~Part 2: Meeting.
***
Cakka dengan tergesa berlari menuruni tangga rumah yang luas
nan mewah itu. Tas ransel yang cukup besar menghiasi punggungnya.
“Mom...”
Cakka berseru sambil melirik kesana kemari mencari
keberadaan Ibunya.
“Iya. Kenapa kok teriak-teriak
gitu?”
Zahra, Ibu Cakka. Ia keluar dari dapur dan meletakkan
beberapa makanan di meja makan. Cakka kemudian mendekatinya dan duduk di salah
satu kursi itu.
“Aku harus kembali. Ada klien
yang nunggu aku.”
“Jangan berbohong!”
Zahra berucap tanpa mengalihkan pandangan pada puteranya
itu. Ia sibuk merapihkan meja makan yang sebentar lagi akan penuh oleh suami
dan anak-anaknya.
“Ini se...”
“Mommy udah bilang sama asisten
kamu kalo sementara pekerjaan kamu di pegang dia dulu. Lagian kan Mom udah
bilang, kamu, kalian semua kuliah lagi disini.”
“Tapi Mom...”
“Dad... Gabriel, Rio, Alvin...
sarapan siap sayang...”
Zahra berteriak nyaring memanggil suami dan anaknya. Tanpa
menghiraukan Cakka yang kesal karena di abaikan.
“Mom! Listen to me!.”
Zahra menghela nafas lalu berdiri di dekat Cakka. Ia tau
betul bagaimana sifat anaknya yang satu ini. begitu menghindari sama yang
namanya pacaran, apalagi menikah. Mungkin dia akan menikah di usia yang akan
mencapai kepala empat. Untuk itulah ia melakukan ini.
“Kita sudah bicarakan ini Cakka.
Saudara-saudara kamu yang lain juga sudah setuju. Gadis-gadis itu tidak seburuk
seperti yang kamu pikirkan... lagian, apa salahnya kalian gak jauh dari Mom
selama satu sampai dua tahun ini? kadang Mom berpikir kalo kalian emang gak mau
deket sama Mom dan Dad, bahkan yang tinggalnya sama-sama satu kota pun lebih
memilih beli rumah sendiri. Atau kamu emang gak suka tinggal di Jakarta lagi?.”
Zahra mengecup puncak kepala Cakka, menenangkan. Ia berbisik
pada Cakka.
“Jangan di bahas lagi. Dad kamu
sudah turun. Bersikap manislah sayang.”
Zahra menegakkan tubuhnya lalu berjalan pada kursi yang
berada tepat di depan Cakka. Untuk sekarang, Cakka hanya bisa pasrah. Alasan
terakhir yang nyangkut di dalam otaknya pun ternyata gagal juga.
***
Agni mengeluarkan beberapa kaus dan atasan seperti kemeja
yang berbahan chiffon, tak lupa juga ia mengeluarkan celana yang biasa ia pakai
dan jeans. Setelah merapihkan barang-barang itu pda kopornya Agni meraih sepatu
pantopel untuk di bawanya, dan di taruh di bawah tempat tidur tepat di dekat
kopor kecilnya.
“Agni.”
Agni menengok ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ia
tersenyum pada Sivia yang berjalan mendekatinya.
“Mau kemana? Bawa kopor segala?”
Sivia bertanya sambil menyantap kue yang bertabur coklat
hasil masakannya. Ia duduk di sofa tak jauh dari Agni.
“Ke Bogor, sekitar... ya... dua
hari lah.”
Agni menggulung rambutnya dengan jepitan yang biasa ia pakai
itu. setelah merasa rapih kemudian ia memakai sepatu kets nya. Setelah itu Agni
mengangkat kopor dan meraih pantopelnya.
“Kok gak ngajak sih? Dengan
senang hati aku ngambil cuti kok.”
Sivia berucap sambil mengelap coklat yang nempel dengan
santai di ujung-ujung bibirnya.
“Aku mau kerja Via... udah ah, buru-buru
nih. Kebetulan hari ini yang kontrak rumah bakalan dateng ke rumah yang
disana.”
