Tuesday, 7 May 2013

Cowok itu... #21


...Spesial Agni-Cakka-Rio...

Agni merasakan seseorang menyentuh puncak kepalanya, ia mengangkat kepalanya pelan. Tidur sekejap  membuat kepalanya agak pening.
“Mama udah sadar?”tanya Agni begitu melihat Zevana tersenyum ke arahnya.

Kamarin, beberapa saat setelah Rio pulang Rio mengabarkan kalau Zevana pendarahan dan harus di bawa kerumah sakit. Rencana mereka buat membicarakan tentang pertunangannyapun harus di batalkan karena Agni khawatir akan kondisi Zevana, ia tak mau egois karena ia sangat menyayangi Zevana.

Zevana mengangguk lemah kemudian  tersenyum  pada Agni, “Papa, Rio sama Gilang kemana?”Zevana bertanya dengan suara yang cukup lirih.

Agni membalas senyuman Zevana, “Papa gak tau Ma tapi kalau Rio sama Gilang tadi dini hari pulang mau ngambil pakaian ganti dan Gilang bersiap ke sekolah” Agni berdiri “Mama ada yang sakit? Biar Agni panggilin dokter dulu”

Zevana meraih tangan Agni, “gak perlu, kamu temenin Mama”
Agni kembali duduk menatap Zevana yang pikirannya terlihat melayang.
“Mama seneng  Rio sama kamu sayang, kamu benar-benar baik dan perhatian. Berjanjilah...”
Agni menatap lekat pada Zevana yang kini menatapnya, “berjanjilah... jaga dia, bahagiakan dia... Rio terlihat sangat menyayangimu”

Mata Agni mulai berkaca-kaca, ia menggenggam erat jemari Zevana, “Ma...”Agni menghembuskan nafas berat, hatinya merasa tertohok “iya Agni berjanji” Agni memeluk lengan Zevana mencari kekuatan, ia benar-benar menyayangi Zevana. Bagaimanapun Agni merasa nyaman kalau sedang bersama Zevana, ia merasa seakan Mamanya hidup kembali dalam sosok Zevana.

“khm... datang tidak tepat waktu ya?”Gabriel berdiri di ambang pintu, masih memegang hendle pintu.

Agni menyeka air matanya, ia berbalik dan tersenyum pada Gabriel, “Papa... kapan pulang?”tanya Agni dengan nada yang merajuk.

Gabriel terkekeh, ia mendekati Agni kemudian mengacak-acak rambut putrinya itu gemas.
“tadi pagi, begitu urusan selesai Papa langsung pulang” Gabriel beralih pandang dari Agni pada Zevana.
“bagaimana keadaanmu? Apa pendarahannya tidak berakibat buruk?”

Zevana menggeleng, “baik, mungkin”

Gabriel tersenyum, ia teringat pada mendiang istrinya ketika pendarahan saat mengandung Novi, dia juga berkata seperti itu, “aku harap sangat baik”ujarnya.
“oiya, kalau boleh nanti malam aku mau mengajak Rio dan Agni menemui seseorang”

Zevana mengerutkan dahi, “calon istri? Boleh, silahkan saja”

Gabriel terkekeh, wanita ini ternyata sangat peka.
“yaudah, Zeva aku pergi dulu harus ke kantor. Dan kamu sayang... jaga Mamamu ya, buat nanti malam Papa udah siapin gaun di kamarmu lengkap dengan aksesorisnya”Gabriel mencolek hidung Agni, menggoda putrinya itu.

Agni menjauhkan telunjuk Papanya itu dari hidungnya, kemudian cemberut “jangan-jangan kayak tante-tante lagi, ish ogah”rutuk Agni yang membuat Gabriel semakin terkekeh.

“udah ah, Papa pamit dulu... salam sama Patton, Rio dan Gilang”pesan Gabriel sebelum berlalu.

Tak lama setelah Gabriel berlalu Rio memasuki ruangan itu dengan membawa tas.
“Papa bilang aku harus ikut nanrti malam ya Ni?”tanya Rio begitu memasuki ruangan.

Agni mengangguk, “oiya Ma, apa Mama belum laper?”

Zevana tersenyum, “belum, nanti juga ada yang nganterinkan?”

Agni mengangguk lagi kemudian menghampiri Rio.
“kamu bawa baju aku?”

