Rio dan Ify saling berpandangan saat melihat Agni yang
senyum-senyum sendiri saat melihat ponselnya. Rio bertanya pada Ify dengan
isyarat, Ify menjawabnya hanya dengan mengangkat bahunya.
Agni berdiri, lalu membereskan pakaiannya.
“Ngantin yuk, laper nih.”
Mereka berjalan berdampingan, sementara Agni masih sibuk
dengan ponselnya, Rio dan Ify masih saja saling melirik heran dengan sikap
Agni.
Duk.
“Ahh... hape gue”
Agni segera memunguti ponselnya yang jatuh dan berpencar
satu sama lain. Ia melirik ke arah si penabrak.
Ia tersenyum kecut.
“Loe. Gak heran gue.”
Penabrak itu mengangkat satu alisnya heran dengan sikap
Agni. Tatapannya dingin dan penuh intimidasi.
“Kalo jalan fokusnya ke jalanan!
Bukan sama hape.”
“Hey... kok loe.”
Rio menarik tangan Agni agar beranjak dari sana. Kalau dua
orang itu sudah adu mulut tidak akan pernah selesai sampai kapanpun.
Agni merengut kesal setibanya di meja makan. Ia
menghentak-hentakan kaki begitu kesal. Kenapa
sih gue harus kagum sama cowok so cool itu?
“Rio pinjem hape.”
Rio tanpa berpikir panjang memberikan ponselnya, ia beranjak
untuk memesan makanan.
“Agni... Alvin liatin terus tuh”
Ify melirik ke arah bangku taman dimana orang penabrak tadi
berada. Ia tersenyum saat pemuda itu mengalihkan pandangan ke arahnya. Tapi,
Alvin mengabaikan senyuman Ify itu.
“Bodo! Gue kesel sama dia.”
Setelah Agni mengetikkan sesuatu di ponsel Rio, ada sebuah
panggilan masuk. Agni kembali tersenyum lebar.
“Ada apa Yo?”
“Ini Agni.”
“Eh, kirain Rio. ada apa cantik? Oh iya, kok SMS dari sini gak ke kirim
sih?”
“Hape Agni jatoh, mati. Rusak
kali ya?”
“Udah, entar beli aja lagi.”
“Rencananya sih gitu.”
“Iya, entar aku anter, udah dulu ya. Ada meeting nih.”
“Yaudah, see you.”
“Too cantik.”
Ify yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Agni mulai
merapat ke arah gadis itu. Meminta penjelasan.
“Dari siapa sih?”
Agni menoleh ke arah Ify, ia tersenyum sangat lebar, sampai
memamerkan deretan gigi yang putih bersih serta rapih itu.
“Ada deh, mau tau banget atau mau
tau aja?”
Ify memajukan bibirnya, kesal malah di goda seperti itu.
“Agni mah... kasih tau dong.”
Agni terkekeh, lalu ia merangkul pundak Ify supaya lebih
mendekat.
“Cowok gue, kebetulan anak dari
Kakak Mamanya Rio.”
“Hah?! Kapan kenalannya?
Jadiannya? Kok gue gak tau sih dari pedekatenya? Agni jahat ih”
Agni membekap mulut Ify, ia melirik ke sekeliling tempat
duduknya yang menatap ke arah mereka dengan heran. Ia memberi isyarat pada Ify
agar tidak histeris lagi, Ify mengangguk.
“Jelasin! Padahal minggu lalu loe
baru aja di gosipin pacaran sama si Rio kok sekarang udah punya pacar aja sih?”
Agni menghela nafas panjang, bingung harus bagaimana
menjelaskannya pada sahabatnya itu, pasalnya Ify itu suka tanya kemana-mana.
“Namanya Gabriel Alexander, dulu
dia tinggal di batam. Gue kenal sama dia gak sengaja waktu mau bawain baju Rio
seminggu yang lalu pas mau seleksi. Gue gak sadar lemparin hape kedia sampe
malamnya dia dateng buat nganterin hape gue.”
“Kok bisa tau rumah loe? Secara
diakan katanya tinggal di batam dulunya.”
Ify memasang wajah polosnya di depan wajah Agni yang geram
karena ucapannya di potong. Ia melirik Ify dengan malas.
“Kata bokap gue sih di kasih
bokap waktu dia nelpon hape gue, jadilah dia dateng ke rumah. Loe tau gak Fy,
dia itu gentle banget, masa ya minta buat bisa deket sama gue ijin sama bokap.”
“Dan bokap loe ngijinin?”
“Yup, seratus buat loe. Semenjak
itu dia sering dateng ke rumah gue buat sekedar ngobrol sama gue atau ngobrolin
bisnis sama bokap.”
“Bisnis? Tunggu! Jadi dia udah
kerja? Umurnya berapa? Jangan-jangan Oom-Oom lagi. Hihh”
Ify memasang wajah ngeri saat membayangkan sosok kekasih
hati Agni itu. Ia membayangkan seorang lelaki yang berjanggut, kumis dan
berewokan. Ish... Agni, gak banget.
Ify menggelengkan kepalanya dengan tidak sadar.
“Jangan-jangan mau cepet-cepet
ngajak loe kawin ya?”
Ify menatap Agni masih dengan tatapan yang penuh tanya.
Apalagi melihat Agni mengangguk, matanya semakin membulat seakan-akan ingin
meloncat dari tempatnya.
“Agni gila!”
“Gue emang gila, cinta pada
pandangan pertama, pedekate cuma seminggu dan semalem jadian. Tenang aja kali
Fy, dia umurnya baru 20 tahun. Lagian loe masa gak kenal sih sama Gabriel
Alexander?”
“Enggak! Gak penting. Terus apa
alesan dia mau pacaran cepet-cepet gini?
“Ya... katanya dia udah bukan ABG
lagi yang harus pedekate lama, terus ya Fy katanya kalau gue tolakpun gak
masalah, dia bakalan tetep setia nunggu.”
“Khm... gosipin orang ganteng ya?
Orangnya denger nih.”
Agni dan Ify menoleh ke arah sumber suara dan mendapati
Cakka disana. Ia melenggang kemudian duduk di depan Agni, tersenyum menggoda.
“Idup loe kayaknya cuma narsis
ya? Heran deh, kenapa mahkluk macem loe bisa jadi x-ketua Osis? Secara loe gak
ada bagus-bagusnya.”
“Hey hey! Tahan omongan anda
nona, seorang Cakka itu pesonanya menyebar kemana-mana”
Agni dan Ify saling melirik, gedek juga mendengarkannya.
Mahkluk narsis bin ajaib ini memang aneh.
“Heh Cakka! Pergi sonoh, entar
kita di labrak lagi sama fans loe.”
“Tenang aja Fy, mereka jinak
kok.”
Cakka tersenyum garing, membuat Ify melongos.
“Makanan dateng, sorry ya lama.
Ehh gue udah ketinggalan info apa aja nih?”
Rio duduk di hadapan Ify, kemudian membagikan makanan kepada
kedua sahabat wanitanya itu.
“Yo, Gabriel cakep gak sih?”
Rio menyeruput minumannya sambil melirik Ify. Darimana tau tentang Gabriel?
Ia melirik Agni yang nyengir kuda.
“Lumayan, tapi ya cakepan gue.
Kenapa emangnya?”
“Ih Yo, loe deket Cakka belum
semenit aja udah ketularan narsisnya. Eh tapi gue serius nih Yo, penasaran tau
sama cowoknya Agni itu.”
“HAH?!”
Cakka dan Rio sontak menatap ke arah Agni yang sedang
menyantap makanannya. Mereka menagih penjelasan pada gadis itu.
Agni yang merasa di perhatikan pun menoleh ke arah Cakka dan
Rio.
“Kenapa sih? Ada yang aneh sama
gue?”
“Sejak kapan loe pacaran sama
Gabriel?” Rio bertanya penuh kekagetan.
“Semalem, loe gak tau Yo? Gue
kira Gab cerita”
“Gab siapa?”
Kali ini Cakka yang bertanya heran, ia tidak tau siapa itu
Gabriel dan orangnya seperti apa pula.
“Gabriel pengusaha itu lho Kka...
loe gak tau ya?”
Ify berujar dengan sesekali menyendok makanan kemulutnya,
membuat Cakka menoleh ke arahnya.
“Emang loe tau?”
“Enggak.”
“dih”
Cakka melongos, kenapa kalau siang hari gadis itu begitu
polos dan menyebalkan?
Ia lalu meminta penjelasan dari Agni. Bagaimanapun ia tidak
mau kalau gadis yang ia sayangi itu jatuh pada orang yang salah.
***
Ify yang sudah ada dalam mobil pink kesayangannya membuka
kaca mobilnya saat hendak melewati Agni.
“Ag, yakin loe gak mau nebeng?”
“Gak udah Fy, gue di jemput kok”
“Oke kalo gitu, duluan ya Ni”
Agni mengacungkan kedua jempolnya pada Ify. Setelah Ify
berlalu, ia kembali duduk di bangku pos satpam. Menunggu kekasihnya datang.
***
Gabriel sesekali membenarkan letak ponsel yang ia apit
antara telinga dan bahu. Sementara tangannya sibuk membereskan bederapa dokumen
yang akan ia bawa pulang.
“Gabriel, pokoknya Mama gak mau tau! Kamu cepet pulang! Dan ajak pacar
kamu itu.”
“Mama kok jadi bawel sih? Iya Ma,
iya. Gabriel lagi siap-siap mau jemput Agni nih udah dulu ya.”
“Awas ya kalau kamu bohong.”
“Iya Mama, iya. Gabriel gak
bohong kok. Udah ya love you Mom.”
Gabriel mengakhiri perbincangannya secara sepihak, kalau
terus di tanggapi omelan Mamanya itu tidak akan pernah berakhir. Ia meraih
tasnya lalu dengan segera meninggalkan ruangannya itu.
“Shill kalau ada clien penting
cepet hubungi ya, aku ada urusan mendadak”
“Oke Yel”
“Thanks ya”
Gabriel berjalan cepat memasuki lift, ia sesekali melirik
arlojinya. Memastikan tidak telat lebih lama lagi. Ia mengambil ponselnya. Argh... hape Agni kan rusak. Ck!
***
Agni merengut kesal, sudah hampir satu jam setengah ia
menunggu kedatangan Gabriel. Ia sesekali melirik ke arah jam dinding yang ada
di pos satpam itu. Udah hampir jam 4. Gab
kamu masih dimana sih? Apa kamu terlalu sibuk sampe lupa sama aku?
***
Gabriel memukul kemudinya frustasi, ini sangat di luar
dugaan. Ia terjebak macet! Hidup di kota metropolitan itu sungguh menyebalkan,
macet dimana-mana.
Gabriel meraih ponselnya,
menghubungi seseorang.
“Kenapa Yel?”
“Minta nomer pos keamanan
sekolah”
“Buat?”
“Gak usah banyak tanya.”
“Gue SMSin”
“Oke”
Gabriel kembali menyimpan ponselnya di jok sebelah. Dalam
hatinya ia terus berharap Agni tidak akan marah padanya dan akan setia
menunggu.
***
Untuk kesekian kalinya Agni mendengus kesal, cukup sudah. Ia
bosan terus menunggu tanpa kepastian seperti ini, sebaiknya pulang aja.
Bertepatan dengan itu, deringan telepon pos satpam itu
berbunyi.
“Selamat siang, ada yang bisa
saya bantu?”
“Pak saya mau bertanya, gadis yang bernama Agni masih menunggu disana?”
“Agni? Baru saja dia naik taksi,
kasian Mas nunggunya udah lama banget. Sekolahan aja udah kosong”
Gabriel terdengar menghembuskan nafas berat.
“Yasudah Pak, terimakasih”
“Iya, sama-sama”
***
Agni memasuki rumahnya dengan langkah cepat, ia ingin segera
berada di kamarnya dan tidur. Melupakan kekesalan yang sudah mencapai
ubun-ubun. Namun saat di ujung tangga, ia berpapasan dengan Papanya yang sudah
membawa koper, hendak pergi.
“Papa mau kemana?”
“Papa mau ke Singaphore dulu
sayang, ada kerjaan disana”
Irshad mengelus rambut puteri kesayangannya itu dengan
senyuman yang tak lepass di bibirnya. Agni cemberut, udah lagi marah sama
Gabriel, Papanya mau pergi lagi. Komplit sudah penderitaannya hari ini.
“Yaudah, Papa hati-hati ya...
Agni sayang Papa”
“Papa juga sayang banget sama
Agni”
Agni memeluk Papanya sekilas, kemudian mengantarkannya ke
depan sampai memasuki mobil.
“Dah Pa...”
“Jaga diri baik-baik ya sayang”
“Pasti Pa”
Agni melambaikan tangannya Irshad yang mulai menghilang di
balik tikungan. Ia menghela nafas panjang, hampir setiap bulan ia di tinggalkan
sendirian untuk pergi ke singaphore.
Agni memasuki kediamannya tanpa minat, sepi sudah suasana
sekarang. Ia hanya sendiri di sana, sendiri dalam kesunyian.
Agni menghentikan langkahnya saat mendengar decitan rem
sebuah kendaraan. Apa Papa pulang lagi? Agni kembali berjalan menuju pintu.
“Gab.”
Gabriel berdiri di seberang pintu Agni, ia terlihat sedang
mengatur nafasnya.
“Agni... maaf.”
Agni mengangguk kemudian melebarkan pintunya, mempersilahkan
Gabriel memasuki kediamannya.
“Duduk dulu, biar aku bawain
minum.”
Agni berkata dengan begitu datar, lalu ia berjalan menuju ke
arah dapur mengambilkan minuman dan camilan untuk mereka berdua.
Agni kembali dengan nampan di tangan, ia menghentikan
langkahnya saat mendengar percakapan Gabriel yang entah dengan siapa.
“Sebentar lagi. Gabriel baru
nyampe rumah Agni”
Gabriel terlihat mengusap wajahnya. Agni menatapnya heran, kenapa dia? Sepertinya ada sesuatu.
“Iya, Gabriel segera kesana kok.
Sabar sebentar lagi”
“yaudah kalo marahin Gabriel
terus kapan Gabriel jalannya? Udah ya... dah”
Gabriel mendongakkan kepalanya saat menyadari Agni yang
sudah berdiri di hadapannya. Pandangannya menandakan rasa ingin tau.
“Siapa?”
Gabriel terkekeh mendengar pertanyaan Agni, sepertinya
kekasihnya ini cemburu. Mengingat kosa kata yang dia keluarkan semakin sedikit
saja.
“Mama, katanya aku harus segera
pulang...”
“Yaudah, pulang gih”
Gabriel menghela nafas, harus lebih sabar menghadapi gadis
yang masih labil ini. ia menarik Agni agar mendekat ke arahnya.
“Maaf Agni, maaf... tadi jalanan
macet banget jadi gak bisa on time”
“Iya”
“Jangan marah, please...”
“Iya”
Gabriel menghembuskan nafasnya. Ia merangkul bahu Agni
dengan lembut.
“Mama mau ketemu kamu, kamu
siap-siap gih, aku tunggu kamu disini”
Agni menengok ke arah Gabriel. Ia tidak percaya dengan
penuturan kekasihnya itu. Masa iya sih belum genap sehari pacaran udah mau di
kenalin sama orang tua?
“Oh iya, ini. Tadi aku beliin ini
dulu sebelum kesini. Kalo gak suka nanti kita tuker.”
Gabriel memberikan sebuah bagpaper pada Agni. Agni
menerimanya. Teryata di dalamnya terdapat sebuah ponsel keluaran terbaru
berwarna abu-abu.
“Makasih ya, biar nanti aku minta
uang gantinya sama Papa”
“Gak usah, itu sebagai permintaan
maaf aku sama kamu.”
Gabriel tersenyum ke arah Agni.
“Beneran?” Gabriel mengangguk
menanggapi pertanyaan Agni. “Kalo begitu makasih.”
Lagi-lagi Gabriel hanya mengangguk, setelah itu Agni berlalu
meninggalkan Gabriel.
***
Agni memeluk gugup lengan sebelah kanan Gabriel. Gabriel
menepuk lengan Agni dengan tangan kanannya, menenangkan gadis itu. Sekarang
ini, mereka sedang berjalan memasuki kediaman Gabriel.
“Udah, tenang aja. Papa sama Mama
gak gigit kok.”
Agni menepuk lengan Gabriel, lalu ia menundukan kepalanya.
***
Sion dan Zahra tersenyum hangat pada puteranya yang telah
datang bersama seorang gadis. Zahra berdiri dan menghampiri keduanya.
“Hai sayang...”
Zahra memeluk Gabriel sayang. Lalu mengalihkan pandangannya
pada Agni yang berdiri di samping puteranya.
“Nama kamu siapa nak?”
Agni membungkukan sedikit badannya, lalu menyalami tangan
Zahra.
“Agni tante.”
Zahra membalas senyuman Agni, lalu memeluk gadis itu dengan
sayang. Syukurlah, Gabriel memiliki
pendamping... tidak begitu buruk, mungkin hanya terlalu muda.
Agni lagi-lagi tersenyum pada Zahra begitu wanita itu
melepaskan dekapannya, lalu ia mengalihkan pandangan pada Sion yang menatapnya
dengan senyuman. Ia menundukan sedikit badannya pada Sion yang di balas dengan
sebuah anggukan kecil.
Zahra menarik Agni dan berjalan mendahului Gabriel yang
masih berdiri dengan senyuman yang terus mengembang. Ia menghela nafas panjang,
lega sekali melihat orang tuanya begitu menerima Agni. Kamu emang wanita yang tepat untukku Agni. Aku akan sangat menyesal
jika kehilangan kamu...
“Yel, sini”
Sion menepuk kursi di sebelahnya. Gabriel tersenyum kemudian
berjalan ke arah Papanya itu.
“Agni, kenapa kamu bisa suka sama
Gabriel? Dia itukan tengil.”
Sion bertanya pada Agni dengan sedikit melirik ke arah
Gabriel yang memamerkan gigi dan mengangkat naik-turun alisnya.
“Agni juga gak tau Oom, di pelet
kali. Hehe...”
Agni mengerlingkan matanya jahil ke arah Gabriel. Gabriel
membalas tatapan itu dengan jahil.
“Iya di pelet Pa. Dia kepelet
sama pesona Iyel”
“Ish... pesona apaan?”
Sion dan Zahra terkekeh melihat tingkah Gabriel dan Agni
yang saling meledek. Sudah lama sekali tidak melihat Gabriel seceria ini,
biasanya hanya Gabriel yang sibuk dan kaku. Seakan tidak lagi memikirkan masa
mudanya yang seharusnya ia habiskan untuk bersenang-senang, layaknya pemuda
sebayanya. Semoga kamu selalu bahagia
sayang, Mama akan bahagia melihat kamu sebahagia ini.
***
Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai,
Gabriel mengajak Agni untuk makan malam di luar. Kini, keduanya duduk
berdampingan di sebuah sofa dalam sebuah cafe yang memang tidak terlalu ramai.
Sesekali Agni menunduk malu saat di goda Gabriel, bukan
hanya itu, tapi ia juga tersipu saat melihat penampilan Gabriel. Penampilan
yang sukses membuatnya semakin cinta. Ah
Tuhan... aku seneng banget...
Agni memeluk pinggang Gabriel dari samping, sementara
Gabriel merangkul pundak Agni dan mengelus-elus rambutnya. Ia baru merasakan
bahagianya di manjai oleh seseorang. Apapun
yang Agni minta, sebisaku akan aku kabulkan... aku sayang banget sama kamu
Agni.
Gabriel mengecup puncak kepala Agni, lama.
“Gab.”
“Ya.”
“Kamu beneran sayang sama aku?”
“Tentu saja. Kok nanyanya gitu
sih? Kamu gak percaya ya?”
Agni mengangkat kepalanya dan duduk sempurna menghadap ke
arah Gabriel.
“Bukannya gitu, tapi aneh aja.
Secara, kamu itu pengusaha sukses. Masa pacaran sama anak ingusan kayak aku
sih? Akukan masih kecil.”
Gabriel terkekeh, ia mengacak-acak poni Agni dengan gemas.
“Agni...” Gabriel merengkuh kedua
pipi Agni. “Emang cinta mandang usia? Aku itu beneran tulus kok cinta sama
kamu, aku sayang sama kamu itu tulus banget”
Wajah Agni merona merah.
“Gabriel...” Agni merajuk lalu
menepuk lengan Gabriel gemas. “Gab...”
Agni mematung, matanya membelalak saat merasakan sapuan
lembut dan hangan di bibirnya. Sejenak, tapi sangat membekas.
Agni menatap Gabriel tidak percaya, ia memegang bibirnya
sendiri yang masih terasa hangat.
***
Gabriel dan Agni memasuki sebuah apartemen milik Gabriel.
Lumayan luas dengan dua kamar dan dapur yang juga luas.
“Aku nginep disini ya Gab? Di
rumah sendirian.”
“Tapi kamarnya cuma satu Ni, yang
satunya di jadiin ruang kerja aku.”
“Ya gapapa”
Agni mendudukan dirinya di sofa, lalu di ikuti Gabriel yang
duduk di sebelah Agni.
“Kamu gak takut aku apa-apain?”
Agni terkekeh lalu memeluk lengan Gabriel dengan manja.
“Gak! Manamungkin Gabriel si
pengusaha sukses yang terkenal dimana-mana mau merusak nama baiknya sendiri
dengan melakukan pelecehan pada anak di bawah umur sih?”
Gabriel tersenyum, ia mengecup puncak kepala Agni cukup
lama. Aku emang gak mungkin melakukan itu
Agni, tapi bukan itu alesannya. Satu-satunya alesan adalah, karena aku sayang
banget sama kamu, aku gak bakalan ngelakuin sesuatu yang bukan hak aku.
“Lagian ya Gab. Kamu itukan
orangnya bertanggung jawab, jadi manamungkin ngelakuin itu... kamukan di kasih
tanggung jawab sama Papa buat jagain aku.”
“Iya sayang...”
Agni memeluk leher Gabriel,
ia membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya itu, menikmati aroma tubuh
yang begitu menyejukan hati itu. Aku akan
bahagia selalu, kalau kamu ada buatku. Aku bahagia Gab.
Gabriel memeluk pinggang Agni dengan erat. Ia tak mau
kehilangan gadisnya, cintanya dan sayangnya. Gadis itu terlalu istimewa untuk
di sia-siakan. Aku sayang banget sama
kamu Agni... always.
“Gabriel...”
Agni menyebutkan nama itu dengan begitu lembut dan sensual.
“Gab... aku mencintaimu.”
Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi, ia mengecup puncak kepala
Agni. Mencoba menyalurkan seluruh kasih sayangnya pada gadis itu, gadis yang
mencuri segala perhatiannya sejak beberapa hari ini.
“Aku juga mencintaimu Agni.”
***
Bersambung.
NB: Momen terakhir itu
adalah Jawaban BA kenapa Agni nyebutin nama Gabriel. Sebenernya agninya mimpi
dan itu adalah mimpinya. Makanya dia nyebutin nama Gabriel saat sama Alvin.
No comments:
Post a Comment