Weekend tanpa bermain, mereka semua menghabiskan waktu untuk
belajar karena minggu ini mereka akan melaksanakan Ujian Semester Ganjil.
“aduh Ray, ampun deh ya... untung tinggal hari ini kita
Ujian, puyeng gue”rutuk Cindai, ia menjatuhkan diri di samping Ray yang
cekikikan melihat ekspresi empat gadis di sekelilingnya yang benar-benar kusut.
“iya, mana gue lagi dapet lagi... gak konsen gue”sambung
Agni, efect dari tamu bulanannya memang sangat mengganggu apalagi sakit
pinggangnya.
Ify menyeruput minumannya, “entar gue urut deh” mata Agni
seketika berbinar, “tapi taktir”lanjut Ify. Seketika wajah Agni menjadi
cemberut.
“gak solid banget sih loe”Agni mengurut pinggangnya sendiri.
“minta pijit sana sama si Cakka, pasti dengan senang hati
mau tuh”ucap Marsha sambil menahan senyumnya karena langsung mendapatkan pelototan
gratis dari Agni.
“Fy cowok loe kenapa sih? Kok kayaknya sensi banget,
tatapannya kayak mau nelen orang aja”komentar Cindai saat tanpa sengaja beradu
pandang dengan Rio.
Ify hanya mengangkat bahunya, “mana gue tau, emang gue
paranormal? Tanya Marsha gih”ia menyendok makanannya.
Agni nampak berpikir ia menatap Ify, “Fy...” yang di panggil
menengok ke arah Agni, “kayaknya loe lagi ada masalah ya sama Rio? Kok dingin
banget kayaknya?”tanya Agni yang membuat Ify gelagapan. Sebenarnya ia bingung
juga antara ada masalah dan enggak, pasalnya ia bersikap dingin semenjak kejadian malam itu dan yang ia tau
seharusnya kejadian itu bukan masalah karena
itulah konsekuensinya. Tapi apa wajar Rio... sudahlah. Ify terlihat
menggelengkan kepala.
Zahra duduk di antara mereka, “hai, boleh gabung...”
Agni tersenyum samar, “udah duduk inikan? Ya silahkan”
Zahra mengangguk, “ehh iya Agni, kayaknya gue pernah liat
loe deh”ia terlihat mengingat-ingat sesuatu.
Agni mengerutkan dahinya sementara yang lain memicingkan
mata, penasaran.
“kapan? Tapi gue rasa gue gak pernah liat loe sebelumnya”
Zahra menjentikkan jarinya, “waktu itu loe... sama Rio, dan
dia kasih cincin ke loe, sehari sebelum gue masuk”
Skak mat! “salah liat kali, gue gak pernah jalan sama
Rio”ungkap Agni dengan gugup.
“yakin?”tanya Ray, “gue juga pernah liat loe sama Rio jalan,
dan waktu itu juga gue pernah di labrak sama mereka... dan Rio yang bela loe”
“gue denger ada yang sebut nama gue nih”desis Rio yang
berdiri beserta ketiga temannya di belakang Ray.
Ray berbalik, “ehh... duduk”Ray agak bergeser ke pinggir
supaya mereka bisa duduk di bangku panjang itu.
Empat gadis yang tadinya heboh merumpi sekarang diam,
memfokuskan diri pada makanannya masing-masing.
“Ni, gimana pinggang kamu udah gak sakit?”tanya Cakka
Agni mendongak, ‘darimana
dia tau?’ ia melirik Rio yang sibuk merebut makanan Ify, ia menghela nafas
panjang “masih sakit padahal udah satu minggu, paling entar juga sembuh
kok”ujarnya
Cakka mengangguk-angguk mengerti. Ia mengambil minuman Agni
dan meminumnya tanpa persetujuan yang punya.
“entar malem barbeque-an di rumah gue, yang mau ngumpul dulu
di rumah Agni”ujar Rio
Agni mengerutkan dahinya, “kok gue?”tanyanya
“yang cewek mana tau rumah gue, yang cowok kan udah pada tau
rumah loe jadi bisa ngumpul dulu”jawab Rio, yang membuat Agni menyun.
