“Gab...”
Untuk kedua kalinya Agni menyebut nama itu, kali ini dengan
berusaha mengurai pelukan yang di berikan Gabriel begitu erat padanya.
Nalurinya masih sadar, ia tidak bisa seperti ini terus menerus. Ada orang lain
yang harus di pikirkan.
Gabriel menatap Agni dengan pandangan sendu penuh kerinduan.
Ia mengulurkan tangan kanannya untuk menggapai pipi kiri Agni yang sekarang
lebih tembem itu. Ia tersenyum tipis.
Agni menghela nafas, tak membiarkan dirinya terbawa suasana
yang akan memperburuk segalanya. Saat ini, di tempat ini. ia akan memperjelas
semua hubungannya dengan lelaki di hadapannya ini.
“Makan dulu... Kak.”
Agni menunduk untuk mengambil piring yang berisi makanan
untuk Gabriel. Saat ia mendongak menghadap Gabriel, lelaki itu terlihat
tertegun. Entah karena apa. Agni menghela nafas, dalam hatinya ia tau betul
kenapa Gabriel seperti itu. Tapi Agni tidak mau terlalu menghiraukannya.
“Mau aku suapin?”
Gabriel mengangguk dengan senyum tipisnya, masih tidak
mengeluarkan suaranya. Apa aku
benar-benar salah? Aku cuma mau semuanya berakhir dengan tenang. Agni
memejamkan matanya sejenak.
Gabriel memperhatikan Agni dalam diam. Wanita di hadapannya
itu tak kunjung menatapnya meskipun tangannya terulur ke arahnya. Seperti ada
yang di pikirkan dan sangat berat untuk mengatakannya. Tapi apa? Gabriel
menghela nafas kemudian meraih tangan Agni yang untuk ke beberapa kalinya
terulur ke arah mulutnya.
Agni mendongak saat merasakan tangannya di genggam begitu
erat, lalu Gabriel mengambil sendok dari tangannya itu.
“Kenapa...?.”
Gabriel berdecak kecil kemudian menghembuskan nafas dengan
keras.
“Kamu kenapa? Ada sesuatu?.”
Agni terdiam sejenak, kemudian dengan ragu ia mengangguk.
Agni memberanikan diri untuk menatap langsung kedalam mata Gabriel. Ia harus
kuat. Ia harus bisa melakukan ini. demi hubungannya dengan suaminya. Agni
mengambil nafas dalam-dalam.
“Kenapa Kakak jadi gini? Kalo
gara-gara aku, aku minta maaf. Maaf atas semuanya...” Agni menghela nafas. “Aku
gak bisa lagi mencintai Kakak, aku udah punya suami, punya Alvin. Lebih baik...
Kakak menatap masa depan Kakak mulai dari sekarang... tanpa aku.”
Gabriel menghela nafas lelah dengan samar ia mengangguk
sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kenapa cobaan dalam hidupnya itu
harus dengan kehilangan orang yang sangat ia sayang? Apa ia tak pantas bahagia?
“Aku mengerti...”
“Lebih baik... Kakak liat sekitar
Kakak... ada yang mencintai Kakak yang mungkin lebih dari dulu aku mencintai
Kakak...”
“Agni...”
Dengan cepat Gabriel menyela ucapan Agni.
“Andai... dulu aku gak berhenti
hubungin kamu... apa masih akan seperti ini.”
Agni mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dadanya terasa
begitu sesak. Sejenak, ia mengatur nafasnya sebelum akhirnya ia menatap Gabriel
kembali dan tersenyum.
“Sudahlah Kak... itu masa lalu.
Meskipun kita bahas gak akan ada gunanya. Waktu gak bisa di putar.” Agni
tersenyum tenang. “Lagi pula... aku sudah sangat bahagia dengan adanya Alvin di
sisi aku. Mungkin... aku wanita paling beruntung karena mendapatkan suami
sebaik, selembut dan seperhatian Alvin. Aku yakin... semua orang akan sangat
mengidam-idamkan untuk bersama Alvin.”
Gabriel tersenyum pilu. Kenapa ia harus mendengar ucapan
pahit dari mulut manis itu? Ini terasa sangat... menyakitkan.
“Peluk aku...”
Gabriel menatap Agni dengan penuh harap. Ia dapat melihat
keraguan dari wajah cantik itu.
“Untuk terakhir kalinya.”
