Wednesday, 8 May 2013

Cowok itu... #22


Agni membukakan matanya perlahan, beberapa bagian tubuhnya terasa sakit akibat ulah kasar Rio. Ia mengerang tertahan kemudian meraih jubah tidur yang tergantung dekat tempat tidurnya, setelah itu memakainya dengan sempurna.
“argh”erang Agni lagi ketika sedang berusaha mengikat rambutnya yang sudah awut-awutan, bahunya terasa begitu pegal.
Agni meraih ponselnya.
“Kka...”panggil Agni dengan suara tertahan karena meringis kembali.

“Agni? Kamu gapapa?”tanya Cakka begitu panik.

“enggak Kka, tapi Rio...”

Cakka menghela nafas panjang, “aku udah cari tau siapa yang masukin obat itu dalam minuman Rio, dan itu adalah Alvin, dia sengaja mau buat kalian nyatu dan kita pisah Ni, semalam aku udah kasih tau Papa tentang itu dan Papa akan kirim Alvin ke Wina, Austria”

Agni menghela nafas lega, “syukurlah, makasih ya Kka udah bantu aku...”

“iya sayang, urwell...”

“kalo gitu udah dulu ya Kka? Bye”

“bye”

***

Rio menelungkupkan badannya di atas tempat tidur yang sudah tak beraturan itu, bantal, guling dan selimut berserakan sementara Rio tidur telanjang dada. Nafasnya terlihat sudah teratur.
Agni mendudukan dirinya di ranjang itu, mengelus kepala Rio.
“bangun Io'”ucap Agni, namun tak ada respon berarti dari Rio.
Agni mendekatkan diri pada Rio, “Rio bangun”bisik Agni sambil mengguncang punggung Rio.

Rio mulai menggeliat, ia membalikan tubuhnya menghadap Agni “Agni...”Rio menatap Agni dengan khawatir, “kamu gapapa? Maaf...”ujar Rio dengan suara seraknya, mungkin efeknya masih tersisa.

Agni menggeleng, ia turun dari ranjang itu meraih remot kontrol untuk pendingin di kamar Rio.
“apa kamu gak kedinginan Io'? ini dingin banget lho”ucap Agni, tak ingin membahas apapun lagi tentang kejadian malam tadi. Baginya itu hanya masa lalu.

Rio mendudukan dirinya, “dingin? Yang ada kepanasan”rutuk Rio, ia meraih jubah tidurnya. Berdua di kamar tanpa mengenakan atasan membuatnya merasa aneh kembali.

Agni bergumam, “aku udah siapin air dingin buat kamu di bathtub, mandi gih siapa tau kamu lebih tenang”ucap Agni sambil merapihkan kamar Rio.

Rio beranjak meninggalkan Agni menuju kamar mandinya.
Agni tersenyum kecil begitu Rio meninggalkannya, ia senang Rio benar-benar menjaganya, tidak membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya, tidak mengijinkan seseorang menyentuhnya, bahkan Rio sendiripun tidak pernah menyentuhnya ‘lebih’.
Ponsel Agni berdering, ia pun segera meraih ponsel itu.
“iya Pa...”

“kamu dimana Agni? Kenapa gak pulang?”

“Agni di rumah Rio Pa, semalam Rio sakit. Papa tenang aja, Rio jagain Agni kok. Rio gak ngapa-ngapain Agni”

Gabriel menghela nafas, “syukurlah, Papa gak mau kamu melakukan sesuatu dengan Rio, walaupun kalian sudah bertunangan”

Agni terkekeh, “iya Pa, Agni tau kok. Rio juga gak mungkin melakukan itu”

“baguslah, yaudah cepet pulang ada yang harus di bicarakan”

“iya Pa, sekitar jam sembilan deh ya? Agni mau liat Mama dulu”

“yaudah, bye”

“bye”

“siapa Ni? Papa ya?”tanya Rio begitu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang ada di kepalanya.

Agni berbalik kemudian tersenyum “iya, katanya aku harus cepet-cepet pulang”

Rio membuka lemarinya, mengambil kaus dan celana jeans pendeknya. “yaudah, kamu mandi gih gak enak banget liatnya...”

Agni mengangguk kemudian keluar menuju kamarnya yang semalam ia tempati.
Rio merentangkan kembali tubuhnya di tempat tidur, ‘masih gak enak. sialan’ umpat Rio.

***

Cakka menghela nafas panjang sebelum menghadapi Mamanya.
“pagi Cakka?”sapa Sivia

“pagi”jawab Cakka dengan nada datar, ia duduk di meja makan tanpa minat.
Difa yang duduk di sampingnyapun terlihat tak berbeda jauh dengan ke adaannya. Murung dan tidak bersemangat.
“Ma...”

“iya Kka... ada apa?”tanya Sivia sambil menikmati sarapanya.

“apa Mama yakin mau nikah sama Oom Gabriel?”tanya Cakka dengan begitu lirih.

Sivia terkekeh,  “tentu saja Cakka, ini impian Mama sebelum nikah sama Papa kamu...”

“kalau Cakka sama Difa gak setuju, apa Mama tetep mau maksa?”

Sivia menghela nafas, “emang kalian gak setuju?”

“Difa jelas gak setuju Ma, semalam diakan udah bilang... kalau Cakka... Cakka gak tau”ia meneguk segelas minumannya kemudian berlalu, melihat Sivia begitu bahagia entah kenapa malah membuatnya jatuh pada kesakitan, hatinya benar-benar berontak menerima kanyataan itu.

“mau kamana Kka?”tanya Sivia, khawatir dengan putranya itu. Namun Cakka tak menyahut, ia berlalu dari kediamannya itu dengan hati yang bergemuruh.

***

Ify tengah menyantap sarapannya bersama kedua orang tuanya, Shilla dan Debo.
“kamu kenapa Fy? Kok Papa perhatiin kamu gak ada semangat gitu?”tanya Debo di sela-sela sarapannya.

Ify  tersenyum tipis, “gapapa Pa, cuma lagi bete aja”

Shilla tersenyum geli melihatnya, ini kali pertamanya Ify bete dengan memasang wajah muram di depan Papanya, pasti hal yang membuatnya bete itu sangat mengesalkan.
“siapa yang namu pagi-pagi gini?”tanya Shilla begitu mendengar suara bel rumahnya berbunyi, ia segera berdiri dan beranjak menuju pintu.

“pagi tante...”

“hai... kamu anaknya Sivia kan? Cakka?”tanya Shilla saat melihat Cakka yang berada di depan pintu rumahnya.

Cakka mengangguk, “iya tante, Ify nya ada? Kalau tidak keberatan Cakka mau ngajak Ify pergi”

“tentu tidak Cakka, yuk masuk dulu. Biar tante panggilin Ify nya dulu”Shilla membeli jalan untuk Cakka memasuki kediamannya.
“silahkan duduk”

“terimakasih tante”ucap Cakka, Shilla terlihat menjauh untuk memanggilkan Ify.

“Ify, ada Cakka di depan mau ngajak pergi katanya”ucap Shilla

“uhuk...”Ify menatap Shilla tidak yakin.

Shilla terkekeh melihat ekspresi anaknya, “gak usah kaget gitu, sana liat kayaknya ada hal penting tuh”

Ify mengangguk kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“anak kita sudah besar ya Ma? Padahal Papa rasa baru kemaren nemenin kamu melahirkan”ucap Debo sambil memandangi Ify yang menjauh.

Shilla terkekeh, “berasa muda ya Pa? Padahal udah tua lho”

Keduanya tersenyum bersama melihat kenyataan bahwa mereka sudah hampir setengah abad.

***

“Fy”ucap Cakka memecah keheningan, keduanya kini berada di taman kota. Ify menjawab dengan bergumam kecil.
“loe tau sesuatu tentang kehidupan masalalu nyokap gue?”

Ify nampak berpikir kemudian mengangguk pelan, “kenapa emangnya?”ia menatap Cakka dengan pandangan penuh tanya.

“nyokap gue sama bokap Agni mau nikah dan itu karena mereka udah merancang impiannya sebelum nyokap gue nikah sama bokap gue, jadi mereka ada kemungkinan mantan pacar. Apa asumsi itu bener?”

Ify menghela nafas panjang, “kayaknya posisi kita semakin sulit ya Kka? Yang gue tau, tante Sivia itu di jodohin padahal pacarnya udah mau ngelamar dia. Begitu tau tante Sivia menikah, mantannya itu menghilang seakan di telan bumi, menurut nyokap gue sampe sekarang gak ada kabar apa udah menikah? Atau belumnya... itu yang gue tau”

“Fy boleh gue minta tolong?”ucap Cakka penuh dengan keputus asaan.

“apa?”

“tanya sama nyokap loe apa mantan nyokap gue namanya Gabriel?”

Ify mengangguk ia meraih ponselnya,
“hallo Ma”

“iya, ada apa Fy?”

“Ify mau tanya, apa mantannya tante Sivia bernama Gabriel?”

“darimana kamu tau Fy?”

“jawabannya iyakan Ma? Yaudah makasih”

Ify menutup sambungan telepon dengan  Shilla, setelah itu menatap Cakka.
“iya Kka... bener”

Cakka tertunduk, apa yang harus ia lakukan? Membahagiakan Mamanya dengan membiarkan menikah dengan Gabriel atau ia harus egois mengejar kebahagiaannya? Cakka harus menegaskan, mereka hanya masa lalu.

***

Marsha, Cindai, Chelsea, Zahra bersama Rafli, Bagas, dan Ray sedang berkumpul di kantin sekolahnya.
“ayolah Chels, gak usah gengsi gitu sama gue, kalo loe suka ya bilang suka aja”ujar Ray yang beberapa hari ini tak hentinya menggoda Chelsea.

“heh! Loe tuh gak usah geer ya... level cowok gue itu tinggi”ucap Chelsea, kesal juga dengan Ray karena pemuda itu terus saja mengganggu kenikmatan makanannya.

“udah deh gak usah berantem, lama-lama kalian cinlok juga deh”guman Marsha

“cilok? Enak tuh loe tau tempat dagangnya?”tanya Chelsea

“cilok apaan sih? Gue bilang cinlok”ucap Marsha memperjelas.

Bagas terkekeh, “tenang Ray, dia gitu pasti beneran suka deh sama loe... ini pengalaman gue lho”

Chelsea memutar bola matanya, “gak usah ikut campur deh”

“eh ada apaan tuh?”tanya Rafli begitu melihat kerumunan orang di tengah lapangan.
Yang lain menanggapinya hanya dengan mengangkat bahu.

“hey ada apaan sih?”tanya Zahra pada seseorang yang baru kembali dari kerumunan itu.

“kak Dayat... itu... dia...”

Zahra membelalakan matanya begitu mendengar nama Dayat, ia segera berlari ke arah kerumunan
“kak Dayat”

Dengan santai yang di sapa berbalik, “Zahra... kamu mau gak jadi pacar aku?”

Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya, “kak...”

“iya Ra, mau gak?”

Zahra mengangguk antusias, kemudian memeluk pemuda itu. Otomatis kooran siswa-siswi yang ada di sana terdengar begitu kencang.

Cindai memutar bola matanya, ‘kelilipan apa tuh kak Day’

“cemburu?”tanya Bagas begitu melihat ekspresi Cindai

“enggak! Cuma gue gak suka aja sama ceweknya” guman Cindai kemudian meninggalkan kantin itu. Ia menjadi gadis yang paling sakit hati dengan Zahra, entah kenapa... sejak ia melihat photo dari Chelsea ia langsung gak respect sama Zahra. Ia begitu kesal dan marah pada gadis itu.

“kapan nih giliran kita?”tanya Ray pada Chelsea yang menyaksikan aksi tembak-menembak itu.

Chelsea berbalik, “hello? MIMPI!!!”ucapnya dengan penekanan kata.

 ***

Agni memasuki kediamannya yang nampak telah sepi.
“Pa... Agni pulang”serunya.

“sini Agni”ucap Gabriel yang berada di ruang keluarga.

Agni mendekati Gabriel yang duduk di sofa, kemudian duduk di samping Papanya itu.
“ada apa Pa?”tanya Agni

Gabriel tersenyum, ia mengelus puncak kepala Agni “gimana komentar kamu tentang tante Sivia?”

Agni terdiam, ia bingung harus menjawab apa. “hm tante Sivia ya Pa? Mm... baik, cantik”

“kamu suka gak?”

Agni menghela nafas panjang, kemudian mengangguk lemah. “aku seneng kalo Papa seneng”

Gabriel mengecup kening Agni, “makasih ya sayang, sekarang kamu ada acara?”

Agni menggeleng, “aku mau tidur Pa, semalaman Agni jaga Rio... parah banget sakitnya sampe tidurnya aja gak tenang”

“terus sekarang gimana?”

“baik Pa, sekarang lagi liat Mama di RS”jawab Agni, “yaudah Pa, Agni tidur dulu ya?”pamit Agni, ia berlalu begitu saja tanpa ada persetujuan dari Gabriel.

Dadanya benar-benar sesak, logikanya memang ingin membiarkan Papanya bahagia tapi hatinya tidak, ia merasa ia tersiksa dengan ke adaan ini. Agni buru-buru memasuki kamarnya kemudian menenggelamkan tubuhnya di atas pembaringan, punggungnya mulai bergetar semakin lama semakin kencang dan mulai terdengar sesenggukan kecil.

***

Cakka, Agni, Rio dan Ify berkumpul di satu tempat yang sama, untuk tujuan dan penyelesaian yang sama. Tempat yang sangat sejuk, yang jauh dari keramaian. Keempatnya duduk lesehan di atas rerumputan.
“baju di rumah loe buat Agni gak ada yang panjang ya Yo?”tanya Cakka begitu melihat penampilan Agni yang masih menggunakan celana seperti pertemuannya kemarin.

Rio mengangkat bahu, “gue rasa sih ada, tapi gak tau”

“khm... bisa gak usah bahas gue? Langsung ke topik aja kenapa?”guman Agni yang tak enak di bicarakan.

Cakka terdiam, nafasnya mulai tidak teratur mengingat tujuan awal mereka bertemu. Ify menatap Cakka kemudian mengelus pundak Cakka lembut, “kalo gak sanggup gak usah”bisik Ify
Cakka menggeleng, ia menghela nafas panjang kemudian menghadap Agni yang menatap Cakka dengan dingin, cemburu.
“Mama aku ternyata mantan pacar Papa kamu, sebelum Mama di jodohkan mereka telah merancanakan pernikahan mereka walaupun pada akhirnya gagal”Cakka menghembuskan nafas mencari kekuatan. Sementara Agni menatap Cakka bingung, masih belum mengerti jalan pembicaraannya.
“dan sekarang mereka akan melanjutkan impian mereka, aku gak mungkin mau buat Mama sedih lagi gara-gara impiannya gak kecapai lagi Ni...”

Rio menyipitkan matanya, tangannya digenggam begitu erat oleh Agni, gadisnya itu sedang mencari kekuatan. “terus? Maunya gimana?”tanya Rio mewakili.

“lebih baik kita pisah Ni, dan mulai semuanya sebagai kakak-adek...”ucap Cakka begitu lirih.

Agni mendongakkan wajahnya tak percaya, air matanya mulai turun dari kedua matanya.
“a...apa?”Agni bertanya dengan suara yang mulai serak.

Cakka memalingkan wajahnya dari Agni melihat ke arah lain, ia tak sanggup menyakiti orang yang di sayanginya ini. tapi terpaksa harus melakukannya.
“aku udah rela kamu sama Rio, dan aku... aku udah putusin mau mulai hidup baru sama... Ify”

Agni meremas tangan Rio begitu keras, sementara tangan kirinya menyeka air matanya.
 Sementara Rio menanggapinya dengan seringaian sinis, ia juga tidak terima dengan keputusan sepihak Cakka.
“gue rasa udah ya? pulang yuk Ni” Rio berdiri kemudian menarik Agni kedalam pelukannya, setelah itu berlalu dengan Agni yang mengeratkan pelukannya pada Rio. Hatinya benar-benar luluh lantak sekarang.

Cakka mengusap wajahnya kasar, setelah itu menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya. Punggungnya mulai bergetar, keputusan ini benar ataukah tidak? Kenapa hatinya begitu sakit? Apa ini keputusan salah?

***

Agni berlari menaiki tangga dengan sesekali menyeka airmatanya dengan kasar. Rio berlari di belakangnya, mengejar Agni bermaksud menenangkannya. Namun sebelum mencapai tangga Gabriel telah memanggilnya.
“Rio...”

Rio menghentikan langkahnya sambil berbalik, “Pa...”sapa Rio sambil mengatur nafasnya.

“duduk”ucap Gabriel menunjuk sofa di hadapannya. Rio menuruti apa kata Gabriel
“Agni kenapa? Kalian ada masalah?”

Rio menghela nafas panjang, cerita sekarang atau jangan...
“boleh Rio liat Agni dulu Pa? Rio juga gak tau ini masalah Rio sama Agni atau bukan”

Gabriel menatap Rio curiga, “maksud kamu? Jawab dulu baru kamu boleh menemui Agni”

Rio menatap Gabriel memohon, “tapi Pa...”

Gabriel menghela nafas, “Papa gak pernah liat Agni kayak gini, sebaiknya kamu cerita dulu”

Rio menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, “ya tuhan...”gumannya pelan, ia mengacak-acak rambutnya pelan.
“sebelumnya Rio minta maaf Pa...”

Gabriel mengangkat satu alisnya, merasa ada yang aneh tapi ia enggan bersuara. Ia ingin mendengarkan penjelasan yang sejelas-jelasnya dari tunangan anaknya ini.

***

Cakka mengajak Ify untuk datang ke rumahnya, kini keduanya telah ada di depan kediaman Cakka.
“Kka... gue rasa ini bukan ide bagus”guman Ify, ia menenguk ludahnya sukar.

Cakka menghela nafas panjang, “terus mau loe gimana? Gue gak bisa gini terus... bantu gue move on Fy” ucap Cakka penuh ke putus asaan.

Ify mengangguk ragu, “tapi apa secepat ini? gue rasa ini terlalu cepat”

“buang gue-loe, mulai sekarang aku-kamu”perintah Cakka, kemudian ia menarik Ify pada Sivia yang menunggu di ambang pintu.

“Ify... apa kabar cantik?”tanya Sivia, ia memeluk gadis itu gemas.

Ify tersenyum kaku pada Sivia setelah melepaskan pelukannya, “b..baik tante, tante sendiri?”

“baik juga kok, yuk masuk” Sivia menarik Ify agar memasuki kediamannya.

Mereka bercengkrama di ruang tamu, sementara Cakka hanya diam dengan sesekali menyahut seperlunya. Pikirannya masih melayang pada Agni, berbagai pertanyaan timbul di dalam benaknya. Bagaimana keadaan Agni? Apa dia baik-baik saja? Atau sedih? Atau bahagia karena sekarang dia bebas berhubungan dengan Rio? Dan atau atau lainnya.
“Kka... Cakka”Sivia menyenggol kaki Cakka.

Cakka menatap Sivia sambil memamerkan deretan giginya, “hehe Ma, apa?”

Sivia berdecak, jadi dari tadi Mama nanya kamu gak dengerin?”

“tanya apa Ma? Maaf Cakka lagi agak pusing”keluhnya.

“kamu pacaran ya sama Ify?”

Cakka menghela nafas, ia melirik Ify yang menunduk begitu dalam.
“iya Ma, kenapa emangnya?”

Senyum Sivia merekah, “wah bagus kalau begitu, Mama sama Shilla bisa besanan”

Cakka tersenyum ketir, satu sisi hatinya merasa bahagia melihat Mamanya bahagia tapi sisi lain hatinya berkata lain.

“Cakka... Ify... sebentar ya... tante angkat telpon dulu”pamit Sivia

Cakka dan Ify saling berpandangan kemudian keduanya menghela nafas berat.

***

Sivia tersenyum pada Gabriel yang sedang duduk menantinya.
“hai”sapa Sivia kemudian mencium Pipi kiri dan Kanan Gabriel.
“tumben ngajak ketemuan malam-malam gini El, ada apa?”tanya Sivia

Gabriel menghela nafas panjang, “tentang Agni dan Cakka”

Sivia mengerutkan dahinya, “ada masalah apa emangnya? Oiya tadi Cakka bawa pacarnya lho ke rumah El, serasi deh pokoknya”

“pacarnya?”

Sivia mengangguk begitu antusias.
“iya, anaknya Shilla sahabatku itu lho...”

Gabriel mengangguk, “kayaknya anak kita mulai bersandiwara Vi”

Sivia menatap Gabriel dengan penuh tanya, “maksudnya?”

Gabriel menatap Sivia, “Agni dan Cakka pacaran di belakang  kita, mereka backstreet gara-gara aku jodohin Agni sama Rio”

To be continue...

Terimakasih udah mau baca :D

No comments:

Post a Comment