Terkadang, cinta itu datang di saat yang tidak terduga.
Bernarkah? Tentu saja. Karena meskipun selalu di sangkal ternyata cinta itu
selalu hadir dimanapun dan kapanpun tanpa bisa di cegah.
“iya Rio gue udah di rumah loe!
Gue juga barusan ketemu sama Bibi”
“pokoknya setengah jam lagi loe kudu ada di sini dan bawa baju gue! Ini
hidup dan mati gue Agni! Gue harus jadi kapten basket”
“iya bawel loe, bentaran gue
ambil dulu. Bye”
“oke, jangan lama-lama”
Agni menghela nafas kesal, kalau bukan karena rasa
persahabatan ia mana mau di suruh sebelum kesekolah untuk ekskul membawa
pakaian Rio ke rumahnya? Mana jarak rumahnya jauh lagi. Tapi, yang mendingnya
ia sudah tidak asing lagi dengan rumah ini. ia sudah seperti tuan rumah di
rumah ini.
Agni memasuki kamar Rio tanpa permisi, ia langsung membuka
pintu lemari Rio satu persatu. Ia menghela nafas kesal. Kemudian meraih
ponselnya lagi.
“di lemari yang mana sih Yo? Udah
gue buka semua”
“coba liat deh di lemari yang
paling kiri terus paling bawah”
Agni mengikuti instruksi Rio, ia tersenyum saat melihat baju
yang ia cari-cari. Saat ia berdiri...
“aaaa....”
“Agni kenapa?”
Agni tanpa sadar melempaskan ponselnya ke arah pemuda yang
tiba-tiba ada di hadapan Agni. Pemuda itu mengangkat satu alisnya, aneh melihat
Agni. Sementara Agni menatap pemuda itu dengan tatapan tajam.
“heh! Siapa loe? Ngapain disini?”
Tanya Agni, dengan begitu keras. Ia masih kaget dengan
kehadiran pemuda itu.
“bukannya harusnya saya yang
bertanya nona? Anda siapa?”
Agni membelalakan matanya, pemuda itu semakin mendekat ke
arah Agni. Tanpa berpikir panjang, ia segera lari dari kamar Rio, tidak
mempedulikan ponselnya yang masih ada di tangan pemuda itu. Ia takut melihat
seringaian pemuda itu. Yang sangat membuatnya merinding.
***
Rio menatap Agni dengan geli, gadis itu seperti kesurupan.
Meminum satu botol jatah minumannya dengan sekali tenggak.
“pokoknya ya Yo, loe kudu
buru-buru pulang! Ada maling”
“gak mungkinlah Rio, aneh banget
loe”
Rio merengut kesal, ia mengerucutkan bibirnya dan
menggembungkan pipinya. Rio terkekeh kemudianmencubit hidung Agni dengan gemas.
“iya, nanti abis seleksi langsung
pulang”
Agni mengangguk, lalu mengangguk lagi saat Rio berpamitan
untuk berganti pakaian. Ia menghela nafas panjang. Kalau dia maling... kok ganteng gitu ya? mana cuma pake boxer lagi...
kayaknya abis tidur, tapi... ah bodo ah pokoknya Rio kudu cepet-cepet pulang.
“ngelamun aja loe”
Agni melirik ke arah kanannya, seorang pemuda masih dengan
sragamnya duduk dengan cuek di sampingnya. Agni mendengus, ini nih yang membuat
dia tidak nyaman di sini. Semua perempuan di sekolahnya suka melirik sinis ke
arahnya jika sedang berdampingan dengan pemuda ini.
“apa peduli loe? Pergi sana...
liat tuh Kka cewek-cewek cheers
liatin gue kayak mau makan gue hidup-hidup”
Pemuda itu, Cakka. Ia terkekeh kemudian merangkul pundak
Agni yang membuat gadis itu membelalakan mata kaget. Ia menepis tangan Cakka,
namun Cakka kembali merangkul pundak nya.
“loe kok setia banget sama Rio?”
Agni menatap Cakka dengan ekor matanya, ia tersenyum masam.
“setia apa? Gue gak pacaran kok
sama Rio”
“oh ya?”
Agni melirik Cakka yang tingkan ke-kepoannya ia rasa begitu
meningkat. Ia mendengus sebal saat melihat wajah malaikatnya. Cakka menatap
Agni dengan di sertai senyuman yang menawannya.
“iya Agni, gue percaya kok. Loe
kan setia sama sahabat. Oiya, semalam kok gak dateng? Ify sendiri lho kesana”
Agni mengangkat bahunya,
“semalem ada bokap, ngobrolin
perusahaannya yang baru yang katanya sih nantinya di pegang gue, jadi ya...”
“cie yang calon pengusaha”
Agni mencubit lengan Cakka, ia juga belum yakin dengan
pilihan menjadi pengusaha. Apa ia akan berhasil? Jangan-jangan, nanti bukannya
sukses malah bangkrut.
“eh makan siang yuk, gue laper
nih”
“gak deh Kka, gue kudu nonton
Rio”
“di kantin doang kok”
Agni nampak berpikir, kemudian ia tersenyum pada Rio yang
baru saja kembali dari ruang ganti.
“Yo, gue makan dulu ya...”
Rio mengerutkan keningnya, ia tidak pernah di tinggalkan
oleh Agni saat latihan atau sedang dalam kegiatan apapun.
“di?”
“kantin kok”
“yaudah”
Rio mengangguk dengan tidak rela, Agni tersenyum ke arah Rio
dan sebelum pergi menepuk pipi Rio terlebih dahulu.
***
Sore haripun datang, Agni masih dengan setianya duduk di
bangku penonton melihat Rio yang sudah bersimbah keringat. Pemuda itu telah
selesai di uji, dan sebentar lagi akan ada pengumuman mengenai kapten basket
dan cheers yang baru.
Agni berjalan ke arah Rio lalu duduk di samping Rio, lesehan
di atas lapangan. Ia menyodorkan handuk kecil dan sebotol minuman untuk Rio.
“thanks”
Agni hanya mengangguk menanggapinya, ia menghela nafas
panjang saat menyadari beberapa peserta cheers
memandanginya dengan tatapan tak suka.
“tadi Cakka gak ngapa-ngapain loe
kan?”
Agni tersenyum masam, kemudian menggeleng.
“oiya hape gue ambilin ya Yo?
Tadi gue lempar sama orang yang ada di rumah loe... yayaya...”
Agni memohon pada Rio dengan wajah yang di buat semanis
mungkin, Rio memang selalu luluh dengan senyuman itu hingga akhirnya ia
mengangguk.
“oke sambil kalian istirahat ini
hasil dari rapat kita semua... ketua team Basket kita yang baru adalah Mario
Aditya Pranata”
Agni melirik Rio dengan cepat, lalu memeluk pemuda itu
memberikan selamat.
“Agni... gue bau keringet”
Agni memamerkan deretan giginya lalu memeluk Rio lagi.
“bodo, pokoknya selamat ya”
Rio terkekeh kemudian mengacak-acak rambut Agni. Semoga kutukan ketua basket sama ketua
cheers jadi pacaran gak mempan sama gue.
“dan kapten team cheers... Gabriel
Pangemanan”
Agni melirik ke arah gadis yang sedari tadi menatapnya
sinis, ya siapa lagi kalau yang tadi di sebutkan, panggilannya itu Keke. Keke tersenyum
puas ke arah Agni seakan dia mengejek. Agni tersenyum sinis.
“oke guys sebagai tanda ucapan
selamat dari kami selaku pengurus basket dan cheers kita ngerayainnya entar
malem di rumah gue”
“boleh bawa orang luar gak? luar
organisasi kitalah contohnya”
Agni melirik sinis pada orang yang bertanya itu, ia tau
maksud pertanyaan itu apa. Agni menoleh pada Rio yang menggenggam tangannya
yang mulai mengepal kesal.
“enggak, kan ini acara kita aja”
Keke menyeringai penuh kemenangan. Rio menghela nafas
panjang saat melihatnya, kemudian mengalihkan pandangannya pada Agni dan
merangkul pundak gadis itu.
“kalo gitu gue gak ikutan kak...”
“lho kenapa?”
Rio melirik Agni, mengeratkan rangkulannya pada gadis itu.
“gue gak bisa pergi tanpa gadis
gue ini, maaf. Bukan maksud gak bisa profesional atau gimana, tapi jujur aja
kalau gue tetep maksain pergi tanpa dia, gue gak bakalan tenang”
Agni menatap Rio, setelah selesai berkata-kata. Agni menarik
pipi Rio agar menghadapnya. Namun Rio tidak bergeming, lalu dengan paksa Agni menarik
Rio agar menghadapnya.
“gue gapapa kok, loe pergi aja”
Rio menggeleng tegas. Ia menyimpan telunjuk di bibirnya
sendiri mengisyaratkan agar Agni diam.
Ia mengalihkan pandangannya pada kakak kelasnya itu.
“gimana kak? Gue pergi sama Agni atau
gak sama sekali”
“oke oke. Loe boleh bawa cewek
loe itu karena loe emang bagian penting dari kita sekarang”
Dengusan kesal kentara sekali keluar dari beberapa gadis
yang ada di sana, sementara Agni hanya bisa menghela nafas berat. Sepertinya ia
akan menjadi bulan-bulanan ejekan lagi.
***
Pemuda itu mengamati ponsel berwarna abu-abu itu. Hanya mengamati,
membolak-balik. Sesekali ia terkekeh, lucu sekali jika membayangkan ekspresi
gadis yang baru ia temui tanpa sengaja itu. Sebuah pesan masuk.
Agni, gimana Rio? jadi ketua gak?
Pemuda itu menaikan satu alisnya. Agni? Nama yang unik.
Ia tak menghiraukan pesan itu kemudian membayangkan gadis
yang bernama Agni itu, membandingkan antara nama dan orangnya. Gadis itu memang unik.
Pemuda itu tersenyum lagi untuk kesekian kalinya.
Tiba-tiba ponsel itu berdering, sebuah panggilan masuk.
Papa...
“hallo Agni”
“khm... hallo”
“lho, siapa kamu? Anak saya dimana?”
“maaf Oom, sebelumnya perkenalkan
dulu saya Gabriel”
“ya... anak saya bagaimana? Dimana?”
“tenang dulu Oom, anak anda tadi
tiba-tiba melemparkan hapenya pada saya dan pergi begitu saja, saya tidak tau
kemana dan dimana dia. Tadinya saya mau mengembalikan hapenya ini tapi saya
tidak tau alamatnya”
“ohh... jadi begitu, kalau begitu kamu datang saja ke jalan Purnama
Siliwangi blok A 5”
“baik Oom, saya usahakan malam
nanti datang kesana, sekitar jam tujuh”
“yasudah terimakasih”
“sama-sama Oom”
Pemuda itu, Gabriel Alexander Fahd. Seorang pemuda yang
baru saja menginjak umur kepala dua beberapa hari yang lalu. Anak tunggal dari
pasangan Sion Alexander Fahd dan Zahra Arlez Fahd, salah satu pengusaha sukses
yang memiliki cabang hingga keluar negeri.
Pemuda itu melirik jam dinding, masih ada waktu dua jam untuk
siap-siap. Pemuda itu merapihkan pakaiannya, kaus panjang yang membalut
tubuhnya yang begitu atletis, celana jeans panjang menghias kaki jenjangnya,
sepatu yang kets yang begitu santai berada di kakinya, lalu ia merapihkan
rambutnya.
“oke Gabriel! Loe keren”
Setelah berujar narsis, ia segera menyambar jaket kulitnya
dan sebuah kunci mobil.
Bertepatan dengan ia yang baru saja akan memasuki mobil,
sebuah mobil memasuki garasi.
“hey Rio”
“Gab? Kapan dateng?”
“tadi pagi agak siangan, yaudah
gue pergi dulu bentaran ya”
“oke”
Gabriel segera menutup kaca mobilnya kemudian melesat
meninggalkan Rio.
Rio tiba-tiba tersenyum, ia baru teringat pada cerita Agni. Jadi maksud dia Gabriel? Haha... masa di
katain maling sih gak sopan banget. Pasti Gabriel juga mau balikin tuh hape.
Rio berjalan memasuki kediamannya dengan tersenyum geli
membanyangkan Agni yang akan cengo jika bertemu lagi dengan Gabriel.
***
Agni membukakan pintu lemarinya dengan lebar, ia
mengeluarkan pakaiannya satu persatu. Ia mencobanya dan berputar-putar di depan
cermin begitu seterusnya sampai ia menemukan baju yang pas, yaitu jeans hitam
kaus tanpa lengan berwarna abu-abu lalu jaket berwarna hitam.
“bukan acara yang formal gini
kan? Lagian tadi Rio bilang santai aja”
Agni bergumam dengan masih mengamati dirinya sendiri agar
tidak terlihat kurang sesuatu dan tidak berlebihan juga. Ia menghela nafas
panjang kemudian beranjak ke kamar mandi.
Tak lama setelah itu Agni keluar, telah fresh.
Tok tok tok
“siapa?”
“bibi non”
“ada apa?”
“makan malam sudah siap, tuan
sudah menunggu”
“iya, sebentar lagi Agni turun”
“baik non, bibi permisi dulu”
Pembantu Agni memang tak pernah ada yang memasuki kamarnya, Agni
selalu membereskan dan membersihkan kamarnya sendiri, baginya kamar adalah
tempat yang paling privacy selain toilet tentunya.
Setelah memastikan penampilannya tidak akan mengecewakan,
kemudian ia beranjak keluar dari kamarnya itu.
Sayup-sayup terdengar suara berat khas laki-laki, tapi bukan
Papanya. Tapi siapa? Agni berjalan mendekati tangga dengan hati-hati.
“Hah?!”
Agni menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Kenapa cowok itu ada di sini? Oh God...
***
Tanpa ragu, Gabriel berjalan menuju pintu utama rumah yang
bernuansa abu-abu itu. Ia menghela nafas panjang kemudian mulai mengetuk pintu.
“permisi”
Gabriel mengetuk pintu itu sekali lagi, lalu keluarlah
seorang lelaki yang ia perkirakan umurnya telah mencapai setengah abad.
“mencari siapa?”
Gabriel tersenyum ramah, ia menundukan sebentar dirinya
tanda hormat.
“apa benar ini rumahnya Agni Oom?”
“iya... kamu yang bernama Gabriel
itu ya?”
Gabriel tersenyum cerah, akhirnya...
“benar Oom... ini saya cuma mau
mengembalikan ini”
Irshad menerima ponsel Agni dari tangan Gabriel, ia
tersenyum ramah pada Gabriel. Sepertinya lelaki
baik-baik dan bertanggung jawab.
“mari masuk dulu, kebetulan kami
akan makan malam... ayo jangan sungkan-sungkan”
Gabriel yang akan menolakpun tidak tega di buatnya, karena
lelaki itu menarik tangannya agar mengikutinya. Gabriel menghela nafas panjang.
“nak Gabriel masih kuliah atau
sudah bekerja?”
Irshad duduk di sofa setelah mempersilahkan duduk pada Gabriel.
Ia duduk santai menghadap pemuda di hadapannya ini, menilai.
“kebetulan saya sudah selesai
kuliah Oom, saya sudah bekerja di Fahd Company”
“tidak usah se kaku itu, gak usah
saya anda segala”
Irshad terkekeh dan di tanggapi dengan senyuman dan anggukan
oleh Gabriel.
“kamu bekerja di bagian apa?”
Gabriel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“kebetulan aku pimpinan Fahd
Company Oom, Direktur Utama”
“ohh... ternyata kamu yang suka
di sebut-sebutkan itu? Wah beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu”
“ahh Oom bisa saja, biasa ajalah
Oom”
Irshad tersenyum, ternyata
rendah hati juga, bener-bener lelaki yang sempurna.
Ia melirik ke arah tangga yang ternyata Agni sedang berada
di ujung atas, sepertinya ragu untuk turun. Irshad tersenyum kecil melihatnya.
“Agni, sini”
Gabriel mengalihkan pandangannya pada arah pandang Irshad. Ia
sedikit terpaku melihat seorang gadis yang baru turun itu, sangat berbeda dari
penampilannya beberapa waktu lalu di kediaman Rio. kali ini terlihat lebih
dewasa, membuat ada desiran halus dalam dadanya. Ya Tuhan... apa ini yang di sebut love at the first sight?
Setali tiga uang dengan Gabriel, Agni-pun merasa terpesona
oleh Gabriel, lelaki yang belum ia kenal itu. Ia merasa lelaki itu lebih
menawan daripada tadi, atau karena gue
ngeliatnya sekilas makanya gak keliatan gantengnya? Oh God, dada gue, jantung
gue...
***
Kening Rio tertaut saat mobil yang sangat ia kenal terparkir
di kediaman Agni.
Sejak kapan Gabriel tau
rumah Agni?
Tanpa berpikir panjang, ia segera berjalan ke pintu utama
dan mengetuknya.
Agni menyambutnya dengan senyuman yang terlihat lebih ceria
dari biasanya.
“Rio... masuk dulu yuk”
Agni menarik tangan Rio agar mengikutinya, Rio menurut saja
saat gadis itu menariknya ke ruangan makan. Dan benar saja perkiraannya. Ternyata benar itu mobil Gabriel.
“hay Yo, ngapain?”
“loe juga ngapain Gab?”
Agni menatap keduanya bergantian. Pikiran-pikiran tentang
hubungan mereka melayang. Apa mungkin mereka adik-kakak? Karena kalau di
lihat-lihat keduanya ada beberapa kemiripan.
“kalian saling kenal?”
Irshad bertanya mewakili puterinya yang nampak bingung untuk
merangkai kata-kata.
“iya Oom, Rio ini anak dari adik
Mama aku”
Irshad mengangguk-angguk mengerti, lalu mengajak Rio mengikuti
makan malamnya.
“terimakasih Oom, tapi kalau
boleh Rio mau ajak Agni main keluar. Ada acara syukuran team basket sekolah”
“eh iya Pa, Agni hampir aja lupa”
“iya deh gapapa, lagian disini
ada Gabriel yang nemenin Papa. Oh ya nak Rio, jam sembilan Agni harus sudah ada
lagi disini ya”
“baik Oom... kalau begitu permisi”
Sebelum beranjak Agni mengecup pipi Papanya terlebih dahulu,
lalu melemparkan senyum pada Gabriel yang ternyata memperhatikannya. Gabriel membalas
senyuman Agni yang membuat gadis itu sedikit terdiam gugup. Oh God... senyumannya...
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment