Senyum Agni merekah begitu melihat sebuah range rover
berwarna hitam memasuki pakarangan rumahnya. Kejutan pagi yang benar-benar
membahagiakan. Ia berlari kecil ke arah pemilik kendaraan itu kemudian
memeluknya.
“Gab. Kok gak bilang?”
Gabriel mengacak-acak rambut Agni, ia tersenyum geli melihat
Agni yang memajukan bibirnya.
“Kejutan sayang. Yuk masuk.”
Gabriel membukakan pintu untuk Agni. Setelah gadis itu
memasuki mobilnya ia segera memasuki pintu kemudi.
“Eh, itu ada kado dari Mama.”
Agni memutar badannya untuk berbalik ke arah jok belakang,
ia terkekeh begitu melihat kado itu. Tak lama kemudian ia membukanya, matanya
berbinar senyumannya pun sangat merekah.
“Ya ampun Gab, sepatunya bagus
banget.”
Agni mengeluarkan sepatu kets berwarna merah menyala dengan
ikatan yang berwarna putih. Merah adalah salah satu warna kesukaan Agni yang
tidak satupun orang mengetahuinya.
Gabriel mulai melajukan mobilnya, sesekali ia melirik ke
arah Agni yang sedang memakai sepatu itu.
“Pas banget. Gab. Mama kamu itu
tau banget sih selera aku, masa ya kemaren juga ngajak ketemuan dan Mama kamu
itu ngasih pelindung hape. Lucu deh, nih liat.”
Agni menunjukan ponselnya yang telah memakai pelindung
berwarna abu-abu, dan ada inisial AG di belakangnya.
“Pantesan kemaren Mama tanya tipe
hape kamu.”
Gabriel melirik ke arah Agni dengan senyumannya yang khas.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
“Ini, kemaren juga aku ada
meeting sama klien dan kebetulan bawa hadiah buat aku. tapi katanya salah bawa,
dia malah bawa jam tangan cewek ini.”
“Gab.” Agni menghela nafas, “Aku
gak mau.”
Gabriel terdiam, ia menghentikan mobilnya tepat di gerbang
sekolah Agni. Ia mengerutkan keningnya, tidak seperti biasanya gadisnya itu
menolak pemberiannya. Kenapa? Apa kurang mewah? Kurang mahal?
“Kenapa?”
Agni menundukkan kepalanya. Ia memainkan jari-jadinya satu
sama lain.
“Aku gak enak aja di kasih terus
sama kamu, kamu terlalu baik Gab.”
Gabriel terkekeh, ia mengelus kepala Agni dengan lembut. Ia
memegang kedua bahu Agni agar gadis itu menghadapnya.
“Agni, aku gak pernah merasa
keberatan kok. Kamu gak usah merasa gak enak gitu, toh ini semua aku yang beri,
bukan kamu yang minta.”
“Tapi Gab. Aku gak bisa kasih
apapun sama kamu.”
Gabriel menghela nafas berat, ia masih menatap mata Agni
dengan dalam.
“Cukup dengan kamu menjaga hati
kamu buat aku dimanapun kamu berada Agni untuk membalasnya, aku gak mau
muluk-muluk dari kamu, aku cuma mau itu.”
Agni tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca. Ia dengan segera
memeluk Gabriel meluapkan semua emosinya.
“Iya Gab. Aku bakalan berusaha.”
***
Agni duduk di sudut kantin sendiri, menunggu Ify yang masih
memesan makanannya. Sesekali ia tersenyum ketika melihat pesan dari kekasihnya.
Ia merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini, memiliki kekasih yang baik
hati, pengertian, perhatian, dengan bonus tampan dan mapan. Agni menghela nafas
panjang, ia memperhatikan jam tangan pemberian Gabriel tadi pagi. Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu Gab,
kenapa kamu baik banget sama aku.
Seseorang duduk di hadapan Agni dengan nampan berisi makanan
di tangannya. Agni melirik dengan ekor matanya. Kenapa dia disini? Cari perkara aja. Agni mendengus kesal. Harus
siap-siap menerima hinaan-hinaan fans orang itu.
“Ngapain loe disini? Pergi sana.”
“Terserah guelah, emang ini udah
loe sewa?”
Untuk kedua kalinya ia mendengus kesal. Bukannya ia membenci
pemuda ini lantas ia terus-terusan mendengus, tapi ia hanya jengah dengan
omongan orang lain tentangnya. Bahkan, boleh di bilang ia sangat mengagumi
sosok pemuda itu. Tampan, berprestasi lagi.
“Ya enggak sih, masih banyak kali
bangku kosong, tuh sama cewek-cewek yang selalu ngiler liatin loe.”
Agni menaikan satu alisnya saat pemuda itu malah terkekeh
saat menyantap makanannya.
“Justru itu, kan cuma loe yang
gak kena sama pesona gue.”
Agni memutar bola matanya, ia harus secuek mungkin agar
tidak di dekati pemuda itu lagi.
“Ini pesenan loe.”
Agni mendongakkan wajahnya saat Ify datang.
“Thanks Fy.”
Ify mengangguk kemudian duduk di samping Agni, kemudian ia
menyantap makanannya tanpa ada perbincangan lagi.
“Eh iya, loe udah belum tugas
dari guru seni.”
Agni mengalihkan pandangannya pada Ify. Ia mengkerutkan
keningnya heran. Kemudian sedikit berpikir.
“Oh itu. Udah kok, lagian cuma
gambar rumah impiankan? Gampang kali.”
“Gue minta rekomendasi nya dong,
bingung tau gak.”
Agni meneguk minumannya setelah menghabiskan makanannya. Ia
melipat kedua tangannya di dada.
“Kalo gue sih ya Fy, maunya
gaya-gaya Eroupe gitu. Apalagi kalau barang-barangnya yang antik, tapi di padu
sama yang modern juga keren lho. Entar deh loe liat gambarnya. Keren pokoknya.”
Ify mengangguk antusias.
“Boleh boleh. Eh...” Ify menutup
mulutnya saat menengok ke arah seorang pemuda yang duduk di hadapannya. “Alvin,
sejak kapan loe disitu?”
Pemuda itu, Alvin. Ia mendongakkan kepalanya.
“Dari tadi.”
Setelah mengucapkan itu Alvin berlalu, karena kebetulan ia
telah selesai menyantap makanannya. Ify terus memandangi kepergian Alvin.
Kenapa ia tidak menyadari keberadaan pemuda itu?
***
Gabriel terus membuka-buka dokumen di hadapannya itu, cukup
rumit tapi menyenangkan untuknya. Ia mengalihkan pandangannya pada ponselnya
yang berdering.
“Di kantor?”
“Iya Ma, kenapa?”
“Mama di bawah, turun sekarang.”
“Oke.”
Gabriel mengerutkan keningnya, tidak biasanya Mamanya itu
datang ke kantor. Sepertinya ada hal
penting sampe gak bisa di tunda sampai aku pulang. Gabriel menghela nafas
lalu membereskan dokumen di hadapannya dan segera turun menemui wanita yang di
sebut Mama itu.
Gabriel tersenyum pada Zahra yang berdiri menyambutnya, ia
kemudian mengecup pipi kanan dan kiri wanita itu.
“Ada apa Ma? Sepertinya ada yang
penting.”
Gabriel bertanya serasa duduk bersama dengan Zahra secara
berdampingan. Gabriel menatap khawatir ke arah Zahra saat wanita itu terlihat
gusar, seperti ada hal yang sangat gawat untuk di kabarkan. Seperti ada hal
yang sangat berat untuk di katakan.
“Kabar buruk Yel, Papa...”
Gabriel mengerutkan keningnya, secara langsung hatinya di
rundung rasa tidak enak. sebuah feeling buruk menghampirinya.
“Papa? Papa kenapa Ma?”
“Papa memintamu untuk pindah
tugas ke Rusia.”
Gabriel mengerutkan dahinya, bukan kabar buruk. Ia menatap Zahra dengan aneh, tapi kenapa Mama begitu panik?
