Agni melihat Ify yang berjalan mendekatinya dari arah
cermin. Tak hentinya Agni menghela nafas panjang dan memejamkan matanya cukup
lama. Apakah keputusan ini tepat?
“loe cantik Ni, tapi lebih
cantik lagi kalo loe senyum”
Agni tersenyum tipis menanggapinya. Ify merapihkan kain
tipis yang ada di kepala Agni. Agni menatap Ify dari pantulan cermin, ia tau
pasti bagaimana perasaan Ify, Ify sangat menyukai Alvin dan bisa di bilang
sampai mencintai Alvin.
“maafin gue Fy, gue gak ada maksud
buat rebut Alvin”
Ify menghela hembuskan nafasnya sambil tersenyum. Gue gak akan pernah bisa maafin loe kalo
loe bukan sahabat gue Ni, dan kalau loe ngerebut Alvin dengan cara licik. Tapi
ini beda, ini terkesan loe yang di paksa. Ify lagi-lagi menghembuskan nafas
penuh beban. Andai gue bisa bilang itu
semua sama loe Ni, gue belum sanggup.
“Rio dateng, Cakka juga... mereka
gak sabar menunggu ingin melihat mempelai wanita yang gak bisa mereka miliki”
“Ify... jangan buat gue tambah
patah hati deh”
“lho kenapa? Bukannya loe suka ya
sama Alvin? Kok malah patah hati sih?”
“gue baru sadar, ternyata gue gak
siap kehilangan mereka”
“ya ampun Agni... kapanpun gue
yakin loe bisa ketemu mereka, gue yakin mereka gak akan pernah berubah sama
loe”
Agni menatap Ify dengan pandangan tidak yakin.
“yakin loe?”
Ify mengangguk pasti. Tentu
saja Agni! Rio dan Cakka sama-sama cinta sama loe...
“udah ahh... yuk kita keluar”
Agni berdiri dengan di gandeng oleh Ify, dan di depan pintu
sudah di tunggu Irshad yang tersenyum penuh kebahagiaan. Irshad menggandeng
Agni di satu sisi lainnya.
Saat menuruni tangga, Agni sedikit mengangkat wajahnya untuk
melihat para undangan yang ternyata banyak juga. Pandangannya tertuju pada Rio
dan Cakka yang duduk berdekatan dengan menggunakan jas dan tuxedo yang
berwarana senada dengan kebaya yang ia pakai. Lalu, ia mengalihkan pandangan
pada Alvin yang ternyata sedang menatapnya dengan begitu dingin. Oh God! Semoga ini jalan terbaik yang
Engkau berikan padaku...
***
Begitu cepat upacara pernikahan itu berakhir, para tamu
undangan satu-persatu keluar dari kediaman Agni, hingga menyisakan Ify, Rio dan
Cakka.
Agni duduk berdampingan dengan Alvin yang masih sibuk dengan
ponselnya, dikit-dikit nelpon, dikit-dikit sms. Agni melirik sebal ke arah
Alvin. Dasar! So sibuk!
“entar malem party yuk, kan
kemaren gue gak ikut”ujar Agni
Ify, Cakka dan Rio saling berpandangan.
“ya... mana mungkin penganten di
ajak? Entar yang ada penganten bermata panda”
Agni melempar Rio dengan kipas yang sedari tadi ia pegang.
Kenapa pemuda itu jadi sangat menyebalkan?
“gimana Kka? Party ya?” Agni
merengek pada Cakka yang hanya diam tanpa kata.
“ehm... mendingan ijin sama laki
loe dulu deh”ujar Ify
Ify melihat Alvin
mulai memperhatikan percakapan mereka. Terlihat sekali perubahan reaksi wajah
Alvin dimatanyaa, mungkin tidak banyak yang menyadari, tapi bagi Ify itu
kentara sekali.
Agni melirik Alvin dengan sebal, ia melihat seringaian kecil
dari Alvin. Meskipun pemuda itu sibuk dengan ponselnya tapi matanya masih bisa
melirik Agni yang terlihat merengut kesal.
“ngapain? Penting gitu gue ijin?”
Cakka yang kebetulan duduk di sisi Agni yang lain, menarik
dagu gadis itu agar menghadapnya. Cakka tersenyum kecil lalu menekan hidung
Agni dengan gemas. Agni tersipu malu, Cakka memang selalu seperti itu, senang
sekali memainkan hidungnya.
“liat gue...”
Agni mengangkat wajahnya, menatap mata Cakka.
“apapun yang loe rasain sekarang,
gimanapun ke adaannya, dia tetep suami loe... gak akan berubah. Loe harus tetep
hormatin dia”
Cakka memiringkan wajahnya, hendak mengecup pipi Agni.
“ehm... mendingan kita pulang deh
yuk”
Ify menarik tangan Cakka dengan paksa sebelum Cakka
benar-benar mengecup pipi Agni. Ia sudah berdiri, Cakka-pun dengan terpaksa
mengikuti Ify.
“yaudah, gue pulang dulu ya Ni”
Agni berdiri dan menyambut uluran tangan dan pelukan Ify, ia
memeluk cukup lama sahabatnya itu.
“have fun ya cinta... heh Vin, jagain Agni... loe lengah masih ada
dua cowok”
Ify mengalihkan pandangan dari Agni pada Alvin dan berjabat
tangan dengan pemuda itu. Ada rasa ngilu dalam hati Ify, tak bisa menjangkau
pemuda yang ia cintai. Kalau tidak bisa ia tahan, mungkin ia telah memeluk
Alvin, menangis dan bilang. Gue cinta
sama loe Vin!
Cepat-cepat Ify melepaskan jabatan tangannya kemudian
mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu beranjak menjauh.
Cakka bergantian dengan Rio menyalami Agni dan Alvin. Alvin
mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, kesal melihat dua
pemuda yang malah bermesraan dengan Agni di depannya.
“entar kalo party di kasih tau
kok”
Cakka berbisik saat memeluk Agni sekilas, lalu tersenyum
masam ke arah Alvin. Tak bisa ia pungkiri ia sangat sebal pada pemuda yang
berhasil merebut gadis yang selama ini ia jaga dan sayangi.
“loe lengah, gue gebet Agni”
Ancam Cakka yang di tanggapi dengan seringaian sinis oleh
Alvin. Coba aja kalau bisa!
Alvin mengalihkan pandangannya pada Agni yang begitu betah
berpelukan dengan Rio.
“gue masih sibuk nih, bisa di
percepat acara pelukannya?”
Rio menyeringai jahil mendengar umpatan Alvin, ia
memiringkan wajahnya di depan Agni.
“cerita ke gue malam pertamanya
ya?”
“Rio...”
“aw...”
Rio segera menjauh dari Agni saat perutnya di pelintir
begitu sadis oleh Agni. Agni tertawa puas melihat Rio yang masih meringis
kesakitan.
“ati-ati Vin, bini loe ganas...
bisa-bisa loe besok gak bisa bangun gara-gara dia”
Rio menyeringai menggoda Agni, Agni membelalakan matanya. Maksud loe Mario?
Alvin ikut menyeringai ke arah Agni, lucu juga kalau gadis
itu berwajah merah.
“jadi penasaran seberapa ganasnya
di bandingin gue”
Agni semakin membelalakan matanya, kalau ia merasa tidak
gengsi ia akan memukuli dan meneriaki Alvin saat ini. tapi, gengsi yang amat
besar menyelimuti Agni hingga hanya bisa mendengus kesal saat dua pemuda itu
terusa saja menggodanya.
***
Alvinmembaringkan tubuhnya di tempat tidur sambil memandangi
isi kamar Agni yang menurutnya aneh. Ruangannya memang tercium girly dari
parfum Agni, tapi barang-barangnya gak ada satupun yang girly. Semua warna di
kamar ini di dominasi oleh abu-abu dan putih, gak ada boneka layaknya gadis
seusianya dan alat-alat kecantikan lainnya. Apa
mungkin di sembunyiin?
Alvin mengalihkan pandangannya pada Agni yang sedari tadi
mendengus, sepertinya kesal. Ia duduk di sisi tempat tidur lalu membuka kemeja
yang membalut tubuhnya. Ia penasaran melihat bagaimana reaksi Agni.
Agni membelalakan matanya saat melihat aksi Alvin dari
pantulan di cermin. Agni sempat menahan nafas saat melihat dada Alvin yang
putih bersih, ia menurunkan pandangannya pada perut Alvin. Oh God... it’s so cool, six pack banget... keren, gagah.
