Title : Between Love and
Obsession
Author : Nenden Siti Sopiah
“Malaikat
pemberi cinta...”
Bab 1
Agni Juliana, seorang penyanyi
muda yang memiliki paras begitu sempurna. Mata
bonekanya bersinar indah, hidungnya begitu mancung dengan pipi yang
tidak begitu berisi, rambut hitam legam nan
panjang terurai indah, tak lupa dengan badan semampai, sangat ideal.
Profesinya ini bukan hanya penyanyi melainkan model yang sangat ternama, dan
bintang iklan berbagai jenis kecantikan. Tak pernah ada satupun perusahaan yang
komplain pada Agni, semuanya selalu puas dengan hasil kerja gadis itu. Seperti
Mario Arindous, beberapa kali ia memilih Agni sebagai modelnya. Walaupun ia
selalu tak terjun langsung, tapi yang ia mau hanya Agni yang menjadi modelnya.
“Agni, ini boss kita... Pak
Mario”ucap Ify, manager sekaligus Sepupu Agni.
Agni menjabat tangan Rio yang begitu kaku, ia tersenyum
manis.
“Agni, senang berkenalan dengan
anda”ucap Agni dengan sopan.
Ini juga salah satu kelebihan Agni, dimana ia selalu
bersikap sopan pada siapapun, tidak menunjukan keangkuhan pada siapapun.
“bisa tinggalkan kami”kata Rio
pada Ify, Ify hanya mengangguk mengerti.
Agni menunduk malu karena di perhatikan begitu intens oleh
Rio, wajahnya begitu merona merah. Sementara Rio hanya tersenyum kecil melihat
tingkah Agni.
“kamu masih kuliah?”tanya Rio
sambil menyesap minuman dalam gelas yang ia pegang.
Agni sedikit mendongak, kemudian dengan gugup ia menjawab.
“udah tamat Pak Mario, kebetulan saya baru wisuda beberapa
bulan yang lalu”jelas Agni.
Rio tersenyum, ia sedikit curi-curi pandang ke arah Agni.
“gak nyari kerja? Atau gimana...”
Agni terkekeh, ia membenarkan letak rambutnya.
“kebetulan belum cari, mau
menghirup udara segar dulu baru cari kerja”
Rio mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, kemudian ia
berdecak.
“kenapa kamu tidak kerja di
tempatku saja? Aku membutuhkan asisten pribadi”
Agni mengangguk, ia melirik sedikit ke arah Rio.
“terimakasih, nanti saya pikirkan
dulu Pak Mario”
Agni dan Rio mengalihkan pandangannya pada panggung utama
yang ternyata riuh oleh beberapa tamu. Agni membulatkan matanya begitu melihat
Ify ada di atas panggung dengan...
“dia Gabriel, manager IT di perusahaanku”ujar Rio seakan tau apa yang
dipikirkan Agni.
Gabriel terlihat berlutut di hadapan Ify dengan menggenggam tangan kiri Ify.
“Fy, tamu diperta ini akan
menjadi saksi ke seriusan aku, will you marry me?”
Gabriel mengelurkan sebuah kotak berwarna merah darah dari
sakunya.
Agni terperangah melihat lamaran dadakan itu, ia sampai
menutup mulutnya tak percaya.
Terdengarlah riuh penonton yang meneriakan “terima...
terima”
“I will”jawab Ify dengan nada agak
berbisik.
Tanpa basa-basi lagi Gabriel menyematkan cincin berlian itu
di jari Ify.
Rio sedikit berbungkuk pada Agni.
“oiya... panggil aku Rio, kamu
bolah manggil aku Pak Cuma di
kantor”bisik Rio tepat di telinga Agni.
Agni tersenyum kemudian mengangguk mengerti.
“Papa”
Teriak seorang gadis kecil yang berlari menuruni tangga
kediaman itu, kemudian berhenti sambil menutup mulutnya malu karena dipandang
semua tamu yang ada di tempat itu.
“ups”
Rio tersenyum melihat putri kecilnya, begitu menggemaskan
saat wajah itu memerah seperti tomat.
“Angel sini”ajak Rio
Gadis kecil itu berlari ke arah Rio dengan segera. Rio
membungkuk untuk menggapainya agar dapat memeluknya.
“malaikat Papa kok cantik banget
sih? Jangan cantik-cantik ah... entar ada yang naksir lho”
Rio mencolek pipi Angel yang masih merona merah, dan dengan gemas ia mencium pipi itu.
“Papa, An kan gak mau buat Papa
malu”
Angel menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Rio.
Sementara Agni menatap takjub ke arah gadis kecil itu, ia
begitu lucu dan menggemaskan. Apalagi melihat kedekatan mereka, dada Agni
berdesir kalau begitu Rio pasti sudah memiliki istri. Agni mengehela nafas
panjang.
“An, kenalin... ini tante Agni”
Rio menghadapkan Angel pada Agni yang sedari tadi menatap
Angel dengan begitu dalam.
“hai tante? Nama aku Angel Arindous”
Angel mengulurkan tangannya pada Agni.
Agni tersenyum kemudian membalas uluran tangan Angel.
“hai juga cantik, kenalin nama
tante Agni Juliana”
Angel tersenyum pada Agni lalu mengalihkan pandangannya pada
Rio.
“Papa, tante Agni cantik deh...
kayak Barbie...”
Rio tersenyum, ia melirik Agni yang menunduk dan ia yakin
gadis itu wajahnya merona merah. Rio membisikan sesuatu pada Angel yang di
angguki gadis kecil itu.
“Angel mau kemana? Kok pergi?”
Tanya Agni dengan nada kecewa karena melihat Angel yang
menjauh dari mereka. Memang dasarnya Agni menyukai anak kecil, jadi ia tidak
begitu sulit untuk beradaptasi dengan anak kecil yang baru ia temui.
Rio tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis.
“selamat malam semuanya... An,
mau bernyanyi buat Papa dan Mama An, I love you Mom, I love you Dad”
Angel mulai memainkan tuts-tuts piano itu.
Agni tersenyum haru melihat Angel, gadis kecil yang ia
perkirakan masih berumur Lima tahun itu begitu pintar.
“anda pasti bahagia sekali
memiliki putri yang begitu pintar dan cantik”ujar Agni
Rio terkekeh, pandangannya tak lepas dari Angel yang terus
bermain.
“lebih bahagia lagi kalau bisa
cari Mama yang pas buat dia”
Rio melirik ke arah Agni.
“aku rasa dia sudah pantas
mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita yang di panggil Mama”
Agni menatap Rio sekilas.
“mudah bagi anda untuk mencari
wanita seperti apapun”
“tapi tidak untuk Angel, aku
butuh yang menyayangi dia, bukan menyayangiku”
Rio menatap Angel begitu dalam, Agni dapat melihat begitu
melimpahnya kasih sayang dari Rio untuk Angel. Rio begitu menyayangi gadis
kecil itu sampai-sampai tak mau hanya dirinya yang bahagia.
“dia satu-satunya malaikan
pemberi cinta di hatiku... siapa yang mencintai Angel, aku juga akan mencintai
orang itu” lanjut Rio tanpa mengalihkan pandangan dari Angel.
Agni menatap takjub mendengar perkataan itu, namun ia masih
belum mau menanggapi, ia masih menunggu kelanjutannya.
“apapun akan aku berikan padanya,
termasuk sosok Mama yang dia mau”
***
Agni memandang pantulan dirinya di cermin yang bergitu
besar, ia terus melihat dengan sedetail-detailnya, tidak mau ada sesuatu yang
cacat dan memperburuk penampilannya.
“kamu yakin mau jadi asistennya
Pak Mario?”
Tanya Ify untuk kebeberapa kalinya, yang beberapa kali
itupula di angguki oleh Agni.
“model biar jadi pekerjaan
sampingan aku Fy...”
Ify mengangguk, ia berlalu dari kamar Agni yang kemudian di
ikuti oleh Agni yang telah rapih dengan pakaiannya.
“sarapan dulu Ni, oya... nanti
siang aku mau fitting baju pengantin sama Gabriel”
Agni menatap Ify dengan ragu.
“apa kamu yakin akan menikah
dengan dia?”
Ify mengangguk pasti, ia menatap Agni seraya tersneyum.
“dia lelaki baik, dan aku yakin
aku tidak salah”
Agni menghela nafas panjang, “yasudah” ia melanjutkan
menyantap hidangan paginya.
***
Agni keluar dari taksi yang berhenti tepat di pintu utama
perusahaan itu. Ia memasuki lobi kemudian berhenti di resepsionis.
“Pak Mario sudah datang?”
Resepsionis itu menatap Agni tak suka.
“maaf, apa anda sudah membuat
janji? Pak Mario sangat sibuk dan tidak bisa di ganggu oleh siapapun yang tidak
memiliki kepentingan”
Agni tersenyum begitu tulus dan ramah.
“saya belum membuat janji, tapi
beberapa hari yang lalu saya diminta datang”
Suara ketukan sepatu pantofel begitu kentara terdengar
mendekat.
“dia asisten pribadi saya”
Resepsionis itu menunduk.
“selamat pagi Pak, maaf kami
tidak mengetahuinya”
Rio menatap kedua resepsionisnya dengan dingin.
“Agni, ikut saya”
***
Agni menatap takjup jadwal kerja Rio, waktu luangnya hanya
hari minggu dan setiap harinya ia meluangkan waktu dua jam di siang hari dan ia
bekerja sampai jam sepuluh malam.
“kalau kamu tidak sanggup bekerja
denganku sampai larut malam, kamu boleh bekerja sampai jam lima sore dengan
syarat... kamu harus menemani Angel sampai aku pulang atau sampai dia tidur, itupun kalau
kamu tidak keberatan”
Agni mengerutkan keningnya. Jadi asisten atau baby sister
sih? Tapi ia rasa itu cukup mudah karena Angel menurutnya mungkin tidak terlalu
menyusahkan.
“saya tidak keberatan Pak”
“bagus”
Rio berdiri kemudian membereskan dokumen yang ada di
mejanya.
“sekarang kamu ikut meeting dan jam satu nanti kamu harus
ikut jemput Angel”
Agni mengangguk patuh kemudia menerima dokumen dari tangan
Rio dan mengikutinya menuju ruangan
meeting.
***
Agni menunduk malu karena ia merasa menjadi pusat perhatian
sepanjang meeting, Rio yang menyadari
itu hanya membisikan sesuatu yang juga membuat Agni tersipu.
“ternyata asistenku banyak yang
naksir ya?” bisik Rio.
Agni tersenyum sambil melirik Rio, ia melihat arlojinya.
“Pak sudah jam satu siang”
Rio melirik Agni kemudian beralih kembali pada cliennya.
“meeting kali ini saya kira cukup
sekian, saya ada keperluan lain. Selamat bertemu kembali”
Rio berdiri menunduk hormat untuk pamit, Agni mengikuti apa
yang Rio lakukan dan mengikuti Rio yang beranjak dari ruangan itu.
“sebenernya Angel punya sopir dan
bodyguard pribadi, tapi Angel tidak mau
pulang kalau tidak di jemput”
Rio berujar sambil berjalan berdampingan dengan Agni. Agni
hanya mengangguk mengerti tanpa berkata apapun lagi.
***
“Papa...”
Angel berlari begitu melihat sebuah jaguar merah berhenti di
pelataran parkir.
“Mama?”
Tatapan Angel berbinar saat melihat Agni keluar dari pintu
yang berbeda.
“ikuti apa maunya”bisik Rio pada
Agni.
Agni tersenyum kaku, ia melambaikan tangan pada Angel yang
masih berlari ke arahnya. Begitu mendekat, gadis kecil itu merentangkan
tangannya ke arah Agni.
“gendong”
Agni terkekeh begitu melihat tatapan manja Angel, ia menatap
Rio sekilas. Kemudian mengangkat Angel setelah di beri persetujuan oleh Rio.
“apa kabar An?”
Angel tersenyum begitu cantik, ia memeluk leher Agni begitu
posesif.
“baik, An kangen banget sama Mama”
Rio membukakan pintu untuk Agni, Agni menundukkan sedikit
kepalanya sambil bergumam.
“terimakasih”
“M..Mama juga”Agni menghela nafas
panjang.
Rio mengikuti Agni memasuki mobilnya,
“Pak jalan”
“An, langsung pulang aja ya? Papa
hari ini masih banyak kerjaan”
Rio mengelus rambut Angel dengan sayang, meminta pengertian.
Angel turun dari pangkuan Agni, ia duduk di antara Rio dan
Agni menghadap pada Rio. Tatapannya menunjukan sikap penolakan terhadap
keinginan Rio.
“tapi Pa...”
“Mama bakalan nemenin kamu kok, ya kan?”
Tanya Rio pada Agni yang sedang sibuk merapihkan rambut
Angel yang menutupi wajah gadis kecil itu.
“ah... i...iya”
Agni menatap Rio begitu gugup, ia memerlukan adaptasi dengan
kondisi ini. dalam pikirannya terus memutar, bagaimana mungkin Angel
memanggilnya Mama? Sementara ia mengenal Rio saja baru malam pesta itu.
“masih betah di dalam mobil
nyonya? Kita sudah sampai”
Rio menepuk pundak Agni yang masih duduk di dalam mobil
padahal mobil itu telah berhenti di depan pintu utama kediaman Arindous. Selama
itukah dia melamun?
Agni menunduk malu, kepergok sedang melamun seperti itu
membuatnya yakin kalau wajahnya tadi terlihat begitu aneh dan memalukan.
***
Angel mendudukan dirinya di dekat Agni yang sedang memotong
buah-buahan untuk Angel.
“Mama malem ini temenin An ya? An
gak ada temen”
Gadis kecil itu begitu memelas, menatap Agni dengan tatapan
nanar.
Agni tersenyum kecil, ia mengambil piring kemudian
meletakkan buah-buahan itu.
“iya, nanti di temenin sampe Papa
pulang”
Angel cemberut, ia melipat kedua tangannya di dada.
“kenapa sih Mama gak tinggal
disini aja? Kata Papa, Mama kan bakalan jadi Mama Angel, dan ujung-ujungnya
Mama juga tinggal disini, kenapa gak dari sekarang aja?”
Agni terdiam sejenak, ia terus menimang-nimang perkataan
Angel, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran boss nya itu sekarang?
Agni tersenyum tipis.
“kan gak boleh sayang”
Agni mencoba memberi penjelasan pada Angel, ia menghela
nafas panjang.
“emangnya Angel mau punya Mama
kayak apa?”
Angel nampak berpikir,
“ya kayak Mama”
Agni menatap Angel aneh,
“Mama? Mama Angel? Emang Mama
Angel kayak apa?”
Angel menggelengkan kepalanya cepat.
“No, Mom. Bukan...”
“terus?”Agni menatap Angel dengan
intens
“ya Mama, Mama Agni”
Angel mengetukkan satu jarinya di dagu sambil mengayunkan
kedua kakinya.
“Papa lucu lho Ma waktu Angel tanya tentang
Mama”
Agni mengerutkan dahi, ia tertarik dengan pembicaraan Angel.
“tanya apa?”
Angel terkekeh, entah apa yang ia bayangkan.
“waktu abis pesta itu, An nanya
sama Papa. Apa tante yang tadi calon Mama buat Angel? Terus Papa malah gugup
gitu, terus nanya sama An ‘apa An mau tante Agni jadi Mama An?’ ya jelas An
ngangguk semangat, An bilang sama Papa An mau banget kalo tante Agni jadi Mama
An soalnya tante Agni cantik kayak
barbie terus terus terus, Papa bilang iya kalo tante Agni bakalan jadi Mama An
deh”
Gadis kecil itu mengakhiri ceritanya dengan senyuman yang
sangat manis. Membuat Agni juga tersenyum sambil mengelus rambut Angel.
Agni berpikir sejenak, ia tak bisa membayangkan bagaimana
kecewanya Angel kalau gadis kecil itu tau ia bukanlah calon Mamanya. Ia
menghela nafas berat.
“kalo udah makannya, An tidur ya?
udah malem”
Angel mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya minta di
gendong. Agni terkekeh kemudian menggendong Angel dan membawanya ke kamar yang
bernuansa soft pink.
***
Rio memasuki kamar Angel, ia menyimpan jasnya di sofa
kemudian melonggarkan dasi yang ia rasa mencekik lehernya seharian ini. Rio
tersenyum kecil melihat Angel dan Agni yang tidur sangat pulas.
‘bagaimana cara mendapatkan gadis ini?’
Rio menghela nafas panjang, ia mengguncangkan tubuh Agni
pelan, kemudian berbisik.
“Agni... aku sudah pulang”
Agni nampak menggeliat, perlahan membuka matanya. Namun begitu
melihat bayang-bayang Rio ia segera bagun. Merapihkan pakaian dan rambutnya.
“Pak, maaf saya tertidur”
Rio terkekeh, ia beralih ke sisi tempat tidur Angel.
“bisa kamu jangan memakai istilah
saya-anda kalau lagi di luar kantor? Atau jangan saja sekalian itu membuatku
merasa aneh, dan apa kamau sudah lupa tentang panggilanku?”
Agni mengangguk mengerti, kemudian ia berdiri merapihkan
roknya yang agak tersingkap, memakai kembali wedges dan cardigan nya.
“saya... eh aku pulang pulang
dulu... Rio”
Rio berdiri dari duduknya, ia menghampiri Agni.
“biar aku antar, tidak baik seorang gadis naik taksi sendiri malam-malam
begini”
Rio meraih kunci mobilnya yang ada di dalam saku jasnya.
“yuk”
“tapi Rio... aku tidak enak”
“sama? Sudahlah buang rasa tidak
enakmu itu”
Rio berjalan keluar dari kamar Angel, kemudian di ikuti oleh
Agni. Agni merasa aneh pada Rio, ia rasa begitu hangat sekarang, berbeda sekali
ketika menanggapi karyawan-karyawan wanitanya yang menyapanya tadi. Begitu
datar dan dingin.
***
Ify menatap Agni dengan tajam, sejak malam tadi wajah Ify
memang sungguh tidak bersahabat untuk Agni.
“kerja apa sampai larut malam
seperti itu? Jawab jujur Agni” desak Ify.
Agni berdecak, ini pertanyaan yang di ulang beberapa kali
padanya sejak semalam tadi.
“sudahku bilang, aku menjaga
Angel. Semalam Pak Mario pulang larut”
“jawaban itu terus! Sebenarnya
kamu itu asisten atau baby sister sih? Benar-benar tidak masuk akal”
“terserah kamu saja, sekarang aku
mau berangkat”
Dengan kesal Agni meraih tasnya, kemudian berlalu tanpa
mengindahkan teriakan Ify yang mengancamnya.
***
“Bu Agni... Pak Mario...”
sekertaris Rio
mendekati Agni begitu gadis itu keluar dari lift.
“ada apa dengan Pak Rio?”
tanya Agni sedatar mungkin, karena itu yang di ajarkan Rio
padanya. ‘Kamu harus terlihat begitu
berwibawa jika menjadi asistenku’ Agni sampai hafal ucapan itu.
“tadi begitu datang Pak Mario
terlihat murung... dan beliau berpesan
kalau anda telah datang anda harus segera kesana, seperti sedang ada
masalah”
Agni menghela nafas panjang, kemudian melirik sekertaris itu
sekilas.
“yasudah, terimakasih” Agni
segera berjalan ke ruangan Rio.
“Pak, anda memanggil saya?”
Agni bertanya begitu mendengar sahutan ‘masuk’ dari Rio yang ada di dalam sana. Agni meneguk ludahnya
dengan sukar, ia merasa ruangan itu begitu menegangkan karena pancaran aura Rio
yang menurutnya sangat menakutkan.
“duduk” ucap Rio begitu datar.
Agni menurutinya, ia duduk di hadapan Rio setelah meletakkan
tas di mejanya yang memang sama-sama ada di ruangan itu. Agni menghela nafas
berat.
“kamu melakukan apa pada
Angel?”tanya Rio, lagi-lagi dengan nada yang datar dan dingin.
Agni membulatkan matanya, ia sedikit berpikir mencari
jawaban.
“aku... aku tidak melakukan
apapun”
Rio berdecak, ia berjalan mendekati Agni. Ia berdiri sambil
menyandarkan tubuhnya pada meja tepat di hadapan Agni.
“ada masalah apa? kamu menolak
permintaannya? Aku yakin jawabannya iya!”
“ti...tidak...”
“mana mungkin putriku yang selalu
ceria itu begitu terlihat sedih pagi tadi kalau kau tidak menolak sesuatu atau
terjadi sesuatu”
Agni menghela nafas panjang, ia berusaha menghilangkan rasa
gugupnya.
“aku rasa... karena aku tidak mau
tinggal di rumahmu”
Rio menatap Agni dengan kilatan marah dimatanya.
“masalah sekecil itu? Hanya
tinggal di rumahku dan kau menolaknya?”
“tapi Pak... kita bukan...”
“bukan pasangan kekasih? Bukan
pasangan suami-istri yang tidak mungkin hidup satu rumah? Begitu?” Rio
berdecak.
“ayolah Agni, aku tidak sanggup
melihatnya sedih... aku berjanji tidak akan melakukan apapun padamu asal kau
mau tinggal di rumahku”lanjut Rio.
“tapi Pak...”
“demi Angel”
Agni mendesah pasrah, ia benar-benar dalam posisi sulit
sekarang.
“semalam saja Ify bertanya dengan
pertanyaan aneh-aneh, apalagi kalau aku tinggal di rumahmu” Agni menutup matanya
bingung.
“bagaimana kalau dia malah
menuduh kita yang tidak-tidak Pak?”
Rio meraih dagu Agni, menghadapkan gadis itu agar
menatapnya.
“kalau masalahmu itu... nanti aku
yang akan bicara padanya”
Rio menghela nafas panjang, ia kembali duduk di kursinya.
“Angel akan memberimu cinta agar
kamu mencintainya, dan setelah itu aku yakin... kamu tidak akan pernah mau
meninggalkannya dan membuatnya sedih”
Agni mengangguk setuju, karena ia memang sudah merasakannya
sekarang. Mendengar Angel yang sedih saja ia merasa tidak tega, tapi apa yang
bisa ia lakukan? Agni sadar, dirinya bukanlah siapa-siapa buat Angel,
apalagi... Rio.
Bersambung...
Saran dan kritik saya
tunggu ya? :)
No comments:
Post a Comment