Rio mengeratkan genggamannya pada tangan Ify. Berusaha
menguatkan gadis itu yang ia rasa bergetar menahan sakit. Ia menengok pada
gadis itu, mengangkat dagu dan tersenyum.
“Pake otak jangan pake hati.”
Ify tersenyum sekilas lalu dengan percaya diri ia
menggandeng tangan Rio menuju kerumunan orang-orang di sebuah ballroom hotel
berbintang.
Ia berjalan menuju pasangan yang tengah berbahagia di
tengah-tengah ruangan itu.
“Hai Deb... selamat ya...” Ify
mengalihkan pandangan pada gadis yang begitu anggun yang berdiri di samping
pemuda itu. “Selamat ya... kenalin aku Ify partnernya suami kamu.”
Gadis yang menyandang sebagai istri Debo sekarang itu
menengok ke arah Debo sekilas lalu tersenyum ke arah Ify.
“Panggil aja aku Acha... senang
berkenalan denganmu.”
“Oiya...” Ify menarik lengan Rio
dengan kedua tangannya. “Ini Rio, tunanganku.”
Debo menatap dengan cepat ke arah Rio yang terlihat
tersenyum kaku. Rio yang merasa tak enakpun malah mengacak puncak kepala Ify
dan berbisik.
“Masih calon sayang...”
Ify terkekeh kecil sambil memukul pelan lengan Rio. Acha
juga ikut terkekeh kemudian berujar dekat telinga Debo.
“Mesra banget ya... boleh iri
gak?”
Debo tersenyum kecil kemudian melirik Acha, ia membelai pipi
kanan gadis yang kini telah sah menjadi istrinya itu.
“Gak usah. Kan ada aku.”
Mendengar jawaban itu, Acha memeluk dengan posesif pinggang
Debo dengan kedua tangannya. Sementara itu Debo mengecup keningnya.
Ify mengambil nafas dalam-dalam. Mendadak dalam hatinya ada
rasa penyesalan untuk datang ke pesta ini. Ia membenamkan kepalanya di lengan
Rio, setelah itu mereka berjalan menjauh dari kedua mempelai setelah Rio
berpamitan pada mereka.
***
Agni memiringkan badannya untuk menggapai tubuh Alvin yang
berbaring di sisinya. Untuk kedua kalinya dalam jangka satu bulan ini ia masuk
ke rumah sakit. Setelah malam itu, Agni pingsan, suhu tubuhnya pun meningkat.
Jadi disinilah mereka sekarang, tertidur bersama di bangsal rumah sakit.
“Pulang...”
Alvin membuka matanya begitu mendengar rengekan itu. ini
telah kesekian kalinya Agni merengek meminta pulang. Padahal suhu tubuhnya
belum stabil.
Alvin memeluk pinggang Agni agar lebih merapat padanya.
“Masih panas. Aku gak mau kamu
kenapa-kenapa.”
Agni menghela nafas panjang, ia mengangguk kecil kemudian
membenamkan kepalanya di dada Alvin. Setelah perpisahan satu minggu itu apakah
salah ia sangat merindukan tubuh suaminya ini?
“Kamu tau...?”
Agni mendongakkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan
menggantung itu. dahinya berkerut tanda tak mengerti dengan pertanyaannya.
Bukannya menjawab, Alvin malah mengeratkan pelukan di
pinggang Agni. Ia tersenyum kemudian mengecup hidung Agni dengan gemas.
“Kamu merasakannya?”
Agni terdiam. Mencerna pertanyaan suaminya yang dari tadi
begitu menggantung itu. Agni menurunkan pandangannya, lalu berdesis.
“Al... ini rumah sakit.”
Alvin terkekeh kecil kemudian membenamkan kepalanya di
lekukan leher Agni. Tak berbeda jauh dengan Agni, ia juga merasakan rindu yang
sangat dalam. rindu yang tak akan pernah dirasakan dengan wanita manapun.
“Aku tau...” Alvin mengangkat
wajahnya. “Lebih baik kita skype sama Debo. Hari ini dia resepsi.”
Agni mengangguk lalu mendudukan dirinya sendiri di bantu
oleh Alvin. Setelah kembali dengan peralatannya, Alvin duduk tepat di belakang
Agni untuk menyangga tubuh Agni yang belum bisa tegak seutuhnya.
“Hey... sorry ya gue gak bisa
dateng ke acara loe.”
Dari sebrang malah tersenyum tipis.
“Lagi bulan madu ya? resepsi sahabat sendiri kayaknya lupa tuh.”
***
Debo menatap iri pasangan yang ada di layar laptopnya.
Keduanya begitu mesra walau ia tau, masalah tak kunjung surut dari hubungan
mereka.
“Enggak. Ini nih dia, kemaren malah pingsan dan demam. Sekarang jadi
masuk rumah sakit.”
Debo mengangguk-anggukan kepalanya tak mengerti.
“Debo...”
Debo mengalihkan pandangannya dari arah layar ke arah pintu
kamar mandi, disana telah ada Acha yang sedang mengeringkan rambutnya seusai
mandi.
“Lagi ngapain?”
“Ini... Boss sekaligus sahabat aku.”
Acha mengangguk kemudian mendekat ke arah Debo.
“Boss kenalin... bini gue.”
“Hai... aku Acha.”
Acha tersenyum ringan pada Agni dan Alvin yang belum ia
kenal itu.
“Cha... itu Alvin Boss aku, dan
itu Agni, istrinya.”
“Wah berarti bener dong gosip yang
bilang kalo kalian ada hubungan spesial.”
Agni tersenyum kecil
kemudian melirik Alvin sekilas.
“Begitulah. Manamungkin seorang Alvin Pradipta mau nempel-nempel sama
cewek.”
“Tapikan sama kamu mau sayang...”
“Al... apaan sih. Malu tau.”
Acha terkekeh melihat tingkah Agni dan Alvin, menurutnya
mereka pasangan yang sangat serasi. Dari kedua pasang mata itu begitu
menyiratkan betapa membuncahnya rasa cinta yang mereka miliki untuk pasangan
mereka. Acha menghela nafas, andai... ia seberuntung Agni, yang bisa saling
mencintai dan mencurahkan cinta mereka.
“Yaudah, aku tinggal dulu ya...
ngambil makan malem. Dah...”
Acha berpamitan pada Agni dan Alvin yang di balas dengan
lambaian tangan oleh Agni.
***
Alvin menyadari perubahan raut wajah sahabatnya itu. tidak
seperti biasanya, yang selalu bisa menyembunyikan emosi seperti apapun.
“Ada masalah? Ceritalah... gak
usah di simpen sendiri.”
Debo menghela nafas
panjang. Ia mengusap wajahnya terlebih dahulu.
“Gue gak tau ini masalah atau bukan... bener, Ify udah tunangan sama
Rio?”
“HAH?! Kapan? Dari mana loe tau
itu?”
Agni bertanya dengan nada yang tinggi, cukup membuat telinga
Alvin berdenyut karenanya.
“Jadi loe gak tau?”
Agni menggeleng. Ia belum mengeluarkan suara. Masih shock
dengan ucapan Debo.
Alvin menghela nafas. Tepat dugaannya, sahabatnya itu masih
mencintai sahabat istrinya.
“Loe masih cinta sama Ify?”
Debo menarik rambutnya
frustasi.
“Gue gak tau.”
“Menurut hati kecil loe?”
Debo menatap Alvin
dengan bingung. Ia harus menjawab seperti apa?
“Gak tau. Tapi... gue rasa... mungkin iya.”
“Terus kenapa loe malah tinggalin
dia hah?! Loe buang dia seakan dia sampah! Dia sahabat gue De! Loe kenapa sih?”
Alvin mengelus pipi Agni yang sedikit tersulut emosi. Agni
menoleh ke arah Alvin sejenak.
“Bisa gue jelasin dulu?”
Alvin mengangguk, ia melirik Agni yang mendengus sebal. Tapi
Agni menurut saja dan mulai menyimak.
“Beberapa minggu yang lalu Nyokap mau jodohin gue. Tapi begitu tau kalo
Ify kerja di kantor loe dia gak bahas perjodohan lagi. Malah dia seneng banget,
karena dari dulu Nyokap emang suka sama Ify dan ngerestuin banget hubungan
gue.”
Agni yang akan menyela ucapan Debo di tahan Alvin dengan
tatapan lembut penuh pengertian. Akhirnya Agni hanya pasrah tanpa ada niat
menyela lagi.
“Tapi... beberapa hari berikutnya Nyokap marah besar dan larang gue
hubungan sama Ify.”
“Kenapa?!”
Debo menghela nafas
panjang.
“Karena tanpa sengaja, dia liat Ify keluar dari sebuah tempat hiburan
malam.”
“Tapi itu bukan alesan kuat dong
De, kenapa loe nerima aja?!”
“Ni, nyokap gue menjunjung tinggi tradisi keluarga gue. Keluarga gue
gak bisa nerima dan gak boleh nerima wanita yang pernah menginjakkan kakinya ke
tempat hiburan malam apapun alasannya!.”
Agni menatap Debo yang berkata dengan penuh emosi. Ia tak
pernah melihat itu sebelumnya. Tapi, dengan begini ia bisa merasakan betapa
kecewanya Debo entah pada siapa.
“Pada awalnya gue ngusahain buat tetep jadian sama Ify bahkan nikah
sama dia. Gue sama nyokap membuat perjanjian. Apabila gue liat Ify keluar atau
masuk tempat itu langsung sama mata kepala gue sendiri, gue setuju di jodohin.
Tapi apabila sebaliknya, gue akan melamar dan menikah sama Ify.”
Debo menghela nafas panjang. Terlihat sekali wajah letih
penuh beban sahabat suaminya itu. Alvin pun menatap iba pada sahabatnya itu.
tak pernah sekalipun ia melihatnya begitu sakit dan depresi.
“Tapi ternyata... gue malah liat dia keluar dari tempat itu dengan Rio,
sebelum gue kenal dia tentunya.”
Agni melirik Alvin yang sepertinya bingung harus berkomentar
seperti apa. Alvin menarik nafas.
“Langkah loe selanjutnya gimana?”
Debo tersenyum tipis.
“Gue bakal belajar mencintai wanita terbaik yang sekarang istri gue.
Gue tau, pilihan orang tua itu selalu terbaik.”
Alvin dan Agni tersenyum lega. Keduanya saling berpandangan
sekilas.
“Syukurlah...”
***
Acha tertahan di pintu saat mendengar ucapan Debo yang
begitu menyakiti hatinya. Sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak
meluncur.
Saat ia akan meninggalkan tempat itu, ia mendengar Debo
berujar lagi.
“Gue bakal belajar mencintai
wanita terbaik yang sekarang istri gue. Gue tau, pilihan orang tua itu selalu
terbaik.”
Senyum Acha seketika berkembang begitu mendengar penuturan
dari mulut suaminya itu. Dalam hatinya ia bertekad, akan berusaha membuat
suaminya bisa mencintai dirinya karena dirinya sendiri. Bukan paksaan dari
orang tua atau apapun. Setelah menghela nafas dalam ia masuk ke kamar itu
dengan senyum yang berkembang di bibir indah itu.
Debo sedikit terlonjak melihat Acha yang memasuki kamar
pengantin mereka. namun, dengan cepat ia mengubahnya dengan senyuman. Debo
menutup laptopnya kemudian menyimpan benda itu di nakas dekat tempat tidurnya.
“Makan dulu...”
