Gabriel menggulingkan diri kesisi tempat tidur dengan nafas
yang belum teratur setelah percintaan yang begitu membara dengan kekasihnya, ia
melirik ke sebelah kirinya melihat kekasihnya itu masih memejamkan matanya
menikmati sisa-sisa percintaan mereka.
“Via...”
Sivia membuka matanya, ia mengangkat kepalanya dari bantal
karena Gabriel menggantikan bantal itu dengan lengannya, “apa ini yang
terakhir?”tanya Gabriel dengan suara yang parau.
Sivia menghela nafas, menggeleng “Agni... tadi dia manggil
aku Mama”
Pikirannya melayang pada saat dimana Agni memeluknya erat
mengatakan hal yang paling membahagiakan untuknya.
“thanks... gue sayang sama loe... Mama”
Sejenak Sivia tertegun, Agni menatap Sivia kemudian
tersenyum “gue bakalan lebih senang loe bahagiain Papa daripada mentingin gue,
dan... gue cuma butuh menyesuaikan diri”
Gabriel mengeratkan pelukannya begitu mendengar cerita itu,
ia memutar badan Sivia agar membelakanginya, kemudian mengangkat sebelah kaki
Sivia “siap permainan selanjutnya?”
Sivia menggeliat hebat begitu Gabriel menyatukan tubuh
mereka kembali, ia mencengkram rambut Gabriel dengan kencang.
“jangan di tahan... bilang apa yang kamu mau... Ma”bisik
Gabriel dengan begitu sensual walau dengan suara serak yang menandakan bahwa ia
sedang bergairah.
***
Agni melipat kaki, duduk di ruang keluarga sambil menonton
televisi sendiri. Hari minggu tanpa kehadiran Rio membuat hatinya terasa ada
ruang yang kosong.
“Agni”panggil Gabriel yang baru keluar dari kamarnya.
Agni berbalik kemudian tersenyum, “pagi Pa, udah buat
adeknya?”Agni menyeringai jahil pada Papanya, “kalian belum sah lho... jangan
deket-deket dulu”lanjut Agni
Wajah Gabriel merah padam, ia duduk di samping Agni menggoda
putrinya, mengelitiki dengan sadis.
“anak Papa udah gede ya tau yang gitu... emang darimana kamu
tau Papa abis buat adek hem?”
Agni jatuh dari sofa dan lesehan di lantai, “Papa ahh sadis
ihh... sakit tau”ucap Agni sambil memegangi bokongnya.
Sivia yang baru menghampiri setelah masak malah berdecak kesal,
“udah-udah masish pagi udah berantem”lerainya
Agni berlari ke arah Sivia berlindung di balik perempuan
itu, “Papa jahat tuh Ma... marahin gih... jangan di kasih jatah sekalian biar
kelabakan”rajuk Agni
Sivia mengerutkan keningnya kemudian menatap Gabriel yang
mengacuhkannya meski dengan wajah yang terlihat merona.
“makan dulu yuk”ajak Sivia
“Agni... kakak kamu ke Jepang sama pacarnya?”tanya Gabriel
begitu saja yang membuat Agni menengok ke arah Gabriel dan mengangguk, “iya,
kenapa emang?”
Gabriel menunjuk ke arah televisi yang sedang meliput
kegiatan Angel Pieters eksklusip selama dia di Jepang dan pastinya Rio juga
terbawa. “katanya pertukaran Mahasiswa, tapi kok malah syooting video
clip?”tanya Gabriel
Agni mengangkat bahunya, “sekalian mungkin”ia beranjak ke
meja makan.
Entah kenapa ada rasa cemburu melihat Rio dengan Angel yang
terlihat bahagia itu, ia sadar selama ini Rio tak pernah meninggalkannya
sendiri seperti ini dan membuat hatinya benar-benar kosong.
“kok ngelamun Ni?”tanya Sivia yang menyadari Agni tidak
fokus menyantap makanannya.
“hah? Gak kok, cuma lagi kepikiran sesuatu”ujar Agni
kemudian menyantap sarapannya dengan senang hati.
Sivia tersenyum senang melihat Agni yang lebih menerimanya
sekarang, tapi yang ia heran apa yang membuat pikiran gadis ini berubah begitu
saja?
“boleh... nanya?”
Agni mendongak ke arah Sivia, “nanya? Tanya aja lagi ngapain
nanya dulu sih Ma?”ia menyuap makanannya lagi.
Sivia berdehem, “kalo boleh tau... apa yang buat kamu
berubah pikiran?”begitu melihat perubahan raut wajah Agni Sivia buru-buru
melanjutkan ucapannya, “ehh... udahlah gak usah di pikirin, itukan keputusan
kamu”
Agni terkekeh, ia menyimpan sendoknya kemudian meneguk
minumannya, “seseorang bilang, ada saatnya kita berkorban demi kebahagiaan
orang tua kita dan pasti kita juga akan merasa bahagia”Agni tersenyum padas
Sivia, “dan aku rasa... aku juga bahagia”lanjut Agni
***
Ray menepuk pundak Cakka yang pagi itu sudah berada di
kamarnya, ia mengucek matanya yang baru menatap dunia setelah berlabuh di alam
mimpi.
“ada masalah apa lagi? Gue yakin loe dateng kesini bukan
tanpa alesan”ia duduk bersila di belakang Cakka yang duduk di ranjang menghadap
ke arah jendela.
Cakka memejamkan matanya sebentar kemudian menghela nafas
panjang, “mereka tetep mau cerai Ray, gue bingung sebenernya apa yang ada dalam
pikiran mereka”
“gue yakin pasti ada alesan kuat Kka, gak akan ada orang
yang gak punya masalah berpisah”ia beranjak dari tempat tidurnya meraih handuk
selanjutnya masuk ke kamar mandi. Membiarkan dulu Cakka sendirian.
Cakka termenung, mengulang kata-kata Ray tadi dalam hatinya
dan ia rasa ada benarnya juga. Tapi apa alasannya? Apa itu lebih berharga dari
mempertahankan keluarga mereka demi anak-anak?
Cakka menghembuskan nafas dalam, ia merogoh ponselnya.
“Ni...”
“ada apa sih pagi-pagi
gini nelpon? Gue lagi sarapan nih?”
“yaudah, maaf ganggu...”
“Kka... tunggu”
“hn”
“ada masalah? Maaf ya?
gue emang sensi kalo lagi makan ada yang ganggu”
“abisin dulu makan loe, kalo udah entar gue telpon lagi”
“iya, dikit lagi kok”
“oke, bye”
“bye...”
Cakka membuka akun pribadinya, menuliskan sesuatu di akun
Angel.
@NgelPieters pulang
kak, gue butuh loe.
Setelah itu ia menyimpan ponselnya dan merebahkan diri di
pembaringan Ray.
Ray keluar dari kamar mandi dengan badan yang teah segar, ia
membuka lemari mengambil beberapa pakaian yang akan ia pakai kemudian kembali
ke kamar mandi. Tak lama ia keluar dengan pakaian yang lengkap, ia melihat
Cakka yang tertidur dengan damai. Ray tersenyum tipis, ia senang melihat
sahabatnya itu terlihat lebih tenang daripada memasang wajah yang dingin dan
terlihat murung. Ia keluar dari kamarnya untuk sarapan.
***
Sivia menyikut Gabriel kemudian menunjuk Agni dengan
dagunya, gadis itu terlihat gelisah dengan ponsel yang sesekali ia tempelkan di
telinganya dan mendesah putus asa.
“tanya gih, aku khawatir”bisik Sivia
Gabriel tersenyum, ia mengacak-acak rambut Sivia dan
beranjak mendekati Agni “kenapa sayang? Kok kayaknya panik gitu?”tanya Gabriel
sambil duduk di samping putrinya.
Agni menunduk, ia menggeleng kuat “ini cuma... tadi temen
katanya mau nelpon tapi sampe sekarang gak nelpon-nelpon”
Gabriel terkekeh, “siapa sih? Kayaknya penting banget buat
kamu?”tanya Gabriel penuh selidik. Ia menatap anak gadisnya dengan jahil dan
Agni hanya merajuk menanggapi godaan dari Papanya.
“Papa apaan sih... Mama... Papa jangan di kasih jatah...
Papa godain terus”rengek Agni sambil menatap Sivia, sementara Sivia menatap
geli ke arah Agni yang tak hentinya merajuk.
Tak lama kemudian ponsel Agni berdering, tanda sbeuah
panggilan masuk.
“sorry, gue ketiduran...”
Agni gugup di tatap begitu intens oleh Papanya, “i... iya
gapapa”
Gabriel menatap putrinya yang menjauh, ia hendak
mendekatinya namun di tahan Sivia.
“jangan... dia juga butuh privasi”ujarnya yang di angguki
oleh Gabriel.
***
Angel menatap layar laptopnya dengan panik, bagaimana tidak?
Adik kesayangannya mengirimkan mention yang ia yakin gak mungkin kalo adiknya
gak ada masalah.
“kita pulang ya Io'? besok”ucap Angel
Rio duduk di samping Angel, “kenapa? Kan masih ada beberapa
hari lagi kita disini”
Angel menunjuk laptopnya, “dia pasti lagi butuh aku Io' aku
gak bisa biarin dia sendiri, dia cuma punya satu sahabat dan aku yakin dia
bener-bener butuh aku”
Rio mengurut keningnya yang terasa berat, ia juga terpikir
tentang Agni. Bagaimana keadaan adiknya itu sekarang? Sudah pulangkah?
Baik-baik saja atau malah sebaliknya?
“yaudah, besok kita pulang”
Angel tersenyum pada Rio kemudian memeluk pemuda itu dari
samping.
“makasih ya Io'”ucapnya.
Rio mengecup puncak kepala Angel cukup lama, “apapun buat
kamu...”
***
Agni merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin menerpa
wajahnya.
“gue harapa, angin bakal membawa seluruh kesedihan gue
menjauh dan membawa kebahagiaan buat gue...”ia mengalihkan pandangannya pada
Cakka yang duduk di kap mobil.
“thanks ya Kka, berkat loe sekarang hubungan gue sama Papa
dan calon Mama gue membaik”ia tersenyum begitu tulus.
Cakka terkekeh, “bukan gue lagi, itukan berkat sugesti loe
sendiri Ni, kalo loe sugestinya gak suka dan gak bahagia pasti itu bakalan
terjadi tapi kalau sugesti loe suka dan loe bakalan bahagia, jadi deh loe kayak
sekarang”ia menatap lurus, tapi pandangannya begitu kosong.
Agni menghampiri Cakka, duduk di samping pemuda itu, “apa
hubungan loe sama orang tua loe membaik juga?”tanyanya sambil menatap Cakka
dengan tatapan ingin tau.
Cakka menghela nafas, ia menatap Agni sendu “mereka tetep
bersikeras mau cerai... dan gue rasa gue nerima itu... ya walaupun pada
akhirnya gue gak mau ikut salah-satu dari mereka”ia menatap sekilas ke arah
Agni.
Entah kenapa Agni dapat merasakan kekecewaan Cakka dan
kekosongan hati Cakka. Ia merasa begitu dekat dengan Cakka.
“gue harap loe juga bahagia dengan pilihan loe ya?”ujar Agni
Cakka mengulurkan tangannya, mengelus kepala Agni lembut
“jalan yuk... bosen gue kesini terus”ucapnya mengalihkan pembicaraan, ia tak
begitu suka dengan suasana sendu dan tegang.
Agni cemberut, “enak disini Kka, pemandangannya bagus,
tunggu sampe mataharinya ilang ya?”pinta Agni memohon.
Cakka melirik jam tangannya, setengah enam. Berarti mereka
sudah satu setengah jam berada disana. Tadinya
Cakka ingin mengajak Agni pagi tadi, agar melihat suasana berembunnya tempat
ini, tapi Agni baru bisa keluar jam tiga sore, Cakka menjempunya dan sampai
kesini tempat itu jam empat.
Tanpa terasa waktupun bergulir dengan cepat, langit sudah
mulai gelap. Cakka dan Agni memutuskan untuk segera beranjak darai tempat itu.
“loe suka jagung bakar?”tanya Cakka
Agni menatap Cakka dan mengangguk semangat, “gue suka banget
malah”ucap Agni dengan antusias.
Cakka tersenyum kecil kemudian menghentikan mobilnya di
sebuah pasar malam.
“yuk”Cakka menarik tangan Agni memasuki pasar itu.
Agni menggamit manja tangan Cakka, mereka berkeliling
sepanjang pasar malam itu, melihat banyak anak kecil melakukan berbagai
permainan di pasar malam itu.
“Kka... naik itu yuk”ajak Agni menunjuk sebuah permainan
mirip bianglala namun lebih kecil dan hanya memuat untuk dua orang.
Cakka mengangguk, ia mengantri untuk membeli tiket kemudian
setelah mendapatkan tiket itu ia menghampiri Agni, “yuk”ajak Cakka
Keduanya memasuki tempat itu, Agni tersenyum begitu ceria.
Ia baru pertama kali menaiki permainan seperti ini, selama 17 tahun ia belum
pernah di ajak ke pasar malam seperti ini oleh Papanya ataupun Kakaknya.
Setelah puas dengan permainan mereka memutuskan untuk
mencari penjual jagung bakar sesuai tujuan awalnya.
“gue pengen permen gede itu”tunjuk Agni pada sebuah permen
yang bulat besar dan warna-warni.
Cakka mendekati penjual itu, “berapa bang?”
Ia mengalihkan pandangan pada Agni, “mau kembang gulanya
sekalian?”tawar Cakka
Agni mengangguk, “boleh-boleh”
“kembang gula dua, jadi berapa?”tanya Cakka pada pedagang
itu.
“semuanya dua puluh ribu mas”kata pedagang itu sambil
memberikan pesanan Cakka. Cakka mengeluarkan uang dari dompetnya kemudian
menyerahkan pada penjual itu.
“Kka... tuh tukang jagung bakar”tunjuk Agni pada kerumunan
orang yang sedang memegang jagung untuk di bakar.
Cakka mengikuti arah pandang Agni, ia mengacak-acak poni
Agni gemas, “suka banget ya sama jagung panggang?”tanya Cakka, baru ia sadari
ternyata ia baru kenal dengan Agni dan anehnya bisa langsung sedekat ini, ia
merasa ada tarikan yang berbeda dari Agni dengan gadis-gadis lain. Agni itu
berbeda dari segala sisi, dan Agni itu... istimewa.
“Kka... kok ngelamun sih... jadi gak?”tanya Agni, ia menatap
Cakka dengan tatapan memohon seakan gak mau di tolak. Cakka tersenyum tipis,
tanpa berkata ia menarik Agni menuju keramaian itu.
Cakka dan Agni harus menunggu sampai jagung itu benar-benar
matang, Agni menatap jagung itu tak sabar.
“lama banget ya?”gumannya
Cakka mencubit hidung Agni, “sabar kek, gak sabaran amat”
Agni menggembungkan pipinya kesal, ia menjitak Cakka dengan
sadis “loe resek”kata Agni dengan tajam.
Merekapun melewatkan malam berdua dengan penuh canda tawa,
melepas segala masalah yang ada di benak mereka.
Cakka mengantar Agni hingga kedepan gerbang rumahnya,
“thanks ya Kka buat malam ini, gue seneng banget”guman Agni.
Cakka tersenyum, “iya, thanks juga ya loe udah mau jadi
tempat curhat gue”kata Cakka
Agni mengangguk, “hati-hati ya di jalannya? Jangan
ngebut”pesan Agni yang di angguki Cakka, setelah itu Cakka menutup kaca
mobilnya dan berlalu.
Setelah melihat Cakka menghilang di tikungan ia memasuki
gerbang yang sudah terbuka itu dengan senyuman yang terus merekah.
***
Next...
Makasih udah mau baca :)
No comments:
Post a Comment