Rio dan Agni saling menjauh dengan nafas yang
terengah-engah. Rio melirik ke sebelah kirinya yang ia rasa ada orang selain
mereka berdua.
“hei Fy”sapa Rio dengan datar.
Agni mendongak ke arah Rio kemudian melirik ke kanannya yang
ternyata ada Ify. Ia membenarkan letak poninya gugup. “Fy...”desis Agni
Rio meraih dagu Agni, memaksa menghadapkan gadis itu
padanya. “belepotan”guman Rio kemudian menyatukan bibir mereka kembali. Namun
Agni mendorong tubuh Rio kasar, menolak perlakuan memaksa pemuda itu.
“Rio!!! Apa-apaan sih”bentak Agni setelah lepas dari
cengkraman Rio.
Rio menyeringai nakal, “kamu... manis”ia mencolek hidung
Agni kemudian berlalu tanpa melirik Ify yang berdiri mematung sedikitpun.
Agni ngeusap ujung bibirnya kemudian menghampiri Ify.
“Fy...”Agni berucap begitu lirih.
Tuk
Ify menjitak kepala Agni, sementara Agni meringis sambil
mengelus kepala yang menjadi sasaran jitak Ify.
“untung gue yang liat, gimana kalo yang lain? Pasti pingsan
mendadak”ucap Ify agak berbisik.
Agni masih memegangi kepalanya, “lagian dia kenapa sih?
Kayak kesurupan gitu”umpat Agni, sambil keduanya berjalan beriringan ke arah
belakang rumah kembali. Hasrat ingin pipisnya di buang jauh-jauh oleh Ify.
Ify agak terdiam, “kalo biasanya kenapa Ni?”ia melirik ke
arah Agni yang masih sesekali memejamkan matanya lama.
“biasanya kalo lagi cemburu, kalo gak ya lagi ada
masalah”guman Agni.
Ify mengangguk-angguk mengerti, ia mengerutkan keningnya
begitu melihat orang baru yang ada di antara teman-teman mereka.
Agni mundur kemudian berbalik begitu merasa tangannya di
tarik oleh seseorang.
“apa lagi?”tanya Agni dengan nada datar.
Rio dengan cueknya merangkul Agni menariknya ke hadapan
semua temannya yang mulai bakar-bakar makanan.
“guys gue ada pengumuman”seru Rio yang membuat seluruh yang
ada di sana berbalik ke arah Rio.
“gak salah rangkul yo?”tanya Bagas yang duduk di sebuah
bangku bersama Zahra.
“ehh tuan rumah, gue gabung ya? tadi di sms Bagas”kata Zahra
yang mendapat anggukan dari Rio.
Agni mendelik ke arah Rio sambil berusaha melepaskan
rangkulan Rio. Tapi Rio malah mengeratkan rangkulannya.
“gue cuma mau ngucapin selamat datang di rumah baru kita,
rumah gue dan Agni. Udah hampir enam bulan kita tunangan dan hari ini gue umumin
sama kalian semua”kata Rio yang sukses membuat beberapa orang di sana cengo,
kaget.
“Rio... kenapa sih?”tanya Agni heran.
Rio mengerlingkan bola matanya nakal, “kenapa Bee? Kan emang
bener”
‘ternyata kamu gak
pernah main-main ya Io' sama omongan
kamu, dan makasih atas pembuktiannya’ ucap Ify dalam hati.
Sementara yang lain malah desas-desus dan saling menatap
Cakka yang diam tanpa ekspresi.
“kan apa gue bilang? Waktu itu beneran Agni yang sama Rio,
Rio kasih cincin sama Agni”ujar Zahra
“oke semuanya, silahkan menikmati acara malam ini...”ucap
Rio kemudian menarik Agni ke dekat pemanggangan.
Agni melepaskan rangkulan dari Rio, yang di hadiahi tatapan
tajam oleh Rio yang tak ingin di bantah keinginannya.
Agni meneguk ludah sukar, “aku mau ambil minum”
Rio menatap dalam pada Agni, mencari kejujuran. Kemudian
mengangguk memberi ijin.
***
Cindai sesekali mencuri pandang pada Bagas yang begitu asik
berbincang sambil menata minuman dengan Zahra, ia tersenyum miris begitu
melihat Bagas tertawa lepas dengan gadis itu. Cindai menghela nafas, ia sadar
semua ini salahnya, coba saja ia tak terpikirkan masa lalunya pasti ia tak akan
pernah ada dalam posisi ini.
“Andai”panggil Ray, ia menepuk pundak Cindai kemudian
memberikan segelas minuman.
Cindai tersenyum sambil menatap Ray, “hai... loe udah akrab
banget ya sama Zahra?”tanya Cindai
Ray mengangkat bahunya, “gue lebih suka sama sepupu loe”
Cindai mengerutkan keningnya, “Rafli maksud loe? Ya ampun
Ray... loe tuh ganteng tapi masa suka sama sesama sih?”ia berucap begitu
histeris.
Ray menepuk jidatnya, “bukanlah gila loe”desis Ray
“ada apa sebut nama gue nih”ucap Rafli yang duduk tak jauh
dari keduanya.
Cindai memamerkan deretan giginya, “enggak”
Cindai merasakan tangannya di tarik, ia otomatis berbalik dan
bangkit dari duduknya mengikuti orang yang menariknya memasuki rumah Rio.
“jadi dia alesan kamu berubah?”Bagas menghempaskan tangan Cindai kasar, kemudian tersenyum
sinis, “asal kamu tau, aku sengaja ajak mereka buat liat kenyataannya, dan
ternyata... bener ya?”
“iya emang dia yang rubah aku, dia yang buat aku bingung!
Kamu tau? Dia cinta pertama aku! Dan... dan... aku... aku bingung gas, aku gak
tau harus gimana... apalagi waktu liat foto kamu dari Chelsea... itu buat aku
yakin buat balik sama Ray! Aku kecewa sama kamu! Aku...”
Bagas menarik Cindai kedalam pelukannya, tubuh Cindai
bergetar hebat suaranya mulai tak terdengar. “aku belum bisa gas mastiin hati
aku buat kamu, dengan posisi aku gini... aku kecewa... aku gak percaya sama
kamu...”lanjut Cindai dengan suara seraknya.
Bagas mengeratkan pelukannya, “dengan gini aku lega, aku gak
akan maksa kamu lagi... dan aku rasa... kita emang sebaiknya...”Bagas mengurai
pelukannya.
“gak! aku gak mau! Aku gak mau... aku maunya kamu...”teriak
Cindai
Bagas berdecak, ia mmbenturkan keningnya pada kening Cindai
“dengerin dulu kalo orang lagi ngomong! Jangan di potong-potong”perintah Bagas
Cindai merengut, ia menghapus air matanya sambil mengelus
dahinya yang sakit “ja...jahat banget kamu...”
Bagas menghela nafas panjang, “mana cincin aku?”tagih Bagas
seakan sedang memalak.
Cindai mendelik, “kamu tuh mau ngrampok atau apa sih?”
Bagas tersenyum, “iya aku mau rampok, rampok semua isi hati
kamu buat aku, dan membuang jauh-jauh siapapun yang nyempil di hati kamu”
Cindai memukul dada Bagas dengan lemah, kemudian menjatuhkan
diri pada dada Bagas, ia memeluk Bagas dengan posesif. Perlahan Bagas membalas
pelukan Cindai sambil mengelus puncak kepalanya.
“jadi... kita balikan?”tanya Cindai
***
Marsha berdiri berhadapan dengan Rafli keduanya saling
tukeran minuman.
“biarin deh yang lain pada ngiri, salah siapa malah kaku
gini”ujar Marsha
Rafli terkikik geli, ia mengacak-acak rambut Marsha,
“ada-ada aja kamu”ia berbalik bermaksud melihat ke arah Zahra dan Ray yang bertindak
sebagai Chef. Tapi...
“aw... Rafli... basah baju gue”rengek Ify saat mendapati
dress putihnya terkena orange jus yang
ada di tangan Rafli.
“sorry Fy, gak sengaja beneran”kata Rafli sambil menyimpan
gelas itu pada meja di belakangnya.
Rio menatap ke arah Rafli yang sedang memohon-mohon minta
maaf, “Io'”panggil Agni
“Rio”Agni berdiri tepat di depan Rio yang sedang
memperhatikan Ify. Kebetulan tinggi keduanya yang hampir sama jadi pandangan
Rio pun akhirnya teralihkan pada Agni.
“panggil Hon! Oke?”perintah Rio
“iya, Hon, baju aku kamu simpen dimana? kasian Ify bajunya
kotor”guman Agni
“gapapa Ni, ini gak nembus kedalem kok”kata Ify sambil terus
mengibas-ngibaskan bajunya.
“tapi Fy... kotor”ia menatap Ify sekilas kemudian menatap ke
arah Rio. “dimana nyimpennya?”
Rio berdecak, “mana ada baju kamu yang pas Bee, badan kamu
sama diakan beda jauh. Gak sadar amat punya badan tinggi terus gede”
“kan ada kaus dan rok atau jeans”Agni bersikeras membantah
Rio yang seolah gak mau memberikan milik Agni pada gadis manapun.
“adanya cuma gaun tidur”ucap Rio dengan nada sensual.
Agni memutar bola matanya, “yao Fy gak usah dengerin orang
yang lagi stres! Kita ubek-ubek aja rumah dia biar kayak kapal pecah
sekalian”rutuk Agni sambil menarik Ify.
Sementara yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala heran
melihat Agni yang bawel.
“loe kenapa sih Yo?”tanya Cakka
“kenapa apa? Gue cuma berusaha luapin semua sayang gue buat
Agni, bukan yang lain lagi...”jawab Rio dengan santai.
“Ify itu cewek loe Yo”
“iya, cewek yang gak mau di sayang dan gak bersyukur gue
berusaha sayang sama dia”ucap Rio dengan nada datar dan dinginnya.
Cakka menghela nafas panjang, “gue gak tau ya masalah loe
kayak apa, tapi tolonglah... ada gue disini”Cakka berlalu begitu saja saat
berkata seperti itu.
***
Ify menatap pantulan dirinya di cermin, benar kata Rio
pakaian Agni memang terlalu besar untuk badannya yang cukup kecil. Setelah
benar-benar menurutnya rapih ia berbalik ke arah tempat tidur dimana beberapa
pakaian berserakan. Ia membereskan satu per satu namun pergerakkannya berhenti
saat melihat sebercak darah yang ada di seprai putih itu. Ia menahan nafas
karena dadanya mulai sesak. Apa benar yang selama ini ia bayangkan? Pantas saja
ia begitu menyayangi Agni, apa karena mereka sudah melakukannya?
“Fy... udah belum”panggil Agni dari arah luar.
Ify menyeka air mata yang bertumpuk di ujung matanya.
“udah Ni”ia menumpukkan pakaian di sisi tempat tidur
kemudian keluar.
Agni tersenyum begitu melihat Ify keluar dengan dressnya
yang agak kebesaran.
“nyaman gak?”
Ify mengangguk, “kamar kamu bagus ya?”guman Ify
“yang tadi? Itu kamar Rio lagi”jawab Agni, tak menyadari
perubahan ekspresi wajah Ify yang menjadi pucat.
“apa kalian tiap hari nginep disini?”tanya Ify
Agni mengangkat alisnya, “kalo gue sih paling seminggu tiga
kali atau dua kali, gak tau deh kalo yang punya...” ia menatap Ify “kenapa
emangnya?”
‘ya tuhan... apa
mereka sedekat itu?’ batin Ify.
“cuma nanya kok, ehh itu Cakka mau kemana?”tanya Ify saat
melihat Cakka kelua dari pintu utama
“Kka”panggil Agni
Cakka berhenti melangkah kemudian berbalik ke arah Agni
tanpa berkata sedikitpun.
“mau kemana?”tanya Agni sambil berjalan cepat ke arah Cakka
“pulang, Difa nelpon katanya gak ada temen”dusta Cakka
Agni mengangguk mengerti, “yaudah, salam sama Difa ya”
“gue ikut deh ya, bilang sama yang lain gue duluan ya
Ni”kata Ify sambil berdiri di samping Cakka
Lagi-lagi Agni mengangguk, “padahal lagi seru nih malah
pergi”ucap Agni kecewa.
“kapan-kapan lagi deh ya... bye”pamit Ify
Sebelum berlalu Cakka mengecup pipi Agni sebentar kemudian
berlalu mengikuti Ify. Agni menghela nafas panjang kemudian masuk lagi ke dalam
rumah.
***
Acara usai, semuanya kembali kerumah masing-masing,
begitupun Rio dan Agni.
“gak seharusnya kamu gitu Io' sama Ify”ujar Agni, ia menatap
ke arah jalan yang mulai sepi kendaraan.
“salah dia sendiri, mau aku perjuangin malah berasumsi
sendiri”ucap Rio dengan datar.
“dan aku rasa... gak perlu lagi aku memutar otak mencari
cara buat kita pisah”lanjut Rio
Dada Agni merasa tertohok, ia merasa sesak “tapi... aku
masih sayang sama Cakka”
Rio menghentikan mobilnya, ia menarik Agni agar
menghadapnya.
“apa kebersamaan kita selama ini gak ada artinya? Apa aku
gak cukup sempurna buat kamu lupain Cakka?”
Agni menggeleng, “gak Io', bukan gitu... kamu sempurna...
kamu lebih dari cukup Io', tapi...”Agni menghela nafas, “aku mau mundur, aku
gak bisa nyakitin hati sahabat aku”
“dan lebih rela nyakitin hati orang tua kita? Gitu?”tanya
Rio dengan cepat.
Agni menggeleng kuat, “bukan... aku akan berusaha jelasin
sama mereka semua dengan alesan yang masuk akal, dan aku bakal berusaha buat
orang tua kamu gak cerai”
“kalo tetep cerai?”
Agni memejamkan matanya, ia menghela nafas panjang “aku
rela... ngelakuin apapun yang kamu mau, termasuk...”
Rio mengecup hidung Agni, “thanks...”
Setelah perdebatan kecil itu Rio kembali menjalankan
kendaraannya.
***
Rio menutup pintu kamarnya kemudian terduduk sambil
menyandar pada pintu itu. Ia membenamkan wajanya di antara lututnya, perlahan
punggungnya mulai bergetar, ia mencengkram rambutnya.
“argh...”ia membantingkan jaketnya kasar.
Tok tok tok
“Rio, kamu kenapa sayang?”tanya Zevana, “Rio, buka... cerita
sama Mama”Zevana terus mengetuk pintu kamar putra sulungnya itu.
Rio bangkit, menyeka air matanya kemudian keluar. Ia
tersenyum tipis, “Ma...”ia memeluk Zevana begitu erat “aku gak mau kehilangan
Mama”ucap Rio dengan suara parau ‘tapi
aku juga gak mau kehilangan cinta aku’ lanjut Rio dalam hati.
Zevana mengelus puncak kepala Rio dengan sayang, “Mama gak
akan kemana-mana sayang”ia mengecup puncak kepala Rio.
“sekarang kamu tidur gih, Mama temenin ya?”
Rio mengangguk kemudian melepas pelukannya pada Mamanya.
***
“Kka... apa aku segitu buruknya?”dengan bergetar Agni
memegang ponsel itu, kini ia duduk di sudut kamarnya dengan penampilan yang
acak-acakan.
“aku... Ni, maaf...
aku gak bisa nerusin ini, aku udah cukup sabar”
“tapi apa alesannya lagi Kka? Kita udah ngejalanin ini lama
dan selama itu kamu baik-baik aja”Agni berusaha menahan tangisnya dengan
menggigit bibirnya kuat.
“sekarang aku tanya,
kamu udah ngelakuin apa aja sama Rio?” Cakka menghela nafas “jujur!” tegas
Cakka.
“gak ngelakuin apapun”
“pelukan? Ciuman?”
“i..itu...”
“dan tidur satu ranjang! Apa itu yang di sebut gak ngelakuin
apapun Ni?”
Agni menggeleng kuat,
“ak...aku... Rio... enggak Kka... enggak”
“aku tunggu penjelasannya, setelah aku mau hubungin kamu
lagi”
Setelah ucapan itu panggilanpun dimatikan sepihak, sementara
Agni menangis tersedu sambil menggenggam ponselnya dengan bergetar. Shock
dengan perlakuan Cakka yang begitu tidak mempercayainya.
Ponsel Agni kembali berdering, dengan buru-buru ia
mengangkat panggilan itu.
“hallo? Maaf”
“Agni... kalian lagi
ada masalah?”
Agni tertegun, ia dengan segera melihat nama pemanggil itu,
“Ma... eng... enggak kok...”
“tapi sayang...
kayaknya kamu gak baik-baik”
Agni mengambil nafas dalam, “gak kok Ma, Agni baik”
Zevana menghela nafas,
“kalo ada apa-apa cerita ya? Rio juga tadi
gak mau cerita dan bilangnya gapapa padahal penampilannya kacau”
“sebenernya ada yang
belum Mama bilang sama kamu tentang Rio”
Agni mengerutkan keningnya, “apa Ma?”
“pasti Rio sering
ngajak kamu tidur bareng ya?” Zevana terdiam sebentar, “itu karena dia selalu
di datangi mimpi buruk, dia memiliki trauma sejak dari kecil... Mama mau minta
maaf soal itu”
Agni tertegun sejenak, pikirannya melayang pada beberapa
kejadian dimana Rio memang selalu memaksa tidur bersama dan kalau Agni gak mau
dia akan menyelinap masuk ke kamar Agni, ia juga ingat setiap malam Rio selalu terjaga
tiba-tiba dengan nafas yang memburu dan keringat yang bercucuran di sekujur
tubuhnya. Dan ternyata ini alasannya? Tapi trauma apa?
“Ma... Mama? Ma... ada apa?”
Tanya Agni panik karena terdengar kegaduhan dari sebrang.
“Mama?”
“Rio... bangun Rio!”
“Ma? Ada apa? Rio kenapa?”tanya Agni dengan begitu panik.
Setelah tak ada jawaban ia menutup panggilan itu kemudian dengan segera ia
berlari keluar dari kediamannya.
To Be Continue...
No comments:
Post a Comment