Agni menatap Gabriel meminta keyakinan. Setelah mendapatkan
keyakinan itu ia mengangguk dan memeluk Gabriel. Dalam hati ia bertanya-tanya.
Kenapa pelukan Gabriel tidak sehangat pelukannya yang dulu? Apa karena sekarang
Agni sudah memiliki Alvin? Atau... Gabriel telah mencintai wanita lain?
***
Setelah pertemuan itu Gabriel bangkit kembali. Benar apa
kata mantan kekasihnya itu, ia tak bisa terus berdiam diri dalam keterpurukan.
Ia harus bangkit, memperjuangkan semua orang yang sangat mencintainya. Mama, Papa,
Sivia dan seorang wanita yang selama ini selalu ada di sampingnya.
“Gabriel... sarapan dulu.”
Gabriel menuruni tangga dengan pakaian yang sudah terlihat
begitu rapih. Sudah siap untuk pergi ke kantor. Ia mengecup pipi Zahra sekilas
lalu duduk di samping Mamanya itu.
“Sivia gimana Ma? Belum dateng
kesini?”
Zahra menghela nafas berat. Memandang Gabriel dengan tatapan
yang begitu sendu menahan rindu.
“Nanti aku usahain cari alamat
tempat tinggal sementaranya ya Ma? Jangan sedih.”
Gabriel memeluk Zahra, ia mengelus punggung Ibunya dengan
lembut. Mencoba menguatkannya.
“Selamat pagi... Ops... Maaf
ganggu tante...”
Zahra menjauhkan diri dari Gabriel, lalu berbalik ke arah
semuber suara kemudian tersenyum.
“Enggak kok. Sini Shilla...
duduk. Kita sarapan sama-sama.”
Shilla duduk di samping Gabriel tanpa ada niat menyentuh
satu makananpun. Ia memang rutin ke rumah ini setiap pagi, mengingat rumah
Gabriel ini terlewati olehnya jika akan pergi kekantor. Berbeda sekali dengan
apartemen Gabriel yang berlawanan arah dengan rumahnya.
Gabriel melirik Shilla kemudian tersenyum pada wanita yang
sedang memandanginya itu. Tak pernah sekalipun Gabriel memaksa Shilla untuk
sarapan karena dia selalu menolak dengan alasan sudah sarapan di rumahnya.
Gabriel terkadang heran, jam berapa Shilla bangun sampe masih jam setengah
tujuh udah rapih segalanya?. Di tambah lagi dengan menempuh jarak dari rumahnya
ke rumah itu.
***
Ray dengan berbagaimacam mainan di tangannya berjalan ke
luar rumah. Ia tidak melihat kemanapun selain pada mainan dalam rengkuhannya.
Sivia terkekeh kecil melihat puteranya begitu kesusahan, begitu menggemaskan
dengan pipi yang menggembung itu. Apalagi saat mainannya terjatuh dan Ray
merengut kesal, Sivia semakin terkekeh.
Cakka dari kejauhan berdecak, menahan senyumannya. Ia
berjalan ke arah Ray, membantu membawa mainan itu.
“Mama malah ngetawain Papa...
Mama gak bantu Ray.”
Sivia menghela nafas berusaha menahan tawanya. Kemudian
berjalan mendekati Ray lalu mengecup pipi chubby itu.
“Lagian... Ray bawa mainan kok
banyak banget. Mau dibawa kemana?”
“Mau main di luar.”
Ray berucap sambil berlalu dan menghilang di balik pintu.
Tak berapa lama ia kembali lagi.
“Kenapa lagi sayang?”
Ray hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Sivia. Ia malah
menarik pintu, menutupnya rapat.
Sivia menghela nafas panjang, ia mengalihkan pandangan pada
Cakka yang ternyata sedang menatapnya. Ray selalu seperti itu, memberikan ruang
untuk berdua antra dirinya dengan Cakka. Ia juga tak mengerti dengan jalan
pikiran puteranya itu.
“Duduk yuk Kka...”
Cakka mengangguk lalu duduk di sofa, dan duduk berdampingan
dengan Sivia. Beberapa hari ini Cakka memang tinggal di rumah sederhana milik
Sivia. Selain untuk mempersiapkan pernikahan mereka, ia juga ingin sekali
menjaga puteranya. Ia tak ingin Ray sakit kembali.
“Via... aku pikir, sebaiknya kita
bertemu orang tua kamu dulu sebelum kita benar-benar menikah. Aku gak mau
menikah tanpa restu.”
Sivia menghela nafas, ia menundukan kepalanya dalam. ia tak
tau, apakah ia akan sanggup menghadapi orang tuanya? Apalagi Gabriel, Kakaknya.
Dulu saat mengetahui kehamilannya Gabriel marah besar. Dia mengamuk seperti
orang kesetanan dan hampir ingin menggugurkan kandungan Sivia. Dugaan awalnya,
Gabriel akan melindunginya dan membantu berbicara baik-baik dengan orang
tuanya. Tapi ternyata... sebaliknya.
“Aku gak bisa bertemu mereka...
aku...”
Cakka menggenggam jemari Sivia dengan erat. Tangan kanannya
memegang dagu Sivia, membuat wanita di hadapannya itu menatapnya.
“Ada aku... aku akan selalu
menjagamu... aku bakalan berusaha meminta restu pada mereka, apapun caranya.”
Sivia menatap ke dalam mata Cakka, ia mendapati kesungguhan
di matanya itu. Tapi... apakah ia sudah sanggup menatap orang tuanya? Bukan.
Bukannya Sivia meragukan Cakka... tetapi, ia tidak yakin pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba terdengar sebuah gedoran dari luar. Dan terdengar
Ray yang berteriak panik memanggil Sivia dan Cakka secara bergantian.
“Mama... hiks. Papa... Ma...”
Sivia terperanjat , lalu dengan cepat ia berjalan ke arah
pintu.
“Ray!.”
Sivia berjongkok di hadapan Ray. Dengan cepat puteranya itu
memeluk leher Sivia, menangis ketakutan, terlihat dari tubuh mungilnya yang
bergetar hebat.
“Sivia...”
Suara lembut itu menyadarkan Sivia atas ketakutan Ray. Ia segera
mendongakkan kepalanya.
“Mama...”
***
Gabriel berjalan memasuki kediaman Rio. ia memnag telah
membuat janji akan bertemu dan membicarakan mengenai Sivia.
“Yo... eh Fy, ada disini juga.”
Ify tersenyum menanggapi ucapan Gabriel tanpa ada berniat untuk
berpindah dari balkon rumah itu. Sementara Rio berjalan mendekati Gabriel yang
telah duduk di sofa tak jauh dari balkon itu.
“Mau minta bantuan apa lagi?”
Gabriel tersenyum tipis, tidak seperti biasanya adik
sepupunya itu se to the point itu.
“Telpon Cakka, tanyakan alamat
rumah Sivia sekarang.”
Rio menghela nafas panjang, kemudian ia mendekati Ify yang
sedang menatap pada satu arah. Tepat di samping rumah Rio.
Rio menepuk pundak Ify pelan, cukup membuat gadis itu
menatapnya dengan cepat.
“Ada apa?”
“Telpon Cakka, tanyakan alamat
rumah Sivia sekarang juga.”
Ify mendelik, ia membalikan tubuhnya menatap Gabriel.
“Mau apa loe nanyain Sivia? Mau
loe buat sengsara lagi kayak Agni?.”
Gabriel mengerutkan dahinya, tak mengerti jalan ucapan gadis
itu.
“Gara-gara loe Agni sengsara!
Semuanya karena ulah loe yang maksa Agni tetep di rumah loe sampe sore satu
minggu yang lalu.”
“Loe ngomong apa sih?”
Gabriel terkekeh tak mengerti. ia berjalan mendekati Ify
dengan rasa ingin tau.
“Sore itu Alvin pulang dan Agni
gak ada di rumah. Rio SMS Agni...”
“Agnikan gak bawa hape ke rumah
gue.”
“Tepat! Karena yang pegang hape
itu Alvin, mungin. Saat ini Agni gak pegang alat komunikasi satupun dan gue
yakin Alvin yang bawa semuanya. Menyita semuanya! Dan satu lagi... sampai saat
ini... Alvin gak pernah lagi menemui Agni!”
“APA?!”
“Dan itu semua GARA-GARA LOE!”
Ify memukul keras dada Gabriel kemudian berlalu tanpa
berpamitan pada siapapun.
“Yo...”
“Liat itu...”
Rio memotong ucapan Gabriel dengan menunjuk seseorang yang
sedang duduk di pinggir kolam. Kedua kakinya di celupkan kedalamnya sementara
tatapannya terlihat kosong, tak lama badannya bergetar karena tangisan.
“Dengan itu loe harus sadar...
betapa cintanya Agni sama Alvin.”
Gabriel menghela nafas panjang. Ia mengangguk samar kemudian
duduk kembali di sofa setelah menatap ke arah duduk Agni sekilas.
“Maaf Agni... aku gak tau.”
Gabriel bergumam kemudian berteriak sangat keras dengan
tangan yang mencengkeram rambutnya kesal, ia telah membuat orang yang paling ia
sayang menderita. Ia sangat menyesali tindakan bodohnya itu.
“Yel...”
“Gue bakalan ninggalin Agni...
kalo itu kemauan dia, hari ini juga gue bakalan ke kantor Alvin dan jelasin
semuanya.”
Gabriel berdiri setelah mengucapkan itu. Saat ia berjalan
beberapa langkah Rio bergumam cukup keras.
“Percuma. Gak ada yang tau Alvin
ada dimana. Satu minggu ini Alvin gak pernah masuk kantornya.”
Dada Gabriel terasa kosong. Setelah ini, ia akan benar-benar
menyalahkan dirinya sendiri. Dengan langkah gontai ia keluar dari rumah itu.
Dalam pikirannya terus saja berkelebat bayangan keterpurukan Agni. Saat
tubuhnya bergetar dengan begitu pilu.
“Maaf Agni... Maaf.”
***
Zahra menyambut dengan senyuman kedatangan Gabriel. Hari
ini, ia begitu bahagia. Sangat bahagia.
“Kayaknya ada yang aneh deh sama
Mama... kok tumben ceria gini. Ada apa?”
Zahra tersenyum semakin lebar saat melihat raut penuh tanda
tanya puteranya itu. Ia segera menggamit lengan puteranya itu menuju ruang
makan yang ternyata telah ada seorang lelaki.
Gabriel memicingkan tatapannya. Sepertinya ia kenal dengan
lelaki itu. Tapi...
“Cakka?.”
Gabriel menyebutkan nama itu setelah lelaki itu berbalik ke
arahnya dengan tersenyum.
“Oma... Ray bisa maenin in...”
Gabriel menatap anak kecil yang berlari ke arahnya dan
Zahra. Tapi sedetik kemudian ia berlari ketakutan ke arah dapur.
“Sorry ya Yel, Ray emang gitu.
Gak bisa nerima orang baru gitu aja.”
Gabriel mengangguk samar, ia jadi ingat reaksi ketakutan
anak itu saat berada di rumah sakit. Dan ternyata anak itu memang sulit
beradaptasi. Gabriel mengalihkan pandangan pada Zahra.
“Ma... Sivia?.”
Zahra tersenyum sambil mengelus rambut puteranya yang begitu
acak-acakan.
“Sudah kembali.”
“Bagaimana bisa...?”
Zahra melajukan mobil
kesayangannya di jalanan yang begitu tenang. Entah kenapa hari ini ia sangat
ingin jalan-jalan. Firasatnya mengatakan, ia akan mendapatkan sesuatu.
Zahra membelalakan
matanya kemudian menginjak rem sedalam-dalamnya saat melihat seorang anak kecil
berjalan ke tengah jalan untuk mengambil mainannya. Zahra segera keluar untuk
melihat anak itu.
Anak itu mundur
teratur saat berhadapan dengan Zahra. Kemudian berlari sekencangnya ke arah
rumah sederhana itu. Zahra yang merasa
bersalahpun menyusul anak itu untuk sekedar meminta maaf pada orang tuanya.
Zahra terdiam sesaat,
saat melihat anak itu memeluk erat seorang wanita. Itu...
“Sivia...”
“Mama...”
Tak lama seorang
pemuda muncul dengan panik.
“Ray kenapa sayang?.”
Pemuda itu merengkuh
anak yang hampir di tabrak Zahra dalam pelukannya. Sementara Sivia mematung di
tempatnya. Tapi sedetik kemudian ia tersadar dan dengan cepat beranjak masuk.
“Sivia... Mama kangen banget sama kamu...”
Zahra mengetuk-ngetuk
pintu rumah itu dengan tenang.
“Via... pulangla nak... kami semua merindukanmu.”
Setelah menunggu cukup
lama, akhirnya Sivia membuka pintunya dengan mata yang sedikit memerah,
menandakan ia telah menangis.
Zahra yang melihatnya
segera memeluk puteri kesayangannya itu dengan penuh cinta.
