Gabriel membuka kamar rawat Agni dengan tergesa.
Shilla dan Ify yang berada di sana dengan bersamaan menoleh
ke arah Gabriel yang sekarang telah berada di kursi tepat di samping Agni.
“Kak?! Ngapain loe...?”
“Kenapa loe gak kasih tau gue sih
Fy Agni sakit? Sebenernya dia sakit apa?”
Gabriel bertanya tanpa berbalik ke arah Ify yang berada di
samping agak jauh, karena duduk di sofa.
Gabriel menggenggam tangan Agni yang bebas begitu erat, ia
meremasnya pelan kemudian mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
“Agni... cepetan sadar sayang...”
“Agni keguguran.”
Shilla membelalakan matanya, ia menatap Ify dengan pandangan
penuh pertanyaan. Bagaimana bisa itu terjadi?
Setali tiga uang dengan Shilla, Gabriel pun menatap Ify
dengan tidak percaya. Sesekali ia mengambil nafas dengan berat, kemudian
tertawa kelu.
“Haha... gak lucu.”
Ify tersenyum masam. Ia mengalihkan pandangan ke arah
jendela. Memang sulit berbicara dengan orang yang sudah di butakan cinta!.
“Terus loe pikir Agni hamil sama
siapa?”
Gabriel terdiam, ia kembali beralih pada Agni, menggenggam
lengan itu semakin erat.
“Bangun Agni, aku mau jawaban
kamu.”
Gabriel mengecup punggung lengan Agni sekilas. Ia memejamkan
matanya, berdo’a.
Agni mulai membuka matanya saat ia merasakan sebuah kecupan
di punggung tangannya lagi. Kepalanya begitu berputar, pandangannya pun belum
cukup sempurna.
“Al...”
Gabriel terperanjat kaget begitu mendengar suara Agni. Ia
menatap wanita itu dengan wajah yang penuh kebahagiaan.
“Agni... kamu udah sadar?”
Agni mengerutkan dahinya, mencoba memfokuskan pandangan
matanya.
“Gab?”
“Agni... gimana keadaan kamu?
Mana yang sakit?”
Gabriel menatap Agni khawatir, hingga tangannya pun terus
saja menggenggam tangan Agni yang dingin itu. Ia tidak bisa melihat orang yang
ia sayang kesakitan seperti itu. Ia tidak akan pernah mau lagi melihatnya
kesakitan, tidak akan!.
Clek.
Pintu di buka tanpa permisi oleh seseorang, Gabriel berbalik
ke arah sumber suara dengan masih menggenggam tangan Agni. Agni juga menengok,
lalu dengan cepat pandangannya berganti dengan pandangan ketidak percayaannya
akan sosok yang baru masuk itu. Sementara Ify menegang, ia tidak sanggup
menyaksikan mereka. Berbeda dengan Shilla yang di samping Ify, ia menatap
bingung ke arah semuanya.
Dengan cepat Agni melepaskan genggaman Gabriel.
“Al...”
Dengan suara yang masih dalam keadaan parau, Agni
menjulurkan tangannya hendak menggapai orang yang di panggil Al itu, Alvin.
Alvin segera mendekat ke arah Agni. Ia seolah tak
mempedulikan keadaan disana, siapa yang ada di sana. Ia duduk di bangsal Agni
lalu menunduk dan memeluk Agni yang sedikit mengangkat badannya.
Gabriel menahan nafas marah saat melihat Alvin menghujani
Agni dengan kecupan di puncak kepala wanita itu. Tak bisa ia pungkiri kalau ia
sangat cemburu. Sangat amat cemburu melihatnya.
“Maaf Al... maaf... aku gak bisa
jaga anak kita. Maaf...”
Deg!
Anak kita?
Gabriel menatap Ify dengan mata yang menyala. Kemudian
melirik kembali ke arah Alvin yang menenggelamkan wajahnya di leher jenjang
Agni.
Dengan langkah cukup lebar Gabriel menarik Ify keluar dari
ruangan itu. Ia ingin tau yang lebih jelas lagi. Lebih rinci dan detail lagi.
Shilla bergidik ngeri menatap Gabriel yang sepertinya sangat
marah. Ia mengikuti Gabriel yang membawa Ify pergi dengan cukup kasar, namun
tak ada pemberontakan sedikitpun dari Ify.
Gabriel menghempaskan Ify hingga membentur dinding. Ia
mendekati Ify, menyudutkannya hingga tak bisa lagi bergerak.
“Kenapa loe gak pernah ngabarin
gue kalo Agni beneran udah nikah? Hah?! Kenapa Ify? KENAPA?!”
Ify menatap Gabriel dengan pandangan mengejek, ia tersenyum
sinis.
“Gue ngabarin loe? Emang penting?
Toh Agni udah loe buang juga kan? Di biarin terlantar! Kesepian! Hampir aja
prestasi dia ancur gara-gara loe!”
“Gue gak pernah buang siapapun!.”
“Terus yang loe lakuin sama Agni
apa? Loe emang gak lebih dari seorang lelaki brengsek yang gak punya pendi...”
“GABRIEL!.”
Shilla menahan tangan Gabriel yang baru saja akan melayang
ke pipi Ify. Ia mencengkeram tangan Gabriel sekuatnya. Tapi dengan gampang,
Gabriel menghempaskan tangan Shilla hingga gadis itu terpelanting jatuh ke
sudut.
“Argh...”
Gabriel menengok ke arah Shilla, kemudian melirik Ify lalu
berlari ke arah Shilla yang masih meringis kesakitan.
“Shilla maaf... gue gak sengaja.”
Saat Gabriel hendak meraih tangan Shilla, gadis itu
menghindar. Ia menatap tajam ke arah Gabriel, menatap pemuda itu dengan penuh
kebencian.
“Gue gak nyangka ya... Gabriel
Alexander ternyata dengan mudahnya main tangan dan berbuat kasar sama seorang
wanita. Kalo gue tau loe kayak gitu, gue gak akan pernah mau kenal yang namanya
Gabriel, gak akan pernah mau jatuh cinta sama dia!.”
Shilla beranjak dari tempat itu dengan agak tertatih.
Matanya memanas, ada sebuah dentuman keras dalam hatinya, bukan hanya karena
hal yang ia lihat tadi. Tapi, lebih pada perasaan yang meluap saat melihat
pemuda itu bermesraan dengan wanita yang berstatusnya istri orang.
Gabriel segera mengejar Shilla. Ia raih bahu Shilla, memaksa
gadis itu berhenti dan berbalik. Ia menghela nafas panjang.
“Maaf Shil, gue mohon maafin
gue...”
Mereka saling bertatapan, memberi dan meminta keyakinan satu
sama lain. Shilla tersenyum kecil melihat kesungguhan dari pemuda itu.
Bagaimana mungkin bisa menolak permintaan maaf orang yang paling di cintai?
Gabriel tersenyum kemudian memeluk sekilas gadis itu.
Beberapa kali ia menghela nafas lega saat melihat gadis itu masih tersenyum.
Ify yang melihat kejadian itu dari jauh hanya tersenyum
tipis. Entahlah... ia tidak tau harus merasakan apa. Bahagia atau apa... yang
pasti ia merasa bersyukur karena mungkin pemuda itu akan dengan cepat melupakan
Agni. Ia berjalan mendekati keduanya.
“Sebaiknya loe pulang aja Kak,
kayaknya loe capek banget.”
Gabriel tersenyum ke arah Ify dengan senyuman yang sangat di
paksakan.
“Gak sekarang Fy.”
Ify menghela nafas panjang, ia mengangguk kecil.
“Kalo gitu gue pamit dulu ya.”
Ify beranjak setelah melihat Gabriel mengangguk. Ia tak
habis pikir dengan apa yang Gabriel inginkan. Padahal telah jelas sekali Agni
memiliki suami. Kenapa dia masih aja mau di tempat itu? Atau ada tujuan lain?
***
Ify meneguk capuccinonya sedikit. Sesekali ia melirik
ponselnya yang sangat sepi. Kayaknya gue
lupa sesuatu deh, tapi apa ya?.
Ponsel Ify pun berdering.
“Hallo Yo...”
Dari seberang terdengar mendengus kesal.
“Loe jadi gak ke rumah gue? Udah hampir siang nih gue ada acara lain.”
Ify berdehem kecil.
“Kayaknya gak bisa deh Yo, Agni
masuk rumah sakit.”
“Lho kenapa?”
“Keguguran.”
Rio terdengar menghela nafas berat. Seperti terbebani
sesuatu yang tidak bisa di wujudkan.
“Terus sekarang gimana?”
“Udah mendingan, Alvin nya juga
udah dateng.”
“Oh. Syukurlah.” Rio menghela nafas “Kalo gitu udah dulu, ada barang baru yang baru dateng.”
“Oke. Bye.”
Ify menutup sambungan telepon secara sepihak. Kemudian ia
memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Agni. Ify memicingkan matanya saat
melihat seseorang yang sangat ia kenali, bersama dengan seorang anak kecil yang
cukup mirip dengan orang itu.
“Papa...”
Ify berkutat dengan pikirannya sendiri hingga tidak
memperhatikan pembicaraan . itu...
“Cakka?”
Ify membelalakan matanya begitu orang itu menoleh ke arah
Ify, dan tersenyum begitu manis. Ify yang masih kaget hanya bisa mematung di
tempat dengan tangan yang menutup mulutnya. Saat orang itu menyapa, Ify tidak
menanggapinya. Ia hanya berjalan dengan wajah yang masih tidak percaya dengan
apa yang di ucapkan anak kecil itu.
“Kka? Apa yang barusan gue
denger? Papa? Jadi... jadi selama ini... loe bohongin gue sama Agni?”
Ify menatap Cakka dengan pandangan kecewa. Setelah beberapa
tahun kenal dengan Cakka, dia selalu bilang kalau tidak memiliki kekasih.
Bahkan dia selalu menyebut dirinya sayang pada Agni. Tapi sekarang? Apa bisa
seseorang memiliki anak tanpa memiliki pasangan dan berhubungan layaknya
pasangan? Dan jawabannya, TENTU TIDAK!
“Gue gak bohong Fy, karena dulu
gue gak tau kalo gue udah punya anak.” Cakka tersenyum kecil. “Eh iya, ngapain
disini? Siapa yang sakit?”
Cakka berujar dengan lirih, di tambah tatapan matanya yang begitu
sendu. Ia hanya ingin meyakinkan gadis di hadapannya itu.
Ify menghela nafas panjang, ia melihat kejujuran dari
tatapan itu. Ia tak berhak memakinya lebih jauh lagi.
“Agni.” Ify mendesah lelah, “Dia
keguguran.”
“Apa? Kok bisa?”
Cakka membelalakan matanya, menatap Ify dengan tatapan penuh
tanya. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar itu.
“Ceritanya cukup rumit, kalo loe
mau liat Agni kita bisa sambil cerita.”
Ify menatap Cakka yang menunduk di dekat puteranya itu. Ify
memperhatikan puteranya Cakka yang sepertinya ketakutan terhadap dirinya. Ify
tersenyum, ia berjongkok di samping anak itu kemudian mengelus pipi chubby nya
dengan lembut.
“Ganteng kenalin, aku Ify, kamu
boleh panggil Aunty Ify ya...”
Ify melirik Cakka saat anak itu melirik Cakka ketakutan. Apa
ia semenyeramkan itu?
“Gapapa sayang, Aunty Ify baik
kok.”
Ify tersenyum manis pada Ray yang sudah kembali pada posisi
semula.
“Nama kamu siapa?”
“Ray.”
“Nama yang bagus. Yuk kita liat
temen Aunty.”
Keduanya pun berjalan berdampingan dengan berbincang sangat
akrab. Hingga sampai di dekat pintu ruang rawat Agni.
Cakka sedikit terdiam melihat pemuda yang sangat ia kenal.
Ify melirik Cakka yang terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan pada orang
yang di pandang Cakka yang masih terlihat terpukul.
“Sejak tadi dia emang ada disini,
dia sempet shock melihat Alvin dan mengetahui bahwa mereka sudah menikah.” Ify
menghela nafas, “Gue udah suruh dia balik, tapi dia gak mau. Tau deh kenapa.”
Cakka menghela nafas, ia yakin cowok posesif itu masih
menyayangi Agni. Tapi, apa boleh buat? Agni memang pada kenyataannya sudah
menikah dan memiliki kebahagiaannya sendiri.
“Gabriel.”
***
Gabriel mendudukan dirinya bersama Shilla di bangku tempat
tunggu. Ia menghirup nafas dalam, dadanya masih terasa sesak. Belum bisa
menerima. Ada yang harus ia selesaikan. Ia menangkupkan kedua tangan di
wajahnya lalu sikutnya bertumpu pada kedua lututnya. Apa yang harus ia lakukan
saat ini? Pergi menjauh dan melupakan Agni? Itu akan terasa sangat sulit.
Shilla menghela nafas lelah, apa lelaki itu sudah tidak
memiliki ruang untuk orang lain di hatinya? Hingga dia tidak mau untuk beranjak
dari tempat itu. Ia merangkul Gabriel, mencoba memberi kekuatan. Ia meremas
bahu Gabriel dengan perlahan.
“Gabriel...”
Gabriel menengok ke arah sumbersuara lalu tersenyum kecut
pada orang yang memanggilnya itu. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan dia di
tempat seperti ini.
“Semoga loe dapetin kebahagiaan
loe, loe jangan terlalu banyak berharap sama Agni. Gue juga nemuin kebahagiaan
gue bukan dari Agni. Dan itu lebih dari cukup.”
Deg!
Apa benar ia akan menemukan kebahagiaan yang bukan dari
Agni? Apa benar ia akan bahagia bila berjauhan dengan Agni? Apa benar itu
semua?
“Yel...”
Gabriel melirik ke arah Shilla yang menatapnya dengan sayu.
Gadis itu tersenyum getir dengan mata berkaca-kaca dengan buliran air mata yang
akan meluncur beberapa saat lagi.
Gabriel menyeka air mata itu dengan kedua ibu jarinya.
“Gak ada gunanya loe nangis
Shill.”
Bukannya membuat tangisan itu berhenti, ucapan itu justru
membuat Shilla semakin menangis dan memeluk Gabriel. Tak sanggup menatap pemuda
itu lebih lama lagi.
Gabriel memeluk pinggang Shilla dengan ragu, ia takut itu
sebuah kesalahan. Gabriel menghela nafas panjang kemudian mengelus puncak
kepala gadis itu. Hingga ia mendengar pintu ruang rawat Agni terbuka membuat
Gabriel dengan cepat mengurai pelukannya. Ia menengok dan melihat Ify duduk di
bangku di seberangnya, yang cukup jauh dari tempat duduknya. Ia hanya bisa
melihat Ify yang tengah berbincang dengan ponselnya.
Tak lama dari itu Cakka keluar dengan anak kecil.
Gabriel menaikan satu alisnya heran.
“Siapa dia? Kok mirip sama loe?”
Cakka terkekeh kecil menanggapinya. Gak nyadar dari tadi
bung?
“Loe baru sadar gue bawa dia?
Keana aja loe?” Cakka menghentikan tawanya saat meihat Gabriel mendengus. “Ini
anak gue, kebahagiaan gue saat ini.”
Deg!
Untuk kedua kalinya ia tertegun oleh ucapan Cakka. Apa benar
saat ini rivalnya itu sedang berbahagia? Atau itu hanya bualannya saja?
“Cakka... Ray...”
Gabriel, Shilla, Cakka
dan anak kecil itu menengok ke arah sumber suara.
“Sivia?”
Orang yang di panggil Sivia itu terdiam sejenak. Kemudian
menghela nafas panjang mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia memejamkan
matanya sejenak lalu berjalan ke arah Cakka dan Ray, anak yang bersama Cakka.
“Yel, loe kenal dia?”
Gabriel tidak menghiraukan ucapan Shilla, ia berdiri
kemudian saat Sivia mendekat ia memeluknya erat. Sementara Sivia tak membalas
pelukannya sama sekali. Tak ia pungkiri bahwa ia bahagia dapat bertemu dengan
Gabriel. Tapi, ia sudah memilih kehidupannya. Meninggalkan semuanya dengan
damai.
Ray melirik Cakka dan Sivia bergantian dengan tatapan penuh
tanya. Ia menarik tangan Cakka yang menatap Gabriel dan Sivia begitu tajam.
“Pulang Vi...”
Sivia tidak menggubris ucapan Gabriel. Ia melepaskan pelukan
Gabriel dengan paksa.
“Vi... pulang.”
Sivia menatap tajam ke arah Gabriel yang mencengkeram
bahunya lalu berujar begitu dingin.
“Gak bisa. Ray ayo balik lagi
kekamar kamu.”
Ray menatap Sivia dengan takut. Ia menarik tangan Cakka,
menggenggamnya meminta pertolongan.
Sivia berjongkok di hadapan Ray, lalu tersenyum begitu
menyadari perubahan puteranya itu.
“Gendong sama Mama yuk...”
Ray diam sejenak kemudian mengangguk kecil. Lalu ia merenggangkan
tangannya.
Gabriel menatap takjub ke arahnya. Mama? Apa itu...
“Vi, jelasin!.”
“Gak ada yang perlu di jelasin.
Permisi.”
Gabriel menatap kepergian Sivia dengan penuh tanya. Ia ingin
sekali mengejarnya, tapi ia masih memiliki urusan yang tidak kalah penting
dengan mengejar Sivia. Entah kenapa, hari ini terasa begitu mengejutkan
untuknya. Sangat mengejutkan.
Shilla menatap Gabriel tidak percaya. Kenapa banyak sekali
wanita yang di sayangi Gabriel? Agni... dan sekarang? Sivia. Apa dia termasuk
dengan mantan pacar Gabriel yang kabur dari Gabriel? Kenapa ia seolah tidak di
berikan ijin untuk menduduki tahta tertinggi di dalam hati Gabriel?
“Yel...”
Shilla berujar dengan suara yang mulai parau kembali. Ia tak
lepas memandang Gabriel yang sekarang berbalik ke arahnya. Gabriel terlihat
menghela nafas panjang.
“Masih disini?”
Gabriel berbalik ke arah pintu dimana ada Alvin yang keluar
dari ruangan itu. Ia tersenyum masam.
“Sebentar lagi.”
Alvin menganggukan kepalanya pelan kemudian ia berlalu begitu
saja dari tempat itu.
“Yel... siapa dia?”
Gabriel beralih lagi memandang Shilla.
“Alvin.”
“Ihh bukan dia... tapi wanita
tadi...”
Gabriel mengelus puncak kepala Shilla sejenak kemudian
tersenyum. Entah kenapa kali ini ia bisa tersenyum begitu tulus pada gadis itu.
“Adek gue.”
***
Agni menghela nafas begitu di tinggalkan oleh Alvin yang
akan meminta ijin untuk kepulangannya. Satu hari di rumah sakit ia rasa cukup.
Ia tidak betah berlama-lama di tempat seperti itu.
Clek.
“Gimana Al...? Gabriel?”
Agni menatap tak percaya dengan keberadaan Gabriel. Apalagi
melihat pakaian yang sama dengan yang dia gunakan pagi tadi.
“Selamat ya kamu udah nikah...
aku... turut bahagia.”
Agni menatap Gabriel masih dengan tidak percaya. Gabriel
bisa melepaskan seseorang begitu saja? Terlihat seperti bukan Gabriel. Agni
menanggapi ucapan Gabriel dengan sedikit anggukan dan senyuman kecil.
Gabriel menengadahkan wajahnya sejenak lalu menghembuskan
nafas keras.
“Aku pamit.”
Dengan cepat Gabriel berbalik menuju pintu.
“Gab.”
Gabriel berhenti tanpa berbalik.
“Maaf dan... semoga kamu
bahagia.”
Gabriel berbalik lalu tersenyum pada Agni. Ia mengedipkan
matanya sebelah kemudian beranjak pergi dari tempat itu.
Agni menghela nafas panjang melihatnya. Ia merasa lega
sekarang...
Semoga kamu lebih
bahagia... Gabriel...
***
Beberapa hari bahkan hampir mencapai dua minggu berikutnya
tak ada satupun kegiatan yang Gabriel lakukan. Ia hanya duduk termenung di
balkon kamarnya, ia memang kembali ke rumahnya setelah dari rumah sakit.
Karena, ia harus menceritakan keberadaan Sivia pada orang tuanya itu.
Sesekali Gabriel menghela nafas panjang. Kebahagiaan itu
ternyata belum datang padanya. Pikirannya tidak pernah fokus lagi seperti dulu,
bayangan Agni selalu datang menghampirinya. Bahkan Shilla yang selalu datang ia
melihatnya dalam sosok Agni.
Clek.
Gabriel berbalik ke arah pintu. Bahkan setelah dua minggu
bayangan Agni masih datang? Ini cinta sejati ataukah terlalu cinta?
“Gab...”
“Shil, bahkan kamu manggil aku
sama kayak Agni manggil aku. udah jangan menghibur kayak gitu lagi.”
Orang yang baru masuk itu terdiam sejenak kemudian berjalan
kembali ke arah Gabriel dengan sesuatu di tangannya. Nampan makanan.
Gabriel menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa bayangan itu
tidak menghilang juga?
“Shil maaf, aku tau itu kamu...
tapi kenapa SHILLA?”
Seseorang menengok di balik pintu dengan cepat.
“Kenapa Yel? Manggil ya?”
Gabriel mengerjabkan matanya, ia melirik lagi pada seseorang
yang kini duduk di sampingnya. Tersenyum begitu manis padanya.
“Agni... ini... kamu.”
Orang itu tersenyum ke arah Gabriel.
“Emangnya siapa lagi yang manggil
kamu Gab?”
Apakah ini mimpi? Oh Tuhan... semoga bukan.
***
Bersambung.
Tinggal satu part. :D
Terimakasih udah mau
baca ya :)
No comments:
Post a Comment