Sunday, 18 August 2013

BIJI in Love. Part 2

~Part 2: Meeting.

***

Cakka dengan tergesa berlari menuruni tangga rumah yang luas nan mewah itu. Tas ransel yang cukup besar menghiasi punggungnya.

“Mom...”

Cakka berseru sambil melirik kesana kemari mencari keberadaan Ibunya.

“Iya. Kenapa kok teriak-teriak gitu?”

Zahra, Ibu Cakka. Ia keluar dari dapur dan meletakkan beberapa makanan di meja makan. Cakka kemudian mendekatinya dan duduk di salah satu kursi itu.

“Aku harus kembali. Ada klien yang nunggu aku.”
“Jangan berbohong!”

Zahra berucap tanpa mengalihkan pandangan pada puteranya itu. Ia sibuk merapihkan meja makan yang sebentar lagi akan penuh oleh suami dan anak-anaknya.

“Ini se...”
“Mommy udah bilang sama asisten kamu kalo sementara pekerjaan kamu di pegang dia dulu. Lagian kan Mom udah bilang, kamu, kalian semua kuliah lagi disini.”
“Tapi Mom...”
“Dad... Gabriel, Rio, Alvin... sarapan siap sayang...”

Zahra berteriak nyaring memanggil suami dan anaknya. Tanpa menghiraukan Cakka yang kesal karena di abaikan.

“Mom! Listen to me!.”

Zahra menghela nafas lalu berdiri di dekat Cakka. Ia tau betul bagaimana sifat anaknya yang satu ini. begitu menghindari sama yang namanya pacaran, apalagi menikah. Mungkin dia akan menikah di usia yang akan mencapai kepala empat. Untuk itulah ia melakukan ini.

“Kita sudah bicarakan ini Cakka. Saudara-saudara kamu yang lain juga sudah setuju. Gadis-gadis itu tidak seburuk seperti yang kamu pikirkan... lagian, apa salahnya kalian gak jauh dari Mom selama satu sampai dua tahun ini? kadang Mom berpikir kalo kalian emang gak mau deket sama Mom dan Dad, bahkan yang tinggalnya sama-sama satu kota pun lebih memilih beli rumah sendiri. Atau kamu emang gak suka tinggal di Jakarta lagi?.”

Zahra mengecup puncak kepala Cakka, menenangkan. Ia berbisik pada Cakka.

“Jangan di bahas lagi. Dad kamu sudah turun. Bersikap manislah sayang.”

Zahra menegakkan tubuhnya lalu berjalan pada kursi yang berada tepat di depan Cakka. Untuk sekarang, Cakka hanya bisa pasrah. Alasan terakhir yang nyangkut di dalam otaknya pun ternyata gagal juga.

***

Agni mengeluarkan beberapa kaus dan atasan seperti kemeja yang berbahan chiffon, tak lupa juga ia mengeluarkan celana yang biasa ia pakai dan jeans. Setelah merapihkan barang-barang itu pda kopornya Agni meraih sepatu pantopel untuk di bawanya, dan di taruh di bawah tempat tidur tepat di dekat kopor kecilnya.

“Agni.”

Agni menengok ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ia tersenyum pada Sivia yang berjalan mendekatinya.

“Mau kemana? Bawa kopor segala?”

Sivia bertanya sambil menyantap kue yang bertabur coklat hasil masakannya. Ia duduk di sofa tak jauh dari Agni.

“Ke Bogor, sekitar... ya... dua hari lah.”

Agni menggulung rambutnya dengan jepitan yang biasa ia pakai itu. setelah merasa rapih kemudian ia memakai sepatu kets nya. Setelah itu Agni mengangkat kopor dan meraih pantopelnya.

“Kok gak ngajak sih? Dengan senang hati aku ngambil cuti kok.”

Sivia berucap sambil mengelap coklat yang nempel dengan santai di ujung-ujung bibirnya.

“Aku mau kerja Via... udah ah, buru-buru nih. Kebetulan hari ini yang kontrak rumah bakalan dateng ke rumah yang disana.”
“Yaudah. Good luck ya.”

Agni hanya mengangguk menanggapi ucapan Sivia. Ia berjalan dengan santai menuruni tangga rumah. Saat ia keluar dari rumah ia bertemu dengan Riva yang sedang menyiram tanamannya.

“Lho, kamu langsung ke Bogor? Gak ke rumah sakit dulu?”

Agni tersenyum pada Riva, ia mendekati Oma nya.

“Enggak Oma, kebetulan pasien Agni udah pulang dan pasien yang baru katanya mau di tanganin sama Dokter Patton sementara.”
“Terus? Kamu mau kemana dulu?”
“Agni mau ketemu sama yang mau ngontrak rumah dulu. Baru entar sore berangkat. Udah dulu ya Oma.”

Agni menyalami Riva kemudian mengecup pipi Oma nya itu dengan sayang.
Agni menginterupsikan pada pengurus rumah untuk memasukan barangnya ke dalam mobil yang sudah siap di pakai itu.

“Agni pamit Oma, dah...”

Agni memasuki mobil sport berwarna merah itu kemudian menjalankannya dengan tenang. Sepanjang perjalanan Agni hanya diam sambil mendengarkan musik yang di putar dengan volume kecil.

Hingga dalam waktu yang hampir satu jam Agni telah sampai di depan pintu gerbang rumah yang bergaya modern yang di padukan dengan minimalis, halaman yang cukup luas semakin mempercantik bangunan itu. sesampainya di dalam Agni memarkirkan mobilnya kedalam garasi yang bisa memuat hingga delapan mobil sejenis yang ia pakai dan beberapa motor serta sepeda.

“Pak... tolong turunin barang-barang aku, simpen aja di ruang tamu. Sore ini aku langsung berangkat lagi.”
“Baik Non.”

Agni berjalan memasuki kediamannya lewat pintu dari arah garasi tanpa harus memutar melalui pintu utama. Sesampainya di dapur Agni langsung menyambar apron putihnya dan mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkasnya.

“Non, biar Ibu saja yang masak.”

Agni menengok pada seorang wanita paruh baya pengelola rumahnya ini sekaligus kepala seluruh pekerja disini.

“Gak usah Bu, biar Agni aja. Ibu mendingan tolong liatin yang mau ngontrak. Kalo udah ada kasih tau aku ya.”
“Baik Non.”

Perempuan paruh baya itu kemudian meninggalkan Agni yang sesaat kemudian sibuk menyiapkan makan siang sebagai sambutan untuk tamu nya, dari cold appetizer, hot appetizer, main course dan dessert. Sebagaimana kebiasaannya dalam menu makanan sehari-hari.

Pekerjaan yang Agni lakukan satu jam kemudian rampung, tinggal menata dan membagi-bagi saja. Bertepatan dengan itu terdengarlah suara deruan yang sepertinya beberapa mobil terlah berhenti di halaman rumahnya. Agni mempercepat pekerjaannya hingga ia mendengar percakapan-percakapan dari beberapa orang yang baru memasuki rumahnya.

“Gue penasaran sama pemilik rumah ini.”

Agni mengangkat satu alisnya saat mendengar ucapan dengan nada yang cukup berat namun halus itu. seberapa penarasankah? Agni hanya menarik ujung bibirnya. Setelah semua makanan siap Agni melepas apron dan menghampiri beberapa orang yang kini duduk di ruang tamunya.

“Selamat siang.”

Empat orang yang berada di ruangan itu dengan kompak menengok. Waktu seakan berhenti saat pandangan mereka bertemu dengan pandangan dingin dari mata Agni.

Agni sedikit berdehem.

“Selamat datang disini. Kediaman Adelheid. Perkenalkan saya Karina Agnira, pemilik rumah ini.”

Agni berjalan mendekat ke arah mereka. secara otomatis keempatnya berdiri memberi hormat.

“Sebutkan nama dan pekerjaan kalian.”

Seorang pemuda menjabat tangan Agni yang memandang begitu dingin.

“Gue Gabriel... gue cuma seorang pengamen.”

Gabriel tersenyum tipis pada Agni yang tak pernah mengubah ekspresinya itu.
Seorang pemuda mendekati.

“Gue Cakka... cuma tukang gambar amatiran.”

Selanjutnya yang mirip sama Cakka mendekat.

“Gue Alvin... tukang meubel, cari bahan bangunan.”

Dalam hati gadis itu merengut. Lalu mengalihkan pada pemuda terakhir. Pekerjaan apa lagi dia?

“Gue Mario... bisa di bilang gue cuma petani biasa.”

Gadis itu terseyum masam.

“Oke! Gue minta... 200Juta buat ngontrak rumah mewah gue ini selama setahun.”

Keempat pemuda itu tersenyum dengan gaya masing-masing. Dalam hati mereka... sepertinya misi itu tidak terlalu buruk dan keempatnya bergumam dalam hati mereka. Gue mau dia dan dia harus jadi milik gue!

Cakka yang tadinya menentang pun sekarang menjadi berbanding terbalik dari ke adaan sebelum datang ke tempat ini. setidaknya, gadis yang satu ini sepertinya berbeda dengan gadis lain.

Dengan gaya bahasa tubuh Agni mempersilahkan pada keempatnya untuk duduk di sofa yang panjang tepat dihadapannya yang duduk di sofa single.

“200juta meliputi, seluruh alat-alat yang ada di lantai dasar bisa kalian pakai. Karena seluruh peralatan mewah memang ada di lantai dasar. Yang kedua, yang menggaji karyawan disini tetap saya. Kalian juga bisa menyimpan mobil di garasi yang sangat aman. Itu mungkin sebegai kelebihannya.”

Agni sedikit menarik nafas karena tak ada sedikitpun tanggapan dari keempat pria itu, yang ada hanya tatapan penuh padanya, entah kagum atau apa, yang jelas hanyalah mereka memandangi Agni seakan Agni akan menghilang begitu saja saat mereka berkedip.

“Yang tidak saya fasilitasi adalah... kalian masak sendiri. Gak ada koki yang saya gaji selama saya gak ada di rumah.”

Cakka tersenyum kecil.

“Masak? Masalah kecil lagi, kita emang udah biasa masak sendiri.”

Agni tersenyum masam. Ia sedikit melirik Cakka dengan sebal kemudian melirik pada yang lainnya secara bergantian.

“Peraturan yang saya buat tolong catat dalam memori kalian. Pertama, kalian gak boleh ada yang menginjakkan kaki di lantai dua. Yang kedua, gak boleh ada perabotan rumah ini yang bergeser seincipun dari tempat semula. Yang ketiga, kalian... gak boleh bawa wanita apapun statusnya ke rumah ini, kecuali Mama kalian. Yang keempat, kalian harus pulang dan sampai di rumah ini di bawah jam 10 malam. Kalau kalian pulang lebih dari itu kalian gak akan pernah bisa masuk ke dalam sampai pagi.”

Gabriel menghela nafas kemudian tersenyum tipis ke arah Agni. Ia cukup puas dengan peraturan itu, tak begitu memberatkannya.

“Ada aturan untuk melarang yang mengontrak tidak boleh tertarik pada pemilik rumah gak?”

Gabriel, Rio dan Alvin mengalihkan pandangannya pada Cakka. Belum mengerti dengan jalan pikiran pria itu. sementara Agni masih diam mencerna perkataan pria itu, tapi sedetik kemudian ia tersenyum tipis.

“Gak ada, kalian berhak tertarik pada siapapun.”

Agni berdiri kemudian melempar senyuman tersinisnya pada Cakka.

“Sepertinya kamu sangat yakin merasa tertarik dengan pemilik rumah.”

Cakka dan Agni saling beradu pandang cukup lama hingga ponsel Agni terdengar berdering dan membuat Agni berpaling.

“Jangan terlalu pede untuk menarik seseorang.”

Agni berucap sambil sesaat kemudian ia berlalu dari hadapan keempatnya. Ia menaiki tangga dengan tergesa untuk segera mencapai kamarnya.

Cakka menatap Agni hingga garis itu menghilang. Entah kenapa, ucapan dari gadis itu seakan menantang nyali kelaki-lakiannya. Setelah sekian lama tidak tertarik dengan mahkluk halus seperti wanita, akhirnya saat ini ia merasakan ketertarikan itu. ketertarikan untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya.

“Mulai suka wanita bro?”

Cakka mengalihkan pandangannya pada Alvin. Ia tersenyum menggoda pada kakaknya itu.

“Tenang aja lagi Vin, kalo pun gue tertarik sama dia gue gak bakalan lupain loe kok.”

Alvin memutar bola matanya kesal. Begitupun dengan Gabriel dan Rio yang selalu mengerti dengan arah ucapan Cakka.

“Gak usah gitu deh. Lagian beberapa negara membolehkan kan menikah sesama...”
“Shut up! Jangan gegabah deh Kka kalo ngomong.”

Cakka terkikik kecil melihat Alvin yang selalu kesal dengan candaan yang seperti itu. ia memang paling suka menggoda kakaknya yang satu itu.

“Udah deh. Kalian tuh udah tua. Gak usah berantem kayak anak SD terus.”

Alvin melirik ke arah Rio dengan kesal.

“Loe aja sono yang udah tua. Gue masih muda, fresh.”

Di tengah candaan-candaan itu Agni turun dari lantai dua dengan pakaian barunya. Sepertinya Agni telah selesai membersihkan badannya setelah berkutat cukup lama di dapur.

Cakka paling pertama mengalihkan pandangan, ia tersenyum kagum melihat gadis itu. apalagi dengan kacamata yang bertengger indah di wajahnya. Membuat kesan eksotis tersendiri baginya.

“Sebagai tuan rumah... saya sudah menyiapkan hidangan penyambut untuk kalian. Mari kita makan siang.”

Agni berjalan paling depan. Di belakangnya di ikuti oleh Gabriel, Rio, Alvin dan Cakka.

Di meja makan telah terhidang beberapa piring untuk satu orang yang di sajikan dalam 5 porsi. Cukup membuat keempatnya bengong.

“Silahkan. Ini appetizer, ini main course, dan yang ini dessert. Selamat menikmati.”

Agni duduk di kursi tunggal sementara keempat yang lain duduk saling berhadapan. Suasana makanpun cukup sepi tanpa ada pembicaraan yang berarti.

“Ini semua kamu yang buat?”

Agni meneguk minumannya kemudian mengalihkan pandangan pada Rio yang bertanya secara tiba-tiba itu.

“Ya... begitulah.”

Kali ini Agni mengakhiri ucapannya dengan senyuman yang begitu manis. Kemudian menyantap makanan terakhir.

“Porsi makanan yang cukup besar ya? emang gak takut gendut atau apa gitu?”

Agni terkekeh kecil mendengar pertanyaan Alvin.

“Gendut gak gendut yang pernting asupan gizi seimbang. Bukan begitu?”

Alvin menganggukkan kepalanya. Dalam pikirannya ia mulai merangkai sesuatu tentang Agni, yang cuek dengan penampilannya dan lebih mementingkan kesehatan. Satu yang ia tangkap dari awal, gadis itu tidak menggunakan sepatu high heels sebagaimana trend sekarang. Mungkin itu juga alasannya karena memakai kets lebih menyehatkan daripada memakai sejenis wedges atau semacamnya.

“Calon istri yang sempurna.”

Kali ini Agni mendelik ke arah Cakka yang berucap dengan nada yang di buat-buat. Kenapa pria itu selalu nyeletuk tidak mengenakan sih? Tidak nyambung pula. Dalam hatinya ia menggerutu sebal. Cakka itu seolah menyindir dengan ucapan yang seperti itu, apalagi dengan nada datar di buat-buat itu. Itu seolah... mengejek! Benar-benar membuat hatinya cukup panas.

Agni menghela nafas panjang kemudian mengalihkan pandangan pada arlojinya. Dalam hati Agni tersenyum lega karena sebentar lagi Patton akan segera datang. Namun, belum juga Agni menyelesaikan mengamati arlojinya sebuah klakson membahana terdengar dari pekarangan rumahnya.

“Oke. Sepertinya pertemuan kita kali ini cukup sampai disini. Bye... dan semoga betah.”

Agni berjalan ke arah ruang keluarga untuk membawa barang-barangnya. Namun, ia kembali lagi ke arah ruang makan.

Keempatnya memandang Agni dengan pandangan penuh tanya.
Agni tersenyum masam.

“Pembayaran paling lambat lusa.”

Setelah mengatakan itu Agni tersenyum semanis mungkin kemudian berjalan begitu saja. Meninggalkan keempatnya yang masih diam terpaku di tempat. Entah kenapa... tapi mereka merasa jantungnya berdetak semakin kencang, melebihi biasanya.

***

Agni tersenyum pada Patton yang telah duduk di bangku kemudi, Patton pun membalas senyuman itu. Patton berdehem.

“Sepertinya di rumah kamu banyak orang. Kalo boleh tau ada siapa ya?”

Agni tersenyum kecil, ia membuka botol air mineral yang sedari tadi ia pegang. Lalu mengalihkan pandangannya pada Patton.

“Iya emang banyak orang. Mereka mau ngontrak rumah aku, ya... sekitar 2 tahunan lah.”

Patton mengangguk-anggukan kepalanya mengerti tanpa berucap apapun lagi. Hingga Agni membuyarkan konsentrasi Patton pada jalanan.

“Dokter udah makan siang?”
“Patton aja, ini bukan rumah sakit kan?”

Agni tersenyum dan mengangguk kaku.

“Udah makan siang?”
“Kebetulan belum, rencananya nanti di jalan ada makanan favorite aku.”
“Padahal aku udah bawain lho dari rumah. Jadi mau gimana?”

Patton mengerutkan keningnya, ia melirik Agni sekilas.

“Buat aku?”

Agni mengangguk pasti, cukup membuat hati Patton bersorak gembira dan berbunga-bunga. Namun di wajahnya hanya terpatri senyum kecil dan bergumam.

“Makasih ya...”

Agni tersenyum untuk kesekian kalinya lalu mengangguk. Ia mengalihkan pandangan pada kaca di sampingnya, menatap jalanan yang begitu padat. Agni menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya erat. Ia harus meneguhkan hatinya sekarang, ia tak bisa terus terpesona dengan senyuman Dokter tampan itu. meskipun secara ahasa tubuh ia bisa menguasai, tapi hatinya? Ia harus lebih pintar menguasai hatinya agar tidak terlihat ia tertarik pada Dokter itu.

***

Malam hari Agni dan Patton sampai ke tempat tujuan. Sebuah villa yang cukup sederhana namun halamannya begitu luas. Senyuman Agni merekah, ini benar-benar tempat yang ia idam-idamkan. Rumah sederhana dengan halaman yang luas di tambah udara disini begitu sejuk dan tidak terjangkit polusi.

“Suka?”

Agni melirik Patton yang telah berdiri di sampingnya dengan memamerkan senyuman mautnya. Agni secepatnya mengalihkan pandangan ke arah vila itu.

“Suka.”
“Tepat seperti dugaanku. Yuk masuk.”

Patton membawa kopornya dan kopor Agni, sementara Agni membawa pantopelnya dan makanan yang belum sempat Patton makan. Ia mengekori Patton memasuki vila itu.

“Kamu mendingan bersih-bersih dulu biar aku panasin makanannya, kamu kan belum makan.”

Patton menghela nafas, ia membalikan badannya menghadap Agni.

“Biar pengurus disini aja yang manasin, kamu mandi aja.”
“Tapi... suhunya...”
“Gapapa, kamar kamu yang itu, yang disana kamar aku.”

Agni mengangguk, beberapa saat kemudian ia beranjak menuju kamar yang telah di tunjukan Patton. Ia merebahkan tubuhnya di atas pembaringan yang sangat nyaman, tepat di saat itu ponselnya berdering.

“Iya Fy, kenapa?”

Agni menelungkupkan badannya.

“Kata Oma kamu ke Bogor, sama siapa?”

Agni membelalakan matanya, ia mengatur nafasnya agar tidak gugup dalam menjawabnya. Tenang Agni... tenang...

“Sama Patton.. ekhm maksud aku Dokter Patton.”
“Mau ngapain?”

Agni menelan ludah sukar saat mendengar suara lain yang ia kenal sebagai suara Shilla, terdengar begitu dingin dan datar. Shilla pasti marah, duh...

“Ada kerjaan. Kalo gak percaya tanya aja sama Dokter Patton.”

Agni mendengar perdebatan di ujung sana, yang ia tangkap hanya pembelaan Ify pada Agni. Ia tau, Sivia tidak begitu mengurusi urusan siapapun, dia begitu tidak peduli dengan orang lain. dia hanya akan turun tangan jika di butuhkan.

“Udah Fy, Shil, gak usah ribut. Lagian aku gapapa kok.”
“Agni tapi loe...”
“Shilla. Diem!”

Agni mematikan sambungan telepon itu kemudian beranjak ke kamar mandi. Kenapa sih ia selalu tidak di percaya? Apa karena ia paling kecil di antara ke empatnya. Mereka berempat memang teleh sepakat untuk tidak berdekatan dengan pria mana pun, kalaupun ingin memiliki kekasih harus di setujui oleh saudaranya yang lain. tapi, apa kurangnya Patton kalau iya Agni mau sama dia? Padahal, ini... belum tentu.

***

Agni duduk di beranda belakang vila itu, di sebuah kursi panjang. Agni menghela nafas panjang. Aku udah dewasa. Aku pantes jalanin apa yang aku mau. Ya... walaupun ada kesepakatan, apa mereka berhak ngatur aku? ini juga menyangkut karir. Apa mereka gak ngerti? Aku aja gak pernah mempermasalahkan mereka. tapi kenapa...?

Agni mengalihkan pandangan ke sampingnya saat ia merasakan seseorang duduk disana.

“Ini udah malem, sebaiknya kamu istirahat.”

Agni menghela nafas. Ia menatap ke arah depan lagi.

“Ada masalah?”

Patton menatap Agni yang tak kunjung buka suara. Ia menghela nafas panjang kemudian menarik kepala Agni menuju pundaknya. Agni tak menolak, ia memang butuh sandaran sekarang. Tapi untuk berbicara... ia rasa belum pantas.

Agni merasa matanya mulai berat, di tambah lagi dengan elusan-elusan kecil pada puncak kepalanya. Kenyamanan yang selama ini ia cari. Hingga Agni merasakan tubuhnya melayang dan secara refleks ia memeluk sesuatu sebagai pegangan.

Patton merebahkan Agni ke pembaringan. Ia mengelus kening Agni sesaat lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Agni. Sebelum beranjak ia memandangi Agni sekilas kemudian mendekat.

“Selamat malam... semoga mimpi indah.”

Setelah mengucapkan itu ia beranjak. Berlama-lama di tempat itu membuat dirinya tidak karuan. Jantungnya juga berpacu begitu cepat saat menatap wajah damai Agni. Apakah ini yang di sebut cinta? Patton menghela nafas. Jangan terlalu berharap, belum tentu Agni merasakan hal yang sama.
Patton bergumam dalam hati, menguatkan dirinya sendiri.

***


Bersambung.

No comments:

Post a Comment