Tuesday, 23 July 2013

Business Arrangement #11

NB: Kisah Cakka-Sivia-Ray bakalan lebih banyak di LY daripada BA. Jadi ikuti keduanya ya... :)

***

Alvin tak hentinya memperhatikan Agni yang duduk bersamanya dalam satu meja makan. Pasca kepulangan dari rumah sakit dan sedikit perdebatan itu, Agni memang lebih sering diam dari pada berbicara. Lebih parahnya lagi, Alvin sering mendapati Agni berpandangan kosong. Seakan memikirkan sesuatu yang sangat berat. Seperti saat ini, Agni malah melamun sambil mengaduk-aduk nasi dalam piringnya.

Alvin menghela nafas panjang. Apa ini karena ancamannya yang akan membunuh Gabriel? Tapi, kenapa sampai seperti ini? Apa pemuda itu lebih penting daripada dirinya? Apa status suami itu tidak lagi penting?
Alvin mendekatkan kursinya lebih merapat lagi pada Agni. Ia mengelus puncak kepala Agni yang membuat wanita itu berbalik dan tersenyum kaku.

“Eh... Al.”

Alvin tersenyum lembut pada Agni. Ia mengecup kening Agni sekilas.

“Kamu kenapa Ni? Beberapa hari ini kamu kayaknya murung terus. Apa aku punya salah sama kamu?”

Agni tersenyum, ia menepuk pelan pipi kiri Alvin kemudian mengelusnya.

“Gak ada, kamu gak salah kok. Aku juga gak tau aku ini kenapa.”

Agni tersenyum lagi setelah mengucapkannya. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada makanannya lalu menyantap makanan itu.

Alvin menghela nafas berat. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Beberapa pekerjaannyapun akhir-akhir ini terbengkalai karena ia sibuk memperhatikan Agni. Alvin menghela nafas lagi.

“Besok aku berangkat ke Bandung lagi. Debo malah sibuk siapin pernikahannya.”

Agni menghentikan kunyahannya kemudian mengalihkan pandangan pada Alvin. Apa ia akan di tinggal lagi? Kejadian seperti apa lagi yang akan ia dapat setelah di tinggalkan Alvin lagi? Oh God... semoga gak akan terjadi apa-apa.

“Kamu mau ikut nemenin aku?”

Agni menghela nafas sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. kemudian ia menggelengkan kepalanya.

“Lusa aku harus check up, kamu lupa?”

Alvin tersenyum kecil. Hampir saja ia lupa akan hal itu, semenjak kejadian keguguran itu Alvin memang membuat pertemuan rutin antara Agni dan dokter Dea yang merupakan dokter ahli kandungan. Entah apa tujuan Alvin, yang jelas ia sangat menantikan waktu yang tepat untuk mendapatkan bayi mungil di dalam kehidupannya.

“Yaudah. Aku cuma pergi dua hari dan aku harap kamu jaga diri baik-baik ya.”

Alvin mengelus puncak kepala Agni dan tersenyum pada istrinya itu. Agni meraih tangan Alvin dan memeluknya erat. Ia memiringkan badannya agar bisa merebahkan tubuhnya pada Alvin.

“Lusa juga kelulusan. Kamu lupa juga?.”

Alvin menghela nafas panjang. Tidak bisakah jadwalnya tidak sepadat ini? tubuhnya merasa lelah dengan semua jadwal yang menumpuk dan beberapa hal yang ia lupakan. Terkadang ia kesal sendiri, mengapa ia di lahirkan sebagai anak tunggal yang harus mengurus perusahaan Papanya dalam usia yang masih remaja? Itu sangat merepotkan.

“Aku usahain pulang cepet ya.”

Agni mengangguk pelan. Malam ini akan ia habiskan berdua dengan Alvin. Entah mengapa, ia merasa tak ingin Alvin tinggalkan. Meski waktu yang sekejap saja. Ia merasa, jika Alvin pergi maka seluruh relung dalam hatinya juga pergi dan meskipun dalam waktu singkat, itu akan terasa sangat lama.

