan Sivia saling melempar pandangan menggoda.
“Yang barusanlah...”
“Ihh ya... ya enggak lah. Ngaco
kalian!.”
Dengan cepat Ify beranjak meninggalkan kedua saudaranya itu.
membuat Shilla dan Sivia semakin menggodanya.
“Ciee Ify ngambek...”
“TERSERAH...”
Sivia dan Shilla semakin tertawa mendengar teriakan merajuk
dari Ify itu. mereka memang paling kompak dalam menggoda
saudara-saudaranya. Keduanya saling
melengkapi. Yang satu polos yang satu lagi emosian. Tapi keduanya memiliki
persamaan, yaitu dimana keduanya memang sosok paling perngertian dan perhatian.
***
Rio dan Agni dalam hening selama perjalanan menuju Rumah
Sakit. Hingga ponsel Agni yang ada di dasbor mobil yang Rio kendarai berdering.
Agni melirik Rio dengan ragu.
“Kayaknya Ify nelpon deh Yo.”
“Eh... apa?”
“Itu hape aku.”
Agni menunjuk ponselnya yang masih berdering, nada dering
dalam kontak itu memang di set berbeda untuk setiap orangnya. Agar mudah
mengenali siapa yang menhubunginya. Rio meraih ponsel itu dan di berikannya
pada Agni.
“Kenapa Fy?”
“Siapa yang sama kamu? Gebetan ya?”
Agni terkekeh kecil. Ia melirik Rio sekilas kemudian
mengalihkan pandangannya ke arah lain lagi. Kemudian ia bertanya dengan suara
berbisik.
“Kenapa emang? Cakep ya?”
“Hah?! Gak juga sih. Tapi... ya cukup menarik.”
“Ada-ada aja. Entar di ceritain
di rumah aja ya.”
“Eh... udah ya. aku cuma lagi bete aja di rumah. Bye.”
“Bye.”
Agni masih saja terkekeh mengingat pertanyaan Ify tersebut,
membuat Rio menoleh heran.
“Ni...”
“Hm.”
Agni menatap Rio yang sepertinya akan memulai pembicaraan.
Rio sesekali melirik Agni lalu berkonsentrasi pada jalanan.
“Shilla itu desighner ya?”
“Iya, kenapa emangnya? Mau pesen buat
dinner? Party? Nikahan?.”
Rio terkekeh, tanpa sadar ia mengulurkan tangan dan mengelus
kepala Agni dengan lembut. Cukup membuat gadis itu terdiam salah tingkah, ia
memalingkan wajahnya. Di ketahui merona pipi sama lelaki yang belum lama di
kenal? Gak deh. Jangan... nanti di
kiranya suka lagi. Eh... suka?.
Agni melirik ke arah Rio yang ternyata sedang meliriknya juga. Ya Tuhan... masa iya aku suka?. Jangan!.
Agni menggelengkan kepalanya pelan.
“Kenapa? Pusing ya?”
Rio menepikan mobilnya lalu menatap Agni yang masih
menggelengkan kepalanya dengan khawatir. Ia merengkuh wajah Agni untuk melihat
wajah Agni dengan sempurna.
Agni terdiam, matanya membulat kaget, saat Agni membuka
mulut untuk berkata tak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Entah kenapa, ia
menjadi... gugup.
“Err... a.aku... aku gapapa kok
Yo.”
Agni menurunkan tangan Rio. Tersenyum pada pria itu
meyakinkannya.
Rio menghela nafas panjang, ia mengangguk samar kemudian
kembali pada posisi dan melanjutkan perjalanannya.
Agni menghela nafas panjang, menetralisir rasa gugup yang
masih saja bersarang dalam dirinya. Ia memejamkan matanya cukup lama, kemudian
menghembuskan nafas pelan sambil membuka matanya.
“Oiya... ini hape kamu Yo.”
Agni menyimpan ponsel Rio yang baru saja ia keluarkan dari
tas pada dasbor tanpa ada niat untuk menatap Rio lagi, menatapnya lebih lama
entah kenapa dadanya terasa ingin meledak saat itu juga.
