Semula kisah cinta dan persahabatan itu baik-baik saja.
Namun, setelah sahabat yang lain pergi dengan kepentingan masing-masing
semuanya berubah...
“Fy... loe kenapa sih jadi kayak
gini? Loe mau ninggalin gue juga? Cindai, Marsha, mereka udah pergi!. Dan loe
juga? Gitu?”
Ify menghempaskan tangan Agni yang begitu erat memegang
tangannya. Setelah terlepas, ia berlalu begitu saja tanpa ada keinginan
sedikitpun untuk berucap.
Agni mengumpat kesal. Ia meraih ponselnya dan memanggil
seseorang.
“Kka... dimana? Anterin aku
pulang.”
“Aku di parkiran. Siap sayangku...”
“Tunggu aku kesana sekarang.”
Agni berjalan dengan cepat menuju parkiran yang terletak di
belakang sekolah. Di semester akhir ini Agni, Ify dan Cakka memang tidak satu
kelas lagi seperti halnya kelas 10 dan 11. Cukup membuat Agni kelimpungan,
pasalnya ia memang tak punya teman lain selain mereka. Rio? jangan pernah
menanyakan dia! Dia telah lulus setahun yang lalu.
Cakka terlihat sedang berbincang dengan gerombolan cowok-cowok
yang Agni tau adalah teman-teman baru Cakka. Semenjak perginya Bagas dan Rafli
di tambah Rio yang udah keluar, Cakka memang mulai mencari teman baru.
“Kka...”
Cakka menengok lalu tersenyum, dengan santai ia merangkul
pinggang Agni. Tak lama teman-teman Cakka pun akhirnya pergi meninggalkan
mereka.
“Yuk sayang...”
Agni mengikuti Cakka yang membawanya memasuki mobil sport
terbaru milik Cakka, yang merupakan hadiah ulang tahun ke tujuh belas dari
orang tuanya.
Cakka melirik Agni setelah ia memasuki mobil itu.
“Kenapa sih? Kok cemberut gitu?”
Agni menghela nafas panjang, kemudian menghadapkan dirinya
pada Cakka.
“Ify tiba-tiba marah. Aku gak
ngerti kenapa...”
Cakka tersenyum kecil, tangan kanannya membelai pipi kiri
Agni dengan lembut.
“PMS kali. Atau kamu ngelakuin
sesuatu yang nyangkut sama Rio?”
“Enggak kok! Beberapa hari ini
bahkan aku gak ketemu sama Rio. dia kan sibuk sama kuliahnya.”
Cakka nampak berpikir, kemudian ia tersenyum kembali pada
Agni.
“Udah... gak usah di pikirin lagi
ya?”
Agni menganggukkan kepalanya kemudian membalas senyuman
Cakka. Dengan cepat Cakka mengecup bibir Agni.
“Aku sayang kamu.”
Agni tersenyum saat mendengar bisikan itu. tak hentinya
pemuda itu membisikan kata-kata itu setiap mereka bertemu, membuatnya yakin
kalau pemuda itu benar-benar mencintainya.
“Aku juga...”
***
Setelah Cakka mengantarkan Agni ia bergegas pulang karena
Mama nya memang mendesak untuk segera pulang ke rumah setelah dari sekolah.
“Ma Cakka pulang...”
Cakka berseru dengan
berjalan santai memasuki kediamannya. Ia berjalan menuju dapur untuk sekedar
mencari penyegar tenggorokannya. Namun, Cakka malah diam mematung begitu
melihat seseorang berjalan menuruni tangga rumahnya.
“Vin.”
Orang itu, Alvin. Dia berjalan dengan angkuh ke arah Cakka.
Dalam bingkai wajah tampannya senyuman itu terus terpatri dengan indah.
“Hai adikku.”
“Ngapain loe balik?!”
Cakka menatap Alvin dengan tatapan tajam. Nada pertanyaannya
pun terdengar begitu dingin dan datar, sangat tidak bersahabat. Alvin terkekeh
melihat reaksi seperti itu.
“Tentu untuk menemani adikku yang
satu ini dong. Mama ada tugas untuk beberapa bulan di luar kota, dan ya...
sebagai kakak yang baik gue dengan suka rela pulang dan nemenin loe. Gue kan
tau sendiri, loe itu gimana. Apalagi sekarang loe di rumah bener-bener
sendiri.”
“Enggak! Difa bakalan cepet
pulang.”
Alvin menepuk pundak Cakka sambil terkekeh lagi.
“Difa sekarang di asrama...
jangan pikir gue gak tau itu.” Alvin menghela nafas. “Udah... apapun yang ada
di pikiran loe sekarang tentang gue mendingan kita damai aja. Gue gak bakalan
ngerusuh kok disini.”
Cakka menghela nafas panjang kemudian berjalan mengikuti
Alvin menuju dapur.
“Loe masih pacaran sama Agni?”
Alvin menyandarkan dirinya di pantry sambil sesekali
menyesap kopi yang memang sudah tersedia untuknya. Cakka menatap Alvin dari
samping dengan sengit. Ia ingin mengetahui, apa motif di balik pertanyaan itu.
“Oke. Gue anggap iya.”
Alvin menyerongkan badannya menatap Cakka yang sedang
meneguk minumannya dengan penuh emosi.
“Loe udah dapet apa aja dari dia?
Ya... hadiah sweet seventeen loe mungkin.”
Cakka menatap Alvin dengan ekor matanya. Ia tersenyum masam.
“Maksud loe?”
“Well... dulu gue bisa dapetin
first kiss nya dia. Ya loe tau lah... hadiah sweet seventeen juga.”
Cakka memejamkan matanya dengan erat agar tidak terpancing
emosi. First kiss Agni sama Alvin? Kenapa Agni tidak pernah cerita tentang hal
itu setelah mereka berhubungan selama dua tahun ini?
“Kalo loe gimana? Gue sih kalo
masalah kiss atau kissing gak heran ya... apa loe udah...”
Cakka dengan cepat menoleh ke arah Alvin. Membuat Alvin
terkekeh kecil.
“Gue gak sebejad itu ya...”
Alvin berusaha meredam tawanya.
“Ya ya ya... tapi Agni nya? Apa
loe tau Agni sering tidur sama Rio?”
Rahang Cakka mengeras. Ia menatap tajam ke arah Alvin. Ia
benar-benar muak sekarang!
“Itu dulu.”
“Dan berlanjut sampai sekarang?
Haha... kasian banget sih loe Kka, dia cewek loe, tapi masa tidur sama cowok
lain.”
Alvin menepuk pundak Cakka. Membuat Cakka menoleh pada kakaknya
itu.
“Apa loe pernah nanya sama Agni
tentang hal ini? gue denger juga Rio aksel ya? sekarang dia pasti udah kuliah
dong.”
“Tau apa loe tentang kehidupan
disini? Gue udah buang loe jauh...”
“Eits... loe tau gue kan? Mata
gue ada dimana-mana Cakka.” Alvin menghela nafas panjang. “Pergaulan anak SMA
sama anak kuliahan itu beda Kka. Gue udah ngalamin. Apa loe gak pernah mikirin
hubungan Agni sama Rio? apa loe yakin mereka gak pernah ngelakuin itu? ya...
kecuali Rio gak normal. Eh tapi... bukannya Rio pacaran sama cewek ya? berarti
normal dong?”
Alvin melirik Cakka yang hanya terdiam entah memikirkan apa.
Ia menepuk pundak Cakka lagi dan mengelusnya pelan.
“Pikirin baik-baik. Loe masih
muda loe masih bisa dapetin yang lebih baik.”
Ponsel Alvin berdering. Ia menaikan satu alisnya.
“Apa?”
Alvin bertanya sambil me-loadspeaker ponselnya.
“Gadis yang bernama Agni itu masuk kedalam rumah alamatnya jalan
Prastiwi nomor 15. Baru saja.”
Alvin melirik Cakka yang mengatupkan rahangnya keras. Dalam
hati ia tersenyum puas melihat reaksinya. Sepertinya ini terlalu sukses...
Cakka meraih ponselnya kemudian mendial nomor Agni.
“Hallo Kka. Kenapa?”
“Dimana?”
“Aku? ya... di rumah. Aku baru aja mau istirahat.”
Cakka terdiam sambil meremas ponselnya kesal.
“Kka? Kamu baik-baik aja kan?”
Cakka menghela nafas panjang.
“Iya. Yaudah istirahat yang cukup
ya... biar kamu gak sakit.”
“Iya... makasih ya.”
“Bye.”
PRANG!
Cakka melemparkan gelas yang ada di tangannya membuat Alvin
terperanjat penuh kekagetan. Ia melirik Cakka dengan sebal.
“Kenapa sih loe? Emang alamat
tadi rumah siapa?”
Cakka tak mengindahkan peranyaan itu. ia malah beranjak
pergi setelah membantingkan tas nya di meja makan.
Alvin menyeringai sinis kemudian meraih ponselnya kembali.
“Kerja yang bagus.”
***
Agni memasuki rumah yang sangat luas itu dengan
terburu-buru.
“Rio...” Agni lebih memasuki
rumah itu. “Rio... Hon kamu dimana? Aku gak mau muterin rumah ini. cepetan
keluar!” Agni menghela nafas panjang. “Aku tau kamu ada di rumah ini.”
“Non.”
Agni memutar badannya, untuk menatap kepala pengurus rumah
ini.
“Iya. Kenapa? Oiya Rio dimana?”
“Den Rio sedang ada tamu di
atas.”
Agni mengangguk, ia pun segera bergegas menuju lantai atas.
Ia penasaran sekali dengan tamu itu, pasalnya tidak ada keberadaan kendaraan
yang asing baginya di parkiran atau di halaman.
“Hon...”
Agni memanggil Rio yang baru saja menutup pintu kamar yang
memang selalu Agni tempati. Membuat Agni menaikan alisnya heran.
“Kamu... eh hai Bee...”
Agni memicingkan matanya dengan dahi mengerut. Sepertinya
ada yang di rahasiakan pemuda itu.
Agni mendekati Rio dengan tatapan menyelidik, saat begitu
dekat dengan Rio Agni terdiam. Ia menatap Rio dengan tatapan penuh tanya.
“Sejak kapan kamu ganti parfum?
Kok kayak parfum cewek?”
“Cewek? Haha... becanda kamu. Yuk
ngobrolnya di bawah aja.”
Agni menepis tangan Rio yang berada di bahunya, memaksa
dirinya untuk mengikuti Rio.
“Enggak. Aku mau disini.”
“Agni... c’mon. Di bawah aja...”
“Kamu kenapa sih? Apa yang kamu
sembunyiin? Kata si Bibi kamu lagi ada tamu! Mana? Siapa?”
Agni menengok ke belakang Rio mencari yang ingin ia ketahui.
Namun Rio menahan kedua tangannya.
“Hei hei... Bee!” Rio menggeram
karena Agni terlepas dari genggamannya. “Bee!”
Terlambat! Agni telah terlebih dahulu membuka pintu
kamarnya. Tubuh Agni menegang, tubuhnya sedikit bergetar kaget. Badannya pun
terasa begitu ringan dan limbung. Seorang wanita dengan nyenyak tidur di balik
selimut di atas tempat tidur queen size nya dengan rambut yang begitu
acak-acakan.
“Fy...”
Agni berujar lirih kemudian berbalik ke arah Rio. Agni
menggeram kesal lalu beranjak pergi tanpa ingin berucap apapun lagi pada Rio.
“Agni... aku bisa jelasin
semuanya Bee... Agni.”
Rio berhasil meraih lengan Agni dan dengan cepat ia
memeluknya. Agni memberontak dalam pelukan erat itu.
“Lepas!”
“Agni dengerin aku!.”
Saat Agni telah lebih tenang Rio melepaskan pelukannya.
“Aku gak ngapa-ngapain sama...”
“Aku gak peduli.”
Ponsel Agni tiba-tiba berdering. Ia merogoh ponselnya yang
ia simpan di tas kecil yang ia bawa. Ia melirik Rio sekilas kemudian menerima
panggilan itu.
“Hallo Kka. Kenapa?”
“Dimana?”
“Aku? ya... di rumah. Aku baru
aja mau istirahat.”
Agni melirik Rio yang ternyata sedang menatapnya dengan
intens, penuh rasa ingin tau. Agni melirik ponselnya yang tak terdengar ucapan
apapun dari sebrang.
“Kka? Kamu baik-baik aja kan?”
“Iya. Yaudah istirahat yang cukup ya... biar kamu gak sakit.”
“Iya... makasih ya.”
“Bye.”
Agnimenyimpan ponselnya kembali setelah memastikan panggilan
itu di akhiri. Kemudian Agni menatap Rio dengan pandangan penuh luka. Ia
menarik nafas panjang, menenangkan dirinya sendiri.
“Kamu bebas ngelakuin apapun sama
dia! Apapun! Tapi enggak di rumah ini Yo! Enggak di kamar aku! ENGGAK!”
“Agni... aku...”
“Seenggaknya kamu hargain aku
yang selama ini nempatin kamar itu! kita udah sepakat! Siapapun yang datang ke
rumah ini kita akan saling konfirmasi! Termasuk dia!”
“AGNI DIAM!”
“KAMU YANG DIAM! AKU BERHAK
SETENGAH ATAS RUMAH INI!”
Nafas Agni memburu, pandangannya begitu tajam pada Rio. tak
menyangka dengan apa yang di lakukan mantan tunangannya ini. yang selama ini ia
percaya begitu lembut, tulus dan penyayang ternyata bisa melakukan hal keji
seperti itu.
“Bee...”
Rio meraih Agni ke dalam pelukannya kembali. Agni sedikit
memberontak namun tak di indahkan oleh Rio.
“Kamu inget ada CCTV di rumah
ini? termasuk di kamar aku dan kamu.”
Agni terdiam. Benar sekali. Kenapa ia bisa sampai lupa
dengan hal itu?
“Kita liat...”
“Nanti Bee... yuk lebih baik aku
anter kamu pulang dulu biar semuanya lebih tenang.”
“Ify?”
Rio menghela nafas panjang kemudian merogoh saku celananya.
Kemudian ia berbincang dengan agen yang melayani pemesanan taksi.
“Bereskan? Yuk...”
Agni masih diam di tempat saat Rio menarik tangannya. Rio
berbalik kembali kemudian menatap Agni.
“Ganti baju kamu.”
Rio tersenyum kemudian membuka kemeja itu di hadapan Agni,
ia melemparkan kemeja itu sembarangan hingga hanya menyisakan sebuah kaus
berwarna hitam yang begitu pas di tubuhnya yang sekarang sudah sangat atletis
itu.
Saat Agni dan Rio telah beranjak keluar, Ify mengejar masih
dengan seragam sekolahnya.
“Rio! kamu keterlaluan!”
***
Bersambung.
Gaje banget sumpah... ini gak tau mau di lanjut atau enggak.
Soalnya bener-bener gaje deh... ini juga pengisi waktu di saat kehabisan ide
buat BIJI. :D
Tapi tergantung respon readers aja :D lanjut apa enggaknya.
Terimakasih udah mau baca :)
No comments:
Post a Comment