Ray menatap bingung ke arah empat cowok yang tiba-tiba
menyeretnya paksa dari kelasnya. Sekarang, disinilah mereka di belakang sekolah
yang gak pernah ada orang berniat kesana karena terkenal dengan horornya.
“loe jangan pernah coba-coba gangguin Agni!”bentak Rio yang
di tanggapi dengan tatapan aneh oleh ketiga temannya.
“kok Agni?”tanya Rafli mengeluarkan isi pikirannya
Rio berdecak, “Agni itukan ceweknya Cakka, dan jangan ganggu
yang lainnya. Marsha ceweknya Rafli, Cindai ceweknya Bagas dan Ify! cewek gue!”bentak Rio lagi
tepat di hadapan Ray.
Ray mengangkat satu alisnya, “belum ada tanda mereka sah
milik kalian kan? Apalagi cuma pacaran”desisnya penuh kemenangan.
Bagas mengeluarkan cincin dari jarinya, “liat”ia mendekatkan
cincin itu tepat di hadapan Ray, “Cindai... tunangan gue!”lanjutnya penuh
emosi.
Ray mengangkat bahunya, “oh”
BRAK
Rio menendang kursi yang ada di belakangnya, kalau ia sedang
cemburu memang seperti kemasukan setan, matanya menyala, rahangnya megeras dan
urat-urat tangannya menyembul.
“gue cabut duluan”pamit Rio sambil mengacak rambutnya
frustasi.
“sabar bro”ujar Cakka sambil menepuk pundak Rio sebelum
pemuda itu berlalu.
Rio berbalik, “thanks”ia menarik Cakka, “kalo gak keberatan
hari ini gue mau jalan sama Agni”bisiknya
Cakka tersenyum, “kenapa ijin dulu? Ya terserah loe lah”
Rio tersenyum, “oke”kemudian ia berlalu sambil sekilas
menatap Ray dengan tajam.
“sebaiknya loe cepet-cepet jauhin Agni, sebelum loe
nyesel”ancam Cakka, ia menarik kerah baju Ray.
“Kka, tenang”lerai Rafli, Cakka menghentakkan badan Ray
hingga membentur tembok. “kalo loe ngerti loe pasti bakalan jauhin mereka, dan
gue harap loe tau gimana rasanya menyayangi seseorang dan gak meu kehilangan
dia, itu yang kita rasain sekarang”desis Rafli dengan tenang namun sukses
membuat Ray termenung diam tanpa kata.
***
Kejadian itu tak jauh beda dengan Zahra, tadi ia berniat
mencari Bagas, Cakka, Rafli dan Rio ke kelas itu untuk membicarakan masalah
pertandingan basket. Namun yang ia dapati hanyalah tatapan mengintimidasi dari
Agni, Cindai, Ify dan Marsha. Ia di tarik kemasuki kelas itu memaksanya duduk
di penjuru kelas itu.
“bisa gak loe gak keganjenan sama cowok kita?”tanya Marsha
dengan sinis.
Zahra mendongak, menatap keempatnya bergantian “gue gak
keganjenan kok, gue cuma...”
Agni berdecak kesal, “gak usah manja-manjaan sama Rio bisa?
Jaga dong perasaan ceweknya”ia melirik ke arah Ify yang hanya berdiri dengan
melipat tangannya didada.
Zahra tergagap, ia memang terbiasa seperti itu dan sekarang
harus jawab apa? “gue... gak...”
“please ya loe gak usah deketin mereka lagi”ucap Cindai,
“oke loe pasti gak kenal gue... kenalin gue Cindai, tunangannya Bagas”ia
mengucapkan kata tuangan itu dengan penuh penekanan.
Zahra menelan ludahnya dengan sukar, “gue cuma manager
kok... gak lebih”
“bagus”potong Ify, “yuk ah, capek ngadepinnya”ia berlalu
dari hadapan Zahra kemudian di ikuti oleh yang lainnya dengan melemparkan
tatapan seakan ingin membunuhnya.
***
Bagas menarik tangan Cindai dengan kasar, ia muak sekali
melihat gadisnya itu malah lebih mempedulikan lelaki lain daripada dirinya
sendiri.
“Bagas, lepas... sakit”rintih Cindai sambil terus meronta.
Bagas membuka pintu mobilnya, mendorong Cindai dengan kasar.
Setelah Cindai benar-benar masuk kemudian ia masuk dari arah pintu pengemudi.
“gak usah kecentilan deh”ucap Bagas dengan lirih namun
tegas.
Sementara Cindai tak menanggapinya, ia malah memegangi
lengannya yang terasa sangat sakit, beberapa luka di tangannya akibat
pertandingan kemarin kembali terasa begitu ngilu.
“argh”rintihnya pelan.
Bagas melirik sedikit ke arah Cindai, kemudian meraih tangan
yang tadi ia tarik itu “memar? Kok luka-luka gini?”
Cindai menarik paksa tangannya dari genggaman Bagas, “saking
sibuknya merhatiin cewek lain sampe ceweknya sendiri sakit aja gak tau”sindir
Cindai.
Bagas menghela nafas lelah, “gak ada yang aku perhatiin
selain kamu”ia mengusap wajahnya kasar, ia menepikan mobilnya di jalanan yang
cukup sepi, “dia Zahra, sahabat aku dan yang lain... dia manager sekaligus
sahabat kita yang selalu kasih solusi kalo kita ada masalah apapun, aku gak ada
rasa apapun sama dia selain rasa sayang sahabat. Gak lebih”
Bagas memukul stir itu dengan keras, “kita pulang, obatin
dulu luka kamu”ia melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan rata-rata tanpa
suara dari mereka berdua.
***
Rio menghentikan mobilnya setelah agak jauh dari area
sekolah, kemudian di susul oleh Cakka yang juga berhenti di tempat yang sama.
Rio melirik Ify yang duduk di sebelahnya, “kamu sama Cakka dulu ya? aku ada
urusan sama Agni”pinta Rio dengan nada yang terdengar putus asa.
Ify menghela nafas, kemudian keluar dari mobil itu dan tak
lama kemudian di samping Rio telah berganti dari Ify menjadi Agni.
“tadi kamu apain Ray Io'?”tanya Agni, sebenarnya ia tak yakin
menanyakan itu tapi hatinya begitu mendorongnya untuk berkata demikian.
Rio berdecis, “lapor apa aja dia sama kamu? Udahlah gak usah
bahas dia”ucap Rio dengan nada yang penuh kekesalan.
Agni mengangguk mengerti, setelah kejadian malam dimana ia
hampir putus dengan Rio Agni mulai menyadari ternyata Rio itu temperamental dan
mempunyai rasa cemburu yang besar. Ia mengelus rahang Rio yang terlihat
mengeras, “maaf...”
Rio meraih tangan Agni yang ada di pipinya, kemudian
mengecupnya lama, “aku udah cukup toleransi dengan membiarkan kamu deket sama
Cakka, tapi untuk dia aku gak bisa”
Agni menghela nafas panjang, kemudian mengecup pipi Rio
sebentar, sekedar untuk menghilangkan aura negative dari dalam diri Rio.
***
Ify berulang kali menghela nafas pendek-pendek, dadanya
mulai sesak dan matanya sudah mulai perih. Ia terus menatap ke arah jalan agar
tak bertatap wajah dengan Cakka yang tak beda jauh dengannya.
Cakka melirik ke arah Ify sebentar, “udahlah Fy, gak usah di
pikirin... lagian apa yang bisa lakuin selain nunggu?”guman Cakka
Ify mengangguk lemah, “jujur Kka... gue bener-bener gak bisa
di posisi ini terus”ucapnya lirih
Mobil Cakka memasuki pelataran parkir sebuah cafe, “ikut gue
yuk”ajak Cakka, sementara Ify menurut saja. Ia benar-benar suntuk.
Cakka dan Ify duduk berhadapan, cafe ini sejuk sekali karena
terletak di luar ruangan yang cukup teduh karena banyak pepohonan dan di sisi
lain ada sebuah kolam kecil yang terdapt ikan koi warna-warni disana.
“kata orang, dengan minum cokelat loe bakalan ceria lagi dan
lupain masalah loe... coba deh, cokelat disini enak kok”Cakka menyodorkan
sebuah minuman coklat dingin untuk Ify.
Ify tersenyum, “thanks”ia menyeruput cokelat itu.
“gimana perasaan loe Kka?”tanya Ify tiba-tiba.
Cakka mengerutkan keningnya, “maksudnya?”
Ify melihat ke arah lain, “ya... gimana perasaan loe
sekarang? Harus berbagi Agni?”
Cakka terkekeh, “gue sih biasa aja, gue gak terlalu mikirin
yang penting Agni tau gue sayang sama dia dan gue yakin dia gak bakalan
ngecewain gue”
Ify tersenyum miris, “beruntung ya loe... Agni sayang sama
loe. Tapi gue? Kemaren gue liat tulisan tangan Rio di buku Agni dan itu cukup
buat gue tau gimana perasaan Rio sama Agni”
“yang di buku matematika ya? gue juga pernah baca... dan gue
liat sendiri dia nulis itu, tapi Fy gue rasa Rio itu cuma obsesi aja sama Agni,
cuma demi nyelametin keluarganya”ia menatap Ify yang tak memandangnya sama
sekali.
Ify mengedikkan bahunya, “ya... gue sih dukung ajalah apa
yang mereka mau, toh gak ada yang bisa gue lakuin selain pasrah”
“pasrah banget loe, ceria dikit kek cowok masih banyak kali
Fy... kalo pun mereka jadi kan masih ada gue”gurau Cakka
Ify terkekeh ia menatap Cakka, “ada-ada aja loe”
***
Marsha duduk berdampingan dengan Rafli di ruang tamu
kediaman Rafli.
“aku pernah hampir kehilangan kamu Raf, dan aku gak mau itu
terulang”ujar Marsha, ia memeluk lengan Rafli dengan posesif.
Rafli mengecup puncak kepala Marsha, “apapun yang terjadi,
aku gak bakalan ninggalin kamu lagi Sha, walaupun aku lagi sama Zahra atau gadis
manapun bukan berarti aku gak sayang sama kamu, aku bakalan deketin Zahra kalo
ada penting aja Sha, dari dulu juga gitu dan apalagi sekarang?”
Marsha menyandarkan kepalanya ke pundak Rafli, “jangan buat
aku cemburu ya? aku gak bisa dan gak mau cemburu”
Rafli terkekeh, ia memeluk pinggang Marsha dengan lembut
“iya, aku janji gak bakalan buat kamu cemburu, tapi please kamu jangan
kekanak-kanakan ya?”
Marsha mengangguk, “aku sayang kamu”
“aku juga...”
***
Cindai meringis untuk kesekian kalinya saat Bagas mulai
mengobati memar-memarnyaa, sebenarnya tidak di obatipun memar itu akan
menghilang dengan sendirinya, tapi Bagas tetap bersekukuh buat mengobati luka
itu.
“udah biru-biru gini percuma! Entar juga ilang sendiri, gak
usah parno gitu deh”ucap Cindai tajam.
Bagas mendongak, ia mengelus pipi Cindai dengan lembut “aku
takut aja kalo kamu sakit Nda... aku gak mau kamu kenapa-napa”
Cindai berdecak, “kalo takut aku sakit kenapa kamu malah
sakitin aku?”
Tatapan Bagas berubah menjadi sayu, “sakitin gimana?”
“Chelsea cerita semuanya, dia nujukin foto kamu lagi pelukan
sama dia”tatapan Cindai berubah menjadi begitu dingin dan nada bicaranya
menjadi datar.
Bagas menghela nafas panjang, “waktu itu aku cuma lagi
kalut, aku bingung... dan kebetulan ada dia... maaf”
“terserah deh”ia menghempaskan punggungnya ke sandaran
kursi.
Bagas menatap Cindai begitu intens, “aku harus gimana lagi
Nda...”ia memegang bahu Cindai dengan posesif. Ia mendekatkan wajahnya pada
Cindai memiringkannya dan menghapus jarak keduanya.
***
Zahra menghela nafas putus asa, ia masih duduk di halte
tepat di depan gerbang utama AS SHS menunggu angkutan umum yang belum juga
melintas padahal udah sore dan suasana sekolah mulai sepi.
Sebuah mobil berhenti di sampingnya, “hai... belum pulang?”
Zahra menatap ke arah orang itu, “ehh Ray, belum masih
nunggu angkutan umum”
“masuk sini, biar gue anter udah mau ujan nih”tawar Ray
sambil membukakan pintu penumpang di sampingnya.
“gak usah deh”tolak Zahra dengan halus.
Ray mengangkat bahunya, “yaudah, tapi udah mau ujan lho...
tuh mulai gerimis”
Zahra melangkah untuk melihat ke langit dan benar ternyata
gerimis, “yaudah gue ikut”ia berjalan ke arah Ray dan memasuki mobil itu.
“rumah loe dimana?”tanya Ray sambil menginjak gasnya.
“di perumahan kelapa gading nomor 5”ujar Zahra
Setelah mengatakan itu tak ada percakapan lagi dari
keduanya, hanya hening dan suara rintikan hujan mengiringi perjalanan mereka.
***
Cakka menatap air yang terus turun menerpa wajahnya, kini ia
berada di halaman belakang rumahnya.
“Kka... masuk jangan hujan-hujanan gitu”seru Sivia
Cakka menatap Sivia kemudian tersenyum, “sebentar aja Ma”
Sivia mengangguk, kemudian kembali memasuki rumahnya.
Cakka merentangkan kedua tangannya, “kamu lagi ngapain Ni?
Kamu segitu bahagianya ya sama Rio?”gumannya di sela-sela hujan yang
mengguyurnya.
Bayangannya kembali berkelebat pada kejadian kemarin, baru
juga ia mmerasakan kebahagiaan karena Agni mulai bisa leluasa dengannya,
sekarang ia harus menerima Agni pergi dengan lelaki lain. Cakka menghel nafas
panjang, ia menyeka air di wajahnya kemudian berjalan ke arah pintu dan
memasuki rumahnya.
***
Ify menatap grand pianonya dengan tatapan kosong, ia
memainkan tuts-tuts pianonya dengan lemah tak bersemangat. Ia benar-benar
bingung dengan apa yang haruss di lakukannya sekarang, melepaskan dan akan
membuatnya tenang? Atau... mempertahankan tapi terus tersakiti?
Dalam benaknya ia membayangkan apa yang sedang kekasihnya
lakukan dengan sahabatnya, bulu kuduknya merinding ketika membayangkan mereka
benar-benar melakukan...
‘positive thinking Fy,
Rio gak mungkin ngelakuin itu’
Ify terus membatin dan mengucapkan kalimat itu seakan itu mantra yang mujarab
untuk menguatkannya.
***
Rio memeluk Agni dari belakang saat Agni sedang
menyelesaikan masakannya, ia mengecup lembut tengkuk Agni dan tangannya mulai
nakal mengarah ke arah lain.
Agni melepaskan tangan Rio kemudian berbalik pada Rio. Ia
membenturkan keningnya pada kening Rio, “waktunya makan”
Rio terkekeh, ia menjauh dari Agni yang hendak membawa makanan
untuk mereka berdua.
Rio duduk di meja makan yang luas sendiri, ia mengedarkan
pandangannya menyusuri setiap lekuk rumahnya.
“kenapa Io'?”tanya Agni menyadari Rio yang mengedarkan
pandangannya.
Rio tersenyum, ia menatap Agni “rumah ini terlalu besar buat
kita tinggalin berdua, aku rasa aku lebih nyaman sama rumah yang kecil tapi
rapih”
Agni duduk di samping Rio, “gak bersyukur banget sih kamu
Io', banyak orang lain yang mau rumah segede gini dan mereka gak mampu buat ehh
kamu malah mau yang kecil”ujarnya sambil membagi makanannya ke atas piring Rio.
Rio terkekeh, “bukannya gitu, tapi ya... berasa sepi aja Ni”
Agni mengangguk mengerti, “udah ah makan gih”perintah Agni
Rio masih nampak berfikir “kapan-kapan barbeque-an berempat
yuk, atau berdelapan juga boleh”ajak Rio.
Agni hanya mengangguki ajakan Rio, ia memang tak biasa makan
sambil berbicara.
***
Cakka menatap ponselnya dengan gusar, sudah memasuki jam
istirahat namun Agni belum juga memberi kabar. Ia melirik jam digital yang
bertengger di meja belajarnya. 20:45
Cakka menghela nafas panjang, ia merebahkan badannya
kemudian terdengar deringan dari ponselnya.
“Agni...”
Dari sebrang terkekeh,
“panik banget kayaknya... belum tidur?”
“abisnya kamu baru ngabarin”
“maaf deh ya...”
terdengar dari sebrang Agni berbincang tepatnya berdebat kecil.
“Kka... udah dulu ya”
“ada apa?”
“gapapa kok, aku
ngantuk”
“yaudah, mimpi indah...”
Cakka menghela nafas panjang setelah perbincangan itu, tadi
ia mendengar sayup-sayup suara berat dan pasti suara laki-laki, tapi siapa? Apa
Papanya? Atau... Rio?
Cakka menggelengkan kepalanya pelan, ‘pasti Papanya’ ungkap hati Cakka.
***
Senyum Ify merekah begitu melihat ponselnya berdering dan
nama kekasihnya tertera di layar datar itu.
“Io'”
“Fy, belum tidur?”
Ify tanpa sadar menggeleng, “gak bisa tidur Io'”
“kenapa? Udah jam dua
belas nih”
Ify mengerutkan keningnya, “nafas kamu kok gak teratur gitu
Io'? sakit ya?”
“gapapa kok”Rio
menghela nafas panjang, “tidur gih, aku takut kamu sakit”
“iya, kamu juga ya”
“iya”
“Io'”Ify mengerutkan keningnya, “kamu lagi sama siapa?”
“hah? Aku? Sendiri,
kenapa emangnya?”
“ahh enggak, yaudah bye”
“bye”
Ify tertahan, ia bisa mendengar ponsel Rio di latakkan tanpa
mematikan sambungan itu dan samar-samar mendengar percakapan yang gak mungkin
Rio berbicara sendiri.
“tuh udah aku
kabarin... puas?”
“kok gak ikhlas gitu?”
“ikhlas kok, udah ah
udah malem... tidur lagi gih”
“nakal ya”
“emang gak boleh ya?
dikit doang”
Dada Ify begitu sesak mendengar itu, apa yang Rio lakuin?
Tidur sama siapa? Siapa?!
Ify menangis tertahan sambil menggigit bibir bawahnya agar
tak bersuara.
***
Agni meringis begitu merasakan perutnya terasa sangat sakit,
pinggangnya terasa sakit juga yang memaksanya untuk meringkuk. “Io'”
Yang merasa di panggil mengerjabkan mata, ia menatap Agni
yang menahan sakit sambil memegangi perutnya, “Ni... kenapa?”ia bangkit dari
tidurnya.
“sakit banget Io'”ringis Agni sambil memegangi perutnya.
Rio melirik kekanan dan kekiri kalang kabut, kemudian
mengangkat Agni agar terduduk di pangkuannya, ia mengelus punggung Agni, “masih
sakit?”
Agni mengangguk lemah, “pinggangnya sakit Io'”
Rio mengelus pinggang Agni dengan sesekali memijatnya lembut,
“sakit banget ya?”
Agni mengangguk lemah lagi. Rio menghela nafas panjang, ia
bingung, gak tau apa yang harus ia lakuin, ia melirik ke arah tempat tidur
Agni, “Ni... darah” ujar Rio begitu melihat sedikit bercak darah di seprai yang
putih itu.
“HAH?!”
***
To Be Continue...
Terimakasih udah mau
baca. :D
No comments:
Post a Comment