NB: Kisah
Cakka-Sivia-Ray bakalan lebih banyak di LY daripada BA. Jadi ikuti keduanya
ya... :)
***
Alvin tak hentinya memperhatikan Agni yang duduk bersamanya
dalam satu meja makan. Pasca kepulangan dari rumah sakit dan sedikit perdebatan
itu, Agni memang lebih sering diam dari pada berbicara. Lebih parahnya lagi,
Alvin sering mendapati Agni berpandangan kosong. Seakan memikirkan sesuatu yang
sangat berat. Seperti saat ini, Agni malah melamun sambil mengaduk-aduk nasi
dalam piringnya.
Alvin menghela nafas panjang. Apa ini karena ancamannya yang
akan membunuh Gabriel? Tapi, kenapa sampai seperti ini? Apa pemuda itu lebih
penting daripada dirinya? Apa status suami itu tidak lagi penting?
Alvin mendekatkan kursinya lebih merapat lagi pada Agni. Ia
mengelus puncak kepala Agni yang membuat wanita itu berbalik dan tersenyum
kaku.
“Eh... Al.”
Alvin tersenyum lembut pada Agni. Ia mengecup kening Agni
sekilas.
“Kamu kenapa Ni? Beberapa hari
ini kamu kayaknya murung terus. Apa aku punya salah sama kamu?”
Agni tersenyum, ia menepuk pelan pipi kiri Alvin kemudian
mengelusnya.
“Gak ada, kamu gak salah kok. Aku
juga gak tau aku ini kenapa.”
Agni tersenyum lagi setelah mengucapkannya. Kemudian ia
mengalihkan pandangan pada makanannya lalu menyantap makanan itu.
Alvin menghela nafas berat. Ia bingung harus bersikap
seperti apa. Beberapa pekerjaannyapun akhir-akhir ini terbengkalai karena ia
sibuk memperhatikan Agni. Alvin menghela nafas lagi.
“Besok aku berangkat ke Bandung
lagi. Debo malah sibuk siapin pernikahannya.”
Agni menghentikan kunyahannya kemudian mengalihkan pandangan
pada Alvin. Apa ia akan di tinggal lagi? Kejadian seperti apa lagi yang akan ia
dapat setelah di tinggalkan Alvin lagi? Oh
God... semoga gak akan terjadi apa-apa.
“Kamu mau ikut nemenin aku?”
Agni menghela nafas sambil mengalihkan pandangannya ke arah
lain. kemudian ia menggelengkan kepalanya.
“Lusa aku harus check up, kamu
lupa?”
Alvin tersenyum kecil. Hampir saja ia lupa akan hal itu,
semenjak kejadian keguguran itu Alvin memang membuat pertemuan rutin antara
Agni dan dokter Dea yang merupakan dokter ahli kandungan. Entah apa tujuan
Alvin, yang jelas ia sangat menantikan waktu yang tepat untuk mendapatkan bayi
mungil di dalam kehidupannya.
“Yaudah. Aku cuma pergi dua hari
dan aku harap kamu jaga diri baik-baik ya.”
Alvin mengelus puncak kepala Agni dan tersenyum pada
istrinya itu. Agni meraih tangan Alvin dan memeluknya erat. Ia memiringkan
badannya agar bisa merebahkan tubuhnya pada Alvin.
“Lusa juga kelulusan. Kamu lupa
juga?.”
Alvin menghela nafas panjang. Tidak bisakah jadwalnya tidak
sepadat ini? tubuhnya merasa lelah dengan semua jadwal yang menumpuk dan
beberapa hal yang ia lupakan. Terkadang ia kesal sendiri, mengapa ia di
lahirkan sebagai anak tunggal yang harus mengurus perusahaan Papanya dalam usia
yang masih remaja? Itu sangat merepotkan.
“Aku usahain pulang cepet ya.”
Agni mengangguk pelan. Malam ini akan ia habiskan berdua
dengan Alvin. Entah mengapa, ia merasa tak ingin Alvin tinggalkan. Meski waktu
yang sekejap saja. Ia merasa, jika Alvin pergi maka seluruh relung dalam
hatinya juga pergi dan meskipun dalam waktu singkat, itu akan terasa sangat
lama.
***
Esoknya, Agni menyiapkan pakaian Alvin pagi-pagi sekali.
Sementara suaminya itu masih bergelung selimut di atas tempat tidurnya.
Beberapa kali Agni menghela nafas panjang dengan melirik Alvin yang masih
tenang dalam tidurnya.
Agni merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya
sendiri. Semenjak ancaman Alvin yang akan membunuh Gabriel pikirannya terus
melayang pada Gabriel yang menghilang begitu saja. Yang menambah
kekhawatirannya. Apakah Alvin benar-benar membunuh Gabriel? Agni menggeleng
pelan kemudian menutup koper itu dengan tenang dan menurunkannya dari tempat
tidur. Selanjutnya ia menyiapkan pakaian yang akan di pakai Alvin. Agni memilih
dari kemeja, dasi, jas dan celana. Tak lupa juga sepatu pantopel dan kaus kaki.
Ia merapihkannya di sofa karena ia takut jika di siapkan di atas tempat tidur
akan kembali kusut akibat ulah Alvin yang tidak mengetahuinya.
Sampai, Agni merasakan sebuah kecupan hangat di rahangnya
dan juga pelukan yang begitu erat. Tangan kokoh itu mengunci pinggangnya. Agni
berbalik lalu tersenyum pada Alvin, ia merapihkan rambut Alvin yang sangat
acak-acakan itu.
“Mandi gih, aku siapin sarapan
dulu buat kamu.”
Namun, Alvin tak bergeming. Ia malah membenamkan kepalanya
di lekukan leher Agni, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Agni yang sudah segar
itu. Hingga terdengar Alvin berbisik.
“Kamu kenapa? Aku rasa, kamu gak
baik-baik aja.”
Agni terdiam. Suaminya itu memang sangat peka terhadap
dirinya. Agni menutup matanya sejenak kemudian menghela nafas panjang. Ia
memeluk Alvin dengan erat. Enggan untuk melepaskannya.
***
Ify bergelut di ruang kerjanya dengan beberapa file yang
terlihat menumpuk, pekerjaannya terbengkalai karena ketidak konsentrasiannya
beberapa hari ini. semenjak datangnya surat undangan itu. Ify menghela nafas
panjang. Sepertinya ia harus mengundurkan diri dari sini. Ya... meskipun
awalnya Ify di ajak untuk bekerja di sini, tapi alangkah tidak sopannya kalau
ia dengan begitu saja meninggalkan kantor ini. Ify melirik ponselnya yang
berkedip-kedip.
“Kenapa Yo?”
“Ada di kantor?”
“Ya...”
“Fy...”
“Hm.”
“Kenapa? Kamu masih mikirin dia?”
Ify menghela nafas panjang, ia bisa merasakan kekhawatiran
pemuda itu dari nada bicaranya. Apa ia semengkhawatirkan itu?
“Aku cuma capek. Terlalu banyak
kerjaan.”
Rio terdengar menghembuskan nafas panjang.
“Yaudah. Bye.”
“Bye.”
Ify menyimpan kembali ponselnya setelah panggilan itu di
tutup. Ia terdiam sejenak. Kenapa ia merasa Rio itu begitu perhatian padanya?
Atau itu cuma perasaannya saja? Ify menghela nafas panjang. Jangan jadiin Rio pelampiasan Fy, dia
terlalu baik. Semangat Fy!!!
Ify memberi peringatan pada dirinya sendiri, hingga
terdengar deringan dari telepon dan dengan segera ia mengangkatnya.
“Selamat siang Bu Ify. Ada tamu yang hendak menemui anda. Apakah dapat
di perbolehkan masuk?”
“Siapa?”
“Namanya Ashilla. Katanya ada yang sangat penting yang harus di
bicarakan.”
“Yasudah. Biarkan masuk.”
“Baik Bu.”
“Ya...”
Ify menyimpan gagang telepon itu. Dalam pikirannya
berkecamuk. Apa tujuan wanita itu datang kemari? Setaunya, Praha tidak memiliki
kontrak kerja sama lagi dengan Fahd karena Alvin mengalihkan secara sepihak
kerja sama itu dengan perusahaan Hayman dan itu juga atas permintaan Irshad,
Bapak mertuanya.
Tak lama terdengar sebuah ketukan.
“Masuk.”
Seorang wanita yang sangat anggun dengan balutan dress warna
soft blue memasuki ruangannya. Ify tersenyum pada wanita itu, dan dia pun
membalasnya. Ify berjalan ke arah sofa untuk berbicara dengan santai.
“Duduk Kak.”
Shilla terkekeh menanggapi reaksi Ify yang menggunakan aksen
Kak dalam memanggilnya. Mungkin untuk kesopanan karena mengingat umur mereka
terpaut 5 tahun. Ia pun duduk di sebelah Ify.
“Ganggu ya?”
Ify mengangkat bahunya. Ia juga bingung, ia sibuk atau
tidak. Karena yang ia kerjakan sejak tadi kebanyakan hanya melamun saja.
“Kayaknya ada hal penting ya Kak
sampe dateng kesini segala?”
Shilla yang tadinya terlihat ceria kini merengut. Sepertinya
benar yang di katakan Ify. Shilla menghela nafas. Mempersiapkan diri untuk
berbicara.
“Aku benci bilang ini. Tapi...”
Shilla menghela nafas lagi. “Gabriel bener-bener butuh Agni, beberapa hari ini
dia susah makan. Bahkan dia selalu memanggil orang yang masuk kamarnya dengan
nama Agni. Aku gak tau ini salah atau
benar, tapi Gabriel bener-bener butuh Agni.”
Ify menatap Shilla dalam diam. Apa yang bisa ia lakukan? Ify
menghela nafas panjang.
“Apa yang bisa aku lakuin Kak?
Bahkan... Kakak inget Alvin kan?”
Shilla mengangguk pasti.
“Suaminya Agni.”
“Dan asal Kakak tau, Alvin sempat
akan membunuh Gabriel kalau Agni gak mencegahnya. Jadi... aku gak tau apa yang
bisa aku lakuin.”
“Bisa Fy, kamu dateng ke rumah
Gabriel dan bawa Agni.”
“Alvin...?”
“Aku denger tadi pagi dia
berangkat ke Bandung. Menurutku... ini kesempatan baik.”
Ify menghela nafas panjang. Semoga saja...
Ponsel Ify terdengar bergetar di atas meja kerjanya. Ia
segera beranjak untuk mengambilnya.
“Iya Agni. Ada apa?”
Ify melirik Shilla begitu menyebutkan nama Agni. Lalu
mengalihkan pandangannya ke arah lain lagi.
“Anterin gue ke Dokter ya? gue males nyetir nih.”
“Alvin kemana? Kok tumben ajak
gue.”
“Bandung. Jemput gue ya...”
Ify melirik Shilla sekilas.
“Oke. Sekarang gue on the way.”
“Thanks ya... bye.”
“Bye.”
“Gimana?”
Shilla bertanya dengan menatap Ify penuh harap. Matanya
memang sejak tadi tak lepas memandang Ify.
“Aku usahain. Yaudah, aku mau
jemput Agni dulu.”
“Oke. Makasih ya. aku pamit
duluan.”
Ify hanya mengangguk untuk menanggapinya. Sebelum ia pergi
ia membereskan meja kerjanya terlebih dahulu.
***
Agni duduk di hadapan Dokter Dea dan di sampingnya ada Ify
yang siap menyimak.
Dokter Dea terlihat menghela nafas panjang.
“Sebaiknya anda mulai menggunakan
kontrasepsi. Rahim anda masih lemah, tidak baik untuk di buahi lagi untuk
sementara waktu. Kalau tetap memaksa akibat terburuknya adalah anda akan
keguguran kembali. Sebaiknya, anda memutuskan hamil dalam usia kepala dua. Itu
akan lebih baik daripada di masa-masa sekarang.”
Agni menganggukkan kepalanya mengerti. setelah menyelesaikan
pertemuannya, iapun segera pamit pulang karena masih ada beberapa pasien yang
telah menunggu giliran. Agni mengambil nafas dalam. kepala dua? Berarti itu
kurang lebih 3 tahun lagi. Apa Alvin akan mengerti posisinya? Mengingat ucapan
Alvin malam tadi yang mengisyaratkan bahwa ia ingin cepat-cepat memiliki
putera.
Agni mengalihkan pandangan pada Ify yang sedang bergumam tak
jelas. Gadis itu juga terlihat kebingungan. Ia menepuk pundak Ify pelan.
“Loe kenapa? Masih mikirin Debo?”
Ify menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
“Terus?”
“Loe harus ikut gue ke suati
tempat.”
Agni menautkan kedua alisnya. Ia pun mengikuti Ify tanpa
ingin bertanya apapun. Ia hanya ingin mengetahui kemana ia akan di bawa.
***
“Ngapain loe bawa gue kesini?”
Ify menghela nafas panjang kemudian menatap Agni.
“Shilla dateng ke kantor, dia
bilang Gabriel butuh loe. Gue gak tau gimana caranya bilang sama loe tapi loe
harus liat itu.”
Ify menunjuk ke arah atas dengan dagunya. Agni mengikuti
arah tunjukan itu dan mendapati seorang lelaki yang nampaknya sedang melamun,
pandangannya begitu kosong entah memikirkan apa.
“Gue gak bakalan maksa loe turun.
Kita pulang sekarang kalo loe mau.”
Agni sepertinya tidak menanggapi ucapan Ify, ia masih
berpikir, menimbang-nimbang seperti apa baiknya. Saat Ify hendak menginjak gas
Agni berseru.
“Jangan. Gue turun aja...” Agni
melirik Ify yang terejut. “Sebentar.”
Ify mengangguk menyetujui. Lalu ia menancap gas untuk
memasuki gerbang utama rumah itu.
Shilla menyambut kedatangan mobil Ify di pintu utama rumah
itu. Tak lama keluarlah Zahra setelah di panggil Shilla.
“Agni...”
Zahra berjalan dengan cepat menuju Agni yang baru saja
keluar dari pintu penumpang. Di ikuti Ify yang keluar dari pintu pengemudi, Ify
melihat keraguan dalam tatapan Agni. Ia menghela nafas pelan.
“Bu, apa kabar?”
Agni bertanya setelah mengurai pelukan erat itu. Zahra
menyeka air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.
“Baik, kamu sendiri?”
Agni mengangguk di sertai senyuman.
“Seperti yang Ibu liat. Aku
sehat.”
Zahra mengelus rambut Agni dengan sayang. Nyaris saja, gadis
di hadapannya ini akan menjadi menantunya. Zahra menghela nafas panjang.
“Ayo masuk.”
Agni mengangguk kemudian melirik Ify yang mengangguk ke arah
Agni, entah apa maksudnya. Agni berjalan mengekori Zahra hingga sampai di depan
pintu kamar Gabriel. Ia memang beberapa kali pernah ke tempat ini, dulu.
“Agni... tolong bujuk Gabriel
makan.”
Shilla memberikan nampan berisi makanan dan dua gelas salah
satunya susu dan yang lainnya air putih. Agni mengambil nampan itu dengan ragu.
Clek.
Agni membuka pintu dengan hati-hati. Begitu ia masuk ia
mendapati seseorang yang menghadap ke arahnya dengan kondisi yang bisa di
bilang mengenaskan. Penampilannya benar-benar jauh dari penampilan biasanya.
Ini benar-benar... kacau. Gabriel...
seru Agni dalam hati. Hatinya benar-benar ngilu melihat lelaki yang dulu ia
cintai menjadi seperti ini.
“Gab...”
“Shil, bahkan kamu manggil aku
sama kayak Agni manggil aku. udah jangan menghibur kayak gitu lagi.”
Deg!
Shil? Kenapa lelaki itu menyebutkan nama wanita lain
padanya?
Agni berjalan mendekati Gabriel, ia mencengkram nampan itu,
menguatkan hatinya agaar tidak goyah. Gabriel terlihat menggeleng-gelengkan
kepalanya. Dia kenapa? Apa aku jadi
semenyeramkan itu? Gabriel...
“Shil maaf, aku tau itu kamu...
tapi kenapa SHILLA?”
“Kenapa Yel? Manggil ya?”
Agni tak mengiraukan Shilla yang sepertinya muncul di balik
pintu, ia mendudukan dirinya di samping Gabriel.
Gabriel mengerjabkan matanya. Agni tersenyum saat Gabriel
menengok ke arahnya, seperti orang yang meyakinkan penglihatannya.
“Agni... ini... kamu.”
“Emangnya siapa lagi yang manggil
kamu Gab?”
“Agni...”
Dengan cepat Gabriel memeluk Agni. Untung nampan makanan
sudah Agni letakan di depannya, jadilah aman. Tak ada tumpahan mengenainya.
“Gab...”
Tenggorokan Agni terasa tercekat saat menyebutkan nama itu.
Apalagi dengan pelukan yang semakin mengerat padanya. Ia sungguh tak sanggup
untuk menolaknya. Tapi, ia juga enggan untuk membalasnya. Apa yang harus ia
lakukan sekarang? Ya Tuhan...
***
Alvin berpacu dengan kecepatan mobilnya, ia sungguh tidak
sabar untuk kembali ke rumahnya. Ternyata urusannya tidak serumit seperti yang
ia kira, hingga sore ini ia bisa pulang. Menemui istrinya. Alvin melirik ke
arah jok samping, dimana ia telah membelikan seikat bunga yang sangat indah
untuk istrinya itu. Ia juga telah menelpon Dokter Dea dan ternyata Agni telah
pulang. Meskipun pada awalnya ia sempat kecewa dengan penuturan Dokter itu,
tapi itu demi kebaikan Agni juga, kebaikan semuanya. Aku gak sabar ketemu kamu sayang... aku kangen banget sama kamu...
Senyum Alvin semakin mengembang saat gerbang rumahnya telah
terlihat.
Alvin segera keluar dari mobilnya setelah sebelumnya
memasukan mobil kesayangannya memasuki garasi. Alvin berjalan mengendap-endap
memasuki rumahnya. Untuk memberi kejutan pada istrinya itu. Alvin menuju dapur.
Ternyata Agni tidak ada, ia melihat ke halaman belakang, juga tidak ada. Di
sekeliling rumahnya tidak ada. Tujuan terakhirnya adalah kamar.
“Agni...”
Alvin berujar begitu membuka kamarnya. Tapi ternyata ia tak
mendapati Agni di dalamnya.
“AGNII... jangan buat aku
khawatir. AGNIII...”
Alvin dengan cepat membuka kamar mandinya. Ia mengecek
ponselnya, harusnya Agni memberi taunya jika akan pergi dari rumah setelah dari
rumah sakit. Tapi ternyata tak ada satupun pesan untuknya.
Alvin mendial nomor Agni. Ponsel Agni berdering di kamar
itu.
Alvin mengumpat keras. Ini salah satu kebiasaan buruk Agni.
Membiarkan ponselnya tertinggal. Lalu ia mencari nomor telpon Irshad. Tidak di
angkat.
Alvin segera menuruni tangga untuk menemui Gita.
“Bu... tadi Agni pergi sama
siapa?”
“Sama temannya tuan, kalo tidak
salah non Ify.”
“Ify?”
Alvin terlihat menimang-nimang sesuatu. Apa sekarang mereka
ada di rumah Rio?
“Bu, kenal sama pengurus rumah di
sebelah?”
“Kenal tuan. Kenapa memangnya?”
“Tanya padanya, apa Agni ada
disana. Lalu kabari aku. aku akan menemui Papa sebentar.”
“Baik tuan.”
Alvin mendengus kesal. Ternyata kejutannya untuk Agni
berbalik menjadi Agni yang memberi kejutan untuknya. Semua rencananya gagal. Alvin
melemparkan bunga yang ia pegang ke arah jok belakang mobilnya.
***
Alvin memasuki kantor Irshad tanpa permisi. Ini benar-benar
darurat, ia dalam ke adaan panik berat.
“Alvin? Bukannya kamu ke
Bandung?”
“Maaf Pa... Alvin udah pulang.
Apa Agni kesini Pa? Agni gak ada di rumah. Ponselnya juga tertinggal.”
Alvin berucap dengan cepat sambil menunjukan ponsel Agni
yang ia sengaja bawa. Siapa tau aja ia dapatkan sebuah petunjuk.
Irshad mengerutkan keningnya.
“Agni gak kesini Vin, beberapa
hari inikan dia di rumah.”
Alvin mengusap wajahnya frustasi. Kemana lagi ia harus
mencari Agni? Ketakutan menggerogoti hatinya. Kenapa ia merasa akan kehilangan
Agni? Apa itu akan benar-benar terjadi? Ya
Tuhan... lindungi dia dimanapun dia berada.
Ponsel Agni bergetar. Alvin segera membuka pesan yang masuk,
ternyata nomor baru.
Agni, Alvin udah pulang. Loe dimana? Hape Ify gak aktif. Loe masih di
rumah Gabriel? Cepetan pulang. Darurat... gue rasa dia bakalan ngamuk kalau tau
loe di rumah Gabriel.
Rio.
Great!
Sementara Alvin pergi kerja Agni malah pergi ke rumah mantan
pacarnya. Tidak salah kalau istrinya itu ia beri pelajaran!
Alvin berjalan dengan cepat keluar dari ruangan Irshad
setelah berpamitan terebih dahulu. Ia tidak mempedulikan teriakan Irshad yang
sangat mengkhawatirkannya. Alvin mendial nomor rumahnya.
“Jangan katakan pada Agni kalau
aku sudah pulang.”
Alvin memasuki mobilnya kemudian membanting ponselnya entah
kemana. Dengan satu sentakan, mobil Alvin melaju dengan kecepatan penuh. Kali
ini ia akan benar-benar memberi pelajaran pada Agni. Membuat istrinya itu sadar
akan kehadiran dirinya, yang penting untuk di prioritaskan!
***
Hati Agni begitu lega setelah pertemuan itu. Ia berhasil
meyakinkan Gabriel untuk melupakannya dan memulai semuanya dengan hal yang
baru. Dengan semangat ia berjalan ke kamarnya, ia harus segera menghubungi
Alvin. Menceritakan semuanya sebelum terlambat.
Agni memandang sekelilingnya, dimana ponselnya? Agni
mengobrak-abrik seluruh kamarnya mencari benda mungil itu. Dan ternyata tidak
ada. Bagus!
“Bu... Bu Gita...”
“Iya nyonya.”
Agni berbalik ke arah Gita dengan cepat karena panik.
“Ada yang masuk ke kamar gak?
Hape aku gak ada.”
Gita menatap Agni dengan sendu. Ia sangat ingin mengatakan
kedatangan Alvin. Tapi, Alvin memerintahkannya untuk tidak bicara apapun.
“Ti...Tidak nyonya. Semuanya
aman. Coba kita cari sama-sama.”
Agni mengangguk setuju.
Setelah berulang kali mereka cari ternyata bernda mungil itu
tak kunjung di temukan. Agni yang mulai gak sabaran pun menyambar telepon
rumahnya untuk menghubungi Alvin.
Bulukuduknya meremang, hatinya terasa mencelos saat
panggilannya malah di jawab operator yang mengatakan nomor tersebut tidak
aktif. Kenapa tidak aktif? Apa Alvin baik-baik saja?
Perasaan cemas dengan cepat menguasai dirinya.
“Minum dulu nyonya.”
Gita menatap iba kondisi Agni sekarang. Apa sebaiknya ia
mengatakan yang sebenarnya? Sepertinya ia harus mengatakannya. Harus!
“Nyonya... sebenarnya...”
“Aku istirahat dulu Bu.”
Agni menghela nafas panjang kemudian beranjak pergi. Ia tidak
menyadari Gita yang akan berkata apapun. Yang ada dalam pikirannya hanya Alvin,
Alvin, dan Alvin. Kenapa setelah masalah Gabriel selesai malah ada masalah
baru? Oh God... selamatkanlah dia,
lindungi suamiku.
***
Beberapa hari tak ada kabar dari Alvin membuat Agni seperti
mayat hidup. Bahkan janjinya untuk pulang dan menemaninya kelulusanpun dia
tidak ada. Agni juga memutuskan untuk tidak datang pada acara kelulusan itu.
Agni hanya terdiam di rumah, ia takut saat ia pergi Alvin datang untuk menepati
janjinya.
Kini sudah sampai satu minggu Alvin menghilang. Tanpa kabar
sedikitpun. Berbagai pikiran burukpun menghampirinya. Bagaimana kalau Alvin
kecelakaan dan menghilang? Bagaimana kalau Alvin memiliki wanita idaman lain?
dan bagaimana-bagaimana lainnya. Agni semakin terpuruk dengan
pemikiran-pemikirannya itu. Tapi, justru berbading terbalik saat Irshad datang
menemuinya. Sebisa mungkin ia menutupi masalahnya. Menutupi semuanya dari
Irshad. Ia tidak mau Papanya itu khawatir terhadapnya dan memperburuk kondisi
kesehatannya.
Gita yang melihat perubahan Agni semakin tidak tega saja. Ia
benar-benar tidak di beri kesempatan bicara oleh Agni. Ia hanya di ijinkan
mendengarkan saja, tanpa mengatakan apapun. Saat ia hendak berkata Agni malah
tertawa kelu dan berujar.
“Ibu gak usah hibur aku. Aku tau kok mungkin Alvin bosen sama aku.”
Dan setelah mengatakan itu, Agni akan dengan cepat pergi
kekamar. Meninggalkannya.
Telepon yang berada di dapur berdering. Itu pasti Alvin.
Tuannya itu memang selalu menghubunginya menanyakan keadaan Agni. Tapi tak ada
tindakan apapun dari Alvin setelah mengetahui kekacauan istrinya itu.
“Nyonya Agni semakin kacau tuan.
Sekarang jarang makan. Saya sarankan tuan lebih baik cepat pulang.”
“Katakan padanya, datang ke kafe milik Cakka nanti malam. Aku
menunggunya disana.”
Alvin mengakhiri perbincangannya dengan sepihak, tanpa
mengatakan apapun lagi. Gita tersenyum tipis. Setidaknya, mungkin ini akhir
pertengkaran mereka.
***
Alvin memejamkan matanya kuat-kuat. Seminggu ini tak
membuahkan hasil apapun. Dan ini keputusannya sekarang. Meski berat, tapi ia
harus melakukannya.
“Kalo gak yakin mendingan
jangan.”
“Gak bisa Zev, ini keputusan
terbaik. Thanks udah mau bantu.”
Alvin segera beranjak dari tempat duduknya. Beberapa hari
ini, ia menyelidiki Gabriel. Yang ternyata Gabriel baru memasuki kantornya lagi
pasca dua minggu menghilang. Alvin yakin, Agni telah melakukan seuatu pada
lelaki itu sampai lelaki itu menjadi semangat kembali. Tapi apa?
Alvin menarik nafas dan menghembuskannya dengan kencang.
Kenapa keinginannya untuk membunuh lelaki itu datang kembali? Alvin mendial
sebuah nomor telpon.
“Gabriel.”
***
Agni tersenyum cerah saat memasuki pelataran parkir kafe
milik Cakka. Meskipun ia bingung dengan Alvin. Tapi ia senang, ia akan bertemu
dengan suaminya itu sekarang.
Agni mengerutkan keningnya saat melihat kafe itu padam. Tapi,
saat melihat mobil yang ia kenal terparkir di sebelah mobilnya ia dengan
semangat berjalan memasuki kafe itu. Aku kangen banget sama kamu Alvin. Aku gak
tau ini pertengkaran atau bukan, tapi semoga ini pertengkaran kita yang
terakhir.
Agni menarik nafas lalu menghembuskannya dengan keras. Saat
ia memasuki kafe itu, kafe itu menyala dengan sendirinya. Agni tersenyum pada
Alvin yang duduk di kursi tengah, ia segera mendekati Alvin yang berdiri
menyambutnya. Dengan cepat Agni memeluk Alvin erat. Ia tak ingin jauh dari
lelaki ini untuk kedua kalinya.
“Kamu kemana aja Al? Aku...”
Alvin mengecup bibir Agni sekilas untuk menghentikan ucapan
Agni. Ia tersenyum tipis pada Agni kemudian melirik ke arah belakang Agni.
“Gabriel...”
Agni berbalik, ia cukup kaget mandapati Gabriel yang berdiri
di ambang pintu. Ia kira, ini dinner berdua. Tapi kenapa?
“G.Gab?”
Agni menatap Gabriel dan Alvin dengan bergantian. Ia tidak
mengerti dengan apa yang Alvin rencanakan ini.
“Aku tinggal. Selesaikan urusan
kalian.”
Alvin mengacak sebentar puncak kepala Agni lalu mengecup
kening istrinya itu. Setelah itu ia beranjak keluar dari kafe itu. Ia hanya
ingin mengetahui apa yang akan mereka lakukan jika berdua. Ia akan mengawasinya
dalam radius yang sangat jauh. Ia perlu meyakinkan hatinya.
Alvin bersandar pada mobilnya, mengawasi Agni dan Gabriel
yang mulai berbicara. Gabriel menggenggam jemari Agni dengan erat. Keduanya
saling berbicara satu-sama lain. Alvin tidak tau apa yang mereka bicarakan. Ia
hanya ingin melihat reaksi Agni saja.
Ini salah! Alvin merasa dadanya tertohok saat ternyata Agni
tersenyum begitu manis pada pemuda itu. Saat Gabriel mengelus pipi Agni.
Keduanya berpelukan sangat erat. Alvin melihat jelas hal itu. Alvin memalingkan
wajahnya saat melihat Gabriel yang mendekatkan wajahnya pada Agni. Ia tidak
akan pernah sanggup melihat yang ia cintai berciuman di hadapannya.
Alvin mengambil dokumen yang ia bawa dari Zevana tadi. Ia
mengambil sebuah bolpoin dan membubuhkan sebuah tanda tangan di atas kertas
itu. Sangat berat, tapi itu harus.
“Al... Terimakasih.”
Alvin mengangkat wajahnya, ia tersenyum pada Agni yang
ternyata telah berdiri di hadapannya. Ia mengelus puncak kepalanya dengan
sayang.
“Kamu seneng? Kamu gak usah
sembunyi-sembunyi lagi kalau mau bertemu sama dia. Tadinya, aku mau
membunuhnya, tapi saat kamu memanggilnya dengan nama kesayangan kamu. Aku jadi
gak tega.”
Mata Agni mulai berkaca-kaca. Ia mengerti sekarang kenapa
Alvin menghilang. Alvin mengetahui kepergiannya ke rumah Gabriel hari itu. Agni
merengkuh wajah Alvin dengan kedua tangannya. Tak ingin kehilangan sedikitpun
kesempatan untuk menatap suaminya itu lebih lama lagi.
“Ini... dokumen perceraian kita”
Alvin mengacungkan dokumen itu. Sementara Agni menatapnya
dengan pandangan tidak percaya. Hanya sampai di sanakah perjuangan Alvin untuk
mendapatkannya? Air mata Agni kini meluncur dengan deras. Dentuman keras dalam
dadanya membuatnya sangat sesak, seperti kehabisan oksigen untuk di hirup.
“Didalamnya kamu yang menggugat
aku dengan alasan aku affair dengan wanita lain. aku gak mau nama kamu jadi
jelek karena hal ini. semoga kamu bahagia sama Gabriel, aku akan per...hmp...”
Agni membungkam bibir Alvin dengan bibirnya. Ia tidak
mengijinkan Alvin meneruskan ucapannya. Ia terus membungkam bibir itu. Agni
memeluk Alvin dengan erat.
Alvin membalas ciumannya itu dengan memeluk pinggang Agni.
Akankah ini menjadi kebersamaan mereka yang terakhir? Apakah semuanya akan
berakhir begitu saja?
***
Bersambung.
Masih ada 1 part lagi
:)
Terimakasih udah mau
baca... :)
No comments:
Post a Comment