Monday, 29 July 2013

LOVE (Kebahagiaan Tak Sempurna)

“Bunda, aku harus nikah...”
“Tapi kalian berbeda sayang...”
“Tapi... aku...”

“Sudah, biarkan saja mereka menikah.”
“Tidak bisa, mereka berbeda Bu. Maaf bukannya saya tidak menghormati anda, tapi kalian... anda dan putera anda itu berbeda dengan kami.”
“Saya tau... tapi apakah anda tidak memikirkan calon cucu anda itu? Begini ya... nantinya mereka bakalan gimana saya yakin mereka sudah memikirkannya matang-matang. Pada akhirnya anak saya mau mengikuti kalian saya tidak keberatan dan apabila anak anda akan mengikuti kami, kami tidak akan melarang. Yang penting aib ini semua tertutupi. Bukannya begitu?”
“Tidak bisa!”
“Kenapa lagi Bu? Putera saya datang kesini untuk bertanggung jawab, berniat baik. Untuk menutupi ini semua... sekarang terserah anda.”

“Bunda...”
“Terserah kamu saja. Yang penting Bunda titip satu sama kamu. Jaga keimanan kamu. Yang lainnya Bunda tidak tau.”

***

3 tahun kemudian...

“Abi...”

Seorang lelaki dengan jas berwarna putih khas kedokterannya berbalik. Ia tersenyum pada anak lelaki kecil yang berlari ke dalam ruangannya itu. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada seorang wanita yang menggunakan gamis dan kerudung yang masih berdiri di ambang pintu lalu tersenyum. Tapi, wanita itu cepat-cepat menunduk dan hanya memberikan sekilas senyuman saja.

“Maaf... tadi Bagas maksa pengen masuk.”

Wanita itu berjalan memasuki ruangan itu. Ia mendudukan dirinya sofa agak jauh dari letak meja kerja lelaki itu.

“Gapapa kok. Aku lagi gak sibuk.” Lelaki itu mengalihkan pandangan pada Bagas. “Bagas mau makan siang sama Abi?”

Dengan semangat Bagas mengangguk dan memeluk leher ayahnya dengan erat, meminta untuk di gendong.

“Bagas... biarin Abi lepas jas nya dulu sayang.”

Wanita yang duduk di sofa itu segera berdiri hendak mengambil Bagas.

“Udah Gapapa. Ni”
“Kamu terlalu memanjakannya, Rio.”

Lelaki itu, Rio. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain saat beradu pandang dengan wanita yang di panggil Ni itu, Agni.

Agni menghela nafas panjang lalu mengambil Bagas dari pangkuan Rio, suaminya.
Rio menghela nafas. Ia membuka jasnya yang kemudian ia simpan di gantungan yang memang selalu ada di sana.

“Abi... endong (gendong).”

Rio terkekeh kecil lalu mengambil alih Bagas dari Agni. Saat tangan mereka tanpa sengaja bertautan, dengan cepat Agni menarik tangannya. Sementara Rio tersenyum memaklumi.

“Abi... nyi apa? (ini apa?).”

Bagas sambil mengambil kalung yang selalu Rio pakai. Kalung berentuk salib yang tak pernah lepas dari lehernya.

Agni tersenyum pada Bagas. Ia menjawil pipi puteranya itu dengan gemas, sementara tangan yang satunya lagi memasukan kalung yang tadi di genggam Bagas ke dalam kemeja Rio, lalu merapihkannya.

“Nanti kamu juga ngerti. Udah yuk kita makan.”

Tak begitu berbeda dengan keluarga lain. Mereka sangat terlihat bahagia dimanapun dan kapanpun. Tapi berbeda dengan orang yang mengetahui background keluarga itu yang ternyata berbeda, mereka akan menatapnya dengan nanar dan penuh haru. Dalam perbedaan ternyata bisa menyimpan suatu kebahagiaan,  meskipun bukan kebahagiaan yang sempurna.

“Bagas... do’a dulu.”

Agni menegur Bagas yang baru saja akan mencomot sebuah paha ayam goreng. Bagas cemberut, ia mengalihkan pandangannya pada Rio. meminta perlindungan dari omelan Ibunya itu.

“Abi... Umi tuh...”
“Bener kata Umi sayang, berdo’a dulu.”

Bagas cemberut.

“Yuk kita do’a sama-sama.”

Dengan semangat Bagas mengangguk. Lalu memejamkan mata dan membuka telapak tangannya untuk berdo’a. Agni tersenyum melihatnya, lalu melakukan hal yang sama. Sementara Rio, mengatupkan tangannya, menyatukan kedua tangannya sehingga bertautan.

Bagas mengintip, ia sedikit membuka matanya saat kedua orang tuanya sedang berdo’a. Ia menggaruk belakang kepalanya, bingung. Ia melirik Uminya kemudian Abinya. Ia menghela nafas panjang kemudian mengikuti apa yang di lakukan Rio.

Saat Rio selesai berdo’a ia sedikit kaget melihat apa yang Bagas lakukan. Ia menghela nafas berat. Ia tau, ini akan sangat membingungkan untuk anak yang baru saja genap berusia dua tahun. Ia memegang tangan Bagas dan membukakannya kembali.

Bagas menatap bingung ke arah Rio. sementara Rio hanya menggelengkan kepalanya.

“Ikutin Umi, jangan ikutin Abi. Ya?”
“Kenyapa Abi? (Kenapa Abi?).”

Agni menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya sekilas lalu menatap suami dan puteranya yang sedang berbisik-bisik.

“Gak baik lho bisik-bisik depan Umi.”
“Eh... Umi, engda kok. Abi tuh ang bicik-bicik. (enggak kok. Abi tuh yang bisik-bisik).”

Rio tersenyum kecil kemudian menjawil hidung Bagas. Puteranya itu memang pintar sekali berkilah dan melemparkan kesalahan pada dirinya.

“Udah, makan yang banyak ya...”

Bagas mengangguk semangat mendengar ucapan Agni, ia dengan cepat melahap makanannya. Sesekali ia tersenyum pada orang tuanya yang memperhatikan dengan kepala yang sedikit menggeleng-geleng.

***

Agni mengusap-usap kepala Bagas yang sudah tertidur begitu pulas. Wajah suaminya mendominasi dalam wajah puteranya itu. Menatap puteranya seakan menatap Rio kecil. Agni menghela nafas panjang.

“Tidur yang nyenyak sayang.”

Agni mengecup pipi Bagas sekilas sebelum meninggalkan puteranya itu.  Puteranya itu adalah sumber kebahagiaan baru baginya, kebahagiaan disaat ia menyadari betapa berbedanya dirinya bersama suaminya. Perbedaan yang tak mungkin bisa di satukan. Mereka memang suami istri, tapi hukum tetaplah hukum. Meskipun mereka sah menurut hukum negara tapi menurut hukum agama tetap tidak sah. Begitulah yang Agni ketahui beberapa bulan setelah Bagas lahir, dari buku yang di bacakan Rio.

“Agni... belum tidur?”

Agni tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Kemudian ia berjalan menuju ruang keluarga yangletaknya tidak begitu jauh dari kamar Bagas.

“Mau aku buatin secangkir teh?”
“Boleh.”

Rio tersenyum sambil menatap Agni yang seketika itu pula menunduk dan berpamitan untuk berlalu. Ia menghela nafas panjang. Ruang dalam hatinya terasa ada yang kosong meski ia sangat bahagia. Rio hanya bisa menghirup nafas dalam-dalam  dan membuangnya dengan tenang, mencoba memberi ketenangan pada hatinya.

***

Agni membuka matanya saat sebuah panggilan untuk menunaikan Sholat berkumandang. Ia melirik suaminya yang tidur di sisi kiri Bagas. Agni menghela nafas panjang. Tidak biasanya suaminya itu tidur di sana. Ia menurunkan satu persatu kakinya. Ia harus bergegas sebelum Bagas bangun dan menangis.

“Agni...”

Suara serak itu membuatnya terpaku. Ia bangkit dari tempat tidurnya kemudian berbalik dan sedikit tersenyum.

“Selamat pagi... Maaf aku mengganggu ya?.”

Agni menundukan kepalanya sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sebenarnya ia enggan untuk melakukan itu. Tapi, hukum yang harus ia turuti dan kenyataan yang harus ia hadapi. Hukum dan kenyataan yang membuat mereka tidak bisa bersatu jika tetap ada pada keyakinan masing-masing.

“Enggak kok. Kamu udah Sholat?”

Agni menggeleng pelan.

“Aku akan pergi sekarang. Kamu tidur aja lagi, aku segera menyiapkan sarapan buat kamu.”
“Agni... Maaf aku...”

Sebelum Rio menyelesaikan ucapannya Agni telah menghilang di balik pintu. Rio menghela nafas panjang, ia melakukan kesalahan pagi ini. kenapa ia bisa tertidur satu kamar dengan istrinya itu?. Tak pernah ada harapan dalam benaknya untuk mendapat kecupan mesra di pagi hari ataupun saat mereka akan terlelap. Karena itu tak akan pernah terjadi.

“Abi.”

Rio melirik Bagas yang mengigau kemudian memeluk lengan kekarnya. Ia mengelus puncak kepala puteranya itu dengan sayang. Ia bahagia melihatnya tumbuh besar, dengan sehat. Tak kekurangan kasih sayang. Andai saja puteranya itu tidak hadir, apakah ia akan merasakan kebahagiaan ini? Meski sekarang semuanya terasa sulit. Rio mengecup kening puteranya itu sambil mengurai pelukan pada lengannya. Setelah itu ia beranjak pergi.

***

Agni menangis tersedu di sebuah ruangan kecil itu. Ia menutup mulutnya agar suara tangisnya tak terdengar keras. Air mata itu keluar begitu saja dari mata Agni, tanpa bisa di bendung kembali. Ia baru menyadari, suaminya itu butuh kebahagiaan lain. kebahagiaan yang gak akan pernah di dapat darinya sampai kapanpun. Ia tidak bisa menjadi istri yang utuh bagi Rio, tak bisa melakukan segalanya dengan bebas seperti layaknya suami istri pada umumnya. Ia ingin, suaminya itu bahagia tanpa harus merasa terbebani olehnya. Tapi, tak ia pungkiri kalau ia juga tak ingin kehilangan Rio. tak siap melihat suaminya itu bersanding dengan wanita lain.

“Ya Allah... apa yang sebaiknya aku lakukan? Aku bingung. Aku juga gak bisa egois ninggalin suamiku gitu aja, sementara puteraku harus mendapatkan kasih sayangnya. Ya Allah...”

***

Rio berjalan memasuki sebuah ruangan tepat di samping mushola. Ruangan ini bertolak belakang dengan mushola Agni. Karena dalam benaknya, ia tak ingin puteranya mengetahui ini semua. Mengetahui perbedaan dalam keluarganya dengan cepat.

Rio berlutut, tangannya menyatu, wajahnya tertunduk. Tanpa terasa air matanya itu mengalir, tak ada yang terucap darinya. Begitulah kegiatan Rio setelah tanpa sengaja tidur satu ranjang bersama istrinya. Istri yang sangat ia cintai tapi yang sangat sulit untuk ia gapai.

“Tuhan... berikan dia kebahagiaan yang layak. Aku tidak tau perasaannya Tuhan. Apa dia bahagia hidup bersamaku? Dalam sebuah jurang perbedaan. Ataukan sebaliknya? Tuhan... berikan jalan yang terbaik untuk kami.”

Rio mengakhiri do’anya. Tak lama setelah itu ia mendengar isak tangis tertahan dari ruangan sebelahnya. Isak tangis Agni. Tuhan... apakah ini jawaban atas pertanyaanku? Apakah benar, Agni tidak bahagia hidup denganku?

Rio keluar dari ruangan itu lalu menutupnya dengan rapat, kemudian di kunci. Rio mematung di ambang pintu melihat Agni yang masih mengunakan mukena putihnya dengan tubuh yang bergetar menahan isakannya. Andai saja ia mampu merengkuh istrinya itu dalam pelukan, ia akan melakukannya sekarang juga. Tapi... itu mustahil.

Rio berbalik arah meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat berkecamuk dalam dadanya.

***

Agni membuka matanya saat merasakan sentuhan hangat matahari menerpa tubuhnya. Ia mengerjapkan matanya, perlahan ia melihat ke arah jam dinding.

“Astagfirullah...”

Agni segera bergegas merapihkan mukena yang masih ia kenakan, lalu menyambar kerudungnya dan segera beranjak pergi. Tadi, tanpa Agni sadari. Ia tertidur begitu menyelesaikan do’anya. Entah kenapa, karena itu kejadian pertamanya.

Agni dengan tergesa meraih hendle pintu, membuka kamar Rio dengan cepat. Ia harus menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.

“Agni... udah bangun?.”
“Rio...” Agni mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. “Maaf... A.Aku tertidur.”

Agni berjalan mendekati Rio yang sedang merapihkan dasi yang selama ini tak pernah bisa ia pakai sendiri. Dengan kakinya, Rio mendorong sebuah bangku kecil yang sangat pendek agar Agni bisa naik kesana, merapihkan dasi Rio dengan nyaman.

Agni tersenyum kecil kemudian menarik dasi Rio kembali, menggantinya dengan yang baru. Rio mengerutkan dahinya, heran.

“Itu gak cocok, yang ini aja.”

Agni memakaikan dasi itu dengan ragu, ia tidak biasa melingkarkan dasi ke leher Rio karena biasanya dasi itu sudah tergantung tinggal ia rapihkan saja. Rio yang menyadari itu segera meraih dasi dari tangan Agni.

“Maaf aku belum buat sarapan buat kamu. Padahal ini udah siang.”

Agni merasakan sentuhan di kepalanya, ia mendongak dan mendapati Rio yang ternyata sedang merapihkan kerudungnya yang ia pakai dengan asal.

“Io'...”
“Eh...” Rio menarik tangannya. “Maaf.”

Agni menarik sedikit ujung bibirnya kemudian menepuk pelan dada Rio setelah menyelesaikan merangkai dan merapihkan dasi suaminya itu. Ia mundur perlahan karena ia harus berusaha agar tidak terjatuh dari bangku kecil itu.

“Sepertinya kita harus bicara.”

Agni mengangguk pelan. Karena ia juga ada yang ingin di bicarakan dengan suaminya itu. Rio berjalan di depan Agni, menuju ruang keluarga yang bersebelahan dengan kamar Bagas.

“Kamu dulu yang bicara.”

Lagi-lagi Agni mengangguk patuh. Sebelum ia berkata ia menghembuskan nafasnya terlebih dahulu. Mempersiapkan diri untuk kemungkinan buruk yang akan ia dapatkan.

“Ada dua hal yang ingin aku sampaikan... pertama, aku mau meminta ijin sama kamu memasukan Bagas kesebuah persantren.”

Rio mengerutkan dahinya.

“Apa enggak terlalu kecil?”
“Enggak, karena setelah aku liat banyak juga anak yang masih berusia dua tahun ada disana. Pagi-pagi di antar orang tuanya dan sore hari di jemput. Aku cuma mau intensitas Bagas di rumah berkurang Io'. Aku gak mau buat Bagas bingung dengan semuanya.”

Rio menghela nafas panjang. Itu memang ide bagus, tapi... ia ragu. Lagi, Rio menghela nafas setelahnya mengangguk pelan.

“Aku setuju.”

Agni menghela nafas lega.

“Yang kedua.”

Agni memejamkan matanya sebentar dengan menarik nafas dalam. Berusaha menguatkan dirinya sendiri.

“Aku mau kamu bahagia...”
“Aku udah bahagia, sangat bahagia.”

Agni merasakan Rio menatapnya dengan teduh. Sementara Agni hanya menundukkan kepalanya sesekali menatap ke arah Rio dengan dalam.

“Tapi gak seutuhnya Rio... aku gak bisa liat kamu menatap aku dengan begitu menginginkanku. Sementara aku, aku gak bisa memberikannya. Aku cuma mau kamu bahagia... aku tau begitu sulit menahan keinginanmu itu, apalagi melihat usiamu sekarang yang baru menginjak 25 tahun. Aku...”
“Agni...”

Agni menghentikan ucapannya. Kemudian menatap Rio dengan mata yang sudah mulai mengabur karena air mata yang telah berkumpul di mata indahnya.

“Aku bahagia hanya dengan melihat senyum kamu, aku bahagia hanya dengan mendengar ucapan kamu, aku hanya bahagia dengan perhatian kamu yang hanya untukku dan Bagas. Aku sangat bahagia dengan semuanya.”

Rio mengusap wajahnya sekilas. Lalu berusaha mengendalikan nafasnya yang memburu. Ia menatap Agni lagi yang kini tertunduk dengan tubuh yang sedikit bergetar.

“Tapi Io'...”
“Yang aku khawatirkan justru kamu yang gak bahagia Agni... aku gak bisa memberikan apapun untuk membahagiakanmu. Seharusnya sekarang kamu masih bisa bersenang-senang layaknya gadis pada umumnya. Aku yang mengawali semua kesalahan  yang membahagiakan ini... dan aku tidak bisa menuai kekecewaannya. Aku egois Agni... aku memintamu menyempurnakan hidupku tapi aku gak bisa menjadi penyempurna hidup kamu. Aku yang ingin melihat kamu bahagia...”

Hening....

“Kamu sudah memberikan Bagas untukku Rio... kebahagiaanku. Aku sangat bahagia karenanya yang juga karenamu. Tanpa kamu Bagas gak akan pernah hadir, dan tanpa kamu kebahagiaanku gak akan pernah menjadi sempurna.”

Agni mengusap air matanya yang sudah mulai mengering, ia tersenyum pada Rio sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Sementara Rio massih terpaku dengan ucapan Agni. Apa ini artinya mereka akan tetap bertahan? Mempertahankan kebahagiaan yang tak sempurna itu. Mempertahankan kebahagiaan yang mungkin tak akan utuh jika mereka tetap masing-masing.

“Mungkin Tuhan sangat marah padaku karena mengatakan itu. Tapi... aku yakin, kamu itu perantara yang di kirim Tuhan untuk membuatku bahagia. Tuhan itu adil... sangat adil.”

Rio mengangguk pelan kemudian tersenyum tipis.

“Iya... aku mengerti.”

“UMIIII.... ABIII...”

Teriakan itu terdengar begitu nyaring dari kamar putera mereka. tak lama, Bagas menyembul di balik pintu yang memang telah bisa ia buka.

Semoga... kebahagiaan akan tetap berlanjut untuk meraka. Meskipun kebahagiaan yang tak akan pernah menjadi sempurna. Karena segala bentuk kesempurnaan hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

***


End.

No comments:

Post a Comment