~Part 1: Permulaan.
***
“Karina...”
“IYA OPA.”
Empat orang gadis berseru secara bersamaan dan keluar dari
kamarnya masing-masing secara bersamaan pula. Di kamar pertama... seorang gadis
dengan rambut ikal yang di ikat, memiliki bentuk wajah yang tirus dan senyuman
yang manis, dia menggunakan kemeja dan blazer berwarna biru tua, dengan celana
hitam panjang yang pas tapi tidak ketat di kaki jenjangnya, sepatu pantofel
dengan hak pendek menjadi penyempurna penampilannya kala itu. Dia... Karina
Lifyan Aneesha, yang biasa di sapa dengan Ify.
Di kamar kedua, seorang gadis dengan potongan rambut pendek
sebahu, memakai pakaian yang cukup casual. Hanya menggunakan kaus putih panjang
dengan di padukan celana jeans panjang berwarna kelabu. Wedges yang senada
dengan celana menjadi pelengkapnya. Dia... Karina Sivia Erina, panggil saja
dengan sebutan Sivia atau Via.
Di kamar ketiga, seorang gadis yang sangat fashionable. Terbukti
dengan ia menggunakan pakaian berkain chiffon dengan potongan blouse dan di
padukan dengan skirt pendek yang untuk saat ini sangat trendy. Tak lupa sebuah
stiletto membingkai kaki mulus yang jenjang itu. rambutnya yang hitam legam nan
mengkilau di biarkan terurai begitu saja. Dia... Karina Grashilla Darlene.
Shilla, begitulah dia di panggil.
Dari kamar terakhir muncul seorang gadis dengan memakai
kemeja berlengan pendek berwarna putih dan celana yang sama seperti milik Ify.
Di tangannya ia membawa sebuah jas berwarna putih dan kaca mata ber-frame hitam
membingkai mata beningnya. Rambut yang panjang pun ia kuncir kuda dengan rapih,
kaki jenjangnya di hiasi sepatu pantopel tanpa ada hak sedikitpun. Dia...
Karina Agnira Adelheid, kalau tidak sengaja berpapasan... panggil saja dia
dengan Agni.
Dengan bergantian keempatnya mencium pipi Oma dan Opa nya.
“Hari Senin... hm... cucu Opa
pada sibuk deh pastinya.”
Opa Kiki Russhele, ayah dari ke empat Ibu mereka yang kini
sudah meninggalkannya terlebih dahulu dalam berbagai insiden. Di temani oleh
istrinya, Karina Rivanda. Mereka mengurus cucu mereka hingga dewasa seperti
saat ini.
“Ya... Shilla bersyukur aja Opa,
butik Shilla ternyata laku juga. Beberapa hari ini banyak yang minta rancangan
gaun pengantin buat resepsi yang katanya ingin sangat mewah.”
Kiki tersenyum pada Cucu kedua dari puteri keduanya itu. Terkadang
ia heran kenapa selalu menggunakan aksen ‘laku juga’ seperti yang tidak pernah
laku saja. Padahal Butik itu telah terkenal di mancanegara, dengan cabang
dimana-mana dan Shilla juga tersohor sebagai Desighner untuk para artis ibu
kota.
“Kalau Resto kamu gimana Sivia?”
Riva menatap Sivia yang sedang asyik menyantap makanannya.
Pantas sekali Cucu ketiga dari puteri ketiganya itu jadi seorang chef. Selera
makannya pun lumayan tinggi.
“Beberapa problem tentang bahan
dasar Oma, selain sekarang segala pada naik harga dan kualitasnya sangat susah
mencari yang baik. Via harus cari pemasok sayuran terbaru lagi.” Gadis itu
nampak berfikir. “Mungkin Via akan cari ke pedesaan di waktu dekat ini.”
Kiki menatap Ify tanpa bertanya. Yang di tatap berdehem
kecil sambil meletakkan garpu dan sendoknya.
“Ify... seperti biasa. Gak ada
sesuatu yang bermasalah Opa... cuma beberapa anak yang bandel dan terkadang
ingin di temani Mamanya di dalam kelas.”
Ify Cucu pertama dari puteri pertamanya, pemilik sebuah
Yayasan Pendidikan yang hanya memilih sebagai guru TK di Yayasannya itu.
Padahal tak ada yang meragukan kecerdasan gadis itu. Tapi entah kenapa gadis
itu malah memilih berprofesi sebagai seorang guru TK.
Kiki dan Riva dengan kompak melirik ke arah Agni yang sudah
berdiri hendak beranjak dari tempat duduknya. Agni melirik arlojinya kemudian
menghampiri Kiki dan Riva, mencium mereka bergantian.
“Oma... Opa... maaf Agni gak kena
absen dari kalian. Agni harus segera ke rumah sakit. Ada sebuah operasi yang
gak bisa di tunda lagi. Dah Oma, Opa.”
Selalu seperti itu. Agni memang terkadang tidak memiliki
waktu sarapan di rumah hanya demi merawat pasiennya yang entah rewel atau apa.
Yang jelas, ia selalu melaporkan segalanya di luar pagi hari seperti tadi. Agni
memang telah lulus dan memiliki gelar Sarjana Kedokteran. Tetapi, untuk
mendapatkan gelar Dokter Agni masih harus berjuang selama beberapa bulan
kedepan. Ia harus mendapatkan Surat Ijin Praktek terlebih dahulu.
“Si kecil paling sibuk.”
Kiki bergumam kecil kemudian meneruskan sarapannya. Agni
memang Cucu keempat dari puteri keempatnya. Cucu paling bungsu dari puterinya
yang paling bungsu. Istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya pun dapat menjadi
perumpamaan antara Agni dan Ibunya. Paling bungsu, paling sibuk, dan paling
dewasa.
Karina adalah nama depan dari Ibu mereka masing-masing yang
di turunkan dari Oma-nya. Sementara nama belakang mereka di ambil dari nama
Ayah mereka. Kiki dan Riva memang hanya di karuniai empat orang puteri dan
sekarang di karuniai empat cucu perempuan. Sepertinya gen laki-laki di keluarga
mereka sangatlah sulit.
***
Agni berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa.
Ia harus segera mencapai ruangannya, menjadi seorang Dokter menjadikannya harus
cekatan, dan tepat.
“Selamat pagi Dokter.”
Agni menyapa seorang pria dengan setelan khas Dokternya yang
sepertinya sedang bersiap juga.
“Hei... cepat bersiap. Dampingi
aku di bedah beberapa menit lagi.”
Agni mengangguk cepat. Bukan satu kali ia bekerja sama
dengan Dokter muda itu, tapi hampir setiap ada kesempatan ia selalu bersama
Dokter muda itu. Kecuali Agni sedang berlibur atau sakit. Hampir semua sift nya
sama menjadikan keduanya selalu bersama.
“Sudah siap?”
“Siap Dokter.”
Agni tersenyum begitu manis pada Dokter itu. Dokter muda
itu, Patton Otlivio Adhipratama. Kebanyakan dari suster atau Dokter disana
menyapanya dengan Dokter Pratama. Yang memanggil dengan sebutan Dokter Patton
hanyalah Agni.
Patton adalah teman sewaktu Agni Sekolah Dasar. Tetapi,
saking cerdasnya. Dia menempuh akselerasi saat SMP dan SMA. Hingga sekarang,
saat Agni sedang berusaha mendapatkan Surat Ijin Praktek Patton justru telah
memiliki rumah sakit yang besar dan beberapa rumah sakit kecil di luar kota.
Sebenarnya... tanpa Agni sadari. Patton ternyata menyimpan
perasaan yang lebih pada gadis itu, ia merasa sangat cocok dengan gadis itu.
Entah di dunia kerja ataupun di luar. Mereka memiliki selera yang sama, dari
tempat nongkrong, jenis makanan, minuman dan tempat menyendiri yang sama.
“Mau ikut aku ke Bogor? Aku rasa
kamu akan suka melihat suasana disana.”
Agni berjalan sambil menyamai langkah Patton yang begitu
cepat. Ia melirik sebentar lalu menarik ujung bibirnya.
“Untuk?”
“Melihat kondisi rumah sakit
disana sekalian berlibur. Kalau berminat, suatu saat kamu boleh jadi Dokter
disana.”
Agni tak menanggapi ucapan itu lagi karena ia telah berada
di depan ruang bedah dengan team yang telah di bentuk Patton.
***
“Dalam waktu tiga bulan kita
harus dapat pasangan? Ini gila!.”
Seorang pemuda dengan perawakan tinggi dengan tubuh yang
cukup kecil dengan kulit hitam manis mendekati pemuda yang nampaknya stres
memikirkan beban itu.
“Udahlah Kka. Emang kita bisa apa
lagi? Mereka emang gak bisa di tentang.”
Pemuda yang di panggil Kka itu. Cakka Abrisam Adhipratama.
Si bungsu dari kembar empat itu. Sementara yang menenangkan adalah Gabriel
Agenta Adhipratama. Kakak pertama dari keempatnya. Cakka yang memang hampir tak
pernah berurusan dengan gadis manapun. Dia, di akui paling tampan di antara
saudaranya. Tapi justru ia sama sekali tak pernah yang namanya pacaran. Catat
dengan tinta tebal. TIDAK PERNAH
PACARAN.
Berbanding terbalik dengan tiga saudara kembar yang lainnya,
Gabriel bisa di katakan paling playboy di antara mereka, dulu. Setelah mengejar
karir ia bahkan melupakan tentang mahkluk halus yang di panggil gadis,
perempuan, atau wanita itu.
Sementara dua saudara yang lain. Mario Virendra Adhipratama
dan Alvin Sahl Adhipratama hanya diam tanpa reaksi. Kenapa? Karena mereka tak
pernah mau mengambil pusing segala sesuatunya. Mereka lebih santai menghadapi
keinginan orang tuanya. Rio yang terkadang paling keras di antara yang lain
dalam hal ini ia memang tak mau ambil pusing, ia merasa cukup pusing dengan
pekerjaannya sekarang. Sementara Alvin? Jangan pernah menanyakan tentang dia!.
Dalam segala hal dia tak pernah mau ribet. Maunya simple, ia lebih mengambil
jalur aman daripada harus menentang. Bukannya pecundang atau apa. Tapi,
bukannya manusia itu sudah hidup dengan takdirnya masing-masing? Ia cukup
menjalani hidup dengan apa adanya dan menunggu takdir mengatakan apapun jalan
kedepannya.
Keduanya tidak bisa di katakan playboy tapi tidak bisa di
katakan tidak pernah pacaran juga. Mereka pernah sekali dua kali menjalin
hubungan dengan wanita, tapi selalu kandas begitu saja dengan alasan si wanita
bosan dengan sikap dingin yang cenderung tidak peduli itu. keduanya lebih cinta
karir daripada wanita.
“Yang gue gak sangka itu...
jauh-jauh gue pulang cuma buat hal konyol kayak gini.”
Alvin tersenyum sinis saat mengatakan itu.
“Dengan mudah gue bisa dapet
pasangan kalo gue mau.”
“Sayangnya gak bisa suka-suka
kita Vin.”
Rio menyandarkan tubuhnya di sofa empuk itu setelah
mengucapkan itu. ia terlihat menerawang ke arah jendela besar di ruang duduk
itu.
“Maksud loe?”
Alvin menatap Rio dengan pandangan penuh tanya. Sementara
yang di tatap malah melirik Gabriel dengan seringaian yang entah apa artinya.
“Apapun itu! yang gue mau bukan
mendapat pasangan dan menikah dalam waktu dekat.”
Ketiganya melirik ke arah Cakka yang masih belum keluar dari
pikirannya itu. Sebenarnya... apasih yang di ragukan pemuda itu? Dia... hampir
sempurna.
Rio berdecak kemudian mulai membuka laptopnya.
“So? Kita pilih yang mana?”
***
Setelahnya Agni keluar dari ruang bedah ia segera ke
ruangannya kembali. Bertepatan dengan itu, ponsel dalam tas nya berdering.
“Iya Bu.”
Agni menyelipkan ponsel itu di antara telinga dan bahunya.
“Nanti biar aku ijin dulu sama
Opa... Oke.”
Agni menyimpan kembali ponselnya setelah panggilan itu berakhir.
Penjaga rumah pribadinya yang menghubunginya. Ia memang selalu memanggilnya Ibu
demi kesopanan daripada Bi yang menurutnya tidak enak di ucapkan.
“Dokter Agni.”
Agni menengok pada sumbersuara. Dan ternyata Patton berada
di ambang pintu. Ia selalu heran dengan Patton. Dia selalu meminta ijin untuk
memasuki ruangan ini padahal ruangan ini secara resmi miliknya, karena di
bagian pintu terpampang jelas. dr. Patton Otlivio Adhipratama. Entah kenapa
Agni di tempatkan di ruangan itu. alasan utamanya dulu sih untuk memudahkan
komunikasi karena saat beberapa bulan lalu Patton memang menjadi pembimbingnya
saat ada tugas dari kampus.
“Kok Dokter sih? Kan belum.”
Patton tersenyum kecil. Ia berjalan ke tempat duduknya,
menyimpan Jas kebanggaannya di sebuah hanger di belakang meja kerjanya. Agni
tak memungkiri pesona Patton yang begitu kuat di ruangan ini. Dia... begitu
tampan dan cerdas. Siapapun tak akan ada yang bisa membencinya. Dalam hatinya,
Agni berusaha sekuat tenaga untuk tidak hanyut dalam pesona itu. Dalam hati ia
selalu meneguhkan diri bahwa ia bukan Cewek Imut yang terkadang sangat mudah di
taklukan oleh pesona lelaki seperti Patton. Ia harus selalu dalam ke adaan
sepenuhnya sadar jika dengan lelaki itu.
***
Makan malam yang selalu lengkap pada saat malam-malam biasa.
Tidak seperti weekend yang selalu menghabiskan waktu di rumah masing-masing
atau di rumah Agni yang menjadi tempat favorite mereka.
“Agni...”
“Iya.”
Agni berucap sambil menatap Kiki yang memanggilnya. Ia
menenguk air untuk kedua kalinya.
“Opa denger ada yang mau kontrak
rumah kamu ya?”
Agni menyimpan gelasnya dengan anggun. Ia mengelap bibirnya
dengan tissue yang tak jauh darinya.
“Iya. Katanya sih empat orang
Mahasiswa yang kuliah gak jauh dari rumah Agni. Agni juga heran kenapa mereka
mau mengontrak rumah Agni. Padahal gak ada tulisan di kontrakan di depan
pagar.”
“Mungkin mereka tertarik sama
rumah mewah kamu itu sayang. Apalagi rumah kamu bisa di bilang strategis.”
Agni mengangkat kedua bahunya acuh saat mendengar penjelasan
Riva. Rumahnya memang sangat strategis, ke mall, rumah sakit, cafe, restoran,
bahkan sebuah kampus terbesar dan terbagus di Indonesia pun berdekatan dengan
rumahnya. Jadi ia rasa tidak heran dengan keinginan mereka.
“Gak bisa nongkrong dong. Padahal
rumah Agni kan paling sering buat nongkrong kita.”
Shilla berujar agak kesal. Rumah itu memang spesial buat
mereka berempat. Bisa di bilang basecamp mereka dari saat mereka SMP.
“Berapa biaya kontraknya Ni?”
Agni nampak berpikir. Menimang-nimang dengan bijak jawaban
untuk pertanyaan Ify. Ia belum sempat memikirkan itu dengan matang-matang.
“Liat dulu aja kondisi orangnya.
Rencananya di atas seratus juta pertahun, bahkan di atas seratus lima puluh
juta kalau bisa.”
Sivia membelalakan matanya.
“Ya Tuhanku... apa gaji sebagai
Dokter gak cukup buat menunjang hidup kamu Ni? Mahal banget ih.”
“Setimpal kali Vi. Rumah Agni
kelewat mewah dan beberapa keuntungan lainnya selain fasilitas canggih
tentunya.”
Ify menjawab ucapan Sivia dengan cukup logis. Sementara Agni
hanya diam menyimak.
Setelah percakapan itu berakhir di antara mereka berangsur
meninggalkan meja makan untuk beristirahat dan menghadapi esok dengan bekerja
lagi. Agni lah yang paling terakhir, ia membantu membereskan makanan ke dapur.
“Oma...”
Agni memanggil Omanya tanpa menoleh sedikitpun. Begitupun
dengan Omanya, Riva tak sedikitpun menoleh ke arah Agni karena sedang sibuk
membersihkan meja.
“Besok aku mau ke Bogor ya...
boleh?”
Riva menatap Agni dengan tatapan penuh tanya. Tak biasanya
Agni ingin keluar kota tanpa ketiga saudaranya yang lain.
“Sama siapa?”
Agni menghela nafas panjang. Ia menundukan kepalanya
dalam-dalam, takut. Ia tak pernah setakut ini pada Omanya. Mungkin, ini kali
pertamanya Agni akan pergi bukan dengan ketiga saudaranya.
“Dokter Patton. Aku di ajak liat
rumah sakit yang disana. Gak boleh juga gapapa Oma, biar Agni telpon Dokter
Patton sekarang.”
Riva tersenyum kecil melihat kepanikan Agni. Ia mendekati
Agni dan membelai lembut kepala cucunya itu.
“Boleh kok. Oma tau kamu sudah
besar. Dan Oma yakin kamu bisa jaga diri kamu sendiri.”
Senyum Agni merekah. Ia begitu bahagia dengan kebijakan Riva
itu. Bahagia? Bahagia karena apa? Karena akan pergi ketempat yang katanya akan
membuat Agni suka pada tempat itu, atau... karena pergi bersama Patton?
Entahlah...
***
Bersambung.
~Part 2: Meeting. (nantikan ya :D)
Aku sengaja emang buat
4 couple tapi fokus sama Agni. Entah jadi apa couplenya nanti. Yang jelas,
terus ikutin aja ya :)
Jadi saya harap jangan
ada yang meminta lebih selain fokus pada Agni. Yang lain memang akan ada, tapi
sesekali aja. Aku tekankan sekali lagi. Ini fokus pada Agni.
Mohon maklum ya :)
Terimakasih udah rela
baca :)
No comments:
Post a Comment