“Bunda, aku harus nikah...”
“Tapi kalian berbeda sayang...”
“Tapi... aku...”
“Sudah, biarkan saja mereka
menikah.”
“Tidak bisa, mereka berbeda Bu.
Maaf bukannya saya tidak menghormati anda, tapi kalian... anda dan putera anda
itu berbeda dengan kami.”
“Saya tau... tapi apakah anda
tidak memikirkan calon cucu anda itu? Begini ya... nantinya mereka bakalan
gimana saya yakin mereka sudah memikirkannya matang-matang. Pada akhirnya anak
saya mau mengikuti kalian saya tidak keberatan dan apabila anak anda akan
mengikuti kami, kami tidak akan melarang. Yang penting aib ini semua tertutupi.
Bukannya begitu?”
“Tidak bisa!”
“Kenapa lagi Bu? Putera saya
datang kesini untuk bertanggung jawab, berniat baik. Untuk menutupi ini
semua... sekarang terserah anda.”
“Bunda...”
“Terserah kamu saja. Yang penting
Bunda titip satu sama kamu. Jaga keimanan kamu. Yang lainnya Bunda tidak tau.”
***
3 tahun kemudian...
“Abi...”
Seorang lelaki dengan jas berwarna putih khas kedokterannya
berbalik. Ia tersenyum pada anak lelaki kecil yang berlari ke dalam ruangannya
itu. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada seorang wanita yang menggunakan
gamis dan kerudung yang masih berdiri di ambang pintu lalu tersenyum. Tapi,
wanita itu cepat-cepat menunduk dan hanya memberikan sekilas senyuman saja.
“Maaf... tadi Bagas maksa pengen
masuk.”
Wanita itu berjalan memasuki ruangan itu. Ia mendudukan
dirinya sofa agak jauh dari letak meja kerja lelaki itu.
“Gapapa kok. Aku lagi gak sibuk.”
Lelaki itu mengalihkan pandangan pada Bagas. “Bagas mau makan siang sama Abi?”
Dengan semangat Bagas mengangguk dan memeluk leher ayahnya
dengan erat, meminta untuk di gendong.
“Bagas... biarin Abi lepas jas
nya dulu sayang.”
Wanita yang duduk di sofa itu segera berdiri hendak
mengambil Bagas.
“Udah Gapapa. Ni”
“Kamu terlalu memanjakannya,
Rio.”
Lelaki itu, Rio. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah
lain saat beradu pandang dengan wanita yang di panggil Ni itu, Agni.
Agni menghela nafas panjang lalu mengambil Bagas dari
pangkuan Rio, suaminya.
Rio menghela nafas. Ia membuka jasnya yang kemudian ia
simpan di gantungan yang memang selalu ada di sana.
“Abi... endong (gendong).”
Rio terkekeh kecil lalu mengambil alih Bagas dari Agni. Saat
tangan mereka tanpa sengaja bertautan, dengan cepat Agni menarik tangannya.
Sementara Rio tersenyum memaklumi.
“Abi... nyi apa? (ini apa?).”
Bagas sambil mengambil kalung yang selalu Rio pakai. Kalung
berentuk salib yang tak pernah lepas dari lehernya.
Agni tersenyum pada Bagas. Ia menjawil pipi puteranya itu
dengan gemas, sementara tangan yang satunya lagi memasukan kalung yang tadi di
genggam Bagas ke dalam kemeja Rio, lalu merapihkannya.
“Nanti kamu juga ngerti. Udah yuk
kita makan.”
Tak begitu berbeda dengan keluarga lain. Mereka sangat
terlihat bahagia dimanapun dan kapanpun. Tapi berbeda dengan orang yang
mengetahui background keluarga itu yang ternyata berbeda, mereka akan
menatapnya dengan nanar dan penuh haru. Dalam perbedaan ternyata bisa menyimpan
suatu kebahagiaan, meskipun bukan
kebahagiaan yang sempurna.
“Bagas... do’a dulu.”
Agni menegur Bagas yang baru saja akan mencomot sebuah paha
ayam goreng. Bagas cemberut, ia mengalihkan pandangannya pada Rio. meminta
perlindungan dari omelan Ibunya itu.
“Abi... Umi tuh...”
“Bener kata Umi sayang, berdo’a
dulu.”
Bagas cemberut.
“Yuk kita do’a sama-sama.”
Dengan semangat Bagas mengangguk. Lalu memejamkan mata dan
membuka telapak tangannya untuk berdo’a. Agni tersenyum melihatnya, lalu
melakukan hal yang sama. Sementara Rio, mengatupkan tangannya, menyatukan kedua
tangannya sehingga bertautan.
Bagas mengintip, ia sedikit membuka matanya saat kedua orang
tuanya sedang berdo’a. Ia menggaruk belakang kepalanya, bingung. Ia melirik
Uminya kemudian Abinya. Ia menghela nafas panjang kemudian mengikuti apa yang
di lakukan Rio.
Saat Rio selesai berdo’a ia sedikit kaget melihat apa yang
Bagas lakukan. Ia menghela nafas berat. Ia tau, ini akan sangat membingungkan
untuk anak yang baru saja genap berusia dua tahun. Ia memegang tangan Bagas dan
membukakannya kembali.
Bagas menatap bingung ke arah Rio. sementara Rio hanya
menggelengkan kepalanya.
“Ikutin Umi, jangan ikutin Abi.
Ya?”
“Kenyapa Abi? (Kenapa Abi?).”
Agni menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya sekilas lalu
menatap suami dan puteranya yang sedang berbisik-bisik.
“Gak baik lho bisik-bisik depan
Umi.”
“Eh... Umi, engda kok. Abi tuh
ang bicik-bicik. (enggak kok. Abi tuh yang bisik-bisik).”
Rio tersenyum kecil kemudian menjawil hidung Bagas.
Puteranya itu memang pintar sekali berkilah dan melemparkan kesalahan pada
dirinya.
“Udah, makan yang banyak ya...”
Bagas mengangguk semangat mendengar ucapan Agni, ia dengan
cepat melahap makanannya. Sesekali ia tersenyum pada orang tuanya yang
memperhatikan dengan kepala yang sedikit menggeleng-geleng.
***
Agni mengusap-usap kepala Bagas yang sudah tertidur begitu
pulas. Wajah suaminya mendominasi dalam wajah puteranya itu. Menatap puteranya
seakan menatap Rio kecil. Agni menghela nafas panjang.
“Tidur yang nyenyak sayang.”
Agni mengecup pipi Bagas sekilas sebelum meninggalkan
puteranya itu. Puteranya itu adalah
sumber kebahagiaan baru baginya, kebahagiaan disaat ia menyadari betapa
berbedanya dirinya bersama suaminya. Perbedaan yang tak mungkin bisa di
satukan. Mereka memang suami istri, tapi hukum tetaplah hukum. Meskipun mereka
sah menurut hukum negara tapi menurut hukum agama tetap tidak sah. Begitulah
yang Agni ketahui beberapa bulan setelah Bagas lahir, dari buku yang di bacakan
Rio.
“Agni... belum tidur?”
Agni tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Kemudian ia
berjalan menuju ruang keluarga yangletaknya tidak begitu jauh dari kamar Bagas.
“Mau aku buatin secangkir teh?”
“Boleh.”
Rio tersenyum sambil menatap Agni yang seketika itu pula
menunduk dan berpamitan untuk berlalu. Ia menghela nafas panjang. Ruang dalam
hatinya terasa ada yang kosong meski ia sangat bahagia. Rio hanya bisa
menghirup nafas dalam-dalam dan
membuangnya dengan tenang, mencoba memberi ketenangan pada hatinya.
***
Agni membuka matanya saat sebuah panggilan untuk menunaikan
Sholat berkumandang. Ia melirik suaminya yang tidur di sisi kiri Bagas. Agni
menghela nafas panjang. Tidak biasanya suaminya itu tidur di sana. Ia
menurunkan satu persatu kakinya. Ia harus bergegas sebelum Bagas bangun dan
menangis.
“Agni...”
Suara serak itu membuatnya terpaku. Ia bangkit dari tempat
tidurnya kemudian berbalik dan sedikit tersenyum.
“Selamat pagi... Maaf aku
mengganggu ya?.”
Agni menundukan kepalanya sejenak lalu mengalihkan
pandangannya ke arah lain. Sebenarnya ia enggan untuk melakukan itu. Tapi,
hukum yang harus ia turuti dan kenyataan yang harus ia hadapi. Hukum dan
kenyataan yang membuat mereka tidak bisa bersatu jika tetap ada pada keyakinan
masing-masing.
“Enggak kok. Kamu udah Sholat?”
Agni menggeleng pelan.
“Aku akan pergi sekarang. Kamu
tidur aja lagi, aku segera menyiapkan sarapan buat kamu.”
“Agni... Maaf aku...”
Sebelum Rio menyelesaikan ucapannya Agni telah menghilang di
balik pintu. Rio menghela nafas panjang, ia melakukan kesalahan pagi ini.
kenapa ia bisa tertidur satu kamar dengan istrinya itu?. Tak pernah ada harapan
dalam benaknya untuk mendapat kecupan mesra di pagi hari ataupun saat mereka
akan terlelap. Karena itu tak akan pernah terjadi.
“Abi.”
Rio melirik Bagas yang mengigau kemudian memeluk lengan
kekarnya. Ia mengelus puncak kepala puteranya itu dengan sayang. Ia bahagia
melihatnya tumbuh besar, dengan sehat. Tak kekurangan kasih sayang. Andai saja
puteranya itu tidak hadir, apakah ia akan merasakan kebahagiaan ini? Meski
sekarang semuanya terasa sulit. Rio mengecup kening puteranya itu sambil
mengurai pelukan pada lengannya. Setelah itu ia beranjak pergi.
***
Agni menangis tersedu di sebuah ruangan kecil itu. Ia
menutup mulutnya agar suara tangisnya tak terdengar keras. Air mata itu keluar
begitu saja dari mata Agni, tanpa bisa di bendung kembali. Ia baru menyadari,
suaminya itu butuh kebahagiaan lain. kebahagiaan yang gak akan pernah di dapat
darinya sampai kapanpun. Ia tidak bisa menjadi istri yang utuh bagi Rio, tak
bisa melakukan segalanya dengan bebas seperti layaknya suami istri pada
umumnya. Ia ingin, suaminya itu bahagia tanpa harus merasa terbebani olehnya.
Tapi, tak ia pungkiri kalau ia juga tak ingin kehilangan Rio. tak siap melihat
suaminya itu bersanding dengan wanita lain.
“Ya Allah... apa yang sebaiknya
aku lakukan? Aku bingung. Aku juga gak bisa egois ninggalin suamiku gitu aja,
sementara puteraku harus mendapatkan kasih sayangnya. Ya Allah...”
***
Rio berjalan memasuki sebuah ruangan tepat di samping
mushola. Ruangan ini bertolak belakang dengan mushola Agni. Karena dalam
benaknya, ia tak ingin puteranya mengetahui ini semua. Mengetahui perbedaan
dalam keluarganya dengan cepat.
Rio berlutut, tangannya menyatu, wajahnya tertunduk. Tanpa
terasa air matanya itu mengalir, tak ada yang terucap darinya. Begitulah
kegiatan Rio setelah tanpa sengaja tidur satu ranjang bersama istrinya. Istri
yang sangat ia cintai tapi yang sangat sulit untuk ia gapai.
“Tuhan... berikan dia kebahagiaan
yang layak. Aku tidak tau perasaannya Tuhan. Apa dia bahagia hidup bersamaku?
Dalam sebuah jurang perbedaan. Ataukan sebaliknya? Tuhan... berikan jalan yang
terbaik untuk kami.”
Rio mengakhiri do’anya. Tak lama setelah itu ia mendengar
isak tangis tertahan dari ruangan sebelahnya. Isak tangis Agni. Tuhan... apakah
ini jawaban atas pertanyaanku? Apakah benar, Agni tidak bahagia hidup denganku?
Rio keluar dari ruangan itu lalu menutupnya dengan rapat,
kemudian di kunci. Rio mematung di ambang pintu melihat Agni yang masih
mengunakan mukena putihnya dengan tubuh yang bergetar menahan isakannya. Andai
saja ia mampu merengkuh istrinya itu dalam pelukan, ia akan melakukannya
sekarang juga. Tapi... itu mustahil.
Rio berbalik arah meninggalkan tempat itu dengan perasaan
yang sangat berkecamuk dalam dadanya.
***
Agni membuka matanya saat merasakan sentuhan hangat matahari
menerpa tubuhnya. Ia mengerjapkan matanya, perlahan ia melihat ke arah jam
dinding.
“Astagfirullah...”
Agni segera bergegas merapihkan mukena yang masih ia
kenakan, lalu menyambar kerudungnya dan segera beranjak pergi. Tadi, tanpa Agni
sadari. Ia tertidur begitu menyelesaikan do’anya. Entah kenapa, karena itu
kejadian pertamanya.
Agni dengan tergesa meraih hendle pintu, membuka kamar Rio
dengan cepat. Ia harus menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.
“Agni... udah bangun?.”
“Rio...” Agni mengatur nafasnya
yang ngos-ngosan. “Maaf... A.Aku tertidur.”
Agni berjalan mendekati Rio yang sedang merapihkan dasi yang
selama ini tak pernah bisa ia pakai sendiri. Dengan kakinya, Rio mendorong sebuah
bangku kecil yang sangat pendek agar Agni bisa naik kesana, merapihkan dasi Rio
dengan nyaman.
Agni tersenyum kecil kemudian menarik dasi Rio kembali,
menggantinya dengan yang baru. Rio mengerutkan dahinya, heran.
“Itu gak cocok, yang ini aja.”
Agni memakaikan dasi itu dengan ragu, ia tidak biasa
melingkarkan dasi ke leher Rio karena biasanya dasi itu sudah tergantung
tinggal ia rapihkan saja. Rio yang menyadari itu segera meraih dasi dari tangan
Agni.
“Maaf aku belum buat sarapan buat
kamu. Padahal ini udah siang.”
Agni merasakan sentuhan di kepalanya, ia mendongak dan
mendapati Rio yang ternyata sedang merapihkan kerudungnya yang ia pakai dengan
asal.
“Io'...”
“Eh...” Rio menarik tangannya.
“Maaf.”
Agni menarik sedikit ujung bibirnya kemudian menepuk pelan
dada Rio setelah menyelesaikan merangkai dan merapihkan dasi suaminya itu. Ia
mundur perlahan karena ia harus berusaha agar tidak terjatuh dari bangku kecil
itu.
“Sepertinya kita harus bicara.”
Agni mengangguk pelan. Karena ia juga ada yang ingin di
bicarakan dengan suaminya itu. Rio berjalan di depan Agni, menuju ruang
keluarga yang bersebelahan dengan kamar Bagas.
“Kamu dulu yang bicara.”
Lagi-lagi Agni mengangguk patuh. Sebelum ia berkata ia
menghembuskan nafasnya terlebih dahulu. Mempersiapkan diri untuk kemungkinan
buruk yang akan ia dapatkan.
“Ada dua hal yang ingin aku
sampaikan... pertama, aku mau meminta ijin sama kamu memasukan Bagas kesebuah
persantren.”
Rio mengerutkan dahinya.
“Apa enggak terlalu kecil?”
