“Apa?!”
Gabriel mengangguk, “mereka pacaran beberapa jam setelah
Agni dan Rio tunangan”
Sivia tersenyum getir, “tapi... tapi itu gak bakalan rubah
impian kita kan El?”tamya Sivia dengan suara yang mulai bergetar.
Gabriel menghela nafas panjang, “aku rasa kita akan di
satukan menjadi keluarga dalam bentuk lain Vi, maaf... bukannya aku mau
hancurin impian kita, tapi aku gak bisa liat Agni sedih gitu”
“tapi... El”mata Sivia mulai berkaca-kaca.
“maaf Vi, aku rasa kita itu masa lalu dan mereka itu masa
depan, aku gak mau mereka rasain apa yang dulu aku rasain... kita akan tetap
menjadi keluarga Vi, walau dalam bentuk lain”Gabriel berkata begitu lirih pada
Sivia.
Sivia menyeka air matanya, kemudian tersenyum “kalau itu
membuat Cakka juga bahagia... aku rela”
Gabriel tersenyum kemudian menarik Sivia dalam pelukannya,
“makasih Vi, kita akan bahagia jika melihat kedepan”
Sivia semakin bergetar dalam pelukan Gabriel, sehingga ia
hanya mampu mengangguk menjawab ucapan Gabriel tersebut.
***
Rio menghela nafas dengan berat, dengan ragu ia membuka
ruangan dimana Zevana di rawat.
“Rio...”sapa Zevana yang sedang di suapi oleh Patton. Rio
hanya tersenyum menanggapinya, kemudian berjalan ke sisi lain tempat tidur
Zevana.
Zevana menarik Rio, memeluk putranya itu “kamu ada apa
sayang? Kenapa kamu kayak orang ling-lung gitu?”
Rio menjauhkan diri dari Zevana, “Ma, Pa... sebelumnya Rio
minta maaf... Rio...” Rio menundukan kepalanya, dengan sesekali masih menghela
nafas seakan penuh beban.
“ada apa Io'?”tanya Patton sambil menatap anak sulungnya
penuh tanya.
“kalain harus janji gak bakalan cerai ya? Ma... Pa...”Rio
menatap keduanya dengan tatapan memohon.
Zevana mengerutkan dahinya, “sebenarnya ada apa Io'? pasti
menyangkut Agni, iya kan?”
Rio mengusap wajahnya frustasi, “Rio sama Agni mau pisah Ma,
Pa... kalaupun kita di terusin pasti gak akan cocok, kita bener-bener beda
prinsip dan...”
“beda prinsip itu bukannya biasa ya? dimana di dunia ini ada
yang memiliki prinsip yang sama? Meskipun ada tetep aja wataknya pasti
berbeda”guman Patton sambil menyupai Zevana.
“Pa... bukan gitu, sekarang Rio sama Agni punya kehidupan
masing-masing, kebahagiaan masing-masing yang gak mungkin kita dapet kalau kita
bareng terus”jelas Rio dengan nada yang lemah.
Patton menyipitkan matanya, “jangan bilang kamu punya gadis
lain dan akan mencampakan Agni begitu saja! Begitu Rio?”tanya Patton dengan
begitu tegas.
Rio menghela nafas, “bukan Pa, sebenernya sebelum tunangan
sama Rio Agni itu punya pacar, dan sekarang mereka terancam pisah cuma
gara-gara Rio”
“tapi Rio bakalan tetep jagain Agni kok Ma, Pa... Rio juga
udah janji sama Papa Gabriel, dan kalaupun Rio sama Agni pisah, Agni akan tetep
jadi anak kalian... Agni sayang banget sama Mama, Ma...”lanjut Rio sebelum ada
kesalah fahaman.
“argh”erang Zevana dengan memegangi perutnya, ia memejamkan
matanya menahan sakit.
“Mama... Ma”Rio segera menatap Mamanya begitu dekat, dengan
tangan kanan mengelus puncak kepala Zevana dan tangan kiri mengelus perut
Zevana.
“Mama... maafin Rio”ujar Rio lirih kemudian Dokter dan
beberapa suster segera datang setelah Patton memanggilnya karena alarm di kamar
itu kebetulan rusak.
“Mas, silahkan menunggu di luar”ucap suster itu.
“tapi sus...”
“ibu anda tidak akan apa-apa, silahkan tunggu di luar”ucap
suster itu lagi.
Rio menatap Zevana sekilas, ia kemudian berjalan cepat ke
luar ruangan.
“Pa...”
Patton diam, dia menundukkan kepalanya dengan tangan
mencengkram rambutnya.
“Pa...” Rio duduk di samping Patton, ia menepuk pundaknya
pelan.
“maaf...”
“Papa, Rio... “Agni berjalan ke arah Patton dan Rio di
iringi Gabriel di belakangnya. “ada apa? Mama... kenapa?”
Rio menatap Agni dengan pandangan sayu, “Mama...”Rio
mendesah “aku gak tau”ia beranjak dari tempat itu, ia perlu menenangkan diri.
Gabriel menepuk pundak Agni, “kejar dia”
Agni mengangguk mantap, ia mengejar Rio yang mulai
menghilang di tikungan koridor.
***
Sivia memasuki rumahnya dengan lesu, ia kini berada tepat di
depan kamar Cakka. Sivia menghela nafas panjang, namun sebelum ia memutuskan
untuk mengetuk pintu ia mendengar percakapan Cakka dengan seseorang,
“apapun Fy, lakuin apapun supaya gue bisa sayang dan cinta
sama loe... gue juga bakalan berusaha buat loe lupain Rio...”
“makasih Fy, seenggaknya loe udah berusaha buat gue lepas dari
Agni. Makasih ya?”
“iya sama-sama, yaudah kamu tidur gih udah malem ginikan?”
“bye”
Sivia memejamkan matanya, ia tak habis pikir kalau putranya
juga mengorbankan perasaannya cuma demi impiannya dulu. Ia membuka kamar Cakka
perlahan.
“Mama...”ucap Cakka agak kaget, ia bangkit dari tidurannya.
Sivia tersenyum pada Cakka, ia duduk di hadapan Cakka.
“boleh Mama tau sesuatu Kka?”
Cakka memandang Sivia dengan aneh, “apa Ma?”
Sivia merapihkan rambut Cakka, “sejauh mana kamu sama Agni?”
Cakka terdiam, wajahnya mulai tegang dan pucat.
“A...Ag...ni?”
Sivia mengangguk, ia terkekeh melihat ekspresi putranya,
“Oom Gabriel cerita sama Mama kalau ternyata kalian beneran pacaran”
Cakka menatap Sivia begitu kaget, ‘bagaimana Oom Gabriel bisa tau? Siapa yang memberitaunya? Apa
mungkin... Rio’ Cakka menggelengkan kepalanya. ‘gak gak mungkin’
“tunangannya Agni bongkar semuanya sama Oom Gabriel”ucap
Sivia melihat kebingungan putranya.
Cakka tersentak, “Rio?”tanya Cakka meyakinkan.
Sivia mengangguk, “Mama salut sama dia, rela lepasin Agni
padahal rencananya mereka bakalan menikah tahun depan, malahan dia akan ikut
akselerasi demi melancarkan itu”
“apa? Me...menikah?”
Sivia terkekeh, “kamu kenapa sih sayang kok kaget-kaget gitu
nanggapinya? Santai aja lagi”ucap Sivia yang membuat Cakka tersenyum getir.
“lagian Cakka udah punya Ify kan Ma”
“No! Sayang... kamu jangan mempermainkan dia, bilang sama
dia kesepakatan kalian batal” Sivia menyentil hidung Cakka gemas.
“kenapa?” Cakka memasang wajah bingungnya, ia merasa sulit
mencerna ucapan-ucapan Mamanya ini.
“Mama tidak jadi menikah dengan Oom Gabriel”bisik Sivia.
***
Agni menatap tajam Rio begitu mendengar kronologis penyebab
Zevana kesakitan kembali.
“kenapa kamu sebodoh ini sih? Otak kamu dimana sih?”tanya
Agni dengan begitu tajam, ia memalingkan wajahnya melihat ke arah lain. Enggan
berhadapan dengan lelaki yang ia rasa egois ini.
Rio membalikan badan Agni agar menghadapnya, namun Agni
menepisnya dengan kasar. Rio memaksa Agni berbalik lagi, namun Agni masih
menepisnya.
“aku kecewa sama kamu Io'... kamu harusnya tau, ini bukan
saat yang tepat, aku sayang Io' sama Mama”
Rio merengkuh Agni dalam pelukannya, ia mendekap Agni begitu
posesif dari belakang, “maaf... maaf... maaf” ia berbisik begitu mesenyal. Agni
brontak, tapi apa daya Agni? Rio lebih kuat darinya.
“maaf Agni... maaf... aku cuma... aku gak mau liat kamu
terpuruk kayak tadi”
“tapi bukan gitu caranya Io', dasar bodoh”umpat Agni dengan
air mata yang mulai turun, ia benar-benar takut, ia tak mau kehilangan wanita
yang sangat ia sayangi lagi, ia belum siap dan gak akan siap, cukup Mamanya
saja yang meninggalkan begitu cepat, jangan Zevana.
“Agni... Rio...”
Rio melepaskan dekapannya pada Agni kemudian kompak berbalik
pada Gabriel yang memanggilnya.
“Pa... Mama gimana?”tanya Agni, ia mendekati Gabriel
kemudian memeluknya.
Gabriel menatap Rio sekilas kemudian beralih pada Agni,
mengelus puncak kepala putrinya itu.
“Mama udah sadar, katanya mau ketemu kalian”ucap Gabriel
Agni melepaskan pelukannya, ia mengusap air matanya “iya”
***
Patton menggenggam erat
jemari Zevana, tak bisa di pungkiri bahwa ia benar-benar khawatir pada
istrinya, ia sangat menyayangi istrinya ini.
“jangan tertekan ya... jangan...”ucap Patton
Zevana tersenyum, “iya, tadi aku cuma shock aja kok”
“Ma...”Agni segera berlari ke arah Zevana lalu memeluknya
erat, “Mama gapapakan? Agni gak mau Mama sakit lagi”ujar Agni.
Zevana mengelus puncak kepala Agni, “gapapa kok sayang,
jangan nangis dong”ucap Zevana saat merasakan tubuh Agni bergetar.
“Agni takut... Agni sayang Mama”guman Agni, ia mengangkat
kepalanya mengusap air mata yang mulai menetes kembali.
“Mama juga sayang banget sama kamu, jadi gimana hubungan
kalian?”tanya Zevana pada Agni
Agni melirik Rio dengan gugup.
“jangan di pikirin dulu Ma”ucap Rio
“gak kok, Mama cuma mau kepastian aja... Mama udah cukup
kuat buat denger semuanya”ucap Zevana diiringi dengan senyumannya.
Rio menghela nafas, “kalau Mama gak keberatan... kita mau
pisah, itupun kalau gak keberatan ya...”
Zevana tersenyum, “iya, terserah kalian saja... oiya kalian
keluar dulu gih, Mama mau bicara bertiga”
Rio mengangguk, kemudian menarik Agni untuk keluar dari
ruangan itu.
Gabriel mendekati Zevana, “maaf ya Zev, anak gue masih
labil”
Zevana tersenyum, “gapapa El,”ia menghela nafas.
“jadi kamu udah relain mereka?”tanya Patton.
Zevana melihat ke arah Rio dan Agni yang terlihat sedang
berpelukan karena kentara banget dari kaca yang cukup besar di pintu masuk.
“aku harap, mereka tetap menikah...”
“kalau jodoh”lanjut Gabriel yang di angguki Zevana dan
Patton.
***
Rio menghela nafas lega, ia mengelus dadanya yang masih
berdetak kencang.
“Agni...”
Agni menatap Rio kemudian tersenyum, “apa?”
Rio memegang kedua bahu Agni, “kalaupun kita pisah, boleh
aku tetep jagain kamu? Mimpi itu... masih ada”Rio mendesah putus asa, “dan aku
juga udah janji sama Papa Gabriel dan orang tua aku buat jagain kamu terus”
Tangan kiri Agni mengelus pipi kanan Rio, sementara tangan
kanannya menelusuri lekuk wajahnya sampai turun di bibir, “bibir ini... apa
akan tetap semanis biasanya?” Agni menurunkan tangan kanannya hingga tepat di
dada Rio, “debaran ini... akankah tetap sama seperti saat kita bersama?”
Rio menarik Agni dalam pelukannya, “gak akan ada yang
berubah, dan aku rasa kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari Cakka,
laki-laki yang kamu sayangi”
Agni menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Rio, ia
mengangguk pelan, “kamu juga, Ify sayang banget sama kamu”
***
Pagi hari di sekolah di gemparkan dengan kedatangan Cakka,
Agni, Rio dan Ify secara bersamaan. Bagaimana tidak? Mereka berempat beberapa hari ini tidak datang kesekolah dan
menurut isu karena masalah percintaan mereka yang kacau balau.
“hai...”Agni mengibaskan tangannya di hadapan teman-temannya
yang menatap tak percaya.
“hello...”Ify melakukan hal sama.
“ehh... Ni, Fy”ucap Cindai dan Marsha dengan tergugup.
“kalian...”Rafli menunjuk keempatnya.
Rio mengangguk, “udah balik sama pasangan masing-masing,
haha”ucap Rio sambil merangkul Rafli kemudian duduk di samping pemuda itu.
Cakka merangkul pundak Agni, “kalo jodoh emang gak bakal
kemana”gumannya, sementara Agni hanya terkekeh menanggapinya.
“eh eh, Pak lintar tuh”tunjuk Marsha pada Lintar yang
berjalan cepat ke arah kelas mereka.
Semua yang ada di kelas itu duduk di kursi masing-masing,
“pagi anak-anak... bapak membawa kabar baik” Lintar menghela nafas, “liburan
nanti sekolah kita di undang satu sekolah di Bali untuk melakukan study
banding, untuk beberapa hari... kalian sanggup?”
“okeh Pak, sekalian liburan juga. Lumayankan berangkat
gratis ke Bali lagi”ucap Marsha yang di angguki teman-temannya.
***
Agni dan Cakka duduk di bangku taman favorit Agni, keduanya
tengah menikmati saat-saat mereka bersama setelah perjalanan panjang percintaan
mereka.
“aku seneng deh, aku rasa di Bali bakalan jadi awal kisah
kita Kka...”guman Agni sambil menerawang jauh.
Cakka mengangguk, ia menarik Agni agar bersandar di dadanya.
“maaf ya aku udah mau lepas kamu gitu aja, padahal aku tau
aku itu sebenernya berat banget”guman Cakka sambil mengelus puncak kepala Agni.
Agni tersenyum menanggapinya, “gapapa kok Kka, udah gak usah
di pikirin yang penting itu sekarang Kka, bukan kemarin atau dulu”
“iya”baru saja Cakka akan mengecup puncak kepala Agni sudah
terdengar seruan kencang untuk Cakka.
“CAKKA! Buru woy latihan!!!”teriak Ray
Cakka menaikan satu alisnya, “siapa elo ngatur-ngatur gue?”
“perkenalkan, Ray. Manager baru team basket loe!”Ray berkata
dengan tangan yang ia lipat di dada.
Cakka berdecak kesal, “yaudah Agni aku latian dulu ya”pamit
Cakka yang mendapat anggukan dari Agni. Sepeninggal Cakka Agni tersenyum
begitugeli melihat tingkah Cakka.
***
Marsha dan Rafli bertahan diam di kelas, keduanya hanya diam
tanpa ada niat buat berbicara. Hanya sesekali saling melirik dan tersenyum.
“jangan blok pikiran dong Sha”ucap Rafli
Marsha mengerutkan keningnya, “darimana kamu tau aku ngeblok
pikiran?”
Rafli menyeringai, “aku kan belajar baca pikiran sama tante
Gita”
Marsha memutar bola matanya, “buka aja sendiri kalo
bisa”ucapnya ketus.
“RAFLI”teriak Ray
Rafli menengok, “apaan sih? Ganggu loe!”
“latian!”ucap Ray
“kapan?”
“ya sekaranglah masa taun depan!”benak Ray lagi karena kesal
di tanya dengan pertanyaan konyol seperti itu.
“oh”respon Rafli yang membuat Ray melongos.
“aku latian dulu ya”pamit Rafli pada Marsha kemudian berlalu
mengikuti Ray setelah mendapat anggukan dari Marsha.
***
Rio dan Ify saling kejar dan merebut bola. Begitu dekat
dengan ring Rio melompat dan masuk.
“kok gak secepet biasa Fy?”tanya Rio
Ify mengangkat bahunya, “aku juga gak tau”ia duduk lesehan
di lapangan.
Rio ikut duduk di samping Ify, ia merapihkan poni gadis yang
sekarang sah menjadi kekasihnya itu. “maaf ya, gara-gara aku deh kayaknya...”
Ify tersenyum, “gak kok Io', bukan... ini salah aku yang
males”
Rio mengacak rambut Ify gemas, “aku akan berusaha jaga kamu
semampu aku Fy”
Ify tersenyum bahagia, meskipun ia tau yang kekasihnya
katakan itu bukan sebuah janji. Tapi ia merasa senang karena kebahagiaannya
yang dulu, kini kembali.
Dari arah lain Ray tersenyum, ia tak perlu repot-repot
menarik Rio ke lapangan karena pemuda itu sudah ada di lapangan.
Ia segera beranjak menjauh dengan perasaan lega, ia sempat
khawatir pada Ify melihat gadis ceria itu jadi pemurung. Ia memang sangat
peduli karena bagaimanapun juga Ify sahabatnya.
“di tempat ini awal kita ketemu, di tempat ini juga kita
bersatu lagi”bisik Rio yang membuat Ify tersenyum lagi. Ify rasa tidak ada lagi
kata-kata yang bisa menunjukan betapa bahagianya dirinya sekarang.
***
Sementara Bagas berada di ruangan kesenian bersama Cindai,
ia merasa sudah lama tak merangkai kebersamaan di ruangan ini. banyak sekali
kenangan mereka bersama musik.
“aku seneng Gas, pada akhirnya semuanya happy ending”guman
Cindai.
Bagas terkekeh, ia masih fokus dengan tuts tuts pianonya,
“belum tuh satu lagi...”
Cindai mengerutkan dahinya, “siapa?”
“BAGAS! Woy dimana loe?”teriak Ray.
“berisik loe! Alay banget tereak-tereak gitu”cibir Chelsea
yang memang ada di sofa dekat pintu ruangan itu.
Bagas dan Cindai berpandangan kemudian tertawa bersama
mendengar perdebatan kedua anak manusia yang tak bisa akur itu.
THE END
***
Epilog.
Semua siswa dan siswi AS SHS yang memiliki prestasi telah berada di Bali, study banding akan di
laksanakan esok hari.
Agni, Ify dan Zahra mendapat kamar yang sama, karena satu
kamar hanya bisa di tempati tiga orang. Sementara Marsha, Cindai bersama
Chelsea berada di kamar sebelahnya.
“jalan yuk, mumpung kita ngumpul-ngumpul”ajak Ify
“boleh, yuk”Agni berdiri, “Ra, ayo gak mau ikut?”
Zahra tersenyum, “kalo boleh sih mau”
Agni dan Ify terkekeh, “bolehlah, yuk”
.:.
Kini mereka sedang berada di pantai untuk menikmati udara
sore hari, semuanya bersama pasangan masing-masing kecuali Zahra yang memang
Dayat tidak ikut karena dia sudah kelas dua belas.
“gak usah galau lagi”guman seseorang di belakang Zahra.
Zahra berbalik, “kak Day”ia berhambur memeluk pemuda itu, ia
lega karea tidak akan kesepian lagi.
“main yuk”ajak Dayat yang di angguki oleh Zahra.
Dayat dan Zahra pun mengikuti yang lain ikut dalam permainan,
dari mulai selancar, paralayang, banana bots, dan semuanya mereka semua rambah.
Sementara Ray yang terus berjuang mendapatkan Chelsea,
kebetulan Chelsea ikut karena ingin menjaga Cindai. Kini mereka berdua duduk di
pinggir pantai.
“kenapa sih loe jutek terus sama gue?”tanya Ray dengan nada
datar.
Chelsea tersenyum masam. “emang kalo jutek masalah buat loe?”
“enggak sih”Ray diam sebentar, “gue suka cewek apa adanya,
ya kalo boleh jujur sih gue juga suka sama loe karena loe jutek”lanjut Ray
Chelsea, “jadi loe itu beneran suka sama gue?”
Ray berdecak, “yaiyalah...”
“jangan suka sama gue Ray...”ucap Chelsea kemudian berlalu
dari hadapan Ray, sementara Ray hanya menatapnya tanpa ada reaksi untuk
mengejar gadis itu.
Agni dan Cakka melakukan penerbangan paralayang berdua,
dalam parasut yang sama.
“bagus ya Kka? Kapan-kapan bawa kamera ya kalo mau
kesini”teriak Agni.
“iya, aku pernah berharap bisa photo pra-wedding di atas
sini lho Ni, romantis banget”balas Cakka dengan teriakan.
“semoga kita pra-wed ya Kka?”guman Agni, sementara Cakka
memanggapinya dengan senyuman yang meng amini.
.:.
Rio berjalan di sebuah lorong yang gelap gulita, ia menoleh
ke kanan, kiri dan belakang. Bingung, ia sebenarnya ada dimana sekarang?
“AAAAA”teriakan seorang
wanita yang nampak kesakitan yang
suksek membuat bulu kuduk Rio berdiri.
“ja..jangan... tolong”teriak wanita itu dengan nada yang ketakutan. Dengan
penasaran Rio mendekati sumber suara, ia berjalan perlahan.
Seketika badan Rio menengang, keringat dingin terasa
membanjiri tubuhnya.
“AGNIIIII....”teriak Rio, ia terduduk di atas pembaringan.
Mimpi itu lagi.
Rio mengatur nafasnya sementara Cakka dan Ray yang kebetulan
satu kamar panik mencari minuman untuk Rio.
“minum Yo”Cakka menyodorkan segelas minuman, Cakka
mengambilnya tanpa menengok ke arah Cakka. Ia masih menatap lurus kedepan. ‘Agni. Agni. Agni.’ Ia masih memikirkan
Agni.
“Agni”guman Rio kemudian keluar dari kamar itu segera
berlari ke kamar Agni yang jaraknya cukup jauh.
Begitu sampai, ia mengetuk pintu dengan tenang. Ia tak mau
orang lain terbagun karena menggedor pintu kamar seseorang.
Ify keluar dengan sesekali menguap, “apa Io'? ini masih
pagi”Ify merapihkan rambutnya tanpa minat.
“Agni?”Rio memasuki kamar itu tanpa permisi.
“ke..kemana?”lanjut Rio begitu mendapati Agni tak ada di
kamar itu.
Rio segera keluar dari kamar itu, hingga menabrak Cakka yang
berada di depan pintu dan terlihat bingung dengan sikap Rio.
Rio berlari dengan kalut mencari Agni mengitari
penginapannya, begitu sampau di halaman depan yang menghadap laut ia dapat
melihat seorang gadis berbalut baju tidur berwarna hijau.
“Agni”panggil Rio, gadis itu berbalik.
“Io'? ngapain...” ucap Agni tercekat saat Rio begitu saja memeluk Agni begitu
erat.
Agni membalas pelukan Rio yang tubuhnya begitu lengket
dengan keringat dingin.
“ada apa?”tanya Agni
“jangan... jangan pergi sendiri... aku takut”guman Rio masih
memeluk Agni.
Agni mengangguk lemah, tak jauh dari tempat itu ia melihat Ify
dan Cakka menatapnya “Io'... ada...” namun Ify menyimpan telunjuknya dibibirnya
sendiri tak membiarkan Agni bersuara.
Rio mengendurkan pelukannya, “maaf...”ucap Rio kemudian
melepaskan pelukan itu dengan sempurna.
Cakka menepuk pundak Rio. Rio berbalik, “Kka...”
“tenang aja Yo, gue pasti jaga Agni”ucap Cakka penuh
keyakinan.
Rio tersenyum, ia mengangguk kemudian menghampiri Ify dan
memeluk gadis itu.
“maaf...”
Agni tersenyum melihat pemandangan itu, “makasih Kka...” Agni
menyandarkan kepalanya di bahu Cakka. Sementara Cakka memeluk pinggang Agni,
mengelusnya lembut.
***
Udahan.... sekuel? Komentar
harus lebih dari 60.
Terimakasih udah mau
pada baca ya? saya harap tetep tinggalin jejaknya.
Mohon maaf apa bila
karya aku ini tidak berkenan di hati kalian. Maaf banget.
Selamat berjumpa lagi
di karya aku yang lain :D
sippp,,, cerita,ny bagus..... bagaimanapun alur,nya, tapi end,nya tetep CAGNI... :D
ReplyDelete