Monday, 2 September 2013

BIJI in Love. Part 5

~Part 5: Caper? It’s First Date.

***

“Maaf Tuan, Nyonya... di depan ada yang jemput Non Agni.”

Semua orang yang berada di sana secara serempak mengalihkan pandangannya pada Agni yang terlihat bingung. Namun, sedetik kemudian ia menepuk jidatnya. Lalu dengan cepat menghabiskan susu putihnya.

“Oh iya... Oma, Opa Agni pamit ya...”

Agni segera beranjak setelah mengecup kedua Pipi Oma dan Opa nya.
Ify, Shilla, Sivia saling berpandangan kemudian secara kompak menaikan kedua bahunya. Percakapan non-verbal yang hanya akan di mengerti mereka saja itu membuat Kiki dan Riva saling pandang kebingungan.

Dengan komando dari pergerakan mata Ify ketiganya segera beranjak untuk melihat orang yang menjemput Agni itu.


***

Agni menaikan satu alisnya heran melihat sebuah mobil sport berwarna merah menyala itu. ia melirik plat nomornya D 4 CAA. Alfabet belakang adalah inisial seseorang yang ia kenal.

“Ni...”

Agni tersenyum pada pria yang baru saja keluar dari mobil itu.

“Yo, mobil kamu masih di bengkel ya?”
“Begitulah... ini mobil Cakka, yuk masuk.”

Rio berucap sambil membukakan pintu penumpang untuk Agni. Agni segera berjalan ke arah pintu itu lalu masuk.
Saat Rio hendak memutar seseorang memanggilnya.

“Rio.”

Rio berbalik dan tersenyum sambil melambaikan tangannya.

“Hai Shill, aku pamit ya... bye.”

Setelah mengucapkan itu Rio segera beranjak tanpa mengindahkan tatapan kagum dari seseorang. Tak lama mobil itupun meninggalkan pekarangan rumah dan menghilang di balik pintu gerbang.

“Woy Fy!”

Shilla menepuk pundak Ify yang sedari tadi hanya diam saja memandangi kepergian Agni, err... mungkin Rio.

“Eh... Apa?”

Shilla dan Sivia terkekeh, kemudian keduanya merangkul Ify dari sisi berlawanan.

“Suka ya Fy sama Rio?”
“Hah?! Rio? siapa Rio?”

Shilla dan Sivia saling melempar pandangan menggoda.

“Yang barusanlah...”
“Ihh ya... ya enggak lah. Ngaco kalian!.”

Dengan cepat Ify beranjak meninggalkan kedua saudaranya itu. membuat Shilla dan Sivia semakin menggodanya.

“Ciee Ify ngambek...”
“TERSERAH...”

Sivia dan Shilla semakin tertawa mendengar teriakan merajuk dari Ify itu. mereka memang paling kompak dalam menggoda saudara-saudaranya.  Keduanya saling melengkapi. Yang satu polos yang satu lagi emosian. Tapi keduanya memiliki persamaan, yaitu dimana keduanya memang sosok paling perngertian dan perhatian.

***

Rio dan Agni dalam hening selama perjalanan menuju Rumah Sakit. Hingga ponsel Agni yang ada di dasbor mobil yang Rio kendarai berdering.
Agni melirik Rio dengan ragu.

“Kayaknya Ify nelpon deh Yo.”
“Eh... apa?”
“Itu hape aku.”

Agni menunjuk ponselnya yang masih berdering, nada dering dalam kontak itu memang di set berbeda untuk setiap orangnya. Agar mudah mengenali siapa yang menhubunginya. Rio meraih ponsel itu dan di berikannya pada Agni.

“Kenapa Fy?”
“Siapa yang sama kamu? Gebetan ya?”

Agni terkekeh kecil. Ia melirik Rio sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain lagi. Kemudian ia bertanya dengan suara berbisik.

“Kenapa emang? Cakep ya?”
“Hah?! Gak juga sih. Tapi... ya cukup menarik.”
“Ada-ada aja. Entar di ceritain di rumah aja ya.”
“Eh... udah ya. aku cuma lagi bete aja di rumah. Bye.”
“Bye.”

Agni masih saja terkekeh mengingat pertanyaan Ify tersebut, membuat Rio menoleh heran.

“Ni...”
“Hm.”

Agni menatap Rio yang sepertinya akan memulai pembicaraan. Rio sesekali melirik Agni lalu berkonsentrasi pada jalanan.

“Shilla itu desighner ya?”
“Iya, kenapa emangnya? Mau pesen buat dinner? Party? Nikahan?.”

Rio terkekeh, tanpa sadar ia mengulurkan tangan dan mengelus kepala Agni dengan lembut. Cukup membuat gadis itu terdiam salah tingkah, ia memalingkan wajahnya. Di ketahui merona pipi sama lelaki yang belum lama di kenal? Gak deh. Jangan... nanti di kiranya suka lagi. Eh... suka?. Agni melirik ke arah Rio yang ternyata sedang meliriknya juga. Ya Tuhan... masa iya aku suka?. Jangan!. Agni menggelengkan kepalanya pelan.

“Kenapa? Pusing ya?”

Rio menepikan mobilnya lalu menatap Agni yang masih menggelengkan kepalanya dengan khawatir. Ia merengkuh wajah Agni untuk melihat wajah Agni dengan sempurna.

Agni terdiam, matanya membulat kaget, saat Agni membuka mulut untuk berkata tak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Entah kenapa, ia menjadi... gugup.

“Err... a.aku... aku gapapa kok Yo.”

Agni menurunkan tangan Rio. Tersenyum pada pria itu meyakinkannya.
Rio menghela nafas panjang, ia mengangguk samar kemudian kembali pada posisi dan melanjutkan perjalanannya.

Agni menghela nafas panjang, menetralisir rasa gugup yang masih saja bersarang dalam dirinya. Ia memejamkan matanya cukup lama, kemudian menghembuskan nafas pelan sambil membuka matanya.

“Oiya... ini hape kamu Yo.”

Agni menyimpan ponsel Rio yang baru saja ia keluarkan dari tas pada dasbor tanpa ada niat untuk menatap Rio lagi, menatapnya lebih lama entah kenapa dadanya terasa ingin meledak saat itu juga.

“Aku udah save nomor aku di hape kamu. Nomor kamu gak di remove kan?”
“Tapi...”

Rio menatap Agni sekilas, membuat Agni dengan seketika mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Iya gak di remove.”

Oh God... Agni memegang dada bagian kirinya yang terasa begitu tidak karuannya. Jangan... ini terlalu cepat.

***

Agni berjalan dengan anggun menuju ruangannya, sesekali ia melemparkan senyumannya pada beberapa orang yang menyapanya.

“Selamat pagi Dokter Agni.”
“Pagi...”

Agni menghela nafas panjang sebelum memasuki ruangannya. Baru saja ia di uji oleh Rio, apakah ia akan di uji kembali oleh Patton? Ya Tuhan... kenapa di saat aku akan menjauhi mahkluk yang di sebut pria di saat itu pula para pria justru semakin intens datang mengelilingi hidupku? Agni menghembuskan nafasnya.

“Selamat pagi Dokter Patton.”

Patton mengangkat wajahnya kemudian tersenyum pada Agni yang kini berdiri tak jauh darinya.

“Pagi.” Patton menaikan satu alisnya. “Kayaknya kamu sakit. Pucet banget.”

Secara refleks Agni memegang pipinya. Apa iya? Ia tersenyum tipis.

“Gapapa kok. Aku baik.”

Agni berjalan menuju tempat duduknya. Ia menyimpan tas lalu memakai jas kebanggaannya. Saat ia handak beranjak sebuah tangan hangat menggapai tangannya. Agni berbalik dan menatap Patton yang masih menggenggam tangannya.

“Biar aku periksa dulu.”
“Gak usah. Aku baik kok. Aku sehat.”

Patton terkekeh. Sebelah tangannya menarik kursi untuk Agni duduki.

“Bener ya kata orang. Paling susah kalo mau meriksa Dokter. Keras kepala.”
“Aku gapapa Dokter. Aku pucet mungkin cuma gara-gara gak di make-up aja. Beneran deh...”
“Yakin?”

Agni mengangguk kaku. Ia menegang saat tiba-tiba Patton malah mendekatkan diripadanya, semakin dekat, bahkan sangat amat dekat. Apa yang harus Agni lakukan? Agni memejamkan matanya takut.

“Iya, kamu gak pake make-up ya? pantesan pucet.”

Dengan cepat Agni membuka matanya, saat itu pula ia dapat melihat iris mata hitam legam dari mata Patton. Patton tersenyum.

“Aku lebih suka gini, natural. Cantik banget.”

DEG!

OH GOD! Andai ia memiliki ilmu untuk menghilang, ia akan menggunakannya sekarang juga. Ia benar-benar tak sanggup jika harus berada dalam kondisi seperti ini. gak akan! Gak akan pernah sanggup. God... tolong aku...

Tok tok tok.

Patton segera menegakkan dirinya lalu merapihkan jas nya.
Sementara Agni beranjak menjauh menuju pintu.

“Dokter Patton ada Dok?”
“Di dalam.”

Agni dengan langkah lebar segera meninggakan ruangannya itu. Bego! Bego! Bego banget sih... kenapa bisa sampe kejebak suasana gitu? Ya Tuhan...

***

Sepanjang hari Agni sebisa mungkin tidak memasuki ruangannya, ia menyibukkan dirinya dengan berkeliling mencari dan memeriksa pasiennya, terkadang ia mengobrol dengan beberapa karyawan atau lebih memilih berlama-lama mengobrol dengan pasien. Entah kenapa ia menjadi enggan untuk memasuki ruangan itu. Bukan karena ruangannya, bukan! Tapi karena orang yang ada di ruangannya. Ia tak bisa berada bersama Dokter muda itu terlalu lama, ia harus berusaha sebisa mungkin meneguhkan hatinya agar tak jatuh begitu saja pada Dokter itu.

Hingga jam kerja habis Agni baru memutuskan untuk memasuki ruangannya lagi. Agni menghela nafas panjang sebelum memasuki ruangan itu.

Agni mengerutkan dahinya, tumben Patton udah gak ada. Dengan cepat Agni memasuki ruangan itu dan meraih tas nya. Tapi sebelum ia meninggalkan ruangan itu sebuah kertas di mejanya menarik perhatiannya.

Kayaknya kamu ngindarin aku ya Ni? Aku salah ya?
Aku bener-bener minta maaf ya...
Aku gak tau kalo aku berlebihan. Aku cuma khawatir sama kamu.
Aku berharap kamu gak kayak gini lagi...
Maaf...

Agni tertegun. Apa aku berlebihan? Ya Tuhan... Maaf Patton....
Agni menghela nafas panjang kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu. Entah kenapa ia merasa bersalah. Apa ia memang salah? Tapi, jika salah. Salah kenapa? Entahlah... semuanya terlalu membingungkan.
Agni meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu di sana.

Maaf ya... kamu gak salah kok.

Lagi-lagi Agni menghela nafas, entah kenapa dalam dadanya terasa ada sebuah beban yang begitu berat. Apa mungkin rasa bersalah itu? Oh God... aku bingung.

***

Cakka duduk di cafe tepat di depan rumah sakit. Ia duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah rumah sakit itu, memastikan bahwa Agni benar-benar datang menemuinya. Cakka melirik arlojinya, ia tersenyum kecil saat menyadari jam kerja Agni telah berakhir. Dalam hati ia menghitung mundur... 5... 4... 3... 2...

“Hei Kka... maaf ya lama.”

Cakka tersenyum pada Agni yang baru saja datang dan langsung duduk di hadapannya. Ia terus memandangi Agni yang sedang memanggil waitres dan memesan minuman untuknya. Wajah gadis itu begitu memesona di matanya, begitu menawan. Mengapa ia baru menyadarinya sekarang? Kenapa tidak sejak dulu? Mungkin kejadiannya tidak akan serumit ini.

“Kka...” Agni mengibaskan tangannya di depan Cakka. “Aku aneh ya?” Agni meringis sambil memandangi dirinya sendiri.

Cakka terkekeh ia menegakkan duduknya tanpa melepas pandangan dari Agni. Ia tak ingin kehilangan momen ini, momen yang entah akan terulang atau tidak. Jadi, salahkah jika ia mengabadikan momen ini dalam memori otak kanan terdalamnya?

“Kamu cantik. Apalagi kalau pake kacamata.”

Cakka mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda pada Agni. Sementara yang di goda malah terkekeh kecil sambil memukul lengan Cakka.

“Gombalan playboy norak tau.”

Cakka mangerutkan keningnya, ia tersenyum miring. Sebelum berkata ia menyesap kopi yang menemaninya sejak satu jam yang lalu.

“Emang aku kayak playboy ya?”

Agni mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya, sementara pandangannya menilai penampilan Cakka dari ujung kaki hingga kepalanya.

“Ya... bisa di bilang gitu.”
“Padahal...” Cakka menatap Agni intens. “Aku belum pernah pacaran lho.”

Agni membulatkan matanya takjub. Ternyata asumsinya selama ini salah menilai pria di hadapannya ini.

“Selama 28 tahun kamu belum pernah pacaran? Gak percaya!.”
“Beneran. Kalo gak percaya tanya aja sama Gabriel atau yang lain.”

Agni terdiam dengan mata sambil bertatapan dengan mata Elang milik Cakka. Menyelami mata indah itu mencari kebenarannya, dan... memang ada kebenaran disana, ada kejujuran. Agni terkekeh.

“Selama ini yang kamu lirik apa sampe gak pernah pacaran gitu?”

Cakka tersenyum miring.

“Ya gak tertarik aja. Mau gimana lagi? Aku rasa cewek itu ribet. Mau ini mau itu. err... gak deh pokoknya.”
“Tapi gak semua gitu kok.”

Cakka menatap Agni yang sedang menyesap minuman yang baru saja datang kemejanya. Ya, memang benar. Tidak mungkin semua orang di ciptakan sama, begitupun wanita. Tak ia pungkiri bahwa wanita memang berbeda, tapi... entahlah. Entah kenapa tak ada satupun yang menarik dimatanya.

“Oiya, anter belanja yuk... gak pede belanja masalah dapur sendiri. Apa kata orang kalo liat cowok belanja gituan. Eugh.”

Agni terkekeh pelan kemudian menyambar tasnya dan berdiri mengikuti Cakka.

“Yuk, sekalian ada yang mau di beli.”

Keduanya pun berjalan beriringan menuju mobil sport berwarna merah yang menjemput Agni tadi pagi itu, ya... walaupun dengan orang yang berbeda dan suasana akan berbeda pula. Tak membutuhkan waktu lama mereka telah sampai di pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.

Agni melirik Cakka dan menatap heran pada pria di sampingnya itu.

“Kenapa gak yang di deket rumah aja?”

Cakka melemparkan dompetnya pada Agni, secara refleks Agni menerimanya. Agni membolak balik dompet itu mencari ke anehan, tapi tak ada keanehan sedikitpun dari benda itu.

“Pengen disini aja. Yuk keluar.”
“Ini?” Agni mengacungkan dompet Cakka pada pemiliknya yang telah keluar terlebih dahulu.
“Pegang aja, yuk. Kamu gak usah bawa tas.”

Agni mengangguk lalu keluar setelah pintunya di buka oleh Cakka. Ia sedikit heran dengan tingkah pria itu. masa sih dengan mudahnya mempercayai orang yang baru ia kenal?
Agni menarik nafas dalam.

“Biasanya kan yang ngatur uang itu cewek. Bayar ini itu juga cewek. Papa juga suka gitu kalo sama Mama. Ya aku sih coba aja...”

Agni lagi-lagi hanya mengangguk. Jadi ini proses penjiplakan kebiasaan toh?. Agni memutar bola matanya kesal, ternyata ia di jadikan bahan percobaan penjiplakannya itu. emang siapa coba yang mau jadi Mamanya? Kawin sama kamu aja ogah! Dih!.

Cakka mendorong troli belanjaan menyusuri setiap sudut deretan bahan makanan dan bahan-bahan rumah tangga lainnya. Sementara Agni berjalan di depannya dengan sesekali mengambil barang yang di interupsikan Cakka.

“Jangan terlalu banyak makanan yang mengandung kolesterol, jangan juga cemilan kayak gitu. Emang kamu pikir umur itu makin muda apa bisa seenaknya makan?”

Cakka memajukan bibirnya kesal. Sepertinya keputusan mengajak Agni berbelanja itu salah besar. Karena ini itu jangan, alesannya ini lah itu lah. Belanja cuma buah-buahan segar sama sayuran aja. Cemilannya mana Bu Dokter?. Cakka memelototi Agni dari belakang, saat Agni berbalik ia mengalihkan pandangan pada rak berisi susu bubuk.

“Kurangi juga minum kopi. Apalagi kali yang kadar kafeinnya tinggi. Jangan minum teh manis terlalu manis juga entar kadar gulanya cepet meningkat.”
“Aku masih muda kali Ni, masa udah punya penyakit gitu. Gak mungkin lah.”

Agni berbalik dan menatap Cakka dengan gemas. Dari tadi selalu saja Cakka ini membantah, tak pernah mendengarkannya sedikitpun. Padahal itu juga demi kebaikannya, bukan begitu?

“Yaudah sih, terserah kamu ajalah. Kamu sakitpun kamu kan banyak uang buat berobat.”

Agni berjalan lagi di depan Cakka tanpa memperhatikan Cakka yang tersenyum geli melihat tingkah Agni. Salahkah ia kalau menganggap omelan Agni itu sebagai bentuk perhatian padanya? Karena omelan itu secara tidak langsung perhatian yang tulus. Ya... walau mungkin dengan cara yang salah.

Cakka melebarkan langkahnya untuk menyamakan langkahnya dengan Agni. Ia meraih sikut Agni agar gadis itu berhenti. Agni berbalik menatap Cakka.

“Apa lagi sih?”

Cakka tersenyum tulus pada Agni. Ia meraih tangan kanan Agni dan menggenggamnya.

“Makasih ya... kamu udah perhatian. Aku gak pernah di perhatiin kayak gini sebelumnya.”

Agni membalas senyuman Cakka sambil mengurai genggaman tangan itu.
Tapi... apakah benar itu sebuah bentuk perhatian? Ia memang terbiasa seperti ini pada siapapun. Oma, Opa, Ify, Sivia, Shilla, bahkan... Patton.

Agni memukul pelan lengan Cakka.

“Malu tau di liatin orang, apalagi ada CCTV.”

Cakka tertawa ringan. Keduanya berjalan beriringan dengan kesibukkan masing-masing. Namun keduanya tetap saling berbincang dengan Agni yang sesekali mengomel karena Cakka tetap bersikeras ingin membeli kofi favorite nya.

“Ayolah... segala sesuatukan harus bertahap. Gak bisa dong aku langsung berhenti ngopi. Harus sedikit-sedikit. Ya....”

Agni memutar bola matanya kesal. Tak pernah ia menghadapi manusia serewel ini. semua orang selalu menuruti apakatanya, tak pernah ada yang membantah.

“Terserah.”

Cakka tersenyum penuh kemenangan. Ia meraih sebuah kotak berwarna cokelat dan dimasukan pada troli itu. ia melirik Agni yang tak lagi mengoceh. Cakka menyenggol lengan Agni.

“Apa sih?”
“Ciee Agni marah, ciee...”

Agni mendelik pada Cakka yang di tanggapi oleh senyuman dan tatapan menggoda dari pria itu. Agni tersenyum tertahan.

“Apaan sih?”

Cakka terus saja menyenggol lengan Agni, terus menggoda gadis itu. hingga gadis itu terkekeh menanggapi godaan tengil Cakka. Cakka pun ikut terkekeh melihatnya. Tak pernah sekali pun Cakka merasa sebahagia ini. Kenapa saat ini ia merasa hidupnya begitu berwarna? Apa ini yang namanya jatuh cinta?

***

Agni turun dari mobil Cakka tepat di depan gerbang rumah Oma-Opa nya. Ia berbalik kembali dan tersenyum pada Cakka.

“Makasih ya, jadi kamu yang ngebelanjain aku.”

Cakka mengangguk tentu dengan senyum di bibirnya.

“Masuk gih.”
“Iya... err... Dah.”

Agni melambaikan tangannya kaku, lalu beranjak memasuki gerbang yang telah terbuka itu. namun, beberapa saat kemudian Agni muncul kembali.

Cakka mengerutkan keningnya.

“Ada apa?”

Agni tersenyum kaku.

“Err... hati-hati ya. dah...”

Cakka terkekeh kecil melihat tingkah Agni. Lucu sekali, sepertinya ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Cakka menghela nafas menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Apa aku benar-benar jatuh cinta? God. Cakka memegang dada bagian kirinya. Apa rasanya seperti ini?

***

Esoknya Agni keluar dari kamar dengan penampilan yang berbeda. Kali ini rambut yang biasa di kuncir atau di sanggul rapih di gerai dengan indah. Pakaiannya pun sangat berbeda, jika biasanya menggunakan celana sekarang menggunakan skirt selutut yang pas di tubuhnya juga di padukan dengan atasan berlengan pendek dan blazer menjadi penyempurna penampilannya.

“Pake High heels dong Ni, masa pake baju gitu sepatunya teplek-teplek aja?”

Shilla berujar saat melihat Agni yang baru saja duduk di sampingnya. Agni terkekeh.

“Biarin, kesehatan itu lebih penting dari fashion. Yang penting cocok ini kan?”

Shilla menatap Agni dari ujung ke ujung, ia mengangguk-anggukan kepalanya.

“Ya... boleh juga sih.”

“Hari ini gak ke rumah sakit Ni?”
“Enggak Oma, kebetulan Om Day bilang ada yang harus di urusin di kantor. Sekalian Agni mau nyerahin seratus persen urusan kantor sama Om Day.”

Agni menatap Riva dengan tangan yang sibuk mengolesi selai pada sebuah roti.
Satu yang orang lain tidak tau tentang Agni. Sebenarnya, harusnya sekarang Agni seorang CEO sebuah perusahaan terkemuka yang cukup berpengaruh di nusantara, bukan seorang Dokter. Dan seharusnya juga semenjak enam tahun belakangan ini menjabat disana, bukan malah kuliah dengan mengambil jurusan kedokteran. Jelas itu jauh dari apa-apa yang menjadi keharusannya.

“Apa kamu gak niat buat nerusinnya Ni? Menurut Opa perusahaan Papa kamu itu sayang sekali kalo kamu gak terusin.”

Agni menghela nafas panjang, ia mengalihkan pandangan pada Kiki.

“Alu juga maunya gitu Opa, tapi... sayang juga kan aku kuliah lama-lama tapi gak sampe tuntas? Gak sampe jadi apa yang selama ini Agni pelajari? Agni rasa itu akan sia-sia kalo dengan gitu aja Agni nerima jadi CEO.” Agni meneguk susu putihnya.
“Kalo gitu Agni berangkat dulu Oma, Opa. Bye..”

Kelima orang yang berada di ruang makan itu mengiringi kepergian Agni dengan pandangannya.
Selalu saja Agni yang berada dalam suasana yang begitu sulit. Antara perusahaan peninggalan orang tua dan keinginannya sebagai Dokter... dua-duanya akan menjadi kewajiban Agni. Kewajiban yang akan sangat membingungkan jika tidak di antisipasi dari saat ini.

***

“Masuk.”

Agni berseru saat mendengar sebuah ketukan. Ia masih enggan berbalik ke arah pintu, entah kenapa pemandangan kemacetan di bawah sana justru sangat menarik dimatanya.
Agni mendengar sebuah langkah mendekat lalu berhenti. Ia menghela nafas lalu berbalik.

“Agni.”

Agni tersenyum tipis.

“Hai Vin, duduk.”

Alvin mengikuti interupsi Agni dan duduk tepat di hadapan Agni. Ia masih saja tersenyum tak percaya melihat gadis di hadapannya itu.

“Jadi ini alasan kamu tau profesi aku?”

Agni mengangguk pasti lalu menegakkan duduknya.

“Tentu. Om ku bilang ada seorang design interior yang domisili di Bali tapi secara kebetulan ada di Jakarta saat ini. katanya, dia juga tidak pernah mengecewakan cliennya.”

Alvin tersenyum masam menanggapi ucapan Agni. Ia menatap dalam pada Agni.

“Lalu?”
“Ya... Omku memeberikan profilnya. Dan ternyata kamu.”

Alvin mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. ia tersenyum sekilas.

“Darimana kita mulai bekerja sama?”
“Ikut aku.”

Agni dan Alvin keluar dari ruangan itu dan menuju lift.

“Aku pendek banget ya? cuma setinggi hidung kamu Vin.”

Agni terkekeh dengan perkataan basa-basinya. Jujur, ia canggung jika tidak di awali dengan lelucon. Ya... walaupun agak garing, tapi ia memang bukan pelawakkan?
Alvin menoleh, ia merangkul pundak Agni dan tersenyum tipis pada gadis itu.

“Kayaknya enggak deh. Emang maunya gimana? Segini aja udah tinggi.”
“Wah masa?”

Agni melirik Alvin kemudian menurunkan tangan besar itu dari pundaknya. Bukannya tidak nyaman, tapi ia risih. Ia tak ingin terjadi sesuatu di antara mereka, Agni menggeleng pelan. Hus mikir apa sih Ni? Terjadi apa-apa gimana? Emang cowok kayak Alvin suka sama kamu? Jangan harap.

Ting.

Setelah pintu lift terbuka keduanya beranjak dengan beriringan menuju belakang gedung.

“Aku mau ini di rubah jadi taman yang indah. Gak flat seperti ini.”

Agni melirik Alvin yang sedang mengamati detail taman itu. ya... taman itu memang terlihat membosankan. Orang yang telah lelah bekerja dan datang ketempat ini pasti malah memperburuk suasana.

“Aku mau, begitu melihat taman ini semua orang terutama aku jadi semangat lagi. Ceria. Aku gak tau itu kayak gimana. Tapi... aku yakin kamu mengerti.”

Agni melirik lagi ke arah Alvin.

DEG!

Mata Alvin mengunci Agni. Ternyata selama ia berkata-kata Alvin menatapnya dengan begitu intens, jujur saja, itu membuat Agni tak bisa berkutik. Bahkan untuk sekedar menarik nafas dan menelan ludah.
Ya Tuhan... kenapa aku? kenapa akhir-akhir ini aku seperti ini?

Jantung Agni terus berdetak semakin kencang saat Alvin tiba-tiba menyampirkan rambut yang menutup wajahnya ke belakang telinga.

“Kamu... lebih cantik kalau seperti ini.”

Agni membuka mulut untuk berkata, tapi tak ada sedikitpun kata-kata yang keluar. Ia mengalihkan pandangannya lalu menarik nafas dan merapihkan rambutnya dengan gugup.
God! Aku yang lemah atau memang beberapa lelaki belakangan yang mendekatinya memiliki pesona yang begitu memancar, Begitu jelas dan nyata? God... Apapun itu, aku hanya meminta berikanlah aku jalan terbaik.

Alvin memegang bahu Agni dan menghadapkan gadis itu pada dirinya. Ia tersenyum lembut.

“Aku akan berusaha membuat kamu selalu inget sama aku dengan adanya taman ini. setiap kamu kemari... aku harap kamu ingat.”
“Sebenernya ini kado terakhirku untuk perusahaan ini. aku akan melepaskan semuanya.”

Agni menghela nafas dalam, ia mengalihkan pandangan ke arah taman itu kembali. Seluet kebersamaannya bersama kedua orang tuanya kembali tergambar disana, di sebuah bangku kecil tepat di bawah pohon besar itu. akankah ia sanggup menghapus semuanya? Sebenarnya... ia hanya tak ingin terus merasa sedih jika melihat tepat ini. jadi... lebih baik di renovasi. Ia tak bisa terus melihat bayangan kebahagiaannya dulu karena itu hanya akan membuat rasa rindu pada orang tuanya semakin mendalam. Rasanya, selalu ingin... menangis.

Alvin melihat mata Agni yang mulai berkaca-kaca. Ia menghela nafas lalu menarik pundak Agni agar kepalanya bersandar di pundaknya. Sekedar memberinya ketenangan.

“Apapun yang kamu rasain sekarang, kamu harus ingat.” Alvin mengelus puncak kepala Agni.
“Kamu tidak pernah sendiri.”

***

Bersambung.
Part 6: Marry Me?
                                                



No comments:

Post a Comment