“Yaudah. Good luck ya.”
Agni hanya mengangguk menanggapi ucapan Sivia. Ia berjalan
dengan santai menuruni tangga rumah. Saat ia keluar dari rumah ia bertemu
dengan Riva yang sedang menyiram tanamannya.
“Lho, kamu langsung ke Bogor? Gak
ke rumah sakit dulu?”
Agni tersenyum pada Riva, ia mendekati Oma nya.
“Enggak Oma, kebetulan pasien
Agni udah pulang dan pasien yang baru katanya mau di tanganin sama Dokter
Patton sementara.”
“Terus? Kamu mau kemana dulu?”
“Agni mau ketemu sama yang mau
ngontrak rumah dulu. Baru entar sore berangkat. Udah dulu ya Oma.”
Agni menyalami Riva kemudian mengecup pipi Oma nya itu
dengan sayang.
Agni menginterupsikan pada pengurus rumah untuk memasukan
barangnya ke dalam mobil yang sudah siap di pakai itu.
“Agni pamit Oma, dah...”
Agni memasuki mobil sport berwarna merah itu kemudian
menjalankannya dengan tenang. Sepanjang perjalanan Agni hanya diam sambil
mendengarkan musik yang di putar dengan volume kecil.
Hingga dalam waktu yang hampir satu jam Agni telah sampai di
depan pintu gerbang rumah yang bergaya modern yang di padukan dengan minimalis,
halaman yang cukup luas semakin mempercantik bangunan itu. sesampainya di dalam
Agni memarkirkan mobilnya kedalam garasi yang bisa memuat hingga delapan mobil
sejenis yang ia pakai dan beberapa motor serta sepeda.
“Pak... tolong turunin
barang-barang aku, simpen aja di ruang tamu. Sore ini aku langsung berangkat
lagi.”
“Baik Non.”
Agni berjalan memasuki kediamannya lewat pintu dari arah
garasi tanpa harus memutar melalui pintu utama. Sesampainya di dapur Agni
langsung menyambar apron putihnya dan mengeluarkan beberapa bahan makanan dari
dalam kulkasnya.
“Non, biar Ibu saja yang masak.”
Agni menengok pada seorang wanita paruh baya pengelola
rumahnya ini sekaligus kepala seluruh pekerja disini.
“Gak usah Bu, biar Agni aja. Ibu
mendingan tolong liatin yang mau ngontrak. Kalo udah ada kasih tau aku ya.”
“Baik Non.”
Perempuan paruh baya itu kemudian meninggalkan Agni yang
sesaat kemudian sibuk menyiapkan makan siang sebagai sambutan untuk tamu nya,
dari cold appetizer, hot appetizer, main course dan dessert. Sebagaimana
kebiasaannya dalam menu makanan sehari-hari.
Pekerjaan yang Agni lakukan satu jam kemudian rampung,
tinggal menata dan membagi-bagi saja. Bertepatan dengan itu terdengarlah suara
deruan yang sepertinya beberapa mobil terlah berhenti di halaman rumahnya. Agni
mempercepat pekerjaannya hingga ia mendengar percakapan-percakapan dari beberapa
orang yang baru memasuki rumahnya.
“Gue penasaran sama pemilik rumah
ini.”
Agni mengangkat satu alisnya saat mendengar ucapan dengan
nada yang cukup berat namun halus itu. seberapa penarasankah? Agni hanya
menarik ujung bibirnya. Setelah semua makanan siap Agni melepas apron dan
menghampiri beberapa orang yang kini duduk di ruang tamunya.
“Selamat siang.”
Empat orang yang berada di ruangan itu dengan kompak
menengok. Waktu seakan berhenti saat pandangan mereka bertemu dengan pandangan
dingin dari mata Agni.
Agni sedikit berdehem.
“Selamat datang disini. Kediaman
Adelheid. Perkenalkan saya Karina Agnira, pemilik rumah ini.”
Agni berjalan mendekat ke arah mereka. secara otomatis
keempatnya berdiri memberi hormat.
“Sebutkan nama dan pekerjaan kalian.”
Seorang pemuda menjabat tangan Agni yang memandang begitu
dingin.
“Gue Gabriel... gue cuma seorang
pengamen.”
Gabriel tersenyum tipis pada Agni yang tak pernah mengubah
ekspresinya itu.
Seorang pemuda mendekati.
“Gue Cakka... cuma tukang gambar
amatiran.”
Selanjutnya yang mirip sama Cakka mendekat.
“Gue Alvin... tukang meubel, cari
bahan bangunan.”
Dalam hati gadis itu merengut. Lalu mengalihkan pada pemuda
terakhir. Pekerjaan apa lagi dia?
“Gue Mario... bisa di bilang gue
cuma petani biasa.”
Gadis itu terseyum masam.
“Oke! Gue minta... 200Juta buat
ngontrak rumah mewah gue ini selama setahun.”
Keempat pemuda itu tersenyum dengan gaya masing-masing.
Dalam hati mereka... sepertinya misi itu tidak terlalu buruk dan keempatnya
bergumam dalam hati mereka. Gue mau dia
dan dia harus jadi milik gue!
Cakka yang tadinya menentang pun sekarang menjadi berbanding
terbalik dari ke adaan sebelum datang ke tempat ini. setidaknya, gadis yang
satu ini sepertinya berbeda dengan gadis lain.
Dengan gaya bahasa tubuh Agni mempersilahkan pada keempatnya
untuk duduk di sofa yang panjang tepat dihadapannya yang duduk di sofa single.
“200juta meliputi, seluruh
alat-alat yang ada di lantai dasar bisa kalian pakai. Karena seluruh peralatan
mewah memang ada di lantai dasar. Yang kedua, yang menggaji karyawan disini
tetap saya. Kalian juga bisa menyimpan mobil di garasi yang sangat aman. Itu
mungkin sebegai kelebihannya.”
Agni sedikit menarik nafas karena tak ada sedikitpun
tanggapan dari keempat pria itu, yang ada hanya tatapan penuh padanya, entah
kagum atau apa, yang jelas hanyalah mereka memandangi Agni seakan Agni akan
menghilang begitu saja saat mereka berkedip.
“Yang tidak saya fasilitasi
adalah... kalian masak sendiri. Gak ada koki yang saya gaji selama saya gak ada
di rumah.”
Cakka tersenyum kecil.
“Masak? Masalah kecil lagi, kita
emang udah biasa masak sendiri.”
Agni tersenyum masam. Ia sedikit melirik Cakka dengan sebal
kemudian melirik pada yang lainnya secara bergantian.
“Peraturan yang saya buat tolong
catat dalam memori kalian. Pertama, kalian gak boleh ada yang menginjakkan kaki
di lantai dua. Yang kedua, gak boleh ada perabotan rumah ini yang bergeser
seincipun dari tempat semula. Yang ketiga, kalian... gak boleh bawa wanita
apapun statusnya ke rumah ini, kecuali Mama kalian. Yang keempat, kalian harus
pulang dan sampai di rumah ini di bawah jam 10 malam. Kalau kalian pulang lebih
dari itu kalian gak akan pernah bisa masuk ke dalam sampai pagi.”
Gabriel menghela nafas kemudian tersenyum tipis ke arah
Agni. Ia cukup puas dengan peraturan itu, tak begitu memberatkannya.
“Ada aturan untuk melarang yang
mengontrak tidak boleh tertarik pada pemilik rumah gak?”
Gabriel, Rio dan Alvin mengalihkan pandangannya pada Cakka.
Belum mengerti dengan jalan pikiran pria itu. sementara Agni masih diam
mencerna perkataan pria itu, tapi sedetik kemudian ia tersenyum tipis.
“Gak ada, kalian berhak tertarik
pada siapapun.”
Agni berdiri kemudian melempar senyuman tersinisnya pada
Cakka.
“Sepertinya kamu sangat yakin
merasa tertarik dengan pemilik rumah.”
Cakka dan Agni saling beradu pandang cukup lama hingga
ponsel Agni terdengar berdering dan membuat Agni berpaling.
“Jangan terlalu pede untuk
menarik seseorang.”
Agni berucap sambil sesaat kemudian ia berlalu dari hadapan
keempatnya. Ia menaiki tangga dengan tergesa untuk segera mencapai kamarnya.
Cakka menatap Agni hingga garis itu menghilang. Entah
kenapa, ucapan dari gadis itu seakan menantang nyali kelaki-lakiannya. Setelah
sekian lama tidak tertarik dengan mahkluk halus seperti wanita, akhirnya saat
ini ia merasakan ketertarikan itu. ketertarikan untuk pertama kali dalam
sejarah hidupnya.
“Mulai suka wanita bro?”
Cakka mengalihkan pandangannya pada Alvin. Ia tersenyum
menggoda pada kakaknya itu.
“Tenang aja lagi Vin, kalo pun
gue tertarik sama dia gue gak bakalan lupain loe kok.”
Alvin memutar bola matanya kesal. Begitupun dengan Gabriel
dan Rio yang selalu mengerti dengan arah ucapan Cakka.
“Gak usah gitu deh. Lagian
beberapa negara membolehkan kan menikah sesama...”
“Shut up! Jangan gegabah deh Kka
kalo ngomong.”
Cakka terkikik kecil melihat Alvin yang selalu kesal dengan
candaan yang seperti itu. ia memang paling suka menggoda kakaknya yang satu
itu.
“Udah deh. Kalian tuh udah tua.
Gak usah berantem kayak anak SD terus.”
Alvin melirik ke arah Rio dengan kesal.
“Loe aja sono yang udah tua. Gue
masih muda, fresh.”
Di tengah candaan-candaan itu Agni turun dari lantai dua
dengan pakaian barunya. Sepertinya Agni telah selesai membersihkan badannya
setelah berkutat cukup lama di dapur.
Cakka paling pertama mengalihkan pandangan, ia tersenyum
kagum melihat gadis itu. apalagi dengan kacamata yang bertengger indah di
wajahnya. Membuat kesan eksotis tersendiri baginya.
“Sebagai tuan rumah... saya sudah
menyiapkan hidangan penyambut untuk kalian. Mari kita makan siang.”
Agni berjalan paling depan. Di belakangnya di ikuti oleh
Gabriel, Rio, Alvin dan Cakka.
Di meja makan telah terhidang beberapa piring untuk satu
orang yang di sajikan dalam 5 porsi. Cukup membuat keempatnya bengong.
“Silahkan. Ini appetizer, ini
main course, dan yang ini dessert. Selamat menikmati.”
Agni duduk di kursi tunggal sementara keempat yang lain
duduk saling berhadapan. Suasana makanpun cukup sepi tanpa ada pembicaraan yang
berarti.
“Ini semua kamu yang buat?”
Agni meneguk minumannya kemudian mengalihkan pandangan pada
Rio yang bertanya secara tiba-tiba itu.
“Ya... begitulah.”
Kali ini Agni mengakhiri ucapannya dengan senyuman yang
begitu manis. Kemudian menyantap makanan terakhir.
“Porsi makanan yang cukup besar
ya? emang gak takut gendut atau apa gitu?”
Agni terkekeh kecil mendengar pertanyaan Alvin.
“Gendut gak gendut yang pernting
asupan gizi seimbang. Bukan begitu?”
Alvin menganggukkan kepalanya. Dalam pikirannya ia mulai
merangkai sesuatu tentang Agni, yang cuek dengan penampilannya dan lebih
mementingkan kesehatan. Satu yang ia tangkap dari awal, gadis itu tidak
menggunakan sepatu high heels sebagaimana trend sekarang. Mungkin itu juga
alasannya karena memakai kets lebih menyehatkan daripada memakai sejenis wedges
atau semacamnya.
“Calon istri yang sempurna.”
Kali ini Agni mendelik ke arah Cakka yang berucap dengan
nada yang di buat-buat. Kenapa pria itu selalu nyeletuk tidak mengenakan sih?
Tidak nyambung pula. Dalam hatinya ia menggerutu sebal. Cakka itu seolah
menyindir dengan ucapan yang seperti itu, apalagi dengan nada datar di
buat-buat itu. Itu seolah... mengejek! Benar-benar membuat hatinya cukup panas.
Agni menghela nafas panjang kemudian mengalihkan pandangan
pada arlojinya. Dalam hati Agni tersenyum lega karena sebentar lagi Patton akan
segera datang. Namun, belum juga Agni menyelesaikan mengamati arlojinya sebuah
klakson membahana terdengar dari pekarangan rumahnya.
“Oke. Sepertinya pertemuan kita
kali ini cukup sampai disini. Bye... dan semoga betah.”
Agni berjalan ke arah ruang keluarga untuk membawa
barang-barangnya. Namun, ia kembali lagi ke arah ruang makan.
Keempatnya memandang Agni dengan pandangan penuh tanya.
Agni tersenyum masam.
“Pembayaran paling lambat lusa.”
Setelah mengatakan itu Agni tersenyum semanis mungkin
kemudian berjalan begitu saja. Meninggalkan keempatnya yang masih diam terpaku
di tempat. Entah kenapa... tapi mereka merasa jantungnya berdetak semakin
kencang, melebihi biasanya.
***
Agni tersenyum pada Patton yang telah duduk di bangku
kemudi, Patton pun membalas senyuman itu. Patton berdehem.
“Sepertinya di rumah kamu banyak
orang. Kalo boleh tau ada siapa ya?”
Agni tersenyum kecil, ia membuka botol air mineral yang
sedari tadi ia pegang. Lalu mengalihkan pandangannya pada Patton.
“Iya emang banyak orang. Mereka mau
ngontrak rumah aku, ya... sekitar 2 tahunan lah.”
Patton mengangguk-anggukan kepalanya mengerti tanpa berucap
apapun lagi. Hingga Agni membuyarkan konsentrasi Patton pada jalanan.
“Dokter udah makan siang?”
“Patton aja, ini bukan rumah
sakit kan?”
Agni tersenyum dan mengangguk kaku.
“Udah makan siang?”
“Kebetulan belum, rencananya
nanti di jalan ada makanan favorite aku.”
“Padahal aku udah bawain lho dari
rumah. Jadi mau gimana?”
Patton mengerutkan keningnya, ia melirik Agni sekilas.
“Buat aku?”
Agni mengangguk pasti, cukup membuat hati Patton bersorak
gembira dan berbunga-bunga. Namun di wajahnya hanya terpatri senyum kecil dan
bergumam.
“Makasih ya...”
Agni tersenyum untuk kesekian kalinya lalu mengangguk. Ia mengalihkan
pandangan pada kaca di sampingnya, menatap jalanan yang begitu padat. Agni menarik
nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya erat. Ia harus meneguhkan hatinya
sekarang, ia tak bisa terus terpesona dengan senyuman Dokter tampan itu.
meskipun secara ahasa tubuh ia bisa menguasai, tapi hatinya? Ia harus lebih
pintar menguasai hatinya agar tidak terlihat ia tertarik pada Dokter itu.
***
Malam hari Agni dan Patton sampai ke tempat tujuan. Sebuah villa
yang cukup sederhana namun halamannya begitu luas. Senyuman Agni merekah, ini
benar-benar tempat yang ia idam-idamkan. Rumah sederhana dengan halaman yang
luas di tambah udara disini begitu sejuk dan tidak terjangkit polusi.
“Suka?”
Agni melirik Patton yang telah berdiri di sampingnya dengan
memamerkan senyuman mautnya. Agni secepatnya mengalihkan pandangan ke arah vila
itu.
“Suka.”
“Tepat seperti dugaanku. Yuk masuk.”
Patton membawa kopornya dan kopor Agni, sementara Agni membawa
pantopelnya dan makanan yang belum sempat Patton makan. Ia mengekori Patton
memasuki vila itu.
“Kamu mendingan bersih-bersih
dulu biar aku panasin makanannya, kamu kan belum makan.”