Rio mengangguk kemudian melirik tas yang ia bawa tadi, “itu satu set baju kamu... lengkap...”

Agni membulatkan matanya mengerti dengan ucapan Rio yang kayaknya sengaja di gantungkan, “dasar mesum”umpat Agni, kemudian ia meraih tas itu menuju kamar mandi rumah sakit.

Rio terkikik geli begitu melihat wajah Agni yang memerah, ia mengalihkan pandangannya pada Zevana yang ternyata sedang menatapnya.
“Mama seneng deh, kalian gak pernah ada masalah yang sampe fatal”

DEG!

Rio tertegun, ia menunduk sejenak tapi kemudian menatap ke arah Zevana dengan senyuman yang tersungging begitu bahagia, “aku beruntung Ma, Agni sangat pengertian”

“iya, Mama senang sekali... Agni benar-benar sempurna... cantik di luar dan cantik di dalam”ujar Zevana.

“Ma, udah sadar? Rio kamu sudah makan? Ini Papa bawakan makanan... Agni mana?” Patton yang baru memasuki ruangan itu berkata begitu panjang tanpa ada minat jawaban dari Rio dan Zevana.
“ohh... mandi ya? Rio ini makan”Patton menyodorkan dua box makanan.

Rio menjauh, ia duduk di sofa panjang dan meletakkan box itu di sampingnya, “nunggu Agni dulu Pa”

Patton mengangguk setuju kemudian pandangannya beralih pada Zevana mengeluarkan kata-kata yang begitu menggelikan di telinga Rio, ‘gak sadar udah tua banget’ rutuk Rio dalam hati.

***

Cakka duduk dengan gusar, sesekali ia melirik arlojinya. Udah hampir satu jam ia menunggu tapi yang di tunggu belum datang juga.
“Kka... disini juga?”tanya Ify yang baru memasuki cafe itu.

Cakka tersenyum simpul, “seperti yang loe liat”jawab Cakka seadanya.

Ify duduk di hadapan Cakka, “udah ada kabar baik dari mereka berdua, kemarin Rio janji malam tadi akan ada kabar baik tapi pada kenyataannya sampe siang ini gak ada dan parahnya hape nya juga gak aktif”

Cakka menghela nafas panjang, “Rio dan Agni did rumah sakit”

Ify membulatkan matanya, “r..rrumah sakit? Apa mereka...”

“pendarahan...”Cakka menghela nafas panjang.

“pendarahan?”Ify semakin membelalakan matanya mendengar penuturan Cakka yang setengah-setengah.

Cakka mengangguk, “Mamanya Rio pendarahan”lanjut Cakka yang membuat Ify menghembuskan nafas lega sambil bergumam. “kirain...”

Cakka menyipitkan mata, “loe masih curiga sama mereka?”

Ify mengangkat bahunya, “sedikit...”

“sedikit percaya ya? dan banyak bak percayanya”potong Rio yang entah dari kapan berdiri di dekat mereka, “ehh Kka sorry gue dateng gak di undang, dia gak bisa pergi kalau gak sama gue” lanjut Rio kemudian duduk di kursi kosong di sebelah kiri Cakka, sementara Agni duduk di sebelah kanan Cakka membuat Rio dan Agni berhadapan.

“gimana keadaan tante Zevana?”tanya Cakka

“baik, lebih baik”jawab Rio dengan nada datar dan dingin.

“syukur kalo gitu... boleh gue ngobrol berdua sama Agni?”tanya Cakka yang mendapat anggukan dari Rio.

Sepeninggal Cakka dan Agni, Ify masih terdiam. Lagi dan lagi, ia ceroboh mengeluarkan kata-kata.
“sakit banget ya ternyata, mencintai tapi gak di percaya”guman Rio dengan senyuman yang terlihat sangat miris.

Ify meringis, sebenernya bukan gitu. Tapi... “Io', bukan gitu maksudnya...”

Rio memutar bola matanya menatap Ify dengan tajam, “terus? Setelah kamu mau aku sayang sama Agni seutuhnya sekarang apa mau kamu? Meniduri dia?”
Dingin, itulah nada bicara Rio sekarang. Bukan... bukan sekarang saja, tapi akhir-akhir ini.

Wajah Ify menegang, wajahnya seketika menjadi pucat pasi.
“jangan...”ucap Ify begitu lirih.

“terserah ya kamu mau percaya atau gak! toh sekarang aku bener-bener gak bisa lepasin Agni”Rio berujar, kemudian memanggil seorang waiters untuk memesan minuman.

***

Agni menyandarkan kepalanya di bahu Cakka, sesekali ia menghirup udara yang bercampur parfum maskulin.
“aku bingung Kka... aku berencana memberi tau Papa dulu baru orang tua Rio, tentunya setelah Mama Zevana sembuh”

Cakka mengelus puncak kepala Agni kemudian mengecupnya, “apapun keputusan kamu, aku bakalan dukung terus Ni, aku tau itu yang terbaik”

Agni mengangguk kemudian memeluk pinggang Cakka, ia benar-benar mau memanfaatkan pertemuan ini sebaik mungkin, ia takut nanti... mereka sulit bertemu.
“kamu tau gak Ni?”

Agni mengangkat wajahnya menghadap Cakka, “enggak”

Cakka tak menghiraukan ucapan Agni, ia membalas tatapan Agni dengan sendu “kamu itu...”Cakka mengecup pelan pangkal hidung Agni, “...menggairahkan”Cakka menyeringai nakal.

Sementara itu Agni menjauhkan tubuhnya dari Cakka, memukul pelan lengan pemuda itu, “mesum banget sih, gak kamu gak Rio sama aja mesumnya, cowok itu emang mesum semua deh ya kayaknya”

Cakka terkikik geli melihat ekspresi Agni, ia menyampirkan rambut Agni yang turun ke pipi.
“kapan-kapan rambut kamu iket dan kalo mau ketemu sama aku jangan pake rok atau celana di atas lutut gini”Cakka mengedipkan mata pada Agni, menggoda.

Agni melihat penampilannya, hot pants seperti biasanya. Agni emang senang dengan celana model itu karena gak ribet,
“emang kenapa sih Kka?”tanya Agni masih memandangi penampilannya sendiri.

Cakka berdecak, “Agni... aku ini normal sayang... ngerti gak sih? Pelajaran biologi kamu nilainya berapa sih? Masa yang gitu aja gak ngerti”ungkap Cakka dengan nada yang kesal.

Agni memikirkan apa yang di ucapkan Cakka, tak lama kemudian wajahnya memerah seperti tomat matang. “Kka... ihh porno banget sih”

“siapa yang porno? Orang aku cuma ngasih tau, itu sih pikiran kamu aja tuh yang kelewat mesum”ejek Cakka yang di hadiahi cubitan-cubitan ganas dari Agni.

Agni kemudian menjauh dari Cakka, ia menggembungkan kedua pipinya, “orang ini Rio yang bawain kok, salahin dia gih jangan salahin aku”dengek Agni.

Cakka mendesah, ia mendekati Agni kemudian mengacak rambut gadis itu sebentar, “yaudah, jangan ngambek dong”

Agni menyipitkan matanya, “kamu gak cemburu?”

Cakka mengalihkan pandangan pada sembarang tempat sambil menyandarkan badannya ke kursi.
“udah kebal”Cakka terkekeh kemudian menjulurkan lidahnya pda Agni.
“ihhh”Agni memutar bola matanya kesal, ia menjulurkan lidahnya juga membalas perlakuan Cakka.

***

Sivia memasuki ruangan Alvin dengan senyuman yang merekah.
“Alvin... malam ini temenin Mama ya?”pinta Sivia kemudian berdiri di samping Alvin, menghadap putranya yang duduk di kursi kerja.

“kenapa gak Cakka aja sih? Alvin masih sibuk Ma, mungkin lembur”Alvin terus memfokuskan dirinya pada dokumen-dokumen dihadapannya, kemudian sesekali melirik layar komputernya.

Sivia menarik pipi kanan Alvin agar putra sulungnya itu menghadapnya.
“kenapa Vin? Kayaknya kamu gak mau banget nemenin Mama... Mama ada salah apa sama kamu?”tanya Sivia begitu lirih.

Alvin menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Sivia yang masih ada di pipinya, kemudian mengecupnya lama.
“Alvin usahain ya? Mama tinggal kasih tau alamatnya dan waktunya”

Sivia tersenyum, ia mengangguk begitu senang. Semenjak perpisahan itu Sivia menjadi sulit untuk bertemu Alvin, karena dia lebih memilih menyibukan dengan kertas-kertas daripada bersama Sivia.
“yaudah, Mama balik ke kantor Mama dulu ya...”Sivia mengecup pipi Alvin sebelum akhirnya berlalu.

***

Cakka dan Agni berjalan mendekati meja Rio dan Ify yang terlihat saling diam. Agni dapat menangkap dari mata Rio kalau pemuda itu sedang kesal, rahangnya juga mengatup keras. Agni menghela nafas panjang, ‘kenapa lagi sih?’ batin Agni

Rio berdiri kemudian mengelurkan dompetnya, meletakkan selembar uang untuk membayar minumannya, setelah itu ia beralih pada Agni, “yuk, Mama udah nanyain”ajak Rio

Agni mengangguk, ia melirik Cakka “aku pulang ya?”pamit Agni, ia berusaha melepaskan genggaman tangan Cakka yang begitu erat. “Kka..”

“yaudah”guman Cakka setelah itu mendaratkan sebuah kecupan kecil di pipi Agni tepat di sudut bibirnya. “hati-hati ya”

Agni tersenyum kaku, ia mengangguk kemudian menarik tangan Rio keluar dari cafe tersebut. Agni merasakan tangan Rio mengepal dengan begitu keras. “kenapa Io'?”tanya Agni setelah berada di dekat mobil.

Rio tak menyahut, ia membukakan pintu untuk Agni. Agni masuk tanpa ingin membantah. Setelah itu Rio masuk di pintu pengemudi.
“Rio... kenapa lagi?”tanya Agni lagi

Rio masih tak menjawab. Agni menghela nafas panjang, ada yang salah lagi?

***

Malam harinya sebelum Agni berangkat ke tempat dimana ia janjian dengan Papanya ia menyempatkan diri datang ke rumah sakit, tentu saja dengan Rio yang kini terlihat seperti pria metroseksual.
“kenapa kamu beda banget?”tanya Agni

Rio mengangkat bahunya, “aku gak mau buat malu mertuaku”jawab Rio begitu datar dan dingin. Semenjak tadi siang Rio memang begitu, tapi untunglah sekarang lebih baik. “gak kedinginan pake baju gitu? Udah tipis, atasnya gak ada tali sedikitpun lagi”komentar Rio melihat penampilan Agni yang menurutnya aneh. Dress berwarna soft green selutut tanpa lengan atau tali dan beberapa aksesoris di leher dan tangannya, rambutnya juga agak di keriting gantung.

“enggak, ini tadi Papa yang beli... Ma Pa”sapa Agni begitu memasuki ruang rawat Zevana.

Zevana tersenyum, “Agni... cantik sekali”imbuh Zevana.

Agni terkekeh, “biasa aja ahh Ma, oiya gimana keadaan Mama? Udah baikan?”

Zevana mengangguk, “baik sekali, kata dokter juga lusa boleh pulang”

“bagus kalo gitu Ma, Agni khawatir kalo Mama di rawat terus”Agni tersenyum pada Zevana.

***

Gabriel dan Novi kini berada di sebuah restaurant mewah, dan memboking tempat privacy. Mereka duduk di sebuah meja yang terlihat kursinya masih ada Lima yang kosong.
“mau ada apa sih Pa? Tumben banget, mana kak Rio juga di ajak”ujar Novi, ia mengenakan gaun yang berwarna sama dengan milik Agni namun dengan model yang berbeda.

Gabriel terkekeh, “sama seseorang, nanti Papa jelasin” ia mengelus kepala Novi dengan lembut.

“Gabriel... maaf ya telat”ucap seorang wanita bersama dua putranya, siapalagi kalau bukan Sivia bersama Cakka dan Difa.

“Vi, duduk... lho Cakka? Difa?”Gabriel menatap dua anak laki-laki yang tak asing lagi dimatanya.

“Oom Gabriel?”Cakka menunjuk Gabriel dengan kaget, apa arti semua ini?

“Cakka? Kamu kenal sama Oom Gabriel ini?”tanya Sivia

Gabriel dan Cakka mengangguk, “dia temen anak aku, dia sering maen ke rumah kok”jawab Gabriel

“jadi ini Mama kamu Difa?”tanya Novi dengan kurang semangat, seperti ada hal yang buruk yang akan menghampiri.

