Sunday, 16 June 2013

Business Arrangement #6

Agni menundukan kepalanya dalam-dalam, ia belum bisa menatap langsung orang yang berada di hadapannya ini. Dia nampak marah, kesal, juga bingung. Agni menghela nafas berat untuk ke sekian kalinya kemudian mengangkat wajahnya hendak berkata. Namun, lagi-lagi ia urungkan saat melihat wajah pemuda di hadapannya ini.

“Agni gila ya loe! Bener-bener gila! Untung gue yang dateng! Gimana kalo Alvin? Loe mau bilang gimana sama dia HAH?! Gue tau ngamuknya Alvin kayak gimana! Dan gue yakin loe juga tau!”

Agni mengangkat wajahnya, kali ini menatap yakin wajah pemuda itu dengan sayu. Dalam hati ia mengiyakan apa kata pemuda itu, Alvin akan seperti orang kesurupan saat marah. Agni menghela nafas berat.

“Iya Deb Iya! Untung loe yang dateng. Dan please... gue mohon loe jangan bilang masalah ini sama Alvin, yang tau cukup loe sama gue! Kalo loe gak ngomong apapun, gue yakin Alvin gak bakalan tau.”

Pemuda itu, Debo. Ia menghela nafas begitu panjang. Tujuan awal datangnya ia kesini itu di berikan mandat oleh Alvin mengawasi Agni, dan mengatakan apapun yang mencurigakan dari Agni. Tapi masalah ini? Apa iya harus menceritakannya juga?
Debo menatap Agni, ia mengusap wajahnya, bingung.

“Please Deb, gue mohon... gue janji gak bakalan masuk lagi apartemen itu. Itu terakhir kalinya.”

Agni menyatukan kedua tangannya memohon pada pemuda itu.

“Oke! Ini pertama dan terakhirnya gue nolong loe.”

Agni tersenyum begitu lebar. Wajahnya kembali lagi menjadi cerah.

“Makasih Deb, loe emang the best.”

Debo terkekeh, ia berjalan ke arah pantry mengambil minuman.

“The best sih the best, tapi gak di suruh bohong juga kan?”

Agni terkekeh begitu melihat aksi Debo yang ternyata belum berbeda jauh dari dulu. Kalau kesal selalu meneguk minuman satu gelas dengan satu tegukan. Seperti yang dia lakukan barusan.

“Gue bantu loe deketin Ify lagi deh, dia masih jomblo lho. Jomblo gagal move on.”

Debo tersenyum masam, ia kurang yakin. Debo melirik ke arah Agni.

“Boleh juga.”

***

Alvin dan Agni kini sedang berada dalam perjalanannya menuju rumah baru mereka. Sebenarnya rumah Alvin yang ia dapatkan dari Papa Dayat, sebagai kado ulang tahunnya yang ke 17 beberapa bulan lalu.

“Al... ini yakin jalannya?”

Agni menatap tidak percaya ke arah jalanan yang begitu sering ia lewati ini. Jalan menuju kediaman Rio. Agni memejamkan matanya sejenak. Semoga di perempatan depan gak belok kiri.
Agni memohon dalam hatinya begitu berharap, kalau belok kiri ia bakalan jadi gagal move on kayak Ify. Udah di suruh lupain, kenapa dia malah secara gak langsung deketin aku  sama Rio? Oh God, berikan aku kemudahan menjalani kehidupan ini.
Di perempatan Agni menengok ke arah kiri, untungnya mobil yang di kendarai suaminya itu malah lurus yang artinya jauh dari kediaman Rio. Selamat... thanks God.

Alvin melirik ke arah Agni yang masih terlihat bingung, ia mengulurkan tangannya untuk menggapai kepala Agni. Agni berbalik ke arah Alvin saat tangan besar itu menyentuhnya. Ia tersenyum lalu meraih tangan Alvin.

“Masih lama Al? Aku mau istirahat.”

Alvin tersenyum, ia mengenggam tangan Agni, memberikannya ke kuatan. Kenapa dia jadi lemah gini? Oh God jangan sampe deh ‘jadi’ sekarang. Aku masih belum puas menikmati masa muda.

“Agni, kamu belum datang bulan?”

Agni mengerutkan dahinya, ia mengangkat satu alisnya.

“Udah, baru aja tadi. Aku emang gini kalo lagi dapet, gak enak ngapa-ngapain maunya tidur aja.”

Tanpa sadar Alvin menghela nafas lega, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sementara tangan kanannya masih mengendalikan kemudi.

“Yaudah, kalo gitu biar aku yang urus semuanya. Beresin rumah, masak, siapin baju.”

Agni terkekeh, ia menepuk pipi Alvin dengan gemas. Kenapa aneh gitu sih? Padahal gak perlu segitunya juga kali.

“Emang kamu bisa? Urusan itu biar aku aja Al, gak usah manjain aku gitu ahh.”
“Gapapa kok, lagian ada Pak Abner sama Ibu Gita yang bantuin”

Pajero Alvin berhenti di depan sebuah pagar yang menjulang tinggi, tak lama setelah itu gerbang itu terbuka lalu Alvin membawa masuk mobilnya.

“Tuan Alvin”

Alvin tersenyum pada pasangan suami istri itu. Ia menarik Agni agar mendekat ke arahnya, ia merangkul pinggang Agni begitu mesra.

“Agni, ini Pak Abner dan Ibu Gita, mereka yang ngurusin rumah aku. Pak, Bu, ini istri aku”

Bergantian Agni menyalami mereka. Agni suka dengan sikap mereka yang begitu sopan. Tidak begitu canggung tapi tetap dalam kadar sopan.

Agni memasuki kediaman yang bergaya Europa itu, ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Barang-barangnya di tata begitu rapih dan begitu cocok di latakkan di setiap sudutnya. Ada beberapa barang antik, juga modern. Dua perpaduan yang membuat Agni begitu takjub.

“Bagaimana? Kamu suka?”

Agni menoleh ke arah Alvin yang berdiri setia di sampingnya, ia tersenyum begitu bahagia pada suaminya itu kemudian memeluknya. Meluapkan seluruh kebahagiaannya, ini benar-benar rumah yang ia impikan.

“Suka banget Al, apa ini rumah impian kamu?”

Agni melepaskan pelukannya lalu memandang Alvin ingin tau. Alvin tersenyum lalu menggeleng.
Agni mengerutkan dahinya, heran.

“Terus? Kenapa buat rumah yang kayak gini?”
“Karena orang yang akan menjadi istriku, dulu sangat memimpikan punya rumah kayak gini.”

Agni semakin mengerutkan dahinya, bibirnya mulai mengerucut sebal. Sepanjang ia mengagumi lelaki itu, meskipun ia bukan orang yang suka ngorek-ngorek informasi tapi yang ia tau lelaki ini tidak pernah memiliki pacar. Apa mungkin dia punya tapi beda sekolah?

“Siapa?”

Agni bertanya dengan sedikit tidak rela. Ia tidak siap mendengarkan jawaban dari Alvin.
Alvin terkekeh melihat wajah Agni yang mulai tidak enak di pandang, ia menarik Agni dalam pelukannya.

“Ya kamu lah.”

Deg!
Jantung Agni berdegup begitu kencang, debaran itu semakin menjadi saja, dadanya juga terasa menghangat dengan sendirinya. Apa benar Alvin sebegitu mengetahui tentangnya?

“Beneran... Al?”

Alvin mengecup puncak kepala Agni gemas, kalau saja ia tega pasti ia akan mencubiti wanita itu dengan gemas. Kenapa dia masih meragukanku sih? Heuh!

“Emang siapa lagi? Ini rumah impian kamu kan?”

Agni mengangguk semangat. Ia membenamkan wajahnya di dada Alvin semakin dalam, ia sangat bahagia, sangat amat bahagia. Tuhan... apa ini cara dia buat aku jatuh cinta? Aaa... Alvin aku cinta banget sama kamu, kamu bener-bener ngerti banget sama aku Al...

“Tapi, darimana kamu tau?”

Alvin mengerutkan dahinya. Ia melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua bahu Agni. Menatap wanita itu dengan heran.

“Kamu gak inget?”

Dengan polosnya Agni menggeleng. Alvin melongos kemudian dengan gemas mencium bibir Agni beberapa saat.

***

Agni memasuki kelasnya dengan riang, setelah Alvin berlalu menuju kelasnya ia langsung berhamburan duduk di samping Ify.

“Seneng banget nih kayaknya.”

Agni tersenyum lebar. Ia mengluarkan ponselnya.

“Gue ada sesuatu buat loe! Nih.”

Ify membelalakkan matanya. Ia begitu kaget dengan apa yang ia lihat. Apa bener ini...

“Debo?”
“Yup, bener banget. Dia sekertarisnya Alvin sekarang.”
“Hah?!”
“Iya Ify, jadi kemaren tuh gue ke kantornya Alvin. Ehh ternyata dia ada.”
“Gue mau ketemu. Please ya Ag? Gue kangen banget sumpah.”

Ify menatap Agni dengan nanar, ia benar-benar merindukan sosok itu. Cinta pertamanya. Beberapa tahun tidak bertemu membuatnya merasa begitu merindukannya.
Agni memeluk Ify.

“Itu tujuan gue kok. Gue yakin loe kangen sama dia, mau ketemu sama dia dan ternyata benerkan?”

Ify mengurai pelukannya lalu tersenyum.

“Thanks ya... loe emang paling ngerti gue Ni”

Agni tersenyum, ia senang melihat sahabatnya ini bisa bahagia. Semoga dengan ini loe bisa lupain Alvin Fy.

“Ag, gue liat akhir-akhir ini loe ngehindarin Rio. kenapa?”

Agni mengambil buku-bukunya, mengalihkan perhatiannya dari Ify. Ia tidak senang jika harus membahas itu. Ia tidak tau harus menjawab apa.

“Ag...”

Ify menepuk pundak Agni yang membuat Agni menatap Ify, ia menghela nafas panjang.

“Cerita sama gue.”
“Gak seharusnya wanita yang sudah punya suami masih deket sama lelaki lain.”

Agni berujar dengan mengalihkan pandangan ke arah buku. Ia tidak ingin membahasnya, membahasnya hanya membuatnya sakit hati.

“Tapi semua orang tau kita itu sahabatan Ag, gue, loe dan Rio. Apa salah wanita yang mempunyai suami punya sahabat laki-laki?”
“Loe gak akan pernah ngerti Fy.”

Agni berdiri sambil meraih buku-nya kemudian ia berlalu begitu saja dari ruangan kelasnya. Sorry Fy, gue gak bisa cerita masalah ini.

***

Alvin menatap Agni yang beberapa hari ini terlihat lebih diam, beberapa hari ini ia tidak melihat wanita itu berada di lapangan basket dan beberapa hari ini pula wanita itu tidak keluar malam. Alvin mem-black list seluruh daftar contact Rio dan Cakka agar tidak bisa menghubungi Agni lagi. Agni juga tidak mempermasalahkan itu karena pada dasarnya ia memang sedang ingin memfokuskan diri pada UAS dan UN nya yang telah ada di depan mata.

Agni menengok ke arah Alvin saat lelaki itu meraih pipi kirinya. Ia tersenyum pada Alvin lalu menyimpan buku yang sedari tadi ia baca.

“Serius banget. Gak pusing?”

Alvin mengelus pipi Agni dengan lembut, lalu menarik wanita itu agar merebahkan diri di dadanya saat dia menggelengkan kepalanya. Agni kembali membaca bukunya sementara Alvin hanya memperhatikannya dengan kedua tangan yang di lingkarkan di pinggang Agni. Tak bisa ia pungkiri bahwa ia khawatir melihat Agni yang seserius ini, takut terjadi apa-apa. Entah sakit atau apa, yang pasti ia khawatir.

Alvin mengalihkan pandangannya ke ruangan utama rumahnya, ia rasa ia mendengar dentuman sepatu yang bertumbukan dengan lantai. Ia menggoyangkan lengan Agni, yang membuatnya menengok ke arah Alvin. Apa?

“Ada tamu, Papa mungkin.”

Agni segera berdiri merapihkan pakaiannya, begitupun juga Alvin. Keduanya langsung berjalan ke arah ruangan utama yang ternyata memang ada kedua Papanya yang sudah di jamu oleh Ibu Gita.

“Papa... kok gak bilang mau kesini.”

Agni berjalan ke arah Irshad dan duduk di samping Papanya itu. Melepas rindu karena beberapa hari tidak bertemu pasca kepulangannya dari Singaphore.

“Papa kan mau kasih kejutan.”