Patton menghela nafas, ia membalikan badannya menghadap Agni.
“Biar pengurus disini aja yang
manasin, kamu mandi aja.”
“Tapi... suhunya...”
“Gapapa, kamar kamu yang itu,
yang disana kamar aku.”
Agni mengangguk, beberapa saat kemudian ia beranjak menuju
kamar yang telah di tunjukan Patton. Ia merebahkan tubuhnya di atas pembaringan
yang sangat nyaman, tepat di saat itu ponselnya berdering.
“Iya Fy, kenapa?”
Agni menelungkupkan badannya.
“Kata Oma kamu ke Bogor, sama
siapa?”
Agni membelalakan matanya, ia mengatur nafasnya agar tidak
gugup dalam menjawabnya. Tenang Agni...
tenang...
“Sama Patton.. ekhm maksud aku
Dokter Patton.”
“Mau ngapain?”
Agni menelan ludah sukar saat mendengar suara lain yang ia
kenal sebagai suara Shilla, terdengar begitu dingin dan datar. Shilla pasti marah, duh...
“Ada kerjaan. Kalo gak percaya
tanya aja sama Dokter Patton.”
Agni mendengar perdebatan di ujung sana, yang ia tangkap
hanya pembelaan Ify pada Agni. Ia tau, Sivia tidak begitu mengurusi urusan
siapapun, dia begitu tidak peduli dengan orang lain. dia hanya akan turun
tangan jika di butuhkan.
“Udah Fy, Shil, gak usah ribut. Lagian
aku gapapa kok.”
“Agni tapi loe...”
“Shilla. Diem!”
Agni mematikan sambungan telepon itu kemudian beranjak ke
kamar mandi. Kenapa sih ia selalu tidak di percaya? Apa karena ia paling kecil
di antara ke empatnya. Mereka berempat memang teleh sepakat untuk tidak
berdekatan dengan pria mana pun, kalaupun ingin memiliki kekasih harus di
setujui oleh saudaranya yang lain. tapi, apa kurangnya Patton kalau iya Agni mau
sama dia? Padahal, ini... belum tentu.
***
Agni duduk di beranda belakang vila itu, di sebuah kursi
panjang. Agni menghela nafas panjang. Aku
udah dewasa. Aku pantes jalanin apa yang aku mau. Ya... walaupun ada
kesepakatan, apa mereka berhak ngatur aku? ini juga menyangkut karir. Apa mereka
gak ngerti? Aku aja gak pernah mempermasalahkan mereka. tapi kenapa...?
Agni mengalihkan pandangan ke sampingnya saat ia merasakan
seseorang duduk disana.
“Ini udah malem, sebaiknya kamu
istirahat.”
Agni menghela nafas. Ia menatap ke arah depan lagi.
“Ada masalah?”
Patton menatap Agni yang tak kunjung buka suara. Ia menghela
nafas panjang kemudian menarik kepala Agni menuju pundaknya. Agni tak menolak,
ia memang butuh sandaran sekarang. Tapi untuk berbicara... ia rasa belum
pantas.
Agni merasa matanya mulai berat, di tambah lagi dengan
elusan-elusan kecil pada puncak kepalanya. Kenyamanan yang selama ini ia cari. Hingga
Agni merasakan tubuhnya melayang dan secara refleks ia memeluk sesuatu sebagai
pegangan.
Patton merebahkan Agni ke pembaringan. Ia mengelus kening Agni
sesaat lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Agni. Sebelum beranjak ia
memandangi Agni sekilas kemudian mendekat.
“Selamat malam... semoga mimpi
indah.”
Setelah mengucapkan itu ia beranjak. Berlama-lama di tempat
itu membuat dirinya tidak karuan. Jantungnya juga berpacu begitu cepat saat
menatap wajah damai Agni. Apakah ini yang di sebut cinta? Patton menghela
nafas. Jangan terlalu berharap, belum
tentu Agni merasakan hal yang sama.
Patton bergumam dalam hati, menguatkan dirinya sendiri.
***
Bersambung.
No comments:
Post a Comment