Debo mengangguk, ia mengambil satu piring dari nampan yang
di bawa Acha.
“Enak. kamu yang masak?”
Komentar Debo begitu selesai menyendok makanan terakhirnya.
Acha menunduk malu. Ia terkekeh kecil.
“Iya, tapi di bantuin sama Mama
kamu.”
Debo meneguk air putih yang memang selalu ada di nakas, lalu
mengelus puncak kepala Acha.
“Gapapa.”
Acha membalas senyuman Debo yang begitu manis padanya. Ia
mengambil piring yang berada di tangan Debo. Kemudian ia menyimpannya di lantai
sesuai interupsi dari Debo.
Debo menarik tangan Acha agar duduk di sampingnya. Ia
menatap gadis di hadapannya ini dengan lembut.
“Maaf ya... aku belum bisa
memberikan malam indah buat kamu seperti pasangan lainnya.”
Debo mengecup puncak kepala Acha, ia harus berusaha
mencintai wanita ini. harus!
***
Agni menatap intens pada Alvin yang dengan telaten
menyuapinya. Ia merasa sangat beruntung mempunyai suami sesabar Alvin, ia
sangat beruntung mendapatkannya yang bisa di katakan hampir sempurna tanpa
cacad.
“Udah ketemu Dokter Dea Al?”
Alvin tersenyum sambil menatap Agni, ia sedang merangkai
kata dalam otaknya untuk menenangkan Agni tentang hal itu. ia tau pasti kalau
wanita di hadapannya ini pasti tertekan dengan ucapan Dokter Dea. Ya... walau
begitu ia lebih mengutamakan keselamatan semuanya.
“Belum, tapi udah dapet
laporannya.”
Agni terdiam, ia menatap mata Alvin dalam-dalam, menyelami
pandangan itu karena ia takut ada kekecewaan di dalamnya. Agni menghela nafas
dan tersenyum kecil, untunglah ia tidak mendapati itu dan semoga benar Alvin
tidak kecewa padanya.
“Dengan bersama kamu aja aku udah
bahagia Ni. Aku yakin, Tuhan akan memberikan segalanya di waktu yang tepat.
Bukan begitu?”
Mata Agni berkaca-kaca, terharu oleh kebesaran hati Alvin
yang mengerti kondisinya. Ia memeluk leher Alvin dengan erat. Sementara Alvin
dengan gerakan perlahan menyimpan mangkuk yang ada di tangannya ke atas meja di
samping bangsal itu kemudian membalas pelukan Agni.
Clek.
Agni melepaskan pelukannya pada Alvin lalu ia berbalik ke
arah pintu begitu pula dengan Alvin yang mengalihkan pandangannya dengan cepat
ke arah yang sama.
“Ops... sorry.”
Agni tersenyum saat melihat Ify yang memasuki ruangan itu
dan di belakangnya di susul Rio yang melambaikan tangan ke arah mereka.
“Hai.”
Agni membalas sapaan itu. keduanya mendekati Agni dengan
senyum kebahagiaan yang tak lepas dari wajah keduanya. Sepertinya ada sesuatu
yang sangat menggembirakan.
“Agni... gimana kabar loe?”
Agni memeluk Ify yang mendekat ke arahnya. Ia terkekeh kecil
melihat tingkah sahabatnya itu.
“Baik.”
“Hai Vin.”
Alvin hanya mengangguk menanggapi sapaan itu.
“Kayaknya ada sesuatu nih. Happy
banget kayaknya.”
Ify tersenyum semakin lebar. Membuat Agni mengeryitkan dahi.
Begitupun dengan Alvin yang heran dengan tingkah dua anak manusia itu.
“Gue cuma mau bilang kalo lusa
Cakka bakalan nikah sama Sivia. Loe berdua dateng ya...”
Agni melirik Alvin yang juga tengah menatapnya.
“Gak tau deh ya... gue masih
sakit ini. entar deh kita usahain. Yakan Al?”
Agni melirik lagi ke arah Alvin yang kini mengangguk
menanggapi ucapan Agni.
“Oiya... gue juga udah resign
dari kantor kalian.”
Alvin mengerutkan dahinya. Saat ia hendak buka suara Ify
segera mencegahnya dengan penjelasan.
“Gue mutusin buat kuliah di
Rusia.”
Agni menatap Ify dengan penuh tanya.
“Bukannya loe gak pernah di
ijinin keluar negeri sendiri Fy? Liburan aja susah apalagi ini.”
Ify menghela nafas panjang. Ia melirik Rio yang tersenyum
menenangkan pada Ify.
“Gue di ijinin karena...” Ify
menghela nafas. “Gue udah tunangan sama Rio... Dan... setelah lulus kami akan
menikah sesuai permintaan nyokap gue.”
Agni menarik nafas panjang. Lalu ia tersenyum pada kedua
sahabatnya itu.
“Syukurlah kalo kalian
bener-bener tunangan. Kami kira kalian cuma tunangan main-main di depan Debo.”
Ify terkekeh kecil. Ia melirik Alvin yang dari tadi hanya
menyimak.
“Titip salam ya sama Debo. Gue
gak sempet ketemu lagi pas pulang dari acara resepsinya. Oiya... gue juga
bakalan berangkat ke Rusia bareng kak Gabriel dan kak Shilla. Kayaknya mereka
udah nyatu deh.”
Agni melirik Alvin yang sepertinya menengang saat mendengar
nama Gabriel di sebutkan. Ia menggenggam tangan Alvin yang mengepal kesal,
menatap suaminya itu meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Agni mengalihkan pandangan pada Ify kembali, ia cemberut
kesal.
“Jadi kalian gak mau dateng ke
acara resepsinya kita nih?”
“HAH?! Kapan? Tau juga engga.”
Agni tersenyum tipis.
“Sekitar bulan depan sih.
Yaudahlah kalo gak bisa juga.”
Obrolan mereka pun berlanjut sampai waktu istirahat untuk
Agni datang.
***
Sepulangnya Agni dari rumah sakit Alvin tak pernah lagi
meninggalkan Agni sendiri. Ia lebih
memilih pergi kemanapun dengan Agni. Lebih baik diam bersama Agni daripada
pergi tanpanya. Alvin berubah menjadi sosok yang lebih posesif. Apapun yang
Agni inginkan akan selalu di turuti, kamanapun dan kapanpun Alvin akan selalu
siap mendampingi Agni.
Pesta resepsi merekapun di gelar dengan sangat glamour dan
mewah. Bernuansa emas dan perak dengan bunga mawar putih mengelilingi ruangan
itu. tamu yang datang pun tak kurang dari dua ribu undangan. Semuanya dari
relasi bisnis Dayat, Irshad, Alvin dan Agni. Juga seluruh keluarga besar dan
tak lupa sahabat-sahabat mereka. Zahra dan Sion juga datang, Agni yang pada
awalnya khawatir dengan Alvin pun tersenyum dengan lega, saat suaminya itu
ternyata tidak mempermasalahkan kedatangan Zahra dan Sion yang notabennya orang
tua Gabriel. Alvin hanya berbisik pada Agni yang menatapnya takjub.
“Aku punya masalah sama Gabriel.
Bukan orang tuanya.”
Hingga tanpa terasa rumah tangga mereka berjalan mulus
hingga waktu satu tahun. Agni dan Alvin tak sempat mendatangi pesta pernikahan
Cakka-Sivia dan juga tak bisa mengantar keberangkatan Rio-Ify. Tapi untunglah
mereka semua memakluminya.
Agni dan Alvin bergandengan tangan menuju sebuah toko yang
menjual perlengkapan bayi, meskipun sampai sekarang mereka belum di karuniai
putera, tetapi entah kenapa Agni ingin mulai dari sekarang mengoleksi keperluan
bayinya kelak.
