Sunday, 25 August 2013

BIJI in Love. Part 4

~Part 4: Kesepakatan.

***

Selesai memeriksa pasiennya sore itu Agni malah di asyikan dengan memainkan game favorite nya. Game yang ia dapat dari Patton beberapa waktu lalu. Namun, suara ketukan membuyarkan konsentrasinya.

“Masuk.”

Pintu terbuka, dan seorang suster memasuki ruangannya dengan membawa sebuah buket bunga. Agni menghela nafas panjang.

“Buket bunga lagi?”
“Iya Dok. Silahkan... kalau begitu saya permisi Dok.”

Agni menghela nafas kemudian membaca pesan yang terselip lagi.

Maaf... please. Aku gak tau lagi gimana caranya minta maaf sama kamu.

Cakka.

Ini kiriman yang ke tiganya yang di terima Agni. Kenapa pria itu begitu menginginkan kata maaf nya? Ini membuat kecurigaannya muncul begitu saja. Agni meraih ponselnya mengetikan sesuatu di sana.

Iya, aku maafin.

Heran kenapa Agni bisa tau nomor ponsel Cakka? Jawabannya adalah karena Cakka menyelipkan kartu namanya pada kiriman bunga ke dua siang tadi.
Agni melirik jam yang berada di dinding ruangan itu. jam kerjanya sudah selesai. Agni segera membereskan seluruh barang-barangnya, selanjutnya segera bergegas meninggalkan ruangan itu.
Tepat saat ia memasuki mobilnya sebuah pesan masuk.

Makasih ya. kalo gak keberatan besok aku tunggu kamu di cafe depan RS. Sebagai tanda permintaan maaf dan ya... persahabatan kita.

Agni menarik ujung bibirnya. Haruskah ia menerima ajakan itu? Hm... tidak ada salahnya bukan menerima? Dan... apapun yang di rencanakan pria itu di balik permintaan maafnya dalam hati Agni bergumam. Dengan senang hati Cakka... aku ikutin permainan kamu.

***

Rio memukul stir mobilnya dengan kesal.

“Kenapa lagi sih ni mobil? Mahal-mahal mogok juga!.”

Rio meraih ponselnya.

“Saya berada di jalan Bakti, bawa derekan sekarang.”

Setelah mengucapkan itu Rio kembali memasukan ponselnya ke dalams aku celana kemudian keluar dari mobil setelah membawa barang-barangnya.
Dengan gusar Rio menatap jam tangannya. Shit! Telat!

Sebuah mobil berhenti di hadapannya, kemudian kaca mobil itu terbuka. Rio menaikan satu alisnya, heran.

“Rio? kenapa mobilnya? Yuk masuk sini.”

Rio tersenyum pada Agni yang berada di dalam mobil itu, kemudian masuk setelah pintu penumpang di buka.

“Mogok, belum di servis kali. Baru pulang ya?”

Agni membulatkan mulutnya kemudian menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Rio itu. setelah beberapa meter Agni menghentikan lagi mobilnya. Rio melirik ke arah Agni seakan bertanya kenapa?
Agni tersenyum, ia membuka sabuk pengamannya lalu keluar dan membuka pintu penumpang.

“Geser gih. Masa cewek yang nyetir.”

Rio terkekeh, mengerti dengan jalan pikiran Agni. Ia pun segera bergeser dan menginjak gas saat Agni telah duduk manis di sampingnya.

Ponsel Rio berdering, ia pun segera merogoh ponsel itu dan menerima panggilan.

“Ya Kka, kenapa?”
“Masih dimana loe? Kita udah ngumpul.”

Rio melirik Agni kemudian tersenyum kecil, membuat Agni membalas senyuman itu.

“Gue masih di jalan.”
“Cepetan!.”
“Iya.”

Setelah mengucapkan itu Rio meletakkan ponselnya di dasbor mobil Agni. Sebagaimana kebiasaannya saat dalam mobilnya sendiri.

“Lho mau kemana? Bukannya mau pulang?”

Agni berseru kaget saat Rio malah berbelok ke arah berlawanan dengan jalan menuju rumahnya yang di tempati Rio. ia menatap Rio curiga.

“Aku mau ke cafe depan dulu. Gapapakan?”

Agni menghela nafas lega kemudian mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah kaca. Tak sampai dua puluh menit mereka telah sampai di sebuah cafe yang kebetulan favorite Agni juga.

Tanpa basa basi Rio turun kemudian membukakan pintu untuk Agni.

“Mau ikut? Aku mau makan sebentar.”

Agni nampak berpikir. Ia mengerutkan dahinya saat melihat beberapa orang yang ia kenal tak jauh dari mereka. yang tadinya Agni akan mengangguk pun menggeleng dengan cepat.

“Gak usah. Aku langsung balik aja.”

Agni segera memutari mobil, lalu masuk di pintu pengemudi. Sebelum beranjak Agni membuka kaca nya lagi.

“Barang-barang kamu gak ada yang ketinggalan?”

Rio mengacungkan ponselnya dan sebuah tas pada Agni.
Agni tersenyum kecil, kemudian ia segera berpamitan dan secepatnya meninggalkan Rio.

Sepeninggal Agni, Rio segera berjalan ke arah Gabriel, Alvin dan Cakka yang ternyata sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh tanya.

“Agni?”
“Yap.  Seratus buat loe.”

Rio duduk di samping Alvin dan Cakka yang menatapnya dengan pandangan ingin membunuh.

“Santai mas bro. Gue gak sengaja kok ketemu sama dia.”

Ucapan Rio tak ada yang mengindahkan karena tepat bersamaan dengan ucapan itu seseorang datang menyapa mereka.

“Maaf, gue telat.”

Orang itu, Patton. Ia duduk di antara Gabriel dan Cakka di meja melingkar itu. ia terlihat lebih tenang dari biasanya.

“Jadi cewek loe itu Agni?”

Cakka bertanya tanpa basa basi pada Patton dengan nada dingin dan penuh intimidasi itu.
Patton menatap Cakka dengan tatapan seolah ingin menantang tatapan tajam itu.

“Bukan.”
“Terus?”

Patton mengalihkan pandangan pada Alvin, tak mengerti dengan pertanyaannya.

“Tapi cewek yang loe maksud mau loe lamar itu Agni kan?”

Patton terdiam mencerna pertanyaan Rio. ia menatap Rio dengan pandangan lebih tenang.

“Iya.”

Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka tersenyum masam. Cakka mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan emosinya sejenak.

“Dan loe tau kan kenapa kita ada di rumah Agni?”

Patton menegang saat mendengar pertanyaan dari Gabriel. Ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya kembali.

“Agni! Salah satu gadis yang di jodohkan sama kita! Di antara kita pasti ada yang dapetin Agni, kecuali loe.”

Patton menatap Cakka yang tersenyum begitu puas melihat ketakutan dari wajah Patton.

“Agni bisa aja jadi milik loe... itu pun kalo Karina bersaudara itu berlima!.”

Cakka menekan ucapannya di bagian akhir membuat Patton menyandarkan punggungnya dengan lemah. Kenapa semuanya jadi semakin runyam begini?
Setelah mengucapkan itu Cakka beranjak pergi karena ponselnya berdering nyaring.

Rio menepuk pundak Patton. Membuat Patton menoleh ke arah Rio dengan lesu.

“Makanya jadi adek itu nurut aja napa apa kata kakak-kakaknya. Udah tau di keluarga kita gak boleh ada yang di langkahin, loe sebagai bungsu nekad bilang udah mau ngelamar cewek. Kitakan udah bilang, kita akan menikah setelah kita berumur di atas tiga puluh. Kalo aja loe sabar nunggu dua tahun lagi kita juga pasti gak perlu di jodoh-jodohin.”
“Tapi kak. Gue gak pernah nyangka kalo cewek yang Mom maksud itu Karina bersaudara. Kalopun gue tau, gue bakalan kenalin Agni dulu sama mereka.”

Gabriel menghela nafas panjang. Ia menegakkan badannya.

“Udahlah, nasi udah jadi bubur. Keliatannya Cakka juga udah terlanjur benci sama loe.”

Patton melirik Cakka yang sedang disibukkan dengan ponselnya agak jauh dari mereka. ia menghela nafas. Ya... ia tau kalau Kakak nya yang satu itu membencinya. Ia bisa merasakannya juga.

“Asal loe tau. Cakka paling marah di antara kita tentang perjodohan ini. apalagi sebenernya dia sedang ada projek besar dan dengan berat hati harus meninggalkan kerjaannya. Loe tau sendirikan gimana Cakka? Dia gak pernah mau ada urusan sama yang namanya cewek. Dia marah, dia kesel. Dia juga sempet mau kabur. Tapi saat kita liat loe sama Agni. Itu cukup membuat kita panas dan bertahan.”

Patton menatap Alvin yang berucap begitu pelan. Membuat Patton menghela nafas begitu panjang.

“Kita juga sempet mau mundur dan biarin Cakka dapetin Agni. Tapi sayangnya saat gue yakin cewek yang akan loe lamar itu Agni... kita gak jadi mundur. Kita bisa bersaing secara sehat.”
“Apa mau kalian?”

Gabriel tersenyum puas dengan ketegasan adiknya itu.

“Kita lakukan kesepakatan.”

Cakka duduk kembali di tempatnya.

“Kapan rencananya loe lamar Agni? Gue harap secepatnya.”

Patton mengerutkan dahinya, ia menatap Cakka dengan pandangan aneh. Katanya mau sama Agni, kenapa malah ia yang harus cepat-cepat melamar Agni?

“Oke mungkin loe bingung. Kesepakatannya begini. Kita akan tetap mendekati Agni secara bergantian. Kita gak boleh mengganggu kebersamaan siapapun yang sedang bersama Agni.”

Patton tersenyum. Ia setuju dengan hal itu, karena sebagian besar waktunya Agni adalah bersamanya. Jadi bukankah itu suatu keuntungan untuknya?

“Khusus buat loe, kalo Agni nerima lamaran loe, kita akan mundur teratur menjauhi Agni, gak akan mencoba mendekati Agni sedikitpun. Tapi kalo ternyata Agni menolak loe, loe harus pergi jauh-jauh dari kita, dari Agni. Apapun yang akan loe lakukan itu terserah.”

Patton membelalakan matanya, ia menatap Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka bergantian.

“Gak! gue gak mau jauhin Agni.”

BRAK!

 “Emang kita mau deket-deket sama Agni? Kita jauh-jauh pulang dari tempat kerja cuma buat melakukan hal konyol kayak gini. Emang itu gara-gara siapa?”

Cakka dan Patton saling bertatapan dengan tajam. Namun, kemudian Patton mengalihkan pandangan, mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Fine! Terserah kalian.”

Patton berlalu begitu saja setelah mengatakan hal itu. ia harus bergerak cepat, tak boleh salah langkah sedikitpun.

Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka saling diam. Mereka berkutat dengan pikirannya masing-masing, memikirkan rencana yang akan mereka jalankan untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Ponsel Rio berdering, sontak membuat yang lain mengalihkan pandangan pada benda berwarna putih yang tergeletak di meja. Dalam layar tertera sebuah nama. Shilla.

“Sejak kapan loe punya hubungan sama Shilla?”

Rio menatap Gabriel yang bertanya dengan nada penuh selidik. Saat Rio hendak bicara Alvin menepuk pundaknya dan berbicara terlebih dahulu.

“Udahlah, kalo loe mau sama Shilla kan lebih enak. saingan kita kurang satu.”

Rio membulatkan matanya menanggapi ucapan Alvin. Sialan!

***

Pintu kamar Agni di ketuk dan menyembulah kepala seseorang dari balik pintu itu.

“Kamu lagi sibuk?”

Agni mengalihkan pandangan dari laptop ke arah orang itu.

“Enggak kok Fy. Masuk aja...”

Orang itu, Ify. Dia berjalan mendekati Agni dan duduk di hadapan gadis itu.

“Kamu udah jadian sama Dokter Patton?”
“HAH?! Siapa bilang?”
“Shilla, beneran udah jadian?”
“Enggak kok. Ihh Shilla mah cuma gosip aja.”

Agni menanggapi ucapan Ify dengan nada yang cepat. Membuat Ify terkekeh karena ia menyangka Agni sedang salah tingkah di tanya sespontan itu.

“Aku gak gosip kok. Bukannya emang udah jadian ya?”
“Shilla rumpi!.”

Agni melempar bantalnya pada Shilla yang sedang berdiri di ambang pintu. Membuat gadis itu tertawa lebar, geli melihat tingkah Agni yang sejak lama tak terlihat itu.

“Ya... sekarangkan kita udah restuin kalian Ni, aku juga yakin dia bener-bener sayang sama kamu. Aku udah gak takut kamu di mainin lagi sama cowok. Dokter Patton itu kayaknya gentleman banget.”

Agni memutar bola matanya.

“Naksir Shill?”
“Mmm... gimana ya? ya... setelah di pikir-pikir, Dokter Patton emang ganteng juga sih. Pinter lagi, apalagi ya Tuhan... dia itu bener-bener rasa tanggung jawabnya tinggi.”
“Ambil aja sono.”

Ify dan Shilla saling mengerlingkan matanya, jahil.

“Cie yang cemburu...”
“Ihh apaan sih kalian”

Agni melempari Shilla dan Ify bantal dan guling secara bergantian. Membuat kedua gadis itu tertawa semakin keras. Namun tawa itu seketika terhenti saat ponsel Agni berdering.

“Tumben ganti nada dering.”

Agni menaikan bahunya menanggapi ucapan Ify. Ia meraih ponsel yang berada di atas nakas nya. Ia mengerutkan keningnya.

“Siapa?”
“Gak tau Fy, nomor baru... tapi kok mirip banget sama nomor aku ya?”

Tak mau berlama-lama berkutan dengan rasa penasarannya, Agni segera mengeccept nomor tersebut.

“Hallo... Agni?”

Agni menatap Shilla dan Ify secara bergantian. Ia berdehem kecil dan menjawab dengan ragu.

“Iyaa... siapa ya?”
“Aku Rio, hape kita ketuker.”
“HAH?!”

***

Bersambung.
(~Part 5: Caper? It’s First Date)


Terimakasih udah mau baca ya :D

No comments:

Post a Comment