“Aku udah save nomor aku di hape
kamu. Nomor kamu gak di remove kan?”
“Tapi...”
Rio menatap Agni sekilas, membuat Agni dengan seketika
mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Iya gak di remove.”
Oh God... Agni
memegang dada bagian kirinya yang terasa begitu tidak karuannya. Jangan... ini terlalu cepat.
***
Agni berjalan dengan anggun menuju ruangannya, sesekali ia
melemparkan senyumannya pada beberapa orang yang menyapanya.
“Selamat pagi Dokter Agni.”
“Pagi...”
Agni menghela nafas panjang sebelum memasuki ruangannya.
Baru saja ia di uji oleh Rio, apakah ia akan di uji kembali oleh Patton? Ya Tuhan... kenapa di saat aku akan menjauhi
mahkluk yang di sebut pria di saat itu pula para pria justru semakin intens
datang mengelilingi hidupku? Agni menghembuskan nafasnya.
“Selamat pagi Dokter Patton.”
Patton mengangkat wajahnya kemudian tersenyum pada Agni yang
kini berdiri tak jauh darinya.
“Pagi.” Patton menaikan satu
alisnya. “Kayaknya kamu sakit. Pucet banget.”
Secara refleks Agni memegang pipinya. Apa iya? Ia tersenyum
tipis.
“Gapapa kok. Aku baik.”
Agni berjalan menuju tempat duduknya. Ia menyimpan tas lalu
memakai jas kebanggaannya. Saat ia handak beranjak sebuah tangan hangat
menggapai tangannya. Agni berbalik dan menatap Patton yang masih menggenggam
tangannya.
“Biar aku periksa dulu.”
“Gak usah. Aku baik kok. Aku
sehat.”
Patton terkekeh. Sebelah tangannya menarik kursi untuk Agni
duduki.
“Bener ya kata orang. Paling
susah kalo mau meriksa Dokter. Keras kepala.”
“Aku gapapa Dokter. Aku pucet
mungkin cuma gara-gara gak di make-up aja. Beneran deh...”
“Yakin?”
Agni mengangguk kaku. Ia menegang saat tiba-tiba Patton
malah mendekatkan diripadanya, semakin dekat, bahkan sangat amat dekat. Apa
yang harus Agni lakukan? Agni memejamkan matanya takut.
“Iya, kamu gak pake make-up ya?
pantesan pucet.”
Dengan cepat Agni membuka matanya, saat itu pula ia dapat
melihat iris mata hitam legam dari mata Patton. Patton tersenyum.
“Aku lebih suka gini, natural.
Cantik banget.”
DEG!
OH GOD! Andai ia
memiliki ilmu untuk menghilang, ia akan menggunakannya sekarang juga. Ia
benar-benar tak sanggup jika harus berada dalam kondisi seperti ini. gak akan!
Gak akan pernah sanggup. God... tolong
aku...
Tok tok tok.
Patton segera menegakkan dirinya lalu merapihkan jas nya.
Sementara Agni beranjak menjauh menuju pintu.
“Dokter Patton ada Dok?”
“Di dalam.”
Agni dengan langkah lebar segera meninggakan ruangannya itu.
Bego! Bego! Bego banget sih... kenapa
bisa sampe kejebak suasana gitu? Ya Tuhan...
***
Sepanjang hari Agni sebisa mungkin tidak memasuki
ruangannya, ia menyibukkan dirinya dengan berkeliling mencari dan memeriksa
pasiennya, terkadang ia mengobrol dengan beberapa karyawan atau lebih memilih
berlama-lama mengobrol dengan pasien. Entah kenapa ia menjadi enggan untuk
memasuki ruangan itu. Bukan karena ruangannya, bukan! Tapi karena orang yang
ada di ruangannya. Ia tak bisa berada bersama Dokter muda itu terlalu lama, ia
harus berusaha sebisa mungkin meneguhkan hatinya agar tak jatuh begitu saja
pada Dokter itu.
Hingga jam kerja habis Agni baru memutuskan untuk memasuki
ruangannya lagi. Agni menghela nafas panjang sebelum memasuki ruangan itu.
Agni mengerutkan dahinya, tumben Patton udah gak ada. Dengan cepat Agni memasuki ruangan itu dan
meraih tas nya. Tapi sebelum ia meninggalkan ruangan itu sebuah kertas di
mejanya menarik perhatiannya.
Kayaknya
kamu ngindarin aku ya Ni? Aku salah ya?
Aku
bener-bener minta maaf ya...
Aku
gak tau kalo aku berlebihan. Aku cuma khawatir sama kamu.
Aku
berharap kamu gak kayak gini lagi...
Maaf...
Agni tertegun. Apa aku
berlebihan? Ya Tuhan... Maaf Patton....
Agni menghela nafas panjang kemudian beranjak meninggalkan
ruangan itu. Entah kenapa ia merasa bersalah. Apa ia memang salah? Tapi, jika
salah. Salah kenapa? Entahlah... semuanya terlalu membingungkan.
Agni meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu di sana.
Maaf ya... kamu gak
salah kok.
Lagi-lagi Agni menghela nafas, entah kenapa dalam dadanya
terasa ada sebuah beban yang begitu berat. Apa mungkin rasa bersalah itu? Oh God... aku bingung.
***
Cakka duduk di cafe tepat di depan rumah sakit. Ia duduk di
kursi yang menghadap langsung ke arah rumah sakit itu, memastikan bahwa Agni
benar-benar datang menemuinya. Cakka melirik arlojinya, ia tersenyum kecil saat
menyadari jam kerja Agni telah berakhir. Dalam hati ia menghitung mundur...
5... 4... 3... 2...
“Hei Kka... maaf ya lama.”
Cakka tersenyum pada Agni yang baru saja datang dan langsung
duduk di hadapannya. Ia terus memandangi Agni yang sedang memanggil waitres dan
memesan minuman untuknya. Wajah gadis itu begitu memesona di matanya, begitu
menawan. Mengapa ia baru menyadarinya sekarang? Kenapa tidak sejak dulu?
Mungkin kejadiannya tidak akan serumit ini.
“Kka...” Agni mengibaskan
tangannya di depan Cakka. “Aku aneh ya?” Agni meringis sambil memandangi
dirinya sendiri.
Cakka terkekeh ia menegakkan duduknya tanpa melepas
pandangan dari Agni. Ia tak ingin kehilangan momen ini, momen yang entah akan
terulang atau tidak. Jadi, salahkah jika ia mengabadikan momen ini dalam memori
otak kanan terdalamnya?
“Kamu cantik. Apalagi kalau pake
kacamata.”
Cakka mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda
pada Agni. Sementara yang di goda malah terkekeh kecil sambil memukul lengan
Cakka.
“Gombalan playboy norak tau.”
Cakka mangerutkan keningnya, ia tersenyum miring. Sebelum
berkata ia menyesap kopi yang menemaninya sejak satu jam yang lalu.
“Emang aku kayak playboy ya?”
Agni mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya, sementara
pandangannya menilai penampilan Cakka dari ujung kaki hingga kepalanya.
“Ya... bisa di bilang gitu.”
“Padahal...” Cakka menatap Agni
intens. “Aku belum pernah pacaran lho.”
Agni membulatkan matanya takjub. Ternyata asumsinya selama
ini salah menilai pria di hadapannya ini.
“Selama 28 tahun kamu belum
pernah pacaran? Gak percaya!.”
“Beneran. Kalo gak percaya tanya
aja sama Gabriel atau yang lain.”
Agni terdiam dengan mata sambil bertatapan dengan mata Elang
milik Cakka. Menyelami mata indah itu mencari kebenarannya, dan... memang ada
kebenaran disana, ada kejujuran. Agni terkekeh.
