Thursday, 2 May 2013

Cowok itu... #18


Weekend tanpa bermain, mereka semua menghabiskan waktu untuk belajar karena minggu ini mereka akan melaksanakan Ujian Semester Ganjil.
“aduh Ray, ampun deh ya... untung tinggal hari ini kita Ujian, puyeng gue”rutuk Cindai, ia menjatuhkan diri di samping Ray yang cekikikan melihat ekspresi empat gadis di sekelilingnya yang benar-benar kusut.

“iya, mana gue lagi dapet lagi... gak konsen gue”sambung Agni, efect dari tamu bulanannya memang sangat mengganggu apalagi sakit pinggangnya.

Ify menyeruput minumannya, “entar gue urut deh” mata Agni seketika berbinar, “tapi taktir”lanjut Ify. Seketika wajah Agni menjadi cemberut.
“gak solid banget sih loe”Agni mengurut pinggangnya sendiri.

“minta pijit sana sama si Cakka, pasti dengan senang hati mau tuh”ucap Marsha sambil menahan senyumnya karena langsung mendapatkan pelototan gratis dari Agni.

“Fy cowok loe kenapa sih? Kok kayaknya sensi banget, tatapannya kayak mau nelen orang aja”komentar Cindai saat tanpa sengaja beradu pandang dengan Rio.

Ify hanya mengangkat bahunya, “mana gue tau, emang gue paranormal? Tanya Marsha gih”ia menyendok makanannya.

Agni nampak berpikir ia menatap Ify, “Fy...” yang di panggil menengok ke arah Agni, “kayaknya loe lagi ada masalah ya sama Rio? Kok dingin banget kayaknya?”tanya Agni yang membuat Ify gelagapan. Sebenarnya ia bingung juga antara ada masalah dan enggak, pasalnya ia bersikap dingin  semenjak kejadian malam itu dan yang ia tau seharusnya kejadian itu bukan masalah karena  itulah konsekuensinya. Tapi apa wajar Rio... sudahlah. Ify terlihat menggelengkan kepala.

Zahra duduk di antara mereka, “hai, boleh gabung...”

Agni tersenyum samar, “udah duduk inikan? Ya silahkan”

Zahra mengangguk, “ehh iya Agni, kayaknya gue pernah liat loe deh”ia terlihat mengingat-ingat sesuatu.

Agni mengerutkan dahinya sementara yang lain memicingkan mata, penasaran.
“kapan? Tapi gue rasa gue gak pernah liat loe sebelumnya”

Zahra menjentikkan jarinya, “waktu itu loe... sama Rio, dan dia kasih cincin ke loe, sehari sebelum gue masuk”

Skak mat! “salah liat kali, gue gak pernah jalan sama Rio”ungkap Agni dengan gugup.

“yakin?”tanya Ray, “gue juga pernah liat loe sama Rio jalan, dan waktu itu juga gue pernah di labrak sama mereka... dan Rio yang bela loe”

“gue denger ada yang sebut nama gue nih”desis Rio yang berdiri beserta ketiga temannya di belakang Ray.

Ray berbalik, “ehh... duduk”Ray agak bergeser ke pinggir supaya mereka bisa duduk di bangku panjang itu.

Empat gadis yang tadinya heboh merumpi sekarang diam, memfokuskan diri pada makanannya masing-masing.
“Ni, gimana pinggang kamu udah gak sakit?”tanya Cakka

Agni mendongak, ‘darimana dia tau?’ ia melirik Rio yang sibuk merebut makanan Ify, ia menghela nafas panjang “masih sakit padahal udah satu minggu, paling entar juga sembuh kok”ujarnya

Cakka mengangguk-angguk mengerti. Ia mengambil minuman Agni dan meminumnya tanpa persetujuan yang punya.

“entar malem barbeque-an di rumah gue, yang mau ngumpul dulu di rumah Agni”ujar Rio

Agni mengerutkan dahinya, “kok gue?”tanyanya

“yang cewek mana tau rumah gue, yang cowok kan udah pada tau rumah loe jadi bisa ngumpul dulu”jawab Rio, yang membuat Agni menyun.

“Chelsea bakalan pindah ke sini semester nanti?”guman Bagas, Cindai menatap curiga.
“masih hubungan?”tanya Cindai datar.

Bagas menghela nafas panjang, ia menyerahkan ponselnya pada Cindai. Cindai mengambilnya,

Hai Bagas, gue bakalan satu sekolah sama loe!  jangan harap loe bisa macem-macem dan ganggu sepupu gue lagi. Inget itu!!!

Cindai mengangkat bahunya, “bagus”

“ngapain dia pindah? Kan dia harus sekalian berobat di Aussie?”tanya Rafli

Marsha memutar bola matanya, “perhatian banget Bang, emang masalah ya?”guman Marsha

Rafli menghela nafas panjang, salah ngomong deh kayaknya “bukannya perhatian Sha, cuma nanya aja kok”sanggah Rafli tanpa emosi, ia tak pernah mau lagi menggunakan emosinya kalau Marsha sedang cemburu atau sedang marah, karena ia merasa percuma juga.

“dingin banget loe, anget dikit napa kalo jadi cowok”ucap Rio sambil sibuk mengotak-atik ponselnya.

“anget apa anget Yo?”tanya Cakka dengan tatapan nakal. “emang Rio anget Fy?”tanya Cakka

Entah kenapa Ify yang ditanya malah wajah Agni yang merona merah, membayangkan kehangatan Rio untuknya.

“ehh udah bel tuh”kata Marsha yang dari tadi hanya diam saja, ia yakin ada yang di sembunyikan dalam persahabatan mereka.

***

Sepulang sekolah Bagas mengantarkan Cindai pulang, begitu memauki gerbang ia di sambut oleh pelayan rumah Cindai.
“masuk”ajak Cindai.

Bagas mengerutkan dahinya, “ngajakin atau merintah?”tanya Bagas dengan nada yang datar.

Cindai memutar bola matanya, ia berbalik dan menatap Bagas kesal, “udah deh gak usah protes kalo gak suka silahkan pulang”

Bagas menghela nafas, “kamu sekarang kenapa sih? Kok gitu banget... gak kayak dulu”ujar Bagas, ia menarik Cindai agar duduk di sampingnya.

Cindai berdecak, “maunya?”

“kamu kenapa sih? Ada masalah apa lagi? Ngomong dong aku gak ngerti”Bagas berujar dengan frustasi.

Cindai menutup wajahnya, “aku gak tau, yang aku rasa cuma satu. Aku bosen sama kamu dan kelakuan kamu”

“terus mau kamu gimana?”

“kita break dulu”ucap Cindai dengan lirih.

“gak!”tegas Bagas

“terserah”ia beranjak dari tempat duduk

Bagas mengejar kekasihnya itu, “break itu gantung Nda”ia meraih tangan Cindai, “aku mau kepastian... kita lanjut ya lanjut kalo kamu mau putus oke fine aku terima”

Cindai menghembuskan nafas berat, “aku butuh waktu”

“oke berarti jawabannya kita putus”Bagas membuka cincinnya, “bilang sendiri gih sama orang tua kita kalo kita putus”ia berlalu dari hadapan Cindai dengan nafas yang memburu, emosinya benar-benar sampai ke ubun-ubun. Bagas sadar perubahan Cindai sejak kedatangan Ray! Sebenernya ada apa sama Cindai dan dia? Bagas tak habis pikir, dengan mudahnya Cindai berubah dan melupakannya.

“Bagas... Bagas”panggil Cindai, ia segera berlari ke garasi. “pak mobil mana? Kok gak ada semua?”tanya Cindai dengan kesal.
“argh”erang Cindai, terlambat sudah.
‘bukan itu maksud aku Bagas...’ batin Cindai, ia terduduk di ambang garasi dengan air mata yang mulai turun dan badan yang mulai bergetar.
“maaf”ujarnya dengan suara yang serak.

***

Ify menarik Rio agar memasuki rumahnya, sebenarnya Rio beberapa kali menolak namun Ify terlanjur memaksa dan mau tak mau ia harus masuk karena sudah bertemu dengan Shilla.
“Rio tante”ia menjabat tangan Shilla ketika berkenalan.

“yuk duduk”ajak Shilla, ia duduk di hadapan putrinya dan kekasih putrinya itu.

Shilla terkekeh, “gak usah tegang gitu, tante gak makan orang kok”gurau Shilla karena melihat Rio yang sangat gugup itu.

Rio tersenyum garing, “gak kok tant, bukan itu... Rio cuma masih punya acara lain aja”

Shilla mengangguk mengerti, sementara Ify menatap tajam ke arah Rio, kecewa.
“yaudah kalo ada keperluan biarin pulang dong Fy Rio nya”

“yaudah, yuk aku anter”ucap Ify dengan suara datarnya.

Mereka berdua berjalan sampai di depan pintu mobil Rio.
“kamu kenapa sih? Bolak-balik kamar Agni aja gak masalah ini cuma di ajak masuk rumah sampe menghindar gitu”

Rio menghela nafas, “bukan gitu Fy, kamu sama Agni itu beda, kamu harusnya  ngerti itu”

“iya beda, Agni tunangan kamu, aku cuma pacar kamu, kamu sayang Agni dan kamu gak sayang sama aku”bentak Ify tepat di depan wajah Rio.

Rahang Rio mengeras, pandangan matanya menyala “berani-beraninya ya kamu, kamu gak ada HAK ngomong gitu”desis Rio, setelah itu ia memasuki mobilnya dan membanting keras pintu mobil itu.

Pandangan Ify mulai buram saat melihat Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Ia bingung, pikirannya kalut. Ia tak tahan lagi dengan ke adaan ini.
Ify merasakan ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.

Kalo emang kamu mau aku sayangnya cuma sama Agni, oke! Fine! Aku turutin.

Dengan bergetar Ify segera memanggil nomor Rio.
“maaf nomor yang anda tuju...”

Ify segera berlari menuju kamarnya. Membanting pintunya dengan keras.
“argh”Ify mengacak-acak rambutnya, ia beralih ke meja belajar dan membanting semua bukunya. Setelah puas mengacak-acak isi kamarnya Ify duduk di lantai dan menyandarkan dirinya di dinding dekat meja belajar. Ia melirik buku yang terbuka dan menarik perhatiannya.
Perlahan ia membawa buku itu. Ada gambar sepasang burung merpati yang di gambar tangan dan di bawahnya ada sebuah tulisan.

Ini, aku dan kamu...
Rio Ify [RiFy]
Selamanya abadi dan akan saling setia seperti burung merpati yang selalu setia pada pasangannya. Walau banyak penghalang, yang harus kamu tau aku akan selalu sayang sama kamu. Hatiku akan selamanya milik kamu. I love you Ify  sayangku :*

Badannya bergetar hebat, isakan semakin kentara terdengar di ruangan kedap suara itu. Kenapa menyesal itu datangnya belakangan? Kenapa harus ada yang namanya penyesalan?

***

Rafli bergandengan tangan dengan Marsha di tepi pantai, keduanya tersenyum begitu bahagia.
“aku itu paling seneng kalo kamu cemberut deh Raf, lucu...”Marsha terkekeh sambil membayangkan ekspresi cemberut Rafli.

Rafli menaikan satu alisnya, “kok gitu sih?”

Marsha mengangguk, “keliatan kayak anak kecilnya, aku suka banget... kamu ngegemesin deh pokonya”

Rafli memutar bola matanya nakal, “ngegemesin ya? kalo...”Rafli berjongkok dan memeluk pinggang Marsha kemudian memutarnya tanpa ampun, “gini masih ngegemesin?”

“Rafli turun, pusing...iya deh iya gak ngegemesin”ucap Marsha, kemudian ia di turunkan.

“bilang Rafli ganteng coba”kata Rafli, ia menatap Marsha yang masih terkikik geli dengan melipat tangannya di dada. “ayo bilang”desak Rafli

Marsha melirik ke kanan dan ke kiri, ia berdehem “Rafli itu... jelek”begitu melihat ekspresi wajah Rafli yang akan marah ia segera berlari mencari tempat aman.

“Marsha... berhenti gak”Rafli terus berlari kemudian terjatuh. “aw”erangnya

Marsha berbalik, “Rafli...”ujarnya lirih, ia kembali berlari ke arah Rafli yang terduduk.
“Rafli... kamu kenapa?”ia menatap kekasihnya panik.

“aduh...”rengek Rafli, “gak sakit kok”gumannya

Marsha tak menyadari ucapan Rafli, “yang mana Raf?”ia memandangi kaki Rafli.

“yang ini”Rafli menunjuk bibirnya.

“mana?”tanya Marsha masih melihat kakinya.

Rafli menarik dagu Marsha, “yang ini Neng”ia menunjuk bibirnya

Marsha menjitak Rafli, “dasar mesum”teriak Marsha.

Rafli membekap Marsha sambil melihat sekelilingnya yang menatap ke arah mereka. Ia tersenyum malu.

***

Cakka merebahkan kepalanya di pangkuan Agni, ia menatap begitu dalam pada Agni. Sementara Agni sesekali tersenyum melihat Cakka, ia mengelus rambut Cakka dengan sayang.
“aku seneng deh Ni hari ini bisa sama kamu”guman Cakka

Agni tersenyum, “iya, aku juga Kka... lama-lama sama Rio buat aku gak enak sama Ify”ujarnya, ia tersenyum masam saat membayangkan kebersamaannya dengan Rio, tapi kemudian wajahnya agak merona.

Cakka mendudukan dirinya kemudian menatap Agni, “kok wajah kamu merona gitu? Ada apa sih?”tanya Cakka

Agni terkekeh, “gak ada, cuma kebayang aja tingkah konyolnya dia...”ia menatap Cakka “udah ya jangan bahas Rio”

Cakka tersenyum, ia mengangguk kemudian menarik Agni kedalam pelukannya. “aku sayang banget Ni sama kamu... aku gak bakalan rela kalo kamu ada yang rebut”

Agni membalas pelukan Cakka, “aku juga Kka, aku sayang sama kamu”

“khm”deham seseorang

Cakka dan Agni menjauh, ia berbalik ke arah sumbersuara.
“Alvin”guman Agni

“hai... lama ya gak ketemu”sapa Alvin kemudian dengan santai duduk di sebelah Agni yang kosong.
“gimana kabar loe?”tanya Alvin.

Agni melirik ke arah Cakka, “baik”
Agni melirik Cakka lagi, rahang kekasihnya itu mengeras menahan marah.

Cakka berdiri kemudian menarik Alvin.
“aku tinggal dulu ya Ni”pamit Cakka, ia menarik Alvin hingga memasuki taman di belakang rumah.

Cakka menghempaskan Alvin, “mau loe apa sih? Loe udah janji gak ganggu hubungan gue sama Agni lagi”

Alvin terlihat menimbang-nimbang sesuatu sambil melihat ke arah lain, “kapan ya?”

“brengsek loe ya”Cakka menarik kerah baju Alvin

“Cakka... udah”teriak Agni, ia berlari ke arah Cakka dan memaksa Cakka melepaskan cengkeramannya pada Alvin.
“Kka... lepas aku gak suka kamu yang brutal gini”bentak Agni

Cakka menatap tajam pada Alvin yang menyeringai penuh kemenangan, “mendingan aku kemana-mana Ni, gak labil kayak pacar kamu itu”guman Alvin

“heh?!”Cakka menunjuk Alvin

“Cakka udah”Agni menahan tangan Cakka. “tinggalin kita Vin”ujar Agni

“oke”Alvin berlalu, ia sangat mengetahui sifat Agni yang gak mau di bantah itu.

Setelah kepergian Alvin Agni menatap Cakka tajam, “kamu tuh ya maish aja gini”ujar Agni

Cakka meringis, “maaf ya... aku cuma kesel aja” Cakka menghela nafas “aku janji gak gini-gini lagi deh, beneran”

Agni menatap Cakka mencari keyakinan, “beneran ya?”

Cakka mengangguk, “iya sayang, aku janji”ia menarik Agni kedalam pelukannya. Hanya Agni yang bisa menahan emosinya, dan dengan cara inilah pikirannya akan tenang.

***

Agni duduk di ruang tamunya dengan pakaian yang sudah rapih, menunggu sahabat-sahabatnya sesuai perjanjian tadi.
Tak lama terdengar sebuah deruan motor, Agni segera keluar dan mendapati Bagas yang menggunakan celana putih selutut, kaus biru, jaket putih dan spatu kets yang sesaat membuat Agni terpana, ‘kalo di perhatiin keren juga’ batinnya.

“gas, kok sendiri Cindai mana?”tanya Agni, ia berjalan mendekati Bagas.

Bagas mengangkat bahunya, ia turun dari motor “gue udah putus”gumannya

Agni mengerutkan dahinya, “masa sih? Gak mungkin ah”

“terserah sih kalo gak percaya”Bagas menengok ke arah rumah Agni, “yang lain belum dateng?”tanyanya

“belum, masuk dulu yuk”Agni berjalan di depan Bagas dan mempersilahkan duduk pada pemuda itu.

“kalo di rumah loe lebih cantik ya, pantesan Cakka sama Rio nyangkut di loe”guman Bagas

Agni menatap aneh, “Rio? Loe tau apa?”

“kalian tunangankan? Udah gak usah shock gitu santai aja lagi”gurau Bagas

Agni mengangguk-angguk, “oiya mau minum apa?”

“apa aja deh”

Agni beranjak dari tempat itu menuju dapur. Hingga deruan beberapa kendaraan memasuki pekarangan rumah Agni.
“Agni”panggil Rio

“hai Yo”sapa Bagas

Rio tersenyum kaku, “hai gas, udah dateng aja loe”

Cakka menepuk pundak Rio, “mana Agni?”

“lagi ambil minum”jawab Bagas

“lho, ada loe?”tanya Cakka

“iyalah, kapan sih jam gue karet? Gue tuh on time terus ya”kata Bagas, “oiya silahkan duduk, anggap aja rumah kalian sendiri, jangan sungkan-sungkan”kata Bagas, seolah tuan rumah.

Cakka melempar bantal yang ada di kursi itu pada Bagas,
“ngelunjak ya loe”

Bagas menanggapinya hanya dengan cengiran gak jelas.

“Agni, kita dateng”teriak Marsha yang di belakangnya di ikuti oleh Rafli dan Cindai.
“ehh kalian udah kumpul ya”lanjutnya begitu melihat Bagas, Cakka dan Rio.
Mereka bertiga duduk berdampingan.

“ehh udah dateng, ehh iya Ify mana Io'?”tanya Agni

Rio mengangkat bahunya, “ngapain sih bawa minuman? Kan mau berangkat sekarang”ujar Rio

Agni menyimpan satu minuman karena tadi yang ada di tempat itu cuma Bagas.
“yaudah kalian berangkat duluan, biar gue jemput Ify”

“nih pake mobil gue, biar gue sama Cakka”Rio melemparkan kunci mobilnya pada Agni yang di tangkap begitu sigap oleh sasarannya.

“emang Agni tau rumah loe Io'? bukannya loe bilang di rumah loe yang baru ya? bukan di rumah loe yang lama”tanya Rafli

Agni gelagapan, “ya... itu... apa? Tinggal di smsin aja gampangkan?”

“iya Raf, kamu kok lemot gitu sih? Cindai loe mau sama kita lagi atau sama Bagas?”ucap Marsha yang mengalihkan pandangan dari Rafli ke Cindai.

Cindai terlihat bingung, ia melirik ke arah Bagas kemudian ke arah Marsha, “kalian aja deh”

“yaudah yuk, rumah gue lumayan jauh”Rio beranjak dari ruang tamu mendahului yang lain.

***

Ify menatap gerbang rumahnya ragu, berangkat atau tidak? Ia menghela nafas berkali-kali.
Matanya berubah menjadi berbinar begitu melihat mobil yang sangat ia kenal memasuki pekarangan rumahnya, ia segera berlari turun dan keluar rumah.
“Rio”

Agni yang keluar dari pintu pengemudi berbalik, “hai Fy, gue tadi pinjem mobil Rio, abis loe gak dateng-dateng... berangkat yuk”ajak Agni

Ify mendesah kecewa, ia melirik ke dalam rumah kemudian mengangguk, “yuk”

Agni dan Ify melakukan perjalanan dalam diam, namun hening itu terpecah oleh ponsel Agni yang berbunyi begitu nyaring.
“Fy, tolong ambilin hape gue... kayaknya Cakka sms deh”ia melirik ke kursi belakang kemudian memfokuskan diri ke jalan lagi.

Ify mengikuti instruksi Agni, “buka?”tanya Ify yang di angguki oleh Agni.

Bee jangan ngebut-ngebut ya? aku khawatir sama kamu. :*

“siapa Fy?”tanya Agni begitu melihat Ify yang malah melamun.

Ify tersenyum, “Rio, katanya jangan ngebut-ngebut”

Agni meringis, ia merasa bersalah pada Ify “gak usah di balas deh”

Ify mengangguk, kemudian pandangannya ia arahkan ke jalan raya. Memikirkan nasibnya bersama Rio, apa sebaiknya cukup sampai disini?

***

“ya ampun Rio... rumah loe istana impian gue banget”ucap Marsha histeris sambil memandang kagum kediaman Rio yang sangat luas dan terbilang sangat mewah.

Rio melirik ke arah Marsha, “mau?”

“banget”ucap Marsha dengan penuh harap

“minta gih sama Rafli”ujar Rio kemudian berjalan di depan teman-temannya yang lain.

Rafli tersenyum geli melihat Marsha yang cemberut, “mana mampu Sha aku buat rumah semewah ini?”guman Rafli

Marsha mendongak ke arah Rafli, “gapapa, akukan sayangnya bukan karena kamu bisa buatin aku rumah segede gini, aku sayang sama kamukan tulus”

Rafli mengacak-acak rambut Marsha, “ada-ada aja kamu”

***

Ify menatap Agni ragu, “ini rumah kalian?”tanya Ify

Agni mengangkat bahu, “belum tentu juga, bisa ajakan jadi rumah kalian?” Agni keluar dari mobil itu dan di ikuti oleh Ify.
“langsung masuk yuk Fy”

Ify mengikuti Agni dari belakang, menuju ke halaman belakang rumah itu yang telah di siapkan sedemikian rupa oleh penjaga rumah itu.
“tuh mereka disana, gue mau ke toilet dulu”Agni menunjuk belakang rumah dengan dagunya setelah itu ia beranjak menjauh.

“hai Fy, sini gabung”ajak Marsha yang terlihat begitu antusias.

Ify mengangguk kaku, ia melirik Rio yang beranjak dari tempat itu. Ia menghela nafas panjang.
“gue mau ke toilet ya”pamit Ify yang di angguki yang lain.

***

Tubuh Ify menegang, wajahnya pucat pasi dan tangan yang menutup mulutnya. Ia menggeleng pelan melihat pemandangan di depannya.
Rio... memeluk posesif pinggang Agni, Agni membalas pelukan itu dengan merangkulkan tangannya ke leher Rio dan... gak ada jarak di antara mereka, keduanya saling bertukar saliva.

To be continue...


Terimakasih :)

No comments:

Post a Comment