Tanpa terasa segala bentuk Ujian telah berakhir. Begitu
keluar dari ruangan ujian, Agni terlihat bernafas begitu lega. Wajahnya yang
tadinya redup kembali ceria, matanyapun menjadi lebih berbinar daripada
sebelumnya.
Ify dari ruangan lain terlihat baru saja keluar dan melirik
ke kanan dan ke kiri, mencari dimana ke adaan sahabatnya. Ia tersenyum lebar
begitu melihat Agni yang sedang sibuk merapihkan tas nya.
“Ag...”
Agni celingukan mencari sumbersuara, saat beradu pandangan dengan
Ify ia tersenyum kemudian berlari ke arah sahabatnya itu.
“Aaa... gue kangen...”
Keduanya saling berpelukan, agak lebay memang. Mengingat
mereka tidak satu kelas hanya beberapa hari saja, itupun masih bisa bertemu di
waktu istirahat.
“Entar malem ada party, Rio juga
tumben-tumbenan mau dateng. Loe dateng ya... ajak laki loe juga.”
Party? Ada Rio? Pasti
ada Cakka juga, karena party nya biasanya di tempat Cakka.
Agni nampak berpikir keras. Ia bingung, ia memang mau dan
sangat berharap datang ke sana. Tapi Alvin, apa dia akan mengijinkan? Agni
mendesah lesu. Aku rasa tidak!
“Kayaknya gak bisa deh, sorry
ya...”
Agni menatap sendu ke arah Ify. Sementara Ify menggembungkan
pipinya, party tanpa Agni lagi? Gak asik!
“Kenapa? Waktu itu Alvin fine aja
kan di ajak kesana?”
Agni tersenyum kecut, fine?
Yang mana yang fine nya? Pulang-pulang langsung marahan, adu mulut. Beruntung
gak sampe bunuh-bunuhan. Agni menengok ke arah samping saat merasakan
sesuatu jatuh di bahu kanannya, ia tersenyum lalu mengangkat tangan kanan untuk
mengelus kepala yang ada di bahunya itu.
“Capek Al?”
Alvin mengangguk tanpa suara, ia melingkarkan tangan kirinya
di pinggang Agni, erat. Agni menepuk pelan lengan itu, lalu mengurainya. Ia
berbalik lalu tersenyum kembali pada lelaki itu.
“Yaudah, kita pulang. Hari ini
gak usah langsung ngantor ya?”
“Gak bisa, hari ini ada pertemuan
penting.”
Ify melongos melihat sikap Alvin yang ternyata manja. Ia
sempat beberapa kali melakukannya saat Alvin berucap penuh kemesraan pada
sahabatnya itu. Ia cemburu? Tentu bukan! Karena perasaannya selama ini hanyalah
obsesi. Mungkin hanya iri, karena obsesi yang tidak tersampaikan.
“Mau ikut gak Fy? Gue mau ke
kantor nih.”
Ify mengerutkan dahinya mendengar ajakan Agni. Mau di kacangin? OGAH! Ajak aja yang lain.
“Gak deh. Gue mau langsung pulang
aja.”
“Yakin loe?”
Alvin menatap Agni lalu melirik Alvin yang nampaknya sedang
melakukan perbincangan via telpon entah dengan siapa.
“Oke! Gue paling...” Alvin
melirik arlojinya, “Dua puluh menit lagi nyampe. Loe baca aja dulu ya Deb, gue
cuma mau dengerin penjelasan dari loe aja.”
Ify nampak berpikir. Deb?
Apa mungkin itu Debo? Pemuda sok sibuk yang gak pernah bisa di ajak bertemu
karena alasan sibuk dengan pekerjaan yang di limpahkan Alvin, selagi Alvin masih
berada di zona Ujian. Lebih parahnya, membalas pesanpun seperlunya. Kalau
menelpon? Paling bisa mendengarkan suaranya lima menit. Dan sisanya? Ia di
abaikan.
“Ehh...” Ify menarik tangan Agni
yang hendak beranjak. “Gue ikut.”
“Yuk, loe ikutin aja mobil kita.”
Ify mengangguk, ia segera berjalan berdampingan dengan Agni,
sementara Agni di apit oleh Ify yang berada di sebelah kiri dan Alvin yang
berada di sebelah kanannya.
***
Para karyawan Alvin sibuk menatap ke arah Alvin, Agni dan
Ify. Mereka semua saling berbisik memberikan asumsinya.
“Hey! Pak Alvin itu masih SMA
manamungkin poligami. Aneh banget sih.”
“Ih, bisa aja kan.”
“HEH! Sudah, gak ada kerjaan
menggosip terus. Kerja.”
Agni terkekeh begitu mendengar bisikan-bisikan cukup keras
itu. Ia memeluk lengan kanan Alvin dengan manja dan berbisik.
“Karyawanmu udah kayak infotaimen
aja. Tukang gosip!”
Alvin tersenyum kecil, ia mengacak poni Agni pelan.
“Biarin aja, gak usah di
dengerin.”
Mereka memauki lift yang akan membawanya ke ruangan Alvin.
Alvin merangkul pinggang Agni sementara Agni mengelus pipi Alvin yang terlihat
sekali kelelahan. Alvin memang menyetujui agar lepas tangan pada perusahaannya
sementara waktu. Tapi, Alvin tetap saja memaksa untuk turun tangan walaupun
cuma sedikit.
Alvin mengelus pipi kiri Agni dengan tangan kananya, lalu
turun ke arah dagu. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Agni. Semakin
dekat...
“Khm... ada gue lho.”
Alvin segera menjauhkan diri dari Agni. Ternyata ia
melupakan sesuatu. Ia baru ingat kalau sahabat istrinya itu juga mengikutinya.
Ia melirik Agni yang wajahnya telah memerah, terlihat sekali salah tingkahnya.
“Inget ya... gue jomblo! Jangan
ngumbar kemesraan di depan gue deh. Mau bikin iri? Yang rajin aja sonoh. Loe
berdua tuh bisanya bikin senewen aja tau gak!”
Begitu pintu lift terbuka Ify keluar terlebih dahulu. Alvin
dan Agni saling berpandangan lalu mengedikkan bahunya, heran.
Mereka berjalan di belakang Ify yang berjalan begitu cepat,
tapi beberapa langkah kemudian ia menghentikan langkahnya kemudian berbalik.
“Ruangan loe dimana?”
Agni terbahak cukup keras melihat tampang Ify yang begitu
polos, wajahnya percampura malu dan marah. Ia tidak menyangka Ify akan
bertanya, padahal biasanya dia suka cari tau sendiri. Agni berusaha menahan
tawanya saat melihat pelototan Ify.
“Tuh, pintu yang itu.”
Agni menunjuk pintu di ujung koridor dengan dagunya. Di
ujung sana, ada dua pintu yang saling berhadapan.
“Yang mana?”
Agni melirik Alvin dengan pandangan matanya yang nakal.
Alvin menaikan satu alisnya, ia sudah hafal sekali dengan pikiran jahil
istrinya itu.
“Yang kiri.”
Ify segera berjalan begitu cepat, ia ingin segera menjauh
dari pasangan yang tidak tau tempat itu. Setidaknya, untuk beberapa saat.
Alvin tersenyum kecil begitu mendengar ucapan Agni. Ternyata
istrinya itu benar-benar jahil. Agni memamerkan deretan giginya pada Alvin.
“Hehe... sekali-sekali Al.”
Alvin menarik Agni lalu mengecup puncak kepalanya dengan
lembut. Gemas sekali melihatnya seperti itu. Alvin merangkul Agni hingga
memasuki pintu yang sebelah kanan.
“AGNIII... RESEK LOE YA!”
Terdengar teriakan Ify dari ruangan sebelah yang membuat
Agni menatap Alvin lalu ia terkekeh. Sepertinya misinya berhasil.
***
Ify segera memasuki pintu yang di tunjukan oleh Agni, ia
segera duduk di sofa yang begitu lembut dan empuk itu. Melepaskan rasa kaku di
bahunya.
“Bisa cepet tua gue kalo liat
adegan vulgar gitu terus. Hihh... ngeri juga.”
Ify mengambil sebuah majalah dari bawah meja di depan sofa
itu. Lalu memakainya untuk mengipasi dirinya sendiri, padahal jelas sekali di
ruangan itu ada pendingin.
Clek.
“Lama banget sih kalian.”
Ify bergumam tanpa berbalik.
Seseorang yang baru memasuki ruangan itu menautkan
keningnya. Ia heran dengan ucapan gadis itu, dan juga heran dengan keberadaan
gadis itu di ruangannya.
“Eh iya...” Ify menjauhkan
majalah itu lalu berbalik ke arah pintu. “Lho... siapa kam... Debo?”
Ify tersenyum begitu menyadari bahwa orang yang ada di
hadapan. Tapi ia kemudian terdiam.
“Kanapa kamu ke sini?”
“Harusnya aku yang nanya, kenapa
kamu ada di ruangan aku?”
“Apa? Ini ruangan kamu?”
Debo mengangguk.
“Bukan ruangan Alvin?”
Debo menggeleng.
“AGNIII... RESEK LOE YA!”
Ify menundukan wajahnya, ia malu sekali termakan dalam
ranjau Agni. Kenapa gue bisa sih
seceroboh ini? ihh... malu. Agni resek!
Debo berjalan ke arah meja kerjanya, mengambil beberapa
dokumen. Kemudian beranjak kembali.
Ify menatap pemuda itu. Kenapa dia beneran sok sibuk sih?
Sampe gue gak di sapa sama sekali. Apa gue emang udah gak berarti buat dia?
“Kamu gak kangen sama aku Deb?
Aku kangen banget sama kamu.”
Ify tersenyum begitu tulus pada Debo yang ternyata berbalik.
Pemuda itu terlihat bingung tapi kemudian ia berjalan kembali ke arah Ify
dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
Debo mengelus pipi kanan Ify. Ia menarik nafas begitu dalam.
“Kangen banget.”
Ify berhamburan memeluk pemuda itu, melepaskan rindu yang
begitu menyesakan dada. Ia tak peduli dengan ke adaan sekarang yang
memungkinkan kekasihnya dulu ini sudah memiliki pasangan lain. yang ia tau
hanya Debo miliknya, dan yang ia rasakan hanya merindukan pemuda itu.
***
Agni duduk bosan di harapan Alvin yang masih sibuk dengan
Debo dan beberapa dokumen yang sedang di bahas. Ia salut pada Alvin, tidak ada
capeknya. Ia melirik Ify yang tak berbeda jauh dengannya, tapi gadis itu
terlihat ceria meski Agni yakin Ify sedang di landa rasa bosan karena di
abaikan.
Alvin mengangkat wajahnya setelah menyelesaikan beberapa
dokumennya. Ia tersenyum ke arah Agni yang telah terlihat kusut.
“Vin, loe jangan kasih Debo
kerjaan banyak banget dong. Gue jugakan mau dapet waktu sama Debo.”
Alvin mengalihkan padangannya pada Ify, lalu pada Debo yang
sekarang duduk menjauh, tepatnya di sofa. Ia menarik ujung bibirnya lalu
menatap Agni lagi.
“Sebaiknya loe harus nerima gak
di hubungin sama sekali deh.”
Ify mengerutkan keningnya.
“Kenapa?”
Alvin tak menjawab, ia hanya saling bertatapan dengan Agni.
Entah apa tujuannya.
“Kamu udah harus mempelajari
tentang perusahaan ini Agni, beberapa hari lagi aku akan pergi keluar kota.”
“Sama Debo?”
Alvin mengangguk menanggapi pertanyaan istrinya itu.
Sebenarnya ia tak tega, tapi mau bagaimana lagi? Ini tuntutan.
Agni menghela nafas begitu berat. Ia tidak siap di
tinggalkan Alvin, cukup Papanya saja yang harus selalu meninggalkannya.
“Aku gak mau, aku ikut!”
“Agni... jangan kayak anak kecil,
aku pergi buat kerja. Kamu boleh tinggal di rumahmu bersama Papa kalo kamu
mau.”
Agni mendesah pasrah. Apa yang bisa ia lakukan? Membantah?
Tidak akan pernah bisa membantah manusia kepala batu itu. Akhirnya Agni hanya
menganggukkan kepalanya.
“Pulang yuk, muka kamu udah gak
enak banget di liatnya.”
Alvin bangkit dari tempat duduknya, ia mengulurkan kedua
tangannya di depan Agni, agar wanita itu meraihnya.
Agni menghela nafas, ia mendongakkan kepalanya lalu
tersenyum tipis pada Alvin. Ia masih tidak bisa terima dengan keputusan sepihak
Alvin. Ia meraih tangan Alvin lalu berdiri.
“Deb, tolong ya loe selesein,
kayaknya gue gak mungkin lanjut sekarang.”
Debo mengacungkan jempolnya.
Alvin dan Agni segera berlalu setelah berpamitan pada Ify
yang masih setia ada di sana.
“Mereka sering mesra-mesraan ya
di depan kamu?”
Debo menautkan keningnya, ia mengalihkan pandangan dari
dokumen yang sedang ia baca pada Ify.
“Enggak, paling cuma peluk dan
cium, itupun cuma kening atau kepala.”