“Selama ini yang kamu lirik apa
sampe gak pernah pacaran gitu?”
Cakka tersenyum miring.
“Ya gak tertarik aja. Mau gimana
lagi? Aku rasa cewek itu ribet. Mau ini mau itu. err... gak deh pokoknya.”
“Tapi gak semua gitu kok.”
Cakka menatap Agni yang sedang menyesap minuman yang baru
saja datang kemejanya. Ya, memang benar. Tidak mungkin semua orang di ciptakan
sama, begitupun wanita. Tak ia pungkiri bahwa wanita memang berbeda, tapi...
entahlah. Entah kenapa tak ada satupun yang menarik dimatanya.
“Oiya, anter belanja yuk... gak
pede belanja masalah dapur sendiri. Apa kata orang kalo liat cowok belanja
gituan. Eugh.”
Agni terkekeh pelan kemudian menyambar tasnya dan berdiri
mengikuti Cakka.
“Yuk, sekalian ada yang mau di
beli.”
Keduanya pun berjalan beriringan menuju mobil sport berwarna
merah yang menjemput Agni tadi pagi itu, ya... walaupun dengan orang yang
berbeda dan suasana akan berbeda pula. Tak membutuhkan waktu lama mereka telah
sampai di pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.
Agni melirik Cakka dan menatap heran pada pria di sampingnya
itu.
“Kenapa gak yang di deket rumah
aja?”
Cakka melemparkan dompetnya pada Agni, secara refleks Agni
menerimanya. Agni membolak balik dompet itu mencari ke anehan, tapi tak ada
keanehan sedikitpun dari benda itu.
“Pengen disini aja. Yuk keluar.”
“Ini?” Agni mengacungkan dompet
Cakka pada pemiliknya yang telah keluar terlebih dahulu.
“Pegang aja, yuk. Kamu gak usah
bawa tas.”
Agni mengangguk lalu keluar setelah pintunya di buka oleh
Cakka. Ia sedikit heran dengan tingkah pria itu. masa sih dengan mudahnya
mempercayai orang yang baru ia kenal?
Agni menarik nafas dalam.
“Biasanya kan yang ngatur uang
itu cewek. Bayar ini itu juga cewek. Papa juga suka gitu kalo sama Mama. Ya aku
sih coba aja...”
Agni lagi-lagi hanya mengangguk. Jadi ini proses penjiplakan kebiasaan toh?. Agni memutar bola
matanya kesal, ternyata ia di jadikan bahan percobaan penjiplakannya itu. emang siapa coba yang mau jadi Mamanya?
Kawin sama kamu aja ogah! Dih!.
Cakka mendorong troli belanjaan menyusuri setiap sudut
deretan bahan makanan dan bahan-bahan rumah tangga lainnya. Sementara Agni
berjalan di depannya dengan sesekali mengambil barang yang di interupsikan
Cakka.
“Jangan terlalu banyak makanan
yang mengandung kolesterol, jangan juga cemilan kayak gitu. Emang kamu pikir
umur itu makin muda apa bisa seenaknya makan?”
Cakka memajukan bibirnya kesal. Sepertinya keputusan
mengajak Agni berbelanja itu salah besar. Karena ini itu jangan, alesannya ini
lah itu lah. Belanja cuma buah-buahan segar sama sayuran aja. Cemilannya mana Bu Dokter?. Cakka
memelototi Agni dari belakang, saat Agni berbalik ia mengalihkan pandangan pada
rak berisi susu bubuk.
“Kurangi juga minum kopi. Apalagi
kali yang kadar kafeinnya tinggi. Jangan minum teh manis terlalu manis juga
entar kadar gulanya cepet meningkat.”
“Aku masih muda kali Ni, masa
udah punya penyakit gitu. Gak mungkin lah.”
Agni berbalik dan menatap Cakka dengan gemas. Dari tadi
selalu saja Cakka ini membantah, tak pernah mendengarkannya sedikitpun. Padahal
itu juga demi kebaikannya, bukan begitu?
“Yaudah sih, terserah kamu ajalah.
Kamu sakitpun kamu kan banyak uang buat berobat.”
Agni berjalan lagi di depan Cakka tanpa memperhatikan Cakka
yang tersenyum geli melihat tingkah Agni. Salahkah ia kalau menganggap omelan
Agni itu sebagai bentuk perhatian padanya? Karena omelan itu secara tidak
langsung perhatian yang tulus. Ya... walau mungkin dengan cara yang salah.
Cakka melebarkan langkahnya untuk menyamakan langkahnya
dengan Agni. Ia meraih sikut Agni agar gadis itu berhenti. Agni berbalik
menatap Cakka.
“Apa lagi sih?”
Cakka tersenyum tulus pada Agni. Ia meraih tangan kanan Agni
dan menggenggamnya.
“Makasih ya... kamu udah
perhatian. Aku gak pernah di perhatiin kayak gini sebelumnya.”
Agni membalas senyuman Cakka sambil mengurai genggaman
tangan itu.
Tapi... apakah benar itu sebuah bentuk perhatian? Ia memang
terbiasa seperti ini pada siapapun. Oma, Opa, Ify, Sivia, Shilla, bahkan...
Patton.
Agni memukul pelan lengan Cakka.
“Malu tau di liatin orang,
apalagi ada CCTV.”
Cakka tertawa ringan. Keduanya berjalan beriringan dengan
kesibukkan masing-masing. Namun keduanya tetap saling berbincang dengan Agni
yang sesekali mengomel karena Cakka tetap bersikeras ingin membeli kofi
favorite nya.
“Ayolah... segala sesuatukan
harus bertahap. Gak bisa dong aku langsung berhenti ngopi. Harus
sedikit-sedikit. Ya....”
Agni memutar bola matanya kesal. Tak pernah ia menghadapi
manusia serewel ini. semua orang selalu menuruti apakatanya, tak pernah ada
yang membantah.
“Terserah.”
Cakka tersenyum penuh kemenangan. Ia meraih sebuah kotak berwarna
cokelat dan dimasukan pada troli itu. ia melirik Agni yang tak lagi mengoceh.
Cakka menyenggol lengan Agni.
“Apa sih?”
“Ciee Agni marah, ciee...”
Agni mendelik pada Cakka yang di tanggapi oleh senyuman dan
tatapan menggoda dari pria itu. Agni tersenyum tertahan.
“Apaan sih?”
Cakka terus saja menyenggol lengan Agni, terus menggoda
gadis itu. hingga gadis itu terkekeh menanggapi godaan tengil Cakka. Cakka pun
ikut terkekeh melihatnya. Tak pernah sekali pun Cakka merasa sebahagia ini.
Kenapa saat ini ia merasa hidupnya begitu berwarna? Apa ini yang namanya jatuh cinta?
***
Agni turun dari mobil Cakka tepat di depan gerbang rumah
Oma-Opa nya. Ia berbalik kembali dan tersenyum pada Cakka.
“Makasih ya, jadi kamu yang
ngebelanjain aku.”
Cakka mengangguk tentu dengan senyum di bibirnya.
“Masuk gih.”
“Iya... err... Dah.”
Agni melambaikan tangannya kaku, lalu beranjak memasuki
gerbang yang telah terbuka itu. namun, beberapa saat kemudian Agni muncul
kembali.
Cakka mengerutkan keningnya.
“Ada apa?”
Agni tersenyum kaku.
“Err... hati-hati ya. dah...”
Cakka terkekeh kecil melihat tingkah Agni. Lucu sekali,
sepertinya ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Cakka menghela nafas
menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Apa
aku benar-benar jatuh cinta? God. Cakka memegang dada bagian kirinya. Apa rasanya seperti ini?
***
Esoknya Agni keluar dari kamar dengan penampilan yang
berbeda. Kali ini rambut yang biasa di kuncir atau di sanggul rapih di gerai
dengan indah. Pakaiannya pun sangat berbeda, jika biasanya menggunakan celana
sekarang menggunakan skirt selutut yang pas di tubuhnya juga di padukan dengan
atasan berlengan pendek dan blazer menjadi penyempurna penampilannya.
“Pake High heels dong Ni, masa
pake baju gitu sepatunya teplek-teplek aja?”
Shilla berujar saat melihat Agni yang baru saja duduk di
sampingnya. Agni terkekeh.
“Biarin, kesehatan itu lebih
penting dari fashion. Yang penting cocok ini kan?”
Shilla menatap Agni dari ujung ke ujung, ia
mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ya... boleh juga sih.”
“Hari ini gak ke rumah sakit Ni?”
“Enggak Oma, kebetulan Om Day
bilang ada yang harus di urusin di kantor. Sekalian Agni mau nyerahin seratus
persen urusan kantor sama Om Day.”
Agni menatap Riva dengan tangan yang sibuk mengolesi selai pada
sebuah roti.
Satu yang orang lain tidak tau tentang Agni. Sebenarnya,
harusnya sekarang Agni seorang CEO sebuah perusahaan terkemuka yang cukup
berpengaruh di nusantara, bukan seorang Dokter. Dan seharusnya juga semenjak
enam tahun belakangan ini menjabat disana, bukan malah kuliah dengan mengambil
jurusan kedokteran. Jelas itu jauh dari apa-apa yang menjadi keharusannya.
“Apa kamu gak niat buat
nerusinnya Ni? Menurut Opa perusahaan Papa kamu itu sayang sekali kalo kamu gak
terusin.”
Agni menghela nafas panjang, ia mengalihkan pandangan pada
Kiki.
“Alu juga maunya gitu Opa,
tapi... sayang juga kan aku kuliah lama-lama tapi gak sampe tuntas? Gak sampe
jadi apa yang selama ini Agni pelajari? Agni rasa itu akan sia-sia kalo dengan
gitu aja Agni nerima jadi CEO.” Agni meneguk susu putihnya.
“Kalo gitu Agni berangkat dulu
Oma, Opa. Bye..”
Kelima orang yang berada di ruang makan itu mengiringi
kepergian Agni dengan pandangannya.
Selalu saja Agni yang berada dalam suasana yang begitu
sulit. Antara perusahaan peninggalan orang tua dan keinginannya sebagai
Dokter... dua-duanya akan menjadi kewajiban Agni. Kewajiban yang akan sangat
membingungkan jika tidak di antisipasi dari saat ini.
***
“Masuk.”
Agni berseru saat mendengar sebuah ketukan. Ia masih enggan
berbalik ke arah pintu, entah kenapa pemandangan kemacetan di bawah sana justru
sangat menarik dimatanya.
Agni mendengar sebuah langkah mendekat lalu berhenti. Ia
menghela nafas lalu berbalik.
“Agni.”
Agni tersenyum tipis.
“Hai Vin, duduk.”
Alvin mengikuti interupsi Agni dan duduk tepat di hadapan
Agni. Ia masih saja tersenyum tak percaya melihat gadis di hadapannya itu.
“Jadi ini alasan kamu tau profesi
aku?”
Agni mengangguk pasti lalu menegakkan duduknya.
“Tentu. Om ku bilang ada seorang
design interior yang domisili di Bali tapi secara kebetulan ada di Jakarta saat
ini. katanya, dia juga tidak pernah mengecewakan cliennya.”
Alvin tersenyum masam menanggapi ucapan Agni. Ia menatap
dalam pada Agni.
“Lalu?”
“Ya... Omku memeberikan
profilnya. Dan ternyata kamu.”
Alvin mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. ia tersenyum
sekilas.
“Darimana kita mulai bekerja
sama?”
“Ikut aku.”
Agni dan Alvin keluar dari ruangan itu dan menuju lift.
“Aku pendek banget ya? cuma
setinggi hidung kamu Vin.”