***

Esoknya, Agni menyiapkan pakaian Alvin pagi-pagi sekali. Sementara suaminya itu masih bergelung selimut di atas tempat tidurnya. Beberapa kali Agni menghela nafas panjang dengan melirik Alvin yang masih tenang dalam tidurnya.

Agni merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya sendiri. Semenjak ancaman Alvin yang akan membunuh Gabriel pikirannya terus melayang pada Gabriel yang menghilang begitu saja. Yang menambah kekhawatirannya. Apakah Alvin benar-benar membunuh Gabriel? Agni menggeleng pelan kemudian menutup koper itu dengan tenang dan menurunkannya dari tempat tidur. Selanjutnya ia menyiapkan pakaian yang akan di pakai Alvin. Agni memilih dari kemeja, dasi, jas dan celana. Tak lupa juga sepatu pantopel dan kaus kaki. Ia merapihkannya di sofa karena ia takut jika di siapkan di atas tempat tidur akan kembali kusut akibat ulah Alvin yang tidak mengetahuinya.

Sampai, Agni merasakan sebuah kecupan hangat di rahangnya dan juga pelukan yang begitu erat. Tangan kokoh itu mengunci pinggangnya. Agni berbalik lalu tersenyum pada Alvin, ia merapihkan rambut Alvin yang sangat acak-acakan itu.

“Mandi gih, aku siapin sarapan dulu buat kamu.”

Namun, Alvin tak bergeming. Ia malah membenamkan kepalanya di lekukan leher Agni, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Agni yang sudah segar itu. Hingga terdengar Alvin berbisik.

“Kamu kenapa? Aku rasa, kamu gak baik-baik aja.”

Agni terdiam. Suaminya itu memang sangat peka terhadap dirinya. Agni menutup matanya sejenak kemudian menghela nafas panjang. Ia memeluk Alvin dengan erat. Enggan untuk melepaskannya.

***

Ify bergelut di ruang kerjanya dengan beberapa file yang terlihat menumpuk, pekerjaannya terbengkalai karena ketidak konsentrasiannya beberapa hari ini. semenjak datangnya surat undangan itu. Ify menghela nafas panjang. Sepertinya ia harus mengundurkan diri dari sini. Ya... meskipun awalnya Ify di ajak untuk bekerja di sini, tapi alangkah tidak sopannya kalau ia dengan begitu saja meninggalkan kantor ini. Ify melirik ponselnya yang berkedip-kedip.

“Kenapa Yo?”
“Ada di kantor?”
“Ya...”
“Fy...”
“Hm.”
“Kenapa? Kamu masih mikirin dia?”

Ify menghela nafas panjang, ia bisa merasakan kekhawatiran pemuda itu dari nada bicaranya. Apa ia semengkhawatirkan itu?

“Aku cuma capek. Terlalu banyak kerjaan.”

Rio terdengar menghembuskan nafas panjang.

“Yaudah. Bye.”
“Bye.”

Ify menyimpan kembali ponselnya setelah panggilan itu di tutup. Ia terdiam sejenak. Kenapa ia merasa Rio itu begitu perhatian padanya? Atau itu cuma perasaannya saja? Ify menghela nafas panjang. Jangan jadiin Rio pelampiasan Fy, dia terlalu baik. Semangat Fy!!!
Ify memberi peringatan pada dirinya sendiri, hingga terdengar deringan dari telepon dan dengan segera ia mengangkatnya.

“Selamat siang Bu Ify. Ada tamu yang hendak menemui anda. Apakah dapat di perbolehkan masuk?”
“Siapa?”
“Namanya Ashilla. Katanya ada yang sangat penting yang harus di bicarakan.”
“Yasudah. Biarkan masuk.”
“Baik Bu.”
“Ya...”

Ify menyimpan gagang telepon itu. Dalam pikirannya berkecamuk. Apa tujuan wanita itu datang kemari? Setaunya, Praha tidak memiliki kontrak kerja sama lagi dengan Fahd karena Alvin mengalihkan secara sepihak kerja sama itu dengan perusahaan Hayman dan itu juga atas permintaan Irshad, Bapak mertuanya.

Tak lama terdengar sebuah ketukan.

“Masuk.”

Seorang wanita yang sangat anggun dengan balutan dress warna soft blue memasuki ruangannya. Ify tersenyum pada wanita itu, dan dia pun membalasnya. Ify berjalan ke arah sofa untuk berbicara dengan santai.

“Duduk Kak.”

Shilla terkekeh menanggapi reaksi Ify yang menggunakan aksen Kak dalam memanggilnya. Mungkin untuk kesopanan karena mengingat umur mereka terpaut 5 tahun. Ia pun duduk di sebelah Ify.

“Ganggu ya?”

Ify mengangkat bahunya. Ia juga bingung, ia sibuk atau tidak. Karena yang ia kerjakan sejak tadi kebanyakan hanya melamun saja.

“Kayaknya ada hal penting ya Kak sampe dateng kesini segala?”

Shilla yang tadinya terlihat ceria kini merengut. Sepertinya benar yang di katakan Ify. Shilla menghela nafas. Mempersiapkan diri untuk berbicara.

“Aku benci bilang ini. Tapi...” Shilla menghela nafas lagi. “Gabriel bener-bener butuh Agni, beberapa hari ini dia susah makan. Bahkan dia selalu memanggil orang yang masuk kamarnya dengan nama Agni. Aku gak tau ini salah atau  benar, tapi Gabriel bener-bener butuh Agni.”

Ify menatap Shilla dalam diam. Apa yang bisa ia lakukan? Ify menghela nafas panjang.

“Apa yang bisa aku lakuin Kak? Bahkan... Kakak inget Alvin kan?”

Shilla mengangguk pasti.

“Suaminya Agni.”
“Dan asal Kakak tau, Alvin sempat akan membunuh Gabriel kalau Agni gak mencegahnya. Jadi... aku gak tau apa yang bisa aku lakuin.”
“Bisa Fy, kamu dateng ke rumah Gabriel dan bawa Agni.”
“Alvin...?”
“Aku denger tadi pagi dia berangkat ke Bandung. Menurutku... ini kesempatan baik.”

Ify menghela nafas panjang. Semoga saja...
Ponsel Ify terdengar bergetar di atas meja kerjanya. Ia segera beranjak untuk mengambilnya.

“Iya Agni. Ada apa?”

Ify melirik Shilla begitu menyebutkan nama Agni. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain lagi.

“Anterin gue ke Dokter ya? gue males nyetir nih.”
“Alvin kemana? Kok tumben ajak gue.”
“Bandung. Jemput gue ya...”

Ify melirik Shilla sekilas.

“Oke. Sekarang gue on the way.”
“Thanks ya... bye.”
“Bye.”

“Gimana?”

Shilla bertanya dengan menatap Ify penuh harap. Matanya memang sejak tadi tak lepas memandang Ify.

“Aku usahain. Yaudah, aku mau jemput Agni dulu.”
“Oke. Makasih ya. aku pamit duluan.”

Ify hanya mengangguk untuk menanggapinya. Sebelum ia pergi ia membereskan meja kerjanya terlebih dahulu.

***

Agni duduk di hadapan Dokter Dea dan di sampingnya ada Ify yang siap menyimak.
Dokter Dea terlihat menghela nafas panjang.

“Sebaiknya anda mulai menggunakan kontrasepsi. Rahim anda masih lemah, tidak baik untuk di buahi lagi untuk sementara waktu. Kalau tetap memaksa akibat terburuknya adalah anda akan keguguran kembali. Sebaiknya, anda memutuskan hamil dalam usia kepala dua. Itu akan lebih baik daripada di masa-masa sekarang.”

Agni menganggukkan kepalanya mengerti. setelah menyelesaikan pertemuannya, iapun segera pamit pulang karena masih ada beberapa pasien yang telah menunggu giliran. Agni mengambil nafas dalam. kepala dua? Berarti itu kurang lebih 3 tahun lagi. Apa Alvin akan mengerti posisinya? Mengingat ucapan Alvin malam tadi yang mengisyaratkan bahwa ia ingin cepat-cepat memiliki putera.

Agni mengalihkan pandangan pada Ify yang sedang bergumam tak jelas. Gadis itu juga terlihat kebingungan. Ia menepuk pundak Ify pelan.

“Loe kenapa? Masih mikirin Debo?”

Ify menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

“Terus?”
“Loe harus ikut gue ke suati tempat.”

Agni menautkan kedua alisnya. Ia pun mengikuti Ify tanpa ingin bertanya apapun. Ia hanya ingin mengetahui kemana ia akan di bawa.

***

“Ngapain loe bawa gue kesini?”

Ify menghela nafas panjang kemudian menatap Agni.

“Shilla dateng ke kantor, dia bilang Gabriel butuh loe. Gue gak tau gimana caranya bilang sama loe tapi loe harus liat itu.”

Ify menunjuk ke arah atas dengan dagunya. Agni mengikuti arah tunjukan itu dan mendapati seorang lelaki yang nampaknya sedang melamun, pandangannya begitu kosong entah memikirkan apa.

“Gue gak bakalan maksa loe turun. Kita pulang sekarang kalo loe mau.”

Agni sepertinya tidak menanggapi ucapan Ify, ia masih berpikir, menimbang-nimbang seperti apa baiknya. Saat Ify hendak menginjak gas Agni berseru.

“Jangan. Gue turun aja...” Agni melirik Ify yang terejut. “Sebentar.”

Ify mengangguk menyetujui. Lalu ia menancap gas untuk memasuki gerbang utama rumah itu.

Shilla menyambut kedatangan mobil Ify di pintu utama rumah itu. Tak lama keluarlah Zahra setelah di panggil Shilla.

“Agni...”

Zahra berjalan dengan cepat menuju Agni yang baru saja keluar dari pintu penumpang. Di ikuti Ify yang keluar dari pintu pengemudi, Ify melihat keraguan dalam tatapan Agni. Ia menghela nafas pelan.

“Bu, apa kabar?”

Agni bertanya setelah mengurai pelukan erat itu. Zahra menyeka air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.

“Baik, kamu sendiri?”

Agni mengangguk di sertai senyuman.

“Seperti yang Ibu liat. Aku sehat.”

Zahra mengelus rambut Agni dengan sayang. Nyaris saja, gadis di hadapannya ini akan menjadi menantunya. Zahra menghela nafas panjang.

“Ayo masuk.”

Agni mengangguk kemudian melirik Ify yang mengangguk ke arah Agni, entah apa maksudnya. Agni berjalan mengekori Zahra hingga sampai di depan pintu kamar Gabriel. Ia memang beberapa kali pernah ke tempat ini, dulu.

“Agni... tolong bujuk Gabriel makan.”

Shilla memberikan nampan berisi makanan dan dua gelas salah satunya susu dan yang lainnya air putih. Agni mengambil nampan itu dengan ragu.

Clek.

Agni membuka pintu dengan hati-hati. Begitu ia masuk ia mendapati seseorang yang menghadap ke arahnya dengan kondisi yang bisa di bilang mengenaskan. Penampilannya benar-benar jauh dari penampilan biasanya. Ini benar-benar... kacau. Gabriel... seru Agni dalam hati. Hatinya benar-benar ngilu melihat lelaki yang dulu ia cintai menjadi seperti ini.

“Gab...”
“Shil, bahkan kamu manggil aku sama kayak Agni manggil aku. udah jangan menghibur kayak gitu lagi.”

Deg!
Shil? Kenapa lelaki itu menyebutkan nama wanita lain padanya?
Agni berjalan mendekati Gabriel, ia mencengkram nampan itu, menguatkan hatinya agaar tidak goyah. Gabriel terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kenapa? Apa aku jadi semenyeramkan itu? Gabriel...

“Shil maaf, aku tau itu kamu... tapi kenapa SHILLA?”
“Kenapa Yel? Manggil ya?”

Agni tak mengiraukan Shilla yang sepertinya muncul di balik pintu, ia mendudukan dirinya di samping Gabriel.
Gabriel mengerjabkan matanya. Agni tersenyum saat Gabriel menengok ke arahnya, seperti orang yang meyakinkan penglihatannya.

“Agni... ini... kamu.”
“Emangnya siapa lagi yang manggil kamu Gab?”
“Agni...”

Dengan cepat Gabriel memeluk Agni. Untung nampan makanan sudah Agni letakan di depannya, jadilah aman. Tak ada tumpahan mengenainya.

“Gab...”

Tenggorokan Agni terasa tercekat saat menyebutkan nama itu. Apalagi dengan pelukan yang semakin mengerat padanya. Ia sungguh tak sanggup untuk menolaknya. Tapi, ia juga enggan untuk membalasnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ya Tuhan...

***

Alvin berpacu dengan kecepatan mobilnya, ia sungguh tidak sabar untuk kembali ke rumahnya. Ternyata urusannya tidak serumit seperti yang ia kira, hingga sore ini ia bisa pulang. Menemui istrinya. Alvin melirik ke arah jok samping, dimana ia telah membelikan seikat bunga yang sangat indah untuk istrinya itu. Ia juga telah menelpon Dokter Dea dan ternyata Agni telah pulang. Meskipun pada awalnya ia sempat kecewa dengan penuturan Dokter itu, tapi itu demi kebaikan Agni juga, kebaikan semuanya. Aku gak sabar ketemu kamu sayang... aku kangen banget sama kamu...
Senyum Alvin semakin mengembang saat gerbang rumahnya telah terlihat.

Alvin segera keluar dari mobilnya setelah sebelumnya memasukan mobil kesayangannya memasuki garasi. Alvin berjalan mengendap-endap memasuki rumahnya. Untuk memberi kejutan pada istrinya itu. Alvin menuju dapur. Ternyata Agni tidak ada, ia melihat ke halaman belakang, juga tidak ada. Di sekeliling rumahnya tidak ada. Tujuan terakhirnya adalah kamar.

“Agni...”

Alvin berujar begitu membuka kamarnya. Tapi ternyata ia tak mendapati Agni di dalamnya.

“AGNII... jangan buat aku khawatir. AGNIII...”

Alvin dengan cepat membuka kamar mandinya. Ia mengecek ponselnya, harusnya Agni memberi taunya jika akan pergi dari rumah setelah dari rumah sakit. Tapi ternyata tak ada satupun pesan untuknya.
Alvin mendial nomor Agni. Ponsel Agni berdering di kamar itu.
Alvin mengumpat keras. Ini salah satu kebiasaan buruk Agni. Membiarkan ponselnya tertinggal. Lalu ia mencari nomor telpon Irshad. Tidak di angkat.
Alvin segera menuruni tangga untuk menemui Gita.

“Bu... tadi Agni pergi sama siapa?”
“Sama temannya tuan, kalo tidak salah non Ify.”
“Ify?”

Alvin terlihat menimang-nimang sesuatu. Apa sekarang mereka ada di rumah Rio?

“Bu, kenal sama pengurus rumah di sebelah?”
“Kenal tuan. Kenapa memangnya?”
“Tanya padanya, apa Agni ada disana. Lalu kabari aku. aku akan menemui Papa sebentar.”
“Baik tuan.”

Alvin mendengus kesal. Ternyata kejutannya untuk Agni berbalik menjadi Agni yang memberi kejutan untuknya. Semua rencananya gagal. Alvin melemparkan bunga yang ia pegang ke arah jok belakang mobilnya.

***

Alvin memasuki kantor Irshad tanpa permisi. Ini benar-benar darurat, ia dalam ke adaan panik berat.

“Alvin? Bukannya kamu ke Bandung?”
“Maaf Pa... Alvin udah pulang. Apa Agni kesini Pa? Agni gak ada di rumah. Ponselnya juga tertinggal.”

Alvin berucap dengan cepat sambil menunjukan ponsel Agni yang ia sengaja bawa. Siapa tau aja ia dapatkan sebuah petunjuk.

Irshad mengerutkan keningnya.

“Agni gak kesini Vin, beberapa hari inikan dia di rumah.”

Alvin mengusap wajahnya frustasi. Kemana lagi ia harus mencari Agni? Ketakutan menggerogoti hatinya. Kenapa ia merasa akan kehilangan Agni? Apa itu akan benar-benar terjadi? Ya Tuhan... lindungi dia dimanapun dia berada.

Ponsel Agni bergetar. Alvin segera membuka pesan yang masuk, ternyata nomor baru.

Agni, Alvin udah pulang. Loe dimana? Hape Ify gak aktif. Loe masih di rumah Gabriel? Cepetan pulang. Darurat... gue rasa dia bakalan ngamuk kalau tau loe di rumah Gabriel.

Rio.

Great!
Sementara Alvin pergi kerja Agni malah pergi ke rumah mantan pacarnya. Tidak salah kalau istrinya itu ia beri pelajaran!

Alvin berjalan dengan cepat keluar dari ruangan Irshad setelah berpamitan terebih dahulu. Ia tidak mempedulikan teriakan Irshad yang sangat mengkhawatirkannya. Alvin mendial nomor rumahnya.

“Jangan katakan pada Agni kalau aku sudah pulang.”

Alvin memasuki mobilnya kemudian membanting ponselnya entah kemana. Dengan satu sentakan, mobil Alvin melaju dengan kecepatan penuh. Kali ini ia akan benar-benar memberi pelajaran pada Agni. Membuat istrinya itu sadar akan kehadiran dirinya, yang penting untuk di prioritaskan!

***

Hati Agni begitu lega setelah pertemuan itu. Ia berhasil meyakinkan Gabriel untuk melupakannya dan memulai semuanya dengan hal yang baru. Dengan semangat ia berjalan ke kamarnya, ia harus segera menghubungi Alvin. Menceritakan semuanya sebelum terlambat.
Agni memandang sekelilingnya, dimana ponselnya? Agni mengobrak-abrik seluruh kamarnya mencari benda mungil itu. Dan ternyata tidak ada. Bagus!

“Bu... Bu Gita...”
“Iya nyonya.”

Agni berbalik ke arah Gita dengan cepat karena panik.

“Ada yang masuk ke kamar gak? Hape aku gak ada.”

Gita menatap Agni dengan sendu. Ia sangat ingin mengatakan kedatangan Alvin. Tapi, Alvin memerintahkannya untuk tidak bicara apapun.

“Ti...Tidak nyonya. Semuanya aman. Coba kita cari sama-sama.”

Agni mengangguk setuju.
Setelah berulang kali mereka cari ternyata bernda mungil itu tak kunjung di temukan. Agni yang mulai gak sabaran pun menyambar telepon rumahnya untuk menghubungi Alvin.

Bulukuduknya meremang, hatinya terasa mencelos saat panggilannya malah di jawab operator yang mengatakan nomor tersebut tidak aktif. Kenapa tidak aktif? Apa Alvin baik-baik saja?
Perasaan cemas dengan cepat menguasai dirinya.

“Minum dulu nyonya.”

Gita menatap iba kondisi Agni sekarang. Apa sebaiknya ia mengatakan yang sebenarnya? Sepertinya ia harus mengatakannya. Harus!

“Nyonya... sebenarnya...”
“Aku istirahat dulu Bu.”

Agni menghela nafas panjang kemudian beranjak pergi. Ia tidak menyadari Gita yang akan berkata apapun. Yang ada dalam pikirannya hanya Alvin, Alvin, dan Alvin. Kenapa setelah masalah Gabriel selesai malah ada masalah baru? Oh God... selamatkanlah dia, lindungi suamiku.

***

Beberapa hari tak ada kabar dari Alvin membuat Agni seperti mayat hidup. Bahkan janjinya untuk pulang dan menemaninya kelulusanpun dia tidak ada. Agni juga memutuskan untuk tidak datang pada acara kelulusan itu. Agni hanya terdiam di rumah, ia takut saat ia pergi Alvin datang untuk menepati janjinya.

Kini sudah sampai satu minggu Alvin menghilang. Tanpa kabar sedikitpun. Berbagai pikiran burukpun menghampirinya. Bagaimana kalau Alvin kecelakaan dan menghilang? Bagaimana kalau Alvin memiliki wanita idaman lain? dan bagaimana-bagaimana lainnya. Agni semakin terpuruk dengan pemikiran-pemikirannya itu. Tapi, justru berbading terbalik saat Irshad datang menemuinya. Sebisa mungkin ia menutupi masalahnya. Menutupi semuanya dari Irshad. Ia tidak mau Papanya itu khawatir terhadapnya dan memperburuk kondisi kesehatannya.

Gita yang melihat perubahan Agni semakin tidak tega saja. Ia benar-benar tidak di beri kesempatan bicara oleh Agni. Ia hanya di ijinkan mendengarkan saja, tanpa mengatakan apapun. Saat ia hendak berkata Agni malah tertawa kelu dan berujar.

“Ibu gak usah hibur aku. Aku tau kok mungkin Alvin bosen sama aku.”

Dan setelah mengatakan itu, Agni akan dengan cepat pergi kekamar. Meninggalkannya.

Telepon yang berada di dapur berdering. Itu pasti Alvin. Tuannya itu memang selalu menghubunginya menanyakan keadaan Agni. Tapi tak ada tindakan apapun dari Alvin setelah mengetahui kekacauan istrinya itu.

“Nyonya Agni semakin kacau tuan. Sekarang jarang makan. Saya sarankan tuan lebih baik cepat pulang.”
“Katakan padanya, datang ke kafe milik Cakka nanti malam. Aku menunggunya disana.”

Alvin mengakhiri perbincangannya dengan sepihak, tanpa mengatakan apapun lagi. Gita tersenyum tipis. Setidaknya, mungkin ini akhir pertengkaran mereka.

***

Alvin memejamkan matanya kuat-kuat. Seminggu ini tak membuahkan hasil apapun. Dan ini keputusannya sekarang. Meski berat, tapi ia harus melakukannya.

“Kalo gak yakin mendingan jangan.”
“Gak bisa Zev, ini keputusan terbaik. Thanks udah mau bantu.”

Alvin segera beranjak dari tempat duduknya. Beberapa hari ini, ia menyelidiki Gabriel. Yang ternyata Gabriel baru memasuki kantornya lagi pasca dua minggu menghilang. Alvin yakin, Agni telah melakukan seuatu pada lelaki itu sampai lelaki itu menjadi semangat kembali. Tapi apa?
Alvin menarik nafas dan menghembuskannya dengan kencang. Kenapa keinginannya untuk membunuh lelaki itu datang kembali? Alvin mendial sebuah nomor telpon.

“Gabriel.”

***

Agni tersenyum cerah saat memasuki pelataran parkir kafe milik Cakka. Meskipun ia bingung dengan Alvin. Tapi ia senang, ia akan bertemu dengan suaminya itu sekarang.
Agni mengerutkan keningnya saat melihat kafe itu padam. Tapi, saat melihat mobil yang ia kenal terparkir di sebelah mobilnya ia dengan semangat berjalan memasuki  kafe itu. Aku kangen banget sama kamu Alvin. Aku gak tau ini pertengkaran atau bukan, tapi semoga ini pertengkaran kita yang terakhir.

Agni menarik nafas lalu menghembuskannya dengan keras. Saat ia memasuki kafe itu, kafe itu menyala dengan sendirinya. Agni tersenyum pada Alvin yang duduk di kursi tengah, ia segera mendekati Alvin yang berdiri menyambutnya. Dengan cepat Agni memeluk Alvin erat. Ia tak ingin jauh dari lelaki ini untuk kedua kalinya.

“Kamu kemana aja Al? Aku...”

Alvin mengecup bibir Agni sekilas untuk menghentikan ucapan Agni. Ia tersenyum tipis pada Agni kemudian melirik ke arah belakang Agni.

“Gabriel...”

Agni berbalik, ia cukup kaget mandapati Gabriel yang berdiri di ambang pintu. Ia kira, ini dinner berdua. Tapi kenapa?

“G.Gab?”

Agni menatap Gabriel dan Alvin dengan bergantian. Ia tidak mengerti dengan apa yang Alvin rencanakan ini.

“Aku tinggal. Selesaikan urusan kalian.”

Alvin mengacak sebentar puncak kepala Agni lalu mengecup kening istrinya itu. Setelah itu ia beranjak keluar dari kafe itu. Ia hanya ingin mengetahui apa yang akan mereka lakukan jika berdua. Ia akan mengawasinya dalam radius yang sangat jauh. Ia perlu meyakinkan hatinya.

Alvin bersandar pada mobilnya, mengawasi Agni dan Gabriel yang mulai berbicara. Gabriel menggenggam jemari Agni dengan erat. Keduanya saling berbicara satu-sama lain. Alvin tidak tau apa yang mereka bicarakan. Ia hanya ingin melihat reaksi Agni saja.

Ini salah! Alvin merasa dadanya tertohok saat ternyata Agni tersenyum begitu manis pada pemuda itu. Saat Gabriel mengelus pipi Agni. Keduanya berpelukan sangat erat. Alvin melihat jelas hal itu. Alvin memalingkan wajahnya saat melihat Gabriel yang mendekatkan wajahnya pada Agni. Ia tidak akan pernah sanggup melihat yang ia cintai berciuman di hadapannya.

Alvin mengambil dokumen yang ia bawa dari Zevana tadi. Ia mengambil sebuah bolpoin dan membubuhkan sebuah tanda tangan di atas kertas itu. Sangat berat, tapi itu harus.

“Al... Terimakasih.”

Alvin mengangkat wajahnya, ia tersenyum pada Agni yang ternyata telah berdiri di hadapannya. Ia mengelus puncak kepalanya dengan sayang.

“Kamu seneng? Kamu gak usah sembunyi-sembunyi lagi kalau mau bertemu sama dia. Tadinya, aku mau membunuhnya, tapi saat kamu memanggilnya dengan nama kesayangan kamu. Aku jadi gak tega.”

Mata Agni mulai berkaca-kaca. Ia mengerti sekarang kenapa Alvin menghilang. Alvin mengetahui kepergiannya ke rumah Gabriel hari itu. Agni merengkuh wajah Alvin dengan kedua tangannya. Tak ingin kehilangan sedikitpun kesempatan untuk menatap suaminya itu lebih lama lagi.

“Ini... dokumen perceraian kita”

Alvin mengacungkan dokumen itu. Sementara Agni menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Hanya sampai di sanakah perjuangan Alvin untuk mendapatkannya? Air mata Agni kini meluncur dengan deras. Dentuman keras dalam dadanya membuatnya sangat sesak, seperti kehabisan oksigen untuk di hirup.

“Didalamnya kamu yang menggugat aku dengan alasan aku affair dengan wanita lain. aku gak mau nama kamu jadi jelek karena hal ini. semoga kamu bahagia sama Gabriel, aku akan per...hmp...”

Agni membungkam bibir Alvin dengan bibirnya. Ia tidak mengijinkan Alvin meneruskan ucapannya. Ia terus membungkam bibir itu. Agni memeluk Alvin dengan erat.

Alvin membalas ciumannya itu dengan memeluk pinggang Agni. Akankah ini menjadi kebersamaan mereka yang terakhir? Apakah semuanya akan berakhir begitu saja?

***

Bersambung.
Masih ada 1 part lagi :)
Terimakasih udah mau baca... :)

No comments:

Post a Comment