“Semoga,
kau tetap menunggu”
14 years later...
Aku berjalan keluar bandara dengan mendorong beberapa koper
yang ada di atas alat yang telah di sediakan disana. Kalau ada yang bertanya
sebahagia apa aku sekarang, tentu sangat bahagia sekali. Kalian semua pasti tau
jawabannya karena apa. Tentu saja karena Oom-ku, Ray. Tapi tentu tidak lupa
sama Papa, Mama dan kedua adik kembarku, Bagas dan Novi. Membayangkan kelucuan
mereka, aku merasa ingin cepat-cepat mencapai rumah, terakhir aku bertemu itu
saat mereka berumur 10 tahun. Setelah 5 tahun ini, apa mereka tetap bandel dan
suka bertengkar? Ahh entahlah...
Hhh... membayangkan sosoknya sekarang membuatku
senyum-senyum sendiri, apa dia semakin tampan? Semakin gagah? Aku tau, pasti
jawabannya iya. Umurnya sekarang kalau tidak salah 36 tahun. Hmm... jauh
memang, kalau di bandingkan dengan umurku. Perbedaannya mencapai 16 tahun. Tapi
ya, yang namanya cinta... memangnya memandang umur? Terkadang perbedaan
agamapun mereka lewati kalau atas dasar cinta. Apalagi hanya masalah umur?
Setiap tahun ulang tahunnya, aku tidak pernah lupa menjadi
orang pertama yang mengucapkan selamat untuknya, begitupun sebaliknya. Walaupun
beberapa tahun ini aku tinggal di Jerman, tapi aku dan dia tetap saling
berkomunikasi.
Pikiranku melayang pada beberapa tahun yang lalu, saat Mama
dan Papa honeymoon keliling
Indonesia. Aku selalu di antar kesekolahku oleh Oom Angel, sampai dia dekat
dengan guru-ku, namanya Ibu Keke. Dari sana, aku marah besar pada Oom Angel.
Aku juga tidak mengerti kenapa, tapi yang pasti aku tidak suka dengan kedekatan
mereka.
“An gak suka Daddy deket-deket sama Ibu Keke! Kalo Daddy deketan sama
Ibu Keke terus An gak mau di anter di jemput lagi sama Daddy! Kalo Daddy gitu
terus jangan deket-deket lagi sama An! An benci Daddy!”
Aku selalu tersenyum saat mengingat kata-kata itu. Aku rasa
itu sangat aneh, dan permintaan yang konyol. Tapi ternyata Oom Angel
menurutinya juga, aku sampai tidak menyangkanya. Aku merasa melambung terbang
saat menyadari betapa sayangnya Oom Angel padaku.
Ternyata Mama sedang hamil saat pulang honeymoon, saat itu
aku sangat senang sekali. Karena aku merasa aku tidak akan sendiri lagi di
rumah, nanti di rumah bakalan ada temen. Tapi kesenanganku berbalik menjadi
kesedihan, ternyata aku jadi lebih sering di marahi Papa, padahal saat itu mana
ngerti tentang orang hamil aku? aku benar-benar merasa Papa sudah tidak sayang
sama aku, Papa lebih sayang sama Mama. Sebelum kebencianku itu menjadi,
ternyata ada Oom-ku lagi.
“Papa bukannya benci sama Angel, tapi Papa khawatir kalo Mama jatoh
atau sakit. Kan Angel tau sendiri kalo
Mama lagi hamil, sebentar lagi Angel bakalan punya dedek bayi”
“tapi Papa keseringan Marahin An nya, An gak suka”
“makannya Angel jangan ajakin Mama yang aneh-aneh, kalo Angel mau
sesuatu bilang aja sama Daddy, entar Daddy kasih”
“non Angel”
Aku mencari sumber suara yang memanggil namaku, lalu nampak
dari kejauhan orang yang sangat aku kenal, Oom Irshad.
“Oom... apa kabar?”
“baik non, yuk kita pulang”
Di sepanjang perjalanan pikiranku terus saja menerawang ke
masalalu. Saat dimana Mama hamil, aku merasa di nomor duakan, sangat merasa
seperti itu. Tapi untunglah, selalu ada Oom Ray yang ada buatku. Ada suatu
kejadian yang sangat lucu, yang menurutku benar-benar memalukan, tapi untuk
ukuran anak 6 tahun itu mungkin akan sangat lucu. Hhh... aku selalu ingat
kejadian itu.
“Ma... kalo Daddy buat An boleh gak?”
Entah kenapa aku merasa sangat polos saat itu. Sampai
beberapa hari setelah itu. Oom Ray gak mau lagi aku panggil Daddy. Gak tau
kenapa, dia gak pernah bilang alasannya. Pada awalnya sih aku merasa dia
terganggu dengan panggilan itu, tapi ternyata bukan dan dia berjanji akan
menjelaskannya setelah umurku 20 tahun. Dan hari ini aku akan menagih janji
itu.
“Oom ke kantor Oom Ray ya”
“baik non”
Aku sangat tidak sabar untuk segera sampai di sana. Aku
melirik arlojiku, jam makan siang. Semoga Oom Ray tidak sedang keluar.
“sudah sampai non”
“eh... oiya Oom gak usah nungguin
ya... biar nanti aku pulang sama Oom Ray aja”
“baik non”
Kantor ini masih sama, sama seperti lima tahun yang lalu.
Tidak ada yang berubah sedikitpun. Aku menaiki lift untuk mencapai ruangan Oom
Ray yang berada di lantai paling atas.
“tante Sivia”
“Angel? Kamu tambah cantik
sayang... kapan pulang?”
“baru aja sampai... Oom Ray ada?”
“ada... tapi...”
“makasih tante”
Aku segera berjalan menuju ruangan Oom Ray, saat aku
melewati ruangan Papa terlihat sepi. Mungkin Papa pulang setelah menjemput
Bagas dengan Novi, seperti kebiasaannya dulu padaku.
Aku segera berjalan dengan penuh semangat menuju ruangan
Oom-ku.
Aku membuka pintu tanpa permisi. Oh God apa yang aku lihat
ini? Oom Ray sedang apa dia dengan seorang wanita?
“Oom...”
Dengan susah payah aku mengeluarkan suaraku, aku merasa
pandanganku mulai kabur saat Oom Ray bangkit daari meja kerjanya dan merapihkan
pakaiannya. Aku benar-benar kecewa dengan Oom Ray, aku... aku tidak bisa
menggambarkan betapa kecewanya aku sekarang ini.
“Angel...”
“An... An kecewa banget”
“Angel dengerin dulu Oom”
Oom Ray menarik tanganku, aku melirik ke arahnya lalu ke
arah wanita yang masih duduk di atas meja kerja Oom-ku. Sepertinya dia masih
kecil, aku perkirakan 5 tahun di bawahku. Dasar brondong tua!
“An tau Oom gak suka nunggu! An
tau Oom itu gak bener-bener mau nunggu An. Tapi kenapa Oom malah mainin An? Oom
bisakan bilang kalo Oom gak mau nunggu An?”
Aku berkata dengan penuh ketenangan, aku tidak mau di nilai
kekanak-kanakan sama bocah tengil itu. Dasar perempuan murahan! Aku yakin dia
masih SMA dan berniat mengambil semua kekayaan Oom-ku. Memangnya kamu bisa
mengalahkanku? Hah! Tentu tidak!!!
“Angel... dengerin Oom”
Aku menatapnya tanpa berbicara. Oom Ray nampak menghela
nafas panjang lalu menatapku sebentar kemudian mengalihkan pandangannya pada
perempuan itu yang kini memegang bahu Oom Ray dengan manja. Eugh... toilet
toilet... dimana toilet, aku benar-benar ingin muntah melihat wajah so maisnya.
“pergi dari sini sebelum saya
panggilkan satpam”
“tapi Oom...”
“pergi!”
Aku tersenyum penuh kemanangan saat dia menatapku dengan
kesal namun dia tidak bergeming. Dia masih saja berada di ruangan itu.
“Angel, sebainya kita saja yang
pulang”
Tanpa menghiraukan perempuan itu, Oom Ray menarikku keluar
ruangannya. Sebelum aku benar-benar keluar aku sempat melihat ekspresi
perempuan itu yang sepertinya sangat kesal, apalagi saat Oom Ray merangkulku
dan aku membalas rangkulannya. Hah! Gak ada yang bisa mengalahkan Angel
Arindous! You’re loser!!!
Sepanjang perjalanan aku hanya mendiamkan Oom Ray, aku lebih
memilih melihat ke luar kaca mobil daripada harus menatapnya. Hanya akan
menghilangkan kekesalanku, dan hanya akan membuatku lupa pada kata-kata yang
akan ku ucapkan nanti.
“Angel...”
“hn”
“apa yang kamu lihat gak seperti
apa yang kamu pikirkan”
“memangnya apa yang aku
pikirkan?”
“ehm... ya... Oom pikir kamu
sudah sangat dewasa untuk memikirkan hal itu”
“oh”
Aku benar-benar berusaha meredam emosiku, tapi ternyata
malah kata-kata datar itu yang keluar. Kata-kata yang biasaku katakan pada
lelaki yang senang mendekatiku saat aku maih SMA dan saat aku berada di Jerman.
Mobil Oom Ray telah sampai di halaman rumahku, terlihat ada
mobil Papa. Tepat seperti dugaanku, ternyata Papa emang gak pernah merubah
kebiasaannya. Selalu meluangkan waktu selama satu jam atau dua jam saat makan
siang seperti ini.
“Buka Oom”
Aku berujar dengan kesal, ternyata pintunya sengaja di
kunci. Apa sih yang dia mau? Belum puas apa menyakitiku seperti ini?
“Angel... dengerin Oom dulu”
Oom Ray menarikku agar beralih menatapnya. Saat berhadapan
aku menatapnya tajam dan mengatupkan gigiku, kesal. Sementara Oom Ray menatapku
dengan lembut, cenderung sayu. Tangan kanannya meraih Pipi kiriku, sementara
tangan kirinya membuka sabuk pengamanku lalu mulai meraih pinggangku. Hey! Apa
yang akan dia lakukan?
“Oom... lepas”
“Oom sangat menantikan 14 tahun
penantian ini Angel, apa kamu sama sekali gak percaya? Hanya dengan melihat
gadis itu menggoda Oom, kamu menilai Oom sebegitunya? Please percaya, Oom gak
mungkin ada niat buat...”
“buat? Buat apa Oom?”
Aku menatapnya dengan tersenyum masam, aku yakin dia
kehabisan kata-kata melihat tingkahku sekarang. Aku sangat puas melihatnya
kelimpungan seperti ini.
“buat mengkhianati kamu,
melupakanmu begitu saja. Oom gak mungkin bisa melakukan itu”
“kenapa? Dengan alasan apa Oom
melakukan itu? Oom gak akan punya alesan yang kuat buat itu... An...”
Aku seketika mematung dan menghentikan ocehanku saat aku
merasakan sapuan begitu lembut di bibirku, begitu lembut namun tergesa. Angel c’mon
sadar!
Aku langsung mendorong tubuh Oom Ray sekuat tenagaku,
menatapnya dengan tajam.
“Oom sayang sama kamu, Oom juga
cinta sama kamu”
Tatapan tajamku mulai berubah, namun rasa kesalku masih saja
ada. Aku segera menekan tombol agar membukakan pintu di sebelahku. Kemudian
pergi begitu saja tanpa mempedulikan seruan Oom Ray. Aku terus berjalan begitu
cepat, sampai di ruang keluarga aku di sambut hangat oleh Papa, Mama dan kedua
adikku. Aku hanya tersenyum pada mereka karena aku mendengar suara derap langkah
kaki yang aku yakin itu derap kaki Oom Ray yang mengejarku, aku segera berlalu
menuju kamarku. Aku benar-benar merasa tidak peduli dengan sahutan-sahutan
kekhawatiran dari mereka semua. Aku bener-bener sakit hati sekarang!
Beberapa hari aku menghindari percakapan dengan Oom Ray,
sebenarnya gak ada alesan buat aku marah sebegini lamanya. Kalau gara-gara
insiden ciuman itu, menurutku tidak begitu masalah karena dalam hati, aku
merasa senang dengan kenyataan bahwa Oom Ray mencintaiku. Tapi, aku belum yakin
dengan apa yang dia katakan. Aku masih butuh kepastian!
“kak, ayo dong bawain rapot kita”
Aku mendelik ke arah Bagas yang merengek, lalu pada Novi
yang hanya menatapku dalam diam, keduanya sejak satu jam yang lalu terus
membujukku untuk mengambilkan rapot mereka, padahal ada Mama dan Papa kenapa
memintaku? Aku tau kok Mama atau Papa tidak akan menolak meskipun mereka sibuk.
“kak... sekali aja”
Jujur, sebenarnya aku sedang malas keluar rumah, aku lebih
senang berada di kamarku ini. aku menatap mereka bergantian, keduanya menatapku
dengan pandangan memelas. Ya Tuhan... tumben sekali kedua adikku ini kompak?
Kalau tidak salah ini kali keduanya mereka kompak di hadapanku. Sama halnya
seperti kejadian dulu saat keduanya gak mau aku tinggalin ke Jerman. Ya
walaupun kompak membujukku agar aku
tidak pergi, tapi tentu saja tujuan mereka berbeda. Ckckck...
“Kakak... jangan, entar siapa yang jagain Vi kalau As nakal?”
“ihh siapa yang nakal? As gak nakal kok, Vi aja yang manja... ayolah
kak, jangan tinggalin kita ya... entar kalo gak ada yang bujukin Vi buat gak
marah gak ada yang bisa As jailin dong kak... jadinya kan gak seru”
“kakak kenapa senyum-senyum sih?
Ayo”
Novi menarik tanganku agar aku berdiri dari tempat tidur.
Aku menyembunyikan senyumanku walau dalam hati aku masih saja ingin tersenyum,
bahkan kalau bisa sampai terbahak-bahak.
“iya iya, kalian itu udah gede
tapi masih aja manja! Yaudah Kakak mandi dulu”
Aku melihat Bagas dan Novi tersenyum begitu antusias,
keduanya saling melempar pandangan. Tunggu! Ada apa mereka? Aku yakin diam-diam
mereka sedang merencanakan sesuatu! Awas aja! Aku jailin baru tau rasa!
***
Untuk sekian kalinya aku menghela nafas panjang, aku mencoba
tenang dan terus bersikap dingin di hadapannya. Aku tidak boleh terlihat lemah.
Tidak!
“kak... kakak gapapa?”
Aku melirik Bagas yang menatapku khawatir, adik lelakiku
yang satu ini memang sangat peka dengan perasaanku. Aku jadi tidak heran jika
dia bertanya seperti itu, karena dia pasti menyadari gelagat perubahanku.
“Angel...”
Aku mendongakkan wajahku angkuh, mataku menyipit dan aku
tersenyum sedingin mungkin padanya. Senyuman yang terbingkai di wajah tampannya
perlahan memudar. Ngapain dia kesini? Kenapa nyamperin aku? pergi aja sana sama
cewek ganjen itu. Kalau bisa aku akan mengatakannya, tapi sayangnya aku tidak
setega itu.
“As, Vi... dimana kelas kalian?
Kakak gak punya banyak waktu”
“di...”
“Angel... kamu kenapa sih? Oom
salah apa lagi?”
Salah apa? Salah karena ganjen! Gak sadar umur! Gak peka!
Aku mendelik ke arah Oom Ray kemudian tersenyum semanis
mungkin padanya.
“anak anda sedang mencak-mencak
tuh, permisi”
Aku segera berjalan menjauh dengan cepat, lalu di susul oleh
Bagas dan Novi yang setia di belakangku. Hatiku bergemuruh! Panas! Sangat
panas!
Tapi aku harus kuat, gak boleh kekanak-kanakan seperti ini.
“Angel...”
Oom Ray mencekal tanganku, lalu dengan sekali sentakan
membuat aku berbalik ke arahnya sampai jatuh dalam pelukannya. Pandanganku dan
dia bertemu. Mata yang selalu ku rindukan itu kini menatapku, wangi maskulin
dari tubuhnya benar-benar mengobati dahagaku.
“Kakak... Oom Ray dateng kesini
itu...”
“Novi! Stt... jangan ganggu!
Dasar pengacau!”
“ihh apaan sih? As?”
“jangan panggil aku As! Aku bukan
anak kecil lagi Vi”
“As... kenapa takut penggemarmu
ilfeel dengan sebutan itu? :P”
“Vi!!!”
Aku terkekeh melihat tingkah Bagas dan Novi, apalagi saat
Bagas menggeram kesal karena di panggil ‘As’. Yang aku tau dari Mama, katanya
Bagas jadi idola di sekolahnya dan gak mau ada satu orangpun mengetahui panggilan
masa kecilnya itu. Dasar.
Tunggu... kenapa masih ada yang memeluk pinggangku?
Aku segera menoleh dan pandanganku bertemu dengan mata indah
milik Oom Ray.
“eh...”
Aku segera melepaskan pelukanku, aku yakin wajahku sekarang
memerah karena Oom-ku terlihat terkekeh. Kenapa sih dia selalu seperti itu?
Kalau sudah seperti itu pasti...
Tuhkan!
“lucu sekali kamu”
Oh God! Kenapa dia selalu mengecup pipiku saat aku seperti
ini? gak sadar tempat banget sih! Ini sekolahan!
“Oom Ray”
Aku menoleh ke sumber suara, ternyata gadis ingusan itu! Mau
apa lagi dia?
Oom Ray tersenyum ke arahku, tangan kanannya mengelus pipi
kiriku. Entahlah apa tujuannya, yang penting itu membuatku tenang dan tidak
berpikir macam-macam.
“dia bukan siapa-siapa kok,
katanya sih dia anak mantan clien-nya
Oom”
“jadi tante Shilla sama Oom Alvin
itu mantan clien-nya Oom ya?”
Aku melirik ke arah Bagas yang tampak sedang mengingat-ingat
sesuatu. Darimana dia tau Oom Alvin dan tante Shilla? Padahal semenjak kejadian
di ulang tahunku yang ke 6 dulu, mereka tidak pernah muncul lagi di kantor
Papa. Tunggu! Jadi dia itu anaknya Oom Alvin dan Tante Shilla?
“dia namanya Chelsea kak, waktu
dulu Bagas sempet juga deket sama dia dan sampe di kenalin sama Mama Papanya”
Tepat! Gak dapet anaknya sekarang beralih sama adiknya!
Bagas gak dapet, Oom Ray pun jadi. Seperti kejadian dulu,
gak dapet Papa tante Shilla juga menggoda Oom Ray. Tau ahh... pusing.
***
Aku mendengar suara gaduh di luar kamarku. Sedang ada acara
apa sih rame sekali? Sampai mereka mengganggu acara tidur siangku!
Saat aku membuka pintu di luar telah ada Oom Ray dengan
pakaian resminya. Ada acara apa ini? kenapa semuanya memakai pakaian resmi?
Dari Mama dan Novi yang memakai gaun, Papa, Bagas dan Oom Ray memakai tuxedo.
Oom Ray berlutut di hadapanku, aku agak mundur. Kenapa
semuanya aneh begini sih?
Aku yakin mereka tersenyum karena melihat aku yang
kebingungan seperti orang bodoh.
Aku melihat Oom Ray mengeluarkan sebuah kotak berwarna
merah. Iihh apaan sih?
“Angel Arindous... maukah kamu
menikah denganku? Ya, atau mau?”
Aku mengerutkan keningku. Melamar atau memaksa?
“kok maksa sih?”
“pokoknya gitu!”
“An gak mau”
“gak ada jawaban enggak!”
“Oom...”
“jadi?”
Aku menatapnya yang menunggu jawabanku dengan serius. Otak
jahilku mulai bekerja.
“jadi apa?”
“Angel... Oom serius”
“iya iya... An mau”
Semua orang saling berpandangan da tersenyum puas. Oom Ray
membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah cincin yang kemudian di pasangkan di
jari manisku.
“syukur ya Pa, kita bisa nurutin
apa yang Angel mau”
Aku melirik ke arah Mama. Jadi, Mama menganggap pertanyaanku
dulu serius? Ya Tuhan....
Oom Ray tiba-tiba berdiri lalu mengangkatku dan memasuki
kamar kembali. Hey!
“Oom turunin”
Oom Ray menurunkan aku kemudian menutup rapat pintu kamar. Dia
tersenyum begitu lebar padaku, begitupun denganku. Aku segera memeluknya karena
tidak bisa menahan lagi rasa bahagiaku.
“makasih ya Oom... Oom mau
nungguin An”
“iya sayang”
Aku merasakan damai dalam pelukan Oom-ku yang sekarang
menjadi calon suamiku. Aku tidak mau kehilangannya. Sampai kapanpun!
“WOY! Ngapaian kalian! Buka! Kalian
belum sah! Ray! Anak gueee”
Aku mendengar teriakan Mama dari luar. Aku baru kali ini
denger kata ‘gue’ dari Mama. Saking emosinya kali ya?
Aku bahagia berada di sekitar orang yang menyayangiku.
Tuhan... terimakasih kau memberikan hidup yang begitu sempurna untukku.
***
Tamat. :)
No comments:
Post a Comment