“Al... kita beli yang gimana?”
Alvin nampak berpikir. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh
penjuru toko. Tapi, bukannya barang yang dapat menarik perhatiannya, melainkan
sepasang kekasih yang sepertinya si lelaki sedang melamar perempuannya. Alvin
tersenyum sinis melihatnya.
“Al...”
Alvin menengok ke arah Agni yang menarik tangannya. Ia
tersenyum lalu mengacak rambut Agni dengan sayang.
“Mendingan kita beli yang netral
aja. Abu-abu, putih, hitam? Hijau, biru atau merah juga gapapa kan cocok buat
cewek atau cowok.”
***
Epilog.
3 tahun kemudian...
Alvin dan Agni bergandengan tangan memasuki sebuah ballroom
hotel berbintang di kawasan elit Jakarta. Di sudut terlihat bingkai foto yang
sangat besar menunjukan siapa yang mengadakan pesta. Rio-Ify.
“Selamat ya... kalian ternyata
berjodoh juga.”
Agni memeluk Ify dengan ringan kemudian menyalami Rio yang
terlihat begitu gagah dengan balutan tuxedo yang terlihat mewah itu.
“Jaga sahabat gue ya Yo.”
Rio terkekeh mendengarnya.
“Iyalah... pasti. Ifykan sahabat
gue juga.”
Rio menarik Agni dalam pelukannya. Sekali saja, ia ingin
merasakan pelukan perpisahan dari sahabatnya yang berhasil membuat hatinya
porak poranda itu.
“Khm...”
Rio mengerlingkan matanya jahil ke arah Alvin yang berdehem
begitu keras. Ia sangat yakin kalau Alvin sekerang sangat cemburu.
“Suami loe kayak mau makan gue
tuh.”
Ify yang mendengarnya ikut tertawa bersama Agni dan Rio yang
terus menggoda Alvin. Alvin malah melemparkan tatapan tajamnya, seakan tatapan
itu bisa mematikan orang yang di tatap.
“Udah ah... gak usah cemberut
gitu.”
Agni mengecup pipi Alvin dalam, cukup membuat pria itu
tersenyum kembali.
“Eh gue denger dari Gabriel tiga
tahun lalu kalian ke toko peralatan bayi ya? sekarang mana anak kalian? Ganteng
gak? cantik gak?”
Agni dan Alvin saling bertatapan, lalu tersenyum tipis pada
Ify yang dari tadi bertanya dengan begitu semangat.
“Tuhan belum ngasih putera atau
puteri pada kami.”
Alvin merangkul Agni yang ia rasa sekarang begitu sedih
menceritakannya. Ia mengelus pinggang Agni dengan sayang.
Ify menghela nafas kemudian tersenyum.
“Maaf... gue gak tau.”
Agni tersenyum lebar saat melihat Ify begitu merasa
bersalah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Alvin.
“Gapapa kali, lagian kita masih
seneng berdua. Ya kan sayang?”
Alvin berucap dengan nada yang begitu menggoda pada Agni.
Agni menghadiahi suaminya itu dengan cubitan kecil yang menyakitkan di pinggang
Alvin.
“Sakit sayang...”
“Genit sih.”
Rio dan Ify tersenyum melihat keduanya. Sepertinya, mereka
harus belajar dari pasangan itu untuk menghadapi rumah tangga mereka ini.
“Ate... Oom.”
Ify menundukan dirinya pada seorang gadis kecil dengan
bandana cantik di kepalanya.
“Hai sayang? Mom sama Dad kamu
mana?”
“Anak siapa Fy?”
Kali ini Alvin bertanya dengan penasaran. Sepertinya ia
dapat mengenali beberapa detail wajah seseorang dari wajah gadis kecil itu.
Sebelum sempat Ify menjawab anak kecil itu beralih pada Agni,
merengek ingin di gendong oleh Agni.