“Bagus kalo sekarang Sivia udah
mau pulang.” Gabriel tersenyum “Dimana dia sekarang Ma?”
Tak lama Sivia muncul dari arah dapur dengan nampan berisi
makanan di tangannya. Ia melemparkan senyum kaku pada Kakaknya itu. Begitupun dengan
Gabriel, ia berjalan ke arah Sivia dengan senyuman yang tak lepas dari
bibirnya.
“Kemajuan ya sekarang... udah
bisa masak.”
Sivia terkekeh, ia menepuk dada Gabriel dengan tangannya
yang bebas.
***
Gabriel berdiam diri sendiri di ruang keluarga lantai dua
kediamannya. Dalam genggamannya ponselnya terus di putar-putar, sambil
memikirkan bagaimana cara membahagiakan Agni. Ia tak bisa terus berdiam diri
tanpa bertindak sesuatu.
Ponsel Gabriel berdering cukup keras. Gabriel melihat
ponselnya itu kemudian mengerutkan dahinya heran. Tidak biasanya ada nomor baru
menghubungi nomor pribadinya.
“Gabriel.”
Gabriel mengerutkan dahinya saat mendengar suara dari
seberang itu. Sepertinya ia mengenali suara itu.
“Gue Alvin.”
Gabriel sedikit tertegun tapi ia berusaha mengatur emosinya.
“Gue ngundang loe dateng ke cafe milik Cakka malam ini.” dari seberang
menghela nafas. “Yaudah thanks.”
“Tunggu!”
Gabriel berseru keras saat Alvin hendak mengakhiri panggilan
itu.
“Ya...”
“Kenapa?”
“Maksud loe?”
“Kenapa loe biarin Agni terpuruk?
Kenapa loe pergi disaat Agni butuh loe?”
“Gue... gue udah putusin bakalan cerai sama dia. Dia terpuruk bukan
karena gue, tapi loe. Dia butuh banget loe, tapi gue? Gak pernah ada gue di
hati dia.”
“Loe sa...”
“Thanks Gabriel, maaf menganggu.”
Alvin memutuskan sambungannya secara sepihak. Sementara Gabriel
termenung sendiri, pikirannya melayang. Agni dan Alvin bercerai? Seharusnya ia
sangat bahagia. Tapi, entah kenapa ia merasa jika Alvin meninggalkan Agni, Agni
akan semakin terpuruk. Gabriel menghela nafas panjang lalu bergegas memasuki
kamarnya untuk bersiap.
***
Gadis itu begitu cantik dengan balutan gaun sederhana. Gabriel
mengalihkan pandangannya pada arah lain saat gadis itu di kecup begitu mesra
oleh suaminya. Dari bahasa tubuhnyapun ia masih bisa melihat betapa cintanya Agni
pada Alvin. Betapa sayangnya Agni sama Alvin. Apakah ia akan tega menghancurkan
semuanya?
“Gabriel.”
Gabriel tersenyum ke arah Alvin lalu mengalihkan pandangan
pada Agni yang nampak kebingungan.
“Aku tinggal. Selesaikan urusan
kalian.”
Agni mengikuti Alvin dengan pandangannya. Sementara Gabriel melihatnya
dengan begitu ngilu di hati. Setelah di tinggalkan begitu saja oleh suaminya
itu, kenapa Agni masih saja menatap Alvin dengan penuh cinta?
“Aku gak tau harus selesain apa
lagi Kak. Aku juga kaget banget saat liat Kakak ada disini juga.”
Agni tersenyum pada Gabriel dengan begitu tulus. Setidaknya ia
memang telah jujur pada pemuda itu. Gabriel merengkuh wajah Agni dengan kedua
telapak tangannya, mengelusnya dengan lembut.
“Sebenernya aku dateng kesini mau
rebut kamu, tapi begitu aku liat kamu gimana cara mandang sama Alvin aku sadar,
kamu sekarang cuma sayang sama dia.”
Agni tersenyum tipis. Gabriel menarik Agni dalam pelukannya.
Pelukan perpisahan...
Gabriel mendekatkan dirinya pada Agni, semakin mendekat
hingga Agni merasakan hembusan nafas di telinganya.
“Semoga kamu bahagia Agni. Setelah
pernikahan Sivia dan Cakka, aku akan kembali ke Rusia”
Agni melepaskan pelukan itu, memandang Gabriel.
“Maaf... aku gak bisa milih kamu.
Aku udah nemuin cinta aku. Semoga kamu bahagia ya...”
Gabriel mengangguk samar. Ia masih saja tersenyum pada Agni.
Meski hatinya begitu pilu tapi ia harus tetap tegar menghadapinya. Gabriel menarik
lengan Agni untuk keluar dari cafe itu.
Dengan lembut Agni melepaskan genggaman tangan Gabriel. Ia berjalan
ke arah Alvin yang sepertinya sedang sibuk membaca sebuah dokumen.
Gabriel memerhatikan Agni dalam diam. Ia menyandarkan
tubuhnya ke dinding mobil yang terparkir cukup jauh dari keberadaan mobil Alvin.
Gabriel memperhatikannya dengan hati yang sangat sakit. Terasa
dentuman begitu keras menohok jantungnya.
Saat Gabriel hendak mendekati keduanya dengan cepat Agni mencium
Alvin dengan begitu mesranya. Agni seperti enggan melepaskan diri dari suaminya
itu. Gabriel mundur... kemudian memasuki mobilnya dan meninggalkan tempat itu
dengan tenang.
***
Sesuai janji. Gabriel berangkat ke Rusia satu minggu
berikutnya. Gabriel tidak ingin berlama-lama memikirkan Agni yang saat ini
mungkin sedang berbahagia.
Gabriel melirik gadis di sampingnya yang tertidur dengan
tenang. Wajahnya menghadap ke jendela pesawat. Ia membelai pipi gadis itu
perlahan. Ajari aku jatuh cinta...
***
Epilog.
Satu tahun kemudian...
Gabriel berjalan santai bersama dengan Shilla di pusat
perbelanjaan termegah di Jakarta. Ia memang memutuskan kembali ke tanah air
untuk menuntaskan kisah cintanya. Gabriel melirik Shilla lalu menariknya
memasuki sebuah toko perhiasan.
Shilla menatap bingung ke arah Gabriel yang sedang
berbincang dengan beberapa karyawan disana. Karyawan yang berbincang dengan Gabriel
mengangguk dan berlalu. Gabriel-pun mendekati Shilla dan duduk di sofa lain di
sebelah Shilla.
Gabriel tersenyum misterius. Saat pernahiannya terpusat pada
Shilla sosok Agni kembali hadir dalam benaknya. Bukan! Ini bukan khayalan. Tapi
kenyataan! Agni bersama Alvin berada disana, di sebuah toko yang menjual
beberapa perlengkapan... bayi.
“Tuan Gabriel... ini pesanan
anda.”
Gabriel dengan cepat melirik ke arah karyawan itu kemudian
mengangguk. Ia menerima kotak berwarna biru tua itu.
“Itu buat siapa Yel?”
Gabriel tersenyum melihat tatapan bingung sekaligus sorot
mata yang kecewa dari wajah gadis itu.
“Untuk seorang wanita yang bilang
nyesel cinta sama aku. aku mau yakinin dia kalo dia gak pantes nyesel karena
aku juga mulai mencintai dia.”
Shilla menghela nafas dalam-dalam. ia menengadah sebentar,
menahan air mata yang hendak tumpah. Apa ia akan patah hati kembali?
“Will you marry me?”
“HAH?!”
Shilla membelalakan matanya saat Gabriel mengucapkan itu. dan
itu membuat Gabriel berdecak dan menarik tangan kiri Shilla. Menyematkan cincin
bertabur berlian itu di jari manis Shilla.
“Wanita itu kamu.”
Jangan cintai aku
seperti bulan.
Yang hanya bersinar di
malam hari.
Cintai aku seperti
sungai.
Mengalir untukmu
slamanya.
Jangan cintai aku
seperti bunga.
Yang berhenti mekar
saat musim berganti.
Cintai aku seperti
udara.
Membuatmu hidup
selamanya.
***
The End.
Makasih buat yang
selama ini nungguin LY ya :)
Semoga cerita-cerita
anehku semakin banyak peminatnya :D
Sampai jumpa di BA
yang mungkin akan di lanjut besok... ternyata proyek buat cerita yang mau di
end-in itu lebih sulit daripada klimaks :)
Harap maklum ya :D
Untuk semuanya
Taqobalallah minna wamin’kum siamana wasiamakum, minal ‘aidzin walfaizin mohon
maaf lahir dan batin :)
Selamat idul fitri
1434 H. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua :)
No comments:
Post a Comment