“aku akan lebih tenang Alvin segera
menikah. Aku takut, saking konsentrasinya pada perusahan yang akan aku berikan,
dia sampai telat mencari pendamping.
Sepertiku”
Seorang lelaki paruh baya sedang berbincang dengan lelaki paruh
baya lainnya, keduanya saling berhadapan di sebuah ruangan rahasia.
“Irshad, apa kamu ingat dengan
kesepakatan kita beberapa tahun lalu sebelum istriku meninggal?”
“tentu saja”
“segeralah perintahkan anak buahmu
menyiapkan acara pernikahan untuk mereka”
“tanpa resepsi?”
“iya, belum saatnya untuk resepsi”
Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Kemudian Dayat berdiri
begitupun dengan Irshad.
“tenang saja, anakku bertanggung jawab
dan bisa di andalkan”
“ya... sepertimu”
***
Sebuah Pajero Sport dengan angkuh terparkir di lapangan utama
Smith SHS, kebiasaan bagi si pemilik untuk menyimpannya disana. Alvin,
sipemilik mobil, keluar dari mobil dengan gaya angkuhnya. Di tangannya tak
pernah ada kata kosong, selalu ada saja sesuatu menghiasi tangannya. Dari
tablet, ponsel, atau buku, dia menjadi sosok yang terlihat paling sibuk dan
angkuh di sana. Tapi, pesonanya tak pernah surut. Walau berbagai penolakkan
selalu di terima beberapa gadis yang menyatakan cinta pada pemuda itu.
Duk.
Alvin mengangkat wajahnya melihat siapa yang menabraknya. Ia
tersenyum miring saat melihat seorang gadis yang menatapnya dengan datar. Gadis
ini lagi, gadis yang telah beberapa hari ini menabraknya. Entah sengaja, atau
tidak.
“hey! hoby sekali ya loe nabrak gue?”
Gadis itu mengangkat satu alisnya, heran. Dia itu marah atau apa? Datar banget ngomongnya. Gak punya emosi kali
ya?
“perkenalkan, nama saya Kanz Hayman!
Anda tidak perlu memanggil saya dengan sebutan hey lagi. Permisi”
Tak mau menanggapi hal itu, Alvin melanjutkan perjalanan menuju
kelasnya.
***
“Agni, kok loe masih bisa sih
bersikap sesantai itu? Loe kan katanya suka sama Alvin”
“so? Gue harusnya gimana? Membelalakan
mata sambil mulut kebuka? Atau tingkah bodoh lainnya?”
“No Agni, ya seenggaknya loe itu
gak sedatar itulah”
Agni tersenyum tipis, lalu duduk di kursinya, tepat di sudut
ruangan.
Ify mengikuti Agni, duduk di samping Ify.
“kalaupun ada keadaan yang
memaksa untuk selalu bersamanya, gue gak akan pernah berubah”
Ify menanggapinya dengan mengangkat bahunya. Ia benar-benar
heran dengan sahabatnya ini, ia saja tadi saat berhadapan dengan Alvin, dengan
bodohnya menatap tidak berkedip. Tapi Agni? Masih bisa bersikap dingin pada
pemuda tampan itu.
“Agni, Ify”
“eh Rio”
“ngapain loe?”
“gitu banget loe Ni”
Pemuda yang baru datang itu Mario Aditya Pranata, sahabat Agni selain
Ify. Dia ini mantan ketua basket dan musik di sekolah itu. Karena keadaan yang
sudah masuk kelas 12, jadilah mengharuskannya turun jabatan.
“mumpung hari ini semuanya sibuk
nyiapin try out, kita basket yuk...
gue kangen nih ngalahin loe”
“dimana-mana mau try out itu ngajakin belajar, bukan main basket”
“diem deh loe Fy, lagian Agni pinter
ini kan? Ngapain ribet-ribet belajar?”
“ya kan seenggaknya, try out itu bukan hal yang main-....”
“oke yuk”
“hey Agni, diem! Gue belum selesai
ngomong woy!”
Ify menghentakkan kaki kesal, selalu saja seperti ini. ia selalu
di tinggal saat mengomel dan Agni tidak pernah sekalipun kembali lagi untuk
mendengarkan omelannya. Padahal menurutnya omelannya itu sangat berguna dan
tidak ada salahnya untuk di dengarkan.
“Agni gue sumpahin loe cepet kawin!”
Agni terlihat berbalik. Ify tersenyum senang, ternyata sumpah
serapahnya manjur membuat Agni menghentikan langkahnya.
“amin deh”
Setelah mengatakan itu Agni berlalu mengikuti Rio, sementara Ify
semakin merengut kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
“awas loe kena tulah!”
***
Rio mendrible bolanya tanpa minat, karena Agni terus-terusan tidak
konsentrasi. Entah apa yang ia perhatikan sampai ia merasa terabaikan.
Rio mengikuti arah pandang Agni. Ia tertawa terbahak-bahak cukup
keras.
Agni mendelik ke arah Rio, ia mendengus kesal melihat reaksi Rio
yang seperti itu.
“apa sih loe ketawa setan gitu? Emang
gak boleh gue suka sama Alvin?”
“hahaha... jadi loe beneran suka sama
dia?”
Agni menghentakkan kakinya kesal, ia mendengus semakin kesal pada
Rio.
Rio yang menyadari itu, segera menghentikan tawanya.
“terus kenapa loe gak nyatain cinta
aja sama mereka semua? Tuh pada ngantri, kali aja loe keterima”
Agni memutar bola matanya kemudian mendorong dada Rio kesal.
“Rio apaan sih? Denger ya! gue bukan
tipe cewek kayak gitu! Gengsi banget gue. Hihhh... lagipula gue cuma suka! Cuma
sekedar mengagumi!”
“ya... gue tau...”
Rio mengerlingkan matanya, menggoda Agni.
“loe cintanya sama guekan? Cuma loe
malu aja bilangnya”
Agni membulatkan matanya.
“Rio....”
***
Agni memasuki kediamannya yang terlihat lebih ramai dari
biasanya, ada sebuah pajero yang sangat ia kenali. Tapi apa mungkin itu pajero
dengan pemilik yang sama?
Agni membelalakan matanya saat melihat pemuda yang masih
dengan seragam keluar dari rumahnya. Oh
God! Ngapain dia ada disini?
Agni segera merubah ekspresinya menjadi sedatar mungkin saat
ia dan Alvin berhadapan. Kedua tatapan dingin itu bertemu satu sama lain, namun
tak lama pandangan Alvin turun ke... dada.
Dia tersenyum sinis pada Agni.
“Kanz Agnida Hayman, selamat
datang di duniamu yang baru”
Agni mengerutkan keningnya saat mendengar desisan Alvin.
Pemuda itu benar-benar membuatnya penasaran, sebenarnya apa maksud dari duniamu
yang baru? Tanpa berpikir panjang, Agni segera memasuki kediamannya tanpa
peduli Alvin yang juga beranjak pergi dari kediamannya.
“Agni, kamu sudah pulang? Apa
kamu bertemu Alvin?”
Agni mengangguk menanggapi pertanyaan Irshad, kemudian duduk
di samping Papanya itu yang sedang berhadapan dengan Dayat. Dayat dan Irshad
nampak tersenyum misterius.
Ada apa ini? kenapa
dua mahkluk ini menjadi aneh?
“Alvin itu, putra dari Oom Dayat.
Dia calon suamimu”
“HAH?! Gak! bisa di bunuh aku Pa
sama maniaknya dia”
“Agni, keputusan ini sudah bulat.
Alvin juga sudah setuju, dan Oom yakin kamu juga setuju”
“tapi Oom...”
“pernikahannya setelah selesai
kalain try out”
“tapi Pa...”
“Agni... ini keputusan udah bulat
dan gak ada bantahan lagi”
Agni hanya bisa menunduk dan mengangguk lemah. Kemudian ia
menghela nafas panjang. Apa salahnya
menikah dengan Alvin? Bukannya itu kabar bagus? Gue bisa lebih deket sama dia.
“yaudah, Agni istirahat dulu Pa,
Oom”
“oiya, ini kartu nama Alvin,
disana juga ada nomor telponnya Alvin. Siapa tau aja kamu perlu”
“terimakasih Oom”
Agni segera beranjak dari sana setelah enerima kartu nama
Alvin dari tangan Dayat.
Tanpa Agni sadari, Dayat dan Irshad tersenyum puas dengan
sikap anak-anak mereka. Walaupun sikap keduanya sama, tapi mereka yakin. Itu
akan membuat mereka bersatu.
***
Malam harinya, Agni dan Ify seperti biasa beranjak menuju
cafe yang di dalamnya ternyata terdapat diskotik kecil yang tertutup. Agni
segera menuju bar tander yang sedang beraksi dengan botol-botolnya.
“wine nya udah boleh gak Mas?”
Agni menatap nakal pada bar tander tersebut.
Cakka Alvian Adnaan, bar tander sekaligus pemilik cafe
tersebut. Dia segera menyimpan botol-notol itu kemudian mendekatkan dirinya
pada Agni. Pemuda itu mengjawil dagu Agni.
“hey anak kecil, minum air putih
aja sana”
Agni tersenyum masam kemudian mendudukan dirinya, Cakka juga
mengikutinya.
Cakka menatap Agni begitu intens. Seperti ada yang aneh, apa dia punya masalah?
“ada apa Ni? Kok kayaknya lagi
ada masalah gitu?”
“gue di paksa nikah sama bokap
Kka”
Meskipun umur Agni dan Cakka berbeda dua tahun, tapi Cakka
enggan di panggil kakak atau panggilan sejenisnya. Alasannya? Karena ia tidak
ingin terlihat tua.
“kok bisa? Atau loe lagi...”
“hus ngaco! Gue di jodohin aja,
bukan karena alesan apa-apa”
Cakka terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, dia mengambil
segelas air yang khusus ia sediakan untuk Agni, kemudian memberikannya pada
gadis itu.
“seperti biasa nona, tanpa
alkohol”
Agni tersenyum kecil kemudian meneguk habis minuman itu.
Setelahnya Agni terlihat menerawang, alam bawah sadarnya entah kemana,
padangannya begitu kosong.
Cakka menarik bahu Agni agar menghadapnya.
“cerita aja, gue selalu ada buat
loe”
Agni menghela nafas kemudian tersenyum agak di paksakan.
“gue gak tau kenapa, gue cuma gak
yakin aja”
“apa loe kenal sama calon suami
loe itu?”
Agni mengangguk, meskipun menghadap Cakka tapi pandangannya
melihat ke arah lain dimana Ify sedang berjoget ria bersama teman-teman yang
lain.
“kenal, bahkan orang yang gue
kagumin. Gue gak tau harus bahagia atau gimana, karena persaan gue sama dia itu
cuma kagum, bukan cinta atau hal gila lainnya”
Agni membenarkan poninya dengan lamban, terlihat sekali
bahwa dia memiliki beban yang besar. Dia mengusap wajahnya frustasi.
“beruntung banget dia bisa
dapetin perempuan secantik dan sebaik loe, tapi... rasa sayang gue ke loe gak
harus di buangkan?”
Agni membalas tatapan Cakka yang memang tak pernah
mengalihkan pandangan ke arah lain, ia mengelus kedua pipi Cakka dengan
senyuman yang terukir indah di wajahnya.
“gue juga sayang sama loe Kka.
Tapi, keadaan gak bisa bikin kita nyatu”
Cakka terkekeh kemudian mengacak-acak rambut Agni dengan
penuh kasih sayang.
“giliran dulu, sebelum ada
kejadian ini loe bilang gak sayang, tapi sekarang? Dasar!”
Agni memamerkan deretan giginya, kemudian ia menarik Cakka
menuju ruangan tempat DJ bermain.
“mainin yang romantis ya Kka”
Cakka mengangguk kemudian mengatur segela sesuatunya,
setelah itu ia meninggalkannya begitu saja karena ada satu orang lagi yang
khusus di sana. Ia berjalan menuju Agni.
“dansa tuan putri?”
“disini”
Cakka mengangguk, lalu menyodorkan tangannya pada Agni.
Setelah itu mereka saling berpelukkan dan bergerak sesuai alunan lagu.
***
Alvin duduk di ujung lorong menyaksikan Agni yang terlihat
kebingungan karena sebagian besar siswi
disana menatapnya sinis, dengan tatapan menilai dan sesekali mencibir. Alvin
menarik ujung bibirnya, tak ia pungkiri ia juga mengagumi cara bersikap Agni
yang menanggapi semua itu hanya dengan datar dan dingin, seolah tidak terjadi
apa-apa dan ucapan mereka semua itu bukan untuknya.
Setelah Agni memasuki kelas, Alvin-pun segera berlalu menuju
kelasnya. Ia sengaja duduk di sana karena ingin melihat gadis itu saja.
“heh! Apa maksudnya ini? kok loe
bersikap seenaknya gini sih?”
Alvin menatap Agni yang menatapnya dengan pandangan menyala,
terlihat sekali nafasnya yang tidak teratur yang di sebabkan dua kemungkinan,
antara lelah berjalan tergesa dan emosi.
“apa?”
“ini!”
Agni melemparkan sebuah benda berwarna putih dan soft blue
tepat di meja Alvin. Alvin menatap datar benda itu lalu menatap Agni dengan
dingin.
Kedua pandangan itu tak lepas, Agni terlihat begitu emosi
pada Alvin. Sementara Alvin, entah apa yang sekarang ada dalam pikirannya,
benar-benar sulit untuk di tebak.
Semua orang yang berada di kelas itu diam, menatap mereka
sampai tak berkedip. Seolah itu adalah tontonan yang bagus dan lumayanlah
gratis, termasuk Ify yang berdiri di ambang pintu.
“itu undangan pernikahan, emang
gak bisa baca ya?”
“orang bego juga tau itu undangan
pernikahan”
“so?”
“terserah!”
Agni segera berbalik meninggalkan kelas itu dengan perasaan
yang dongkol luar biasa. Rencana awalnya, Agni akan menyembunyikan pernikahan
itu. Tapi, kenapa Alvin malah mengacaukannya? Kenapa malah memutuskan segala
sesuatunya secara sepihak? Bukankah pernikahan itu antara dua orang yang harus
saling sepakat?
Bukannya Agni tidak senang dengan kelakuan Alvin yang
memberi undangan pada setiap kelas, tapi cara dia memutuskan yang ia kurang
suka. Apa dia tidak memikirkan bagaimana nasib Agni nantinya? Apa dia tidak
berpikir Agni akan di kirimi terror yang luar biasa dari para penggilanya?
Segala yang di lakukan Alvin benar-benar di luar dugaan!.
Alvin menghela nafas panjang kemudian meraih undangan itu
dan berjalan dengan santai berniat menyusul Agni.
***
Rio membawa Agni ke belakang sekolah, tempat dimana keduanya
berkeluh kesah dan berbagi cerita.
Setelah menceritakan segala bebannya pada Rio, Agni nampak
masih diam dan mengatur nafas. Sementara Rio hanya sesekali menghela nafas
berat dan memandangi Agni.
“loe marah? Bukannya harusnya
seneng ya Alvin sangat ingin mempublikasikan pernikahan kalian? Ya...
seenggaknya gak semua cowok populer mau bertindak seperti dia”
“tapi Yo, gak seharusnya dia
gini! Harusnya ada kesepakatan”
Rio menarik Agni kedalam pelukannya, ia sangat tidak tega
melihat sahabatnya seperti ini.
“apapun perasaan loe sekarang,
gue selalu ada buat loe”
“thanks ya”
Agni membalas pelukan Rio dengan intens, ia benar-benar
butuh sandaran, butuh penenang dan pemberi solusi. Andai gue yang milikin loe Ni, apa loe tetep bakalan gini?
Tanpa mereka sadari, dari arah kejauhan Alvin nampak menatap
mereka dengan begitu dingin, dengan
tangan yang mengepal. Kemudian ia membuang undangan yang ada di
tangannya setelah itu ia berlalu begitu saja.
“gue lebih lega sekarang Yo,
thanks banget... loe emang ngerti banget apa yang gue butuh”
Agni menjauhkan diri dari Rio kemudian menyampirkan poni
yang menutupi wajahnya. Rio mengelus pipi kiri Agni dengan lembut. Andai loe tau, gue sayang banget sama loe
dan gue gak akan buat loe sepusing ini, gue akan berusaha buat loe selalu
tersenyum Agni.
“Alvin, apa-apaan ini? Bapak
minta penjelasannya sekarang juga”
Agni dan Rio serempak mengalihkan pandangan pada seruan
seorang guru BP yang kebetulan berada tak jauh dari mereka.
Agni menyipitkan matanya, kenapa Pak Patton bisa pegang undangan itu? Dari siapa? Argh... sial!
“Ni, calon suami loe...”
“bodo amat, ulah dia sendiri kok,
yuk ah pergi”
Agni berdiri dan mengajak Rio beranjak, namun belum sampai
dua langkah Agni telah di panggil oleh Pak Patton yang kebetulan melihat ke
arah mereka.
“Agni! Kemari, ikut ke ruangan
Bapak”
Agni menatap Rio dengan pandangan memelas meminta
pertolongan. Tapi, Rio hanya menanggapinya dengan senyuman yang menenangkan,
mencoba memberi ketenangan pada gadis itu.
“semangat! Loe kan gak salah”
Agni akhirnya mengangguk pasrah kemudian berlalu
meninggalkan Rio.
Tanpa Agni sadari, Alvin melempar tatapan dingin penuh
ketajaman pada Rio, seakan mengisyaratkan bahwa, Agni hanya milik gue!. Sementara Rio hanya menatapnya dengan
pandangan sinis dan tak mau kalah.
***
“Alvin, Agni, ini panggilan
pertama buat kalian mengenai sesuatu yang menurut pada guru itu sebuah kesalahan.
Dan saya harap, ini hanya hal yang main-main”
Patton menghempaskan undangan itu di mejanya, dengan
pandagan yang tak pernah lepas dari keduanya.
Agni melirik Alvin dengan ekor matanya, pemuda itu nampak
sedang kebingungan mencari jawaban. Agni tersenyum masam melihatnya, lalu
mengalihkan pandangan pada Patton bersiap menjelaskan.
“tentu saja main-main Pak, mana
ada yang mau nikah tanpa ada kesepakatan!”
“Memangnya pernikahan hal yang
main-main? Tentu saja bukan Pak, itu memang undangan asli pernikahan kami”
Agni menatap Alvin dengan tajam. Dasar mahkluk menyebalkan! Apa
sih mau loe? Gue bunuh juga loe.
“bukankah memang lebih baik
menikah Pak daripada melakukan sesuatu di luar pernikahan? Saya sudah cukup
dewasa memikirkan itu, saya juga siap menanggung semua resikonya”
“Alvin!”
“Agni, diam”
Agni menghentakkan kakinya kesal, dia mengusap wajahnya
dengan sangat frustasi. Ancaman terbesarnya adalah mendapatkan setengah point
kejelekan dari 250 total keseluruhannya.
“sebenernya Pak, aku itu mau
merahasiakan ini. gak ada acara undangan atau apapun”
Alvin langsung menatap dengan tatapan dingin ke arah Agni
yang membuat perempuan manampun akan terhipnotis oleh tatapan itu, termasuk
Agni yang kini diam terpaku oleh
pandangan itu.
Alvin tersenyum puas melihat reaksi Agni. Tidak terlalu sulit menaklukan gadis ini.
“Bapak senang dengan keberanian
Alvin memberikan undangan ini, tandanya kalian meminta ijin pada pihak sekolah.
Tapi Alvin, Agni, kalian kan tau sendiri kalau kalian dua orang yang sangat
berprestasi di sekolah ini dan sangat menjadi sorotan, semua yang kalian
lakukan akan menjadi contoh bagi mereka”
“saya tau Pak, pada awalnya ini
memang hanya rencana orang tua kami, tapi saya pikir tidak salah juga kan Pak
saya menikah, saya justru ingin menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak baik,
ya Bapak tau sendirilah, sekarang banyak kasus tentang pergaulan bebas”
Patton menghela nafas panjang mendengar penuturan Alvin. Apa
yang ia katakan memang tidak ada salahnya, lebih baik menikah daripada
melakukan sesuatu yang bukan haknya di luar pernikahan. Tapi permasalahannya,
mereka masih sekolah. Bukan lingkungan perkuliahan yang memang bisa menikah
sambil kuliah.
“baiklah, sekarang kalian lihat
ini”
Patton mengeluarkan buku data black list para siswa yang memiliki point-point. Patton menuliskan
angka 125 pada bagian nama Alvin dan Agni.
Agni menatapnya dengan tak rela, pandangan matanya
benar-benar nanar. Sementara Alvin hanya menanggapinya dengan dingin.
“dan ingat Alvin, Agni. Kalau sampai
Agni hamil sebelum menerima surat tanda kelulusan, sudah di pastikan bahwa
kalian DO”
DO?
Agni melirik Alvin dengan tajam. Gue harus jauh-jauh dari orang aneh bin ajaib ini!
“baiklah Pak, saya mengerti”
“yasudah, selamat ya buat
pernikahannya. Semoga langgeng. Bapak juga kalau sempat akan datang”
“iya Pak, kami tunggu... permisi”
“permisi Pak”
Agni mengikuti Alvin dari belakang dengan pandangan yang
terus menunduk. Oke Agni! Loe gak boleh
keliatan lemah di depan Alvin, loe harus tetep jadi Agni yang cuek dan jutek.
“denger ya Alvin, buat sekarang
loe boleh ngatur gue! Tapi selanjutnya, jangan harap gue nurutin apa kata loe”
Agni berlalu begitu saja dari hadapan Alvin yang menatapnya
dengan dingin. Selalu dingin, dan di iringi seringaian sinisnya. Siap-siaplah
sayang hidup dengan seorang Alvin Pradipta!
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment