Wednesday, 21 August 2013

BIJI in Love. Part 3

~Part 3: Persaingan.

***

Agni memakai jaketnya sebelum keluar dari kamar. Suhu yang cukup rendah membuat tangan dan kakinya terasa begitu ngilu, giginya juga bergerutuk kedinginan.

“Bu... lagi masak?”

Agni menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang berkutat di dapur. Ia berdiri di samping wanita itu sambil menuangkan air hangat.

“Eh Non, iya. Den Patton memang selalu sarapan jadi saya harus masak pagi-pagi gini.”

Agni mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. ia menyandarkan tubuhnya ke kichenset sambil menikmati minumannya.

“Patton sukanya susu, teh atau kopi Bu?”

Wanita itu menoleh ke arah Agni sambil tersenyum.

“Susu Non, kalo Non biasanya apa? Biar nanti saya buatkan.”
“Gak usah Bu, biar aku aja. Susu nya di kulkas kan?”
“Iya Non.”

Agni berjalan ke arah lemari pendingin itu kemudian mengambil sekotak susu lalu menuangkannya. Agni tersenyum kecil, ternyata benar apa kata Patton. Kita gak beda jauh, banyak kesamaan.

“Lagi ngapain?”
“Eh...” Agni menoleh dengan cepat karena kaget, ia memukul lengan Patton gemas. “Patton! Ngagetin deh.”

Patton terkekeh melihat ekspresi wajah Agni yang begitu lucu dimatanya.

“Ngetawain lagi! Nih.”

Patton menerima sebuah gelas yang telah di isi penuh oleh susu putih. Ia masih terkekeh kecil melihat Agni yang berlalu begitu saja dari hadapannya. Kemudian ia mengejar gadis itu, meminta maaf.

Aminah, wanita paruh baya tadi. Tersenyum senang saat melihat Patton terlihat bahagia seperti itu. Tak pernah sekali pun ia melihat majikannya seceria itu. semoga Tuhan selalu memberi kebahagiaan padamu.

***

Siang harinya di Bogor, Agni  mengunjungi salah satu rumah sakit milik Patton. Semua karyawan, suster dan para Dokter serta petinggi rumah sakit memberi salam penghormatan pada Patton dan Agni. Patton sebagai pemilik memperkenalkan Agni pada semuanya yang di tanggapi dengan suka cita oleh semuanya. Bagaimana tidak? Patton selama ini tidak pernah membawa siapapun ke tempat ini, dan sekarang? Dia membawa seorang gadis yang begitu cantik.

Lebih cepat dari perkiraan, sore hari setelah mengunjungi rumah sakit itu Agni dan Patton telah berjalan lagi menuju ibu kota, dikarenakan ada seorang pasien yang harus secepatnya di operasi esoknya di rumah sakit lain. Di perjalanan Patton banyak bercerita tentang pengalamannya di kota hujan itu. Dari mulai pendirian dan sampai saat ini.

Agni dan Patton sesekali tanpa sengaja bertatapan yang akan di akhiri mengalihkan pandangan ke arah lain dengan tanpa mereka sadari satu samalain saling salah tingkah.

“Enak banget disana deh. Apalagi mereka pada ramah-ramah.”

Patton tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan ke arah Agni. Sepertinya ia tak akan lagi menoleh ke arah Agni saat itu.

“Iya, mereka emang ramah. Gak akan pernah bosen deh kalo disana.”

Agni mengangguk setuju, selanjutnya mereka berbincang ringan. Sesekali mereka terkekeh kecil menanggapi candaan Patton atau Agni.

“Hujan, mampir dulu yuk.”

Patton menatap Agni ragu, selama ini ia tau kalau saudara-saudara Agni memang seakan tak pernah menerimanya saat bersama Agni. Meski mereka tidak menunjukannya. Tapi, diagnosanya sebagai Dokter membuatnya sadar lebih awal.

“Gak ke rumah Opa kok. Aku mau ngambil mobil dulu ke rumah aku. yuk.”

Agni menatap Patton meyakinkan. Membuat Patton mengangguk dan kembali fokus ke jalanan.

***

Sore hari waktu yang tepat untuk berkumpul bagi Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka. Mereka memang selalu meluangkan waktu saat jam-jam seperti itu, baik waktu bekerja ataupun sekarang.
Gabriel sibuk dengan gitarnya, Alvin dengan gadget-nya, Rio dengan laptop dan Cakka malah menyibukkan diri dengan kertas gambarnya.

“Kali ini gue bener-bener ada kerjaan nih. Gak bisa di tinggalin, gimana?”

Rio melirik Cakka yang duduk di belakangnya.

“Gak bisa secara online? Lebih baik loe pikirin Mom deh daripada kerjaan. Gue gak tega liat Mom sedih gara-gara kita.”

Cakka menghela nafas panjang. Posisi yang benar-benar membuatnya bingung, antara orang tua dan karir. Ia menyimpan kertas gambarnya di meja, menatap kakak-kakak nya secara bergantian.

“Beri gue satu alesan buat gue gak minggat dari sini.”

Gabriel, Alvin dan Rio saling berpandangan.

“Agni.”

Cakka terkekeh. Ia menarik poninya ke belakang.

“Belum cukup cuma Agni? Alesan kayak gimana lagi yang loe mau?”

Pertanyaan dari Gabriel tak di tanggapi siapapun saat terdengar suara Agni dari arah dapur. Ke empatnya menoleh ke arah pintu dapur dengan pandangan penuh tanya.

Rahang Cakka mengeras saat melihat Agni ternyata bersama seorang pria. Cemburu? Bukan, ini sebuah alasan yang lebih besar dari sesuatu yang di sebut cemburu.
Setali tiga uang dengan Cakka. Gabriel, Alvin dan Rio juga menatap tak suka pada pria yang bersama Agni. Pria yang belum menyadari tatapan membunuh dari ke empatnya.

Agni melirik dengan ekor matanya ke arah empat orang yang sedang memperhatikannya. Ia menarik ujung bibirnya, pandangan mereka seperti itu cukup membuat Agni menyadari sesuatu. Mereka, tertarik padanya, sesuatu yang tak ingin terjadi.

Agni mencoba tak mempedulikan hal itu, ia menatap Patton yang sedari tadi malah mengobrol dengan pengurus rumahnya. Ia menarik Patton agar menghadapnya.

“Kamu istirahat aja dulu”

Patton tersenyum, ia mengelus puncak kepala Agni dengan gemas. Sepertinya Agni memang calon istri yang pengertian. Mengerti di saat pasangan lelah, mengerti apapun keperluannya. Sehari saja bersama Agni, membuatnya tau kalau Agni... begitu istimewa.

“Kamu juga. Aku istirahatnya dimana?”
“Di kamar aku.”
“Apa?”

Belum sempat memastikan apa yang di dengar. Agni malah dengan semangatnya menarik Patton. Hingga, Patton menyadari keberadaan orang lain selain mereka dan pengurus rumah. Patton diam di tempat. Masih mencerna apa yang ia lihat. Apa ini mimpi?

“Patton...”
“Eh... dimana tadi?”

Patton mengalihkan pandangannya pada Agni yang terus menarik tangannya. Ia berusaha sebiasa mungkin dalam ke adaan setegang ini.

“Ya kamu istirahat di kamar akulah... semua kamar tamu udah penuh.”

Saat Agni menarik tangan Patton, pria itu masih diam. Membuat Agni terkekeh. Ia mendekatkan diri pada Patton untuk berbisik.

“Kamu di kamar aku, aku di kamar orang tua aku.”

Agni menyeringai saat menjauh dari Patton, ia juga mengedipkan mata dan tersenyum menggoda. Patton terkekeh melihatnya kemudian mengikuti Agni menaiki satu persatu tangga menuju tempat yang akan ia tempati.

“SHIT!!!”

Cakka memukul keras kursi yang ia duduki. Ia menggeram keras, nafasnya begitu memburu menahan marah. Tak pernah ia meledak seperti ini, amarah yang telah mencapai ke ubun-ubun cukup membuatnya ingin pecah.

“Jadi Agni?”

Rio bergumam, bertanya pada dirinya sendiri. Rahangnya mengatup keras, mencoba untuk tidak meledakkan amarahnya. Ia harus berusaha mengontrol dirinya sendiri. Rio mengusap kasar wajahnya.

“Gua gak habis pikir! Pokoknya gua harus dapetin Agni!.”
“Vin!.”

Cakka membentak Alvin yang sekarang malah dengan terang-terangan ingin merebut Agni. Bukannya kemaren semuanya sepakat akan membantunya mendapatkan Agni? Tapi sekarang?

“Sorry Kka... kali ini gue gak bisa ngalah.”

Cakka mengalihkan pandangannya pada Gabriel yang tak kunjung mengeluarkan suara. Ia menatap Gabriel dengan tajam.

“Gue juga gak. gue gak bisa mundur.”

Cakka mendengus, lalu mengalihkan pandangan pada Rio.

“Loe Yo?”
“Gue juga enggak.” Rio menutup wajahnya sekilas, menghilangkan emosinya sejenak. “Kita bersaing secara sehat. Tanpa ada cara licik.”

Cakka menggeram kesal. Tapi, mau tak mau ia harus menyetujui apa kata kakak-kakaknya. Ini emang harus fair.

“Oke.”

Cakka berucap sambil berdiri, ia menyambar ponselnya yang tergeletak di meja kemudian beranjak menuju kamarnya.
Tak lama disusul oleh Alvin yang juga beranjak menuju kamarnya juga.

“Kenapa harus Agni Yel?”

Rio melirik ke arah Gabriel yang pandangan matanya masih mencari mangsa untuk di bunuh. Rio menghela nafas bingung saat melihat Gabriel masih mengepalkan tangan tanda kemarahannya.

“Dia yang buat kita semua balik. Tapi kenapa dia juga....”
“Argh!”

Erangan kesal Gabriel menghentikan ucapan Rio. Gabriel begitu kesal, dan itu semua bukan tanpa alasan. Alasan klise? Lebih dari itu. alasan yang begitu besar. Sangat besar!

“Gue masak dulu.”

Rio menatap Gabriel yang berlalu begitu saja tanpa menanggapi segala ucapannya. Rio menghela nafas, tak pernah ada yang bisa menahan emosi Gabriel kecuali dirinya sendiri. Cakka yang temperamental pun masih kalah tempramental oleh Gabriel yang dari luar terlihat begitu tenang.

Saat Rio hendak beranjak terdengar sebuah ketukan sepatu yang bertumbukan dengan lantai yang terdengar begitu cepat mendekat memasuki rumah itu tanpa permisi. Lalu meneriakan sebuah nama.

“AGNI?!”

***

Agni keluar dari kamar orang tuanya begitu selesai membersihkan badan. Ia berjalan ke arah sebuah bingkai foto yang begitu besar yang tertata rapih di ruang keluarga di lantai atas itu. tatapan penuh rindu terpancar dari iris mata Agni, senyumnya pun terlihat begitu getir.

“Ayah... Ibu... Agni kangen kalian.”

Agni merasakan sesuatu yang hangat membasai kedua pipinya. Orang tuanya meninggal pada sebuah kecelakaan beruntun pada saat ia berusia 8 tahun. Tepat 15 tahun yang lalu. Agni yang seharusnya masih merasakan kasih sayang sari kedua orang tua harus merelakan kepergian mereka. meski kadang rindu yang begitu dalam akan menyergap, tapi bukankah itu wajar?

Agni duduk di kursi yang menghadap bingkai foto itu. ia memejamkan mata. Dan saat seperti inilah, ia bisa merasakan keberadaan orang tuanya.

“Ibu juga rindu kamu sayang... Ayah juga.”

Agni tersenyum tipis saat mendengarkan bisikan halus itu, bisikan yang entah nyata atau halusinasi saja.

“Ibu... Ayah... Agni pengen ketemu.”

Setelah mengucapkan itu, Agni merasakan sebuah tangan hangat membelai kedua pipinya. Agni meraih tangan itu kemudian memeluknya.

“Terimakasih Tuhan...”

Agni menyandarkan dirinya. Ia menghela nafas dalam-dalam, bersiap kehilangan lagi.

“Tuhan akan menempatkan orang tua kamu disisi-Nya yang paling istimewa”

Agni membuka matanya, tepat saat itu pandangannya bertemu dengan tatapan mata yang begitu menenangkan dan menyejukkan hati. Ia tersenyum kecil.

“Amin.”

“AGNI!”

Dengan cepat Agni menjauhkan diri dari Patton yang duduk di sebelahnya, kemudian mengalihkan pandangan.

“Shilla.”
“Jadi ini tugasnya? Bagus!”

Agni berjalan mendekati Shilla yang menatapnya dengan tajam. Agni menghela nafas panjang.

“Aku baru aja sampe. Kamu sendiri tau dari Sivia kan?”

Shilla tersenyum masam. Ia menatap Agni dengan pandangan gemas.
Sivia memang telah lebih dahulu menelpon Agni tadi tepat saat Agni sampai di kamar untuk beristirahat.

“Kenapa gak langsung pulang? Dan kenapa Dokter itu juga ada disini.”

Agni melirik ke arah Patton. Tenang.... tenang...

“Tadi hujan jadi...”
“Bisakan pulang sekarang?”
“SHILL! Rumah Patton masih jauh! Hujannya deras! Lagian aku berhak ajak siapapun kesini! Kamu kenapa sih?! Aku udah dewasa Shil! Bisa bedain mana yang baik mana yang enggak buat aku!”

Agni dan Shilla saling melempar pandangan. Shilla menghela nafas panjang.

“Oke. Terserah kamu... Aku cuma peduli sama kamu karena aku, Ify sama Sivia sayang sama kamu. Kita khawatir kamu kenapa-kenapa.”

Agni memeluk Shilla dan bergumam.

“Maaf... iya aku ngerti.” Agni melepaskan pelukannya. “Tapi, kamu bisakan percaya sama aku? lagian... mana mungkin Patton nyakitin aku. dia juga gak akan apa-apain aku. please percaya.”

Patton yang sedari tadi hanya melihat pun akhirnya mendekat. Ia menghela nafas panjang.

“Shill, kamu bisa andelin aku. aku gak akan pernah berbuat macem-macem sama Agni. Aku juga sayang sama Agni. Aku gak bakalan nyakitin dia.”

Shilla tersenyum saat melihat tatapan penuh keyakinan dari Patton. Ia menepuk pundak Patton, mendekatinya.

“Kalo itu pernyataan cinta. Semoga Agni juga gitu ya...”

Patton tersenyum masam mendengar bisikan Shilla itu. ia mengiringi kepergian Shilla dengan tatapannya.

“Patton?”

Patton melirik ke arah Agni yang menatapnya dengan senyuman lega.

“Makasih ya.”

Patton menarik ujung bibirnya.

“Untuk?”

Agni menghela nafas panjang dan bergumam.

“Semuanya.”

***

Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka telah berkumpul di meja makan bersama dua orang gadis, Shilla dan Sivia. Sivia, datang untuk menyusul Shilla yang tak pernah bisa menahan emosinya. Tapi untungnya saat ia datang, Shilla telah duduk dengan santai bersama Rio di ruang keluarga.

“Sorry ya kalo agak aneh. Aku gak bisa masak.”

Sivia berucap beujar saat pengurus rumah Agni membawa satu persatu hidangan makan malam yang di buat Sivia.

“Gue liat langsung loe masak. Kayaknya gak mungkin banget loe gak bisa masak.”

Sivia terkekeh kecil sementara Shilla memutar bola matanya geli melihat kelakuan Sivia yang selalu menyembunyikan identitasnya.

“Wih kayaknya enak tuh. Masakan Sivia ya?”

Seluruh pandangan beralih pada Agni yang baru saja turun beriringan dengan Patton. Agni duduk di kursi yang menghadap pada semuanya, sementara Patton duduk di sebelah kanannya.

Cakka mengatupkan rahangnya, menatap tajam pada Patton yang meliriknya sekilas. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. ia tak mungkin menunjukkan sikap seperti ini di hadapan Agni. Enggak!!!

“Chef, apa tema malam ini?”

Agni bertanya seolah tak menyadari tatapan membunuh itu. ia malah menatap ke arah makanan yang sangat menggoda lidah itu.

“Ekhm... oriental... mungkin.”

Setelah perbincangan itu mereka makan dalam diam. Apa kalian berpikir Gabriel, Alvin dan Rio tidak merasakan kekesalan yang sama dengan Cakka? Kalau iya, maka kalian salah. Justru mereka dengan susah payah mengatur emosinya. Tentu saja untuk Agni. Memang ada wanita yang menyukai seorang lelaki yang labil?

Rio meneguk minumannya setelah selesai menyantap makan malamnya. Ia berdehem kecil.

“Agni...”

Agni mengalihkan pandangannya dari Patton pada Rio. sebelum menjawab, ia meneguk sedikit dahulu minumannya.

“Ya... kenapa?”

Rio menghela nafas berat, kemudian dengan susah payah ia menyunggingkan senyumannya yang menurut kaum hawa begitu eksotis, membuat hati dengan sekejap menjadi meleleh.

“Kamu Dokter ya?”

Agni masih diam. Ia mengerjabkan matanya menyadarkan dirinya sendiri dari kekagetan. Bagaimana mungkin orang baru ini tau profesinya? Bukannya ia tak pernah membahas masalah ini pada mereka?. Agni melirik Shilla dan Sivia yang juga menatap Agni aneh. Ia menatap Rio kembali.

“Emang aku pantes ya jadi Dokter?”

Agni berbalik bertanya pada Rio, berusaha setenang mungkin. Rio tersenyum menanggapinya, saat ia hendak membuka suara menjawab, Cakka menyela ucapannya.

“Melihat profesi seseorang itu berawal dari teman dekatnya, bukan begitu... Dokter Patton?”

Agni seketika menoleh ke arah Cakka, menatap geram pada pria itu. lalu mengalihkan pandangan pada Patton, menarik ujung kaus Patton.

Patton tergugup, ia tak menyangka akan terseret dalam perbincangan itu. Dalam hati ia terus berusaha menenangkan dirinya sendiri. Patton menoleh pada Agni tersenyum begitu manis pada gadis itu. kemudian menatap Cakka, masih dengan senyumannya.

“Mungkin.”

Damn! Cakka benci senyuman itu!.

***

Agni duduk sendiri di pinggir kolam renang di belakang rumahnya. Beberapa saat lalu, Patton berpamitan untuk beristirahat. Sementara Shilla dan Sivia pulang. Agni bertahan dengan alasan tidak enak meninggalkan Patton sendiri bersama 4 pria yang seakan ingin memakannya bulat-bulat itu. Agni tau, Agni sadar. Empat pria itu membenci Patton, entah apa alasannya. Yang pasti, itu sepertinya alasan yang begitu kuat.

“Boleh gue disini?”

Agni menoleh ke sampingnya. Gabriel telah duduk disana, ia tersenyum pada pria itu.

“Silahkan.”

Lama... tak ada perbincangan dari keduanya, hanya ada suara petikan-petikan gitar dari Gabriel. Gabriel melirik Agni yang hanya diam dengan tatapan kosong, entah memikirkan apa.

“Agni...”
“Hm.”

Agni menoleh lamban pada Gabriel.

“Jadi bener kamu Dokter?.”

Agni terkekeh kecil. Ia duduk bersila menghadap Gabriel.

“Kok nanyanya itu terus sih? Emangnya kenapa kalo aku Dokter?”

Gabriel menggaruk tengkuknya, bingung. Ia tersenyum begitu aneh.

“Pengen tau aja.”
“Oh...” Agni menghela nafas. “Iya, masih proses.”

Gabriel menghela nafas panjang. Jadi bener?

“Kamu pinter banget maen gitarnya. Tau gak kalo cowok yang pintar main alat musik kayak gitar, piano itu romantis?”

Kali ini Gabriel yang terkekeh sambil memutar badan untuk menghadap Agni juga. Jadilah meraka saling berhadapan. Gabriel tersenyum.

DEG!

Senyum itu...
Agni mengerjabkan matanya beberapa kali. Berusaha menetralisir detak jantungnya yang terasa melompat itu.

“ehm... a.aku ke kamar dulu ya.” Agni berdiri dengan cepat, ia tersenyum kaku. “Bye.”

Agni berlalu dengan cepat dari hadapan Gabriel. Membuat Gabriel menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru kali ini ia melihat Agni dengan wajah merona merah begitu. Gabriel menghembuskan nafas lega. Semoga itu pertanda baik.

***

Agni duduk di ruang makan bersama Patton untuk menikmati sarapannya.

“Non, ada kiriman.”
“Mana Bu?”

Agni meraih buket bunga yang baru saja di serahkan padanya. Agni menaikan satu alisnya heran, belum pernah ia menerima kiriman seperti ini lengkap dengan sebuah kertas kecil.

Maaf ya... aku buat kamu kesel terus dari awal kita ketemu.

Cakka.

Agni menarik ujung bibirnya. Romantis juga... Agni menggelengkan kepalanya pelan. Hus! Apaan sih kamu Agni... mikir apa coba? Cakka? Cowok sengak itu romantis? Pasti ngayal! Enggak enggak!

Saat terdengar perbincangan beberapa orang Agni segera menyimpan bunga itu di kursi sebelahnya, mencoba mengacuhkan bunga cantik itu.

“Eh... hai Agni, selamat pagi.”

Agni tersenyum dengan kaku.

“Pagi, Gabriel, Rio dan errm... Cakka.”

Cakka menatap Agni yang menghindari tatapannya. Saat ia handak duduk pandangannya tertarik pada sesuatu. Cakka menghela nafas, itu bunga kirimannya. Apa kesalahannya belum di maafkan?
Kenapa sulit sekali? Ini memang kesalahannya, salah karena awal perkenalan mereka Cakka terlalu ceroboh dan arogan. Apalagi yang harus ia lakukan?

“Alvin mana?”
“Chef disini. Gimana sarapannya? Enak? sesuai gak sama seleranya Dokter?”

Agni menoleh ke arah pintu dapur yang di ambangnya berdiri Alvin dengan spatula di tangannya, berlaga seperti chef pada umumnya. Agni terkekeh kecil.

“Hebat, sebagai seorang design interior ternyata kamu pinter masak juga.”

Alvin tersenyum masam. Kemudian duduk bergabung dengan yang lain.
Agni tersenyum jahil.

“Aku suka lho cowok yang pinter masak.”

Ucapan Agni cukup membuat yang lainnya terdiam dengan tatapan menatap Agni.
Agni terkekeh melihat reaksi ke lima pria di hadapannya itu.

“Yaudah silahkan makan jangan pada liatin aku gitu dong.”

***

Bersambung.

~Part 4: Kesepakatan.

1 comment:

  1. aaiiishhh ><
    sumpahh ..inii Kerennn...
    tp bingung ama alurnya .. si agni mw milih siapa dr ke 5 laki2 itu?trus apa hubungannya cakka,alvin,iel,io sama patton kok kyaknya mereka gak suka ya ?? #walopunaqjugasih hehehehhe
    parts selanjutnya di ttg looo :D

    ReplyDelete