Wednesday, 7 August 2013

Love Yeah #8

“Gab...”

Untuk kedua kalinya Agni menyebut nama itu, kali ini dengan berusaha mengurai pelukan yang di berikan Gabriel begitu erat padanya. Nalurinya masih sadar, ia tidak bisa seperti ini terus menerus. Ada orang lain yang harus di pikirkan.

Gabriel menatap Agni dengan pandangan sendu penuh kerinduan. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk menggapai pipi kiri Agni yang sekarang lebih tembem itu. Ia tersenyum tipis.

Agni menghela nafas, tak membiarkan dirinya terbawa suasana yang akan memperburuk segalanya. Saat ini, di tempat ini. ia akan memperjelas semua hubungannya dengan lelaki di hadapannya ini.

“Makan dulu... Kak.”

Agni menunduk untuk mengambil piring yang berisi makanan untuk Gabriel. Saat ia mendongak menghadap Gabriel, lelaki itu terlihat tertegun. Entah karena apa. Agni menghela nafas, dalam hatinya ia tau betul kenapa Gabriel seperti itu. Tapi Agni tidak mau terlalu menghiraukannya.

“Mau aku suapin?”

Gabriel mengangguk dengan senyum tipisnya, masih tidak mengeluarkan suaranya. Apa aku benar-benar salah? Aku cuma mau semuanya berakhir dengan tenang. Agni memejamkan matanya sejenak.

Gabriel memperhatikan Agni dalam diam. Wanita di hadapannya itu tak kunjung menatapnya meskipun tangannya terulur ke arahnya. Seperti ada yang di pikirkan dan sangat berat untuk mengatakannya. Tapi apa? Gabriel menghela nafas kemudian meraih tangan Agni yang untuk ke beberapa kalinya terulur ke arah mulutnya.

Agni mendongak saat merasakan tangannya di genggam begitu erat, lalu Gabriel mengambil sendok dari tangannya itu.

“Kenapa...?.”

Gabriel berdecak kecil kemudian menghembuskan nafas dengan keras.

“Kamu kenapa? Ada sesuatu?.”

Agni terdiam sejenak, kemudian dengan ragu ia mengangguk. Agni memberanikan diri untuk menatap langsung kedalam mata Gabriel. Ia harus kuat. Ia harus bisa melakukan ini. demi hubungannya dengan suaminya. Agni mengambil nafas dalam-dalam.

“Kenapa Kakak jadi gini? Kalo gara-gara aku, aku minta maaf. Maaf atas semuanya...” Agni menghela nafas. “Aku gak bisa lagi mencintai Kakak, aku udah punya suami, punya Alvin. Lebih baik... Kakak menatap masa depan Kakak mulai dari sekarang... tanpa aku.”

Gabriel menghela nafas lelah dengan samar ia mengangguk sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kenapa cobaan dalam hidupnya itu harus dengan kehilangan orang yang sangat ia sayang? Apa ia tak pantas bahagia?

“Aku mengerti...”
“Lebih baik... Kakak liat sekitar Kakak... ada yang mencintai Kakak yang mungkin lebih dari dulu aku mencintai Kakak...”
“Agni...”

Dengan cepat Gabriel menyela ucapan Agni.

“Andai... dulu aku gak berhenti hubungin kamu... apa masih akan seperti ini.”

Agni mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dadanya terasa begitu sesak. Sejenak, ia mengatur nafasnya sebelum akhirnya ia menatap Gabriel kembali dan tersenyum.

“Sudahlah Kak... itu masa lalu. Meskipun kita bahas gak akan ada gunanya. Waktu gak bisa di putar.” Agni tersenyum tenang. “Lagi pula... aku sudah sangat bahagia dengan adanya Alvin di sisi aku. Mungkin... aku wanita paling beruntung karena mendapatkan suami sebaik, selembut dan seperhatian Alvin. Aku yakin... semua orang akan sangat mengidam-idamkan untuk bersama Alvin.”

Gabriel tersenyum pilu. Kenapa ia harus mendengar ucapan pahit dari mulut manis itu? Ini terasa sangat... menyakitkan.

“Peluk aku...”

Gabriel menatap Agni dengan penuh harap. Ia dapat melihat keraguan dari wajah cantik itu.

“Untuk terakhir kalinya.”