Tak ia pungkiri jika ada desiran halus dalam dadanya, dan
detakan jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya.
“ada apa?”
Agni mengerjabkan matanya saat mendengar suara Alvin. Ia
melongos melihat ke arah lain, ia sampai lupa kalau sedari tadi ia sedang
melepaskan kancing-kancing kebayanya yang sangat banyak dan ada beberapa yang
sulit di buka.
“kenapa sih loe?”
Agni mengangkat wajahnya melihat Alvin dari cermin yang
berjalan ke arahnya. Sadar Agni sadar...
loe harus tetep fokus! Sugesti Agni pada dirinya sendiri.
“apanya yang kenapa?” Agni
berkata begitu lancar dan dingin.
Huft, untung aja gue
gak punya kebiasaan gagap.
Agni menaikan tangannya untuk membuka satu kancing yang
entah kenapa ada di bagian belakang lehernya.
Agni menghentikan aktifitasnya saat merasakan sebuah tangan
hangat menyentuh tangannya yang kesulitan. Dengan refleks tangannya turun. Ternyata orang dingin itu hangat juga.
“gini aja loe gak bisa”
“eh”
Agni tersadar dari lamunannya lalu menatap Alvin dengan
tatapan tajam dan kesal.
“payah”
Agni mendengus lagi mendengar ejekan Alvin. Kapan sih lelaki
itu bisa sedikit saja menghargai wanita?
Agni berdiri lalu beranjak ke kamar mandi dengan perasaan
yang dongkol. Kenapa sih Alvin gitu
banget sama gue? Apa dia gak tau kalo gue itu suka sama dia? Ihh... lembut
dikit kek, atau gimana. Dasar nyebelin.
***
“Agni, mau kemana?”
Agni berbalik pada Irshad yang sedang berada di ruangan
keluarga. Ia tersenyum lalu mendekat ke arah ayahnya.
“pergi Pa, ada janji sama Ify”
“Alvin?”
“ya... dia...”
“Alvin ikut kok Pa”
Agni memutar tubuhnya.
Tanpa sadar ia mengucek matanya, ia begitu takjub dengan
penampilan Alvin yang terlihat lebih santai dengan kaus putih yang belahannya
agak rendah, jaket kulit dan celana jeans. Ya
tuhan... kenapa dia selalu saja mengagetkan?
Namun sedetik kemudian Agni sadar, kemudian merubah sikap
bodohnya menjadi dingin lagi. Apaan sih loe Ag? Gak usah cengo gitu bisakan?
Bego bego...
“yaudah kalo sama Alvin, jangan
terlalu malam. Masa pengantin baru keluyuran?”
Ah ya... pengantin
baru. Well mengingat itu gue harus segera menjauhi Alvin kalo gak mau sampai di
DO dari sekolah. Agni membatin sambil sesekali melirik Alvin yang semakin
mendekat ke arahnya.
Alvin merangkul pinggang Agni lalu menariknya pergi
meninggalkan Irshad setelah berpamitan terlebih dahulu.
“apa loe gak punya baju yang
lebih panjang?”
Agni melirik ke arah Alvin yang begitu fokus dengan jalan
raya. Ia heran, sebenarnya apa maksud dari pertanyaan itu.
“kalo loe gini terus, kita bisa
di DO dari sekolah”
“hah? Maksud loe?”
“you know lah, loe udah cukup dewasa buat mengerti hal itu”
Agni bergidik ngeri, ia mengerti, ia faham apa yang di
maksud Alvin. Tapi apa iya ia terlihat begitu menggoda Alvin?
Hanya memakai hot pans yang biasa ia pakai, kaus tanpa
lengan itupun pakai jaket lagi. Bilang
aja kalo loe emang mau. Dasar mesum!
***
Saat memasuki tempat yang biasa Agni kunjungi, ia langsung
menuju ke arah Cakka yang seperti biasanya, menjadi bartender. Lalu duduk di
hadapannya.
“hai Mas... gak jadi party ya?”
“hai Ni, nikmatin ajalah”
Cakka tersenyum ke arah Agni lalu melirik Alvin yang duduk
memunggunginya. Ia menarik satu alisnya.
“laki loe ikut?”
“yah... begitulah, itu juga
gara-gara bokap. Kalo udah pisah sih gampang gak di bawa juga”
Cakka terkekeh menanggapinya, lalu mengambil air untuk Agni.
“silahkan nona”
Alvin melirik ke arah Agni yang menerima segelas air
berwarna bening. Saat Agni hendak menenggak minumannya, Alvin segera mengambil
gelas itu dan menyesapnya.
Agni menatap heran ke arah Alvin. Kenapa sih? Kalo aus bilang aja napa, gak usah rebut-rebut gitu!
“tenang aja, itu air biasa kok.
Khusus untuk nona Agni”
Agni merengut, dalam hatinya ia tersenyum puas. Ternyata
Alvin memperhatikannya juga. It’s time
Alvin, siap-siap loe terbakar.
Alvin melirik Cakka gak yakin, cara terampuh sih mencobanya.
Tapi sayang, Alvin bukan pecinta minuman beralkohol, agak riskan untuk mencoba
minuman yang ada di tempat seperti ini.
Agni merebut gelasnya dari tangan Alvin, secepat kilat ia
meminumnya sambil melirik Alvin.
“gue bukan pecinta alkohol
kali... gue cuma suka aja ketempat gini”
Agni berujar tepat di telinga Alvin, kemudian ia berdiri dan
menarik Cakka untuk turun bergabung dengan yang lain.
Alvin menatap Agni yang berjoget dengan memeluk leher Cakka
begitu intens, sesekali Cakka memeluk pinggang Agni, atau memeluk dari arah
belakang.
“Vin...”
Alvin menengok ke arah samping, melihat Ify yang
berpenampilan tidak berbeda jauh dengan Agni. Hanya saja rambut Ify di uraikan
sedangkan Agni di kuncir kuda.
“gue kira Agni yang bakalan
kebawa sama dunia tenang loe, tapi ternyata sebaliknya ya”
Alvin memandang ke arah Agni lagi, memastikan gadisnya tidak
berbuat macam-macam. Ia sedikit menarik ujung bibirnya. Belum saatnya Agni gue bawa ke dunia gue, tapi tunggu aja saat dimana
loe tunduk sama gue, Agni.
“Rio gak dateng?”
“dia gak suka keluyuran malem,
palingan dia udah tidur jam segini”
Alvin hanya mengangguk-angguk mengerti.
Ify menepuk pundak Alvin agar menghadapnya, ia ingin tau
ekspresi wajah Alvin. Karena dalam keremangan seperti ini cukup tidak terlihat.
Ify mendekatkan wajahnya pada wajah Alvin.
Sementara Alvin hanya diam dan memandang aneh ke arah Ify.
“kalo cemburu, kenapa loe gak
bawa Agni balik aja?”
Skak mat!
Alvin tersenyum masam lalu memandang ke arah Agni lagi yang
ternyata sedang membenamkan wajahnya di dada Cakka. Sial! Gue bener-bener
kecolongan.
***
Cakka memeluk Agni dari arah belakang, memastikan tidak ada
lelaki lain yang menyentuh gadis itu. Goyangan gadis itu melemah saat ia
melihat ke arah bar tempat Alvin duduk, dan betapa mengejutkan saat ia melihat
Ify yang sedang mendekatkan wajahnya pada Alvin, lebih parahnya lagi Alvin
tidak menghindar sama sekali. Agni memutar tubuhnya dan memeluk Cakka, ia
benar-benar tidak sanggup melihat kelanjutan dari apa yang suaminya itu
lakukan.
“Agni...”
Cakka merendahkan dirinya agar bisa melihat wajah Agni. Tapi
sayangnya, Agni malah semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Cakka. Cakka
hanya bisa menghela nafas panjang dan mengelus kepala Agni.
Ia melirik ke arah Alvin yang ternyata sedang duduk
berdampingan dengan Ify.
Cakka tersenyum kecut. Ternyata
Agni beneran suka sama cowok itu?
“gak usah cemburu, kita buat dia
lebih cemburu lagi”
Cakka menarik paksa Agni menjauh dari pelukannya, lalu
membawa gadis itu memasuki area DJ. DJ yang berada di ruangan itu keluar atas
instruksi Cakka.
Agni menatap Cakka tak mengerti, ia hanya diam saja melihat
Cakka yang mengusir DJ-nya.
“buka jaket loe”
Agni mengerutkan keningnya, ia mundur beberapa langkah dari
Cakka.
“mau ngapain?”
“buka... liat tuh laki loe”
Agni melirik ke arah tempat duduk Alvin yang ternyata
sekarang sudah kosong. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati Alvin sedang
berdiri di tengah kerumunan orang bersama sahabatnya, Ify. Fy, kalo loe emang gak suka sama pernikahan gue sama Alvin gak gini
caranya...
Dengan mata berkilat marah, Agni melirik Cakka. Ia baru
ingat kalau tadi Alvin bilang tidak suka melihatnya memakai pakaian pendek. Ia
melepaskan jaket dan melemparnya ke sembarang arah.
Seperti biasanya, Cakka mengganti lagu menjadi lagu romantis
dan mulai berdansa dengan Agni di dalam ruangan itu.
Cakka tersenyum sinis, ia melihat Alvin dengan ekor matanya.
Pemuda itu terlihat sangat marah mendapati Agni tengah berada dalam pelukan
Cakka.
Agni pun melirik Alvin yang ternyata mulai berjalan ke
arahnya, ia tak peduli.
Agni dan Cakka saling pandang, Cakka mencondongkan tubuhnya
ke arah Agni sementara kedua tangannya memeluk pinggang Agni dengan erat. Saat
wajah mereka semakin dekat sebuah tarikan kasar menarik pundak Agni.
“hei... gue pinjem Agni sebentar
aja kok”
Tanpa berucap apapun, Alvin mengambil jaket Agni dan menarik
gadis itu keluar dari sana. Agni mengedipkan matanya pada Cakka dan di respon
dengan acungan jempl oleh Cakka. Cakka terlihat berkata-kata.
“good luck”
***
Agni bergidik ngeri melihat wajah Alvin yang terlihat sangat
mengeras, sepanjang perjalanan ini dia hanya diam tapi aura negatif sangat
menguasai mobil itu. Saat mobil itu memasuki garasi, Alvin membukakan pintu
untuknya tanpa berkata pula. Pemuda itu malah menarik Agni begitu kasar, tak
mempedulikan ringisan Agni.
“Alvin...”
Ya tuhan... gue emang
ngaku salah, tapi gue bener-bener gak nyangka marahnya Alvin separah ini.
Agni seperti di seret Alvin yang memiliki langkah yang cukup
lebar di bandingkan dirinya.
“sakit Vin”
Agni meringis kesakitan untuk kesekian kalinya.
Alvin menghempaskan tangan Agni begitu mereka sampai di
dalam rumah. Dalam keremangan malam, Agni masih bisa merasakan aura negatif
dari Alvin. Alvin mendekati Agni, Agni mundur beberapa langkah. Agni terus
mundur sampai kakinya membentur sesuatu, Agni berbalik.
Alvin mendorong tubuh Agni hingga terjatuh di atas sofa lalu
menindihnya. Agni menahan tubuh Alvin dengan kedua tangannya.
“Vin, apaan sih loe?”
“diam!”
“Al...vin loe... loe kena...
hhmmp”
Agni merasa ada sentuhan hangat dan kasar dari di mulutnya,
Agni memukuli dada Alvin yang ia rasa semakin intens saja membebani dirinya.
“argh...”
Agni membuka mulutnya saat merasakan sebuah gigitan, lalu sebuah
benda lunak memasuki rongga mulutnya. Tubuh Agni melemas, pasokan oksigen
menuju paru-parunya tersendat membuatnya sesak dan tak berdaya.
“astaga!
Alvin. Agni”
Irshad berucap setelah sebelumnya menyalakan lampu. Ia hanya
bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
Alvin segera mendongak dan begitu mendapati Irshad berdiri
tak jauh dari sana ia segera berdiri dan merapihkan pakaiannya.
“Pa”
Sementara Agni masih belum merubah posisinya, ia sedang
mengatur nafasnya yang terengah. Sesekali ia mengusap wajahnya entah untuk tujuan
apa, beberapa detik kemudian ia mendudukan dirinya.
Irshad mendekat lalu duduk di hadapan mereka. Ia cukup kaget
melihat anak dan menantunya melakukan hal sedekat itu di tempat tidak privacy. Sepertinya mereka harus di berikan
pengarahan.
“untung Papa yang ngeliat kalian,
gimana kalo pembantu? Kalian ini gimana sih? Kalian memang pengantin baru, tapi
tidak seharusnya melakukan hal itu di tempat ini, kaliankan masih punya kamar,
apa kurang luas?”
“Pa... ini gak seperti yang Papa
bayangin”
“sudahlah, Papa mau tidur lagi.
Sebaiknya kalian lanjutkan di kamar! Jangan di sini”
Irshad beranjak dari tempat duduknya.
Alvin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Bisa
terbayangkan bagaimana rasanya kepergok oleh mertua. Malu, hingga membuatnya
tidak bisa berkata-kata.
Alvin bisa menghela nafas lega karena Papa mertuanya itu
tidak melihat kekasarannya pada Agni, kalau sampai melihatnya ia yakin ia akan
langsung di usir dari rumah ini.
Agni dengan takut melirik ke arah Alvin, ia masih kaget
dengan perlakuan kasar Alvin. Ia benar-benar tidak menyangka, Alvin yang dingin
dan cenderung tenang bisa sekasar ini.
Ia memegang bibirnya, sampai saat ini ia masih bisa
merasakan sentuhan Alvin beberapa saat yang lalu. Entah kenapa, itu sangat
membekas dalam ingatan dan perasaannya.
Ada rasa jengkel, kesal tapi semua itu masih bisa di
kalahkan oleh sentuhan Alvin yang cenderung kasar. Pikirannya kembali lagi
mengingat pada ke jadian beberapa waktu lalu. Hatinya cukup ngilu mengingat hal
itu, ia memang tidak mencintai Alvin, Alvin juga mungkin begitu, tapi apakah
salah kalau saling menghargai?
“Kalo loe suka sama Ify bilang
aja!”
Alvin tersenyum sinis, ia melirik Agni sekilas.
“kalo loe suka sama Cakka bilang
aja!”
“Vin!”
“ya...”
“gue capek! Gue gak bisa ngadepin
sikap loe lebih lama lagi!”
Alvin menatap Agni yang meninggalkannya sendirian di ruang
tamu, gadis itu terlihat marah. Tapi yang membuatnya bertanya-tanya, darimana
gadis itu bisa menyimpulkan bahwa dirinya menyukai Ify? Kenal deket aja baru,
gimana mau suka?
Alvin menghela nafas panjang, sepertinya ada kesalah fahaman
antara mereka. Kemudian ia berjalan ke arah kamar, harus segera menyelesaikan
permasalahan ini.
Clek.
Gak di kunci?
Alvin menaikan sebelah alisnya. Lalu ia masuk ke dalam kamar
itu yang masih terang. Alvin mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar,
namun Agni tidak ada. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia sangat lelah.
Agni yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya menghela
nafas panjang saat melihat Alvin melihat kalender yang tadinya tersimpan di
meja kecil samping tempat tidurnya.
“ganti baju Vin, gak baik tidur
pake jeans gitu”
Tanpa membantah Alvin segera berdiri dan beranjak menuju
lemari, mengambil celana boxer dan jubah tidurnya. Kemudian ia beranjak menuju
ruang ganti.
Agni menahan nafas saat melihat Alvin yang baru saja keluar
dari ruang ganti. Ia hanya memakai boxer dan jubah tidur yang belum di ikat.
Agni segera tersadar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“pake baju!”
“gak”
“Alvin!”
“kenapa sih?”
“pake baju!”
Alvin tidak menggubrisnya, ia merebahkan diri di tempat
tidur tanpa mempedulikan Agni yang masih dalam pisisi duduk. Gadis itu sesekali
menghela nafas dan mendengus kesal.
“loe lagi gak subur kan?”
“hah?”
Agni memutar kepalanya untuk melihat Alvin yang ternyata
kini tidur terlentang dengan kedua tangan yang berada di dadanya.
Alvin menatap Agni yang masih terlihat kaget.
“iyakan?”
“eh...”
Alvin menarik pundak Agni, hingga kepalanya merebah di dada
Alvin. Agni terlihat kikuk, dengan gerakan kasar saja membuatnya ketar ketir
apalagi dengan lembut seperti ini? Oh
No!!! Lindungi hambamu ini Tuhan...
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment