Agni menatap beberapa file yang semalam tergeletak begitu
saja di tempat tidur. Apa semalaman Alvin kerja? Jahat banget gue
ninggalin dia.
Ia mulai membuka-buka dokumen itu, cukup penasaran juga
bagaimana pekerjaan Alvin.
“Dari Fahd Company untuk Praha
Group. Fahd?”
Agni seperti mengingat-ingat sesuatu, ia seperti mengenal
dan familiar sekali dengan nama Fahd. Tapi apa? Agni menghela nafas panjang. Tau ahh mungkin cuma perasaan aja.
Agni beranjak dari kamar itu setelah sebelumnya membereskan
kamarnya itu, ia berjalan menuju meja makan. Kosong. Koki dan para pekerjapun gak ada. Kemana mereka?
Agni mendengar kegaduhan dari lantai atas, tepatnya di
sebelah kamarnya. Ia menengok dan mendapati seseorang berpakaian seperti dokter
dan Papa Dayat keluar dari sana. Siapa
yang sakit? Apa mungkin... astaga... Alvin.
Agni segera berlari ke arah kamar itu.
“Pa...”
Agni berujar lirih, Dayat tersenyum pada Agni lalu
menepuk-nepuk pundak menantunya itu.
“Agni..”
“Alvin?”
Agni menatap Dayat dengan panik, ia benar-benar tidak
menyangka Alvin sampai sakit.
“Baik-baik saja, sekarang kamu
jaga dia jangan biarkan bekerja dulu, Papa harus pergi ada kepentingan lain.”
Agni sesekali curi-curi pandang ke arah Alvin yang
sepertinya tertidur. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada Dayat saat
mertuanya itu menepuk pundaknya.
“Parah ya? Alvin kelabakan banget
waktu kamu dapet tamu bulanan sampe gak mau makan dan hasilnya? Ya gini...
oiya, lambung Alvin itu lemah Agni... jangan biarkan dia telat makan.”
Agni membelalakan matanya, sejak kapan ia haid? Dan kenapa
ia baru tau kalau Alvin memiliki penyakit seperti itu? Dayat tersenyum tipis
kemudian beranjak meninggalkan Agni yang masih cengo mendengar penuturan Dayat.
Kelabakan waktu dapet
tamu bulanan? Berarti Alvin semalem lagi mau... ah gak mungkin gak mungkin!
Manamungkin cuma hal sepele gitu dia gak mau makan dan akhirnya sakit. Aneh
banget.
Agni berjalan mendekati Alvin, di sana telah ada semangkuk
bubur yang di buatkan oleh Dayat. Ia duduk di pinggir tempat tidur di sebelah
Alvin. Ia menatap suaminya itu, satu tangannya mengusap dahi Alvin yang penuh
dengan peluh.
“Kalo loe tidur gini keliatan
damai banget... kenapa gak setiap saat tenang gini sih Vin?”
Agni tersenyum sendiri saat Alvin mengeryitkan dahinya.
Entah kenapa ia merasa tidak sedikitpun kekagumannya pada pemuda itu berkurang,
walau terkadang Alvin tidak menghargainya, dia seperti memikirkan dirinya
sendiri. Tapi entah kenapa, itu seakan bukan masalah, rasa kesal dan marahnya
selalu menguap hanya dengan beberapa saat. Kenapa
gue ngerasa gue yang keterlaluan ya? Gue childist banget.
Tanpa Agni sadari, Alvin sedikit menarik ujung bibirnya saat
menyadari Agni ada di dekatnya. Ternyata
dia peduli.
“Agni...”
Agni menengok ke arah Alvin yang mengeluarkan suara
seraknya. Ia segera mengambil segelas air putih, ia merasa tenggorokan itu
seperti susah mengeluarkan suara. Ia membantu Alvin untuk duduk dan bersandar
di kepala tempat tidur.
“Alvin, semalam kamu gak makan
ya?”
Alvin mengangkat satu alisnya, heran dengan perubahan cara
berbicara Agni. Tanpa ia pikir lagi, ia tersenyum tipis dan mengelus pipi kanan
Agni dengan sayang. Tak bisa di pungkiri, kalau ia senang dengan perubahan Agni
yang menjadi lebih lembut padanya.
“Gak ada makanan, koki sama bibi
cuti, katanya istri kokimu itu melahirkan dan anak bibi sakit. Aku gak suka fastfood atau makanan luar, jadi mendingan gak makan.”
Wajah Agni memanas, Alvin lelaki ke tiga yang tanpa ia
sadari bisa meluluhkan hatinya dengan kata-kata yang begitu lembut, setelah
Papanya dan... Gabriel.
Agni menghela nafas berat.
“Kamu kok gak bilang? Akukan bisa
cepet pulang semalem.”
Alvin terkekeh, ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela
yang telah terbuka.
“Kamu gak inget? Hape kamukan di
tinggal.”
Agni menghela nafas. Iya...
gue lupa... Oh God, apa dosa gue sekarang gede banget? Gue udah biarin suami
gue sengsara gini. Agni menundukan kepalanya, sangat merasa bersalah.
“Maaf.”
Alvin tersenyum kemudian menarik Agni kedalam pelukannya. Ia
mengelus puncak kepala Agni dengan sayang.
Dengan ragu, Agni membalas pelukan Alvin. Ia mencengkram
baju bagian belakang Alvin, entah apa tujuannya yang jelas ia sangat merasa
bersalah.
“Udah ah gak usah gitu... oiya berkas-berkas
aku semalem acak-acakan ya di kamar kamu?”
Agni mengurai pelukannya kemudian duduk menyampingi Alvin.
Ia mengangguk lemah.
Alvin menurunkan kakinya dari tempat tidur kemudian berdiri.
“Mau kemana?”
Alvin berbalik saat akan meninggalkan kemar itu.
“Ngambil berkas yang kemaren,
hari ini harus selesai”
Agni berjalan mengejar Alvin menuju ke kamarnya. Ia merebut
berkas itu saat Alvin hendak membukanya.
“Kamu harus istirahat dulu”
Alvin menatap Agni dengan memohon, ia tidak bisa menunda
lagi.
“Kalo gak sekarang, kerjaan aku
makin numpuk Ni, please ngerti...”
Agni tak bergeming, dalam hal ini ia harus keras kepala. Ia
menatap Alvin tajam.
“Gak!”
“Agni...”
Alvin menatap Agni dengan sayu, ia gemas sekaligus kesal
juga dengan istrinya itu.
“Gak Vin!”
“Agni!”
Alvin menaikkan nada suaranya dan tanpa sadar menatap Agni
dengan tajam. Ia sedang tak ingin di bantah! Agni sedikit tersentak, rahangnya
sekarang mulai mengeras. Ia marah, sakit hati dengan bentakan Alvin. Ia
mendekati Alvin dengan tatapan yang menantang.
“Vin! Gue tuh khawatir sama loe!
Gue gak mau loe sakit lagi! Kenapa loe maksa terus sih?”
Agni semakin menatap Alvin dengan tajam. Nafasnya mulai
tidak teratur.
“Terserah deh ya kalo loe gak mau
di peduliin! Nih.”
Alvin menatap Agni yang berlalu meninggalkannya, ia melirik
berkas yang kini ia pegang. Lalu menghela nafas panjang. Ia masih belum
mengerti dengan sikap Agni.
***
Agni merasakan sebuah tangan hangat memeluk pinggangnya. Ia
menghela nafas panjang mencoba meredamkan emosinya.
“Maaf ya... aku egois.”
Agni terdiam, mencoba mencerna kata-kata yang keluar dari
mulut Alvin. Alvin? Minta maaf? Oh...
Amazing!
“Gapapa, duduk sana aku masak
dulu.”
Alvin mengangguk kemudian berjalan ke arah meja makan yang
berada di dapur itu, mengamati Agni yang berjalan kesana-sini menyiapkan makanan
untuk mereka santap di pagi yang menuju siang ini.
“Tadi kamu bilang apa sama Papa?
Kenapa ngebahas masalah datang bulan segala?”
Agni bertanya tanpa mengalihkan pendangannya ke arah Alvin.
Dia sibuk memotongi sayuran yang akan ia buat sup. Alvin teringat kejadian tadi
pagi saat Dayat menelpon dengan maksud menanyakan berkas kemarin yang
dikirimkan oleh Debo, sekertaris Alvin. Tapi ternyata, Dayat mendapati Alvin
yang sedang sakit dan dengan segera menuju kediaman besannya dimana putera
kesayangannya tinggal.
“Kamu kenapa sampe gini sih? Apa Agni gak ngasih kamu makan?”
Alvin mengalihkan
pandangannya dari Dokter Kiki –Dokter pribadinya- ke arah Dayat. Ia tersenyum
kecil.
“Gak kok Pa, Alvin cuma males makan aja waktu tau Agni lagi dateng
bulan”
Dayat terkekeh, ia
mengacak-acak rambut Alvin dengan gemas. Putera kesayangannya ini sekarang
sudah dewasa.
“Alvin, sebaiknya kalian menunda dulu punya anak. Kaliankan masih
sekolah.”
Alvin tersenyum geli
ke arah Dayat. Pikiran Papanya itu terlalu jauh. Ia mengerlingkan matanya
nakal.
“tenang aja Pa... Alvin juga tau, lagian kalo Alvin mau melakukannya
sama Agni kan masih banyak jalan supaya sampe gak ‘jadi’.”
Agni berbalik cepat ke arah Alvin, matanya membelalak kaget
mendengar penuturan Alvin. Ya Tuhan...
tenyata dingin-dingin begini otaknya mesum juga. Oh God... lindungilah aku
setiap saat...
“Oiya, kata Papa besok kita ke
rumah, jangan sampe ada yang ketinggalan.”
Agni menghela nafas panjang, kemudian mengangguk dan
mengalihkan pandangannya kembali ke arah masakannya.
***
Agni dengan sabar merawat Alvin yang terkadang keras
kepalanya itu kambuh, untungnya Agni tidak terbawa dan bisa mengimbangi Alvin.
Seperti saat ini, sejak beberapa jam lalu ia menemani Alvin yang kekeh ingin
menyelesaikan pekerjaannya di kursi panjang yang berada di belakang rumah.
“Nah, udah selesaikan? Udah ya Agni,
kamu istirahat dulu.”
Agni merapihkan beberapa dokumen penting yang sedari tadi
menjadi pusat perhatian Agni. Lalu ia menatap Agni yang kali ini hanya bisa
menghela nafas dan mengangguk. Alvin mengambil dokumen yang ada di pangkuan
Agni. Tapi, istrinya itu dengan sigap mengambil alih dokumen itu. Agni menatap
Alvin tajam sementara Alvin menanggapinya dengan dingin nyaris tanpa ekspresi.
Dengan santai Alvin merebahkan kepalanya di pangkuan Agni
yang membuat Agni kaget dibuatnya. Lalu sedetik kemudian ia tersenyum, ia baru
sadar kalau Alvin sebenarnya ingin tiduran di atas pangkuannya. Kenapa gue bener-bener gak peka ya? Agni
Agni... hhh...
Agni menyimpan dokumen itu di meja yang berada di samping
kursinya, ia mengelus-elus kening Alvin agar Alvin menutupkan mata untuk
istirahat.
Elusan Agni melemah, sesekali ia menguap. Kenapa malah gue
yang ngantuk?
Ia melirik Alvin yang nampak telah tertidur pulas, ia dapat
melihat hembusan nafas Alvin yang teratur.
Agni mengalihkan pandangannya pada ponselnya dan ponsel
Alvin yang berdering bersamaan. Ia mengangkat satu alisnya, heran. Kenapa bisa
kebetulan begini?
Agni meraih ponselnya dan ponsel Alvin yang di letakkan di
atas meja.
Satu minggu lagi akan di adakan UAS. Maju satu minggu dari rencana.
Sebarkan...
Hah? Kok bisa sih Fy?
Setelah mengirimkan pesan balasan, ia kemudian membuka
ponsel Alvin. Agni menghela nafas berat, ia merasa ada dentuman keras di
dadanya melihat si pengirim pesan. Ia melirik Alvin yang masih tenang dalam
istirahatnya. Kok kamu tega banget sih
Vin?
***
Alvin membuka matanya saat sebuah tangan hangat menyentuh
pipinya, ia mengerang tertahan. Badannya terasa begitu pegal dan ngilu
dimana-mana, ia menggeliat kecil.
“Bangun... udah mau malem.”
Alvin mendudukan dirinya dengan malas, ia sedikit
mengucek-ngucek matanya lalu tersenyum ke arah Agni yang duduk agak jauh
darinya. Kapan Agni menggantikan
pangkuannya dengan bantal? Kenapa aku gak inget?
Ia menguap kecil.
“Kamu udah masak?”
“Udah.”
“Kalo gitu makan yuk. Aku udah
laper.”
Agni mengangguk, lalu berjalan di depan Alvin. Ia masih
merasa ada suatu ganjalan dalam dadanya, ia belum bisa berbicara lebih lanjut
dengan suaminya itu.
Mereka berdua makan dalam diam, hanya keheningan tercipta di
antara mereka. Alvin sesekali curi-curi pandang ke arah Agni yang menurutnya
itu sangat aneh. Terlihat lebih pendiam, datar dan dingin. Pergerakannya pun
seperti ragu-ragu, seperti ada yang mengganjal pikirannya.
Alvin menyimpan sendok dan garpunya lalu meraih tangan kiri
Agni. Ia tersenyum saat Agni menengok ke arahnya. Namun, berbanding terbalik
dengannya. Agni malah mengacuhkannya, mengalihkan pandangan ke arah lain. Maaf Alvin... aku belum bisa bersikap lebih
baik.
Alvin menghela nafas panjang saat melihat reaksi Agni, ia
juga menarik lagi tangannya lalu kembali menyantap makan menuju malam ini. Ia
sangat tidak mengerti dengan sikap dan sifat wanita. Sedikit-sedikit baik,
sedikit-sedikit ngambekan. Menurutnya, benar-benar aneh.
Makan malam telah usai. Setelah Agni merapihkan makanan dan
bekas makannya, ia segera mengambil buku-buku dan membawanya ke ruang tamu.
Satu tujuannya, menghindari Alvin yang tadi terlihat sedang belajar di
kamarnya.
Agni tenggelam dalam bacaannya, sesekali ia membenarkan
letak kacamatanya. Ia memang selalu seperti itu. Indera pendengarannya kadang
kurang berfungsi saat sedang fokus membaca.
Terbukti dengan Alvin yang berjalan ke arahnya saja, Agni
tidak menyadarinya sedikitpun. Alvin tersenyum kala melihat Agni, ia senang
melihat seseorang yang sedang fokus dengan sesuatu, itu tandanya orang itu
serius dalam mengerjakannya.
Alvin menepuk pundak Agni yang membuatnya refleks berbalik
lalu membuka kaca matanya. Agni menaikan satu alisnya.
“kenapa?”
Alvin terkekeh, ia menarik bahu Agni agar menghadapnya. Agni
menurut, ia sedang malas berdebat.
Alvin menepuk-nepuk pipi Agni pelan.
“Ada apa sih Ni? Aku salah apa
lagi?”
Deg!
Agni menatap Alvin dengan tajam, namun bukan tajam karena
marah, melainkan heran dengan pertanyaan Alvin. Ia tidak menyangka Alvin akan
bertanya seperti itu, yang artinya dia perhatian padanya. Agni menghela nafas
panjang. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang sayu, tatapan ketidak
mengertian.
“Apa hubungan kamu sama Ify
sedeket itu Vin?”
Agni menundukkan kepalanya, tak kuasa menatap Alvin.
Mengatakan itu saja harus dengan perjuangan berpikir beberapa jam, apalagi
mengatakan dengan menatap Alvin? Itu membuatnya sulit berkata-kata.
Alvin meraih dagu Agni, berusaha membuatnya bertatap muka.
Ini yang harus ia luruskan, beberapa kejadian yang penyebabnya adalah hal yang
sama dan orang yang sama.
“Agni... Sayang, aku gak punya
hubungan apapun sama Ify. Kenapa kamu bisa berpikir aku memiliki hubungan dekat
sama dia?”
Agni menepis tangan Alvin dengan lembut, ia mengalihkan
pandangannya ke arah lain. Apalagi yang harus ia katakan? Agni menarik nafas,
mencari energi tambahan untuk berbicara.
“Sejak kapan kalian tukeran nomor
telpon?”
“Memangnya kenapa?”
Agni menarik ujung bibirnya, ia tersenyum sinis sekaligus
miris. Ia baru sadar, ternyata ia tidak begitu penting di hidup Alvin. Sampai
harus bertanya terlebih dahulu. Padahal, kalau dia benar-benar tidak memiliki
hubungan spesial, tinggal jawab saja pertanyaannya.
“Tadi dia sms, aku sengaja buka
takut pesan penting” Agni tersenyum miris, pandangannya kini kosong. “Taunya...”
Alvin mengerutkan dahinya, ia belum faham dengan jalan
pembicaraan Agni.
“Maksud kamu? Agni, aku...”
Tok tok tok.
Agni dan Alvin sontak mengalihkan pandangannya ke arah
pintu. Agni segera beranjak dan membukakan pintu untuk tamu tersebut.
Alvin yang telah kalut
mengambil ponsel Agni yang tergeletak begitu saja. Ia mencari nomor contact
yang bisa menyambungkannya pada Agni. Saat ia melihat nomor contact Ify, ia
segera mencatat dan memanggilnya.
“hallo, siapa ya?”
“Ify, gue Alvin. Ada Agni?”
“Eh... Gak... Gak ada tuh.”
Alvin mengerutkan
dahinya, ia tidak yakin dengan ucapan gadis itu jika cara berbicaranya saja
tergagap seperti itu.
“yakin?”
“iya Vin, gak ada kok, beneran.”
“ohh yaudah kalo ketemu bilang cepet pulang, thanks sorry ganggu.”
“iya, iya gapapa.”
“Cakka! Please loe ngertiin gue!
Alvin sakit! Dan Alvin butuh gue.”
Alvin mengalihkan pandangannya, jadi tamu yang gak di ajak masuk itu Cakka? Ia memicingkan
pendengarannya. Ia juga bisa melihat mereka remang-remang dari jendela yang
kebetulan belum Agni tutupkan.
“Agni! Buka dong mata loe! Dia
cuma bisa nyakitin loe doang, apa loe gak puas? Hah?! Gue lebih bisa bahagiain
loe! Jauh dari apa yang loe dapet sekarang!”
Cakka menatap Agni dengan dalam, ia memegang kedua bahu Agni
dengan erat. Agni menepis tangan Cakka dengan kasar lalu menunjuk-nunjuk pemuda
itu.
“Cakka! Bukannya loe yang bilang
kalo bagaimanapun Alvin suami gue!”
Agni mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia merasa sangat
kesal sekarang, ia baru tau ternyata
sahabatnya ini bisa berubah menjadi seseorang yang pengatur dan penuntut.
“Iya! Itu dulu, sebelum gue liat
betapa sengsaranya wanita yang gue sayangin. Ag... apa loe gak sadar? Hah?!
Kemaren itu loe dateng-dateng ke gue langsung nangis! Tadi sore... Loe nelpon
gue dengan nangis juga! Dan kapan lagi? Kapan lagi Agni? Sampe kapan loe mau
gini terus?”
“Cukup Kka... ini keputusan gue,
dan tolong dengan sangat hormat loe pergi sekarang juga dari rumah gue!”
Agni menatap Cakka dengan tajam. Perkataan Cakka memang
benar, tapi ia tidak suka jika urusan pribadinya di campuri oleh orang lain. Ia
merasa menjadi muak dengan ucapan-ucapan Cakka.
“Agni...”
Cakka merendahkan nada bicaranya, ia meraih lengan Agni.
Namun dengan cepat Agni menepisnya.
“Sekarang Cakka!”
Cakka mengusap wajahnya frustasi. Ia menghentakkan kakinya
kesal.
“Oke fine! Gue pergi!”
Agni segera memasuki rumah dan menguncinya. Rahangnya
mengeras, nafasnya pun tidak teratur karena emosi.
Terdengar suara deruan mobil yang Agni perkirakan melaju
dengan kecepatan tinggi.
Alvin menghampiri Agni kemudian menarik wanita itu kedalam
pelukannya. Agni membalas pelukan itu, ia selalu tenang dengan wangi
maskulinnya Alvin, selalu terbuai setiap menghirupnya.
Dalam hati Alvin tersenyum, ia sangat bahagia Agni memilih
menjaganya daripada pergi dengan lelaki itu. Desiran halus itu menjadikan
debaran yang sangat dahsyat di dadanya.
“makasih ya Ni”
“buat?”
Agni bertanya tanpa melepaskan pelukannya, ia masih
membutuhkan ketenangan.
“semuanya”
Alvin mengecup lembut puncak kepala Agni, kemudian
mengeratkan kembali pelukannya pada gadis yang sekarang istrinya itu.
***
Agni dan Alvin keluar secara bersamaan dari Pajero milik
Alvin, Agni merasa sangat istimewa karena di sambut begitu ramah oleh
pengurus-pengurus kediaman mertua dan suaminya itu.
Alvin merangkul pinggang Agni saat mereka mulai berjalan
memasuki kediamannya. Agni melirik Alvin sejenak, namun kemudian ia melangkah
lagi saat melihat Alvin yang begitu sumringah.
“Siang Pa...”
“Hey! Alvin, Agni, kalian sudah
datang... “
Alvin dan Agni bergantian menyalami Dayat. Lalu keduanya
duduk di hadapan Dayat, berbincang-bincang dengan hangat.
Agni begitu bahagia di tengah dua lelaki ini, mereka
benar-benar kompak berusaha membuatnya nyaman di tengah kecanggungannya.
Setelah puas berbincang dan makan siang, Alvin membawa Agni
untuk mengitari rumahnya yang cukup luas hingga membutuhkan waktu lama untuk mencapai
tujuan akhir mereka yaitu, kamar bujangan Alvin.
Agni memasuki kamar itu terlebih dahulu, sementara Alvin
berdiri di belakangnya. Agni terkagum-kagum dengan kamar Alvin yang sangat
maskulin itu, di dominasi dengan warna hitam namun dengan unsur abu-abu yang
menjadi warna favorite nya. Apalagi, di kamar ini ia bisa dengan puas mencium
parfum maskulin Alvin.
“Aku sangat menunggu kita berada
disini”
Agni meneguk ludah dengan sukar, ia mengerti jalan pikiran Alvin.
Apalagi saat mendengar suaranya yang mulai serak. Oh God! Help me...
“Di kamar ini aku membujang,
tidur sendirian. Dan sekarang...” Alvin memeluk Agni dari belakang, lalu
mengecup telinga Agni lama. “aku ingin bermain bersama istriku disini,
menikmati kebersamaan kita.”
Agni merinding mendengar ucapan Alvin. Ia menggigit bibir
bagian bawahnya saat Alvin mulai mengecup daerah sekitar lehernya.
“Al...”
“Iya... sayang”
“Kamu... masih sakit”
Tangan Alvin mulai nakal menjelajahi seluruh lekuk tubuh Agni
yang membuat wanita itu mengerang tertahan, menggeliat begitu hebat.
“Kita buktikan... Sayang”
***
Untuk kesekian kalinya Agni mengerang keras, ia melirik Alvin
yang sekarang telah berada di sampingnya, mengatur nafas yang sedari tadi
memburu. Alvin gila!
Agni mengumpat begitu kesal, ia tidak menyangka dengan
perlakuan Alvin yang benar-benar di luar dugaan.
“Alv...”
“Panggil aku Al ya Ni?”
Agni mengangguk, entah kenapa wajahnya terasa memanas kalau
mengingat kata ‘Al’, sedari tadi ia memang memanggil Alvin seperti itu,
alasannya cuma karena ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia tidak menyangka
kalau panggilan tidak sengaja itu ternyata di inginkan Alvin.
Alvin melirik Agni yang masih menatapnya, walau dengan
tatapan kosong. Ia tersenyum kecil.
“Kamu tidak lupa sesuatu?”
Agni tersadar, ia menatap Alvin dengan wajah penuh tanya.
Alvin berdecak lalu meraih tangan Agni untuk menyentuhnya. Kesal
juga mempunyai istri yang kurang peka.
Agni membelalakan matanya, menyadari sesuatu. Oh God... Alvin... Kamu bener-bener...
“Aku belum selesai sayang”
Agni kelimpungan, ia melirik ke arah lain mencari alasan
untuk beranjak dari tempat tidur itu. Tapi, ternyata Tuhan tidak mendukung
aksinya. Ia menghela nafas dalam lalu melirik Alvin yang pandangannya sayu,
sejak beberapa saat yang lalu.
“Naiki aku”
Agni membelalakan matanya, ia kaget dengan apa yang Alvin katakan.
Apa harus?
Alvin merengkuh kedua pipi Agni, meyakinkan istrinya itu. Agni
menghela nafas panjang saat Alvin menurunkan tangannya menuju pinggang,
menariknya.
Agni membenamkan begitu dalam wajahnya di bahu Alvin saat
lelaki itu memasukinya, ia mengigit kecil bahu Alvin.
Namun, Alvin tidak menyadarinya, ia terlalu larut dalam
permainannya.
***
Mata Alvin berkilat marah, rahangnya mengeras dan tangan
kirinya mengepal. Ia melirik Agni yang tidur berbantalkan tangan kananya dan
kedua tangan mungil itu memeluk lehernya.
“Gab... hmp...”
Agni langsung membelalakan matanya saat merasakan sebuah
lumatan yang sangat kasar di bibirnya. Ia sedikit memberontak dan memukuli dada
Alvin. Namun, apalah arti pemberontakan itu saat tenaga Alvin dalam kadar full?
Alvin menarik wajahnya. Agni menundukan kepalanya saat
menyadari kilatan kemarahan dimata Alvin.
“Al... ke..kenapa?”
Alvin meraih jubah tidurnya kemudian memakainya. Ia marah,
tidak bisa di ajak berbicara sekarang.
Agni tetaplah Agni yang keras kepala, ia tidak peduli dengan
keadaan itu. Ia meraih tangan Alvin yang akan segera beranjak.
“Gabriel? Well... lelaki yang
pernah tidur denganmu sebelum denganku?”
Agni membelalakan matanya, darimana dia tau Gabriel?
Alvin mendudukan kembali dirinya, ia mendekatkan wajahnya
pada wajah Agni.
“Kamu menyebutkannya dengan mesra
sayang saat kamu masih tidur”
“Apa? Gak mungkin.”
Alvin tersenyum sinis, tapi dalam matanya tersirat sebuah
kekecewaan yang mendalam.
“Aku tidak sabar melihat reaksi
Papa Irshad kalai tau anak semata wayangnya menyakiti suaminya dengan
menyebutkan nama lelaki lain sesaat setelah bercinta, bermesraan di sebuah
diskotik bersama lelaki yang bernama Cakka, dan mengabaikan suaminya di sekolah
gara-gara sibuk dengan pemuda yang bernama Mario”
Agni memundurkan dirinya saat Alvin mendesis penuh kekejaman
padanya. Di setiap penekanan kata, Alvin maju ke arah Agni dan Agni mundur. Agni
tak henti-hentinya menggelangkan kepala, tanda bantahan. Tapi, Alvin tidak
mengindahkannya.
“Apalagi Papa Irshad punya
penyakit jantung.”
“APA?! Gak mungkin!”
“Ops, aku lupa. Kamu kan tidak
boleh di beri tau. Hhmm... padahal tadinya aku akan berusaha menjaga rahasia
ini, tapi ya...”
Alvin beranjak dari tempat tidur, ia bosan dengan ekspresi Agni.
Senyuman evil tersungging dari bibirnya.
“Darimana kamu tau?”
“Sekarang Papa pergi ke
Singaphore bukan untuk urusan pekerjaan, melainkan dia sedang berobat ke Rumah
Satik, menemui dokter spesialis jantungnya”
Agni menggelangkan kepalanya dengan cepat. Kenapa ia beru
mengetahuinya sekarang? Dan kenapa yang memberitaukannya bukan Papanya
langsung? Tapi malah...
“Aku gak sabar liat kekagetan
Papamu kalau mengetahui kenakalanmu, apalagi jika aku menggugat untuk berpisah,
aku yakin...”
“Stop! Cukup Alvin!”
Alvin tersenyum puas melihat reaksi Agni. Ia berjalan menuju
kamar mandi membiarkan Agni berpikir sendiri untuk mencari jalan keluarnya.
“apa yang harus aku lakukan?”
Alvin menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar mandi,
ia berbalik lalu menatap Agni dan tersenyum puas, ternyata dalam kondisi
seperti itu Agni bisa berpikir sangat cepat. Agni terlihat masih shock dan
matanya begitu sayu.
“ikuti aturanku”
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment