Saturday, 1 June 2013

Between Love and Obsession (Angel-Side)

“Semoga, kau tetap menunggu”

14 years later...

Aku berjalan keluar bandara dengan mendorong beberapa koper yang ada di atas alat yang telah di sediakan disana. Kalau ada yang bertanya sebahagia apa aku sekarang, tentu sangat bahagia sekali. Kalian semua pasti tau jawabannya karena apa. Tentu saja karena Oom-ku, Ray. Tapi tentu tidak lupa sama Papa, Mama dan kedua adik kembarku, Bagas dan Novi. Membayangkan kelucuan mereka, aku merasa ingin cepat-cepat mencapai rumah, terakhir aku bertemu itu saat mereka berumur 10 tahun. Setelah 5 tahun ini, apa mereka tetap bandel dan suka bertengkar? Ahh entahlah...

Hhh... membayangkan sosoknya sekarang membuatku senyum-senyum sendiri, apa dia semakin tampan? Semakin gagah? Aku tau, pasti jawabannya iya. Umurnya sekarang kalau tidak salah 36 tahun. Hmm... jauh memang, kalau di bandingkan dengan umurku. Perbedaannya mencapai 16 tahun. Tapi ya, yang namanya cinta... memangnya memandang umur? Terkadang perbedaan agamapun mereka lewati kalau atas dasar cinta. Apalagi hanya masalah umur?

Setiap tahun ulang tahunnya, aku tidak pernah lupa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untuknya, begitupun sebaliknya. Walaupun beberapa tahun ini aku tinggal di Jerman, tapi aku dan dia tetap saling berkomunikasi.

Pikiranku melayang pada beberapa tahun yang lalu, saat Mama dan Papa honeymoon keliling Indonesia. Aku selalu di antar kesekolahku oleh Oom Angel, sampai dia dekat dengan guru-ku, namanya Ibu Keke. Dari sana, aku marah besar pada Oom Angel. Aku juga tidak mengerti kenapa, tapi yang pasti aku tidak suka dengan kedekatan mereka.

“An gak suka Daddy deket-deket sama Ibu Keke! Kalo Daddy deketan sama Ibu Keke terus An gak mau di anter di jemput lagi sama Daddy! Kalo Daddy gitu terus jangan deket-deket lagi sama An! An benci Daddy!”

Aku selalu tersenyum saat mengingat kata-kata itu. Aku rasa itu sangat aneh, dan permintaan yang konyol. Tapi ternyata Oom Angel menurutinya juga, aku sampai tidak menyangkanya. Aku merasa melambung terbang saat menyadari betapa sayangnya Oom Angel padaku.

Ternyata Mama sedang hamil saat pulang honeymoon, saat itu aku sangat senang sekali. Karena aku merasa aku tidak akan sendiri lagi di rumah, nanti di rumah bakalan ada temen. Tapi kesenanganku berbalik menjadi kesedihan, ternyata aku jadi lebih sering di marahi Papa, padahal saat itu mana ngerti tentang orang hamil aku? aku benar-benar merasa Papa sudah tidak sayang sama aku, Papa lebih sayang sama Mama. Sebelum kebencianku itu menjadi, ternyata ada Oom-ku lagi.

“Papa bukannya benci sama Angel, tapi Papa khawatir kalo Mama jatoh atau sakit. Kan Angel  tau sendiri kalo Mama lagi hamil, sebentar lagi Angel bakalan punya dedek bayi”
“tapi Papa keseringan Marahin An nya, An gak suka”
“makannya Angel jangan ajakin Mama yang aneh-aneh, kalo Angel mau sesuatu bilang aja sama Daddy, entar Daddy kasih”

“non Angel”

Aku mencari sumber suara yang memanggil namaku, lalu nampak dari kejauhan orang yang sangat aku kenal, Oom Irshad.

“Oom... apa kabar?”
“baik non, yuk kita pulang”

Di sepanjang perjalanan pikiranku terus saja menerawang ke masalalu. Saat dimana Mama hamil, aku merasa di nomor duakan, sangat merasa seperti itu. Tapi untunglah, selalu ada Oom Ray yang ada buatku. Ada suatu kejadian yang sangat lucu, yang menurutku benar-benar memalukan, tapi untuk ukuran anak 6 tahun itu mungkin akan sangat lucu. Hhh... aku selalu ingat kejadian itu.

“Ma... kalo Daddy buat An boleh gak?”

Entah kenapa aku merasa sangat polos saat itu. Sampai beberapa hari setelah itu. Oom Ray gak mau lagi aku panggil Daddy. Gak tau kenapa, dia gak pernah bilang alasannya. Pada awalnya sih aku merasa dia terganggu dengan panggilan itu, tapi ternyata bukan dan dia berjanji akan menjelaskannya setelah umurku 20 tahun. Dan hari ini aku akan menagih janji itu.

“Oom ke kantor Oom Ray ya”
“baik non”

Aku sangat tidak sabar untuk segera sampai di sana. Aku melirik arlojiku, jam makan siang. Semoga Oom Ray tidak sedang keluar.

“sudah sampai non”
“eh... oiya Oom gak usah nungguin ya... biar nanti aku pulang sama Oom Ray aja”
“baik non”

Kantor ini masih sama, sama seperti lima tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Aku menaiki lift untuk mencapai ruangan Oom Ray yang berada di lantai paling atas.

“tante Sivia”
“Angel? Kamu tambah cantik sayang... kapan pulang?”
“baru aja sampai... Oom Ray ada?”
“ada... tapi...”
“makasih tante”

Aku segera berjalan menuju ruangan Oom Ray, saat aku melewati ruangan Papa terlihat sepi. Mungkin Papa pulang setelah menjemput Bagas dengan Novi, seperti kebiasaannya dulu padaku.
Aku segera berjalan dengan penuh semangat menuju ruangan Oom-ku.

Aku membuka pintu tanpa permisi. Oh God apa yang aku lihat ini? Oom Ray sedang apa dia dengan seorang wanita?

“Oom...”

Dengan susah payah aku mengeluarkan suaraku, aku merasa pandanganku mulai kabur saat Oom Ray bangkit daari meja kerjanya dan merapihkan pakaiannya. Aku benar-benar kecewa dengan Oom Ray, aku... aku tidak bisa menggambarkan betapa kecewanya aku sekarang ini.

“Angel...”
“An... An kecewa banget”
“Angel dengerin dulu Oom”

Oom Ray menarik tanganku, aku melirik ke arahnya lalu ke arah wanita yang masih duduk di atas meja kerja Oom-ku. Sepertinya dia masih kecil, aku perkirakan 5 tahun di bawahku. Dasar brondong tua!

“An tau Oom gak suka nunggu! An tau Oom itu gak bener-bener mau nunggu An. Tapi kenapa Oom malah mainin An? Oom bisakan bilang kalo Oom gak mau nunggu An?”

Aku berkata dengan penuh ketenangan, aku tidak mau di nilai kekanak-kanakan sama bocah tengil itu. Dasar perempuan murahan! Aku yakin dia masih SMA dan berniat mengambil semua kekayaan Oom-ku. Memangnya kamu bisa mengalahkanku? Hah! Tentu tidak!!!

“Angel... dengerin Oom”

Aku menatapnya tanpa berbicara. Oom Ray nampak menghela nafas panjang lalu menatapku sebentar kemudian mengalihkan pandangannya pada perempuan itu yang kini memegang bahu Oom Ray dengan manja. Eugh... toilet toilet... dimana toilet, aku benar-benar ingin muntah melihat wajah so maisnya.

“pergi dari sini sebelum saya panggilkan satpam”
“tapi Oom...”
“pergi!”

Aku tersenyum penuh kemanangan saat dia menatapku dengan kesal namun dia tidak bergeming. Dia masih saja berada di ruangan itu.

“Angel, sebainya kita saja yang pulang”

Tanpa menghiraukan perempuan itu, Oom Ray menarikku keluar ruangannya. Sebelum aku benar-benar keluar aku sempat melihat ekspresi perempuan itu yang sepertinya sangat kesal, apalagi saat Oom Ray merangkulku dan aku membalas rangkulannya. Hah! Gak ada yang bisa mengalahkan Angel Arindous! You’re loser!!!

Sepanjang perjalanan aku hanya mendiamkan Oom Ray, aku lebih memilih melihat ke luar kaca mobil daripada harus menatapnya. Hanya akan menghilangkan kekesalanku, dan hanya akan membuatku lupa pada kata-kata yang akan ku ucapkan nanti.

“Angel...”
“hn”
“apa yang kamu lihat gak seperti apa yang kamu pikirkan”
“memangnya apa yang aku pikirkan?”
“ehm... ya... Oom pikir kamu sudah sangat dewasa untuk memikirkan hal itu”
“oh”

Aku benar-benar berusaha meredam emosiku, tapi ternyata malah kata-kata datar itu yang keluar. Kata-kata yang biasaku katakan pada lelaki yang senang mendekatiku saat aku maih SMA dan saat aku berada di Jerman.
Mobil Oom Ray telah sampai di halaman rumahku, terlihat ada mobil Papa. Tepat seperti dugaanku, ternyata Papa emang gak pernah merubah kebiasaannya. Selalu meluangkan waktu selama satu jam atau dua jam saat makan siang seperti ini.

“Buka Oom”

Aku berujar dengan kesal, ternyata pintunya sengaja di kunci. Apa sih yang dia mau? Belum puas apa menyakitiku seperti ini?

“Angel... dengerin Oom dulu”

Oom Ray menarikku agar beralih menatapnya. Saat berhadapan aku menatapnya tajam dan mengatupkan gigiku, kesal. Sementara Oom Ray menatapku dengan lembut, cenderung sayu. Tangan kanannya meraih Pipi kiriku, sementara tangan kirinya membuka sabuk pengamanku lalu mulai meraih pinggangku. Hey! Apa yang akan dia lakukan?

“Oom... lepas”
“Oom sangat menantikan 14 tahun penantian ini Angel, apa kamu sama sekali gak percaya? Hanya dengan melihat gadis itu menggoda Oom, kamu menilai Oom sebegitunya? Please percaya, Oom gak mungkin ada niat buat...”
“buat? Buat apa Oom?”

Aku menatapnya dengan tersenyum masam, aku yakin dia kehabisan kata-kata melihat tingkahku sekarang. Aku sangat puas melihatnya kelimpungan seperti ini.

“buat mengkhianati kamu, melupakanmu begitu saja. Oom gak mungkin bisa melakukan itu”
“kenapa? Dengan alasan apa Oom melakukan itu? Oom gak akan punya alesan yang kuat buat itu... An...”

Aku seketika mematung dan menghentikan ocehanku saat aku merasakan sapuan begitu lembut di bibirku, begitu lembut namun tergesa. Angel c’mon sadar!
Aku langsung mendorong tubuh Oom Ray sekuat tenagaku, menatapnya dengan tajam.

“Oom sayang sama kamu, Oom juga cinta sama kamu”

Tatapan tajamku mulai berubah, namun rasa kesalku masih saja ada. Aku segera menekan tombol agar membukakan pintu di sebelahku. Kemudian pergi begitu saja tanpa mempedulikan seruan Oom Ray. Aku terus berjalan begitu cepat, sampai di ruang keluarga aku di sambut hangat oleh Papa, Mama dan kedua adikku. Aku hanya tersenyum pada mereka karena aku mendengar suara derap langkah kaki yang aku yakin itu derap kaki Oom Ray yang mengejarku, aku segera berlalu menuju kamarku. Aku benar-benar merasa tidak peduli dengan sahutan-sahutan kekhawatiran dari mereka semua. Aku bener-bener sakit hati sekarang!

Beberapa hari aku menghindari percakapan dengan Oom Ray, sebenarnya gak ada alesan buat aku marah sebegini lamanya. Kalau gara-gara insiden ciuman itu, menurutku tidak begitu masalah karena dalam hati, aku merasa senang dengan kenyataan bahwa Oom Ray mencintaiku. Tapi, aku belum yakin dengan apa yang dia katakan. Aku masih butuh kepastian!

“kak, ayo dong bawain rapot kita”

Aku mendelik ke arah Bagas yang merengek, lalu pada Novi yang hanya menatapku dalam diam, keduanya sejak satu jam yang lalu terus membujukku untuk mengambilkan rapot mereka, padahal ada Mama dan Papa kenapa memintaku? Aku tau kok Mama atau Papa tidak akan menolak meskipun mereka sibuk.

“kak... sekali aja”

Jujur, sebenarnya aku sedang malas keluar rumah, aku lebih senang berada di kamarku ini. aku menatap mereka bergantian, keduanya menatapku dengan pandangan memelas. Ya Tuhan... tumben sekali kedua adikku ini kompak? Kalau tidak salah ini kali keduanya mereka kompak di hadapanku. Sama halnya seperti kejadian dulu saat keduanya gak mau aku tinggalin ke Jerman. Ya walaupun kompak membujukku  agar aku tidak pergi, tapi tentu saja tujuan mereka berbeda. Ckckck...

“Kakak... jangan, entar siapa yang jagain Vi kalau As nakal?”
“ihh siapa yang nakal? As gak nakal kok, Vi aja yang manja... ayolah kak, jangan tinggalin kita ya... entar kalo gak ada yang bujukin Vi buat gak marah gak ada yang bisa As jailin dong kak... jadinya kan gak seru”

“kakak kenapa senyum-senyum sih? Ayo”

Novi menarik tanganku agar aku berdiri dari tempat tidur. Aku menyembunyikan senyumanku walau dalam hati aku masih saja ingin tersenyum, bahkan kalau bisa sampai terbahak-bahak.

“iya iya, kalian itu udah gede tapi masih aja manja! Yaudah Kakak mandi dulu”

Aku melihat Bagas dan Novi tersenyum begitu antusias, keduanya saling melempar pandangan. Tunggu! Ada apa mereka? Aku yakin diam-diam mereka sedang merencanakan sesuatu! Awas aja! Aku jailin baru tau rasa!

***

Untuk sekian kalinya aku menghela nafas panjang, aku mencoba tenang dan terus bersikap dingin di hadapannya. Aku tidak boleh terlihat lemah. Tidak!

“kak... kakak gapapa?”

Aku melirik Bagas yang menatapku khawatir, adik lelakiku yang satu ini memang sangat peka dengan perasaanku. Aku jadi tidak heran jika dia bertanya seperti itu, karena dia pasti menyadari gelagat perubahanku.

“Angel...”

Aku mendongakkan wajahku angkuh, mataku menyipit dan aku tersenyum sedingin mungkin padanya. Senyuman yang terbingkai di wajah tampannya perlahan memudar. Ngapain dia kesini? Kenapa nyamperin aku? pergi aja sana sama cewek ganjen itu. Kalau bisa aku akan mengatakannya, tapi sayangnya aku tidak setega itu.

“As, Vi... dimana kelas kalian? Kakak gak punya banyak waktu”
“di...”
“Angel... kamu kenapa sih? Oom salah apa lagi?”

Salah apa? Salah karena ganjen! Gak sadar umur! Gak peka!
Aku mendelik ke arah Oom Ray kemudian tersenyum semanis mungkin padanya.

“anak anda sedang mencak-mencak tuh, permisi”

Aku segera berjalan menjauh dengan cepat, lalu di susul oleh Bagas dan Novi yang setia di belakangku. Hatiku bergemuruh! Panas! Sangat panas!
Tapi aku harus kuat, gak boleh kekanak-kanakan seperti ini.

“Angel...”

Oom Ray mencekal tanganku, lalu dengan sekali sentakan membuat aku berbalik ke arahnya sampai jatuh dalam pelukannya. Pandanganku dan dia bertemu. Mata yang selalu ku rindukan itu kini menatapku, wangi maskulin dari tubuhnya benar-benar mengobati dahagaku.

“Kakak... Oom Ray dateng kesini itu...”
“Novi! Stt... jangan ganggu! Dasar pengacau!”
“ihh apaan sih? As?”
“jangan panggil aku As! Aku bukan anak kecil lagi Vi”
“As... kenapa takut penggemarmu ilfeel dengan sebutan itu? :P”
“Vi!!!”

Aku terkekeh melihat tingkah Bagas dan Novi, apalagi saat Bagas menggeram kesal karena di panggil ‘As’. Yang aku tau dari Mama, katanya Bagas jadi idola di sekolahnya dan gak mau ada satu orangpun mengetahui panggilan masa kecilnya itu. Dasar.
Tunggu... kenapa masih ada yang memeluk pinggangku?
Aku segera menoleh dan pandanganku bertemu dengan mata indah milik Oom Ray.

“eh...”

Aku segera melepaskan pelukanku, aku yakin wajahku sekarang memerah karena Oom-ku terlihat terkekeh. Kenapa sih dia selalu seperti itu? Kalau sudah seperti itu pasti...
Tuhkan!

“lucu sekali kamu”

Oh God! Kenapa dia selalu mengecup pipiku saat aku seperti ini? gak sadar tempat banget sih! Ini sekolahan!

“Oom Ray”

Aku menoleh ke sumber suara, ternyata gadis ingusan itu! Mau apa lagi dia?
Oom Ray tersenyum ke arahku, tangan kanannya mengelus pipi kiriku. Entahlah apa tujuannya, yang penting itu membuatku tenang dan tidak berpikir macam-macam.

“dia bukan siapa-siapa kok, katanya sih dia anak mantan clien-nya Oom”
“jadi tante Shilla sama Oom Alvin itu mantan clien-nya Oom ya?”

Aku melirik ke arah Bagas yang tampak sedang mengingat-ingat sesuatu. Darimana dia tau Oom Alvin dan tante Shilla? Padahal semenjak kejadian di ulang tahunku yang ke 6 dulu, mereka tidak pernah muncul lagi di kantor Papa. Tunggu! Jadi dia itu anaknya Oom Alvin dan Tante Shilla?

“dia namanya Chelsea kak, waktu dulu Bagas sempet juga deket sama dia dan sampe di kenalin sama Mama Papanya”

Tepat! Gak dapet anaknya sekarang beralih sama adiknya!
Bagas gak dapet, Oom Ray pun jadi. Seperti kejadian dulu, gak dapet Papa tante Shilla juga menggoda Oom Ray. Tau ahh... pusing.

***

Aku mendengar suara gaduh di luar kamarku. Sedang ada acara apa sih rame sekali? Sampai mereka mengganggu acara tidur siangku!
Saat aku membuka pintu di luar telah ada Oom Ray dengan pakaian resminya. Ada acara apa ini? kenapa semuanya memakai pakaian resmi? Dari Mama dan Novi yang memakai gaun, Papa, Bagas dan Oom Ray memakai tuxedo.
Oom Ray berlutut di hadapanku, aku agak mundur. Kenapa semuanya aneh begini sih?
Aku yakin mereka tersenyum karena melihat aku yang kebingungan seperti orang bodoh.
Aku melihat Oom Ray mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Iihh apaan sih?

“Angel Arindous... maukah kamu menikah denganku? Ya, atau mau?”

Aku mengerutkan keningku. Melamar atau memaksa?

“kok maksa sih?”
“pokoknya gitu!”
“An gak mau”
“gak ada jawaban enggak!”
“Oom...”
“jadi?”

Aku menatapnya yang menunggu jawabanku dengan serius. Otak jahilku mulai bekerja.

“jadi apa?”
“Angel... Oom serius”
“iya iya... An mau”

Semua orang saling berpandangan da tersenyum puas. Oom Ray membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah cincin yang kemudian di pasangkan di jari manisku.

“syukur ya Pa, kita bisa nurutin apa yang Angel mau”

Aku melirik ke arah Mama. Jadi, Mama menganggap pertanyaanku dulu serius? Ya Tuhan....
Oom Ray tiba-tiba berdiri lalu mengangkatku dan memasuki kamar kembali. Hey!

“Oom turunin”

Oom Ray menurunkan aku kemudian menutup rapat pintu kamar. Dia tersenyum begitu lebar padaku, begitupun denganku. Aku segera memeluknya karena tidak bisa menahan lagi rasa bahagiaku.

“makasih ya Oom... Oom mau nungguin An”
“iya sayang”

Aku merasakan damai dalam pelukan Oom-ku yang sekarang menjadi calon suamiku. Aku tidak mau kehilangannya. Sampai kapanpun!

“WOY! Ngapaian kalian! Buka! Kalian belum sah! Ray! Anak gueee”

Aku mendengar teriakan Mama dari luar. Aku baru kali ini denger kata ‘gue’ dari Mama. Saking emosinya kali ya?
Aku bahagia berada di sekitar orang yang menyayangiku. Tuhan... terimakasih kau memberikan hidup yang begitu sempurna untukku.

***


Tamat. :)

No comments:

Post a Comment