Sunday, 25 August 2013

(Bukan) Kesalahan! Part 1

Semula kisah cinta dan persahabatan itu baik-baik saja. Namun, setelah sahabat yang lain pergi dengan kepentingan masing-masing semuanya berubah...

“Fy... loe kenapa sih jadi kayak gini? Loe mau ninggalin gue juga? Cindai, Marsha, mereka udah pergi!. Dan loe juga? Gitu?”

Ify menghempaskan tangan Agni yang begitu erat memegang tangannya. Setelah terlepas, ia berlalu begitu saja tanpa ada keinginan sedikitpun untuk berucap.

Agni mengumpat kesal. Ia meraih ponselnya dan memanggil seseorang.

“Kka... dimana? Anterin aku pulang.”
“Aku di parkiran. Siap sayangku...”
“Tunggu aku kesana sekarang.”

Agni berjalan dengan cepat menuju parkiran yang terletak di belakang sekolah. Di semester akhir ini Agni, Ify dan Cakka memang tidak satu kelas lagi seperti halnya kelas 10 dan 11. Cukup membuat Agni kelimpungan, pasalnya ia memang tak punya teman lain selain mereka. Rio? jangan pernah menanyakan dia! Dia telah lulus setahun yang lalu.

Cakka terlihat sedang berbincang dengan gerombolan cowok-cowok yang Agni tau adalah teman-teman baru Cakka. Semenjak perginya Bagas dan Rafli di tambah Rio yang udah keluar, Cakka memang mulai mencari teman baru.

“Kka...”

Cakka menengok lalu tersenyum, dengan santai ia merangkul pinggang Agni. Tak lama teman-teman Cakka pun akhirnya pergi meninggalkan mereka.

“Yuk sayang...”

Agni mengikuti Cakka yang membawanya memasuki mobil sport terbaru milik Cakka, yang merupakan hadiah ulang tahun ke tujuh belas dari orang tuanya.

Cakka melirik Agni setelah ia memasuki mobil itu.

“Kenapa sih? Kok cemberut gitu?”

Agni menghela nafas panjang, kemudian menghadapkan dirinya pada Cakka.

“Ify tiba-tiba marah. Aku gak ngerti kenapa...”

Cakka tersenyum kecil, tangan kanannya membelai pipi kiri Agni dengan lembut.

“PMS kali. Atau kamu ngelakuin sesuatu yang nyangkut sama Rio?”
“Enggak kok! Beberapa hari ini bahkan aku gak ketemu sama Rio. dia kan sibuk sama kuliahnya.”

Cakka nampak berpikir, kemudian ia tersenyum kembali pada Agni.

“Udah... gak usah di pikirin lagi ya?”

Agni menganggukkan kepalanya kemudian membalas senyuman Cakka. Dengan cepat Cakka mengecup bibir Agni.

“Aku sayang kamu.”

Agni tersenyum saat mendengar bisikan itu. tak hentinya pemuda itu membisikan kata-kata itu setiap mereka bertemu, membuatnya yakin kalau pemuda itu benar-benar mencintainya.

“Aku juga...”

***

Setelah Cakka mengantarkan Agni ia bergegas pulang karena Mama nya memang mendesak untuk segera pulang ke rumah setelah dari sekolah.

“Ma Cakka pulang...”

Cakka berseru  dengan berjalan santai memasuki kediamannya. Ia berjalan menuju dapur untuk sekedar mencari penyegar tenggorokannya. Namun, Cakka malah diam mematung begitu melihat seseorang berjalan menuruni tangga rumahnya.

“Vin.”

Orang itu, Alvin. Dia berjalan dengan angkuh ke arah Cakka. Dalam bingkai wajah tampannya senyuman itu terus terpatri dengan indah.

“Hai adikku.”
“Ngapain loe balik?!”

Cakka menatap Alvin dengan tatapan tajam. Nada pertanyaannya pun terdengar begitu dingin dan datar, sangat tidak bersahabat. Alvin terkekeh melihat reaksi seperti itu.

“Tentu untuk menemani adikku yang satu ini dong. Mama ada tugas untuk beberapa bulan di luar kota, dan ya... sebagai kakak yang baik gue dengan suka rela pulang dan nemenin loe. Gue kan tau sendiri, loe itu gimana. Apalagi sekarang loe di rumah bener-bener sendiri.”
“Enggak! Difa bakalan cepet pulang.”

Alvin menepuk pundak Cakka sambil terkekeh lagi.

“Difa sekarang di asrama... jangan pikir gue gak tau itu.” Alvin menghela nafas. “Udah... apapun yang ada di pikiran loe sekarang tentang gue mendingan kita damai aja. Gue gak bakalan ngerusuh kok disini.”

Cakka menghela nafas panjang kemudian berjalan mengikuti Alvin menuju dapur.

“Loe masih pacaran sama Agni?”

Alvin menyandarkan dirinya di pantry sambil sesekali menyesap kopi yang memang sudah tersedia untuknya. Cakka menatap Alvin dari samping dengan sengit. Ia ingin mengetahui, apa motif di balik pertanyaan itu.

“Oke. Gue anggap iya.”

Alvin menyerongkan badannya menatap Cakka yang sedang meneguk minumannya dengan penuh emosi.

“Loe udah dapet apa aja dari dia? Ya... hadiah sweet seventeen loe mungkin.”

Cakka menatap Alvin dengan ekor matanya. Ia tersenyum masam.

“Maksud loe?”
“Well... dulu gue bisa dapetin first kiss nya dia. Ya loe tau lah... hadiah sweet seventeen juga.”

Cakka memejamkan matanya dengan erat agar tidak terpancing emosi. First kiss Agni sama Alvin? Kenapa Agni tidak pernah cerita tentang hal itu setelah mereka berhubungan selama dua tahun ini?

“Kalo loe gimana? Gue sih kalo masalah kiss atau kissing gak heran ya... apa loe udah...”

Cakka dengan cepat menoleh ke arah Alvin. Membuat Alvin terkekeh kecil.

“Gue gak sebejad itu ya...”

Alvin berusaha meredam tawanya.

“Ya ya ya... tapi Agni nya? Apa loe tau Agni sering tidur sama Rio?”

Rahang Cakka mengeras. Ia menatap tajam ke arah Alvin. Ia benar-benar muak sekarang!

“Itu dulu.”
“Dan berlanjut sampai sekarang? Haha... kasian banget sih loe Kka, dia cewek loe, tapi masa tidur sama cowok lain.”

Alvin menepuk pundak Cakka. Membuat Cakka menoleh pada kakaknya itu.

“Apa loe pernah nanya sama Agni tentang hal ini? gue denger juga Rio aksel ya? sekarang dia pasti udah kuliah dong.”
“Tau apa loe tentang kehidupan disini? Gue udah buang loe jauh...”
“Eits... loe tau gue kan? Mata gue ada dimana-mana Cakka.” Alvin menghela nafas panjang. “Pergaulan anak SMA sama anak kuliahan itu beda Kka. Gue udah ngalamin. Apa loe gak pernah mikirin hubungan Agni sama Rio? apa loe yakin mereka gak pernah ngelakuin itu? ya... kecuali Rio gak normal. Eh tapi... bukannya Rio pacaran sama cewek ya? berarti normal dong?”

Alvin melirik Cakka yang hanya terdiam entah memikirkan apa. Ia menepuk pundak Cakka lagi dan mengelusnya pelan.

“Pikirin baik-baik. Loe masih muda loe masih bisa dapetin yang lebih baik.”

Ponsel Alvin berdering. Ia menaikan satu alisnya.

“Apa?”

Alvin bertanya sambil me-loadspeaker ponselnya.

“Gadis yang bernama Agni itu masuk kedalam rumah alamatnya jalan Prastiwi nomor 15. Baru saja.”

Alvin melirik Cakka yang mengatupkan rahangnya keras. Dalam hati ia tersenyum puas melihat reaksinya. Sepertinya ini terlalu sukses...
Cakka meraih ponselnya kemudian mendial nomor Agni.

“Hallo Kka. Kenapa?”
“Dimana?”
“Aku? ya... di rumah. Aku baru aja mau istirahat.”

Cakka terdiam sambil meremas ponselnya kesal.

“Kka? Kamu baik-baik aja kan?”

Cakka menghela nafas panjang.

“Iya. Yaudah istirahat yang cukup ya... biar kamu gak sakit.”
“Iya... makasih ya.”
“Bye.”

PRANG!

Cakka melemparkan gelas yang ada di tangannya membuat Alvin terperanjat penuh kekagetan. Ia melirik Cakka dengan sebal.

“Kenapa sih loe? Emang alamat tadi rumah siapa?”

Cakka tak mengindahkan peranyaan itu. ia malah beranjak pergi setelah membantingkan tas nya di meja makan.
Alvin menyeringai sinis kemudian meraih ponselnya kembali.

“Kerja yang bagus.”

***

Agni memasuki rumah yang sangat luas itu dengan terburu-buru.

“Rio...” Agni lebih memasuki rumah itu. “Rio... Hon kamu dimana? Aku gak mau muterin rumah ini. cepetan keluar!” Agni menghela nafas panjang. “Aku tau kamu ada di rumah ini.”

“Non.”

Agni memutar badannya, untuk menatap kepala pengurus rumah ini.

“Iya. Kenapa? Oiya Rio dimana?”
“Den Rio sedang ada tamu di atas.”

Agni mengangguk, ia pun segera bergegas menuju lantai atas. Ia penasaran sekali dengan tamu itu, pasalnya tidak ada keberadaan kendaraan yang asing baginya di parkiran atau di halaman.

“Hon...”

Agni memanggil Rio yang baru saja menutup pintu kamar yang memang selalu Agni tempati. Membuat Agni menaikan alisnya heran.

“Kamu... eh hai Bee...”

Agni memicingkan matanya dengan dahi mengerut. Sepertinya ada yang di rahasiakan pemuda itu.
Agni mendekati Rio dengan tatapan menyelidik, saat begitu dekat dengan Rio Agni terdiam. Ia menatap Rio dengan tatapan penuh tanya.

“Sejak kapan kamu ganti parfum? Kok kayak parfum cewek?”
“Cewek? Haha... becanda kamu. Yuk ngobrolnya di bawah aja.”

Agni menepis tangan Rio yang berada di bahunya, memaksa dirinya untuk mengikuti Rio.

“Enggak. Aku mau disini.”
“Agni... c’mon. Di bawah aja...”
“Kamu kenapa sih? Apa yang kamu sembunyiin? Kata si Bibi kamu lagi ada tamu! Mana? Siapa?”

Agni menengok ke belakang Rio mencari yang ingin ia ketahui. Namun Rio menahan kedua tangannya.

“Hei hei... Bee!” Rio menggeram karena Agni terlepas dari genggamannya. “Bee!”

Terlambat! Agni telah terlebih dahulu membuka pintu kamarnya. Tubuh Agni menegang, tubuhnya sedikit bergetar kaget. Badannya pun terasa begitu ringan dan limbung. Seorang wanita dengan nyenyak tidur di balik selimut di atas tempat tidur queen size nya dengan rambut yang begitu acak-acakan.

“Fy...”

Agni berujar lirih kemudian berbalik ke arah Rio. Agni menggeram kesal lalu beranjak pergi tanpa ingin berucap apapun lagi pada Rio.

“Agni... aku bisa jelasin semuanya Bee... Agni.”

Rio berhasil meraih lengan Agni dan dengan cepat ia memeluknya. Agni memberontak dalam pelukan erat itu.

“Lepas!”
“Agni dengerin aku!.”

Saat Agni telah lebih tenang Rio melepaskan pelukannya.

“Aku gak ngapa-ngapain sama...”
“Aku gak peduli.”

Ponsel Agni tiba-tiba berdering. Ia merogoh ponselnya yang ia simpan di tas kecil yang ia bawa. Ia melirik Rio sekilas kemudian menerima panggilan itu.

“Hallo Kka. Kenapa?”
“Dimana?”
“Aku? ya... di rumah. Aku baru aja mau istirahat.”

Agni melirik Rio yang ternyata sedang menatapnya dengan intens, penuh rasa ingin tau. Agni melirik ponselnya yang tak terdengar ucapan apapun dari sebrang.

“Kka? Kamu baik-baik aja kan?”
“Iya. Yaudah istirahat yang cukup ya... biar kamu gak sakit.”
“Iya... makasih ya.”
“Bye.”

Agnimenyimpan ponselnya kembali setelah memastikan panggilan itu di akhiri. Kemudian Agni menatap Rio dengan pandangan penuh luka. Ia menarik nafas panjang, menenangkan dirinya sendiri.

“Kamu bebas ngelakuin apapun sama dia! Apapun! Tapi enggak di rumah ini Yo! Enggak di kamar aku! ENGGAK!”
“Agni... aku...”
“Seenggaknya kamu hargain aku yang selama ini nempatin kamar itu! kita udah sepakat! Siapapun yang datang ke rumah ini kita akan saling konfirmasi! Termasuk dia!”
“AGNI DIAM!”
“KAMU YANG DIAM! AKU BERHAK SETENGAH ATAS RUMAH INI!”

Nafas Agni memburu, pandangannya begitu tajam pada Rio. tak menyangka dengan apa yang di lakukan mantan tunangannya ini. yang selama ini ia percaya begitu lembut, tulus dan penyayang ternyata bisa melakukan hal keji seperti itu.

“Bee...”

Rio meraih Agni ke dalam pelukannya kembali. Agni sedikit memberontak namun tak di indahkan oleh Rio.

“Kamu inget ada CCTV di rumah ini? termasuk di kamar aku dan kamu.”

Agni terdiam. Benar sekali. Kenapa ia bisa sampai lupa dengan hal itu?

“Kita liat...”
“Nanti Bee... yuk lebih baik aku anter kamu pulang dulu biar semuanya lebih tenang.”
“Ify?”

Rio menghela nafas panjang kemudian merogoh saku celananya. Kemudian ia berbincang dengan agen yang melayani pemesanan taksi.

“Bereskan? Yuk...”

Agni masih diam di tempat saat Rio menarik tangannya. Rio berbalik kembali kemudian menatap Agni.

“Ganti baju kamu.”

Rio tersenyum kemudian membuka kemeja itu di hadapan Agni, ia melemparkan kemeja itu sembarangan hingga hanya menyisakan sebuah kaus berwarna hitam yang begitu pas di tubuhnya yang sekarang sudah sangat atletis itu.

Saat Agni dan Rio telah beranjak keluar, Ify mengejar masih dengan seragam sekolahnya.

“Rio! kamu keterlaluan!”

***

Bersambung.

Gaje banget sumpah... ini gak tau mau di lanjut atau enggak. Soalnya bener-bener gaje deh... ini juga pengisi waktu di saat kehabisan ide buat BIJI. :D
Tapi tergantung respon readers aja :D lanjut apa enggaknya.


Terimakasih udah mau baca :)

No comments:

Post a Comment