Agni menundukan kepalanya dalam-dalam, ia belum bisa menatap
langsung orang yang berada di hadapannya ini. Dia nampak marah, kesal, juga
bingung. Agni menghela nafas berat untuk ke sekian kalinya kemudian mengangkat
wajahnya hendak berkata. Namun, lagi-lagi ia urungkan saat melihat wajah pemuda
di hadapannya ini.
“Agni gila ya loe! Bener-bener
gila! Untung gue yang dateng! Gimana kalo Alvin? Loe mau bilang gimana sama dia
HAH?! Gue tau ngamuknya Alvin kayak gimana! Dan gue yakin loe juga tau!”
Agni mengangkat wajahnya, kali ini menatap yakin wajah
pemuda itu dengan sayu. Dalam hati ia mengiyakan apa kata pemuda itu, Alvin
akan seperti orang kesurupan saat marah. Agni menghela nafas berat.
“Iya Deb Iya! Untung loe yang
dateng. Dan please... gue mohon loe jangan bilang masalah ini sama Alvin, yang
tau cukup loe sama gue! Kalo loe gak ngomong apapun, gue yakin Alvin gak
bakalan tau.”
Pemuda itu, Debo. Ia menghela nafas begitu panjang. Tujuan
awal datangnya ia kesini itu di berikan mandat oleh Alvin mengawasi Agni, dan
mengatakan apapun yang mencurigakan dari Agni. Tapi masalah ini? Apa iya harus
menceritakannya juga?
Debo menatap Agni, ia mengusap wajahnya, bingung.
“Please Deb, gue mohon... gue
janji gak bakalan masuk lagi apartemen itu. Itu terakhir kalinya.”
Agni menyatukan kedua tangannya memohon pada pemuda itu.
“Oke! Ini pertama dan terakhirnya
gue nolong loe.”
Agni tersenyum begitu lebar. Wajahnya kembali lagi menjadi
cerah.
“Makasih Deb, loe emang the
best.”
Debo terkekeh, ia berjalan ke arah pantry mengambil minuman.
“The best sih the best, tapi gak
di suruh bohong juga kan?”
Agni terkekeh begitu melihat aksi Debo yang ternyata belum
berbeda jauh dari dulu. Kalau kesal selalu meneguk minuman satu gelas dengan
satu tegukan. Seperti yang dia lakukan barusan.
“Gue bantu loe deketin Ify lagi
deh, dia masih jomblo lho. Jomblo gagal move on.”
Debo tersenyum masam, ia kurang yakin. Debo melirik ke arah
Agni.
“Boleh juga.”
***
Alvin dan Agni kini sedang berada dalam perjalanannya menuju
rumah baru mereka. Sebenarnya rumah Alvin yang ia dapatkan dari Papa Dayat,
sebagai kado ulang tahunnya yang ke 17 beberapa bulan lalu.
“Al... ini yakin jalannya?”
Agni menatap tidak percaya ke arah jalanan yang begitu
sering ia lewati ini. Jalan menuju kediaman Rio. Agni memejamkan matanya
sejenak. Semoga di perempatan depan gak
belok kiri.
Agni memohon dalam hatinya begitu berharap, kalau belok kiri
ia bakalan jadi gagal move on kayak Ify. Udah
di suruh lupain, kenapa dia malah secara gak langsung deketin aku sama Rio? Oh God, berikan aku kemudahan
menjalani kehidupan ini.
Di perempatan Agni menengok ke arah kiri, untungnya mobil
yang di kendarai suaminya itu malah lurus yang artinya jauh dari kediaman Rio. Selamat... thanks God.
Alvin melirik ke arah Agni yang masih terlihat bingung, ia
mengulurkan tangannya untuk menggapai kepala Agni. Agni berbalik ke arah Alvin
saat tangan besar itu menyentuhnya. Ia tersenyum lalu meraih tangan Alvin.
“Masih lama Al? Aku mau
istirahat.”
Alvin tersenyum, ia mengenggam tangan Agni, memberikannya ke
kuatan. Kenapa dia jadi lemah gini? Oh
God jangan sampe deh ‘jadi’ sekarang. Aku masih belum puas menikmati masa muda.
“Agni, kamu belum datang bulan?”
Agni mengerutkan dahinya, ia mengangkat satu alisnya.
“Udah, baru aja tadi. Aku emang
gini kalo lagi dapet, gak enak ngapa-ngapain maunya tidur aja.”
Tanpa sadar Alvin menghela nafas lega, ia menyandarkan
kepalanya pada sandaran kursi sementara tangan kanannya masih mengendalikan
kemudi.
“Yaudah, kalo gitu biar aku yang
urus semuanya. Beresin rumah, masak, siapin baju.”
Agni terkekeh, ia menepuk pipi Alvin dengan gemas. Kenapa
aneh gitu sih? Padahal gak perlu segitunya juga kali.
“Emang kamu bisa? Urusan itu biar
aku aja Al, gak usah manjain aku gitu ahh.”
“Gapapa kok, lagian ada Pak Abner
sama Ibu Gita yang bantuin”
Pajero Alvin berhenti di depan sebuah pagar yang menjulang
tinggi, tak lama setelah itu gerbang itu terbuka lalu Alvin membawa masuk mobilnya.
“Tuan Alvin”
Alvin tersenyum pada pasangan suami istri itu. Ia menarik
Agni agar mendekat ke arahnya, ia merangkul pinggang Agni begitu mesra.
“Agni, ini Pak Abner dan Ibu
Gita, mereka yang ngurusin rumah aku. Pak, Bu, ini istri aku”
Bergantian Agni menyalami mereka. Agni suka dengan sikap
mereka yang begitu sopan. Tidak begitu canggung tapi tetap dalam kadar sopan.
Agni memasuki kediaman yang bergaya Europa itu, ia
mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Barang-barangnya di tata
begitu rapih dan begitu cocok di latakkan di setiap sudutnya. Ada beberapa
barang antik, juga modern. Dua perpaduan yang membuat Agni begitu takjub.
“Bagaimana? Kamu suka?”
Agni menoleh ke arah Alvin yang berdiri setia di sampingnya,
ia tersenyum begitu bahagia pada suaminya itu kemudian memeluknya. Meluapkan
seluruh kebahagiaannya, ini benar-benar rumah yang ia impikan.
“Suka banget Al, apa ini rumah
impian kamu?”
Agni melepaskan pelukannya lalu memandang Alvin ingin tau.
Alvin tersenyum lalu menggeleng.
Agni mengerutkan dahinya, heran.
“Terus? Kenapa buat rumah yang
kayak gini?”
“Karena orang yang akan menjadi
istriku, dulu sangat memimpikan punya rumah kayak gini.”
Agni semakin mengerutkan dahinya, bibirnya mulai mengerucut
sebal. Sepanjang ia mengagumi lelaki itu, meskipun ia bukan orang yang suka
ngorek-ngorek informasi tapi yang ia tau lelaki ini tidak pernah memiliki
pacar. Apa mungkin dia punya tapi beda sekolah?
“Siapa?”
Agni bertanya dengan sedikit tidak rela. Ia tidak siap
mendengarkan jawaban dari Alvin.
Alvin terkekeh melihat wajah Agni yang mulai tidak enak di
pandang, ia menarik Agni dalam pelukannya.
“Ya kamu lah.”
Deg!
Jantung Agni berdegup begitu kencang, debaran itu semakin
menjadi saja, dadanya juga terasa menghangat dengan sendirinya. Apa benar Alvin
sebegitu mengetahui tentangnya?
“Beneran... Al?”
Alvin mengecup puncak kepala Agni gemas, kalau saja ia tega
pasti ia akan mencubiti wanita itu dengan gemas. Kenapa dia masih meragukanku sih? Heuh!
“Emang siapa lagi? Ini rumah impian
kamu kan?”
Agni mengangguk semangat. Ia membenamkan wajahnya di dada
Alvin semakin dalam, ia sangat bahagia, sangat amat bahagia. Tuhan... apa ini cara dia buat aku jatuh
cinta? Aaa... Alvin aku cinta banget sama kamu, kamu bener-bener ngerti banget
sama aku Al...
“Tapi, darimana kamu tau?”
Alvin mengerutkan dahinya. Ia melepaskan pelukannya, lalu
memegang kedua bahu Agni. Menatap wanita itu dengan heran.
“Kamu gak inget?”
Dengan polosnya Agni menggeleng. Alvin melongos kemudian
dengan gemas mencium bibir Agni beberapa saat.
***
Agni memasuki kelasnya dengan riang, setelah Alvin berlalu
menuju kelasnya ia langsung berhamburan duduk di samping Ify.
“Seneng banget nih kayaknya.”
Agni tersenyum lebar. Ia mengluarkan ponselnya.
“Gue ada sesuatu buat loe! Nih.”
Ify membelalakkan matanya. Ia begitu kaget dengan apa yang
ia lihat. Apa bener ini...
“Debo?”
“Yup, bener banget. Dia
sekertarisnya Alvin sekarang.”
“Hah?!”
“Iya Ify, jadi kemaren tuh gue ke
kantornya Alvin. Ehh ternyata dia ada.”
“Gue mau ketemu. Please ya Ag?
Gue kangen banget sumpah.”
Ify menatap Agni dengan nanar, ia benar-benar merindukan
sosok itu. Cinta pertamanya. Beberapa tahun tidak bertemu membuatnya merasa
begitu merindukannya.
Agni memeluk Ify.
“Itu tujuan gue kok. Gue yakin
loe kangen sama dia, mau ketemu sama dia dan ternyata benerkan?”
Ify mengurai pelukannya lalu tersenyum.
“Thanks ya... loe emang paling
ngerti gue Ni”
Agni tersenyum, ia senang melihat sahabatnya ini bisa
bahagia. Semoga dengan ini loe bisa lupain
Alvin Fy.
“Ag, gue liat akhir-akhir ini loe
ngehindarin Rio. kenapa?”
Agni mengambil buku-bukunya, mengalihkan perhatiannya dari
Ify. Ia tidak senang jika harus membahas itu. Ia tidak tau harus menjawab apa.
“Ag...”
Ify menepuk pundak Agni yang membuat Agni menatap Ify, ia
menghela nafas panjang.
“Cerita sama gue.”
“Gak seharusnya wanita yang sudah
punya suami masih deket sama lelaki lain.”
Agni berujar dengan mengalihkan pandangan ke arah buku. Ia
tidak ingin membahasnya, membahasnya hanya membuatnya sakit hati.
“Tapi semua orang tau kita itu
sahabatan Ag, gue, loe dan Rio. Apa salah wanita yang mempunyai suami punya
sahabat laki-laki?”
“Loe gak akan pernah ngerti Fy.”
Agni berdiri sambil meraih buku-nya kemudian ia berlalu
begitu saja dari ruangan kelasnya. Sorry
Fy, gue gak bisa cerita masalah ini.
***
Alvin menatap Agni yang beberapa hari ini terlihat lebih
diam, beberapa hari ini ia tidak melihat wanita itu berada di lapangan basket
dan beberapa hari ini pula wanita itu tidak keluar malam. Alvin mem-black list
seluruh daftar contact Rio dan Cakka agar tidak bisa menghubungi Agni lagi.
Agni juga tidak mempermasalahkan itu karena pada dasarnya ia memang sedang
ingin memfokuskan diri pada UAS dan UN nya yang telah ada di depan mata.
Agni menengok ke arah Alvin saat lelaki itu meraih pipi
kirinya. Ia tersenyum pada Alvin lalu menyimpan buku yang sedari tadi ia baca.
“Serius banget. Gak pusing?”
Alvin mengelus pipi Agni dengan lembut, lalu menarik wanita
itu agar merebahkan diri di dadanya saat dia menggelengkan kepalanya. Agni
kembali membaca bukunya sementara Alvin hanya memperhatikannya dengan kedua
tangan yang di lingkarkan di pinggang Agni. Tak bisa ia pungkiri bahwa ia
khawatir melihat Agni yang seserius ini, takut terjadi apa-apa. Entah sakit
atau apa, yang pasti ia khawatir.
Alvin mengalihkan pandangannya ke ruangan utama rumahnya, ia
rasa ia mendengar dentuman sepatu yang bertumbukan dengan lantai. Ia
menggoyangkan lengan Agni, yang membuatnya menengok ke arah Alvin. Apa?
“Ada tamu, Papa mungkin.”
Agni segera berdiri merapihkan pakaiannya, begitupun juga
Alvin. Keduanya langsung berjalan ke arah ruangan utama yang ternyata memang
ada kedua Papanya yang sudah di jamu oleh Ibu Gita.
“Papa... kok gak bilang mau
kesini.”
Agni berjalan ke arah Irshad dan duduk di samping Papanya
itu. Melepas rindu karena beberapa hari tidak bertemu pasca kepulangannya dari
Singaphore.
“Papa kan mau kasih kejutan.”
Irshad mengacak-acak rambut puterinya itu, pada awalnya ia
sempat kaget saat mengetahui Agni pindah. Karena, ia tidak yakin ia bisa jauh
dari rumah, apalagi jika mengingat sifat manjanya.
“Gak biasanya nih dateng kesini
Pa. Ada apa?”
Alvin duduk di kursi yang di peruntukan hanya untuk satu
orang, ia menatap Papanya yang sedang terkekeh melihat tingkah Agni.
Dayat mengalihkan pandangannya pada Alvin, begitupun Irshad.
“Papa cuma mau membicarakan
tentang Praha.”
Alvin mengerutkan keningnya, heran. Setaunya, perusahaan
yang ia kembangkan itu tidak terdapat masalah apapun.
“Emang kenapa Pa? Ada masalah?”
“Enggak, Papa pikir untuk
sementara biar Papa aja yang urus Praha. Biar kamu dan Agni fokus sama ujian
dulu.”
Alvin mengangguk mengerti, ia melirik Agni yang juga sedang
mengangguk-anggukan kepalanya.
“Yaudah terserah Papa aja sih
kalau Alvin.”
Dayat tersenyum, ia senang puteranya sekarang berubah. Tidak
lagi begitu tergila-gila dengan yang namanya pekerjaan. Dulu, Alvin tidak
pernah mau jika Papanya meminta seperti itu. Tapi sekarang? Ia benar-benar
berbeda.
Dayat berdiri lalu di ikuti oleh Irshad. Agni dan Alvin
kompak menatap ke arah Papa mereka.
“Yaudah, kalo gitu kita pamit
dulu. Yang rajin belajarnya ya... jangan berudaan terus.”
Irshad mengelus puncak kepala puterinya itu, Agni
menggembungkan pipinya saat mendengar ucapan terakhir dari Papanya. Ihh gimana bisa gak berdua terus? Orang
kemana-mana berdua.
Alvin dan Agni mengantarkan Papa mereka ke depan, hingga
memasuki mobilnya masing-masing.
“Hati-hati Pa.”
Agni melambaikan tangannya ke arah Irshad dan Dayat. Ia
melirik Alvin saat kedua Papanya telah berlalu. Lelaki di sampingnya itu tampak
kebingungan.
“Kenapa Al?”
Alvin menoleh ke arah Agni, ia tersenyum tipis.
“Aku yakin sebenernya mereka
kesini bukan cuma buat itu deh.”
“Maksud kamu?”
“Ya kalo cuma masalah itu bisakan
lewat telpon. Tapi ini? aku yakin mereka ada tujuan lain, melihat ke adaan kita
mungkin.
Agni nampak berpikir. Bener
juga ya...
Ia melirik ke arah Alvin yang dengan setia berjalan di
sampingnya. Melihat lelaki itu dari arah dekat membuat ada rasa lain, padahal
ini bukan kali pertamanya ia menatap lelaki itu, tapi entah kenapa rasanya
masih aja sama. Ia selalu merasakan wajahnya memanas saat Alvin tanpa sengaja
meliriknya yang juga sedang melirik ke arah lelaki itu.
***
Seusai makan malam Agni kembali mengambil buku-buku dan kaca
matanya. Ia menyandarkan dirinya ke pagar balkon kamarnya, menikmati udara
malam meski tidak baik untuk kesehatan.
Alvin menggelengkan kepalanya saat melihat Agni, setiap
malam semenjak mereka berada di rumah ini, Agni memang selalu menghabiskan
waktu membacanya di balkon itu. Alvin menghela nafas, ia mengambil buku-bukunya
juga kemudian mulai membacanya di sofa yang berada di kamar itu, menghadap ke
arah Agni.
Alvin mendengar deringan ponsel Agni, ia mengambilnya karena
kebetulan berada di meja di dekatnya. Ia menaikan satu alisnya saat melihat si
pemanggil itu. Kemudian Alvin berjalan ke arah Agni memberikan ponsel itu pada
pemiliknya.
“Dari siapa?”
“Ify.”
Agni meraih ponselnya lalu menekan tombol eccept, kemudian
ber-say hai bersama sahabatnya itu.
“Ag, mana Debo yang loe janjiin? Katanya dia bakalan nelpon atau sms
gue. Kok gak ada sih sampe sekarang? Udah seminggu lho.”
“Gue gak tau, sibuk kali.”
“Tanyain dong sama Alvin, yayaya...”
“Iya.”
Agni melirik Alvin yang ternyata sedang memperhatikannya.
“Debo lagi sibuk ya?”
Alvin mengerutkan dahinya, heran.
“Enggak.”
“Katanya enggak Fy, lagi sibuk
sama urusan pribadinya mungkin.”
“kalo loe tau, kasih tau gue ya.”
“oke.”
Agni mengakhiri percakapannya, ia kemudian menyimpan ponselnya
di lantai. Ia kembali meraih bukunya untuk di baca.
Alvin menarik Agni agar menyandarkan diri di dadanya, ia
sangat menyukai posisi itu karena dengan begitu ia bisa menghirup lebih leluasa
wanginya rambut Agni yang sangat ia sukai. Ia melingkarkan satu tangannya di
perut Agni, sementara sebelah lagi memegang buku yang sedang ia baca juga.
Alvin memejamkan matanya dalam-dalam kemudian mengatur
nafasnya. God! Aku rasa ini bukan
waktunya... sadarkan aku...
Alvin mengurai pelukannya, ia tidak tahan dalam posisi
seperti itu.
Agni menoleh ke arah Alvin, lelaki itu tidak meliriknya sama
sekali. Ia malah berlalu ke arah kamar tanpa pamit. Ia mengerutkan dahinya saat
lelaki itu menaiki tempat tidur. Ia melirik jam. Kenapa dia? Capek kali ya? tumben banget jam segini udah mau tidur.
Agni berjalan ke arah Alvin kemudian mendudukan dirinya di
tepi ranjang. Ia mengelus kepala Alvin yang di benamkan di bantal. Lelaki itu
tidak bergeming.
“Al... kenapa?”
Alvin masih tidak bergeming, ia masih tetap dalam posisi
telungkupnya. Berusaha menghindari Agni.
Agni mendekatkan dirinya ke arah Alvin.
“Al...”
“Kau akan membunuhku jika
berbisik seperti itu Agni!”
“Eh...”
Agni memundurkan dirinya menjauhi Alvin, ia menggembungkan
pipinya kesal. Kenapa sih Alvin jutek gitu? Ngeselin! Nyebelin!
“Dasar resek! Udah untung di
tanyain. Ngeselin!”
Alvin membalikan badannya saat mendengar umpatan istrinya
itu. Ia heran, kenapa wanita ini belum juga peka terhadap ke inginannya?
Padahal sudah hampir satu bulan mereka menikah.
Alvin menarik Agni, menjadikan wanita itu berada di atasnya
dengan kedua tangan menjadi tumpuannya.
“A.ada apa?”
Ingin sekali Alvin tertawa saat melihat kegugupan itu
bercampur dengan rona merah di wajahnya. Benar-benar lucu dan menggemaskan.
Tapi, ia tidak ingin menghancurkan momen ini hanya dengan hal konyol seperti
itu.
“Udah selesai?”
Agni menelan ludah sukar, ia mengedarkan pandangannya ke
arah lain menghindari tatapan Alvin.
“A.apanya?”
Alvin menyeringai nakal, ia menggulingkan Agni menjadikan wanita
itu berada di bawahnya. Ia lagi-lagi tersenyum.
“Tunggu! Aku ke kamar mandi
dulu.”
Agni membulatkan matanya. Lelaki itu kembali menyeringai
nakal ke arahnya sesaat sebelum memasuki kamar mandi. Apa maunya? Alvin ngeselin!
***
Agni berjalan ke arah kamar mandi dengan sesekali
meregangkan badannya yang terasa begitu pegal itu. Badannya terasa remuk
setelah menerima perlakuan ‘kasar’ Alvin.
Agni berjalan ke arah
westafel, untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu. Ia menatap pantulan dirinya
di cermin. Oh God, kenapa ini? Agni
memegang lehernya yang terlihat memerah.
Alvin! Loe tuh resek
banget sih... hari ini Ujian bego! Ihh dasar!
Saat Agni hendak beranjak menuju bathtub ia melihat sebuah
kotak yang aneh menurutnya. Ia meraih kotak itu. Apa ini?
Agni membuka kotak itu, dan...
“Ya Tuhan... darimana Alvin dapet
yang kayak beginian?”
***
Bersambung.
Gak ngefeel? Banget!
Di tengah-tengah
tiba-tiba kehilangan feel. Maaf ya... :(
Yang mau tag tetep komen ya :) dan jangan lupa tinggalkan jejak :)
Terimakasih udah mau
baca :D
No comments:
Post a Comment