Agni melirik ke arah Alvin yang kini sedang mengemudikan
Pajeronya menuju sekolah. Apa yang harus ia lakukan? Harus bersikap seperti
apakah sekarang? Agni sangat merasa canggung jika Alvin tidak mengawalinya.
Apalagi jika mengingat pertengkarannya kemarin. Agni menghela nafas panjang, ia
harus meluruskan sesuatu.
“Al...”
“Kenapa?”
Agni menghela nafas panjang saat Alvin meliriknya sekilas.
Ia merasa malu sendiri pada Alvin, lelaki itu masih bersikap biasa padanya
walau ia sudah menyakitinya, begitu banyak.
“Mengenai kemarin... kenapa kamu
bisa menuduhku pernah tidur bersama Gabriel? Sumpah demi apapun Al, aku gak
pernah melakukan sesuatu di luar batas bersamanya. Dia sangat terpelajar dan
beretika baik, dia gak pernah menyentuhku lebih.”
Alvin menarik ujung bibirnya, tersenyum masam mendengar
penjelasan Agni. Apa ia harus percaya? Melakukan tidak sampai ke sana, tapi
yang lainnya?
“Kamu sedang tidur denganku, dan
kamu begitu saja menyebutkan nama lelaki itu. Bisa saja dulu kamu pernah tidur
bersama dan saat kamu tidur bersamaku aku di anggap lelaki itu. Kamu bisa saja
bermimpi kejadian itu terulang lagi, lalu kamu menganggapku lelaki itu.”
Agni merasa tertohok hatinya dengan ucapan Alvin tersebut,
apalagi lelaki itu mengucapkannya tanpa emosi, seakan dia merasakan sesuatu
yang menyakitinya. Al... Maaf. God,
ampuni aku membuat suamiku sendiri marah padaku.
“Enggak! Bukan begitu Al... aku
memang bermimpi bersama dia, tapi bukan tidur bersamanya, aku tidak pernah
tidur dengan lelaki manapun kecuali kamu.”
Agni menatap Alvin, ia ingin Alvin melihat kejujuran
dimatanya. Karena pada dasarnya ia memang jujur, tidak pernah ada kebohongan
dalam ucapannya.
Alvin mengulurkan tangannya mengelus rambut Agni.
“Iya.”
Agni tersenyum lega, ia mendekatkan diri pada Alvin mengecup
pipi lelaki itu sekilas. Alvin tidak merespon, ia kembali fokus pada jalan raya
dan pikirannya sendiri. Maaf Agni,
sebenernya aku tau, aku bisa rasain, kalo kamu emang cuma pernah melakukan itu
sama aku, aku cuma mau tau reaksi kamu aja waktu aku ngomong gitu, aku emang
sakit hati waktu kamu nyebutin nama lelaki itu. Tapi sungguh, aku tidak
bermaksud buruk sama kamu. Aku cuma ingin tau bagaimana respon kamu saat aku
memarahimu. Maaf...
“Tapi, aturan tetap aturan! Kamu
harus mengikuti keinginanku! Aturanku!”
Agni menghembuskan nafas. Dengan ragu ia mengangguk lalu
memaksakan senyumannya.
“Iya.”
Alvin tersenyum kecut. Puas dengan jawaban wanita di
sampingnya itu. Great sayang! Welcome to
Alvin’s World. Inilah yang aku mau dari kamu.
***
Seluruh penjuru sekolah melihat pada satu titik, yaitu pada
Alvin yang merangkul pundak Agni begitu santai, apalagi antara keduanya
sesekali melemparkan candaan dan senyuman yang membuat seluruh penjuru sekolah
iri di buatnya.
“Al, penggemar kamu kayak mau
makan aku deh.”
Alvin terkekeh menanggapinya, ia mencubit pipi Agni dengan
gemas. Agni cemberut lalu menghadiahi Alvin cubitan ganas di pinggang, membuat
lelaki itu menjauh dari Agni.
“Ihh sakit tau.”
Agni meelipat kedua tangannya di dada, lalu melongos
pura-pura marah.
“Biarin.”
Alvin menyeringai jahil, ia mendekati Agni lagi. Ia berdiri
di belakang Agni.
“Cie marah, kalo marah entar
pulang sekolah kudu ngasih jatah lho.”
Agni berbalik lalu membelalakan matanya. Jatah? Ihh... dasar mesum.
“Alvin...”
Agni menggebuki Alvin dengan beberapa kali pukulan yang
membuat lelaki itu mengaduh.
“Khm... cie...”
Alvin dan Agni menghentikan aktifitasnya, ia berbalik dan
mendapati Rio dan Ify disana. Alvin tersentum kecut. Ia mendekatkan wajahnya ke
telinga Agni.
“Jauhi lelaki itu. Mengerti?”
Agni terdiam. Ia menatap Alvin yang tersenyum ke arahnya
seakan yang di katakannya tadi bukanlah hal yang penting dan seakan hal itu
mudah di lakukan Agni. Ia melirik ke arah Rio cukup lama, lalu mengalihkan
pandangannya pada Ify, kemudian ia tersenyum menanggapinya.
“Eh... gue ngantin dulu ya, Alvin
tadi belum sempet sarapan.”
Agni berpamitan kepada kudua sahabatnya. Kemudian ia menarik
Alvin agar mengikutinya. Menjauhi Rio? Bagaimana mungkin bisa? Melupakan Rio
sama saja dengan melupakan kenangannya dengan Gabriel. Kenangan indah bersama
kekasihnya yang sampai sekarang belum ada kepastian, ia memang move on, itu
juga karena permintaan Gabriel. Tapi, di sisi lain. justru Gabriel tidak
mempertegas hubungannya, apakah mereka berpisah atau tidak. Entahlah...
***
Alvin melirik ke arah Agni yang sedari tadi diam. Dalam hati
ia tersenyum puas dengan tanggapan Agni terhadap ucapannya itu, walaupun cuma
sekedar menghindar, tapi itu lebih dari cukup untuk sebuah permulaan.
Agni menengok ke arah Alvin saat ia merasakan belaian lembut
di pipinya. Lalu ia tersenyum pada lelaki itu.
“Kenapa sayang?”
Kenapa? Alvin! Jangan
pura-pura bodoh!
Agni mengumpat dalam hati namun bibirnya menyunggingkan
sebuah senyuman.
“Gapapa, udah ah jangan liatin
gitu. Malu tau.”
Agni merajuk sambil melongos ke arah lain. Alasan utamanya
untuk melongos adalah menghindari tatapan penuh intimidasi dari Alvin. Lelaki
itu seakan bisa membaca pikirannya kalau sedang bertatapan.
Alvin terkekeh lalu mulai menyantap makananya yang sudah
tiba di meja.
“Kamu belum sarapan Ni, sini aku
suapin.”
Agni menengok ke arah Alvin, ia menggeleng pelan.
“Gak ah Al, aku belum mau. Entar
aja ya.”
“Gak ada nanti-nantian! Makan
sekarang!”
Agni tersentak, kata-kata dingin itu keluar lagi. Agni
menoleh ke arah lain sejenak, lalu menatap Alvin kembali. Apa Alvin gak bisa
bersikap lebih baik? Kenapa aku selalu saja di beri kata-kata sedingin itu?
“Biar aku pesen sendiri.”
Agni melambaikan tangannya pada pelayan kantin. Saat pagi
kantin memang kosong, jadi tidak perlu berjalan ke arah pelayan untuk
mengantri.
“Oh ya, nanti siang aku mau ke
kantor dulu. Kamu mau bagaimana?”
Agni menaikan satu alisnya, heran. Tumben sekali lelaki itu
memberikan penawaran? Padahal bisa sajakan memaksakan dirinya untuk ikut?
“Aku ikut aja, kata kamu kan kita
nanti siang pindah rumah.”
Alvin mengangguk. Agni hanya bisa menghela nafas dan
mengalihkan pandangan ke arah lain, tepatnya ke arah lapangan basket. Apa ia
akan bahagia kalau sudah pindah rumah? Di rumahnya atau di rumah Alvin, ia
masih bisa bernafas lega kalau keduanya sedang bertengkar, karena mereka selalu
mencair lagi saat bersama salah satu dari Ayah mereka. Tapi kalau pindah?
Agni menghela nafas panjang. Semoga Alvin akan lebih baik...
***
Sepanjang hari Agni selalu menghindari Rio. Setiap Rio
datang, ia selalu beralasan pergi menemui Alvin, atau ke perpustakaan mencari
buku. Walaupun itu hanya alibi saja, ia tidak tau harus bersikap seperti apa.
Ia tidak mau menjauhi Rio. Tapi ia tidak bisa membantah Alvin, terlalu
berbahaya.
Agni menatap kosong area taman sekolah itu, ia harus
menyendiri jauh dari jangkauan Rio. Agni menghela nafas panjang, lalu
menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kenapa
aku merasa Alvin sengaja menyiksaku? Al... apa benar perasaanku ini?
“Agni.”
Agni menengok dan mundur saat melihat ke sampingnya. Kenapa
orang yang ia hindari malah terus-terusan gencar mendekatinya?
“Gue pergi dulu.”
“Gak!”
Rio menarik pergelangan tangan Agni, ia tidak bisa di jauhi
terus oleh Agni seperti ini. bagaimanapun juga, ia menyayanginya. Seperti
apapun dia sekarang, Rio akan selalu menyayanginya.
Dari sudut lain Alvin tersenyum masam melihat pemandangan
itu, dia sedang menyandarkan dirinya di tiang depan kelasnya. Matanya berkilat
marah, rahangnyapun mulai mengeras. Ia mengambil ponselnya. Mengetikkan
sesuatu.
Agni terus berontak, berusaha melepaskan tangan Rio yang
mencegkeram tangannya.
“Lepas Yo.”
“Loe kenapa sih Ag? Kenapa jadi
berubah gini?”
“Gapapa. Lepas. Hape gue bunyi.”
Rio melepaskan cengkeramannya, menghela nafas panjang. Si
keras kepala itu tidak pernah bisa terbantahkan. Kenapa loe sebegitu keras kepala sih Ag? Loe tinggal bilang masalah
loe, kalo gue salahpun loe tinggal bilang.
Agni membuka pesan yang masuk. Wajahnya menegang saat
melihat nama si pengirim.
Aku liat lho.
Agni mengedarkan pandangannya dan berhenti saat melihat
orang yang mengirimkan pesan itu. Ia menatap sayu seakan meminta maaf, melihat
lelaki itu tersenyum sinis membuat lututnya seakan tak bertenaga, ia takut pada
lelaki itu, sangat takut! Agni menghela nafas panjang lalu berjalan ke arah
Alvin.
Lagi-lagi Rio menahan tangannya.
“Jelasin! Gue salah apa sama
loe?”
“Lepas Yo! Gue mau ke Alvin”
“Agni!”
“Rio! Please. Ngertiin gue! Gue
udah gak sendiri lagi.”
Rio terdiam, ia melepaskan tangan Agni. Iya... Rio membenarkan dalam hatinya, ia memang terlambat, selalu
terlambat untuk memiliki wanita ini.
“Oke! Gue mundur.”
Rio berbalik meninggalkan Agni dengan langkah yang cepat.
Agni menatap nanar kepergian Rio, kalau ia mampu ia ingin sekali mengejar lelak
itu. Maafin gue Rio...
Agni segera berbalik dan meninggalkan tempat itu.
***
Alvin dan Agni berjalan dengan bergandengan tangan menuju
ruangan Alvin. Sesekali mereka mengangguk menanggapi sapaan karyawan Alvin.
“Ini ruangan aku.”
Agni mengangguk, ia menyusuri setiap lekuk ruangan itu,
mengamati setiap detailnya.
“Bagus Al, rapih.”
Alvin berjalan menuju meja kerjanya, sementara Agni duduk di
sofa yang menyampingi meja kerja Alvin. Ia mulai membuka majalah-majalah yang
berada di bawah meja.
Alvin melirik Agni sekilas, ia menyimpan berkasnya lalu
memandangi kecantikan wanita yang ada di hadapannya itu. Hhh... Alvin jangan gila, fokus! Fokus! Kalo gini terus bisa bangkrut!
Alvin kembali mengambil berkasnya, memulai membaca laporan
akhir bulan pada karyawannya.
“Al...”
“Kenapa?”
Alvin menanggapi perkataan Agni tanpa menoleh, bisa-bisa ia
kehilangan konsentrasi lagi kalau harus menatapnya.
“Jadi Praha itu bentukan
perusahaan Papa aku sama Papa kamu?”
Agni berjalan mendekati Alvin dan duduk di hadapan Alvin. Ia
menatap suaminya itu dengan rasa ingin tahu.
“Iya, Praha itu Pradipta Hayman.
Jadi kamu jangan macem-macem, sekali kamu berulah, dengan satu jentikan jari
aja aku bisa buat perusahaan ini bangkrut sekaligus membuat Papa kamu...”
“Iya Al, iya.”
Agni memotong ucapan yang mengerikan Alvin itu dengan cepat.
Alvin tersenyum puas dengan tanggapan Agni, ia harus membuat wanita itu tunduk
dan patuh secepatnya.
Tok tok tok.
“Masuk.”
“Alvin, ini dokumen yang loe
minta.”
Gak sopan banget. Masa
Alvin sih? Mana kasar lagi.
Agni segera memutar tubuhnya melihat orang yang baru
memasuki ruangan itu. Ia mengerutkan keningnya heran, sepertinya gue kenal dia. Tapi, siapa?
Alvin dan orang itu terus saja berbincang, orang itu mungkin
belum menyadari ke hadiran Agni.
Tiba-tiba orang itu melirik ke arah Agni kemudian menatap
Agni dengan aneh juga.
“Agni? Jadi loe istri Alvin itu?”
Orang itu duduk di samping Agni yang masih bengong, sedetik
kemudian ia tersenyum.
“Lho. Debo ya?Lama gak ketemu
makin kece aja loe, sekarang loe sekolah dimana sih? Kenapa gak di Smith aja?”
Orang itu, Debo. Ia tertawa renyah menanggapi ocehan Agni.
Ia menepuk pundak Agni.
“Masih inget aja loe, gue udah
gak sekolah kebetulan akselerasi jadi cepet. Eh... gue tadi nanya loe istrinya
Alvin itu? Semoga aja bukan ya?”
Agni tersenyum masam, ia melirik Alvin yang mulai memasang
wajah yang tidak bersahabat.
“Hhh... sayangnya iya sih Deb,
kok loe bisa kerja sama dia sih?”
“Kebetulan gue sahabat dia dari
kecil.”
“Terus kenapa loe gak dateng pas
pernikahan gue?”
“Tuh gara-gara dia, padahal gue
di undang eh malah di tugasin keluar kota.”
Debo melirik ke arah Alvin, lalu menunjuknya dengan dagu.
“Eh iya, tapi kalo loe sahabatan
sama Alvin, kenapa dia gak akselerasi juga kayak loe?”
“Ya, gara-gara kamu lah.”
Agni memutar matanya mengnatap Alvin, ia melipat tangannya
di dada. Maksudnya apa coba di salahin
tiba-tiba gitu?
“Maksud kamu? Emang kamu pernah
aku larang akselerasi? Kenal aja baru-baru ini. ish.”
“Kamu pikir ngenal kamu itu
gampang apa? Perlu hampir waktu 1 tahun buat cari keluarga kamu dan hampir 2
tahun aku mencoba kenal kamu, di bela-belain aku gak akselerasi gara-gara kamu,
eh ternyata pas kenalan malah di tipu.”
Agni melongos begitu mendengar penuturan Alvin yang
terakhir. Hampir saja ia lupa daratan saat Alvin bilang mencarinya dan mencoba
mengenalnya. Ish. Dasar ya Alvin tukang PHP.
“Aku gak nipu kok, emang nama aku
Kanz Hayman, cuma ya di tengahnya ada Agnida-nya. Ihh.”
“Sama aja. Nipu tetep nipu.”
“Ck! Udah-udah, kalian itu
pasangan baru tapi kok gak enak di liat banget ya? gak ada gitu mesra-mesranya.
Gue pamit dulu aja kali ya, bye.”
Debo berlalu begitu saja setelah ngoceh menanggapi hubungan
pasangan itu.
Agni mengiringi kepergian Debo dengan pandangannya, hingga
pemuda itu menghilang di balik pintu.
“Sejak kapan kenal dia? Jangan
macem-macem, dia sekertaris aku!”
Hampir saja Agni terbahak-bahak saat mendengar ancaman Alvin
itu. Ia berjalan mendekati Alvin lalu memeluk leher Alvin dari belakang,
menyimpan kepalanya di atas pundak Alvin.
“Debo itu, temen aku waktu di
SMP. Aku sahabatan sama dia cuma gara-gara aku sahabatan sama Ify yang saat itu
pacaran sama dia. Udah ya, jangan cemberut terus”
Agni mengecup pipi Alvin saat mengakhiri ucapannya. Alvin
mengelus kepala Agni dengan satu tangannya, dengan senyuman yang kini
terbingkai indah di wajah tampannya.
“Iya, aku percaya.”
Agni mengeratkan pelukannya di leher Alvin, ia merasa
tiba-tiba kepalanya pusing.
“Al...” Agni memejamkan matanya
kuat-kuat, menahan kepalanya yang terasa berputar. “Aku pusing... belum makan
dari pagi.”
Alvin berbalik, ia baru ingat. Saking sibuknya membaca
laporan, ia sampai lupa tujuan pertama datang ke kantor, yaitu untuk mengajak
Agni makan siang.
“Kamu masih kuat jalan? Kita ke
kantin yuk.”
Agni mengangguk lemah, saat Alvin berdiri ia segera
menggamit lengan Alvin dengan posesif. Alvin mengelus kepala Agni lagi, mencoba
menenangkannya. Apa iya cuma gara-gara
belum makan?
***
Agni menatap nanar bangunan di hadapannya. Kenapa di saat ia
mulai melupakan kenangannya justru Alvin yang membawa kenangan itu kembali? Apa
hanya sebuah kebetulan?
Agni berjalan bergandengan tangan dengan Alvin memasuki
sebuah lobi. Pikirannya melayang pada dua tahun yang lalu saat pertama kalinya
ia datang ke tempat ini. Ya Tuhan...
sebenarnya apa salahku? Kenapa aku di bawa ke tempat ini? Begitu banyak
kenangan yang tak mampu aku lupakan di tempat ini. Tuhan...
200, 201, 203, 204.
Agni memandang pintu yang bertuliskan angka 205, puzel-puzel
kenangan masa lalunya itu kini mulai terangkai. Kemudian ia berjalan lagi
mengikuti Alvin, dengan pandangan yang masih tertiju pada pintu itu.
“Ini apartemenku, aku membelinya
sendiri jadi gak semewah rumah.”
Agni diam, ia masih mencoba mengembalikan dirinya dari masa
lalu. 206. Hhh... kenapa deket banget
sih? Agni menghela nafas panjang. Ia tak yakin sanggup bertahan di
apartemen itu lebih lama lagi. Alvin menarik Agni untuk memasuki apartemannya
itu.
“Kenapa kamu beli apartemen? Kan
katanya kamu udah di beliin rumah? Apa
kita nantinya tinggal disini?”
Alvin terkekeh, ia merangkul Agni dan mengajaknya duduk.
“Enggak. Kita pindahnya ke rumah
aku. Aku beli ini cuma buat sementara aja kalo lagi capek dan mau cepet-cepet
istirahat.”
Aku beli ini cuma buat
sementara aja kalo lagi capek dan mau cepet-cepet istirahat. Sebuah
dentuman keras menghantam dada Agni. Kenapa? Kenapa semuanya bisa sama?
Agni mengedarkan pandangannya, ia tidak bisa berpandangan
dengan Alvin saat tidak fokus seperti ini. Alvin merapat ke arah Agni.
“Apalagi sekarang aku udah punya
istri dan satu kantor lagi. Jadi kalo aku lagi mau, bisa langsung ke sini gak
sudah jauh-jauh pulang.”
Dengan cepat Agni berbalik ke arah Alvin, mundur, kemudian
memukul lengan Alvin dengan kesal. Bisikan yang begitu sensual itu mau tidak
mau membuat Agni merinding. Alvin, please jangan sekarang.
Alvin menatap Agni dengan heran, ia menarik Agni lagi untuk
mendekat ke arahnya.
“Kamu kenapa?”
Alvin meletakkan punggung tangannya ke dahi Agni. Agni
tersenyum ke arah Alvin yang sepertinya menghawatirkannya.
“Aku cuma pusing aja sedikit.”
Alvin menghela nafas panjang lalu mengacak-acak poni Agni.
Ia mendekap Agni, memberikan kenyamanan untuknya.
Agni membalas pelukan itu, menenggelamkan wajahnya di dada
Alvin. Ia memejamkan matanya saat merasakan kecupan hangat di puncak kepalanya.
“Kamu istirahat aja dulu disini,
aku mau balik dulu ke kantor.”
Agni melepaskan pelukannya, ia menatap Alvin yang sedang
melirik arlojinya.
“Jam 3 aku jemput kamu lagi”
Alvin berdiri, begitupun dengan Agni. Alvin mengecup kening
Agni cukup lama sebelum akhirnya ia meninggalkan Agni sendirian.
“Hati-hati”
Agni berujar saat berada di ambang pintu. Alvin berbalik
kembali dan mengangguk, tapi kemudian ia kembali lagi memberikan sebuah kartu.
“Ini, pegang dulu aja sama kamu,
aku ada cadangannya kok.”
Agni mengangguk lalu menerimanya, itu adalah kunci akses
untuk masuk ke dalam apartemen itu selain dengan password yang biasa di tekan
di gagang pintunya.
Agni menghela nafas panjang saat ia kini benar-benar di
tinggalkan sendiri. Ia melirik pintu yang bernomor 205, ada dorongan yang
sangat besar untuknya memasuki ruangan itu. Ia masih hafal betul dengan
password nya.
***
Agni mulai menyalakan lampu ruangan utamanya, bersamaan
dengan itu ada sebuah ruang kosong dalam dadanya, hatinya begitu mencelos
terasa kosong dimana-mana. Ia mengedarkan pandangannya. Masih sama, sama seperti dulu pertama kali aku dateng.
Agni berjalan ke arah tumpukan kertas yang di letakkan di
meja. Ternyata kamu belum pulang Gab?
Dulu, di tahun pertama Gabriel pergi meninggalkannya, ia
selalu datang ke apartemen ini satu bulan sekali, setiap tanggal 12. Tanggal
dimana mereka pertama kali merajut kasih dan tanggal perpisahannya dengan
kekasihnya itu. Menulis surat untuk kekasihnya itu, menceritakan setiap
kejadian di bulan itu. Saat tahun kedua Agni hanya datang berkunjung tiga bulan
satu kali, dan tak lupa juga menuliskan surat untuknya.
Agni tersenyum pilu. Aku
udah satu taun gak dateng kesini Gab, ia melirik amplop berwarna merah. Di dalamnya
terdapat sebuah surat yang ia tulis di anniversary hubungan mereka yang
pertama, dan kedua. Ia meraih ponselnya.
Gab. Ternyata hari ini anniversary kita
yang ke tiga, apa kamu inget?
Agni berjalan ke dapur, dimana tempat mereka berdua masak
dan makan bersama. Agni menghela nafas, di tempat inilah Gabriel menyatakan
cinta.
Agni manatap tak lepas
ke arah Gabriel yang sibuk memasak, menyiapkan makanan yang katanya begitu
spesial untuknya. Ia gemas sendiri melihat pemuda itu kesana-kemari.
“Kak, bair aku bantu.”
“Gak usah, udah selesai kok, nih.”
Dengan senyuman yang
mengembang di bibirnya, Gabriel berjalan ke arah Agni dengan membawa dua piring
hasil masakannya.
Agni mengerutkan
keningnya.
“Kenapa di bentuk love begini nasi gorengnya? Jadi ini yang kamu bilang
spesial?”
Gabriel mengangguk. Ia
meraih sebelah tangan Agni dan mengelusnya.
“Kamu tau apa alesannya aku buat yang kayak gitu?”
Agni menggeleng, ia
hanya diam tak mampu berkata-kata saat Gabriel menatapnya begitu intens.
“Karena aku, membuatnya sepenuh hati aku. Karena aku membuatnya buat
orang yang paling aku sayang”
Agni mengerjabkan
matanya.
“Apa? Jangan becanda ah Kak.”
Gabriel menggeleng, ia
tersenyum begitu tulus pada Agni.
“Agni, aku beneran sayang sama kamu.”
“Kok nembaknya cepet-cepet sih?”
“Agni... aku itu umurnya 20 tahun, gak ada waktu lagi buat lama-lama
pedekate. Entar malah di embat lagi sama orang lain.”
Agni terdiam, ia
menatap Gabriel mencari kesungguhan.
“Mau gak jadi pacar aku?”
“Tentu Kak. Aku juga sayang sama Kakak.”
“Beneran?”
Gabriel berdiri dari
duduknya lalu mendekat ke arah Agni. Agni mengangguk.
Gabriel segera memeluk
Agni dengan erat.
“Mulai sekarang, panggil aku Gab.”
Agni tertawa ngilu mengingatnya, ia segera beranjak dari
sana lalu duduk di atas sofa merah yang menjadi saksi bisu perpisahan mereka. Agni
menghela nafas panjang. Stop Agni. Kubur kenangan
loe, loe gak bisa gini terus.
Agni mengambil kertas dan pensil dari tasnya. Menuliskan sesuatu
disana.
Setelah ia rasa cukup, ia melipat kertas itu dan
menyimpannya di atas kursi, berpisah dengan surat-surat yang lainnya. Agni menghela
nafas panjang, sekali lagi ia mengedarkan pandangannya. Stop!
Semakin lama
memandangi ruangan ini hanya akan membuat aku sakit, semakin sakit dan perih.
Sebuah tepukan di pundak Agni membuatnya tersentak. Ia bingung
harus bagaimana. Agni menghela nafas panjang menetralkan rasa kekagetannya,
dengan takut ia mulai berbalik.
***
Bersambung.
No comments:
Post a Comment