Thursday, 6 June 2013

Business Arrangement #3

Agni keluar dari kamar mandi dengan berpakaian seragam lengkap dan terus sambil mengumpat, sementara tangannya sibuk mengeringkan rambutnya. Ia mengambil ponselnya lalu menggunakan head set.

“kenapa loe gak bilang dari malem sih Fy? Kan katanya libur sampe minggu? Argh... Pak Duta kan guru senior, mana bawel lagi”
“Agni, gue juga baru tau...”
“well, pokoknya gue gak mau tau loe harus ijinin gue kalo telat”
“Agni... loe taukan Pak Duta gimana? Lagian kok loe tumben-tumbenan kesiangan sih?”
“ck! Gak usah mau tau deh! Bentar gue belum selesai ngomelin loe nya”

Agni berjalan ke arah Alvin yang masih tidur dengan bergulungkan selimut tebal. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Alvin.

“Alvin... bangun, ada pelajaran tambahan woy!”

Alvin menguap, ia mulai membuka matanya dan menatap Agni tanpa minat.

“tambahan apa sih?”

Alvin bertanya dengan suara seraknya. Ia masih enggan untuk beranjak kemana-mana untuk saat ini. tubuhnya masih belum mendukung untuk pergi, masih terasa lelah dan lemas.

“Pak Duta! Hari ini katanya dia juga masuk di kelas loe! Bangun cepet, terus mandi”
“iya”

Alvin mulai mendudukan dirinya. Agni membelalakan matanya saat selimut itu merosot hingga pinggang Alvin. Ia segera membelakangi Alvin dan menutup matanya. Ia benar-benar kaget melihat Alvin tidak mengenakan baju.

“aaa...”
“apa lagi?”

Agni menunjuk ke arah Alvin. Alvin menaikan satu alisnya. Ada apa? Dasar cewek aneh!
Alvin mengamati dirinya, lalu menyeringai jahil. Ia tau pasti Agni menyangka ia naked.

“kenapa Ni? Sini, duduk deketan”
“Alvin! Mandi sana! Ogah gue deket-deket sama loe”
“oke”

Alvin mengangkat selimutnya, hendak menyingkapkan benda itu dari tubuhnya.

“jangan”
“katanya gue harus mandi”
“pake ini”

Agni memberikan handuk yang sedari tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut. Alvin mengangkat satu alisnya kemudian beranjak dari tempat tidur itu dengan handuk yang menyampir di bahunya.
Agni berbalik dan cengo menatap Alvin yang ternyata menggunakan boxernya. Wajahnya terasa memanas, kenapa gue jadi omes gini sih? Oh God! Ini semua gara-gara cowok itu!

“Agni... Agni...”
“eh... hm”
“loe tidur sama Alvin?”
“hm”
“Agni...”
“hm”
“loe gak ngapa-ngapainkan?”
“hm”
“Agni...”
“hm”
“Agni! Jawab yang bener! Hm terus maksudnya apa coba?”
“mau loe? Udah ya, pokoknya gue gak mau tau loe ijinin gue! Titik!”

Agni mulai beranjak menuju meja riasnya, merapihkan rambut yang telah lumayan kering. Gerai aja kali ya? kan masih agak basah.

“Agni... jadi loe udah... fisrt night?”

“Agni! Handuk!”
“kan tadi udah”
“yang ini basah”

“eh... tadi apa Fy? Tapi mendingan udah dulu Fy, entar gue semakin telat lagi”
“tapi jawab dulu... loe udah...”

“Agni cepetan!”
“iya”

“bye Fy”

Setelah mengakhiri perbincangannya dengan Ify, ia beranjak memberikan handuk baru untuk Alvin.
Tak lama setelah itu Alvin keluar dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Agni lagi dan lagi hanya bisa menahan nafas melihat hal itu.

“gak usah nahan nafas gitu! Belum puas loe semalem ngelus-ngelus perut gue?”

Alvin meraih pakaian yang sudah di siapkan Agni tanpa menoleh ke arah Agni yang membelalakan mata bersiap marah.

“matanya biasa aja dong, kalo mau megang sini aja gak usah malu-malu... atau apa gue perlu ganti baju disini?”
“hah?!”

Alvin menyeringai jahil melihat reaksi Agni, lalu ia menurunkan handuknya dan membuat Agni membelakanginya lagi.

“cowok gila!”

***

Agni berjalan dengan tergesa di koridor, ia harus bergerak cepat karena Pak Duta sudah menuju ke kelasnya. Mati gue! Mati! Aduh...
Agni terus mengumpat sepanjang perjalanannya, tanpa mempedulikan Alvin yang entah sudah menghilang kemana dan tatapan ketidak sukaan dari beberapa teman sebayanya.

Saat telah tiba di depan pintu ia mengintip sedikit. Oh God! Telat.
Agni menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia memberanikan diri memasuki kelas.

“Pak... maaf saya terlambat”

Pak Duta mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum tipis ia berjalan ke arah Agni yang menundukkan kepala begitu dalam.
Agni semakin menundukkan kepala saat Pak duta menepuk pundaknya. Ya Tuhan... semoga hari ini hari keberuntungan gue.

“Bapak kira hari ini kamu gak bakalan hadir, sana duduk”
“hah?!”

Agni membelalakan matanya dan menganga tidak percaya. Ternyata do’a kepepetnya terkabulkan juga. Thanks God...

“duduk”
“i..iya Pak”

Agni mendudukan diri di samping Ify yang terlihat cengengesan. Ia mendelik dan membuat Ify diam namun masih terlihat menahan senyumannya.

“loe bilang apa sama Pak Duta?”

Ify hanya memamerkan deretan giginya saat mendengar bisikan penuh tanya Agni. Maaf Agni... karena cuma dengan cara itu yang mampir di otak gue, dan untungnya Pak Duta ngerti.

“apa?”
“hm... ya gue bilang yang real, loe telat karena ya... maklumlah pengantin baru”

Agni membulatkan matanya mendengar alasan itu. Ify... loe bener-bener ya...  Agni menggeram ralam hati.
Ify mengacungkan dua jari kanannya, meminta damai.

“dan alesan itu di terima?”
“yups... guekan pinter”

Agni memutar bola matanya kesal, dengan alasan yang konyol itu gue di ijinin masuk? Elah... kenapa gue harus selamat gara-gara alesan itu sih? -_-.

***

Agni dan Ify duduk di kantin yang berdekatan dengan kelas Rio. mereka memang sedang menunggu pemuda itu yang kebetulan ada kelasnya Pak Duta juga.

“Ag, loe beneran udah... first night?”
“kenapa emangnya?”

Agni yang tidak begitu menyadari jawabannya malah cuek saja menyantap makanan pengganti sarapannya, tidak mempedulikan Ify yang membelalak kaget.

“ya tuhan Agni, loe berdua masih sekolah kali”
“guekan suami istri”
“ampun deh loe! Bilang aja kalo loe yang mau”
“dih gak!”
“terus?”
“terus apaan?”
“Alvin keren gak? berapa lama?”
“apanya?”
“ya...”

Rio datang dengan memegang bola basket, lalu duduk di samping Agni. Kemudian ia melihat ke arah leher Agni dan memutarinya.

“apaan sih loe?”
“gak asik ya si Alvin, gue kira dia beneran ganas”
“ganas apaan?”
“ya...”

Agni memutar bola matanya kesal lalu menarik kepala Ify dan Rio lalu ia benturkan pelan. Kedua sahabatnya ini benar-benar error kayaknya.

“loe berdua tuh pikirannya parah banget ya... mesum banget! Tuhan.... kenapa hambamu yang cantik, baik dan yang pasti gak mesum ini bisa temenan sama mahkluk-mahkluk kayak gini? Apa salah hambamu ini tuhan?”

Rio menjitak kepala Agni kesal, sebelah tangannya masih mengelus-elus kepalanya yang di benturkan oleh Agni pada kepala Ify. Tak berbeda jauh dengan Rio, Ify pun masih mengelus-elus kepalanya.

“gak pake di giniin kali Ag, sakit tau”
“lagian kenapa otak loe konslet gini Fy?”

Agni menggeleng-geleng dramatis sambil mengelus-elus kening Ify, mengejek. Setelah itu ia kembali menyantap makanannya yang tinggal beberapa suap lagi.

“Agni, tumben laki loe gak sibuk sama buku dan gadget-nya? Loe rusak lagi ya?”
“buku? Gadget? Sejak kapan emangnya dia bawa yang begituan? Gak ada kerjaan gue ngerusak barang orang”

Ify melongos mendengar penuturan Agni, ia merasa tidak percaya kalo Agni mengagumi Alvin. Masa kebiasaan sesering itu tidak Agni perhatikan?

“ya Tuhan... Agni loe lupa? kalo setiap loe nabrak dia hapenya suka terpental? Tabletnya? Bukunya? Astaga Tuhan...”

Agni mengeryitkan dahinya lalu menatap Ify aneh. Apa bener? Tapi kok Alvin gak pernah mempermasalahkan itu ya? tapi tunggu, kenapa Ify sebegitu tau tentang Alvin? Apa dia bener-bener mau sama Alvin dan rusak hubungan gue?

“terlalu banyak hal penting yang gue inget, itu bukan hal penting yang harus gue perhatiin dan gue inget”

Agni berkata dengan begitu datar dan dingin. Yang membuat Rio menengok ke arah Agni, ia terkekeh kecil saat melihat perubahan mood Agni.

“ya tapi kan Ni, sekarang Alvin itu laki loe...”
“udah deh Fy, ngapain loe urusin Alvin sih? Menurut gue ya, sebaiknya loe gak usah ikut campur lagi deh, mau Agni peduli atau tidak sama Alvin juga bukan masalahkan buat loe?”

Ify terdiam, ia baru sadar terlalu memasuki kehidupan Agni. Tapi, apa ia tidak boleh kesal pada Agni karena ketidak perhatiannya pada sosok lelaki yang ia suka? Apalagi jika mengingat kalau status Agni adalah istri Alvin. Menurut Ify, keterlaluan kalo Agni tidak memperhatikan suaminya itu.

“ehh Ni, maen yuk... kalo loe kalah loe harus ceritain first night loe, tapi kalau gue yang kalah loe boleh tau apapun yang mau loe tau dari gue”

Agni tersenyum miring, ia sedang merancanakan sesuatu.

“yakin?”

Rio mengangguk pasti kemudian ia berdiri yang di susul oleh Agni.

“ikut gak Fy?”
“gak deh Yo, gue di sini aja”
“oke, yuk Ni”

Keduanya berjalan ke lapangan yang kebetulan tidak begitu jauh dari sana. Keduanya langsung bermain dengan begitu antusias, tapi entah kenapa Rio terlihat tidak melawan Agni, ia hanya menghadang Agni di depannya.

“yes! Masuk Rio... I’m win”

Rio mengerutkan dahinya.

“sejak kapan loe bisa three point? Atau cuma kebetulan?”

Agni terkekeh sambil mendrible bolanya di depan Rio. ia menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

“ya... gue selalu latian biar bisa ngalahin loe Mario, well kayaknya hari ini gue bisa”

Rio menaikkan satu alisnya. Ia selalu terpesona oleh gadis itu jika sedekat ini.
Agni terlihat meloncat lalu mengibaskan rambutnya di hadapan Rio.

“6-0 Mario”

Rio terpaku mendengar bisikan yang begitu sensual dari mulut Agni, ia hanya bisa mengerjabkan mata saat Agni tersenyum manja ke arahnya. Oh God! Apa gue harus buang rasa ini sama dia? Sementara dia sudah memiliki suami?

Saat Agni berjalan ke arahnya dengan santai dengan tangan yang mendrible bola, Rio berjalan ke arah Agni dengan senyuman mautnya. Agni membalas senyuman itu dengan seringaian miring, ia sudah tau akal bulus Rio.
Agni melirik ke arah kantin sejenak tapi kemudian menatap ke arah sana lagi. Pikirannya buyar, konsentrasinya langsung hancur berantakan. Ia tidak menyadari bahwa bolanya sudah di rebut Rio dan membuat Rio mencetak point tiga. Oke Alvin! Kalo itu mau loe! Kayaknya pelajaran semalem belum cukup ya?
Lagi-lagi Agni menyeringai evil merangkai sesuatu di dalam otaknya.

“hey! Lanjut gak nih?”

Agni berbalik ke arah Rio yang menyentuh pundaknya, ia dengan cepat menarik Rio agar ia tak melihat pemandangan di kantin.
Keduanya langsung adu cepat lagi memasukan bola ke dalam ring lawan, Agni ingin berusaha melupakan Alvin yang sedang bersama Ify walau nyatanya gambaran itu semakin jelas saja di matanya saat ia lagi dan lagi melirik ke arah kantin.

“Agni... awas”

Bruk.

Agni jatuh tersungkur di lapangan karena terserimpet kakinya sendiri. Ia meringis kesakitan sambil memegangi sikut dan lututnya yang mulai mengeluarkan darah.

“ya ampun Ag, gue obatin ya”

Rio berjongkok di samping Agni lalu mengangkat gadis itu menuju UKS yang jaraknya cukup jauh dari sana. Rio ta henti-hentinya mengumpat kesal dan sesekali memarahi Agni karena kecerobohannya.

“loe kenapa sih gak fokus gitu? Padahal gue udah mau menang tadi”
“Rio... loe tuh gimana sih ngomelin mulu? Udah deh ya, cepetan ke UKS! Sakit tau”
“iya sayang, tuh udah keliatan pintunya”
“eh eh... hape gue kayaknya bergetar”

Rio mendudukan Agni di bangsal UKS, ia langsung mengambil peralatan untuk membersihkan luka Agni, karena kebetulan penjaga UKS jika weekend memang tidak hadir.

***

Alvin mengerutkan dahinya saat melihat ponselnya bergetar. Kenapa Papa Irshad nelpon gue?
Ia melirik ke arah Ify yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

“siapa Vin?”
“Papa”

“hallo Pa”
“kamu dimana Vin?”
“ya di sekolah Pa”
“iya Papa tau, maksud Papa posisi kamu? Kamu gak tau Agni ke UKS?”
“UKS? Ngapain Pa?”
“katanya jatuh, ya sudahlah Papa cuma mau bilang hari ini Papa mau pergi, jaga Agni”

Ia segera melirik ke arah lapangan, ternyata Agni memang sudah tidak ada di sana. Ia segera berdiri.

“iya Pa”

Alvin langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku dan hendak beranjak. Namun tangannya di raih oleh Ify. Ia berbalik kembali.

“mau kemana?”

Alvin mengerutkan keningnya, kenapa gadis itu jadi aneh Pada dirinya? Apa mungkin sahabat istrinya itu salah satu dari penggemarnya?

“UKS”

Alvin langsung beranjak pergi sebelum gadis itu bertanya lagi, ia duduk di kantin itu supaya bisa mengawasi Agni. Tapi kenapa Agni di bawa ke UKS ia bisa tidak tau? Kenapa ia bisa lengah seperti itu? Bodoh loe Vin! Loe gak boleh lupa ada Rio disini.

Alvin menghentikan langkahnya di depan pintu saat mendengar percakapan Agni dan Rio yang sepertinya menarik untuk ia simak. Ia mendekatkan diri lagi ke dekat pintu.

“gue... ya sebenernya gue suka sama loe, gue juga sayang banget sama loe. Loe itu satu-satunya alesan yang buat gue jomblo sampe saat ini”
“ya Tuhan... maafin gue ya Yo... gue gak tau”
“udahlah, udah gak penting inikan? Loe udah gak mungkin lagi buat bisa suka sama gue”
“tapi Yo, sejak kapan loe suka sama gue?”
“sejak awal kita ketemu pas kita sama-sama kesiangan MOS, itulah alesan kenapa gue selalu mau ada loe di setiap ada acara penting buat gue. tapi sayang... loe malah milih Gabriel dan sekarang? Alvin... yang membuat harapan gue semakin tipis”

Alvin mengerutkan dahinya. Gabriel? Siapa lagi dia? Apa dia cowok yang dulu pernah bikin Agni sampe di hina sama seantero sekolahan? Apa dia lebih segalanya dari gue? Satu lagi, orang yang harus gue singkirin dari kehidupan Agni!

***

Agni menatap Rio yang begitu telaten mengobatinya, ia sudah beberapa kali di obati seperti ini oleh Rio. Rio memang sosok lelaki yang penuh kelembutan, penuh kasih sayang.

“Rio...”
“hn”

Rio tak sedikitpun menoleh ke arah Agni, ia masih mengobati luka yang berada di sikut kiri Agni.

“gue udah boleh nanya?”
“iya, apa?”
“kenapa loe masih jomblo sih? Padahalkan loe tinggal comot aja cewek-cewek penggila loe”

Rio terkekeh, setelah ia membalut luka Agni dengan perban ia kemudian menatap Agni dengan lembut. Ia menyampirkan terlebih dahulu rambut Agni ke telinganya.

“yang mau gue comot keburu di rebut orang terus”

Agni mengerutkan keningnya. Ia memikirkan siapa yang menyukai Rio tapi selalu di gaet orang, Ify? Gak mungkin... diakan gak pernah jadian sama siapapun selama SMA ini karena selalu menunggu Alvin. Mengingat itu membuat Agni semakin rusak saja moodnya. Apalagi sampai saat ini suaminya itu mungkin masih sibuk dengan gadis itu!

“siapa yang loe maksud sih?”
“loe”
“hah?!”

Agni menatap Rio kaget. Serius? Atau hanya becanda? Ia menatap mata Rio mencari jawaban.

“gue... ya sebenernya gue suka sama loe, gue juga sayang banget sama loe. Loe itu satu-satunya alesan yang buat gue jomblo sampe saat ini”
“ya Tuhan... maafin gue ya Yo... gue gak tau”

Agni menggenggam tangan Rio merasa bersalah, kenapa sih ia tidak menjadi wanita peka? Kenapa ia tidak menyadari rasa sayang Rio untuknya? Padahal kalau di ingat-ingat jelas sekali apa yang Rio lakukan untuknya.

“udahlah, udah gak penting inikan? Loe udah gak mungkin lagi buat bisa suka sama gue”
“tapi Yo, sejak kapan loe suka sama gue?”
“sejak awal kita ketemu pas kita sama-sama kesiangan MOS, itulah alesan kenapa gue selalu mau ada loe di setiap ada acara penting buat gue. tapi sayang... loe malah milih Gabriel dan sekarang? Alvin... yang membuat harapan gue semakin tipis”

Rio mengelus pipi Agni dengan sayang, ia tersenyum tipis pada Agni.

“ekhm...”

Rio dan Agni secara bersamaan menoleh ke arah pintu dan melihat Alvin yang sedang bersandar di pintu masuk UKS. Pandangannya begitu datar dan dingin saat melihat kedekatan Agni dan Rio.

“eh Vin, sorry... kalo gitu gue pamit ya Ni”

Rio berdiri dari tempat duduknya, dalam hati ia sangat berat meninggalkan Agni. Tapi, apa ia masih di butuhkan saat ada Alvin di samping Agni? Apa Agni masih butuh bantuannya?
Rio beranjak dari UKS dengan cepat, tidak mempedulikan panggilan Agni untuknya dan tatapan dingin dan tajam dari Alvin.

“ngapain loe kesini? Udah puas ngobrol sama cewek lain sementara istri loe sendiri celaka loe gak tau”

Alvin tersenyum miring, ia masih berdiri di sambang pintu. Sepertinya tidak berminat mendekati Agni.

“cemburu?”

Agni tersenyum masam, ia mendelik ke arah Alvin. Ia tidak tau apa yang ia rasakan, tapi yang pasti itu bukan rasa cemburu.

“terlalu beruntung kalo loe gue cemburuin”
“terus?”

Lagi-lagi Agni hanya tersenyum masam menanggapinya. Ia kemudian berdiri dan berjalan dengan tertatih ke arah Alvin.

“harusnya loe tau gimana caranya menghargai wanita! Gue tau, kita menikah tanpa ada rasa apapun, tapi itu bukan alesan buat gak menghargai gue. Gimanapun juga, gue istri loe! Inget itu Alvin!”

Agni berkata begitu pelan dan sarat dengan penekanan emosi, dengan mata yang tak lepas memandang Alvin dengan begitu tajam. Setelah selesai berkata-kata, ia beranjak dari tempat itu dengan masih tertatih. Ia jadi mengingat Rio, Rio tidak akan pernah tega padanya saat seperti ini, Rio selalu saja membantunya, entah menggendong atau memapahnya. Kenapa gue baru sadar Rio sayang sama gue sekarang sih? Agni... kenapa loe bertingkah bodoh dengan mengabaikan Rio?

“dan dengan alesan itu loe lapor sama Papa?”

Agni menghentikan langkahnya dan berbalik pada Alvin. Ia tersenyum begitu manis pada Alvin.

“gue bukan cewek manja yang suka melapor!”

Setelah mengatakan itu Agni benar-benar pergi dari ruangan itu, ia begitu kesal pada Alvin. Kenapa sampai sekarang dia masih belum bisa menghargainya? Apakah lelaki itu juga menyukai sahabatnya? Keduanya saling menyukai. Agni tersenyum miris. Kenapa ia begitu bodoh dengan mudahnya jatuh pada pelukan Alvin? Memberikan semuanya untuk lelaki itu.

***

Semenjak pulang sekolah sampai malam seperti ini, Alvin tidak sekalipun bertemu dengan Agni. Bahkan untuk menghubunginyapun ia tidak tau bagaimana caranya, karena ponsel Agni mungkin sengaja ia tinggalkana di rumah.
Alvin berulang kali mendesah frustasi, pikirannya benar-benar kacau. Pekerjaannya menumpuk dan Agni sekarang malah hilang.

Alvin sekali lagi mencoba membaca dokumen yang baru ia dapatkan siang tadi, ia mencoba memfokuskan dirinya.

“argh...”

Alvin menghempaskan dokumen itu dengan kesal lalu beranjak mengambil jaket dan kunci mobilnya.
Bertepatan dengan Alvin membuka pintu utama, sebuah mobil yang asing baginya memasuki halaman rumahnya. Ia memicingkan matanya melihat pemilik kendaraan itu, kaca mobil yang hitam itu sangat menyulitkan baginya mengetahui orang yang berada di dalam sana.
Dalam ke remangan ia tau yang berada di dalam sana itu Agni, tapi bersama siapa? Apa mungkin Rio? tapi, katanya Rio bukan cowok yang suka keluar malam. Tapi siapa? Apa mungkin?
Mata Alvin berkilat marah. Cakka!
Ia segera berjalan ke arah pintu penumpang itu dan membukakannya.

“hey! Gak sopan”

Tepat sekali.
Cakka yang entah akan melakukan apa dengan Agni menatap Alvin dengan jengkel. Agni terkekeh melihat ekspresi Cakka, ia mengelus kedua pipi Cakka dengan gemas membuat pemuda itu menghadapnya.

Rahang Alvin mengeras saat ia merasakan Agni mengabaikannya, ia sangat muak dengan pemandangan di hadapannya tapi entah kenapa ia enggan mengalihkan pandangannya ke arah lain. saat wajah Cakka mulai mendekati Agni lagi Alvin segera menarik Agni agar keluar dari mobil itu.

“hey!”

Cakka terjungkal kaget saat Agni di tarik paksa, pasalnya sedari tadi yang menyangga tubuhnya adalah tangan Agni.

“lepas! Apaan sih loe”

Agni menatap tajam ke arah Alvin. Keduanya saling melempar tatapan tajam.

“Agni... gue pulang atau gimana?”

Agni mengalihkan pandangannya pada Cakka, lalu tersenyum manis pada pemuda itu. Ia mengangguk kemudian melambaikan tangannya saat pemuda itu menutup pintu penumpang.

Alvin masih menatap Agni, sebenarnya apa yang dia mau? Seperti apa sikap yang ia inginkan? Selembut Rio atau seagresif Cakka?
Alvin berjalan mengikuti Agni, ia tidak mau berdebat di luar rumah yang akan menciptakan kegaduhan untuk orang lain.

“Agni mau loe itu apa sih? Loe mau di hargain?”

Agni terkekeh yang di buat-buat tanpa menghentikan langkahnya. Ia merasa gila saat ini.

“gimana gue bisa menghargai loe kalo loe gak menghargai gue?”

Alvin berkata begitu dingin tapi tajam yang membuat Agni menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar. Agni berbalik menatap Alvin dengan tatapan mengejek.

“gue gak menghargai loe? Kalo gue gak menghargai loe,  gue gak akan rapihin baju loe di lemari gue! Gue gak akan siapin baju tiap loe mau pergi! Gue gak akan ijinin loe tidur di kamar gue! Nyentuh gue! Sampai...”
“itu kewajiban”

Agni menatap Alvin semakin tajam saat mendengar desisan itu.

“gue tau... tapi apa itu gak cukup buat loe coba hargain gue?”

Keduanya saling bertatapan namun tidak ada tatapan tajam dan tatapan penuh kebencian lagi. Keduanya saling menatap dengan tatapan sayu.

“mulai malem ini, loe jangan tidur di kamar gue lagi”

BLAM

Alvin menatap pintu yag di banting oleh Agni begitu keras. Ia menghela nafas lebih dalam. ia sadar, bukan saatnya yang tepat mencari siapa yang salah dalam hal ini, siapa yang menjadi korban antara mereka. apa gue bener-bener keterlaluan sama Agni? Tapi, apa yang membuat dia sebegitu marahnya sama gue?

Alvin tersenyum saat pintu kembali Agni buka. Ia menatap Agni iba, ia tau Agni menangis, cairan bening di pelupuk matanya masih sangat banyak terkumpul.
Alvin mengulurkan tangannya menghapus air mata itu. Agni memejamkan mata saat Alvin menyentuh pipinya, namun beberapa saat kemudian ia menepis tangan Alvin.

“anggap saja semua yang kita lakukan kemaren sebuah kesalahan! Karena gue udah anggap itu sebuah kebodohan besar yang pernah gue lakukan!”

Kebodohan?
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Alvin, silih berganti dengan wajah Agni yang benar-benar menyiratkan sebuah penyesalan.
Ada yang kosong dalam dadanya, di satu sisi ada bagian yang sesak. Alvin bener-benar tidak menyangka, ternyata ruang Agni dalam dirinya itu sangatlah besar. Hingga, di saat Agni menghilang dadanya terasa sangat hampa.

Dua hari bersama Agni memberikan efek yang sangat besar. Gadis dengan kepribadian luar biasa, yang secara tidak sadar membuat hatinya terisi penuh olehnya. Terisi penuh... hingga celah terkecilpun terisi dengan Agni dan... Agni.

***


Bersambung...

No comments:

Post a Comment