Wednesday, 14 August 2013

BIJI in Love. Part 1

~Part 1: Permulaan.

***

“Karina...”
“IYA OPA.”

Empat orang gadis berseru secara bersamaan dan keluar dari kamarnya masing-masing secara bersamaan pula. Di kamar pertama... seorang gadis dengan rambut ikal yang di ikat, memiliki bentuk wajah yang tirus dan senyuman yang manis, dia menggunakan kemeja dan blazer berwarna biru tua, dengan celana hitam panjang yang pas tapi tidak ketat di kaki jenjangnya, sepatu pantofel dengan hak pendek menjadi penyempurna penampilannya kala itu. Dia... Karina Lifyan Aneesha, yang biasa di sapa dengan Ify.

Di kamar kedua, seorang gadis dengan potongan rambut pendek sebahu, memakai pakaian yang cukup casual. Hanya menggunakan kaus putih panjang dengan di padukan celana jeans panjang berwarna kelabu. Wedges yang senada dengan celana menjadi pelengkapnya. Dia... Karina Sivia Erina, panggil saja dengan sebutan Sivia atau Via.

Di kamar ketiga, seorang gadis yang sangat fashionable. Terbukti dengan ia menggunakan pakaian berkain chiffon dengan potongan blouse dan di padukan dengan skirt pendek yang untuk saat ini sangat trendy. Tak lupa sebuah stiletto membingkai kaki mulus yang jenjang itu. rambutnya yang hitam legam nan mengkilau di biarkan terurai begitu saja. Dia... Karina Grashilla Darlene. Shilla, begitulah dia di panggil.

Dari kamar terakhir muncul seorang gadis dengan memakai kemeja berlengan pendek berwarna putih dan celana yang sama seperti milik Ify. Di tangannya ia membawa sebuah jas berwarna putih dan kaca mata ber-frame hitam membingkai mata beningnya. Rambut yang panjang pun ia kuncir kuda dengan rapih, kaki jenjangnya di hiasi sepatu pantopel tanpa ada hak sedikitpun. Dia... Karina Agnira Adelheid, kalau tidak sengaja berpapasan... panggil saja dia dengan Agni.

Dengan bergantian keempatnya mencium pipi Oma dan Opa nya.

“Hari Senin... hm... cucu Opa pada sibuk deh pastinya.”

Opa Kiki Russhele, ayah dari ke empat Ibu mereka yang kini sudah meninggalkannya terlebih dahulu dalam berbagai insiden. Di temani oleh istrinya, Karina Rivanda. Mereka mengurus cucu mereka hingga dewasa seperti saat ini.

“Ya... Shilla bersyukur aja Opa, butik Shilla ternyata laku juga. Beberapa hari ini banyak yang minta rancangan gaun pengantin buat resepsi yang katanya ingin sangat mewah.”

Kiki tersenyum pada Cucu kedua dari puteri keduanya itu. Terkadang ia heran kenapa selalu menggunakan aksen ‘laku juga’ seperti yang tidak pernah laku saja. Padahal Butik itu telah terkenal di mancanegara, dengan cabang dimana-mana dan Shilla juga tersohor sebagai Desighner untuk para artis ibu kota.

“Kalau Resto kamu gimana Sivia?”

Riva menatap Sivia yang sedang asyik menyantap makanannya. Pantas sekali Cucu ketiga dari puteri ketiganya itu jadi seorang chef. Selera makannya pun lumayan tinggi.

“Beberapa problem tentang bahan dasar Oma, selain sekarang segala pada naik harga dan kualitasnya sangat susah mencari yang baik. Via harus cari pemasok sayuran terbaru lagi.” Gadis itu nampak berfikir. “Mungkin Via akan cari ke pedesaan di waktu dekat ini.”

Kiki menatap Ify tanpa bertanya. Yang di tatap berdehem kecil sambil meletakkan garpu dan sendoknya.

“Ify... seperti biasa. Gak ada sesuatu yang bermasalah Opa... cuma beberapa anak yang bandel dan terkadang ingin di temani Mamanya di dalam kelas.”

Ify Cucu pertama dari puteri pertamanya, pemilik sebuah Yayasan Pendidikan yang hanya memilih sebagai guru TK di Yayasannya itu. Padahal tak ada yang meragukan kecerdasan gadis itu. Tapi entah kenapa gadis itu malah memilih berprofesi sebagai seorang guru TK.

Kiki dan Riva dengan kompak melirik ke arah Agni yang sudah berdiri hendak beranjak dari tempat duduknya. Agni melirik arlojinya kemudian menghampiri Kiki dan Riva, mencium mereka bergantian.

“Oma... Opa... maaf Agni gak kena absen dari kalian. Agni harus segera ke rumah sakit. Ada sebuah operasi yang gak bisa di tunda lagi. Dah Oma, Opa.”

Selalu seperti itu. Agni memang terkadang tidak memiliki waktu sarapan di rumah hanya demi merawat pasiennya yang entah rewel atau apa. Yang jelas, ia selalu melaporkan segalanya di luar pagi hari seperti tadi. Agni memang telah lulus dan memiliki gelar Sarjana Kedokteran. Tetapi, untuk mendapatkan gelar Dokter Agni masih harus berjuang selama beberapa bulan kedepan. Ia harus mendapatkan Surat Ijin Praktek terlebih dahulu.

“Si kecil paling sibuk.”

Kiki bergumam kecil kemudian meneruskan sarapannya. Agni memang Cucu keempat dari puteri keempatnya. Cucu paling bungsu dari puterinya yang paling bungsu. Istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya pun dapat menjadi perumpamaan antara Agni dan Ibunya. Paling bungsu, paling sibuk, dan paling dewasa.

Karina adalah nama depan dari Ibu mereka masing-masing yang di turunkan dari Oma-nya. Sementara nama belakang mereka di ambil dari nama Ayah mereka. Kiki dan Riva memang hanya di karuniai empat orang puteri dan sekarang di karuniai empat cucu perempuan. Sepertinya gen laki-laki di keluarga mereka sangatlah sulit.

***

Agni berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa. Ia harus segera mencapai ruangannya, menjadi seorang Dokter menjadikannya harus cekatan, dan tepat.

“Selamat pagi Dokter.”

Agni menyapa seorang pria dengan setelan khas Dokternya yang sepertinya sedang bersiap juga.

“Hei... cepat bersiap. Dampingi aku di bedah beberapa menit lagi.”

Agni mengangguk cepat. Bukan satu kali ia bekerja sama dengan Dokter muda itu, tapi hampir setiap ada kesempatan ia selalu bersama Dokter muda itu. Kecuali Agni sedang berlibur atau sakit. Hampir semua sift nya sama menjadikan keduanya selalu bersama.

“Sudah siap?”
“Siap Dokter.”

Agni tersenyum begitu manis pada Dokter itu. Dokter muda itu, Patton Otlivio Adhipratama. Kebanyakan dari suster atau Dokter disana menyapanya dengan Dokter Pratama. Yang memanggil dengan sebutan Dokter Patton hanyalah Agni.
Patton adalah teman sewaktu Agni Sekolah Dasar. Tetapi, saking cerdasnya. Dia menempuh akselerasi saat SMP dan SMA. Hingga sekarang, saat Agni sedang berusaha mendapatkan Surat Ijin Praktek Patton justru telah memiliki rumah sakit yang besar dan beberapa rumah sakit kecil di luar kota.

Sebenarnya... tanpa Agni sadari. Patton ternyata menyimpan perasaan yang lebih pada gadis itu, ia merasa sangat cocok dengan gadis itu. Entah di dunia kerja ataupun di luar. Mereka memiliki selera yang sama, dari tempat nongkrong, jenis makanan, minuman dan tempat menyendiri yang sama.

“Mau ikut aku ke Bogor? Aku rasa kamu akan suka melihat suasana disana.”

Agni berjalan sambil menyamai langkah Patton yang begitu cepat. Ia melirik sebentar lalu menarik ujung bibirnya.

“Untuk?”
“Melihat kondisi rumah sakit disana sekalian berlibur. Kalau berminat, suatu saat kamu boleh jadi Dokter disana.”

Agni tak menanggapi ucapan itu lagi karena ia telah berada di depan ruang bedah dengan team yang telah di bentuk Patton.

***

“Dalam waktu tiga bulan kita harus dapat pasangan? Ini gila!.”

Seorang pemuda dengan perawakan tinggi dengan tubuh yang cukup kecil dengan kulit hitam manis mendekati pemuda yang nampaknya stres memikirkan beban itu.

“Udahlah Kka. Emang kita bisa apa lagi? Mereka emang gak bisa di tentang.”

Pemuda yang di panggil Kka itu. Cakka Abrisam Adhipratama. Si bungsu dari kembar empat itu. Sementara yang menenangkan adalah Gabriel Agenta Adhipratama. Kakak pertama dari keempatnya. Cakka yang memang hampir tak pernah berurusan dengan gadis manapun. Dia, di akui paling tampan di antara saudaranya. Tapi justru ia sama sekali tak pernah yang namanya pacaran. Catat dengan tinta tebal. TIDAK PERNAH PACARAN.

Berbanding terbalik dengan tiga saudara kembar yang lainnya, Gabriel bisa di katakan paling playboy di antara mereka, dulu. Setelah mengejar karir ia bahkan melupakan tentang mahkluk halus yang di panggil gadis, perempuan, atau wanita itu.

Sementara dua saudara yang lain. Mario Virendra Adhipratama dan Alvin Sahl Adhipratama hanya diam tanpa reaksi. Kenapa? Karena mereka tak pernah mau mengambil pusing segala sesuatunya. Mereka lebih santai menghadapi keinginan orang tuanya. Rio yang terkadang paling keras di antara yang lain dalam hal ini ia memang tak mau ambil pusing, ia merasa cukup pusing dengan pekerjaannya sekarang. Sementara Alvin? Jangan pernah menanyakan tentang dia!. Dalam segala hal dia tak pernah mau ribet. Maunya simple, ia lebih mengambil jalur aman daripada harus menentang. Bukannya pecundang atau apa. Tapi, bukannya manusia itu sudah hidup dengan takdirnya masing-masing? Ia cukup menjalani hidup dengan apa adanya dan menunggu takdir mengatakan apapun jalan kedepannya.

Keduanya tidak bisa di katakan playboy tapi tidak bisa di katakan tidak pernah pacaran juga. Mereka pernah sekali dua kali menjalin hubungan dengan wanita, tapi selalu kandas begitu saja dengan alasan si wanita bosan dengan sikap dingin yang cenderung tidak peduli itu. keduanya lebih cinta karir daripada wanita.

“Yang gue gak sangka itu... jauh-jauh gue pulang cuma buat hal konyol kayak gini.”

Alvin tersenyum sinis saat mengatakan itu.

“Dengan mudah gue bisa dapet pasangan kalo gue mau.”
“Sayangnya gak bisa suka-suka kita Vin.”

Rio menyandarkan tubuhnya di sofa empuk itu setelah mengucapkan itu. ia terlihat menerawang ke arah jendela besar di ruang duduk itu.

“Maksud loe?”

Alvin menatap Rio dengan pandangan penuh tanya. Sementara yang di tatap malah melirik Gabriel dengan seringaian yang entah apa artinya.

“Apapun itu! yang gue mau bukan mendapat pasangan dan menikah dalam waktu dekat.”

Ketiganya melirik ke arah Cakka yang masih belum keluar dari pikirannya itu. Sebenarnya... apasih yang di ragukan pemuda itu? Dia... hampir sempurna.

Rio berdecak kemudian mulai membuka laptopnya.

“So? Kita pilih yang mana?”

***

Setelahnya Agni keluar dari ruang bedah ia segera ke ruangannya kembali. Bertepatan dengan itu, ponsel dalam tas nya berdering.

“Iya Bu.”

Agni menyelipkan ponsel itu di antara telinga dan bahunya.

“Nanti biar aku ijin dulu sama Opa... Oke.”

Agni menyimpan kembali ponselnya setelah panggilan itu berakhir. Penjaga rumah pribadinya yang menghubunginya. Ia memang selalu memanggilnya Ibu demi kesopanan daripada Bi yang menurutnya tidak enak di ucapkan.

“Dokter Agni.”

Agni menengok pada sumbersuara. Dan ternyata Patton berada di ambang pintu. Ia selalu heran dengan Patton. Dia selalu meminta ijin untuk memasuki ruangan ini padahal ruangan ini secara resmi miliknya, karena di bagian pintu terpampang jelas. dr. Patton Otlivio Adhipratama. Entah kenapa Agni di tempatkan di ruangan itu. alasan utamanya dulu sih untuk memudahkan komunikasi karena saat beberapa bulan lalu Patton memang menjadi pembimbingnya saat ada tugas dari kampus.

“Kok Dokter sih? Kan belum.”

Patton tersenyum kecil. Ia berjalan ke tempat duduknya, menyimpan Jas kebanggaannya di sebuah hanger di belakang meja kerjanya. Agni tak memungkiri pesona Patton yang begitu kuat di ruangan ini. Dia... begitu tampan dan cerdas. Siapapun tak akan ada yang bisa membencinya. Dalam hatinya, Agni berusaha sekuat tenaga untuk tidak hanyut dalam pesona itu. Dalam hati ia selalu meneguhkan diri bahwa ia bukan Cewek Imut yang terkadang sangat mudah di taklukan oleh pesona lelaki seperti Patton. Ia harus selalu dalam ke adaan sepenuhnya sadar jika dengan lelaki itu.

***

Makan malam yang selalu lengkap pada saat malam-malam biasa. Tidak seperti weekend yang selalu menghabiskan waktu di rumah masing-masing atau di rumah Agni yang menjadi tempat favorite mereka.

“Agni...”
“Iya.”

Agni berucap sambil menatap Kiki yang memanggilnya. Ia menenguk air untuk kedua kalinya.

“Opa denger ada yang mau kontrak rumah kamu ya?”

Agni menyimpan gelasnya dengan anggun. Ia mengelap bibirnya dengan tissue yang tak jauh darinya.

“Iya. Katanya sih empat orang Mahasiswa yang kuliah gak jauh dari rumah Agni. Agni juga heran kenapa mereka mau mengontrak rumah Agni. Padahal gak ada tulisan di kontrakan di depan pagar.”
“Mungkin mereka tertarik sama rumah mewah kamu itu sayang. Apalagi rumah kamu bisa di bilang strategis.”

Agni mengangkat kedua bahunya acuh saat mendengar penjelasan Riva. Rumahnya memang sangat strategis, ke mall, rumah sakit, cafe, restoran, bahkan sebuah kampus terbesar dan terbagus di Indonesia pun berdekatan dengan rumahnya. Jadi ia rasa tidak heran dengan keinginan mereka.

“Gak bisa nongkrong dong. Padahal rumah Agni kan paling sering buat nongkrong kita.”

Shilla berujar agak kesal. Rumah itu memang spesial buat mereka berempat. Bisa di bilang basecamp mereka dari saat mereka SMP.

“Berapa biaya kontraknya Ni?”

Agni nampak berpikir. Menimang-nimang dengan bijak jawaban untuk pertanyaan Ify. Ia belum sempat memikirkan itu dengan matang-matang.

“Liat dulu aja kondisi orangnya. Rencananya di atas seratus juta pertahun, bahkan di atas seratus lima puluh juta kalau bisa.”

Sivia membelalakan matanya.

“Ya Tuhanku... apa gaji sebagai Dokter gak cukup buat menunjang hidup kamu Ni? Mahal banget ih.”
“Setimpal kali Vi. Rumah Agni kelewat mewah dan beberapa keuntungan lainnya selain fasilitas canggih tentunya.”

Ify menjawab ucapan Sivia dengan cukup logis. Sementara Agni hanya diam menyimak.
Setelah percakapan itu berakhir di antara mereka berangsur meninggalkan meja makan untuk beristirahat dan menghadapi esok dengan bekerja lagi. Agni lah yang paling terakhir, ia membantu membereskan makanan ke dapur.

“Oma...”

Agni memanggil Omanya tanpa menoleh sedikitpun. Begitupun dengan Omanya, Riva tak sedikitpun menoleh ke arah Agni karena sedang sibuk membersihkan meja.

“Besok aku mau ke Bogor ya... boleh?”

Riva menatap Agni dengan tatapan penuh tanya. Tak biasanya Agni ingin keluar kota tanpa ketiga saudaranya yang lain.

“Sama siapa?”

Agni menghela nafas panjang. Ia menundukan kepalanya dalam-dalam, takut. Ia tak pernah setakut ini pada Omanya. Mungkin, ini kali pertamanya Agni akan pergi bukan dengan ketiga saudaranya.

“Dokter Patton. Aku di ajak liat rumah sakit yang disana. Gak boleh juga gapapa Oma, biar Agni telpon Dokter Patton sekarang.”

Riva tersenyum kecil melihat kepanikan Agni. Ia mendekati Agni dan membelai lembut kepala cucunya itu.

“Boleh kok. Oma tau kamu sudah besar. Dan Oma yakin kamu bisa jaga diri kamu sendiri.”

Senyum Agni merekah. Ia begitu bahagia dengan kebijakan Riva itu. Bahagia? Bahagia karena apa? Karena akan pergi ketempat yang katanya akan membuat Agni suka pada tempat itu, atau... karena pergi bersama Patton? Entahlah...

***

Bersambung.
~Part 2: Meeting. (nantikan ya :D)

Aku sengaja emang buat 4 couple tapi fokus sama Agni. Entah jadi apa couplenya nanti. Yang jelas, terus ikutin aja ya :)
Jadi saya harap jangan ada yang meminta lebih selain fokus pada Agni. Yang lain memang akan ada, tapi sesekali aja. Aku tekankan sekali lagi. Ini fokus pada Agni.
Mohon maklum ya :)


Terimakasih udah rela baca :)

No comments:

Post a Comment