Sivia tersenyum mendapati putra bungsunya berbincang begitu akrab dengan putri dari Gabriel, “bagus deh ya kalau udah akrab gini, kan jadi enak”

Cakka mengagguk samar, kemudian mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.
‘jangan sampe ini kabar buruk’ batin Cakka terus berdo’a dalam hati.

“Papa... maaf ya Agni telat, tadi ke rumah sakit dulu liat Mama”

Cakka mengangkat wajahnya begitu mendengar suara lembut itu, “Agni”

Agni berpaling pada Cakka, “eh Kka... tante Sivia... Difa...”sapa Agni dengan nada kekagetannya, namun terus memamerkan senyumannya.

“Mama? Bukannya Mama kamu...”

Agni dan Rio duduk berdampingan, Agni tersenyum pada Sivia “Mamanya Rio tante...”

Sivia mengangguk-angguk mengerti, “Rio? Bukannya kamu temen Cakka ya?”

Rio tersenyum ia mengangguk kaku tanpa ada niat mengeluarkan suara, pikirannya berkutat dengan maksud orang-orang ini kenapa berkumpul? ‘semoga gak ada kabar buruk’ batin Rio, ia sedikit memejamkan matanya.

“Rio ini tunangan Agni, Vi. Udah hampir setengah tahun”jelas Gabriel, sementara Agni hanya tersenyum begitupun Rio.

Sivia merengut, ia mengalihkan pandangannya pada Cakka “katanya Agni pacar kamu Kka? Jangan bilang kamu bohongin Mama”

Cakka meringis, ia menggaruk tengkuknya, “gini Ma, kita... aku, Rio, Agni dan pacar aku emang kadang suka tuker-tukeran pacar, kebetulan waktu itu pacar aku gak bisa dateng” dusta Cakka dengan lancar, membuat Agni dan Rio menghela nafas panjang. “bukannya gitu Yo? Ni?”sambung Cakka.

Rio terkekeh, “hehe iya tante, Pa... iseng aja sih iyakan Bee?”
Rio mengguncang bahu Agni yang belum menyahut, “Bee?”

Agni mengangguk ragu, ia melirik pada Papanya yang menatap dengan penuh pertanyaan.
“udah sih Pa liatinnya gak usah gitu amat, toh cuma iseng kok”ujar Agni, ia berusaha menyembunyikan kekacauannya dengan senyuman setulus mungkin pada Gabriel. Ia benar-benar belum siap mengecewakan Papanya yang sekarang nampak sedang berbahagia.

Sementara Difa dan Novi hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal, keadaan ini membuat mereka bingung dan hanya diam saja menyimak alibi-alibi mereka.

“mohon maaf lama Pak, Bu pesanannya... ini makanan spesial disini silahkan menikmati”

Gabriel dan Sivia tersenyum pada waiters tersebut, kemudian mengangguk.

***

Seorang pemuda memasuki restaurant yang sama dengan keluarga Gabriel dan Sivia, pemuda itu menuju waiters yang membawa minuman.
“kenapa Mas?”

Pemuda itu memasukan sebuah serbuk pada satu minuman, “awas jangan salah kasih ini, tuh kasih sama laki-laki yang agak hitam manis, bukan yang sebelah ibu-ibu. Tapi yang itu... mengerti?”

“ta..tapi?”

Pemuda itu berdecak, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, “ini upah buatmu, kalau tepat nanti aku tambahin, ini bukan racun kok”

Waiters itu mengangguk ragu.

“bagus” pemuda itu mendahului waiters, berjalan ke arah meja yang di tunjuk tadi.
“hai Ma, Oom... maaf saya terlambat”

“Alvin, duduk”ucap Sivia
“El, ini anak sulung aku... Alvin”

Gabriel dan Alvin berjabat tangan, “Gabriel”
“Alvin”

“yuk langsung makan aja dulu”ucap Gabriel yang di angguki yang lainnya.

Cakka, Agni dan Rio sesekali curi-curi pandang satu sama lain.
Agni menurunkan tangannya, memegang paha Rio agar pemuda itu menghadapnya.
“aku takut”bisik Agni pada Rio

Rio mengelus rambut Agni, “sabar ya? semuanya baik kok”

Agni menghela nafas panjang, kemudian mengangguk.

“anak jaman sekarang, bisik-bisik aja ya”ucap Sivia bermaksud menggoda.

Agni menatap Sivia, tersenyum malu.
“kayak gak pernah muda aja”timpal Gabriel
“gimana makannya udah?”tanya Gabriel

Semuanya mengangguk dan dengan kompak meminum minuman yang beberapa saat lalu tiba.
“ada apa Pa?”tanya Novi

Gabriel dan Sivia saling bertatapan, “kami memutuskan untuk menikah”ucap Gabriel

“HAH?!” Novi dan Difa kompak berseru, sementara Cakka, Agni dan Rio hanya menghela nafas berat. ‘mimpi buruk’ batin Cakka.

“NO Pa! Novi gak setuju”ujar Novi
“Difa juga! Kenapa Mama gak rujuk sama Papa aja sih?” Difa cemberut dan nafas yang tidak teratur karena emosi.

“Mama rasa Mama dan Oom Gabriel tidak menerima protes Difa! Udahlah lama-lama kamu terbiasa juga kok”ucap Sivia, ia mengangkat wajah Difa yang duduk di sampingnya.

“Nov...”

“terserah Papa deh”ucap Novi begitu putus asa.

Agni menghadapkan Rio ke arahnya, “kenapa Io'? kok kayak ada sesuatu”

“gak tau Ni, badan aku gak enak banget... kayak ada sesuatu”ujar Rio

Agni menghela nafas panjang, ini kesempatan bagus buat menghindari lebih lama lagi acara pertemuan ini. hanya akan membuatnya sakit hati.
“kita pulang ya... Pa, tante... semuanya Agni pulang dulu, kayaknya Rio sakit”pamit Agni, ia dan Rio berdiri setelah mendapat anggukan keduanya berlalu.

Alvin tersenyum picik melihatnya, ‘Alvin, loe emang jenius’ batinnya bangga.

***

Rio masih belum menjalankan mobilnya, ia mencengkram kemudinya. Matanya terpejam, rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang harus di salurkan.
“Io'...”Agni memegang pipi Rio agar menatapnya.

Rio membuka matanya, terlihat sangat sayu “kamu... jangan ikut aku... bahaya”ujar Rio dengan nada yang serak, menegaskan sesuatu.

Agni menggeleng, “aku bakalan ikut kamu apapun yang terjadi! Kamu kenapa? Ada yang sakit?”Agni mengusap wajah Rio

Rio memejamkan matanya, sentuhan Agni seperti sengatan listrik baginya. “menjauh”ujar Rio dingin, ia menghempaskan tangan Agni.
“ada seseorang... yang masukin... argh” Rio mengacak-acak rambutnya frustasi, rasa aneh itu benar-benar menyiksanya, mulai menguasainya.

Agni mendekatkan diri pada Rio, menatap pemuda itu khawatir “kita pulang dulu, kamu pindah kesini biar aku yang nyetir” Agni membangunkan dirinya agar Rio bisa bergeser dan tukar tempat.
Begitu Rio bergeser tempat, bukannya Agni melangkah ke kursi pengemudi tapi ia  malah jatuh terduduk di pangkuan Rio.
“Io'”ujar Agni

Rio menggelengkan kepalanya pelan, mengurut dahinya. Mencoba menghilangkan rasa aneh ini ‘gila, siapa sih yang masukin obat ginian? Sial’ umpat Rio dalam hati.
“Rio... kamu...” ujar Agni karena merasakan sesuatu yang ‘aneh’ dengan posisi seperti ini, Agni kembali berdiri dan duduk di kursi pengemudi.
Rio mengangguk, “jangan deket aku Ni, balik lagi sana... aku gak mau...”

Agni berdecak, ia menatap Rio tajam bosan mendengar kata-kata itu. “aku bisa bantu kamu”ucapnya yakin

“tapi... jangan Agni”Rio menatap Agni dengan begitu dalam, ia benar-benar khawatir dengan keselamatan gadis ini. benar saja, lama dalam kondisi saling bertatapan seperti itu membuat Rio  kalah juga dengan rasa aneh itu, ia menyentakkan Agni hingga tersudut dan melumat ganas bibir gadis itu, tanpa ampun.


To Be Continue...

No comments:

Post a Comment