Monday, 10 June 2013

Love Yeah #2

Rio dan Ify saling berpandangan saat melihat Agni yang senyum-senyum sendiri saat melihat ponselnya. Rio bertanya pada Ify dengan isyarat, Ify menjawabnya hanya dengan mengangkat bahunya.
Agni berdiri, lalu membereskan pakaiannya.

“Ngantin yuk, laper nih.”

Mereka berjalan berdampingan, sementara Agni masih sibuk dengan ponselnya, Rio dan Ify masih saja saling melirik heran dengan sikap Agni.

Duk.

“Ahh... hape gue”

Agni segera memunguti ponselnya yang jatuh dan berpencar satu sama lain. Ia melirik ke arah si penabrak.
Ia tersenyum kecut.

“Loe. Gak heran gue.”

Penabrak itu mengangkat satu alisnya heran dengan sikap Agni. Tatapannya dingin dan penuh intimidasi.

“Kalo jalan fokusnya ke jalanan! Bukan sama hape.”
“Hey... kok loe.”

Rio menarik tangan Agni agar beranjak dari sana. Kalau dua orang itu sudah adu mulut tidak akan pernah selesai sampai kapanpun.

Agni merengut kesal setibanya di meja makan. Ia menghentak-hentakan kaki begitu kesal. Kenapa sih gue harus kagum sama cowok so cool itu?

“Rio pinjem hape.”

Rio tanpa berpikir panjang memberikan ponselnya, ia beranjak untuk memesan makanan.

“Agni... Alvin liatin terus tuh”

Ify melirik ke arah bangku taman dimana orang penabrak tadi berada. Ia tersenyum saat pemuda itu mengalihkan pandangan ke arahnya. Tapi, Alvin mengabaikan senyuman Ify itu.

“Bodo! Gue kesel sama dia.”

Setelah Agni mengetikkan sesuatu di ponsel Rio, ada sebuah panggilan masuk. Agni kembali tersenyum lebar.

“Ada apa Yo?”
“Ini Agni.”
“Eh, kirain Rio. ada apa cantik? Oh iya, kok SMS dari sini gak ke kirim sih?”
“Hape Agni jatoh, mati. Rusak kali ya?”
“Udah, entar beli aja lagi.”
“Rencananya sih gitu.”
“Iya, entar aku anter, udah dulu ya. Ada meeting nih.”
“Yaudah, see you.”
“Too cantik.”

Ify yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Agni mulai merapat ke arah gadis itu. Meminta penjelasan.

“Dari siapa sih?”

Agni menoleh ke arah Ify, ia tersenyum sangat lebar, sampai memamerkan deretan gigi yang putih bersih serta rapih itu.

“Ada deh, mau tau banget atau mau tau aja?”

Ify memajukan bibirnya, kesal malah di goda seperti itu.

“Agni mah... kasih tau dong.”

Agni terkekeh, lalu ia merangkul pundak Ify supaya lebih mendekat.

“Cowok gue, kebetulan anak dari Kakak Mamanya Rio.”
“Hah?! Kapan kenalannya? Jadiannya? Kok gue gak tau sih dari pedekatenya? Agni jahat ih”

Agni membekap mulut Ify, ia melirik ke sekeliling tempat duduknya yang menatap ke arah mereka dengan heran. Ia memberi isyarat pada Ify agar tidak histeris lagi, Ify mengangguk.

“Jelasin! Padahal minggu lalu loe baru aja di gosipin pacaran sama si Rio kok sekarang udah punya pacar aja sih?”

Agni menghela nafas panjang, bingung harus bagaimana menjelaskannya pada sahabatnya itu, pasalnya Ify itu suka tanya kemana-mana.

“Namanya Gabriel Alexander, dulu dia tinggal di batam. Gue kenal sama dia gak sengaja waktu mau bawain baju Rio seminggu yang lalu pas mau seleksi. Gue gak sadar lemparin hape kedia sampe malamnya dia dateng buat nganterin hape gue.”
“Kok bisa tau rumah loe? Secara diakan katanya tinggal di batam dulunya.”

Ify memasang wajah polosnya di depan wajah Agni yang geram karena ucapannya di potong. Ia melirik Ify dengan malas.

“Kata bokap gue sih di kasih bokap waktu dia nelpon hape gue, jadilah dia dateng ke rumah. Loe tau gak Fy, dia itu gentle banget, masa ya minta buat bisa deket sama gue ijin sama bokap.”
“Dan bokap loe ngijinin?”
“Yup, seratus buat loe. Semenjak itu dia sering dateng ke rumah gue buat sekedar ngobrol sama gue atau ngobrolin bisnis sama bokap.”
“Bisnis? Tunggu! Jadi dia udah kerja? Umurnya berapa? Jangan-jangan Oom-Oom lagi. Hihh”

Ify memasang wajah ngeri saat membayangkan sosok kekasih hati Agni itu. Ia membayangkan seorang lelaki yang berjanggut, kumis dan berewokan. Ish... Agni, gak banget. Ify menggelengkan kepalanya dengan tidak sadar.

“Jangan-jangan mau cepet-cepet ngajak loe kawin ya?”

Ify menatap Agni masih dengan tatapan yang penuh tanya. Apalagi melihat Agni mengangguk, matanya semakin membulat seakan-akan ingin meloncat dari tempatnya.

“Agni gila!”
“Gue emang gila, cinta pada pandangan pertama, pedekate cuma seminggu dan semalem jadian. Tenang aja kali Fy, dia umurnya baru 20 tahun. Lagian loe masa gak kenal sih sama Gabriel Alexander?”
“Enggak! Gak penting. Terus apa alesan dia mau pacaran cepet-cepet gini?
“Ya... katanya dia udah bukan ABG lagi yang harus pedekate lama, terus ya Fy katanya kalau gue tolakpun gak masalah, dia bakalan tetep setia nunggu.”

“Khm... gosipin orang ganteng ya? Orangnya denger nih.”

Agni dan Ify menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Cakka disana. Ia melenggang kemudian duduk di depan Agni, tersenyum menggoda.

“Idup loe kayaknya cuma narsis ya? Heran deh, kenapa mahkluk macem loe bisa jadi x-ketua Osis? Secara loe gak ada bagus-bagusnya.”
“Hey hey! Tahan omongan anda nona, seorang Cakka itu pesonanya menyebar kemana-mana”

Agni dan Ify saling melirik, gedek juga mendengarkannya. Mahkluk narsis bin ajaib ini memang aneh.

“Heh Cakka! Pergi sonoh, entar kita di labrak lagi sama fans loe.”
“Tenang aja Fy, mereka jinak kok.”

Cakka tersenyum garing, membuat Ify melongos.

“Makanan dateng, sorry ya lama. Ehh gue udah ketinggalan info apa aja nih?”

Rio duduk di hadapan Ify, kemudian membagikan makanan kepada kedua sahabat wanitanya itu.

“Yo, Gabriel cakep gak sih?”

Rio menyeruput minumannya sambil melirik Ify. Darimana tau tentang Gabriel?
Ia melirik Agni yang nyengir kuda.

“Lumayan, tapi ya cakepan gue. Kenapa emangnya?”
“Ih Yo, loe deket Cakka belum semenit aja udah ketularan narsisnya. Eh tapi gue serius nih Yo, penasaran tau sama cowoknya Agni itu.”

“HAH?!”

Cakka dan Rio sontak menatap ke arah Agni yang sedang menyantap makanannya. Mereka menagih penjelasan pada gadis itu.

Agni yang merasa di perhatikan pun menoleh ke arah Cakka dan Rio.

“Kenapa sih? Ada yang aneh sama gue?”
“Sejak kapan loe pacaran sama Gabriel?” Rio bertanya penuh kekagetan.
“Semalem, loe gak tau Yo? Gue kira Gab cerita”

“Gab siapa?”

Kali ini Cakka yang bertanya heran, ia tidak tau siapa itu Gabriel dan orangnya seperti apa pula.

“Gabriel pengusaha itu lho Kka... loe gak tau ya?”

Ify berujar dengan sesekali menyendok makanan kemulutnya, membuat Cakka menoleh ke arahnya.

“Emang loe tau?”
“Enggak.”
“dih”

Cakka melongos, kenapa kalau siang hari gadis itu begitu polos dan menyebalkan?
Ia lalu meminta penjelasan dari Agni. Bagaimanapun ia tidak mau kalau gadis yang ia sayangi itu jatuh pada orang yang salah.

***

Ify yang sudah ada dalam mobil pink kesayangannya membuka kaca mobilnya saat hendak  melewati Agni.

“Ag, yakin loe gak mau nebeng?”
“Gak udah Fy, gue di jemput kok”
“Oke kalo gitu, duluan ya Ni”

Agni mengacungkan kedua jempolnya pada Ify. Setelah Ify berlalu, ia kembali duduk di bangku pos satpam. Menunggu kekasihnya datang.

***

Gabriel sesekali membenarkan letak ponsel yang ia apit antara telinga dan bahu. Sementara tangannya sibuk membereskan bederapa dokumen yang akan ia bawa pulang.

“Gabriel, pokoknya Mama gak mau tau! Kamu cepet pulang! Dan ajak pacar kamu itu.”
“Mama kok jadi bawel sih? Iya Ma, iya. Gabriel lagi siap-siap mau jemput Agni nih udah dulu ya.”
“Awas ya kalau kamu bohong.”
“Iya Mama, iya. Gabriel gak bohong kok. Udah ya love you Mom.”

Gabriel mengakhiri perbincangannya secara sepihak, kalau terus di tanggapi omelan Mamanya itu tidak akan pernah berakhir. Ia meraih tasnya lalu dengan segera meninggalkan ruangannya itu.

“Shill kalau ada clien penting cepet hubungi ya, aku ada urusan mendadak”
“Oke Yel”
“Thanks ya”

Gabriel berjalan cepat memasuki lift, ia sesekali melirik arlojinya. Memastikan tidak telat lebih lama lagi. Ia mengambil ponselnya. Argh... hape Agni kan rusak. Ck!

***

Agni merengut kesal, sudah hampir satu jam setengah ia menunggu kedatangan Gabriel. Ia sesekali melirik ke arah jam dinding yang ada di pos satpam itu. Udah hampir jam 4. Gab kamu masih dimana sih? Apa kamu terlalu sibuk sampe lupa sama aku?

***

Gabriel memukul kemudinya frustasi, ini sangat di luar dugaan. Ia terjebak macet! Hidup di kota metropolitan itu sungguh menyebalkan, macet dimana-mana.
 Gabriel meraih ponselnya, menghubungi seseorang.

“Kenapa Yel?”
“Minta nomer pos keamanan sekolah”
“Buat?”
“Gak usah banyak tanya.”
“Gue SMSin”
“Oke”

Gabriel kembali menyimpan ponselnya di jok sebelah. Dalam hatinya ia terus berharap Agni tidak akan marah padanya dan akan setia menunggu.

***

Untuk kesekian kalinya Agni mendengus kesal, cukup sudah. Ia bosan terus menunggu tanpa kepastian seperti ini, sebaiknya pulang aja.

Bertepatan dengan itu, deringan telepon pos satpam itu berbunyi.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”
“Pak saya mau bertanya, gadis yang bernama Agni masih menunggu disana?”
“Agni? Baru saja dia naik taksi, kasian Mas nunggunya udah lama banget. Sekolahan aja udah kosong”

Gabriel terdengar menghembuskan nafas berat.

“Yasudah Pak, terimakasih”
“Iya, sama-sama”

***

Agni memasuki rumahnya dengan langkah cepat, ia ingin segera berada di kamarnya dan tidur. Melupakan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun saat di ujung tangga, ia berpapasan dengan Papanya yang sudah membawa koper, hendak pergi.

“Papa mau kemana?”
“Papa mau ke Singaphore dulu sayang, ada kerjaan disana”

Irshad mengelus rambut puteri kesayangannya itu dengan senyuman yang tak lepass di bibirnya. Agni cemberut, udah lagi marah sama Gabriel, Papanya mau pergi lagi. Komplit sudah penderitaannya hari ini.

“Yaudah, Papa hati-hati ya... Agni sayang Papa”
“Papa juga sayang banget sama Agni”

Agni memeluk Papanya sekilas, kemudian mengantarkannya ke depan sampai memasuki mobil.

“Dah Pa...”
“Jaga diri baik-baik ya sayang”
“Pasti Pa”

Agni melambaikan tangannya Irshad yang mulai menghilang di balik tikungan. Ia menghela nafas panjang, hampir setiap bulan ia di tinggalkan sendirian untuk pergi ke singaphore.
Agni memasuki kediamannya tanpa minat, sepi sudah suasana sekarang. Ia hanya sendiri di sana, sendiri dalam kesunyian.

Agni menghentikan langkahnya saat mendengar decitan rem sebuah kendaraan. Apa Papa pulang lagi? Agni kembali berjalan menuju pintu.

“Gab.”

Gabriel berdiri di seberang pintu Agni, ia terlihat sedang mengatur nafasnya.

“Agni... maaf.”

Agni mengangguk kemudian melebarkan pintunya, mempersilahkan Gabriel memasuki kediamannya.

“Duduk dulu, biar aku bawain minum.”

Agni berkata dengan begitu datar, lalu ia berjalan menuju ke arah dapur mengambilkan minuman dan camilan untuk mereka berdua.
Agni kembali dengan nampan di tangan, ia menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan Gabriel yang entah dengan siapa.

“Sebentar lagi. Gabriel baru nyampe rumah Agni”

Gabriel terlihat mengusap wajahnya. Agni menatapnya heran, kenapa dia? Sepertinya ada sesuatu.

“Iya, Gabriel segera kesana kok. Sabar sebentar lagi”
“yaudah kalo marahin Gabriel terus kapan Gabriel jalannya? Udah ya... dah”

Gabriel mendongakkan kepalanya saat menyadari Agni yang sudah berdiri di hadapannya. Pandangannya menandakan rasa ingin tau.

“Siapa?”

Gabriel terkekeh mendengar pertanyaan Agni, sepertinya kekasihnya ini cemburu. Mengingat kosa kata yang dia keluarkan semakin sedikit saja.

“Mama, katanya aku harus segera pulang...”
“Yaudah, pulang gih”

Gabriel menghela nafas, harus lebih sabar menghadapi gadis yang masih labil ini. ia menarik Agni agar mendekat ke arahnya.

“Maaf Agni, maaf... tadi jalanan macet banget jadi gak bisa on time”
“Iya”
“Jangan marah, please...”
“Iya”

Gabriel menghembuskan nafasnya. Ia merangkul bahu Agni dengan lembut.

“Mama mau ketemu kamu, kamu siap-siap gih, aku tunggu kamu disini”

Agni menengok ke arah Gabriel. Ia tidak percaya dengan penuturan kekasihnya itu. Masa iya sih belum genap sehari pacaran udah mau di kenalin sama orang tua?

“Oh iya, ini. Tadi aku beliin ini dulu sebelum kesini. Kalo gak suka nanti kita tuker.”

Gabriel memberikan sebuah bagpaper pada Agni. Agni menerimanya. Teryata di dalamnya terdapat sebuah ponsel keluaran terbaru berwarna abu-abu.

“Makasih ya, biar nanti aku minta uang gantinya sama Papa”
“Gak usah, itu sebagai permintaan maaf aku sama kamu.”

Gabriel tersenyum ke arah Agni.

“Beneran?” Gabriel mengangguk menanggapi pertanyaan Agni. “Kalo begitu makasih.”

Lagi-lagi Gabriel hanya mengangguk, setelah itu Agni berlalu meninggalkan Gabriel.

***

Agni memeluk gugup lengan sebelah kanan Gabriel. Gabriel menepuk lengan Agni dengan tangan kanannya, menenangkan gadis itu. Sekarang ini, mereka sedang berjalan memasuki kediaman Gabriel.

“Udah, tenang aja. Papa sama Mama gak gigit kok.”

Agni menepuk lengan Gabriel, lalu ia menundukan kepalanya.

***

Sion dan Zahra tersenyum hangat pada puteranya yang telah datang bersama seorang gadis. Zahra berdiri dan menghampiri keduanya.

“Hai sayang...”

Zahra memeluk Gabriel sayang. Lalu mengalihkan pandangannya pada Agni yang berdiri di samping puteranya.

“Nama kamu siapa nak?”

Agni membungkukan sedikit badannya, lalu menyalami tangan Zahra.

“Agni tante.”

Zahra membalas senyuman Agni, lalu memeluk gadis itu dengan sayang. Syukurlah, Gabriel memiliki pendamping... tidak begitu buruk, mungkin hanya terlalu muda.

Agni lagi-lagi tersenyum pada Zahra begitu wanita itu melepaskan dekapannya, lalu ia mengalihkan pandangan pada Sion yang menatapnya dengan senyuman. Ia menundukan sedikit badannya pada Sion yang di balas dengan sebuah anggukan kecil.

Zahra menarik Agni dan berjalan mendahului Gabriel yang masih berdiri dengan senyuman yang terus mengembang. Ia menghela nafas panjang, lega sekali melihat orang tuanya begitu menerima Agni. Kamu emang wanita yang tepat untukku Agni. Aku akan sangat menyesal jika kehilangan kamu...

“Yel, sini”

Sion menepuk kursi di sebelahnya. Gabriel tersenyum kemudian berjalan ke arah Papanya itu.

“Agni, kenapa kamu bisa suka sama Gabriel? Dia itukan tengil.”

Sion bertanya pada Agni dengan sedikit melirik ke arah Gabriel yang memamerkan gigi dan mengangkat naik-turun alisnya.

“Agni juga gak tau Oom, di pelet kali. Hehe...”

Agni mengerlingkan matanya jahil ke arah Gabriel. Gabriel membalas tatapan itu dengan jahil.

“Iya di pelet Pa. Dia kepelet sama pesona Iyel”
“Ish... pesona apaan?”

Sion dan Zahra terkekeh melihat tingkah Gabriel dan Agni yang saling meledek. Sudah lama sekali tidak melihat Gabriel seceria ini, biasanya hanya Gabriel yang sibuk dan kaku. Seakan tidak lagi memikirkan masa mudanya yang seharusnya ia habiskan untuk bersenang-senang, layaknya pemuda sebayanya. Semoga kamu selalu bahagia sayang, Mama akan bahagia melihat kamu sebahagia ini.

***

Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai, Gabriel mengajak Agni untuk makan malam di luar. Kini, keduanya duduk berdampingan di sebuah sofa dalam sebuah cafe yang memang tidak terlalu ramai.

Sesekali Agni menunduk malu saat di goda Gabriel, bukan hanya itu, tapi ia juga tersipu saat melihat penampilan Gabriel. Penampilan yang sukses membuatnya semakin cinta. Ah Tuhan... aku seneng banget...

Agni memeluk pinggang Gabriel dari samping, sementara Gabriel merangkul pundak Agni dan mengelus-elus rambutnya. Ia baru merasakan bahagianya di manjai oleh seseorang. Apapun yang Agni minta, sebisaku akan aku kabulkan... aku sayang banget sama kamu Agni.
Gabriel mengecup puncak kepala Agni, lama.

“Gab.”
“Ya.”
“Kamu beneran sayang sama aku?”
“Tentu saja. Kok nanyanya gitu sih? Kamu gak percaya ya?”

Agni mengangkat kepalanya dan duduk sempurna menghadap ke arah Gabriel.

“Bukannya gitu, tapi aneh aja. Secara, kamu itu pengusaha sukses. Masa pacaran sama anak ingusan kayak aku sih? Akukan masih kecil.”

Gabriel terkekeh, ia mengacak-acak poni Agni dengan gemas.

“Agni...” Gabriel merengkuh kedua pipi Agni. “Emang cinta mandang usia? Aku itu beneran tulus kok cinta sama kamu, aku sayang sama kamu itu tulus banget”

Wajah Agni merona merah.

“Gabriel...” Agni merajuk lalu menepuk lengan Gabriel gemas. “Gab...”

Agni mematung, matanya membelalak saat merasakan sapuan lembut dan hangan di bibirnya. Sejenak, tapi sangat membekas.
Agni menatap Gabriel tidak percaya, ia memegang bibirnya sendiri yang masih terasa hangat.

***

Gabriel dan Agni memasuki sebuah apartemen milik Gabriel. Lumayan luas dengan dua kamar dan dapur yang juga luas.

“Aku nginep disini ya Gab? Di rumah sendirian.”
“Tapi kamarnya cuma satu Ni, yang satunya di jadiin ruang kerja aku.”
“Ya gapapa”

Agni mendudukan dirinya di sofa, lalu di ikuti Gabriel yang duduk di sebelah Agni.

“Kamu gak takut aku apa-apain?”

Agni terkekeh lalu memeluk lengan Gabriel dengan manja.

“Gak! Manamungkin Gabriel si pengusaha sukses yang terkenal dimana-mana mau merusak nama baiknya sendiri dengan melakukan pelecehan pada anak di bawah umur sih?”

Gabriel tersenyum, ia mengecup puncak kepala Agni cukup lama. Aku emang gak mungkin melakukan itu Agni, tapi bukan itu alesannya. Satu-satunya alesan adalah, karena aku sayang banget sama kamu, aku gak bakalan ngelakuin sesuatu yang bukan hak aku.

“Lagian ya Gab. Kamu itukan orangnya bertanggung jawab, jadi manamungkin ngelakuin itu... kamukan di kasih tanggung jawab sama Papa buat jagain aku.”
“Iya sayang...”

Agni memeluk leher  Gabriel, ia membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya itu, menikmati aroma tubuh yang begitu menyejukan hati itu. Aku akan bahagia selalu, kalau kamu ada buatku. Aku bahagia Gab.

Gabriel memeluk pinggang Agni dengan erat. Ia tak mau kehilangan gadisnya, cintanya dan sayangnya. Gadis itu terlalu istimewa untuk di sia-siakan. Aku sayang banget sama kamu Agni... always.

“Gabriel...”

Agni menyebutkan nama itu dengan begitu lembut dan sensual.

“Gab... aku mencintaimu.”

Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi, ia mengecup puncak kepala Agni. Mencoba menyalurkan seluruh kasih sayangnya pada gadis itu, gadis yang mencuri segala perhatiannya sejak beberapa hari ini.

“Aku juga mencintaimu Agni.”

***


Bersambung.

NB: Momen terakhir itu adalah Jawaban BA kenapa Agni nyebutin nama Gabriel. Sebenernya agninya mimpi dan itu adalah mimpinya. Makanya dia nyebutin nama Gabriel saat sama Alvin.

No comments:

Post a Comment