Friday, 31 May 2013

Mengapa? VI


Cakka dan Agni kini berdiri berdampingan di atas catwalk, dengan sedikit gugup mereka melemparkan senyum pada penonton dan mulai berjalan menuju depan kemudian kembali lagi ke tempat semula.
Setelah itu mereka di brodong berbagai pertanyaan dari juri, namun begitu harus menampilkan suatu kesenian Betawi mereka melakukannya dengan kurang memuaskan karena mengingat keduanya bukan Betawi asli.

Begitu turun dari atas panggung Agni langsung merengut, ia sangat tidak puas dengan penampilannya. Ia duduk di kursi belakang panggung yang memang telah di sediakan.
“udahlah, gak usah di pikirin... just for fun aja”Cakka duduk di samping Agni, kemudian menyodorkan satu botol air mineral.

Agni meraih botol itu, “ya tapikan malu-maluin”

Cakka tersenyum, ia berdiri di hadapan Agni “pulang yuk, kita jalan-jalan aja”ajak Cakka

Agni tersenyum tipis, ‘bukan ide buruk’ pikirnya. “yuk”ia berdiri di hadapan Cakka dengan semangat.

***

Cakka dan Agni berjalan beriringan di sebuah pusat perbelanjaan, keduanya sesekali bercanda dan mengejek. Namun mereka berhenti tepat di sebuah cafe yang ternyata disana ada Rio dan Angel.
“kesana yuk Kka, lumayankan kalo dapet traktiran”ajak Agni

Cakka tertawa kecil, ia menarik kerudung yang masih Agni kenakan kebelakang.
“Cakka ihh” Agni memukul dada Cakka pelan kemudian membenarkan kerudung itu kambali.

“kak Rio... kak Angel”sapa Agni yang langsung duduk di antara Rio dan Angel.

Rio terkekeh melihat penampilan Agni yang menurutnya aneh, “gak sadar jadi pusat perhatian ya? kenapa gak pulang dulu sih sebelum kesini?”

Agni memamerkan deretan giginya, ia mengambil minuman Rio kemudian meminumnya hingga menyisakan setengah.
“gak sempet, ahh cuek aja... ini tandanya Agni cinta betawi dong”

“huuh dasar tukang ngeles”ejek Cakka, ia mengambil makanan dari piring Angel.

Agni menggembungkan pipinya, “kakak tuh Cakka ihh gangguin terus”rajuk Agni pada Rio sambil menarik-narik lengan baju pemuda itu.

Rio mengacak-acak rambut Agni gemas, “dasar manja”

Angel tersenyum masam melihatnya. Agni memang selalu berhasil membuat hatinya kepanasan.
“kak, entar balik ya ke rumah? Aku gak ada temen”ucap Cakka

Angel mengangguk, “mereka bener-bener udah gak kerumah Kka? Kakak gak mau kalo denger keributan mereka lagi”

Cakka terlihat menghela nafas panjang, “beberapa malem ini enggak kak”

Ponsel Agni berdering.
“ya Pa”
“sekarang kamu dimana? Bisa kamu ceper pulang?”

Agni melirik Cakka, Angel dan Rio bergantian.
“emang ada apa? Agni lagi sama kak Rio kok Pa”
“yasudah, cepet pulang”
“iya. Bye Pa”

“ada apa Ni?”tanya Rio sambil menyantap makanannya.

“kata Papa harus cepetan pulang”
Agni menyimpan kembali ponselnya kedalam tas. Lalu ia berdiri.

“yaudah, Ngel, Kka... kita duluan ya. maaf ya Ngel gak bisa nganterin pulang?”
Rio berdiri di samping Agni, setelah berpamitan keduanya berlalu dengan saling bergandengan tangan.

“Kka... kenapa?”
Angel menatap Cakka yang wajahnya terlihat menegang. Rahangnya mengeras dan giginya pun terlihat gemerutuk saling bertumbukan satu sama lain.
Angel segera meraih ponsel yang di remas Cakka dengan emosi.

Cakka, ajak kakak kamu datang kepersidangan besok.
Mama harap kalian datang.
Disana juga kalian bisa meminta apapun kecuali meminta rujuk.
Kamu mengerti sayang? Selamat bertemu besok.

***

Rio dan Agni memasuki kediamannya dengan maih bergandengan tangan dan sesekali saling meledek dan menggoda hingga wajah Agni begitu merah.

“Agni... Rio”
“Eh Papa...”

Agni segera duduk di samping Gabriel sementara Rio duduk di kursi lain yang menghadap ke arah keduanya.

“Rio...”

Rio mengalihkan pandangannya dari arah televisi pada Gabriel, sesekali ia masih melirik ke arah televisi karena penasaran apalagi yang di beritakan tentang dirinya dan kekasihnya saat di Jepang beberapa waktu yang lalu.

“besok Papa akan menikahi Sivia”
“hah? Menikah? Secepat itu?”
Kini sepenuhnya Rio memperhatikan Gabriel, ia benar-benar kaget mendengar penuturan Papanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan.

“iya, memangnya kenapa?”

Rio mengusap wajahnya dengan frustasi, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Pa, Rio dan Agni ngerestuin kalian itu bukan untuk menikah secepat ini, kami juga butuh adaptasi”

Gabriel menatap tegas pada Rio, dan sesekali melirik Agni yang nampaknya tidak ingin berkomentar.
“tapi gak bisa di tunda”

“kenapa Pa? Apa wanita itu yang memintanya? Hah?! Apa sekarang lebih penting dia daripada anak sendiri?”
Rio mulai menaikan nada bicaranya, ia benar-benar bingung kenapa Papanya sebegitu ngebetnya ingin menikah.

“Sivia hamil mengandung anak Papa”ucap Gabriel dengan lirih.
“APA?!”
Rio dan Agni membelalakan mata dengan bersamaan. Rio kini diam, bingung dengan apa yang harus ia katakan lagi. Kalau sudah begini memang sudah buntu dan menurutnya tidak ada jalan lain selain menikah.

“apa Pa? Hamil? Papa gila... ini... bener-bener...”
Agni berdiri menjauh dari Gabriel, ia terus-terusan mundur tidak ingin di sentuh oleh Papanya itu.
“Papa yang ngajarin Agni! Papa yang bilang kalau Agni gak boleh ngelakuin sesuatu yang gak semestinya di lakuin. Tapi, tapi kenapa PA? Kenapa Papa malah melakukannya?”

“dengerin dulu Papa, Agni”
Gabriel berdiri hendak meraih Agni agar mendekat ke arahnya, namun Agni segera menepisnya dan mundur menjauh, sejauh-jauhnya dari Gabriel.

“cukup Pa, Agni benci Papa”
Agni segera berlari meninggalkan Gabriel dan Rio.

“Agni”

Rio meraih tangan Papanya, mencegah agar tidak berusaha mengejar Agni.
“gak usah Pa, biarpun Papa ngejar Agni gak akan nyelesain semuanya... percuma”

***

Cakka duduk di balkon kamarnya dengan memangku sebuah gitar kesayangan pemberian dari Papanya. Matanya terpejam, menikmati angin malam yang sesekali menerpa wajahnya.
Angel duduk di samping Cakka, menyandarkan kepalanya di bahu adiknya itu.

“Cakka bener-bener bingung kak, sebenernya apa sih salah kita sampai mereka tega seperti ini?”
Cakka berujar dengan nada yang sangat lemah, ia terlihat putus asa, tidak ada semangat hidup lagi.

“gak ada gunanya kita mikirin itu Kka, sekarang mendingan kita mulai tata hidup kita masing-masing, mau bagaimana kedepannya? Jangan sampai kita terjerumus pada hal yang negatif”
Angel menatap lurus kedepan, pandangannya terlihat kosong. Banyak sekali yang harus ia pikirkan, dari mulai menjawab pertanyaan wartawan dan lainnya.

“Cakka mau ikutin jejak kakak aja, tadi ada tawaran jadi model iklan sama Agni. Cakka gak yakin Agni menerimanya, tapi... Cakka udah pasti mau terjun kesana”
Cakka menyampirkan gitarnya dan berujar begitu tegas. Ia memutar badannya menghadap Angel.

Angel menatap Cakka tidak yakin.
“yakin?”

Cakka mengangguk pasti.
“aku gak mau terus-terusan terpuruk kak, aku harus lupain masalah ini”

Angel tersenyum melihat reaksi adiknya itu, ia sangat bangga padanya. Meskipun terkadang Cakka selalu saja melakukan sesuatu di luar dugaannya, tapi ia sangat bangga pada adiknya itu.

***

Agni memasuki kamar Rio, saat ini keduanya sedang berada di apartemen milik Rio.
Keduanya enggan pulang dan memilih untuk berdiam diri disini.
“kak...”

Agni menyalakan lampu kamar Rio yang sudah di padamkan, padahal belum terlalu malam dan Agni yakin Rio belum tidur.
“kak”

Agni mendekati Rio yang tidur telungkup, wajahnya di benamkan di bantal berwarna abu-abu. Ia duduk di samping ranjang Rio, mengelus kepala kakaknya itu dengan sayang. Ia tau, kakaknya itu sangat menyayangi Sivia, bahkan yang ia tau Angel hanyalah pelarian saja.
“jangan gini terus kak”
Agni berbisik tepat di telinga Rio.

Rio membalikkan tubuhnya dan menghadap Agni, ia menarik Agni hingga jatuh dalam pelukannya.
“kamu tau, kakak kecewa banget sama Papa”

Agni hanya mengangguk dan menyamankan posisinya. Dia membalas pelukan Rio dengan ragu.
“Agni juga kecewa sama Papa kak, tapi... apa yang bisa kita lakuin sekarang? Gak ada kan?”

“tentu, Agni...”
“hm”
Agni mengangkat wajahnya agar dapat menatap Rio yang ternyata sedari tadi menatapnya.
Rio memegang tengkuk Agni agar mendekat ke arahnya, sementara Agni hanya diam saja. Bingung, apa yang harus ia lakukan. Hingga, ia merasakan hembusan nafas Rio yang semakin dekat. Agni mulai memejamkan matanya, dan seketika ia merasakan sapuan di bibirnya, begitu lembut dan hangat.

***

Next...
Ini ide bener-bener gila. Saking gak ada idenya nih.
Maaf ya gak jelas :D

Terimakasih udah mau baca :)

No comments:

Post a Comment