~Part 4: Kesepakatan.
***
Selesai memeriksa pasiennya sore itu Agni malah di asyikan
dengan memainkan game favorite nya. Game yang ia dapat dari Patton beberapa
waktu lalu. Namun, suara ketukan membuyarkan konsentrasinya.
“Masuk.”
Pintu terbuka, dan seorang suster memasuki ruangannya dengan
membawa sebuah buket bunga. Agni menghela nafas panjang.
“Buket bunga lagi?”
“Iya Dok. Silahkan... kalau
begitu saya permisi Dok.”
Agni menghela nafas kemudian membaca pesan yang terselip lagi.
Maaf...
please. Aku gak tau lagi gimana caranya minta maaf sama kamu.
Cakka.
Ini kiriman yang ke tiganya yang di terima Agni. Kenapa pria
itu begitu menginginkan kata maaf nya? Ini membuat kecurigaannya muncul begitu
saja. Agni meraih ponselnya mengetikan sesuatu di sana.
Iya, aku maafin.
Heran kenapa Agni bisa tau nomor ponsel Cakka? Jawabannya
adalah karena Cakka menyelipkan kartu namanya pada kiriman bunga ke dua siang
tadi.
Agni melirik jam yang berada di dinding ruangan itu. jam
kerjanya sudah selesai. Agni segera membereskan seluruh barang-barangnya,
selanjutnya segera bergegas meninggalkan ruangan itu.
Tepat saat ia memasuki mobilnya sebuah pesan masuk.
Makasih ya. kalo gak keberatan besok aku tunggu kamu di cafe depan RS.
Sebagai tanda permintaan maaf dan ya... persahabatan kita.
Agni menarik ujung bibirnya. Haruskah ia menerima ajakan
itu? Hm... tidak ada salahnya bukan menerima? Dan... apapun yang di rencanakan
pria itu di balik permintaan maafnya dalam hati Agni bergumam. Dengan senang hati Cakka... aku ikutin
permainan kamu.
***
Rio memukul stir mobilnya dengan kesal.
“Kenapa lagi sih ni mobil?
Mahal-mahal mogok juga!.”
Rio meraih ponselnya.
“Saya berada di jalan Bakti, bawa
derekan sekarang.”
Setelah mengucapkan itu Rio kembali memasukan ponselnya ke
dalams aku celana kemudian keluar dari mobil setelah membawa barang-barangnya.
Dengan gusar Rio menatap jam tangannya. Shit! Telat!
Sebuah mobil berhenti di hadapannya, kemudian kaca mobil itu
terbuka. Rio menaikan satu alisnya, heran.
“Rio? kenapa mobilnya? Yuk masuk
sini.”
Rio tersenyum pada Agni yang berada di dalam mobil itu,
kemudian masuk setelah pintu penumpang di buka.
“Mogok, belum di servis kali.
Baru pulang ya?”
Agni membulatkan mulutnya kemudian menganggukkan kepalanya,
menjawab pertanyaan Rio itu. setelah beberapa meter Agni menghentikan lagi
mobilnya. Rio melirik ke arah Agni seakan bertanya kenapa?
Agni tersenyum, ia membuka sabuk pengamannya lalu keluar dan
membuka pintu penumpang.
“Geser gih. Masa cewek yang
nyetir.”
Rio terkekeh, mengerti dengan jalan pikiran Agni. Ia pun
segera bergeser dan menginjak gas saat Agni telah duduk manis di sampingnya.
Ponsel Rio berdering, ia pun segera merogoh ponsel itu dan
menerima panggilan.
“Ya Kka, kenapa?”
“Masih dimana loe? Kita udah ngumpul.”
Rio melirik Agni kemudian tersenyum kecil, membuat Agni
membalas senyuman itu.
“Gue masih di jalan.”
“Cepetan!.”
“Iya.”
Setelah mengucapkan itu Rio meletakkan ponselnya di dasbor
mobil Agni. Sebagaimana kebiasaannya saat dalam mobilnya sendiri.
“Lho mau kemana? Bukannya mau
pulang?”
Agni berseru kaget saat Rio malah berbelok ke arah
berlawanan dengan jalan menuju rumahnya yang di tempati Rio. ia menatap Rio
curiga.
“Aku mau ke cafe depan dulu.
Gapapakan?”
Agni menghela nafas lega kemudian mengangguk dan mengalihkan
pandangannya ke arah kaca. Tak sampai dua puluh menit mereka telah sampai di
sebuah cafe yang kebetulan favorite Agni juga.
Tanpa basa basi Rio turun kemudian membukakan pintu untuk
Agni.
“Mau ikut? Aku mau makan
sebentar.”
Agni nampak berpikir. Ia mengerutkan dahinya saat melihat
beberapa orang yang ia kenal tak jauh dari mereka. yang tadinya Agni akan
mengangguk pun menggeleng dengan cepat.
“Gak usah. Aku langsung balik
aja.”
Agni segera memutari mobil, lalu masuk di pintu pengemudi.