Agni menatap Gabriel meminta keyakinan. Setelah mendapatkan keyakinan itu ia mengangguk dan memeluk Gabriel. Dalam hati ia bertanya-tanya. Kenapa pelukan Gabriel tidak sehangat pelukannya yang dulu? Apa karena sekarang Agni sudah memiliki Alvin? Atau... Gabriel telah mencintai wanita lain?

***

Setelah pertemuan itu Gabriel bangkit kembali. Benar apa kata mantan kekasihnya itu, ia tak bisa terus berdiam diri dalam keterpurukan. Ia harus bangkit, memperjuangkan semua orang yang sangat mencintainya. Mama, Papa, Sivia dan seorang wanita yang selama ini selalu ada di sampingnya.

“Gabriel... sarapan dulu.”

Gabriel menuruni tangga dengan pakaian yang sudah terlihat begitu rapih. Sudah siap untuk pergi ke kantor. Ia mengecup pipi Zahra sekilas lalu duduk di samping Mamanya itu.

“Sivia gimana Ma? Belum dateng kesini?”

Zahra menghela nafas berat. Memandang Gabriel dengan tatapan yang begitu sendu menahan rindu.

“Nanti aku usahain cari alamat tempat tinggal sementaranya ya Ma? Jangan sedih.”

Gabriel memeluk Zahra, ia mengelus punggung Ibunya dengan lembut. Mencoba menguatkannya.

“Selamat pagi... Ops... Maaf ganggu tante...”

Zahra menjauhkan diri dari Gabriel, lalu berbalik ke arah semuber suara kemudian tersenyum.

“Enggak kok. Sini Shilla... duduk. Kita sarapan sama-sama.”

Shilla duduk di samping Gabriel tanpa ada niat menyentuh satu makananpun. Ia memang rutin ke rumah ini setiap pagi, mengingat rumah Gabriel ini terlewati olehnya jika akan pergi kekantor. Berbeda sekali dengan apartemen Gabriel yang berlawanan arah dengan rumahnya.

Gabriel melirik Shilla kemudian tersenyum pada wanita yang sedang memandanginya itu. Tak pernah sekalipun Gabriel memaksa Shilla untuk sarapan karena dia selalu menolak dengan alasan sudah sarapan di rumahnya. Gabriel terkadang heran, jam berapa Shilla bangun sampe masih jam setengah tujuh udah rapih segalanya?. Di tambah lagi dengan menempuh jarak dari rumahnya ke rumah itu.

***

Ray dengan berbagaimacam mainan di tangannya berjalan ke luar rumah. Ia tidak melihat kemanapun selain pada mainan dalam rengkuhannya. Sivia terkekeh kecil melihat puteranya begitu kesusahan, begitu menggemaskan dengan pipi yang menggembung itu. Apalagi saat mainannya terjatuh dan Ray merengut kesal, Sivia semakin terkekeh.

Cakka dari kejauhan berdecak, menahan senyumannya. Ia berjalan ke arah Ray, membantu membawa mainan itu.

“Mama malah ngetawain Papa... Mama gak bantu Ray.”

Sivia menghela nafas berusaha menahan tawanya. Kemudian berjalan mendekati Ray lalu mengecup pipi chubby itu.

“Lagian... Ray bawa mainan kok banyak banget. Mau dibawa kemana?”
“Mau main di luar.”

Ray berucap sambil berlalu dan menghilang di balik pintu. Tak berapa lama ia kembali lagi.

“Kenapa lagi sayang?”

Ray hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Sivia. Ia malah menarik pintu, menutupnya rapat.

Sivia menghela nafas panjang, ia mengalihkan pandangan pada Cakka yang ternyata sedang menatapnya. Ray selalu seperti itu, memberikan ruang untuk berdua antra dirinya dengan Cakka. Ia juga tak mengerti dengan jalan pikiran puteranya itu.

“Duduk yuk Kka...”

Cakka mengangguk lalu duduk di sofa, dan duduk berdampingan dengan Sivia. Beberapa hari ini Cakka memang tinggal di rumah sederhana milik Sivia. Selain untuk mempersiapkan pernikahan mereka, ia juga ingin sekali menjaga puteranya. Ia tak ingin Ray sakit kembali.

“Via... aku pikir, sebaiknya kita bertemu orang tua kamu dulu sebelum kita benar-benar menikah. Aku gak mau menikah tanpa restu.”

Sivia menghela nafas, ia menundukan kepalanya dalam. ia tak tau, apakah ia akan sanggup menghadapi orang tuanya? Apalagi Gabriel, Kakaknya. Dulu saat mengetahui kehamilannya Gabriel marah besar. Dia mengamuk seperti orang kesetanan dan hampir ingin menggugurkan kandungan Sivia. Dugaan awalnya, Gabriel akan melindunginya dan membantu berbicara baik-baik dengan orang tuanya. Tapi ternyata... sebaliknya.

“Aku gak bisa bertemu mereka... aku...”

Cakka menggenggam jemari Sivia dengan erat. Tangan kanannya memegang dagu Sivia, membuat wanita di hadapannya itu menatapnya.

“Ada aku... aku akan selalu menjagamu... aku bakalan berusaha meminta restu pada mereka, apapun caranya.”

Sivia menatap ke dalam mata Cakka, ia mendapati kesungguhan di matanya itu. Tapi... apakah ia sudah sanggup menatap orang tuanya? Bukan. Bukannya Sivia meragukan Cakka... tetapi, ia tidak yakin pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba terdengar sebuah gedoran dari luar. Dan terdengar Ray yang berteriak panik memanggil Sivia dan Cakka secara bergantian.

“Mama... hiks. Papa... Ma...”

Sivia terperanjat , lalu dengan cepat ia berjalan ke arah pintu.

“Ray!.”

Sivia berjongkok di hadapan Ray. Dengan cepat puteranya itu memeluk leher Sivia, menangis ketakutan, terlihat dari tubuh mungilnya yang bergetar hebat.

“Sivia...”

Suara lembut itu menyadarkan Sivia atas ketakutan Ray. Ia segera mendongakkan kepalanya.

“Mama...”

***

Gabriel berjalan memasuki kediaman Rio. ia memnag telah membuat janji akan bertemu dan membicarakan mengenai Sivia.

“Yo... eh Fy, ada disini juga.”

Ify tersenyum menanggapi ucapan Gabriel tanpa ada berniat untuk berpindah dari balkon rumah itu. Sementara Rio berjalan mendekati Gabriel yang telah duduk di sofa tak jauh dari balkon itu.

“Mau minta bantuan apa lagi?”

Gabriel tersenyum tipis, tidak seperti biasanya adik sepupunya itu se to the point itu.

“Telpon Cakka, tanyakan alamat rumah Sivia sekarang.”

Rio menghela nafas panjang, kemudian ia mendekati Ify yang sedang menatap pada satu arah. Tepat di samping rumah Rio.
Rio menepuk pundak Ify pelan, cukup membuat gadis itu menatapnya dengan cepat.

“Ada apa?”
“Telpon Cakka, tanyakan alamat rumah Sivia sekarang juga.”

Ify mendelik, ia membalikan tubuhnya menatap Gabriel.

“Mau apa loe nanyain Sivia? Mau loe buat sengsara lagi kayak Agni?.”

Gabriel mengerutkan dahinya, tak mengerti jalan ucapan gadis itu.

“Gara-gara loe Agni sengsara! Semuanya karena ulah loe yang maksa Agni tetep di rumah loe sampe sore satu minggu yang lalu.”
“Loe ngomong apa sih?”

Gabriel terkekeh tak mengerti. ia berjalan mendekati Ify dengan rasa ingin tau.

“Sore itu Alvin pulang dan Agni gak ada di rumah. Rio SMS Agni...”
“Agnikan gak bawa hape ke rumah gue.”
“Tepat! Karena yang pegang hape itu Alvin, mungin. Saat ini Agni gak pegang alat komunikasi satupun dan gue yakin Alvin yang bawa semuanya. Menyita semuanya! Dan satu lagi... sampai saat ini... Alvin gak pernah lagi menemui Agni!”
“APA?!”
“Dan itu semua GARA-GARA LOE!”

Ify memukul keras dada Gabriel kemudian berlalu tanpa berpamitan pada siapapun.

“Yo...”
“Liat itu...”

Rio memotong ucapan Gabriel dengan menunjuk seseorang yang sedang duduk di pinggir kolam. Kedua kakinya di celupkan kedalamnya sementara tatapannya terlihat kosong, tak lama badannya bergetar karena tangisan.