“Masa? Padahal tadi di depan aku
mau ciuman lho. Ihh ngeselin beneran deh mereka.”
Debo terkekeh, lalu memberesakan dokumennya.
“Udah gak usah ngomongin mereka,
aku mau ke ruanganku lagi. Kamu mau di sini atau gimana?”
“Ikut.”
***
Alvin dan Agni duduk dalam satu meja makan. Sesekali Agni
melirik Alvin, ia harus membicarakan sesuatu. Tapi entah kenapa ia merasa sulit
mengeluarkan suara untuk mengatakannya.
“Kenapa sayang? Apa aku aneh?”
Agni menggelengkan kepalanya, ia bingung harus memulainya
darimana.
Keduanya kembali di sibukkan oleh santap malam mereka.
Setelah makan malam Agni menghampiri Alvin yang sedang
berkutat dengan laptopnya. Ia mendudukan diri di samping kiri Alvin.
“Lagi ngapain?”
Alvin menengok ke arah Agni kemudian tersenyum kecil.
“Browsing, iseng-iseng aja.”
Agni merapatkan diri pada Alvin, melihat apa yang sedang di
cari Alvin.
“Hm... Al...”
“Ya...”
“Aku... aku...”
Alvin menyadari sesuatu yang tidak beres dari istrinya itu,
ia pandangi Agni dengan seksama.
“Ada apa sayang?”
“Aku... di ajak jalan sama Ify.”
Alvin terdiam, aura bersahabatnya mulai berubah. Ia memang
tidak suka melihat wanita yang berkeluyuran malam di tempat yang tidak jelas. Ia
menatap Agni dengan tatapan tajam.
“Aku mau pergi, sebelum aku
bener-bener sibuk sama perusahaan ki...”
“Gak boleh!”
“Al... aku janji gak sampe tengah
malam.”
“Gak!”
“Al... kamu itu kenapa sih? Egois
banget! Kalo kamu emang gak ngijinin kamu boleh kok ikut. Aku gak keberatan.”
“Gak! aku gak mau!”
“Yaudah biar aku sendiri.”
“AGNI! Sekali ku bilang enggak ya
enggak!”
Mata Agni beradu dengan Alvin, kedua pasang mata itu begitu
tajam, saling melempar tatapan penuh kebencian.
“Kamu... berlebihan!”
Agni beranjak begitu saja setelah melepaskan emosinya,
daripada berdebat lebih baik segera ganti baju dan pergi.
“Aku berlebihan ya? Aku cuma gak
suka liat kamu peluk-pelukan sama lelaki lain, menjadi pusat perhatian lelaki
lain. emang kamu mau di telanjangi mereka semua yang menatapmu dengan penuh
gairah? Hah? Aku punya mata dan punya telinga! Mataku tidak buta dan telingaku
tidak tuli. Aku mendenger mereka memujamu dan begitu menginginkanmu. Salah aku
melakukan itu? Apa masith termasuk berlebihan? Agnida!”
Agni terdiam. Apa benar?
Ia menggelengkan kepalanya pelan. Gak mungkin, karena selama
ini ia selalu di jaga oleh Cakka di tempat itu. Cakka tidak akan pernah
membiarkan seorangpun menyentuhnya.
“Aku akan tetap pergi.”
Agni kembali melanjutkan menaiki anak tangga menuju
kamarnya. Ia tidak ingin perdebatan itu berlanjut lebih lama.
“Selangkah saja kamu meninggalkan
rumah ini jangan harap ketiga temanmu itu masih hidup besok pagi.”
Dengan cepat Agni berbalik, matanya menyala dan nafasnya
terlihat sekali ia tahan, bersama dengan menahan emosi yang sebentar lagi akan
meluap.
“Kamu gak bisa kayak gitu! Mengaturku
semaumu!”
Alvin melirik ke arah Agni dengan tatapan begitu sinis, ia
tersenyum evil.
“Tentu bisa, kaki tanganku
banyak, dari preman sampai pembunuh profesional. Dengan sekejap mata aku bisa
melenyapkan mereka tanpa jejak” Alvin berdiri, menghampiri Agni. “Dan
mengenaimu... jangan lupakan satu hal sayang...” Alvin mendekatkan dirinya pada
Agni. “Kamu istriku...” Alvin berbisik begitu sensual lalu ia mengecup cuping Agni
kemudian ke tengkuknya.
Agni memejamkan matanya sejenak, bukan menikmati. Melainkan menahan
amarah yang sudah siap meledak. Saat ini, ia tidak bisa merasakan apapun yang
di lakukan Alvin terhadapnya. Yang ia rasakan hanya marah, bersiap mengeluarkan
seluruh emosinya.
Alvin menegakkan badannya saat Agni tak sedikitpun
meresponnya. Ia menatap tajam mata Agni yang memang sedang menatapnya begitu
tajam.
“Aku sangat membencimu Alvin! Aku
menyesal telah mengenalmu!”
Alvin menyeringai. Ia menarik pinggang Agni agar merapat
padanya.
“Benarkah? Kita buktikan. Apakah tubuhmu
mampu menolakku? Dan aku bisa bertaruh, kalau tubuhmu tidak akan pernah bisa
menolakku.”
Alvin mendesiskan kata-kata itu begitu lamban dan penuh
dengan godaan. Dan tak bisa Agni pungkiri bahwa ia merasa bergetar saat Alvin mulai
menyentuhnya.
***
Ify memasuki tempat itu bersama Rio yang kebetulan mereka
berpapasan di parkiran. Wajahnya terlihat lusuh, menahan beban yang begitu
dalam. Ify hanya bisa melihat pemuda itu prihatin, ia mungkin frustasi, bukan
karena pelajaran yang telah selesai di Ujiankan, melainkan Agni. Dari Agni, ia
mendengar bahwa tidak penah ada lagi komunikasi antara mereka, Rio juga seakan
menghindari Agni, entah karena apa.
“Loe yakin mau kesini Yo? Loe gak
pernah sama sekali ketempat ini.”
Rio tersenyum miris, ia melirik ke arah Ify.
“Pernah.”
“Kapan?”
Mata Rio terlihat menerawang, ke masa lalu saat melihat
gadis yang ia cintai patah hati dan untuk pertama kalinya gadis itu mengajaknya
ke tempat ini, ketempat yang sama seperti dulu. Rio memejamkan matanya
dalam-dalam sejenak. Gue gak boleh gini
terus.
“Dulu, sama... Agni”
Ify berniat bertanya lagi, namun begitu melihat wajah Rio yang
begitu tidak bersahabat ia memilih diam. Ia tersenyum pada Rio, lalu menepuk
pundak Rio perlahan.
“Udah. Kita have fun aja oke. Yuk”
Ify menarik Rio menuju kerumunan orang yang sedang berjoget
di lantai dansa. Rio mengikutinya, tidak salah bila pemuda seumurannya mencoba
hal seperti ini. tidak sering, cukup sesekali saja.
Rio mulai berjoged bersama Ify, menari kesana kemari
menikmati malam yang akan terasa panjang ini.
Dari arah bar, terlihat Cakka yang hanya duduk di sudut. Ia sama
sekali tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Semenjak perdebatannya bersama
Agni tempo dulu, Agni tidak lagi menghubunginya. Saat ia datang ke rumahnya pun
pembantu Agni mengatakan Agni pindah rumah dan ia tidak di beri alamatnya. Kenapa Agni sampe melarang keras seluruh
pembantunya memberitau alamat rumahnya? Apa dia bener-bener marah sama gue?
Cakka tersenyum kelu, ia meraih gelas yang berisi vodka yang
sedari tadi ia teguk. Ia bosan hidup sendiri, ia harus move on. Mencari yang
lain.
“Berhenti mikirin Agni dan move
on! Gue bisa dapetin yang lebih.”
Cakka mulai berdiri dan kembali meraih botol-botolnya. Ia bertatapan
dengan seorang gadis memakai gaun merah, sepertinya dia orang baru.
“Hai... bartender ya? kenalin,
aku Sivia.”
***
Beginilah akhirnya, selalu seperti ini, berakhir di ranjang.
Agni begitu mengingat kejadian malam tadi, sebegitu kuat ia melawan dan dengan
sekuat tenaga melepaskan diri dari Alvin, tapi akhirnya? Dia takluk juga. Agni menarik
selimutnya, menaikkan hingga leher. Ia sakit hati, tapi meskipun matanya
memanas air mata itu tidak juga turun. Tidak mendukung sakit hatinya itu. Kenapa? Apa karena dia suamiku? Tuhan...
bukan ini yang aku mau.
“Kamu menyesal?”
Agni mengalihkan pandangannya pada Alvin yang entah sejak
kapan menatapnya dengan pandangan sayu, penuh kekecewaan. Berbeda sekali dengan
tatapan mata tajamnya malam tadi. Agni terdiam. Apa aku menyesal?
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment