Agni terjaga begitu mendengar keributan di depan pintu
kamarnya, ia melirik ke arah jam wekernya “masih jam lima pagi”gumannya ia
melirik ke arah jendela yang ternyata di luar sana hujan.
“Pa, ada apa sih?”tanya Agni begitu keluar dari kamarnya.
Wajah Rio pucat bercampur dengan panik, “kakak kamu pingsan”
“HAH?!”ia berlari ke cil menuju ke kamar Rio, disana ia
melihat Angel yang duduk di sampin Rio.
“kak Rio kok bisa sampe gini?”tanya Agni, ia duduk di
ranjang itu.
Angel menggeleng, “tadi pas di jalan dia megangin kepala dan
bilang pusing... ya terus gini deh”ujarnya dengan panik, ia terus menggenggam
tangan Rio yang terasa begitu dingin.
“kak Rio... bangun”Agni mengguncangkan lengan Rio, ia
merebahkan kepalanya di samping Rio, membisikan sesuatu pada kakaknya itu “kak,
bangun dong... Agni sayang banget sama kak Rio... jangan sakit terus ya...”
“Angel”panggil Sivia
Angel berbalik, “Sivia? Ng...ngapain... loe disini?”ia
menatap Sivia takjup.
Sivia tersenyum, “aku calon Mamanya Agni”ujarnya dengan
tenang
Angel berdiri, memeluk sahabatnya itu “selamat ya... gue
harap loe bahagia sama keluarga loe”
Sivia mengangguk, “thanks... ke adaan Rio gimana?”tanya
Sivia, ia mengalihkan pandangan pada Rio yang kini di peluk begitu posesif oleh
Agni.
“kata Papanya, Agni emang deket banget sama Rio gak heran
kalo Agni sampe panik gitu”ucap Sivia agak berbisik.
Angel mengangguk mengerti, “gue kadang cemburu sendiri liat
kedeketan mereka, ya... menurut gue kurang wajar lah”
Sivia mengajak Angel untuk keluar dari kamar Rio, “gak wajar
gimana? Wajar aja lagi... gak semua adek-kakak suka berantem lho... ada juga
yang deket kayak mereka contohnya”
Angel mengangkat bahunya, “mungkin, oiya gue pamit dulu deh
ya... gue nitip salam aja sama yang ada disini, dan tolong bilang sama Rio maaf
gue gak bisa nungguin sampe dia sadar”
Sivia mengangguk, ia mengiringi Angel sampai ke luar rumah
itu dan meninggalkan kediaman mereka.
“temen kamu Ma?”tanya Gabriel yang baru muncul di
belakangnya.
Sivia tersenyum, “iya... itu Rio gimana? Apa gapapa gak di
obatin?”
Gabriel memeluk pinggang Sivia, “gapapa... udah biasa kok
dia gitu bentar lagi pasti sadar kok”ia
memiringkan wajahnya mengecup bibir Sivia dengan cepat.
Sivia mendorong dada Gabriel, “Pa... Rio juga suka gitu
waktu pacaran sama aku, kalo boleh tau Rio kenapa?”
Gabriel tersenyum, ia merangkul Sivia “kalau waktunya udah
tepat nanti aku ceritain” ia menarik Sivia memasuki kamar. Namun dengan cepat
Sivia menepis tangan Gabriel yang mulai nakal.
“udah pagi... mandi
sana entar kesiangan lagi ngantornya”
Gabriel mengerlingkan matanya nakal, “gak bakalan, maen dulu
yuk bentar aja”
“nakal ya... udah ah aku mau masak kasian Agni kan mau
sekolah”ia melepaskan pelukan Gabriel dengan paksa kemudian beranjak ke arah
dapur.
***
Cakka merapihkan pakaiannya, sesekali ia melirik jam
dindingnya.
“Kka...”panggil Angel sambil memasuki kamar Cakka.
Cakka berbalik, kemudian dengan cepat berjalan ke arah Angel
dan memeluk gadis itu.
“kak... kapan pulang?”