“Dengan itu loe harus sadar... betapa cintanya Agni sama Alvin.”

Gabriel menghela nafas panjang. Ia mengangguk samar kemudian duduk kembali di sofa setelah menatap ke arah duduk Agni sekilas.

“Maaf Agni... aku gak tau.”

Gabriel bergumam kemudian berteriak sangat keras dengan tangan yang mencengkeram rambutnya kesal, ia telah membuat orang yang paling ia sayang menderita. Ia sangat menyesali tindakan bodohnya itu.

“Yel...”
“Gue bakalan ninggalin Agni... kalo itu kemauan dia, hari ini juga gue bakalan ke kantor Alvin dan jelasin semuanya.”

Gabriel berdiri setelah mengucapkan itu. Saat ia berjalan beberapa langkah Rio bergumam cukup keras.

“Percuma. Gak ada yang tau Alvin ada dimana. Satu minggu ini Alvin gak pernah masuk kantornya.”

Dada Gabriel terasa kosong. Setelah ini, ia akan benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Dengan langkah gontai ia keluar dari rumah itu. Dalam pikirannya terus saja berkelebat bayangan keterpurukan Agni. Saat tubuhnya bergetar dengan begitu pilu.

“Maaf Agni... Maaf.”

***

Zahra menyambut dengan senyuman kedatangan Gabriel. Hari ini, ia begitu bahagia. Sangat bahagia.

“Kayaknya ada yang aneh deh sama Mama... kok tumben ceria gini. Ada apa?”

Zahra tersenyum semakin lebar saat melihat raut penuh tanda tanya puteranya itu. Ia segera menggamit lengan puteranya itu menuju ruang makan yang ternyata telah ada seorang lelaki.

Gabriel memicingkan tatapannya. Sepertinya ia kenal dengan lelaki itu. Tapi...

“Cakka?.”

Gabriel menyebutkan nama itu setelah lelaki itu berbalik ke arahnya dengan tersenyum.

“Oma... Ray bisa maenin in...”

Gabriel menatap anak kecil yang berlari ke arahnya dan Zahra. Tapi sedetik kemudian ia berlari ketakutan ke arah dapur.

“Sorry ya Yel, Ray emang gitu. Gak bisa nerima orang baru gitu aja.”

Gabriel mengangguk samar, ia jadi ingat reaksi ketakutan anak itu saat berada di rumah sakit. Dan ternyata anak itu memang sulit beradaptasi. Gabriel mengalihkan pandangan pada Zahra.

“Ma... Sivia?.”

Zahra tersenyum sambil mengelus rambut puteranya yang begitu acak-acakan.

“Sudah kembali.”
“Bagaimana bisa...?”

Zahra melajukan mobil kesayangannya di jalanan yang begitu tenang. Entah kenapa hari ini ia sangat ingin jalan-jalan. Firasatnya mengatakan, ia akan mendapatkan sesuatu.

Zahra membelalakan matanya kemudian menginjak rem sedalam-dalamnya saat melihat seorang anak kecil berjalan ke tengah jalan untuk mengambil mainannya. Zahra segera keluar untuk melihat anak itu.

Anak itu mundur teratur saat berhadapan dengan Zahra. Kemudian berlari sekencangnya ke arah rumah sederhana itu. Zahra yang  merasa bersalahpun menyusul anak itu untuk sekedar meminta maaf pada orang tuanya.

Zahra terdiam sesaat, saat melihat anak itu memeluk erat seorang wanita. Itu...

“Sivia...”
“Mama...”

Tak lama seorang pemuda muncul dengan panik.

“Ray kenapa sayang?.”

Pemuda itu merengkuh anak yang hampir di tabrak Zahra dalam pelukannya. Sementara Sivia mematung di tempatnya. Tapi sedetik kemudian ia tersadar dan dengan cepat beranjak masuk.

“Sivia... Mama kangen banget sama kamu...”

Zahra mengetuk-ngetuk pintu rumah itu dengan tenang.

“Via... pulangla nak... kami semua merindukanmu.”

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Sivia membuka pintunya dengan mata yang sedikit memerah, menandakan ia telah menangis.

Zahra yang melihatnya segera memeluk puteri kesayangannya itu dengan penuh cinta.

“Bagus kalo sekarang Sivia udah mau pulang.” Gabriel tersenyum “Dimana dia sekarang Ma?”

Tak lama Sivia muncul dari arah dapur dengan nampan berisi makanan di tangannya. Ia melemparkan senyum kaku pada Kakaknya itu. Begitupun dengan Gabriel, ia berjalan ke arah Sivia dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.

“Kemajuan ya sekarang... udah bisa masak.”

Sivia terkekeh, ia menepuk dada Gabriel dengan tangannya yang bebas.

***

Gabriel berdiam diri sendiri di ruang keluarga lantai dua kediamannya. Dalam genggamannya ponselnya terus di putar-putar, sambil memikirkan bagaimana cara membahagiakan Agni. Ia tak bisa terus berdiam diri tanpa bertindak sesuatu.

Ponsel Gabriel berdering cukup keras. Gabriel melihat ponselnya itu kemudian mengerutkan dahinya heran. Tidak biasanya ada nomor baru menghubungi nomor pribadinya.

“Gabriel.”

Gabriel mengerutkan dahinya saat mendengar suara dari seberang itu. Sepertinya ia mengenali suara itu.

“Gue Alvin.”

Gabriel sedikit tertegun tapi ia berusaha mengatur emosinya.

“Gue ngundang loe dateng ke cafe milik Cakka malam ini.” dari seberang menghela nafas. “Yaudah thanks.”
“Tunggu!”

Gabriel berseru keras saat Alvin hendak mengakhiri panggilan itu.

“Ya...”
“Kenapa?”
“Maksud loe?”
“Kenapa loe biarin Agni terpuruk? Kenapa loe pergi disaat Agni butuh loe?”
“Gue... gue udah putusin bakalan cerai sama dia. Dia terpuruk bukan karena gue, tapi loe. Dia butuh banget loe, tapi gue? Gak pernah ada gue di hati dia.”
“Loe sa...”
“Thanks Gabriel, maaf menganggu.”

Alvin memutuskan sambungannya secara sepihak. Sementara Gabriel termenung sendiri, pikirannya melayang. Agni dan Alvin bercerai? Seharusnya ia sangat bahagia. Tapi, entah kenapa ia merasa jika Alvin meninggalkan Agni, Agni akan semakin terpuruk. Gabriel menghela nafas panjang lalu bergegas memasuki kamarnya untuk bersiap.

***

Gadis itu begitu cantik dengan balutan gaun sederhana. Gabriel mengalihkan pandangannya pada arah lain saat gadis itu di kecup begitu mesra oleh suaminya. Dari bahasa tubuhnyapun ia masih bisa melihat betapa cintanya Agni pada Alvin. Betapa sayangnya Agni sama Alvin. Apakah ia akan tega menghancurkan semuanya?

“Gabriel.”

Gabriel tersenyum ke arah Alvin lalu mengalihkan pandangan pada Agni yang nampak kebingungan.

“Aku tinggal. Selesaikan urusan kalian.”

Agni mengikuti Alvin dengan pandangannya. Sementara Gabriel melihatnya dengan begitu ngilu di hati. Setelah di tinggalkan begitu saja oleh suaminya itu, kenapa Agni masih saja menatap Alvin dengan penuh cinta?

“Aku gak tau harus selesain apa lagi Kak. Aku juga kaget banget saat liat Kakak ada disini juga.”

Agni tersenyum pada Gabriel dengan begitu tulus. Setidaknya ia memang telah jujur pada pemuda itu. Gabriel merengkuh wajah Agni dengan kedua telapak tangannya, mengelusnya dengan lembut.

“Sebenernya aku dateng kesini mau rebut kamu, tapi begitu aku liat kamu gimana cara mandang sama Alvin aku sadar, kamu sekarang cuma sayang sama dia.”

Agni tersenyum tipis. Gabriel menarik Agni dalam pelukannya. Pelukan perpisahan...
Gabriel mendekatkan dirinya pada Agni, semakin mendekat hingga Agni merasakan hembusan nafas di telinganya.

“Semoga kamu bahagia Agni. Setelah pernikahan Sivia dan Cakka, aku akan kembali ke Rusia”

Agni melepaskan pelukan itu, memandang Gabriel.

“Maaf... aku gak bisa milih kamu. Aku udah nemuin cinta aku. Semoga kamu bahagia ya...”

Gabriel mengangguk samar. Ia masih saja tersenyum pada Agni. Meski hatinya begitu pilu tapi ia harus tetap tegar menghadapinya. Gabriel menarik lengan Agni untuk keluar dari cafe itu.

Dengan lembut Agni melepaskan genggaman tangan Gabriel. Ia berjalan ke arah Alvin yang sepertinya sedang sibuk membaca sebuah dokumen.

Gabriel memerhatikan Agni dalam diam. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding mobil yang terparkir cukup jauh dari keberadaan mobil Alvin.
Gabriel memperhatikannya dengan hati yang sangat sakit. Terasa dentuman begitu keras menohok jantungnya.

Saat Gabriel hendak mendekati keduanya dengan cepat Agni mencium Alvin dengan begitu mesranya. Agni seperti enggan melepaskan diri dari suaminya itu. Gabriel mundur... kemudian memasuki mobilnya dan meninggalkan tempat itu dengan tenang.

***

Sesuai janji. Gabriel berangkat ke Rusia satu minggu berikutnya. Gabriel tidak ingin berlama-lama memikirkan Agni yang saat ini mungkin sedang berbahagia.

Gabriel melirik gadis di sampingnya yang tertidur dengan tenang. Wajahnya menghadap ke jendela pesawat. Ia membelai pipi gadis itu perlahan. Ajari aku jatuh cinta...

***

Epilog.

Satu tahun kemudian...

Gabriel berjalan santai bersama dengan Shilla di pusat perbelanjaan termegah di Jakarta. Ia memang memutuskan kembali ke tanah air untuk menuntaskan kisah cintanya. Gabriel melirik Shilla lalu menariknya memasuki sebuah toko perhiasan.

Shilla menatap bingung ke arah Gabriel yang sedang berbincang dengan beberapa karyawan disana. Karyawan yang berbincang dengan Gabriel mengangguk dan berlalu. Gabriel-pun mendekati Shilla dan duduk di sofa lain di sebelah Shilla.

Gabriel tersenyum misterius. Saat pernahiannya terpusat pada Shilla sosok Agni kembali hadir dalam benaknya. Bukan! Ini bukan khayalan. Tapi kenyataan! Agni bersama Alvin berada disana, di sebuah toko yang menjual beberapa perlengkapan... bayi.

“Tuan Gabriel... ini pesanan anda.”

Gabriel dengan cepat melirik ke arah karyawan itu kemudian mengangguk. Ia menerima kotak berwarna biru tua itu.

“Itu buat siapa Yel?”

Gabriel tersenyum melihat tatapan bingung sekaligus sorot mata yang kecewa dari wajah gadis itu.

“Untuk seorang wanita yang bilang nyesel cinta sama aku. aku mau yakinin dia kalo dia gak pantes nyesel karena aku juga mulai mencintai dia.”

Shilla menghela nafas dalam-dalam. ia menengadah sebentar, menahan air mata yang hendak tumpah. Apa ia akan patah hati kembali?

“Will you marry me?”
“HAH?!”

Shilla membelalakan matanya saat Gabriel mengucapkan itu. dan itu membuat Gabriel berdecak dan menarik tangan kiri Shilla. Menyematkan cincin bertabur berlian itu di jari manis Shilla.

“Wanita itu kamu.”

Jangan cintai aku seperti bulan.
Yang hanya bersinar di malam hari.
Cintai aku seperti sungai.
Mengalir untukmu slamanya.

Jangan cintai aku seperti bunga.
Yang berhenti mekar saat musim berganti.
Cintai aku seperti udara.
Membuatmu hidup selamanya.


***

The End.

Makasih buat yang selama ini nungguin LY ya :)
Semoga cerita-cerita anehku semakin banyak peminatnya :D
Sampai jumpa di BA yang mungkin akan di lanjut besok... ternyata proyek buat cerita yang mau di end-in itu lebih sulit daripada klimaks :)
Harap maklum ya :D

Untuk semuanya Taqobalallah minna wamin’kum siamana wasiamakum, minal ‘aidzin walfaizin mohon maaf lahir dan batin :)

Selamat idul fitri 1434 H. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua :)

No comments:

Post a Comment