Tuesday, 30 April 2013

Mengapa? III


Jam belajar-mengajar mulai berlangsung, kebetulan harus diskusi dengan beranggotakan empat orang.
“kok sial banget sih gue kelas dua belas ini? sekelas sama cowok rese!”umpat Ify sambil melirik tajam pada Ray.

Agni tersenyum geli melihat wajah Ify yang sejak datang kesekolah tadi cemberut terus, di tambah jika melihat Ray yang hanya menanggapinya dengan datar-datar saja.
“udah deh Fy, ngomong sama mahkluk es mana ada gunanya?”

Sementara Cakka malah sibuk dengan ponselnya karena Shilla, Mamanya terus saja menelponnya.
“Bu, saya permisi dulu”kata Cakka, ia berjalan keluar ruangan kelas.

Agni, Ify dan Ray menatap kepergian Cakka, kemudian mulai berdiskusi kembali mengenai Metabolisme yang prosesnya memang sangat rumit.
“glikolisis dulu, baru daur krebs, terus transfer elektron”jelas Agni

“itukan proses aerob, kalo anaerob itu gimana? Kok hasilnya bisa beda?”tanya Ray,

Belum sempat Agni menjawab, Cakka datang kembali kemudian menarik Agni.
“mau kemana?”tanya Agni dengan panik

Cakka menatapnya dengan datar namun tersirat sekali bahwa dia sedang kesakitan
“ikut gue”

Agni agak memberontak namun Cakka tetap menariknya dan berpamitan pada guru untuk membawa Agni pergi sementara waktu. ia butuh penyegaran, ia butuh sandaran.

***

Agni terperangah kagum dengan tempat yang kini ia pijak, sebuah tebing yang sangat tinggi, di penuhi rumput dan ada sebuah pohon di sebelah kirinya. Tak lupa pemandangan jarak jauh yang indah dan tanpa ia sangka di bawah tebing itu ada sebuah rawa kecil yang begitu bening, Agni bergidik ngeri ketika membayangkan kalau saja dirinya terjatuh kedalam sana.
Agni teringat sesuatu, tadi ketika di mobil ia berniat untuk memarahi Cakka yang membawanya tanpa permisi, ia menengok kekanan dan kekiri “Cakka...”panggil Agni
“Cakka...”suara Agni mulai panik
“Kka... jangan becanda deh gak lucu...”kini suara Agni mulai bergetar ketakutan.

“gue disini”sahut Cakka yang sedang tiduran di bawah pohon, Agni dengan cepat menengok kesumber suara.
“loe ngagetin gue aja, gimana kalo loe jatoh? Loe ilang dan loe mati?”omel Agni

Cakka menarik ujung bibirnya, “ternyata ada ya yang khawatirin gue?”gumannya tanpa maksud bertanya.

Agni memutar bola matanya kesal, “pede amat sih idup loe, siapa juga yang khawatir sama loe? Mau loe kemana kek, terjun kek, mati kek terserah loe aja!”

Cakka bangkit kemudian mendekat kearah jurang, ia melirik ke arah Agni sebentar, “siap liat gue mati?”tanyanya sambil menatap Agni yang masih menatapnya tajam.

“siap, hidup gue tenang kalo gak ada loe!”ucap Agni dengan jutek, namun berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang benar-benar panik.

“oke”ujar Cakka

Agni membelalakan matanya, ia melihat Cakka semakin mendekati jurang “jangan!”teriak Agni

Cakka tersenyum miring, ia berbalik pada Agni dan mendekatinya, “kalo khawatir bilang aja, jangan gengsi-gengsi”ia mengelus pipi kiri  Agni dengan ibu jarinya.

Agni memutar bola matanya, ia menatap Cakka seolah menantang “gak usah geer deh, siapa juga yang khawatir?! Gue cuma takut aja gue di penjara gara-gara ngebiarin anak orang bunuh diri! Dan apa kata orang tua loe nanti? Di sebut pembunuh? Ish... ogah”omelnya sambil membalikan badan menuju mobil Cakka.

Cakka tersenyum miris, “orang tua gue gak bakalan bilang apa-apa, malah mereka pasti bakalan bersyukur kalo gue mati”ucap Cakka dengan lirih, ia berjalan kembali ke arah pohon lalu duduk bersandar di pohon itu.

Agni menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Cakka kemudian menghampiri pemuda itu “kok loe bilang gitu sih Kka? Gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya” Agni duduk di samping Cakka.

