Wednesday, 14 August 2013

Business Arrangement #12

Rio mengeratkan genggamannya pada tangan Ify. Berusaha menguatkan gadis itu yang ia rasa bergetar menahan sakit. Ia menengok pada gadis itu, mengangkat dagu dan tersenyum.

“Pake otak jangan pake hati.”

Ify tersenyum sekilas lalu dengan percaya diri ia menggandeng tangan Rio menuju kerumunan orang-orang di sebuah ballroom hotel berbintang.
Ia berjalan menuju pasangan yang tengah berbahagia di tengah-tengah ruangan itu.

“Hai Deb... selamat ya...” Ify mengalihkan pandangan pada gadis yang begitu anggun yang berdiri di samping pemuda itu. “Selamat ya... kenalin aku Ify partnernya suami kamu.”

Gadis yang menyandang sebagai istri Debo sekarang itu menengok ke arah Debo sekilas lalu tersenyum ke arah Ify.

“Panggil aja aku Acha... senang berkenalan denganmu.”
“Oiya...” Ify menarik lengan Rio dengan kedua tangannya. “Ini Rio, tunanganku.”

Debo menatap dengan cepat ke arah Rio yang terlihat tersenyum kaku. Rio yang merasa tak enakpun malah mengacak puncak kepala Ify dan berbisik.

“Masih calon sayang...”

Ify terkekeh kecil sambil memukul pelan lengan Rio. Acha juga ikut terkekeh kemudian berujar dekat telinga Debo.

“Mesra banget ya... boleh iri gak?”

Debo tersenyum kecil kemudian melirik Acha, ia membelai pipi kanan gadis yang kini telah sah menjadi istrinya itu.

“Gak usah. Kan ada aku.”

Mendengar jawaban itu, Acha memeluk dengan posesif pinggang Debo dengan kedua tangannya. Sementara itu Debo mengecup keningnya.

Ify mengambil nafas dalam-dalam. Mendadak dalam hatinya ada rasa penyesalan untuk datang ke pesta ini. Ia membenamkan kepalanya di lengan Rio, setelah itu mereka berjalan menjauh dari kedua mempelai setelah Rio berpamitan pada mereka.

***

Agni memiringkan badannya untuk menggapai tubuh Alvin yang berbaring di sisinya. Untuk kedua kalinya dalam jangka satu bulan ini ia masuk ke rumah sakit. Setelah malam itu, Agni pingsan, suhu tubuhnya pun meningkat. Jadi disinilah mereka sekarang, tertidur bersama di bangsal rumah sakit.

“Pulang...”

Alvin membuka matanya begitu mendengar rengekan itu. ini telah kesekian kalinya Agni merengek meminta pulang. Padahal suhu tubuhnya belum stabil.
Alvin memeluk pinggang Agni agar lebih merapat padanya.

“Masih panas. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa.”

Agni menghela nafas panjang, ia mengangguk kecil kemudian membenamkan kepalanya di dada Alvin. Setelah perpisahan satu minggu itu apakah salah ia sangat merindukan tubuh suaminya ini?

“Kamu tau...?”

Agni mendongakkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan menggantung itu. dahinya berkerut tanda tak mengerti dengan pertanyaannya.

Bukannya menjawab, Alvin malah mengeratkan pelukan di pinggang Agni. Ia tersenyum kemudian mengecup hidung Agni dengan gemas.

“Kamu merasakannya?”

Agni terdiam. Mencerna pertanyaan suaminya yang dari tadi begitu menggantung itu. Agni menurunkan pandangannya, lalu berdesis.

“Al... ini rumah sakit.”

Alvin terkekeh kecil kemudian membenamkan kepalanya di lekukan leher Agni. Tak berbeda jauh dengan Agni, ia juga merasakan rindu yang sangat dalam. rindu yang tak akan pernah dirasakan dengan wanita manapun.

“Aku tau...” Alvin mengangkat wajahnya. “Lebih baik kita skype sama Debo. Hari ini dia resepsi.”

Agni mengangguk lalu mendudukan dirinya sendiri di bantu oleh Alvin. Setelah kembali dengan peralatannya, Alvin duduk tepat di belakang Agni untuk menyangga tubuh Agni yang belum bisa tegak seutuhnya.

“Hey... sorry ya gue gak bisa dateng ke acara loe.”

Dari sebrang malah tersenyum tipis.

“Lagi bulan madu ya? resepsi sahabat sendiri kayaknya lupa tuh.”

***

Debo menatap iri pasangan yang ada di layar laptopnya. Keduanya begitu mesra walau ia tau, masalah tak kunjung surut dari hubungan mereka.

“Enggak. Ini nih dia, kemaren malah pingsan dan demam. Sekarang jadi masuk rumah sakit.”

Debo mengangguk-anggukan kepalanya tak mengerti.

“Debo...”

Debo mengalihkan pandangannya dari arah layar ke arah pintu kamar mandi, disana telah ada Acha yang sedang mengeringkan rambutnya seusai mandi.

“Lagi ngapain?”
“Ini... Boss sekaligus sahabat aku.”

Acha mengangguk kemudian mendekat ke arah Debo.

“Boss kenalin... bini gue.”
“Hai... aku Acha.”

Acha tersenyum ringan pada Agni dan Alvin yang belum ia kenal itu.

“Cha... itu Alvin Boss aku, dan itu Agni, istrinya.”
“Wah berarti bener dong gosip yang bilang kalo kalian ada hubungan spesial.”

Agni tersenyum kecil kemudian melirik Alvin sekilas.

“Begitulah. Manamungkin seorang Alvin Pradipta mau nempel-nempel sama cewek.”
“Tapikan sama kamu mau sayang...”
“Al... apaan sih. Malu tau.”

Acha terkekeh melihat tingkah Agni dan Alvin, menurutnya mereka pasangan yang sangat serasi. Dari kedua pasang mata itu begitu menyiratkan betapa membuncahnya rasa cinta yang mereka miliki untuk pasangan mereka. Acha menghela nafas, andai... ia seberuntung Agni, yang bisa saling mencintai dan mencurahkan cinta mereka.

“Yaudah, aku tinggal dulu ya... ngambil makan malem. Dah...”

Acha berpamitan pada Agni dan Alvin yang di balas dengan lambaian tangan oleh Agni.

***

Alvin menyadari perubahan raut wajah sahabatnya itu. tidak seperti biasanya, yang selalu bisa menyembunyikan emosi seperti apapun.

“Ada masalah? Ceritalah... gak usah di simpen sendiri.”

Debo menghela nafas panjang. Ia mengusap wajahnya terlebih dahulu.

“Gue gak tau ini masalah atau bukan... bener, Ify udah tunangan sama Rio?”
“HAH?! Kapan? Dari mana loe tau itu?”

Agni bertanya dengan nada yang tinggi, cukup membuat telinga Alvin berdenyut karenanya.

“Jadi loe gak tau?”

Agni menggeleng. Ia belum mengeluarkan suara. Masih shock dengan ucapan Debo.
Alvin menghela nafas. Tepat dugaannya, sahabatnya itu masih mencintai sahabat istrinya.

“Loe masih cinta sama Ify?”

Debo menarik rambutnya frustasi.

“Gue gak tau.”
“Menurut hati kecil loe?”

Debo menatap Alvin dengan bingung. Ia harus menjawab seperti apa?

“Gak tau. Tapi... gue rasa... mungkin iya.”
“Terus kenapa loe malah tinggalin dia hah?! Loe buang dia seakan dia sampah! Dia sahabat gue De! Loe kenapa sih?”

Alvin mengelus pipi Agni yang sedikit tersulut emosi. Agni menoleh ke arah Alvin sejenak.

“Bisa gue jelasin dulu?”

Alvin mengangguk, ia melirik Agni yang mendengus sebal. Tapi Agni menurut saja dan mulai menyimak.

“Beberapa minggu yang lalu Nyokap mau jodohin gue. Tapi begitu tau kalo Ify kerja di kantor loe dia gak bahas perjodohan lagi. Malah dia seneng banget, karena dari dulu Nyokap emang suka sama Ify dan ngerestuin banget hubungan gue.”

Agni yang akan menyela ucapan Debo di tahan Alvin dengan tatapan lembut penuh pengertian. Akhirnya Agni hanya pasrah tanpa ada niat menyela lagi.

“Tapi... beberapa hari berikutnya Nyokap marah besar dan larang gue hubungan sama Ify.”
“Kenapa?!”

Debo menghela nafas panjang.

“Karena tanpa sengaja, dia liat Ify keluar dari sebuah tempat hiburan malam.”
“Tapi itu bukan alesan kuat dong De, kenapa loe nerima aja?!”
“Ni, nyokap gue menjunjung tinggi tradisi keluarga gue. Keluarga gue gak bisa nerima dan gak boleh nerima wanita yang pernah menginjakkan kakinya ke tempat hiburan malam apapun alasannya!.”

Agni menatap Debo yang berkata dengan penuh emosi. Ia tak pernah melihat itu sebelumnya. Tapi, dengan begini ia bisa merasakan betapa kecewanya Debo entah pada siapa.

“Pada awalnya gue ngusahain buat tetep jadian sama Ify bahkan nikah sama dia. Gue sama nyokap membuat perjanjian. Apabila gue liat Ify keluar atau masuk tempat itu langsung sama mata kepala gue sendiri, gue setuju di jodohin. Tapi apabila sebaliknya, gue akan melamar dan menikah sama Ify.”

Debo menghela nafas panjang. Terlihat sekali wajah letih penuh beban sahabat suaminya itu. Alvin pun menatap iba pada sahabatnya itu. tak pernah sekalipun ia melihatnya begitu sakit dan depresi.

“Tapi ternyata... gue malah liat dia keluar dari tempat itu dengan Rio, sebelum gue kenal dia tentunya.”

Agni melirik Alvin yang sepertinya bingung harus berkomentar seperti apa. Alvin menarik nafas.

“Langkah loe selanjutnya gimana?”

Debo tersenyum tipis.

“Gue bakal belajar mencintai wanita terbaik yang sekarang istri gue. Gue tau, pilihan orang tua itu selalu terbaik.”

Alvin dan Agni tersenyum lega. Keduanya saling berpandangan sekilas.

“Syukurlah...”

***

Acha tertahan di pintu saat mendengar ucapan Debo yang begitu menyakiti hatinya. Sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak meluncur.
Saat ia akan meninggalkan tempat itu, ia mendengar Debo berujar lagi.

“Gue bakal belajar mencintai wanita terbaik yang sekarang istri gue. Gue tau, pilihan orang tua itu selalu terbaik.”

Senyum Acha seketika berkembang begitu mendengar penuturan dari mulut suaminya itu. Dalam hatinya ia bertekad, akan berusaha membuat suaminya bisa mencintai dirinya karena dirinya sendiri. Bukan paksaan dari orang tua atau apapun. Setelah menghela nafas dalam ia masuk ke kamar itu dengan senyum yang berkembang di bibir indah itu.

Debo sedikit terlonjak melihat Acha yang memasuki kamar pengantin mereka. namun, dengan cepat ia mengubahnya dengan senyuman. Debo menutup laptopnya kemudian menyimpan benda itu di nakas dekat tempat tidurnya.

“Makan dulu...”

Debo mengangguk, ia mengambil satu piring dari nampan yang di bawa Acha.

“Enak. kamu yang masak?”

Komentar Debo begitu selesai menyendok makanan terakhirnya.
Acha menunduk malu. Ia terkekeh kecil.

“Iya, tapi di bantuin sama Mama kamu.”

Debo meneguk air putih yang memang selalu ada di nakas, lalu mengelus puncak kepala Acha.

“Gapapa.”

Acha membalas senyuman Debo yang begitu manis padanya. Ia mengambil piring yang berada di tangan Debo. Kemudian ia menyimpannya di lantai sesuai interupsi dari Debo.

Debo menarik tangan Acha agar duduk di sampingnya. Ia menatap gadis di hadapannya ini dengan lembut.

“Maaf ya... aku belum bisa memberikan malam indah buat kamu seperti pasangan lainnya.”

Debo mengecup puncak kepala Acha, ia harus berusaha mencintai wanita ini. harus!

***

Agni menatap intens pada Alvin yang dengan telaten menyuapinya. Ia merasa sangat beruntung mempunyai suami sesabar Alvin, ia sangat beruntung mendapatkannya yang bisa di katakan hampir sempurna tanpa cacad.

“Udah ketemu Dokter Dea Al?”

Alvin tersenyum sambil menatap Agni, ia sedang merangkai kata dalam otaknya untuk menenangkan Agni tentang hal itu. ia tau pasti kalau wanita di hadapannya ini pasti tertekan dengan ucapan Dokter Dea. Ya... walau begitu ia lebih mengutamakan keselamatan semuanya.

“Belum, tapi udah dapet laporannya.”

Agni terdiam, ia menatap mata Alvin dalam-dalam, menyelami pandangan itu karena ia takut ada kekecewaan di dalamnya. Agni menghela nafas dan tersenyum kecil, untunglah ia tidak mendapati itu dan semoga benar Alvin tidak kecewa padanya.

“Dengan bersama kamu aja aku udah bahagia Ni. Aku yakin, Tuhan akan memberikan segalanya di waktu yang tepat. Bukan begitu?”

Mata Agni berkaca-kaca, terharu oleh kebesaran hati Alvin yang mengerti kondisinya. Ia memeluk leher Alvin dengan erat. Sementara Alvin dengan gerakan perlahan menyimpan mangkuk yang ada di tangannya ke atas meja di samping bangsal itu kemudian membalas pelukan Agni.

Clek.

Agni melepaskan pelukannya pada Alvin lalu ia berbalik ke arah pintu begitu pula dengan Alvin yang mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah yang sama.

“Ops... sorry.”

Agni tersenyum saat melihat Ify yang memasuki ruangan itu dan di belakangnya di susul Rio yang melambaikan tangan ke arah mereka.

“Hai.”

Agni membalas sapaan itu. keduanya mendekati Agni dengan senyum kebahagiaan yang tak lepas dari wajah keduanya. Sepertinya ada sesuatu yang sangat menggembirakan.

“Agni... gimana kabar loe?”

Agni memeluk Ify yang mendekat ke arahnya. Ia terkekeh kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

“Baik.”
“Hai Vin.”

Alvin hanya mengangguk menanggapi sapaan itu.

“Kayaknya ada sesuatu nih. Happy banget kayaknya.”

Ify tersenyum semakin lebar. Membuat Agni mengeryitkan dahi. Begitupun dengan Alvin yang heran dengan tingkah dua anak manusia itu.

“Gue cuma mau bilang kalo lusa Cakka bakalan nikah sama Sivia. Loe berdua dateng ya...”

Agni melirik Alvin yang juga tengah menatapnya.

“Gak tau deh ya... gue masih sakit ini. entar deh kita usahain. Yakan Al?”

Agni melirik lagi ke arah Alvin yang kini mengangguk menanggapi ucapan Agni.

“Oiya... gue juga udah resign dari kantor kalian.”

Alvin mengerutkan dahinya. Saat ia hendak buka suara Ify segera mencegahnya dengan penjelasan.

“Gue mutusin buat kuliah di Rusia.”

Agni menatap Ify dengan penuh tanya.

“Bukannya loe gak pernah di ijinin keluar negeri sendiri Fy? Liburan aja susah apalagi ini.”

Ify menghela nafas panjang. Ia melirik Rio yang tersenyum menenangkan pada Ify.

“Gue di ijinin karena...” Ify menghela nafas. “Gue udah tunangan sama Rio... Dan... setelah lulus kami akan menikah sesuai permintaan nyokap gue.”

Agni menarik nafas panjang. Lalu ia tersenyum pada kedua sahabatnya itu.

“Syukurlah kalo kalian bener-bener tunangan. Kami kira kalian cuma tunangan main-main di depan Debo.”

Ify terkekeh kecil. Ia melirik Alvin yang dari tadi hanya menyimak.

“Titip salam ya sama Debo. Gue gak sempet ketemu lagi pas pulang dari acara resepsinya. Oiya... gue juga bakalan berangkat ke Rusia bareng kak Gabriel dan kak Shilla. Kayaknya mereka udah nyatu deh.”

Agni melirik Alvin yang sepertinya menengang saat mendengar nama Gabriel di sebutkan. Ia menggenggam tangan Alvin yang mengepal kesal, menatap suaminya itu meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Agni mengalihkan pandangan pada Ify kembali, ia cemberut kesal.

“Jadi kalian gak mau dateng ke acara resepsinya kita nih?”
“HAH?! Kapan? Tau juga engga.”

Agni tersenyum tipis.

“Sekitar bulan depan sih. Yaudahlah kalo gak bisa juga.”

Obrolan mereka pun berlanjut sampai waktu istirahat untuk Agni datang.

***

Sepulangnya Agni dari rumah sakit Alvin tak pernah lagi meninggalkan Agni sendiri.  Ia lebih memilih pergi kemanapun dengan Agni. Lebih baik diam bersama Agni daripada pergi tanpanya. Alvin berubah menjadi sosok yang lebih posesif. Apapun yang Agni inginkan akan selalu di turuti, kamanapun dan kapanpun Alvin akan selalu siap mendampingi Agni.

Pesta resepsi merekapun di gelar dengan sangat glamour dan mewah. Bernuansa emas dan perak dengan bunga mawar putih mengelilingi ruangan itu. tamu yang datang pun tak kurang dari dua ribu undangan. Semuanya dari relasi bisnis Dayat, Irshad, Alvin dan Agni. Juga seluruh keluarga besar dan tak lupa sahabat-sahabat mereka. Zahra dan Sion juga datang, Agni yang pada awalnya khawatir dengan Alvin pun tersenyum dengan lega, saat suaminya itu ternyata tidak mempermasalahkan kedatangan Zahra dan Sion yang notabennya orang tua Gabriel. Alvin hanya berbisik pada Agni yang menatapnya takjub.

“Aku punya masalah sama Gabriel. Bukan orang tuanya.”

Hingga tanpa terasa rumah tangga mereka berjalan mulus hingga waktu satu tahun. Agni dan Alvin tak sempat mendatangi pesta pernikahan Cakka-Sivia dan juga tak bisa mengantar keberangkatan Rio-Ify. Tapi untunglah mereka semua memakluminya.

Agni dan Alvin bergandengan tangan menuju sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi, meskipun sampai sekarang mereka belum di karuniai putera, tetapi entah kenapa Agni ingin mulai dari sekarang mengoleksi keperluan bayinya kelak.

“Al... kita beli yang gimana?”

Alvin nampak berpikir. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru toko. Tapi, bukannya barang yang dapat menarik perhatiannya, melainkan sepasang kekasih yang sepertinya si lelaki sedang melamar perempuannya. Alvin tersenyum sinis melihatnya.

“Al...”

Alvin menengok ke arah Agni yang menarik tangannya. Ia tersenyum lalu mengacak rambut Agni dengan sayang.

“Mendingan kita beli yang netral aja. Abu-abu, putih, hitam? Hijau, biru atau merah juga gapapa kan cocok buat cewek atau cowok.”

***

Epilog.

3 tahun kemudian...

Alvin dan Agni bergandengan tangan memasuki sebuah ballroom hotel berbintang di kawasan elit Jakarta. Di sudut terlihat bingkai foto yang sangat besar menunjukan siapa yang mengadakan pesta. Rio-Ify.

“Selamat ya... kalian ternyata berjodoh juga.”

Agni memeluk Ify dengan ringan kemudian menyalami Rio yang terlihat begitu gagah dengan balutan tuxedo yang terlihat mewah itu.

“Jaga sahabat gue ya Yo.”

Rio terkekeh mendengarnya.

“Iyalah... pasti. Ifykan sahabat gue juga.”

Rio menarik Agni dalam pelukannya. Sekali saja, ia ingin merasakan pelukan perpisahan dari sahabatnya yang berhasil membuat hatinya porak poranda itu.

“Khm...”

Rio mengerlingkan matanya jahil ke arah Alvin yang berdehem begitu keras. Ia sangat yakin kalau Alvin sekerang sangat cemburu.

“Suami loe kayak mau makan gue tuh.”

Ify yang mendengarnya ikut tertawa bersama Agni dan Rio yang terus menggoda Alvin. Alvin malah melemparkan tatapan tajamnya, seakan tatapan itu bisa mematikan orang yang di tatap.

“Udah ah... gak usah cemberut gitu.”

Agni mengecup pipi Alvin dalam, cukup membuat pria itu tersenyum kembali.

“Eh gue denger dari Gabriel tiga tahun lalu kalian ke toko peralatan bayi ya? sekarang mana anak kalian? Ganteng gak? cantik gak?”

Agni dan Alvin saling bertatapan, lalu tersenyum tipis pada Ify yang dari tadi bertanya dengan begitu semangat.

“Tuhan belum ngasih putera atau puteri pada kami.”

Alvin merangkul Agni yang ia rasa sekarang begitu sedih menceritakannya. Ia mengelus pinggang Agni dengan sayang.

Ify menghela nafas kemudian tersenyum.

“Maaf... gue gak tau.”

Agni tersenyum lebar saat melihat Ify begitu merasa bersalah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Alvin.

“Gapapa kali, lagian kita masih seneng berdua. Ya kan sayang?”

Alvin berucap dengan nada yang begitu menggoda pada Agni. Agni menghadiahi suaminya itu dengan cubitan kecil yang menyakitkan di pinggang Alvin.

“Sakit sayang...”
“Genit sih.”

Rio dan Ify tersenyum melihat keduanya. Sepertinya, mereka harus belajar dari pasangan itu untuk menghadapi rumah tangga mereka ini.

“Ate... Oom.”

Ify menundukan dirinya pada seorang gadis kecil dengan bandana cantik di kepalanya.

“Hai sayang? Mom sama Dad kamu mana?”
“Anak siapa Fy?”

Kali ini Alvin bertanya dengan penasaran. Sepertinya ia dapat mengenali beberapa detail wajah seseorang dari wajah gadis kecil itu.

Sebelum sempat Ify menjawab anak kecil itu beralih pada Agni, merengek ingin di gendong oleh Agni.

“Ate...”

Agni menunduk saat gadis kecil itu menarik ujung gaunnya. Agni menatap Alvin ragu. Ia tersenyum kecil pada gadis kecil itu setelah Alvin tersenyum padanya memberi persetujuan.

“Hai... nama kamu siapa?”
“Ndai...”

Agni terkekeh kecil tak mengerti ucapan anak itu.

“Siapa?”

Agni bertanya meyakinkan. Mencari kejelasan nama gadis kecil itu. ia akui gadis kecil itu begitu lucu.

“Agni!”

Agni dan Alvin dengan kompak menengok ke arah orang yang memanggil. Agni mematung sejenak. Itu... Gabriel.

“Daddy...”

Gadis kecil dalam gendongan Agni meronta meminta di alihkan gendongan. Agni menurunkan gadis kecil itu dengan hati-hati kemudian melirik Alvin yang wajahnya nampak mengeras. Kenapa Alvin selalu seperti itu pada Gabriel? Agni mengira Alvin telah bersahabat dengannya. Agni mengelus lengan Alvin menenangkan. Alvin melirik Agni kemudian tersenyum, lalu ia mengecup kening Agni dengan sayang.

“Cindai... kamu bikin Mom takut.”

Sahut seorang wanita dengan begitu lega saat melihat gadis kecil itu berada di gendongan Gabriel.
Agni tersenyum pada wanita itu, wanita yang selama ini ia yakini benar-benar mencintai Gabriel.

“Agni... apa kabar?”

Wanita itu, Shilla. Ia memeluk Agni sekilas dengan senyuman tak lepas dari bibirnya.

“Kak... Alvin sama Agni belum punya anak lagi. Kalian bikin malu aku yang udah semangat nanyainnya.”

Gabriel dengan cepat menatap Agni. Entah kenapa, ia merasa telah menghianati Agni saat ini. ia merasa perasaan cintanya dulu pada Agni ternyata tak lebih dari cinta sesaat. Buktinya? Dengan mudah ia berpindah kelain hati. Salahkah ia menyesal sekarang?

Seakan tak peduli dengan kedatangan Shilla dan Gabriel serta tatapan beberapa undangan. Alvin dan Agni terus saja memamerkan kemesraan mereka, entah untuk hanya saling merangkul manja atau mengecup kilat di beberapa bagian.

“Berasa penganten baru ya?”

Alvin dan Agni terkekeh saat mendengar celetukan Ify. Ya... setiap saat mereka memang selalu merasa baru dengan kebahagiaan yang baru. Baru segala hal yang membuat cinta mereka semakin kokoh. Semakin memperkuat kedekatan mereka kapanpun dan dimanapun.

Berawal dari keterpaksaan dan berakhir dengan sebuah cinta sejati. Semoga Tuhan tak henti memberikan kebahagiaan untuk siapapun.

THE END.

***

Semoga gak kecewa ya... :)
Selamat bertemu di Mate Arrangement... 3 tokoh udah ketauan.
Ada Bagas, Cindai, dan Ray.
Yang lainnya ada, Chelsea, Rafli, Marsha.

Konflik BA masih ada di sana kok. Gak usah takut gak nyambung meskipun pemeran utamanya beralih pada Bagas.


Terimakasih udah pada baca ya.... See you next time semuanya.... :D

2 comments:

  1. bagas anagnya agni ama alvin kan yakkkk????

    ReplyDelete
  2. Bagas coupelnya sama cindai kan kak?
    Oh yakak, cerbungnya bgus bgt, tp klo boleh ngasih saran (ini dr cwokku), klo lagi adegan ranjangnya diperjelas dan diperlama:D hehehe
    Katanya biar tmbah ngeFEEL,, udah ngeFEEL sich, tp hbiss gitu hilang. Kn gk asikk.. Sorryy :D

    ReplyDelete