Thursday, 20 June 2013

Love Yeah #3

Senyum Agni merekah begitu melihat sebuah range rover berwarna hitam memasuki pakarangan rumahnya. Kejutan pagi yang benar-benar membahagiakan. Ia berlari kecil ke arah pemilik kendaraan itu kemudian memeluknya.

“Gab. Kok gak bilang?”

Gabriel mengacak-acak rambut Agni, ia tersenyum geli melihat Agni yang memajukan bibirnya.

“Kejutan sayang. Yuk masuk.”

Gabriel membukakan pintu untuk Agni. Setelah gadis itu memasuki mobilnya ia segera memasuki pintu kemudi.

“Eh, itu ada kado dari Mama.”

Agni memutar badannya untuk berbalik ke arah jok belakang, ia terkekeh begitu melihat kado itu. Tak lama kemudian ia membukanya, matanya berbinar senyumannya pun sangat merekah.

“Ya ampun Gab, sepatunya bagus banget.”

Agni mengeluarkan sepatu kets berwarna merah menyala dengan ikatan yang berwarna putih. Merah adalah salah satu warna kesukaan Agni yang tidak satupun orang mengetahuinya.

Gabriel mulai melajukan mobilnya, sesekali ia melirik ke arah Agni yang sedang memakai sepatu itu.

“Pas banget. Gab. Mama kamu itu tau banget sih selera aku, masa ya kemaren juga ngajak ketemuan dan Mama kamu itu ngasih pelindung hape. Lucu deh, nih liat.”

Agni menunjukan ponselnya yang telah memakai pelindung berwarna abu-abu, dan ada inisial AG di belakangnya.

“Pantesan kemaren Mama tanya tipe hape kamu.”

Gabriel melirik ke arah Agni dengan senyumannya yang khas. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.

“Ini, kemaren juga aku ada meeting sama klien dan kebetulan bawa hadiah buat aku. tapi katanya salah bawa, dia malah bawa jam tangan cewek ini.”
“Gab.” Agni menghela nafas, “Aku gak mau.”

Gabriel terdiam, ia menghentikan mobilnya tepat di gerbang sekolah Agni. Ia mengerutkan keningnya, tidak seperti biasanya gadisnya itu menolak pemberiannya. Kenapa? Apa kurang mewah? Kurang mahal?

“Kenapa?”

Agni menundukkan kepalanya. Ia memainkan jari-jadinya satu sama lain.

“Aku gak enak aja di kasih terus sama kamu, kamu terlalu baik Gab.”

Gabriel terkekeh, ia mengelus kepala Agni dengan lembut. Ia memegang kedua bahu Agni agar gadis itu menghadapnya.

“Agni, aku gak pernah merasa keberatan kok. Kamu gak usah merasa gak enak gitu, toh ini semua aku yang beri, bukan kamu yang minta.”
“Tapi Gab. Aku gak bisa kasih apapun sama kamu.”

Gabriel menghela nafas berat, ia masih menatap mata Agni dengan dalam.

“Cukup dengan kamu menjaga hati kamu buat aku dimanapun kamu berada Agni untuk membalasnya, aku gak mau muluk-muluk dari kamu, aku cuma mau itu.”

Agni tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca. Ia dengan segera memeluk Gabriel meluapkan semua emosinya.

“Iya Gab. Aku bakalan berusaha.”

***

Agni duduk di sudut kantin sendiri, menunggu Ify yang masih memesan makanannya. Sesekali ia tersenyum ketika melihat pesan dari kekasihnya. Ia merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini, memiliki kekasih yang baik hati, pengertian, perhatian, dengan bonus tampan dan mapan. Agni menghela nafas panjang, ia memperhatikan jam tangan pemberian Gabriel tadi pagi. Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu Gab, kenapa kamu baik banget sama aku.

Seseorang duduk di hadapan Agni dengan nampan berisi makanan di tangannya. Agni melirik dengan ekor matanya. Kenapa dia disini? Cari perkara aja. Agni mendengus kesal. Harus siap-siap menerima hinaan-hinaan fans orang itu.

“Ngapain loe disini? Pergi sana.”
“Terserah guelah, emang ini udah loe sewa?”

Untuk kedua kalinya ia mendengus kesal. Bukannya ia membenci pemuda ini lantas ia terus-terusan mendengus, tapi ia hanya jengah dengan omongan orang lain tentangnya. Bahkan, boleh di bilang ia sangat mengagumi sosok pemuda itu. Tampan, berprestasi lagi.

“Ya enggak sih, masih banyak kali bangku kosong, tuh sama cewek-cewek yang selalu ngiler liatin loe.”

Agni menaikan satu alisnya saat pemuda itu malah terkekeh saat menyantap makanannya.

“Justru itu, kan cuma loe yang gak kena sama pesona gue.”

Agni memutar bola matanya, ia harus secuek mungkin agar tidak di dekati pemuda itu lagi.

“Ini pesenan loe.”

Agni mendongakkan wajahnya saat Ify datang.

“Thanks Fy.”

Ify mengangguk kemudian duduk di samping Agni, kemudian ia menyantap makanannya tanpa ada perbincangan lagi.

“Eh iya, loe udah belum tugas dari guru seni.”

Agni mengalihkan pandangannya pada Ify. Ia mengkerutkan keningnya heran. Kemudian sedikit berpikir.

“Oh itu. Udah kok, lagian cuma gambar rumah impiankan? Gampang kali.”
“Gue minta rekomendasi nya dong, bingung tau gak.”

Agni meneguk minumannya setelah menghabiskan makanannya. Ia melipat kedua tangannya di dada.

“Kalo gue sih ya Fy, maunya gaya-gaya Eroupe gitu. Apalagi kalau barang-barangnya yang antik, tapi di padu sama yang modern juga keren lho. Entar deh loe liat gambarnya. Keren pokoknya.”

Ify mengangguk antusias.

“Boleh boleh. Eh...” Ify menutup mulutnya saat menengok ke arah seorang pemuda yang duduk di hadapannya. “Alvin, sejak kapan loe disitu?”

Pemuda itu, Alvin. Ia mendongakkan kepalanya.

“Dari tadi.”

Setelah mengucapkan itu Alvin berlalu, karena kebetulan ia telah selesai menyantap makanannya. Ify terus memandangi kepergian Alvin. Kenapa ia tidak menyadari keberadaan pemuda itu?

***

Gabriel terus membuka-buka dokumen di hadapannya itu, cukup rumit tapi menyenangkan untuknya. Ia mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang berdering.

“Di kantor?”
“Iya Ma, kenapa?”
“Mama di bawah, turun sekarang.”
“Oke.”

Gabriel mengerutkan keningnya, tidak biasanya Mamanya itu datang ke kantor. Sepertinya ada hal penting sampe gak bisa di tunda sampai aku pulang. Gabriel menghela nafas lalu membereskan dokumen di hadapannya dan segera turun menemui wanita yang di sebut Mama itu.

Gabriel tersenyum pada Zahra yang berdiri menyambutnya, ia kemudian mengecup pipi kanan dan kiri wanita itu.

“Ada apa Ma? Sepertinya ada yang penting.”

Gabriel bertanya serasa duduk bersama dengan Zahra secara berdampingan. Gabriel menatap khawatir ke arah Zahra saat wanita itu terlihat gusar, seperti ada hal yang sangat gawat untuk di kabarkan. Seperti ada hal yang sangat berat untuk di katakan.

“Kabar buruk Yel, Papa...”

Gabriel mengerutkan keningnya, secara langsung hatinya di rundung rasa tidak enak. sebuah feeling buruk menghampirinya.

“Papa? Papa kenapa Ma?”
“Papa memintamu untuk pindah tugas ke Rusia.”

Gabriel mengerutkan dahinya, bukan kabar buruk. Ia menatap Zahra dengan aneh, tapi kenapa Mama begitu panik?

“Bukannya ini kabar bagus Ma? Berarti cara kerjaku bagus.”
“Gabriel!” Zahra menatap Gabriel begitu tajam “Apa kamu tidak memikirkan Agni?”

Deg!
Bernar. Ada sesuatu yang terlupakan olehnya, Agni!. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan kekasihnya? Meninggalkan separuh jiwanya, meninggalkan semangatnya, meninggalkan segalanya. Meninggalkan semua yang baru saja terjalin dengan utuh, saat semuanya terjalin terlalu jauh. Gabriel terlalu mencintai gadis itu, ia merasa tidak akan pernah sanggup jika meninggalkannya. Bahkan untuk sehari saja. Ia tidak akan pernah bisa! Tapi ini? apa ia bisa melewati masa kesendiriannya? Terjauh dari separuh dirinya? Ya Tuhan... cobaan apa ini?

“Kapan Gabriel berangkat Ma?”
“Lusa.”
Oh God. Kenapa cobaan ini begitu berat?

***

Agni mengembangkan senyumannya saat melihat range rover hitam berhenti di gerbang sekolahnya. Agni segera berjalan dengan tergesa untuk segera bertemu dengan pemiliknya, ia begitu merindukannya.

“Gab. Kangen...”

Agni memeluk lengan Gabriel begitu memasuki mobil mewah itu. Ia mengecup pipi Gabriel sebentar setelah Gabriel melajukan mobilnya.
Gabriel terkekeh, ia mengecup kilat puncak kepala Agni yang berada di bahunya. Ia sangat bahagia melihat senyuman kekasihnya itu. Apa bisa ia tidak melihat senyuman itu untuk jangka waktu yang belum bisa di tentukan itu? Aku akan sangat merindukanmu sayang. Gabriel mengecup puncak kepala Agni lagi.

“Kamu besok libur, sayang?”

Agni mendudukan dirinya dengan sempurna, ia menoleh ke arah Gabriel kemudian mengangguk antusias.

“Iya, kenapa emangnya?”

Gabriel tersenyum, ia melirik Agni sekilas.

“Besok aku jemput kamu pagi-pagi, kita jalan-jalan seharian.”
“Dalam rangka? Tumben banget.”

Gabriel terdiam, ia tersenyum getir. Apa Agni harus tau hal itu sekarang? Gabriel menggeleng. Gak! gak boleh. Ia mengerlingkan matanya nakal ke arah Agni.

“Aku mau seharian bersama kekasihku tersayang, aku sangat merinduka kekasihku itu, penat beberapa hari kerja tanpa melihat senyuman kekasihku itu.”

Agni menunduk malu, ia tersenyum begitu tulus pada Gabriel lalu mengangguk antusias. Ia begitu senang dengan penawaran itu, penawaran yang tak akan pernah terlewatkan.

Agni melirik Gabriel saat mendengar deringan dari ponsel kekasihnya itu, ia merogoh saku jas Gabriel untuk mengambilnya. Agni mengerutkan keningnya.

“Shilla?” Agni menatap Gabriel curiga, “Siapa dia? Selingkuhan?!”

Gabriel terkekeh, ia menoleh ke arah Agni lalu mengelus pipi kekasihnya itu dengan tangan yang bebas. Bagaimana mungkin Agni berpikir itu selingkuhannya?

“Dia sekertarisku Agni... gak usah cemburu gitu ah...”

Agni semakin menyipitkan matanya, menatap Gabriel dengan penuh selidik.

“Angkat aja kalo gak percaya.”

Agni mengangguk.

“Hallo Pak Gabriel, selamat siang.”
“Ya, ada apa?”
“Eh. Maaf... anda siapa? Pak Gabriel dimana?”

Agni melirik Gabriel sekilas, terlihat jelas bahwa dia tidak mengeluarkan ekspresi ingin tahu.

“Ada keperluan apa? Anda bisa membicarakannya melalui saya.”
“Iya... ini mengenai tugas baru. Saya ingin membicarakannya bersama Pak Gabriel di kantor sekarang juga, saya belum cukup faham dengan tugas itu.”
“Itu saja? Saya rasa hari ini dan besok dia tidak bisa di ganggu. Bisa lain kali saja.”
“Tapi...”
“Selamat siang Bu Shilla, terimakasih.”

Agni segera mengakhiri percakapan itu, ia mendelik ke arah Gabriel. Ia kurang suka dengan nada berbicara sekertarisnya itu, memang seperti kebingungan, tapi kenapa bisa sebegitu tergantungnya sih sama Gabriel? Bisakan bertanya pada yang lain? Agni mendengus kesal kemudian memasukan ponsel Gabriel ke dalam tasnya.

“Besok malam kamu ada acara?”

Gabriel menatap Agni, ia memegang kedua belah pipi Agni. Menikmati kecantikan kekasihnya itu selagi macet khas kota metropolitan itu.

“Ada.”

Gabriel mengarutkan dahinya, sejak kapan kekasihnya itu tidak bercerita akan ada acara?

“Acara apa?”

Agni terkekeh menanggapinya. Ia menurunkan kedua tangan Gabriel lalu menggenggamnya.

“Kan katanya mau jalan seharian sama kamu.”

Gabriel menghela nafas lega, ia tersenyum pada kekasihnya itu. Mengacak-acak rambutnya pelan.

“itu pengecualian sayang.”

Agni memamerkan deretan gigi rapihnya. Ia senang jika melihat wajah keterkejutan kekasihnya itu. Wajah yang selalu terbayang dalam ingatan dan selalu hadir dalam mimpinya. Begitu tampan dan mengagumkan.

***

Pagi-pagi sekali Gabriel menjemput Agni, hingga kekasihnya itu belum bangun saja ia sudah berada di ruang tamu ngobrol bersama Irshad.

“Kamu bangunkan sendiri sana, biar bisa lihat seberapa susahnya dia di bangunkan.”

Irshad terkekeh saat membayangkan puterinya ketika bangun tidur, apalagi jika yang membangunkannya itu adalah kekasihnya sendiri. Pasti akan sangat lucu sekali.

Gabriel tersenyum kecil melihat kekasihnya masih bergelung dengan selimut tebalnya, wajahnya hanya terlihat separuh karena tertutupi selimut itu. Ia duduk di tepi tempat tidur, ia memejamkan matanya sejenak. Kenapa hari ini ia merasa akan begitu berat untuknya?

“Gab. Ihh sejak kapan kamu masuk kamar aku?”

Gabriel berbalik begitu mendengar suara serak tapi tetap lebut itu. Ia tertawa ringan saat melihat kekasihnya masuk kedalam selimut, membenamkan seluruh tubuhnya dalam kehangatan.

“Ayo kita jalan. Aku gak mau waktu hari ini tersita banyak gara-gara kamu susah bangun. Atau kamu mau seharian ini kita habiskan di kamar kamu aja?”

Agni secepat kilat mendudukan dirinya, ia segera menyingkapkan  selimutnya dan berlari menuju kamar mandi.
Gabriel lagi-lagi tertawa. Namun sepersekian detik berikutnya senyuman itu sirna. Ia teringat bahwa hari ini adalah detik-detik terakhir kebersamaan mereka. Sebelum akhirnya ia pergi. Gabriel mendesah penuh beban. Ia mengusap wajahnya mengarah ke atas hingga menarik rambutnya dengan frustasi. Bagaimana caranya ia membicarakan hal itu pada Agni? Apa ia sanggup?

***

Gabriel mengajak Agni kesebuah pantai yang sangat indah. Disana tidak begitu ramai dengan pengunjung, hanya ada beberapa saja yang bermain di tempat itu.
Gabriel memeluk Agni dari belakang dengan begitu posesif. Ia tidak ingin kehilangan kekasihnya ini, tapi di satu sisi ia juga tidak boleh egois.

Agni mengelus kepala Gabriel yang di sandarkan di pundaknya, ia merasa kekasihnya itu aneh, seperti sedang banyak pikiran. Bebannya terlihat begitu berat. Agni merasakan sebuah kecupan di lehernya, terasa begitu hangat dan ara desiran aneh setelahnya.

“Main yuk.”

Gabriel menggelengkan kepalanya.

“Aku cuma mau manja-manjaan sama kamu hari ini, aku maunya gini aja.”

Agni tersenyum tipis, benar sekali bahwa Gabriel sedang banyak pikiran. Terbukti dengan enggannya dia di ajak bermain padahal biasanya dia akan memaksakan kalau tidak ada yang lebih penting dari ajakannya.

Agni mengangguk ia menyamankan duduknya lalu menyandarkan dirinya pada dada Gabriel. Menikmati dekapan penuh sayang dari kekasihnya itu.

***

Irshad memasuki sebuah cafe untuk memesan sebuah cake kesukaan Agni. Entah kenapa ia sangat ingin membelikan puterinya makanan manis itu.

“Mbak, saya mau yang itu.”
“Baik Pak, mohon tunggu sebentar.”

Irshad mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi pengunjung. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat itu, tidak begitu beda dengan dahulu. Saat ia bertemu dengan Mamanya Agni yang telah meninggal dunia itu. Saat dimana ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis berbando merah. Irshad menarik nafas panjang.

“Hey, Irshad ya?”

Irshad berbalik, kemudian tersenyum formal. Namun sedetik setelah saling bertatapan keduanya langsung saling berpelukan bahagia, setelah sekian lama tidak bertemu membuatnya sangat kehilangan.

“Dayat apa kabar? Lama nih gak ketemu.”

Orang itu, Dayat. Dia tertawa lalu menepuk bahu Irshad.

“Baru pulang nih dari Aussie. Tapi puteraku sejak beberapa bulan sudah disini, aku memintanya mencarimu.”
“Ah masa? Mencariku untuk apa?”

Dayat tersenyum.

“Kamu tidak lupakan dengan permintaan isteriku? Ada waktu tersisa dua tahun sebelum kita menikahkan anak kita.”

Irshad seketika terdiam. Benar! Ia telah menjodohkan puterinya itu dengan putera sahabatnya ini. bagaimana mungkin ia melupakannya? Tapi, sekarang puterinya sedang berbahagia dengan kekasihnya. Bagaimana ini?

“Payah sekali anakku itu, padahal kau sangat terkenal untuk secepatnya di temukan. Tapi dasar anak so sibuk jadi gak bener-bener carinya kali ya. bagaimana dengan puterimu? Apa semakin cantik? Aku merindukannya sekarang.”

Irshad terkekeh, menepuk meja perlahan.

“Tentu saja, di tambah lagi, dia sangat pintar.”
“Tepat seperti dugaanku. Oiya, aku berencana untuk membiarkan puteraku mencari tau anakmu sendiri tanpa bantuanku. Menurutmu bagaimana?”
“Ide bagus, tapi untuk sekedar foto dan nama bolehkan?”
“Foto boleh. Tapi nama jangan dulu deh, biarkan dia mencari tau dan berkenalan sendiri.”

Irshad tertawa, ia memukul lengan Dayat dengan cukup keras. Tidak menyangka otak jahil pria berumur lebih dari setengah abad itu masih ada.

“Anak sendiri di jaili, dasar kau.”

Keduanya tampak tertawa, melepaskan rasa rindu mereka. membicarakan segala sesuatinya kesana dan kemari. Merencanakan sebuah masa depan yang menurut mereka bukan ide yang buruk.

***

Dengan gugup Agni memasuki kediaman keluarga Gabriel kembali. Ia mengeratkan pegangannya pada Gabriel.
Gabriel melirik ke arah Agni lalu tersenyum saat kekasihnya itu meliriknya juga.

“Tenang aja.”

Agni menganggukan kepalanya, kemudian ia menghembuskan nafas menghilangkan kegugupannya. Oke Agni, gak usah panik.

Agni tersenyum pada Zahra dan Sion yang telah duduk di meja makan menantikan kedatangan Agni dan Gabriel. Zahra mempersilahkan Agni untuk duduk di samping Gabriel.

“Bagaimana kabarmu sayang? Apa Gabriel menyakitimu?”

Zahra bertanya pada Agni dengan memandangi gadis itu dengan lembut. Agni tersenyum begitu manis.

“Enggak tante, Gabriel baik banget sama Agni.”

Zahra tersenyum menanggapinya.

“Yasudah silahkan dimakan, kebetulan tante lagi pengen masak. Jadi masaknya banyak.”

Agni mengangguk kecil untuk menghormatinya.
Mereka menyantap makan malam dengan penuh keceriaan. Mereka terus saja bersenda gurau, apalagi Papa Gabriel mantan playboy yang jago rayuan gombalnya, ia terus-terusan menggoda Agni hingga gadis itu masih saja bisa tersipu.

“Oiya Agni, bagaimana? Kamu mau ikut bersama Gabriel?”

Agni mengerutkan keningnya. Ia melirik Zahra dan Gabriel bergantian. Ia tidak mengetauhi apa-apa.

“Kemana tante? Emangnya Gabriel mau kemana?”

Zahra menatap tajam ke arah Gabriel, sementara pemuda itu hanya diam menundukan pandangannya.

“Jangan bilang kemu belum menceritakannya Gabriel!”

Gabriel meraih tangan Agni lalu meremasnya perlahan. Agni menatap ke arah Gabriel mencari jawaban. Lalu beralih ke arah Zahra lalu Sion.

“Biar Papa yang cerita Ma, Papa ngerti gimana perasaan Gabriel.”

Zahra mengangguk patuh dengan pernyataan suaminya itu. Ia hanya menatap Gabriel dan Agni bergantian.

“Begini Agni. Oom memindah tugaskan Gabriel ke Rusia untuk beberapa tahun.”
“A.APA? R.Rusia?”

Sion menganggukan kepalanya. Sementara Gabriel mengeratkan pegangan tangannya. Tidak membiarkan Agni pergi darinya.

“Dengan berbagai pertimbangan tentunya. Tapi yang menjadi ganjalan cuma satu, yaitu kamu.”

Agni meneguk ludahnya dengan sukar. Apa ia yang akan menjadi korban?

“Lalu? Bagaimana Oom? Agni harus bagaimana?”

Sion mengheka nafas panjang. Ia melirik Gabriel yang masih saja menundukan pandangannya. Ia dapat melihat, betapa tertekannya puteranya itu. Tapi ini terbaik, mau tidak mau Gabriel harus mau.

“Apa yang akan kamu lakukan? Mau ikut bersama Gabriel? Atau bagaimana?”

Agni tersenyum miris. Mengikuti Gabriel? Bukan ide baik. Tentu ia tidak akan pernah di ijinkan Papanya. Agni membalas meremas tangan Gabriel. Ia melirik ke arah Zahra dan Sion.

“Maaf tante, Oom... Agni gak bisa. Lebih baik kita LDR aja.”

Zahra menatap Agni menatap keyakinan dimata gadis itu. Kemudian ia tersenyum.

“Iya, kamukan masih sekolah. Dan manamungkin orang tua kamu mengijinkannya.”

Agni tersenyum ke arah keduanya. Ia tidak bisa menahan kepergian Gabriel. Kepergian kekasihnya itu bukan untuk bermain, tapi untuk bekerja, ia tidak akan pernah berpaling darinya. Itu membuatnya kuat, harus kuat. Berusaha sebisa mungkin positive tinking. Ia tidak boleh bertindak bodoh dengan menahannya. Ia harus merelakannya. Sangat rela.

***


Bersambung....

No comments:

Post a Comment