Sunday, 5 May 2013

Between Love and Obsession Part 1


Title                      : Between Love and Obsession
Author                  : Nenden Siti Sopiah


“Malaikat pemberi cinta...”
Bab 1

Agni Juliana, seorang penyanyi muda yang memiliki paras begitu sempurna. Mata  bonekanya bersinar indah, hidungnya begitu mancung dengan pipi yang tidak begitu berisi, rambut hitam legam nan  panjang terurai indah, tak lupa dengan badan semampai, sangat ideal. Profesinya ini bukan hanya penyanyi melainkan model yang sangat ternama, dan bintang iklan berbagai jenis kecantikan. Tak pernah ada satupun perusahaan yang komplain pada Agni, semuanya selalu puas dengan hasil kerja gadis itu. Seperti Mario Arindous, beberapa kali ia memilih Agni sebagai modelnya. Walaupun ia selalu tak terjun langsung, tapi yang ia mau hanya Agni yang menjadi modelnya.

“Agni, ini boss kita... Pak Mario”ucap Ify, manager sekaligus Sepupu Agni.
Agni menjabat tangan Rio yang begitu kaku, ia tersenyum manis.
“Agni, senang berkenalan dengan anda”ucap Agni dengan sopan.
Ini juga salah satu kelebihan Agni, dimana ia selalu bersikap sopan pada siapapun, tidak menunjukan keangkuhan pada siapapun.

“bisa tinggalkan kami”kata Rio pada Ify, Ify hanya mengangguk mengerti.
Agni menunduk malu karena di perhatikan begitu intens oleh Rio, wajahnya begitu merona merah. Sementara Rio hanya tersenyum kecil melihat tingkah Agni.
“kamu masih kuliah?”tanya Rio sambil menyesap minuman dalam gelas yang ia pegang.

Agni sedikit mendongak, kemudian dengan gugup ia menjawab.
“udah tamat Pak  Mario, kebetulan saya baru wisuda beberapa bulan yang lalu”jelas Agni.

Rio tersenyum, ia sedikit curi-curi pandang ke arah Agni.
“gak nyari kerja? Atau gimana...”

Agni terkekeh, ia membenarkan letak rambutnya.
“kebetulan belum cari, mau menghirup udara segar dulu baru cari kerja”

Rio mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, kemudian ia berdecak.
“kenapa kamu tidak kerja di tempatku saja? Aku membutuhkan asisten pribadi”

Agni mengangguk, ia melirik sedikit ke arah Rio.
“terimakasih, nanti saya pikirkan dulu Pak  Mario”

Agni dan Rio mengalihkan pandangannya pada panggung utama yang ternyata riuh oleh beberapa tamu. Agni membulatkan matanya begitu melihat Ify ada di atas panggung dengan...
“dia Gabriel, manager IT di  perusahaanku”ujar Rio seakan tau apa yang dipikirkan Agni.

Gabriel terlihat berlutut di hadapan Ify dengan  menggenggam tangan kiri Ify.
“Fy, tamu diperta ini akan menjadi saksi ke seriusan aku, will you marry me?”
Gabriel mengelurkan sebuah kotak berwarna merah darah dari sakunya.

Agni terperangah melihat lamaran dadakan itu, ia sampai menutup mulutnya tak percaya.
Terdengarlah riuh penonton yang meneriakan “terima... terima”

“I will”jawab Ify dengan nada agak berbisik.
Tanpa basa-basi lagi Gabriel menyematkan cincin berlian itu di jari Ify.

Rio sedikit berbungkuk pada Agni.
“oiya... panggil aku Rio, kamu bolah manggil aku Pak  Cuma di kantor”bisik Rio tepat di telinga Agni.
Agni tersenyum kemudian mengangguk mengerti.

“Papa”
Teriak seorang gadis kecil yang berlari menuruni tangga kediaman itu, kemudian berhenti sambil menutup mulutnya malu karena dipandang semua tamu yang ada di tempat itu.
“ups”
Rio tersenyum melihat putri kecilnya, begitu menggemaskan saat wajah itu memerah seperti tomat.
“Angel sini”ajak Rio

Gadis kecil itu berlari ke arah Rio dengan segera. Rio membungkuk untuk menggapainya agar dapat memeluknya.
“malaikat Papa kok cantik banget sih? Jangan cantik-cantik ah... entar ada yang naksir lho”
Rio mencolek pipi Angel yang masih merona merah, dan  dengan gemas ia mencium pipi itu.
“Papa, An kan gak mau buat Papa malu”
Angel menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Rio.