Cakka terlihat menghela nafas panjang, ia melirik Agni sekilas kemudian memejamkan matanya, “yang peduli sama gue cuma kak Angel, tapi sekarang dia malah pergi ke Jepang, yang ngertiin gue cuma dia. Gak ada lagi”

Agni tertegun, entah kenapa ia bisa merasakan sakit hatinya Cakka yang sangat dalam, pemuda ini benar-benar sedang terpuruk dan butuh sandaran. Agni menghela nafas, ia menarik kepala Cakka agar bersandar di pundaknya, “kan ada gue, ya... walaupun gue gak bakalan sedewasa kak Angel, tapi seenggaknya loe bisa cerita apapun ke gue, gue janji gak kasih tau sama siapapun”

Cakka melirik Agni dengan ekor matanya, kemudian tersenyum begitu tulus “muka loe merah gitu lucu deh”goda Cakka saat melihat wajah Agni yang merona merah.

Agni menjauhkan kepala Cakka dari pundaknya, ia menjitak kepala Cakka kesal “yaudah deh gue gak jadi baik-baik sama loe”ia menggembungkan pipinya.

Cakka terkekeh, ia menarik pinggang Agni agar mendekat ke arahnya, “jangan marah”bisik Cakka tepat di telinga Agni, setelah itu Cakka membenamkan kepalanya di lekukan leher Agni dan kedua lengan kekarnya melingkar di pinggang Agni, “orang tua gue mau cerai Ni, gue harus gimana?”tanya Cakka tanpa mengubah posisi.

Agni mengelus kepala Cakka, “loe yang sabar aja ya? gue juga gak tau harus gimana”guman Agni, ia menghela nafas “maaf ya... gue gak bisa jadi pemberi solusi yang baik”

Setelah itu yang tercipta hanyalah hening, tak ada satupun yang mengawali pembicaraan sampai Agni merasakan kalau hembusan nafas Cakka mulai teratur, berbeda sekali saat tadi pemuda itu emosi, “tidur yang tenang Kka”guman Agni, ia menyandarkan kepalanya pada kepala Cakka, kemudian badannya bersandar pada Cakka juga.

***

Agni memasuki kediamannya, sebenarnya ia enggan pulang untuk sementara waktu. Tapi kalau gak pulang ia harus tinggal dimana? Sementara kakaknya sudah berangkat tadi pagi.
“Agni”panggil seseorang dengan suara yang berat dan ia tau kalau orang itu adalah Gabriel.
“darimana aja kamu?”Gabriel memeluk Agni dengan erat, seakan takut di tinggalkan lagi.

Agni menghela nafas panjang, baru saja ia hendak buka suara ia telah melihat Sivia lagi yang baru keluar dari kamar Gabriel. Seintim itukah mereka?
Agni melepaskan pelukan Gabriel dengan memaksa, “Agni capek”ujarnya, kemudian berlalu tanpa adda niat berbalik untuk sekedar melihat ekspresi Gabriel atau Sivia.

Agni menutupkan pintu kamarnya dengan tenang, kemudian menguncinya dari dalam. Pikirannya benar-benar kalut, sebenarnya yang ia permasalahkan bukan karena Sivia sahabatnya atu mantan kekasih kakaknya. Tapi karena ia belum siap dan gak akan siap mendapatkan Mama baru, yang Agni inginkan hanya Mamanya kembali, Mama yang belum pernah ia lihat sama sekali, bukan Mama baru!

Agni menjatuhkan dirinya menjadi terduduk di lantai, ia bingung kenapa Sivia mau-maunya dengan Papanya? Gabriel, yang umurnya berbeda duapuluh tahun dengannya. Apa karena harta?

“Agni... buka Ni, makan siang dulu”

Agni tertegun mendengar suara lembut itu. Ya... itu suara Sivia, ‘calon’ Mamanya.
“gue gak laper”teriak Agni

Terdengar ketukan lagi, “Agni... maaf... sekarang makan ya?”

Brak

Agni memukul pintu itu dengan keras, “gue bilang enggak ya enggak!”bentak Agni.

“Agni! Siapa yang ngajarin kamu kasar gitu heh? Papa gak pernah didik kamu jadi anak brutal gini!”

Kali ini Agni tau itu siapa, dia Gabriel! Dan dengan teganya memarahinya demi gadis itu. Nafas Agni memburu, ini kali pertamanya Gabriel membentaknya begitu kasar. Apa gadis itu lebih berharga darinya? Apa semua kasih sayang untuknya sekarang sudah terenggut oleh gadis itu? Dan ia rasa jawabannya adalah ya!
Dengan bergetar Agni meraih ponselnya, “Ify, loe kemana sih?”gumannya karena sahabatnya tak kunjung mengangkat panggilannya.

Agni mendesah putus asa, kemudian dengan ragu ia mencari sebuah nama kemudian memutuskan untuk memanggilnya.
“Kka...”

***

Agni bercerita dengan tersendat, sepanjang ia bercerita ia terus menangis sesenggukan di hadapan Cakka.

“Papa loe pasti kesepian Ni, tujuh belas tahun sendirian dan pasti sekarang dia butuh seseorang buat nemenin”ucap Cakka mengomentari cerita Agni.

Agni menyeka air matanya kasar, “kan ada gue, ada kak Rio, apa belum cukup?”

Cakka menghela nafas panjang, “bukan hanya itu Ni, loe kan pinter Ni masa gak ngerti yang kayak gini? Papa loe pasti butuh seseorang buat nemenin tidurnya, tujuh belas tahun buat waktu yang singkat buat seorang laki-laki dewasa menahan gairahnya... denger ya Ni, jujur... gue aja yang baru puber ngerasa susah ngontrolnya, apalagi Papa loe yang udah bener-bener matang”

Tanpa Agni sadari wajahnya merona merah mendengar penuturan Cakka yang bisa di sebut fulgar, ia mengangguk mengerti dan menundukan kepalanya dalam.

Cakka tersenyum miris, “keadaan kita berbanding terbalik ya Ni? Orang tua gue mau cerai dan orang tua loe mau nikah lagi”Cakka terkekeh seakan menertawakan hidup mereka, “kita sama-sama gak setuju sama orang tua kita”

Agni menyandarkan kepalanya ke bahu Cakka, “gua harus gimana Kka? Gue bingung kalo gak ada kak Rio, gue... gue...”

Cakka menarik Agni kedalam pelukannya, “loe bisa ngandelin gue Ni, seperti yang gue bilang tadi siang, kapanpun gue bersedia ada buat loe”Cakka mengakhiri ucapannya dengan tersenyum begitu tulus.

Agni membalas pelukkan Cakka, “thanks ya... jujur... loe cowok ke tiga yang buat gue nyaman setelah Papa sama kak Rio”Agni mendongakkan wajahnya menghadap Cakka, “maukan loe jadi kakak gue? Gue janji gak bakalan nyusain”

Cakka terkekeh, “nyusaih juga gapapa, gue rela  nemenin loe setiap saat, tempat ini bakalan jadi tempat rahasia kita berdua, saat kita susah, suntuk atau apapun ini tempat kita berdua dan selamanya akan menjadi rahasia kita”

Agni menjauhkan diri dari Cakka, ia tersenyum “makasih banget Kka... yang gue mau sekarang teriak sekenceng-kencengnya, siapa tau aja beban gue ilang”

Cakka mengacak puncak kepala Agni, “teriak aja, disini cuma kita berdua dan gak bakalan  ada yang terganggu”

“temenin gue sampe gue tenang ya Kka?”Agni memalingkan wajahnya dari Cakka kemudian berteriak sekencang yang ia bisa, seolah itu nyanyian yang indah Cakka nampak tenang tidak merasa terganggu dengan teriakan Agni yang sangat melengking itu.

***

Agni memasuki kediamannya, hatinya mulai tenang dan siap untuk menghadapi Gabriel. Agni memucingkan matanya melihat ke arah pintu utama rumahnya yang terbuka, ia berjalan dengan santai ke arah pintu itu.
“Agni pulang”seru Agni

“Agni”Sivia berjalan cepat ke arah Agni dan memeluknya sebentar kemudian memegang bahu Agni, menatapnya dalam, “kamu kemana aja? Kok gak bilang-bilang mau pergi? Di telpon gak di angkat-angkat, kita semua khawatir”

Agni menghela nafas panjang, ia menjauhkan tangan Sivia dari bahunya, “Agni capek, mau istirahat”ia berlalu begitu saja, namun berhenti kembali.
“tentang pernikahan kalian...”

“kami tidak jadi menikah, aku gak mau liat kamu berontak terus sama Papa kamu, aku gak mau rubah sifat baik dan bersahaja kamu jadi pemberontak dan keras”ujar Sivia

Agni menghela nafas berat, ia berbalik kemudian memeluk Sivia.
“thanks... gue sayang sama loe...”


Next...

No comments:

Post a Comment