...Spesial Agni-Cakka-Rio...
Agni merasakan seseorang menyentuh puncak kepalanya, ia
mengangkat kepalanya pelan. Tidur sekejap
membuat kepalanya agak pening.
“Mama udah sadar?”tanya Agni begitu melihat Zevana tersenyum
ke arahnya.
Kamarin, beberapa saat setelah Rio pulang Rio mengabarkan
kalau Zevana pendarahan dan harus di bawa kerumah sakit. Rencana mereka buat
membicarakan tentang pertunangannyapun harus di batalkan karena Agni khawatir
akan kondisi Zevana, ia tak mau egois karena ia sangat menyayangi Zevana.
Zevana mengangguk lemah kemudian tersenyum
pada Agni, “Papa, Rio sama Gilang kemana?”Zevana bertanya dengan suara
yang cukup lirih.
Agni membalas senyuman Zevana, “Papa gak tau Ma tapi kalau
Rio sama Gilang tadi dini hari pulang mau ngambil pakaian ganti dan Gilang
bersiap ke sekolah” Agni berdiri “Mama ada yang sakit? Biar Agni panggilin
dokter dulu”
Zevana meraih tangan Agni, “gak perlu, kamu temenin Mama”
Agni kembali duduk menatap Zevana yang pikirannya terlihat
melayang.
“Mama seneng Rio sama
kamu sayang, kamu benar-benar baik dan perhatian. Berjanjilah...”
Agni menatap lekat pada Zevana yang kini menatapnya,
“berjanjilah... jaga dia, bahagiakan dia... Rio terlihat sangat menyayangimu”
Mata Agni mulai berkaca-kaca, ia menggenggam erat jemari
Zevana, “Ma...”Agni menghembuskan nafas berat, hatinya merasa tertohok “iya
Agni berjanji” Agni memeluk lengan Zevana mencari kekuatan, ia benar-benar
menyayangi Zevana. Bagaimanapun Agni merasa nyaman kalau sedang bersama Zevana,
ia merasa seakan Mamanya hidup kembali dalam sosok Zevana.
“khm... datang tidak tepat waktu ya?”Gabriel berdiri di
ambang pintu, masih memegang hendle pintu.
Agni menyeka air matanya, ia berbalik dan tersenyum pada
Gabriel, “Papa... kapan pulang?”tanya Agni dengan nada yang merajuk.
Gabriel terkekeh, ia mendekati Agni kemudian mengacak-acak
rambut putrinya itu gemas.
“tadi pagi, begitu urusan selesai Papa langsung pulang”
Gabriel beralih pandang dari Agni pada Zevana.
“bagaimana keadaanmu? Apa pendarahannya tidak berakibat
buruk?”
Zevana menggeleng, “baik, mungkin”
Gabriel tersenyum, ia teringat pada mendiang istrinya ketika
pendarahan saat mengandung Novi, dia juga berkata seperti itu, “aku harap
sangat baik”ujarnya.
“oiya, kalau boleh nanti malam aku mau mengajak Rio dan Agni
menemui seseorang”
Zevana mengerutkan dahi, “calon istri? Boleh, silahkan saja”
Gabriel terkekeh, wanita ini ternyata sangat peka.
“yaudah, Zeva aku pergi dulu harus ke kantor. Dan kamu
sayang... jaga Mamamu ya, buat nanti malam Papa udah siapin gaun di kamarmu
lengkap dengan aksesorisnya”Gabriel mencolek hidung Agni, menggoda putrinya
itu.
Agni menjauhkan telunjuk Papanya itu dari hidungnya,
kemudian cemberut “jangan-jangan kayak tante-tante lagi, ish ogah”rutuk Agni
yang membuat Gabriel semakin terkekeh.
“udah ah, Papa pamit dulu... salam sama Patton, Rio dan
Gilang”pesan Gabriel sebelum berlalu.
Tak lama setelah Gabriel berlalu Rio memasuki ruangan itu
dengan membawa tas.
“Papa bilang aku harus ikut nanrti malam ya Ni?”tanya Rio
begitu memasuki ruangan.
Agni mengangguk, “oiya Ma, apa Mama belum laper?”
Zevana tersenyum, “belum, nanti juga ada yang nganterinkan?”
Agni mengangguk lagi kemudian menghampiri Rio.
“kamu bawa baju aku?”
Rio mengangguk kemudian melirik tas yang ia bawa tadi, “itu
satu set baju kamu... lengkap...”
Agni membulatkan matanya mengerti dengan ucapan Rio yang
kayaknya sengaja di gantungkan, “dasar mesum”umpat Agni, kemudian ia meraih tas
itu menuju kamar mandi rumah sakit.
Rio terkikik geli begitu melihat wajah Agni yang memerah, ia
mengalihkan pandangannya pada Zevana yang ternyata sedang menatapnya.
“Mama seneng deh, kalian gak pernah ada masalah yang sampe
fatal”
DEG!
Rio tertegun, ia menunduk sejenak tapi kemudian menatap ke
arah Zevana dengan senyuman yang tersungging begitu bahagia, “aku beruntung Ma,
Agni sangat pengertian”
“iya, Mama senang sekali... Agni benar-benar sempurna...
cantik di luar dan cantik di dalam”ujar Zevana.
“Ma, udah sadar? Rio kamu sudah makan? Ini Papa bawakan
makanan... Agni mana?” Patton yang baru memasuki ruangan itu berkata begitu
panjang tanpa ada minat jawaban dari Rio dan Zevana.
“ohh... mandi ya? Rio ini makan”Patton menyodorkan dua box
makanan.
Rio menjauh, ia duduk di sofa panjang dan meletakkan box itu
di sampingnya, “nunggu Agni dulu Pa”
Patton mengangguk setuju kemudian pandangannya beralih pada
Zevana mengeluarkan kata-kata yang begitu menggelikan di telinga Rio, ‘gak sadar udah tua banget’ rutuk Rio
dalam hati.
***
Cakka duduk dengan gusar, sesekali ia melirik arlojinya.
Udah hampir satu jam ia menunggu tapi yang di tunggu belum datang juga.
“Kka... disini juga?”tanya Ify yang baru memasuki cafe itu.
Cakka tersenyum simpul, “seperti yang loe liat”jawab Cakka
seadanya.
Ify duduk di hadapan Cakka, “udah ada kabar baik dari mereka
berdua, kemarin Rio janji malam tadi akan ada kabar baik tapi pada kenyataannya
sampe siang ini gak ada dan parahnya hape nya juga gak aktif”
Cakka menghela nafas panjang, “Rio dan Agni did rumah sakit”
Ify membulatkan matanya, “r..rrumah sakit? Apa mereka...”
“pendarahan...”Cakka menghela nafas panjang.
“pendarahan?”Ify semakin membelalakan matanya mendengar
penuturan Cakka yang setengah-setengah.
Cakka mengangguk, “Mamanya Rio pendarahan”lanjut Cakka yang
membuat Ify menghembuskan nafas lega sambil bergumam. “kirain...”
Cakka menyipitkan mata, “loe masih curiga sama mereka?”
Ify mengangkat bahunya, “sedikit...”
“sedikit percaya ya? dan banyak bak percayanya”potong Rio
yang entah dari kapan berdiri di dekat mereka, “ehh Kka sorry gue dateng gak di
undang, dia gak bisa pergi kalau gak sama gue” lanjut Rio kemudian duduk di
kursi kosong di sebelah kiri Cakka, sementara Agni duduk di sebelah kanan Cakka
membuat Rio dan Agni berhadapan.
“gimana keadaan tante Zevana?”tanya Cakka
“baik, lebih baik”jawab Rio dengan nada datar dan dingin.
“syukur kalo gitu... boleh gue ngobrol berdua sama
Agni?”tanya Cakka yang mendapat anggukan dari Rio.
Sepeninggal Cakka dan Agni, Ify masih terdiam. Lagi dan
lagi, ia ceroboh mengeluarkan kata-kata.
“sakit banget ya ternyata, mencintai tapi gak di
percaya”guman Rio dengan senyuman yang terlihat sangat miris.
Ify meringis, sebenernya bukan gitu. Tapi... “Io', bukan
gitu maksudnya...”
Rio memutar bola matanya menatap Ify dengan tajam, “terus?
Setelah kamu mau aku sayang sama Agni seutuhnya sekarang apa mau kamu? Meniduri
dia?”
Dingin, itulah nada bicara Rio sekarang. Bukan... bukan
sekarang saja, tapi akhir-akhir ini.
Wajah Ify menegang, wajahnya seketika menjadi pucat pasi.
“jangan...”ucap Ify begitu lirih.
“terserah ya kamu mau percaya atau gak! toh sekarang aku
bener-bener gak bisa lepasin Agni”Rio berujar, kemudian memanggil seorang
waiters untuk memesan minuman.
***
Agni menyandarkan kepalanya di bahu Cakka, sesekali ia
menghirup udara yang bercampur parfum maskulin.
“aku bingung Kka... aku berencana memberi tau Papa dulu baru
orang tua Rio, tentunya setelah Mama Zevana sembuh”
Cakka mengelus puncak kepala Agni kemudian mengecupnya,
“apapun keputusan kamu, aku bakalan dukung terus Ni, aku tau itu yang terbaik”
Agni mengangguk kemudian memeluk pinggang Cakka, ia
benar-benar mau memanfaatkan pertemuan ini sebaik mungkin, ia takut nanti...
mereka sulit bertemu.
“kamu tau gak Ni?”
Agni mengangkat wajahnya menghadap Cakka, “enggak”
Cakka tak menghiraukan ucapan Agni, ia membalas tatapan Agni
dengan sendu “kamu itu...”Cakka mengecup pelan pangkal hidung Agni,
“...menggairahkan”Cakka menyeringai nakal.
Sementara itu Agni menjauhkan tubuhnya dari Cakka, memukul
pelan lengan pemuda itu, “mesum banget sih, gak kamu gak Rio sama aja mesumnya,
cowok itu emang mesum semua deh ya kayaknya”
Cakka terkikik geli melihat ekspresi Agni, ia menyampirkan
rambut Agni yang turun ke pipi.
“kapan-kapan rambut kamu iket dan kalo mau ketemu sama aku
jangan pake rok atau celana di atas lutut gini”Cakka mengedipkan mata pada
Agni, menggoda.
Agni melihat penampilannya, hot pants seperti biasanya. Agni
emang senang dengan celana model itu karena gak ribet,
“emang kenapa sih Kka?”tanya Agni masih memandangi
penampilannya sendiri.
Cakka berdecak, “Agni... aku ini normal sayang... ngerti gak
sih? Pelajaran biologi kamu nilainya berapa sih? Masa yang gitu aja gak
ngerti”ungkap Cakka dengan nada yang kesal.
Agni memikirkan apa yang di ucapkan Cakka, tak lama kemudian
wajahnya memerah seperti tomat matang. “Kka... ihh porno banget sih”
“siapa yang porno? Orang aku cuma ngasih tau, itu sih
pikiran kamu aja tuh yang kelewat mesum”ejek Cakka yang di hadiahi
cubitan-cubitan ganas dari Agni.
Agni kemudian menjauh dari Cakka, ia menggembungkan kedua
pipinya, “orang ini Rio yang bawain kok, salahin dia gih jangan salahin
aku”dengek Agni.
Cakka mendesah, ia mendekati Agni kemudian mengacak rambut
gadis itu sebentar, “yaudah, jangan ngambek dong”
Agni menyipitkan matanya, “kamu gak cemburu?”
Cakka mengalihkan pandangan pada sembarang tempat sambil
menyandarkan badannya ke kursi.
“udah kebal”Cakka terkekeh kemudian menjulurkan lidahnya pda
Agni.
“ihhh”Agni memutar bola matanya kesal, ia menjulurkan
lidahnya juga membalas perlakuan Cakka.
***
Sivia memasuki ruangan Alvin dengan senyuman yang merekah.
“Alvin... malam ini temenin Mama ya?”pinta Sivia kemudian
berdiri di samping Alvin, menghadap putranya yang duduk di kursi kerja.
“kenapa gak Cakka aja sih? Alvin masih sibuk Ma, mungkin
lembur”Alvin terus memfokuskan dirinya pada dokumen-dokumen dihadapannya,
kemudian sesekali melirik layar komputernya.
Sivia menarik pipi kanan Alvin agar putra sulungnya itu
menghadapnya.
“kenapa Vin? Kayaknya kamu gak mau banget nemenin Mama...
Mama ada salah apa sama kamu?”tanya Sivia begitu lirih.
Alvin menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Sivia
yang masih ada di pipinya, kemudian mengecupnya lama.
“Alvin usahain ya? Mama tinggal kasih tau alamatnya dan
waktunya”
Sivia tersenyum, ia mengangguk begitu senang. Semenjak
perpisahan itu Sivia menjadi sulit untuk bertemu Alvin, karena dia lebih
memilih menyibukan dengan kertas-kertas daripada bersama Sivia.
“yaudah, Mama balik ke kantor Mama dulu ya...”Sivia mengecup
pipi Alvin sebelum akhirnya berlalu.
***
Cakka dan Agni berjalan mendekati meja Rio dan Ify yang
terlihat saling diam. Agni dapat menangkap dari mata Rio kalau pemuda itu
sedang kesal, rahangnya juga mengatup keras. Agni menghela nafas panjang, ‘kenapa lagi sih?’ batin Agni
Rio berdiri kemudian mengelurkan dompetnya, meletakkan
selembar uang untuk membayar minumannya, setelah itu ia beralih pada Agni,
“yuk, Mama udah nanyain”ajak Rio
Agni mengangguk, ia melirik Cakka “aku pulang ya?”pamit
Agni, ia berusaha melepaskan genggaman tangan Cakka yang begitu erat. “Kka..”
“yaudah”guman Cakka setelah itu mendaratkan sebuah kecupan
kecil di pipi Agni tepat di sudut bibirnya. “hati-hati ya”
Agni tersenyum kaku, ia mengangguk kemudian menarik tangan
Rio keluar dari cafe tersebut. Agni merasakan tangan Rio mengepal dengan begitu
keras. “kenapa Io'?”tanya Agni setelah berada di dekat mobil.
Rio tak menyahut, ia membukakan pintu untuk Agni. Agni masuk
tanpa ingin membantah. Setelah itu Rio masuk di pintu pengemudi.
“Rio... kenapa lagi?”tanya Agni lagi
Rio masih tak menjawab. Agni menghela nafas panjang, ada
yang salah lagi?
***
Malam harinya sebelum Agni berangkat ke tempat dimana ia
janjian dengan Papanya ia menyempatkan diri datang ke rumah sakit, tentu saja
dengan Rio yang kini terlihat seperti pria metroseksual.
“kenapa kamu beda banget?”tanya Agni
Rio mengangkat bahunya, “aku gak mau buat malu
mertuaku”jawab Rio begitu datar dan dingin. Semenjak tadi siang Rio memang
begitu, tapi untunglah sekarang lebih baik. “gak kedinginan pake baju gitu?
Udah tipis, atasnya gak ada tali sedikitpun lagi”komentar Rio melihat
penampilan Agni yang menurutnya aneh. Dress berwarna soft green selutut tanpa
lengan atau tali dan beberapa aksesoris di leher dan tangannya, rambutnya juga
agak di keriting gantung.
“enggak, ini tadi Papa yang beli... Ma Pa”sapa Agni begitu
memasuki ruang rawat Zevana.
Zevana tersenyum, “Agni... cantik sekali”imbuh Zevana.
Agni terkekeh, “biasa aja ahh Ma, oiya gimana keadaan Mama?
Udah baikan?”
Zevana mengangguk, “baik sekali, kata dokter juga lusa boleh
pulang”
“bagus kalo gitu Ma, Agni khawatir kalo Mama di rawat
terus”Agni tersenyum pada Zevana.
***
Gabriel dan Novi kini berada di sebuah restaurant mewah, dan
memboking tempat privacy. Mereka duduk di sebuah meja yang terlihat kursinya
masih ada Lima yang kosong.
“mau ada apa sih Pa? Tumben banget, mana kak Rio juga di
ajak”ujar Novi, ia mengenakan gaun yang berwarna sama dengan milik Agni namun
dengan model yang berbeda.
Gabriel terkekeh, “sama seseorang, nanti Papa jelasin” ia
mengelus kepala Novi dengan lembut.
“Gabriel... maaf ya telat”ucap seorang wanita bersama dua
putranya, siapalagi kalau bukan Sivia bersama Cakka dan Difa.
“Vi, duduk... lho Cakka? Difa?”Gabriel menatap dua anak
laki-laki yang tak asing lagi dimatanya.
“Oom Gabriel?”Cakka menunjuk Gabriel dengan kaget, apa arti
semua ini?
“Cakka? Kamu kenal sama Oom Gabriel ini?”tanya Sivia
Gabriel dan Cakka mengangguk, “dia temen anak aku, dia
sering maen ke rumah kok”jawab Gabriel
“jadi ini Mama kamu Difa?”tanya Novi dengan kurang semangat,
seperti ada hal yang buruk yang akan menghampiri.
Sivia tersenyum mendapati putra bungsunya berbincang begitu
akrab dengan putri dari Gabriel, “bagus deh ya kalau udah akrab gini, kan jadi
enak”
Cakka mengagguk samar, kemudian mengeluarkan ponselnya
menghubungi seseorang.
‘jangan sampe ini
kabar buruk’ batin Cakka terus berdo’a dalam hati.
“Papa... maaf ya Agni telat, tadi ke rumah sakit dulu liat
Mama”
Cakka mengangkat wajahnya begitu mendengar suara lembut itu,
“Agni”
Agni berpaling pada Cakka, “eh Kka... tante Sivia...
Difa...”sapa Agni dengan nada kekagetannya, namun terus memamerkan senyumannya.
“Mama? Bukannya Mama kamu...”
Agni dan Rio duduk berdampingan, Agni tersenyum pada Sivia
“Mamanya Rio tante...”
Sivia mengangguk-angguk mengerti, “Rio? Bukannya kamu temen
Cakka ya?”
Rio tersenyum ia mengangguk kaku tanpa ada niat mengeluarkan
suara, pikirannya berkutat dengan maksud orang-orang ini kenapa berkumpul? ‘semoga gak ada kabar buruk’ batin Rio,
ia sedikit memejamkan matanya.
“Rio ini tunangan Agni, Vi. Udah hampir setengah tahun”jelas
Gabriel, sementara Agni hanya tersenyum begitupun Rio.
Sivia merengut, ia mengalihkan pandangannya pada Cakka
“katanya Agni pacar kamu Kka? Jangan bilang kamu bohongin Mama”
Cakka meringis, ia menggaruk tengkuknya, “gini Ma, kita...
aku, Rio, Agni dan pacar aku emang kadang suka tuker-tukeran pacar, kebetulan
waktu itu pacar aku gak bisa dateng” dusta Cakka dengan lancar, membuat Agni
dan Rio menghela nafas panjang. “bukannya gitu Yo? Ni?”sambung Cakka.
Rio terkekeh, “hehe iya tante, Pa... iseng aja sih iyakan Bee?”
Rio mengguncang bahu Agni yang belum menyahut, “Bee?”
Agni mengangguk ragu, ia melirik pada Papanya yang menatap
dengan penuh pertanyaan.
“udah sih Pa liatinnya gak usah gitu amat, toh cuma iseng
kok”ujar Agni, ia berusaha menyembunyikan kekacauannya dengan senyuman setulus
mungkin pada Gabriel. Ia benar-benar belum siap mengecewakan Papanya yang
sekarang nampak sedang berbahagia.
Sementara Difa dan Novi hanya menggaruk tengkuk yang tak
gatal, keadaan ini membuat mereka bingung dan hanya diam saja menyimak
alibi-alibi mereka.
“mohon maaf lama Pak, Bu pesanannya... ini makanan spesial
disini silahkan menikmati”
Gabriel dan Sivia tersenyum pada waiters tersebut, kemudian
mengangguk.
***
Seorang pemuda memasuki restaurant yang sama dengan keluarga
Gabriel dan Sivia, pemuda itu menuju waiters yang membawa minuman.
“kenapa Mas?”
Pemuda itu memasukan sebuah serbuk pada satu minuman, “awas jangan
salah kasih ini, tuh kasih sama laki-laki yang agak hitam manis, bukan yang
sebelah ibu-ibu. Tapi yang itu... mengerti?”
“ta..tapi?”
Pemuda itu berdecak, kemudian mengeluarkan beberapa lembar
uang pecahan seratus ribu, “ini upah buatmu, kalau tepat nanti aku tambahin,
ini bukan racun kok”
Waiters itu mengangguk ragu.
“bagus” pemuda itu mendahului waiters, berjalan ke arah meja
yang di tunjuk tadi.
“hai Ma, Oom... maaf saya terlambat”
“Alvin, duduk”ucap Sivia
“El, ini anak sulung aku... Alvin”
Gabriel dan Alvin berjabat tangan, “Gabriel”
“Alvin”
“yuk langsung makan aja dulu”ucap Gabriel yang di angguki
yang lainnya.
Cakka, Agni dan Rio sesekali curi-curi pandang satu sama
lain.
Agni menurunkan tangannya, memegang paha Rio agar pemuda itu
menghadapnya.
“aku takut”bisik Agni pada Rio
Rio mengelus rambut Agni, “sabar ya? semuanya baik kok”
Agni menghela nafas panjang, kemudian mengangguk.
“anak jaman sekarang, bisik-bisik aja ya”ucap Sivia
bermaksud menggoda.
Agni menatap Sivia, tersenyum malu.
“kayak gak pernah muda aja”timpal Gabriel
“gimana makannya udah?”tanya Gabriel
Semuanya mengangguk dan dengan kompak meminum minuman yang
beberapa saat lalu tiba.
“ada apa Pa?”tanya Novi
Gabriel dan Sivia saling bertatapan, “kami memutuskan untuk
menikah”ucap Gabriel
“HAH?!” Novi dan Difa kompak berseru, sementara Cakka, Agni
dan Rio hanya menghela nafas berat. ‘mimpi
buruk’ batin Cakka.
“NO Pa! Novi gak setuju”ujar Novi
“Difa juga! Kenapa Mama gak rujuk sama Papa aja sih?” Difa
cemberut dan nafas yang tidak teratur karena emosi.
“Mama rasa Mama dan Oom Gabriel tidak menerima protes Difa!
Udahlah lama-lama kamu terbiasa juga kok”ucap Sivia, ia mengangkat wajah Difa
yang duduk di sampingnya.
“Nov...”
“terserah Papa deh”ucap Novi begitu putus asa.
Agni menghadapkan Rio ke arahnya, “kenapa Io'? kok kayak ada
sesuatu”
“gak tau Ni, badan aku gak enak banget... kayak ada
sesuatu”ujar Rio
Agni menghela nafas panjang, ini kesempatan bagus buat
menghindari lebih lama lagi acara pertemuan ini. hanya akan membuatnya sakit
hati.
“kita pulang ya... Pa, tante... semuanya Agni pulang dulu,
kayaknya Rio sakit”pamit Agni, ia dan Rio berdiri setelah mendapat anggukan
keduanya berlalu.
Alvin tersenyum picik melihatnya, ‘Alvin, loe emang jenius’ batinnya bangga.
***
Rio masih belum menjalankan mobilnya, ia mencengkram
kemudinya. Matanya terpejam, rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang harus di
salurkan.
“Io'...”Agni memegang pipi Rio agar menatapnya.
Rio membuka matanya, terlihat sangat sayu “kamu... jangan
ikut aku... bahaya”ujar Rio dengan nada yang serak, menegaskan sesuatu.
Agni menggeleng, “aku bakalan ikut kamu apapun yang terjadi!
Kamu kenapa? Ada yang sakit?”Agni mengusap wajah Rio
Rio memejamkan matanya, sentuhan Agni seperti sengatan
listrik baginya. “menjauh”ujar Rio dingin, ia menghempaskan tangan Agni.
“ada seseorang... yang masukin... argh” Rio mengacak-acak
rambutnya frustasi, rasa aneh itu benar-benar menyiksanya, mulai menguasainya.
Agni mendekatkan diri pada Rio, menatap pemuda itu khawatir
“kita pulang dulu, kamu pindah kesini biar aku yang nyetir” Agni membangunkan
dirinya agar Rio bisa bergeser dan tukar tempat.
Begitu Rio bergeser tempat, bukannya Agni melangkah ke kursi
pengemudi tapi ia malah jatuh terduduk
di pangkuan Rio.
“Io'”ujar Agni
Rio menggelengkan kepalanya pelan, mengurut dahinya. Mencoba
menghilangkan rasa aneh ini ‘gila, siapa
sih yang masukin obat ginian? Sial’ umpat Rio dalam hati.
“Rio... kamu...” ujar Agni karena merasakan sesuatu yang ‘aneh’
dengan posisi seperti ini, Agni kembali berdiri dan duduk di kursi pengemudi.
Rio mengangguk, “jangan deket aku Ni, balik lagi sana... aku
gak mau...”
Agni berdecak, ia menatap Rio tajam bosan mendengar
kata-kata itu. “aku bisa bantu kamu”ucapnya yakin
“tapi... jangan Agni”Rio menatap Agni dengan begitu dalam,
ia benar-benar khawatir dengan keselamatan gadis ini. benar saja, lama dalam
kondisi saling bertatapan seperti itu membuat Rio kalah juga dengan rasa aneh itu, ia
menyentakkan Agni hingga tersudut dan melumat ganas bibir gadis itu, tanpa
ampun.
To Be Continue...
No comments:
Post a Comment