“Ate...”
Agni menunduk saat gadis kecil itu menarik ujung gaunnya. Agni
menatap Alvin ragu. Ia tersenyum kecil pada gadis kecil itu setelah Alvin tersenyum
padanya memberi persetujuan.
“Hai... nama kamu siapa?”
“Ndai...”
Agni terkekeh kecil tak mengerti ucapan anak itu.
“Siapa?”
Agni bertanya meyakinkan. Mencari kejelasan nama gadis kecil
itu. ia akui gadis kecil itu begitu lucu.
“Agni!”
Agni dan Alvin dengan kompak menengok ke arah orang yang
memanggil. Agni mematung sejenak. Itu... Gabriel.
“Daddy...”
Gadis kecil dalam gendongan Agni meronta meminta di alihkan
gendongan. Agni menurunkan gadis kecil itu dengan hati-hati kemudian melirik Alvin
yang wajahnya nampak mengeras. Kenapa Alvin selalu seperti itu pada Gabriel? Agni
mengira Alvin telah bersahabat dengannya. Agni mengelus lengan Alvin menenangkan.
Alvin melirik Agni kemudian tersenyum, lalu ia mengecup kening Agni dengan
sayang.
“Cindai... kamu bikin Mom takut.”
Sahut seorang wanita dengan begitu lega saat melihat gadis
kecil itu berada di gendongan Gabriel.
Agni tersenyum pada wanita itu, wanita yang selama ini ia
yakini benar-benar mencintai Gabriel.
“Agni... apa kabar?”
Wanita itu, Shilla. Ia memeluk Agni sekilas dengan senyuman
tak lepas dari bibirnya.
“Kak... Alvin sama Agni belum
punya anak lagi. Kalian bikin malu aku yang udah semangat nanyainnya.”
Gabriel dengan cepat menatap Agni. Entah kenapa, ia merasa
telah menghianati Agni saat ini. ia merasa perasaan cintanya dulu pada Agni ternyata
tak lebih dari cinta sesaat. Buktinya? Dengan mudah ia berpindah kelain hati. Salahkah
ia menyesal sekarang?
Seakan tak peduli dengan kedatangan Shilla dan Gabriel serta
tatapan beberapa undangan. Alvin dan Agni terus saja memamerkan kemesraan
mereka, entah untuk hanya saling merangkul manja atau mengecup kilat di
beberapa bagian.
“Berasa penganten baru ya?”
Alvin dan Agni terkekeh saat mendengar celetukan Ify. Ya...
setiap saat mereka memang selalu merasa baru dengan kebahagiaan yang baru. Baru
segala hal yang membuat cinta mereka semakin kokoh. Semakin memperkuat
kedekatan mereka kapanpun dan dimanapun.
Berawal dari keterpaksaan dan berakhir dengan sebuah cinta
sejati. Semoga Tuhan tak henti memberikan kebahagiaan untuk siapapun.
THE END.
***
Semoga gak kecewa
ya... :)
Selamat bertemu di
Mate Arrangement... 3 tokoh udah ketauan.
Ada Bagas, Cindai, dan
Ray.
Yang lainnya ada,
Chelsea, Rafli, Marsha.
Konflik BA masih ada
di sana kok. Gak usah takut gak nyambung meskipun pemeran utamanya beralih pada
Bagas.
Terimakasih udah pada
baca ya.... See you next time semuanya.... :D
bagas anagnya agni ama alvin kan yakkkk????
ReplyDeleteBagas coupelnya sama cindai kan kak?
ReplyDeleteOh yakak, cerbungnya bgus bgt, tp klo boleh ngasih saran (ini dr cwokku), klo lagi adegan ranjangnya diperjelas dan diperlama:D hehehe
Katanya biar tmbah ngeFEEL,, udah ngeFEEL sich, tp hbiss gitu hilang. Kn gk asikk.. Sorryy :D