Sebelum beranjak Agni membuka kaca nya lagi.
“Barang-barang kamu gak ada yang
ketinggalan?”
Rio mengacungkan ponselnya dan sebuah tas pada Agni.
Agni tersenyum kecil, kemudian ia segera berpamitan dan
secepatnya meninggalkan Rio.
Sepeninggal Agni, Rio segera berjalan ke arah Gabriel, Alvin
dan Cakka yang ternyata sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh tanya.
“Agni?”
“Yap. Seratus buat loe.”
Rio duduk di samping Alvin dan Cakka yang menatapnya dengan
pandangan ingin membunuh.
“Santai mas bro. Gue gak sengaja
kok ketemu sama dia.”
Ucapan Rio tak ada yang mengindahkan karena tepat bersamaan
dengan ucapan itu seseorang datang menyapa mereka.
“Maaf, gue telat.”
Orang itu, Patton. Ia duduk di antara Gabriel dan Cakka di
meja melingkar itu. ia terlihat lebih tenang dari biasanya.
“Jadi cewek loe itu Agni?”
Cakka bertanya tanpa basa basi pada Patton dengan nada
dingin dan penuh intimidasi itu.
Patton menatap Cakka dengan tatapan seolah ingin menantang
tatapan tajam itu.
“Bukan.”
“Terus?”
Patton mengalihkan pandangan pada Alvin, tak mengerti dengan
pertanyaannya.
“Tapi cewek yang loe maksud mau
loe lamar itu Agni kan?”
Patton terdiam mencerna pertanyaan Rio. ia menatap Rio
dengan pandangan lebih tenang.
“Iya.”
Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka tersenyum masam. Cakka
mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan emosinya sejenak.
“Dan loe tau kan kenapa kita ada
di rumah Agni?”
Patton menegang saat mendengar pertanyaan dari Gabriel. Ia
menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya kembali.
“Agni! Salah satu gadis yang di
jodohkan sama kita! Di antara kita pasti ada yang dapetin Agni, kecuali loe.”
Patton menatap Cakka yang tersenyum begitu puas melihat
ketakutan dari wajah Patton.
“Agni bisa aja jadi milik loe...
itu pun kalo Karina bersaudara itu berlima!.”
Cakka menekan ucapannya di bagian akhir membuat Patton
menyandarkan punggungnya dengan lemah. Kenapa semuanya jadi semakin runyam
begini?
Setelah mengucapkan itu Cakka beranjak pergi karena
ponselnya berdering nyaring.
Rio menepuk pundak Patton. Membuat Patton menoleh ke arah
Rio dengan lesu.
“Makanya jadi adek itu nurut aja
napa apa kata kakak-kakaknya. Udah tau di keluarga kita gak boleh ada yang di
langkahin, loe sebagai bungsu nekad bilang udah mau ngelamar cewek. Kitakan
udah bilang, kita akan menikah setelah kita berumur di atas tiga puluh. Kalo
aja loe sabar nunggu dua tahun lagi kita juga pasti gak perlu di
jodoh-jodohin.”
“Tapi kak. Gue gak pernah nyangka
kalo cewek yang Mom maksud itu Karina bersaudara. Kalopun gue tau, gue bakalan
kenalin Agni dulu sama mereka.”
Gabriel menghela nafas panjang. Ia menegakkan badannya.
“Udahlah, nasi udah jadi bubur.
Keliatannya Cakka juga udah terlanjur benci sama loe.”
Patton melirik Cakka yang sedang disibukkan dengan ponselnya
agak jauh dari mereka. ia menghela nafas. Ya... ia tau kalau Kakak nya yang
satu itu membencinya. Ia bisa merasakannya juga.
“Asal loe tau. Cakka paling marah
di antara kita tentang perjodohan ini. apalagi sebenernya dia sedang ada projek
besar dan dengan berat hati harus meninggalkan kerjaannya. Loe tau sendirikan
gimana Cakka? Dia gak pernah mau ada urusan sama yang namanya cewek. Dia marah,
dia kesel. Dia juga sempet mau kabur. Tapi saat kita liat loe sama Agni. Itu
cukup membuat kita panas dan bertahan.”
Patton menatap Alvin yang berucap begitu pelan. Membuat
Patton menghela nafas begitu panjang.
“Kita juga sempet mau mundur dan
biarin Cakka dapetin Agni. Tapi sayangnya saat gue yakin cewek yang akan loe
lamar itu Agni... kita gak jadi mundur. Kita bisa bersaing secara sehat.”
“Apa mau kalian?”
Gabriel tersenyum puas dengan ketegasan adiknya itu.
“Kita lakukan kesepakatan.”
Cakka duduk kembali di tempatnya.
“Kapan rencananya loe lamar Agni?
Gue harap secepatnya.”
Patton mengerutkan dahinya, ia menatap Cakka dengan
pandangan aneh. Katanya mau sama Agni, kenapa malah ia yang harus cepat-cepat
melamar Agni?
“Oke mungkin loe bingung.
Kesepakatannya begini. Kita akan tetap mendekati Agni secara bergantian. Kita
gak boleh mengganggu kebersamaan siapapun yang sedang bersama Agni.”
Patton tersenyum. Ia setuju dengan hal itu, karena sebagian
besar waktunya Agni adalah bersamanya. Jadi bukankah itu suatu keuntungan
untuknya?
“Khusus buat loe, kalo Agni
nerima lamaran loe, kita akan mundur teratur menjauhi Agni, gak akan mencoba
mendekati Agni sedikitpun. Tapi kalo ternyata Agni menolak loe, loe harus pergi
jauh-jauh dari kita, dari Agni. Apapun yang akan loe lakukan itu terserah.”
Patton membelalakan matanya, ia menatap Gabriel, Alvin, Rio
dan Cakka bergantian.
“Gak! gue gak mau jauhin Agni.”
BRAK!
“Emang kita mau deket-deket sama Agni? Kita
jauh-jauh pulang dari tempat kerja cuma buat melakukan hal konyol kayak gini. Emang
itu gara-gara siapa?”
Cakka dan Patton saling bertatapan dengan tajam. Namun,
kemudian Patton mengalihkan pandangan, mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Fine! Terserah kalian.”
Patton berlalu begitu saja setelah mengatakan hal itu. ia
harus bergerak cepat, tak boleh salah langkah sedikitpun.
Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka saling diam. Mereka berkutat
dengan pikirannya masing-masing, memikirkan rencana yang akan mereka jalankan
untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Ponsel Rio berdering, sontak membuat
yang lain mengalihkan pandangan pada benda berwarna putih yang tergeletak di
meja. Dalam layar tertera sebuah nama. Shilla.
“Sejak kapan loe punya hubungan
sama Shilla?”
Rio menatap Gabriel yang bertanya dengan nada penuh selidik.
Saat Rio hendak bicara Alvin menepuk pundaknya dan berbicara terlebih dahulu.
“Udahlah, kalo loe mau sama
Shilla kan lebih enak. saingan kita kurang satu.”
Rio membulatkan matanya menanggapi ucapan Alvin. Sialan!
***
Pintu kamar Agni di ketuk dan menyembulah kepala seseorang
dari balik pintu itu.
“Kamu lagi sibuk?”
Agni mengalihkan pandangan dari laptop ke arah orang itu.
“Enggak kok Fy. Masuk aja...”
Orang itu, Ify. Dia berjalan mendekati Agni dan duduk di
hadapan gadis itu.
“Kamu udah jadian sama Dokter
Patton?”
“HAH?! Siapa bilang?”
“Shilla, beneran udah jadian?”
“Enggak kok. Ihh Shilla mah cuma
gosip aja.”
Agni menanggapi ucapan Ify dengan nada yang cepat. Membuat
Ify terkekeh karena ia menyangka Agni sedang salah tingkah di tanya sespontan
itu.
“Aku gak gosip kok. Bukannya
emang udah jadian ya?”
“Shilla rumpi!.”
Agni melempar bantalnya pada Shilla yang sedang berdiri di
ambang pintu. Membuat gadis itu tertawa lebar, geli melihat tingkah Agni yang
sejak lama tak terlihat itu.
“Ya... sekarangkan kita udah
restuin kalian Ni, aku juga yakin dia bener-bener sayang sama kamu. Aku udah
gak takut kamu di mainin lagi sama cowok. Dokter Patton itu kayaknya gentleman
banget.”
Agni memutar bola matanya.
“Naksir Shill?”
“Mmm... gimana ya? ya... setelah
di pikir-pikir, Dokter Patton emang ganteng juga sih. Pinter lagi, apalagi ya
Tuhan... dia itu bener-bener rasa tanggung jawabnya tinggi.”
“Ambil aja sono.”
Ify dan Shilla saling mengerlingkan matanya, jahil.
“Cie yang cemburu...”
“Ihh apaan sih kalian”
Agni melempari Shilla dan Ify bantal dan guling secara
bergantian. Membuat kedua gadis itu tertawa semakin keras. Namun tawa itu
seketika terhenti saat ponsel Agni berdering.
“Tumben ganti nada dering.”
Agni menaikan bahunya menanggapi ucapan Ify. Ia meraih
ponsel yang berada di atas nakas nya. Ia mengerutkan keningnya.
“Siapa?”
“Gak tau Fy, nomor baru... tapi
kok mirip banget sama nomor aku ya?”
Tak mau berlama-lama berkutan dengan rasa penasarannya, Agni
segera mengeccept nomor tersebut.
“Hallo... Agni?”
Agni menatap Shilla dan Ify secara bergantian. Ia berdehem
kecil dan menjawab dengan ragu.
“Iyaa... siapa ya?”
“Aku Rio, hape kita ketuker.”
“HAH?!”
***
Bersambung.
(~Part 5: Caper? It’s
First Date)
Terimakasih udah mau baca ya :D
No comments:
Post a Comment