Thursday, 9 May 2013

Cowok itu... #23


“Apa?!”

Gabriel mengangguk, “mereka pacaran beberapa jam setelah Agni dan Rio tunangan”

Sivia tersenyum getir, “tapi... tapi itu gak bakalan rubah impian kita kan El?”tamya Sivia dengan suara yang mulai bergetar.

Gabriel menghela nafas panjang, “aku rasa kita akan di satukan menjadi keluarga dalam bentuk lain Vi, maaf... bukannya aku mau hancurin impian kita, tapi aku gak bisa liat Agni sedih gitu”

“tapi... El”mata Sivia mulai berkaca-kaca.

“maaf Vi, aku rasa kita itu masa lalu dan mereka itu masa depan, aku gak mau mereka rasain apa yang dulu aku rasain... kita akan tetap menjadi keluarga Vi, walau dalam bentuk lain”Gabriel berkata begitu lirih pada Sivia.

Sivia menyeka air matanya, kemudian tersenyum “kalau itu membuat Cakka juga bahagia... aku rela”

Gabriel tersenyum kemudian menarik Sivia dalam pelukannya, “makasih Vi, kita akan bahagia jika melihat kedepan”

Sivia semakin bergetar dalam pelukan Gabriel, sehingga ia hanya mampu mengangguk menjawab ucapan Gabriel tersebut.

***

Rio menghela nafas dengan berat, dengan ragu ia membuka ruangan dimana Zevana di rawat.
“Rio...”sapa Zevana yang sedang di suapi oleh Patton. Rio hanya tersenyum menanggapinya, kemudian berjalan ke sisi lain tempat tidur Zevana.

Zevana menarik Rio, memeluk putranya itu “kamu ada apa sayang? Kenapa kamu kayak orang ling-lung gitu?”

Rio menjauhkan diri dari Zevana, “Ma, Pa... sebelumnya Rio minta maaf... Rio...” Rio menundukan kepalanya, dengan sesekali masih menghela nafas seakan penuh beban.

“ada apa Io'?”tanya Patton sambil menatap anak sulungnya penuh tanya.

“kalain harus janji gak bakalan cerai ya? Ma... Pa...”Rio menatap keduanya dengan tatapan memohon.

Zevana mengerutkan dahinya, “sebenarnya ada apa Io'? pasti menyangkut Agni, iya kan?”

Rio mengusap wajahnya frustasi, “Rio sama Agni mau pisah Ma, Pa... kalaupun kita di terusin pasti gak akan cocok, kita bener-bener beda prinsip dan...”

“beda prinsip itu bukannya biasa ya? dimana di dunia ini ada yang memiliki prinsip yang sama? Meskipun ada tetep aja wataknya pasti berbeda”guman Patton sambil menyupai Zevana.

“Pa... bukan gitu, sekarang Rio sama Agni punya kehidupan masing-masing, kebahagiaan masing-masing yang gak mungkin kita dapet kalau kita bareng terus”jelas Rio dengan nada yang lemah.

Patton menyipitkan matanya, “jangan bilang kamu punya gadis lain dan akan mencampakan Agni begitu saja! Begitu Rio?”tanya Patton dengan begitu tegas.

Rio menghela nafas, “bukan Pa, sebenernya sebelum tunangan sama Rio Agni itu punya pacar, dan sekarang mereka terancam pisah cuma gara-gara Rio”
“tapi Rio bakalan tetep jagain Agni kok Ma, Pa... Rio juga udah janji sama Papa Gabriel, dan kalaupun Rio sama Agni pisah, Agni akan tetep jadi anak kalian... Agni sayang banget sama Mama, Ma...”lanjut Rio sebelum ada kesalah fahaman.

“argh”erang Zevana dengan memegangi perutnya, ia memejamkan matanya menahan sakit.

“Mama... Ma”Rio segera menatap Mamanya begitu dekat, dengan tangan kanan mengelus puncak kepala Zevana dan tangan kiri mengelus perut Zevana.
“Mama... maafin Rio”ujar Rio lirih kemudian Dokter dan beberapa suster segera datang setelah Patton memanggilnya karena alarm di kamar itu kebetulan rusak.

“Mas, silahkan menunggu di luar”ucap suster itu.

“tapi sus...”

“ibu anda tidak akan apa-apa, silahkan tunggu di luar”ucap suster itu lagi.

Rio menatap Zevana sekilas, ia kemudian berjalan cepat ke luar ruangan.
“Pa...”

Patton diam, dia menundukkan kepalanya dengan tangan mencengkram rambutnya.
“Pa...” Rio duduk di samping Patton, ia menepuk pundaknya pelan.
“maaf...”

“Papa, Rio... “Agni berjalan ke arah Patton dan Rio di iringi Gabriel di belakangnya. “ada apa? Mama... kenapa?”

Rio menatap Agni dengan pandangan sayu, “Mama...”Rio mendesah “aku gak tau”ia beranjak dari tempat itu, ia perlu menenangkan diri.

Gabriel menepuk pundak Agni, “kejar dia”

Agni mengangguk mantap, ia mengejar Rio yang mulai menghilang di tikungan koridor.

***

Sivia memasuki rumahnya dengan lesu, ia kini berada tepat di depan kamar Cakka. Sivia menghela nafas panjang, namun sebelum ia memutuskan untuk mengetuk pintu ia mendengar percakapan Cakka dengan seseorang,

“apapun Fy, lakuin apapun supaya gue bisa sayang dan cinta sama loe... gue juga bakalan berusaha buat loe lupain Rio...”
“makasih Fy, seenggaknya loe udah berusaha buat gue lepas dari Agni. Makasih ya?”
“iya sama-sama, yaudah kamu tidur gih udah malem ginikan?”
“bye”

Sivia memejamkan matanya, ia tak habis pikir kalau putranya juga mengorbankan perasaannya cuma demi impiannya dulu. Ia membuka kamar Cakka perlahan.
“Mama...”ucap Cakka agak kaget, ia bangkit dari tidurannya.

Sivia tersenyum pada Cakka, ia duduk di hadapan Cakka.
“boleh Mama tau sesuatu Kka?”

Cakka memandang Sivia dengan aneh, “apa Ma?”

Sivia merapihkan rambut Cakka, “sejauh mana kamu sama Agni?”

Cakka terdiam, wajahnya mulai tegang dan pucat.
“A...Ag...ni?”

Sivia mengangguk, ia terkekeh melihat ekspresi putranya, “Oom Gabriel cerita sama Mama kalau ternyata kalian beneran pacaran”

Cakka menatap Sivia begitu kaget, ‘bagaimana Oom Gabriel bisa tau? Siapa yang memberitaunya? Apa mungkin... Rio’ Cakka menggelengkan kepalanya. ‘gak gak mungkin’

“tunangannya Agni bongkar semuanya sama Oom Gabriel”ucap Sivia melihat kebingungan putranya.

Cakka tersentak, “Rio?”tanya Cakka meyakinkan.

Sivia mengangguk, “Mama salut sama dia, rela lepasin Agni padahal rencananya mereka bakalan menikah tahun depan, malahan dia akan ikut akselerasi demi melancarkan itu”

“apa? Me...menikah?”

Sivia terkekeh, “kamu kenapa sih sayang kok kaget-kaget gitu nanggapinya? Santai aja lagi”ucap Sivia yang membuat Cakka tersenyum getir.
“lagian Cakka udah punya Ify kan Ma”

“No! Sayang... kamu jangan mempermainkan dia, bilang sama dia kesepakatan kalian batal” Sivia menyentil hidung Cakka gemas.

“kenapa?” Cakka memasang wajah bingungnya, ia merasa sulit mencerna ucapan-ucapan Mamanya ini.

“Mama tidak jadi menikah dengan Oom Gabriel”bisik Sivia.

***

Agni menatap tajam Rio begitu mendengar kronologis penyebab Zevana kesakitan kembali.
“kenapa kamu sebodoh ini sih? Otak kamu dimana sih?”tanya Agni dengan begitu tajam, ia memalingkan wajahnya melihat ke arah lain. Enggan berhadapan dengan lelaki yang ia rasa egois ini.

Rio membalikan badan Agni agar menghadapnya, namun Agni menepisnya dengan kasar. Rio memaksa Agni berbalik lagi, namun Agni masih menepisnya.
“aku kecewa sama kamu Io'... kamu harusnya tau, ini bukan saat yang tepat, aku sayang Io' sama Mama”

Rio merengkuh Agni dalam pelukannya, ia mendekap Agni begitu posesif dari belakang, “maaf... maaf... maaf” ia berbisik begitu mesenyal. Agni brontak, tapi apa daya Agni? Rio lebih kuat darinya.
“maaf Agni... maaf... aku cuma... aku gak mau liat kamu terpuruk kayak tadi”

“tapi bukan gitu caranya Io', dasar bodoh”umpat Agni dengan air mata yang mulai turun, ia benar-benar takut, ia tak mau kehilangan wanita yang sangat ia sayangi lagi, ia belum siap dan gak akan siap, cukup Mamanya saja yang meninggalkan begitu cepat, jangan Zevana.

“Agni... Rio...”

Rio melepaskan dekapannya pada Agni kemudian kompak berbalik pada Gabriel yang memanggilnya.
“Pa... Mama gimana?”tanya Agni, ia mendekati Gabriel kemudian memeluknya.

Gabriel menatap Rio sekilas kemudian beralih pada Agni, mengelus puncak kepala putrinya itu.
“Mama udah sadar, katanya mau ketemu kalian”ucap Gabriel

Agni melepaskan pelukannya, ia mengusap air matanya “iya”

***

Patton menggenggam erat  jemari Zevana, tak bisa di pungkiri bahwa ia benar-benar khawatir pada istrinya, ia sangat menyayangi istrinya ini.
“jangan tertekan ya... jangan...”ucap Patton

Zevana tersenyum, “iya, tadi aku cuma shock aja kok”

“Ma...”Agni segera berlari ke arah Zevana lalu memeluknya erat, “Mama gapapakan? Agni gak mau Mama sakit lagi”ujar Agni.

Zevana mengelus puncak kepala Agni, “gapapa kok sayang, jangan nangis dong”ucap Zevana saat merasakan tubuh Agni bergetar.

“Agni takut... Agni sayang Mama”guman Agni, ia mengangkat kepalanya mengusap air mata yang mulai menetes kembali.

“Mama juga sayang banget sama kamu, jadi gimana hubungan kalian?”tanya Zevana pada Agni

Agni melirik Rio dengan gugup.
“jangan di pikirin dulu Ma”ucap Rio

“gak kok, Mama cuma mau kepastian aja... Mama udah cukup kuat buat denger semuanya”ucap Zevana diiringi dengan senyumannya.

Rio menghela nafas, “kalau Mama gak keberatan... kita mau pisah, itupun kalau gak keberatan ya...”

Zevana tersenyum, “iya, terserah kalian saja... oiya kalian keluar dulu gih, Mama mau bicara bertiga”

Rio mengangguk, kemudian menarik Agni untuk keluar dari ruangan itu.

Gabriel mendekati Zevana, “maaf ya Zev, anak gue masih labil”

Zevana tersenyum, “gapapa El,”ia menghela nafas.

“jadi kamu udah relain mereka?”tanya Patton.

Zevana melihat ke arah Rio dan Agni yang terlihat sedang berpelukan karena kentara banget dari kaca yang cukup besar di pintu masuk.
“aku harap, mereka tetap menikah...”

“kalau jodoh”lanjut Gabriel yang di angguki Zevana dan Patton.

***

Rio menghela nafas lega, ia mengelus dadanya yang masih berdetak kencang.
“Agni...”

Agni menatap Rio kemudian tersenyum, “apa?”

Rio memegang kedua bahu Agni, “kalaupun kita pisah, boleh aku tetep jagain kamu? Mimpi itu... masih ada”Rio mendesah putus asa, “dan aku juga udah janji sama Papa Gabriel dan orang tua aku buat  jagain kamu terus”

Tangan kiri Agni mengelus pipi kanan Rio, sementara tangan kanannya menelusuri lekuk wajahnya sampai turun di bibir, “bibir ini... apa akan tetap semanis biasanya?” Agni menurunkan tangan kanannya hingga tepat di dada Rio, “debaran ini... akankah tetap sama seperti saat kita bersama?”

Rio menarik Agni dalam pelukannya, “gak akan ada yang berubah, dan aku rasa kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari Cakka, laki-laki yang kamu sayangi”

Agni menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Rio, ia mengangguk pelan, “kamu juga, Ify sayang banget sama kamu”

***

Pagi hari di sekolah di gemparkan dengan kedatangan Cakka, Agni, Rio dan Ify secara bersamaan. Bagaimana tidak? Mereka berempat  beberapa hari ini tidak datang kesekolah dan menurut isu karena masalah percintaan mereka yang kacau balau.
“hai...”Agni mengibaskan tangannya di hadapan teman-temannya yang menatap tak percaya.
“hello...”Ify melakukan hal sama.

“ehh... Ni, Fy”ucap Cindai dan Marsha dengan tergugup.
“kalian...”Rafli menunjuk keempatnya.

Rio mengangguk, “udah balik sama pasangan masing-masing, haha”ucap Rio sambil merangkul Rafli kemudian duduk di samping pemuda itu.

Cakka merangkul pundak Agni, “kalo jodoh emang gak bakal kemana”gumannya, sementara Agni hanya terkekeh menanggapinya.

“eh eh, Pak lintar tuh”tunjuk Marsha pada Lintar yang berjalan cepat ke arah kelas mereka.

Semua yang ada di kelas itu duduk di kursi masing-masing, “pagi anak-anak... bapak membawa kabar baik” Lintar menghela nafas, “liburan nanti sekolah kita di undang satu sekolah di Bali untuk melakukan study banding, untuk beberapa hari... kalian sanggup?”

“okeh Pak, sekalian liburan juga. Lumayankan berangkat gratis ke Bali lagi”ucap Marsha yang di angguki teman-temannya.

***

Agni dan Cakka duduk di bangku taman favorit Agni, keduanya tengah menikmati saat-saat mereka bersama setelah perjalanan panjang percintaan mereka.
“aku seneng deh, aku rasa di Bali bakalan jadi awal kisah kita Kka...”guman Agni sambil menerawang jauh.

Cakka mengangguk, ia menarik Agni agar bersandar di dadanya.
“maaf ya aku udah mau lepas kamu gitu aja, padahal aku tau aku itu sebenernya berat banget”guman Cakka sambil mengelus puncak kepala Agni.

Agni tersenyum menanggapinya, “gapapa kok Kka, udah gak usah di pikirin yang penting itu sekarang Kka, bukan kemarin atau dulu”

“iya”baru saja Cakka akan mengecup puncak kepala Agni sudah terdengar seruan kencang untuk Cakka.

“CAKKA! Buru woy latihan!!!”teriak Ray

Cakka menaikan satu alisnya, “siapa elo ngatur-ngatur gue?”

“perkenalkan, Ray. Manager baru team basket loe!”Ray berkata dengan tangan yang ia lipat di dada.

Cakka berdecak kesal, “yaudah Agni aku latian dulu ya”pamit Cakka yang mendapat anggukan dari Agni. Sepeninggal Cakka Agni tersenyum begitugeli melihat tingkah Cakka.

***

Marsha dan Rafli bertahan diam di kelas, keduanya hanya diam tanpa ada niat buat berbicara. Hanya sesekali saling melirik dan tersenyum.
“jangan blok pikiran dong Sha”ucap Rafli

Marsha mengerutkan keningnya, “darimana kamu tau aku ngeblok pikiran?”

Rafli menyeringai, “aku kan belajar baca pikiran sama tante Gita”

Marsha memutar bola matanya, “buka aja sendiri kalo bisa”ucapnya ketus.

“RAFLI”teriak Ray

Rafli menengok, “apaan sih? Ganggu loe!”

“latian!”ucap Ray

“kapan?”

“ya sekaranglah masa taun depan!”benak Ray lagi karena kesal di tanya dengan pertanyaan konyol seperti itu.

“oh”respon Rafli yang membuat Ray melongos.
“aku latian dulu ya”pamit Rafli pada Marsha kemudian berlalu mengikuti Ray setelah mendapat anggukan dari Marsha.

***

Rio dan Ify saling kejar dan merebut bola. Begitu dekat dengan ring Rio melompat dan masuk.
“kok gak secepet biasa Fy?”tanya Rio

Ify mengangkat bahunya, “aku juga gak tau”ia duduk lesehan di lapangan.

Rio ikut duduk di samping Ify, ia merapihkan poni gadis yang sekarang sah menjadi kekasihnya itu. “maaf ya, gara-gara aku deh kayaknya...”

Ify tersenyum, “gak kok Io', bukan... ini salah aku yang males”

Rio mengacak rambut Ify gemas, “aku akan berusaha jaga kamu semampu aku Fy”

Ify tersenyum bahagia, meskipun ia tau yang kekasihnya katakan itu bukan sebuah janji. Tapi ia merasa senang karena kebahagiaannya yang dulu, kini kembali.

Dari arah lain Ray tersenyum, ia tak perlu repot-repot menarik Rio ke lapangan karena pemuda itu sudah ada di lapangan.
Ia segera beranjak menjauh dengan perasaan lega, ia sempat khawatir pada Ify melihat gadis ceria itu jadi pemurung. Ia memang sangat peduli karena bagaimanapun juga Ify sahabatnya.

“di tempat ini awal kita ketemu, di tempat ini juga kita bersatu lagi”bisik Rio yang membuat Ify tersenyum lagi. Ify rasa tidak ada lagi kata-kata yang bisa menunjukan betapa bahagianya dirinya sekarang.

***

Sementara Bagas berada di ruangan kesenian bersama Cindai, ia merasa sudah lama tak merangkai kebersamaan di ruangan ini. banyak sekali kenangan mereka bersama musik.
“aku seneng Gas, pada akhirnya semuanya happy ending”guman Cindai.

Bagas terkekeh, ia masih fokus dengan tuts tuts pianonya, “belum tuh satu lagi...”

Cindai mengerutkan dahinya, “siapa?”

“BAGAS! Woy dimana loe?”teriak Ray.
“berisik loe! Alay banget tereak-tereak gitu”cibir Chelsea yang memang ada di sofa dekat pintu ruangan itu.

Bagas dan Cindai berpandangan kemudian tertawa bersama mendengar perdebatan kedua anak manusia yang tak bisa akur itu.

THE END

***

Epilog.

Semua siswa dan siswi AS SHS yang memiliki prestasi  telah berada di Bali, study banding akan di laksanakan esok hari.
Agni, Ify dan Zahra mendapat kamar yang sama, karena satu kamar hanya bisa di tempati tiga orang. Sementara Marsha, Cindai bersama Chelsea berada di kamar sebelahnya.
“jalan yuk, mumpung kita ngumpul-ngumpul”ajak Ify

“boleh, yuk”Agni berdiri, “Ra, ayo gak mau ikut?”

Zahra tersenyum, “kalo boleh sih mau”

Agni dan Ify terkekeh, “bolehlah, yuk”

.:.

Kini mereka sedang berada di pantai untuk menikmati udara sore hari, semuanya bersama pasangan masing-masing kecuali Zahra yang memang Dayat tidak ikut karena dia sudah kelas dua belas.
“gak usah galau lagi”guman seseorang di belakang Zahra.

Zahra berbalik, “kak Day”ia berhambur memeluk pemuda itu, ia lega karea tidak akan kesepian lagi.

“main yuk”ajak Dayat yang di angguki oleh Zahra.

Dayat dan Zahra pun mengikuti yang lain ikut dalam permainan, dari mulai selancar, paralayang, banana bots, dan semuanya mereka semua rambah.

Sementara Ray yang terus berjuang mendapatkan Chelsea, kebetulan Chelsea ikut karena ingin menjaga Cindai. Kini mereka berdua duduk di pinggir pantai.
“kenapa sih loe jutek terus sama gue?”tanya Ray dengan nada datar.

Chelsea tersenyum masam. “emang kalo jutek masalah buat loe?”

“enggak sih”Ray diam sebentar, “gue suka cewek apa adanya, ya kalo boleh jujur sih gue juga suka sama loe karena loe jutek”lanjut Ray

Chelsea, “jadi loe itu beneran suka sama gue?”

Ray berdecak, “yaiyalah...”

“jangan suka sama gue Ray...”ucap Chelsea kemudian berlalu dari hadapan Ray, sementara Ray hanya menatapnya tanpa ada reaksi untuk mengejar gadis itu.


Agni dan Cakka melakukan penerbangan paralayang berdua, dalam parasut yang sama.
“bagus ya Kka? Kapan-kapan bawa kamera ya kalo mau kesini”teriak Agni.

“iya, aku pernah berharap bisa photo pra-wedding di atas sini lho Ni, romantis banget”balas Cakka dengan teriakan.

“semoga kita pra-wed ya Kka?”guman Agni, sementara Cakka memanggapinya dengan senyuman yang meng amini.

.:.

Rio berjalan di sebuah lorong yang gelap gulita, ia menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Bingung, ia sebenarnya ada dimana sekarang?

“AAAAA”teriakan seorang  wanita  yang nampak kesakitan yang suksek membuat bulu kuduk Rio berdiri.

“ja..jangan... tolong”teriak wanita  itu dengan nada yang ketakutan. Dengan penasaran Rio mendekati sumber suara, ia berjalan perlahan.
Seketika badan Rio menengang, keringat dingin terasa membanjiri tubuhnya.

“AGNIIIII....”teriak Rio, ia terduduk di atas pembaringan. Mimpi itu lagi.
Rio mengatur nafasnya sementara Cakka dan Ray yang kebetulan satu kamar panik mencari minuman untuk Rio.

“minum Yo”Cakka menyodorkan segelas minuman, Cakka mengambilnya tanpa menengok ke arah Cakka. Ia masih menatap lurus kedepan. ‘Agni. Agni. Agni.’ Ia masih memikirkan Agni.

“Agni”guman Rio kemudian keluar dari kamar itu segera berlari ke kamar Agni yang jaraknya cukup jauh.

Begitu sampai, ia mengetuk pintu dengan tenang. Ia tak mau orang lain terbagun karena menggedor pintu kamar seseorang.
Ify keluar dengan sesekali menguap, “apa Io'? ini masih pagi”Ify merapihkan rambutnya tanpa minat.

“Agni?”Rio memasuki kamar itu tanpa permisi.
“ke..kemana?”lanjut Rio begitu mendapati Agni tak ada di kamar itu.
Rio segera keluar dari kamar itu, hingga menabrak Cakka yang berada di depan pintu dan terlihat bingung dengan sikap Rio.

Rio berlari dengan kalut mencari Agni mengitari penginapannya, begitu sampau di halaman depan yang menghadap laut ia dapat melihat seorang gadis berbalut baju tidur berwarna hijau.
“Agni”panggil Rio, gadis itu berbalik.
“Io'? ngapain...” ucap Agni tercekat  saat Rio begitu saja memeluk Agni begitu erat.

Agni membalas pelukan Rio yang tubuhnya begitu lengket dengan keringat dingin.
“ada apa?”tanya Agni

“jangan... jangan pergi sendiri... aku takut”guman Rio masih memeluk Agni.

Agni mengangguk lemah, tak jauh dari tempat itu ia melihat Ify dan Cakka menatapnya “Io'... ada...” namun Ify menyimpan telunjuknya dibibirnya sendiri tak membiarkan Agni bersuara.

Rio mengendurkan pelukannya, “maaf...”ucap Rio kemudian melepaskan pelukan itu dengan sempurna.
Cakka menepuk pundak Rio. Rio berbalik, “Kka...”
“tenang aja Yo, gue pasti jaga Agni”ucap Cakka penuh keyakinan.

Rio tersenyum, ia mengangguk kemudian menghampiri Ify dan memeluk gadis itu.
“maaf...”

Agni tersenyum melihat pemandangan itu, “makasih Kka...” Agni menyandarkan kepalanya di bahu Cakka. Sementara Cakka memeluk pinggang Agni, mengelusnya lembut.

***

Udahan.... sekuel? Komentar harus lebih dari 60.

Terimakasih udah mau pada baca ya? saya harap tetep tinggalin jejaknya.
Mohon maaf apa bila karya aku ini tidak berkenan di hati kalian. Maaf banget.

Selamat berjumpa lagi di karya aku yang lain :D

1 comment:

  1. sippp,,, cerita,ny bagus..... bagaimanapun alur,nya, tapi end,nya tetep CAGNI... :D

    ReplyDelete