Wednesday, 1 May 2013

Mengapa? IV


Gabriel menggulingkan diri kesisi tempat tidur dengan nafas yang belum teratur setelah percintaan yang begitu membara dengan kekasihnya, ia melirik ke sebelah kirinya melihat kekasihnya itu masih memejamkan matanya menikmati sisa-sisa percintaan mereka.
“Via...”

Sivia membuka matanya, ia mengangkat kepalanya dari bantal karena Gabriel menggantikan bantal itu dengan lengannya, “apa ini yang terakhir?”tanya Gabriel dengan suara yang parau.

Sivia menghela nafas, menggeleng “Agni... tadi dia manggil aku Mama”
Pikirannya melayang pada saat dimana Agni memeluknya erat mengatakan hal yang paling membahagiakan untuknya.
“thanks... gue sayang sama loe... Mama”

Sejenak Sivia tertegun, Agni menatap Sivia kemudian tersenyum “gue bakalan lebih senang loe bahagiain Papa daripada mentingin gue, dan... gue cuma  butuh menyesuaikan diri”

Gabriel mengeratkan pelukannya begitu mendengar cerita itu, ia memutar badan Sivia agar membelakanginya, kemudian mengangkat sebelah kaki Sivia “siap permainan selanjutnya?”

Sivia menggeliat hebat begitu Gabriel menyatukan tubuh mereka kembali, ia mencengkram rambut Gabriel dengan kencang.
“jangan di tahan... bilang apa yang kamu mau... Ma”bisik Gabriel dengan begitu sensual walau dengan suara serak yang menandakan bahwa ia sedang bergairah.

***

Agni melipat kaki, duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi sendiri. Hari minggu tanpa kehadiran Rio membuat hatinya terasa ada ruang yang kosong.
“Agni”panggil Gabriel yang baru keluar dari kamarnya.

Agni berbalik kemudian tersenyum, “pagi Pa, udah buat adeknya?”Agni menyeringai jahil pada Papanya, “kalian belum sah lho... jangan deket-deket dulu”lanjut Agni

Wajah Gabriel merah padam, ia duduk di samping Agni menggoda putrinya, mengelitiki dengan sadis.
“anak Papa udah gede ya tau yang gitu... emang darimana kamu tau Papa abis buat adek hem?”

Agni jatuh dari sofa dan lesehan di lantai, “Papa ahh sadis ihh... sakit tau”ucap Agni sambil memegangi bokongnya.

Sivia yang baru menghampiri setelah masak malah berdecak kesal, “udah-udah masish pagi udah berantem”lerainya

Agni berlari ke arah Sivia berlindung di balik perempuan itu, “Papa jahat tuh Ma... marahin gih... jangan di kasih jatah sekalian biar kelabakan”rajuk Agni

Sivia mengerutkan keningnya kemudian menatap Gabriel yang mengacuhkannya meski dengan wajah yang terlihat merona.
“makan dulu yuk”ajak Sivia

“Agni... kakak kamu ke Jepang sama pacarnya?”tanya Gabriel begitu saja yang membuat Agni menengok ke arah Gabriel dan mengangguk, “iya, kenapa emang?”

Gabriel menunjuk ke arah televisi yang sedang meliput kegiatan Angel Pieters eksklusip selama dia di Jepang dan pastinya Rio juga terbawa. “katanya pertukaran Mahasiswa, tapi kok malah syooting video clip?”tanya Gabriel

Agni mengangkat bahunya, “sekalian mungkin”ia beranjak ke meja makan.
Entah kenapa ada rasa cemburu melihat Rio dengan Angel yang terlihat bahagia itu, ia sadar selama ini Rio tak pernah meninggalkannya sendiri seperti ini dan membuat hatinya benar-benar kosong.

“kok ngelamun Ni?”tanya Sivia yang menyadari Agni tidak fokus menyantap makanannya.

“hah? Gak kok, cuma lagi kepikiran sesuatu”ujar Agni kemudian menyantap sarapannya dengan senang hati.

Sivia tersenyum senang melihat Agni yang lebih menerimanya sekarang, tapi yang ia heran apa yang membuat pikiran gadis ini berubah begitu saja?
“boleh... nanya?”

Agni mendongak ke arah Sivia, “nanya? Tanya aja lagi ngapain nanya dulu sih Ma?”ia menyuap makanannya lagi.

Sivia berdehem, “kalo boleh tau... apa yang buat kamu berubah pikiran?”begitu melihat perubahan raut wajah Agni Sivia buru-buru melanjutkan ucapannya, “ehh... udahlah gak usah di pikirin, itukan keputusan kamu”

Agni terkekeh, ia menyimpan sendoknya kemudian meneguk minumannya, “seseorang bilang, ada saatnya kita berkorban demi kebahagiaan orang tua kita dan pasti kita juga akan merasa bahagia”Agni tersenyum padas Sivia, “dan aku rasa... aku juga bahagia”lanjut Agni

***

Ray menepuk pundak Cakka yang pagi itu sudah berada di kamarnya, ia mengucek matanya yang baru menatap dunia setelah berlabuh di alam mimpi.
“ada masalah apa lagi? Gue yakin loe dateng kesini bukan tanpa alesan”ia duduk bersila di belakang Cakka yang duduk di ranjang menghadap ke arah jendela.

Cakka memejamkan matanya sebentar kemudian menghela nafas panjang, “mereka tetep mau cerai Ray, gue bingung sebenernya apa yang ada dalam pikiran mereka”

“gue yakin pasti ada alesan kuat Kka, gak akan ada orang yang gak punya masalah berpisah”ia beranjak dari tempat tidurnya meraih handuk selanjutnya masuk ke kamar mandi. Membiarkan dulu Cakka sendirian.

Cakka termenung, mengulang kata-kata Ray tadi dalam hatinya dan ia rasa ada benarnya juga. Tapi apa alasannya? Apa itu lebih berharga dari mempertahankan keluarga mereka demi anak-anak?

Cakka menghembuskan nafas dalam, ia merogoh ponselnya.
“Ni...”

“ada apa sih pagi-pagi gini nelpon? Gue lagi sarapan nih?”

“yaudah, maaf ganggu...”

“Kka... tunggu”

“hn”

“ada masalah? Maaf ya? gue emang sensi kalo lagi makan ada yang ganggu”

“abisin dulu makan loe, kalo udah entar gue telpon lagi”

“iya, dikit lagi kok”

“oke, bye”

“bye...”

Cakka membuka akun pribadinya, menuliskan sesuatu di akun Angel.

@NgelPieters pulang kak, gue butuh loe.

Setelah itu ia menyimpan ponselnya dan merebahkan diri di pembaringan Ray.

Ray keluar dari kamar mandi dengan badan yang teah segar, ia membuka lemari mengambil beberapa pakaian yang akan ia pakai kemudian kembali ke kamar mandi. Tak lama ia keluar dengan pakaian yang lengkap, ia melihat Cakka yang tertidur dengan damai. Ray tersenyum tipis, ia senang melihat sahabatnya itu terlihat lebih tenang daripada memasang wajah yang dingin dan terlihat murung. Ia keluar dari kamarnya untuk sarapan.

***

Sivia menyikut Gabriel kemudian menunjuk Agni dengan dagunya, gadis itu terlihat gelisah dengan ponsel yang sesekali ia tempelkan di telinganya dan mendesah putus asa.
“tanya gih, aku khawatir”bisik Sivia

Gabriel tersenyum, ia mengacak-acak rambut Sivia dan beranjak mendekati Agni “kenapa sayang? Kok kayaknya panik gitu?”tanya Gabriel sambil duduk di samping putrinya.

Agni menunduk, ia menggeleng kuat “ini cuma... tadi temen katanya mau nelpon tapi sampe sekarang gak nelpon-nelpon”

Gabriel terkekeh, “siapa sih? Kayaknya penting banget buat kamu?”tanya Gabriel penuh selidik. Ia menatap anak gadisnya dengan jahil dan Agni hanya merajuk menanggapi godaan dari Papanya.

“Papa apaan sih... Mama... Papa jangan di kasih jatah... Papa godain terus”rengek Agni sambil menatap Sivia, sementara Sivia menatap geli ke arah Agni yang tak hentinya merajuk.

Tak lama kemudian ponsel Agni berdering, tanda sbeuah panggilan masuk.
“sorry, gue ketiduran...”

Agni gugup di tatap begitu intens oleh Papanya, “i... iya gapapa”

Gabriel menatap putrinya yang menjauh, ia hendak mendekatinya namun di tahan Sivia.
“jangan... dia juga butuh privasi”ujarnya yang di angguki oleh Gabriel.

***

Angel menatap layar laptopnya dengan panik, bagaimana tidak? Adik kesayangannya mengirimkan mention yang ia yakin gak mungkin kalo adiknya gak ada masalah.
“kita pulang ya Io'? besok”ucap Angel

Rio duduk di samping Angel, “kenapa? Kan masih ada beberapa hari lagi kita disini”

Angel menunjuk laptopnya, “dia pasti lagi butuh aku Io' aku gak bisa biarin dia sendiri, dia cuma punya satu sahabat dan aku yakin dia bener-bener butuh aku”

Rio mengurut keningnya yang terasa berat, ia juga terpikir tentang Agni. Bagaimana keadaan adiknya itu sekarang? Sudah pulangkah? Baik-baik saja atau malah sebaliknya?
“yaudah, besok kita pulang”

Angel tersenyum pada Rio kemudian memeluk pemuda itu dari samping.
“makasih ya Io'”ucapnya.

Rio mengecup puncak kepala Angel cukup lama, “apapun buat kamu...”

***

Agni merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin menerpa wajahnya.
“gue harapa, angin bakal membawa seluruh kesedihan gue menjauh dan membawa kebahagiaan buat gue...”ia mengalihkan pandangannya pada Cakka yang duduk di kap mobil.
“thanks ya Kka, berkat loe sekarang hubungan gue sama Papa dan calon Mama gue membaik”ia tersenyum begitu tulus.

Cakka terkekeh, “bukan gue lagi, itukan berkat sugesti loe sendiri Ni, kalo loe sugestinya gak suka dan gak bahagia pasti itu bakalan terjadi tapi kalau sugesti loe suka dan loe bakalan bahagia, jadi deh loe kayak sekarang”ia menatap lurus, tapi pandangannya begitu kosong.

Agni menghampiri Cakka, duduk di samping pemuda itu, “apa hubungan loe sama orang tua loe membaik juga?”tanyanya sambil menatap Cakka dengan tatapan ingin tau.

Cakka menghela nafas, ia menatap Agni sendu “mereka tetep bersikeras mau cerai... dan gue rasa gue nerima itu... ya walaupun pada akhirnya gue gak mau ikut salah-satu dari mereka”ia menatap sekilas ke arah Agni.

Entah kenapa Agni dapat merasakan kekecewaan Cakka dan kekosongan hati Cakka. Ia merasa begitu dekat dengan Cakka.
“gue harap loe juga bahagia dengan pilihan loe ya?”ujar Agni

Cakka mengulurkan tangannya, mengelus kepala Agni lembut “jalan yuk... bosen gue kesini terus”ucapnya mengalihkan pembicaraan, ia tak begitu suka dengan suasana sendu dan tegang.

Agni cemberut, “enak disini Kka, pemandangannya bagus, tunggu sampe mataharinya ilang ya?”pinta Agni memohon.

Cakka melirik jam tangannya, setengah enam. Berarti mereka sudah satu setengah  jam berada disana. Tadinya Cakka ingin mengajak Agni pagi tadi, agar melihat suasana berembunnya tempat ini, tapi Agni baru bisa keluar jam tiga sore, Cakka menjempunya dan sampai kesini tempat itu jam empat.

Tanpa terasa waktupun bergulir dengan cepat, langit sudah mulai gelap. Cakka dan Agni memutuskan untuk segera beranjak darai tempat itu.
“loe suka jagung bakar?”tanya Cakka

Agni menatap Cakka dan mengangguk semangat, “gue suka banget malah”ucap Agni dengan antusias.

Cakka tersenyum kecil kemudian menghentikan mobilnya di sebuah pasar malam.
“yuk”Cakka menarik tangan Agni memasuki pasar itu.

Agni menggamit manja tangan Cakka, mereka berkeliling sepanjang pasar malam itu, melihat banyak anak kecil melakukan berbagai permainan di pasar malam itu.
“Kka... naik itu yuk”ajak Agni menunjuk sebuah permainan mirip bianglala namun lebih kecil dan hanya memuat untuk dua orang.

Cakka mengangguk, ia mengantri untuk membeli tiket kemudian setelah mendapatkan tiket itu ia menghampiri Agni, “yuk”ajak Cakka

Keduanya memasuki tempat itu, Agni tersenyum begitu ceria. Ia baru pertama kali menaiki permainan seperti ini, selama 17 tahun ia belum pernah di ajak ke pasar malam seperti ini oleh Papanya ataupun Kakaknya.

Setelah puas dengan permainan mereka memutuskan untuk mencari penjual jagung bakar sesuai tujuan awalnya.
“gue pengen permen gede itu”tunjuk Agni pada sebuah permen yang bulat besar dan warna-warni.

Cakka mendekati penjual itu, “berapa bang?”
Ia mengalihkan pandangan pada Agni, “mau kembang gulanya sekalian?”tawar Cakka

Agni mengangguk, “boleh-boleh”

“kembang gula dua, jadi berapa?”tanya Cakka pada pedagang itu.

“semuanya dua puluh ribu mas”kata pedagang itu sambil memberikan pesanan Cakka. Cakka mengeluarkan uang dari dompetnya kemudian menyerahkan pada penjual itu.

“Kka... tuh tukang jagung bakar”tunjuk Agni pada kerumunan orang yang sedang memegang jagung untuk di bakar.

Cakka mengikuti arah pandang Agni, ia mengacak-acak poni Agni gemas, “suka banget ya sama jagung panggang?”tanya Cakka, baru ia sadari ternyata ia baru kenal dengan Agni dan anehnya bisa langsung sedekat ini, ia merasa ada tarikan yang berbeda dari Agni dengan gadis-gadis lain. Agni itu berbeda dari segala sisi, dan Agni itu... istimewa.

“Kka... kok ngelamun sih... jadi gak?”tanya Agni, ia menatap Cakka dengan tatapan memohon seakan gak mau di tolak. Cakka tersenyum tipis, tanpa berkata ia menarik Agni menuju keramaian itu.

Cakka dan Agni harus menunggu sampai jagung itu benar-benar matang, Agni menatap jagung itu tak sabar.
“lama banget ya?”gumannya

Cakka mencubit hidung Agni, “sabar kek, gak sabaran amat”

Agni menggembungkan pipinya kesal, ia menjitak Cakka dengan sadis “loe resek”kata Agni dengan tajam.
Merekapun melewatkan malam berdua dengan penuh canda tawa, melepas segala masalah yang ada di benak mereka.

Cakka mengantar Agni hingga kedepan gerbang rumahnya, “thanks ya Kka buat malam ini, gue seneng banget”guman Agni.

Cakka tersenyum, “iya, thanks juga ya loe udah mau jadi tempat curhat gue”kata Cakka

Agni mengangguk, “hati-hati ya di jalannya? Jangan ngebut”pesan Agni yang di angguki Cakka, setelah itu Cakka menutup kaca mobilnya dan berlalu.

Setelah melihat Cakka menghilang di tikungan ia memasuki gerbang yang sudah terbuka itu dengan senyuman yang terus merekah.

***

Next...

Makasih udah mau baca :)

No comments:

Post a Comment