Bab 2
Aku duduk termenung sendiri di pinggir kolam di sebuah kota
kecil yang –mungkin- tak akan di ketauhi Rio, dengan sesekali melempar makanan
khusus ikan cantik itu. Jujur saja aku memang sedang menjauhi Rio mengingat
percakapan kami beberapa hari yang lalu. Aku mangkir dari tugasku sebagai
asistennya. Entah keberapa puluh kalinya aku menghela nafas berat, aku ingat
pada Angel tapi aku belum bisa menemui Rio.
“kalau demi Angel kamu tetap tidak bisa, bagaimana kalau kita menikah?”
Rio menghela nafas,
pandangannya masih datar.
Aku gak pernah bermimpi akan di lamar dengan sedatar ini. Karena yang aku impikan
dari dulu adalah di lamar di tempat romantis dengan kata-kata yang menyentuh
hati dan bermakna. Tapi kenyataannya, aku di lamar di ruangan kerja Boss-ku dengan kata-katanya yang tidak
seperti orang yang sedang melamar, melainkan seperti orang yang meminta permen.
Seolah itu bukan kata-kata penting.
“aku berikan waktu tiga hari untuk kamu berpikir, selama itu aku tidak
akan menganggumu”
Rio mengucapkan itu
sambil berlalu dari ruangannya, meninggalkanku yang masih mematung.
Aku berbalik saat ada seseorang menepuk pundakku, kemudian
tersenyum begitu melihat orang itu yang kini duduk di sampingku.
“kenapa disini Agni? Yang lainkan
jalan-jalan”
Aku menanggapinya dengan menggeleng, orang itu menatapku
begitu intens cukup membuat jantungku maraton. Bagaimana tidak? Orang itu
adalah seorang pemuda yang begitu tampan, matanya agak sayu tapi jika menatap
seperti ini begitu tajam, rahangnya keras memperlihatkan begitu jantannya dia,
di tambah lagi badan yang tinggi agak besar dengan otot yang menonjol di
sana-sini. Dia adalah Cakka Nuraga, penyanyi yang sedang naik daun sekarang,
kebetulan aku di sini bersamanya dan seluruh C-crew untuk menggarap Video Clip
singgle terbarunya.
“kamu sendiri?”
Aku menatap lurus ke arah kolam, tersenyum kecil begitu
melihat kerumunan ikan yang berebut makanan yang aku lemparkan.
“aku... males aja, lagipula ada putri
cantik yang sedang galau sendiri di dekat kolam”
Aku menyenggol lengannya, ia tertawa kecil menanggapinya.
Aku tau dia menggodaku, aku rasa dia aneh banget. Karena kalau aku liat di TV
dia itu dingin dan datar, tapi sekarang? Dia tertawa kecil dan selalu
menggerlingkan matanya menggodaku.
“aku itu gak mempan di goda
Cakka! Goda aja perempuan lain sana”
Cakka terdiam, aku meliriknya dengan ekor mata. Kenapa jadi
diam begini? Gak asik banget.
“kenapa sih? Kok jadi
diem?”tanyaku penasaran.
“jalan yuk...”ajaknya menanggapi pertanyaanku,
dasar gak nyambung!
Dia berdiri lalu
mengulurkan tangannya padaku. Aku mendongakkan kepalaku agar menatapnya.
“ayok”ajaknya lagi.
Aku mengangguk kemudian meraih tangannya untuk berdiri.
“mau kemana?”
“kita ke pantai kemarin, aku suka
di sana airnya jernih”
Dia terlihat menerawang membayangkan tempat pengambilan
gambar kemarin, yang memang sangat indah dan aku rasa begitu menyejukkan,
apalagi suasana hatiku yang sedang kalut seperti ini.
Selama aku berjalan dengan Cakka, kami hanya berjalan biasa
saja tanpa ada gandengan tangan. Hanya saja, dia sesekali merangkul pundakku
untuk mempercepat langkah kakiku menuju ketempat yang di kehendakinya.
Aku sesekali menengok kebelakang karena aku rasa ada yang
mengikutiku, tapi di belakangku tidak ada siapapun. Di tempat ini hanya ada aku
dan Cakka. Ya Cakka... andai saja yang bersamaku Rio, yang bersikap lembut ini
Rio, Rio yang bisa merebut hatiku lewat Malaikat kecilnya, Angel.
Aku memukul kepalaku pelan. Aduhh... apasih yang aku
pikirkan? Rio? Enggak, enggak. Jangan, aku memang mencintai dia tapi dia? Hanya
ingin aku untuk membahagiakan Angel.
“kenapa Ni? Kok mukul-mukul
kepala gitu? Pusing ya?”
Aduh Cakka... kenapa kamu seperhatian itu sih? Apalagi
melihat wajahnya yang terlihat sangat mengkhawatirkanku.
“aku gak kenapa-kenapa kok”
aku mencoba tersenyum sebiasa mungkin untuk menutupi
kegugupanku karena di tatap begitu intens. Apalagi melihat senyumannya setelah
aku mengatakan itu. Ya Tuhan... Mahabesar Engkau menciptakan manusia sesempurna
ini.
***
Aku mematut diri di depan cermin, hari ini aku harus masuk
kerja kembali karena tiga hari itu telah berlalu. Aku tiba kembali di rumahku
setelah perjalanan sore kemarin. ponselku berdering,
“ya Fy?”
Oiya Ify malam tadi menginap di apartemen Gabriel, aku sih
terserah dia aja ya mau ngapa-ngapain juga, tapi yang gak habis pikir itu
kenapa aku selalu di marahinya kalau jalan sama laki-laki sampai malam?
“di depan banyak wartawan, aku tidak jadi pulang”
“HAH?!”
“minta jemput sama Rio, aku rasa taksi akan menyulitkanmu keluar rumah”
Tanpa sadar aku mengangguk.
“Agni... gimana?”
“ah iya, yaudah makasih ya?”
“iya, bye”
Aku menghela nafas panjang, apa perlu aku minta tolong
padanya? Tapi mau bagaimana lagi. Dengan terpaksa aku memanggilnya.
“hn”
Aku mendengus kesal saat mendengar sapaan itu, benar-benar
menjengkelkan.
“maaf Rio, tapi bisakah kamu
menjemputku? Di depan rumahku banyak sekali wartawan”
“hn”
“apa jawabannya? ‘hn’ maksudmu itu apa?”
“iya, tunggu saja”
“yau...dah”
Aku mendnegus lagi, dia ini benar-benar tidak sopan.
Memutuskan sambungan begitu saja, dia ini benar-benar membuatku kesal! Namun
setelah itu aku segera turun menuju depan rumahku. Ternyata benar apa kata Ify,
banyak sekali wartawan. Dapat ia lihat dari balik pintu.
Sebuah Jaguar merah terlihat memasuki pekarangan rumah, aku
segera keluar dan menyambut wajah dinginnya dengan senyuman.
“masuk”
Aku mengelus dadaku, sabar sabar... kemudian aku memasuki
pintu penumpang.
“jalan Pak”seru Rio.
Aku menatap Rio kaku, dia terlihat sibuk dengan ponsel dan tabletnya.
Aku berusaha tak menghiraukannya, melihat ke arah luar.
“banyak juga
wartawannya”gumannku, saat melewati kerumunan wartawan itu.
Untung kaca mobilnya gelap, sehingga kemungkinan wartawan
itu tau aku di dalam mobil ini bersama Rio sangatlah kecil.
“kau melakuka hal bodoh apa
sampai banyak wartawan seperti itu?”
Aku melongos mendengar ucapannya, dia itu kenapa sih?
Semakin datar dan dingin.
“mana aku tau” okeh, kali ini aku
tidak bisa menahan kekesalanku padanya.
Mobil ini berhenti tepat di pintu lobby kantorku ehm
maksudnya kantor Rio. Aku dan Rio keluar dari sisi yang berbeda.
“pegang ini”
Rio memberikan tabletnya padaku, ia terlihat berbincang
menggunakan ponselnya, dasar so sibuk!
***
Capek juga setelah seharian bekerja, mengikuti Rio kesana
kemari. Aku mulai merebahkan punggungku ke sandaran kursi.
“jemput Angel, aku masih ada
pekerjaan”
Aku mengangguk tanpa ada niat melepaskan punggungku dari
sandaran kursi, aku menutup mataku sejenak mencoba menghilangkan pening di
kepalaku.
“jangan tidur disini”
Aku mendengus kesal, kemudian berdiri sambil meraih tasku.
Lebih baik aku segera pergi dari tempat ini, lama-lama dengannya hanya akan
menguji kesabaranku saja.
“tunggu”serunya, mau apa lagi
sih?
Aku terpaksa berbalik untuk menatapnya, kemudian
mendekatinya tanpa minat.
“tentang penawaranku...”
Astaga! Jangan... jangan sekarang, aku benar-benar belum
siap menjawabnya. Aku bingung menentukan pilihanku, kalau aku menerimanya dan
membicarakan itu pada Ify apa yang akan dia pikirkan? Pasti hal-hal yang tidak
masuk akal.
“pernikahannya tepat satu minggu
setelah pernikahan Gabriel dan Ify”
“apa?!”
Ya Tuhan... kenapa laki-laki sempurna yang satu ini begitu terobsesi untuk menikah? Apa tidak ada
korban lain apa selain aku? Apalagi satu minggu setelah pernikahan Gabriel dan
Ify, berarti itu dua minggu lagi. Ya tuhan.... tolong hambamu.
“tidak ada penolakan”sergahnya
begitu aku hendak membuka mulut untuk berkata.
Lagi-lagi aku hanya bisa mendengus kesal, walaupun entah
kenapa hatiku benar-benar berbunga. Aku segera berbalik untuk meninggalkan
ruangan yang aku rasa sekarang sangat panas itu.
Beberapa staf melihat ke arahku. Ada yang menatapku dengan
aneh, dengan tajam, dan sinis. Tapi aku lupakan, mungkin mereka iri padaku yang
bisa dekat bahkan menjadi calon istri Boss
ganteng mereka. Hahh... ganteng ya? ganteng gak sih? Udahlah... biarpun ganteng
tetep aja menyebalkan!
***
Aku keluar dari Jaguar merah milik Rio, kemudian berjalan ke
arah Angel yang nampaknya sedang asik berbincang bersama temannya dengan
memunggungiku.
“Angel”
Angel berbalik, setelah itu senyumannya merekah dan segera
berhamburan kepelukanku. Aku senang sekali kalau sudah bertemu Angel, senyum
Malaikat kecil ini begitu menenangkan, menghilangkan segala lelahku beberapa
saat yang lalu.
“Mom, Miss you... Mama kemana aja
sih? An kangen sama Mama”
Aku terkekeh sesekali membenarkan letak Angel di pangkuanku
agar dia nyaman.
“Mama ada urusan mendadak
sayang”aku mendudukan Angel di kursi.
“sekarang An mau kemana?”
Angel tersenyum, kemudian merebahkan kepalanya di
pangkuanku.
“ke kantor Papa ya?”
“tapi An...” aku lupa Angel gak
bisa di bantah, kemudian aku meraih ponselku.
“Io'...”
“hn”
“An mau kesana, boleh?”
“yaudah”
“iya, bye”
Kebiasaan itu lagi, gak pernah ada hal manis di akhir
percakapan bersama Boss-ku itu.
“Pak, ke kantor ya”
“baik Non”
Angel menatapku sementara aku mengelus keningnya yang
berkerut.
“kenapa ijin dulu sama Papa Ma?
An biasa kesana kok”
“Mama kan gak tau An”
Angel mendudukan dirinya menatapku,
“An ditawarin yang bawa bunga
buat pernikahan Oom Gabriel sama tante Ify lho Ma”
Aku menatap Angel heran, mungkin terlihat kerutan di
keningku.
“terus An mau?”
Angel terlihat menggeleng, sambil menggembungkan pipinya.
“Papa gak ijinin Ma, katanya An
cuma boleh bawa bunga pas pernihakan Papa sama Mama”
Deg!
Entah kenapa jantungku berpacu lebih cepat mendengar
penuturan Angel, apa Rio seserius itu? Kalau memang serius kenapa dia terus
saja membuatku kesal dengan sikap dingin dan ucapan datarnya? Apa mau menguji
kesabaranku untuk seleksi layak atau tidaknya? Ahh mana mungkin, ia dengar dari
staf lain justru dengankulah dia bisa sedikit cair, ya walaupun menurutku itu
masih saja dingin. Heuh!
“yuk Ma, turun”ajak Angel yang
membuat lamunanku buyar.
Aku tersenyum padanya, kemudian menuntunnya turun dari
mobil. Angel mengandeng tanganku selama berjalan menuju ruangan pribadi Rio.
Lagi-lagi aku melihat pandangan yang tak begitu bersahabat dari staf-staf Rio.
Heuhhh... apa sih salahku?
“Papa...”
Angel berlari pada Rio yang baru saja keluar dari ruangan meeting, ohh jadi tadi dia meeting toh. Pantesan singkat banget
jawabnya. Aku tersenyum melihat Angel bergelayut manja di dalam pelukan Rio.
Benar-benar menggemaskan.
“ayo kita makan siang”
Rio berucap begitu lembut tepat di hadapanku. Pasti
gara-gara ada Angel, coba saja setiap saat aku bersama Angel pasti tenteram
hidupku.
“Ma... ayo”
“ah... iya”aku tersadar dari
lamunanku, kemudian berjalan beriringan dengan Rio yang menggendong Angel.
***
Aku, Rio dan Angel duduk di satu meja menikmati makan siang
bersama. Sesekali Angel merengek minta di suapi olehku atau Rio.
“Ma... pengen ice cream...”rengek
Angel
Kali ini aku harus menolaknya, walaupun harus menerima
tatapan tajam dari Rio.
“jangan sayang, nanti An sakit
lho...” aku melirik Rio takut-takut.
Di luar dugaan. Ternyata Rio diam saja, tidak ada
tanda-tanda akan memarahiku.
“tapi Ma... ayolah, An mau
banget... itu”
Aku mengikuti arah tunjuk Angel, aku baru ingat cafe ini
memang menjual ice cream juga.
“An, Mama bener... nanti kalo An
sakit, Mama juga yang repot”
Mataku membelalak, kaget. Melihat Rio begitu manis pada
Angel, dia mengelus puncak kepala Angel dengan sayang dan mengecup pipi Angel
dengan gemas. Ahh beruntung sekali aku ada di antara mereka, aku senang melihat
Rio yang seperti ini. bisa di bilang laki-laki yang sangat ideal untuk di
jadikan suami.
“tuan, ada banyak wartawan di
depan... apa perlu kita usir?”
Aku tau dia itu Irshad, bodyguard Angel sekaligus orang yang
paling di percaya oleh Rio. Aku gak habis pikir, kenapa wartawan-wartawan itu
mengejarku? Memangnya ada apa denganku?
Rio terlihat menghela nafas dan berpikir sejenak.
“gak usahlah, biarin aja. Kamu
jaga Agni, aku akan menggendong Angel ke pintu lain”
“No Dad! Biar An sama Oom Irshad, Papa jaga Mama”
Angel memotong pembicaraan Rio, sebelum Rio mengangkatnya.
“tapi An...”
“udah ah, Oom ayo pulang”
Angel turun dari kursi dan
mendekati Irshad kemudian berlalu dari hadapanku dan Rio. Aku menatap Angel
khawatir, tapi ternyata wartawan itu tidak berbuat macam-macam pada Angel.
Hhh... syukurlah.
Sepeninggal Angel,
aku dan Rio masih berdiam diri sampai aku merasakan Rio menarik tanganku
tanpa permisi. Dan mulai berjalan menuju pintu itu, blitz-blitz kamera itu
mulai terarah pada aku dan Rio. Rio menarikku dalam dekapannya, aku
menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang. Aku merasakan satu tangannya di
pinggangku, menjagaku. Ahh... apa mungkin?
Aku mendengar pertanyaan-pertanyaan aneh dari mereka.
“Agni, apakah benar anda menjalin
hubungan dengan penyanyi Cakka Nuraga?”
“apa benar kalian terlibat cinta
lokasi saat membuat Video Clipnya?”
“Pak Mario, apa komentar anda
tentang kedekatan Agni dengan penyanyi itu”
Aku merasa dada Rio bergemuruh, nafasnya memburu dan
jantungnya terdengar berdetak begitu cepat. Kenapa sebenarnya? Aku mencoba
melihat wajah Rio.
Ya ampun! Rahangnya mengeras, sepulang dari sini pasti aku
mendapat ceramah dingin gratis.
“masuk”bisik Rio padaku.
Aku berbalik dan melihat pintu mobil telah terbuka kemudian
aku memasuki mobil itu. Dari dalam sini aku dapat melihat Rio yang sedikit
mengeluarkan kata-kata. Dan tak lama kemudian ia memasuki mobil itu, duduk di
sampingku.
“jalan Pak”
Aku menghela nafas lega, aku menyandarkan punggungku ke
sandaran kursi.
“jadi selama tiga hari kamu pergi
sama artis itu?”
Mendadak ludahku sukar di telan, aku menahan nafas sejenak
karena kaget. Kenapa Rio berkata sedingin itu lagi? Di tambah aksen penekanan
kata yang sukses menohok hatiku.
“iya”
Aku mendengar dia berdecak kesal, aku tak mempedulikannya.
Pikiranku masih bingung dengan sikap Rio, kadang dia baik, kadang menyebalkan.
Dan kenapas dia bertanya seperti itu? Apa mungkin dia cemburu karena aku pergi
dengan Cakka tanpa sepengetahuannya? Aduh Agni... apasih yang kamu pikirkan?
Mana mungkin Rio cemburu.... aku memukul pelan kepalaku agar tidak memikirkan
hal yang aneh-aneh kembali.
“Rio... Angel mana?”tanyaku panik
begitu menyadari ketidak hadiran Angel.
Rio terlihat sibuk dengan gadgetnya, apa dia sesibuk ini
sampai tidak memikirkan keberadaan putri kesayangannya?
“Rio...”
Rio berbalik menatapku, mungkin merasa terganggu karena
guncanganku di lengannya.
“saya tidak bisa kembali ke
kantor, tolong batalkan meeting malam
ini”
Aku menghela nafas panjang, ternyata dia sibuk dengan
ponselnya, walau menatapku dengan pandangan bertanya.
“apa kamu sesibuk itu Io’?”
Aku bertanya setelah Rio menyimpan ponsel ke dalam jasnya.
Rio lagi-lagi berdecak, ia menengokku sebentar kemudian kembali
pada gadgetnya. Ya tuhan... apa gadget itu lebih penting dariku? Oke aku jadi
mellow begini, padahal jelas sekali pasti jawabannya iya! Emangnya aku ini
siapa mau di pentingkan? Hm...
“aku harus membatalkan janjiku
dulu, baru bisa santai”gumannya
Aku memalingkan wajahku dari Rio, agak menjauh dari lelaki
itu menuju sisi tempat duduk yang lain. Katanya aku calon istri, tapi kenapa
masih di kalahkan oleh gadget yang bisa dia beli beratus-ratus buah bahkan
beribu-ribu buah itu. Entah kenapa ada sesuatu yang membuat jantungku terpacu lebih
kencang, sistem respirasikupun mulai tidak teratur.
“Agni... kamu menangis?”
Hah?! Aku menangis? Aku cepat-cepat memegang pipiku yang
ternyata memang basah. Aku merasakan Rio menarikku agar menghadapnya.
“kenapa? Apa aku salah?”
Tentu saja! Aku hanya bisa membatin mengatakan itu, kalau
aku mengatakan itu aku yakin langsung di depak dari jajaran karyawannya.
“aku... aku hanya...”aku
memalingkan pandanganku ke arah lain.
“tidak enak badan...”lanjutku
“Pak kita ke rumah sakit”perintah
Rio.
Hey apa-apaan? rumah sakit? Dasar orang kaya!
“gak usah Io’, istirahat sebentar
saja aku kira sudah cukup”
Rio terlihat diam, sopirpun terlihat mengerti dan memutar
balik arah menuju kediaman Rio.
Aku menghela nafas panjang, dia begitu perhatian, bagiku itu
lebih. Tapi apa Rio memang selalu seperti itu pada setiap orang? Hahhh...
entahlah, memikirkannya berbuat seperti ini pada setiap wanita membuat dadaku
bergemuruh kembali.
***
“malam ini kamu tidur disini,
rumahmu tidak cukup aman. Sekarang kamu mandi sana di kamar Angel, atau mau di
kamarku juga boleh”
Aku membulatkan mata, dia berkata seperti itu dengan begitu
tenang dan bisa di bilang dingin. Apa dia tidak mengetahui kalau kata-kata itu
membuatku stuck dan benar-benar membuatku berdebar? Aku rasa lelaki di
hadapanku ini memang playboy yang telah terbiasa dengan kata-kata sefrontal
itu.
“aku mandi di kamar Angel saja”
Setelah berkata itu aku segera beranjak menuju kamar Angel
yang terletak di sebelah kamar utama, ya siapa lagi kalau bukan kamar Rio?
Begitu aku memasuki kamar itu, aku mendapati Angel yang
terlelap di tempat tidurnya. Aku tersenyum sambil mendekatinya.
“tidur yang nyenyak cantik”
Setelah barkata itu aku mengecup puncak kepala Angel, dan
mulai melepaskan wedges yang seharian ini membingkai kaki indahku, setidaknya begitulah
kata sekertaris Rio.
Beberapa menit aku berada di kamar mandi untuk menyegarkan
badanku yang terasa begitu lengket bercampur dengan lelah. Begitu keluar dari
kamar mandi dengan handuk berbentuk baju berada di tubuhku dan handuk kecil di
kepalaku.
Baju siapa ini? lengkap dengan dalamannya. Astaga! Ini
untukku? Siapa yang menyiapkan ini?
“Rio...”aku berjalan keluar
kamaar Angel.
“bisakah kamu keluar dengan sopan
Agni? Apakah memakai handuk seperti itu pantas menghadap atasan?”
Glek!
Gondok sekali aku, kemudian aku kembali memasuki kamar
Angel.
“apa pakaian ini untukku?”tanyaku
agak berteriak
“hn”
Aku mendengus, ‘hn’
dan ‘hn’ apasih istimewanya kata ‘hn’ dimatanya? Bagiku itu hanya
bisa membuatku kesal!
Tapi tunggu, kenapa pakaian ini pas? Semuanya... benar-benar
pas di tubuhnya.
“Mama...”
Aku berbalik, menatap Angel yang sedang mengucek-ngucek
matanya. Aku terkekeh melihat tingkah lucu itu. Aku mendekatinya kemudian
merapihkan rambutnya yang agak acak-acakan.
“temenin tidur ya... An masih
ngantuk”
Aku mengangguk kemudian menggulung handuk yang ada di
kepalaku. Setelah itu aku merebahkan diri di samping Angel, memeluknya hangat.
Beberapa lama kemudian aku merasakan guncangan di bahuku,
aku membuka mataku perlahan.
“Rio”
Dengan segera aku duduk dan merapihkan pakaian dan handuk
yang masih tersampir di kepala.
“ikut aku”
“aku menyisir rambut sebentar”
Aku mulai kebal dengan nada dinginnya dia, yang aku lakukan
cukup membuat sebiasa mungkin agar merasa enak sampai kehati. Kalau aku
menanggapinya dengan tidak menerima, aku akan terus merasa sakit hati dengan
ucapannya itu. Hhh... sabar Agni, sabar...
***
Aku berdiri di depan ruang kerja Rio, perlahan terdengar
ketukan dari jariku yang bertumbukan dengan pintu kayu itu.
Tok tok tok
Tak lama Rio keluar dari ruangan itu, lalu menutupnya.
Kenapa tidak di biarkan saja aku memasuki ruangan itu? toh aku ini asistennya. Dan itukan ruangan kerja kenapa
aku seolah tidak boleh memasuki ruangan itu?
Dia malah repot-repot keluar dengan menenteng beberapa brosur
tapi lebih mirip majalah dan tentunya gadget yang tidak pernah ia tinggalkan.
Aku dan Rio duduk berdampingan di ruang keluarga, ia menyimpan
kasar brosur yang ia bawa ke atas meja.
“coba lihat-lihat itu, dan pilih
sesukamu. Kalau untuk gaun kita harus datang ke butiknya secara langsung”
Aku menurut saja, enggan untuk berdebat, karena aku masih
merasa sangat lelah. kemudian aku memicingkan mataku melihat brosur-brosur itu yang ternyata design cincin, dekorasi gedung
dan design undangan. Yang semuanya aku
pastikan sangat mahal karena aku rasa itu mewah sekali.
Aku melirik Rio yang ternyata lagi-lagi sibuk dengan gadgetnya.
Aku hanya bisa menghela nafas pasrah kemudian mulai melihat-lihat apa yang di
berikan Rio tadi. Memfokuskan diri pada brosur ini, daripada harus sakit hati
melihat Rio berpacaran dengan gadgetnya.
“aku mau cincin tanpa aksen
bling-bling, semuanya yang disini terlihat terlalu mewah. Aku kurang suka”
Aku menyimpan satu brosur design cincin, dan meraih brosur
yang lain.
“dekorasi yang ini bagaimana?”
Aku memperlihatkannya pada Rio.
“hn, bagus. Warnanya aku sudah
pesan gold dan perak”
Aku merengut mendengarnya, gold dan perak? Aku kurang suka,
itu terlalu mencerminkan kemewahan.
“undangannya yang ini aja”
aku menunjuk pada undangan yang berbentuk roll seperti
orang-orang jaman dulu mengumumkan sayembara.
“nanti aku pesan yang berlapis kristal”
Aku mendengus kesal, kenapa lelaki ini obsesi sekali sama
yang namanya kemewahan sih? Sekalian aja bajunya berlapis emas, perak, atau
berlian sekalian biar puas!
“tadinya aku mau gaun yang ada
aksen berlian, tapi untuk dua minggu ini kata desighnernya gak bisa”
Aku menepuk kening, ya tuhan.... lelaki ini benar-benar ya.
“aw... jail banget sih”
Rutukku karena tiba-tiba dia menarik ikat rambutku yang
sengaja aku kuncir kuda, aku mendelik ke arahnya namun tak ada respon. Yang ada
aku malah di dinggal begitu saja di tempat ini. Menyebalkan!!!
***
Bersambung...
Terimakasih :)
No comments:
Post a Comment