Jam belajar-mengajar mulai berlangsung, kebetulan harus
diskusi dengan beranggotakan empat orang.
“kok sial banget sih gue kelas dua belas ini? sekelas sama
cowok rese!”umpat Ify sambil melirik tajam pada Ray.
Agni tersenyum geli melihat wajah Ify yang sejak datang
kesekolah tadi cemberut terus, di tambah jika melihat Ray yang hanya
menanggapinya dengan datar-datar saja.
“udah deh Fy, ngomong sama mahkluk es mana ada gunanya?”
Sementara Cakka malah sibuk dengan ponselnya karena Shilla,
Mamanya terus saja menelponnya.
“Bu, saya permisi dulu”kata Cakka, ia berjalan keluar
ruangan kelas.
Agni, Ify dan Ray menatap kepergian Cakka, kemudian mulai
berdiskusi kembali mengenai Metabolisme yang prosesnya memang sangat rumit.
“glikolisis dulu, baru daur krebs, terus transfer
elektron”jelas Agni
“itukan proses aerob, kalo anaerob itu gimana? Kok hasilnya
bisa beda?”tanya Ray,
Belum sempat Agni menjawab, Cakka datang kembali kemudian
menarik Agni.
“mau kemana?”tanya Agni dengan panik
Cakka menatapnya dengan datar namun tersirat sekali bahwa
dia sedang kesakitan
“ikut gue”
Agni agak memberontak namun Cakka tetap menariknya dan
berpamitan pada guru untuk membawa Agni pergi sementara waktu. ia butuh
penyegaran, ia butuh sandaran.
***
Agni terperangah kagum dengan tempat yang kini ia pijak,
sebuah tebing yang sangat tinggi, di penuhi rumput dan ada sebuah pohon di
sebelah kirinya. Tak lupa pemandangan jarak jauh yang indah dan tanpa ia sangka
di bawah tebing itu ada sebuah rawa kecil yang begitu bening, Agni bergidik
ngeri ketika membayangkan kalau saja dirinya terjatuh kedalam sana.
Agni teringat sesuatu, tadi ketika di mobil ia berniat untuk
memarahi Cakka yang membawanya tanpa permisi, ia menengok kekanan dan kekiri
“Cakka...”panggil Agni
“Cakka...”suara Agni mulai panik
“Kka... jangan becanda deh gak lucu...”kini suara Agni mulai
bergetar ketakutan.
“gue disini”sahut Cakka yang sedang tiduran di bawah pohon,
Agni dengan cepat menengok kesumber suara.
“loe ngagetin gue aja, gimana kalo loe jatoh? Loe ilang dan
loe mati?”omel Agni
Cakka menarik ujung bibirnya, “ternyata ada ya yang
khawatirin gue?”gumannya tanpa maksud bertanya.
Agni memutar bola matanya kesal, “pede amat sih idup loe,
siapa juga yang khawatir sama loe? Mau loe kemana kek, terjun kek, mati kek
terserah loe aja!”
Cakka bangkit kemudian mendekat kearah jurang, ia melirik ke
arah Agni sebentar, “siap liat gue mati?”tanyanya sambil menatap Agni yang
masih menatapnya tajam.
“siap, hidup gue tenang kalo gak ada loe!”ucap Agni dengan
jutek, namun berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang benar-benar panik.
“oke”ujar Cakka
Agni membelalakan matanya, ia melihat Cakka semakin
mendekati jurang “jangan!”teriak Agni
Cakka tersenyum miring, ia berbalik pada Agni dan
mendekatinya, “kalo khawatir bilang aja, jangan gengsi-gengsi”ia mengelus pipi
kiri Agni dengan ibu jarinya.
Agni memutar bola matanya, ia menatap Cakka seolah menantang
“gak usah geer deh, siapa juga yang khawatir?! Gue cuma takut aja gue di
penjara gara-gara ngebiarin anak orang bunuh diri! Dan apa kata orang tua loe
nanti? Di sebut pembunuh? Ish... ogah”omelnya sambil membalikan badan menuju
mobil Cakka.
Cakka tersenyum miris, “orang tua gue gak bakalan bilang
apa-apa, malah mereka pasti bakalan bersyukur kalo gue mati”ucap Cakka dengan
lirih, ia berjalan kembali ke arah pohon lalu duduk bersandar di pohon itu.
Agni menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Cakka
kemudian menghampiri pemuda itu “kok loe bilang gitu sih Kka? Gak ada orang tua
yang gak sayang sama anaknya” Agni duduk di samping Cakka.
Cakka terlihat menghela nafas panjang, ia melirik Agni
sekilas kemudian memejamkan matanya, “yang peduli sama gue cuma kak Angel, tapi
sekarang dia malah pergi ke Jepang, yang ngertiin gue cuma dia. Gak ada lagi”
Agni tertegun, entah kenapa ia bisa merasakan sakit hatinya
Cakka yang sangat dalam, pemuda ini benar-benar sedang terpuruk dan butuh
sandaran. Agni menghela nafas, ia menarik kepala Cakka agar bersandar di
pundaknya, “kan ada gue, ya... walaupun gue gak bakalan sedewasa kak Angel,
tapi seenggaknya loe bisa cerita apapun ke gue, gue janji gak kasih tau sama
siapapun”
Cakka melirik Agni dengan ekor matanya, kemudian tersenyum
begitu tulus “muka loe merah gitu lucu deh”goda Cakka saat melihat wajah Agni
yang merona merah.
Agni menjauhkan kepala Cakka dari pundaknya, ia menjitak
kepala Cakka kesal “yaudah deh gue gak jadi baik-baik sama loe”ia
menggembungkan pipinya.
Cakka terkekeh, ia menarik pinggang Agni agar mendekat ke
arahnya, “jangan marah”bisik Cakka tepat di telinga Agni, setelah itu Cakka
membenamkan kepalanya di lekukan leher Agni dan kedua lengan kekarnya melingkar
di pinggang Agni, “orang tua gue mau cerai Ni, gue harus gimana?”tanya Cakka
tanpa mengubah posisi.
Agni mengelus kepala Cakka, “loe yang sabar aja ya? gue juga
gak tau harus gimana”guman Agni, ia menghela nafas “maaf ya... gue gak bisa
jadi pemberi solusi yang baik”
Setelah itu yang tercipta hanyalah hening, tak ada satupun
yang mengawali pembicaraan sampai Agni merasakan kalau hembusan nafas Cakka
mulai teratur, berbeda sekali saat tadi pemuda itu emosi, “tidur yang tenang
Kka”guman Agni, ia menyandarkan kepalanya pada kepala Cakka, kemudian badannya
bersandar pada Cakka juga.
***
Agni memasuki kediamannya, sebenarnya ia enggan pulang untuk
sementara waktu. Tapi kalau gak pulang ia harus tinggal dimana? Sementara
kakaknya sudah berangkat tadi pagi.
“Agni”panggil seseorang dengan suara yang berat dan ia tau
kalau orang itu adalah Gabriel.
“darimana aja kamu?”Gabriel memeluk Agni dengan erat, seakan
takut di tinggalkan lagi.
Agni menghela nafas panjang, baru saja ia hendak buka suara
ia telah melihat Sivia lagi yang baru keluar dari kamar Gabriel. Seintim itukah
mereka?
Agni melepaskan pelukan Gabriel dengan memaksa, “Agni
capek”ujarnya, kemudian berlalu tanpa adda niat berbalik untuk sekedar melihat
ekspresi Gabriel atau Sivia.
Agni menutupkan pintu kamarnya dengan tenang, kemudian
menguncinya dari dalam. Pikirannya benar-benar kalut, sebenarnya yang ia
permasalahkan bukan karena Sivia sahabatnya atu mantan kekasih kakaknya. Tapi
karena ia belum siap dan gak akan siap mendapatkan Mama baru, yang Agni
inginkan hanya Mamanya kembali, Mama yang belum pernah ia lihat sama sekali,
bukan Mama baru!
Agni menjatuhkan dirinya menjadi terduduk di lantai, ia
bingung kenapa Sivia mau-maunya dengan Papanya? Gabriel, yang umurnya berbeda
duapuluh tahun dengannya. Apa karena harta?
“Agni... buka Ni, makan siang dulu”
Agni tertegun mendengar suara lembut itu. Ya... itu suara
Sivia, ‘calon’ Mamanya.
“gue gak laper”teriak Agni
Terdengar ketukan lagi, “Agni... maaf... sekarang makan ya?”
Brak
Agni memukul pintu itu dengan keras, “gue bilang enggak ya
enggak!”bentak Agni.
“Agni! Siapa yang ngajarin kamu kasar gitu heh? Papa gak
pernah didik kamu jadi anak brutal gini!”
Kali ini Agni tau itu siapa, dia Gabriel! Dan dengan teganya
memarahinya demi gadis itu. Nafas Agni memburu, ini kali pertamanya Gabriel
membentaknya begitu kasar. Apa gadis itu lebih berharga darinya? Apa semua
kasih sayang untuknya sekarang sudah terenggut oleh gadis itu? Dan ia rasa
jawabannya adalah ya!
Dengan bergetar Agni meraih ponselnya, “Ify, loe kemana
sih?”gumannya karena sahabatnya tak kunjung mengangkat panggilannya.
Agni mendesah putus asa, kemudian dengan ragu ia mencari
sebuah nama kemudian memutuskan untuk memanggilnya.
“Kka...”
***
Agni bercerita dengan tersendat, sepanjang ia bercerita ia
terus menangis sesenggukan di hadapan Cakka.
“Papa loe pasti kesepian Ni, tujuh belas tahun sendirian dan
pasti sekarang dia butuh seseorang buat nemenin”ucap Cakka mengomentari cerita
Agni.
Agni menyeka air matanya kasar, “kan ada gue, ada kak Rio,
apa belum cukup?”
Cakka menghela nafas panjang, “bukan hanya itu Ni, loe kan
pinter Ni masa gak ngerti yang kayak gini? Papa loe pasti butuh seseorang buat
nemenin tidurnya, tujuh belas tahun buat waktu yang singkat buat seorang
laki-laki dewasa menahan gairahnya... denger ya Ni, jujur... gue aja yang baru
puber ngerasa susah ngontrolnya, apalagi Papa loe yang udah bener-bener matang”
Tanpa Agni sadari wajahnya merona merah mendengar penuturan
Cakka yang bisa di sebut fulgar, ia mengangguk mengerti dan menundukan
kepalanya dalam.
Cakka tersenyum miris, “keadaan kita berbanding terbalik ya
Ni? Orang tua gue mau cerai dan orang tua loe mau nikah lagi”Cakka terkekeh
seakan menertawakan hidup mereka, “kita sama-sama gak setuju sama orang tua
kita”
Agni menyandarkan kepalanya ke bahu Cakka, “gua harus gimana
Kka? Gue bingung kalo gak ada kak Rio, gue... gue...”
Cakka menarik Agni kedalam pelukannya, “loe bisa ngandelin
gue Ni, seperti yang gue bilang tadi siang, kapanpun gue bersedia ada buat
loe”Cakka mengakhiri ucapannya dengan tersenyum begitu tulus.
Agni membalas pelukkan Cakka, “thanks ya... jujur... loe
cowok ke tiga yang buat gue nyaman setelah Papa sama kak Rio”Agni mendongakkan
wajahnya menghadap Cakka, “maukan loe jadi kakak gue? Gue janji gak bakalan
nyusain”
Cakka terkekeh, “nyusaih juga gapapa, gue rela nemenin loe setiap saat, tempat ini bakalan
jadi tempat rahasia kita berdua, saat kita susah, suntuk atau apapun ini tempat
kita berdua dan selamanya akan menjadi rahasia kita”
Agni menjauhkan diri dari Cakka, ia tersenyum “makasih
banget Kka... yang gue mau sekarang teriak sekenceng-kencengnya, siapa tau aja
beban gue ilang”
Cakka mengacak puncak kepala Agni, “teriak aja, disini cuma
kita berdua dan gak bakalan ada yang
terganggu”
“temenin gue sampe gue tenang ya Kka?”Agni memalingkan
wajahnya dari Cakka kemudian berteriak sekencang yang ia bisa, seolah itu
nyanyian yang indah Cakka nampak tenang tidak merasa terganggu dengan teriakan
Agni yang sangat melengking itu.
***
Agni memasuki kediamannya, hatinya mulai tenang dan siap
untuk menghadapi Gabriel. Agni memucingkan matanya melihat ke arah pintu utama
rumahnya yang terbuka, ia berjalan dengan santai ke arah pintu itu.
“Agni pulang”seru Agni
“Agni”Sivia berjalan cepat ke arah Agni dan memeluknya
sebentar kemudian memegang bahu Agni, menatapnya dalam, “kamu kemana aja? Kok
gak bilang-bilang mau pergi? Di telpon gak di angkat-angkat, kita semua
khawatir”
Agni menghela nafas panjang, ia menjauhkan tangan Sivia dari
bahunya, “Agni capek, mau istirahat”ia berlalu begitu saja, namun berhenti
kembali.
“tentang pernikahan kalian...”
“kami tidak jadi menikah, aku gak mau liat kamu berontak
terus sama Papa kamu, aku gak mau rubah sifat baik dan bersahaja kamu jadi
pemberontak dan keras”ujar Sivia
Agni menghela nafas berat, ia berbalik kemudian memeluk
Sivia.
“thanks... gue sayang sama loe...”
Next...
No comments:
Post a Comment