Angel membalas palukan Cakka kemudian mengurai kembali.
“kamu kemaren ada apa? Dan... Mama Papa kemana? Kakak gak
liat mobil mereka di garasi”
Wajah Cakka merengut, ia berjalan dan duduk di ranjangnya.
“mereka mau cerai kak, Cakka udah berusaha buat mereka gak
cerai tapi...”
Angel menghela nafas panjang, ia mengusap wajahnya letih.
“kakak gak habis pikir mereka bakalan seegois ini sama kita
Kka”
“iya kak, aku juga bingung apa keberadaan kita gak cukup
berarti buat mereka nyatu?” ujar Cakka begitu lirih.
“sekarang mau kamu gimana?”tanya Angel
Cakka menatap Angel dengan sendu, “Cakka gak bakalan ikut
Mama atau Papa, Cakka mau mandiri...”
Angel mengangguk, “kita bisa tinggal berdua di apartemen
kakak kalau salah satu dari mereka ada yang tinggal disini”
“mereka udah beli rumah masing-masing...” Cakka
menghembuskan nafas berat, “Cakka berangkat dulu kak udah hampir telat”ia
berdiri di hadapan Angel, meraih tas dan kunci mobilnya.
Angel berdiri, ia merapihkan dasi Cakka “kayaknya Agni bisa
rubah kamu ya Kka? Jadi lebih tenang...” ia mengecup pipi Cakka “hati-hati di
jalannya”
Cakka tersenyum kemudian membalas ciuman Angel di pipi kanan
kakaknya itu, “dia emang istimewa” setelah mengatakan itu Cakka meninggalkan
Angel yang tersenyum begitu bahagia karena melihat perubahan adiknya itu.
***
Agni merasa hatinya begitu tertohok, entah apa sebabnya. Ia
merasa sebagian jiwanya bersedih dan terluka.
“Ni... kenapa?”tanya Rio yang beberapa saat lalu baru
sadarkan diri.
Agni tersenyum sambil menggeleng, “gak kok kak, makan dulu
nih... aaa”Agni memberikan sesendok nasi pada Rio.
Rio terkekeh kemudian membuka mulutnya, “makasih ya, kamu
emang adek yang aling pengertian... padahal kakak sering banget gini dan
nyusahin kamu”
“Agni kan sayang sama kak Rio, gak mau kak Rio kenapa-kenapa...
makanya kakak jangan pingsan-pingsan lagi ya? Agni takut...”Agni bercerita
dengan perubahan ekspresi yang derastis, terlihat sekali raut kekhawatiran dari
wajah cantik itu.
Rio mengelus pipi kiri Agni, “iya, kakak usahain ya?”
Ponsel Agni yang di letakkan di meja dekat tempat tidur Rio
bergetar.
“hallo Kka?”
“gue udah di depan
rumah loe, ayo berangkat”
“ngapain sih? Udah berangkat duluan aja sana”
“gak bisa, cepetan
turun”
“kakak gue lagi sakit dan gue harus rawat dia dulu, ini baru
jam setengah tujuh juga! Lima belas menit juga nyampe kesekolah”
“pokoknya gue gak mau
tau loe turun sekarang”
Agni menatap kesal ponselnya, “Cakka gila!”umpatnya.
Sementara Rio nampak tersenyum geli melihat adiknya yang
begitu bawel itu. Ia menatap Agni, “berangkat gih, kakakkan gak bisa anterin
kamu”
Agni cemberut, “kan Agni mau nyuapin kak Rio dulu”
Rio berdecak, “kakak bisa sendiri, berangkat sana...”Rio
agak mendorong Agni agar segera berangkat.
Dengan terpaksa Agni mengikuti instruksi Rio, ia mengecup
pipi Rio sebelum berangkat dan di balas kecupan di ubun-ubun dari Rio.
“jangan kemana-mana dulu ya? Agni takut kakak pingsan
lagi”pesan Agni. Kemudian berlalu setelah mendapat anggukan dari Rio.
Rio tersenyum, ia merasa beruntung sekali mendapatkan adik
yang begitu perhatian padanya, begitu mengkhawatirkannya. Ia sadar gak banyak
adik sebaik dan sepenurut Agni, ia rasa ia adalah orang paling beruntung karena
memiliki adik semanis dan seperhatian Agni.
***
Agni berjalan bersamaan dengan Cakka, sekolah masih lengang
karena masih cukup pagi. Biasanya sekolahan mulai ramai itu saat lima menit
sebelum bel masuk berbunyi.
“loe tuh kenapa sih subuh-subuh gini nyamperin gue? Gue lagi
ngurus kakak gue”omel Agni
“emang kakak loe bayi pake di urus segala?”tanya Cakka
dengan nada dinginnya.
Agni memutar bola matanya, “kakak gue sakit, gak nanya apa
sama kakak loe? Dia pingsan! Udah deh ya... terlanjur juga” Agni berjalan ke
arah bangkunya dan menghentakkan tas nya kesal.
“nyesel gue baik-baik sama loe kemaren, ujung-ujungnya loe nyebelin juga!”lanjut Agni
Cakka terdiam, “yaudah kalo nyesel... gue gak bakalan ganggu
loe lagi” ucap lirih Cakka
Agni meringis, kayaknya salah ngomong nih. “heh! Bukan gitu
maksud gue, tapi loe tau sikon dong... gue sayang banget sama kakak gue! Gue
paling gak bisa ninggalin dia kalo abis kambuh”
Cakka menghela nafas, mengangkat satu alisnya heran. Setelah
itu tak ada niat lagi untuk meladeni omongan Agni.
“Agni?!”teriak Ify begitu memasuki kelas.
Agni mendongakkan kepalanya sambil mengangkat sebelah
alisnya, heran.
“kenapa?”
Ify duduk di samping Agni sambil mengatur nafasnya, “loe...
loe jadi model yang mewakili sekolah buat acara abang-none se-Jakarta”
“WHAT?! Sama...”
Agni membulatkan matanya, ini kali pertamanya dia di tunjuk
acara begituan, Agni gak pernah minat ikut acara itu.
“gue... gue yang ngatur semuanya”ucap Cakka menyambung
ucapan Agni dengan nada datar dan dinginnya.
“Cakka?! Loe apaan sih ngatur-ngatur gue seenak loe? Loe
pikir gue mau apa?” Agni memutar bola matanya, ia menghembuskan nafas kesal
setelah itu ia mengusap wajahnya frustasi. “gila”umpatnya
Ify dari tadi hanya mangap, kaget dengan Agni yang tiba-tiba
ngomel. Padahal beberapa hari ini ia mendapat laporan dari Agni bahwa mereka
makin dekat dan gak pernah adu argumen lagi, tapi sekarang?
“Fy... mau?”tawar Ray yang baru saja melewatinya dengan
menyodorkan sebuah novel yang masih terbungkus plastik dan itu...
“aaa... Ray... mau banget, thanks ya?”dengan histeris Ify
meraih novel itu dari Ray yang memberikannya sukarela.
“oke”pemuda itu duduk di samping Cakka “kak Angel pulang
ya?”tanya Ray pada Cakka.
Cakka mengangguk, “tadi pagi”
“ehh Ray, ada angin apa loe mau ngasih novel sama ini anak?
Setau gue kalian gak pernah akur deh”kata Agni, mencurigai kebaikan Ray. Ray
yang menyadari itu tersenyum simpul.
“emang aneh kalo gue baik?”
Agni mengangkat bahunya, “gak sih, tapi ya... aneh aja”
***
Agni memanyunkan bibirnya, tak lupa juga pipinya yang ia
kembungkan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin menggunakan pakaian khas adat
betawi, ia menata kerudung yang di sampirkan saja di kepala yang rambutnya di
gelung asal itu.
“jelek banget gue”gumannya.
Cakka mendekatinya, ia berdiri di samping Agni meneliti Agni
dari ujung kaki sampai kepala lewat cermin besar itu.
“gak begitu jelek”komentarnya.
Agni yang sempat menahan nafas karena melihat Cakka yang ia
akui sangat tampan dan gagah melongos begitu saja begitu mendengar komentar
Cakka, ‘gak begitu jelek? Ish’ ia
menepuk keningnya, ‘aduh Agni mikir apa
sih? Loe ngarep Cakka nyebut loe cantik? Gak deh jangan... jangan...’
“kalian cocok sekali, pakaiannya benar-benar pas buat
kalian, pasti kalian akan menang dan menjadi pasangan serasi” oceh Ibu Grace
memandang Cakka dan Agni takjub. “kalian sepertinya benar-benar jodoh, wajah
kalian... begitu mirip”lanjut Ibu Grace
Agni tertunduk malu, ia membenarkan poninya yang turun.
“udah bisa di lepas bu?”tanya Agni karena hari ini memang
sesi percobaan saja, kali aja pakaian yang mereka kenakan kebesaran atau kekecilan.
Ibu Grace mengangguk, “boleh, ibu tinggal dulu ya? kalian
latihan berjalan bersamaan dulu ya nanti siang?”pesannya sebelum benar-benar
meninggalkan ruangan itu.
Cakka mendekatkan bibirnya ketelinga Agni, “kau begitu
menggoda sayang kalau merona seperti itu” goda Cakka dengan suara yang di buat
se sensual mungkin dan pemilihan kata yang di buat semenarik mungkin.
Agni membulatkan matanya, ia menatap Cakka dengan tatapan
garang “LOE?! Ihh”Agni menginjak kaki Cakka sekencang mungkin dengan sepatu highheelsnya.
Cakka mengerang sambil mengangkat kaki yang tadi di injak
Agni, tapi kemudian ia meneringai seakan di otaknya telah menyusun sebuah
rencana.
***
Ray dan Ify berdecak kesal pada Cakka dan Agni, kedua
mahkluk itu sedikit-sedikit berdebat sedikit-sedikit berdebat.
“hey! Kalian lagi latian jalan... jangan malah
berantem!”tegur Ify
Cakka dan Agni menatap Ify bersamaan dengan tatapan yang
menyala, “ehh... a..apa?”tanya Ify gugup di pandang seperti itu.
“Kka... masa perlu di contoin sih? Nih liat gue sama Ify...
sini Fy”Ray menarik Ify kemudian mulai berjalan layaknya pasangan dengan lengan
Ify yang menggamit lengan Ray.
“gitu aja. Bisa gak?”
Agni mendesah kesal, “yaudah, kalo gitu kalian aja yang jadi
perwakilan? Kenapa kita? Loe juga sih ngapain bawa-bawa gue?”omel Agni sambil
menatap Cakka jengkel.
Cakka menghela nafas, ia menatap Ray dan Ify bergantian,
“bisa tinggalin kita dulu?”
Ray dan Ify mengangguk, kemudian berlalu setelah mengambil
tasnya masing-masing.
Sepeninggal mereka berdua, Cakka duduk di samping Agni. Ia
mengelus puncak kepala gadis itu “apa loe belum sadar sesuatu?”
Agni mengerutkan dahinya, “apa?”
Cakka tersenyum, ia mengalihkan pandangan dari Agni,
“gue...” Agni menatap Cakka ingin tau, penasaran kelanjutan perkataan Cakka.
“gue?”tanya Agni berharap Cakka tidak membuatnya mati
penasaran.
“gak...”ia melirik jam tangannya, “udah sore, yuk gue anter
pulang”ia berdiri dan berlalu dari hadapan Agni.
Agni mendengus, “cowok aneh”umpat Agni, kemudian mengikuti
Cakka yang telah keluar dari ruangan itu. ‘Apa semua cowok aneh gitu? Ahh...
enggak, buktinya Papa sama Kak Rio enggak’
Next. :D
Makasih udah nunggu
dan mau baca :)
No comments:
Post a Comment