Agni duduk di balkon rumah yang baru tiga hari ini ia
tinggali, sesekali ia menghela nafas panjang dan melirik ponselnya berharap
Cakka akan menghubunginya sesuai janji.
Udara pagi membuatnya cukup tenang, ia merasa pikirannya
yang sedang panas itu menjadi lebih dingin.
“kamu nyesel kenal sama aku Bee?” Rio duduk di samping Agni,
menatap gadis itu penuh rasa bersalah.
Agni menghela nafas panjang, ia menggeleng pelan. Agni
selalu teringat kejadian malam itu, ingat sekali ucapan Mama Zevana
terhadapnya.
“Rio pernah melihat
pembunuhan seorang wanita waktu dia kecil, dan sejak itulah dia selalu bermimpi
tentang pembunuhan-pembunuhan, awalnya Rio gak melihat dengan jelas sosok yang
di bunuh dalam mimpinya itu sampai pada saat masuk SMA dia tau kalau yang di
bunuh murid SMA sana, setiap malam mimpi itu semakin jelas... dan tadi, dia
berteriak menyebut namamu... dalam mimpinya kamulah yang di bunuh Agni...
itulah alasan Rio kenapa setiap malam dia meminta kamu tidur dengannya, dia
hanya ingin enjagamu”
Agni menyandarkan kepalanya di dada Rio yang bersandar pada
dinding. Ia juga ingat bagaimana wajah memaksa Rio saat memintanya tinggal di
rumah ini.
“Ni, please aku cuma
mau jaga kamu, aku takut aku lengah sedikit aja mimpi itu nyata. Aku mohon...
kalau kita tinggal disana kamu akan lebih aman dan jauh dari jangkauan
siapapun”
“apa mimpi itu datang lagi Hon?”tanya Agni, ia agak sedikit mendongak melihat wajah Rio.
Rio mengangguk lemah, ia menarik Agni lebih dekat kemudian
memeluknya.
“maaf ya setiap kamu bangun pasti aku lagi meluk kamu, aku
gak ngapa-ngapain kok beneran”
Agni mengangguk, “aku percaya”
Hening tercipta, namun tak lama Agni menghela nafas dalam.
“gimana sama Cakka dan Ify? Kita gak bisa gini terus”
“Ify menceritakan semuanya pada Cakka?”tanya Rio
Agni menghembuskan nafas begitu lelah, “aku rasa iya, siapa
lagi yang pernah masuk kamarmu dan melihat bercak darah mensku?”
Rio terkekeh, namun beberapa detik kemudian ekspresinya
berubah menjadi berbeda “biar aku yang menjelaskan semuanya pada Cakka Ni, ini
salahku... aku yakin dia mengerti kalau kita ceritanya pelan-pelan”ujar Rio
Agni mengangguk, ia percaya Rio akan melakukan segala hal
yang terbaik.
***
Cindai menatap Chelsea yang sedang merapihkan pakaiannya,
gadis itu benar-benar pindah ke Indonesia ternyata.
“Chels, gue sama Bagas udah baik-baik aja”ujar Cindai
Chelsea menatap Cindai sebentar, “yakin?”
Cindai mengangguk pasti, dia duduk di ranjang kamar yang di
tempati Chelsea.
“kapan loe dateng kesekolah?”
Chelsea membawa handuk yang ada di gantungan dekat pintu
kamar mandi.
“hari ini, loe tungguin ya gue mandi dulu”gadis itu memasuki
kamar mandi.
Cindai mengangguk, kemudian ia keluar dari kamar itu menuju
meja makan.
“Bagas” Cindai tersenyum saat melihat kekasihnya itu sudah
menunggu di ruang tamu.
Bagas membalas senyuman kekasihnya itu, “yuk udah siap?”
“nunggu Chelsea dulu
boleh?”ujar Cindai yang mendapatkan tatapan penuh tanya dari Bagas.
***
“Cakka gak sekolah lagi ya?”tanya Rio pada Agni yang duduk
sendiri di bangku taman sekolah.
Agni menghela nafas, ia menggeleng pelan “aku kangen Io'
sama dia... udah tiga hari gak ketemu dan dalam keadaan salah faham gini”
Rio menghela nafas, “maaf ya? gara-gara pembantu rumah yang
teledor kita jadi gini, Ify juga kenapa berspekulasi sendiri, mana susah di
temuin lagi” Rio mengelus puncak kepala Agni.
“berspekulasi apa Mario? Kayaknya kata spekulasi lebih cocok
di ganti dengan menuduh! Saya tidak
pernah menuduh karena saya mempunyai fakta”Ify muncul di depan Agni dan Rio dan
berkata begitu tegas.
Rio mengangkat satu alisnya “fakta apa?”
“darah... di seprai”ujar Ify dengan lirih.
Rio hampir tertawa terpingkal kalau saja ia tak menahannya,
“darah mens? Buktiin apa? Buktiin kalo Agni normal sebagai cewek tulen?”
Ify mengerutkan keningnya, “jadi bukan...?”
“kamu itu pendiem tapi mesum juga ya? kamu kira kehidupan
aku sama Agni sebebas itu?”Rio kali ini benar-benar tertawa renyah.
Ify memutar nola matanya, “heh?! Cewek mana yang gak bakalan
berpikiran mesum liat orang ciuman ganas dan di kamar mereka ada bercak darah?
Aku rasa itu bukan mesum. Tapi normal!”
Agni tersenyum miris, “syukurlah kalian udah akur... tinggal
jelasin sama Cakka dan kita selesain urusan kita Io'”yang awalnya Agni menunduk
ia menatap Rio dengan beberapa kali menghela nafas panjang.
“urusan?”Ify berkacak pinggang di hadapan kedua orang itu.
Agni mengangguk, “cari cara buat kita putus baik-baik”
***
Rafli menatap teman-temannya yang terlihat banyak yang
galau, dari Agni yang duduk di samping Rio sambil menyandarkan kepalanya di
pundak Rio, di sebelahnya ada Ify yang beberapa kali meringis sebal melihat Rio
yang lebih memilih memperhatikan Agni.
“wajarlah Rio gitu, pertama Agni tunangannya dan kedua dia
masih salah faham sama Cakka dan pasti buat dia kalang kabut”komentar Rafli
saat Marsha membaca ekspresi teman-temannya.
Di bangku lain ada Bagas yang sedang di marahi Chelsea,
gadis itu begitu marah melihat Zahra yang tadi ketika baru sampai sekolah
bertegur sapa dengan Bagas, Bagas membalasnya dengan santai tanpa mempedulikan
Cindai.
“wajarlah Chelsea gitu Neng, dia sayang banget sama
Cindai... dia paling gak terima liat Cindai ada yang sakitin”ujar Rafli, ia
mengacak-acak puncak kepala Marsha.
“ehh... tapi temen kamu kenapa tuh? Cengar-cengir sendiri
sambil liatin hape”kata Marsha sambil menatap Zahra aneh, “kayak orang lagi
jatuh cinta”lanjut Marsha.
Rafli mengangkat bahunya, “mungkin”
“Chelsea”
Marsha dan Rafli melihat ke arah pintu, Ray ada di sana
berdiri mematung karena melihat Chelsea.
“loe...” Chelsea nampak mengingat-ingat. “Ray?”
Ray mengangguk semangat kemudian berjalan mendekati Chelsea,
ia sedikit salah tingkah. Chelsea menatap Ray dengan tatapan dingin, “loe yang
buat Cindai sakit dan gue... tunggu saatnya loe gue habisin”
Ray dan Bagas meneguk ludah sukar, ‘cantik-cantik kok
sadis?’ pikir mereka bersamaan.
Ray nampak berbisik sama Cindai, “gak jadi deh ya gue
sukanya? Takut gue”
“heh! Jauh-jauh loe dari Cindai”Chelsea berdiri di antara
Ray dan Cindai dan menatap menantang ke arah Ray.
Ray menyeringai, kayaknya ia harus mengeluarkan jurusnya
“gini ya Chels, gue tau gue ganteng dan banyak yang suka... tapi gue yakin kok
Cindai gak suka sama gue jadi loe gak perlu cemburu gitu” Ray berlaga
merapihkan kerah bajunya kemudian menyenggol lengan Chelsea menggoda.
Chelsea memutar bola matanya, “cemburu? Mimpi!”ia mendorong
Ray kemudian berjalan menjauh dari kelas itu, lama-lama di sana membuatnya
darah tinggi.
Rafli dan Marsha yang memperhatikan itu hanya terkikik geli,
Marsha tau kalau Chelsea sebenarnya kena gombalan Ray terlihat dari wajah
Chelsea yang agak merona merah.
***
Cindai telah memakai karateginya kembali, ia menyampirkan
belt hitamnya di pundak dan berjalan tanpa alas kaki menuju lapangan belakang.
“ini kalo buat nyekik orang bisa sampai patah tulang
gak?”tanya Bagas sambil mengambil belt Cindai
Cindai terkekeh, “mau nyoba? Aku dengan senang hati mau lho
jadi pengeksekusi”Cindai berkata seolah itu bukan hal yang membuat pendengaran
ngeri, ia malah dengan cuek mengatakannya.
“keturunan sadis ya mbak? Serem amat ngomongnya”ujar Bagas
“ehh iya, make ini gimana sih?”tanya Bagas sambil mengacungkan belt hitam itu.
“gini”Cindai meraih belt itu kemudian memakainya, kemudian
di buka kembali oleh Bagas lalu Bagas memakaikan itu pada Cindai kembali.
Pandangan iri banyak sekali terlontar dari penjuru sekolah.
Mereka hanya tidak menyadari pandangan-pandangan itu, terlalu mabuk kepayang
oleh pasangan masing-masing.
Cindai mengerutkan keningnya saat melihat Dayat sedang
bersama Zahra “kak Day”panggil Cindai.
Dayat berbalik kemudian melambaikan tangannya pada Cindai
“sini”
Cindai menatap Zahra tak suka, “ngapain sama dia kak? Latiah
yuk”
“gak ngapa-ngapain, yuk” Dayat berdiri kemudian memakai belt
hitamnya.
“kayaknya gak suka ya sama Zahra?”tanya Dayat.
Cindai memutar bola matanya, “jelaslah, dia itu terlalu
agresif sama Bagas, gue gak suka”ujar Cindai sambil melakukan pemanasan.
***
Agni menatap rumah di hadapannya dengan gugup, beberapa kali
ia menghela nafas panjang untuk sekedar mencari kekuatan.
“siap?”tanya Rio yang dengan setia mendampingi Agni.
Agni mengangguk pasti, setelah itu ia menekan bel beberapa
kali.
“selamat si... kak Agni? Kak tolongin Difa...”
Wajah Agni pucat pasi, jangan jangan...
“kak Cakka beberapa hari terakhir ini gak mau makan... Mama
juga belum bisa pulang... tolong bujuk kak Cakka makan” Difa menarik Agni agar
memasuki rumahnya.
Rio mengangguk saat melihat Agni menatapnya mencari
pertolongan.
Difa mulai membuka pintu kamar Cakka, saat Difa hendak
bersuara Agni mencegahnya. Difa mengangguk mengerti, kemudian Difa berlalu dari
kamar itu untuk mengambil makanan dan minuman.
Sesak. Itulah yang Agni rasakan begitu memasuki kamar Cakka.
Tidak ada sedikitpun cahaya masuk, gordennya ia biarkan tertutup tak membiarkan
cahaya penyegar itu masuk.
Agni mendekati Cakka yang sedang tertidur, ia duduk di
ranjang itu “Kka... tidur aja kamu gak tenang gini” Agni mengelus wajah Cakka
begitu lembut.
“bangun Kka... kamu harus makan”bisik Agni tepat di telinga
Cakka.
“Cakka” Agni mengguncangkan dada Cakka perlahan.
Cakka mulai menggeliat dan membuka matanya yang terasa
begitu berat.
“Agni... ngapain kamu...” Cakka melongos begitu melihat Rio
yang bersandar di ambang pintu.
“kalau cuma mau pamer kemesraan gak usah deh, dengernya aja
udah jijik apalagi liat”guman Cakka, ia menarik selimut coklatnya sampai
menutupi kepalanya.
“Kka... dengerin dulu”Agni menarik selimut Cakka
“kak makan dulu... ini”Difa memasuki kamar Cakka dengan
nampan yang penuh makanan.
“simpen aja, gak laper”kata Cakka pada Difa.
Difa menghela nafas kemudian menyimpan nampan itu di meja
belajar Cakka lalu keluar dari kamar Cakka.
“harusnya loe gak terpropokasi sama Ify Kka. Aku dan Agni
yang tau sebenernya, bukan dia”guman Rio, ia mulai berjalan ke arah Cakka.
Cakka berdecak, “tunda dulu deh ngomongnya, gue mau mandi
dulu”Cakka beranjak dari tempat tidur kemudian memasuki kamar mandinya.
Rio dan Agni menghela nafas kemudian saling berpandangan.
Agni berjalan mendekati jendela untuk membuka gorden itu.
“aku harus gimana Io'? Cakka terlalu keras kepala”
Rio mendudukan dirinya di sofa berwarna hitam.
“coba pelan-pelan aja”
Agni mengangguk, ia duduk di samping Rio karena memang tidak
ada kursi lagi. Agni memijat keningnya yang terasa begitu berat. Rio menarik Agni
agar merebahkan kepala di pundaknya.
Tak lama Cakka keluar dari kamar mandi dengan lebih fresh,
ia bergumam sinis begitu melihat Agni menutup matanya di pundak Rio.
“sebaiknya kalian pulang, gak ada kamar kosong buat kalian
kalian bercinta disini”
“jaga omongan loe Cakka, sebaiknya loe coba sensor kata-kata
loe itu”desis Rio
Cakka melempar handuknya asal, ia duduk di atas tempat
tidurnya menghadap Rio.
“mau apa loe kesini?”
“kenapa loe buat Agni gini? Apa salah dia?”tanya Rio
“gue buat Agni gitu? Gak salah? Bukannya ini ulah kalian
sendiri? Gak ada yang salah”
Agni membuka matanya begitu mendengar ucapan Cakka yang
begitu tegas itu.
“kita mau jelasin semuanya Io' semua yang loe denger dari
Ify”
Cakka berdecak, “apa? Toh emang benerkan apa yang gue bilang
malem itu? Loe emang pelukan, ciuman dan tidur satu ranjang!”
“iya! Kenapa? Salah?! Salah gue perlakuin Agni gitu? Dia
tunangan gue!”ucap Rio agak membentak, ia menghela nafas panjang, “tapi Kka...
gue gak pernah sejauh itu... gue sama Agni emang tidur satu ranjang dan itu
dengan alasan yang kuat! Gue cuma mau jagain Agni... loe taukan gue pernah
cerita masalah pembunuhan dan mimpi pembunuhan itu? Yang ada dalam mimpi gue
itu Agni Kka... untuk itu gue perlakuin Agni posesif sampe ngajak tidur bareng.
Tapi sumpah demi apapun Kka... gue gak pernah nyenduh Agni lebih dari pelukan dan ciuman”
Cakka menaikan satu alisnya, “apa yang buat gue percaya? Dan
darah yang dikamar loe...”
“itu darah mens Kka...”potong Agni cepat sebelum Cakka
meneruskan omongan yang pasti fulgar itu.
“gue gak percaya!”tandas Cakka
Hati Agni begitu mencelos, terasa ada lubang besar di dalam
hatinya.
“kamu mau bukti apa lagi sih?! Apa perlu aku buktiin dengan
melakukan itu sama kamu Kka? Perlu?”
Cakka menatap Agni menantang, ia tak berkata apapun tapi
cukup membuat Agni naik darah.
“oke kalo kamu maunya gitu...”Agni mulai membuka satu
persatu kancing kemeja seragam sekolahnya sambil mendekati Cakka, ia melempar
asal dasinya.
Agni melempar kemejanya ke hadapan Cakka dan masih ada
tanktop berwarna hitam melekat dengan begitu pas. Begitu Agni hendak mengangkat
tanktop itu Rio segera berlari menarik Agni.
“terserah loe mau percaya atau gak! yang pasti gue gak
bakalan ngijinin loe buat rusak Agni!” Rio meraih kemeja Agni yang ada di ranjang
Cakka kemudian memakaikannya pada Agni yang masih memasang wajah yang keras
meski dalam hati ia kecewa pada Cakka yang benar-benar tak mempercayainya.
Cakka menatap takjup pembelaan Rio, ia tersenyum simpul
dengan begitu ia yakin kalau Rio benar-benar tidak melakukannya.
“biarin gue bicara berdua sama Agni Yo, gue butuh
privasy”ujar Cakka
Rio mendengus, “gak! gue akan tetep pantengin kalian! Kalian
ngobrol gih di balkon biar gue tetep bisa hajar loe kalo loe ngelakuin sesuatu
sama Agni”
Cakka mengangguk setuju, ia menarik Agni agar mengikutinya
ke balkon. Rio hanya memandangi Agni yang menanggapi Cakka dengan datar dan
cenderung dingin. Ia tau Agni kecewa sama Cakka.
“di sayangin tanpa di percaya itu rasanya seperti naik
histeria... naik sampe puncak dan di lempar ke bawah begitu saja”ujar Agni
dengan nada datar tanpa berniat memandang Cakka.
“bukannya aku gak percaya Ni, aku cuma belum sepenuhnya
percaya. Dan sekarang aku percaya, yakin kalau Rio terbaik buat kamu, yang bisa
lindungin kamu”Cakka menatap Agni yang juga menatapnya dengan kaget.
Agni memalingkan wajahnya ke arah lain, “aku dan Rio bakalan
pisah... mungkin... nanti malam” Agni menghela nafas “tapi aku rasa percuma aku
mengusahakan buat berpisah dengan Rio tapi lelaki yang aku usahain buat di
pertahanin malah gak percaya. Kayaknya pemikiran aku buat berpisah dari Rio aku
ralat”
Cakka menahan nafas, dadanya sesak kembali. Dengan segera
Cakka memeluk Agni “jangan tinggalin aku plesae... aku gak bisa di tinggalin
kamu”
Agni masih berwajah dingin, “aku kecewa Kka...”
Cakka mengeratkan pelukannya, takut kalau gadisnya ini pergi
meninggalkannya “jangan... maaf”
“maaf Ni, aku sayang kamu, aku lemah tanpa kamu Agni... aku
mau kita kayak dulu...”
Agni menarik sudut bibirnya, kemudian membalas pelukan
Cakka, “jangan pernah percaya tentang omongan orang lagi ya Kka? Lebih baik
tanya dulu sama akunya”
Cakka mengangguk pasti. Cakka merasakan tepukan di bahunya,
“Kka... gue pulang dulu, gue yakin loe bisa jaga Agni sekarang... secepatnya
loe bakalan nerima kabar baik dari kami”
Cakka melepaskan pelukannya, “thanks ya Yo... loe emang
sahabat terbaik gue” Cakka memeluk Rio sebentar.
Rio melepaskan pelukan Cakka, “jaga diri kamu baik-baik ya
Bee... aku tetep bakalan awasin kamu...”
Agni mengangguk sambil tersenyum, di jaga dua lelaki
membuatnya merasa begitu aman.
***
Sivia menatap berbinar Cliennya yang baru datang dan
sekarnag duduk di hadapannya. Dadanya sedikit sesak, nafasnya mulai tak teratur
dan pandangan matanya terasa kabur karena air mata.
“Gabriel”Sivia memeluk Cliennya itu dengan penuh luapan
kerinduan. “kemana aja kamu? Aku mencarimu...”
Gabriel membalas pelukan Sivia dengan ragu, “Via... apa...
apa ini mimpi?”
Sivia menguraikan pelukannya, ia menggeleng pelan. “bukan
El, aku merindukanmu”Sivia kembali memeluk Gabriel begitu intens seakan
perasaannya begitu meluap-luap dan tak bisa tertahankan.
To Be Continue...
Terimakasih :)
No comments:
Post a Comment