“Bukannya ini kabar bagus Ma?
Berarti cara kerjaku bagus.”
“Gabriel!” Zahra menatap Gabriel
begitu tajam “Apa kamu tidak memikirkan Agni?”
Deg!
Bernar. Ada sesuatu yang terlupakan olehnya, Agni!.
Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan kekasihnya? Meninggalkan separuh
jiwanya, meninggalkan semangatnya, meninggalkan segalanya. Meninggalkan semua
yang baru saja terjalin dengan utuh, saat semuanya terjalin terlalu jauh.
Gabriel terlalu mencintai gadis itu, ia merasa tidak akan pernah sanggup jika
meninggalkannya. Bahkan untuk sehari saja. Ia tidak akan pernah bisa! Tapi ini?
apa ia bisa melewati masa kesendiriannya? Terjauh dari separuh dirinya? Ya Tuhan... cobaan apa ini?
“Kapan Gabriel berangkat Ma?”
“Lusa.”
Oh God. Kenapa cobaan
ini begitu berat?
***
Agni mengembangkan senyumannya saat melihat range rover hitam
berhenti di gerbang sekolahnya. Agni segera berjalan dengan tergesa untuk
segera bertemu dengan pemiliknya, ia begitu merindukannya.
“Gab. Kangen...”
Agni memeluk lengan Gabriel begitu memasuki mobil mewah itu.
Ia mengecup pipi Gabriel sebentar setelah Gabriel melajukan mobilnya.
Gabriel terkekeh, ia mengecup kilat puncak kepala Agni yang
berada di bahunya. Ia sangat bahagia melihat senyuman kekasihnya itu. Apa bisa
ia tidak melihat senyuman itu untuk jangka waktu yang belum bisa di tentukan
itu? Aku akan sangat merindukanmu sayang. Gabriel mengecup puncak kepala Agni
lagi.
“Kamu besok libur, sayang?”
Agni mendudukan dirinya dengan sempurna, ia menoleh ke arah
Gabriel kemudian mengangguk antusias.
“Iya, kenapa emangnya?”
Gabriel tersenyum, ia melirik Agni sekilas.
“Besok aku jemput kamu pagi-pagi,
kita jalan-jalan seharian.”
“Dalam rangka? Tumben banget.”
Gabriel terdiam, ia tersenyum getir. Apa Agni harus tau hal
itu sekarang? Gabriel menggeleng. Gak! gak boleh. Ia mengerlingkan matanya
nakal ke arah Agni.
“Aku mau seharian bersama
kekasihku tersayang, aku sangat merinduka kekasihku itu, penat beberapa hari
kerja tanpa melihat senyuman kekasihku itu.”
Agni menunduk malu, ia tersenyum begitu tulus pada Gabriel
lalu mengangguk antusias. Ia begitu senang dengan penawaran itu, penawaran yang
tak akan pernah terlewatkan.
Agni melirik Gabriel saat mendengar deringan dari ponsel
kekasihnya itu, ia merogoh saku jas Gabriel untuk mengambilnya. Agni
mengerutkan keningnya.
“Shilla?” Agni menatap Gabriel
curiga, “Siapa dia? Selingkuhan?!”
Gabriel terkekeh, ia menoleh ke arah Agni lalu mengelus pipi
kekasihnya itu dengan tangan yang bebas. Bagaimana mungkin Agni berpikir itu
selingkuhannya?
“Dia sekertarisku Agni... gak
usah cemburu gitu ah...”
Agni semakin menyipitkan matanya, menatap Gabriel dengan
penuh selidik.
“Angkat aja kalo gak percaya.”
Agni mengangguk.
“Hallo Pak Gabriel, selamat siang.”
“Ya, ada apa?”
“Eh. Maaf... anda siapa? Pak Gabriel dimana?”
Agni melirik Gabriel sekilas, terlihat jelas bahwa dia tidak
mengeluarkan ekspresi ingin tahu.
“Ada keperluan apa? Anda bisa
membicarakannya melalui saya.”
“Iya... ini mengenai tugas baru. Saya ingin membicarakannya bersama Pak
Gabriel di kantor sekarang juga, saya belum cukup faham dengan tugas itu.”
“Itu saja? Saya rasa hari ini dan
besok dia tidak bisa di ganggu. Bisa lain kali saja.”
“Tapi...”
“Selamat siang Bu Shilla,
terimakasih.”
Agni segera mengakhiri percakapan itu, ia mendelik ke arah
Gabriel. Ia kurang suka dengan nada berbicara sekertarisnya itu, memang seperti
kebingungan, tapi kenapa bisa sebegitu tergantungnya sih sama Gabriel? Bisakan
bertanya pada yang lain? Agni mendengus kesal kemudian memasukan ponsel Gabriel
ke dalam tasnya.
“Besok malam kamu ada acara?”
Gabriel menatap Agni, ia memegang kedua belah pipi Agni.
Menikmati kecantikan kekasihnya itu selagi macet khas kota metropolitan itu.
“Ada.”
Gabriel mengarutkan dahinya, sejak kapan kekasihnya itu
tidak bercerita akan ada acara?
“Acara apa?”
Agni terkekeh menanggapinya. Ia menurunkan kedua tangan
Gabriel lalu menggenggamnya.
“Kan katanya mau jalan seharian
sama kamu.”
Gabriel menghela nafas lega, ia tersenyum pada kekasihnya
itu. Mengacak-acak rambutnya pelan.
“itu pengecualian sayang.”
Agni memamerkan deretan gigi rapihnya. Ia senang jika
melihat wajah keterkejutan kekasihnya itu. Wajah yang selalu terbayang dalam
ingatan dan selalu hadir dalam mimpinya. Begitu tampan dan mengagumkan.
***
Pagi-pagi sekali Gabriel menjemput Agni, hingga kekasihnya
itu belum bangun saja ia sudah berada di ruang tamu ngobrol bersama Irshad.
“Kamu bangunkan sendiri sana,
biar bisa lihat seberapa susahnya dia di bangunkan.”
Irshad terkekeh saat membayangkan puterinya ketika bangun
tidur, apalagi jika yang membangunkannya itu adalah kekasihnya sendiri. Pasti
akan sangat lucu sekali.
Gabriel tersenyum kecil melihat kekasihnya masih bergelung
dengan selimut tebalnya, wajahnya hanya terlihat separuh karena tertutupi
selimut itu. Ia duduk di tepi tempat tidur, ia memejamkan matanya sejenak. Kenapa
hari ini ia merasa akan begitu berat untuknya?
“Gab. Ihh sejak kapan kamu masuk
kamar aku?”
Gabriel berbalik begitu mendengar suara serak tapi tetap
lebut itu. Ia tertawa ringan saat melihat kekasihnya masuk kedalam selimut,
membenamkan seluruh tubuhnya dalam kehangatan.
“Ayo kita jalan. Aku gak mau
waktu hari ini tersita banyak gara-gara kamu susah bangun. Atau kamu mau
seharian ini kita habiskan di kamar kamu aja?”
Agni secepat kilat mendudukan dirinya, ia segera
menyingkapkan selimutnya dan berlari
menuju kamar mandi.
Gabriel lagi-lagi tertawa. Namun sepersekian detik
berikutnya senyuman itu sirna. Ia teringat bahwa hari ini adalah detik-detik
terakhir kebersamaan mereka. Sebelum akhirnya ia pergi. Gabriel mendesah penuh
beban. Ia mengusap wajahnya mengarah ke atas hingga menarik rambutnya dengan
frustasi. Bagaimana caranya ia membicarakan hal itu pada Agni? Apa ia sanggup?
***
Gabriel mengajak Agni kesebuah pantai yang sangat indah.
Disana tidak begitu ramai dengan pengunjung, hanya ada beberapa saja yang
bermain di tempat itu.
Gabriel memeluk Agni dari belakang dengan begitu posesif. Ia
tidak ingin kehilangan kekasihnya ini, tapi di satu sisi ia juga tidak boleh
egois.
Agni mengelus kepala Gabriel yang di sandarkan di pundaknya,
ia merasa kekasihnya itu aneh, seperti sedang banyak pikiran. Bebannya terlihat
begitu berat. Agni merasakan sebuah kecupan di lehernya, terasa begitu hangat
dan ara desiran aneh setelahnya.
“Main yuk.”
Gabriel menggelengkan kepalanya.
“Aku cuma mau manja-manjaan sama
kamu hari ini, aku maunya gini aja.”
Agni tersenyum tipis, benar sekali bahwa Gabriel sedang
banyak pikiran. Terbukti dengan enggannya dia di ajak bermain padahal biasanya
dia akan memaksakan kalau tidak ada yang lebih penting dari ajakannya.
Agni mengangguk ia menyamankan duduknya lalu menyandarkan
dirinya pada dada Gabriel. Menikmati dekapan penuh sayang dari kekasihnya itu.
***
Irshad memasuki sebuah cafe untuk memesan sebuah cake
kesukaan Agni. Entah kenapa ia sangat ingin membelikan puterinya makanan manis
itu.
“Mbak, saya mau yang itu.”
“Baik Pak, mohon tunggu
sebentar.”
Irshad mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi
pengunjung. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat itu, tidak begitu
beda dengan dahulu. Saat ia bertemu dengan Mamanya Agni yang telah meninggal
dunia itu. Saat dimana ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis
berbando merah. Irshad menarik nafas panjang.
“Hey, Irshad ya?”
Irshad berbalik, kemudian tersenyum formal. Namun sedetik
setelah saling bertatapan keduanya langsung saling berpelukan bahagia, setelah
sekian lama tidak bertemu membuatnya sangat kehilangan.
“Dayat apa kabar? Lama nih gak
ketemu.”
Orang itu, Dayat. Dia tertawa lalu menepuk bahu Irshad.
“Baru pulang nih dari Aussie.
Tapi puteraku sejak beberapa bulan sudah disini, aku memintanya mencarimu.”
“Ah masa? Mencariku untuk apa?”
Dayat tersenyum.
“Kamu tidak lupakan dengan
permintaan isteriku? Ada waktu tersisa dua tahun sebelum kita menikahkan anak
kita.”
Irshad seketika terdiam. Benar! Ia telah menjodohkan
puterinya itu dengan putera sahabatnya ini. bagaimana mungkin ia melupakannya?
Tapi, sekarang puterinya sedang berbahagia dengan kekasihnya. Bagaimana ini?
“Payah sekali anakku itu, padahal
kau sangat terkenal untuk secepatnya di temukan. Tapi dasar anak so sibuk jadi
gak bener-bener carinya kali ya. bagaimana dengan puterimu? Apa semakin cantik?
Aku merindukannya sekarang.”
Irshad terkekeh, menepuk meja perlahan.
“Tentu saja, di tambah lagi, dia
sangat pintar.”
“Tepat seperti dugaanku. Oiya,
aku berencana untuk membiarkan puteraku mencari tau anakmu sendiri tanpa
bantuanku. Menurutmu bagaimana?”
“Ide bagus, tapi untuk sekedar
foto dan nama bolehkan?”
“Foto boleh. Tapi nama jangan
dulu deh, biarkan dia mencari tau dan berkenalan sendiri.”
Irshad tertawa, ia memukul lengan Dayat dengan cukup keras.
Tidak menyangka otak jahil pria berumur lebih dari setengah abad itu masih ada.
“Anak sendiri di jaili, dasar
kau.”
Keduanya tampak tertawa, melepaskan rasa rindu mereka.
membicarakan segala sesuatinya kesana dan kemari. Merencanakan sebuah masa
depan yang menurut mereka bukan ide yang buruk.
***
Dengan gugup Agni memasuki kediaman keluarga Gabriel kembali.
Ia mengeratkan pegangannya pada Gabriel.
Gabriel melirik ke arah Agni lalu tersenyum saat kekasihnya
itu meliriknya juga.
“Tenang aja.”
Agni menganggukan kepalanya, kemudian ia menghembuskan nafas
menghilangkan kegugupannya. Oke Agni, gak
usah panik.
Agni tersenyum pada Zahra dan Sion yang telah duduk di meja
makan menantikan kedatangan Agni dan Gabriel. Zahra mempersilahkan Agni untuk
duduk di samping Gabriel.
“Bagaimana kabarmu sayang? Apa Gabriel
menyakitimu?”
Zahra bertanya pada Agni dengan memandangi gadis itu dengan
lembut. Agni tersenyum begitu manis.
“Enggak tante, Gabriel baik
banget sama Agni.”
Zahra tersenyum menanggapinya.
“Yasudah silahkan dimakan,
kebetulan tante lagi pengen masak. Jadi masaknya banyak.”
Agni mengangguk kecil untuk menghormatinya.
Mereka menyantap makan malam dengan penuh keceriaan. Mereka terus
saja bersenda gurau, apalagi Papa Gabriel mantan playboy yang jago rayuan
gombalnya, ia terus-terusan menggoda Agni hingga gadis itu masih saja bisa
tersipu.
“Oiya Agni, bagaimana? Kamu mau
ikut bersama Gabriel?”
Agni mengerutkan keningnya. Ia melirik Zahra dan Gabriel bergantian.
Ia tidak mengetauhi apa-apa.
“Kemana tante? Emangnya Gabriel mau
kemana?”
Zahra menatap tajam ke arah Gabriel, sementara pemuda itu
hanya diam menundukan pandangannya.
“Jangan bilang kemu belum
menceritakannya Gabriel!”
Gabriel meraih tangan Agni lalu meremasnya perlahan. Agni menatap
ke arah Gabriel mencari jawaban. Lalu beralih ke arah Zahra lalu Sion.
“Biar Papa yang cerita Ma, Papa
ngerti gimana perasaan Gabriel.”
Zahra mengangguk patuh dengan pernyataan suaminya itu. Ia hanya
menatap Gabriel dan Agni bergantian.
“Begini Agni. Oom memindah
tugaskan Gabriel ke Rusia untuk beberapa tahun.”
“A.APA? R.Rusia?”
Sion menganggukan kepalanya. Sementara Gabriel mengeratkan
pegangan tangannya. Tidak membiarkan Agni pergi darinya.
“Dengan berbagai pertimbangan
tentunya. Tapi yang menjadi ganjalan cuma satu, yaitu kamu.”
Agni meneguk ludahnya dengan sukar. Apa ia yang akan menjadi
korban?
“Lalu? Bagaimana Oom? Agni harus
bagaimana?”
Sion mengheka nafas panjang. Ia melirik Gabriel yang masih
saja menundukan pandangannya. Ia dapat melihat, betapa tertekannya puteranya
itu. Tapi ini terbaik, mau tidak mau Gabriel harus mau.
“Apa yang akan kamu lakukan? Mau ikut
bersama Gabriel? Atau bagaimana?”
Agni tersenyum miris. Mengikuti Gabriel? Bukan ide baik. Tentu
ia tidak akan pernah di ijinkan Papanya. Agni membalas meremas tangan Gabriel. Ia
melirik ke arah Zahra dan Sion.
“Maaf tante, Oom... Agni gak
bisa. Lebih baik kita LDR aja.”
Zahra menatap Agni menatap keyakinan dimata gadis itu. Kemudian
ia tersenyum.
“Iya, kamukan masih sekolah. Dan manamungkin
orang tua kamu mengijinkannya.”
Agni tersenyum ke arah keduanya. Ia tidak bisa menahan
kepergian Gabriel. Kepergian kekasihnya itu bukan untuk bermain, tapi untuk
bekerja, ia tidak akan pernah berpaling darinya. Itu membuatnya kuat, harus
kuat. Berusaha sebisa mungkin positive tinking. Ia tidak boleh bertindak bodoh
dengan menahannya. Ia harus merelakannya. Sangat rela.
***
Bersambung....
No comments:
Post a Comment