Friday, 31 May 2013

Business Arrangement #1


“aku akan lebih tenang Alvin segera menikah. Aku takut, saking konsentrasinya pada perusahan yang akan aku berikan, dia sampai telat  mencari pendamping. Sepertiku”

Seorang lelaki paruh baya sedang berbincang dengan lelaki paruh baya lainnya, keduanya saling berhadapan di sebuah ruangan rahasia.

“Irshad, apa kamu ingat dengan kesepakatan kita beberapa tahun lalu sebelum istriku meninggal?”
“tentu saja”
“segeralah perintahkan anak buahmu menyiapkan acara pernikahan untuk mereka”
“tanpa resepsi?”
“iya, belum saatnya untuk resepsi”

Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Kemudian Dayat berdiri begitupun dengan Irshad.

“tenang saja, anakku bertanggung jawab dan bisa di andalkan”
“ya... sepertimu”

***

Sebuah Pajero Sport dengan angkuh terparkir di lapangan utama Smith SHS, kebiasaan bagi si pemilik untuk menyimpannya disana. Alvin, sipemilik mobil, keluar dari mobil dengan gaya angkuhnya. Di tangannya tak pernah ada kata kosong, selalu ada saja sesuatu menghiasi tangannya. Dari tablet, ponsel, atau buku, dia menjadi sosok yang terlihat paling sibuk dan angkuh di sana. Tapi, pesonanya tak pernah surut. Walau berbagai penolakkan selalu di terima beberapa gadis yang menyatakan cinta pada pemuda itu.

Duk.

Alvin mengangkat wajahnya melihat siapa yang menabraknya. Ia tersenyum miring saat melihat seorang gadis yang menatapnya dengan datar. Gadis ini lagi, gadis yang telah beberapa hari ini menabraknya. Entah sengaja, atau tidak.

“hey! hoby sekali ya loe nabrak gue?”

Gadis itu mengangkat satu alisnya, heran. Dia itu marah atau apa? Datar banget ngomongnya. Gak punya emosi kali ya?

“perkenalkan, nama saya Kanz Hayman! Anda tidak perlu memanggil saya dengan sebutan hey lagi. Permisi”

Tak mau menanggapi hal itu, Alvin melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.

***

“Agni, kok loe masih bisa sih bersikap sesantai itu? Loe kan katanya suka sama Alvin”
“so? Gue harusnya gimana? Membelalakan mata sambil mulut kebuka? Atau tingkah bodoh lainnya?”
“No Agni, ya seenggaknya loe itu gak sedatar itulah”

Agni tersenyum tipis, lalu duduk di kursinya, tepat di sudut ruangan.
Ify mengikuti Agni, duduk di samping Ify.

“kalaupun ada keadaan yang memaksa untuk selalu bersamanya, gue gak akan pernah berubah”

Ify menanggapinya dengan mengangkat bahunya. Ia benar-benar heran dengan sahabatnya ini, ia saja tadi saat berhadapan dengan Alvin, dengan bodohnya menatap tidak berkedip. Tapi Agni? Masih bisa bersikap dingin pada pemuda tampan itu.

“Agni, Ify”
“eh Rio”

“ngapain loe?”
“gitu banget loe Ni”

Pemuda yang baru datang itu Mario Aditya Pranata, sahabat Agni selain Ify. Dia ini mantan ketua basket dan musik di sekolah itu. Karena keadaan yang sudah masuk kelas 12, jadilah mengharuskannya turun jabatan.

“mumpung hari ini semuanya sibuk nyiapin try out, kita basket yuk... gue kangen nih ngalahin loe”
“dimana-mana mau try out itu ngajakin belajar, bukan main basket”
“diem deh loe Fy, lagian Agni pinter ini kan? Ngapain ribet-ribet belajar?”
“ya kan seenggaknya, try out itu bukan hal yang main-....”

“oke yuk”

“hey Agni, diem! Gue belum selesai ngomong woy!”

Ify menghentakkan kaki kesal, selalu saja seperti ini. ia selalu di tinggal saat mengomel dan Agni tidak pernah sekalipun kembali lagi untuk mendengarkan omelannya. Padahal menurutnya omelannya itu sangat berguna dan tidak ada salahnya untuk di dengarkan.

“Agni gue sumpahin loe cepet kawin!”

Agni terlihat berbalik. Ify tersenyum senang, ternyata sumpah serapahnya manjur membuat Agni menghentikan langkahnya.

“amin deh”

Setelah mengatakan itu Agni berlalu mengikuti Rio, sementara Ify semakin merengut kesal dengan tingkah sahabatnya itu.

“awas loe kena tulah!”

***

Rio mendrible bolanya tanpa minat, karena Agni terus-terusan tidak konsentrasi. Entah apa yang ia perhatikan sampai ia merasa terabaikan.
Rio mengikuti arah pandang Agni. Ia tertawa terbahak-bahak cukup keras.
Agni mendelik ke arah Rio, ia mendengus kesal melihat reaksi Rio yang seperti itu.

“apa sih loe ketawa setan gitu? Emang gak boleh gue suka sama Alvin?”
“hahaha... jadi loe beneran suka sama dia?”

Agni menghentakkan kakinya kesal, ia mendengus semakin kesal pada Rio.
Rio yang menyadari itu, segera menghentikan tawanya.

“terus kenapa loe gak nyatain cinta aja sama mereka semua? Tuh pada ngantri, kali aja loe keterima”

Agni memutar bola matanya kemudian mendorong dada Rio kesal.

“Rio apaan sih? Denger ya! gue bukan tipe cewek kayak gitu! Gengsi banget gue. Hihhh... lagipula gue cuma suka! Cuma sekedar mengagumi!”
“ya... gue tau...”

Rio mengerlingkan matanya, menggoda Agni.

“loe cintanya sama guekan? Cuma loe malu aja bilangnya”

Agni membulatkan matanya.

“Rio....”

***

Agni memasuki kediamannya yang terlihat lebih ramai dari biasanya, ada sebuah pajero yang sangat ia kenali. Tapi apa mungkin itu pajero dengan pemilik yang sama?
Agni membelalakan matanya saat melihat pemuda yang masih dengan seragam keluar dari rumahnya. Oh God! Ngapain dia ada disini?

Agni segera merubah ekspresinya menjadi sedatar mungkin saat ia dan Alvin berhadapan. Kedua tatapan dingin itu bertemu satu sama lain, namun tak lama pandangan Alvin turun ke... dada.
Dia tersenyum sinis pada Agni.

“Kanz Agnida Hayman, selamat datang di duniamu yang baru”

Agni mengerutkan keningnya saat mendengar desisan Alvin. Pemuda itu benar-benar membuatnya penasaran, sebenarnya apa maksud dari duniamu yang baru? Tanpa berpikir panjang, Agni segera memasuki kediamannya tanpa peduli Alvin yang juga beranjak pergi dari kediamannya.

“Agni, kamu sudah pulang? Apa kamu bertemu Alvin?”

Agni mengangguk menanggapi pertanyaan Irshad, kemudian duduk di samping Papanya itu yang sedang berhadapan dengan Dayat. Dayat dan Irshad nampak tersenyum misterius.
Ada apa ini? kenapa dua mahkluk ini menjadi aneh?

“Alvin itu, putra dari Oom Dayat. Dia calon suamimu”
“HAH?! Gak! bisa di bunuh aku Pa sama maniaknya dia”
“Agni, keputusan ini sudah bulat. Alvin juga sudah setuju, dan Oom yakin kamu juga setuju”
“tapi Oom...”
“pernikahannya setelah selesai kalain try out”
“tapi Pa...”
“Agni... ini keputusan udah bulat dan gak ada bantahan lagi”

Agni hanya bisa menunduk dan mengangguk lemah. Kemudian ia menghela nafas panjang. Apa salahnya menikah dengan Alvin? Bukannya itu kabar bagus? Gue bisa lebih deket sama dia.

“yaudah, Agni istirahat dulu Pa, Oom”
“oiya, ini kartu nama Alvin, disana juga ada nomor telponnya Alvin. Siapa tau aja kamu perlu”
“terimakasih Oom”

Agni segera beranjak dari sana setelah enerima kartu nama Alvin dari tangan Dayat.
Tanpa Agni sadari, Dayat dan Irshad tersenyum puas dengan sikap anak-anak mereka. Walaupun sikap keduanya sama, tapi mereka yakin. Itu akan membuat mereka bersatu.

***

Malam harinya, Agni dan Ify seperti biasa beranjak menuju cafe yang di dalamnya ternyata terdapat diskotik kecil yang tertutup. Agni segera menuju bar tander yang sedang beraksi dengan botol-botolnya.

“wine nya udah boleh gak Mas?”

Agni menatap nakal pada bar tander tersebut.
Cakka Alvian Adnaan, bar tander sekaligus pemilik cafe tersebut. Dia segera menyimpan botol-notol itu kemudian mendekatkan dirinya pada Agni. Pemuda itu mengjawil dagu Agni.

“hey anak kecil, minum air putih aja sana”

Agni tersenyum masam kemudian mendudukan dirinya, Cakka juga mengikutinya.
Cakka menatap Agni begitu intens. Seperti ada yang aneh, apa dia punya masalah?

“ada apa Ni? Kok kayaknya lagi ada masalah gitu?”
“gue di paksa nikah sama bokap Kka”

Meskipun umur Agni dan Cakka berbeda dua tahun, tapi Cakka enggan di panggil kakak atau panggilan sejenisnya. Alasannya? Karena ia tidak ingin terlihat tua.

“kok bisa? Atau loe lagi...”
“hus ngaco! Gue di jodohin aja, bukan karena alesan apa-apa”

Cakka terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, dia mengambil segelas air yang khusus ia sediakan untuk Agni, kemudian memberikannya pada gadis itu.

“seperti biasa nona, tanpa alkohol”

Agni tersenyum kecil kemudian meneguk habis minuman itu. Setelahnya Agni terlihat menerawang, alam bawah sadarnya entah kemana, padangannya begitu kosong.
Cakka menarik bahu Agni agar menghadapnya.

“cerita aja, gue selalu ada buat loe”

Agni menghela nafas kemudian tersenyum agak di paksakan.

“gue gak tau kenapa, gue cuma gak yakin aja”
“apa loe kenal sama calon suami loe itu?”

Agni mengangguk, meskipun menghadap Cakka tapi pandangannya melihat ke arah lain dimana Ify sedang berjoget ria bersama teman-teman yang lain.

“kenal, bahkan orang yang gue kagumin. Gue gak tau harus bahagia atau gimana, karena persaan gue sama dia itu cuma kagum, bukan cinta atau hal gila lainnya”

Agni membenarkan poninya dengan lamban, terlihat sekali bahwa dia memiliki beban yang besar. Dia mengusap wajahnya frustasi.

“beruntung banget dia bisa dapetin perempuan secantik dan sebaik loe, tapi... rasa sayang gue ke loe gak harus di buangkan?”

Agni membalas tatapan Cakka yang memang tak pernah mengalihkan pandangan ke arah lain, ia mengelus kedua pipi Cakka dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya.

“gue juga sayang sama loe Kka. Tapi, keadaan gak bisa bikin kita nyatu”

Cakka terkekeh kemudian mengacak-acak rambut Agni dengan penuh kasih sayang.

“giliran dulu, sebelum ada kejadian ini loe bilang gak sayang, tapi sekarang? Dasar!”

Agni memamerkan deretan giginya, kemudian ia menarik Cakka menuju ruangan tempat DJ bermain.

“mainin yang romantis ya Kka”

Cakka mengangguk kemudian mengatur segela sesuatunya, setelah itu ia meninggalkannya begitu saja karena ada satu orang lagi yang khusus di sana. Ia berjalan menuju Agni.

“dansa tuan putri?”
“disini”

Cakka mengangguk, lalu menyodorkan tangannya pada Agni. Setelah itu mereka saling berpelukkan dan bergerak sesuai alunan lagu.

***

Alvin duduk di ujung lorong menyaksikan Agni yang terlihat kebingungan  karena sebagian besar siswi disana menatapnya sinis, dengan tatapan menilai dan sesekali mencibir. Alvin menarik ujung bibirnya, tak ia pungkiri ia juga mengagumi cara bersikap Agni yang menanggapi semua itu hanya dengan datar dan dingin, seolah tidak terjadi apa-apa dan ucapan mereka semua itu bukan untuknya.

Setelah Agni memasuki kelas, Alvin-pun segera berlalu menuju kelasnya. Ia sengaja duduk di sana karena ingin melihat gadis itu saja.

“heh! Apa maksudnya ini? kok loe bersikap seenaknya gini sih?”

Alvin menatap Agni yang menatapnya dengan pandangan menyala, terlihat sekali nafasnya yang tidak teratur yang di sebabkan dua kemungkinan, antara lelah berjalan tergesa dan emosi.

“apa?”
“ini!”

Agni melemparkan sebuah benda berwarna putih dan soft blue tepat di meja Alvin. Alvin menatap datar benda itu lalu menatap Agni dengan dingin.

Kedua pandangan itu tak lepas, Agni terlihat begitu emosi pada Alvin. Sementara Alvin, entah apa yang sekarang ada dalam pikirannya, benar-benar sulit untuk di tebak.
Semua orang yang berada di kelas itu diam, menatap mereka sampai tak berkedip. Seolah itu adalah tontonan yang bagus dan lumayanlah gratis, termasuk Ify yang berdiri di ambang pintu.

“itu undangan pernikahan, emang gak bisa baca ya?”
“orang bego juga tau itu undangan pernikahan”
“so?”
“terserah!”

Agni segera berbalik meninggalkan kelas itu dengan perasaan yang dongkol luar biasa. Rencana awalnya, Agni akan menyembunyikan pernikahan itu. Tapi, kenapa Alvin malah mengacaukannya? Kenapa malah memutuskan segala sesuatunya secara sepihak? Bukankah pernikahan itu antara dua orang yang harus saling sepakat?

Bukannya Agni tidak senang dengan kelakuan Alvin yang memberi undangan pada setiap kelas, tapi cara dia memutuskan yang ia kurang suka. Apa dia tidak memikirkan bagaimana nasib Agni nantinya? Apa dia tidak berpikir Agni akan di kirimi terror yang luar biasa dari para penggilanya? Segala yang di lakukan Alvin benar-benar di luar dugaan!.

Alvin menghela nafas panjang kemudian meraih undangan itu dan berjalan dengan santai berniat menyusul Agni.

***

Rio membawa Agni ke belakang sekolah, tempat dimana keduanya berkeluh kesah dan berbagi cerita.
Setelah menceritakan segala bebannya pada Rio, Agni nampak masih diam dan mengatur nafas. Sementara Rio hanya sesekali menghela nafas berat dan memandangi Agni.

“loe marah? Bukannya harusnya seneng ya Alvin sangat ingin mempublikasikan pernikahan kalian? Ya... seenggaknya gak semua cowok populer mau bertindak seperti dia”
“tapi Yo, gak seharusnya dia gini! Harusnya ada kesepakatan”

Rio menarik Agni kedalam pelukannya, ia sangat tidak tega melihat sahabatnya seperti ini.

“apapun perasaan loe sekarang, gue selalu ada buat loe”
“thanks ya”

Agni membalas pelukan Rio dengan intens, ia benar-benar butuh sandaran, butuh penenang dan pemberi solusi. Andai gue yang milikin loe Ni, apa loe tetep bakalan gini?

Tanpa mereka sadari, dari arah kejauhan Alvin nampak menatap mereka dengan begitu dingin, dengan  tangan yang mengepal. Kemudian ia membuang undangan yang ada di tangannya setelah itu ia berlalu begitu saja.

“gue lebih lega sekarang Yo, thanks banget... loe emang ngerti banget apa yang gue butuh”

Agni menjauhkan diri dari Rio kemudian menyampirkan poni yang menutupi wajahnya. Rio mengelus pipi kiri Agni dengan lembut. Andai loe tau, gue sayang banget sama loe dan gue gak akan buat loe sepusing ini, gue akan berusaha buat loe selalu tersenyum Agni.

“Alvin, apa-apaan ini? Bapak minta penjelasannya sekarang juga”

Agni dan Rio serempak mengalihkan pandangan pada seruan seorang guru BP yang kebetulan berada tak jauh dari mereka.
Agni menyipitkan matanya, kenapa Pak Patton bisa pegang undangan itu? Dari siapa? Argh... sial!

“Ni, calon suami loe...”
“bodo amat, ulah dia sendiri kok, yuk ah pergi”

Agni berdiri dan mengajak Rio beranjak, namun belum sampai dua langkah Agni telah di panggil oleh Pak Patton yang kebetulan melihat ke arah mereka.

“Agni! Kemari, ikut ke ruangan Bapak”

Agni menatap Rio dengan pandangan memelas meminta pertolongan. Tapi, Rio hanya menanggapinya dengan senyuman yang menenangkan, mencoba memberi ketenangan pada gadis itu.

“semangat! Loe kan gak salah”

Agni akhirnya mengangguk pasrah kemudian berlalu meninggalkan Rio.
Tanpa Agni sadari, Alvin melempar tatapan dingin penuh ketajaman pada Rio, seakan mengisyaratkan bahwa, Agni hanya milik gue!. Sementara Rio hanya menatapnya dengan pandangan sinis dan tak mau kalah.

***

“Alvin, Agni, ini panggilan pertama buat kalian mengenai sesuatu yang menurut pada guru itu sebuah kesalahan. Dan saya harap, ini hanya hal yang main-main”

Patton menghempaskan undangan itu di mejanya, dengan pandagan yang tak pernah lepas dari keduanya.
Agni melirik Alvin dengan ekor matanya, pemuda itu nampak sedang kebingungan mencari jawaban. Agni tersenyum masam melihatnya, lalu mengalihkan pandangan pada Patton bersiap menjelaskan.

“tentu saja main-main Pak, mana ada yang mau nikah tanpa ada kesepakatan!”
“Memangnya pernikahan hal yang main-main? Tentu saja bukan Pak, itu memang undangan asli pernikahan kami”

Agni menatap Alvin dengan tajam. Dasar mahkluk menyebalkan! Apa sih mau loe? Gue bunuh juga loe.

“bukankah memang lebih baik menikah Pak daripada melakukan sesuatu di luar pernikahan? Saya sudah cukup dewasa memikirkan itu, saya juga siap menanggung semua resikonya”
“Alvin!”
“Agni, diam”

Agni menghentakkan kakinya kesal, dia mengusap wajahnya dengan sangat frustasi. Ancaman terbesarnya adalah mendapatkan setengah point kejelekan dari 250 total keseluruhannya.

“sebenernya Pak, aku itu mau merahasiakan ini. gak ada acara undangan atau apapun”

Alvin langsung menatap dengan tatapan dingin ke arah Agni yang membuat perempuan manampun akan terhipnotis oleh tatapan itu, termasuk Agni yang kini diam terpaku oleh  pandangan itu.
Alvin tersenyum puas melihat reaksi Agni. Tidak terlalu sulit menaklukan gadis ini.

“Bapak senang dengan keberanian Alvin memberikan undangan ini, tandanya kalian meminta ijin pada pihak sekolah. Tapi Alvin, Agni, kalian kan tau sendiri kalau kalian dua orang yang sangat berprestasi di sekolah ini dan sangat menjadi sorotan, semua yang kalian lakukan akan menjadi contoh bagi mereka”
“saya tau Pak, pada awalnya ini memang hanya rencana orang tua kami, tapi saya pikir tidak salah juga kan Pak saya menikah, saya justru ingin menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak baik, ya Bapak tau sendirilah, sekarang banyak kasus tentang pergaulan bebas”

Patton menghela nafas panjang mendengar penuturan Alvin. Apa yang ia katakan memang tidak ada salahnya, lebih baik menikah daripada melakukan sesuatu yang bukan haknya di luar pernikahan. Tapi permasalahannya, mereka masih sekolah. Bukan lingkungan perkuliahan yang memang bisa menikah sambil kuliah.

“baiklah, sekarang kalian lihat ini”

Patton mengeluarkan buku data black list para siswa yang memiliki point-point. Patton menuliskan angka 125 pada bagian nama Alvin dan Agni.
Agni menatapnya dengan tak rela, pandangan matanya benar-benar nanar. Sementara Alvin hanya menanggapinya dengan dingin.

“dan ingat Alvin, Agni. Kalau sampai Agni hamil sebelum menerima surat tanda kelulusan, sudah di pastikan bahwa kalian DO”

DO?
Agni melirik Alvin dengan tajam. Gue harus jauh-jauh dari orang aneh bin ajaib ini!

“baiklah Pak, saya mengerti”
“yasudah, selamat ya buat pernikahannya. Semoga langgeng. Bapak juga kalau sempat akan datang”
“iya Pak, kami tunggu... permisi”

“permisi Pak”

Agni mengikuti Alvin dari belakang dengan pandangan yang terus menunduk. Oke Agni! Loe gak boleh keliatan lemah di depan Alvin, loe harus tetep jadi Agni yang cuek dan jutek.

“denger ya Alvin, buat sekarang loe boleh ngatur gue! Tapi selanjutnya, jangan harap gue nurutin apa kata loe”

Agni berlalu begitu saja dari hadapan Alvin yang menatapnya dengan dingin. Selalu dingin, dan di iringi seringaian sinisnya.  Siap-siaplah sayang hidup dengan seorang Alvin Pradipta!

***

Bersambung...

No comments:

Post a Comment