“Chelsea bakalan pindah ke sini semester nanti?”guman Bagas,
Cindai menatap curiga.
“masih hubungan?”tanya Cindai datar.
Bagas menghela nafas panjang, ia menyerahkan ponselnya pada
Cindai. Cindai mengambilnya,
Hai Bagas, gue bakalan satu sekolah sama loe! jangan harap loe bisa macem-macem dan ganggu
sepupu gue lagi. Inget itu!!!
Cindai mengangkat bahunya, “bagus”
“ngapain dia pindah? Kan dia harus sekalian berobat di
Aussie?”tanya Rafli
Marsha memutar bola matanya, “perhatian banget Bang, emang
masalah ya?”guman Marsha
Rafli menghela nafas panjang, salah ngomong deh kayaknya
“bukannya perhatian Sha, cuma nanya aja kok”sanggah Rafli tanpa emosi, ia tak
pernah mau lagi menggunakan emosinya kalau Marsha sedang cemburu atau sedang
marah, karena ia merasa percuma juga.
“dingin banget loe, anget dikit napa kalo jadi cowok”ucap
Rio sambil sibuk mengotak-atik ponselnya.
“anget apa anget Yo?”tanya Cakka dengan tatapan nakal.
“emang Rio anget Fy?”tanya Cakka
Entah kenapa Ify yang ditanya malah wajah Agni yang merona
merah, membayangkan kehangatan Rio untuknya.
“ehh udah bel tuh”kata Marsha yang dari tadi hanya diam
saja, ia yakin ada yang di sembunyikan dalam persahabatan mereka.
***
Sepulang sekolah Bagas mengantarkan Cindai pulang, begitu
memauki gerbang ia di sambut oleh pelayan rumah Cindai.
“masuk”ajak Cindai.
Bagas mengerutkan dahinya, “ngajakin atau merintah?”tanya
Bagas dengan nada yang datar.
Cindai memutar bola matanya, ia berbalik dan menatap Bagas
kesal, “udah deh gak usah protes kalo gak suka silahkan pulang”
Bagas menghela nafas, “kamu sekarang kenapa sih? Kok gitu
banget... gak kayak dulu”ujar Bagas, ia menarik Cindai agar duduk di
sampingnya.
Cindai berdecak, “maunya?”
“kamu kenapa sih? Ada masalah apa lagi? Ngomong dong aku gak
ngerti”Bagas berujar dengan frustasi.
Cindai menutup wajahnya, “aku gak tau, yang aku rasa cuma
satu. Aku bosen sama kamu dan kelakuan kamu”
“terus mau kamu gimana?”
“kita break dulu”ucap Cindai dengan lirih.
“gak!”tegas Bagas
“terserah”ia beranjak dari tempat duduk
Bagas mengejar kekasihnya itu, “break itu gantung Nda”ia
meraih tangan Cindai, “aku mau kepastian... kita lanjut ya lanjut kalo kamu mau
putus oke fine aku terima”
Cindai menghembuskan nafas berat, “aku butuh waktu”
“oke berarti jawabannya kita putus”Bagas membuka cincinnya,
“bilang sendiri gih sama orang tua kita kalo kita putus”ia berlalu dari hadapan
Cindai dengan nafas yang memburu, emosinya benar-benar sampai ke ubun-ubun.
Bagas sadar perubahan Cindai sejak kedatangan Ray! Sebenernya ada apa sama
Cindai dan dia? Bagas tak habis pikir, dengan mudahnya Cindai berubah dan
melupakannya.
“Bagas... Bagas”panggil Cindai, ia segera berlari ke garasi.
“pak mobil mana? Kok gak ada semua?”tanya Cindai dengan kesal.
“argh”erang Cindai, terlambat sudah.
‘bukan itu maksud aku
Bagas...’ batin Cindai, ia terduduk di ambang garasi dengan air mata yang
mulai turun dan badan yang mulai bergetar.
“maaf”ujarnya dengan suara yang serak.
***
Ify menarik Rio agar memasuki rumahnya, sebenarnya Rio
beberapa kali menolak namun Ify terlanjur memaksa dan mau tak mau ia harus
masuk karena sudah bertemu dengan Shilla.
“Rio tante”ia menjabat tangan Shilla ketika berkenalan.
“yuk duduk”ajak Shilla, ia duduk di hadapan putrinya dan
kekasih putrinya itu.
Shilla terkekeh, “gak usah tegang gitu, tante gak makan
orang kok”gurau Shilla karena melihat Rio yang sangat gugup itu.
Rio tersenyum garing, “gak kok tant, bukan itu... Rio cuma
masih punya acara lain aja”
Shilla mengangguk mengerti, sementara Ify menatap tajam ke
arah Rio, kecewa.
“yaudah kalo ada keperluan biarin pulang dong Fy Rio nya”
“yaudah, yuk aku anter”ucap Ify dengan suara datarnya.
Mereka berdua berjalan sampai di depan pintu mobil Rio.
“kamu kenapa sih? Bolak-balik kamar Agni aja gak masalah ini
cuma di ajak masuk rumah sampe menghindar gitu”
Rio menghela nafas, “bukan gitu Fy, kamu sama Agni itu beda,
kamu harusnya ngerti itu”
“iya beda, Agni tunangan kamu, aku cuma pacar kamu, kamu
sayang Agni dan kamu gak sayang sama aku”bentak Ify tepat di depan wajah Rio.
Rahang Rio mengeras, pandangan matanya menyala
“berani-beraninya ya kamu, kamu gak ada HAK ngomong gitu”desis Rio, setelah itu
ia memasuki mobilnya dan membanting keras pintu mobil itu.
Pandangan Ify mulai buram saat melihat Rio melajukan
mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Ia bingung, pikirannya kalut. Ia tak
tahan lagi dengan ke adaan ini.
Ify merasakan ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.
Kalo emang kamu mau aku sayangnya cuma sama Agni, oke! Fine! Aku
turutin.
Dengan bergetar Ify segera memanggil nomor Rio.
“maaf nomor yang anda tuju...”
Ify segera berlari menuju kamarnya. Membanting pintunya
dengan keras.
“argh”Ify mengacak-acak rambutnya, ia beralih ke meja
belajar dan membanting semua bukunya. Setelah puas mengacak-acak isi kamarnya
Ify duduk di lantai dan menyandarkan dirinya di dinding dekat meja belajar. Ia
melirik buku yang terbuka dan menarik perhatiannya.
Perlahan ia membawa buku itu. Ada gambar sepasang burung
merpati yang di gambar tangan dan di bawahnya ada sebuah tulisan.
Ini, aku dan kamu...
Rio Ify [RiFy]
Selamanya abadi dan akan saling setia seperti burung merpati yang
selalu setia pada pasangannya. Walau banyak penghalang, yang harus kamu tau aku
akan selalu sayang sama kamu. Hatiku akan selamanya milik kamu. I love you Ify sayangku :*
Badannya bergetar hebat, isakan semakin kentara terdengar di
ruangan kedap suara itu. Kenapa menyesal itu datangnya belakangan? Kenapa harus
ada yang namanya penyesalan?
***
Rafli bergandengan tangan dengan Marsha di tepi pantai,
keduanya tersenyum begitu bahagia.
“aku itu paling seneng kalo kamu cemberut deh Raf,
lucu...”Marsha terkekeh sambil membayangkan ekspresi cemberut Rafli.
Rafli menaikan satu alisnya, “kok gitu sih?”
Marsha mengangguk, “keliatan kayak anak kecilnya, aku suka
banget... kamu ngegemesin deh pokonya”
Rafli memutar bola matanya nakal, “ngegemesin ya?
kalo...”Rafli berjongkok dan memeluk pinggang Marsha kemudian memutarnya tanpa
ampun, “gini masih ngegemesin?”
“Rafli turun, pusing...iya deh iya gak ngegemesin”ucap
Marsha, kemudian ia di turunkan.
“bilang Rafli ganteng coba”kata Rafli, ia menatap Marsha
yang masih terkikik geli dengan melipat tangannya di dada. “ayo bilang”desak
Rafli
Marsha melirik ke kanan dan ke kiri, ia berdehem “Rafli
itu... jelek”begitu melihat ekspresi wajah Rafli yang akan marah ia segera
berlari mencari tempat aman.
“Marsha... berhenti gak”Rafli terus berlari kemudian
terjatuh. “aw”erangnya
Marsha berbalik, “Rafli...”ujarnya lirih, ia kembali berlari
ke arah Rafli yang terduduk.
“Rafli... kamu kenapa?”ia menatap kekasihnya panik.
“aduh...”rengek Rafli, “gak sakit kok”gumannya
Marsha tak menyadari ucapan Rafli, “yang mana Raf?”ia
memandangi kaki Rafli.
“yang ini”Rafli menunjuk bibirnya.
“mana?”tanya Marsha masih melihat kakinya.
Rafli menarik dagu Marsha, “yang ini Neng”ia menunjuk
bibirnya
Marsha menjitak Rafli, “dasar mesum”teriak Marsha.
Rafli membekap Marsha sambil melihat sekelilingnya yang
menatap ke arah mereka. Ia tersenyum malu.
***
Cakka merebahkan kepalanya di pangkuan Agni, ia menatap
begitu dalam pada Agni. Sementara Agni sesekali tersenyum melihat Cakka, ia
mengelus rambut Cakka dengan sayang.
“aku seneng deh Ni hari ini bisa sama kamu”guman Cakka
Agni tersenyum, “iya, aku juga Kka... lama-lama sama Rio
buat aku gak enak sama Ify”ujarnya, ia tersenyum masam saat membayangkan
kebersamaannya dengan Rio, tapi kemudian wajahnya agak merona.
Cakka mendudukan dirinya kemudian menatap Agni, “kok wajah
kamu merona gitu? Ada apa sih?”tanya Cakka
Agni terkekeh, “gak ada, cuma kebayang aja tingkah konyolnya
dia...”ia menatap Cakka “udah ya jangan bahas Rio”
Cakka tersenyum, ia mengangguk kemudian menarik Agni kedalam
pelukannya. “aku sayang banget Ni sama kamu... aku gak bakalan rela kalo kamu
ada yang rebut”
Agni membalas pelukan Cakka, “aku juga Kka, aku sayang sama
kamu”
“khm”deham seseorang
Cakka dan Agni menjauh, ia berbalik ke arah sumbersuara.
“Alvin”guman Agni
“hai... lama ya gak ketemu”sapa Alvin kemudian dengan santai
duduk di sebelah Agni yang kosong.
“gimana kabar loe?”tanya Alvin.
Agni melirik ke arah Cakka, “baik”
Agni melirik Cakka lagi, rahang kekasihnya itu mengeras
menahan marah.
Cakka berdiri kemudian menarik Alvin.
“aku tinggal dulu ya Ni”pamit Cakka, ia menarik Alvin hingga
memasuki taman di belakang rumah.
Cakka menghempaskan Alvin, “mau loe apa sih? Loe udah janji
gak ganggu hubungan gue sama Agni lagi”
Alvin terlihat menimbang-nimbang sesuatu sambil melihat ke
arah lain, “kapan ya?”
“brengsek loe ya”Cakka menarik kerah baju Alvin
“Cakka... udah”teriak Agni, ia berlari ke arah Cakka dan
memaksa Cakka melepaskan cengkeramannya pada Alvin.
“Kka... lepas aku gak suka kamu yang brutal gini”bentak Agni
Cakka menatap tajam pada Alvin yang menyeringai penuh
kemenangan, “mendingan aku kemana-mana Ni, gak labil kayak pacar kamu itu”guman
Alvin
“heh?!”Cakka menunjuk Alvin
“Cakka udah”Agni menahan tangan Cakka. “tinggalin kita
Vin”ujar Agni
“oke”Alvin berlalu, ia sangat mengetahui sifat Agni yang gak
mau di bantah itu.
Setelah kepergian Alvin Agni menatap Cakka tajam, “kamu tuh
ya maish aja gini”ujar Agni
Cakka meringis, “maaf ya... aku cuma kesel aja” Cakka
menghela nafas “aku janji gak gini-gini lagi deh, beneran”
Agni menatap Cakka mencari keyakinan, “beneran ya?”
Cakka mengangguk, “iya sayang, aku janji”ia menarik Agni
kedalam pelukannya. Hanya Agni yang bisa menahan emosinya, dan dengan cara
inilah pikirannya akan tenang.
***
Agni duduk di ruang tamunya dengan pakaian yang sudah rapih,
menunggu sahabat-sahabatnya sesuai perjanjian tadi.
Tak lama terdengar sebuah deruan motor, Agni segera keluar
dan mendapati Bagas yang menggunakan celana putih selutut, kaus biru, jaket
putih dan spatu kets yang sesaat membuat Agni terpana, ‘kalo di perhatiin keren
juga’ batinnya.
“gas, kok sendiri Cindai mana?”tanya Agni, ia berjalan
mendekati Bagas.
Bagas mengangkat bahunya, ia turun dari motor “gue udah
putus”gumannya
Agni mengerutkan dahinya, “masa sih? Gak mungkin ah”
“terserah sih kalo gak percaya”Bagas menengok ke arah rumah
Agni, “yang lain belum dateng?”tanyanya
“belum, masuk dulu yuk”Agni berjalan di depan Bagas dan
mempersilahkan duduk pada pemuda itu.
“kalo di rumah loe lebih cantik ya, pantesan Cakka sama Rio
nyangkut di loe”guman Bagas
Agni menatap aneh, “Rio? Loe tau apa?”
“kalian tunangankan? Udah gak usah shock gitu santai aja
lagi”gurau Bagas
Agni mengangguk-angguk, “oiya mau minum apa?”
“apa aja deh”
Agni beranjak dari tempat itu menuju dapur. Hingga deruan
beberapa kendaraan memasuki pekarangan rumah Agni.
“Agni”panggil Rio
“hai Yo”sapa Bagas
Rio tersenyum kaku, “hai gas, udah dateng aja loe”
Cakka menepuk pundak Rio, “mana Agni?”
“lagi ambil minum”jawab Bagas
“lho, ada loe?”tanya Cakka
“iyalah, kapan sih jam gue karet? Gue tuh on time terus
ya”kata Bagas, “oiya silahkan duduk, anggap aja rumah kalian sendiri, jangan
sungkan-sungkan”kata Bagas, seolah tuan rumah.
Cakka melempar bantal yang ada di kursi itu pada Bagas,
“ngelunjak ya loe”
Bagas menanggapinya hanya dengan cengiran gak jelas.
“Agni, kita dateng”teriak Marsha yang di belakangnya di
ikuti oleh Rafli dan Cindai.
“ehh kalian udah kumpul ya”lanjutnya begitu melihat Bagas,
Cakka dan Rio.
Mereka bertiga duduk berdampingan.
“ehh udah dateng, ehh iya Ify mana Io'?”tanya Agni
Rio mengangkat bahunya, “ngapain sih bawa minuman? Kan mau
berangkat sekarang”ujar Rio
Agni menyimpan satu minuman karena tadi yang ada di tempat
itu cuma Bagas.
“yaudah kalian berangkat duluan, biar gue jemput Ify”
“nih pake mobil gue, biar gue sama Cakka”Rio melemparkan
kunci mobilnya pada Agni yang di tangkap begitu sigap oleh sasarannya.
“emang Agni tau rumah loe Io'? bukannya loe bilang di rumah
loe yang baru ya? bukan di rumah loe yang lama”tanya Rafli
Agni gelagapan, “ya... itu... apa? Tinggal di smsin aja
gampangkan?”
“iya Raf, kamu kok lemot gitu sih? Cindai loe mau sama kita
lagi atau sama Bagas?”ucap Marsha yang mengalihkan pandangan dari Rafli ke
Cindai.
Cindai terlihat bingung, ia melirik ke arah Bagas kemudian
ke arah Marsha, “kalian aja deh”
“yaudah yuk, rumah gue lumayan jauh”Rio beranjak dari ruang
tamu mendahului yang lain.
***
Ify menatap gerbang rumahnya ragu, berangkat atau tidak? Ia
menghela nafas berkali-kali.
Matanya berubah menjadi berbinar begitu melihat mobil yang
sangat ia kenal memasuki pekarangan rumahnya, ia segera berlari turun dan
keluar rumah.
“Rio”
Agni yang keluar dari pintu pengemudi berbalik, “hai Fy, gue
tadi pinjem mobil Rio, abis loe gak dateng-dateng... berangkat yuk”ajak Agni
Ify mendesah kecewa, ia melirik ke dalam rumah kemudian
mengangguk, “yuk”
Agni dan Ify melakukan perjalanan dalam diam, namun hening
itu terpecah oleh ponsel Agni yang berbunyi begitu nyaring.
“Fy, tolong ambilin hape gue... kayaknya Cakka sms deh”ia
melirik ke kursi belakang kemudian memfokuskan diri ke jalan lagi.
Ify mengikuti instruksi Agni, “buka?”tanya Ify yang di
angguki oleh Agni.
Bee jangan ngebut-ngebut ya? aku khawatir sama kamu. :*
“siapa Fy?”tanya Agni begitu melihat Ify yang malah melamun.
Ify tersenyum, “Rio, katanya jangan ngebut-ngebut”
Agni meringis, ia merasa bersalah pada Ify “gak usah di
balas deh”
Ify mengangguk, kemudian pandangannya ia arahkan ke jalan
raya. Memikirkan nasibnya bersama Rio, apa sebaiknya cukup sampai disini?
***
“ya ampun Rio... rumah loe istana impian gue banget”ucap
Marsha histeris sambil memandang kagum kediaman Rio yang sangat luas dan
terbilang sangat mewah.
Rio melirik ke arah Marsha, “mau?”
“banget”ucap Marsha dengan penuh harap
“minta gih sama Rafli”ujar Rio kemudian berjalan di depan
teman-temannya yang lain.
Rafli tersenyum geli melihat Marsha yang cemberut, “mana
mampu Sha aku buat rumah semewah ini?”guman Rafli
Marsha mendongak ke arah Rafli, “gapapa, akukan sayangnya
bukan karena kamu bisa buatin aku rumah segede gini, aku sayang sama kamukan
tulus”
Rafli mengacak-acak rambut Marsha, “ada-ada aja kamu”
***
Ify menatap Agni ragu, “ini rumah kalian?”tanya Ify
Agni mengangkat bahu, “belum tentu juga, bisa ajakan jadi
rumah kalian?” Agni keluar dari mobil itu dan di ikuti oleh Ify.
“langsung masuk yuk Fy”
Ify mengikuti Agni dari belakang, menuju ke halaman belakang
rumah itu yang telah di siapkan sedemikian rupa oleh penjaga rumah itu.
“tuh mereka disana, gue mau ke toilet dulu”Agni menunjuk belakang
rumah dengan dagunya setelah itu ia beranjak menjauh.
“hai Fy, sini gabung”ajak Marsha yang terlihat begitu
antusias.
Ify mengangguk kaku, ia melirik Rio yang beranjak dari
tempat itu. Ia menghela nafas panjang.
“gue mau ke toilet ya”pamit Ify yang di angguki yang lain.
***
Tubuh Ify menegang, wajahnya pucat pasi dan tangan yang
menutup mulutnya. Ia menggeleng pelan melihat pemandangan di depannya.
Rio... memeluk posesif pinggang Agni, Agni membalas pelukan
itu dengan merangkulkan tangannya ke leher Rio dan... gak ada jarak di antara
mereka, keduanya saling bertukar saliva.
To be continue...
Terimakasih :)
No comments:
Post a Comment