“Enggak, karena setelah aku liat
banyak juga anak yang masih berusia dua tahun ada disana. Pagi-pagi di antar
orang tuanya dan sore hari di jemput. Aku cuma mau intensitas Bagas di rumah
berkurang Io'. Aku gak mau buat Bagas bingung dengan semuanya.”
Rio menghela nafas panjang. Itu memang ide bagus, tapi... ia
ragu. Lagi, Rio menghela nafas setelahnya mengangguk pelan.
“Aku setuju.”
Agni menghela nafas lega.
“Yang kedua.”
Agni memejamkan matanya sebentar dengan menarik nafas dalam.
Berusaha menguatkan dirinya sendiri.
“Aku mau kamu bahagia...”
“Aku udah bahagia, sangat
bahagia.”
Agni merasakan Rio menatapnya dengan teduh. Sementara Agni
hanya menundukkan kepalanya sesekali menatap ke arah Rio dengan dalam.
“Tapi gak seutuhnya Rio... aku
gak bisa liat kamu menatap aku dengan begitu menginginkanku. Sementara aku, aku
gak bisa memberikannya. Aku cuma mau kamu bahagia... aku tau begitu sulit
menahan keinginanmu itu, apalagi melihat usiamu sekarang yang baru menginjak 25
tahun. Aku...”
“Agni...”
Agni menghentikan ucapannya. Kemudian menatap Rio dengan
mata yang sudah mulai mengabur karena air mata yang telah berkumpul di mata
indahnya.
“Aku bahagia hanya dengan melihat
senyum kamu, aku bahagia hanya dengan mendengar ucapan kamu, aku hanya bahagia
dengan perhatian kamu yang hanya untukku dan Bagas. Aku sangat bahagia dengan
semuanya.”
Rio mengusap wajahnya sekilas. Lalu berusaha mengendalikan
nafasnya yang memburu. Ia menatap Agni lagi yang kini tertunduk dengan tubuh
yang sedikit bergetar.
“Tapi Io'...”
“Yang aku khawatirkan justru kamu
yang gak bahagia Agni... aku gak bisa memberikan apapun untuk membahagiakanmu.
Seharusnya sekarang kamu masih bisa bersenang-senang layaknya gadis pada
umumnya. Aku yang mengawali semua kesalahan
yang membahagiakan ini... dan aku tidak bisa menuai kekecewaannya. Aku
egois Agni... aku memintamu menyempurnakan hidupku tapi aku gak bisa menjadi
penyempurna hidup kamu. Aku yang ingin melihat kamu bahagia...”
Hening....
“Kamu sudah memberikan Bagas
untukku Rio... kebahagiaanku. Aku sangat bahagia karenanya yang juga karenamu.
Tanpa kamu Bagas gak akan pernah hadir, dan tanpa kamu kebahagiaanku gak akan
pernah menjadi sempurna.”
Agni mengusap air matanya yang sudah mulai mengering, ia
tersenyum pada Rio sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Sementara Rio massih terpaku dengan ucapan Agni. Apa ini
artinya mereka akan tetap bertahan? Mempertahankan kebahagiaan yang tak
sempurna itu. Mempertahankan kebahagiaan yang mungkin tak akan utuh jika mereka
tetap masing-masing.
“Mungkin Tuhan sangat marah
padaku karena mengatakan itu. Tapi... aku yakin, kamu itu perantara yang di
kirim Tuhan untuk membuatku bahagia. Tuhan itu adil... sangat adil.”
Rio mengangguk pelan kemudian tersenyum tipis.
“Iya... aku mengerti.”
“UMIIII.... ABIII...”
Teriakan itu terdengar begitu nyaring dari kamar putera
mereka. tak lama, Bagas menyembul di balik pintu yang memang telah bisa ia
buka.
Semoga... kebahagiaan akan tetap berlanjut untuk meraka.
Meskipun kebahagiaan yang tak akan pernah menjadi sempurna. Karena segala
bentuk kesempurnaan hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.
***
End.
No comments:
Post a Comment