Friday, 3 May 2013

Cowok itu... #19


Rio dan Agni saling menjauh dengan nafas yang terengah-engah. Rio melirik ke sebelah kirinya yang ia rasa ada orang selain mereka berdua.
“hei Fy”sapa Rio dengan datar.

Agni mendongak ke arah Rio kemudian melirik ke kanannya yang ternyata ada Ify. Ia membenarkan letak poninya gugup. “Fy...”desis Agni

Rio meraih dagu Agni, memaksa menghadapkan gadis itu padanya. “belepotan”guman Rio kemudian menyatukan bibir mereka kembali. Namun Agni mendorong tubuh Rio kasar, menolak perlakuan memaksa pemuda itu.
“Rio!!! Apa-apaan sih”bentak Agni setelah lepas dari cengkraman Rio.

Rio menyeringai nakal, “kamu... manis”ia mencolek hidung Agni kemudian berlalu tanpa melirik Ify yang berdiri mematung sedikitpun.

Agni ngeusap ujung bibirnya kemudian menghampiri Ify.
“Fy...”Agni berucap begitu lirih.

Tuk

Ify menjitak kepala Agni, sementara Agni meringis sambil mengelus kepala yang menjadi sasaran jitak Ify.
“untung gue yang liat, gimana kalo yang lain? Pasti pingsan mendadak”ucap Ify agak berbisik.

Agni masih memegangi kepalanya, “lagian dia kenapa sih? Kayak kesurupan gitu”umpat Agni, sambil keduanya berjalan beriringan ke arah belakang rumah kembali. Hasrat ingin pipisnya di buang jauh-jauh oleh Ify.

Ify agak terdiam, “kalo biasanya kenapa Ni?”ia melirik ke arah Agni yang masih sesekali memejamkan matanya lama.

“biasanya kalo lagi cemburu, kalo gak ya lagi ada masalah”guman Agni.

Ify mengangguk-angguk mengerti, ia mengerutkan keningnya begitu melihat orang baru yang ada di antara teman-teman mereka.

Agni mundur kemudian berbalik begitu merasa tangannya di tarik oleh seseorang.
“apa lagi?”tanya Agni dengan nada datar.

Rio dengan cueknya merangkul Agni menariknya ke hadapan semua temannya yang mulai bakar-bakar makanan.
“guys gue ada pengumuman”seru Rio yang membuat seluruh yang ada di sana berbalik ke arah Rio.

“gak salah rangkul yo?”tanya Bagas yang duduk di sebuah bangku bersama Zahra.
“ehh tuan rumah, gue gabung ya? tadi di sms Bagas”kata Zahra yang mendapat anggukan dari Rio.

Agni mendelik ke arah Rio sambil berusaha melepaskan rangkulan Rio. Tapi Rio malah mengeratkan rangkulannya.
“gue cuma mau ngucapin selamat datang di rumah baru kita, rumah gue dan Agni. Udah hampir enam bulan kita tunangan dan hari ini gue umumin sama kalian semua”kata Rio yang sukses membuat beberapa orang di sana cengo, kaget.

“Rio... kenapa sih?”tanya Agni heran.

Rio mengerlingkan bola matanya nakal, “kenapa Bee? Kan emang bener”

‘ternyata kamu gak pernah main-main ya Io' sama omongan kamu, dan makasih atas pembuktiannya’ ucap Ify dalam hati.

Sementara yang lain malah desas-desus dan saling menatap Cakka yang diam tanpa ekspresi.
“kan apa gue bilang? Waktu itu beneran Agni yang sama Rio, Rio kasih cincin sama Agni”ujar Zahra

“oke semuanya, silahkan menikmati acara malam ini...”ucap Rio kemudian menarik Agni ke dekat pemanggangan.

Agni melepaskan rangkulan dari Rio, yang di hadiahi tatapan tajam oleh Rio yang tak ingin di bantah keinginannya.
Agni meneguk ludah sukar, “aku mau ambil minum”

Rio menatap dalam pada Agni, mencari kejujuran. Kemudian mengangguk memberi ijin.

***

Cindai sesekali mencuri pandang pada Bagas yang begitu asik berbincang sambil menata minuman dengan Zahra, ia tersenyum miris begitu melihat Bagas tertawa lepas dengan gadis itu. Cindai menghela nafas, ia sadar semua ini salahnya, coba saja ia tak terpikirkan masa lalunya pasti ia tak akan pernah ada dalam posisi ini.
“Andai”panggil Ray, ia menepuk pundak Cindai kemudian memberikan segelas minuman.

Cindai tersenyum sambil menatap Ray, “hai... loe udah akrab banget ya sama Zahra?”tanya Cindai

Ray mengangkat bahunya, “gue lebih suka sama sepupu loe”

Cindai mengerutkan keningnya, “Rafli maksud loe? Ya ampun Ray... loe tuh ganteng tapi masa suka sama sesama sih?”ia berucap begitu histeris.

Ray menepuk jidatnya, “bukanlah gila loe”desis Ray

“ada apa sebut nama gue nih”ucap Rafli yang duduk tak jauh dari keduanya.

Cindai memamerkan deretan giginya, “enggak”

Cindai merasakan tangannya di tarik, ia otomatis berbalik dan bangkit dari duduknya mengikuti orang yang menariknya memasuki rumah Rio.

“jadi dia alesan kamu berubah?”Bagas menghempaskan  tangan Cindai kasar, kemudian tersenyum sinis, “asal kamu tau, aku sengaja ajak mereka buat liat kenyataannya, dan ternyata... bener ya?”

“iya emang dia yang rubah aku, dia yang buat aku bingung! Kamu tau? Dia cinta pertama aku! Dan... dan... aku... aku bingung gas, aku gak tau harus gimana... apalagi waktu liat foto kamu dari Chelsea... itu buat aku yakin buat balik sama Ray! Aku kecewa sama kamu! Aku...”

Bagas menarik Cindai kedalam pelukannya, tubuh Cindai bergetar hebat suaranya mulai tak terdengar. “aku belum bisa gas mastiin hati aku buat kamu, dengan posisi aku gini... aku kecewa... aku gak percaya sama kamu...”lanjut Cindai dengan suara seraknya.

Bagas mengeratkan pelukannya, “dengan gini aku lega, aku gak akan maksa kamu lagi... dan aku rasa... kita emang sebaiknya...”Bagas mengurai pelukannya.

“gak! aku gak mau! Aku gak mau... aku maunya kamu...”teriak Cindai

Bagas berdecak, ia mmbenturkan keningnya pada kening Cindai “dengerin dulu kalo orang lagi ngomong! Jangan di potong-potong”perintah Bagas

Cindai merengut, ia menghapus air matanya sambil mengelus dahinya yang sakit “ja...jahat banget kamu...”

Bagas menghela nafas panjang, “mana cincin aku?”tagih Bagas seakan sedang memalak.

Cindai mendelik, “kamu tuh mau ngrampok atau apa sih?”

Bagas tersenyum, “iya aku mau rampok, rampok semua isi hati kamu buat aku, dan membuang jauh-jauh siapapun yang nyempil di hati kamu”

Cindai memukul dada Bagas dengan lemah, kemudian menjatuhkan diri pada dada Bagas, ia memeluk Bagas dengan posesif. Perlahan Bagas membalas pelukan Cindai sambil mengelus puncak kepalanya.
“jadi... kita balikan?”tanya Cindai

***

Marsha berdiri berhadapan dengan Rafli keduanya saling tukeran minuman.
“biarin deh yang lain pada ngiri, salah siapa malah kaku gini”ujar Marsha

Rafli terkikik geli, ia mengacak-acak rambut Marsha, “ada-ada aja kamu”ia berbalik bermaksud melihat ke arah Zahra dan Ray yang bertindak sebagai Chef. Tapi...
“aw... Rafli... basah baju gue”rengek Ify saat mendapati dress putihnya terkena  orange jus yang ada di tangan Rafli.

“sorry Fy, gak sengaja beneran”kata Rafli sambil menyimpan gelas itu pada meja di belakangnya.

Rio menatap ke arah Rafli yang sedang memohon-mohon minta maaf, “Io'”panggil Agni
“Rio”Agni berdiri tepat di depan Rio yang sedang memperhatikan Ify. Kebetulan tinggi keduanya yang hampir sama jadi pandangan Rio pun akhirnya teralihkan pada Agni.

“panggil Hon! Oke?”perintah Rio

“iya, Hon, baju aku kamu simpen dimana? kasian Ify bajunya kotor”guman Agni

“gapapa Ni, ini gak nembus kedalem kok”kata Ify sambil terus mengibas-ngibaskan bajunya.

“tapi Fy... kotor”ia menatap Ify sekilas kemudian menatap ke arah Rio. “dimana nyimpennya?”

Rio berdecak, “mana ada baju kamu yang pas Bee, badan kamu sama diakan beda jauh. Gak sadar amat punya badan tinggi terus gede”

“kan ada kaus dan rok atau jeans”Agni bersikeras membantah Rio yang seolah gak mau memberikan milik Agni pada gadis manapun.

“adanya cuma gaun tidur”ucap Rio dengan nada sensual.

Agni memutar bola matanya, “yao Fy gak usah dengerin orang yang lagi stres! Kita ubek-ubek aja rumah dia biar kayak kapal pecah sekalian”rutuk Agni sambil menarik Ify.

Sementara yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala heran melihat Agni yang bawel.

“loe kenapa sih Yo?”tanya Cakka

“kenapa apa? Gue cuma berusaha luapin semua sayang gue buat Agni, bukan yang lain lagi...”jawab Rio dengan santai.

“Ify itu cewek loe Yo”

“iya, cewek yang gak mau di sayang dan gak bersyukur gue berusaha sayang sama dia”ucap Rio dengan nada datar dan dinginnya.

Cakka menghela nafas panjang, “gue gak tau ya masalah loe kayak apa, tapi tolonglah... ada gue disini”Cakka berlalu begitu saja saat berkata seperti itu.

***

Ify menatap pantulan dirinya di cermin, benar kata Rio pakaian Agni memang terlalu besar untuk badannya yang cukup kecil. Setelah benar-benar menurutnya rapih ia berbalik ke arah tempat tidur dimana beberapa pakaian berserakan. Ia membereskan satu per satu namun pergerakkannya berhenti saat melihat sebercak darah yang ada di seprai putih itu. Ia menahan nafas karena dadanya mulai sesak. Apa benar yang selama ini ia bayangkan? Pantas saja ia begitu menyayangi Agni, apa karena mereka sudah melakukannya?
“Fy... udah belum”panggil Agni dari arah luar.

Ify menyeka air mata yang bertumpuk di ujung matanya.
“udah Ni”ia menumpukkan pakaian di sisi tempat tidur kemudian keluar.

Agni tersenyum begitu melihat Ify keluar dengan dressnya yang agak kebesaran.
“nyaman gak?”

Ify mengangguk, “kamar kamu bagus ya?”guman Ify

“yang tadi? Itu kamar Rio lagi”jawab Agni, tak menyadari perubahan ekspresi wajah Ify yang menjadi pucat.

“apa kalian tiap hari nginep disini?”tanya Ify

Agni mengangkat alisnya, “kalo gue sih paling seminggu tiga kali atau dua kali, gak tau deh kalo yang punya...” ia menatap Ify “kenapa emangnya?”
                     
‘ya tuhan... apa mereka sedekat itu?’ batin Ify.
“cuma nanya kok, ehh itu Cakka mau kemana?”tanya Ify saat melihat Cakka kelua dari pintu utama

“Kka”panggil Agni

Cakka berhenti melangkah kemudian berbalik ke arah Agni tanpa berkata sedikitpun.
“mau kemana?”tanya Agni sambil berjalan cepat ke arah Cakka

“pulang, Difa nelpon katanya gak ada temen”dusta Cakka

Agni mengangguk mengerti, “yaudah, salam sama Difa ya”

“gue ikut deh ya, bilang sama yang lain gue duluan ya Ni”kata Ify sambil berdiri di samping Cakka

Lagi-lagi Agni mengangguk, “padahal lagi seru nih malah pergi”ucap Agni kecewa.

“kapan-kapan lagi deh ya... bye”pamit Ify

Sebelum berlalu Cakka mengecup pipi Agni sebentar kemudian berlalu mengikuti Ify. Agni menghela nafas panjang kemudian masuk lagi ke dalam rumah.

***

Acara usai, semuanya kembali kerumah masing-masing, begitupun Rio dan Agni.
“gak seharusnya kamu gitu Io' sama Ify”ujar Agni, ia menatap ke arah jalan yang mulai sepi kendaraan.

“salah dia sendiri, mau aku perjuangin malah berasumsi sendiri”ucap Rio dengan datar.
“dan aku rasa... gak perlu lagi aku memutar otak mencari cara buat kita pisah”lanjut Rio

Dada Agni merasa tertohok, ia merasa sesak “tapi... aku masih sayang sama Cakka”

Rio menghentikan mobilnya, ia menarik Agni agar menghadapnya.
“apa kebersamaan kita selama ini gak ada artinya? Apa aku gak cukup sempurna buat kamu lupain Cakka?”

Agni menggeleng, “gak Io', bukan gitu... kamu sempurna... kamu lebih dari cukup Io', tapi...”Agni menghela nafas, “aku mau mundur, aku gak bisa nyakitin hati sahabat aku”

“dan lebih rela nyakitin hati orang tua kita? Gitu?”tanya Rio dengan cepat.

Agni menggeleng kuat, “bukan... aku akan berusaha jelasin sama mereka semua dengan alesan yang masuk akal, dan aku bakal berusaha buat orang tua kamu gak cerai”

“kalo tetep cerai?”

Agni memejamkan matanya, ia menghela nafas panjang “aku rela... ngelakuin apapun yang kamu mau, termasuk...”

Rio mengecup hidung Agni, “thanks...”
Setelah perdebatan kecil itu Rio kembali menjalankan kendaraannya.

***

Rio menutup pintu kamarnya kemudian terduduk sambil menyandar pada pintu itu. Ia membenamkan wajanya di antara lututnya, perlahan punggungnya mulai bergetar, ia mencengkram rambutnya.
“argh...”ia membantingkan jaketnya kasar.

Tok tok tok

“Rio, kamu kenapa sayang?”tanya Zevana, “Rio, buka... cerita sama Mama”Zevana terus mengetuk pintu kamar putra sulungnya itu.

Rio bangkit, menyeka air matanya kemudian keluar. Ia tersenyum tipis, “Ma...”ia memeluk Zevana begitu erat “aku gak mau kehilangan Mama”ucap Rio dengan suara parau ‘tapi aku juga gak mau kehilangan cinta aku’ lanjut Rio dalam hati.

Zevana mengelus puncak kepala Rio dengan sayang, “Mama gak akan kemana-mana sayang”ia mengecup puncak kepala Rio.
“sekarang kamu tidur gih, Mama temenin ya?”

Rio mengangguk kemudian melepas pelukannya pada Mamanya.

***

“Kka... apa aku segitu buruknya?”dengan bergetar Agni memegang ponsel itu, kini ia duduk di sudut kamarnya dengan penampilan yang acak-acakan.

“aku... Ni, maaf... aku gak bisa nerusin ini, aku udah cukup sabar”

“tapi apa alesannya lagi Kka? Kita udah ngejalanin ini lama dan selama itu kamu baik-baik aja”Agni berusaha menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya kuat.

“sekarang aku tanya, kamu udah ngelakuin apa aja sama Rio?” Cakka menghela nafas “jujur!” tegas Cakka.

“gak ngelakuin apapun”

“pelukan? Ciuman?”

“i..itu...”

“dan tidur satu ranjang! Apa itu yang di sebut gak ngelakuin apapun Ni?”

Agni menggeleng kuat, “ak...aku... Rio... enggak Kka... enggak”

“aku tunggu penjelasannya, setelah aku mau hubungin kamu lagi”

Setelah ucapan itu panggilanpun dimatikan sepihak, sementara Agni menangis tersedu sambil menggenggam ponselnya dengan bergetar. Shock dengan perlakuan Cakka yang begitu tidak mempercayainya.
Ponsel Agni kembali berdering, dengan buru-buru ia mengangkat panggilan itu.
“hallo? Maaf”

“Agni... kalian lagi ada masalah?”

Agni tertegun, ia dengan segera melihat nama pemanggil itu, “Ma... eng... enggak kok...”

“tapi sayang... kayaknya kamu gak baik-baik”

Agni mengambil nafas dalam, “gak kok Ma, Agni baik”

Zevana menghela nafas, “kalo ada apa-apa cerita ya? Rio juga tadi  gak mau cerita dan bilangnya gapapa padahal penampilannya kacau”
“sebenernya ada yang belum Mama bilang sama kamu tentang Rio”

Agni mengerutkan keningnya, “apa Ma?”

“pasti Rio sering ngajak kamu tidur bareng ya?” Zevana terdiam sebentar, “itu karena dia selalu di datangi mimpi buruk, dia memiliki trauma sejak dari kecil... Mama mau minta maaf soal itu”

Agni tertegun sejenak, pikirannya melayang pada beberapa kejadian dimana Rio memang selalu memaksa tidur bersama dan kalau Agni gak mau dia akan menyelinap masuk ke kamar Agni, ia juga  ingat setiap malam Rio selalu terjaga tiba-tiba dengan nafas yang memburu dan keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Dan ternyata ini alasannya? Tapi trauma apa?
“Ma... Mama? Ma... ada apa?”
Tanya Agni panik karena terdengar kegaduhan dari sebrang.
“Mama?”

“Rio... bangun Rio!”

“Ma? Ada apa? Rio kenapa?”tanya Agni dengan begitu panik. Setelah tak ada jawaban ia menutup panggilan itu kemudian dengan segera ia berlari keluar dari kediamannya.

To Be Continue...

No comments:

Post a Comment