Alvin mendengus kesal saat mendengar deringan ponsel di pagi
buta seperti itu. Ia melihat siapa pemanggilnya, kemudian menyimpan ponsel itu
kembali. Tidak mempedulikannya, toh itu bukan istri tercintanya. Itu deringan
ponsel yang entah keberapa kalinya, dengan pemanggil yang sama yaitu Ify. Ia
heran sendiri kenapa gadis itu pagi-pagi begini menelponnya. Padahal ia
menugaskan gadis itu untuk menjadi sekertaris Agni, bukan untuk
menelpon-nelponnya.
Saat deringan ponsel itu berbeda ia segera mengangkatnya.
“Morning sayang...”
“HEH Alvin! Gue gak tau ya salah gue apa sampe loe gak mau angkat
telpon dari gue. Gue gak penah ada niat jahat ngehubungin loe!”
“Kenapa sih loe? Pagi-pagi gini
juga.”
“Agni masuk rumah sakit! Dia KEGUGURAN!”
“APA?!”
Dari sebrang tidak ada tanggapan sama sekali. Tanpa
mempedulikan ponselnya yang entah terjatuh dimana, ia segera menyambar celana
panjang dan jaketnya. Ia berjalan tergesa menuju kamar Debo.
Alvin mengetuk pintu itu dengan tidak sabar.
“Apa sih Vin? Masih pagi juga.”
“Gue harus pulang sekarang, loe
urus semuanya sendiri. Loe sewa mobil aja selama disini, gue yang nanggung
semua biayanya.”
Debo menatap Alvin dengan pandangan aneh. Tidak biasanya
Alvin tergesa seperti itu, Alvin yang selama ini ia kenal hanyalah Alvin yang
tenang. Bukan yang seperti itu.
“Loe kenapa sih Vin? Kok panik
gitu?”
“Agni masuk rumah sakit.”
Alvin merogoh sakunya mencari kunci mobil dan ponselnya. Ia
mengerang kesal saat benda-benda itu tidak ia temukan. Ia segera berlari kembali
menuju kamarnya kembali dan mencarinya. Setelah ia mendapatkannya ia segera
beranjak dari tempat itu, tak mempedulikan Debo yang berseru
mengkhawatirkannya. Yang ia pedulikan sekarang hanya Agni, gak ada yang lain.
Perjalanan Bandung-Jakarta cukup mulus, tak ada terjebak
macet atau apapun. Alvin menghela nafas lega saat memasuki tol terakhir. Ini
tandanya ia akan segera berada di samping Agni.
Tak sampai satujam ia telah berada di pelataran parkir
sebuah rumah sakit. Ia segera berjalan ke arah lobi itu.
Duk.
Alvin menyenggol seseorang yang nampaknya tergesa juga.
“Maaf.”
Alvin bergumam kemudian menatap orang yang ia tabrak itu.
“Lho anda lagi?”
Alvin tersenyum sekilas menanggapi pertanyaan orang itu. Ia
tak tau ini sebuah kebetulan atau apa, yang pasti ini kali keduanya ia
bertambrakan dengan seseorang yang bahkan namanya saja ia tidak tau. Bersama
dengan oerang itu Alvin mendekati resepsionis.
“Mbak, pasien yang bernama Kanz
Agnida Hayman yang tadi pagi masuk kesini di rawat di ruangan mana?”
Alvin mengalihkan pandangannya secara cepat ke arah samping.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ini terjadi? Dia juga mencari orang yang sama.
Tapi, dengan motif dan tujuan apa? Siapa dia?
Berbagai pertanyaan berkelebat di dalam benak Alvin, ia
benar-benar belum kembali ke alam
sadarnya. Saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Alvin berbalik dan
menatap orang itu.
“Alvin... Agni butuh kamu.”
Alvin menghela nafas panjang, apa iya?
“Dimana kamarnya? Alvin akan
segera kesana Pa.”
Alvin tersenyum tipis pada Irshad yang menampakan wajah yang
lelah bercampur dengan khawatir.
Irshad menghela nafas panjang.
“VIP 15, Papa mau cari sarapan
dulu. Di dalam ada Ify sama seorang gadis lagi.”
Alvin mengangguk lambat. Ia merasakan sebuah remasan di
bahunya dari tangan Irshad, bermaksud menguatkan, sebelum akhirnya dia pergi.
Alvin menghela nafas panjang.
“Mbak, ruangan Dokter yang
menangani pasien yang bernama Kanz Agnida Hayman dimana?”
Petugas resepsionis itu terlihat menatap Alvin dengan aneh.
Mungkin ia heran, baru saja ada yang menanyakan pasien tersebut dan sekarang di
tanyakan juga.
“Maaf, anda keluarga pasien
atau...”
“Saya suaminya, saya perlu tau
bagaimana kondisi istri saya sekarang.”
Petugas itu nampak terpaku sebentar kemudian melihat ke
layar monitor. Lalu menyebutkan nama dokter itu dan letak ruangannya.
“Terikamasih.”
Alvin segera beranjak dari tempat itu, dengan perasaan yang
sangat berat ia memasuki ruangan Dokter yang di tunjukan itu. Apakah ia siap
mendengarkannya?
“Selamat Pagi Dok.”
“Pagi, silahkan duduk.”
Alvin duduk di hadapan Dokter itu, ia menghela nafas panjang
dan memejamkan matanya sejenak.
“Ada yang bisa saya bantu Pak?”
“Ini mengenai istri saya Dok,
Agnida Hayman. Bagaimana bisa dia keguguran? Saya benar-benar kecolongan
mengenai hal ini, karena jujur saja, saya tidak mengetahui kehamilan istri saya
itu.”
Dokter itu juga terlihat menghela nafas panjang kemudian
menatap Alvin.
“Pertama ada indikasi istri bapak
terlalu banyak pikiran, banyak beban. Yang kedua, ada kemungkinan guncangan
yang sangat hebat hingga membuat janin dan ibunya shock berat. Puncaknya saat
istri anda terjatuh di kamar mandi.”
Alvin mengusap wajahnya frustasi, kemudian mencengkram
rambutnya, menariknya, seakan ingin menarik putus rambutnya untuk melampiaskan
seluruh emosinya pada dirinya sendiri.
“Bagaimana mungkin Agni mengalami
shock berat? Dia gak punya riwayat penyakit jantung.”
“Tadi teman istri anda bilang
kalau sehari sebelumnya istri anda bermain ke dufan dan sempat bermain wahana
yang ekstrem.”
Alvin menatap dokter itu tidak percaya. Bagaimana mungkin?
Kenapa Agni tidak meminta dulu ijin padanya? Apa ia sudah tidak berarti lagi
untuk Agni?
Alvin beranjak dari tempat itu setelah sebelumnya
berpamitan. Ia segera berjalan menuju kamar tempat Agni di rawat.
Tanpa ada basa-basi ia masuk ke dalam ruangan itu. Ia harus
secepatnya mendapatkan konfirmasi dari Agni. Tapi, yang ia dapat adalah
pemandangan dimana seorang pria yang berbalik ke arahnya dengan menggenggam
tangan Agni. Agni juga menengok dengan pandangan ketidak percayaannya.
Sementara Ify menegang, ia tidak sanggup menyaksikan mereka. berbeda dengan
gadis yang di samping Ify, ia menatap bingung ke arah semuanya.
“Al...”
Agni memanggil Alvin dengan suara yang mulai parau, ia
menjulurkan tangannya hendak menggapai Alvin. Dengan cepat ia mendekat ke arah
istrinya itu kemudian memeluknya, membenamkan kepala istrinya itu di dadanya,
sementara tangan Alvin mengelus punggung Agni yang mulai bergetar.
Agni merasakan puncak kepalanya di hujami kecupan dari
Alvin, ia merasa tenang dan lebih kuat. Agni mengeratkan pelukannya pada Alvin.
“Maaf Al... maaf... aku gak bisa
jaga anak kita. Maaf...”
Alvin mengeratkan pelukan Agni, ia membenamkan kepalanya di
lekukan leher Agni.
“Enggak sayang, bukan... bukan
salah kamu, ini aku yang salah. Aku malah maksa pergi dan buat kamu dan anak
kita gini. Maaf...”
Alvin berbisik dengan penuh penyesalan. Kemudian ia
merenggangkan pelukannya menyadari sesuatu. Alvin menatap sekelilingnya yang
sudah kosong dari beberapa orang yang tadi berada disana. Kapan mereka pergi?
Alvin merebahkan diri di bangsal Agni, memiringkan tubuhnya
menatap Agni yang hanya bisa meliriknya. Alvin menghela nafas panjang, ia
mengelus permukaan perut Agni dengan lembut.
“Masih sakit?”
Agni menaikan satu tangannya untuk mengelus pipi Alvin dan
satu lagi ia simpan di atas tangan Alvin yang berada di perutnya.
“Sedikit. Aku lebih kuat kalo ada
kamu Al... aku sudah merasa baik sekarang.”
Alvin tersenyum tipis. Ia menghujami wajah Agni dengan
kecupan-kecupan kecil.
“Boleh aku nanya Ni?”
Agni terkekeh kecil, ia mengangguk pelan. Alvin mengalihkan
pandangannya dari Agni ke arah lain, ia tidak bisa melihat senyuman itu
sekarang. Senyumannya benar-benar menyiratkan sebuah kesakitan, kekecewaan dan
penyesalan.
“Siapa lelaki tadi?”
Agni terlihat bingung, ia melirik Alvin dan langit-langit
ruangan itu bergantian. Apa ini saatnya ia untuk jujur? Agni menarik wajah
Alvin agar menghadapnya. Ia tersenyum tipis.
“Dia Gabriel Alexander Fahd.
Pemimpin perusahaan Fahd Company.”
Alvin tersenyum. Ia mengecup kening Agni dengan cepat.
“Lelaki yang masih menjadi
kekasihmu ya?”
“B.Bu... enggak Al, aku udah
mutusin dia.”
Agni menatap Alvin dengan tatapan memohon. Ia berharap
pemuda di sampingnya itu mengerti dan tidak akan mengeluarkan tanduk
kemarahannya.
Alvin terkekeh saat melihat wajah Agni yang begitu tegang
itu. Ia menarik Agni lebih mendekat ke arahnya, kemudian ia membenamkan
kepalanya di lekukan leher Agni. Dalam hati ia berjanji akan menjaga Agni, dan
memastikan bahwa kejadian ini tidak akan terulang lagi.
***
Cakka keluar dari ruang rawat Ray. Ia mendorong puteranya
itu yang duduk di sebuah kursi roda. Ia merasa sangat tidak percaya, di usianya
yang baru saja menginjak kepala dua ia telah memiliki putera, tanggung
jawabnya. Cakka menghela nafas panjang.
“Papa...”
“Iya... kenapa Ray?”
“Mama kemana? Kok lama banget.”
“Ada, lagi ambilin baju ganti
buat Papa.”
Ray mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Ia belum
mengerti apapun tentang kedua orang tuanya. Belum mengerti ke adaannya.
“Cakka?”
Cakka menengok ke arah sumber suara, ia tersenyum pada
seorang gadis yang membelalakan matanya, dengan tangan yang menutupi mulutnya
yang agak terbuka.
“Hai Fy.”
Cakka melempar sebuah senyuman pada Ify, gadis itu berjalan
mendekatinya dengan wajah yang tidak percaya.
“Kka? Apa yang barusan gue
denger? Papa? Jadi... jadi selama ini... loe bohongin gue sama Agni?”
Cakka menghela nafas panjang. Ia melirik Ray yang sedang
memandang Papanya itu dengan bingung.
“Gue gak bohong Fy, karena dulu
gue gak tau kalo gue udah punya anak.” Cakka tersenyum kecil. “Eh iya, ngapain
disini? Siapa yang sakit?”
Ify menghela nafas panjang.
“Agni.” Ify mendesah lelah, “Dia
keguguran.”
“Apa? Kok bisa?”
“Ceritanya cukup rumit, kalo loe
mau liat Agni kita bisa sambil cerita.”
Cakka mengangguk. Ia menundukan dirinya agar sejajar dengan
Ray.
“Ray... kita liat temen Papa ya?
Ray mau?”
Ray mengangguk kecil. Ia melirik ke arah Ify dengan ragu,
anak itu memang sulit untuk beradaptasi.
Ify yang mengerti hal itu segera berjongkok di samping Ray,
mengelus pipi yang mulai chubby itu.
“Ganteng kenalin, aku Ify, kamu
boleh panggil Aunty Ify ya...”
Ray meraih tangan Cakka, dengan sesekali melirik Ify takut.
“Gapapa sayang, Aunty Ify baik
kok.”
Ray melirik Cakka sekilas, untuk meyakinkan saja. Kemudian
menatap Ify seksama.
“Nama kamu siapa?”
“Ray.”
“Nama yang bagus. Yuk kita liat
temen Aunty.”
Cakka dan Ify berjalan berdampingan menuju ruangan Agni yang
berada. Ify menceritakan kronologis kejadian kegugurannya Agni dari pertemuan
Agni bersama Gabriel. Cakka sempat kaget mendengar nama Gabriel lagi. Mereka
sempat beberapa kali bertemu saat Agni sedang bersamanya, saat mau pulang
sekolah, atau saat masih berada di sekolah. Cakka selalu menyebut Gabriel Cowok
posesif. Karena terlihat dari tatapan matanya yang selalu memandang Cakka
dengan tajam. Seolah mengisyaratkan. Agni
hanya milik gue!.
Saat telah berada di lorong tempat ruangan Agni berada ia
berhenti sejenak saat melihat cowok posesif itu berada di sana bersama seorang
gadis yang tak sekalipun ia kenal. Gadis itu terlihat merangkul Gabriel,
memberinya kekuatan.
“Sejak tadi dia emang ada disini,
dia sempet shock melihat Alvin dan mengetahui bahwa mereka sudah menikah.” Ify
menghela nafas, “Gue udah suruh dia balik, tapi dia gak mau. Tau deh kenapa.”
Cakka menghela nafas, ia yakin cowok posesif itu masih
menyayangi Agni. Tapi, apa boleh buat? Agni memang pada kenyataannya sudah
menikah dan memiliki kebahagiaannya sendiri.
“Gabriel.”
Gabriel menengok begitu mendengar suara yang sudah lama tak
di dengarnya. Ia tersenyum kecut pada Cakka. Sekarang gue losser-nya.
“Semoga loe dapetin kebahagiaan
loe, loe jangan terlalu banyak berharap sama Agni. Gue juga nemuin kebahagiaan
gue bukan dari Agni. Dan itu lebih dari cukup.”
Cakka tersenyum ke arah Gabriel yang nampaknya sedikit
tertegun. Ia segera memasuki ruang rawat Agni begitu Ify menariknya masuk.
Cakka terdiam cukup lama menyaksikan pemandangan di
hadapannya. Ia menghela nafas panjang.
“Agni... Alvin.”
Ify menegur keduanya dengan pelan. Ia berjalan ke arah Agni,
duduk di kursi lain di sebelah Agni.
“Kenapa Fy?”
Agni bertanya dengan suara yang cukup parau. Ia melirik ke
arah Alvin yang tidur begitu pulas.
Ify menunjuk ke arah pintu dengan dagunya.
“Al... bangun. Ada tamu.”
Alvin membuka matanya perlahan, kemudian mendudukan dirinya
dengan mengusap wajahnya. Ia menengok ke arah pintu. Setelah nyawanya
benar-benar terkumpul ia tersenyum ke arah Cakka, tapi sedetik kemudian ia
menaikan satu alisnya heran, melihat seorang anak kecil yang Cakka bawa.
“Kka? Dia siapa?”
Alvin bertanya sambil turun dari bangsal itu, ia mendudukan
dirinya di sofa yang tak jauh dari sana dengan sesekali menguap.
“Ray, anak gue.”
“HAH?!”
Agni dan Alvin menatap Cakka dengan tatapan penuh tanya.
Bagaimana bisa?
“Papa... temennya Papa itu
kenapa?”
Agni menatap anak itu dengan nanar, ia merasakan
pandangannya memudar. Cairan bening telah berkumpul dimatanya bersiap untuk
tumpah. Andai saja ia tidak ceroboh, pasti anaknya masih ada. Andai saja ia
tidak bertindak bodoh, pasti... Agni menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Alvin yang melihatnya segera bangkit dan memeluk Agni. Ia
tau pasti apa yang Agni rasakan saat ini. bagaimana perasaan seorang wanita
yang kehilangan anaknya, karena secara tidak langsung ia juga merasakan
kehilangan itu.
“Stop sayang. Udah... udah, ini
udah kejadian gak bisa di ulang lagi.”
Alvin mengecup puncak kepala Agni dengan lembut, memberi
ketenangan pada wanita itu.
Alvin merasakan seseorang menarik bajunya, ie menengok
melihat Ray menarik bajunya. Ia tersenyum pada anak kecil itu kemudian mengurai
pelukan Agni.
Agni mengusap air matanya dengan tangan yang bebas dari
selang infus. Ia melirik ke arah Ray yang tersenyum begitu manis ke arahnya.
Membuat hatinya berdesir.
Alvin menghela nafas panjang, kemudian menaikan Ray ke
pangkuan Agni dan menyimpan infusan Ray pada tempat yang tersisa.
“Aunty jangan nangis.”
Agni tersenyum getir melihatnya, ia memeluk Ray dengan
sayang.
“Enggak kok. Nama kamu siapa
sayang?”
“Ray. Kalo Aunty?”
Agni terkekeh kecil, ia mengecup pipi Ray dengan gemas.
“Nama Aunty Agni.”
Ify mengusap air matanya pelan, kemudian ia beranjak dari
kamar itu setelah berpamitan pada Alvin dan Cakka yang menatapnya bertanya.
Ponsel Ify berdering begitu ia duduk di bangku tempat tunggu.
“Hallo Yo.”
“Fy, loe kenapa? Gimana keadaan Agni?”
Ify menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya.
“Gapapa, Agni? Kenapa loe gak
liat langsung aja? Disini ada Cakka, Gabriel juga.”
Terdengar desahan putus asa dari Rio. mereka punya jalan
kehidupan masing-masing yang sudah jelas. Tapi dirinya? Ia masih bingung untuk
melangkah satu langkah lebih depan. Ia tidak bisa melihat penolakan Agni lagi
terhadapnya.
“Gue gak bisa Fy, mendingan loe dateng ke rumah gue dan cerita ya.”
“Kita liat entar ya? banyak
kerjaan Agni yang terbengkalai, gue kasian juga kalo Agni malah pusing sama
kerjaan ini. kalo udah selesai gue usahain dateng kesana.”
“Yaudah, titip salam aja buat semuanya ya...”
“Heem...”
Tanpa sadar Ify mengangguk menyetujui.
“Bye.”
“Iya, Bye.”
***
Ray menatap Agni tak rela, kini ia sudah di dudukan kembali
di atas kursi rodanya, bersiap kembali menuju kamar rawatnya.
“Aunty cepet sembuh ya...”
Agni tersenyum menanggapinya. Ia menjangkau kepala Ray kemudian
mengelusnya pelan.
“Iya Ray. Kamu juga ya... semoga
panasnya cepet turun.”
Ray mengangguk semangat kemudian melemparkan senyum pada
Agni dengan begitu manis.
“Kalo Ray udah sembuh, Ray main
ke rumah Aunty Agni ya Pa... boleh kan?”
Cakka menangguk menanggapi pertanyaan puteranya itu yang
bertanya sambil memutar badannya. Ia mengelus puncak kepala Ray.
“Alvin, Agni, kita pamit dulu
ya... kayaknya Mamanya Ray udah nyariin.”
Alvin dan Agni melambaikan tangannya pada Ray yang terlebih
dahulu melambaikan tangannya. Pandangan Alvin tak lepas dari arah pintu yang
menghilangkan Cakka dan Ray. Ia menghela nafas begitu dalam. sebenarnya apa
yang ia rasakan? Kecewa? Sedih?
“Al...”
Alvin menengok ke arah Agni yang menatapnya dengan lembut.
Ia tersenyum kemudian duduk di bangsal itu. Mengelus dahi Agni dengan sayang.
“Apa sayang?”
“Aku mau pulang.”
Alvin menganggukan kepalanya pelan. Ia menghela nafas pelan.
“Aku tanya dulu ke dokternya ya?
kalo udah di bolehin kita pulang.”
Agni mengangguk menyetujuinya.
Alvin beranjak meninggalkan kamar itu. Dalam kesunyian itu
Agni kembali terisak, menyesali kebodohan dan kecerobohannya. Apa ia sangat
tidak peka sampai ia hamilpun tidak tau?
Ya Tuhan... maafkan
aku... aku mohon ijinkan aku merawatnya. Dan titipkan dia kembali padaku.
***
Ify menatap laptop dan berkas-berkas di sampingnya dengan
bergantian. Ia harus cepat-cepat menyelesaikannya. Kemudian ia mengambil gagang
teleponnya.
“Hallo Alvin, ada beberapa berkas
yang harus di tanda tangani”
“Besok gue juga masuk kantor.”
“Yaudah.”
Ify menyimpan kembali gagang telepon itu kemudian menyibukan
diri dengan laptopnya. Ia meraih gagang telpon yang berdering.
“Selamat siang Ibu Ify, ada kiriman dari Pak Debo untuk Pak Alvin, Bu
Agni dan Bu Ify.”
“Antarkan keruangan saya.”
“Baik Bu.”
Ify menghela nafas panjang. Kenapa ia jadi berpikiran untuk
tidak bekerja saja kalau pekerjaannya sebanyak ini?
Tok tok tok.
“Masuk.”
Seorang office boy memasuki ruangan itu dengan membawakan
sesuatu di tangannya.
“Maaf Bu, ini kirimannya.”
Ify menerimanya, kemudian mengangguk saat office boy itu
berpamitan untuk keluar.
Ify menimang-nimang paket itu. Debo Debo... jaman sekarang itu udah canggih, bisa pake E-mail, kenapa
masih aja pake kiriman lewat post gini?
Ify membuka paket itu dengan hati-hati. Ify mengeryitkan
dahinya. Undangan apa ini?
DEG! Jantung Ify
berdegup kencang. Ia merasa, sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Dengan
hati-hati ia membuka undangan itu.
Debo
Andera & Safanah Fahriza
Ify membulatkan matanya tidak percaya. Ia menggelengkan
kepalanya, memastikan yang ia baca itu adalah sebuah kesalahan. Tapi, itu
benar. Debo akan menikah.
“Debo... kamu tega!”
Ify melempar undangan itu ke arah tempat sampah, tapi tidak
tepat sasaran hingga terpental kembali ke arahnya.
Ify menelungkupkan wajahnya di atas meja. Punggungnya mulai
bergetar hebat. Apa ini? apa ini rencana Debo untuk menghancurkannya? Lalu, apa
artinya sikap baiknya selama ini? apa ia hanya menjadi boneka mainan?
Ify mengusap air matanya dengan kasar, dengan emosi ia
menutup laptopnya kemudian meraih undangan itu dan di masukan kedalam tasnya.
Tak lama setelah itu ia beranjak dari sana.
“Hallo Yo?”
Ify berkata dengan suara yang masih parau. Dari ujung sana
mendesah khawatir.
“Fy... loe kenapa?”
“Loe dimana?”
“Gue di rumah.”
“Gue kasana sekarang.”
Ify memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
Tak lama kemudian ia telah berada di depan kediaman Rio. ia
membunyikan klakson agar pagarnya di buka.
Ify menghela nafas panjang saat telah berada di pintu utama
kediaman Rio. apa ini keputusan benar? Yang ia butuhkan hanyalah sandaran,
beberapa solusi untuk membangunnya kedepan. Ify menghirup udara dalam-dalam.
“Fy, ngapain masih disini? Yuk
masuk.”
Ify tersenyum pada Rio yang terlebih dahulu membukakan pintu
untuknya. Ia mengikuti Rio dari belakang saat menuju ke dalam rumah Rio itu.
Beberapa kali ia menghela nafas panjang.
Rio menghentikan langkahnya yang membuat Ify menabrak
punggungnya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Ia harus
segera tau.
Rio meraih kedua bahu Ify.
“Kenapa?”
Ify menghela nafas kemudian menatap Rio. ia merogoh tasnya,
setelah mendapatkan barang yang ia mau, ia segera memberikannya pada Rio.
“Siapa Debo?”
“Mantan aku, Yo... yang buat aku
sakit hati itu beberapa minggu ini dia malah baik sama aku, dia seakan memberi
harapan sama aku.” Ify tersenyum kecut. “Tapi ternyata, gue di maenin juga.”
Rio menghela nafas. Ia menangkupkan tangannya di wajah Ify,
agar gadis itu menghadapnya.
“Segala sesuatu pasti ada
alasannya Fy. Udah, gak usah negative thinking dulu.”
Ify mengangguk ragu kemudian mendesah pelan. Apa ia bisa
melepas lelaki itu?
Ponsel Ify berdering sangat nyaring. Ify meraihnya...
kemudian melirik Rio setelah melihat si pemanggil.
“Alvin.”
Ify berujar seakan ia memberitaukan siapa pemanggil itu yang
di tanggapi dengan anggukan dari Rio. saat itu juga Rio meninggalkan Ify untuk
mengambilkannya minuman.
***
Setelah beberapa hari Agni telah di perbolehkan untuk
pulang.
Kini, Agni tertidur pulas di kamarnya. Sejak sedari tadi
dari dalam mobil Agni memang telah tertidur, sampai Alvin harus menggendong
Agni agar tidak membangunkan istrinya itu.
“Agni, aku sayang banget sama
kamu.”
Alvin mengecup kening Agni, kemudian meraih ponselnya.
“Kenapa?”
Orang dari seberang bertanya dengan ogah-ogahan.
“Gue tunggu loe sekarang di
rumah.”
“Loe aja yang kesini, gue di rumah Rio di sebelah rumah loe.”
“Oke.”
Alvin menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia melirik
Agni kemudian mengecup kening Agni lagi.
“Aku pergi dulu sayang.”
Alvin segera beranjak dari kamar itu. Ia harus mengetahui
segalanya, segala yang ia pendam beberapa hari ini. keingin tauan yang sangat
besar dan harus terpenuhi.
***
Ify menengok ke arah pintu utama yang di ketuk.
Rio berjalan ke arah pintu itu dan membukanya.
“Vin, masuk.”
Alvin mengangguk lalu masuk setelah di beri ruang oleh Rio.
Tanpa basa-basi lagi ia langsung duduk di hadapan Ify,
menatapnya dengan penuh intimidasi.
Wajah Ify menegang melihat keseriusan Alvin. Ia sempat
menelan ludah dengan sukar saat beradu pandang dengan Alvin.
“Jawab gue jujur! Siapa yang
ngajakin Agni ke Dufan sebelum Agni keguguran?” Alvin diam sejenak. “Gue harap
bukan loe!”
Ify mendengus kesal. Ia melirik Alvin dengan tatapan tajam. Melihat
Alvin sama saja dengan melihat Debo, karena dimana ada Alvin disitu juga ada
Debo.
“Kalo emang gue kenapa?”
“Gue bunuh loe sekarang juga!”
Ify menelan ludah dengan sukar mendengar desisan horor dari Alvin.
Sepertinya ia tidak main-main dengan ucapannya.
“B.Bukan gue kok. Sumpah!”
Alvin menaikan satu alisnya, lalu menatap Ify dengan penuh
selidik.
“Terus? Siapa?”
Ify duduk dengan gelisah, sesekali ia melirik kesana-kemari
mencari jawaban yang tidak akan membahayakan.
“Gabriel?”
Ify mengalihkan pandangan dengan cepat ke arah Alvin yang
menyebutkan orang yang memang benar-benar mengajak Agni saat itu.
“Jadi bener?”
Ify masih diam, ia melirik Rio dengan ragu. Sementara Rio hanya
diam saja menyimak. Ia tidak ada urusan sedikitpun dengan Alvin.
Melihat Ify tidak menjawab Alvin segera beranjak dari tempat
duduknya.
“Gue anggap itu IYA! Sorry Yo gue
ganggu.”
Alvin beranjak dari kediaman itu dengan cepat, tanpa
mempedulikan Ify yang menatapnya dengan takut dan tak sanggup mengucapkan
apapun. Dengan tangan bergetar ia meraih ponselnya.
***
Agni terbangun saat ponselnya berdering dengan kencang. Ia meraihnya...
“Hallo Fy.”
“Agni, cegah Alvin, jangan sampe suami loe bener-bener ngebunuh Alvin. Cegah
Agni! Sekarang juga.”
“Tunggu! Sebenernya ada apa?”
“Gak ada waktu buat cerita. Sekarang cegah Alvin!”
Bersamaan dengan teriakan histeris dari Ify itu pintu
kamarnya terbuka. Terlihat sekali Alvin menampakan wajah horornya. Agni menyimpan
ponsel itu kemudian berdiri, meraih tangan Alvin yang hendak meraih kunci
mobil.
“Mau kemana Al?”
“Aku ada urusan sebentar.”
Alvin terlihat berusaha menetralkan ekspresi wajahnya. Ia mendudukan
diri di dekat Agni, mengelus rambut Agni yang terurai.
Agni menarik Alvin dalam pelukannya, ia menenggelamkan wajahnya
di lekukan leher Alvin.
“Temenin aku tidur.”
Alvin menghela nafas panjang, lebih tepatnya seperti
mendengus kesal.
“Al...”
“Aku pergi sebentar nanti aku
temenin kamu tidur.”
Agni terdiam namun kepalanya menggeleng-geleng pelan,
pelukannyapun ia eratkan. Ia tidak boleh membiarkan Alvin pergi.
“Jangan kotori tangan kamu Al... Gabriel
tidak akan penah ada artinya lagi dimata aku. please... aku gak mau tangan kamu
kotor cuma gara-gara membunuh orang yang tidak ada artinya seperti dia.”
Alvin terdiam sejenak. Ie mencerna kata-kata Agni. Apa itu
bentuk pembelaan seorang kekasih? Atau sebuah kekhawatiran pada sang suami?
***
Bersambung.
No comments:
Post a Comment