“akhir
dari penantian dan awal dari kebahagiaan”
Bab 12
Aku menuruni tangga kediaman orang tua suamiku ini. di
sampingku, suamiku dengan apiknya menuntunku turun. Apalagi dengan usia
kandunganku yang telah mencapai tujuh bulan. Kebetulan hari ini ada syukuran
karena tander barunya Rio sukses dan juga syukuran kehamilanku serta perayaan
ulang tahun Angel yang ke enam.
Aku mengedarkan pandanganku, ternyata ada orang tua Alvin
juga. Saat aku mengedarkan padanganku lagi, ada sebuah tepukan di bahu kiriku.
Aku berbalik.
“Cakka”
“hey, Cakka... ternyata kamu
datang juga?”
Rio menyambung ucapanku dengan nada yang sangat ramah, aku
senang karena Rio berubah menjadi sosok yang begitu menyenangkan. Bukan Rio
yang penuh arogansi lagi.
“ah ya... bersama keluargaku yang
kebetulan di undang”
“oh... dimana keluargamu?
Dengar-dengar kamu juga sudah tunangan ya? siapa wanita beruntung itu?”
Aku menatap Rio bertanya-tanya, sejak kapan Rio tau hal
setidak penting itu? Apa dia berubah menjadi lelaki penggosip?
Cakka terlihat tersenyum kaku padaku dan Rio. dia seperti
orang ragu. Kenapa dia? Dari kejauhan ada yang mendekat, sepertinya aku kenal.
Ternyata wanita itu si penggoda suamiku. Ihh... apa selera Cakka begitu
menurun? Move on dariku dapetnya yang kayak begini? Oh God, aku mikir apa sih?
Emang Cakka pernah suka sama aku? tapi, kalau di pikir-pikir bukannya dia
memang suka sama aku? buktinya dia sampai cari tau tentang Rio. hhmm...
“sayang... aku nyariin dari tadi”
Aku menatap wanita yang baru datang itu dari ujung kaki
hingga ujung kepala. Aku rasa dia berniat menjadi pusat perhatian dengan
penampilannya, aku tidak menyangka dia berubah menjadi sosok dengan penampilan
yang murahan seperti ini. Ya Tuhan... jauhkan anak-anakku dari penampilan dan
kelakuan seperti ini. aku merasakan tangan besar Rio menangkup di tanganku yang
ternyata sedang mengelus perutku sendiri.
“kalian kenalkan? Ini tunanganku”
“hai Agni, senang bisa bertemu
lagi”
Aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman tipis, aku
menatap Rio yang rahangnya nampak mengeras. Aku yakin dia masih ada dendam
dengan wanita ini.
“aku dan suamiku harus menemui
yang lain, permisi”
Aku menarik Rio menjauh, sebelum yang ku takutkan terjadi.
Kalau dengan tatapan bisa membuat seseorang mati, wanita itu
mungkin sudah mati dengan tatapan Rio. hhh...
Aku mengelus dada Rio, menenangkannya.
Dia menatapku kemudian tersenyum tipis.
“Rio, Agni. Kemari”
Aku menarik Rio menuju ke arah Mama dan Papa yang terlihat
sedang berbincang dengan orang tua Alvin. Aku tidak yakin wanita yang ternyata
Mama Alvin itu bisa bersikap baik padaku, mengingat masa laluku dengannya
begitu rumit. Bukan aku yang memperumit, tapi dia yang memperumit.
“selamat malam...”
Sapaku dan Rio. tepat seperti dugaanku, Mamanya Alvin
menatapku dengan tatapan meremehkan dan penuh intimidasi. Dia ternsenyum sinis
padaku.
“ini menantu anda itu? Apa tidak
ada wanita yang lebih baik Bu Amanda?”
“maksud anda?”
“begini ya Bu, perempuan ini
hanya perempuan murahan yang bisanya morotin orang-orang kaya aja. Saya tidak
menyangkan, lepas dari anak saya lima tahun lalu dia mendapat mangsa yang lebih
besar”
Aku menatapnya dalam diam, sesekali aku melirik Rio, Mama
dan Papa yang menunjukkan ekspresi yang sama, yaitu datar dan dingin. Apa
mereka termakan omongan wanita itu? Aku harap tidak, karena kalau termakan
omongannya, bagaimana nasibku dan calon anakku nanti? Hhh...
“memangnya apa yang bisa di
porotin dari anda lima tahun yang lalu? Bukannya anda masih mengemis-ngemis
ingin bekerja sama dengan keluarga kami?”
Mama berujar dengan datar, aku sempat kaget mendengar
ucapannya. Mengemis-ngemis? Jujur, aku tidak pernah tau latar belakang keluarga
Alvin saat kami berpacaran.
Aku melihat Mamanya Alvin tergugup, dia terlihat malu dan kehabisan
kata-kata.
“ada apa ini?”
Aku melihat pada Alvin yang baru datang dengan bergandengan
tangan bersama Shilla. Ada hubungan apa mereka? Sepertinya akrab sekali.
“kami memang belum sesukses
sekarang saat itu, tapi anak saya lebih sukses daripada saya, tidak ada alasan
buat menantu anda ini berniat morotin anak saya”
Berani sekali dia, aku melirik Rio. kenapa dia tidak
membelaku?
Aku menatap Mama, dia terlihat marah sekali. Tak lama Cakka
datang dengan pasangannya.
“untung saja, kedua anak saya sekarang
sudah memiliki calon istri yang baik. Jauh dari kata murahan dan matrealistis
seperti menantumu ini”
“siapa yang anda maskud Bu?”
Aku melihat Ray berjalan mendekati kami dengan Angel yang di
sampingnya. Tak berbeda dengan Rio, Ray dan Angel juga terlihat menatap Shilla
dan Oik dengan tatapan tidak suka.
“itu tante-tante yang pernah
godain Papa sama Daddy ya Dad?”
Rio dan Ray tersenyum sinis begitu mendengar pertanyaan
polos dari Angel, aku melihat Shilla dan Oik yang memasang wajah menegang. Ternyata
mereka bisa terkalahkan oleh anak yang baru genap berumur 6 tahun.
“anda dengar sendiri nyonya apa
kata puteriku ini? dia menjadi saksi, betapa matre dan murahannya calon-calon
menantu anda”
“gak dapet kakaknya coba menggoda
adiknya, kalian kaget? Aku memang adiknya Pak Rio, adik ipar dari Pak Rio dan
kembaran Agni, wanita yang selama ini kalian musuhi”
“dengar ya Bu Sinta yang
terhormat, saya akan dengan senang hati jika harta saya di gunakan menantu saya
ini, sebanyak apapun. Kalaupun dia berniat menghabiskan hartaku apa dia bisa?
Sekalipun membelanjakan berlian satu gudang, uangku tidak akan habis dan tidak
akan pernah bisa habis dalam jangka berpuluh-puluh tahun menghamburkannya”
“oiya, nona Oik... apakah ponsel
kakakku sekarang di bawa?”
Aku menatap Oik yang gelagapan menanggapi pertanyaan Ray.
Dia terlihat begitu bingung.
“apa maksudnya? A.aku tidak tau”
Cakka terlihat menatap Oik dengan tatapan tajam, kenapa dia?
Marah?
“memalukan” desis Cakka.
“bisa kalian segera pergi dari
kediaman kami? Saya tidak suka melihat orang yang menghina menantu saya”
“anda mengusir saya? Tidak bisa
begitu dong”
“saya akan segera mencabut
kontrak kerja sama kita, dan saya mohon kalian cepat keluar sebelum saya
memanggil petugas keamanan”
Dengan kesal oarang tua Alvin berlalu, sementara Alvin dan
Cakka masih ada di tempat.
“Pak, Bu, saya meminta maaf atas
kekacauan ini, terutama untuk Agni, saya minta maaf”
“tidak usah di bahas lagi,
sebaiknya carilah pendamping yang menyayangi kalian, bukan harta kalian”
“iya, terimakasih. Permisi”
Hhh... aku merasa plong sekarang, aku bisa tersenyum lega
sekarang. Mama menatapku dengan satu tangan mengelus perutku.
“apa menantu dan calon cucu Mama
tidak apa-apa?”
Aku menggeleng kecil kemudian tersenyum. Aku senang Mama begitu
memperhatikanku, begitu sayang padaku.
“enggak Ma, tadi hanya sedikit
shock aja”
“baguslah... ini lagi, istri lagi
di hina malah diem aja”
“kan ada Mama, masa iya Rio debat
sama ibu-ibu?”
Rio terkekeh, akupun mengikutinya, benar- sekali apa kata
Rio. gak lucu banget dia berdebat dengan ibu-ibu.
“Ma, Pa... ayo ke acara An”
***
Aku mengeratkan pelukanku pada Agni dari arah belakang.
Tangan kiriku mengelus perutnya yang semakin hari semakin membesar itu. Aku
perhatikan badannya akhir-akhir ini juga semakin besar, dari pipi yang menjadi
tembem dan kaki yang juga besar, katanya sih efek berjalan terus menerus.
“aku pijitin dulu ya kakinya?
Tadikan kamu jalan terus, pasti pegel banget”
Agni mengangguk kecil. Hhh... aku yakin sebenarnya dia
daritadi merasakan pegal itu, hanya saja sungkan meminta tolong padaku. Aku
bingung, sampai kapan sih rasa canggung itu hilang?
Aku menundukkan badanku dan menyingkap selimut yang sedari
tadi menutupi kami berdua.
“Ni, boleh aku tau tentang
hubungan kamu dengan Alvin?”
Dia terlihat menghela nafas, lalu membangunkan dirinya
dengan agak susah, sementara aku menyiapkan bantal untuk dia bersandar di
kepala tempat tidur.
“terimakasih”
Aku hanya mengangguk menanggapinya, lalu kembali memijat
kakinya kembali dengan selembut mungkin.
“dulu, aku mengenal Alvin waktu aku hampir tertabrak sama dia. Setelah
itu hubungan kami semakin baik dan semakin dekat sampai kami jadian, pada
awalnya hubungan kami baik-baik saja, tapi semenjak aku di kenalkan dengan
orang tuanya aku mencoba menjauh darinya, aku sangat sakit hati dengan sikap
orang tua Alvin. Tapi, Alvin selalu bisa menemuiku. Sampai aku benar-benar
meninggalkannya, aku mengganti ponselku, aku keluar dari pekerjaanku yang dulu”
Aku melihat Agni tersenyum kecil, namun pandangannya sedang
menerawang entah kemana.
“aku merasa itu benar-benar mirip
seperti sinetron-sinetron yang aku lihat”
“apa dia tidak tau alamat
rumahmu?”
Agni menggeleng.
“aku selalu mencari alasan kalau
dia memintanya, saat itu aku masih labil dan belum bisa menjaga diri, aku takut
terjadi apa-apa kalau seorang lelaki tau alamat rumahku”
Aku menanggapinya dengan senyuman, ternyata istriku memang
sudah berpikiran dewasa sejak dulu. Aku merasa bangga dan beruntung
menjadikannya istri.
Tok tok tok
“Ma... Pa...”
Aku beranjak dari tempat tidur, lalu membukakan pintu untuk
Angel. Puteriku itu tersneyum begitu menggemaskan saat aku menatapnya, dia
terlihat menenteng boneka yang baru saja ia dapatkan dari Oom gantengnya.
Kenapa aku merasa Angel lebih dekat apa Ray ya? hhh... apa aku cemburu melihat
kedekatan mereka? Karena aku sadar, semenjak Agni hamil perhatianku seluruhnya
tercurah pada Agni. Bukan pada Angel yang notabennya puteri kecilku.
“An boleh tidur sama Mama sama
Papa gak? An janji gak deket Mama kok”
Aku mencubit pipinya dengan gemas, anak ini memang selalu
terlihat menggemaskan dimanapun dan kapanpun. Tidak heran banyak orang yang
menyukainya.
“boleh kok sayang, yuk masuk”
Aku menutup pintu itu kembali kemudian berjalan mengikuti
Angel ke arah tempat tidur. Angel dan Agni saling melempar senyuman dari
kejauhan. Angel terlihat sangat ingin sekali mendekati Agni. Hhh... aku merasa
egois sekali menjauhkan Agni dari Angel hanya gara-gara takut Agni
kenapa-kenapa.
“An, deketin aja Mamanya kalo
kangen”
Angel menggeleng kemudian menenggelamkan kepalanya sebentar
pada boneka yang ia peluk. Kenapa anakku ini? apa dia bersikap seperti ini
gara-gara aku yang terus-terusan menjauhkannya dari Agni?
“An takut nyakitin Mama... entar
Dedeknya juga sakit kalo An nakal”
“enggak kok, An sini deh... Mama
juga kangen pengen peluk An”
Agni merentangkan kedua tangannya, semenjak perutnya
membesar pergerakan Agni memang seperti tersendat-sendat. Aku yakin itu sangat
sulit untuknya, sesulit saat aku melihatnya kesulitan.
“Papa... An boleh meluk Mama?”
Aku mengacak-acak rambut Angel dengan sayang, kenapa anak
ini selalu saja sangat menggemaskan? Oh God, sekarang aku sangat bersalah
memarahinya terus kemarin-kemarin.
“boleh kok”
Angel tersenyum sangat bahagia mendengar penuturanku, dia
langsung berhamburan memeluk Agni dan tiduran di pangkuan Agni.
Agni juga terlihat lebih ceria, dia begitu senang bercerita
pada Angel, sebagai pengantar tidurnya.
“Ma... kalo Daddy buat An boleh
gak?”
Aku terkekeh mendengarnya, begitupun juga Agni. Aku dan Agni
saling berpandangan dengan tawa yang tidak bisa di tahan. Apa maksudnya coba?
Masa iya sih Ray mau nungguin Angel? Ya paling tidak sampai 20 tahun lah, itu
berarti 14 tahun lagi Ray nunggu. Dan yang aku tau, Ray itu bukan tipe lelaki
yang suka menunggu. Ck! Sudahlah, berpikir apa aku ini? ngaco sekali.
“udah An tidur aja, entar Papa
pindahin An kedeket Papa biar gak nendang-nendang sama Mama”
Angel terlihat mengangguk patuh, lalu mulai memejamkan
matanya. Hhh... aku akan memberikan apapun kebahagiaannya, tapi kalau yang ia
mau Ray? Apa aku masih bisa? Ya Tuhan... kenapa puteriku secepat itu merasakan
cinta?
“apa Ray mau? Aku rasa Angel
terlalu kecil”
“aku juga berpikiran sama,
tapi... sudahlah, biar takdir yang menjawabnya”
***
Tanpa terasa hari kelahiran anakku datang, semuanya sudah
persiapan. Sementara aku masih duduk-duduk santai di sofa, kata orang kalau mau
lahirankan suka sakit banget tapi aku masih adem ayem aja, belum merasakan
apapun.
“Rio...”
Rio berbalik menatapku dengan panik, dia memang dari tadi
mondar-mandir menyiapkan segala sesuatunya. Aku melmbaikan tangan padanya, aku
ingin dia mendekat.
Rio dengan cepat berjalan ke arahku, dia kemudian duduk di
sampingku.
“kenapa? Udah ada tanda-tanda?”
Aku menggeleng, satu tanganku mengelus kepalanya mencoba
menenangkan pikirannya. Kenapa dia tidak bisa santai? Biasanya dia tidak akan
sepanik ini.
“tenang, tergesa-gesa cuma buat
kamu celaka. Ya kan?”
Rio terlihat menghela nafas beberapa kali.
“mendingan kamu cek dulu
mobilnya, aku gak mau terjadi sesuatu”
Rio terlihat lebih tenang sekarang, kemudian dia berlalu
menuju garasi. Hhh... selamatkanlah kami semua tuhan...
***
Aku terus menggenggam tangan Agni dengan kuat, aku tidak
peduli dia akan menyakiti aku dengan cengkraman kuku-kuku tajamnya. Aku yakin
yang Agni rasakan lebih sakit dari apa yang aku rasakan.
“tahan sayang, sabar ya”
Agni melirikku sekilas lalu berkonsentrasi pada
persalinannya lagi. Aku menghapus peluh yang ada di dahinya, aku benar-benar
tidak tega melihatnya. Aku jadi berpikir tidak mau memiliki anak lagi kalau
Agni harus kesakitan seperti ini.
Taklama terdengar suara nyaring khas suara tangisan bayi.
Hhh... akhirnya.
“sayang, kamu berhasil”
“Rio... masih sakit... argh...”
“dokter bayinya kembar”
Ya tuhan... ternyata belum berakhir?
Berselang lima belas menit barulah terdengar kembali
tangisan bayi. Akhirnya.... sudahlah tuhan... aku tidak tega melihat Agni
seperti ini lagi. Aku merasakan genggaman Agni mengendur. Nafasnya bernar-benar
tidak teratur, wajahnya begitu pucat dan matanya mulai terpejam.
“Pak, anda boleh keluar dulu
sebentar... biar Bu Agni kami bersihkan dulu”
‘tapi sus”
“tidak apa-apa pak”
Aku mengalah. Akhirnya aku keluar dan di sambut oleh orang
tuaku beserta Ray dan Angel. Mereka terlihat
begitu gusar menanti.
“bagaimana Rio? cucu Mama? Agni?”
“baik-baik aja Ma, bayinya
kembar”
***
Aku memandangi puteri kecilku yang saat ini sedang aku
gendong, sementara puteraku ada dalam gendongan Rio. aku menamai mereka berdua
Novi dan Bagas. Angel juga sangat antusias melihat adik-adiknya, dia sesekali
berlari ke arah Rio dan sesekali duduk di sampingku.
“Rio...”
“gak sopan banget sih Ray!
Permisi kek atau gimana”
“hehe... sorry Ni”
“ada apa Ray?”
“kapan mau masuk? Numpuk banget
kerjaan, oiya... satu lagi boks bayi udah dateng, tadi udah aku rapihin”
Aku melirik Angel yang terlihat cemberut. Hey, kenapa dia?
“An kenapa?”
“tau ahh”
“ehh ada Angel, hai sayang”
Ray mendekat ke arah Angel, telungkup di tempat tidurku
menghadap Angel. Angel mengacak-acak rambut Ray dengan kesal.
“Ray, kapan mau nyusul? Inget
umur”
“gak tau, 14 tahun lagi boleh
gak?”
Aku hampir saja terbahak melihat ekspresi Angel saat di
lirik oleh Ray yang bermaksud menggodanya. Puteriku itu benar-benar lucu
apalagi dengan wajah yang memerah seperti itu.
Aku melirik Rio yang entah kenapa dia jadi terdiam, dia
terlihat sedang merasakan sesuatu. Tapi apa? Aku tidak mengerti dengan ekspresi
Rio. aku mendengar Rio bergumam kecil.
“Agneta”
***
“puteramu tampan sekali Rio...
seperti dugaanku, kamu akan lebih bahagia jika melupakanku. Tugasku sudah
selesai, aku akan pergi dari sini... sampai jumpa Mario”
“Agnetaa”
“ya Mario...”
Aku segera berbalik ke arah Agni yang ternyata sedang menatapku
dengan tatapan penuh tanya, aku meletakkan Bagas di tempat tidur kemudian
berjalan ke ruang kerjaku. Aku harus menemui Agneta. Aku tidak mau kehilangan
dia begitu saja.
Begitu aku membuka pintu ruang kejaku, aku melihat bayangan
berwarna putih berdiri menghadap foto yang berada di belakang meja kerjaku. Aku
berjalan mendekatinya.
“Agneta”
“Mario...”
“jangan tinggalkan aku”
Dia tersenyum padaku, wajahnya terlihat lebih pucat dari
biasanya. Kenapa dia?
“sembilan bulan ini kamu tidak
memanggilku, itu berarti kamu telah bahagia dengan Agni kan? Kamu begitu
menyayangi dia... Mario... aku hanya halusinasimu, lupakanlah... kamu akan
lebih bahagia dengan Agni... aku yakin kamu kaget dengan kenyataan yang di
bilang sama Ray, kalau aku adalah sepupu Agni, sepupu yang juga di rawat oleh
ayah Agni, orang yang selama ini kamu kirimi uang untuk biaya kehidupan mereka”
“Agneta”
“peluklah aku”
Aku segera memeluknya, aku benar-benar tidak mau
kehilangannya. Tapi, saat aku mulai membuka mataku. Aku merasakan Agneta telah
hilang, tidak ada lagi yang menghangatkan ruangan ini.
“Rio...”
Aku mengalihkan pandanganku pada Agni yang berada di ambang
pintu. Aku membalas senyuman Agni yang telah terlebih dahulu tersenyum padaku.
“Agni...”
Aku mendekatinya kemudian memeluk istriku itu dengan erat,
aku akan memastikan selalu menjaganya dan tidak akan kehilangannya. Aku tidak
mau kehilangan untuk kedua kalinya.
“jangan pergi... aku tidak mau
kehilangan kamu”
“aku tidak akan pergi Rio... aku
juga gak mau kehilangan kamu”
Agni membalas pelukanku dengan erat. Aku merasakan elusan di
punggungku. Ijinkanlah aku selalu ada di sampingnya tuhan.
Setelah itu, Aku dan Agni saling berpandangan penuh rindu,
beberapa minggu ini aku benar-benar tidak bisa menyentuh Agni karena
kesibukannya dengan si kembar. Aku menatapnya penuh rasa rindu.
“apa... kita sudah bisa
melakukannya?”
Dia terkekeh kecil kemudian memukul dadaku pelan. Kenapa dia
selalu saja seperti ini kalau aku meminta bagian?
“bisa sayang”
Aku tersenyum begitu senang. Apa iya? Akhirnya penantianku...
“apa kita pernah melakukannya di
ruangan ini?”
Aku mulai mencium kening dan kedua pipinya. Aku melihat Agni
yang memejamkan matanya menikmati sentuhanku. Cantik sekali kalau dia sudah
seperti ini.
Saat aku hendak mengecup bibirnya terdengar sebuah teriakan.
“Ma... dedek As sama dedek Vi nya
nangis”
Argh... sial! Aku harus menahannya lagi? Aku dan Agni saling
berpandangan, aku mengelus pipinya kemudian mengecup puncak hidungnya sebentar.
Sementara dia mengelus dadaku, mungkin menenangkanku.
“semoga ini menjadi awal
kebahagiaan kita...”
***
Tamat.
No comments:
Post a Comment