Irshad mengacak-acak rambut puterinya itu, pada awalnya ia sempat kaget saat mengetahui Agni pindah. Karena, ia tidak yakin ia bisa jauh dari rumah, apalagi jika mengingat sifat manjanya.

“Gak biasanya nih dateng kesini Pa. Ada apa?”

Alvin duduk di kursi yang di peruntukan hanya untuk satu orang, ia menatap Papanya yang sedang terkekeh melihat tingkah Agni.
Dayat mengalihkan pandangannya pada Alvin, begitupun Irshad.

“Papa cuma mau membicarakan tentang Praha.”

Alvin mengerutkan keningnya, heran. Setaunya, perusahaan yang ia kembangkan itu tidak terdapat masalah apapun.

“Emang kenapa Pa? Ada masalah?”
“Enggak, Papa pikir untuk sementara biar Papa aja yang urus Praha. Biar kamu dan Agni fokus sama ujian dulu.”

Alvin mengangguk mengerti, ia melirik Agni yang juga sedang mengangguk-anggukan kepalanya.

“Yaudah terserah Papa aja sih kalau Alvin.”

Dayat tersenyum, ia senang puteranya sekarang berubah. Tidak lagi begitu tergila-gila dengan yang namanya pekerjaan. Dulu, Alvin tidak pernah mau jika Papanya meminta seperti itu. Tapi sekarang? Ia benar-benar berbeda.

Dayat berdiri lalu di ikuti oleh Irshad. Agni dan Alvin kompak menatap ke arah Papa mereka.

“Yaudah, kalo gitu kita pamit dulu. Yang rajin belajarnya ya... jangan berudaan terus.”

Irshad mengelus puncak kepala puterinya itu, Agni menggembungkan pipinya saat mendengar ucapan terakhir dari Papanya. Ihh gimana bisa gak berdua terus? Orang kemana-mana berdua.

Alvin dan Agni mengantarkan Papa mereka ke depan, hingga memasuki mobilnya masing-masing.

“Hati-hati Pa.”

Agni melambaikan tangannya ke arah Irshad dan Dayat. Ia melirik Alvin saat kedua Papanya telah berlalu. Lelaki di sampingnya itu tampak kebingungan.

“Kenapa Al?”

Alvin menoleh ke arah Agni, ia tersenyum tipis.

“Aku yakin sebenernya mereka kesini bukan cuma buat itu deh.”
“Maksud kamu?”
“Ya kalo cuma masalah itu bisakan lewat telpon. Tapi ini? aku yakin mereka ada tujuan lain, melihat ke adaan kita mungkin.

Agni nampak berpikir. Bener juga ya...
Ia melirik ke arah Alvin yang dengan setia berjalan di sampingnya. Melihat lelaki itu dari arah dekat membuat ada rasa lain, padahal ini bukan kali pertamanya ia menatap lelaki itu, tapi entah kenapa rasanya masih aja sama. Ia selalu merasakan wajahnya memanas saat Alvin tanpa sengaja meliriknya yang juga sedang melirik ke arah lelaki itu.

***

Seusai makan malam Agni kembali mengambil buku-buku dan kaca matanya. Ia menyandarkan dirinya ke pagar balkon kamarnya, menikmati udara malam meski tidak baik untuk kesehatan.

Alvin menggelengkan kepalanya saat melihat Agni, setiap malam semenjak mereka berada di rumah ini, Agni memang selalu menghabiskan waktu membacanya di balkon itu. Alvin menghela nafas, ia mengambil buku-bukunya juga kemudian mulai membacanya di sofa yang berada di kamar itu, menghadap ke arah Agni.

Alvin mendengar deringan ponsel Agni, ia mengambilnya karena kebetulan berada di meja di dekatnya. Ia menaikan satu alisnya saat melihat si pemanggil itu. Kemudian Alvin berjalan ke arah Agni memberikan ponsel itu pada pemiliknya.

“Dari siapa?”
“Ify.”

Agni meraih ponselnya lalu menekan tombol eccept, kemudian ber-say hai bersama sahabatnya itu.

“Ag, mana Debo yang loe janjiin? Katanya dia bakalan nelpon atau sms gue. Kok gak ada sih sampe sekarang? Udah seminggu lho.”
“Gue gak tau, sibuk kali.”
“Tanyain dong sama Alvin, yayaya...”
“Iya.”

Agni melirik Alvin yang ternyata sedang memperhatikannya.

“Debo lagi sibuk ya?”

Alvin mengerutkan dahinya, heran.

“Enggak.”

“Katanya enggak Fy, lagi sibuk sama urusan pribadinya mungkin.”
“kalo loe tau, kasih tau gue ya.”
“oke.”

Agni mengakhiri percakapannya, ia kemudian menyimpan ponselnya di lantai. Ia kembali meraih bukunya untuk di baca.

Alvin menarik Agni agar menyandarkan diri di dadanya, ia sangat menyukai posisi itu karena dengan begitu ia bisa menghirup lebih leluasa wanginya rambut Agni yang sangat ia sukai. Ia melingkarkan satu tangannya di perut Agni, sementara sebelah lagi memegang buku yang sedang ia baca juga.

Alvin memejamkan matanya dalam-dalam kemudian mengatur nafasnya. God! Aku rasa ini bukan waktunya... sadarkan aku...
Alvin mengurai pelukannya, ia tidak tahan dalam posisi seperti itu.

Agni menoleh ke arah Alvin, lelaki itu tidak meliriknya sama sekali. Ia malah berlalu ke arah kamar tanpa pamit. Ia mengerutkan dahinya saat lelaki itu menaiki tempat tidur. Ia melirik jam. Kenapa dia? Capek kali ya? tumben banget jam segini udah mau tidur.

Agni berjalan ke arah Alvin kemudian mendudukan dirinya di tepi ranjang. Ia mengelus kepala Alvin yang di benamkan di bantal. Lelaki itu tidak bergeming.

“Al... kenapa?”

Alvin masih tidak bergeming, ia masih tetap dalam posisi telungkupnya. Berusaha menghindari Agni.
Agni mendekatkan dirinya ke arah Alvin.

“Al...”
“Kau akan membunuhku jika berbisik seperti itu Agni!”
“Eh...”

Agni memundurkan dirinya menjauhi Alvin, ia menggembungkan pipinya kesal. Kenapa sih Alvin jutek gitu? Ngeselin! Nyebelin!

“Dasar resek! Udah untung di tanyain. Ngeselin!”

Alvin membalikan badannya saat mendengar umpatan istrinya itu. Ia heran, kenapa wanita ini belum juga peka terhadap ke inginannya? Padahal sudah hampir satu bulan mereka menikah.
Alvin menarik Agni, menjadikan wanita itu berada di atasnya dengan kedua tangan menjadi tumpuannya.

“A.ada apa?”

Ingin sekali Alvin tertawa saat melihat kegugupan itu bercampur dengan rona merah di wajahnya. Benar-benar lucu dan menggemaskan. Tapi, ia tidak ingin menghancurkan momen ini hanya dengan hal konyol seperti itu.

“Udah selesai?”

Agni menelan ludah sukar, ia mengedarkan pandangannya ke arah lain menghindari tatapan Alvin.

“A.apanya?”

Alvin menyeringai nakal, ia menggulingkan Agni menjadikan wanita itu berada di bawahnya. Ia lagi-lagi tersenyum.

“Tunggu! Aku ke kamar mandi dulu.”

Agni membulatkan matanya. Lelaki itu kembali menyeringai nakal ke arahnya sesaat sebelum memasuki kamar mandi. Apa maunya? Alvin ngeselin!

***

Agni berjalan ke arah kamar mandi dengan sesekali meregangkan badannya yang terasa begitu pegal itu. Badannya terasa remuk setelah menerima perlakuan ‘kasar’ Alvin.

Agni berjalan  ke arah westafel, untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Oh God, kenapa ini? Agni memegang lehernya yang terlihat memerah.
Alvin! Loe tuh resek banget sih... hari ini Ujian bego! Ihh dasar!

Saat Agni hendak beranjak menuju bathtub ia melihat sebuah kotak yang aneh menurutnya. Ia meraih kotak itu. Apa ini?
Agni membuka kotak itu, dan...

“Ya Tuhan... darimana Alvin dapet yang kayak beginian?”


***

Bersambung.
Gak ngefeel? Banget!
Di tengah-tengah tiba-tiba kehilangan feel. Maaf ya... :(

Yang mau tag tetep komen ya :) dan jangan lupa tinggalkan jejak :)


Terimakasih udah mau baca :D

No comments:

Post a Comment