Sementara Agni menatap takjub ke arah gadis kecil itu, ia begitu lucu dan menggemaskan. Apalagi melihat kedekatan mereka, dada Agni berdesir kalau begitu Rio pasti sudah memiliki istri. Agni mengehela nafas panjang.

“An, kenalin... ini tante Agni”
Rio menghadapkan Angel pada Agni yang sedari tadi menatap Angel dengan begitu dalam.
“hai tante? Nama aku Angel  Arindous”
Angel mengulurkan tangannya pada Agni.
Agni tersenyum kemudian membalas uluran tangan Angel.
“hai juga cantik, kenalin nama tante Agni Juliana”
Angel tersenyum pada Agni lalu mengalihkan pandangannya pada Rio.
“Papa, tante Agni cantik deh... kayak Barbie...”

Rio tersenyum, ia melirik Agni yang menunduk dan ia yakin gadis itu wajahnya merona merah. Rio membisikan sesuatu pada Angel yang di angguki gadis kecil itu.

“Angel mau kemana? Kok pergi?”
Tanya Agni dengan nada kecewa karena melihat Angel yang menjauh dari mereka. Memang dasarnya Agni menyukai anak kecil, jadi ia tidak begitu sulit untuk beradaptasi dengan anak kecil yang baru ia temui.

Rio tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis.

“selamat malam semuanya... An, mau bernyanyi buat Papa dan Mama An, I love you Mom, I love you Dad”
Angel mulai memainkan tuts-tuts piano itu.

Agni tersenyum haru melihat Angel, gadis kecil yang ia perkirakan masih berumur Lima tahun itu begitu pintar.
“anda pasti bahagia sekali memiliki putri yang begitu pintar dan cantik”ujar Agni

Rio terkekeh, pandangannya tak lepas dari Angel yang terus bermain.
“lebih bahagia lagi kalau bisa cari Mama yang pas buat dia”
Rio melirik ke arah Agni.
“aku rasa dia sudah pantas mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita yang di panggil Mama”

Agni menatap Rio sekilas.
“mudah bagi anda untuk mencari wanita seperti apapun”

“tapi tidak untuk Angel, aku butuh yang menyayangi dia, bukan menyayangiku”
Rio menatap Angel begitu dalam, Agni dapat melihat begitu melimpahnya kasih sayang dari Rio untuk Angel. Rio begitu menyayangi gadis kecil itu sampai-sampai tak mau hanya dirinya  yang bahagia.
“dia satu-satunya malaikan pemberi cinta di hatiku... siapa yang mencintai Angel, aku juga akan mencintai orang itu” lanjut Rio tanpa mengalihkan pandangan dari Angel.

Agni menatap takjub mendengar perkataan itu, namun ia masih belum mau menanggapi, ia masih menunggu kelanjutannya.

“apapun akan aku berikan padanya, termasuk sosok Mama yang dia mau”

***

Agni memandang pantulan dirinya di cermin yang bergitu besar, ia terus melihat dengan sedetail-detailnya, tidak mau ada sesuatu yang cacat dan memperburuk penampilannya.
“kamu yakin mau jadi asistennya Pak  Mario?”
Tanya Ify untuk kebeberapa kalinya, yang beberapa kali itupula di angguki oleh Agni.
“model biar jadi pekerjaan sampingan aku Fy...”

Ify mengangguk, ia berlalu dari kamar Agni yang kemudian di ikuti oleh Agni yang telah rapih dengan pakaiannya.
“sarapan dulu Ni, oya... nanti siang aku mau fitting baju pengantin sama Gabriel”

Agni menatap Ify dengan ragu.
“apa kamu yakin akan menikah dengan dia?”

Ify mengangguk pasti, ia menatap Agni seraya tersneyum.
“dia lelaki baik, dan aku yakin aku tidak salah”

Agni menghela nafas panjang, “yasudah” ia melanjutkan menyantap hidangan paginya.

***

Agni keluar dari taksi yang berhenti tepat di pintu utama perusahaan itu. Ia memasuki lobi kemudian berhenti di resepsionis.
“Pak  Mario sudah datang?”

Resepsionis itu menatap Agni tak suka.
“maaf, apa anda sudah membuat janji? Pak Mario sangat sibuk dan tidak bisa di ganggu oleh siapapun yang tidak memiliki kepentingan”

Agni tersenyum begitu tulus dan ramah.
“saya belum membuat janji, tapi beberapa hari yang lalu saya diminta datang”

Suara ketukan sepatu pantofel begitu kentara terdengar mendekat.
“dia asisten pribadi saya”

Resepsionis itu menunduk.
“selamat pagi Pak, maaf kami tidak mengetahuinya”

Rio menatap kedua resepsionisnya dengan dingin.
“Agni, ikut saya”

***

Agni menatap takjup jadwal kerja Rio, waktu luangnya hanya hari minggu dan setiap harinya ia meluangkan waktu dua jam di siang hari dan ia bekerja sampai jam sepuluh malam.
“kalau kamu tidak sanggup bekerja denganku sampai larut malam, kamu boleh bekerja sampai jam lima sore dengan syarat... kamu harus menemani Angel sampai aku  pulang atau sampai dia tidur, itupun kalau kamu tidak keberatan”

Agni mengerutkan keningnya. Jadi asisten atau baby sister sih? Tapi ia rasa itu cukup mudah karena Angel menurutnya mungkin tidak terlalu menyusahkan.
“saya tidak keberatan Pak”

“bagus”
Rio berdiri kemudian membereskan dokumen yang ada di mejanya.
“sekarang kamu ikut  meeting dan jam satu nanti kamu harus ikut  jemput Angel”

Agni mengangguk patuh kemudia menerima dokumen dari tangan Rio dan mengikutinya  menuju ruangan meeting.

***

Agni menunduk malu karena ia merasa menjadi pusat perhatian sepanjang meeting, Rio yang menyadari  itu hanya membisikan sesuatu yang juga membuat Agni tersipu.
“ternyata asistenku banyak yang naksir ya?” bisik Rio.

Agni tersenyum sambil melirik Rio, ia melihat arlojinya.
“Pak sudah jam satu siang”

Rio melirik Agni kemudian beralih  kembali pada cliennya.
“meeting kali ini saya kira cukup sekian, saya ada keperluan lain. Selamat bertemu kembali”
Rio berdiri menunduk hormat untuk pamit, Agni mengikuti apa yang Rio lakukan dan mengikuti Rio yang beranjak dari ruangan itu.

“sebenernya Angel punya sopir dan bodyguard pribadi, tapi Angel tidak  mau pulang kalau  tidak di jemput”
Rio berujar sambil berjalan berdampingan dengan Agni. Agni hanya mengangguk mengerti tanpa berkata apapun lagi.

***

“Papa...”
Angel berlari begitu melihat sebuah jaguar merah berhenti di pelataran parkir.
“Mama?”
Tatapan Angel berbinar saat melihat Agni keluar dari pintu yang berbeda.

“ikuti apa maunya”bisik Rio pada Agni.

Agni tersenyum kaku, ia melambaikan tangan pada Angel yang masih berlari ke arahnya. Begitu mendekat, gadis kecil itu merentangkan tangannya ke arah Agni.
“gendong”

Agni terkekeh begitu melihat tatapan manja Angel, ia menatap Rio sekilas. Kemudian mengangkat Angel setelah di beri persetujuan oleh Rio.
“apa kabar An?”

Angel tersenyum begitu cantik, ia memeluk leher Agni begitu posesif.
“baik,  An kangen banget  sama Mama”

Rio membukakan pintu untuk Agni, Agni menundukkan sedikit kepalanya sambil bergumam.
“terimakasih”
“M..Mama juga”Agni menghela nafas panjang.

Rio mengikuti Agni memasuki mobilnya,
“Pak jalan”
“An, langsung pulang aja ya? Papa hari ini masih banyak kerjaan”
Rio mengelus rambut Angel dengan sayang, meminta pengertian.

Angel turun dari pangkuan Agni, ia duduk di antara Rio dan Agni menghadap pada Rio. Tatapannya menunjukan sikap penolakan terhadap keinginan Rio.
“tapi Pa...”

“Mama bakalan nemenin kamu  kok, ya kan?”
Tanya Rio pada Agni yang sedang sibuk merapihkan rambut Angel yang menutupi wajah gadis kecil itu.

“ah... i...iya”
Agni menatap Rio begitu gugup, ia memerlukan adaptasi dengan kondisi ini. dalam pikirannya terus memutar, bagaimana mungkin Angel memanggilnya Mama? Sementara ia mengenal Rio saja baru malam pesta itu.

“masih betah di dalam mobil nyonya? Kita sudah sampai”
Rio menepuk pundak Agni yang masih duduk di dalam mobil padahal mobil itu telah berhenti di depan pintu utama kediaman Arindous. Selama itukah dia melamun?

Agni menunduk malu, kepergok sedang melamun seperti itu membuatnya yakin kalau wajahnya tadi terlihat begitu aneh dan memalukan.

***

Angel mendudukan dirinya di dekat Agni yang sedang memotong buah-buahan untuk Angel.
“Mama malem ini temenin An ya? An gak ada temen”
Gadis kecil itu begitu memelas, menatap Agni dengan tatapan nanar.

Agni tersenyum kecil, ia mengambil piring kemudian meletakkan buah-buahan itu.
“iya, nanti di temenin sampe Papa pulang”

Angel cemberut, ia melipat kedua tangannya di dada.
“kenapa sih Mama gak tinggal disini aja? Kata Papa, Mama kan bakalan jadi Mama Angel, dan ujung-ujungnya Mama juga tinggal disini, kenapa gak dari sekarang aja?”

Agni terdiam sejenak, ia terus menimang-nimang perkataan Angel, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran boss nya itu sekarang?
Agni tersenyum tipis.
“kan gak boleh sayang”
Agni mencoba memberi penjelasan pada Angel, ia menghela nafas panjang.
“emangnya Angel mau punya Mama kayak apa?”

Angel nampak berpikir,
“ya kayak Mama”

Agni menatap Angel aneh,
“Mama? Mama Angel? Emang Mama Angel kayak apa?”

Angel menggelengkan kepalanya cepat.
“No, Mom. Bukan...”
“terus?”Agni menatap Angel dengan intens
“ya Mama, Mama Agni”
Angel mengetukkan satu jarinya di dagu sambil mengayunkan kedua kakinya.
 “Papa lucu lho Ma waktu Angel tanya tentang Mama”

Agni mengerutkan dahi, ia tertarik dengan pembicaraan Angel.
“tanya apa?”

Angel terkekeh, entah apa yang ia bayangkan.
“waktu abis pesta itu, An nanya sama Papa. Apa tante yang tadi calon Mama buat Angel? Terus Papa malah gugup gitu, terus nanya sama An ‘apa An mau tante Agni jadi Mama An?’ ya jelas An ngangguk semangat, An bilang sama Papa An mau banget kalo tante Agni jadi Mama An soalnya tante  Agni cantik kayak barbie terus terus terus, Papa bilang iya kalo tante Agni bakalan jadi Mama An deh”
Gadis kecil itu mengakhiri ceritanya dengan senyuman yang sangat manis. Membuat Agni juga tersenyum sambil mengelus rambut Angel.

Agni berpikir sejenak, ia tak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Angel kalau gadis kecil itu tau ia bukanlah calon Mamanya. Ia menghela nafas berat.
“kalo udah makannya, An tidur ya? udah malem”

Angel mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya minta di gendong. Agni terkekeh kemudian menggendong Angel dan membawanya ke kamar yang bernuansa soft pink.

***

Rio memasuki kamar Angel, ia menyimpan jasnya di sofa kemudian melonggarkan dasi yang ia rasa mencekik lehernya seharian ini. Rio tersenyum kecil melihat Angel dan Agni yang tidur sangat pulas.
‘bagaimana cara mendapatkan gadis ini?’
Rio menghela nafas panjang, ia mengguncangkan tubuh Agni pelan, kemudian berbisik.
“Agni... aku sudah pulang”

Agni nampak menggeliat, perlahan membuka matanya. Namun begitu melihat bayang-bayang Rio ia segera bagun. Merapihkan pakaian dan rambutnya.
“Pak, maaf saya tertidur”

Rio terkekeh, ia beralih ke sisi tempat tidur Angel.
“bisa kamu jangan memakai istilah saya-anda kalau lagi di luar kantor? Atau jangan saja sekalian itu membuatku merasa aneh, dan apa kamau sudah lupa tentang panggilanku?”

Agni mengangguk mengerti, kemudian ia berdiri merapihkan roknya yang agak tersingkap, memakai kembali wedges dan cardigan nya.
“saya... eh aku pulang pulang dulu... Rio”

Rio berdiri dari duduknya, ia menghampiri Agni.
“biar aku antar, tidak baik  seorang gadis naik taksi sendiri malam-malam begini”
Rio meraih kunci mobilnya yang ada di dalam saku jasnya.
“yuk”
“tapi Rio... aku tidak enak”
“sama? Sudahlah buang rasa tidak enakmu itu”
Rio berjalan keluar dari kamar Angel, kemudian di ikuti oleh Agni. Agni merasa aneh pada Rio, ia rasa begitu hangat sekarang, berbeda sekali ketika menanggapi karyawan-karyawan wanitanya yang menyapanya tadi. Begitu datar dan dingin.

***

Ify menatap Agni dengan tajam, sejak malam tadi wajah Ify memang sungguh tidak bersahabat untuk Agni.
“kerja apa sampai larut malam seperti itu? Jawab jujur Agni” desak Ify.

Agni berdecak, ini pertanyaan yang di ulang beberapa kali padanya sejak semalam tadi.
“sudahku bilang, aku menjaga Angel. Semalam Pak Mario pulang larut”
“jawaban itu terus! Sebenarnya kamu itu asisten atau baby sister sih? Benar-benar tidak masuk akal”
“terserah kamu saja, sekarang aku mau berangkat”
Dengan kesal Agni meraih tasnya, kemudian berlalu tanpa mengindahkan teriakan Ify yang mengancamnya.

***

“Bu Agni... Pak Mario...”
sekertaris Rio  mendekati Agni begitu gadis itu keluar dari lift.
“ada apa dengan Pak Rio?”
tanya Agni sedatar mungkin, karena itu yang di ajarkan Rio padanya. ‘Kamu harus terlihat begitu berwibawa jika menjadi asistenku’ Agni sampai hafal ucapan itu.
“tadi begitu datang Pak Mario terlihat murung... dan beliau berpesan  kalau anda telah datang anda harus segera kesana, seperti sedang ada masalah”

Agni menghela nafas panjang, kemudian melirik sekertaris itu sekilas.
“yasudah, terimakasih” Agni segera berjalan ke ruangan Rio.

“Pak, anda memanggil saya?”
Agni bertanya begitu mendengar sahutan ‘masuk’ dari Rio yang ada di dalam sana. Agni meneguk ludahnya dengan sukar, ia merasa ruangan itu begitu menegangkan karena pancaran aura Rio yang menurutnya sangat menakutkan.
“duduk” ucap Rio begitu datar.

Agni menurutinya, ia duduk di hadapan Rio setelah meletakkan tas di mejanya yang memang sama-sama ada di ruangan itu. Agni menghela nafas berat.

“kamu melakukan apa pada Angel?”tanya Rio, lagi-lagi dengan nada yang datar dan dingin.

Agni membulatkan matanya, ia sedikit berpikir mencari jawaban.
“aku... aku tidak melakukan apapun”

Rio berdecak, ia berjalan mendekati Agni. Ia berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada meja tepat di hadapan Agni.
“ada masalah apa? kamu menolak permintaannya? Aku yakin jawabannya iya!”
“ti...tidak...”
“mana mungkin putriku yang selalu ceria itu begitu terlihat sedih pagi tadi kalau kau tidak menolak sesuatu atau terjadi sesuatu”

Agni menghela nafas panjang, ia berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
“aku rasa... karena aku tidak mau tinggal di rumahmu”

Rio menatap Agni dengan kilatan marah dimatanya.
“masalah sekecil itu? Hanya tinggal di rumahku dan kau menolaknya?”
“tapi Pak... kita bukan...”
“bukan pasangan kekasih? Bukan pasangan suami-istri yang tidak mungkin hidup satu rumah? Begitu?” Rio berdecak.
“ayolah Agni, aku tidak sanggup melihatnya sedih... aku berjanji tidak akan melakukan apapun padamu asal kau mau tinggal di rumahku”lanjut Rio.
“tapi Pak...”
“demi Angel”

Agni mendesah pasrah, ia benar-benar dalam posisi sulit sekarang.
“semalam saja Ify bertanya dengan pertanyaan aneh-aneh, apalagi kalau aku tinggal di rumahmu” Agni menutup matanya bingung.
“bagaimana kalau dia malah menuduh kita yang tidak-tidak Pak?”

Rio meraih dagu Agni, menghadapkan gadis itu agar menatapnya.
“kalau masalahmu itu... nanti aku yang akan bicara padanya”
Rio menghela nafas panjang, ia kembali duduk di kursinya.
“Angel akan memberimu cinta agar kamu mencintainya, dan setelah itu aku yakin... kamu tidak akan pernah mau meninggalkannya dan membuatnya sedih”

Agni mengangguk setuju, karena ia memang sudah merasakannya sekarang. Mendengar Angel yang sedih saja ia merasa tidak tega, tapi apa yang bisa ia lakukan? Agni sadar, dirinya bukanlah siapa-siapa buat Angel, apalagi... Rio.


Bersambung...
Saran dan kritik saya tunggu ya? :)

No comments:

Post a Comment