Agni terkekeh dengan perkataan basa-basinya. Jujur, ia
canggung jika tidak di awali dengan lelucon. Ya... walaupun agak garing, tapi
ia memang bukan pelawakkan?
Alvin menoleh, ia merangkul pundak Agni dan tersenyum tipis
pada gadis itu.
“Kayaknya enggak deh. Emang maunya
gimana? Segini aja udah tinggi.”
“Wah masa?”
Agni melirik Alvin kemudian menurunkan tangan besar itu dari
pundaknya. Bukannya tidak nyaman, tapi ia risih. Ia tak ingin terjadi sesuatu
di antara mereka, Agni menggeleng pelan. Hus
mikir apa sih Ni? Terjadi apa-apa gimana? Emang cowok kayak Alvin suka sama
kamu? Jangan harap.
Ting.
Setelah pintu lift terbuka keduanya beranjak dengan
beriringan menuju belakang gedung.
“Aku mau ini di rubah jadi taman
yang indah. Gak flat seperti ini.”
Agni melirik Alvin yang sedang mengamati detail taman itu.
ya... taman itu memang terlihat membosankan. Orang yang telah lelah bekerja dan
datang ketempat ini pasti malah memperburuk suasana.
“Aku mau, begitu melihat taman
ini semua orang terutama aku jadi semangat lagi. Ceria. Aku gak tau itu kayak
gimana. Tapi... aku yakin kamu mengerti.”
Agni melirik lagi ke arah Alvin.
DEG!
Mata Alvin mengunci Agni. Ternyata selama ia berkata-kata Alvin
menatapnya dengan begitu intens, jujur saja, itu membuat Agni tak bisa
berkutik. Bahkan untuk sekedar menarik nafas dan menelan ludah.
Ya Tuhan... kenapa
aku? kenapa akhir-akhir ini aku seperti ini?
Jantung Agni terus berdetak semakin kencang saat Alvin tiba-tiba
menyampirkan rambut yang menutup wajahnya ke belakang telinga.
“Kamu... lebih cantik kalau seperti
ini.”
Agni membuka mulut untuk berkata, tapi tak ada sedikitpun
kata-kata yang keluar. Ia mengalihkan pandangannya lalu menarik nafas dan
merapihkan rambutnya dengan gugup.
God! Aku yang lemah
atau memang beberapa lelaki belakangan yang mendekatinya memiliki pesona yang
begitu memancar, Begitu jelas dan nyata? God... Apapun itu, aku hanya meminta
berikanlah aku jalan terbaik.
Alvin memegang bahu Agni dan menghadapkan gadis itu pada
dirinya. Ia tersenyum lembut.
“Aku akan berusaha membuat kamu
selalu inget sama aku dengan adanya taman ini. setiap kamu kemari... aku harap
kamu ingat.”
“Sebenernya ini kado terakhirku
untuk perusahaan ini. aku akan melepaskan semuanya.”
Agni menghela nafas dalam, ia mengalihkan pandangan ke arah
taman itu kembali. Seluet kebersamaannya bersama kedua orang tuanya kembali
tergambar disana, di sebuah bangku kecil tepat di bawah pohon besar itu.
akankah ia sanggup menghapus semuanya? Sebenarnya... ia hanya tak ingin terus
merasa sedih jika melihat tepat ini. jadi... lebih baik di renovasi. Ia tak
bisa terus melihat bayangan kebahagiaannya dulu karena itu hanya akan membuat
rasa rindu pada orang tuanya semakin mendalam. Rasanya, selalu ingin...
menangis.
Alvin melihat mata Agni yang mulai berkaca-kaca. Ia menghela
nafas lalu menarik pundak Agni agar kepalanya bersandar di pundaknya. Sekedar memberinya
ketenangan.
“Apapun yang kamu rasain
sekarang, kamu harus ingat.” Alvin mengelus puncak kepala Agni.
“Kamu tidak pernah sendiri.”
***
Bersambung.
Part 6: Marry Me?
No comments:
Post a Comment